Topik : Kegigihan

2 Februari 2003

Pohon yang Kuat

Nats : Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan (Roma 5:3,4)
Bacaan : Roma 5:1-5

Pohon cemara Bristlecone adalah pohon tertua di dunia. Beberapa di antaranya diperkirakan berumur 3.000 sampai 4.000 tahun. Pada tahun 1957, ilmuwan Edmund Schulman menemukan sebatang di antaranya, dan menamainya "Metusaleh". Pohon cemara berbongkol dan sangat tua ini hampir berumur 5.000 tahun! Pohon ini sudah ada saat rakyat Mesir membangun piramid.

Pohon Bristlecone tumbuh di atas pegunungan AS bagian barat, di ketinggian kira-kira 3.050-3.350 meter. Mereka mampu bertahan hidup, bahkan di saat kondisi lingkungan yang sangat buruk sekalipun: suhu udara yang amat dingin, angin topan, lapisan udara yang tipis, dan curah hujan yang rendah.

Sebenarnya, lingkungan ganaslah yang menjadi salah satu faktor sehingga mereka mampu bertahan hingga abad milenium ini. Kesengsaraan telah menumbuhkan kekuatan yang luar biasa dan tenaga yang tak kunjung habis.

Paulus mengajarkan kita bahwa "kesengsaraan menimbulkan ... tahan uji" (Roma 5:3,4). Kemalangan adalah proses yang Allah pakai untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita. Permasalahan yang membuat kita datang kepada Tuhan, sebenarnya dapat mendatangkan kebaikan bagi kita. Hal itu membuat kita sepenuhnya bergantung kepada-Nya.

Dalam berdoa, hendaknya kita tidak hanya memohon pelepasan dari penderitaan, tetapi juga kasih karunia Allah, supaya Allah memakai penderitaan itu untuk menyatakan kehendak-Nya dalam hidup kita. Maka, kita akan kuat di tengah malapetaka, dan merasa damai di mana pun Allah menempatkan kita --David Roper

29 April 2003

Terus Berlomba!

Nats : Dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita (Ibrani 12:1)
Bacaan : Ibrani 12:1-3

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang John Stephen Akhwari, pelari maraton dari Tanzania yang paling akhir tiba di garis finis pada Olimpiade 1968 di Meksiko. Sebelumnya, tak pernah ada seorang pelari yang sampai di garis finis begitu terlambat.

Karena terluka dalam perjalanan, ia berjalan tertatih-tatih masuk stadion dengan kaki yang berdarah dan dibalut. Satu jam lebih telah berlalu ketika para pelari lain telah menyelesaikan perlombaan itu. Hanya sedikit penonton yang masih tinggal di tempat duduk ketika Akhwari akhirnya melintasi garis finis.

Ketika ditanya mengapa ia terus berlari walaupun kakinya terluka, Akhwari menjawab, “Negara saya tidak mengirim saya ke Meksiko hanya untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim saya ke sini untuk menyelesaikan pertandingan.”

Sikap atlet itu seharusnya menjadi teladan bagi kita yang sedang bertumbuh. Ada “perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibrani 12:1), dan kita diharapkan terus berlomba sampai tiba di garis finis.

Tak ada yang terlalu tua untuk melayani Allah. Kita harus terus bertumbuh, menjadi dewasa, dan melayani sampai akhir hidup kita. Jika kita membuang percuma tahun-tahun terakhir kita, itu berarti kita merampas anugerah milik gereja, yang Allah berikan kepada kita untuk dibagikan. Ada pelayanan yang perlu diteruskan. Masih ada banyak hal yang perlu dilakukan.

Oleh karena itu, marilah kita terus berlomba “dengan tekun”. Marilah kita selesaikan pelayanan kita dengan keteguhan hati --David Roper

16 Mei 2003

Teruslah Menggali

Nats : Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibrani 10:36)
Bacaan : Ibrani 10:32-39

Seorang dokter Skotlandia, A.J. Cronin (1896-1981) terpaksa berhenti dari praktik medisnya karena sakit. Lalu ia memutuskan untuk menulis novel. Namun, ketika novel itu baru setengah jadi, ia patah semangat dan membuang naskahnya ke tempat sampah.

Dalam keadaan sangat putus asa, Cronin berjalan-jalan di Highlands, Skotlandia dan melihat seorang pria sedang mencangkuli rawa. Ia mencoba mengeringkan tanah berlumpur itu untuk dijadikan padang rumput. Saat Cronin bertanya kepadanya, pria itu menjawab, "Ayah saya menggali rawa ini, tetapi ia tak pernah bisa menjadikannya padang rumput. Namun, kami tahu, hanya dengan mencangkulnya, rawa ini bisa dijadikan padang rumput. Karena itu, saya terus mencangkul."

Merasa ditegur dan termotivasi kembali oleh kejadian itu, Cronin segera pulang, mengambil naskahnya dari tempat sampah, dan menyelesaikannya. Akhirnya, novelnya yang berjudul Hatter's Castle terjual sebanyak tiga juta kopi. Cronin meninggalkan praktik medisnya dan menjadi penulis terkenal dunia.

Terkadang kita juga merasa terjebak dalam situasi yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Apakah kita bersedia terus menggali "rawa", apa pun yang ditugaskan Allah kepada kita?

Kitab Ibrani berkata bahwa kita "memerlukan ketekunan" (10:36), dan harus "berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita" (12:1). Caranya? Dengan "mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang mem-bawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (ayat 2). Dengan Kristus sebagai teladan kita, teruslah menggali! --Vernon Grounds

28 Mei 2003

Banyak Pensil

Nats : Jika aku lemah, maka aku kuat (2Korintus 12:10)
Bacaan : 2Korintus 12:7-10

Sudah delapan tahun sejak kematian ayah saya, Ibu hidup sendirian. Beliau tidak dapat keluar sendiri kecuali untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Ingatan jangka pendeknya juga sudah kacau. Kata-kata yang diucapkannya hanya terbatas pada beberapa komentar yang diulang-ulang.

Namun, Ibu pernah mengatakan sesuatu yang dalam kepada saya. Beliau berkata demikian, "Beberapa hari lalu aku memikirkan masalah- masalahku, dan aku menyimpulkan bahwa aku tidak punya satu masalah pun untuk dikeluhkan. Allah selalu memeliharaku dan aku selalu didampingi oleh orang-orang yang menolongku. Masalahku saat ini hanyalah bahwa aku tidak mampu mengingat apa pun sehingga aku menghabiskan banyak pensil dan kertas untuk menulis segala sesuatu."

Rasul Paulus bergumul dengan apa yang disebutnya duri di dalam daging (2Korintus 12:7). Namun, ia mendapati bahwa dalam kelemahannya ia mengalami "kuasa Kristus" (ayat 9). Ia berkata, "Aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus" (ayat 10).

Kita semua memiliki berbagai pergumulan. Pergumulan itu mungkin berhubungan dengan usia, keuangan, hubungan dengan sesama, atau berbagai kesukaran lainnya. Namun, bila kita sungguh-sungguh mengarahkan hati kita untuk percaya kepada Allah, dan bila kita senantiasa bersyukur bahkan ketika menghadapi masalah, kita mungkin akan lebih dapat merasakan bahwa kita "tidak punya satu masalah pun untuk dikeluhkan" -- Dave Branon

5 Juni 2003

Kecaplah dan Katakanlah!

Nats : Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Bacaan : Mazmur 34:2-11

Apakah Anda percaya bahwa Allah itu baik, bahkan saat hidup ini tidak bersahabat? Mary percaya, dan saya terpana mendengar cerita pendeta tentang dirinya di hari pemakamannya.

Mary adalah seorang janda yang sangat miskin. Ia harus terus tinggal sendiri di rumah karena penyakit yang dideritanya di hari tuanya. Namun, seperti sang pemazmur, ia telah belajar untuk memuji Allah di tengah kesulitan hidupnya. Selama bertahun-tahun ia telah belajar un-tuk menikmati setiap kebaikan Allah dalam hidupnya dengan penuh ucapan syukur.

Kadang kala pendeta mengunjungi-nya di rumah. Penyakit yang ia derita membuatnya memerlukan waktu lama untuk berjalan membukakan pintu. Karena itu, sang pendeta akan menelepon dan memberi tahu bahwa ia sedang dalam perjalanan dan jam berapa ia akan sampai di sana. Kemudian Mary akan memulai perjalanannya yang lambat dan melelahkan ke pintu, dan sampai di sana tepat sebelum sang pendeta tiba. Dan Mary tak pernah lupa menyambut sang pendeta dengan kata- kata kemenangan ini, "Allah itu baik!"

Saya memperhatikan bahwa orang-orang yang paling sering menceritakan tentang kebaikan Allah, ternyata justru mereka yang biasanya paling banyak menghadapi pencobaan hidup. Pada saat-saat sulit itu, mereka berfokus pada anugerah dan rahmat Allah daripada masalah, dan dengan begitu mereka mengecap kebaikan-Nya. Teladan Mary tidak hanya menantang kita untuk mengecap dan melihat Allah, tetapi juga mengecap dan mengatakan bahwa Tuhan itu baik, bahkan saat hidup ini tidak bersahabat --Joanie Yoder

9 Juni 2003

Perjalanan yang Sukar

Nats : Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33)
Bacaan : Yohanes 16:19-33

Ada sebuah danau di dekat rumah kami di daerah pegunungan, yang terkenal sebagai tempat memancing. Untuk ke sana, saya harus mendaki tebing yang curam sejauh 3,2 km. Itu sebuah pendakian yang sulit bagi orang tua seperti saya. Namun, saya menemukan bahwa jarak tersebut dapat dicapai dengan mobil hingga 0,8 km dari danau. Saya mengendarai mobil sepanjang hari melalui beberapa jalan pegunungan hingga saya menemukan jalan terdekat ke danau. Kemudian dengan hati- hati saya menggambar peta jalan tersebut agar saya dapat menemukannya lagi.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali mengendarai mobil melalui jalan yang sama. Lalu tibalah saya di tempat yang jauh lebih buruk daripada yang saya ingat; berbatu-batu, bergelombang, dan curam. Saya pikir mungkin ada belokan yang terlewat, maka saya berhenti dan memeriksa peta saya. Di peta, pada jalan yang saya lalui, tertulis dengan pensil demikian: "Sukar dan curam. Tidak mudah." Saya berada di jalan yang benar.

Yesus berkata bahwa perjalanan hidup kita menjadi sukar jika kita ingin mengikut Dia. "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan" (Yohanes 16:33). Karena itu kita tak perlu terkejut jika jalan kita menjadi sulit, atau mengira bahwa kita telah mengambil belokan yang salah. Kita dapat "menguatkan hati" karena Yesus pun berkata bahwa di dalam Dia kita dapat memiliki damai, karena Dia telah "mengalahkan dunia" (ayat 33).

Jika Anda mengikuti Kristus dan mengalami saat-saat yang sulit, kuatkanlah hati Anda. Anda berada di jalan yang benar! --David Roper

22 Juli 2003

Berani Menjadi Daniel

Nats : Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)
Bacaan : Daniel 6:1-10

Teladan dari orang-orang seperti Daniel dalam Alkitab memberikan peneguhan dan menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup. Di masa sekarang ini, kita masih membutuhkan orang-orang seperti Daniel, yaitu pria dan wanita yang memiliki keyakinan dan keberanian untuk mempertahankan semua itu, bahkan jika itu harus melibatkan pengorbanan atau ketidakpopuleran.

Ayah saya, Dr. M.R. De Haan, adalah orang semacam itu. Oh, ia tidak sempurna. Ia seorang manusia biasa. Ia pernah melakukan kesalahan. Sebagian orang bahkan menganggapnya keras kepala. Namun sesungguhnya, ia sudah seperti tokoh dalam Alkitab. Ia adalah orang yang memiliki keyakinan teguh. Dan ia seorang pemberani.

Ayah saya berpulang kepada Bapa tanggal 13 Desember 1965. Namun, saya masih ingat satu perkataannya, yang seolah-olah baru kemarin diucapkan. Sambil meninju meja, untuk menegaskan pernyataannya, ia berkata, "Richard, saya tidak peduli jika seluruh dunia berbeda dengan saya. Saya harus melakukan yang benar. Saya harus bertindak sesuai keyakinan saya!"

Tentu saja kita perlu berhati-hati untuk memastikan bahwa keyakinan kita memiliki landasan yang benar. Namun, sekali kita yakin akan hal itu, kita harus seperti Daniel yang tidak hanya memiliki keyakinan, tetapi juga keberanian untuk mempertahankannya (Daniel 1:8).

Hari ini, jika Anda dicobai untuk mengompromikan prinsip-prinsip Anda, jangan menyerah. Beranilah menjadi seorang Daniel! -- Richard De Haan

25 Juli 2003

Memandang Yesus

Nats : Marilah ... berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus ... (Ibrani 12:1,2)
Bacaan : Yohanes 14:15-24

Leslie Dunkin bercerita tentang anjing yang dimilikinya saat ia masih kecil. Kadang-kadang ayahnya suka menguji kepatuhan anjing itu. Ia meletakkan sepotong daging yang membangkitkan selera di lantai dan memberi perintah, "Tidak boleh!" Anjing itu, yang tentunya memiliki dorongan yang sangat kuat untuk mendapatkan daging, dihadapkan pada situasi yang sangat sulit -- mematuhi atau melanggar perintah tuannya.

Dunkin berkata, "Anjing itu tidak pernah mengarahkan pandangannya pada daging. Tampaknya ia merasa bahwa jika ia melakukannya, godaan untuk melanggar perintah itu akan menjadi terlalu besar. Maka ia terus-menerus memandang wajah ayah saya." Kemudian Dunkin menerapkannya secara rohani demikian, "Ada sebuah pelajaran untuk kita semua. Arahkan selalu pandangan kita pada wajah 'Tuan' kita."

Ya, itu nasihat yang baik. Allah tentu saja tidak akan mencobai kita untuk melakukan hal yang salah (Yakobus 1:13). Meskipun kita mengalami banyak pencobaan, jika pandangan kita tertuju kepada Tuhan Yesus, kita akan mampu mengatasinya. Ketika dihadapkan pada bujukan yang dapat dengan mudah menundukkan kita, sebaiknya kita memandang kepada Kristus dan mengikuti petunjuk-Nya. "Melihat" dan "mendengarkan"-Nya seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci tentang Dia, akan memberi kita kepekaan untuk mengetahui mana yang benar, serta keinginan dan kekuatan untuk mematuhi-Nya.

Apakah Anda sedang berjuang melawan pencobaan? Arahkan pandangan Anda kepada Tuhan Yesus. Dia akan memberi Anda kemenangan --Richard De Haan

17 Agustus 2003

Kemandulan Rohani

Nats : Keduanya adalah benar di hadapan Allah . . . . Tetapi mereka tidak mempunyai anak (Lukas 1:6,7)
Bacaan : Lukas 1:5-17

Kemandulan, baik secara fisik maupun rohani, dapat menyebabkan kepahitan bagi sebagian anak Allah. Kepahitan dapat bertumbuh di dalam hati pasangan suami-istri yang kecewa karena tidak dapat mempunyai anak. Kepahitan dapat juga terjadi saat orang melayani Allah tetapi tidak melihat buahnya.

Sepasang utusan Injil yang melayani dengan setia selama bertahun- tahun tanpa buah yang nyata bertanya dengan putus asa, "Apakah kami telah menyia-nyiakan hidup?" Ada juga seorang pendeta muda dan istrinya yang telah berjerih payah selama lima tahun, bahkan telah menyerahkan hidup bagi jemaatnya. Namun orang-orang itu tidak tahu berterima kasih dan pasif. "Apakah mereka peduli?" sang istri bertanya.

Zakharia dan Elisabet, yang disebutkan dalam Lukas 1, adalah teladan bagi setiap orang yang sedang menghadapi kemandulan fisik atau rohani. Pasangan yang sudah tua ini memiliki reputasi yang tak bercacat, serta melayani Tuhan dengan setia dan taat selama bertahun-tahun (ayat 6). Mereka telah berdoa untuk memiliki anak, tetapi tidak memperolehnya. Walaupun demikian mereka tidak pahit hati, melainkan terus melayani Tuhan dan taat kepada-Nya. Pada waktu-Nya, Allah menganugerahi mereka seorang anak yang diberi nama Yohanes, yang akan menyiapkan jalan bagi Mesias (ayat 13-17).

Untuk menghindari kepahitan rohani di dalam hidup Anda, layani dan taatilah Tuhan dengan setia di tempat Dia memanggil Anda. Percayalah bahwa Allah akan memberkati Anda pada waktu-Nya, di jalan-Nya, dan sesuai rencana-Nya --Dave Egner

15 Oktober 2003

Bukan Tangan Saya

Nats : Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan (1Samuel 24:11)
Bacaan : 1Samuel 23:28-24:16

Ada kalanya lebih baik menunggu Allah bertindak daripada berusaha membuat segala sesuatu terjadi menurut kehendak kita. Itu adalah pelajaran yang dapat kita lihat jelas saat Daud menolak membunuh Saul meski raja itu berusaha membunuhnya (1 Samuel 24). Ketika Saul seorang diri di dalam dan dalam posisi yang lemah, pengikut Daud memberitahukan bahwa itu merupakan kesempatan yang Allah berikan untuk mengambil alih kedudukan sebagai raja yang memang sudah menjadi haknya (ayat 5). Namun Daud menolak dan berkata, "Dijauhkan Tuhan-lah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia" (ayat 7).

Setelah Saul meninggalkan gua, Daud berseru kepadanya, "Tuhan kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, Tuhan kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau" (ayat 13). Daud tahu Allah telah memilihnya menjadi raja. Namun, ia pun tahu membunuh Saul bukanlah cara yang tepat untuk memuluskan jalannya menjadi raja. Ia menunggu Allah menyingkirkan Saul dari takhta.

Adakah suatu rintangan antara Anda dengan sesuatu yang sesungguhnya menjadi hak Anda? Anda percaya itu adalah kehendak Allah, tetapi waktu dan cara untuk mendapatkannya tampak tidak tepat. Pikirkan masak-masak dan tekunlah berdoa sebelum mengambil jalan yang buruk untuk menuju suatu tujuan yang indah.

Menunggu Allah bertindak adalah kesempatan terbaik bagi kita agar segala hal yang benar terjadi sesuai dengan jalan-Nya --David McCasland

18 Oktober 2003

Sukacita Penantian

Nats : Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya (1Samuel 1:27)
Bacaan : 1Samuel 1:19-28

Sembilan bulan mungkin terasa tak berujung bagi calon ibu. Selama tiga bulan pertama, perubahan hormon terkadang menyebabkan rasa mual yang tidak hilang-hilang di pagi hari. Emosi meninggi, sehingga memperpanjang rasa sedih yang tidak beralasan di sore hari. Lalu perubahan nafsu makan memaksanya bangun di tengah malam karena menginginkan pizza, coklat, dan asinan.

Selama tiga bulan berikutnya, tubuh sang ibu membesar sehingga ia menghabiskan waktu berjam-jam berbelanja pakaian baru. Pada tiga bulan terakhir, aktivitas normal ibu berganti dengan berbagai kesibukan menjelang kelahiran bayi.

Lalu tiba-tiba penantian yang panjang itu berakhir. Sembilan bulan itu terasa seperti berita kemarin. Semuanya lenyap. Penantian itu menjadi tidak penting, menjadi kenangan yang samar-samar karena tenggelam dalam sukacita. Bertanyalah pada ibu yang baru saja melahirkan, apakah ia menyesali masa-masa kehamilannya. Tidak pernah!

Hana bahkan menanti lebih lama lagi. Selama bertahun-tahun ia belum dikaruniai seorang anak. Ia merasa sangat tidak puas dan malu (1 Samuel 1). Namun Tuhan mengingat dirinya, dan ia pun mengandung. Sukacitanya menjadi penuh.

Hana menanti-nantikan dengan sabar dan ia melihat Tuhan mengubah kesedihannya menjadi sukacita yang berkelimpahan. Pujiannya (1 Samuel 2:1-10) mengingatkan bahwa kekecewaan dan kepahitan yang terdalam dapat mendatangkan kepenuhan dan kebahagiaan. Bagi setiap orang yang menanti-nantikan Tuhan, hari-hari penuh penantian akan membuahkan sukacita di kemudian hari --Mart De Haan

28 November 2003

Hari-hari Biasa

Nats : Dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran (2Korintus 6:4)
Bacaan : 2 Korintus 6:1-10

Pernahkah Anda menerima kartu natal disertai surat dari seorang kawan yang menceritakan kembali kejadian-kejadian biasa tahun lalu? Pernahkah seseorang bercerita tentang membersihkan karpet atau membuang sampah? Mungkin belum pernah.

Sebuah terbitan di internet berjudul Journal of Mundane Behavior mengatakan bahwa kejadian-kejadian rutin seperti itu mengisi sebagian besar waktu kita. Sang redaktur pelaksana, seorang pakar sosiologi, mengatakan bahwa rutinitas sehari-hari berharga karena hampir 60 persen hidup ini kita gunakan untuk kegiatan seperti berangkat-pulang kerja dan berbelanja bahan pangan.

Kita jarang memerhatikan hari-hari biasa Rasul Paulus, tetapi ia menulis, "Dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah" (2Korintus 6:4). "Segala hal" tersebut bukan saja dalam hal menanggung dera, tetapi juga "dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga ..., dalam kemurnian hati, ... kemurahan hati, ... dan kasih" serta pengalaman sehari-hari lainnya (ayat 4-10).

Oswald Chambers mengatakan bahwa kita cenderung kehilangan semangat "saat tidak punya visi dan dorongan, kecuali rutinitas pekerjaan biasa. Akhirnya, hal yang penting bagi Allah dan manusia adalah ketekunan yang terus-menerus terhadap sesuatu yang tidak kelihatan, dan satu-satunya cara untuk menjaga agar hidup tidak hancur adalah tetap memandang Allah" (My Utmost For His Highest, 6 Maret).

Maka, mari kita jalani hari ini dengan sungguh-sungguh bagi Tuhan, karena hari ini adalah hari biasa yang penting --David McCasland

24 Januari 2004

Pelayanan yang Teguh

Nats : Berdirilah teguh, jangan goyah ... Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia (1Korintus 15:58)
Bacaan : Kisah Para Rasul 20:23,24

Bagaimana reaksi kita terhadap kejadian-kejadian yang tragis? Saat pengalaman yang membingungkan menimpa hidup kita dan menciptakan suasana kelam dan murung, bagaimana tanggapan kita? Kita mungkin cenderung panik atau putus asa. Seseorang yang bernama Abraham Davenport dapat memberi sebuah pelajaran tentang keteguhan hati kepada kita.

Pada tanggal 19 Mei 1780, telah terjadi sebuah fenomena yang misterius. Kegelapan yang pekat (barangkali disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan kabut tebal) menutupi seluruh daerah New England. Banyak orang diliputi ketakutan dan mengira dunia akan kiamat.

Pada siang hari itu, Parlemen Connecticut sedang mengadakan sidang dan banyak anggota parlemen mendesak agar sidang tersebut ditunda dahulu. Namun, Abraham Davenport berkata kepada rekan-rekannya, "Saya tidak menyetujui penundaan. Hari Penghakiman mungkin sudah tiba, mungkin juga belum. Jika belum, maka tidak ada alasan untuk melakukan penundaan; jika sudah, saya memilih untuk didapati sedang melakukan tugas saya. Karena itu, saya harap lilin-lilin disiapkan."

Rasul Paulus memiliki ketetapan hati yang serupa. Meskipun harus mengalami kesulitan dan perlawanan yang hebat, serta mendengar berita buruk tentang apa yang akan dialaminya, ia tetap bertekad untuk "menyelesaikan pelayanan[nya]" dengan sukacita (Kisah Para Rasul 20:24).

Dengan kepercayaan yang meneduhkan hati di dalam Tuhan, marilah kita tetap teguh dalam melayani-Nya setiap saat Vernon Grounds

27 Januari 2004

Pahit Menjadi Manis

Nats : Tuhan menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis (Keluaran 15:25)
Bacaan : Keluaran 15:22-27

Acap kali sukacita dan dukacita berjalan seiring. Seperti bangsa Israel yang merasakan getar kemenangan di Laut Merah, tetapi tiga hari sesudahnya menjumpai air yang pahit di Mara (Keluaran 15:22,23), sukacita kita pun dapat segera berubah menjadi kemarahan.

Di Mara, Tuhan menyuruh Musa melemparkan sepotong kayu ke dalam air, sehingga air itu menjadi manis dan bisa diminum (ayat 25). Suatu "potongan kayu" lain yang "dilemparkan ke dalam" berbagai situasi pahit hidup kita dapat membuat situasi itu menjadi manis. Potongan kayu itu adalah salib Yesus (1Petrus 2:24). Pandangan kita akan berubah saat kita merenungkan kematian-Nya yang penuh pengurbanan dan penyerahan-Nya pada kehendak Allah (Lukas 22:42).

Penderitaan kita dapat terjadi karena dibenci orang lain, atau lebih buruk lagi, karena tidak mereka pedulikan. Namun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Kita mungkin tidak memahami alasannya, tetapi itu adalah kehendak Bapa dan Sahabat kita, yang tak terbatas kebijaksanaan serta kasih-Nya.

Ketika kita berkata "ya" kepada Allah saat Roh-Nya menyatakan rencana-Nya kepada kita melalui firman-Nya, situasi pahit dalam hidup kita akan menjadi manis. Kita tak perlu mengeluhkan kejadian yang telah diizinkan Tuhan. Sebaliknya, kita harus melakukan segala perintah-Nya. Yesus berkata bahwa kita harus memikul salib kita setiap hari dan mengikuti Dia (Lukas 9:23).

Saat kita mengingat salib Yesus dan berserah kepada Bapa seperti Yesus berserah kepada-Nya, maka pengalaman pahit akan menjadi manis David Roper

12 Mei 2004

Berlari Bagi Orang Lain

Nats : … dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah ... seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Filipi 2:3)
Bacaan : Filipi 2:1-11

Tom Knapp tidak pernah memenangkan sebuah pertandingan pun di sepanjang karier berlarinya di Sekolah Menengah Umum. Tom adalah seorang “pemacu”. Tugasnya adalah menentukan kecepatan lari untuk diikuti anggota timnya, yang kemudian akan mendahuluinya ke garis akhir. Ketika ia dapat berlari dengan kencang, ia memampukan rekan timnya untuk menang. Walaupun Tom tidak pernah memiliki tenaga cadangan yang cukup untuk menyelesaikan pertandingan dan menang, sang pelatih menganggapnya sebagai anggota tim yang berharga.

Kitab Perjanjian Baru pun memerintahkan kita untuk berlari di dalam pertandingan iman dengan memikirkan keberhasilan orang lain. Kita diharapkan “…tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3,4). Teladan kita untuk hidup seperti itu adalah Yesus Kristus, yang meninggalkan kemuliaan surga untuk menjadi manusia sama seperti kita, dan mati di kayu salib sehingga kita dapat beroleh hidup kekal (ayat 5-8).

Jika dorongan keteladanan kita dapat membantu orang lain untuk bertumbuh dan berhasil, kita seharusnya bersukacita. Saat hadiah kekal diberikan atas pelayanan yang setia kepada Allah, maka banyak “pemacu” akan mendapatkan penghargaan khusus. Hingga saat itu tiba, marilah terus berlari sehingga orang lain dapat menang —David McCasland

16 Juni 2004

Bertumbuh di Usia Tua

Nats : Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar (Mazmur 92:15)
Bacaan : Mazmur 92:13-16

Kami memiliki sebuah pohon plum tua yang berlekuk-lekuk, yang sudah rusak di kebun belakang rumah kami. Kulit kayunya berwarna gelap dan berlipat-lipat di makan usia, dahannya sedikit dan kurus, serta tumbuh dengan kemiringan 45 derajat ke barat. Dua tahun yang lalu saya memotong beberapa dahan di satu sisinya, sehingga pohon itu menjadi tidak simetris.

Pada beberapa musim dingin yang lalu, saya mengira pohon itu akan mati karena suhu udara di bawah nol derajat. Bahkan orang yang menyemprotnya dengan insektisida pun yakin bahwa pohon itu sudah mati. Tetapi ternyata pohon itu hidup lagi pada musim semi dan terus tumbuh setiap tahunnya.

Setiap bulan April, tampaknya pohon tua ini tidak menghiraukan musim dingin, tetapi terus berbunga. Bunganya yang merah muda dan harum tumbuh sangat banyak, memperindah halaman kami. Ketika menulis artikel ini pun, saya dapat mencium keharumannya.

Pohon plum itu dapat bertahan karena akarnya tertanam dengan kokoh di dalam tanah. Pohon ini memperoleh kekuatan dan makanan dari sumber yang tersembunyi di dalam tanah.

Demikian juga halnya dengan kita. Kemampuan kita untuk bertahan -- bukan untuk bertumbuh -- tergantung pada seberapa dalam kita berakar di dalam Kristus. Orang yang membaca firman-Nya, merenungkan, dan mendoakannya di dalam hidupnya akan menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22,23), di usia tua sekalipun. Hal ini seperti yang dikatakan Mazmur 92:15, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar” —David Roper

30 Juni 2004

Pulang Sebelum Gelap

Nats : Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir (Kisah Para Rasul 20:24)
Bacaan : Kisah Para Rasul 20:17-25

Orangtua sering berkata kepada anaknya, “Pulanglah sebelum hari gelap!” Di daerah yang belum ada listrik, para pelancong biasanya berusaha mencapai tujuan sebelum matahari tenggelam. “Pulang sebelum hari gelap” berarti perjalanan yang berhasil dan tiba dengan selamat.

Robertson McQuilkin mengatakan ini untuk menyatakan keinginannya untuk setia kepada Tuhan sepanjang perjalanan rohaninya. Doanya ditutup dengan kalimat, “Tuhan, tolong saya agar ‘tiba di rumah sebelum hari gelap’.” Ia menjelaskan demikian, “Saya takut ... bila berhenti sebelum menyelesaikannya atau menyelesaikannya dengan buruk, sehingga saya menodai kemuliaan-Mu, mempermalukan nama-Mu, dan mendukakan hati-Mu yang penuh kasih. Banyak orang menasehati, selesaikanlah dengan baik.”

Perkataan McQuilkin ini menyatakan kerinduan Paulus yang besar ketika ia menghadapi bahaya yang menantinya di Yerusalem: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kisah Para Rasul 20:24).

Ini merupakan firman anugerah dari Allah (ayat 32) yang menguatkan kita untuk terus bertahan dalam iman, karena firman-Nya mengatakan bahwa Dia sanggup menguatkan kita hingga akhir hidup kita. Karena itu, tetaplah berjalan dan percaya sementara kita berdoa: “Karena karunia-Mu, Bapa, dengan kerendahan hati aku mohon Engkau membimbingku tiba di rumah sebelum hari gelap” —David McCasland

31 Juli 2004

Sudah, Tetapi Belum

Nats : Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18)
Bacaan : Lukas 10:1-12; 17-20

Jika Yesus telah menang atas dosa, penderitaan, dan kematian, lalu mengapa kita masih berdosa, menderita, dan mati? Untuk memahami hal yang tampaknya kontradiksi ini, kita harus mengenali dualisme “sudah, tetapi belum”dari Injil.

Di satu pihak, kerajaan Allah telah datang dalam pribadi Yesus. Sebagai perwujudan dari manusia sekaligus Allah, Dia mati di atas salib sehingga melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia dapat menghancurkan iblis (Ibrani 2:14).

Di lain pihak, kerajaan sempurna yang dijanjikan-Nya belum datang. Kerajaan tersebut akan datang saat diri-Nya kembali ke bumi. Kita mengalami pertentangan antara aspek “sudah, tetapi belum” mengenai kerajaan Allah.

Lukas 10 menggambarkan dualisme ini. Ketika kembali dari berkhotbah, para murid merasa gembira sekali, dan mereka berkata kepada Yesus, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu” (Lukas 10:17). Yesus menjawab bahwa Dia telah melihat Setan “jatuh seperti kilat dari langit” (ayat 18). Dia juga meyakinkan mereka bahwa tidak ada satu pun yang akan menyakiti mereka (ayat 19). Namun, banyak di antara mereka yang menderita dan mati sebagai martir, dan kejahatan masih merajalela hingga sekarang.

Meskipun demikian kita dapat menghadapi apa pun yang terjadi, karena suatu hari nanti kita akan benar-benar masuk dalam kemenangan yang telah Yesus menangkan. Sementara itu, kita dapat merasa tenang karena mengetahui bahwa tiada satu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Roma 8:35-39) —Herb Vander Lugt

3 Agustus 2004

Mekar dari Duri

Nats : Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita (Ibrani 12:11)
Bacaan : Ibrani 12:7-11

Semak gorse adalah semak belukar yang diimpor dari Eropa dan kini tumbuh liar di Barat Laut Samudra Pasifik. Semak ini memiliki pucuk yang lebat berwarna hijau tua, dan pada musim semi menampakkan lambaian bunga-bunga kuning yang harum dan memesona. Namun, yang paling dikenal oleh para pencinta alam dan nelayan adalah duri-durinya yang tajam.

Yang menarik, bunganya mekar tepat pada duri-durinya.

Misionaris sekaligus artis Lilias Trotter menulis, "Sepanjang tahun, duri-duri itu semakin keras dan tajam. Ketika musim semi tiba, duri-durinya tidak luruh maupun melunak. Tidak ada perubahan sama sekali. Tetapi di bagian tengahnya tampak dua bulatan berbulu halus berwarna cokelat, yang mulanya kelihatan seperti bintik, dan pada akhirnya merekah -- tepat pada duri yang ada -- menjadi bunga keemasan yang berkilau indah."

Demikian pula dengan penderitaan yang menyertai ganjaran dari Allah. Ketika kita berada di tengah situasi yang tampaknya tidak berpengharapan dan sangat berat untuk ditanggung, kehidupan kecil yang muncul akan segera merekah. Terimalah masalah yang paling berat, posisi yang paling sulit dalam hidup. Di situlah Allah dengan anugerah-Nya akan membuat keindahan-Nya tampak di dalam diri Anda.

Tidak ada ganjaran yang tampak menyenangkan pada saat diberikan, "namun ketika itu berlalu, kita dapat melihat bahwa ganjaran tersebut menghasilkan buah kebaikan yang sejati dalam karakter orang-orang yang telah menerimanya dalam roh kebenaran" (Ibrani 12:11, Alkitab versi PHILLIPS) --David Roper

18 Oktober 2004

Doa Gratis

Nats : Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya (Efesus 6:18)
Bacaan : Efesus 6:10-20

Seorang pendeta diminta untuk mengunjungi seorang wanita di sebuah rumah sakit jiwa dan berdoa baginya. Setelah kunjungan itu, sang pendeta berpikir alangkah baiknya jika ada seseorang yang dapat pergi ke sana secara rutin dan mendoakan semua penghuni rumah sakit. "Seseorang" itu kemudian adalah dia sendiri. Di atas meja di salah satu ruangan, ia memasang sebuah tulisan yang berbunyi "Doa Gratis". Ia kemudian teringat, "Tiba-tiba ada 15 orang yang berdiri mengantri untuk didoakan."

Orang-orang kerap kali minta kita doakan, namun apakah kita dengan setia mendoakan mereka? Kita sering melihat orang-orang yang sangat membutuhkan, namun kita lebih mudah memperbincangkan situasi mereka daripada menjadi perantara doa bagi mereka. Tetapi, orang-orang membutuhkan dan menginginkan doa kita.

Paul menyimpulkan panggilannya untuk mengenakan "seluruh perlengkapan senjata Allah" (Efesus 6:13-17) dengan menulis, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus" (ayat 18).

Oswald Chambers kerap kali mengatakan doa sebagai "pelayanan dalam hati" dan berkata, "Anda akan bersikap tulus dan tidak akan sombong saat menjadi perantara doa. Itu merupakan pelayanan tersembunyi yang menghasilkan buah di mana lewat doa itu Bapa dipermuliakan."

Doa yang setia, entah di depan umum atau secara pribadi, merupakan salah satu hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada orang lain --David McCasland

25 Oktober 2004

Untuk Apa Anda Hidup?

Nats : Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2Timotius 4:7)
Bacaan : 2Timotius 4:6-18

Banyak orang yang hidup di usia senja tiba-tiba menyadari betapa hampa dan tidak bermaknanya hidup mereka selama ini. Kini di usia tua, mereka telah mencapai kesepakatan bisnis yang berhasil dan menikmati kesenangan. Namun, dalam hal persahabatan yang memuaskan atau pencapaian hidup yang langgeng, hidup mereka nol. Mereka telah memanjat tangga kesuksesan, tetapi akhirnya mendapati bahwa ternyata tangga tersebut bersandar di dinding yang salah.

Saat Rasul Paulus merenungkan kembali pelayanannya, ia melihat bahwa semua pelayanannya itu memuaskan namun tidak mudah. Jika diukur dengan ukuran kesuksesan dunia, hidupnya akan tampak tidak berarti.

Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius ketika ia tengah menderita di dalam penjara bawah tanah yang dingin dan lembab, untuk menanti hukuman mati. Dalam waktu beberapa minggu, ia akan berdiri di hadapan Nero, kaisar Romawi yang setengah gila, dan hidupnya pun akan segera berakhir. Namun, ia tahu bahwa setelah kematiannya, ia akan menerima mahkota kehidupan dari Raja segala raja. Dan sekarang kita tahu bahwa pengaruh hidupnya mengubah alur sejarah itu sendiri.

Sejarawan kuno mungkin sudah menulis begitu banyak buku tentang kemegahan Nero, tetapi tidak pernah menyebut tentang Paulus. Namun, kini kita dapat menamai anjing kita Nero dan anak kita Paulus. Saya kira pada akhirnya apa yang kita kejar dalam hidup menjadi sangat penting.

Untuk apakah Anda hidup? --Haddon Robinson

20 Desember 2004

Diuji dengan Api

Nats : Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mazmur 66:10)
Bacaan : Mazmur 66:1-12

Tujuan akhir dari kehidupan bu-kanlah untuk melakukan, melainkan untuk menjadi,” demikian yang diungkapkan oleh F.B. Meyer. Dan demi tujuan ini kita sedang disiapkan setiap hari. Seperti perak dimurnikan dengan api, hati sering dimurnikan dalam tungku kesedihan. Dalam kesedihannya pemazmur berkata, “Kami telah menempuh api” (Mazmur 66:12).

Proses pemurnian memang dapat sangat menyakitkan, tetapi tidak akan menghancurkan. Sang Pemurni duduk di dekat tungku untuk menjaga nyala api. Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kemampuan kita; hal itu terjadi demi kebaikan kita.

Kita barangkali tidak dapat mengerti mengapa kita harus menanggung kesengsaraan tahun demi tahun. Cobaan seakan-akan tidak akan pernah berakhir dan tidak ada tujuannya. Hari-hari yang kita jalani tampaknya berlalu dengan sia-sia. Kita merasa seakan-akan tidak melakukan sesuatu hal yang berarti.

Akan tetapi, Allah tidak pernah mengerjakan sesuatu yang sia- sia—kita sedang dimurnikan. Dia menempatkan kita ke dalam tungku pencobaan supaya kita memperoleh kesabaran, ketaatan, kerendahan hati, belas kasih, dan juga keunggulan lain yang belum kita miliki.

Jadi, janganlah takut dan jangan menggerutu. Pencobaan Anda saat ini, betapa pun pedihnya, sudah disaring melalui hikmat dan kasih Allah. Sang Pemurni duduk di samping tungku, menjaga nyala api, mengamati prosesnya, menunggu dengan sabar sampai wajah-Nya terpantul di permukaan —David Roper

13 Januari 2005

Raku

Nats : Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan (Roma 12:12)
Bacaan : Yakobus 1:2-4

Beberapa teman memberi kami sebuah tembikar Raku. “Setiap tembikar dibentuk dengan tangan,” menurut keterangan labelnya, “suatu proses yang memungkinkan jiwa pekerja seni berbicara melalui pekerjaan yang diselesaikan dengan ketepatan dan keintiman khusus.”

Setelah tanah liat dibentuk oleh penjura, tembikar itu dibakar dalam tungku api. Kemudian, saat masih merah karena terbakar, tembikar itu dibenamkan dalam tumpukan serbuk gergaji, dan dibiarkan di sana sampai jadi. Hasilnya adalah produk yang unik—”tidak ada duanya,” label itu menegaskan.

Begitu juga dengan kita. Kita memiliki bukti cetakan tangan Sang Penjura. Dia juga telah berbicara melalui karya-Nya“dengan ketepatan dan keintiman khusus”. Kita masing-masing dibentuk dengan cara khusus untuk pekerjaan khusus: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, Dia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Namun, meskipun kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, kita belum sempurna. Kita harus mengalami tungku api penderitaan. Sakit hati, patah semangat, penuaan tubuh adalah prosesproses yang digunakan Allah untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai- Nya.

Jangan takut dengan tungku api yang mengepung Anda. “Sabarlah dalam kesesakan” dan nantikanlah produk jadinya. “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:4) —David Roper

2 Maret 2005

Sedikit Demi Sedikit

Nats : Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu (Keluaran 23:30)
Bacaan : Keluaran 23:20-33

Ketika saya masih kecil, Ibu memberi buku bacaannya yang berharga untuk membantu saya belajar. Buku itu telah membantunya belajar beberapa tahun silam. Saya menyukai salah satu ceritanya, tetapi saya tak pernah membayangkan betapa cerita itu memengaruhi saya bertahun-tahun kemudian.

Cerita itu tentang seorang anak lelaki dengan sebuah sekop kecil. Ia berusaha menyingkirkan salju tebal yang baru turun dan menutupi jalan depan rumahnya. Seorang pria berhenti dan mengamati pekerjaan berat yang dilakukan anak itu. "Nak," tegur pria itu, "bagaimana anak sekecil kamu dapat menyelesaikan pekerjaan seberat ini?" Anak itu menoleh dan menjawab dengan yakin, "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Lalu ia menyekop lagi.

Allah menumbuhkan benih dari cerita itu dalam diri saya ketika saya sedang bangkit dari sebuah keterpurukan. Saya ingat bagaimana sosok "dewasa" mencela sosok "anak" yang lemah dalam diri saya: "Bagaimana bisa seseorang yang tidak berdaya seperti kamu dapat menyingkirkan gunung setinggi ini?" Jawaban anak lelaki itu menjadi jawaban saya: "Sedikit demi sedikit, begitulah caranya!" Dan saya memang berhasil mengatasinya—dengan bergantung kepada Allah. Namun, itu hanyalah kemenangan kecil setelah kemenangan yang lain.

Tantangan-tantangan yang dihadapi Israel ketika hendak merebut Tanah Perjanjian tampaknya sulit disingkirkan. Namun, Allah tidak menyuruh mereka menyelesaikannya dalam sekejap.

"Sedikit demi sedikit" adalah strategi untuk meraih kemenangan —JEY

7 Maret 2005

Membosankan?

Nats : Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat (Bilangan 11:6)
Bacaan : Bilangan 11:1-9

Kebanyakan keluh kesah kita bukanlah mengenai sesuatu yang tidak kita miliki, melainkan mengenai sesuatu yang telah kita miliki tetapi kita anggap tidak menarik. Kebosanan atas pekerjaan, gereja, rumah, atau pasangan membuat kita mengeluh bahwa semua itu bukanlah yang kita inginkan atau butuhkan. Frustrasi semacam ini telah dialami oleh manusia sejak semula.

Perhatikan keluh kesah umat Allah tentang makanan mereka di padang gurun. Sambil mengingat berbagai jenis makanan yang dimakan saat mereka menjadi budak di Mesir, mereka meremehkan cara Allah menyediakan makanan bagi mereka: "Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat" (Bilangan 11:6).

Allah menyediakan apa yang mereka perlukan setiap hari, tetapi mereka ingin sesuatu yang lebih menarik. Apakah kita tergoda untuk melakukan hal yang sama? Oswald Chambers mengatakan, "Kebosanan adalah batu ujian terhadap karakter. Ada saat-saat di mana tidak ada cahaya dan getaran hati, yang ada hanyalah kegiatan sehari-hari dan tugas yang biasa. Rutinitas merupakan cara Allah untuk menempatkan kita di saat-saat perenungan. Jangan berharap Allah akan selalu memberikan saat-saat yang menggetarkan hati, tetapi belajarlah hidup dalam wilayah kebosanan dengan kekuatan dari Allah."

Di dalam masa-masa yang membosankan, Allah sedang bekerja untuk menanamkan karakter-Nya di dalam diri kita. Kebosanan merupakan kesempatan bagi kita untuk mengalami hadirat Tuhan —DCM

8 Maret 2005

Tanggalkan Beban

Nats : Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita (Ibrani 12:1)
Bacaan : Ibrani 11:30-12:1

Pasukan Alexander Agung sedang bergerak maju menuju Persia. Dalam suatu keadaan yang gawat, pasukan Alexander Agung tampaknya akan kalah. Para tentaranya telah menjarah begitu banyak barang dari pertempuran sebelumnya sehingga barang jarahan itu membebani mereka dan mereka kehilangan efektivitas dalam berperang.

Alexander memerintahkan agar semua barang rampasan mereka ditumpuk lalu dibakar. Para prajurit mengeluh, tetapi mereka segera menyadari kebijakan perintah tersebut. Dituliskan bahwa, "Seolah-olah mereka telah diberi sayap—mereka berjalan dengan ringan kembali." Kemenangan pun diraih.

Sebagai tentara Kristus, kita perlu melepaskan diri dari segala sesuatu yang menghalangi dalam peperangan dengan musuh rohani kita. Agar dapat berperang secara efektif, kita perlu diperlengkapi dengan senjata Allah (Efesus 6:11-17).

Alkitab juga mengumpamakan orang kristiani sebagai pelari. Agar dapat memenangkan lomba, kita perlu "menanggalkan semua beban" yang dapat melemahkan dan merampas kekuatan serta ketahanan kita (Ibrani 12:1). Beban tersebut dapat berupa keinginan kuat untuk memiliki banyak barang, cinta akan uang, pengejaran kesenangan, perbudakan oleh hasrat yang penuh dosa, atau legalisme yang membebani.

Ya, jika kita memang ingin bertarung dalam peperangan iman yang baik serta berlari dalam perlombaan rohani dengan ketahanan, maka kata-kata peringatannya adalah: Tanggalkan semua beban! —RWD

6 Desember 2005

Hati-hati Memilih Sekutu

Nats : Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya (2 Korintus 6:14)
Bacaan : 2Tawarikh 18:28-19:3

Star Alliance [terjemahan literal: persekutuan bintang] adalah afiliasi perusahaan penerbangan yang berusaha memberi keuntungan maksimal bagi para penumpangnya. Jika Anda bepergian dengan salah satu perusahaan penerbangan anggotanya, Anda dapat mengumpulkan poin frequent-flyer dan menikmati check-in yang lebih cepat. Di situs Alliance, hal itu disebut “cara yang lebih berbudaya untuk terbang ke seluruh dunia”.

Namun tak semua persekutuan menguntungkan kedua pihak. Di 2 Tawarikh kita membaca Ahab, raja Israel yang jahat, bersekutu dengan Yosafat, raja Yehuda, saat menggabungkan angkatan perang melawan Aram. Mengapa Yosafat menjalin ikatan bodoh dengan Ahab?

Alkitab tidak menyebut alasannya, namun kita tahu mengapa Ahab mendorong Yosafat untuk mengenakan jubah kerajaannya sementara ia menyamar dalam peperangan. Ia tahu target utama bangsa Aram adalah membunuh raja. Tentara musuh pun mengepung Yosafat. Ia berseru kepada Allah, meminta pertolongan dan Allah mengalihkan perhatian tentara musuh. Walaupun Ahab telah merancang rencana curang untuk menyelamatkan diri, ia terbunuh oleh sebuah panah nyasar.

Sekalipun Yosafat lolos, Yehu sang nabi menegur dia, “Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci Tuhan?” (2 Tawarikh 19:2).

Menolong orang yang membutuhkan adalah tindakan saleh. Namun menjalin persekutuan yang tidak bijaksana dengan mereka yang membenci Allah dapat membawa bencana.

Pastikan Anda memilih sekutu dengan hati-hati -AL

21 Desember 2005

Spasi Putih

Nats : Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2 Timotius 4:7)
Bacaan : 2Timotius 4:6-8

Selama hampir 50 tahun, Ann Landers membagikan nasihat melalui kolom harian yang diterbitkan oleh lebih dari 1.200 surat kabar di seluruh dunia. Ketika ia meninggal pada tanggal 22 Juni 2002, putrinya yang bernama Margo Howard menulis sebuah kolom perpisahan. Ia meminta para editor meninggalkan spasi kosong di bagian akhir kolom itu sebagai peringatan terhadap ibunya.

Ide tersebut datang dari sebuah kolom yang ditulis bertahun-tahun sebelumnya, yaitu saat Ann dan suaminya bercerai setelah lama menjalani pernikahan. Ann meminta editor meninggalkan spasi putih di bagian bawah sebagai peringatan sebuah pernikahan yang sempat berjalan baik, namun “tidak berhasil mencapai garis akhir”.

Saat seseorang menulis kolom terakhir Anda, seberapa lebarkah “spasi kosong” yang akan disertakan? Saat Anda mencapai akhir hidup, akankah terdapat hal-hal penting yang belum terselesaikan? Akankah spasi putih itu menjadi saksi bisu dari sasaran-sasaran yang tak tercapai, kebiasaan baik (seperti membaca Alkitab dengan teratur) yang tidak pernah Anda bentuk, pertolongan yang tak pernah Anda berikan, hal-hal baik yang terpikirkan namun tak pernah dilakukan? Akankah spasi kosong yang cukup lebar menyatakan bahwa Anda bermaksud mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah, namun ternyata keintiman yang dekat tetap tidak tercapai? Atau akankah orang lain dapat berkata bahwa Anda “telah mencapai garis akhir dan … telah memelihara iman”? (2 Timotius 4:7).

Pastikanlah spasi putih kita sempit! -VCG

28 Maret 2006

Bekerja Bagi Allah

Nats : Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar (Mazmur 92:15)
Bacaan : Mazmur 92

Sebuah ungkapan mengatakan bahwa: "Jika masa tua tidak menjadi pikiran, maka masa tua tidak menjadi masalah."

John Kelley dahulu pasti memegang pepatah tersebut. Kelley yang meninggal tahun 2004 dalam usia 96 tahun, telah mengikuti 58 kali lari Maraton Boston (42 kilometer setiap kalinya) -- termasuk yang terakhir pada tahun 1992 ketika ia berumur 84 tahun.

Penampilan Kelley yang tak terlupakan merupakan teladan bagi kita agar kita tetap aktif selama kita masih mampu. Begitu banyak orang yang berusia paruh baya yang mulai mengistirahatkan tubuhnya. Orang kristiani juga sering meninggalkan pelayanan kepada Yesus dengan cara yang sama.

Kita masing-masing memiliki tanggung jawab kepada Allah selama Dia memberi kita kekuatan tubuh dan mental, untuk bekerja sepenuh hati "seperti untuk Tuhan" (Kolose 3:23). Kita tidak pernah dipanggil untuk meninggalkan kehidupan dan berlayar pulang ke surga.

Sang pemazmur mengatakan bahwa orang benar "pada masa tua pun mereka masih berbuah" (Mazmur 92:15). Bagi orang yang masih kuat secara fisik, itu artinya mereka harus terus melayani secara aktif. Bagi mereka yang tidak dapat lagi bekerja, hal itu berarti mereka sebaiknya aktif dalam doa dan dalam pelayanan yang tenang.

Pastikanlah bahwa masa tua tidak menghentikan kita untuk senantiasa menghasilkan buah. Kita perlu terus bergerak untuk Allah --JDB

21 Agustus 2006

Kekuatan Regang

Nats : Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Korintus 12:9)
Bacaan : 2Korintus 12:7-10

Ketika pembangunan sebuah jalan raya lingkar di West Michigan sedang dalam taraf penyelesaian, ditemukan sebuah bahaya. Tiang-tiang jembatan itu dirancang untuk menahan bebannya sendiri-bukan beban lalu-lintas yang harus ditanggungnya. Karena itu, sebelum jalan raya tersebut dapat dibuka, beberapa jembatan harus dirancang dan dibangun kembali.

Para insinyur harus secara khusus memerhatikan kekuatan regangan bahan yang diperlukan dalam rancangan konstruksi bangunan, agar dapat menahan sejumlah besar tekanan yang berat. Kekuatan regangan adalah regangan maksimum yang dapat ditahan oleh suatu bahan sebelum putus. Apabila insinyur tersebut salah perhitungan, maka bangunan itu dapat runtuh karena menahan terlalu berat.

Apabila kita berada di bawah tekanan dan kesulitan, kita mungkin bertanya-tanya apakah Tuhan, yang merancang kita, telah salah memperhitungkan "kekuatan yang dapat kita regangkan". Kita merasa yakin bahwa kita akan runtuh di bawah tekanan penderitaan-penderitaan tersebut, tetapi Pencipta kita tahu benar bahwa kita dapat menanggungnya karena kasih karunia-Nya. Dia mengetahui batas kekuatan kita dan tidak akan pernah memperkenankan kita untuk menanggung lebih dari yang dapat kita pikul. Seperti yang dikatakan oleh pengajar Alkitab, Ron Hutchcraft, "Allah dapat mengirimkan beban, tetapi Dia tidak akan pernah mengirimkan beban yang berlebihan!"

Dengan dikuatkan kembali oleh tiang baja pemeliharaan Allah, kekuatan regang kita tidak akan rusak -WEC

26 November 2006

Garis Finis

Nats : Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya (Kolose 4:17)
Bacaan : 1 Korintus 9:24-27

Ketika masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah, saya bergabung dalam tim lari lintas-negara. Pada per-lombaan final pada musim itu, kampus-kampus kecil saling bertanding, dengan 75 pelari yang tergabung dalam lomba tersebut. Kami pun menjalani perlombaan lari "5K" itu di tengah cuaca hujan dan berlumpur, pada bulan November yang sangat dingin.

Saat mendekati garis finis, saya mengincar seorang pelari dari sekolah lain, yang berlari tidak jauh di depan saya. Saya berniat untuk mengalahkannya. Sebab itu, saya berlari dengan sekuat tenaga dan berhasil mendahuluinya saat berada di garis finis. Pada detik-detik terakhir, saya berhasil mencapai garis finis di urutan ke-42, yang tampaknya jauh lebih baik daripada urutan ke-43! Hal itu berarti, tim kami telah mendapat posisi yang lebih tinggi satu tingkat daripada tim yang pelarinya baru saja saya kalahkan. Artinya? Saya tidak boleh menyerah -- saya harus terus berlari hingga mencapai garis finis.

Hal inilah yang barangkali ada dalam pikiran Paulus ketika menulis surat kepada Arkhipus, salah satu pelayan yang ia ajukan: "Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya" (Kolose 4:17). Pada saat kita merasa lelah dan ingin menyerah, ingatlah bahwa Tuhan yang memercayakan kepada kita hak istimewa untuk melakukan pelayanan rohani akan memberikan anugerah dan kekuatan untuk menjalankan pelayanan tersebut. Mari "berlomba dengan tekun" (Ibrani 12:1) sehingga suatu hari kelak kita akan mendapat ganjaran "mahkota yang abadi" (1 Korintus 9:25) --WEC

7 Juli 2007

Jangan Cepat Menyerah

Nats : Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun (Ibrani 12:1)
Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Chris Couch baru berusia 16 tahun ketika ia pertama kali memenuhi syarat untuk bermain golf di tingkat tertinggi Tur PGA (Professional Golfers' Association). Dengan cepat ia diramalkan akan menjadi pemain cemerlang di masa depan dan dipastikan akan meraih sukses pada tahun-tahun mendatang.

Meskipun demikian, hidupnya lebih merupakan aktivitas yang menjemukan. Chris tidak meraih kesuksesan dalam waktu singkat. Ia harus bekerja keras selama 16 tahun dan mengikuti 3 pertandingan "mini-tours". Ia pernah tergoda untuk tidak meneruskan kariernya, tetapi Chris terus bertekun. Akhirnya, pada usia 32 tahun, untuk pertama kalinya Chris menjadi pemenang dalam pertandingan New Orleans Open. Ketekunannya membawa hasil, tetapi itu tidak diperolehnya dengan mudah.

Dalam bukunya A Long Obedience in the Same Direction (Ketaatan yang Panjang di Arah yang Sama), pengajar Alkitab, Eugene Peterson, mengingatkan kita bahwa hidup orang kristiani lebih mirip dengan pertandingan maraton daripada pertandingan lari 100 meter. Peterson berkata bahwa kita dipanggil untuk "terus berlari, karena hal inilah yang membuat hidup kita pantas untuk dijalani".

Dengan anugerah dan kekuatan Kristus, kita pun dapat "berlomba dengan tekun" dalam perlombaan hidup ini (Ibrani 12:1). Dan, dengan berbekal teladan dari Tuhan kita yang menolong serta membesarkan hati kita, maka seperti nasihat Rasul Paulus, kita pun dapat berlari untuk memperoleh hadiah "mahkota yang abadi" (1Korintus 9:25).

Jangan menyerah terlalu cepat --WEC

24 September 2007

Bangkitlah!

Nats : Bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu! (Markus 2:11)
Bacaan : Markus 2:1-12

Suatu hari saya ingin membuat roti dari tepung jagung untuk makan malam. Saya meminta suami saya untuk membeli telur dalam perjalanan pulangnya. Ia berkata, "Aku punya sesuatu yang lebih enak daripada roti jagung." Itu merupakan kalimat yang mengejutkan bila keluar dari mulut Jay. Namun, saya mengerti yang dimaksudnya ketika ia memasuki rumah dan menyodorkan kepada saya roti kayu manis. Label di pembungkusnya bertuliskan, "Terima kasih atas adonan [yang dimaksud di sini adalah donasi] Anda. Kami telah memprosesnya." Roti itu dibuat oleh Sue Kehr dan diberikan sebagai ucapan "terima kasih" atas donasi yang diberikan kepada sebuah organisasi pemuda.

Sue mulai membuat roti setelah ia terpaksa berhenti bekerja sebagai perawat karena cedera di kepalanya. Bukannya membiarkan keadaan meruntuhkan dirinya saat ia tak lagi dapat menolong orang lain seperti biasa, ia justru bangkit menghadapi tantangan hidup ini dan menciptakan sebuah ungkapan rasa terima kasih yang unik. Kini ia membuat dan memberikan roti buatannya kepada organisasi-organisasi pelayanan yang selanjutnya akan memberikan roti itu kepada orang lain sebagai ucapan terima kasih.

Meskipun Sue tidak mendapatkan kesembuhan fisik secara total seperti halnya orang lumpuh yang Yesus sembuhkan (Markus 2), ia bangkit dan membuat banyak orang takjub akan pekerjaan Allah dalam hidupnya.

Allah memiliki sesuatu untuk dikerjakan oleh setiap kita dengan segala keterbatasan kita. Bangkit dan tanyakan kepada-Nya apa yang ingin Dia kerjakan melalui Anda --JAL

11 Juni 2008

Gambaran Suram

Nats : Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku" (Yohanes 21:19)
Bacaan : Yohanes 21:15-19

Seperti apakah masa depan kita nanti? Para pengamat lingkungan meramalkan hidup akan semakin sulit. Meningkatnya pemanasan global akan membuat kota-kota di pesisir terendam air. Jumlah ikan di laut berkurang, bahkan akan habis karena terlalu banyak dikeruk. Bensin, solar, dan minyak tanah tidak ada lagi. Kalaupun ada, pasti mahal sekali. Persaingan hidup semakin tajam. Belum lagi munculnya krisis pangan, karena pertambahan penduduk tak seimbang dengan pertambahan produksi pangan. Jaringan televisi CNN pernah menayangkan gambaran suram masa depan bumi dalam tayangan berjudul Planet in Peril (Dunia dalam Ancaman Bahaya). Sungguh mengerikan!

Ketika Yesus menjelaskan masa depan Petrus kepadanya, Petrus juga merasa ngeri. Bayangkan, Yesus mengatakan bagaimana ia akan diikat dan dibawa ke tempat yang tidak ia kehendaki (ayat 18). Penganiayaan terbayang di depan. Ibarat film, hidupnya tak akan berakhir dengan happy ending. Di ujung jalan, salib menanti. Lalu, apakah Petrus lantas tak bersemangat hidup? Tampaknya tidak, karena sesudah memberitahukan semuanya Yesus berkata, "Ikutlah Aku" (ayat 19). Artinya, asal Petrus terus melangkah bersama Yesus, ia akan dimampukan untuk bertahan sampai akhir. Kenyataan membuktikan bahwa akhirnya Petrus mati disalib, namun ia tidak menyesal. Dengan tegar ia menghadapinya, malahan minta disalib terbalik.

Seperti apakah masa depan kita? Tak ada jaminan bahwa hidup akan semakin baik atau bumi semakin ramah. Namun, kita memiliki jaminan penyertaan Tuhan. Siapa saja yang mengikut Yesus akan dimampukan untuk tegar menghadapi situasi, seburuk apa pun —JTI



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA