Topik : Keberadaan

20 Februari 2004

Menakjubkan!

Nats : Mereka semua takjub lalu memuliakan Allah (Markus 2:12)
Bacaan : Markus 2:1-12

Ketika Yesus menyembuhkan seseorang yang lumpuh sebagai bukti kuasa-Nya untuk mengampuni dosa manusia, takjublah orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Lalu mereka "memuliakan Allah, katanya, 'Yang begini belum pernah kita lihat'" (Markus 2:12). Lebih dari dua belas kali dalam injil Markus, kita membaca tentang orang-orang yang memberi reaksi serupa terhadap perkataan dan pelayanan Yesus.

Kata yang diterjemahkan sebagai "takjub" atau "heran", dalam bahasa aslinya mengandung suatu makna "terperosok dalam kondisi terkejut atau takut, atau keduanya". Terkadang kita mungkin merasakan hal yang sama ketika berjumpa dengan Yesus Kristus melalui pembacaan firman Allah. Seperti murid-murid-Nya, kita mungkin heran saat membaca perkataan Yesus, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Markus 10:23). Kerap kali kita berpikir bahwa dengan memiliki uang banyak, selesailah semua masalah kita.

Orang-orang yang melihat seorang pria dilepaskan dari kerasukan satu legion roh jahat juga menjadi heran (Markus 5:20). Mengapa mereka heran? Apakah mereka berpikir bahwa pria itu tidak terjangkau oleh kuasa Allah yang menyelamatkan? Apakah kita memiliki pikiran yang sama saat Allah menyelamatkan orang tertentu?

Yesus tidak terikat oleh batasan atau harapan kita. Dia berbicara dan bertindak dengan kuasa dan hikmat yang jauh melampaui akal kita. Dengan rasa hormat dan kekaguman, marilah kita mendengar perkataan Yesus dan mencari jamahan tangan-Nya yang berkuasa untuk mengubahkan --David McCasland

31 Agustus 2005

Satu-satunya

Nats : Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong (1Petrus 3:12)
Bacaan : Mazmur 34

Sebagai seorang guru dengan pengalaman mengajar selama bertahun-tahun di SMA dan perguruan tinggi, saya telah memerhatikan berbagai macam tipe siswa. Salah satunya adalah mereka yang saya sebut memiliki perhatian hanya saya dan sang guru. Murid ini membangun percakapan muka-dengan-muka dengan sang guruseakan-akan tidak ada orang lain lagi di kelas. Pertanyaan guru yang retoris, misalnya, akan dijawab secara lisan oleh murid ini, tak peduli akan reaksi orang lain. Walaupun terdapat murid-murid yang lain di dalam kelas, murid yang satu ini sepertinya berpikir bahwa yang ada hanya saya dan sang guru.

Baru-baru ini, ketika saya memerhatikan salah satu murid semacam itu dan melihatnya mengendalikan perhatian guru, saya menjadi berpikir bahwa Allah pasti ingin menunjukkan sesuatu melalui peristiwa tersebut. Murid itu memiliki fokus yang juga perlu dimiliki oleh kita semua saat berdoa.

Pemikiran bahwa ada jutaan orang kristiani lainnya sedang bercakap-cakap dengan Allah sementara kita berdoa, tidak perlu membuat kita merasa kurang penting di hadapan Allah. Tidak, saat kita berbicara kepada Allah yang Mahahadir, Mahatahu, Mahakuasa, kita dapat merasa yakin bahwa Dia sedang memberikan perhatian penuh-Nya. Daud berkata, Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar (Mazmur 34:7). Allah senantiasa mengarahkan perhatian tunggal-Nya kepada pujian, permohonan, dan kekhawatiran kita.

Pada saat Anda berdoa, bagi-Nya Anda adalah satu-satunya orang yang Dia dengarkan JDB

20 Januari 2006

Perbedaan Karena Iman

Nats : Orang bebal berkata dalam hatinya, "Tidak ada Allah" (Mazmur 14:1)
Bacaan : Mazmur 14

Bagaimana jika seandainya kita tidak beriman kepada Allah dan justru menerima teori evolusi yang menolak Allah? Coba bayangkan, seandainya saja kita memiliki pandangan hidup yang ateistis. Seorang ahli biologi Universitas Cornell, William Provine, menyatakan di dalam sebuah debat publik, bahwa jika Anda adalah seorang pendukung setia teori Darwin, maka Anda akan menyadari bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, tidak ada dasar yang fundamental dari etika, tidak ada tujuan akhir dari keberadaan kita, tidak ada kehendak bebas. Hidup akan menjadi kosong.

Daripada memegang ketidakpercayaan yang suram itu, kita dapat membuka hati dan pikiran kita untuk beriman kepada Allah sebagaimana Dia telah menyatakan diri melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Dosa kita dapat diampuni berkat kematian-Nya di atas kayu salib. Hal ini tidak hanya memberi kita jaminan akan kekekalan yang penuh berkat, tetapi juga membuat kehidupan kita kini dan di sini memiliki arti dan pengharapan yang tidak terukur. Berkat Roh Kudus yang ada di dalam diri kita, kita dapat mengetahui bahwa perkataan Yesus di dalam Yohanes 8:12 adalah benar: "Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan."

Saat kita menjalani perziarahan duniawi ini, jangan sampai kita tersandung dalam kegelapan rasa tidak percaya. Sebaliknya, kita dapat berjalan dengan penuh keyakinan di dalam terang menuju kesucian kekal yang tak pernah berakhir. Itulah perbedaan yang tercipta karena iman di dalam Yesus Kristus --VCG

19 Februari 2006

Dia Tak Pernah Berubah

Nats : Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap turun-temurun (Mazmur 102:13)
Bacaan : Mazmur 103:11-22

Seorang fotografer bernama David Crocket dari KOMOTV Seattle mengetahui bahwa gunung yang kokoh pun dapat goyah. Pada tanggal 18 Mei 1980, ia tengah berada di kaki Gunung St. Helens yang menjulang tinggi ketika gunung itu meletus. Setelah sepuluh jam berada di situ, ia hampir terkubur reruntuhan batuan. Ketika keadaan sudah cerah, seorang pilot helikopter melihatnya. Ia diselamatkan secara dramatis dan diterbangkan ke rumah sakit.

Ketika menulis tentang pengalamannya yang mengerikan tersebut, ia berkata demikian, "Selama sepuluh jam itu saya melihat sebuah gunung runtuh. Saya melihat hutan menjadi lenyap.... Saya melihat bahwa Allah adalah satu-satunya Pribadi yang tidak dapat goyah.... Entah bagaimana saya merasa bahwa saya diizinkan untuk memulai dari awal apa pun yang dirancangkan-Nya untuk saya."

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini, tidak juga sebuah gunung, yang benar-benar tidak dapat hancur. Hanya Allah yang benar-benar tidak dapat berubah Dia kekal "selamanya" (Mazmur 102:13). Dia "sudah menegakkan takhta-Nya di surga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu" (103:19).

Apabila kita memercayakan diri pada penjagaan Allah, kita akan aman selamanya. Dia menjauhkan dosa-dosa kita "sejauh timur dari barat" (103:12). Dan anugerah-Nya kepada kita "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya" (ayat 17). Dia memegang kita dalam tangan-Nya yang perkasa, dan tidak ada yang dapat merebut kita dari genggaman yang Mahakuasa itu (Yohanes 10:28,29) --VCG

19 Mei 2006

Tanda Saja Tak Cukup

Nats : "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." ... Kata mereka kepada-Nya, "Tanda apakah yang Engkau perbuat?" (Yohanes 6:29,30)
Bacaan : Yohanes 6:25-35

Sutradara film Woody Allen pernah berkata, "Andai saja Allah dapat memberi saya beberapa tanda yang jelas! Misalnya, Dia memasukkan deposito yang besar atas nama saya di bank Swiss."

Alasan-alasan yang diberikan orang untuk tidak memercayai Allah kerap kali dapat diringkas menjadi sesuatu yang mereka inginkan agar Allah lakukan demi membuktikan keberadaan-Nya. Sayangnya, dengan membuat daftar "hal-hal yang harus dilakukan" Allah, kita menjadi tidak dapat melihat begitu banyak hal yang telah dilakukan-Nya bagi kita.

Bahkan orang-orang yang tinggal di dekat Yesus dan menyaksikan berbagai mukjizat-Nya meminta lebih banyak bukti lagi. Saat membandingkan Yesus dengan Musa, mereka bertanya, "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? ... Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga" (Yohanes 6:30,31).

Yang membuat permintaan mereka mengejutkan ialah; baru sehari sebelumnya Yesus telah benar-benar memberi mereka roti. Ia memberi makan 5.000 orang dari mereka dengan roti yang dibawa seorang anak kecil untuk makan siangnya!

Seandainya kita menjadi Yesus, mungkin kita akan berkata, "Bagaimana dengan roti yang telah Kuberikan kepadamu untuk dimakan kemarin?" Akan tetapi, Yesus justru memakai kesempatan itu untuk mengajar mereka, "Aku adalah roti kehidupan" (ayat 35).

Daripada menunggu dalam kebimbangan dan kekecewaan agar Allah melakukan sesuatu yang kita minta, pakailah waktu itu untuk memandang segala hal yang telah Allah lakukan bagi kita --JAL

13 Oktober 2006

Semesta Milik Allah

Nats : Dia ... menyentuh gunung-gunung sehingga berasap (Mazmur 104:32)
Bacaan : Mazmur 104:31-35

Dengan ketinggian 10 kilometer dari dasar laut dan bentangan sejauh 121 kilometer, Mauna Loa di Hawai merupakan gunung berapi yang terbesar di bumi. Namun, di permukaan Planet Mars terdapat Olympus Mons, yaitu gunung berapi terbesar yang ditemukan dalam tata surya kita. Olympus Mons tiga kali lipat lebih tinggi daripada Gunung Everest dan 100 kali lipat lebih besar daripada Mauna Loa. Gunung berapi itu cukup besar untuk merangkul seluruh rangkaian kepulauan Hawai!

Di masa silam, Daud memandang langit di malam hari dan berdiri dalam kekaguman terhadap alam semesta milik Sang Pencipta. Ia menulis, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2).

Akan tetapi, tidak hanya bintang dan langit yang menggugah rasa takjub para penulis yang hidup di zaman kuno. Gempa bumi dan gunung berapi juga dapat mengundang decak kagum terhadap Sang Pencipta. Mazmur 104 berbunyi, "[Allah] yang memandang bumi sehingga bergentar, yang menyentuh gunung-gunung sehingga berasap" (ayat 32).

Ketika penyelidikan luar angkasa semakin mencermati tata surya kita, penyelidikan itu akan terus menemukan hal-hal asing yang menakjubkan. Akan tetapi, apa pun yang ditemukan adalah karya Pencipta yang sama (Kejadian 1:1).

Pesona alam semesta seharusnya mendorong kita untuk memuji Allah, seperti halnya rasa takjub itu menggugah seorang penggembala domba di masa lalu tatkala ia memandang langit (Mazmur 8:4-6) -HDF

6 Maret 2008

Bertobat Setiap Hari

Nats : ... lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub (Ayub 1:5)
Bacaan : Ayub 1:1-5

Ada orang-orang yang mengalami "pertobatan besar", yakni mereka yang mengalami perubahan radikal dalam hidupnya. Misalnya, Zakheus (Lukas 19:1-10); yang tadinya seorang pendosa, menjadi pengikut Kristus yang taat. Atau, Paulus (Kisah Para Rasul 9:1-19); yang tadinya pembenci kekristenan, menjadi seorang pekabar Injil yang gigih. Namun, setelah perubahan yang demikian drastis, ternyata mereka tidak serta merta menjadi orang suci dan tidak bercela lagi. Sebab, bagaimanapun kita tetap makhluk yang terbatas dan penuh kelemahan. Tidak lepas dari dosa. Entah dosa dalam perbuatan, atau dalam pikiran dan perasaan. Entah dosa "aktif", atau dosa "pasif". Seperti kata Yakobus, "Jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Karena itu, kita perlu selalu "bertobat setiap hari".

Dalam Perjanjian Lama, pertobatan diwujudkan dalam persembahan korban bakaran. Seperti yang dilakukan Ayub untuk anak-anaknya. Setiap pagi, setelah mereka mengadakan pesta keluarga, ia mempersembahkan korban bakaran untuk mereka. "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati," begitu Ayub berpikir (Ayub 1:5).

Pada zaman sekarang, pertobatan tidak lagi diwujudkan dalam rupa persembahan korban, tetapi dalam tiga langkah ini: kesadaran, penyesalan, dan tindakan untuk berbalik. Ketiganya merupakan kesatuan. Sadar saja tidak cukup kalau tidak diiringi penyesalan. Dan, penyesalan perlu diiringi tindakan berbalik; menjauhi dosa dan tidak melakukan dosa itu lagi -AYA

22 Maret 2008

Tanda Tamat

Nats : Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa (Roma 6:6)
Bacaan : Roma 6:1-14

Saat lulus SMA, ijazah yang saya terima bertuliskan "Surat Tanda Tamat Belajar". Saya sudah tamat belajar? Tamat bisa diartikan lulus, tuntas, selesai, habis, atau bisa juga mati. Wah, apa tidak salah? Sebenarnya kata ini tidak sepenuhnya salah. Setiap saat kita memang harus tamat atau mati, karena kematian adalah awal kehidupan baru. Jadi, rupanya maksud dari "Tanda Tamat Belajar" adalah bahwa siswa sudah mati sebagai pelajar SMA, lalu naik ke jenjang pendidikan lebih lanjut. Dari satu tahap kehidupan ia harus meneruskan ke tahap kehidupan yang lain.

Ijazah adalah sebuah tanda. Baptisan juga memberi "tanda kematian" kepada kita. Kita dibaptis dalam kematian-Nya (ayat 3), sebagai tanda hidup baru bersama Yesus. "Tanda tamat" manusia lama yang telah disalibkan, "supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar kita jangan menghambakan diri lagi kepada dosa" (ayat 6). Kematian Yesus adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selamanya (ayat 10). Jadi, kematian-Nya juga mematikan kehidupan lama kita, yang dalam kitab Efesus disebut Paulus sebagai hidup dengan "kekerasan hati" (Efesus 4:18) atau "menyerahkan diri kepada nafsu yang menyesatkan" (ayat 19). Entah itu berdusta, marah, mencuri, berkata kotor, berkata kosong, berlaku sembrono, memfitnah, meng-hina, bertikai, dan segala bentuk kelaliman yang lain.

Setelah kita diberi "tanda tamat" oleh kematian-Nya, mari kita siapkan diri untuk menjalani hidup baru dalam terang Kristus, bahkan untuk berbuah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Mari jagai hidup kita agar tidak menyerah dan menjadi senjata kelaliman. Agar diri kita sungguh mati terhadap dosa, setiap saat! -AGS

27 Maret 2008

Doa Anak Bangsa

Nats : Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit (Nehemia 1:4)
Bacaan : Nehemia 1:1-11

Teks Indonesia Raya karya W.R. Soepratman pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 oleh surat kabar Sin Po. Naskah aslinya terdiri dari tiga bait. Namun, kita biasa menyanyikan bait pertamanya saja yang menyorakkan kemerdekaan. Padahal bait kedua dan ketiga memiliki isi yang begitu penting bagi kelanjutan bangsa ini. Yakni mengajak seluruh masyarakat berdoa bagi Ibu Pertiwi. Berikut adalah cuplikan bait kedua:

Indonesia! Tanah yang mulia,
tanah kita yang kaya.
Di sanalah aku berada
untuk s'lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
pusaka kita semuanya.
Marilah kita berdoa, "Indonesia bahagia!"

Hari ini kita belajar dari Nehemia. Ketika ia mendengar berita tentang bangsanya yang porak poranda, ia segera berpuasa dan berdoa. Ia berkabung untuk bangsanya yang mengalami kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Ia pun mengakui dosa diri dan keluarganya, meski ia bukanlah penyebab kesukaran bangsanya. Nehemia adalah seorang pemimpin yang selalu berdoa. Ia mengenal Tuhan secara dekat. Pengenalan ini mendorongnya untuk berani berdoa bagi bangsanya. Ia pun setia menanti jawaban Tuhan.

Mari kita belajar menjadi Nehemia bagi bangsa ini. Bukan terus-menerus mengkritik, tetapi setia berdoa dan berpuasa bagi negeri ini. Mari kita sehati berdoa bagi Indonesia, karena negeri ini merdeka bukan karena kebetulan. Kita diselamatkan oleh Tuhan untuk menjadi para pendoa yang setia bagi Indonesia. Mari kita mulai dari gereja tempat kita beribadah dan melayani. Mari kita mulai sejak sekarang, tak ada kata tunda -BL



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA