Topik : Kehadiran

3 Januari 2003

Setiap Langkah Berarti

Nats : Henokh berjalan dengan Allah (Kejadian 5:24, versi KJ)
Bacaan : Kejadian 5:21-6:9

Orang yang ingin hidup lebih sehat, mengurangi stres, dan mengurangi berat badan mendapati bahwa berjalan adalah olahraga yang terbaik. Filosofi kesehatan yang menyatakan tentang 10.000 langkah setiap hari, pertama kali dianut di Jepang. Lalu filosofi itu populer di banyak negara lainnya. Para ahli menganjurkan agar kita melakukannya secara bertahap, dengan menyadari setiap hari bahwa setiap langkah berarti.

Namun yang lebih penting adalah bila kita sehat secara rohani dengan berjalan bersama Allah. Hal itu digambarkan Alkitab sebagai hubungan yang bertumbuh dengan Tuhan. "Henokh berjalan dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi" (Kejadian 5:22, versi KJ). "Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu berjalan dengan Allah" (6:9, versi KJ). Kedua orang yang disebutkan dalam Ibrani 11 itu dipuji karena iman mereka. "Henokh ... memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah" (ayat 5). "Nuh ... ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya" (ayat 7).

Untuk berjalan dengan Allah, kita perlu menjaga langkah kita agar tidak mendahului di depan atau tertinggal di belakang. Di sepanjang perjalanan, kita berbicara dengan Tuhan, mendengarkan-Nya, dan menikmati kehadiran-Nya. Kita mempercayai pimpinan-Nya manakala kita tak dapat melihat apa yang ada di depan sana. Yang penting bukan hanya tujuan kita, tetapi juga perjalanan yang kita lalui bersama-Nya.

Saat ini adalah saat terbaik untuk mulai berjalan bersama Allah, karena dalam setiap hari tiap langkah berarti --David McCasland

1 April 2003

Kelinci yang Kabur

Nats : Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mazmur 139:7)
Bacaan : Mazmur 139:7-12

Margaret Wise Brown terkenal karena buku cerita anak-anak tulisannya yang sederhana, tetapi bermakna dalam. Salah satu favorit saya berjudul The Runaway Bunny (Kelinci yang Kabur). Buku itu berkisah tentang seekor kelinci kecil yang berkata kepada ibunya bahwa ia memutuskan kabur dari rumah.

“Kalau kamu kabur,” kata ibunya, “aku akan mengejarmu karena kamu adalah kelinci kecilku.” Selanjutnya sang ibu berkata, jika anaknya menjadi ikan di sungai, ia akan menjadi nelayan yang akan menangkapnya. Jika sang anak menjadi bocah lelaki, ia akan menjadi ibu manusia yang akan merengkuh dan memeluknya. Apa pun yang dilakukan anaknya, meski anaknya tetap bersikeras, sang ibu takkan pernah berhenti mengejarnya. Ia tidak akan menyerah dan meninggalkan anaknya.

“Huh,” kata si anak kelinci, “kalau begitu lebih baik aku tinggal di sini saja dan menjadi kelinci kecil Ibu.” “Nah, kalau begitu makanlah wortel ini,” sahut ibunya.

Kisah di atas mengingatkan saya akan perkataan Daud dalam Mazmur 139:7-10, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.”

Marilah kita bersyukur kepada Allah atas kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi kita. Dia akan terus-menerus hadir, menyertai, dan membimbing kita --David Roper

10 Mei 2003

Mengagumkan!

Nats : Celakalah aku! Aku binasa! ... namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam (Yesaya 6:5)
Bacaan : Keluaran 33:12-23

Beberapa kilometer dari Gua Carlsbad di New Mexico terdapat Gua Lechuguilla. Para penjelajah yang telah masuk ke gua itu menggambarkan keindahannya seperti sebuah negeri ajaib yang lebih hebat dari hampir segala sesuatu yang pernah mereka lihat.

Seorang geolog mencatat, "Sungguh aneh .... Saya menjelajahi gua-gua yang sedemikian indah, tetapi rasanya saya justru ingin segera pergi dari sana karena tak tahan melihat keindahannya." Sungguh dilema yang menarik bagi para penjelajah, bukan? Mereka dikelilingi oleh keindahan yang begitu memukau hingga seakan-akan menyilaukan mata.

Pengalaman mereka membantu kita memahami betapa sulitnya mengenal Allah yang kudus. Dia tampak begitu agung, kebaikan-Nya begitu murni, dan kepribadian-Nya begitu indah, sehingga mata kita yang digelapkan oleh dosa tidak tahan memandang-Nya. Kita tak tahan melihat kemuliaan-Nya.

Pengalaman seperti inilah yang dirasakan oleh dua orang dalam Perjanjian Lama. Ketika Musa memohon untuk melihat kemuliaan Allah, maka Yang Mahakuasa harus menudunginya supaya ia tidak melihat wajah-Nya (Keluaran 33:18-23). Demikian pula Yesaya ketika sekilas melihat kemuliaan Allah, ia berteriak, "Celakalah aku! Aku binasa!" (Yesaya 6:5).

Tuhan, keagungan-Mu, kebaikan-Mu, dan keindahan-Mu yang mengagumkan menyingkapkan kelemahan dalam diri kami. Kami bersyukur atas kasih dan belas kasih-Mu yang begitu besar, juga atas kesediaan-Mu untuk menyucikan dan melayakkan kami di hadapan-Mu melalui Kristus --Mart De Haan II

29 Mei 2003

Berkat yang Ditinggalkan

Nats : Ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga (Lukas 24:51)
Bacaan : Lukas 24:44-53

Seorang penderita kanker sedang mendekati ajalnya. Saya sedang berada di dalam kamarnya ketika keluarga-nya berkumpul mengelilinginya. Ia berbicara kepada satu per satu anaknya, kepada pasangan mereka, dan kepada cucu-cucunya yang masih muda. Dengan lembut dan penuh kasih, ia memberkati mereka masing-masing. Bahkan nasihat-nasihatnya pun diucapkan dengan lemah lembut. Ia mengingatkan mereka supaya tetap menjadikan Tuhan pusat kehidupan mereka. Kami semua mencucurkan air mata karena sadar bahwa ia takkan lama lagi bersama kami. Beberapa hari kemudian ia meninggal.

Juruselamat kita melakukan hal yang sama sebelum Dia naik ke surga. Bukannya mencucurkan air mata saat melihat-Nya pergi, para murid-Nya justru sangat bersukacita meski mereka tahu bahwa mereka takkan dapat lagi secara langsung mengalami berkat-Nya. Namun, Yesus akan segera mengirim Roh Kudus untuk tinggal dalam diri mereka (Kisah Para Rasul 1,2). Dia yang "duduk di sebelah kanan Allah" (Roma 8:34) akan menjadi perantara bagi mereka. Dan janji-Nya untuk datang kembali membuat mereka tenang (1Tesalonika 4:13-18).

Saat kita teringat akan Juruselamat kita yang naik ke surga, marilah kita bersukacita atas berkat yang Dia tinggalkan bagi kita. Dan selagi masih ada kesempatan, marilah kita menyemangati orang yang kita kasihi untuk tetap menjadikan Kristus pusat kehidupan mereka. Kelak saat kita meninggalkan dunia ini, maka teladan serta perkataan kita dapat menjadi berkat paling berharga yang bisa kita tinggalkan --Dave Egner

20 Oktober 2003

Tak Pernah Sendirian

Nats : Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18)
Bacaan : Yohanes 14:15-21

Kehadiran Yesus saat ini masih dapat kita rasakan, sama seperti saat Dia hidup di atas muka bumi. Walaupun Dia tidak ada di antara kita secara fisik, tetapi melalui Roh Kudus Dia dapat hadir di sini dan di mana saja -- kehadiran yang hidup dan terus-menerus -- di luar dan di dalam diri kita.

Hal ini mungkin merupakan pemikiran yang menakutkan bagi sebagian orang. Mungkin Anda tidak menyukai diri Anda sendiri, atau terlalu memikirkan hal-hal buruk yang pernah Anda lakukan. Kegelisahan dan dosa dapat menimbulkan rasa takut, kaku, dan canggung akan kehadiran Yesus. Namun, pikirkanlah apa yang Anda ketahui tentang Dia.

Tak peduli siapa Anda atau apa yang telah Anda lakukan, Dia mengasihi Anda (Roma 5:8; 1 Yohanes 4:7-11). Dia tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan Anda (Yohanes 14:18; Ibrani 13:5). Orang lain mungkin tidak terlalu memperdulikan Anda ataupun mengundang Anda untuk menghabiskan waktu bersama, namun Yesus tidak demikian (Matius 11:28). Orang lain mungkin tidak menyukai penampilan Anda, namun Dia melihat hati Anda (1 Samuel 16:7; Lukas 24:38). Orang lain mungkin menganggap Anda merepotkan karena Anda sudah tua dan menyulitkan, namun Dia akan mengasihi Anda selama- lamanya (Roma 8:35-39).

Yesus mengasihi Anda sekalipun orang lain memalingkan wajah mereka dari Anda. Dia ingin mengubah Anda menjadi seperti Dia, namun Dia juga mengasihi Anda sebagaimana adanya dan tidak akan pernah meninggalkan Anda. Anda adalah anggota keluarga-Nya; Anda tak akan pernah sendirian --David Roper

29 Oktober 2003

Datanglah Kepada-ku

Nats : Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya (Yohanes 10:4)
Bacaan : Yohanes 10:1-18

Setelah sebuah pesawat yang dibajak menghantam gedung Pentagon pada tanggal 11 September 2001, banyak orang terjebak di dalam gumpalan asap yang tebal dan pekat di dalam gedung tersebut. Petugas polisi Isaac Hoopi berlari ke dalam gedung yang penuh asap itu untuk mencari orang-orang yang selamat, dan mendengar orang-orang berseru minta tolong. Ia pun mulai balas berteriak tanpa henti, "Berjalanlah ke arah suara saya! Berjalanlah ke arah suara saya!"

Enam orang yang telah kehilangan arah dalam lorong yang penuh asap itu, mendengar teriakan polisi tersebut dan mengikutinya. Suara Hoopi menuntun mereka keluar dari gedung itu dengan selamat.

"Berjalanlah ke arah suara saya!" Undangan itu jugalah yang ditujukan Yesus pada kita semua saat kita berada dalam bahaya atau saat kita tersesat. Yesus menggambarkan gembala rohani yang sejati sebagai seseorang yang "memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya" (Yohanes 10:3,4).

Apakah kita mendengarkan suara Yesus saat berdoa dan membaca Alkitab? Saat kita berada dalam situasi yang sulit, apakah kita berjalan menuju pada-Nya ataukah kita meraba-raba dalam gelap?

Yesus adalah "gembala yang baik" (ayat 11). Saat kita membutuhkan tuntunan atau perlindungan, Dia memanggil kita untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia --David McCasland

4 November 2003

Apa yang Kautakutkan?

Nats : [Yesus] berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" (Yohanes 6:20)
Bacaan : Yohanes 6:16-21

Salah satu dongeng karya Grimm mengisahkan seorang pemuda agak bodoh yang tak tahu artinya gemetar ketakutan. Orang-orang berusaha membuatnya takut dengan menempatkannya di berbagai situasi menyeramkan, tetapi sia-sia. Akhirnya pemuda itu dapat merasa gemetar, tetapi bukan karena takut. Ia gemetar ketika seseorang menuangkan seember air dingin lengkap dengan ikan menggelepar-gelepar ke atas tubuhnya sewaktu ia tidur.

Ada yang tidak beres dalam diri kita jika kita tidak pernah takut. Takut adalah reaksi wajar manusia terhadap segala macam kesulitan atau bahaya, dan Allah tidak mengutuknya. Namun, Allah juga tak ingin kita dilumpuhkan ketakutan. Yesus berkali-kali berkata kepada murid-murid-Nya, "Jangan takut" (Lukas 5:10; 12:4; Yohanes 6:20). Setiap kali mengatakannya, Yesus menggunakan bentuk kata kerja yang mengandung arti keberlanjutan. Dengan kata lain, Yesus berkata kepada mereka, "Jangan terus-menerus merasa takut."

Jangan sampai kita ditaklukkan oleh ketakutan kita. Kita juga jangan sampai menolak melakukan apa yang dikehendaki Allah hanya karena merasa takut. Allah dapat mengubah rasa takut kita menjadi kekuatan. Kita dapat mempercayai Allah dan menjadi "tidak takut" (Mazmur 56:12).

Keberanian bukan tiadanya ketakutan, melainkan penguasaan atas rasa takut. Jadi, mari kita lawan ketakutan kita dan hadapilah dengan iman kepada Tuhan, karena Dia telah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5) --David Roper

2 Desember 2003

Perang Dalam Batin

Nats : Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16)
Bacaan : Galatia 5:13-26

Dalam suratnya kepada jemaat Galatia, Paulus mencoba membuat mereka memahami konflik batin yang akan dialami semua orang yang menjadi milik Kristus. Peperangan ini terjadi antara "daging" (sifat dasar manusiawi kita yang berdosa) dan Roh Kudus yang tinggal di dalam kita (Galatia 5:17).

Karena sifat alami kita yang berpusat pada diri sendiri menginginkan jalannya sendiri, maka keinginan itu bertentangan dengan perintah Kristus di dalam diri kita. Akhirnya, kita kerap mengikuti keinginan diri sendiri, bukannya kehendak Allah (ayat 17).

Suatu kali saya berdoa dengan putus asa, "Tuhan, tolong tunjukkan bagaimana cara mengatasi masalah ini!" Tuhan pun menuntun saya pada ucapan Paulus dalam Galatia 5:16, "Hiduplah oleh Roh." Saya terus membacanya, dan akhirnya dapat mengenali "perbuatan daging" dalam diri saya, yakni iri hati, amarah, kebencian, dan kepentingan diri sendiri (ayat 19-21).

Saya memohon ampun kepada Allah, dan akhirnya mengerti bahwa saya telah disalib bersama Kristus (ayat 2:20). Kuasa tubuh dosa saya telah dipatahkan (Galatia 5:24; Roma 6:6,7). Perlahan-lahan, saya belajar membuat "kematian" ini bekerja dengan menjadikan daging saya tidak lebih dari jasad! Saya pun membuat suatu keputusan untuk hanya mengenali dan menaati kehendak Kristus setiap hari. Kadang saya gagal, tetapi pertobatan membawa saya kembali melangkah bersama Roh Kudus.

Kita menghadapi konflik ini setiap hari, tetapi Roh dapat mengatasi hasrat kita yang penuh dosa dan memenangkan peperangan. Bagian manakah dari hidup Anda yang menang? --Joanie Yoder

17 Desember 2003

Tak Pernah Sendiri

Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Ibrani 13:5,6

Robinson Crusoe, tokoh utama dalam novel karya Daniel Defoe, mengalami kerusakan kapal dan terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Hidupnya menderita, tetapi ia menemukan pengharapan dan penghiburan ketika membaca firman Allah.

Crusoe berkata, "Suatu pagi, dalam keadaan sangat sedih, saya membuka Alkitab dan menemukan ayat ini, 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau'. Tiba-tiba saya berpikir bahwa ayat ini ditujukan kepada saya. Kepada siapa lagi ayat ini diberikan kalau bukan untuk saya dengan cara demikian, tepat ketika saya meratapi keadaan saya sebagai orang yang ditinggalkan Allah dan manusia?

"'Kalau begitu,' kata saya, 'jika Allah tidak meninggalkan saya ... apa yang perlu dipermasalahkan, meski seluruh dunia meninggalkan saya ...?' Sejak saat itu saya menyimpulkan bahwa saya bisa saja lebih berbahagia dalam keterasingan ini, dalam kesendirian dan kesunyian, daripada apabila saya berada dalam situasi lain di dunia ini. Dengan pemikiran ini saya ingin bersyukur kepada Allah karena telah membawa saya ke tempat ini."

Apakah Anda telah ditinggalkan oleh sahabat, anak, atau pasangan Anda? Allah telah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Dengan demikian Anda pun dapat berkata dengan penuh keyakinan, "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (ayat 6) --David Roper

31 Desember 2003

Awal yang Baru

Nats : Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi (Yosua 1:9)
Bacaan : Yosua 1:1-9

Mereka berdiri di tengah udara dingin bersama ribuan orang lain di Times Square, New York. Apa yang membawa mereka ke tempat itu? Tak ada pertandingan olahraga atau konser musik rock. Yang ada hanya kembang api raksasa yang turun sejauh lima meter di atas sebuah bangunan. Kejadiannya hanya beberapa detik, dan tampaknya bukan peristiwa penting yang perlu disaksikan sampai harus berjuang melawan kepadatan lalu lintas dan pejalan kaki di terowongan bawah tanah -- kecuali jika itu terjadi di malam Tahun Baru.

Mengapa kita menciptakan hari libur saat tidak terjadi peristiwa luar biasa? Pada hari libur lainnya, kita merayakan ulang tahun orang terkenal, atau tonggak bersejarah, atau sesuatu yang lain. Malam Tahun Baru hanyalah suatu perayaan pergantian waktu. Kita melebih-lebihkannya karena ini menandai akhir periode yang lalu dan awal periode yang baru. Masalah dan pergumulan tahun lalu menjadi kenangan kelam saat kita memikirkan awal yang baru.

Hal ini tentu terjadi ketika bangsa Israel berdiri bersama Yosua dan menatap era baru di depan mereka (Yosua 1:1-9). Mereka telah mengembara di gurun selama 40 tahun. Di depan mereka terbentang tanah yang berlimpah susu dan madu. Terlebih lagi, mereka memiliki janji Allah bahwa Dia akan menyertai mereka.

Ketika berdiri membelakangi masa 12 bulan yang telah lalu, dan wajah kita menghadap ke arah tahun yang baru, kita memiliki pengharapan karena kita juga meyakini pertolongan Allah. Hal ini membuat pengharapan akan tahun yang baru layak untuk dirayakan! --Dave Branon

21 Januari 2004

Apa yang Anda Cari?

Nats : Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat mereka mengikuti Dia lalu berkata kepada mereka, "Apakah yang kamu cari" (Yohanes 1:38)
Bacaan : Yohanes 1:35-42

Bagaimana jawaban Anda seandainya Yesus bertanya, "Apakah yang kamu cari?" (Yohanes 1:38). Apakah Anda memohon kesehatan dan kebugaran dari-Nya? Sebuah pekerjaan yang lebih baik? Pernikahan yang lebih bahagia? Jaminan keuangan? Pemulihan nama baik karena tuduhan yang salah? Keselamatan untuk orang yang suka melawan, yang kita kasihi? Sebuah penjelasan tentang konsep teologi yang sulit?

Bagi dua orang murid Yohanes Pembaptis, situasi ini lebih dari sekadar sebuah latihan imajinasi. Suatu hari ketika mereka sedang bersama Yohanes, Yesus lewat dan Yohanes berseru, "Lihatlah Anak domba Allah!" (ayat 36). Setelah itu kedua murid tersebut tidak lagi mengikuti Yohanes, tetapi mulai mengikuti Yesus.

Ketika Yesus melihat mereka, Dia bertanya, "Apakah yang kamu cari?" (ayat 38).

Tampaknya Yohanes telah mengajar mereka dengan sangat baik, karena jawaban mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sesuatu bagi diri mereka sendiri, tetapi Yesuslah yang mereka cari. Mereka ingin mengetahui tempat tinggal Yesus. Dan Yesus tidak hanya menunjukkan tempat tinggal-Nya, tetapi juga menghabiskan sisa hari itu bersama mereka.

Saya berpikir bahwa kita sering kehilangan kesempatan untuk meluangkan waktu bersama Yesus karena kita mencari hal lain selain hadirat-Nya. Dari pengalaman, saya sadar bahwa semakin banyak waktu yang saya habiskan bersama Yesus, semakin sedikit keinginan saya untuk memiliki banyak hal yang hanya tampak penting untuk sesaat --Julie Ackerman Link

9 Juni 2004

Persahabatan dengan Allah

Nats : Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yohanes 15:15)
Bacaan : Yohanes 15:13-15

Telusurilah halaman demi halaman buku pujian kuno dan perhatikan betapa sering penulis pujian merujuk pada berkat yang timbul dari persahabatan dengan Allah. Berhentilah sejenak dan renungkan makna sejati dari lagu-lagu itu.

Ya. Sungguh suatu berkat bila kita memiliki sahabat sesama manusia yang memperkaya hidup kita. Seorang sahabat, seperti yang dikatakan dalam Amsal 17:17, “menaruh kasih setiap waktu”, selalu berdiri teguh menemani kita menjalani cerahnya hidup dan dahsyatnya badai hidup.

Begitu juga sebagian dari kita bersyukur karena mengetahui bahwa berdasarkan pengalaman pribadi “ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara” (Amsal 18:24). Kita mengaitkannya dengan Daud dan Yonatan saat membaca tentang ikatan di antara mereka (1 Samuel 18:1).

Persahabatan antarmanusia memang menyenangkan, tetapi bagaimana tentang persahabatan dengan Allah? Sungguh berkat yang luar biasa memiliki sahabat Pencipta dan Pemelihara semesta alam. Meski telah disembah penghuni surgawi yang tak terhitung banyaknya, Dia sangat bersukacita berelasi dengan kita.

Apakah kita mengabaikan hak istimewa untuk berjalan bersama Allah, Sahabat terbesar dari semua sahabat? Dengan ucapan syukur dan kekaguman, mari kita luangkan waktu bersama-Nya hari ini juga dalam doa dan dalam pembacaan firman-Nya.

Ingatlah bahwa Yesus menyebut para pengikut-Nya sahabat (Yohanes 15:15). Sungguh suatu kehormatan bagi kita dapat menikmati persahabatan dengan Allah! —Vernon Grounds

22 Juli 2004

Tidak Dijual

Nats : Tetapi Petrus berkata kepadanya, “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang” (Kisah 8:20)
Bacaan : Kisah 8:9-25

Para petugas polisi di St. Louis setidaknya telah mendapat satu tangkapan yang mudah. Peristiwa penangkapan itu terjadi di pintu belakang pos polisi ketika seorang pengemudi mabuk menghentikan mobilnya tepat di depan loket jaga. Ia mengira dirinya sedang berada di depan loket pemesanan Burger King. Setelah pria itu mencoba untuk memesan makanan di tempat yang dikiranya loket penjualan drive thru, seorang petugas jaga menangkap pengemudi yang terkejut itu dan menuntutnya karena mengemudi dalam keadaan mabuk.

Seorang pria bernama Simon juga mendapatkan kejutan dalam hidupnya. Menurut Kisah Para Rasul 8, lelaki itu dulunya seorang tukang sihir di Samaria sebelum akhirnya bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Kejutan itu datang ketika ia menghampiri para rasul dan menawari mereka uang. Simon meminta kuasa dari para rasul agar dapat menumpangkan tangan atas orang-orang dan menyalurkan Roh Kudus kepada mereka. Namun, Rasul Petrus menolak tawaran itu dengan tegas. Dan ia menuduh Simon tengah berada di bawah pengaruh sesuatu yang lebih buruk daripada alkohol.

Petrus tidak berlebihan. Sangat berbahaya menganggap Roh Kudus sebagai suatu produk yang dapat diperjualbelikan. Karya Roh adalah suatu karunia Allah yang diberikan cuma-cuma atas dasar iman, dan hanya karena iman. Dia telah memberi kita Roh-Nya untuk menyelesaikan tujuan-Nya, bukan tujuan kita. Roh tidak bisa dibeli atau ditawar.

Terima kasih ya Tuhan, atas karunia Roh-Mu yang Engkau berikan kepada kami —Mart De Haan

24 Agustus 2004

Tidak Sendiri

Nats : Kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku (Yohanes 16:32)
Bacaan : Yohanes 16:25-33

Suratnya sangat singkat, tetapi berbicara begitu banyak kepada saya. "Saya adalah seorang cacat yang duduk di atas kursi roda," demikian tulis wanita itu. "Saya sangat kesepian meskipun saya tahu bahwa saya tidak sendirian. Allah selalu menemani saya. Saya tidak memiliki banyak teman untuk diajak bicara."

Kesepian telah dianggap sebagai kata yang paling menyedihkan dalam bahasa kita. Kesepian tidak memandang usia, ras, status ekonomi, atau kepandaian. Albert Einstein berkata, "Rasanya aneh menjadi orang yang sangat terkenal, tetapi sangat kesepian."

Allah menciptakan kita untuk menikmati keintiman dan persahabatan dengan orang lain. Bahkan sebelum dosa memasuki dunia, Dia menyatakan bahwa tidak baik jika manusia hidup sendiri (Kejadian 2:18). Itulah sebabnya banyak orang sering merasakan batinnya begitu kosong.

Yesus juga pernah merasa kesepian. Dia pasti merasakannya ketika para murid meninggalkan-Nya (Markus 14:50). Namun, kehadiran Bapa jauh lebih dari cukup untuk mengobati rasa kesepian-Nya. Dia berkata, "Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku" (Yohanes 16:32). Keintiman dengan Tuhan dapat dirasakan oleh semua orang yang menaruh kepercayaan kepada Tuhan dan firman-Nya (Yohanes 14:16-23).

Kita dapat mengurangi perasaan kesepian dengan cara berhubungan dengan orang lain. Namun, ada yang jauh lebih penting. Kita harus senantiasa berhubungan dengan Tuhan. Dia selalu menyertai kita, dan Dia ingin agar kita bersekutu dengan-Nya sepanjang hari --Dennis De Haan

24 September 2004

Bertemu Allah

Nats : Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)
Bacaan : Amsal 16:1-9

Peristiwa yang mengubah hidup tidak terjadi secara kebetulan. Hal itu tidak ditentukan oleh bintang-bintang. Tidak juga terjadi begitu saja. Tidak ada peristiwa yang bersifat kebetulan. Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam kehidupan ini untuk menggenapi tujuan-Nya.

Frank W. Boreham (1871-1959), seorang pendeta dan penulis esai asal Inggris, berkata, "Bukanlah suatu kebetulan Elia dan Ahab bertemu di lereng Gunung Karmel yang berumput. Bukanlah suatu kebetulan Herodes dan Yohanes bertemu di jalan raya Galilea. Bukanlah suatu kebetulan Pilatus dan Yesus bertemu di ruang pengadilan Yerusalem. Bukanlah suatu kebetulan Petrus dan Kornelius bertemu di tepi laut Siria.

Bukan kebetulan Filipus dan seorang Etiopia bertemu di jalan berpasir menuju Gaza. Bukan kebetulan Nero dan Paulus bertemu di tengah-tengah keindahan barang-barang antik Roma kuno. ... Tidak, pertemuan-pertemuan kita tidak terjadi secara kebetulan, termasuk pertemuan Stanley dan Livingstone di Afrika Tengah."

Kita seharusnya memulai setiap hari dengan hasrat yang tulus untuk menyenangkan Tuhan, dengan senang hati menantikan janji "bertemu"Allah dengan kita. Mungkin akan ada keadaan yang tidak direncanakan, atau ada orang yang kita temui secara tak sengaja. Tetapi kita seharusnya menyambut itu semua sebagai kesempatan untuk bersaksi, melayani orang lain, dan untuk bertumbuh secara rohani.

Dengan mengetahui pimpinan Allah yang berdaulat, marilah kita bersukacita di dalam janji untuk "bertemu" dengan-Nya --Richard De Haan

18 November 2004

Janji yang Mengherankan

Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Ibrani 13:5,6

Penulis kitab Ibrani mengutip ucapan Allah kepada umat-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Bagaimana hal itu menyentuh Anda? Apakah itu hanya kesucian menyenangkan yang membuat Anda menguap lebar?

Ini berbeda dengan ucapan bahwa kita boleh minum kopi dengan Presiden atau Ketua Mahkamah Agung. Mengenal orang-orang seperti itu memang sesuatu yang penting bagi kita. Namun meyakini bahwa Allah menyertai kita setiap saat setiap hari, sedekat kulit kita, dalam setiap peristiwa hidup, saat menangis atau tertawa—itu hampir tidak masuk akal.

Namun, sepanjang sejarah banyak orang telah mempertaruhkan hidup pada kebenaran tersebut. Abraham, Musa, Rahab, Yosua, Daud, dan Ester hanyalah segelintir contoh. Janji Allah itu terbukti benar dalam hidup mereka. Namun, bagaimana kita tahu bahwa janji itu juga benar bagi hidup kita?

Hal itu nyata bagi kita karena Yesus. Melalui kedatangan-Nya, sebenarnya Dia mengatakan, “Aku ingin bersamamu; Aku memberikan hidup-Ku bagimu; Aku mengurbankan hidup-Ku untukmu. Apakah mungkin Aku akan meninggalkanmu?”

-Bagaimana tanggapan Anda terhadap janji yang mengherankan ini? Mungkin janji tersebut terlalu muluk-muluk. Mungkin juga tampak mustahil. Namun, jangan abaikan janji itu. Saat Anda sedih, takut, menghadapi pergumulan dan pencobaan, tak ada janji yang lebih indah selain: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” —Haddon Robinson

19 Januari 2005

Sekutu

Nats : Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu (Mazmur 119:63)
Bacaan : Mazmur 119:57-64

Ada dua laki-laki saling bertetangga. Yang seorang telah membuka hatinya untuk Kristus, dan yang lainnya belum. Orang yang sudah percaya ini sering bersaksi; namun tetangganya mengabaikan.

Suatu hari orang kristiani itu mendengar ketukan, dan membuka pintu. Tetangganya sedang berdiri di depannya dengan senyum lebar. “Aku akhirnya melakukan apa yang kaukatakan. Pagi ini aku membuka hatiku untuk Yesus!” Keduanya saling berpelukan dan menangis. Selama bertahun-tahun mereka saling mendukung dan mendoakan, serta menjadi sahabat paling karib. Mereka bersama-sama melayani dalam pelayanan penjara yang efektif selama 25 tahun.

Persekutuan merupakan suatu bagian penting dari arti menjadi orang kristiani. Pemazmur membuat pernyataan yang tegas tentang pengenalan dengan mereka yang menghormati Allah dan melakukan perintah- perintah-Nya: “Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada- Mu” (Mazmur 119:63). Alkitab mempunyai banyak contoh persahabatan: Daud bersahabat dengan Yonatan. Paulus bersahabat dengan Silas. Markus bersahabat dengan Barnabas. Yesus bersahabat dengan murid- murid-Nya. Jemaat dalam Kisah Para Rasul terdiri dari orang-orang yang bersekutu, kadang kala dalam permusuhan dan keadaan sulit.

Gereja adalah suatu persekutuan, suatu komunitas. Lingkaran sahabat- sahabat kristiani membantu kita dengan berbagai cara sewaktu kita berjalan bersama-sama sepanjang jalur yang telah diletakkan Allah bagi kita. Mereka menawarkan persekutuan, tepat seperti yang kita perlukan —Dave Egner

9 Februari 2005

Pembekuan yang Cepat

Nats : Turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kaubawa keluar dari Mesir telah ... menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka (Ulangan 9:12)
Bacaan : Ulangan 9:9-16

Saya berterima kasih pada teknologi internet karena saya dapat melihat seni bangunan es di atas Danau Michigan dari kantor saya yang hangat. Padahal bangunan itu terletak 48 kilometer jauhnya dari kantor saya. Sudut perubahan sinar matahari di musim dingin mendinginkan bumi. Suhu yang sangat dingin mengubah air yang bergelora menjadi es batu dalam waktu singkat. Menyaksikan transisi yang cepat ini saya teringat bagaimana hati kita pun dapat dengan cepat berubah dingin terhadap Allah.

Hal itu terjadi pada bangsa Israel kuno. Setelah Allah dengan luar biasa menyelamatkan mereka dari perbudakan, mereka menjadi tidak sabar saat Musa naik ke Gunung Sinai untuk bertemu dengan Allah dan tidak segera turun menurut jadwal waktu yang mereka kehendaki. Lalu mereka berkumpul dan membuat allah mereka sendiri (Keluaran 32:1). Itu sebabnya Tuhan memberi tahu Musa untuk segera turun gunung karena bangsanya telah menyimpang dengan cepat (Ulangan 9:12).

Ketika situasi tidak berjalan sesuai perencanaan waktu kita, kita mungkin menganggap bahwa Allah tidak memerhatikan kita. Ketika kita tak lagi merasa dekat dengan-Nya, hati kita menjadi semakin dingin. Namun Allah senantiasa beserta kita. Pemazmur menulis, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan- Mu?” (Mazmur 139:7).

Bahkan ketika Allah tampaknya jauh dari kita, sebenarnya tidak demikian. Hadirat-Nya memenuhi langit dan bumi (ayat 8-10). Jadi, tak pernah ada alasan untuk membiarkan hati kita menjadi beku —Julie Link

26 Februari 2005

Dikenal Baik

Nats : Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya (2 Timotius 2:19)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Burung laut Arktik yang disebut guillemot tinggal di lereng-lereng pantai yang berbatu-batu. Di sana ribuan burung tersebut tinggal secara berkelompok di wilayah yang sempit. Karena mereka tinggal secara berkelompok, maka para betinanya meletakkan telur mereka secara berjejer sehingga telur-telur tersebut membentuk garis yang panjang. Yang sungguh mengagumkan adalah bahwa setiap betina dapat mengenali telur miliknya. Penelitian memperlihatkan bahwa bahkan apabila sebuah telur dipindahkan cukup jauh, pemiliknya akan menemukan dan membawanya kembali ke posisi semula.

Bapa surgawi kita tentu lebih mengenal anak-Nya masing-masing. Dia mengenal setiap pemikiran, emosi, dan keputusan yang kita buat. Mulai dari pagi hingga malam hari, Dia senantiasa memberikan perhatian pribadi untuk semua perkara kita sehari-hari. Karena menyadari kenyataan agung ini, maka pemazmur berseru dengan penuh kekaguman, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (Mazmur 139:6).

Hal seperti ini tidak hanya mendorong kita untuk mengangkat pujian, tetapi juga untuk memberikan penghiburan yang besar bagi hati kita. Yesus pun memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Bapa mengetahui apabila ada burung pipit yang jatuh ke tanah. Karena manusia jauh lebih penting daripada burung, maka anak-anak Allah boleh merasa yakin bahwa Bapa senantiasa memerhatikan mereka.

Betapa indahnya menjadi orang yang sedemikian dicintai, “dan dikenal baik”! —Mart De Haan

30 Maret 2005

Kehadiran Tak Terlihat

Nats : Barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya (Yohanes 14:21)
Bacaan : Yohanes 14:19-28

Saya merasa tidak nyaman bila ada pengkhotbah yang selalu berkata, "Tuhan memberi tahu saya," seolah-olah mereka baru saja mendengar langsung dari Allah. Mereka memberi kesan kita harus memercayai bahwa apa saja yang mereka katakan itu benar. Lagi pula, bagaimana mungkin kita dapat berbantahan dengan Allah.

Sebaliknya, saya sering begitu terharu ketika orang-orang yang mengalami penderitaan hebat atau yang bergumul melawan penyakit mematikan, mengatakan bahwa Tuhan telah berbicara di dalam hati dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Saya pun menyadari bahwa mereka telah benar-benar mengalami kehadiran Allah yang tak kelihatan.

G.K. Chesterton, sambil mencoba berpikir mengenai kesamaan yang dirasakan orang-orang percaya ini, menulis: "Plato telah memberitahukan kebenaran kepada Anda; tetapi Plato telah mati. Shakespeare telah memesonakan Anda dengan sebuah citra; tetapi Shakespeare tidak akan memesonakan Anda lagi. Namun bayangkanlah bagaimana bila kita hidup bersama orang-orang ini, dan mengetahui bahwa besok Plato akan menyampaikan kuliahnya dengan bersemangat, atau sewaktu-waktu Shakespeare mungkin menggetarkan semuanya hanya dengan sebuah lagu sederhana."

Yesus hidup di dalam setiap perkataan-Nya dan Dia memerhatikan keberadaan dan kebutuhan kita. Saat kita hidup dalam ketaatan kepada-Nya, kita dapat berharap bahwa Dia akan menepati janji-Nya untuk menyatakan diri kepada kita (Yohanes 14:21). Dan kita dapat berkata dalam kerendahan hati, "Tuhan berbicara kepadaku" —HVL

2 April 2005

Sahabat Anak-anak

Nats : Yesus berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Matius 19:14)
Bacaan : Matius 19:13-15

Hari ini, orang-orang di seluruh dunia merayakan peringatan 200 tahun kelahiran pendongeng besar Hans Christian Andersen. Pelajaran dan semangat yang terkandung di dalam kisah-kisah seperti Anak Itik yang Buruk Rupa, Putri Duyung, dan Pakaian Baru Sang Kaisar masih dianggap sebagai sebuah hadiah besar bagi anak-anak di mana saja.

Namun, saya diingatkan bahwa Yesus Kristus adalah sahabat terbesar anak-anak yang pernah dikenal dunia. Tak seorang pun pernah lebih banyak melakukan sesuatu bagi anak-anak itu daripada Yesus.

Saat murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anak kecil kepada-Nya, Tuhan berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Matius 19:14).

Yesus menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang bernilai. Setelah dielu-elukan di Yerusalem, Tuhan menerima pujian anak-anak dan mengingatkan orang-orang yang mengkritik mereka bahwa Allah telah menyediakan puji-pujian bahkan "dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu" (Matius 21:16; Mazmur 8:3).

Persahabatan dengan Sang Juruselamat merupakan hak istimewa bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, yang memiliki iman sederhana seperti seorang anak. Tangan-Nya yang penuh kasih dan hati-Nya yang lembut siap memeluk setiap anak yang menerima-Nya. Dia bersedia menerima semua orang yang membuka hati mereka kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia adalah Sahabat anak-anak —DCM

17 April 2005

Karya Kristus Belum Usai

Nats : Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibrani 7:25)
Bacaan : Ibrani 7:23-8:2

Kita sering mendengar tentang keselamatan yang disediakan Kristus di Kalvari saat Dia mati bagi dosa-dosa kita. Namun hanya sedikit pernyataan tentang pelayanan doa-Nya yang terus berlanjut bagi pertumbuhan rohani kita. Sama seperti ketika Yesus berdoa bagi Petrus di tengah godaan yang berat (Lukas 22:31,32), Dia pun kini menjadi Pengantara kita di hadapan takhta Bapa. Pekerjaan penting Sang Juruselamat ini akan terus berlanjut selama kita masih memerlukan pertolongan, penghiburan, dan berkat-Nya.

Robert Murray McCheyne, pendeta Skotlandia abad ke-19 yang terkasih menulis, "Jika saya dapat mendengar Kristus berdoa bagi saya di kamar sebelah, saya tidak akan takut menghadapi sejuta musuh. Namun, jarak tidaklah penting. Dia sedang berdoa bagi saya!"

Pada saat mengalami krisis pribadi yang dalam, saya menyadari kebenaran Ibrani 7 melalui cara yang baru dan indah. Setan sepertinya menyerang saya dari segala arah. Karena itu, saya memohon kepada Tuhan untuk membela saya. Keesokan harinya masalah itu terselesaikan, dan saya tahu bahwa hal tersebut adalah campur tangan Tuhan yang istimewa. Saat itulah saya benar-benar menyadari akan pelayanan Sang Juruselamat sebagai Imam Besar (8:1).

Jika Anda sedang mengalami kesulitan besar, ceritakanlah kepada Yesus. Dia akan mengajukan kebutuhan-kebutuhan Anda kepada Bapa. Melalui pekerjaan-Nya sebagai pengantara, Anda akan memperoleh hasil-hasil luar biasa yang hanya dapat dicapai oleh doa-doa-Nya —HGB

1 Juni 2005

Tuhan yang Bilang

Nats : Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23

Ketika Jacob, cucu saya yang berusia 8 tahun membesuk saya di rumah sakit, ia datang sambil membawa kartu "Semoga Cepat Sembuh" buatan sendiri. Kartu itu berupa kertas putih kaku berukuran kuarto yang dilipat menjadi dua. Bagian depan kartu itu ditulisnya dengan kata-kata, "Semoga Kakek cepat sembuh." Di dalamnya, dengan huruf kapital tebal, tertulis pesan:

Karena tidak ada acuan Kitab Suci, Jacob menambahi dengan kata-kata: "Tuhan yang bilang." Ia ingin memastikan saya tidak mengharapkannya menemani saya selama berada di rumah sakit.

Catatan tambahan itu menyampaikan kebenaran yang tidak disengaja sekaligus mendalam, yang membuat saya tersenyum dan menimbulkan kehangatan dalam hati saya. Rumah sakit dapat menjadi tempat yang membuat saya kesepian. Ini adalah dunia yang diisi dengan wajah-wajah asing, prosedur medis pertama, dan diagnosis yang tidak pasti. Namun, di sinilah Allah mampu menenangkan hati yang gelisah dan memberikan jaminan bahwa Dia akan menyertai Anda berjalan menyusuri setiap koridor, melalui setiap pintu yang baru, memasuki masa depan yang tidak Anda ketahui. Ya, bahkan melalui "lembah kekelaman" (Mazmur 23:4).

Mungkin Anda baru saja mengalami malapetaka atau kehilangan yang tak dinyana. Anda tidak mengetahui masa depan Anda. Percayalah kepada Yesus Sang Juruselamat dan Tuhan Anda, maka Anda dapat meyakini hal ini: Dia akan menyertai ke mana pun Anda melangkah. Anda boleh memercayainya. Tuhan yang bilang! —DJD
BAGI ORANG KRISTIANI
ALLAH LEBIH DEKAT DARIPADA BAHAYA

10 Agustus 2005

Meninggalkan Begitu Saja

Nats : Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu (Keluaran 33:14)
Bacaan : Keluaran 33:12-23

Setelah memenangkan medali perunggu pada Olimpiade 2004 di Athena, pegulat Rulon Gardner melepaskan kedua sepatunya, meletakkannya di tengah matras, dan meninggalkannya sambil menangis. Lewat tindakan simbolisnya itu, Gardner mengumumkan pengunduran dirinya dari olahraga yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun.

Akan tiba saatnya bagi kita semua untuk meninggalkan sesuatu di dalam hidup ini, dan saat itu mungkin menyakitkan secara emosi. Seseorang yang kita kasihi meninggalkan kita lewat kematian. Seorang anak meninggalkan rumah. Kita meninggalkan sebuah pekerjaan atau komunitas dan kita merasa seakan-akan telah meninggalkan semuanya di belakang kita. Namun jika kita mengenal Tuhan, kita tidak akan berjalan sendirian menapaki masa depan yang tak pasti.

Kita perlu berdiam diri dan merenungkan betapa anak-anak Israel meninggalkan sesuatu yang sangat besar ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Mereka meninggalkan beban berat perbudakan, namun mereka juga meninggalkan segala hal yang stabil dan dapat diduga yang telah mereka kenali. Di kemudian hari, saat Tuhan berkata kepada Musa, Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu (Keluaran 33:14), Musa menjawab, Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini (ayat 15).

Pada saat menghadapi saat-saat yang paling sulit, kehadiran dan kedamaian Allah memberi kita kestabilan. Karena Dia menyertai kita, maka kita dapat berjalan menapaki masa depan dengan penuh keyakinan DCM

28 Agustus 2005

Indahnya Kesunyian

Nats : Hanya dekat Allah saja aku tenang (Mazmur 62:2)
Bacaan : Mazmur 62:2-9

Di dinding di belakang mimbar gereja yang saya hadiri ketika masih remaja tertulis: Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus. Berdiam dirilah di hadapan-Nya, ya segenap bumi! (Habakuk 2:20). Dan kami pun berdiam diri! Kami, anak laki-laki berdelapan, tidak berkata apa-apa satu sama lain sementara duduk menanti kebaktian dimulai.

Saya senang saat melalui ketenangan ini dan acap kali saya berhasil menyingkirkan pikiran tentang gadis-gadis dan regu bisbol Detroit Tigers dari kepala saya. Saya berusaha sebisa mungkin untuk merenungkan keajaiban Allah dan keselamatan-Nya. Dan di dalam kesunyian, saya kerap kali merasakan kehadiran-Nya.

Saat ini kita hidup di dunia yang bising. Banyak orang bahkan tidak dapat mengemudikan mobil tanpa musik yang keras dari mobil mereka, atau dentuman bas yang menggetarkan kendaraan mereka. Bahkan banyak kebaktian gereja lebih banyak ditandai oleh keriuhan daripada saat teduh.

Zaman dulu para penyembah berhala berseru dengan riuh kepada para berhala mereka (1Raja 18:25-29). Lewat perbedaan yang tajam, sang pemazmur melihat hikmat dari kesunyian, karena di dalam rasa hormat yang tenang Allah dapat didengar. Di dalam kesunyian malam di bawah langit yang berbintang, di dalam ruang kebaktian yang hening, di kamar yang tenang di rumah, kita dapat bertemu dengan Allah yang hidup dan mendengar Dia berbicara.

Perkataan sang pemazmur masih relevan sampai hari ini: Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang (Mazmur 62:6) HVL

29 Agustus 2005

Pendamping yang Manis

Nats : Roh Kebenaran ... menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yohanes 14:17)
Bacaan : Yohanes 14:15-26

Ada seorang wanita tua di panti jompo yang tidak berbicara kepada orang lain ataupun meminta sesuatu. Tampaknya ia sekadar hadir di situ. Ia hanya berayun-ayun di kursi goyang tuanya yang berderik. Ia tidak dikunjungi banyak orang. Melihat hal itu, seorang perawat muda sering masuk ke kamarnya pada waktu istirahat. Ia tidak menanyakan apa pun untuk membuatnya berbicara. Ia hanya menarik sebuah kursi lain dan berayun bersamanya. Setelah beberapa bulan, wanita tua itu berkata kepadanya, Terima kasih telah berayun bersama saya. Ia berterima kasih atas kesediaan sang perawat mendampinginya.

Sebelum naik ke surga, Yesus berjanji kepada para murid-Nya untuk mengirimkan seorang pendamping yang akan selalu menyertai mereka. Dia mengatakan bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka sendirian, namun akan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai mereka (Yohanes 14:17). Janji itu masih berlaku bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus hari ini. Yesus mengatakan bahwa Allah Tritunggal tinggal dalam diri kita (ayat 23).

Tuhan adalah pendamping yang dekat dan setia sepanjang hidup kita. Penyanyi Scott Krippayne mengungkapkan kebenaran ini dalam lagu: Pada malam tergelapku, Dia adalah bintang pemandu; di dalam keberdosaanku, Dia adalah hati yang mengampuni; sebuah telinga yang mau mendengar untuk setiap doa yang bisu, sebuah pundak bagi beban-beban yang tak dapat kutanggung. Dia adalah Pendamping yang manis mulai hari ini hingga selamanya.

Kita dapat menikmati penyertaan-Nya yang manis hari ini AMC

19 Oktober 2005

Lebih dari Nasihat Baik

Nats : Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar (Yohanes 10:3)
Bacaan : Yohanes 10:1-15

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang untuk berbicara mengenai masalah tuntunan. Untuk mempersiapkan diri, saya kemudian membuka konkordansi untuk melihat kata “tuntunan”. Saya berharap akan menemukan daftar ayat-ayat yang panjang yang menyatakan janji Allah tentang tuntunan. Tetapi saya terkejut karena tidak ada kata tuntunan di sana. Saya justru menemukan kata penuntun dan sejumlah ayat yang menjanjikan bahwa Allah sendiri akan menjadi penuntun umat-Nya.

Penemuan ini menambah wawasan segar bagi perjalanan panjang iman kristiani saya. Saya diingatkan bahwa orang-orang buta membutuhkan anjing penuntun, bukan anjing yang memberikan tuntunan! Bahkan apabila anjing mampu berbicara, alangkah tidak memuaskannya jika mereka hanya menjadi pengawas yang meneriakkan peringatan-peringatan kepada orang buta tersebut dari kejauhan: “Sekarang kamu harus hati-hati! Kamu mendekati lubang. Awas pinggir jalan!” Tidak, makhluk bisu tetapi setia ini akan menuntun orang buta di setiap langkah di jalan, menjadi mata dan memimpin langkah si buta dengan aman di sepanjang jalan yang berbahaya.

Sebagian orang menginginkan Allah menjadi agen penasihat yang mulia. Tetapi ketika pandangan kita kabur dan jalan menjadi gelap, seperti yang sering terjadi, kita memerlukan lebih dari sekadar nasihat baik-kita memerlukan Gembala yang Baik untuk memimpin kita (Yohanes 10:3,11).

Apabila kita mengikuti Kristus setiap hari, kita akan menerima tuntunan yang kita perlukan -JEY

1 Januari 2006

Tanpa Tahu Tujuan

Nats : Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil ..., lalu ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya (Ibrani 11:8)
Bacaan : Ibrani 11:8-16

Salah satu ganjalan terbesar yang kita hadapi dalam mengikut Kristus adalah ketakutan tentang hal-hal yang tak diketahui. Kita ingin mengetahui lebih dulu hasil dari ketaatan kita dan ke mana Dia sedang membawa kita. Namun, kita hanya diberi jaminan bahwa Dia beserta kita dan bahwa Dia memegang kendali. Dan dengan jaminan itu, kita mengambil risiko untuk berjalan tanpa tahu tujuan bersama-Nya.

Abraham memberikan teladan mengenai respons seseorang yang bersedia berjalan bersama Allah ke masa depan yang tak pasti. "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya" (Ibrani 11:8).

Abraham tahu bahwa Allah telah memanggilnya dan telah memberi sebuah janji dan hal itu cukup. Ia bersedia memercayakan masa depannya kepada Tuhan.

Kita dapat melakukan hal yang sama dengan memercayakan masa depan kita kepada Tuhan dan melangkah dengan iman. Sewaktu kita berdiri di ambang tahun yang baru, kiranya doa iman dan harapan ini menjadi milik Anda:


Oh Tuhan Allah, yang telah memanggil kami, hamba-hamba-Mu,
Ke dalam ketidakpastian yang ujungnya tidak dapat kami lihat,
Melalui jalan yang belum pernah dilalui,
Dan bahaya yang tidak diketahui,
Berikanlah kami iman untuk pergi dengan keberanian,
Meskipun kami tidak tahu ke mana kami pergi
Namun kami hanya tahu bahwa tangan-Mu memimpin kami
Dan kasih-Mu menopang kami. Amin --DCM

2 Februari 2006

Pertanyaan Terbaik

Nats : TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? (Mazmur 15:1)
Bacaan : Mazmur 15

Pemenang hadiah Nobel, fisikawan Martin Perl ditanya kepada siapa ia mempersembahkan keberhasilannya. "Ibu saya," jawabnya. "Setiap hari apabila saya pulang dari sekolah ia bertanya kepada saya, 'Marty, apakah kamu melontarkan pertanyaan-pertanyaan bagus hari ini?'"

Daud melontarkan pertanyaan terbaik dari semua pertanyaan: "TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?" (Mazmur 15:1). Ada dua kata yang dipakai oleh orang Ibrani kuno untuk mengekspresikan pertanyaan "siapa?". Salah satunya adalah seperti yang kita gunakan. Akan tetapi, di sini Daud menggunakan kata yang lain sehingga pertanyaannya, "Orang seperti apakah yang tinggal dekat dengan Allah?"

Jawaban yang muncul merupakan serangkaian sifat-sifat karakter: "Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya" (ayat 2).

Mengetahui kebenaran dan menaati kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Allah suka tinggal di gunung-Nya yang kudus dengan orang-orang yang kudus yang mencerminkan kenyataan akan kebenaran yang mereka percayai. Ia mengasihi orang-orang yang "mengenakan kebenaran".

Namun, Mazmur ini bukanlah mengenai kekudusan kita sendiri, yang kita pikir akan membuat kita dapat memasuki hadirat-Nya. Melainkan lebih mengenai keindahan dari kekudusan yang Allah bentuk dalam diri kita jika kita tinggal dalam persekutuan dengan-Nya.

Semakin kita dekat kepada Allah, kita semakin serupa dengan-Nya --DHR

23 Februari 2006

Dibangun untuk Tahan Lama

Nats : Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh (Efesus 2:22)
Bacaan : Efesus 4:7-16

Ketika para penjelajah memasuki Peru, mereka menemukan bangunan-bangunan besar dan menakjubkan yang mungkin telah berdiri selama 2.000 tahun. Bangunan Inca kuno ini dibangun dengan bebatuan yang dibentuk dengan tangan dari berbagai ukuran dan bentuk. Sebagian terdiri dari 3 sisi, sebagian 4 sisi, dan beberapa 7 sisi. Tanpa menggunakan adukan semen, mereka menyusun batu-batu itu begitu sempurna sehingga bangunan itu dapat berdiri berabad-abad, bahkan tahan dari gempa bumi.

Allah membangun gereja-Nya dengan cara yang sama. Alkitab menggambarkan gereja Yesus Kristus seperti sebuah bangunan, dan setiap orang percaya adalah satu bagian dari bangunan itu. Petrus mengatakan bahwa kita adalah "batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani" (1Petrus 2:5). Dan Paulus berkata bahwa kita "rapi tersusun" (Efesus 2:21) dan "dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh" (ayat 22).

Gereja Kristus terdiri dari orang-orang dengan berbagai latar belakang, kemampuan, kesenangan, dan kebutuhan. Karena itu bersatu dalam satu tujuan bersama bukanlah suatu proses yang mudah. Namun apabila kita mengizinkan Tuhan melakukan pekerjaan-Nya di tengah-tengah kita, membentuk kita, dan menempatkan kita pada bangunan itu, kita akan menjadi bagian dari bangunan besar yang kokoh dan kuat.

Ya, kita semua berbeda. Namun Allah sedang membangun gereja-Nya yang tahan lama. Bangunan-bangunan Inca yang luar biasa pada saatnya nanti akan hancur, tetapi gereja dibangun untuk tahan selamanya --DCE

19 April 2006

Tetaplah Rendah Hati

Nats : Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:19)
Bacaan : Mazmur 34:12-23

Jawatan Cuaca Nasional memberi sa-ran bahwa jika Anda terjebak dalam badai petir yang dahsyat di tempat terbuka, maka Anda sebaiknya berlutut, membungkukkan tubuh ke depan, dan meletakkan kedua tangan di atas lutut. Dengan demikian, apabila petir menyambar di dekat Anda, kecil kemungkinan tubuh Anda akan berfungsi sebagai konduktor. Pengamanan yang maksimum tergantung pada seberapa rendah posisi tubuh Anda.

Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang kristiani yang terjebak dalam badai kehidupan -- kita harus mengambil sikap rohani yang rendah hati. Hal ini berarti kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan (Mazmur 34:19), karena kesombongan dan pemberontakan dapat mengeraskan hati kita. Kita harus berbicara dengan benar (ayat 14), menjauhi yang jahat, melakukan kebaikan, dan mencari perdamaian (ayat 15). Bapa surgawi menginginkan kita untuk berada di dekat-Nya sehingga ketika hati kita terluka, Dia dapat memberikan kekuatan dan kasih-Nya yang menyembuhkan.

Memang kita akan "basah kuyup" di tengah hujan angin kesengsaraan yang dahsyat, dan kadang kala anginnya yang dahsyat itu dapat memukul kita dengan keras sehingga kita nyaris tersapu. Setiap kali cahaya kilat yang membutakan muncul, kita akan sangat tergoda untuk berdiri dan lari. Namun, menjaga sikap rohani yang rendah hati dan rasa takut akan Tuhan merupakan cara terpasti dan teraman untuk bertahan dalam badai itu. Daud meyakinkan kita bahwa mereka yang percaya kepada Allah dalam badai kehidupan tidak akan dihukum (ayat 23) --DJD

1 Juni 2006

Warna Biru

Nats : Katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka ... dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan (Bilangan 15:38)
Bacaan : Bilangan 15:37-41

Allah menyuruh anak-anak Israel untuk membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka yang di dalamnya "dibubuh benang ungu kebiru-biruan" (Bilangan 15:38). Jumbai-jumbai itu akan mengingatkan mereka untuk "melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu" (ayat 40). Benang biru -- seperti warna langit di atas -- berbicara tentang kuasa dan anugerah keselamatan Allah yang tak terukur.

Hari ini pun kita masih perlu diingatkan. Di dalam kesibukan hidup yang hiruk pikuk dan meresahkan, kita dapat dengan mudah melupakan Allah dan kasih-Nya bagi kita. Kita pun bisa lupa bahwa Dia hidup di dalam dan di sekitar kita serta mengasihi kita dengan kasih sayang yang kekal. Ada hal-hal yang dapat membantu mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Salah satunya adalah warna biru.

"Langkah pertama adalah mengingat," kata Aslan di dalam buku C.S Lewis The Silver Chair. Aslan, sebagai figur Kristus, mengatakan kepada Jill untuk "mengingat tanda-tanda" yang telah ia berikan kepadanya.

Jika Anda mengerti tanda-tanda Allah, seperti nilai penting dari warna biru, Anda akan lebih mudah mengingat kasih Allah. Warna biru dapat mengingatkan Anda akan dunia yang tak terlihat di atas dan di sekeliling kita; dunia yang tak terlihat namun nyata. Danau di tengah pegunungan, celah gletser, bunga forget-me-not berwarna biru di pegunungan, langit yang biru -- semuanya mengingatkan kita akan surga dan kasih Allah yang tak terukur.

Saat Anda melihat warna biru, ingatlah akan kasih Allah, dan khususnya kasih-Nya bagi Anda --DHR

12 Januari 2007

Tolong!

Nats : Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)
Bacaan : Mazmur 46

Orang sebenarnya hanya boleh menelepon 911 saat menghadapi keadaan darurat, tetapi ternyata banyak orang yang tidak mengerti atau tidak mengikuti aturan. Operator panggilan darurat polisi di Colorado Springs pernah menerima telepon dari orang-orang yang melaporkan televisi yang tidak bisa menyala, menanyakan kapan salju akan berhenti turun, dan ingin melaporkan penyalahgunaan identitas tetapi tidak bersedia menyebutkan nama mereka.

Saya sering bertanya-tanya apakah doa-doa kita yang berisi permintaan tolong tidak terdengar serius bagi Allah. Memang kita tidak mungkin mengetahuinya, tetapi ada satu hal yang kita yakini: Saat kita membutuhkan, Tuhan tidak hanya mendengar seruan kita, tetapi Dia juga bersama kita.

Mazmur 46 menggambarkan masa-masa yang penuh malapetaka, termasuk peperangan dan bencana alam. Namun, mazmur itu pun merupakan lagu kepercayaan yang dimulai dan diakhiri dengan penegasan yang sama: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti .... Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub" (ayat 2,12).

Tuhan selalu bekerja agar maksud-maksud-Nya tercapai, bahkan saat dunia terlihat kacau. Dia berkata kepada kita, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (ayat 11).

Kita tidak perlu lagi merasa takut. Apabila kita meminta pertolongan, kita tahu bahwa Dia mendengar dan akan datang mendekat --DCM

17 Februari 2007

Menemukan-Nya Dalam Gelap

Nats : Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk. 19:10)
Bacaan : Kisah 17:22-31

Ketika anak-anak laki-laki kami masih kecil, kami suka bermain "Sarden-sardenan". Kami mematikan semua lampu di rumah dan saya bersembunyi dalam lemari atau tempat-tempat sempit lainnya. Anggota keluarga yang lain meraba-raba dalam gelap untuk menemukan tempat persembunyian saya, kemudian bersem-bunyi bersama saya sampai kami berde-sak-desakan seperti ikan sarden. Dari situlah kami menamai permainan itu.

Ada kalanya anggota keluarga saya yang paling kecil takut berada dalam ge-lap, jadi ketika ia mendekat, saya berbisik kepadanya, "Ayah di sini." Namun ia sege-ra berteriak, "Aku menemukan Ayah!" ujarnya sambil menubruk saya dalam gelap, tanpa sadar bahwa ia membuat saya "ditemukan".

Demikian juga kita diciptakan untuk mencari Allah, yaitu untuk "menemukan Dia", sebagaimana yang disampaikan Paulus dengan begitu jelas (Kis. 17:27). Namun, inilah kabar baiknya: Dia tidak sulit ditemukan, karena "Ia tidak jauh dari kita masing-masing". Dia ingin menyatakan diri-Nya. "Dalam dahaga dan kerinduan Allah, ada harta yang tersimpan. Dia rindu memiliki kita," tulis Dame Julian dari Norwich berabad-abad lalu.

Sebelum mulai mengenal Kristus, kita meraba-raba Allah dalam kegelapan. Akan tetapi, apabila kita mencari Dia dengan sungguh-sungguh, Dia akan menyatakan diri-Nya, karena Dia memberi upah orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya (Ibr. 11:6). Dia akan memanggil kita dengan lembut, "Aku di sini."

Dan, Dia menanti jawaban kita, "Aku menemukan-Mu!" --DHR

Manusia meraba-raba di lorong gelap kehidupan;
Memanjatkan doa kepada ilah yang tak dikenalnya,
Sampai suatu hari ia berjumpa dengan Anak Allah --
Akhirnya ia menemukan Sang Kehidupan! --D. De Haan

3 Maret 2007

El-roi

Nats : Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman ke-padanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?" (Kej. 16:13)
Bacaan : Kejadian 16:7-13

Kini banyak dijual alat pelacak lokasi. Alat itu membantu kita untuk melacak keberadaan orang-orang tua, anak-anak, dompet, hewan peliharaan, tahanan yang dilepas dengan jaminan, bahkan para korban penculikan yang penting.

Sebesar apa pun manfaatnya, alat itu tak berpengaruh bagi Hagar. Tak seorang pun memedulikan ia dan anak dalam kandungannya, atau memerhatikan kesejahteraan mereka di padang gurun. Tak seorang pun kecuali El-Roi -- dalam bahasa Ibrani berarti "Allah yang melihat" (Kej. 16:13).

Hagar melayani Sarai, istri Abram. Sarai merasa dirinya adalah bagian yang lemah dalam rangkaian janji Allah untuk memberkati Abram dengan banyak keturunan. Ia mandul. Maka, ia meminta Abram untuk tidur dengan hamba perempuannya dan memiliki keturunan darinya. Saran yang tidak bijak ini -- yang lahir di tengah tekanan budaya yang keras perihal penentuan ahli waris -- menimbulkan masalah besar. Ketika hamil, Hagar memandang rendah Sarai karena ketidakmampuannya melahirkan anak. Lalu Sarai menindas Hagar sehingga Hagar meninggalkannya. Di padang gurun, tatkala merasakan kesengsaraan hidup masa lalu dan ketidakpastian masa depannya, Hagar bertemu Allah yang melihat dan memeliharanya.

El-Roi melihat kesengsaraan Anda di masa lalu, kepedihan Anda di masa kini, ketidakpastian Anda di masa depan. Dia begitu perhatian sehingga tahu ketika ada burung pipit yang terkecil sekalipun mati (Mat. 10:29-31). Dialah Allah yang melihat dan memelihara Anda saat ini --MW

Bila Tuhan melihat jatuhnya pipit,
Melukis bakung aneka rupa,
Mewarnai biru cerahnya langit,
Tidakkah Dia memeliharamu juga? --Anon.

14 Maret 2007

Dia Hadir

Nats : Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau (Ul. 31:6)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Tunangan Tanya, David, berbaring di ICU setelah menjalani prosedur yang rumit dalam penyembuhan pembengkakan pembuluh darah di otaknya. Mata David tertuju pada Tanya yang hampir tidak pernah beranjak dari sisinya selama beberapa hari itu. Dengan takjub David berkata, "Setiap kali aku memandang, kamu pasti berada di sini. Aku sangat senang. Setiap kali memikirkanmu, aku membuka mata dan kamu selalu ada di sini."

Penghargaan pria muda tersebut terhadap wanita yang dicintainya mengingatkan saya pada perasaan kita yang seharusnya terhadap kehadiran Allah dalam hidup kita.

Dia selalu hadir. Kehadiran Tuhan memberi kita rasa nyaman dan aman. Dia telah berjanji, "Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibr. 13:5). Siapa yang mengenal kita secara menyeluruh? Siapa yang mengasihi kita dengan utuh? Siapa yang memedulikan kita dengan sangat baik?

Mazmur 139 menunjukkan pemikiran Raja Daud tentang kehadiran Allah yang berharga. Ia menulis, "Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, ... segala jalanku Kaumaklumi .... Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana" (ay. 1-3,8).

Apa pun yang terjadi pada kita, kita memiliki janji ini, "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti" (Mzm. 46:2). Bukalah mata dan hati Anda. Dia hadir --CHK

Saat berjalan di padang rumput menghampar,
Atau melewati gunung tandus dan kasar;
Betapa keyakinan ini sungguh berharga,
Yesus selalu bersama kita. --B. Lillenas

1 Juli 2007

Arung Jeram

Nats : Janganlah takut dan janganlah tawar hati, sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau. Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan engkau (1Tawarikh 28:20)
Bacaan : 1Tawarikh 28:9-20

Mulanya saya menikmati pengalaman pertama saya berarung jeram, sampai saya mendengar suara gemuruh jeram di depan saya. Tiba-tiba emosi saya dibanjiri dengan perasaan tak pasti, takut, sekaligus tak aman. Mengarungi jeram sungguh pengalaman yang sangat mendebarkan! Lalu, tiba-tiba, semuanya kembali tenang. Pemandu yang duduk di bagian belakang rakit berhasil memandu kami dengan baik melalui jeram itu. Saya selamat -- setidaknya sampai bertemu jeram berikutnya.

Transisi-transisi dalam hidup kita juga serupa dengan jeram-jeram sungai. Banyak transisi tak terelakkan saat kita beralih dari suatu masa kehidupan ke masa berikutnya -- dari masa kuliah ke masa bekerja, dari masa lajang ke pernikahan, dari masa berkarier ke masa pensiun, dari pernikahan ke hidup menduda atau menjanda -- semua ditandai dengan kebimbangan dan kegelisahan.

Salah satu perubahan yang paling berarti dan tercatat di Perjanjian Lama adalah ketika Salomo mengambil alih takhta dari Daud, ayahnya. Saya yakin Salomo berdebar-debar karena masa depannya seakan-akan penuh dengan ketidakpastian. Namun, apa nasihat ayahnya? "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, dan lakukanlah itu; ... sebab Tuhan Allah, Allahku, menyertai engkau" (1Tawarikh 28:20).

Anda akan mengalami masa-masa transisi dalam hidup Anda. Namun, apabila Anda bersama Allah di dalam rakit kehidupan, maka Anda tidak sendirian dalam menghadapi beragam perubahan itu. Pandanglah Pribadi yang menjadi Pemandu dalam mengarungi jeram kehidupan. Dia sudah membimbing banyak orang melewati jeram kehidupan. Air tenang sudah menanti di depan Anda --JMS

20 Juli 2007

Perjamuan Suci di Bulan

Nats : Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana (Mazmur 139:8)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Apollo 11 mendarat di permukaan bulan pada Minggu, 20 Juli 1969. Kebanyakan kita tahu pernyataan bersejarah Armstrong ketika ia menapakkan kaki di permukaan bulan, "Bagi seorang manusia, ini memang langkah kecil; tetapi ini langkah raksasa bagi umat manusia." Namun, hanya sedikit orang yang mengetahui makanan pertama yang disantap di sana.

Dalam pesawat angkasa luar itu, Buzz Aldrin telah membawa sebuah kotak perjamuan suci yang disediakan gerejanya. Aldrin mengirimkan siaran radio ke bumi untuk meminta para pendengarnya merenungkan berbagai peristiwa yang terjadi hari itu, kemudian mengucap syukur.

Lalu, tanpa disiarkan melalui radio demi menjaga keleluasaan pribadi, Aldrin menuang anggur ke dalam piala perak. Ia membaca, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak" (Yohanes 15:5). Dalam keheningan, ia mengucap syukur, makan roti, dan minum anggur.

Allah ada di mana-mana, dan penyembahan kita harus mencerminkan kenyataan ini. Dalam Mazmur 139 dikatakan bahwa ke mana pun kita pergi, Allah berada dekat dengan kita. Buzz Aldrin merayakan pengalaman itu di permukaan bulan. Dalam jarak ribuan kilometer jauhnya dari bumi, ia meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan Dia yang menciptakan, menebus, dan bersekutu dengannya.

Apakah Anda jauh dari rumah? Apakah Anda seakan-akan berada di puncak gunung atau jurang yang gelap? Apa pun situasi Anda, persekutuan Anda dengan Allah hanyalah sejauh doa --HDF

26 Juli 2007

Malam

Nats : Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku (Mazmur 42:9)
Bacaan : Mazmur 42

Dalam bukunya yang memukau dan menegangkan berjudul Night (Malam), Elie Weisel menggambarkan pengalaman masa kecilnya sebagai salah satu dari sekian banyaknya korban Holocaust [peristiwa pembantaian orang Yahudi secara besar-besaran]. Karena direnggut dari rumahnya dan dipisahkan dari seluruh keluarganya, kecuali ayahnya (yang kemudian meninggal di kamp maut), Weisel menderita kekelaman malam jiwa, seperti yang dialami oleh beberapa orang. Hal ini membuatnya meragukan pandangan dan imannya tentang Allah. Kemurnian hati dan imannya menjadi korban di atas mezbah kejahatan manusia serta kegelapan dosa.

Daud mengalami sendiri kekelaman malam jiwa, yang oleh banyak cendekiawan dipercayai telah menginspirasi tulisannya di Mazmur 42. Karena terus diuber dan diburu, mungkin ketika dikejar oleh putranya, Absalom, yang memberontak (2Samuel 16-18), Daud mengalami kepedihan dan ketakutan yang dapat dirasakan orang dalam pengasingan malam. Malam adalah tempat kegelapan mencekam dan memaksa kita memikirkan kepedihan hati kita dan mempertanyakan Allah. Pemazmur sadar mengeluh tentang Allah yang seolah-olah tidak hadir, namun justru dalam semua pengalaman itu ia memperoleh nyanyian malam (ayat 9) yang memberikan damai dan kepercayaan kepadanya untuk menghadapi berbagai kesulitan yang dihadapi.

Ketika kita memiliki pergumulan yang kelam, kita harus yakin bahwa Allah bekerja dalam kegelapan. Kita dapat berkata bersama pemazmur, "Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (ayat 12) --WEC

31 Agustus 2007

Di Manakah Allah?

Nats : Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yesaya 53:4)
Bacaan : Ibrani 13:5-8

Apakah Allah tidak hadir secara kejam? Itulah yang ditanyakan Robert McClory, seorang profesor emeritus bidang jurnalisme di Northwestern University’s Medill School of Jurnalism, setelah badai Katrina menghancurkan daerah New Orleans, Amerika Serikat.

Mungkin kita ingin mencoba menjelaskan bahwa Sang Mahakuasa tidaklah bersalah karena Dia telah mengizinkan bencana yang memorak-porandakan masyarakat. Akan tetapi, apakah Allah tidak hadir dalam situasi seperti ini? Tidak, McClory tetap bersikeras. Berbicara tentang tragedi Katrina, ia mengatakan bahwa Allah ada, tetapi Dia mungkin secara kasat mata tidak terlihat hadir "bersama orang yang menderita dan hampir mati. Dia ada pada masing-masing pribadi, masyarakat, gereja, dan sekolah yang mengorganisasi bantuan bagi korban serta mengevakuasinya ke kota serta rumah mereka. Dia ada bersama ratusan ribu orang yang menunjukkan belas kasihan berupa dukungan doa dan keuangan".

Begitu pula dengan tragedi menghancurkan hati yang terjadi dalam hidup kita, misalnya kematian seseorang yang kita kasihi. Kita tak punya jawaban yang cukup memuaskan atas berbagai masalah hidup yang menyakitkan seperti ini. Namun, kita tahu Tuhan bersama kita, karena Dia berkata bahwa Dia tak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Yesus disebut "Imanuel" yang secara harfiah berarti "Allah menyertai kita" (Matius 1:23).

Meskipun penderitaan membuat kita bingung, kita dapat memercayai bahwa Allah ada di dekat kita dan sedang melaksanakan maksud-Nya --VCG

14 Oktober 2007

Bertatap Muka

Nats : Aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang (Yesaya 6:1)
Bacaan : Yesaya 6:1-10

Bertatapan muka dengan seseorang yang terkenal dapat membuat Anda terpesona. Sebagai seorang penulis kolom olahraga, saya telah mewawancarai bintang bola basket, David Robinson dan Avery Johnson. Saya pun pernah berdiri di sebuah garasi bersama Joe Gibbs, pemilik mobil balap dan pelatih football profesional.

Seseorang dapat merasa lebih rendah ketika berbicara dengan seseorang yang terkenal. Kita pun dapat merasa kagum dan hormat kepada para atlet dan bintang lainnya, sehingga kita merasa tidak penting.

Namun demikian, hal itu belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dilihat oleh Yesaya "dalam tahun matinya raja Uzia" (Yesaya 6:1). Yesaya mengalami sesuatu yang sangat luar biasa dan menakutkan tiada tara; ia berdiri berhadapan langsung dengan Allah!

Dalam sebuah penglihatan, Allah memberi tahu Yesaya siapa Dia sesungguhnya. Apa yang dilihat oleh sang nabi membawa dampak yang sangat besar terhadap dirinya. Ia melihat keagungan Allah. Ia memperoleh pemahaman baru mengenai kekudusan Allah. Ia melihat pertentangan antara dirinya yang berdosa dan kesempurnaan Allah. Ia mendengar panggilan Allah untuk melayani, dan ia menanggapinya.

Hari ini, kita dapat melihat Allah dalam firman-Nya dan dalam karya Roh yang berada di dalam dan melalui diri kita. Kita pun dapat bersekutu dengan-Nya melalui doa. Akan tetapi, suatu hari nanti, kita akan melihat Tuhan muka dengan muka di surga (1 Yohanes 3:2). Saat itu kita akan benar-benar terpesona! --JDB

14 Desember 2007

Fakta-fakta Kehidupan

Nats : Kata Maria, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38)
Bacaan : Lukas 1:24-38

Tampaknya sebagian besar pergumulan kita berkisar pada hasrat untuk meng-ingini sesuatu yang tidak kita miliki atau keluhan karena memiliki sesuatu yang tidak kita ingini. Keinginan kita yang terdalam dan tantangan kita yang terbesar berakar sangat dalam pada usaha untuk melihat tangan Allah dalam dua fakta kehidupan ini. Di sinilah kisah Lukas tentang kelahiran Yesus dimulai.

Elisabet yang sudah lanjut usia mendambakan seorang bayi. Meskipun demikian, bagi Maria yang muda dan sudah bertunangan, kehamilan dapat menjadi aib. Akan tetapi, ketika keduanya mengetahui bahwa mereka akan mempunyai anak, mereka menerima berita itu dengan iman kepada Allah yang ketepatan waktu-Nya sempurna dan yang tidak mengenal kemustahilan (Lukas 1:24,25,37,38).

Pada waktu kita membaca kisah Natal, kita barangkali dikejutkan oleh konteks kehidupan nyata dari orang-orang yang nama-namanya sudah begitu kita kenal. Bahkan, ketika Zakharia dan Elisabet dikenai stigma oleh masyarakat bahwa mereka tidak dapat memiliki anak, kedua orang ini digambarkan sebagai orang-orang yang "benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat" (ayat 6). Dan, malaikat berkata kepada Maria bahwa ia beroleh anugerah di hadapan Allah (ayat 30).

Teladan mereka telah menunjukkan kepada kita nilai dari hati yang percaya, yang menerima jalan-jalan Allah, dan kehadiran tangan-Nya yang berkuasa, bagaimanapun kacaunya keadaan kita --DCM

13 Mei 2008

Agen Perubahan

Nats : Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur (2Raja-raja 20:6)
Bacaan : 2Raja-raja 20:1-6

Untuk apa Anda hidup? Banyak orang hidup hanya sekadar numpang lewat. Sibuk mencari uang dan menikmati hidup. Kehadirannya tidak memberi sumbangsih apa pun bagi dunia sekitar. Melaluinya, dunia tidak menjadi lebih baik. Malah ada orang yang hidupnya selalu menebar masalah. Untung, tidak semuanya begitu. Ada juga orang-orang yang berhasil mengubah dunia. Misalnya, Martin Luther King dan Ibu Teresa. Dunia merasa berutang budi saat mereka meninggal. Dunia menjadi berbeda karena mereka.

Raja Hizkia termasuk tokoh pembawa perubahan di negerinya. Selama 100 tahun, para raja di Yudea memerintah tanpa mengandalkan pimpinan Tuhan. Namun, Raja Hizkia berbeda. Ia berani melawan arus. Alih-alih mengikuti jejak raja-raja sebelumnya, ia menetapkan diri untuk memimpin Yudea kembali ke jalan Tuhan. Di tengah perjuangannya, ia jatuh sakit. Hampir mati. Ia pun memohon belas kasihan Tuhan, dan Tuhan memberinya berkat istimewa. Usianya diperpanjang 15 tahun. Bahkan, Tuhan berjanji menyertai perjuangannya; menyelamatkan rakyatnya dari serangan tentara Asyur. Ini tidak mengherankan. Allah suka memberi berkat istimewa bagi orang yang bisa dipakai-Nya untuk mengubah dunia.

Tuhan ingin memakai kita menjadi agen perubahan. Tidak harus perubahan besar. Perubahan kecil pun bisa sangat berarti. Kehadiran kita bisa menyentuh dan mengubah hidup orang-orang di sekitar kita. Membuat orang merasa senang, dikasihi, dan dihargai. Hadiah atau pujian kecil bisa mengenyahkan kesuraman hati seorang teman. Sebuah panggilan telepon atau e-mail bisa membuat sahabat kita merasa dicintai. Jadilah agen perubahan hari ini! -JTI

17 Juli 2008

Menikah untuk Bahagia?

Nats : Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)
Bacaan : Efesus 5:22-33

Apakah tujuan orang menikah? Supaya bahagia? Bagaimana jika tidak bahagia? Banyak pasangan yang hidupnya susah setelah menikah. Ada yang kesulitan menghadapi karakter pasangannya yang sulit diubah. Akibatnya sering cekcok. Ada yang susah karena anaknya autis atau cacat mental. Yang lainnya terus-menerus dihadapkan pada musibah. Jika visi pernikahan Anda cuma demi mengejar kebahagiaan, bisa jadi Anda kecewa!

Firman Tuhan memandang pernikahan lebih sebagai proses pembentukan atau pendewasaan. Istri diminta "tunduk", artinya belajar menghargai kepemimpinan suami. Dengan merendahkan diri, istri dapat menjaga harga diri suaminya. Begitu pula suami diminta belajar mengasihi istri seperti merawat tubuhnya sendiri. Bahkan seperti Kristus mengasihi jemaat (ayat 25,29,32). Di zaman itu, budaya Romawi menempatkan suami sebagai figur kepala keluarga dengan kuasa tak terbatas. Lumrah jika suami bersikap sebagai tuan yang minta dilayani. Namun, para suami kristiani tidak boleh begitu. Mereka harus "mengasuh dan merawat" istri (ayat 28,29). Artinya menyediakan waktu dan perhatian yang cukup. Rupanya, untuk mewujudkan pernikahan kristiani dibutuhkan penyangkalan diri dari kedua pihak. Menikah ibarat sekolah, yang melaluinya sifat-sifat kita dibentuk.

Dan, proses pembentukan itu menyakitkan! Gary Thomas, pengarang buku Sacred Marriage (Pernikahan yang Kudus), berkata: "Tuhan merancang pernikahan untuk membuat Anda suci, lebih daripada membuat Anda bahagia." Kebahagiaan pernikahan adalah buah atau hadiah dari perjuangan menyangkal diri. Ia tak akan datang sendiri -JTI

25 Juli 2008

Behind Enemy Lines

Nats : TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka (Amsal 16:4)
Bacaan : Amsal 16:1-6

Pada tahun 2001, ada sebuah film berlatar Perang Bosnia yang dibintangi oleh Gene Hackman dan Owen Wilson. Judulnya Behind Enemy Lines. Film bercerita tentang Letnan Chris Burnett yang pesawatnya ditembak jatuh oleh pasukan Serbia. Ia dapat selamat karena kursi pelontarnya. Sayangnya, ia jatuh di daerah musuh. Burnett terpaksa harus berupaya keras menyelamatkan dirinya dari kejaran dan incaran musuh. Tidak jarang ia hampir terbunuh oleh sniper (penembak jitu) atau serangan bom.

Terkadang kita juga berada di tengah lingkungan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan; bertemu dengan orang-orang yang selalu berseberangan; bekerja dengan orang yang kasar dan "semau gue"; melayani bersama orang yang suka menyinggung, tetapi mudah tersinggung. Waktu dan tenaga kita jadi terkuras hanya untuk meladeni orang-orang "sulit" ini. Keadaan ini tidak jarang membuat frustrasi. Serasa terjebak di "behind enemy lines". Di belakang garis musuh.

Namun, saat Tuhan mengizinkan orang-orang hadir dalam kehidupan kita, maka pasti ada tujuannya. Begitu juga kehadiran orang-orang "sulit" di perjalanan hidup kita. Dari mereka, setidaknya kita dapat belajar tentang kesabaran, kerendahan hati, dan penguasaan diri. Sekaligus kita bisa bercermin, betapa buruknya kita bila menjadi orang seperti itu. Kita diingatkan untuk tidak menjadi orang sulit bagi orang lain. Sesekali, dengan berhadapan dan hidup bersama mereka, kita pun menjadi lebih objektif dalam memandang mereka; tidak lagi dengan amarah dan kekesalan, tetapi dengan simpati dan empati -AYA

10 Agustus 2008

Sedapat-dapatnya

Nats : Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang! (Roma 12:18)
Bacaan : Roma 12:9-21

Ini curhat seorang teman, "Saya sedang mengalami konflik dengan seorang teman di gereja. Masalahnya cuma sepele, Alkitabnya saya taruh di kotak tempat menyimpan Alkitab-Alkitab yang ketinggalan di gereja. Saya sama sekali tidak tahu kalau itu Alkitabnya. Saya pikir itu Alkitab orang yang ketinggalan karena tergeletak begitu saja di kursi gereja. Namun, ia marah ke saya. Dibilangnya saya mau ngerjain, mau membuatnya susah. Ia menuduh saya membencinya. Saya sudah minta maaf, sudah menjelaskan duduk masalahnya pula, tetapi ia tetap tidak mau terima. Lalu, saya harus bagaimana lagi?"

Dalam berelasi dengan orang lain-di kantor, kampus, atau gereja-mungkin kita juga pernah mengalami hal serupa; bertemu dengan "orang yang sulit". Apa pun yang kita lakukan disalahartikan. Selalu berprasangka buruk terhadap kita. Kadang jadi konflik batin juga. Di satu sisi kita harus mengasihi dan hidup damai dengan orang lain. Namun pada kenyataannya, ada orang yang menganggap kita seperti "kucing melihat anjing"; membenci, sikapnya sinis, bahkan kasar. Sangat menjengkelkan.

Lalu bagaimana? Sebagaimana bertepuk tangan harus dengan dua tangan, begitu juga hidup damai dengan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bersikap sama dengan kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan, "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu" (ayat 18). Jadi, betul, kita harus selalu berusaha hidup damai dengan orang lain, tetapi kalau ternyata orang lain menolaknya, itu di luar kemampuan kita. Janganlah kita terus menyalahkan diri sendiri. Yang penting kita tidak membencinya -AYA

24 Agustus 2008

"aku Mau ..."

Nats : Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah engkau tahir" (Markus 1:41)
Bacaan : Markus 1:40-45

Mana lebih baik: Mau, tetapi tak mampu? Atau mampu, tetapi tak mau? Mana pula yang lebih sering kita lakukan dalam kehidupan? Banyak orang mampu, tetapi tak banyak yang mau menggunakannya secara penuh untuk meningkatkan mutu kehidupan orang lain.

Si kusta menyapa Yesus, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat ...." Yesus menjawab dengan sederhana, namun sungguh melegakan: "Aku mau." Dengan jawaban ini Yesus menunjukkan bahwa Dia sangat mengerti kondisi si kusta. Sebagai pesakitan kusta, orang itu harus menandai dirinya dengan pakaian khusus dan teriakan peringatan agar tak seorang pun mendekatinya. Untuk makan, ia harus menunggu kiriman keluarganya tanpa perlu bertemu muka. Kusta adalah penyakit yang dianggap begitu menjijikkan, bahkan dianggap hukuman Allah yang menajiskan orang. Tak heran bila ia mengalami kesedihan yang dalam karena penyakitnya. Itu sebabnya ia hanya berani meminta dengan cemas sambil berharap, "Kalau Engkau mau ..." Ini berarti bila Yesus tidak mau, maka ia akan mengerti. Namun, Yesus sangat memahami isi hati si kusta. Karena itu sebelum melakukan penyembuhan fisik, Yesus menyentuh hati si kusta yang luka dengan berkata penuh pengertian, "Aku mau ... jadilah engkau tahir"

Kita belajar bahwa yang penting bagi pelayanan Yesus bukan sekadar menyembuhkan penyakit, namun juga memberi harapan baru bagi mereka yang lelah dan lesu jiwanya. Melalui tindakan dan kata-katanya, Yesus memberi semangat hidup bagi orang yang mati harapannya. Inilah teladan kita. Mari ikuti dan teruskan karya-Nya -DKL

25 Agustus 2008

Pembangkangan Parks

Nats : Sebab jika seseorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah (Roma 13:3)
Bacaan : Roma 13:1-7

Tanggal 1 Desember 1955, suatu sore di Montgomery, Alabama. Seorang penjahit wanita kulit hitam tampak lelah ketika pulang bekerja. Ia naik bus dan duduk di baris terdepan, di bangku yang disediakan bagi orang kulit hitam. Seorang pria kulit putih menyusul naik bus. Bangku bagi orang kulit putih sudah penuh. Kemudian ia memerintahkan wanita kulit hitam itu untuk pindah sesuai peraturan yang berlaku.

Wanita itu bergeming. Ia menolak pindah sebagai sikap tak setuju terhadap peraturan yang rasis itu. Maka ia ditangkap dan didenda karena melanggar hukum kota setempat. Wanita pemberani itu seorang kristiani bernama Rosa Parks. Peristiwa "pembangkangan kecil"-nya menyulut gerakan menuntut hak-hak sipil yang bertujuan mengakhiri segregasi (pemisahan) legal di Amerika.

Alkitab mendorong kita untuk tunduk pada pemerintah-atau otoritas yang lebih tinggi (ayat 1,2). Namun, orang kristiani juga jangan takut untuk bersikap bila ada peraturan yang salah (ayat 3). Yesus dan murid-murid-Nya juga berani bersikap demi menjunjung standar moral Allah (Matius 21:23-27). Meskipun dengan melakukannya, mereka harus membayar harga mahal, bahkan ada yang sampai dihukum mati. Mereka memilih untuk lebih menghormati Allah daripada menaati pemerintah (Kisah Para Rasul 4:19,20).

Kita memang perlu patuh kepada pemerintah, tetapi kita juga harus tetap bersikap kritis terhadap pemerintah. Bila pemerintah mengeluarkan peraturan yang menyimpang dari standar kebenaran Allah, kita harus memperjuangkan pembatalannya. Kalaupun terpaksa "tidak patuh" seperti Rosa Parks tadi, kiranya kita dimampukan menanggung konsekuensinya -ARS

17 September 2008

Bukan Halangan

Nats : Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1Korintus 2:5)
Bacaan : 1Korintus 2:1-5

Jacky Chan, bintang film laga Hong Kong yang sudah mendunia, mengunjungi Indonesia pascabencana tsunami Aceh. Ia datang mewakili selebriti Hong Kong yang memberi sumbangan sebagai tanda empati atas penderitaan yang dialami rakyat Aceh. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, seorang wartawan bertanya, "Hampir di setiap film, Anda berperan sebagai seorang pahlawan. Menurut Anda, apa kriteria pahlawan itu?" Ia menjawab singkat, "Orang biasa yang melakukan sesuatu yang luar biasa."

Kitab Hakim-hakim adalah kitab yang menceritakan perjuangan para pahlawan atau pemimpin militer sebelum Israel menjadi sebuah kerajaan. Jadi bukan hakim dalam pengertian sekarang. Banyak tokoh hebat dalam kitab Hakim-hakim dan kisahnya diceritakan secara panjang lebar. Namun Samgar hanya diceritakan secara singkat-dalam satu ayat (Hakim-hakim 3:31). Berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya. Samgar tipikal sosok yang sederhana. Dalam melawan orang Filistin pun, ia hanya memakai tongkat pengusir lembu sebagai senjata-bukan pedang atau tombak seperti lazimnya orang berperang. Samgar adalah orang sederhana dengan prestasi spektakuler.

Tuhan dapat memakai siapa saja secara luar biasa, pun bila kita hanyalah orang biasa. Kuncinya, kita mau berusaha yang terbaik, sambil tetap mengandalkan diri pada hikmat Allah, bukan pada kekuatan sendiri (ayat 5). Bagaimana dengan kita? Boleh jadi kita bukan orang hebat seperti Otniel, Ehud, atau Simson-tokoh-tokoh dalam kitab Hakim-hakim, tetapi orang sederhana seperti Samgar. Jangan berkecil hati. Sebab itu bukan halangan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa -NDA



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA