Topik : Kasih-Nya

25 November 2002

Di Bawah Kepak Sayap-Nya

Nats : Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap- Nya engkau akan berlindung (Mazmur 91:4)
Bacaan : 1Petrus 2:21-25

Seorang penginjil India, Sundar Singh, menulis tentang kebakaran hutan di pegunungan Himalaya yang ia saksikan ketika sedang melakukan perjalanan. Saat banyak orang berusaha memadamkan api, ada sekelompok orang yang memandangi sebuah pohon yang dahan-dahannya mulai dijalari api. Seekor induk burung dengan panik terbang berputar-putar di atas pohon. Induk burung itu mencicit kebingungan, seakan-akan mencari pertolongan bagi anak-anaknya yang masih di dalam sarang. Ketika sarang mulai terbakar, induk burung itu tidak terbang menjauh. Sebaliknya, ia justru menukik ke bawah dan melindungi anak-anaknya dengan sayapnya. Dalam sekejap, ia beserta anak-anaknya hangus menjadi abu.

Lalu Singh berkata kepada orang-orang itu, "Kita baru saja melihat hal yang luar biasa. Allah menciptakan burung yang memiliki kasih dan pengabdian begitu besar sehingga rela memberikan nyawanya untuk melindungi anak-anaknya .... Kasih seperti itulah yang membuat-Nya turun dari surga dan menjadi manusia. Kasih itu juga membuat-Nya rela mati sengsara demi kita semua."

Cerita di atas adalah sebuah ilustrasi yang mengagumkan akan kasih Kristus kepada kita. Kita juga berdiri dengan takjub saat merenungkan api penghakiman suci yang membakar Bukit Kalvari. Di sanalah Kristus bersedia menderita dan "memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib" (1 Petrus 2:24).

Tuhan, terima kasih karena Engkau rela menderita menggantikan kami. Betapa kami sangat bersyukur atas semua yang telah Engkau lakukan! –Vernon Grounds

28 November 2002

Kasih yang Tak Berkesudahan

Nats : Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia- Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib (Mazmur 107:21)
Bacaan : Mazmur 107:21-31

Setelah mengunjungi istrinya di ruangan khusus penderita Alzheimer, Pendeta (Em.) Browning Ware yang sudah emeritus menggambarkan situasi saat ia dan para sahabatnya akan meninggalkan tempat itu: "Kami saling berpelukan dan berdoa sambil bergandengan tangan. Begitu banyak hal yang patut disyukuri! Saya bersyukur atas keluarga, teman, dan atas kasih-Nya yang begitu besar, yang membebaskan kami bahkan saat kami terjebak dalam situasi yang mencekam."

Saat kita berhenti sejenak untuk mensyukuri segala berkat Allah, alangkah baiknya jika kita mengingat bahwa harta kita yang paling berharga adalah kasih-Nya yang tak berkesudahan. Sering kali ucapan syukur kita mengalir seiring dengan pasang-surutnya kondisi kesehatan dan keuangan kita. Kita menyamakan berkat Allah dengan kebebasan dari penderitaan dan kesedihan. Namun, melalui iman dan pengalaman, kita belajar bahwa kasih Allah yang besar bagi kita sebagaimana yang diungkapkan dalam diri Yesus Kristus mampu menenangkan hati dan pikiran kita, bahkan dalam situasi paling berat sekalipun.

Dalam Mazmur 107, ayat ini diulang hingga empat kali, "Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia" (ayat 8,15,21,31). Bahkan saat hidup begitu menyesakkan, kita dapat berseru kepada Tuhan. Dia akan membebaskan kita dari kecemasan kita (ayat 6,13,19,28).

Bukan kesehatan atau kekayaan, melainkan kasih Allah yang tak berkesudahan membebaskan kita dari segala situasi hidup –David McCasland

10 Desember 2002

Allahnya Hosea

Nats : Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya (Hosea 2:13)
Bacaan : Hosea 1:1-3; 2:13-19

Pada akhir drama karya Marc Connely yang berjudul Green Pastures (Lembah Hijau), Hezdrel tua mengatakan bahwa ia tidak takut mati sebab ia percaya kepada Allahnya Hosea. Lalu Tuhan berbicara kepadanya dan bertanya apakah yang ia maksudkan adalah Allahnya Musa. Hezdrel menjawab tidak, dan menjelaskan bahwa ia melihat Tuhannya Hosea sebagai Tuhan yang penuh dengan belas kasih dan tidak menakutkan.

Keyakinan Hezdrel didasarkan pada sebuah kisah nyata yang terjadi pada zaman dahulu. Sebuah kisah tentang cinta yang tidak berbalas: Cinta tanpa pamrih yang diberikan Hosea kepada Gomer yang tidak setia. Gomer berulang kali menyeleweng sehingga menghancurkan hati Hosea. Namun, Hosea tidak pernah berhenti mencintainya.

Lalu Gomer dibuang ke tempat yang sangat gelap. Saya membayangkan keadaannya yang letih, perasaan tak berguna, berpenyakitan, dibebani oleh kesedihan, dan tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah cinta Hosea.

Hubungan antara Hosea dan Gomer menggambarkan hubungan antara Allah dan bangsa Israel. Meskipun Israel tidak setia dan menderita karenanya, Tuhan tetap mengejarnya dan berbicara kepadanya dengan lembut (Hosea 2:13).

Seandainya seorang tetangga Hosea melihat sendiri kejadian itu, saya membayangkan ia akan berkata, "Apakah ini yang disebut cinta yang tidak rasional?" Dan orang lain akan menjawab, "Saya tahu! Hosea mengasihi Gomer seperti Allah mengasihi saya!"

Inilah Allahnya Hosea. Sambutlah kasih-Nya dan ketahuilah bahwa Dia bukanlah Allah yang menakutkan –David Roper

20 Januari 2003

Tegakkan Keadilan

Nats : Tidak ada yang mengajukan pengaduan dengan alasan benar, dan tidak ada yang menghakimi degan alasan teguh (Yesaya 59:4)
Bacaan : Yesaya 59

Ketika seorang hakim dipilih untuk menangani kasus rasial yang sering kali diputuskan secara tak adil, banyak pengacara memuji pilihan itu. "Ia jujur, bahkan sangat jujur, dan adil," kata seseorang. "Ia sangat mempedulikan semua yang terlibat, baik korban maupun tersangka," kata yang lain. Banyak orang juga membicarakan kecakapannya yang hebat sebagai hakim yang adil.

Pujian semacam itu seharusnya tidak mengherankan, karena kita tentu mengharap keadilan dari seorang hakim. Allah, Hakim alam semesta ini pun menuntut kita semua untuk bertindak adil. Dia ingin kita menegakkan keadilan bagi orang yang tertindas. Kegagalan bangsa Israel untuk melakukan hal ini merupakan salah satu penyebab kejatuhan bangsa ini (Yesaya 59:9-15).

Saat ini di banyak negara, semakin banyak orang tinggal di perkotaan. Di tengah daerah yang padat penduduk itu muncullah kondisi-kondisi yang menumbuhkan kemarahan, rasa tak berdaya, dan keputusasaan. Pemilik rumah meminta uang sewa yang tinggi untuk perumahan kumuh. Apalagi adanya dua standar keadilan yang berbeda mengakibatkan tidak semua ras atau warga negara mendapat perlakuan hukum yang sama. Praktik sewa-menyewa rumah yang tidak adil adalah hal yang umum. Dan banyak lagi kesenjangan yang mengarah pada ketidakadilan.

Sebagai umat kristiani, kita harus menjadi orang pertama yang menegakkan keadilan di masyarakat. Yang terutama bukan untuk diri sendiri, tetapi bagi orang lain. Dan kita harus menghapuskan prasangka dan sikap-sikap tidak adil dari dalam hati kita --Dennis De Haan

26 Januari 2003

Nilai Sebuah Kehidupan

Nats : Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja (2Samuel 9:11)
Bacaan : 2Samuel 9

Seorang pekerja pabrik di Inggris dan istrinya merasa senang ketika mereka akan dikaruniai anak pertama, apalagi setelah bertahun-tahun menikah. Menurut pengarang Jill Briscoe, yang menceritakan kisah nyata ini, si pekerja menyampaikan berita baik ini dengan penuh semangat kepada teman-teman sekerjanya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa Allah menjawab doanya. Namun mereka mengejeknya karena meminta seorang anak kepada Allah.

Ketika bayi itu lahir, ia didiagnosis menderita Sindrom Down. Ketika sang ayah berangkat kerja untuk pertama kali setelah anaknya lahir, ia tak tahu bagaimana harus menghadapi teman-teman sekerjanya. "Allah, beri aku hikmat," doanya. Seperti yang ia khawatirkan, beberapa orang mengejeknya, "Jadi, Allah memberimu anak seperti itu!" Ayah baru itu berdiri termenung untuk beberapa lama. Dalam hati ia memohon pertolongan Allah. Akhirnya ia berkata, "Saya bersyukur Tuhan memberikan anak ini kepadaku, bukan kepadamu."

Sama seperti pria itu menerima putranya yang cacat sebagai karunia Allah untuknya, demikian juga Raja Daud menyatakan kebaikannya dengan sukacita kepada cucu Saul yang "cacat kakinya" (2 Samuel 9:3). Beberapa orang menolak Mefiboset karena ia pincang, tetapi Daud menunjukkan bahwa ia menghargai Mefiboset.

Di mata Allah, setiap pribadi sangat berharga. Itu sebabnya Dia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk mati bagi kita. Marilah kita ingat dengan rasa syukur betapa Dia menghargai kehidupan setiap manusia --Dave Branon

14 Agustus 2003

Faedah Makanan

Nats : Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? (Yesaya 55:2)
Bacaan : Yesaya 55

Seekor burung kolibri di dekat Bingham Canyon, Utah, tampak sedang mencucukkan paruhnya pada "bunga" merah terbesar di kota. Tak seorang pun tahu berapa lama burung itu akan menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan madu dari lampu lalu lintas!

Majalah National Wildlife juga menceritakan seekor rajawali ekor merah di North Carolina yang tiba-tiba menukik untuk menyambar seekor kucing jantan besar. Kucing itu melawan dengan geram sampai- sampai rajawali itu hampir kehilangan nyawanya.

Kebodohan semacam ini tidak hanya terjadi pada burung. Kita semua pernah memboroskan banyak energi untuk hal-hal yang tidak bisa memuaskan jiwa kita. Kadang kita merasa tidak mendapatkan apa-apa. Namun, di saat yang lain kita hampir dilahap oleh apa yang kita kejar. Oleh karena itu, firman Tuhan dalam Yesaya 55 menjadi sangat relevan. Dia bertanya, "Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?"

Allah tidak meninggalkan kita begitu saja dengan pertanyaan itu. Namun, Dia juga memberikan jaminan bahwa kerinduan kita yang terdalam bisa dipenuhi--hanya di dalam diri-Nya (ayat 1-7). Ada kekuatan di dalam kasih dan bukan dendam, dalam kebenaran dan bukan dusta, dalam perdamaian dan bukan perselisihan. Itulah sebabnya kita harus mendahulukan Kristus daripada agama, mendahulukan Alkitab daripada tradisi. Ketika kita menyantap "makanan" yang tepat, kita akan menemukan bahwa Tuhan itu baik (ayat 2)--Mart De Haan II

30 September 2003

Dia Dapat Dipercaya

Nats : Ya Tuhan semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! (Mazmur 84:13)
Bacaan : Mazmur 84

Saya sedang duduk melamun di dekat jendela, sambil melayangkan pandangan ke pegunungan yang jauh di sela-sela hutan cemara. Saat menoleh ke bawah, saya melihat seekor anak rubah berdiri mematung sambil menatap wajah saya.

Beberapa hari yang lalu, saya melihatnya berdiri di pinggir hutan. Ia memandang saya dengan takut. Saya mengambil telur dari dapur, lalu menggelindingkannya ke tempat terakhir kali saya melihatnya. Setiap hari saya menaruh sebutir telur di rumput, dan setiap hari pula ia memberanikan diri keluar dari antara pepohonan dalam jarak yang cukup untuk mengambil telur itu. Lalu ia akan melesat masuk lagi ke dalam hutan.

Sekarang rubah itu datang atas kemauannya sendiri ke depan pintu rumah saya untuk mengambil telur. Saya rasa ia yakin bahwa saya tak bermaksud menyakitinya.

Kejadian ini mengingatkan istri saya pada ajakan Daud, "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!" (Mazmur 34:9). Bagaimana kita mulai dapat melakukannya? Dengan membaca firman-Nya. Dengan membaca dan merenungkan belas kasih dan kebaikan-Nya, kita belajar bahwa Dia dapat dipercaya (84:13). Rasa takut untuk mendekat kepada-Nya hilang, berganti dengan rasa hormat dan pengagungan kepada-Nya.

Pada saat-saat tertentu mungkin Anda tidak mempercayai Allah, seperti rubah yang waspada saat pertama kali bertemu saya. Beri Dia kesempatan untuk membuktikan kasih-Nya. Bacalah kisah Yesus dalam Injil. Bacalah kidung pujian bagi Allah dalam kitab Mazmur. Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan! --David Roper

22 Oktober 2003

Menunggu Jawaban

Nats : Ya, nantikanlah Tuhan! (Mazmur 27:14)
Bacaan : Mazmur 27:7-14

Allah mengabulkan semua permintaan kita jika kita menuruti kehendak- Nya. Namun, Dia tidak selalu memenuhinya secepat yang kita harapkan. Tuhan tidak pernah tergesa-gesa.

Kita harus belajar menunggu-Nya, dan menyadari bahwa jawaban yang kita cari belum saatnya muncul. Atau mungkin saja kita belum berserah sepenuhnya pada kehendak-Nya. Oleh sebab itu, jawaban bagi banyak doa kita adalah "tunggu sebentar". Jika kita tak dapat menerima hal ini dan tetap memaksa mendahului Allah, kita mungkin akan menemui kesukaran. Kita harus mempercayai-Nya dan yakin bahwa Allah adalah yang terbaik.

Menunggu kehendak Allah bukanlah suatu penantian yang muram atau kekhawatiran yang penuh keresahan. Penantian ini merupakan kesabaran yang penuh sukacita, penantian yang terus maju ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan menjawab doa-doa kita sesuai dengan waktu-Nya.

Seorang rohaniwan menulis:

Belum terjawab? Jangan berkata tak terkabul;
Mungkin bagianmu belum engkau kerjakan sepenuhnya;
Kerja baru dimulai saat doamu yang pertama diucapkan.
Dan Allah akan menyelesaikan apa yang sudah Dia mulai.
Meskipun bertahun-tahun telah lewat, jangan putus asa;
Kemuliaan-Nya akan kaulihat, suatu ketika, di suatu tempat.

Teguhkan hati Anda. Penundaan Allah bukan berarti penolakan-Nya. Doa yang dinaikkan oleh Roh Kudus untuk kita (Roma 8:26,27) akan dijawab. Jangan biarkan waktu penantian ini melemahkan iman kita - HGB

27 Oktober 2003

"burung yang Lemah"

Nats : Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit (Lukas 12:7)
Bacaan : Yakobus 2:1-9

Charlie Brown, tokoh serial kartun, identik dengan orang yang diremehkan, mungkin karena ia selalu menganggap dirinya demikian. Dalam suatu kisah digambarkan ia sedang membangun sebuah rumah burung saat Lucy si nyinyir mampir. "Aku membangunnya untuk burung pipit," kata Charlie. Lucy menyahut, "Untuk burung pipit? Tidak ada orang yang membangun rumah untuk burung pipit." "Namun aku melakukannya," jawab Charlie Brown. "Aku selalu membela burung yang lemah."

Kadang kala orang kristiani melupakan "burung-burung pipit", yaitu orang-orang kecil di dunia mereka. Mereka mengabaikan orang-orang yang mereka anggap kurang penting.

Yakobus mengatakan tidak benar bila orang kristiani bersikap pilih kasih (Yakobus 2:1). Kita berdosa jika menunjukkan sikap pilih-pilih dalam bergaul (ayat 9). Alasannya mungkin sosial, ekonomi, pendidikan, atau etnis, namun tidak ada alasan untuk tidak menghormati orang lain dengan sikap dan perkataan kita.

Yesus tidak demikian. Dia menembus segala macam tembok tradisi untuk bercakap-cakap dengan pemungut cukai, para pendosa, orang-orang bukan Yahudi, orang-orang dari ras campuran, orang miskin, begitu juga orang kaya. Dia datang untuk menjadi sama seperti kita semua, dan untuk membayar upah dosa kita di atas kayu salib.

Ketika seekor burung pipit jatuh, Allah Bapa memerhatikannya. Namun Dia jauh lebih memedulikan manusia, termasuk orang yang lemah. Mungkin kita memerlukan lebih banyak lagi sifat Charlie Brown dalam diri kita --Dave Egner

30 Oktober 2003

Alasan Bersukacita

Nats : Sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya ... kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan (1Petrus 1:8)
Bacaan : 1Petrus 1:1-9

Kitab Perjanjian Baru memberi kita banyak alasan untuk bersukacita. Misalnya, Yesus berkata, "Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga" (Lukas 10:20). Rasul Petrus berbicara tentang berbagai alasan bagi orang percaya untuk dapat "bergembira karena sukacita ... yang tidak terkatakan" (1 Petrus 1:8). Kita tidak diminta untuk berpura-pura tidak ada masalah, tetapi untuk bersukacita bahkan di tengah-tengah masalah.

Kata sukacita mengingatkan saya pada teman saya Carol. Ia memilih untuk bersukacita di sepanjang pergumulannya yang panjang melawan kanker. Kehidupan kristianinya dimulai saat berlangsungnya operasi, saat ia berdoa dan mempercayakan keselamatannya kepada Tuhan. Selama masa pemulihan ia selalu berjalan di koridor rumah sakit sambil berkata kepada setiap orang, "Hari ini indah, ya!"

Karena sebelah matanya telah diangkat, Carol mempunyai banyak penutup mata yang coraknya disesuaikan dengan pakaiannya. Hal yang ia sukai setiap hari adalah memilih penutup mata yang menarik. Namun, yang paling disukainya adalah mengungkapkan kesaksian. Ketika harus terbaring di tempat tidur, ia menggantung papan besar di kaki tempat tidurnya yang bertuliskan, "BERSUKACITALAH!" Pada kunjungan terakhir saya sebelum ia meninggal, ia menunjuk papan itu dan berbisik, "Bersukacitalah!"

Alasan Carol bersukacita adalah rasa syukurnya yang dalam kepada Yesus yang mengasihi dan menyelamatkan dia. Apa pun yang sedang Anda alami hari ini, biarlah alasan sukacita Carol menjadi alasan Anda juga --Joanie Yoder

2 November 2003

Mencari Cinta

Nats : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Bacaan : Yohanes 3:16-21

Sebuah virus komputer bernama "The Love Bug" (Virus Cinta) menjalar ke seluruh dunia melalui e-mail, menjangkiti berjuta-juta komputer dalam waktu kurang dari 24 jam. Tampaknya orang-orang yang waspada seperti perakit software ternama pun tidak mampu menahan diri terhadap godaan untuk membuka pesan yang berjudul "Aku Cinta Kamu".

Beberapa analis mengatakan bahwa keberhasilan virus komputer yang menghancurkan itu, di samping mengungkapkan keringkihan mesin di dunia cyber kita, juga mengungkapkan betapa dalamnya kerinduan hati manusia. Jauh di dalam lubuk hati manusia, setiap orang di planet bumi ini sedang mencari cinta.

Bukan suatu kebetulan jika salah satu ayat terkenal dalam Alkitab adalah Yohanes 3:16. Ayat ini berbunyi, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Mungkinkah cinta yang paling kita rindukan adalah cinta Allah? Apakah Yesus Kristus adalah Pribadi istimewa yang sangat ingin kita cari, yang dapat membuat kita bertekuk lutut? Jika benar demikian, maka penerimaan akan cinta Allah di dalam Kristus dapat mengubah hidup kita melalui berbagai cara yang luar biasa. Pengharapan, kedamaian, dan gairah hidup -- semuanya timbul dari cinta akan Yesus.

Ketika Allah berfirman, "Aku mengasihimu", itulah pesan yang selama ini kita cari-cari. Pesan itu dapat mengubah hidup kita. Bagaimana Anda menanggapi-Nya hari ini? --David McCasland

28 Desember 2003

Mimpi Seniman

Nats : Karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa (Wahyu 5:9)
Bacaan : Wahyu 5:1-10

Rita Snowden, pada tahun 1937, menulis sebuah buku berjudul If I Open My Door. Di dalamnya ia menceritakan tentang sebuah jemaat yang merencanakan untuk membangun tempat ibadah yang baru. Di bagian tengah gereja tersebut akan dipasangi jendela kaca berwarna dengan gambar anak-anak yang sedang menyembah Yesus.

Jemaat tersebut mempekerjakan seorang seniman untuk melukis sebuah gambar pada jendela yang sudah disiapkan. Ia memenuhi tugasnya, dan malam itu ia bermimpi mendengar suara gaduh di studionya. Ketika menyelidiki, ia melihat orang asing sedang mengubah lukisannya. Ia berteriak, "Hentikan! Anda merusak lukisan itu." Namun orang asing itu menjawab, "Kamulah yang telah merusakkannya." Sang penyusup itu kemudian menjelaskan bahwa wajah anak-anak itu semula hanya satu warna, tetapi ia membuatnya menjadi beragam warna. Ketika penyusup itu berkata bahwa ia menginginkan anak-anak dari seluruh bangsa dan ras dapat datang kepadanya, seniman itu akhirnya menyadari bahwa ia sedang berbicara dengan Yesus sendiri.

Di dalam dunia di mana perbedaan ras sering menyulut perpisahan dan konflik, orang-orang kristiani perlu mengusahakan kesatuan dan kedamaian. Yesus memanggul salib untuk membawa keselamatan bagi orang-orang dari setiap bangsa (Wahyu 5:9). Kesaksian dan persekutuan kita harus melampaui hambatan yang secara historis telah memisahkan keluarga umat manusia (Roma 1:16; Galatia 3:28).

Apakah kita menyatakan kasih Yesus kepada semua orang? --Vernon Grounds

13 Februari 2004

Kasih yang Sempurna

Nats : Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1Yohanes 4:18)
Bacaan : 1 Yohanes 4:15-18

Seorang bijak pernah menulis, "Ketika kasih hadir, ketakutan pun lenyap." Saya mengenal banyak orang kristiani yang tersiksa oleh perasaan ragu, tak berharga, dan penuh dosa. Mereka berpikir harus berbuat sesuatu agar lebih dikasihi Allah. Namun, Yohanes menulis, "karena sama seperti Dia [Yesus], kita juga ada di dalam dunia ini" (1Yohanes 4:17). Artinya, bila Yesus meyakini kasih Bapa, Demikian pula seharusnya kita memiliki keyakinan yang sama dengan Yesus bahwa Bapa mengasihi kita dengan kasih sempurna.

Yesus telah menyelesaikan tugas penebusan bagi kita di kayu salib, maka semua hukuman atas dosa-dosa kita telah berlalu dan dihapus selamanya. Kini kita tidak lagi berada di bawah hukuman.

Kasih ini melenyapkan ketakutan. Seperti yang ditulis Yohanes, "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan" (ayat 18). "Ketakutan" yang dimaksud Yohanes adalah ketakutan akan penghakiman. Tetapi kita tak perlu takut lagi, sebab "sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Roma 8:1). "Kasih sempurna" Allah telah mengenyahkan ketakutan.

Semua dosa kita telah diampuni. Kita dipegang erat oleh kasih Allah dan ditentukan untuk menikmati persekutuan abadi dengan-Nya. Bukan karena usaha yang kita lakukan, tetapi karena segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya bagi kita. "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yohanes 4:10). Itulah kasih yang sempurna! --David Roper

28 Februari 2004

Orang Tua Kikir

Nats : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Bacaan : 1 Timotius 6:17-19

Sebagian orang akan melakukan apa saja untuk menghemat uang. Saya membaca tentang seorang paman kikir yang mengundang keponakan-keponakannya untuk mencari mata anak panah di pekarangan belakang rumahnya. Namun sebelum pencarian dimulai, ia memerintahkan anak-anak itu untuk memindahkan semua batu dan menyiangi semak belukar di pekarangan tersebut. Pada saat semuanya selesai dikerjakan, hari sudah terlalu malam bagi mereka untuk mencari mata anak panah. Akhirnya, mereka sadar tidak ada mata anak panah di sana. Saat mengadu kepada ayah mereka, sang ayah berkata, "Kakak saya yang kikir itu telah menipu kalian untuk bekerja seharian." Anak-anak itu tidak akan mudah melupakan bagaimana mereka telah dimanfaatkan.

Tidak ada salahnya berhemat. Itu merupakan pengelolaan keuangan yang baik. Namun, tidak benar jika karena alasan berhemat, Anda tidak mau membayar upah yang patut diterima oleh seorang anak.

Kekikiran yang membuat orang lain merasa terhina dan menderita bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Tuhan kita. Dalam 1 Timotius 6:18, kita mempelajari bahwa kita harus "berbuat baik" dan "siap memberi dan rela membagi". Kita harus menjadi orang-orang yang adil, suka memberi, dan murah hati.

Allah adalah pemberi yang terbesar. Dia memberikan Putra-Nya, dalam pengurbanan yang menakjubkan untuk memberi kita hidup yang baru (Yohanes 3:16). Marilah kita mengikuti teladan kasih dan kemurahan-Nya, sehingga kita tidak akan disebut "orang tua kikir" --Dave Egner

2 Juli 2004

Kasih Itu Rentan

Nats : Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? ... Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak (Hosea 11:8)
Bacaan : Hosea 11:1-11

Pengalaman seorang wanita kristiani yang hancur hatinya (saya memanggilnya Mary) menggambarkan bagaimana kasih dapat menjadikan orang yang mengasihi itu menjadi rentan. Mary adalah seorang istri yang setia dan sangat mencintai suaminya. Namun setelah 8 tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, sang suami meninggalkannya demi wanita lain. Iman kepada Allah dan kasihnya kepada anak-anak membuat Mary tetap bertahan.

Kini, anak lelakinya menjalani kehidupan yang penuh dosa, dan anak perempuannya meninggalkan suami serta anak-anaknya. Akan tetapi, kedua hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan sang ibu.

Nabi Hosea pun mengalami kehancuran hati yang sama karena Gomer, istrinya, adalah perempuan sundal. Pengalaman Hosea mencerminkan apa yang Allah rasakan ketika umat-Nya berpaling untuk menyembah berhala dan melakukan berbagai macam kejahatan sehubungan dengan hal itu. Allah telah menjadi suami dan ayah yang pengasih bagi mereka, namun mereka berpaling dari kasih-Nya. Walaupun kekudusan-Nya menuntut penghukuman atas mereka. Dia tetap merasakan kepedihan yang mendalam.

Berabad-abad kemudian, Allah datang ke dunia dalam diri Yesus, yang menderita sengsara di atas Bukit Kalvari untuk menanggung dosa-dosa seluruh dunia. Namun, banyak orang masih menolak-Nya.

Ya, kasih itu rentan, dan tidak ada jaminan akan mendapatkan balasan! Tetapi Allah tetap mengasihi, dan dalam kekuatan-Nya kita dapat melakukan hal yang sama —Herb Vander Lugt

13 Juli 2004

Kasih Terbesar

Nats : Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4:10)
Bacaan : 1 Yohanes 4:7-11

Pada dinding ruang keluarga kami, di dalam sebuah kotak pajangan kecil, tergantung sebuah “harta” milik istri saya Carolyn. Oh, kami memiliki barang-barang yang sebenarnya lebih berharga, yang terpajang di dinding-dinding rumah kami, seperti selimut buatan tangan dari Blue Ridge Mountain Kentucky, cermin antik, lukisan cat minyak, dan siter yang sangat indah dari seorang seniman di pedalaman Idaho.

Namun, “harta” Carolyn jauh lebih berharga daripada benda-benda itu, karena kotak itu berisi sebuah pemberian dari cucu perempuan kami, Julia. Pemberian itu adalah hadiah untuk neneknya pada hari Valentine beberapa tahun silam ketika Julia berusia enam tahun. Benda itu adalah sebentuk hati kecil berwarna merah yang terbuat dari tanah liat. Pada hati kecil itu terukir tulisan anak kecil seperti cakar ayam, “Aku Sayang Nenek”.

Hati kecil itu kasar buatannya, bagian tepinya tidak rata, dan di sana-sini terdapat bekas jari serta kotor. Namun, Carolyn telah mengabadikan hati itu dalam sebuah pigura yang khusus dibuat untuk memajangnya. Setiap hari benda itu mengingatkannya akan kasih Julia.

Apakah kasih Allah lebih berharga bagi Anda daripada perak, emas, atau segala harta benda lainnya? Dia “telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yohanes 4:9). Dia melakukannya karena Dia mengasihi Anda, bukan karena Anda telah mengasihi Dia. Dan oleh karena kasih-Nya, kelak Anda akan bersama-sama dengan Dia di surga. Tak ada kasih yang lebih besar daripada itu! —David Roper

20 Juli 2004

Allah Mengasihi Saya?

Nats : Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19)
Bacaan : Roma 5:6-11

Tak mudah memahami dalamnya kasih Allah bagi kita. Karena kesombongan dan ketakutan kita, kita tak bisa memahami betapa tidak layaknya kita dan betapa luar biasa kasih-Nya yang diberikan dengan cuma-cuma.

Terkadang saya bergumul dengan kesombongan, sehingga saya cenderung percaya bahwa saya telah cukup berusaha mendapatkan kasih yang saya terima. Kesombongan mengatakan bahwa saya dikasihi hanya ketika saya menyenangkan, dihormati, dan layak dikasihi.

Di saat lain saya tersentak oleh rasa takut. Jauh di lubuk hati, saya merasa tidak layak mendapatkan kasih yang saya terima. Motivasi saya tak pernah murni, dan saya takut ditolak jika semuanya terbongkar. Jadi, meskipun saya gembira karena merasa diterima, saya hidup dalam ketakutan bila jati diri saya terbuka, ketahuan bahwa saya sebenarnya tak sebaik anggapan orang.

Karena itu, ketika merenungkan hubungan saya dengan Allah, saya cenderung mengukur kasih-Nya berdasarkan perbuatan saya. Ketika saya berbuat baik, Dia mengasihi saya; tetapi jika saya salah, saya membayangkan hanya akan mendapat cacian dari-Nya.

Namun, Allah tidak mengasihi karena kita layak mendapatkan kasih-Nya. Dia mengasihi, apa pun keadaan kita. Dalam 1 Yohanes 4:10 kita membaca, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Karena apa yang dilakukan Yesus Kristus bagi kita, kita tahu bahwa Allah selalu mengasihi kita. Kebenaran sederhana itu menghancurkan kesombongan dan melenyapkan ketakutan kita —Haddon Robinson

5 Agustus 2004

Kegetiran Hati

Nats : Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu hari ini ... itulah hidupmu (Ulangan 32:46,47)
Bacaan : Ulangan 32:44-52

Panjang umur dan kehidupan yang lebih baik dianggap sebagai suatu hal yang sangat penting bagi manusia. Kemajuan di bidang ilmu kedokteran memungkinkan hal itu dialami oleh lebih banyak orang. Meskipun demikian, tidak seorang pun dari kita dapat menghindar dari proses penuaan. Suatu hari nanti usia tua akan menyerang diri kita dan tubuh kita berubah menjadi renta.

Akan tetapi, kita dapat menghindari kegetiran hati dan kekecewaan saat usia kita semakin tua. Marilah kita tengok kehidupan Musa. Ketika usianya 120 tahun, ia mendampingi bangsa Israel sebelum mereka menyeberangi Sungai Yordan dan memasuki Tanah Perjanjian. Musa tidak dapat menyertai mereka lagi karena telah melanggar perintah Allah, ketika dengan marah ia memukul batu karang di padang gurun (Bilangan 20:12,24).

Musa dapat dengan mudah tergelincir ke dalam sikap mengasihani diri dan kesal hati! Bukankah ia telah menanggung beban sikap orang Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk selama 40 tahun? Bukankah ia telah mendoakan mereka dari waktu ke waktu? Namun, di akhir hayatnya, ia justru memuliakan nama Tuhan dan memberi perintah kepada generasi baru Israel untuk menaati Dia (Ulangan 32:1-4,45-47).

Ketika usia kita semakin tua, kita dapat terus-menerus berkubang dalam kegagalan dan penderitaan masa lalu, atau sebaliknya, kita dapat senantiasa mengingat kasih setia Allah, menerima pendisiplinan-Nya, dan terus-menerus menatap masa depan dengan penuh iman. Itulah satu-satunya cara untuk menghindari kegetiran hati --Dennis De Haan

11 September 2004

Nama yang Berharga

Nats : Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga (Lukas 10:20)
Bacaan : Lukas 10:1,17-24

Tak seorang pun mengira bahwa peringatan dua tahun serangan teroris 11 September sama mengharukannya dengan peringatan peristiwa itu pada tahun pertama. Di Ground Zero, New York, keadaan berubah menjadi mengharukan tatkala sekitar 200 orang muda berkumpul dan mulai membacakan nama-nama para korban yang tewas di World Trade Center. Orang-orang muda itu adalah anak-anak, saudara kandung, dan keponakan para korban. Ke-2.792 nama itu begitu berarti bagi mereka yang membacakannya, dan menghidupkan kembali kenangan akan orang-orang yang mereka kasihi dan yang telah meninggal dunia.

Nama seseorang menunjukkan identitas, prestasi, dan relasinya. Suatu hari kelak mungkin nama kita akan terpahat di sebuah plakat peringatan atau batu nisan sebagai tanda kenangan dan penghormatan terhadap diri kita.

Namun, ada sebuah buku surgawi yang paling penting dari semuanya. Ketika para pengikut Yesus melaporkan keberhasilan pelayanan mereka kepada-Nya, Dia pun menjawab, "Janganlah bersukacita..., tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga" (Lukas 10:20). Kemudian Dia bersyukur kepada Bapa yang telah membuat jalan kepada-Nya cukup mudah untuk dipahami, bahkan bagi seorang anak kecil sekalipun (ayat 21).

Seorang anak menghargai hubungan yang penuh kasih. Dengan semangat seorang anak, kita harus bersukacita karena melalui iman di dalam Kristus kita menjadi milik Allah dan aman di dalam kasih-Nya untuk selamanya. Nama kita berharga bagi-Nya --David McCasland

23 September 2004

Siapakah yang Dikasihi?

Nats : Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu (Lukas 15:31)
Bacaan : Lukas 15:11-32

Seorang sosiolog menulis buku tentang berbagai kesulitan perkembangan anak di keluarga besar. Ia pun mewawancarai ibu yang memiliki 13 anak. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, ia bertanya lagi, "Apakah semua anak patut mendapatkan kasih serta perhatian penuh dan tidak terbagi dari seorang ibu?"

"Tentu," jawab ibu itu.

"Anak manakah yang paling Anda kasihi?" tanyanya, berharap mendapat jawaban yang bertentangan dengan pernyataan tadi.

Ibu itu menjawab, "Anak yang sedang sakit sampai ia sembuh, dan anak yang pergi sampai ia pulang."

Jawaban ibu itu mengingatkan saya pada gembala yang meninggalkan 99 dombanya untuk mencari seekor domba yang hilang (Lukas 15:4), wanita yang mencari sekeping mata uang (ayat 8), dan bapa yang berpesta ketika anaknya yang suka melawan pulang (ayat 22-24).

Para pemimpin agama di zaman Yesus marah karena Dia begitu memerhatikan para pendosa (ayat 1,2). Maka Yesus pun menceritakan perumpamaan itu untuk menekankan kasih Allah bagi orang-orang yang terhilang dalam dosa.

Allah memiliki kasih lebih dari cukup untuk diberikan kepada semua orang. Selain itu, mereka yang "baik" dan tidak "tersesat" juga menerima kasih Bapa sama banyaknya dengan mereka yang diberi perhatian khusus (ayat 31).

Bapa, ampuni kami karena merasa terabaikan ketika Engkau mencurahkan kasih kepada para pendosa yang membutuhkan. Bantulah kami untuk melihat betapa kami sangat kekurangan, dan untuk tinggal di dalam kasih-Mu yang tak terbatas --Mart De Haan

22 Oktober 2004

Pohon Jeruk Nipis

Nats : Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (1Yohanes 4:16)
Bacaan : 1Yohanes 4:15-19

Mereka yang kecewa terhadap kasih mungkin setuju dengan syair lagu "Lemon Tree" (Pohon Jeruk Nipis) yang dibawakan kelompok musik Peter, Paul, and Mary.

"Jangan berharap kepada kasih, anak laki-lakiku," kata Ayah kepadaku, "aku khawatir kau akan mendapati bahwa kasih itu seperti pohon jeruk nipis yang menawan." Pohon jeruk nipis itu sangatlah cantik dan bunganya indah, namun buahnya terlalu masam untuk dimakan.

Banyak orang merasa demikian. "Kasih itu masam," kata mereka, karena kasih telah dimanfaatkan atau disalahgunakan. Namun, ada kasih yang manis: "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:16).

Dunia ingin memutarbalikkan ucapan Yohanes. "Kasih adalah Allah," kata mereka, dan menganggap pencarian kasih sebagai kebaikan tertinggi. Namun, Yohanes tidak berkata bahwa kasih adalah Allah. "Allah adalah kasih," katanya. Pengarang Frederick Buechner menulis, "Mengatakan bahwa kasih adalah Allah merupakan idealisme yang romantis. Mengatakan bahwa Allah adalah kasih bisa menjadi puncak kegagalan, atau justru kebenaran tertinggi."

Puncak kegagalan? Ya, hal itu benar bagi sebagian orang karena mereka telah mencari kasih di tempat-tempat yang keliru dan tidak ada tempat lagi untuk mencari. Namun apabila mereka memberikan diri kepada Allah, yang mewujud di dalam pribadi Yesus, mereka akan menemukan kasih yang selama ini mereka cari.

Allah tidak acuh tak acuh, mengabaikan, atau menyalahgunakan. Allah adalah kasih --David Roper

27 Oktober 2004

Surat kepada Allah

Nats : Engkau yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup (Mazmur 65:3)
Bacaan : Mazmur 65:1-9

Setiap tahun, ribuan surat yang ditujukan kepada Allah tiba di sebuah kantor pos di Yerusalem. Salah satu surat, yang ditujukan kepada "Allah Israel", memohon bantuan untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pengemudi buldoser. Surat lainnya mengatakan: "Tolonglah saya untuk meraih kebahagiaan, mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan, dan istri yang baik -- segera." Seorang pria memohon pengampunan karena mencuri uang dari sebuah supermarket saat ia masih kanak-kanak.

Namun, apakah semua permohonan yang tulus itu didengar oleh Allah? Pemazmur mengatakan bahwa Allah mendengarkan doa (Mazmur 65:3). Entah kita berdoa dalam hati, bersuara keras, atau menulisnya di atas kertas, semua didengar langsung oleh Allah. Namun, Dia tidak menjawab setiap permohonan seperti yang kita inginkan. Permohonan kita mungkin hanya untuk mencapai kepuasan diri (Yakobus 4:3), atau ada dosa yang menghalangi persekutuan kita dengan Dia (Mazmur 66:18).

Tuhan tidak hanya sekadar memberikan apa yang kita inginkan. Tetapi Tuhan mengetahui kebutuhan kita yang terdalam, dan Dia ingin agar kita menemukan sukacita dari kehadiran-Nya setiap hari. Karena iman kita di dalam Kristus, doa dapat menjadi alat untuk bersekutu dengan Allah, bukan sekadar daftar hal-hal yang kita inginkan dari-Nya.

Di dalam hikmat-Nya, Allah mendengar semua doa kita. Di dalam kasih karunia-Nya, Dia menawarkan pengampunan untuk segala dosa kita. Di dalam kasih-Nya, Dia memberikan kita hidup yang kekal dan berkelimpahan melalui Anak-Nya --David McCasland

18 November 2004

Janji yang Mengherankan

Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Ibrani 13:5,6

Penulis kitab Ibrani mengutip ucapan Allah kepada umat-Nya: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Bagaimana hal itu menyentuh Anda? Apakah itu hanya kesucian menyenangkan yang membuat Anda menguap lebar?

Ini berbeda dengan ucapan bahwa kita boleh minum kopi dengan Presiden atau Ketua Mahkamah Agung. Mengenal orang-orang seperti itu memang sesuatu yang penting bagi kita. Namun meyakini bahwa Allah menyertai kita setiap saat setiap hari, sedekat kulit kita, dalam setiap peristiwa hidup, saat menangis atau tertawa—itu hampir tidak masuk akal.

Namun, sepanjang sejarah banyak orang telah mempertaruhkan hidup pada kebenaran tersebut. Abraham, Musa, Rahab, Yosua, Daud, dan Ester hanyalah segelintir contoh. Janji Allah itu terbukti benar dalam hidup mereka. Namun, bagaimana kita tahu bahwa janji itu juga benar bagi hidup kita?

Hal itu nyata bagi kita karena Yesus. Melalui kedatangan-Nya, sebenarnya Dia mengatakan, “Aku ingin bersamamu; Aku memberikan hidup-Ku bagimu; Aku mengurbankan hidup-Ku untukmu. Apakah mungkin Aku akan meninggalkanmu?”

-Bagaimana tanggapan Anda terhadap janji yang mengherankan ini? Mungkin janji tersebut terlalu muluk-muluk. Mungkin juga tampak mustahil. Namun, jangan abaikan janji itu. Saat Anda sedih, takut, menghadapi pergumulan dan pencobaan, tak ada janji yang lebih indah selain: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” —Haddon Robinson

30 Januari 2005

Memetik Kelopak Daisy

Nats : Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1)
Bacaan : Roma 8:31-39

Saya ingat masa-masa di sekolah dasar, saat saya pertama kali bersitatap dengan sepasang mata cokelat seorang gadis yang duduk beberapa baris dari tempat saya. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terjadi sesuatu. Itulah “cinta monyet” pertama saya. Pada saat itu kami memetik setangkai bunga daisy dan melepas kelopaknya satu-satu, sambil membayangkan seseorang dan berkata, “Ia mencintaiku, ia tidak mencintaiku.” Oh, betapa sakitnya saat kelopak bunga daisy terakhir jatuh pada kalimat “ia tidak mencintaiku”.

Ini mengingatkan saya akan seorang gadis kecil yang berlari masuk rumah di suatu pagi sambil menangis tersedu-sedu. “Ada apa, Sayang?” tanya ibunya. Sambil mengempaskan diri dalam pelukan ibunya, ia menangis, “Allah tak mengasihiku lagi.” “Tentu saja Dia mengasihimu,” kata ibunya meyakinkannya. “Tidak, Dia tidak mengasihiku,” anak itu tersedu. “Aku tahu Dia tidak mengasihiku karena aku telah mengujinya dengan memetik kelopak bunga daisy.”

Satu-satunya cara terpercaya untuk mengetahui bahwa Allah mengasihi kita adalah dengan merenungkan segala yang Dia lakukan bagi kita setiap hari. Dan jika masih ragu-ragu, pikirkanlah apa yang dilakukan-Nya untuk menyelamatkan kita! Alkitab mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8).

Kita dapat meyakini kasih Allah yang tidak pernah gagal, karena Dia telah membuktikannya melampaui semua pertanyaan. Ya, kasih-Nya nyata —Richard De Haan

26 Februari 2005

Dikenal Baik

Nats : Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya (2 Timotius 2:19)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Burung laut Arktik yang disebut guillemot tinggal di lereng-lereng pantai yang berbatu-batu. Di sana ribuan burung tersebut tinggal secara berkelompok di wilayah yang sempit. Karena mereka tinggal secara berkelompok, maka para betinanya meletakkan telur mereka secara berjejer sehingga telur-telur tersebut membentuk garis yang panjang. Yang sungguh mengagumkan adalah bahwa setiap betina dapat mengenali telur miliknya. Penelitian memperlihatkan bahwa bahkan apabila sebuah telur dipindahkan cukup jauh, pemiliknya akan menemukan dan membawanya kembali ke posisi semula.

Bapa surgawi kita tentu lebih mengenal anak-Nya masing-masing. Dia mengenal setiap pemikiran, emosi, dan keputusan yang kita buat. Mulai dari pagi hingga malam hari, Dia senantiasa memberikan perhatian pribadi untuk semua perkara kita sehari-hari. Karena menyadari kenyataan agung ini, maka pemazmur berseru dengan penuh kekaguman, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (Mazmur 139:6).

Hal seperti ini tidak hanya mendorong kita untuk mengangkat pujian, tetapi juga untuk memberikan penghiburan yang besar bagi hati kita. Yesus pun memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Bapa mengetahui apabila ada burung pipit yang jatuh ke tanah. Karena manusia jauh lebih penting daripada burung, maka anak-anak Allah boleh merasa yakin bahwa Bapa senantiasa memerhatikan mereka.

Betapa indahnya menjadi orang yang sedemikian dicintai, “dan dikenal baik”! —Mart De Haan

22 Maret 2005

Allah yang Misterius

Nats : Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbi-cara ... maka pada zaman akhir ini Dia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibrani 1:1,2)
Bacaan : Hakim-hakim 13:15-23

Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita membaca bahwa seseorang yang misterius dan mengagumkan mengunjungi Manoah beserta istrinya (orangtua Simson). Ketika Manoah bertanya, "Siapakah nama-Mu?" sang pengunjung tidak memberikan jawaban langsung, tetapi "naik ... dalam nyala api mezbah itu" (Hakim-hakim 13:17-20). Kemudian sadarlah Manoah bahwa ia telah melihat Allah dalam rupa manusia.

Siapakah yang dapat memahami Allah seperti ini—yaitu Allah yang menuliskan 3-miliar-huruf kode peranti lunak pada molekul DNA dalam setiap sel manusia? Siapakah yang sanggup memahami sepenuhnya tentang Allah yang mengetahui segala sesuatu, bahkan pikiran-pikiran dalam benak kita? Namun, banyak orang kudus dalam Perjanjian Lama yang mengenal dan mengasihi Allah yang hebat itu. Mereka mengalami sukacita oleh anugerah dan pengampunan-Nya, sekalipun mereka tidak sepenuhnya memahami bagaimana Allah yang kudus dapat mengampuni dosa-dosa mereka.

Sebagai orang kristiani, kita pun berdiri dengan penuh kekaguman di hadapan kemuliaan dan misteri dari Allah yang tak terselami itu. Namun kita mendapatkan keuntungan besar karena kita melihat Allah dinyatakan di dalam Yesus, yang berkata, "Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Dan ketika Yesus tergantung di kayu salib, Dia menyatakan belas kasih dan cinta Allah, karena Dia mati di sana untuk kita.

Sebuah misteri? Ya. Namun betapa mengagumkannya bahwa kita dapat memahami kasih dari Allah yang tidak dapat diselami itu! —HVL

7 April 2005

Anda Sedang Bergumul?

Nats : Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu ..., supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:3)
Bacaan : Ibrani 12:1-7

Saat itu saya sudah dua tahun menjanda dan sedang bergumul. Dari pagi ke pagi kehidupan doa saya berisi satu keluhan yang sama: "Tuhan, saya tidak seharusnya bergumul seperti ini!" "Mengapa tidak?" suara-Nya yang sayup-sayup bertanya dari dalam diri saya pada suatu pagi.

Lalu datanglah jawabannya—kesombongan terselubung! Entah bagaimana, saya berpikir bahwa seseorang dengan kedewasaan rohani seperti saya tidak seharusnya mengalami pergumulan semacam itu. Itu benar-benar pemikiran yang menggelikan! Saya belum pernah menjanda sebelumnya sehingga membutuhkan kerelaan untuk belajar—sekalipun harus bergumul.

Pada saat yang sama, saya diingatkan tentang kisah seorang pria yang membawa pulang sebuah kepompong agar dapat memerhatikan proses lahirnya emperor moth [sejenis ulat sutra]. Saat calon kupu-kupu itu berjuang menembus celah kepompong yang kecil, sang pria memperlebar celah itu dengan ujung guntingnya. Binatang itu memang muncul dengan mudah—namun sayap-sayapnya tidak mengembang. Pergumulan melalui celah yang sempit merupakan cara Allah untuk mendorong cairan dari tubuh ke sayapnya. Pada kenyataannya, bantuan gunting yang "murah hati" itu adalah tindakan yang kejam.

Ibrani 12 menggambarkan kehidupan kristiani sebagai sebuah perlombaan yang melibatkan ketekunan, disiplin, dan teguran. Kita selalu membutuhkan perjuangan yang kudus untuk melawan diri sendiri dan dosa. Kadang kala pergumulan justru kita perlukan untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan maksud Allah —JEY

18 April 2005

Bantuan Dalam Perjalanan

Nats : Barang siapa ... melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (1Yohanes 3:17)
Bacaan : 1Yohanes 3:11-20

Suatu kali teman kami bepergian dari Georgia ke Illinois dengan mengendarai sebuah mobil sewaan. Di tengah jalan, mobil mereka rusak karena menabrak sebuah lubang besar di jalan. Lalu lintas pun menjadi lumpuh, sehingga suasana saat itu agak kacau.

Sementara teman kami berusaha mencari jalan keluarnya, seorang petugas polisi menawarkan untuk mengantarkan mereka ke restoran McDonald’s terdekat. Sesampainya di sana, mereka hanya duduk-duduk di tenda depan restoran sambil menunggu mobil mereka diperbaiki. Mereka tidak membeli apa-apa. Mereka tidak punya banyak uang. Selama ini mereka berdedikasi untuk melayani orang lain.

Sementara itu, mereka menelepon kami untuk memberitahukan kesulitan mereka. Namun, kami tidak dapat berbuat banyak kecuali berdoa dan percaya bahwa Allah akan menjaga mereka. Sementara mereka dan anak-anak duduk di tenda depan restoran itu, seorang pria mendekati mereka sambil membawa kantong-kantong berisi burger dan kentang goreng. "Allah meminta saya untuk memberi kalian makanan," jelasnya sambil mengantarkan makan malam bagi keluarga yang lapar itu.

Sudah berapa kalikah Anda melihat Allah mengirimkan bantuan dalam perjalanan? Atau sebaliknya, sudah berapa kalikah kita merasakan dorongan untuk menolong seseorang—namun kemudian menolaknya?

Kita adalah tangan-tangan Allah di bumi—diciptakan untuk menerima bantuan dan untuk memberikannya. Apakah Anda mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan dalam perjalanan? —JDB

16 Mei 2005

Milik Terbaik Kita

Nats : Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8)
Bacaan : Efesus 2:4-10

Penyair Chili, Pablo Neruda, adalah seorang anak yang kesepian dan tidak bahagia. Ia tidak memiliki saudara dan teman. Suatu hari ia mengamati halaman belakang rumahnya dan menemukan sebuah lubang di pagar yang mengelilingi halaman tersebut. Tiba-tiba sebuah tangan mungil yang membawa sebuah mainan terjulur ke arahnya dari seberang pagar. Tetapi tangan itu tiba-tiba menghilang. Ia mendapatkan domba mainan kecil di tanah.

Pablo kemudian berlari ke dalam rumah dan mengambil benda miliknya yang terbaik, yaitu buah pinus. Ia menaruhnya di tempat yang sama dan berlari sambil membawa domba mainan tersebut. Domba mainan itu akhirnya menjadi benda yang paling ia sukai.

Pertukaran hadiah itu membawanya kepada fakta yang sederhana namun mendalam: Menyadari bahwa Anda dipedulikan oleh seseorang merupakan karunia hidup yang paling berharga. "Pertukaran hadiah kecil dan misterius itu tetap melekat di hati saya," katanya, "tersimpan dalam-dalam dan kekal."

Membaca kisah ini membuat saya memikirkan karunia Allah bagi Anda dan saya—tangan-Nya yang terulur kepada kita dengan penuh kasih mengutus Putra-Nya Yesus untuk mati bagi dosa-dosa kita. Keselamatan merupakan karunia yang "tersimpan dalam-dalam dan kekal" dari Allah, yang diterima karena kasih karunia melalui iman.

Bagaimana tanggapan kita terhadap kasih dan rahmat Allah yang tak terbatas? Mari kita berikan milik kita yang terbaik, yaitu hati kita —DHR

20 Juni 2005

Sekokoh Batu

Nats : Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong (Mazmur 34:16)
Bacaan : Mazmur 34:16-23

Hari itu adalah hari yang menyedihkan di bulan Mei 2003 ketika pahatan "The Old Man of the Mountain" hancur berkeping-keping dan meluncur di lereng gunung. Wajah lelaki tua berukuran dua belas meter yang terpahat secara alami di White Mountains, New Hampshire ini telah lama menarik perhatian para turis. Kehadirannya begitu kokoh bagi warganya dan menjadi lambang resmi negara bagian tersebut. Bahkan Nathaniel Hawthorne pernah menulis tentang pahatan ini dalam cerpennya yang berjudul The Great Stone Face.

Beberapa warga setempat merasa sedih ketika pahatan lelaki tua itu runtuh. Seorang wanita berkata, "Saya tumbuh dewasa dengan berpikir bahwa ada seseorang yang menjaga saya. Tetapi kini saya merasa tidak begitu dijagai."

Ada kalanya kehadiran seseorang yang kita andalkan menghilang. Sesuatu atau seseorang yang kita percayai pergi, dan hidup kita terguncang. Mungkin kita kehilangan orang terkasih, pekerjaan, atau tubuh yang sehat. Kehilangan itu membuat kita kehilangan keseimbangan dan labil. Kita bahkan mungkin akan berpikir bahwa Allah tidak lagi menjaga kita.

Namun "mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong" (Mazmur 34:16). Dia "dekat kepada orang-orang yang patah hati" (ayat 19). Dia adalah Gunung Batu yang kehadiran-Nya selalu menjadi tempat kita bergantung (Ulangan 32:4).

Kehadiran Allah begitu nyata. Dia terus-menerus menjaga kita. Dia sekokoh batu —AMC

26 Juni 2005

Saling Mengasihi

Nats : Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1Yohanes 4:7)
Bacaan : 1Yohanes 4:7-12

Suatu kali Brandon Moody menghadiri kebaktian Paskah pagi di gereja pamannya, D.L. Moody. Adegan terakhir dari pertunjukan yang mengesankan di gereja tersebut menggambarkan peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Pada adegan itu, aktor yang berperan sebagai Yesus dikerek oleh para penata panggung melalui atap yang terbuka. Namun, saat ia baru separuh jalan ke atas, mendadak pegangan mereka terlepas, dan aktor itu pun merosot ke bawah. Syukurlah, ia tidak terluka. Dengan pengendalian diri yang baik, sang aktor berkata kepada para jemaat yang terkejut, "Satu hal lagi. Kasihilah satu sama lain."

Kasih merupakan suatu hal yang begitu penting bagi Yesus. Karena itu, beberapa saat sebelum Dia ditangkap dan disalibkan, Dia memberikan perintah kepada murid-murid-Nya demikian, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi .... Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:34,35).

Yohanes, yang dikenal sebagai murid yang dikasihi oleh Yesus (dan seorang yang mencatat perkataan Yesus tentang kasih ini), banyak menulis tentang kasih dalam suratnya yang pertama. Beberapa kali di dalam pasal 4, Rasul Yohanes mendesak rekan-rekannya orang percaya untuk "saling mengasihi" (1 Yohanes 4:7, 11,12).

Karena itu, apa pun yang sedang terjadi di dalam hidup kita, marilah kita menjadikan perintah Yesus dan nasihat Yohanes sebagai pernyataan misi dari kita: "Saling mengasihi" —VCG

30 Agustus 2005

Secara Pribadi

Nats : Anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel -- yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23)
Bacaan : Matius 1:18-25

Anda mungkin baru-baru ini menerima sebuah surat dan terkejut melihat perangkonya. Pada perangko itu tidak terpampang wajah seorang yang terkenal atau figur bersejarah, melainkan saudara laki-laki Anda bersama anjingnya.

Pada sebuah uji kasus, Pos Amerika mengizinkan sebuah perusahaan swasta untuk menjual perangko resmi. Dengan harga dua kali lipat dari nilai perangko, pelanggan dapat mengirimkan sebuah foto digital pilihan mereka ke sebuah situs, dan dalam waktu kurang lebih seminggu mereka dapat menempelkan perangko berisi foto pernikahan mereka ke atas kartu terima kasih. Banyak orang berharap bahwa teknologi itu akan membangkitkan kembali seni mengirimkan pesan pribadi lewat surat.

Memang baik mengingat kembali bahwa kelahiran Yesus merupakan pesan yang paling pribadi dari Allah. Seorang malaikat memberi tahu Yusuf bahwa bayi ajaib ini akan menjadi penggenapan nubuatan Kitab Perjanjian Lama: Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuelyang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Rasul Paulus meneguhkan identitas Yesus Kristus pada saat ia menulis: [Yesus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, dan bahwa seluruh kepenuhan Allah diam di dalam diri-Nya (Kolose 1:15,19).

Allah sendiri datang ke dunia di dalam pribadi Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Apakah mungkin ada yang lebih pribadi dari hal itu? DCM

7 Oktober 2005

Roh yang Benar

Nats : Takutilah Dia yang … mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka .… Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit (Lukas 12:5,7)
Bacaan : Lukas 12:4-7

Suatu kali saya membaca tulisan berbau teologi pada bemper mobil di depan saya. Bunyinya, “Jika Anda masuk neraka, jangan salahkan Yesus!” Slogan itu jelas merupakan usaha si sopir untuk melakukan penginjilan. Saya menghargai usahanya, tetapi saya ragu apakah orang yang membaca peringatan itu merasa bahwa tulisan itu ditempelkan dengan penuh kasih.

Pendeta Newman Smith berselisih paham mengenai doktrin dengan pengkhotbah Baptis Robert Hall. Maka Smith menulis pamflet pedas yang mencela Hall. Karena tidak bisa memilih judul yang tepat, ia mengirim pamflet itu ke seorang teman dan meminta nasihatnya.

Sebelumnya Smith pernah menulis sebuah traktat yang berjudul “Datang Kepada Yesus”. Setelah temannya membaca kecaman pedas terhadap Hall ini, ia kemudian mengembalikannya dengan catatan pendek. “Judul yang saya anjurkan untuk pamflet Anda adalah: ‘Pergi ke Neraka’ oleh penulis ‘Datang kepada Yesus’.”

Salah satu pernyataan yang paling menakutkan dalam Alkitab adalah bahwa orang-orang yang menolak Yesus akan terpisah dari Allah selamanya. Bahkan yang lebih menakutkan lagi, hampir semua yang kita ketahui mengenai neraka berasal dari mulut Yesus. Namun ketika Yesus berbicara mengenai neraka, Dia melakukannya dengan penuh kasih.

Ketika bersaksi kepada tetangga kita, kita harus merenungkan pertanyaan ini: “Apakah ini yang Allah kehendaki untuk saya katakan?” dan “Apakah ini cara yang dikehendaki Allah bagi saya untuk mengatakannya?” -HWR

25 Oktober 2005

Lebih Dalam dari Lautan

Nats : . . . dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan (Efesus 3:19)
Bacaan : Efesus 3:14-21

Beberapa ratus kilometer selepas Pantai Guam terdapat Parit Mariana. Itu merupakan tempat yang paling dalam di tengah lautan. Pada tanggal 23 Januari 1960, Jacques Piccard dan Donald Walsh naik kapal selam kemudian diturunkan masuk ke dalam kegelapan yang dingin dan sepi di dalam parit laut itu. Penyelaman mereka ke kedalaman tersebut, yang memecahkan rekor dunia, tidak akan pernah terulang lagi.

Kedalaman lautan memang benar-benar membuat pikiran kita takjub. Parit Mariana dalamnya hampir 12 kilometer. Dan lagi, tekanan air di dasar parit itu sebesar 1.120,079 kg/cm2. Namun dengan keadaan seperti itu, ternyata di sana masih ada kehidupan. Walsh melihat ikan pipih di dasar lautan, yang tetap hidup meskipun di sana tekanan dan kegelapannya luar biasa.

Sebagian besar dari kita sulit untuk memahami betapa dalamnya Parit Mariana. Tetapi kasih Allah jauh lebih sulit untuk dipahami. Paulus berusaha keras menggambarkannya, tetapi ia berdoa agar pembacanya akan mampu memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:18,19).

Mengapa kita tidak pernah bisa menjangkau kedalaman kasih Allah adalah karena kasih itu tidak terbatas-tidak mungkin diukur. Jika Anda pernah merasa sendirian dan tidak dicintai, sampai-sampai Anda tenggelam ke dalam keputusasaan yang gelap, renungkanlah Efesus 3:18. Kasih Allah kepada Anda lebih dalam daripada Parit Mariana! -HDF

12 November 2005

Kasih Bapa Kita

Nats : Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih (Hosea 11:4)
Bacaan : Hosea 11:1-12:1

Seorang ayah kristiani yang masih muda menjalankan perannya sebagai orangtua secara serius. Ketika putranya masih bayi, ia melindunginya. Saat putranya itu semakin besar, sang ayah bermain bola dengannya, memberikan dorongan, dan berusaha mengajarkan tentang Allah dan kehidupan kepadanya. Tetapi ketika remaja, anak laki-laki itu membuat jarak dan dengan cepat meninggalkannya untuk menikmati kebebasan.

Seperti anak yang hilang dalam Lukas 15, ia menolak nilai-nilai yang diajarkan ayahnya. Ia membuat keputusan bodoh dan terlibat dalam masalah. Ayahnya sangat kecewa, tetapi selalu sabar terhadapnya. “Tak peduli apa pun yang telah ia lakukan,” katanya, “ia tetap anak saya. Saya tidak akan pernah berhenti mengasihinya. Ia akan selalu diterima di rumah saya.” Hari penuh sukacita itu akhirnya tiba ketika ayah dan anak dipersatukan kembali.

Orang-orang pada zaman Hosea mengikuti pola yang serupa. Meskipun Allah telah menyelamatkan mereka dari Mesir dan memelihara mereka, mereka menolak-Nya. Mereka menghina nama-Nya dengan menyembah ilah-ilah orang Kanaan. Akan tetapi Allah tetap mengasihi mereka dan merindukan mereka untuk kembali (Hosea 11:8).

Apakah Anda merasa takut telah menyimpang terlalu jauh dari Allah untuk dapat dipulihkan? Dia yang menyelamatkan dan memelihara Anda rindu agar Anda kembali. Tangan-Nya terbuka dalam pengampunan dan penerimaan. Dia tidak akan pernah membuang Anda.

Betapa kita gembira atas kasih Bapa! -DCE

27 November 2005

Kasih Karunia yang Luar Biasa

Nats : Dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah (Roma 5:20)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Pada tahun 1700-an, John Newton pergi berlayar bersama ayahnya dengan sebuah kapal dagang. Tak lama setelah ayahnya pensiun, Newton terpaksa bekerja di sebuah kapal perang. Akan tetapi, karena menghadapi kondisi yang tak tertahankan, ia pun melarikan diri, kemudian memohon agar dipindahkan ke sebuah kapal budak yang akan segera berlayar ke Afrika.

Kemudian, Newton tanpa perasaan melakukan perdagangan manusia, dan akhirnya ia menjadi kapten kapal budaknya sendiri. Akan tetapi, pada tanggal 10 Mei 1748, hidupnya mengalami perubahan untuk selamanya. Kapalnya mengalami badai yang hebat dan menakutkan. Ketika kapal itu hampir tenggelam, Newton berteriak keras-keras, “Tuhan, kasihanilah kami!”

Pada malam itu di kabinnya, ia mulai merenungkan belas kasih Allah. Melalui iman akan pengurbanan Kristus untuknya, John Newton dapat mengalami kasih karunia Allah yang luar biasa secara pribadi. Akhirnya, ia pun meninggalkan bisnis perdagangan budak dan memasuki pelayanan kristiani. Meskipun ia menjadi seorang pengkhotbah Injil, ia kemudian justru lebih dikenang karena kidung pujiannya yang disukai begitu banyak orang, yaitu lagu Amazing Grace. Lagu ini merupakan kesaksian menakjubkan dari pengalamannya sendiri.

Roh Allah menunjukkan dosa kita dan memberi kita kuasa untuk melepaskannya. Apabila kita menerima Kristus sebagai Juru Selamat, maka Dia melakukan bagi kita hal-hal yang tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan sendiri. Itulah kasih karunia yang luar biasa -HDF

7 Desember 2005

Terlupakan di Dalam Hadiah

Nats : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Bacaan : Yohanes 3:13-21

Di budaya Barat, masa Natal merupakan saat untuk memberikan hadiah secara besar-besaran. Sebuah toko serbaada yang terkenal di dunia, setiap tahunnya menerbitkan sebuah katalog hadiah-hadiah yang mewah. Salah satu dari hadiah yang mewah itu adalah zeppelin senilai 10 juta dolar. Zeppelin adalah sebuah balon udara yang memiliki panjang 69 meter dan lebar 15 meter. Balon udara tersebut sanggup terbang selama 24 jam tanpa melakukan pengisian ulang bahan bakar.

Hadiah seperti itu memang tampak mewah bukan main-terutama apabila kita membandingkannya dengan palungan sederhana di mana Allah mengirimkan hadiah, yaitu Putra-Nya. Kerap kali, ketika kita saling bertukar hadiah, hadiah dari Allah itu pun menjadi terlupakan.

Kita dapat menghindari kealpaan ini dengan mengingat untuk memberikan sesuatu dari hati. Kita dapat diilhami oleh kasih dan rasa syukur, tidak hanya kepada orang-orang terkasih, tetapi juga terutama untuk Sang Pemberi Agung dari semua hadiah yang baik, yaitu Bapa surgawi kita.

Bahkan hadiah yang paling kecil dan paling murah pun dapat mengembalikan ingatan kita kepada kota Betlehem. Di kota kecil itulah Allah memberikan hadiah kasih-Nya yang tak ternilai kepada dunia, yaitu Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus (Yohanes 3:16). Bersama dengan setiap hadiah yang kita terima dan yang kita berikan, kita dapat mengucapakan kata-kata ini dari dalam hati, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2 Korintus 9:15) -VCG

29 Desember 2005

Tiga Kebutuhan

Nats : Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:16)
Bacaan : 1Yohanes 4:7-21

Saya telah mendengar bahwa ada tiga hal yang dibutuhkan seseorang untuk bahagia:

1. sesuatu untuk dikerjakan-pekerjaan yang berarti atau menolong orang lain;

2. seseorang yang dikasihi-seseorang yang kepadanya kita dapat memberikan diri, seperti suami/istri, anak, atau teman; dan

3. sesuatu yang dinanti-nantikan-liburan, kunjungan dari orang terkasih, kesehatan yang membaik, mimpi yang menjadi kenyataan.

Hal-hal tersebut hanya membawa kebahagiaan sementara. Untuk memperoleh kepuasan kekal, semua hal itu dapat ditemukan dalam hubungan dengan Yesus, Anak Allah.

Sesuatu untuk dikerjakan. Sebagai orang-orang percaya, kita telah diberi karunia dari Roh Kudus untuk melayani Juru Selamat kita dengan melayani orang lain di dalam keluarga Allah (Roma 12:1-16). Kita pun dipanggil untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia (Matius 28:19,20).

Seseorang yang dikasihi. Kita mengasihi Allah karena Dia lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Dan kita mengasihi orang lain, “sebab kasih itu berasal dari Allah” (ayat 7).

Sesuatu yang dinanti-nantikan. Suatu hari nanti kita akan disambut dalam hadirat Allah selamanya, di mana kita akan menikmati sebuah tempat yang sempurna yang disiapkan khusus bagi kita (Yohanes 14:2,3; Wahyu 21:3,4). Kita akan melihat Yesus dan menjadi seperti Dia (1 Yohanes 3:2).

Untuk kepuasan yang kekal, hanya Yesus Kristus yang benar-benar kita perlukan -AMC

21 Maret 2006

Gangguan Ilahi

Nats : Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan (Lukas 10:33)
Bacaan : Lukas 10:29-37

Seorang Samaria sedang berjalan menuju Yerikho. Ia menemukan seorang Yahudi yang terluka terbaring di sisi jalan. Beberapa orang hanya melewati orang itu, tak mau terganggu karena sibuk dengan urusan masing-masing.

Namun orang Samaria ini, yang dibenci orang Yahudi dan yang mungkin juga akan lewat begitu saja, justru memiliki "belas kasihan". Ia "membalut luka-lukanya ... menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya" (Lukas 10:33,34).

Kehendak Allah menghampiri kita dengan cara-cara yang tak lazim, dan kerap dalam bentuk gangguan. Saat kita menganggap tugas kita hari itu telah selesai dan kita mulai bersantai pada malam hari di rumah, seseorang menelepon atau muncul di depan pintu dan mengganggu waktu santai kita. "Sedang sibuk?" tanya mereka.

Cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan tidak menganggapnya gangguan atau kekacauan. Sebaliknya, anggaplah itu sebagai kesempatan yang diberikan Allah untuk melayani orang yang membutuhkan -- mendengarkan dengan baik, menunjukkan kasih, dan membantu mereka menjalin hubungan yang intim dengan Allah.

Salah seorang pelopor penulis kristiani, Jean-Pierre de Caussade, berkata, "Kasih adalah kewajiban masa sekarang." Hal apa pun yang telah kita rencanakan, kita tetap harus mewujudkan kasih.

"Siapa sesama saya?" tanya saya. Yesus menjawab, "Ia adalah utusan-Ku yang datang kepadamu dalam keadaan membutuhkan" --DHR

20 April 2006

Angin Kasih

Nats : Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1Yohanes 4:8)
Bacaan : 1Yohanes 4:1-8

Seorang petani mempunyai petunjuk arah angin di lumbungnya yang di atasnya tertulis "Allah adalah kasih". Ketika teman-temannya menanyakan alasannya membuat tulisan itu, ia menjawab, "Ini untuk mengingatkan saya bahwa ke mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih."

Pada saat "angin selatan" yang hangat dengan desaunya yang menyejukkan dan lembut membawa hujan berkat, Allah adalah kasih. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas" (Yakobus 1:17).

Saat "angin utara" pencobaan yang dingin menerpa Anda, Allah adalah kasih. "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Roma 8:28).

Saat "angin barat" bertiup keras menerpa Anda dengan maksud menghukum, Allah adalah kasih. "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya" (Ibrani 12:6).

Saat "angin timur" mengancam akan menyapu semua yang Anda miliki, Allah adalah kasih. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Filipi 4:19).

Barangkali saat ini Anda sedang berkecil hati dan merasa putus asa. Apabila benar demikian kondisi yang Anda alami, ingatlah bahwa Allah tetap memelihara Anda. Sesuatu yang sedang Anda alami saat ini memang telah dikirim atau diizinkan terjadi oleh-Nya, demi kebaikan Anda.

Ya benar sekali, ke arah mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih --RWD

6 Juli 2006

Bapa Tahu yang Terbaik

Nats : Mungkin Tuhan akan memerhatikan kesengsaraanku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu (2Samuel 16:12)
Bacaan : 2Samuel 16:5-12

Tidak seperti Daud dalam 2Samuel 16, kita cenderung ingin membalas dendam, membungkam pengecam kita, menuntut keadilan, dan membereskan segalanya. Akan tetapi, Daud berkata kepada mereka yang ingin membelanya, "Biarkanlah [Simei] dan biarlah ia mengutuk, sebab Tuhan yang telah berfirman kepadanya" (ayat 11).

Bagi saya, seiring dengan tahun-tahun berlalu, kita bertumbuh -- seperti halnya Daud -- dalam kesadaran akan kasih Allah yang melindungi. Kita menjadi tidak terlalu memedulikan perkataan orang lain tentang kita, dan justru semakin menyerahkan diri kepada Bapa kita. Kita belajar taat dengan penuh kerendahan hati pada kehendak Allah.

Tentunya kita dapat meminta lawan kita memberi alasan atas tuduhan mereka terhadap kita, atau kita dapat menyangkal dengan gigih jika mereka memfitnah kita. Namun, ketika kita telah bertindak semaksimal mungkin, satu-satunya hal yang tertinggal adalah menanti dengan sabar hingga Allah membenarkan kita.

Sementara itu, alangkah baiknya apabila kita menyerahkan perkataan mereka yang memfitnah kita pada kehendak Pribadi yang mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Kita perlu mengatakan bahwa segala hal yang diizinkan Allah untuk terjadi adalah demi kebaikan-Nya untuk diri kita atau orang lain -- walaupun hati kita hancur dan air mata kita bercucuran.

Apa pun yang dikatakan orang tentang Anda, Anda berada di dalam tangan Allah. Dia melihat penderitaan Anda, dan pada saatnya nanti akan membalas Anda dengan kebaikan. Percayalah kepada-Nya dan tinggallah di dalam kasih-Nya --DHR

20 November 2006

Berkat Sederhana

Nats : Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah (Mazmur 36:8)
Bacaan : Mazmur 36:6-11

Ketika kami sekeluarga sedang berada di Disney World, Tuhan memberikan berkat sederhana-Nya bagi kami. Disney World adalah tempat sangat luas -- 43,3 hektar tepatnya. Anda dapat mengelilinginya selama berhari-hari tanpa berjumpa dengan orang yang Anda kenal. Saat itu saya dan istri memutuskan untuk berpisah dari anak-anak, sementara mereka mencoba wahana permainan yang mengasyikkan bagi mereka. Kami berpisah pukul 09.00 dan merencanakan untuk berkumpul kembali pada pukul 18.00.

Pada pukul 14.00, saya dan istri ingin sekali makan taco [makanan dari Meksiko]. Lalu kami melihat peta dan menuju anjungan Spanyol untuk menikmati masakan Meksiko. Baru saja kami duduk dan menikmati makanan, kami mendengar, "Hai Ma, hai Pa." Ternyata pada saat yang sama, ketiga anak kami juga sedang menyantap burrito panas.

Sepuluh menit setelah kami berkumpul, datanglah topan di tempat itu disertai angin yang kencang. Hujan lebat pun menyapu, diiringi guntur yang menggelegar. Istri saya kemudian berkata, "Aku pasti akan sangat khawatir jika anak-anak tidak bersama kita saat ini!" Sepertinya Allah telah merancangkan pertemuan kami sekeluarga.

Apakah Anda pernah mengalami berkat seperti ini? Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk mengucapkan syukur atas perhatian dan pemeliharaan-Nya? Renungkan betapa luar biasanya bahwa Dia yang menciptakan alam semesta ini ternyata sangat peduli untuk terlibat dalam kehidupan kita. "Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah --JDB

14 Januari 2007

Hadiah Anugerah

Nats : Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8)
Bacaan : Matius 22:34-39

Seorang wanita berkata bahwa saat ia tumbuh dewasa, anak-anak tetangganya tidak diizinkan orangtua mereka untuk bermain bersamanya karena ia tidak ke gereja. Kemudian, saat ia menjadi seorang kristiani dan memberi tahu ibunya, sang ibu berkata, "Kamu tidak akan mulai bertindak bahwa seakan-akan kamu lebih baik daripada kita semua kan?" Sang ibu memperoleh kesan yang salah tentang orang kristiani dari para tetangganya.

Mewaspadai berbagai hal yang memengaruhi kehidupan anak-anak kita adalah baik, tetapi kita pun harus membagikan kasih Allah kepada tetangga kita. Kata-kata Yesus yang ada dalam Matius 5:14-16 mengingatkan kita: "Kamu adalah terang dunia .... Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga."

Kita mungkin merasakan tarikan antara hidup suci yang "terpisah" (2 Korintus 6:17) dan perintah yang terbesar untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Matius 22:39). Kedua konsep ini tidak benar-benar berlawanan. Inti dari kehidupan yang taat kepada Allah adalah menunjukkan perhatian dan kasih bagi mereka yang masih tersesat.

Karena kita tidak dapat melakukan apa-apa yang membuat kita layak diselamatkan, maka kita tidak dapat memegahkan diri sendiri. Paulus menulis, "Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8,9).

Bagikanlah hadiah anugerah ini kepada orang lain! --CHK

6 Februari 2007

Kegairahan Rohani

Nats : Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula (Why. 2:4)
Bacaan : Wahyu 2:1-7

Mengapa kegairahan rohani begitu cepat pudar? Saat pertama kali mengalami kasih Allah, kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan-Nya, mempelajari firman-Nya, dan memberi tahu orang lain betapa berartinya Dia bagi kita. Lalu, terjadilah. Jadwal kita yang padat perlahan-lahan menurunkan gairah kita. Kerinduan kita kepada Yesus dan hasrat kita untuk mengenal sifat-Nya menjadi sambil lalu saja. Tentu sasaran kasih kita belum berubah!

Jemaat di Efesus juga bergumul untuk mempertahankan gairah rohani mereka. Yesus, melalui Yohanes, ingin membantu mereka memulihkan dan mempertahankan kasih serta antusiasme mereka bagi-Nya. Walau Yesus memuji pekerjaan jemaat gereja ini, Dia melihat mereka telah mengabaikan kasih mereka yang mula-mula, yakni diri-Nya (Why. 2:4).

Jemaat Efesus telah kehilangan gairah rohani mereka kepada Yesus. Gairah mereka menjadi dingin dan kolot. Saya bertanya-tanya apakah mereka telah membiarkan masalah agama dan kesibukan diam-diam merasuki hati mereka. Apa pun itu, sesuatu telah mencuri kasih yang tadinya mereka sediakan bagi Tuhan.

Pernahkah Anda membiarkan sesuatu mencuri gairah Anda? Jika ya, gairah Anda dapat dipulihkan dan dipertahankan jika Anda selalu ingat kasih-Nya yang menakjubkan, yang Dia tunjukkan di atas Kalvari. Bertobatlah dari kelakuan Anda yang penuh dosa dan tanpa kasih, serta dari kasih yang hilang bagi Yesus. Lakukan lagi yang semula Anda lakukan (ay. 5) --MW

Hati yang semula penuh ketakjuban
Kini hampa dan membeku;
Kembalikan, ya Tuhan, ketakjuban itu,
Jangan lagi meredup dan layu. --Sper

17 Februari 2007

Menemukan-Nya Dalam Gelap

Nats : Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Luk. 19:10)
Bacaan : Kisah 17:22-31

Ketika anak-anak laki-laki kami masih kecil, kami suka bermain "Sarden-sardenan". Kami mematikan semua lampu di rumah dan saya bersembunyi dalam lemari atau tempat-tempat sempit lainnya. Anggota keluarga yang lain meraba-raba dalam gelap untuk menemukan tempat persembunyian saya, kemudian bersem-bunyi bersama saya sampai kami berde-sak-desakan seperti ikan sarden. Dari situlah kami menamai permainan itu.

Ada kalanya anggota keluarga saya yang paling kecil takut berada dalam ge-lap, jadi ketika ia mendekat, saya berbisik kepadanya, "Ayah di sini." Namun ia sege-ra berteriak, "Aku menemukan Ayah!" ujarnya sambil menubruk saya dalam gelap, tanpa sadar bahwa ia membuat saya "ditemukan".

Demikian juga kita diciptakan untuk mencari Allah, yaitu untuk "menemukan Dia", sebagaimana yang disampaikan Paulus dengan begitu jelas (Kis. 17:27). Namun, inilah kabar baiknya: Dia tidak sulit ditemukan, karena "Ia tidak jauh dari kita masing-masing". Dia ingin menyatakan diri-Nya. "Dalam dahaga dan kerinduan Allah, ada harta yang tersimpan. Dia rindu memiliki kita," tulis Dame Julian dari Norwich berabad-abad lalu.

Sebelum mulai mengenal Kristus, kita meraba-raba Allah dalam kegelapan. Akan tetapi, apabila kita mencari Dia dengan sungguh-sungguh, Dia akan menyatakan diri-Nya, karena Dia memberi upah orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya (Ibr. 11:6). Dia akan memanggil kita dengan lembut, "Aku di sini."

Dan, Dia menanti jawaban kita, "Aku menemukan-Mu!" --DHR

Manusia meraba-raba di lorong gelap kehidupan;
Memanjatkan doa kepada ilah yang tak dikenalnya,
Sampai suatu hari ia berjumpa dengan Anak Allah --
Akhirnya ia menemukan Sang Kehidupan! --D. De Haan

21 Maret 2007

Kesaksian Seorang Ateis

Nats : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat. 22:37)
Bacaan : 1 Yohanes 3:11-18

Karena menyadari bahwa kasih kepada Allah dan sesama merupakan inti ajaran Kitab Suci, saya membuat disertasi doktoral saya tentang "The Concept of Love in the Psychology of Sigmund Freud" (Konsep Kasih dalam Psikologi Sigmund Freud). Saya mempelajari bahwa pemikir berpengaruh, yang tidak beriman kepada Allah ini tetap sangat menekankan pentingnya kasih.

Misalnya, Freud menulis, cara terbaik untuk "lari dari kesusahan dalam kehidupan" dan "melupakan kesengsaraan yang sebenarnya" adalah dengan mengikuti jalan "yang mengharapkan datangnya kepuasan sejati melalui tindakan mengasihi dan dikasihi". Dalam hal ini, Freud sejalan dengan Alkitab yang berfokus pada kasih.

Kitab Suci mengajarkan bahwa "Allah adalah kasih" (1Yoh. 4:8). Kitab Suci juga mengajarkan pentingnya "iman yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6). Dengan demikian, masalah besar yang dihadapi oleh kita semua adalah bagaimana melepaskan diri dari dosa mencintai diri sendiri, sementara di saat yang sama kita mengasihi Allah dan sesama dengan sungguh-sungguh (Mat. 32:37-39; 1Yoh. 3:14). Injil, yang berbicara tentang kasih Kristus yang mengubah kehidupan, menyodorkan satu-satunya jawaban untuk masalah itu. Paulus menyatakannya dalam Roma 5:5, "Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus."

Sudahkah Anda merasakan curahan kasih Allah? Hanya ketika Anda memercayai Yesus sebagai Juru Selamat, Roh Kudus dengan kasih-Nya akan mengalir di dalam dan melalui diri Anda --VCG

Cinta surgawi, di atas semua cinta,
Sukacita surga datang ke dunia;
Masuklah ke dalam hati kami,
Wujud anugerah-Mu di hidup ini. --Wesley

2 April 2007

Saluran Kasih Allah

Nats : Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supa-ya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:15)
Bacaan : Yohanes 13:1-17

Martha, seorang wanita berusia 26 tahun yang menderita ALS [penyakit syaraf fatal yang dengan cepat menyerang sel-sel syaraf yang mengendalikan otot penggerak], memerlukan pertolongan. Saat sekelompok wanita dari Evanston, Illinois, mendengar tentang dia, mereka segera bertindak. Mereka mulai merawatnya siang malam. Mereka memandikan, menyuapinya makan, berdoa, dan bersaksi kepadanya. Martha, yang belum menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya dan tidak dapat mengerti mengapa Allah yang penuh kasih mengizinkan dirinya mengidap ALS, melihat kasih Allah dalam diri para wanita ini hingga akhirnya ia menjadi seorang kristiani. Kini ia dapat berada bersama Tuhan berkat enam belas wanita, yang mewujudkan kasih Allah dengan mengikuti teladan Yesus.

Kasih Allah tampak nyata dalam pribadi Yesus saat Dia berada di bumi. Ketaatan-Nya saat meninggalkan surga dan menjadi manusia tercermin saat Dia membungkuk untuk membasuh kaki para murid-Nya. Dia menyembuhkan orang sakit, tetapi justru dibalas dengan kebencian yang pahit. Dia mati seperti seorang penjahat di atas salib orang Romawi. Ketabahan dan perbuatan-perbuatan baik-Nya ini mencerminkan kasih Allah, karena Yesus berkata, "Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9).

Secara fisik Yesus memang sudah tak lagi bersama kita -- kini Dia duduk di sebelah kanan Allah di surga. Jadi, jika hari ini kasih Allah harus diwujudkan, maka itu harus terjadi melalui orang-orang kristiani. Apakah hal itu sedang terjadi melalui Anda? --HVL


Kuingin semakin mengikut teladan-Nya,
Makin mencontoh kasih-Nya pada sesama;
Makin menyangkal diri, seperti Dia di Galilea,
Kuingin semakin menyerupai Dia. --Gabriel

6 Mei 2007

Sumber Sukacita

Nats : Sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersuka-cita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6:10)
Bacaan : 2Korintus 6:3-10

Paul Gerhardt, seorang pendeta di Jerman pada abad 17, memiliki segudang alasan untuk tak bersukacita. Istri dan keempat anaknya meninggal dunia; Perang Tiga Puluh Tahun telah membinasakan warga dan menghancurkan Jerman; konflik gereja dan guncangan politik mengisi hidupnya dengan penderitaan. Namun, di tengah-tengah penderitaan pribadinya yang hebat, ia menulis lebih dari 130 himne yang kebanyakan diwarnai sukacita dan ketaatan kepada Yesus Kristus.

Berikut kutipan lirik salah satu himne karya Gerhardt, "Holy Spirit, Source of Gladness":


Biarkan kasih yang tidak mengenal batas
Mengalir bagai hujan yang deras,
Memberi kita harta tak ternilai harganya
Yang didamba manusia, dan yang Allah beri;
Dengarkan kesungguhan permohonan kami,
Tiap hati yang berat menjadi berseri;
Tinggal dalam persekutuan,
Roh yang penuh kedamaian.

Karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus (Roma 5:5), adakah situasi di mana kita tak dapat mengalami sukacita yang Dia berikan?

Selama melewati masa penderitaan besar, Rasul Paulus menggambarkan pengalamannya itu seperti "sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu" (2Korintus 6:10).

Duka dan penderitaan adalah kenyataan hidup yang tak dapat dihindari. Namun, Roh Kudus adalah sumber sukacita kita, "memberi kita harta tak ternilai harganya yang didamba manusia, dan yang Allah beri" --DCM

30 Juli 2007

Kasih yang Tak Berubah

Nats : Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang (Yakobus 1:17)
Bacaan : Yakobus 1:12-20

Pada suatu pesta pernikahan yang saya hadiri, kakek mempelai perempuan mengutip di luar kepala sebuah pilihan yang mengharukan dari Kitab Suci tentang hubungan suami dan istri. Kemudian, seorang teman dari pasangan itu membacakan "Soneta 116" karya William Shakespeare. Pendeta yang memimpin upacara memakai sebuah kalimat dari soneta itu untuk melukiskan jenis kasih yang harus menjadi ciri pernikahan kristiani: "Bukan kasih namanya jika ia berubah ketika mendapati perubahan." Sang penyair ingin mengatakan bahwa kasih yang sejati tidak berubah dalam keadaan apa pun.

Pendeta itu mencatat banyaknya perubahan yang akan dialami pasangan ini dalam kehidupan bersama mereka, termasuk kesehatan dan akibat-akibat penuaan yang tak terhindarkan. Kemudian, ia menantang mereka untuk mengembangkan cinta kasih alkitabiah sejati yang tidak akan goyah ataupun pudar meskipun mereka pasti akan menghadapi berbagai perubahan.

Ketika saya menyaksikan sukacita dan kegembiraan pasangan muda ini, saya teringat akan sebuah ayat yang dikatakan Yakobus, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran" (1:17). Allah tidak pernah berubah, demikian pula kasih-Nya kepada kita. Kita adalah penerima kasih sempurna dari Bapa surgawi kita, yang mengasihi kita "dengan kasih yang kekal" (Yeremia 31:3).

Kita dipanggil untuk menerima kasih-Nya yang tidak pernah pudar, agar kasih itu dapat membentuk hidup kita, sehingga kita dapat menunjukkannya juga kepada orang lain --DCM

3 Agustus 2007

Pemberi Makan Tupai

Nats : Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak (Mazmur 65:12)
Bacaan : Mazmur 65

Beberapa tahun lalu, saya memasang sebuah tempat untuk memberi makan tupai di pohon cemara beberapa meter dari rumah. Wadah itu cukup sederhana -- dua papan dan sebuah paku untuk menancapkan tongkol jagung. Setiap pagi, seekor tupai datang dan menikmati makanannya. Tupai itu sangat cantik -- bulunya hitam dan perutnya yang gendut berwarna abu-abu.

Saya duduk di teras belakang rumah setiap pagi dan melihatnya makan. Tupai itu memipil setiap biji dari tongkolnya, memegang dan memutar dengan cakarnya, lalu makan dengan rakus. Di ujung hari, tak ada lagi biji yang tersisa. Yang ada hanyalah sisa makanan yang tertumpuk di bawah pohon.

Meski saya memerhatikannya, tupai itu takut kepada saya. Ketika saya mendekat, ia akan lari, bersembunyi di pohon, dan mencicit memperingatkan kalau saya terlalu dekat. Ia tak tahu bahwa sayalah yang menyediakan makanannya.

Sebagian orang bersikap seperti itu terhadap Allah. Mereka lari ketakutan dari-Nya. Mereka tak tahu bahwa Dialah yang mengasihi mereka dan menyediakan segalanya dengan berlimpah untuk kesenangan mereka (Mazmur 65:12).

Henry Scougal, seorang menteri Skotlandia abad ke-17, menulis, "Tak ada yang jauh lebih kuat untuk menggetarkan hati kita selain kesadaran bahwa kita (dikasihi oleh) Pribadi yang penuh kasih.... Seharusnya ini membuat kita takjub dan bersukacita; seharusnya ini mengalahkan (ketakutan) dan meluluhkan hati kita." Kasih Allah adalah kasih sempurna yang "melenyapkan ketakutan" (1 Yohanes 4:18) --DHR

31 Agustus 2007

Di Manakah Allah?

Nats : Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yesaya 53:4)
Bacaan : Ibrani 13:5-8

Apakah Allah tidak hadir secara kejam? Itulah yang ditanyakan Robert McClory, seorang profesor emeritus bidang jurnalisme di Northwestern University’s Medill School of Jurnalism, setelah badai Katrina menghancurkan daerah New Orleans, Amerika Serikat.

Mungkin kita ingin mencoba menjelaskan bahwa Sang Mahakuasa tidaklah bersalah karena Dia telah mengizinkan bencana yang memorak-porandakan masyarakat. Akan tetapi, apakah Allah tidak hadir dalam situasi seperti ini? Tidak, McClory tetap bersikeras. Berbicara tentang tragedi Katrina, ia mengatakan bahwa Allah ada, tetapi Dia mungkin secara kasat mata tidak terlihat hadir "bersama orang yang menderita dan hampir mati. Dia ada pada masing-masing pribadi, masyarakat, gereja, dan sekolah yang mengorganisasi bantuan bagi korban serta mengevakuasinya ke kota serta rumah mereka. Dia ada bersama ratusan ribu orang yang menunjukkan belas kasihan berupa dukungan doa dan keuangan".

Begitu pula dengan tragedi menghancurkan hati yang terjadi dalam hidup kita, misalnya kematian seseorang yang kita kasihi. Kita tak punya jawaban yang cukup memuaskan atas berbagai masalah hidup yang menyakitkan seperti ini. Namun, kita tahu Tuhan bersama kita, karena Dia berkata bahwa Dia tak akan meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Yesus disebut "Imanuel" yang secara harfiah berarti "Allah menyertai kita" (Matius 1:23).

Meskipun penderitaan membuat kita bingung, kita dapat memercayai bahwa Allah ada di dekat kita dan sedang melaksanakan maksud-Nya --VCG

11 November 2007

Berbuat Baik

Nats : Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik (Yakobus 2:8)
Bacaan : Yakobus 1:1-13

Dalam buku Flags of Our Fathers, James Bradley menceritakan pertempuran Iwo Jima dalam Perang Dunia II dengan peristiwa pengibaran benderanya yang terkenal di Gunung Suribachi. Ayah Bradley, John, adalah salah seorang pengibar bendera itu. Namun yang lebih penting, ayah Bradley tersebut adalah seorang anggota korps kesehatan angkatan laut, yakni sebagai seorang dokter.

Di tengah-tengah sengitnya pertempuran, menghadapi berondongan tembakan dari kedua sisi, John mengambil risiko yang membahayakan dirinya agar dapat merawat orang-orang yang terluka dan sekarat. Pengorbanan diri ini menunjukkan kemauan dan tekadnya untuk memedulikan orang lain, meskipun itu berarti membahayakan dirinya sendiri.

Dokter Bradley memenangkan Navy Cross atas kepahlawanan dan keberaniannya, tetapi ia tidak pernah membicarakan itu dengan keluarganya. Bahkan pada kenyataannya, mereka baru tahu ia mendapat bintang kehormatan militer, setelah ia meninggal. Bagi sang dokter, yang penting bukan masalah memenangkan medali kehormatan, melainkan bagaimana ia memedulikan teman-temannya.

Dalam Yakobus 2:8 kita membaca, "Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, kamu berbuat baik." Yakobus mengatakan bahwa kita "berbuat baik" ketika sengaja memerhatikan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kata baik berarti "dengan benar, mulia, sehingga tidak mungkin disalahkan".

"Berbuat baik" tanpa mementingkan diri sendiri berarti mencerminkan hati Allah, dan memenuhi hukum kasih-Nya --WEC

27 November 2007

Dua Saudara Pemberontak

Nats : Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali (Lukas 15:32)
Bacaan : Lukas 15:25-32

Kisah mengenai anak yang hilang sebenarnya adalah kisah mengenai dua saudara yang suka memberontak dan ayah mereka yang penuh kasih. Ini adalah kisah universal yang mewakili setiap umat manusia.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyamakan diri saya dengan anak yang hilang. "Kehidupan liar" asing bagi saya. Akan tetapi, sikap sang kakak yang membenarkan diri tersebut mencerminkan pergumulan rohani saya. Dosanya mungkin lebih serius daripada gaya hidup amoral yang jelas-jelas tampak. Dosa itu tersembunyi, tetapi akan mudah dikenali ketika ia muncul.

Berikut ini adalah ciri-cirinya: Ia memilih kemarahan daripada penerimaan (Lukas 15:28). Ia memisahkan diri dan "tidak mau masuk" (ayat 28). Ia berkata kepada ayahnya, "anak bapa" (ayat 30), bukannya menyebutnya "saudaraku". Jelaslah, ia belum mengalami mukjizat dari rahmat Allah.

Namun, sang ayah mencintai kedua anaknya tanpa syarat. Terhadap anak yang sudah memboroskan hartanya, ia berlari keluar untuk menyambut kedatangannya. Dan, terhadap anaknya yang sulung, ia "keluar dan membujuknya" (ayat 28). Tidak ada kata cercaan yang kasar. Yang ada hanyalah sukacita atas kepulangan anak bungsunya dan hati yang selalu merindukan anak sulungnya. Sebuah gambaran yang sangat indah mengenai betapa baiknya Allah yang mencari-cari kita!

Dalam kisah itu, anak manakah yang mencerminkan diri Anda? Sudahkah Anda menanggapi kasih Bapa surgawi yang tak terbatas? --DJD

14 Januari 2008

Mengubah Fokus

Nats : Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka (Kisah 16:25)
Bacaan : Kisah 16:22-31

Dulu, setiap kali berangkat kerja saya selalu terjebak kemacetan. Selama dua jam saya terperangkap di belakang setir. Hal itu tentu saja sangat menjengkelkan, apalagi jika melihat ulah para pengemudi kendaraan yang saling serobot. Suatu hari, ketika lalu lintas sedang macet total, saya mencoba melantunkan pujian. Hasilnya? Pikiran saya tak lagi terfokus pada kemacetan yang sedang terjadi, tetapi kepada Tuhan. Suasana hati saya berubah. Kejengkelan pun sirna. Jalanan tetap macet, namun saya dapat melaluinya dengan rasa damai.

Pujian dapat mengubah fokus hati. Tak heran, Paulus dan Silas berusaha menyanyi sewaktu mereka dipenjarakan. Padahal, ini bukanlah reaksi yang wajar. Dalam kondisi babak belur, biasanya orang lebih suka meratap. Mengapa mereka memilih untuk memuji? Karena mereka sadar bahwa puji-pujian mampu mengubah fokus hati. Saat memuji, mereka tidak lagi melihat besarnya suatu masalah, tetapi hanya kehadiran Tuhan di sana. Malam itu, penjara berubah menjadi gereja. Para tahanan mendengarkan puji-pujian dengan saksama. Kuasa Tuhan pun dinyatakan. Bahkan, kepala penjara bertobat dan dibaptiskan.

Dalam perjalanan hidup ini, kita bisa menghadapi situasi "macet total". Masalah datang bertubi-tubi. Kita terjebak di dalamnya. Atau, seperti Paulus dan Silas, kejutan hidup datang tak terduga. Tiba-tiba kita merasa dipenjara. Dibelenggu masalah. Jalan keluar tampak sukar. Di saat seperti itu, janganlah berputus asa. Pujilah Tuhan! Biarkan pujian mengubah fokus hati kita, sehingga kita dapat melihat hadirnya Tuhan di dalam persoalan! --JTI

16 Januari 2008

Saling Menolong

Nats : Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2)
Bacaan : 2Korintus 8:1-24

Ketika itu saya masih lajang. Satu hari saya menghadapi pergumulan berat dalam pelayanan dan membutuhkan teman untuk menolong saya. Jadi saya berdoa, "Tuhan, tolong kirimkan seorang hamba Tuhan yang bisa menolong saya." Belum tuntas saya berdoa, terdengar ketukan di pintu. Begitu saya membuka pintu, ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang hamba Tuhan yang saya kenal. Puji Tuhan. Namun, belum saya persilakan masuk, ia sudah melontarkan keluhan, "Saya punya masalah. Apakah kamu bisa menolong saya?" Saya mengajaknya masuk dan mengatakan bahwa saya juga sedang menghadapi masalah. Kami pun bersepakat untuk saling menolong karena masalahnya berbeda. Lucu sekali. Kami konseling secara bergantian, dan merasa lega. Ternyata kami bisa saling menolong, masalah kami teratasi, dan sejak itu kami menjadi sahabat karib.

Secara implisit, ayat emas kita hari ini (Galatia 6:2) menunjukkan bahwa kita semua memiliki masalah; entah dalam keluarga, keuangan, pekerjaan, atau pelayanan. Jangan malu dan segan untuk berbagi dengan saudara seiman yang dapat dipercaya; dengan demikian beban menjadi ringan bila sama-sama dijinjing. Itulah tradisi baik yang sering dilakukan jemaat mula-mula, yaitu jemaat di Makedonia dan Yerusalem (2Korintus 8:1-24). Meskipun mereka miskin, menderita, dan menghadapi berbagai cobaan, mereka tetap saling menolong, bahkan mendesak untuk mengambil bagian dalam pelayanan (2Korintus 8:4).

Dengan melakukan hal itu, kita memenuhi hukum Kristus, yaitu mengasihi Allah dengan mengasihi sesama --ACH

5 Februari 2008

Tembok Kesombongan

Nats : Mengapa engkau melihat serpihan di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak engkau ketahui? (Lukas 6:41)
Bacaan : Lukas 6:41-42

Seusai kebaktian, dua pemuda berjalan sambil bercakap-cakap. "Keterlaluan sekali Bapak yang duduk di depan kita tadi! Sudah tidur, dengkurannya keras lagi." Pemuda pertama mengomel. Tak mau kalah, pemuda kedua juga ikut mengomel, "Bapak tadi memang keterlaluan, dengkurannya membuat saya terbangun."

Melihat kelemahan orang lain memang mudah, tetapi tak mudah menyadari kesalahan sendiri. Banyak orang kristiani juga mengomel dan mengeluhkan kelemahan orang lain atau mencela mereka yang berbuat salah. Tanpa disadari mereka juga bisa melakukan kesalahan yang sama.

Mari kita belajar untuk berhenti menghakimi dan mencari-cari kesalahan orang lain, sebab jika hal ini terus kita lakukan, kita tidak akan pernah memiliki waktu untuk menilai diri sendiri. Itu bisa menjadikan kita munafik, seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang dikecam oleh Tuhan Yesus. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi kalau tidak cepat diatasi, tanpa sadar kita membangun tembok kesombongan yang tinggi. Kita akan selalu merasa paling benar, paling suci, paling rohani.

Firman Allah hari ini menasihati; daripada kita mencari-cari kesalahan orang lain yang dapat dikritik dan dihakimi, lebih baik kita melihat keberadaan diri sendiri di hadapan Allah. Kita harus belajar menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tak pernah berbuat salah. Kalau kita mau jujur, bukankah kita juga pernah salah? Kalau kita sendiri kadang juga berbuat salah, mengapa kita sibuk mencari-cari kesalahan orang lain? --PK

14 Februari 2008

Valentine's Day

Nats : Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1Yohanes 4:7)
Bacaan : 1Yohanes 4:7-13

The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia ada sekitar satu miliar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat Valentine menjadi hari raya terbesar kedua setelah Natal. Dalam perkembangannya, banyak orang juga berkirim e-mail, e-card, atau SMS. Selain itu, sebagian orang juga memiliki tradisi saling memberi hadiah pada saat Valentine.

Apakah orang kristiani boleh merayakan Valentine? Boleh, bahkan kalau bisa setiap hari dijadikan hari Valentine untuk mengungkapkan kasih kepada sesama. Ada banyak pasangan suami istri yang bermasalah dalam hubungan mereka, ada keluarga-keluarga yang broken home, ada banyak anak yang tidak memperoleh kasih dari orangtua, dan banyak orang lain yang juga kehilangan kasih. Oleh karena itu, mari kita isi hari Valentine ini bukan hanya dengan pesta atau kado dan ucapan, tetapi biarlah hari ini menjadi titik tolak bagi kita untuk membagikan kasih yang kita terima dari Allah (ayat 11) kepada mereka yang membutuhkan, khususnya orang-orang yang mungkin selama ini tidak pernah dipedulikan.

Tak ada kekuatan yang sedahsyat kasih. Sebab itu jika kita hidup di tengah keluarga yang mengalami krisis kasih dan berada di ambang kehancuran, jangan tunda-tunda untuk menghidupkan kasih Allah kepada keluarga kita. Demikian juga dalam hubungan persahabatan, dan hubungan-hubungan lainnya. Kasih yang kita berikan dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Mari nyatakan kepada dunia bahwa Allah yang penuh kasih berdiam dalam diri kita; lewat ucapan dan tindakan kita (ayat 12) --PK

4 Maret 2008

Larilah Menjauh!

Nats : Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar (Kejadian 39:12)
Bacaan : Kejadian 39:1-23

Seorang ayah menemukan majalah porno di kamar anak laki-lakinya yang masih remaja. Ia sangat terkejut. Dibukanya majalah itu. "Ya, ampun!" serunya dengan mata terbelalak. Lalu dibukanya lagi. "Ya, Tuhan!" ia makin kaget. Dan, ia terus membukanya. Sampai di halaman terakhir, "Ya, habis!" serunya pula. Itu hanya cerita humor. Humor itu hendak menunjukkan kebiasaan orang, yang saat tahu bahwa sesuatu itu dosa, bukannya menjauh, tetapi malah sengaja mendekat dan mencoba-coba.

Yusuf tidak bersikap demikian terhadap dosa. Ia terus digoda oleh istri Potifar, tetapi dengan tegas ia menolak. "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ayat 8,9). Sampai suatu hari, pada saat di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, godaan itu datang lagi. Dan, apa yang dilakukan Yusuf? Yusuf pun lari keluar (ayat 12).

Kita perlu meniru Yusuf yang berani bersikap tegas terhadap dosa. Lari keluar. Menjauh. Tidak lari di tempat, apalagi lari mendekat. Iblis sangat cerdik. Ketika kita belum jatuh, ia terus-menerus menggoda kita, "Ayolah, sekali-kali tidak apa-apa." Akan tetapi, begitu kita terjatuh Iblis akan berkata kepada kita, "Yah, sudah telanjur jatuh. Sudahlah, ibarat kepalang basah, mandi saja sekalian!" -AYA

16 Maret 2008

Hanya Anugerah

Nats : Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibrani 9:22)
Bacaan : Efesus 2:1-10

Ketika berusia 24 tahun, Ernest Gordon menjadi seorang tahanan perang di bawah kekuasaan Jepang. Bersama tahanan lainnya, mereka dipaksa membangun jalan kereta api di hutan Birma. Proses ini memakan korban sekitar 16.000 jiwa. Namun, Gordon bertahan hidup, malahan ia makin meresapi arti hidup dan pengorbanan. Suatu hari, seorang rekannya menyerahkan diri agar komandannya tidak dibunuh. Akibatnya orang itu dianiaya dengan sangat kejam melalui penyaliban. Cucuran darah orang itu mengingatkannya bahwa penebusan berharga mahal.

Pada dasarnya kita semua sudah mati karena pelanggaran dan dosa. Akibatnya, kita memerlukan seseorang yang mampu menolong kita agar tetap hidup. Dalam hal ini, darah menjadi unsur terpenting sebagai syarat kehidupan. Tanpa penumpahan darah, pengampunan tidak akan terjadi. Inilah standar yang ditetapkan agar seseorang bisa dihidupkan kembali dari kematian akibat dosa.

Kebangkitan Yesus dari kematian menjawab bagaimana kita bisa memperoleh hidup. Kita tak mungkin diselamatkan karena perbuatan baik, karena kita sudah mati karena dosa. Mungkin banyak orang dikatakan "baik". Namun, apakah yang sesungguhnya dapat disebut "baik"? Kriteria"baik" menurut kacamata Sang Penebus adalah bila seseorang percaya kepada anugerah kasih Allah dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Inilah pemberian Allah, bukan usaha kita.

Semuanya hanya oleh anugerah. Tak satu pun usaha kita bisa menyelamatkan. Setiap perbuatan baik kita hanyalah kesaksian bahwa kita sudah memiliki hidup yang baru -BL

1 Juni 2008

Menjaga Komitmen

Nats : ... inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku (Filipi 3:13)
Bacaan : Filipi 3:4-16

Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat dan William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan.

Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Dan itu sungguh tak mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya; dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam (2 Korintus 11:23-33), bahkan dari penyakit tubuhnya (2 Korintus 12:7,8). Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang (dalam bahasa Yunani kata "melupakan" di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan) dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan (Filipi 3:13,14).

Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam hingga Anda sulit menjaga komitmen -- terhadap keluarga, pekerjaan, studi, atau pelayanan? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Dia. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan —ALS

3 Juni 2008

Rambu Stop

Nats : Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Kisah Para Rasul 13:30)
Bacaan : Lukas 24:1-8

Sementara melayani ibadah pemakaman, saya selalu melihat satu kesan kuat: berakhirnya sebuah perjalanan. Rambu stop terpasang jelas. Sosok yang terbaring dalam peti itu dihentikan oleh kematian. Langkahnya sudah tiba di garis finis. Itulah sifat kematian: menghentikan, tanpa minta persetujuan dari kita. Titik.

Lain halnya dengan kematian Yesus. Lukas menggambarkan Yesus sebagai Dia yang terus berjalan. Berjalan dari Galilea ke Yudea. Berjalan dari kota ke kota, desa ke desa, rumah ke rumah. Berjalan untuk berkarya. Sampai Golgota menyongsong-Nya. Iblis menanti kesempatan terbaik. Salib menghadang. Kematian menghentikan-Nya. Makam membungkam-Nya. Semua mengira perjalanan-Nya sudah terhenti, termasuk para murid. Mereka salah. Makam tak dapat membendung-Nya. Dia bangkit. Dan terus berjalan. Dia berjalan di samping Kleopas dan temannya. Dia berjalan di pantai Genesaret. Dia "berjalan" di awan-awan, naik ke surga. Dia "berjalan" dalam wujud Roh, menyertai para murid bersaksi. Tak ada yang dapat menghentikan-Nya, bahkan kematian. Dia mengubah titik menjadi koma.

Hidup ini penuh rintangan. Banyak rambu stop. Palang menghadang. Langkah kita sering dihentikan oleh kemalasan, kegagalan, keraguan, penyakit, musibah, kesukaran, kepahitan, trauma masa silam, dan sebagainya. Jika kita sendirian, besar kemungkinan untuk berhenti. Namun tidak bila bersama Tuhan. Bersama Dia, hambatan sebesar apa pun dapat kita lewati. Jika kematian pun tak sanggup menghentikan-Nya, semua yang lain pun tidak. Hidup kita adalah sebuah perjalanan; agar tak mudah dihentikan oleh penghalang, berjalanlah bersama Dia yang bangkit! —PAD

24 Juli 2008

Dampak Ketetapan Hati

Nats : Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN (Yosua 24:15)
Bacaan : Yosua 24:1-3, 13-16

Selama hidupnya, Yosua konsisten mengikuti Allah. Sejak muda, ia telah berani tampil dan mengajak umat Israel untuk tidak memberontak kepada Allah dan dengan demikian berani memasuki Kanaan (Bilangan 14:5-10). Pada masa tuanya, ia tampil lagi di depan semua suku Israel. Ia mengimbau mereka supaya tetap beribadah kepada Allah. Dan umat itu mengikuti teladan Yosua (ayat 16,24). Betapa dahsyat dampak ketetapan hati satu orang beriman! Ia membawa keluarga dan bangsanya untuk mengikuti Tuhan.

Suatu kali ayah saya, George, merasa bimbang. Di satu sisi ia merasa Tuhan memanggilnya untuk menjadi hamba-Nya. Di sisi lain, sebagai satu-satunya anak laki-laki, ayahnya berharap George meneruskan usaha tokonya. Pamannya-seorang anak Tuhan-memberi nasihat: "Jika kau menuruti permintaan orangtuamu, mereka takkan pernah menjadi orang percaya". Jadi, George menetapkan hati untuk memenuhi panggilan Tuhan. Allah itu setia. Setelah 15 tahun ia menjadi pendeta, kedua orangtuanya mengaku percaya dan dibaptis. Ia juga menerima adik-adik istrinya untuk tinggal di rumahnya dan membawa mereka satu per satu menjadi orang percaya. Dari gereja kecil yang ia layani dengan setia selama 25 tahun, muncul lebih dari 70 pemuda yang menjadi pendeta.

Teladan Yosua dan George, ayah saya, mengingatkan akan panggilan pelayanan kita yang pertama dan utama. Membawa keluarga kita kepada Kristus! Sangat sulit? Betul. Namun, ketetapan hati membuat hal sulit menjadi mungkin. Karena Allah yang menyelamatkan kita, juga rindu menyelamatkan keluarga kita (Kisah Para Rasul 16:31) dan lingkup yang lebih luas di sekitar kita (1:8) -WP

22 Agustus 2008

Mengumpulkan Harta

Nats : Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Banyak pengusaha sukses dunia saat ini telah menunjukkan kedermawanan. Mereka menyisihkan sejumlah besar kekayaan yang mereka punya untuk membangun karya kasih bagi kemanusiaan. Sebut saja misalnya Henry Ford-pengusaha otomotif, Bill Gates-pendiri Microsoft, Larry Page dan Sergey Brinn-pemilik Google. Mereka tidak mengumpulkan kekayaan hanya untuk diri sendiri, tetapi mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Mereka telah memberi sumbangsih sangat besar bagi dunia pendidikan, pengentasan kemiskinan, penanggulangan kesehatan, dan bencana alam.

Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang bodoh. Orang itu mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, bersikap tamak, dan berpikir bahwa dengan menjadi kaya maka semua urusannya pasti beres. Kepada orang yang demikian, Tuhan Yesus berkata, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ayat 20).

Memang berbahaya kalau kita hanya sibuk mengumpulkan kekayaan untuk diri sendiri. Sebab betapapun harta kekayaan-seperti juga jabatan dan popularitas-tidaklah abadi. Cepat atau lambat akan kita tinggalkan. Maka, bila kita diberkati dengan kekayaan lebih, baiklah kita menjadikan itu juga sebagai berkat bagi sesama yang membutuhkan. Itu akan jauh lebih berarti. Sebab nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak kekayaan yang ia kumpulkan, tetapi oleh seberapa besar hidupnya menjadi berkat dan mendatangkan kesukaan bagi sesamanya. Oleh karena itu, jangan biarkan hati kita dijerat oleh ketamakan akan harta benda -AYA



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA