Topik : Kasih Untuk

26 November 2002

Mengatasi Iri Hati

Nats : Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara (1Petrus 3:8)
Bacaan : 1Petrus 3:8-12

Dengan bergurau, seseorang mendefinisikan kebahagiaan sebagai "suatu sensasi menyenangkan yang muncul karena membayangkan kesengsaraan orang lain."

Barangkali hanya sedikit dari kita yang mengaku setuju dengan definisi ini. Yang saya khawatirkan adalah bahwa sebenarnya kita semua membenarkan hal itu. Memang dapat dimengerti bila kita menginginkan kesuksesan seperti orang lain. Namun, kita salah jika berpikir, "Jika saya tidak bisa memiliki sesuatu, maka orang lain tidak boleh mendapatkan sesuatu yang saya inginkan itu."

Saat saya berusia 13 tahun, saya mulai sadar bahwa adik saya Len, 10 tahun, lebih berbakat di bidang atletik daripada saya. Awalnya ada sedikit perasaan kesal yang muncul dalam diri saya, tetapi syukurlah perasaan itu tidak sempat berkembang menjadi iri hati. Mengapa? Karena saya mengasihi Len. Tak lama kemudian, saya mulai bangga dengan prestasi atletiknya dan ikut bahagia melihatnya menang dan sedih saat ia kalah.

Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa kasih dan iri hati tidaklah mungkin hidup bersama dalam hati manusia. Sekarang, setiap kali iri hati menampakkan wajah buruknya, saya selalu mengingat bagaimana kasih saya kepada Len mampu mengusir perasan itu dari diri saya. Saya juga mengingat nasihat dalam 1 Petrus 3:8 untuk "mengasihi saudara-saudara." Ayat tersebut memampukan saya untuk "bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis" (Roma 12:15).

Tekad untuk mengasihi orang lain adalah rahasia untuk mengatasi rasa iri hati –Herb Vander Lugt

4 Desember 2002

Tipe Apakah Anda?

Nats : Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi (1Yohanes 4:11)
Bacaan : 1Yohanes 4:11-21

Seseorang pernah berkata, "Ada dua tipe orang di dunia ini. Yang pertama adalah mereka yang masuk ke ruangan dan berkata, "Saya datang!", dan kedua, mereka datang dan yang berkata, "Ah, senang bertemu Anda lagi!"

Betapa berbedanya dua pendekatan di atas! Yang satu berkata, "Lihat saya! Perhatikan saya"; sedangkan yang lain berkata, "Ceritakanlah tentang diri Anda." Yang satu berkata, "Saya orang penting," sementara yang lain berkata, "Andalah yang terpenting." Yang satu berkata, "Dunia ini berputar mengelilingi saya"; tetapi yang lain berkata, "Saya hadir untuk melayani Anda."

Bukankah menyenangkan bila kita dapat menjadi orang tipe kedua, yakni seseorang yang kehadirannya diinginkan oleh orang lain? Seseorang yang berani menyatakan kasih Kristus secara terang- terangan dan tanpa rasa malu?

Perjanjian Baru memberi kita beberapa saran praktis tentang bagaimana caranya menjadi orang yang dapat menunjukkan kasih Kristus. Saran-saran tersebut adalah: Kita diminta untuk memberi hormat kepada orang lain (Roma 12:10), membangun satu sama lain (Roma 14:19), saling memperhatikan (1 Korintus 12:25), saling melayani (Galatia 5:13), saling menolong menanggung beban (Galatia 6:2), saling mengampuni (Kolose 3:13), saling menasihati (1 Tesalonika 5:11), dan saling mendoakan (Yakobus 5:16).

Seharusnya hanya ada satu tipe orang kristiani, yaitu tipe orang kristiani yang "saling mengasihi". Tipe orang seperti apakah Anda? –Dave Branon

10 Desember 2002

Allahnya Hosea

Nats : Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya (Hosea 2:13)
Bacaan : Hosea 1:1-3; 2:13-19

Pada akhir drama karya Marc Connely yang berjudul Green Pastures (Lembah Hijau), Hezdrel tua mengatakan bahwa ia tidak takut mati sebab ia percaya kepada Allahnya Hosea. Lalu Tuhan berbicara kepadanya dan bertanya apakah yang ia maksudkan adalah Allahnya Musa. Hezdrel menjawab tidak, dan menjelaskan bahwa ia melihat Tuhannya Hosea sebagai Tuhan yang penuh dengan belas kasih dan tidak menakutkan.

Keyakinan Hezdrel didasarkan pada sebuah kisah nyata yang terjadi pada zaman dahulu. Sebuah kisah tentang cinta yang tidak berbalas: Cinta tanpa pamrih yang diberikan Hosea kepada Gomer yang tidak setia. Gomer berulang kali menyeleweng sehingga menghancurkan hati Hosea. Namun, Hosea tidak pernah berhenti mencintainya.

Lalu Gomer dibuang ke tempat yang sangat gelap. Saya membayangkan keadaannya yang letih, perasaan tak berguna, berpenyakitan, dibebani oleh kesedihan, dan tidak punya apa-apa. Yang tersisa hanyalah cinta Hosea.

Hubungan antara Hosea dan Gomer menggambarkan hubungan antara Allah dan bangsa Israel. Meskipun Israel tidak setia dan menderita karenanya, Tuhan tetap mengejarnya dan berbicara kepadanya dengan lembut (Hosea 2:13).

Seandainya seorang tetangga Hosea melihat sendiri kejadian itu, saya membayangkan ia akan berkata, "Apakah ini yang disebut cinta yang tidak rasional?" Dan orang lain akan menjawab, "Saya tahu! Hosea mengasihi Gomer seperti Allah mengasihi saya!"

Inilah Allahnya Hosea. Sambutlah kasih-Nya dan ketahuilah bahwa Dia bukanlah Allah yang menakutkan –David Roper

11 Desember 2002

Kasih Manusia Tidak Cukup

Nats : Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3)
Bacaan : Roma 8:28-39

Rasa aman dan perasaan berharga adalah dua elemen penting dari emosi yang sehat. Jika kita merasa aman karena terhindar dari kejahatan sekaligus aman dari penolakan dan kesepian, kita termasuk orang yang diberkati karena memiliki dua hal yang amat dibutuhkan manusia. Bahkan jika kita tahu bahwa kita dikasihi dan dihargai, setidaknya oleh orang-orang yang berarti bagi kita, maka kita akan merasa diri kita berharga.

Renungkanlah firman Allah dalam Roma 8 tentang rasa aman dan perasaan berharga yang kita miliki. "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat 31). Selanjutnya kita tahu bahwa tak satu pun dapat memisahkan orang-orang percaya "dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (ayat 35-39). Ayat- ayat ini memperlihatkan betapa Allah sungguh-sungguh menganggap kita berharga!

Bahkan kasih manusia yang terbesar tidak dapat memberi kita rasa aman dan perasaan berharga yang kita perlukan. Mengapa? Alasannya adalah bahwa hidup manusia itu berlalu dengan cepat. Manusia akan menjadi tua dan mati, dan kasih mereka pada akhirnya akan sirna. Alasan lainnya kita tahu bahwa dalam hubungan antarpribadi, manusia cenderung berbuat dosa, berubah-ubah, dan tidak setia.

Kita membutuhkan kasih Allah yang kekal, Allah yang adalah kasih itu sendiri. Ia memandang setiap kita sebagai orang-orang yang berharga. Dan Injil menyatakan bahwa kita memiliki kasih yang sedemikian rupa dalam Pribadi Anak Allah, Yesus Kristus. Kasih-Nya tidak pernah meninggalkan kita -Vernon Grounds

17 Desember 2002

Tembok yang Tegak

Nats : Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi (Amos 7:8)
Bacaan : Amos 7:1-9

Ketika saya masih kecil, saya dan teman-teman sebaya saya membangun markas. Kami berhasil membuat lantai yang rata, tetapi kami kesulitan untuk memasang dinding papan dengan tegak karena kami tidak memakai tali ukur. Akibatnya, markas kami seperti Menara Pisa yang miring.

Tukang kayu sering menggunakan tali ukur untuk memastikan bahwa tembok terpasang tegak lurus terhadap lantai. Mereka menggunakan tali yang diberi pemberat, yang menggantung lurus sebagai pedoman bagi pekerja saat membangun tembok.

Dalam Amos 7, kita membaca analogi mengenai tali ukur. Awalnya Tuhan memberi tahu Amos mengenai kawanan belalang dan api besar, yang menggambarkan nubuatan akan adanya kehancuran yang menimpa kerajaan utara Israel. Setelah sang nabi berdoa dan Tuhan berkenan untuk menunda penghakiman-Nya, Amos menerima penglihatan berupa sebuah tembok yang tegak lurus. Tuhan berdiri di dekat tembok itu sambil memegang tali ukur (tali sipat). Karena kelakuan bangsa Israel tidak sesuai dengan hukum Allah, maka mereka harus mengalami murka Allah (ayat 8,9).

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita memiliki tali ukur yang berguna untuk mengevaluasi hidup kita. Tali ukur itu adalah firman Allah yang berisi prinsip-prinsip dan perintah-perintah. Saat berhadapan dengan berbagai pilihan moral, kita harus melihat apa yang diajarkan Kitab Suci. Selama kita mengikuti petunjuk-petunjuk Tuhan, kita tidak perlu mencemaskan apa yang dinyatakan oleh tali ukur-Nya dalam hidup kita –Dave Egner

9 Februari 2003

Gurun Penyimpangan

Nats : Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! (Wahyu 2:4,5)
Bacaan : Wahyu 2:1-7

Dahulu, Muynak merupakan kota pelabuhan nelayan yang berkembang pesat di tepi Laut Aral. Namun kini Muynak hanyalah kota di tepi gurun pasir. Keadaannya menyedihkan dan berbau amis. Lambung kapal yang sudah rusak dan berkarat berderet menutupi bukit-bukit pasir. Padahal dulunya semua kapal itu berlayar di atas permukaan sumber mata air kehidupan di Asia Tengah.

Perubahan itu mulai terjadi sekitar tahun 1960. Saat itu perencana kota pemerintah Uni Soviet mulai membelokkan sumber mata air Laut Aral untuk mengairi perkebunan kapas terbesar di dunia. Tak seorang pun tahu bahwa kelak kebijakan itu ternyata menimbulkan kerusakan lingkungan. Cuaca di situ berubah menjadi sangat panas. Musim bertanam menjadi dua bulan lebih pendek, dan 80 persen tanah perkebunan hancur diterjang oleh badai garam yang berasal dari dasar laut.

Kejadian yang menimpa kota Muynak itu sama seperti dengan apa yang terjadi pada jemaat Efesus. Pada saat jemaat itu mengalami perkembangan rohani yang pesat, para orang percaya di kota Efesus malah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan menyibukkan diri dengan berbagai pelayanan yang dilakukan atas nama-Nya (Wahyu 2:2-4). Mereka tidak lagi memperhatikan hal terpenting dalam hubungan mereka dengan Kristus, yaitu kasih mereka kepada-Nya.

Tuhan, tolonglah kami untuk segera mengenali dan bertobat dari berbagai hal yang mengalihkan perhatian kami untuk mengasihi-Mu. Alirilah jiwa kami yang gersang ini dengan air hidup-Mu --Mart De Haan II

18 Februari 2003

Keduanya Tak Terpisahkan

Nats : ... dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (Efesus 4:15)
Bacaan : Efesus 4:1-16

Seorang mahasiswa teologi terlibat dalam perdebatan sengit dengan kepala asramanya. Saat itu mereka sedang mendiskusikan ajaran seorang ahli teologi yang menurut anggapan si kepala asrama seorang bidaah. Padahal mahasiswa itu telah memutuskan untuk menjadi pengikut orang itu dan penganut doktrinnya.

Dengan sikap menggurui, mahasiswa itu memperlihatkan fotokopi sebuah buku teologi yang ditulis oleh orang itu kepada kepala asramanya. Pria yang walaupun kurang berpendidikan tapi seorang kristiani yang saleh itu merasa tak berkutik ketika dihadapkan pada begitu banyaknya pengetahuan anak muda. Akibatnya, ia merasa frustrasi dan kalah.

Demikian pula kita pun dapat menyalahgunakan roh kebenaran yang agung dari Kitab Suci untuk menyakiti orang lain. Barangkali kita telah menerima ajaran dari seorang guru Alkitab yang terkenal, mendapatkan pemahaman khusus atas firman Tuhan, atau dengan mudah mengutip ayat nats dari Kitab Suci. Hal ini dapat menjadi pedang bermata dua yang dapat menjatuhkan atau membangun mental orang lain. Jika kita menyalahgunakan pengetahuan kita, kita mungkin akan membuat orang- orang kristiani saling bertentangan dan menghancurkan gereja. Di lain pihak, kita dapat menggunakan kebenaran untuk menjelaskan, mengajar, dan memperkaya orang lain jika kita menyampaikannya dengan kasih.

Kebenaran harus dinyatakan dalam kasih (Efesus 4:15). Keduanya tak terpisahkan! --Dennis De Haan

21 Februari 2003

Memperilah Pekerjaan

Nats : Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3)
Bacaan : Keluaran 20:1-6

Kemampuan untuk bekerja adalah suatu karunia yang luar biasa, tetapi apakah kita terlalu mengagungkannya? Dahulu, orang menyelesaikan tugasnya di kantor, tetapi sekarang mereka pun bekerja di rumah lewat e-mail dan telepon.

Dr. Dave Arnott, asisten profesor manajemen di Dallas Baptist University, mengatakan, "Saya tak tahu apakah saat ini pekerjaan telah menggantikan posisi keluarga dan masyarakat, atau sebaliknya, keluarga dan masyarakat menyerahkan posisinya pada pekerjaan. Namun saya sadar gerakan seperti ini tengah berlangsung. Pekerjaan tampaknya menentukan jati diri seseorang." Kita cenderung menyamakan identitas kita dengan pekerjaan kita.

Pemimpin Families and Work Institute mengatakan, "Tingginya kesibukan Anda telah menjadi suatu kebanggaan ... dan menjadi simbol status," meskipun banyak orang mengeluhkan hal itu.

Memperilah pekerjaan bukanlah persoalan baru. Dalam perintah pertama, Allah berkata, "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3). Pekerjaan kita termasuk di dalamnya. Melalui karunia pekerjaan yang diberikan Allah, kita dapat menghormati-Nya, memenuhi kebutuhan keluarga kita, dan membantu orang yang membutuhkan. Janganlah menjadikan pekerjaan sebagai sumber utama kepuasan kita; kepuasan itu haruslah berasal dari Allah sendiri.

Apa pun pekerjaan kita, kita harus menempatkan pekerjaan dengan cara pandang yang benar. Allah dan keluarga lebih penting daripada dedikasi kita terhadap pekerjaan. Pekerjaan adalah suatu karunia, bukan alah yang lain --David McCasland

4 Desember 2003

Kasih Sejati

Nats : Bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)
Bacaan : Efesus 5:25-33

Pada suatu hari saya mendapat kunjungan seorang pria muda bernama Ewing. Ia dan anak perempuan kami, Julie, telah saling mengenal selama hampir setahun. Mereka saling mencintai. Ewing bertanya apakah ia boleh menikahi Julie. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan mendapatkan tanggapan yang perlu saya dengar, saya pun memberikan restu kepadanya. Kemudian timbullah kejutan besar. Saya bertanya kapan ia akan menikahi Julie, dan ia menjawab, "Dalam waktu dua atau tiga minggu lagi." Pemuda ini sangat mencintai Julie sehingga ingin selalu bersamanya. Kasih sejati menuntut suatu tindakan.

Kira-kira sebulan kemudian, dua minggu setelah acara pernikahan, menantu laki-laki saya yang baru ini berkata kepada saya, "Perlu Anda ketahui Pak, Julie adalah sahabat terbaik saya. Kami sangat menikmati kebersamaan kami."

Sebagian dari kita yang telah menikah cukup lama mungkin berpikir bahwa pengalaman telah membuat kita menjadi pakar dalam soal pernikahan. Namun saya yakin kita dapat belajar dari para pengantin baru. Pertama, jika dua orang sungguh-sungguh mencintai, mereka akan memberi perhatian yang dalam satu sama lain dan begitu menikmati kebersamaan mereka. Kedua, kasih sejati berarti hubungan pasangan itu akan ditandai dengan kebaikan yang dilakukan satu sama lain. Disebut apakah ciri-ciri dua orang seperti ini kalau bukan sahabat karib?

Yesus adalah sumber terbesar cinta kasih dan penghargaan (Efesus 5:25-33). Teladan kasih sejati adalah kasih Kristus --Dave Branon

4 Februari 2004

Aku Melihat!

Nats : Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan" (Yohanes 21:7)
Bacaan : Yohanes 21:1-7

Beberapa teman kami mempunyai kebiasaan melakukan permainan yang dinamai "Aku melihat" bersama anak-anak mereka. Jika seorang anggota keluarga melihat suatu pekerjaan Allah di sekitarnya, maka ia akan berseru, "Aku melihat!" Pekerjaan Allah tersebut dapat berupa indahnya matahari tenggelam atau berkat-berkat yang istimewa. Semua pengalaman itu mengingatkan mereka akan kehadiran Allah di dunia ini dan dalam hidup mereka.

Permainan itu mengingatkan saya akan murid-murid Yesus dan usaha mereka yang sia-sia saat menjala ikan di dalam Yohanes 21:1-7. Pagi-pagi sekali, di dalam kabut mereka melihat seorang lelaki berdiri di pinggir pantai, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah Yesus." Anak-anak-Ku, apakah kalian mempunyai lauk-pauk?" tanya Yesus. "Tidak," jawab mereka. "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu," kata-Nya, "maka kalian akan mendapat ikan." Mereka mematuhi-Nya dan jaring mereka pun penuh dengan ikan sehingga tidak dapat mereka tarik. "Itu Tuhan!" teriak Yohanes. Itulah salah satu peristiwa "aku melihat", dan Yohanes, "murid yang dikasihi Yesus", adalah yang pertama kali mengenali Yesus.

Mintalah kepada Allah agar Anda diberi mata yang dapat "melihat" Yesus, baik dalam situasi yang luar biasa atau dalam kegiatan sehari-hari. Jika Anda menaruh perhatian, maka Anda akan melihat tangan-Nya bekerja sementara orang lain tidak melihat apa-apa. Cobalah untuk bermain "aku melihat" sekarang dan izinkan hadirat Tuhan meyakinkan Anda akan kasih dan pemeliharaan-Nya --David Roper

14 Februari 2004

Mempertahankan Kasih

Nats : Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah (Yudas 21)
Bacaan : Yudas 17-23

Negarawan dan pengacara kondang Amerika William Jennings Bryan (1860-1925) sedang dilukis potret dirinya. Sang pelukis bertanya, "Mengapa Anda membiarkan rambut Anda menutupi telinga seperti itu?"

Bryan menjawab, "Ada kisah romantis berkaitan dengan rambut saya. Ketika saya mulai berpacaran dengan Bu Bryan, ia tidak suka melihat telinga saya yang menonjol keluar. Untuk menyenangkan hatinya, saya membiarkan rambut saya tumbuh hingga menutupi telinga."

"Kejadiannya sudah bertahun-tahun silam," sahut pelukis itu. "Mengapa sekarang Anda tidak memotong rambut?"

"Karena," kata Bryan sambil mengedipkan matanya, "jalinan kasih kami masih terus berlangsung hingga sekarang."

Apakah jalinan kasih kita dengan Yesus masih berlangsung hingga sekarang? Ketika pertama kali datang dengan iman kepada Kristus, kita bersukacita karena dosa kita diampuni dan kita diangkat menjadi anggota keluarga-Nya. Kasih Tuhan memenuhi dan terus mengaliri hati kita. Kita pun rindu untuk menyenangkan-Nya.

Ketika waktu berlalu, semangat cinta pertama kita yang menyala-nyala mungkin mulai mendingin. Oleh sebab itu, kita perlu merenungkan perkataan Yudas yang tertulis dalam surat singkatnya, "Peliharalah dirimu demikian di dalam kasih Allah" (ayat 21). Yesus menggunakan ungkapan yang sama ketika Dia berkata, "Tinggallah di dalam kasih-Ku" (Yohanes 15:9,10). Kita memelihara kasih tersebut apabila kita memusatkan diri untuk menyenangkan-Nya, bukan menyenangkan diri sendiri.

Peliharalah senantiasa jalinan kasih itu --Dave Egner

24 April 2004

Kekalahan Terburuk

Nats : Sebab oleh karena murka Tuhanlah terjadi hal itu terhadap Yerusalem dan Yehuda (2 Raja-raja 24:20)
Bacaan : 2 Raja-raja 25:1-21

Ada beberapa kekalahan dahsyat dalam sejarah olahraga, namun tidak ada kekalahan yang lebih telak daripada kekalahan tim Cumberland 222-0 atas tim Georgia Tech pada tahun 1916. Itu adalah kekalahan terburuk dalam sejarah kejuaraan football antar-perguruan tinggi, dan para pemain tim Cumberland pastilah sudah berputus asa.

Sebuah kekalahan lain dialami rakyat Yerusalem pada tahun 586 SM, dan kekalahan ini jauh lebih buruk daripada kekalahan mana pun dalam dunia olahraga. Sebagai penghukuman Allah atas dosa mereka yang menyembah ilah lain, mereka dikalahkan oleh pasukan Babel (2 Raja-raja 24:20).

Di bawah pimpinan Nebukadnezar, pasukan Babel mengepung Kota Suci itu dan meninggalkannya dalam keadaan hancur menjadi puing-puing. Mereka membakar tempat ibadah yang megah, istana raja, dan rumah-rumah rakyat.

Bisa jadi ini merupakan kekalahan terburuk dalam sejarah hidup umat Allah yang begitu panjang dan tragis. Ketidaktaatan mereka yang terus-menerus kepada Allah memberikan konsekuensi yang membawa kehancuran. Melalui semuanya itu, Allah mendesak mereka untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya.

Saya sangat sedih ketika menyadari betapa Tuhan mendambakan umat-Nya hidup dalam pola hidup yang memuliakan-Nya. Saya kerap kali harus mengingatkan diri sendiri tentang tugas saya untuk hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah, karena hal itu sangatlah berarti bagi-Nya.

Kekalahan besar Yudea seharusnya menantang kita semua untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah —Dave Branon

26 Mei 2004

Allah Hidup!

Nats : Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (Mazmur 30:13)
Bacaan : Mazmur 30

Martin Luther, teolog besar abad ke-16, pernah merasa khawatir dan putus asa dalam waktu lama. Suatu hari istrinya berpakaian kabung berwarna hitam.

“Siapa yang meninggal?” tanya Luther.

“Allah,” sahut istrinya.

“Allah!” tukas Luther terkejut. “Bagaimana kamu bisa berkata begitu?”

Istrinya menjawab, “Yang kumaksud caramu menjalani hidup saat ini.”

Luther menyadari cara hidupnya saat itu menggambarkan seolah Allah telah mati dan tak lagi melindungi mereka dengan kasih-Nya. Ia pun mengubah penampilannya yang murung menjadi penuh rasa syukur.

Terkadang cara hidup kita pun menggambarkan seolah-olah Allah telah mati. Ketika putus asa, kita dapat membaca kitab Mazmur. Sebagian penulis kitab itu menghadapi masa-masa yang suram dan susah, tetapi mereka memiliki satu kebiasaan yang menjaga agar mereka tidak makin tenggelam, yakni bersyukur kepada Allah. Misalnya, Daud menulis, “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari ... Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” (Mazmur 30:12,13).

Menghadapi segala situasi dengan penuh syukur bukanlah suatu bentuk penyangkalan atas kesulitan. Cara itu justru menolong kita melihat situasi tersebut melalui cara pandang Allah, yakni melihat sebagai kesempatan untuk merasakan kuasa dan kasih-Nya.

Tiap kali Anda mengucap syukur kepada Allah di tengah situasi yang sulit, sesungguhnya Anda sedang menyatakan, “Allah hidup!” —Joanie Yoder

2 Juni 2004

Manusia Landak

Nats : Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yohanes 4:21)
Bacaan : 1 Yohanes 4:16-21

Jauh di lembah Wyoming, secara kebetulan saya menjumpai landak terbesar yang pernah saya lihat. Ketika ia perlahan-lahan mendekat, saya mengamatinya dengan saksama dan memberinya cukup ruang untuk lewat. Saya tidak mau dekat-dekat binatang yang durinya mirip peluru kendali itu. Tak heran jika ia sendirian!

Namun, ternyata ia tidak sendirian sepanjang waktu. Setiap bulan November dan Desember, landak-landak itu saling bertemu untuk menghasilkan keturunan. Selama masa itu mereka memilih untuk menidurkan duri-duri mereka, meski sesudahnya mereka kembali menegakkan duri mereka.

Hampir setiap gereja, akan ada satu atau dua orang “landak” dengan duri-duri kritik, sikap kasar, atau kesombongan. Kita ingin menghindari mereka, tetapi Allah menempatkan kita di tengah komunitas orang percaya untuk bersekutu. Dia memerintahkan kita agar saling mengasihi, termasuk mengasihi orang dengan tipe landak ini. Dan kalau mau jujur, kita harus mengakui bahwa kita pun memiliki duri-duri.

Yohanes menulis, “Barang siapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:21). Untuk melakukannya, kita seharusnya meminta Allah menolong kita “melembutkan duri-duri kita”, bahkan ketika orang lain “berduri”. Roh Kudus akan menolong kita untuk menghentikan sikap kita yang terlalu membela diri sendiri, penuh kritik, atau suka mengatur. Dan Dia akan memampukan kita untuk mengasihi saudara-saudari kristiani kita. Inilah cara menunjukkan kepada dunia bahwa kita mengasihi Allah (Yohanes 13:35) —Dave Egner

2 Juli 2004

Kasih Itu Rentan

Nats : Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? ... Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak (Hosea 11:8)
Bacaan : Hosea 11:1-11

Pengalaman seorang wanita kristiani yang hancur hatinya (saya memanggilnya Mary) menggambarkan bagaimana kasih dapat menjadikan orang yang mengasihi itu menjadi rentan. Mary adalah seorang istri yang setia dan sangat mencintai suaminya. Namun setelah 8 tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, sang suami meninggalkannya demi wanita lain. Iman kepada Allah dan kasihnya kepada anak-anak membuat Mary tetap bertahan.

Kini, anak lelakinya menjalani kehidupan yang penuh dosa, dan anak perempuannya meninggalkan suami serta anak-anaknya. Akan tetapi, kedua hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan sang ibu.

Nabi Hosea pun mengalami kehancuran hati yang sama karena Gomer, istrinya, adalah perempuan sundal. Pengalaman Hosea mencerminkan apa yang Allah rasakan ketika umat-Nya berpaling untuk menyembah berhala dan melakukan berbagai macam kejahatan sehubungan dengan hal itu. Allah telah menjadi suami dan ayah yang pengasih bagi mereka, namun mereka berpaling dari kasih-Nya. Walaupun kekudusan-Nya menuntut penghukuman atas mereka. Dia tetap merasakan kepedihan yang mendalam.

Berabad-abad kemudian, Allah datang ke dunia dalam diri Yesus, yang menderita sengsara di atas Bukit Kalvari untuk menanggung dosa-dosa seluruh dunia. Namun, banyak orang masih menolak-Nya.

Ya, kasih itu rentan, dan tidak ada jaminan akan mendapatkan balasan! Tetapi Allah tetap mengasihi, dan dalam kekuatan-Nya kita dapat melakukan hal yang sama —Herb Vander Lugt

20 Juli 2004

Allah Mengasihi Saya?

Nats : Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19)
Bacaan : Roma 5:6-11

Tak mudah memahami dalamnya kasih Allah bagi kita. Karena kesombongan dan ketakutan kita, kita tak bisa memahami betapa tidak layaknya kita dan betapa luar biasa kasih-Nya yang diberikan dengan cuma-cuma.

Terkadang saya bergumul dengan kesombongan, sehingga saya cenderung percaya bahwa saya telah cukup berusaha mendapatkan kasih yang saya terima. Kesombongan mengatakan bahwa saya dikasihi hanya ketika saya menyenangkan, dihormati, dan layak dikasihi.

Di saat lain saya tersentak oleh rasa takut. Jauh di lubuk hati, saya merasa tidak layak mendapatkan kasih yang saya terima. Motivasi saya tak pernah murni, dan saya takut ditolak jika semuanya terbongkar. Jadi, meskipun saya gembira karena merasa diterima, saya hidup dalam ketakutan bila jati diri saya terbuka, ketahuan bahwa saya sebenarnya tak sebaik anggapan orang.

Karena itu, ketika merenungkan hubungan saya dengan Allah, saya cenderung mengukur kasih-Nya berdasarkan perbuatan saya. Ketika saya berbuat baik, Dia mengasihi saya; tetapi jika saya salah, saya membayangkan hanya akan mendapat cacian dari-Nya.

Namun, Allah tidak mengasihi karena kita layak mendapatkan kasih-Nya. Dia mengasihi, apa pun keadaan kita. Dalam 1 Yohanes 4:10 kita membaca, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” Karena apa yang dilakukan Yesus Kristus bagi kita, kita tahu bahwa Allah selalu mengasihi kita. Kebenaran sederhana itu menghancurkan kesombongan dan melenyapkan ketakutan kita —Haddon Robinson

22 Oktober 2004

Pohon Jeruk Nipis

Nats : Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (1Yohanes 4:16)
Bacaan : 1Yohanes 4:15-19

Mereka yang kecewa terhadap kasih mungkin setuju dengan syair lagu "Lemon Tree" (Pohon Jeruk Nipis) yang dibawakan kelompok musik Peter, Paul, and Mary.

"Jangan berharap kepada kasih, anak laki-lakiku," kata Ayah kepadaku, "aku khawatir kau akan mendapati bahwa kasih itu seperti pohon jeruk nipis yang menawan." Pohon jeruk nipis itu sangatlah cantik dan bunganya indah, namun buahnya terlalu masam untuk dimakan.

Banyak orang merasa demikian. "Kasih itu masam," kata mereka, karena kasih telah dimanfaatkan atau disalahgunakan. Namun, ada kasih yang manis: "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:16).

Dunia ingin memutarbalikkan ucapan Yohanes. "Kasih adalah Allah," kata mereka, dan menganggap pencarian kasih sebagai kebaikan tertinggi. Namun, Yohanes tidak berkata bahwa kasih adalah Allah. "Allah adalah kasih," katanya. Pengarang Frederick Buechner menulis, "Mengatakan bahwa kasih adalah Allah merupakan idealisme yang romantis. Mengatakan bahwa Allah adalah kasih bisa menjadi puncak kegagalan, atau justru kebenaran tertinggi."

Puncak kegagalan? Ya, hal itu benar bagi sebagian orang karena mereka telah mencari kasih di tempat-tempat yang keliru dan tidak ada tempat lagi untuk mencari. Namun apabila mereka memberikan diri kepada Allah, yang mewujud di dalam pribadi Yesus, mereka akan menemukan kasih yang selama ini mereka cari.

Allah tidak acuh tak acuh, mengabaikan, atau menyalahgunakan. Allah adalah kasih --David Roper

8 November 2004

Penginjil Cilik

Nats : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu (Markus 12:30)
Bacaan : Markus 12:28-34

Saya dan Michael, tetangga saya yang berumur 6 tahun, sedang mengobrol di halaman depan rumah saya ketika dua orang anak, tetangga kami yang baru, mampir. Setelah saya menanyakan nama mereka, Michael bertanya kepada mereka, “Apakah kalian mengasihi Allah?” Sugar, anak laki-laki berumur 5 tahun, menjawab dengan cepat, “Tidak!” Michael memandanginya dengan pandangan mencela dan keprihatinan. Tetapi Nana, anak perempuan berumur 4 tahun, yang melihat bahwa Michael tidak menyukai jawaban itu, segera berkata, “Ya!”

“Strategi kesaksian” Michael mungkin bukanlah yang paling efektif, tetapi ia telah mengajukan sebuah pertanyaan pen-ting kepada orang- orang yang dijumpainya (dan saya telah mendengarnya mengajukan pertanyaan tersebut kepada beberapa orang yang lain).

Yesus pernah ditanyai, “Hukum manakah yang paling utama?” (Markus 12:28). Dia menjawab, “Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (ayat 29,30).

Yesus mengacu pada zaman Perjanjian Lama, ketika Allah me- merintahkan orang Israel untuk menjadikan-Nya hanya satu-satunya Allah dalam kehidupan pribadi dan bangsa mereka. Bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka memiliki banyak dewa yang mereka kasihi dan sembah. Namun, umat Allah berbeda.

Mengasihi Allah memang harus menjadi prioritas utama kita dalam hidup. Dan Michael ingin tahu, “Apakah Anda mengasihi Allah?” —Anne Cetas

26 Januari 2005

Teruji dan Benar

Nats : Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya? (Amsal 20:6)
Bacaan : Galatia 5:22-26

Kita sering kecewa terhadap orang yang tidak setia. Seorang sanak keluarga berjanji akan menulis surat, tetapi bulan-bulan berlalu tanpa ada surat yang diterima. Seorang pendeta berkata bahwa ia akan mengunjungi bila kita sakit, tetapi ia tidak pernah datang ke rumah sakit atau ke rumah kita. Seorang sahabat setuju akan menemani kita dalam kemalangan, tetapi menelepon pun tidak. Banyak orang berkata akan mendoakan kita, tetapi mereka cepat melupakan kebutuhan kita. Seseorang berjanji akan melakukan suatu tugas penting bagi kita, tetapi tak pernah melakukannya. Kita bertanya-tanya, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).

Kita tidak dapat berbuat banyak terhadap ketidaksetiaan orang lain. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal untuk kesetiaan kita terhadap orang lain. Apabila kita berjanji, kita harus menepatinya. Bila kita berkata kepada seseorang bahwa kita akan berdoa baginya, kita perlu menindaklanjuti dan melakukannya. Apabila kita menyatakan kesetiaan dan kasih kepada orang lain, maka kita dapat melakukan hal-hal kecil yang menunjukkan kepada mereka bahwa kita serius.

Rasul Paulus mengatakan bahwa salah satu buah Roh adalah kesetiaan (Galatia 5:22). Allah akan menciptakan di dalam diri kita roh yang teguh jika kita menganggap serius apa yang kita katakan kepada orang lain tentang hal-hal yang akan kita lakukan bagi mereka, dan jika kita menepatinya.

Mintalah Allah menjadikan Anda orang yang dapat dipercaya, yakni orang yang teruji dan benar —David Roper

30 Januari 2005

Memetik Kelopak Daisy

Nats : Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah (1 Yohanes 3:1)
Bacaan : Roma 8:31-39

Saya ingat masa-masa di sekolah dasar, saat saya pertama kali bersitatap dengan sepasang mata cokelat seorang gadis yang duduk beberapa baris dari tempat saya. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tetapi terjadi sesuatu. Itulah “cinta monyet” pertama saya. Pada saat itu kami memetik setangkai bunga daisy dan melepas kelopaknya satu-satu, sambil membayangkan seseorang dan berkata, “Ia mencintaiku, ia tidak mencintaiku.” Oh, betapa sakitnya saat kelopak bunga daisy terakhir jatuh pada kalimat “ia tidak mencintaiku”.

Ini mengingatkan saya akan seorang gadis kecil yang berlari masuk rumah di suatu pagi sambil menangis tersedu-sedu. “Ada apa, Sayang?” tanya ibunya. Sambil mengempaskan diri dalam pelukan ibunya, ia menangis, “Allah tak mengasihiku lagi.” “Tentu saja Dia mengasihimu,” kata ibunya meyakinkannya. “Tidak, Dia tidak mengasihiku,” anak itu tersedu. “Aku tahu Dia tidak mengasihiku karena aku telah mengujinya dengan memetik kelopak bunga daisy.”

Satu-satunya cara terpercaya untuk mengetahui bahwa Allah mengasihi kita adalah dengan merenungkan segala yang Dia lakukan bagi kita setiap hari. Dan jika masih ragu-ragu, pikirkanlah apa yang dilakukan-Nya untuk menyelamatkan kita! Alkitab mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8).

Kita dapat meyakini kasih Allah yang tidak pernah gagal, karena Dia telah membuktikannya melampaui semua pertanyaan. Ya, kasih-Nya nyata —Richard De Haan

30 Maret 2005

Kehadiran Tak Terlihat

Nats : Barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya (Yohanes 14:21)
Bacaan : Yohanes 14:19-28

Saya merasa tidak nyaman bila ada pengkhotbah yang selalu berkata, "Tuhan memberi tahu saya," seolah-olah mereka baru saja mendengar langsung dari Allah. Mereka memberi kesan kita harus memercayai bahwa apa saja yang mereka katakan itu benar. Lagi pula, bagaimana mungkin kita dapat berbantahan dengan Allah.

Sebaliknya, saya sering begitu terharu ketika orang-orang yang mengalami penderitaan hebat atau yang bergumul melawan penyakit mematikan, mengatakan bahwa Tuhan telah berbicara di dalam hati dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Saya pun menyadari bahwa mereka telah benar-benar mengalami kehadiran Allah yang tak kelihatan.

G.K. Chesterton, sambil mencoba berpikir mengenai kesamaan yang dirasakan orang-orang percaya ini, menulis: "Plato telah memberitahukan kebenaran kepada Anda; tetapi Plato telah mati. Shakespeare telah memesonakan Anda dengan sebuah citra; tetapi Shakespeare tidak akan memesonakan Anda lagi. Namun bayangkanlah bagaimana bila kita hidup bersama orang-orang ini, dan mengetahui bahwa besok Plato akan menyampaikan kuliahnya dengan bersemangat, atau sewaktu-waktu Shakespeare mungkin menggetarkan semuanya hanya dengan sebuah lagu sederhana."

Yesus hidup di dalam setiap perkataan-Nya dan Dia memerhatikan keberadaan dan kebutuhan kita. Saat kita hidup dalam ketaatan kepada-Nya, kita dapat berharap bahwa Dia akan menepati janji-Nya untuk menyatakan diri kepada kita (Yohanes 14:21). Dan kita dapat berkata dalam kerendahan hati, "Tuhan berbicara kepadaku" —HVL

15 Agustus 2005

Betapa Indahnya!

Nats : Yesus berkata, Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku (Markus 14:6)
Bacaan : Markus 14:3-9

Sekembalinya dari perjalanan bisnis, Terry ingin membelikan beberapa hadiah kecil untuk anak-anaknya. Sang penjaga toko cenderamata di bandara menyarankan sejumlah benda yang mahal. Saya tidak membawa banyak uang, katanya. Saya perlu sesuatu yang lebih murah. Sang penjaga toko berusaha membuat Terry merasa dirinya adalah seorang berselera rendah jika tidak membeli apa yang ditawarkan. Namun, Terry tahu bahwa anak-anaknya akan merasa senang dengan apa pun yang ia berikan kepada mereka, karena hal itu datang dari hati yang mengasihi. Dan ia benar, mereka senang sekali dengan hadiah yang ia belikan.

Pada kunjungan terakhir Yesus ke kota Betania, Maria ingin menunjukkan kasihnya kepada-Nya (Markus 14:3-9). Karena itu, ia kemudian membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya dan mengurapi Dia (ayat 3). Melihat hal itu, para murid bertanya dengan marah, Untuk apa pemborosan ini? (Matius 26:8). Akan tetapi, Yesus menyuruh mereka berhenti menyusahkan dia, karena ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku (Markus 14:6). Sebuah terjemahan yang lain berbunyi: ia telah melakukan hal yang indah bagi-Ku. Yesus menerima hadiah Maria dengan gembira, karena hal itu keluar dari hati yang mengasihi. Bahkan mengurapi Dia yang akan dikubur pun dianggap indah!

Apakah yang ingin Anda berikan bagi Yesus untuk menunjukkan kasih Anda? Waktu, talenta, atau harta Anda? Tidaklah penting apakah hal itu mahal atau murah, apakah orang lain akan mengerti atau mengkritiknya. Apa pun yang diberikan dari hati yang mengasihi adalah indah bagi Dia AMC

21 Oktober 2005

Kebencian yang Sempurna

Nats : Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan (Mazmur 97:10)
Bacaan : Mazmur 97

Coba katakan apa yang Anda benci, maka saya dapat mengatakan orang seperti apa Anda. Kebencian dapat menjadi sisi kuat kebajikan, tetapi ada peringatan dengan huruf kapital berwarna merah yang menyertainya: Hati-hati.

Olive Moore, penulis Inggris abad ke-19, menulis kata-kata ini: “Hati-hatilah menggunakan kebencian …. Kebencian adalah hasrat yang membutuhkan seratus kali energi cinta. Pakailah hanya untuk membenci masalah, bukan orang. Pakailah hanya untuk membenci sikap tidak toleran, ketidakadilan, kebodohan. Kebencian akan menjadi kekuatan manakala kita menggunakannya untuk membenci hal-hal di atas. Kekuatan dan kedahsyatannya tergantung pada banyaknya kita memakai kebencian itu.”

Kita cenderung menghambur-hamburkan sikap benci untuk kesalahan dan perbedaan yang remeh. Komentar lawan politik dapat memancing rasa sengit kita. Surat bernada marah untuk editor sering membesar-besarkan hal-hal remeh karena penyakit kebencian kita salah sasaran. Gereja menjadi retak dan pecah ketika kebencian diarahkan kepada orang-orang, bukan pada kekuatan di sekitar kita yang menghancurkan kehidupan dan harapan.

Orang Methodist kuno yang melakukan perjalanan keliling digambarkan sebagai orang-orang yang tidak membenci apa pun selain dosa. Mereka adalah orang yang secara serius melakukan seruan pemazmur, “Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan!” (Mazmur 97:10), dan Nabi Amos yang mendesak pembacanya untuk “membenci yang jahat dan mencintai yang baik” (Amos 5:15) -HWR

25 Oktober 2005

Lebih Dalam dari Lautan

Nats : . . . dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan (Efesus 3:19)
Bacaan : Efesus 3:14-21

Beberapa ratus kilometer selepas Pantai Guam terdapat Parit Mariana. Itu merupakan tempat yang paling dalam di tengah lautan. Pada tanggal 23 Januari 1960, Jacques Piccard dan Donald Walsh naik kapal selam kemudian diturunkan masuk ke dalam kegelapan yang dingin dan sepi di dalam parit laut itu. Penyelaman mereka ke kedalaman tersebut, yang memecahkan rekor dunia, tidak akan pernah terulang lagi.

Kedalaman lautan memang benar-benar membuat pikiran kita takjub. Parit Mariana dalamnya hampir 12 kilometer. Dan lagi, tekanan air di dasar parit itu sebesar 1.120,079 kg/cm2. Namun dengan keadaan seperti itu, ternyata di sana masih ada kehidupan. Walsh melihat ikan pipih di dasar lautan, yang tetap hidup meskipun di sana tekanan dan kegelapannya luar biasa.

Sebagian besar dari kita sulit untuk memahami betapa dalamnya Parit Mariana. Tetapi kasih Allah jauh lebih sulit untuk dipahami. Paulus berusaha keras menggambarkannya, tetapi ia berdoa agar pembacanya akan mampu memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:18,19).

Mengapa kita tidak pernah bisa menjangkau kedalaman kasih Allah adalah karena kasih itu tidak terbatas-tidak mungkin diukur. Jika Anda pernah merasa sendirian dan tidak dicintai, sampai-sampai Anda tenggelam ke dalam keputusasaan yang gelap, renungkanlah Efesus 3:18. Kasih Allah kepada Anda lebih dalam daripada Parit Mariana! -HDF

11 Januari 2006

Jangan Ganggu Saya

Nats : Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk (Wahyu 3:20)
Bacaan : Wahyu 3:14-22

Ketika masih muda, C.S. Lewis pernah meninggalkan imannya kepada Allah dan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap agama. Ia berkata bahwa semua agama adalah mitos yang diciptakan oleh manusia. Bertahun-tahun kemudian, setelah mengakui Yesus sebagai Putra Allah dan Juru Selamatnya, Lewis menulis di dalam bukunya yang berjudul Surprised By Joy [Dikejutkan oleh Sukacita]:

"Dalam perbendaharaan kata saya, tidak ada kata yang lebih saya benci selain kata campur tangan. Namun kekristenan terletak pada suatu pusat yang bagi saya saat itu tampaknya sebagai Pencampur Tangan tertinggi. Tidak ada tempat, bahkan di kedalaman jiwa seseorang, yang dapat dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan dijaga dengan tulisan "Dilarang Masuk". Padahal hal itulah yang saya inginkan; yaitu sebuah tempat, seberapa pun kecilnya, di mana saya dapat berkata kepada makhluk-makhluk lain, 'Ini urusan saya dan hanya milik saya.'"

Setiap orang berhak berkata kepada Allah, "Tinggalkan saya sendiri. Jangan ganggu saya." Namun, Tuhan pun berhak untuk mengejar kita dengan belas kasih-Nya yang pantang menyerah. Kepada gereja yang puas diri di Laodikia, Kristus yang telah bangkit berkata, "Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Wahyu 3:20).

Karena anugerah-Nya, Tuhan terus mengetuk, siap untuk mengisi hidup kita dengan kasih-Nya --DCM

12 Januari 2006

Nama Anda Aman

Nats : Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya (Wahyu 2:17)
Bacaan : Wahyu 2:12-17

Ada sebuah ungkapan lama yang berbunyi, "Kayu dan batu dapat meretakkan tulang saya, namun perkataan orang tidak pernah dapat melukai saya." Itu tidak benar. Perkataan dapat melukai kita lebih dari apa pun.

Bagi saya, kata yang melukai adalah "Si Tulang Kurus", sebuah nama yang diberikan kepada saya saat kelas empat SD. Sekarang saya tertawa saat memikirkan hal itu kini tidak ada seorang pun yang akan memanggil saya "Si Tulang Kurus". Namun saat itu, nama itu melukai perasaan saya. Nama itu menjadi cara yang saya pakai untuk memandang diri sendiri.

Walaupun demikian, ayah dan ibu saya memiliki anugerah dan hikmat dengan memberi saya sebuah nama lain, David, yaitu nama yang berarti "terkasih" di dalam bahasa Ibrani. Walaupun diolok-olok di sekolah, saya menyadari bahwa saya dikasihi di rumah.

Mungkin Anda adalah salah satu dari anak-anak yang diejek orang: "Bodoh", "Idiot", "Gendut", atau julukan jahat lainnya. Mungkin orang-orang masih mengolok-olok Anda atau menghina nama Anda. Saya percaya bahwa suatu hari nanti Allah akan memberi Anda sebuah nama baru, sebuah panggilan sayang yang hanya diketahui oleh Anda dan Bapa surgawi (Wahyu 2:17). Suara-Nya akan memancarkan kelembutan, kasih, dan penerimaan. Nama Anda berharga bagi-Nya.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang anak kecil, "Saat seseorang mengasihi Anda, cara mereka mengucapkan nama Anda itu lain. Nama Anda aman di mulut mereka."

Anda dan nama Anda aman bersama Allah --DHR

17 Januari 2006

Mengasihi Orang Sulit

Nats : Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10)
Bacaan : Lukas 19:1-10

Membenci Zakheus sangatlah mudah. Sebagai seorang pemungut cukai pemerintah penjajah yang menekan, ia membuat dirinya sendiri kaya dengan memungut pajak yang lebih tinggi dari orang sebangsanya. Namun, yang menggemparkan orang banyak, Yesus justru menghormatinya dengan berkunjung ke rumah Zakheus dan makan bersamanya.

Seorang hakim yang terkenal tegas menceritakan bagaimana ia belajar untuk berhubungan baik dengan orang-orang yang sulit untuk dikasihi. Pada sebuah khotbah di kebaktian Minggu pagi, pendetanya mendorong jemaat untuk berusaha memandang orang lain melalui mata Yesus.

Beberapa hari kemudian sang hakim sudah akan memberikan hukuman keras kepada seorang pemuda angkuh yang terus-menerus terlibat masalah. Namun, ia teringat akan apa yang telah disarankan pendetanya. Sang hakim berkata, "Saya memandang mata pemuda ini dan berkata kepadanya bahwa saya pikir ia adalah manusia yang cerdas dan berbakat. Lalu saya berkata kepadanya, 'Mari bicara tentang bagaimana kita dapat membuat hidup Anda lebih kreatif dan membangun.' Dan percakapan itu pun berlangsung dengan sangat baik."

Yesus memandang Zakheus sebagai orang berdosa yang memiliki sebuah lubang kosong yang hanya dapat diisi oleh-Nya, dan lewat kebaikan hati-Nya Zakheus diubah. Sang hakim tidak dapat melaporkan perubahan yang sama, namun siapakah yang mengetahui hasilnya untuk jangka panjang? Ia memberikan teladan yang baik bagi kita semua, karena ia melihat pria itu melalui mata Yesus --HVL

14 Februari 2006

Hal Terbesar di Dunia

Nats : Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)
Bacaan : 1Korintus 13:1-13

Ilmuwan dan penulis terkenal Henry Drummond (1857-1897) melakukan penelitian geologi tentang Afrika Selatan dan menuliskan karya yang sangat berguna mengenai daerah tropis Afrika. Namun, orang lebih mengingatnya karena buku yang ditulisnya mengenai kasih, The Greatest Thing In The World (Hal Terbesar di Dunia).

Drummond menulis, "Apabila Anda merunut masa lampau, melebihi semua kesenangan hidup yang fana, Anda akan menemukan momen-momen penting ketika Anda dimampukan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang tidak terlihat kepada orang-orang di sekeliling Anda, hal-hal yang terlalu remeh untuk dibicarakan.... Dan hal-hal ini tampaknya menjadi sesuatu, satu-satunya dari keseluruhan hidup seseorang, yang tetap tinggal."

Paulus mengingatkan bahwa berbagai karunia menakjubkan dan perbuatan besar mungkin tak lebih dari suara kosong (1Korintus 13:1). Usaha-usaha terbaik kita-jika tanpa kasih tak ada gunanya. "Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, ... tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku" (ayat 3). Justru sebuah tindakan kasih yang tampaknya kecil dapat berarti penting dalam kekekalan.

Entah berapa umur kita atau bagaimana status kita, kita semua dapat berusaha mengasihi orang lain seperti Allah mengasihi mereka. Kita bisa meraih hal-hal yang besar memperoleh ketenaran dan kekayaan tetapi yang terbesar adalah mengasihi. Karena dari semua yang telah kita lakukan, atau akan kita lakukan, hanya kasih yang bertahan. Kita pergi, tetapi kasih tetap tinggal --DHR

17 Februari 2006

"ayah, Aku Menemukanmu!"

Nats : Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19)
Bacaan : Yohanes 20:11-18

Dalam bukunya Jesus Among Other Gods, Ravi Zacharias bercerita tentang seorang gadis yang tersesat tanpa harapan di dalam sebuah hutan yang gelap dan lebat. Gadis tersebut memanggil-manggil dan berteriak, tetapi percuma saja. Orangtuanya yang kalut dan sekelompok sukarelawan mencarinya dengan cemas. Dan ketika malam tiba, mereka harus menghentikan pencarian.

Keesokan harinya ketika hari masih pagi, ayah gadis itu masuk lagi ke dalam hutan untuk mencarinya dan melihatnya sedang tidur nyenyak di atas sebuah batu. Sang ayah kemudian memanggil namanya dan berlari mendekatinya. Setelah terbangun karena terkejut, gadis itu lalu mengulurkan tangan kepada ayahnya. Ketika sang ayah menyambut dan memeluknya, gadis itu berulang kali berkata, "Ayah, aku menemukanmu!"

Dengan menerapkan cerita ini pada pencarian Maria Magdalena akan Yesus dalam Yohanes 20, Zacharias mengatakan, "Maria menemukan kebenaran yang paling mengejutkan melebihi semua hal ketika ia datang mencari tubuh Yesus. Ia tidak sadar bahwa orang yang ia temui ternyata adalah Dia yang telah bangkit, dan Dia datang untuk mencarinya."

Kita, orang yang memercayai Yesus, terkadang mengatakan "menemukan" Dia. Namun, mengapa kita mencari-Nya terlebih dahulu? Karena, seperti gembala yang pergi ke dalam kegelapan untuk menemukan satu domba yang terhilang, Allah pun mencari kita. Dia menunggu kita untuk menyadari keadaan kita yang terhilang dan mengulurkan tangan kita kepada-Nya. Dia akan menjemput, memeluk, dan memberi kita kedamaian-Nya --HVL

3 Maret 2006

Kilasan Kasih Allah

Nats : Tetapi siapa saja yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan (2Korintus 10:17)
Bacaan : Yohanes 9:24-34

Nadine menderita kanker stadium akhir ketika saya bertemu dengannya. Dokter mengatakan bahwa kemoterapi tidak banyak membantu lagi. Nadine adalah seorang kristiani yang taat dan memiliki kedamaian yang luar biasa dari Allah. Ia menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan membuat kliping untuk anak perempuannya dan membuat rencana upacara pemakamannya.

Jiwa Nadine yang penuh sukacita seakan-akan mengundang kami untuk selalu berada di dekatnya, dan orang-orang senang menghabiskan waktu bersamanya. Ia tetap memiliki selera humor dan selalu membagikan kesaksian bagaimana Tuhan memenuhi kebutuhannya. Ia menunjukkan kilasan karakter Allah yang penuh kasih kepada setiap orang di sekelilingnya.

Ketika seorang pria yang lahir buta disembuhkan Yesus, ia pun mendapat kesempatan menyaksikan kilasan tentang siapa Allah (Yohanes 9:1-41). Para tetangga bertanya, "Bagaimana matamu menjadi melek?" (ayat 10). Ia pun menceritakan Yesus kepada mereka. Ketika orang Farisi menanyai dia, ia menceritakan bagaimana Yesus telah mencelikkan matanya, sambil menegaskan, "Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa" (ayat 33).

Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana kita dapat memberi kesaksian tentang Allah. Allah dapat terlihat jelas melalui cara kita menangani kesulitan hidup, seperti masalah pekerjaan atau keluarga, atau mungkin penyakit parah. Kita tetap dapat menyaksikan kepada orang lain bagaimana Allah telah menghibur kita dan biarlah mereka pun tahu bahwa Allah juga memedulikan mereka.

Di hidup Anda, siapa yang perlu melihat kasih Allah? --AMC

13 Maret 2006

Dalam Hangat Mentari

Nats : Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku (Yohanes 15:10)
Bacaan : Yohanes 15:5-17

Dalam bukunya yang berjudul The Best Is Yet To Be, Henry Durbanville menceritakan suatu kisah tentang seorang gadis kecil di London yang memenangkan hadiah pada suatu pameran bunga. Bunga yang diperlombakannya tersebut ditanam dalam sebuah poci tua yang telah retak dan ditaruh di jendela loteng sebuah apartemen yang telah reyot. Ketika seseorang menanyakan bagaimana ia berhasil merawat bunga menjadi sedemikian indah di tempat yang kurang baik, ia mengatakan bahwa ia menaruhnya di loteng agar bunga itu terus terkena cahaya matahari.

Kemudian Durbanville mengingatkan para pembaca mengenai perkataan Yesus, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, memikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu" (Yohanes 15:9). Dari hal ini kita belajar bahwa kita juga perlu menjaga agar diri kita terus-menerus berada di dalam kehangatan kasih Kristus.

Kita tinggal di dalam kasih Kristus apabila kita menunjukkan kasih kepada orang lain. Hal ini jelas dikatakan oleh Yesus, "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku .... Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya" (ayat 10,12,13).

Kita akan dapat merasakan kehangatan kasih Kristus apabila kita menaati perintah-Nya untuk mengasihi dan melayani sesama. Itulah cara agar kita dapat senantiasa tinggal dalam "hangatnya cahaya mentari" --RWD

20 April 2006

Angin Kasih

Nats : Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1Yohanes 4:8)
Bacaan : 1Yohanes 4:1-8

Seorang petani mempunyai petunjuk arah angin di lumbungnya yang di atasnya tertulis "Allah adalah kasih". Ketika teman-temannya menanyakan alasannya membuat tulisan itu, ia menjawab, "Ini untuk mengingatkan saya bahwa ke mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih."

Pada saat "angin selatan" yang hangat dengan desaunya yang menyejukkan dan lembut membawa hujan berkat, Allah adalah kasih. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas" (Yakobus 1:17).

Saat "angin utara" pencobaan yang dingin menerpa Anda, Allah adalah kasih. "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Roma 8:28).

Saat "angin barat" bertiup keras menerpa Anda dengan maksud menghukum, Allah adalah kasih. "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya" (Ibrani 12:6).

Saat "angin timur" mengancam akan menyapu semua yang Anda miliki, Allah adalah kasih. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Filipi 4:19).

Barangkali saat ini Anda sedang berkecil hati dan merasa putus asa. Apabila benar demikian kondisi yang Anda alami, ingatlah bahwa Allah tetap memelihara Anda. Sesuatu yang sedang Anda alami saat ini memang telah dikirim atau diizinkan terjadi oleh-Nya, demi kebaikan Anda.

Ya benar sekali, ke arah mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih --RWD

24 Juni 2006

Papan Panah atau Pipa Saluran

Nats : Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku (Kolose 1:29)
Bacaan : Kolose 1:24-29

Suatu hari di tengah waktu teduh saya, hal berikut terlintas di pikiran saya: "Janganlah hidup terjadi begitu saja pada dirimu. Biarlah hidup terjadi melalui engkau."

Kalimat pertama menggambarkan betapa diri saya ini bagai papan panah, karena saya cenderung melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa saya. Saya merasa seperti papan panah yang kelelahan. Saya menggunakan semua tenaga saya untuk melindungi diri dari panah-panah cobaan hidup.

Namun, kalimat kedua, "Biarlah hidup terjadi melalui engkau," memberi pendekatan yang berbeda. Bukannya menghindari panah-panah hidup yang ganas, saya justru harus mengizinkan hidup dan kasih Allah tersalur melalui saya. Dia memberkati saya agar melalui cara demikian Dia dapat memberkati orang-orang lain pula.

Pada hari itu saya memilih untuk menjadi pipa saluran Allah, bukannya menjadi papan panah. Maka saya dapat mulai hidup secara lebih efektif bagi Dia.

Kadang kala saya memang kembali menjadi papan panah, tetapi saya segera kehabisan kasih dan tenaga untuk memberkati orang lain. Lalu melalui pengakuan dosa, iman, dan ketaatan, saya menyambungkan diri kembali dengan sumber pemeliharaan surgawi dan memulai lagi hidup sebagai pipa saluran.

Pada suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyebutkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Namun, ia bersikeras menjadi saluran berkat dengan mengizinkan Allah bekerja melalui dirinya.

Bagaimana dengan Anda? Anda papan panah atau pipa saluran? Inilah tantangan dan pilihan bagi tiap orang percaya --JEY

18 Agustus 2006

Terus Mengejar

Nats : Aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28)
Bacaan : Mazmur 73:25-28

Pemazmur menyikapi segala hal dengan sederhana: "Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi" (Mazmur 73:25). Segala pertumbuhan dalam kehidupan rohani kita ditandai oleh gerak kita menuju suatu kesimpulan, yaitu keyakinan bahwa hanya satu hal yang kita perlukan: Allah sendiri.

Semua perkembangan di dalam kehidupan rohani merupakan kemajuan dalam mengenal Allah dan mengasihi-Nya, yaitu bergerak menuju titik di mana kita dapat berkata seperti penyair Israel itu: "gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya" (ayat 26).

Cara pandang ini mengubah cara kita dalam menyikapi segala sesuatu. Penderitaan dan kesengsaraan menjadi sarana yang membuat kita lapar dan haus akan Allah. Kekecewaan menjadi alat yang menghentikan kita dari pekerjaan-pekerjaan duniawi dan menggerakkan kita menuju Allah sendiri. Bahkan dosa, apabila disesali, dapat menjadi alat untuk mendorong kita agar menjadi lebih dekat kepada-Nya, sehingga kita dapat mengalami kasih dan pengampunan-Nya. Semua hal dapat berguna apabila kita memandangnya sebagai sarana menuju sasaran yang utama, yaitu mendekat kepada Allah.

Seperti Paulus, kita dapat berkata, "Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus" (Filipi 3:12). Bagaimana kita mengejarnya? Caranya dengan menjawab kasih-Nya dalam kerendahan hati dan penuh rasa syukur. Akan tetapi, semua itu dimulai dari diri Allah. Dialah yang lebih dulu mencari kita supaya kita dapat mencari Dia -DHR

7 Januari 2007

Siapakah Saya?

Nats : Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? (Mazmur 8:5)
Bacaan : Mazmur 8

Lagu yang berjudul Who Am I? [Siapakah Saya?] karangan Mark Hall dari kelompok musik Casting Crowns, dimulai dengan kalimat demikian: "Siapakah diri saya, sehingga Tuhan segala bumi ingin mengetahui nama saya, ingin merasakan luka yang saya alami?"

Dalam lagu ini, Hall membandingkan hidup kita dengan "bunga yang cepat layu, yang muncul hari ini dan lenyap keesokan harinya ... seperti setitik uap air di udara". Ia merenungkan, "Apabila kita mengerti betapa kecilnya kita sebenarnya dan betapa luar biasanya Allah, maka kasih Allah akan menjadi lebih besar bagi kita."

Saya kemudian teringat akan pertanyaan Daud dalam Mazmur 8. Saat ia merenungkan langit, bulan, dan bintang, ia merasa takjub oleh Allah alam semesta yang menciptakan dan menopang semuanya itu. Dalam perasaan kagum, ia melontarkan pertanyaan, "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" (ayat 5).

Mengapa kita menjadi objek kasih, perhatian, dan pemikiran Allah? Dalam lagunya, Hall menjawab pertanyaan itu dengan: "Bukan karena siapa saya, namun karena apa yang telah Engkau lakukan; bukan karena apa yang telah saya lakukan, namun karena siapa Engkau."

Siapakah Allah? Dia adalah kasih. Apakah yang telah Allah lakukan? Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal Yesus untuk mati bagi kita dan membayar hukuman dosa kita (1 Yohanes 4:7-9). Tidak mengherankan apabila kita ingin berseru bersama sang pemazmur, "Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!" (Mazmur 8:2,10) --AMC

12 Oktober 2007

Yatim Piatu dan Janda

Nats : Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yakobus 1:27)
Bacaan : Maleakhi 3:1-6

Perjalanan saya ke kantor memakan waktu 25 menit, maka untuk mengisi waktu, saya menjadi pendengar buku audio [rekaman buku yang dibacakan] yang rajin. Akhir-akhir ini, saya mendengarkan novel klasik Oliver Twist karangan Charles Dickens. Di tengah-tengah cerita, saya harus mematikan tape itu karena ceritanya sangat mengganggu saya. Walaupun saya tahu akhir kisah itu bahagia, saya tetap sangat sulit menerima perlakuan yang sangat kejam terhadap anak yatim piatu itu.

Allah peduli akan kesulitan orang miskin, dan memberikan tempat khusus di hati-Nya bagi anak yatim piatu dan janda. Maleakhi menuliskan bahwa Allah akan menghakimi orang-orang, yang tanpa merasa takut kepada Allah, memanfaatkan janda dan anak yatim piatu (3:5).

Sebagai orang-orang kristiani, kita tidak boleh memanfaatkan orang yang lemah. Sebaliknya, kita seharusnya menolong mereka yang membutuhkan. Orang-orang percaya harus memedulikan orang-orang yang dipedulikan Allah. Kita harus mencari kesempatan untuk membantu mereka yang telah kehilangan pasangan hidupnya atau orangtuanya dalam hal keuangan dan emosi.

Adakah seorang janda yang membutuhkan bantuan Anda? Adakah seorang anak yang tidak lagi memiliki orangtua karena orangtuanya meninggal, bercerai, menjalankan tugas kemiliteran, atau mengabaikannya?

Seperti yang dikatakan Yakobus, ciri kerohanian yang sejati adalah "mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka" (1:27) --HDF

20 Februari 2008

Pelangi di Balik Hujan

Nats : Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11)
Bacaan : Yeremia 29:10-14

Nathaniel Hawthorne sangat kecewa. Ia baru saja menerima kabar pergantian jabatan di kantor Bea Cukai Boston, Massachusetts, tempatnya bekerja. Ternyata, ia diberhentikan. Berita buruk itu seakan-akan menggelegar di telinganya. Dunia seolah-olah sudah kiamat. Ia berjalan pulang dengan perasaan bingung dan gundah. Di pelupuk matanya terbayang wajah duka istrinya. Hawthorne semakin gelisah. Hari itu sungguh menjadi hari yang panjang baginya.

Setibanya di rumah, ia menceritakan perihal pemecatannya kepada istrinya. Sang istri dengan tatapan prihatin memeluknya, mengambil sebuah pena dan tinta, lalu meletakkan keduanya di meja dekat perapian. "Tidak usah bersedih," katanya. "Kau punya banyak waktu sekarang. Kau bisa mulai menulis." Empat tahun setelah kejadian memilukan itu Hawthorne menghasilkan sebuah novel yang membuat namanya terkenal di seluruh dunia: The Scarlet Letter.

Kegagalan di satu bidang kerap menjadi pembuka jalan bagi keberhasilan di bidang lain. Kuncinya adalah: tidak putus asa, terus berusaha, dan terutama tetap berpaut pada Tuhan, Sang Sumber Hidup. Jika Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi, tentu ada maksud baik di balik hal itu.

Itulah janji Tuhan kepada umat-Nya dalam bacaan Alkitab hari ini. Di tengah penderitaan dan kegalauan akan gelapnya masa depan umat, Tuhan membawa berita pengharapan melalui Nabi Yeremia. Itu jugalah janji Tuhan kepada kita saat duka menerjang. Hanya, maukah kita percaya dan tetap menaruh pengharapan kepada-Nya? --AYA

11 Agustus 2008

Pentingnya Harapan

Nats : Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di surga (2Timotius 4:18)
Bacaan : 2Timotius 4:9-18

Victor Frankl, psikiater Yahudi, dibawa tentara Nazi ke kamp kerja paksa di Auschwitz, bersama 1.500 orang lainnya. Setibanya di sana, 1.300 orang, termasuk orangtua, istri, dan saudaranya, dibawa ke kamar gas untuk dibunuh. Frankl sendiri dibiarkan hidup di kamp, namun ia kehilangan semua orang yang dikasihinya. Walau tersiksa lahir batin, ia bertahan. Mengapa? Karena ia punya harapan. Dr. Jerome Groopman, penulis The Anatomy of Hope, menjelaskan bahwa harapan adalah obat untuk tetap hidup sehat dalam situasi genting. Harapan meyakinkan orang bahwa yang terbaik masih akan datang.

Surat 2 Timotius ditulis ketika Paulus kesepian. Ia harus menghadapi sidang pengadilan, tanpa seorang pun bisa membelanya. Kreskes dan Tikhikus pergi karena tugas lain menanti. Demas telah terbujuk kenikmatan dunia dan meninggalkannya (ayat 10). Padahal orang-orang seperti Aleksander, si tukang tembaga, telah memberi kesaksian yang memberatkan. Situasinya sungguh mengecewakan, namun Paulus tidak kehilangan harapan. Mengapa? Karena harapannya disandarkan kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Saat kehilangan rekan-rekan, ia yakin Tuhan sendiri akan mendampingi dan menguatkan (ayat 17). Harapan Paulus terbentang jauh ke depan. Bukan hanya sebatas menang dalam persidangan. Paulus yakin ia akan diselamatkan Tuhan sampai masuk surga (ayat 18).

Harapan sangat penting. Namun juga jangan lupa, kepada siapa Anda berharap juga tidak kalah pentingnya. Maka, jangan salah menaruh harapan. Jika berharap banyak kepada manusia, kita bisa kecewa. Taruhlah harapan kepada Tuhan yang tak berubah di segala keadaan -JTI

14 Agustus 2008

Menghadapi Kekalahan

Nats : ... kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas ... (1Samuel 4:17)
Bacaan : 1Samuel 4:16-22

Tiga orang anak sedang bermain lomba adu cepat mobil-mobilan. Sebelum lomba dimulai, salah seorang anak tampak berdoa dengan khusyuk. Setelah lomba berakhir, ternyata anak yang berdoa itu memenangkan pertandingan. Seorang temannya bertanya, "Tadi sebelum lomba kamu berdoa supaya Tuhan membuat mobil-mobilanmu menang ya?" Anak itu menjawab, "Tidak. Saya berdoa kepada Tuhan, supaya kalau kalah saya tidak menangis."

Ketika bangsa Israel mengalami kekalahan hebat dalam peperangan melawan bangsa Filistin; tabut Allah dirampas, ditambah lagi kedua anaknya tewas, hingga Imam Eli amat sangat terpukul. Ia begitu syok, sampai kemudian terjatuh dan mati (ayat 18).

Menghadapi kekalahan memang tidak mudah. Bukan hanya dalam perkara-perkara besar, bahkan juga dalam hal-hal yang kelihatannya sepele, seperti ketika kita beradu pendapat dengan orang lain dalam sebuah diskusi. Tidak heran kalau kemudian banyak orang yang tidak bisa menerima kekalahan, kemudian merasa malu, marah, kecewa, dan kesal, setelah itu mengambek, menangis, bahkan mendendam. Tidak sedikit pula yang lantas malah membuat kesalahan dan memunculkan masalah baru.

Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak tenggelam dalam kekalahan? Pertama, terimalah kekalahan sebagai bagian dari kehidupan. Hidup seperti roda yang berputar; ada saatnya kita berada di atas, ada saatnya kita berada di bawah. Kedua, lihatlah kekalahan sebagai sarana bagi kita untuk belajar rendah hati dan bergantung kepada Tuhan. Ketiga, ingatlah bahwa di balik setiap kejadian yang Tuhan izinkan terjadi pasti ada hikmahnya -AYA



TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA