
Nama Orang, Nama Tempat, Topik/Tema Kamus


kecilkan semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Kata/Frasa (per frasa)
Full Life -> Est 2:4
Full Life: Est 2:4 - MENJADI RATU GANTI WASTI.
Nas : Est 2:4
Kitab Ester, sekalipun tidak menyebutkan Allah secara tegas,
menunjukkan pemeliharaan-Nya yang terus-menerus atas umat Yahudi. Ia
men...
Nas : Est 2:4
Kitab Ester, sekalipun tidak menyebutkan Allah secara tegas, menunjukkan pemeliharaan-Nya yang terus-menerus atas umat Yahudi. Ia mengarahkan, mengesampingkan, dan mempergunakan berbagai tindakan orang untuk mencapai maksud-Nya serta memelihara umat pilihan-Nya
(lihat art. PEMELIHARAAN ALLAH).
Kitab ini mempertunjukkan pengetahuan Allah tentang masa depan dan pemeliharaan Allah dalam hal-hal berikut:
- (1) Karena "Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja" (Est 1:12), Ester, seorang perawan Yahudi, dipilih menjadi ratu (ayat Est 2:15-18);
- (2) Mordekhai, juga seorang Yahudi dan kerabat Ester, membongkar komplotan untuk membunuh raja (ayat Est 2:21-23);
- (3) raja memandang Ester dengan perkenanan khusus (Est 5:2,8);
- (4) raja menemukan bahwa Mordekhai pernah menyelamatkan dirinya (Est 6:1-2; bd. Est 2:21-23);
- (5) raja ingin menghormati Mordekhai tepat pada saat Haman masuk (Est 6:1-11);
- (6) raja membantu Ester dan umat Yahudi yang akan dimusnahkan (pasal Est 7:1-8:17);
- 7) Mordekhai menjadi sangat berpengaruh kepada raja (Est 9:4; Est 10:2-3).

buka semuaTafsiran/Catatan -- Catatan Rentang Ayat
Matthew Henry -> Est 2:1-20
Matthew Henry: Est 2:1-20 - Ester Diangkat dan Dipilih Menjadi Ratu
Ada dua hal yang dicatat dalam pasal ini, yang sedang bekerja menuju pembebasan bangsa Yahudi dari persekongkolan Haman:
I. Diangkat...
- Ada dua hal yang dicatat dalam pasal ini, yang sedang bekerja menuju pembebasan bangsa Yahudi dari persekongkolan Haman:
- I. Diangkatnya Ester menjadi ratu menggantikan Wasti. Ada banyak orang lain yang menjadi calon untuk mendapatkan kehormatan ini (ay. 1-4). Tetapi Ester, seorang anak yatim piatu, seorang tawanan Yahudi (ay. 5-7), mendapat tempat pertama-tama di hati pejabat raja (ay. 8-11), dan kemudian di hati sang raja (ay. 12-17), yang lalu mengambilnya sebagai ratu (ay. 18-20).
- II Pekerjaan baik yang dilakukan oleh Mordekhai untuk raja, dalam menyingkapkan suatu persekongkolan yang mengancam nyawa sang raja (ay. 21-23).
Ester Diangkat dan Dipilih Menjadi Ratu (2:1-20)
- Bagaimana Allah menurunkan seorang yang tinggi dan sangat berkuasa dari kedudukannya, telah kita baca dalam pasal sebelumnya. Sekarang kita akan diberi tahu bagaimana Ia meninggikan seorang dari derajat yang rendah, seperti yang diamati oleh perawan Maria dalam nyanyiannya (Luk. 1:52), dan oleh Hana sebelumnya (1Sam. 2:4-8). Karena Wasti telah direndahkan akibat ketinggian hatinya, maka Ester ditinggikan atas kerendahan hatinya. Amatilah,
- 1. Cara berlebihan yang dipakai untuk menyenangkan hati sang raja dengan istri lain sebagai ganti Wasti. Yosefus berkata bahwa ketika murka sang raja surut, ia merasa sangat merana karena perkara itu berlanjut sampai begitu jauh, dan hatinya ingin rujuk kembali dengan Wasti. Akan tetapi, berdasarkan undang-undang pemerintahan, hukuman tersebut tidak dapat dibatalkan. Oleh karena itu, untuk membuat sang raja melupakan Wasti, para pejabat istana berencana menghibur raja pertama-tama dengan berbagai macam selir, dan kemudian menambatkan hatinya kepada selir yang paling menyenangkan dari antara semuanya untuk menjadi seorang ratu menggantikan Wasti. Pernikahan anak-anak raja biasanya diselenggarakan melalui kebijakan dan kepentingan, untuk memperluas daerah-daerah kekuasaan mereka dan memperkuat persekutuan-persekutuan yang mereka jalin. Tetapi pernikahan ini harus diadakan sebagian berdasarkan penampilan sang perempuan yang menarik hati sang raja, entah dia kaya atau miskin, terpandang atau tidak terpandang. Betapa susah payah harus ditempuh untuk menyenangkan raja! Seakanakan kekuasaan dan kekayaannya diberikan kepadanya bukan untuk tujuan lain selain agar dia dapat memperoleh segala kesenangan indrawi yang akan membawanya pada puncak kenikmatan, dan yang dipoles dengan begitu halus, walaupun segala kesenangan itu paling-paling hanyalah sampah dan ampas dibandingkan dengan kesenangan-kesenangan yang bersifat ilahi dan rohani.
- 1. Seluruh wilayah kerajaannya harus dijelajahi untuk mencari anak-anak dara yang elok rupanya, dan para petugas ditunjuk untuk memilih mereka (ay. 3).
- 2. Sebuah rumah (istana selir) sengaja dipersiapkan bagi para gadis itu, dan seseorang ditunjuk untuk mengawasi mereka, untuk memastikan bahwa mereka semua dirawat dengan baik.
- 3. Tidak kurang dari dua belas bulan diberikan kepada mereka untuk membersihkan diri, paling tidak untuk sebagian dari mereka yang dibawa dari desa, supaya tubuh mereka menjadi sangat bersih dan wangi (ay. 12). Bahkan orang-orang yang merupakan mahakarya alam tetap harus mendapatkan semua bantuan dari buatan manusia ini, agar mereka disukai oleh orang yang pikirannya sia-sia dan hanya ingin memuaskan keinginan daging.
- 4. Setelah sang raja membawa gadis-gadis tersebut ke dalam tempat tidurnya, mereka diasingkan untuk seterusnya, kecuali sang raja berkenan untuk menyuruh orang memanggil mereka kapan saja (ay. 14). Mereka dipandang sebagai istri-istri cadangan, yang dirawat oleh raja dengan selayaknya, dan tidak boleh menikah. Kita dapat melihat, melalui contoh ini, betapa tidak masuk akalnya perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mendapat wahyu ilahi, dan yang, sebagai hukuman atas penyembahan berhala mereka, diserahkan kepada hawa nafsu yang memalukan. Setelah melanggar hukum penciptaan yang merupakan hasil dari penciptaan manusia oleh Allah, mereka melanggar hukum lain, yang didasarkan atas penciptaan seorang laki-laki dan seorang perempuan oleh-Nya. Lihatlah betapa Injil Kristus diperlukan untuk memurnikan manusia dari hawa nafsu kedagingan dan untuk mengembalikan mereka kepada keadaan yang mula-mula. Orang-orang yang telah mengenal Kristus akan menganggap memalukan bahkan untuk menyebutkan apa yang dibuat oleh orang-orang ini, bukan hanya di tempat-tempat yang tersembunyi, melainkan juga secara terang-terangan (Ef. 5:12).
- 2. Penyelenggaraan Allah yang berkuasa atas segala tindakan manusia itu pun kemudian membawa Ester menjadi ratu. Seandainya dia ditawarkan langsung kepada Ahasyweros untuk dijadikan seorang istri, sang raja akan menolak usulan tersebut dengan mentah-mentah. Tetapi ketika dia datang sesuai gilirannya, sesudah sejumlah gadis lain, dan ditemukan bahwa kendati banyak dari mereka adalah gadis-gadis yang terampil dan berbudi luhur, anggun dan menyenangkan, namun Ester tetap mengungguli mereka semua, maka dibukakanlah jalan baginya, bahkan oleh para pesaingnya, untuk mendapatkan tempat di hati sang raja dan kehormatan-kehormatan yang menyertainya. Sudah tentu, seperti yang dikatakan oleh Uskup Patrick, bahwa orang-orang yang menyatakan bahwa Ester telah berbuat dosa besar untuk sampai kepada martabat ini tidaklah mempertimbangkan kebiasaan pada zaman dan di negeri itu. Setiap gadis yang dibawa oleh sang raja ke tempat tidurnya juga dinikahinya, dan menjadi istrinya dalam kedudukan yang lebih rendah, seperti kedudukan Hagar sebagai istri Abraham. Jadi, kalaupun Ester tidak dijadikan ratu, anak-anak Yakub tidak perlu berkata bahwa sang raja telah memperlakukan adik perempuannya sebagai seorang perempuan sundal. Mengenai Ester kita harus memperhatikan,
- I. Asal usul dan sifatnya.
- 1. Ester adalah salah satu dari orang-orang buangan, seorang perempuan Yahudi dan seorang yang berbagi nasib dengan bangsanya dalam perbudakan mereka. Daniel dan kawan-kawannya mendapat kedudukan tinggi di negeri di mana mereka ditawan. Sebab mereka adalah orang-orang yang dikirim Allah ke sana untuk kebaikan mereka (Yer. 24:5).
- 2. Ester adalah seorang anak yatim piatu. Baik ayah maupun ibunya telah meninggal (ay. 7), tetapi, ketika mereka meninggalkan dia, TUHAN menyambutnya (Mzm. 27:10). Apabila orang-orang yang bernasib malang karena kehilangan orangtua pada waktu kecil, namun kemudian menjadi orang yang sangat saleh dan makmur, maka kita harus memandangnya dengan memuliakan Allah, dan anugerah serta penyelenggaraan-Nya, yang di antara semua gelar kehormatan-Nya disebut sebagai Bapa bagi anak yatim.
- 3. Ester merupakan seorang gadis yang cantik, elok perawakannya dan cantik parasnya, demikian dalam tafsiran yang agak luas (ay. 7). Hikmat dan kebajikannya adalah kecantikannya yang terbesar, tetapi sungguh suatu keuntungan baginya untuk menjadi sebuah berlian yang dihias dengan baik.
- 4. Mordekhai, saudara sepupunya, menjadi penjaganya, yang membesarkannya dan mengangkatnya sebagai anak. Dalam Septuaginta dikatakan bahwa dia berencana untuk menjadikan Ester sebagai istrinya. Jika benar demikian, maka dia patut dipuji sebab dia tidak menentang Ester dalam memilih yang lebih baik. Kiranya Allah diakui dalam membangkitkan teman-teman bagi mereka yang tidak berayah dan tidak beribu. Kiranya orang-orang mendapat dorongan dari contoh perbuatan saleh yang berlandaskan cinta kasih itu, bahwa banyak orang yang telah bersusah payah untuk mendidik anak-anak yatim piatu, hidup untuk melihat hasil yang baik dari jerih payah mereka, yang membawa penghiburan berlimpah bagi mereka. Dr. Lightfoot berpen dapat bahwa Mordekhai ini sama dengan yang disebut dalam Ezra 2:2, yang berangkat pulang ke Yerusalem dengan rombongan yang pertama, dan membantu bangsanya untuk menetap di sana sampai pembangunan Bait Suci dihentikan. Lalu ia kembali ke istana Persia, untuk mencari tahu pelayanan apa yang dapat dilakukannya bagi mereka di sana. Karena Mordekhai adalah penjaga atau orangtua angkat Ester, kita diberi tahu,
- 1. Betapa lembut perlakuannya terhadap Ester, seolaholah Ester adalah anaknya sendiri (ay. 11): dia berjalanjalan di depan pintu rumah Ester setiap hari, untuk mengetahui kabarnya, dan perkembangannya. Hendaklah orang-orang yang juga dititipi saudara oleh Allah Sang Penyelenggara memperlakukan saudara mereka dengan kasih sayang seperti itu, dan memperhatikan mereka.
- 2. Betapa hormatnya Ester kepada Mordekhai. Kendati menurut hubungan keluarga Ester berkedudukan sama tinggi dengan Mordekhai, namun, karena menurut usia dan kebergantungan Ester berada di bawah Mordekhai, maka Ester menghormatinya sebagai ayahnya – tetap berbuat menurut perkataan Mordekhai (ay. 20). Ini adalah sebuah teladan yang harus diikuti oleh anak-anak yatim piatu. Jika mereka jatuh ke dalam tangan orang-orang yang mengasihi mereka dan merawat mereka, hendaklah mereka membalasnya secara pantas dengan bakti dan kasih. Semakin berkurang kewajiban para penjaga mereka untuk mencukupi kebutuhan mereka, semakin bertambahlah kewajiban mereka, sebagai rasa terima kasih, untuk menghormati dan menaati para penjaga mereka. Inilah contoh sikap patuh Ester kepada Mordekhai, bahwa dia tidak memberitahukan kebangsaan dan asal-usulnya, karena Mordekhai telah melarangnya (ay. 10). Ia tidak menyuruh Ester untuk menyangkal negerinya, atau berbohong untuk menyembunyikan asal-usulnya. Seandainya dia menyuruh Ester untuk berbuat demikian, maka Ester tidak boleh menurutinya. Namun dia hanya meminta Ester untuk tidak memberitahukan kebangsaannya. Tidak semua kebenaran harus diucapkan setiap saat, meskipun kepalsuan tidak boleh diucapkan kapan pun itu. Karena Ester lahir di dalam benteng Susan, dan orangtuanya telah meninggal, maka semua orang mengira bahwa dia adalah keturunan Persia, dan dia tidak terikat kewajiban untuk memberi tahu mereka yang sebenarnya.
- II. Pengangkatan Ester. Siapa yang menyangka bahwa seorang perempuan Yahudi, seorang tawanan, dan seorang yatim piatu, dilahirkan untuk menjadi seorang ratu, seorang permaisuri! Namun, itulah kenyataannya. Penyelenggaraan ilahi kadang-kadang menegakkan orang yang hina dari dalam debu, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan (1Sam. 2:8).
- I. Pejabat raja menghormati dia (ay. 9), dan siap untuk melayaninya. Hikmat dan kebajikan akan memperoleh penghormatan. Orang-orang yang mendapat perkenanan Allah akan mendapat perkenanan manusia pula sepanjang hal itu baik bagi mereka. Semua orang yang melihat Ester mengaguminya (ay. 15) dan meyakini bahwa dialah perempuan yang akan memenangkan sayembara, dan memang benar demikian.
- II. Sang raja sendiri jatuh cinta kepadanya. Ester tidak terlalu berhasrat, seperti semua gadis yang lain, untuk menghias diri dengan perawatan kecantikan buatan. Ia tidak menghendaki sesuatu apa pun selain dari apa yang dianjurkan baginya (ay. 15), dan sekalipun demikian dialah yang paling berkenan. Makin alami kecantikan, makin indah dipandang. Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain (ay. 17). Sekarang sang raja tidak perlu mengadakan sayembara lagi, atau mengambil waktu untuk menimbang-nimbang. Ia segera menetapkan hati untuk mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya, dan mengangkat dia menjadi ratu (ay. 17). Hal ini terjadi pada tahun yang ketujuh dalam pemerintahannya (ay. 16), dan Wasti diceraikan pada tahun yang ketiga (1:3). Dengan demikian, selama empat tahun sang raja memerintah tanpa seorang ratu. Diberi perhatian,
- 1. Tentang kehormatan-kehormatan yang diberikan oleh sang raja kepada Ester. Ia menyemarakkan upacara penobatan Ester dengan perjamuan kerajaan (ay. 18), yang di dalamnya Ester mungkin, untuk menuruti perintah raja, tampil di hadapan umum, suatu perbuatan yang telah ditolak oleh Wasti. Dengan demikian, Ester bisa mendapatkan pujian dalam hal ketaatan pada perkara yang sama di mana Wasti terkena noda ketidaktaatan. Sang raja juga menitahkan kebebasan bagi daerah-daerah, entah pembebasan tunggakan pajak atau pengampunan bagi para pelaku kejahatan. Seperti Pilatus, pada suatu pesta perjamuan, melepaskan seorang tahanan. Hal ini dilakukan untuk menambah sukacita.
- 2. Tentang rasa hormat yang terus ditunjukkan Ester kepada mantan penjaganya. Ia tetap berbuat menurut perkataan Mordekhai seperti pada waktu ia masih dalam asuhannya (ay. 20). Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja. Itulah kedudukannya yang tertinggi. Dia menjadi salah satu penunggu atau penjaga pintu istana. Apakah dia telah menduduki jabatan ini sebelumnya, ataukah Ester yang mendapatkannya bagi dia, kita tidak diberi tahu. Tetapi di sanalah dia duduk dengan puas hati, dan tidak berhasrat untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Namun demikian, Ester yang telah naik takhta tetap memperhatikannya. Hal ini merupakan bukti dari sifat yang rendah hati dan tahu berterima kasih, bahwa Ester tetap mengakui kebaikan Mordekhai di masa lalu dan hikmatnya yang tetap ada hingga sekarang. Sungguh suatu perhiasan yang indah bagi orang-orang yang telah diangkat kedudukannya, dan suatu pujian yang besar bagi mereka, apabila mereka mengingat orang-orang yang telah berjasa kepada mereka, mencamkan didikan baik yang telah diajarkan kepada mereka, tetap bersikap membumi, bersedia menerima nasihat, dan bersyukur untuk semuanya itu.
SH -> Est 2:1-23; Est 2:1-23
SH: Est 2:1-23 - Sesuai rancangan Allah (Minggu, 16 Desember 2007) Sesuai rancangan Allah
Di dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah tahu apa yang akan
terjadi di depan kita. Namun Allah punya rancangan atas hi...
Sesuai rancangan Allah
Di dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah tahu apa yang akan
terjadi di depan kita. Namun Allah punya rancangan atas hidup
umat-Nya, hingga segala sesuatu akan berjalan sesuai rancangan
yang mulia itu.
Terusirnya Ratu Wasti dari istana memberi kesempatan pada semua gadis di Susan untuk menjadi ratu (ayat 2-4). Gadis mana yang tak mau? Maka bagai persiapan kontes ratu kecantikan, setiap gadis yang terpilih mendapatkan perawatan kecantikan (ayat 12). Termasuk di antara gadis-gadis itu ialah Ester, seorang gadis Yahudi, yang diangkat anak oleh saudara sepupunya, Mordekhai (ayat 5-7). Secara khusus, Ester mendapatkan simpati Hegai, petugas istana yang bertugas menangani gadis-gadis itu. Betapa beruntungnya Ester karena Hegai kemudian mempersiapkan Ester secara khusus (ayat 9-10, 15).
Upaya Hegai dan ketaatan Ester tidak sia-sia. Ester berhasil merebut kasih sayang raja hingga dilantik menjadi ratu (ayat 17-20)! Terpilihnya Ester sebagai ratu tidak terlepas dari campur tangan Allah. Suatu hari nanti, posisi Ester sebagai ratu berperan penting dalam kelangsungan hidup bangsa Yahudi. Tentu saja bukan semata-mata karena kuasa yang Ester miliki, melainkan karena tangan Allah bekerja begitu indah, merajut peristiwa demi peristiwa untuk menggenapi rencana-Nya atas umat-Nya. Akan terlihat bahwa jabatan ratu yang disandang Ester menunjukkan tanggung jawab untuk melakukan tugas besar dikemudian hari. Maka terbongkarnya konspirasi pembunuhan raja Ahasyweros oleh Mordekhai (ayat 19-23), juga akan menjadi kunci penting bagi permasalahan pelik yang dihadapi bangsa Yahudi kemudian.
Coba kita ingat setiap peristiwa yang kita alami sampai berada di tempat yang sekarang. Adakah kita melihat pimpinan Allah langkah demi langkah? Pahamilah bahwa di mana pun Allah menempatkan kita, sesungguhnya Dia mempercayakan peranan yang akan berpengaruh juga bagi hidup orang lain. Penting bagi kita untuk menggumuli hal ini agar tahu bagaimana harus berkiprah sesuai rancangan Tuhan.

SH: Est 2:1-23 - Tuhan di balik kehinaan umat-Nya. (Jumat, 22 Juni 2001)
Tuhan di balik kehinaan umat-Nya.
Ester dan Mordekhai berasal dari kelompok masyarakat
Yahudi buangan yang dikenal sebagai bangsa yang hidup
tercerai...
Tuhan di balik kehinaan umat-Nya.
Ester dan Mordekhai berasal dari kelompok masyarakat
Yahudi buangan yang dikenal sebagai bangsa yang hidup
tercerai-berai dan terasing di antara bangsa-bangsa
(3:8). Pada masa pemerintahan Ahasyweros, mereka adalah
kelompok orang-orang yang tertindas dan terbuang.
Mereka ditolak, dipandang hina serta harus menanggung
rasa malu (5-6). Mereka dikenal sebagai orang-orang
yang berbisik: "Jangan membuka rahasia tentang dirimu
kepada teman-temanmu, jangan beritahukan kebangsaanmu",
sebagaimana juga dipesankan Mordekhai kepada Ester (10,
20).
Namun demikian Tuhan Raja di atas segala raja memperhatikan
keadaan umat-Nya yang terhina. Ia menyediakan rencana
penyelamatan umat-Nya melalui Ester dan Mordekhai. Ia
mengangkat Ester gadis buangan yang malang (7) menjadi
seorang yang mendapatkan kasih dari setiap orang yang
melihatnya (9, 15), dan terlebih lagi ia dikasihi oleh
baginda lebih dari pada semua perempuan yang lain, ia
beroleh kasih dan sayang baginda lebih dari semua anak
dara lain (17). Tuhan memelihara dan memperhatikan
keadaan umat-Nya yang terhina. Ia memakai Mordekhai
untuk membongkar rencana pembunuhan raja oleh Bigtan
dan Teresy, sehingga namanya dicatat di dalam kitab
sejarah di hadapan raja (19-23). Suatu peristiwa yang
pada akhirnya membawa keuntungan besar. Rencana dan
pemeliharaan Allah ini tidaklah membebaskan umat-Nya
dari tanggung jawab yang harus diambilnya. Ayat
Bagaimana dengan umat-Nya di Indonesia ini? Kiranya Tuhan pun membangkitkan serta memakai orang Kristen yang duduk di posisi strategis dalam masyarakat untuk melaksanakan rencana dan pemeliharaan-Nya.
Renungkan: Apakah Anda menyadari bahwa Tuhan memperhatikan serta memiliki rencana yang indah dalam kehidupan Anda, termasuk pada masa-masa kelam yang Anda lalui? Apakah Anda sudah menjalankan kehidupan ini di dalam ketaatan dan tanggung jawab?
buka semuaPendahuluan / Garis Besar
Full Life: Ester (Pendahuluan Kitab) Penulis : Tidak Diketahui
Tema : Kepedulian Allah yang Memelihara
Tanggal Penulisan: 460-400 SM
Latar Belakang
Setelah kerajaa...
Penulis : Tidak Diketahui
Tema : Kepedulian Allah yang Memelihara
Tanggal Penulisan: 460-400 SM
Latar Belakang
Setelah kerajaan Babel direbut dan diganti oleh kerajaan Persia pada tahun 539 SM, pusat pemerintahan bagi orang Yahudi buangan berpindah ke Persia. Ibu kotanya, Susan menjadi latar belakang kisah Ester, pada masa pemerintahan _Ahasyweros_ (nama Ibrani) atau _Khshayarshan_ (nama Persia) atau _Xerxes I_ (nama Yunani) -- yang memerintah pada tahun 486-465 SM. Kitab ini meliput tahun-tahun 483-473 SM dari pemerintahannya (Est 1:3; Est 3:7), dengan sebagian besar peristiwa terjadi pada tahun 473 SM. Ester menjadi ratu Persia pada tahun 478 SM (Est 2:16).
Secara kronologis, peristiwa Ester terjadi di Persia antara Ezra 6 dan 7, yaitu di antara kembalinya rombongan Yahudi pertama ke Yerusalem pada tahun 538 SM di bawah pimpinan Zerubabel (Ezr 1:1--6:22) dan rombongan kedua pada tahun 457 SM di bawah pimpinan Ezra (Ezr 7:1--10:44; Lihat "PENDAHULUAN EZRA" 08061). Sekalipun kitab ini ditempatkan setelah Nehemia dalam PL kita, peristiwa yang tercatat di dalamnya terjadi 30 tahun sebelum Nehemia kembali ke Yerusalem (444 SM) untuk membangun kembali tembok Yerusalem (Lihat "PENDAHULUAN NEHEMIA" 08065). Sedangkan kitab-kitab Ezra dan Nehemia dari masa pascapembuangan membahas hal-hal yang berkaitan dengan kaum Yahudi sisa yang kembali ke Yerusalem, kitab Ester mencatat suatu peristiwa yang sangat penting bagi orang Yahudi yang tinggal di Persia.
Pentingnya Ratu Ester bukan saja tampak dalam penyelamatan bangsanya dari kebinasaan, tetapi juga dalam menjamin keamanan dan kehormatan mereka di negeri asing (bd. Est 8:17; Est 10:3); tindakan pemeliharaan ini memungkinkan pelayanan Nehemia di istana raja beberapa dasawarsa kemudian dan pengangkatannya untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Jikalau Ester dan orang Yahudi (termasuk Nehemia) telah musnah di Persia, kaum sisa yang tertekan di Yerusalem mungkin tidak pernah membangun kembali kota mereka; akibat sejarah Yahudi pascapembuangan pasti akan sangat berbeda.
Sekalipun penulis kitab ini tidak dikenal, jelas dari kitab ini sendiri bahwa penulisnya mengetahui adat-istiadat Persia, istana Susan, serta hal-ihwal Raja Ahasyweros, yang menunjukkan bahwa penulis mungkin hidup di Persia dalam masa yang diuraikan dalam kitab ini. Apalagi, dukungannya kepada orang Yahudi serta pemahamannya mengenai kebiasaan Yahudi memberi kesan bahwa dia seorang Yahudi. Sangat mungkin penulis ini seorang yang lebih muda dari Mordekhai yang hidup sezaman dengannya, dan Mordekhailah yang merupakan sumber kebanyakan informasi dalam kitab ini. Kitab Ester memperoleh bentuknya yang sekarang setelah Mordekhai wafat (bd. Est 10:1-3). Hal ihwal sejarah dan linguistiknya tidak mendukung tanggal yang kemudian daripada 400 SM. Kitab "Tambahan-Tambahan pada Kitab Ester" yang tergolong kitab apokrifa ditulis lama sekali setelah kitab Ester yang kanonik.
Tujuan
Kitab ini mempunyai maksud ganda.
- (1) Itu ditulis untuk menunjukkan bagaimana orang Yahudi dilindungi dan diselamatkan dari ancaman pemusnahan oleh campur tangan Allah melalui Ratu Ester. Sekalipun nama Allah tidak disebutkan secara khusus, bukti pemeliharaan-Nya jelas sepanjang kitab ini.
- (2) Kitab ini juga ditulis untuk memberikan catatan dan latar belakang sejarah dari Hari Raya Purim orang Yahudi (Est 3:6-7; Est 9:26-28), dan dengan demikian mempertahankan ingatan akan pelepasan yang luar biasa orang Yahudi di Persia (bd. hari raya Paskah dan pelepasan luar biasa Israel dari Mesir) untuk generasi-generasi yang akan datang. Kitab ini juga menguraikan kewajiban untuk merayakan Purim setiap tahun (Est 9:24,28-32).
Survai
Kitab Ester menyajikan suatu penelitian watak dari lima tokoh utama yang terlibat dalam kisah ini:
- (1) Ahasyweros, raja Persia;
- (2) Haman, perdana menterinya;
- (3) Wasti, ratu sebelum Ester;
- (4) Ester, gadis Yahudi cantik yang menjadi ratu; dan
- (5) Mordekhai, saudara sepupu Ester yang benar dan yang telah mengadopsi dan membesarkan dia sebagai putrinya sendiri.
Tentu saja, Ester adalah pahlawan wanita kisah ini, Haman penjahatnya, sedangkan Mordekhai menjadi pahlawan, yang sebagai sasaran utama kebencian Haman, pada akhirnya dibenarkan dan ditinggikan. Oknum penting di belakang semua peristiwa ini ialah Mordekhai karena dia mempengaruhi dan memberikan nasihat yang benar kepada Ratu Ester.
Pemeliharaan Allah tampak di seluruh kitab ini. Hal ini kelihatan pertama kali dalam pemilihan seorang perawan cantik bernama _Hadasa_ (nama Ibrani) atau _Ester_ (Persia, Yunani) untuk menjadi Ratu Persia pada saat yang kritis dalam sejarah Yahudi (pasal 1-2, 4; Est 1:1--2:23; Est 4:4). Pemeliharaan Allah tampak lagi ketika Mordekhai, saudara sepupu Ester yang membesarkan dia sebagai putrinya (Est 2:7), mendengar suatu komplotan untuk membunuh raja, menyingkapkan hal itu, menyelamatkan hidup raja dan perbuatannya dicatat dalam dokumen kerajaan (Est 2:19-34), suatu kenyataan yang karena pemeliharaan Allah dijumpai lagi oleh raja ketika ia tidak bisa tidur (Est 6:1-14).
Kebencian Haman kepada Mordekhai meluas ke semua orang Yahudi. Ia merancangkan komplotan kejam dan dengan liciknya meyakinkan Raja Ahasyweros agar mengeluarkan perintah untuk memusnahkan semua orang Yahudi pada tanggal 13 bulan Adar (Est 3:13). Mordekhai mendorong Ester untuk menjadi penengah bagi umat itu kepada raja. Setelah semua orang Yahudi berpuasa selama tiga hari, Ester mempertaruhkan nyawanya dengan menghampiri raja tanpa diundang (pasal 4; Est 4:1-17), mendapat perkenan raja (Est 5:1-4) dan menyingkapkan komplotan Haman. Setelah itu, raja menggantung Haman pada tiang gantungan yang disediakan Haman bagi Mordekhai (Est 7:1-10). Perintah raja yang kedua memungkinkan orang Yahudi menang atas musuh-musuh mereka (Est 8:1--9:16); kemenangan ini menjadi kesempatan untuk perayaan besar dan permulaan dari Hari Raya Purim (Est 9:17-32). Kitab ini kemudian diakhiri dengan suatu catatan mengenai kemasyhuran Mordekhai (Est 10:1-3).
Ciri-ciri Khas
Lima ciri khas menandai kitab Ester.
- (1) Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab dalam Alkitab yang diberikan nama wanita, yang lain adalah kitab Rut.
- (2) Kitab ini diawali dan diakhiri dengan sebuah pesta, dan mencatat sejumlah sepuluh pesta atau perjamuan yang merupakan pusat peristiwa dalam kitab ini.
- (3) Kitab Ester merupakan kitab terakhir dari lima gulungan dalam bagian ketiga dari Alkitab Ibrani, yaitu kelompok _Hagiographa_ ("Tulisan-tulisan Kudus"). Setiap kitab dibacakan di depan umum pada salah satu hari raya Yahudi; kitab ini dibacakan pada Hari Raya Purim tanggal 14-15 bulan Adar yang merayakan pelepasan luar biasa orang Yahudi di Persia di bawah Ratu Ester.
- (4) Walaupun kitab ini menyebutkan suatu puasa selama tiga hari, tidak ada petunjuk tegas mengenai Allah, penyembahan, dan doa (suatu ciri yang membuat beberapa pengritik dengan tidak bijaksana mempertanyakan nilai rohani kitab ini).
- (5) Sekalipun nama Allah tidak disebutkan di mana pun dalam kitab ini, pemeliharaan-Nya tampak di dalamnya (mis. Est 2:7,17,22; Est 4:14; Est 4:16--5:2; Est 6:1,3-10; Est 9:1). Tidak ada kitab lain dalam Alkitab yang melukiskan pemeliharaan Allah demi umat Yahudi demikian hebat kendatipun kebencian kejam dari musuh mereka.
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
PB sama sekali tidak mengacu atau menunjuk kepada kitab ini. Akan tetapi, kebencian Haman kepada orang Yahudi serta komplotannya untuk membunuh dan memusnahkan semua orang Yahudi di kerajaan Persia (pasal 3, 7; Est 3:1-15; Est 7:4) merupakan lambang PL dari antikristus di PB, yang akan berusaha untuk membinasakan semua orang Yahudi dan orang Kristen pada akhir sejarah (Lihat "KITAB WAHYU" 08265).
Full Life: Ester (Garis Besar) Garis Besar
I. Pemeliharaan Allah Dalam Penempatan Seorang Ratu
(Est 1:1-2:18)
A. Wasti Dipecat Sebagai Ratu Persia
...
Garis Besar
- I. Pemeliharaan Allah Dalam Penempatan Seorang Ratu
(Est 1:1-2:18) - A. Wasti Dipecat Sebagai Ratu Persia
(Est 1:1-22) - 1. Pesta Ahasyweros
(Est 1:1-9) - 2. Penolakan Wasti
(Est 1:10-12) - 3. Pemecatan Ratu yang Lama
(Est 1:13-22) - B. Ester Dipilih Sebagai Ratu Persia
(Est 2:1-18) - 1. Ahasyweros Mencari Ratu
(Est 2:1-4) - 2. Persetujuan Ester
(Est 2:5-11) - 3. Pemilihan Ratu yang Baru
(Est 2:12-18) - II. Pemeliharaan Allah di Tengah-Tengah Komplotan Menentang Mordekhai
dan Orang Yahudi
(Est 2:19-4:17) - A. Mordekhai Menyelamatkan Hidup Raja
(Est 2:19-23) - B. Kesombongan Haman dan Komplotan yang Curang
(Est 3:1-15) - C. Mordekhai Meyakinkan Ester untuk Memohon Kepada Raja
(Est 4:1-17) - III.Pemeliharaan Allah Dalam Membebaskan Umat-Nya
(Est 5:1-9:32) - A. Pesta Pertama Ester: Permohonan Pertama
(Est 5:1-8) - B. Komplotan Haman Berkembang
(Est 5:9-14) - C. Pemeliharaan Dalam Hal Raja Tidak Bisa Tidur
(Est 6:1-14) - D. Pesta Kedua Ester: Komplotan Haman Terbongkar
(Est 7:1-10) - E. Keputusan Raja dan Kemenangan Orang Yahudi
(Est 8:1-9:16) - F. Penetapan Hari Raya Purim
(Est 9:17-32) - IV. Pemeliharaan Allah Dalam Kenaikan Pangkat Mordekhai
(Est 10:1-3)
Matthew Henry: Ester (Pendahuluan Kitab)
Dalam dua kitab sebelumnya, kita membaca tentang bagaimana penyelenggaraan Allah menjaga orang-orang Yahudi yang telah kembali dari pembuangan ke n...
- Dalam dua kitab sebelumnya, kita membaca tentang bagaimana penyelenggaraan Allah menjaga orang-orang Yahudi yang telah kembali dari pembuangan ke negeri mereka sendiri, serta apa perkara-perkara besar dan baik yang diperbuat bagi mereka. Namun, banyak juga yang tidak pulang, karena tidak mempunyai rasa cinta yang cukup besar bagi rumah Allah, serta bagi tanah dan kota suci, yang memampukan mereka melewati kesulitan-kesulitan untuk pergi ke sana. Mereka ini, orang akan berpikir, seharusnya dikecualikan dari perlindungan khusus Allah sang Penyelenggara, sebagai orang-orang yang tidak layak disebut orang Israel. Namun, Allah kita tidaklah memperlakukan kita sesuai kebodohan dan kelemahan kita. Kita mendapati dalam kitab ini bahwa bahkan orang-orang Yahudi yang tersebar di wilayah-wilayah bangsa kafir sekalipun tetap dijaga, sama halnya seperti orang-orang Yahudi yang berkumpul di tanah Yudea. Mereka dipelihara secara menakjubkan, ketika sudah tinggal menunggu kehancuran dan ditetapkan sebagai domba-domba sembelihan.
- Siapa yang menyusun kisah ini tidaklah pasti. Mordekhai, sama seperti orang lain, bisa saja menceritakan sejumlah penggalan kisah di dalamnya berdasarkan pengalamannya sendiri. Quorum pars magna fuit – sebab perannya sangat menonjol dalam cerita itu. Dan kita diberi tahu bahwa ia menuliskan cerita tentang mereka dengan cara yang dianggap penting untuk memberi tahu orang-orang sebangsanya alasan mengapa mereka memelihara hari raya Purim (9:20, Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkannya dalam bentuk surat kepada semua orang Yahudi). Oleh karena itu, beralasan bagi kita untuk menduga bahwa dialah penulis seluruh kitab ini. Kitab ini merupakan kisah tentang persekongkolan melawan orang Yahudi dengan tujuan untuk memusnahkan mereka semua, dan persekongkolan itu secara ajaib digagalkan oleh serangkaian penyelenggaraan ilahi yang terjadi secara beriringan. Cara untuk mendapatkan gambaran paling lengkap tentang kisah ini adalah dengan membaca seluruh kitab sekaligus dengan penuh perhatian, sebab peristiwaperistiwa yang belakangan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terdahulu, dan menunjukkan pemeliharaan ilahi apa yang dimaksudkan di dalamnya. Nama Allah tidak dijumpai dalam kitab ini, tetapi tambahan Apokrifanya (yang tidak ditulis dalam bahasa Ibrani, dan tidak pernah diterima dalam kanon Yahudi) yang berisi enam pasal, dimulai seperti berikut: Lalu Mordekhai berkata: Itu terjadi oleh Allah! Akan tetapi, meskipun nama Allah tidak ada di dalamnya, tangan Allah ada di situ, mengarahkan banyak peristiwa kecil untuk mewujudkan pembebasan bagi umat-Nya. Rincian-rincian peristiwa ini tidak hanya mengejutkan dan sangat menghibur, tetapi juga membangun dan sangat menguatkan iman serta pengharapan umat Allah di tengah masa-masa yang paling sukar dan berbahaya. Sekarang, kita tidak dapat lagi berharap agar mujizat-mujizat seperti itu diadakan bagi kita sebagaimana dulu diadakan bagi Israel ketika mereka keluar dari Mesir. Tetapi kita bisa berharap bahwa cara-cara seperti yang dipakai Allah di sini untuk menggagalkan rencana Haman, masih akan tetap dipakai-Nya untuk melindungi umat-Nya. Diceritakan kepada kita,
- 1. Bagaimana Ester menjadi ratu dan Mordekhai menjadi pembesar di istana, dua orang yang kelak akan menjadi alat bagi pembebasan yang dimaksudkan (ps. 1-2).
- 2. Atas tindakan apa, dan dengan cara apa, Haman si orang Amalek berhasil mendapatkan perintah untuk memusnahkan semua orang Yahudi (ps. 3).
- 3. Ketakutan besar yang dialami orang Yahudi, terutama para pembela negeri mereka, setelah mengetahui perintah tersebut (ps. 4).
- 4. Digagalkannya rencana Haman secara khusus atas nyawa Mordekhai (ps. 5-7).
- 5. Digagalkannya rencana Haman secara umum atas orang Yahudi (ps. 8).
- 6. Tindakan yang diambil untuk mengabadikan ingatan akan peristiwa itu (ps. 9-10).
- Seluruh cerita ini meneguhkan kebenaran perkataan sang pemazmur, orang fasik merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan menggertakkan giginya terhadap dia; Tuhan menertawakan orang fasik itu, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat (Mzm. 37:12-13).
Jerusalem: Ester (Pendahuluan Kitab) KITAB-KITAB TOBIT, YUDIT DAN ESTER
PENGANTAR
Dalam terjemahan Latin, Vulgata, tiga kitab, yakni Tobit (Latin:Tobit), Yudit dan Ester ditentukan sesuda...
KITAB-KITAB TOBIT, YUDIT DAN ESTER
PENGANTAR
Dalam terjemahan Latin, Vulgata, tiga kitab, yakni Tobit (Latin:Tobit), Yudit dan Ester ditentukan sesudah kitab-kitab sejarah. Beberapa naskah penting yang memuat terjemahan Yunani (Septuaginta) mengikuti urutan yang sama. Tetapi naskah-naskah Yunani lain menempatkan kitab-kitab itu sesudah kitab-kitab Kebijaksanaan (Hikmat). Ketiga kitab tersebut merupakan sebuah kelompok kecil yang ada banyak ciri khas padanya.
1. TEKS ketiga kitab itu adalah kurang pasti dan kurang terjamin. Kitab Tobit aslinya ditulis dalam bahasa Semit (Ibrani atau Aram). Tetapi teks asli itu sudah hilang Hieronimus menterjemahkan sebuah teks yang memakai bahasa "Khaldea" (Aram) dan terjemahan ini tercantum dalam Vulgata. Tetapi teks yang dipakai Hieronimus untuk menterjemahkannya itu juga tidak kita miliki lagi. Tetapi dalam sebuah gua didekat Qumran ditemukan kembali beberapa kepingan dari empat naskah kitab Tobit yang memakai bahasa Aram dan dari satu naskah yang memakai bahasa Ibrani. Terjemahan Yunani, Siria dan Latin masing-masing mewakili satu dari empat resensi yang tersedia (resensi = teks kitab yang pada umumnya sama, tetapi dengan perbedaan lebih kurang besar). Dua dari keempat resensi adalah paling penting. Yang satu terdapat dalam naskah (kodeks) Vaticanus (B) serta naskah Alexandrianus (A) dan yang lain tersimpan dalam naskah (kodeks) Sinaiticus (S) serta dalam terjemahan Latin kuno. Resensi yang kedua inilah yang sesuai dengan teks yang terdapat dalam kepingan-kepingan dari naskah-naskah yang diketemukan di Qumran. Maka resensi inilah yang nampaknya paling tua usianya. Terjemahan kami uji (pada umumnya) menuruti resensi yang terdapat dalam naskah S.
Teks Ibrani asli dari kitab Yudit juga hilang. Memang dalam abad-abad pertengahan beredarlah beberapa teks dalam bahasa Ibrani. Tetapi boleh disangsikan apakah teks itu betul-betul teks Ibrani yang asli. Ada tiga teks Yudit dalam bahasa Yunani yang cukup berbeda satu sama lain. Selebihnya terjemahan Latin (Vulgata) juga menyajikan sebuah teks yang berbeda dengan semua teks Yunani. Rupa-rupanya Hieronimus hanya memperbaiki suatu terjemahan Latin kuno berdasarkan sebuah parafrase Yudit yang memakai bahasa Aram.
Kitab Ester ada dua bentuknya, yaitu bentuk pendek dalam bahasa Ibrani (termasuk Alkitab Ibrani) dan bentuk lebih panjang yang disajikan terjemahan Yunani itu sendiri ada dua resensi. Resensi yang satu umumnya dipakai dan terdapat dalam naskah-naskah Septuaginta. Tetapi beberapa naskah Yunani memuat suatu resensi lain yang agak menyimpang dan dikerjakan oleh Lusianus dari Antiokhia. Terjemahan Yunani menambah beberapa bagian pada kitan Ester Ibrani, yakni mimpi Mordekhai yang ditempatkan paling dahulu dan tafsiran mimpi itu yang terdapat sesudah Tob 10:3; dua maklumat raja Ahasyweros yang ditempatkan sesudah Tob 3:13 dan Tob 8:12; doa Mordekhai dan doa Ester yang ditaruh sesudah Tob 4:17; suatu ceritera lebih panjang mengenai Ester yang menghadap raja Ahasyweros ditempatkan sesudah Tob 5:1(2) dan mengganti teks Ibrani: suatu kata penutup mengenai dikerjakan terjemahan Yunani ditaruh pada akhir seluruh kitab. Hieronimus menterjemahkan tambahan-tambahan itu, tetapi semua ditempatkan pada akhir terjemahannya yang menurut naskah Ibrani (Vulg 10:4-16:26). Dalam terjemahan ini teladan Hieronimus dituruti, sehingga semua tambahan Yunani itu terdapat pada akhir terjemahan menurut naskah Ibrani.
2. Ketiga kitab itu baru di zaman belakangan masuk ke dalam DAFTAR KITAB SUCI. Kitab Yudit dan kitab Tobit tidak tercantum dalam Alkitab Ibrani dan tidak diterima sebagai Kitab Suci oleh gereja-gereja Reformasi. Maka kitab-kitab itu disebut "Deuterokanonik" atau, dalam peristilah gereja-gereja reformasi: Apokrip. Baru di zaman para Bapa Gereja kitab-kitab itu umum diterima sebagai kitab-kitab suci dan itupun dengan agak banyak keberatan dari pihak beberapa orang. Namun demikian sejak dahulu kala kitab-kitab itu dibaca dipakai. Karenanya dicantumkan juga dalam daftar resmi kitab-kitab suci, di sebelah barat sejak sinode di Roma (th 382 Mas.) dan di sebelah timur sejak konsili Konstantinopolis "in Trullo" (th 692). Bagian-bagian tambahan pada kitab Ester juga disebut "Deuterokanonik"(Apokrip) dan menempuh sejarah sama dengan sejarah kitab Tobit dan Yudit. Dalam abad pertama tarikh Mas. para rabi Yahudi berselisih pendapat apakah kitab Ester (Ibrani) termasuk Kitab Suci atau tidak. Tetapi kemudian dari itu kitab itu sangat dihargai oleh orang-orang Yahudi.
3. GAYA SASTERA ketiga kitab itu pada umumnya sama juga. Baik sejarah maupun ilmu bumi diperlakukan dengan bebas sekali. Menurut kitab Tobit, maka Tobit ayah Tobia, di masa mudanya masih mengalami terpecahnya kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (th 931, Tob 1:4); ia diangkat ke pembuangan bersama suku Naftali (th 734, Tob 1:5, 10) dan anaknya. Tobia, baru meninggal setelah kota Ninive hancur (th 612, Tob 14:15); seluruhnya 300 tahun lebih. Kitab Tobit menyebut Sanherib sebagai pengganti langsung raja Salmaneser, Tob 1:15, dengan tidak berkata apa-apa tentang raja Sargon yang mengganti Salmaneser. Jarak antara kota Ragai yang terletak dipegunungan dan kota Ekbatana yang letaknya di tengah dataran, menurut Tob 5:6 adalah dua hari perjalanan jauhnya, padahal kedua kota itu terpisah dengan jarak 300 km dan selebihnya kota Ekbatana, yang terletak di ketinggian 2000 m lebih tinggi dari Ragai. Unsur-unsur historis Kitab Ester memang lebih tepat. Keterangan-keterangan mengenai kota susan cukup kena. Demikianpun halnya dengan apa yang diceriterakan mengenai beberapa adat Persia. Raja Ahasyweros dengan nama Yunaninya Kserkses cukup dikenal.
Wataknya seperti digambarkan kitab Ester cocok dengan apa yang dikatakan Herodotor tentang raja itu. Akan tetapi penetapan yang bermaksud membinasakan orang-orang Yahudi dan ditandatangani raja Ahasyweros kurang sesuai dengan politik toleran wangsa Akhemedes. Dan apa yang sama sekali tidak masuk akan ialah: Raja mengizinkan bawahan-bawahannya sendiri dimusnahkan; dan 75.000 orang Persia membiarkan dirinya dibunuh tanpa perlawanan. Di waktu peristiwa yang diceriterakan Ester terjadi permaisuri raja Persia sesungguhnya bernama Amestris dan ilmu sejarah tidak tahu-menahu tentang seorang permaisuri yang bernama Wasti atau Ester. Seandainya Mordekhai benar-benar diangkat ke pembuangan di zaman raja Nebukadnezar, Est 2:6, maka di masa pemerintahan Ahasyweros ia berumur lebih kurang 150 tahun.
Khususnya kitab Yudit ternyata tidak menghiraukan sejarah atau ilmu bumi. Peristiwa yang diceriterakan terjadi di zaman pemerintahan "Nebukadnezar" yang merajai orang-orang Asyur di Ninive, Ydt 1:1, padahal Nebukadnezar sesungguhnya raja Babel waktu Ninive sudah dimusnahkan oleh ayah Nebukadnezar, yaitu Nabopolasar, Selebihnya kembalinya Israel dari pembuangan di zaman pemerintahan Koresy, raja Persia, dikisahkan sebagai suatu kejadian di masa yang lampau, Ydt 4:3; 5:19. Nama Holofernes dan Bagoas memang nama-nama Persia, tetapi ada juga beberapa ayat dalam kitab Yudit yang dengan jelas menyinggung adat-istiadat Yunani, Ydt 3:7-8; 15:13. Jalan yang ditempuh tentara Holofernes, Ydt 2:21-28, menjadi suatu teka-teki bagi para ahli ilmu bumi. Setelah Holofernes tiba di daerah Samaria, diharapkan ceritera menjadi lebih tepat. Dan memanglah nama-nama tempat menjadi banyak. Akan tetapi kebanyakan nama tidak dikenal dan bunyinya agak aneh sedikit. Bahkan letaknya kota Betulia yang menjadi pusat ceritera tidak dapat ditentukan tempatnya di peta negeri Palestina, walaupun keterangan-keterangan yang diberi Yudit tentang tempat letaknya kota itu nampak sangat terperinci.
Sikap yang tidak ambil pusing mengenai sejarah dan ilmu bumi itu hanya dapat dipahami kalau para pengarang Kitab Tobit, Ester dan Yudit memang tidak bermaksud menulis buku sejarah, tetapi sesuatu yang lain. Mungkin titik-tolak ceritera-ceritera mereka adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh pernah terjadi. Tetapi mustahillah menentukan peristiwa-peristiwa manakah yang menjadi landasan ceritera-ceritera itu. Ceritera-ceritera sendiri memang diciptakan oleh pengarang-pengarang dengan maksud menyampaikan suatu pengajaran kepada para pembaca. Maka pentinglah menentukan maksud masing-masing kitab dan menyimpulkan ajarannya.
Adapun KITAB TOBIT adalah sebuah kisah keluarga. Tobit yang bertempat tinggal di kota Ninive adalah seorang suku Naftali yang masuk pembuangan. Ia seorang saleh yang taat hukum Taurat dan suka beramal, tetapi telah menjadi buta. Di kota Ekbatana ada seseorang sanak-saudara Tobit yang bernama Raguel dan mempunyai seorang anak perempuan. Sara namanya. Sara mengalami bahwa tujuh suaminya berturut-turut mati terbunuh oleh setan Asmodeus pada malam hari mereka menikah dengan Sara. Baik Tobit maupun Sara memanjatkan doa kepada Allah, supaya Ia sudi mencabut nyawa mereka. Tetapi Allah membuat kemalangan mereka menjadi sukacita besar. Allah mengutus malaikat Rafael yang mengantar Tobia , anak Tobit, kepada Raguel. Tobia diberiNya Sara sebagai isteri dan obat yang dapat menyembuhkan mata Tobit, ayahnya. Kisah yang mengharukan itu mau membina. Perhatian khusus diberikan kepada kewajiban mengubur mayat dan memberi sedekah; dengan cara menarik peranan keluarga yang baik terungkap dan keluhuran perkawinan ditonjolkan perkawinan sebagai yang diidam-idamkan kitab Tobit sesungguhnya perkawinan Kristen sebelum agama Kristen di bumi. Malaikat Rafael sebagai alat Allah baik menyingkapkan maupun menyembunyikan karya Allah. Kitab Tobit mengajak para pembaca, supaya melihat penyelenggaraan ilahi yang berkarya dalam hidup sehari-hari dan betapa dekatnya Allah yang penuh belas kasihan. Kitab Tobit berlatar belakang beberapa kisah dan ceritera yang terdapat dalam Kitab Suci. Ceritera-ceritera mengenai para bapa bangsa yang terdapat dalam Kejadian cukup besar pengaruhnya. Ditinjau dari segi seni sastra menduduki tempat antara kitab Ayub dan Ester, antara Zakharia dan Daniel. Kecuali itu ada persamaan antara Tobit dan suatu karangan yang di zaman dahulu sangat laris dan yang berjudul: Hikmat Akhikar, bdk Tob 1:22; 2:10; 11:18; 14:10. Karangan itu sekurang-kurangnya dalam abad ke lima seb. Mas. sudah dikenal. Kitab Tobit sendiri agaknya ditulis di sekitar th 200 seb. Mas. dan barangkali di Palestina dengan memakai bahasa Aram.
KITAB YUDIT menceritakan bagaimana umat terpilih mengalahkan seorang musuh berkat tindakan seorang perempuan. Bangsa yahudi yang kerdil berhadapan dengan tentara raksasa yang dikepalai Holofernes. Panglima raja Nebukadnezar itu telah diberi tugas menaklukan seluruh bumi kepada raja Nubukadnezar dan memusnahkan setiap ibadah kecuali ibadah kepada raja. Orang-orang Yahudi terkepung di kota Betulia. Mereka menderita kekurangan air dan hampir mau menyerah saja. Pada saat yang gawat itu muncullah Yudit. Ia seorang janda yang cantik, bijak, saleh dan teguh hati. Berturut-turut Yudit dapat mengalahkan ketawanan hati saudara- saudara sebangsa dan bala tentara Asyur. Para pemimpin kota Betulia ditegurnya karena kurang percaya kepada Allah. Lalu ia berdoa, bersoleh, meninggalkan kota Betulia dan membiarkan dirinya dibawa menghadap panglima musuh, Holofernes. Dengan cerdiknya Yudit berhasil membujuk dan menipu panglima itu. Ketika seorang diri dengan pejuang yang berpengalaman tetapi kini mabuk itu Yudit memenggal kepada Holofernes. Tentara Asyur mendapat tahu tentang kejadian itu, lalu terkejut dan gugup melarikan diri. Orang-orang Yahudi habis-habis merampasi perkemahan tentara musuh. Mereka memuji-muji Yudit dan pergi ke Yerusalem untuk mengadakan ibadah syukur atas kemenangan yang gemilang itu.
Agaknya pengarang Yudit dengan sengaja mengacaukan peristiwa-peristiwa sejarah, agar supaya pembaca kisahnya jangan terpikat pada konteks historis, tetapi memusatkan perhatiannya kepada drama keagamaan yang dipentaskah dan pada akhir drama itu. Susunan kisah sangat halus dan lancar. Contoh-contoh seni sastera yang serupa ditemukan dalam sastera Apokaliptik. Holofernes, hamba Nebukadnezar, melambangkan kejahatan: Yudit, yang namanya berarti "Wanita Yahudi", mengibaratkan pihak Allah yang disamakan dengan pihak umat-Nya. Umat Allah dimusnahkan, tetapi Allah mengurniakan kemenangan dengan perantaraan seorang perempuan yang lemah. Maka umat kudus kembali ke Yerusalem. Ada kesamaan antara kitab Yudit dan Daniel, Yeheskiel dan Yoel. Peristiwa terjadi di dataran Yizree, dekat megindo atau Harmagedon, tempat menurut kitab Wahyu akan berlangsung pertempuran eskatologis, Why 16:16. Kemenangan yang diperoleh Yudit merupakan balasan atas doanya serta ketelitiannya dlam melakukan hukum-hukum tentang ketahiran seperti yang ditentukan hukum Taurat. Namun demikian kisah Yudit mempunyai ciri universil. Sebab keselamatan Yerusalem terjamin oleh apa yang terjadi di Betulia yang terletak di daerah orang-orang Samaria yang dimusuhi oleh kalangan para saleh dalam agama Yahudi yang picik. Makna keagamaan bentrokan yang dikisahkan Yudit dengan tepat diungkapkan oleh Ahior, orang Amon, Ydt 5:5-21, yang akhirnya bertobat kepada Allah sejati, Ydt 14:5-10. Kitab Yudit dikarang di Palestina, kira-kira di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. waktu semangat kebangsaan dan keagamaan hangat-hangat sebagai hasil pemberontakan para Makabe.
Sama seperti kitab Yudit, demikian KITAB ESTER menceriterakan bagaimana umat terpilih dibebaskan dari musuhnya dengan perantaraan seorang perempuan. Orang- orang Yahudi yang tinggal di negeri Persia terancam kebinasaan karena dibenci oleh perdana menteri. Haman, yang sangat berkuasa. Mereka diselamatkan oleh tindakan Ester, seorang pemudi sebangsa yang telah menjadi permaisuri di istana raja dan yang dibimbing oleh pamannya, Mordekhai. Tindakan Ester berhasil baik, lalu keadaan terbalik: Haman disulakan. Moedekhai menjadi perdana menteri dan orang-orang Yahudi menumpas musuh-musuh mereka. Sebagai kenangan akan kemenangan itu ditetapkan hari raya Purim yang setiap tahun wajib dirayakan orang-orang Yahudi.
Kisah kitab Ester menggambarkan kebenciannya yang dialami orang-orang Yahudi di zaman dahulu oleh karena ciri khas cara hidup mereka yang bertentangan dengan hukum raja (bandingkan penganiayaan yang dialami bangsa Yahudi di zaman Antiokhus IV Epifanes). Rasa kebangsaan yang tebal dibangkitkan pada bangsa yahudi justru sebagai suatu cara untuk membela diri. Rasa kebangsaan tebal yang tampil dalam kitab Ester belum tahu akan sikap hati yang dibawa oleh wahyu Kristus, Kecuali itu, gaya sastera kitab itu perlu diperhatikan juga. Persekongkolan dan tipu muslihat dalam mahligai raja serta pembunuhan masal yang diceriterakan Ester hanya bermaksud secara dramatis mengungkapkan suatu ajaran yang tidak lain kecuali ajaran keagamaan. Tindakan Mordekhai dan Ester yang membawa keselamatan itu mengingatkan kepada kisah mengenai Daniel dan lebih- lebih lagi kepada kisah tentang Yusuf, yang dianiaya lalu dimuliakan demi keselamatan bangsanya. Dalam kisah mengenai Yusuf sebagaimana tercantum dalam Kejadian itu Allah tidak memperlihatkan kekuasaanNya. Namun Dialah yang memimpin jalannya peristiwa. Dan demikianpun halnya dalam kitab Ester yang berbahasa Ibrani. Kitab itu bahkan tidak sampai menyebut nama Allah. namun penyelenggaraan ilahi membimbing babak demi babak drama umat Israel. Para pelaku drama itu insaf akan bimbingan itu. Mereka dengan sebulat hati percaya pada Allah yang melaksanakan rencana penyelamatanNya, kalaupun manusia yang menjadi pelaksana rencana itu kerap kali mengecewakan. Sehubungan dengan itu perlu dibaca Est 4:13-17, yang menjadi kunci seluruh kitab. Bagian-bagian tambahan yang ditulis dalam bahasa Yunani mempunyai ciri keagamaan yang lebih nyata. Tetapi tambahan- tambahan ini hanya dengan jelas mengungkapkan apa yang disarankan oleh pengarang Ibrani. Terjemahan Yunani kitab Ester sudah ada dalam thun 144 (atau 78) seb. Mas. Terjemahan itu dikirim kepada orang-orang Yahudi di negeri Mesir dengan maksud memperkenalkan hari raya Purim (Ester tambahan Yunani pada akhir kitab). Kitab Ester Ibrani dikarang lebih dahulu. Menurut 2Mak 15:36 orang-orang Yahudi di Palestina sudah merayakan "Hari(raya) Mordekhai" dalam tahun 160 seb. Mas. Ini membuktikan bahwa kisah Ester dan barangkali kitabnya sudah dikenal pada waktu itu. Maka kitab Ester mungkin dikarang di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. bagaimana hubungan sebenarnya antara kitab Ester dan Hari raya Purim tidak jelas. Sebab Est 9:20-32 barangkali suatu tambahan, oleh karena gaya bahasa bagian ini berbeda dengan gaya bahasa seluruh kitab. Asal asul hari raya Purim juga tidak jelas. Mungkin kitab Ester baru di kemudian hari dihubungkan dengan hari raya itu (2Mak 15:36 tidak menyebut hari raya Purim, tetapi Hari Mordekhai) dengan maksud memberi dasar historis kepada perayaan itu.
KITAB-KITAB MAKABE
PENGANTAR
Kedua kitab Makabe tidak termasuk ke dalam daftar kitab-kitab suci Ibrani. tetapi oleh Gereja katolik diterima sebagai Kitab Suci (Deuterokanonik), sedangkan gereja-gereja Reformasi tidak menerimanya. isi kedua kitab Makabe ialah: Perjuangan bangsa Yahudi melawan pemerintah wangsa Seleukos di Siria guna merbut kemerdekaan di bidang agama dan politik. Jahudi kedua kitab itu (Makabe) berasal dari gelar "Makabe" yang diberikan kepada pahlawan utama dalam sejarah perjuangan tsb, yaitu Yudas, 1Mak 2:4, lalu kepada saudara-saudaranya.
Pendahuluan KITAB MAKABE YANG PERTAMA, 1-2, memperkenalkan lawan-lawan yang berhadapan maka dalam sejarah yang mau diceritakan, yaitu, di satu pihak kebudayaan Yunani yang bersemarak dan jaya, yang didukung oleh sekelompok orang Yahudi; di lain pihak perlawanan dari pihak kesadaran kebangsaan Yahudi yang taat kepada hukum Taurat dan menjunjung tinggi Bait Allah. Dengan perkataan lain: yang berhadapan maka ialah: di satu pihak Antiokhus, Epifanes, raja Siria, yang mencerminkan Bait Allah dan dengan mengamuk menganiaya agama Yahudi: di lain pihak Matatias yang mengumumkan perang suci.
Bagian inti IMakabe terdiri atas tiga bagian. Masing-masing bagian mengisahkan usaha seorang dari ketiga anak laki-laki Matatias yang berturut-turut memimpin perjuangan bangsa Yahudi. Yudas Makabe (yhn 166-160 seb. Mas), Mak 3:1-9:22, berkali-kali berhasil mengalahkan panglima-panglima yang diutus raja Antiokhus. Yudas dapat mentahirkan Bait Allah dan memperoleh bagi bangsanya kebebasan untuk hidup sesuai dengan adat-istiadat nenek moyang. Di mana pemerintahan raja Demetrius I kegiatan Yudas terlambat oleh persekongkolan Imam Besar, Alkimus. Tetapi Yudas tetap jaya dalam perang. Panglima Nikanor yang bermaksud menghancurkan Bait Allah dapat dikalahkan dan ditewaskan oleh Yudas. Dengan maksud memperkuat kedudukannya terhadap Siria. Yudas berusaha bersekutu dengan orang-orang Roma. Akhirnya Yudas sendiri gugur di medan perang ia diganti adiknya. Yonatan (thn 160-142 seb. Mas.). Mak 9:23-12:53. Sekarang catur politik diutamakan dari perang. Dengan cerdik Yonatan memanfaatkan perebutan takhta yang pada waktu itu timbul di negara Siria. Oleh raja saingan, yaitu Aleksander Balas, Yonatan diangkat menjadi Imam Besar. Pengantar itu kemudian disahkan oleh raja Demetrius II, lalu diteguhkan juga oleh raja Antiokhus VI. Yonatan berusaha perjanjian persahabatan dengan bangsa Sparta dan Roma. wilayah kekuasaannya semakin meluas. Waktu perdamaian di dalam negeri nampaknya terjamin, Yonatan secara kotor dibunuh oleh Trifon yang juga membunuh Antiokhus VI yang masih muda. Kakak Yonatan, yaitu Simon (thn 142-134 seb. Mas.), mak 13:1-16:24 berpihak kepada raja Demetrius II yang baru saja berhasil merebut kekuasaan sebagai raja Siria. Maka oleh Demetrius II dankemudian oleh Antiokhus VII diakui sebagai Imam Besar, panglima dan penguasa orang-orang Yahudi. Dengan demikian otonomi politik sudah terwujud. Gelar-gelar tsb. semua disahkan oleh sebuah penetapan rakyat Yahudi. Perjanjian persahabatan dengan orang-orang Roma dibaharui lagi. Sudah tibalah masa perdamaian dan kesejahteraan. Tetapi raja Antiokhus VII berubah haluan dan mulai memerangi orang-orang Yahudi. Simon beserta dua anaknya dibunuh oleh menantunya sendiri yang menyangka tindakannya itu berkenan di hati raja.
Kisah kitab I Makabe meliputi 40 tahun lamanya, mulai dengan awal pemerintahan raja Antiokhus Epifanes, thn 175 seb. Mas., sampai dengan kematian Simon serta permulaan masa pemerintahan Yohanes Hirkanus, thn 134 seb. Mas. Kitab I Makabe ditulis dalam bahasa Ibrani, tetapi sampai kepada kita dalam terjemahan Yunaninya. Penulis adalah seorang Yahudi tinggal di Palestina. Ia mengarang karyanya sesudah thn 134 seb. Mas., tetapi sebelum Yerusalem direbut oleh Pompeius, panglima Roma, dalam thn 64 seb. Mas. bagaimana penutup kitab, 1Mak 16:23-24, menyarankan, bahwa 1 Makabe selesai dikarang pada akhir masa pemerintahan Yohanes hirkanus, bahkan mungkin sekali segera setelah Yohanes Hirkus meninggal, di sekitar thn 100 seb. Mas. Sebagai dokumen sejarah kitab 1 Makabe sangat berharga untuk mengenal zaman itu. Hanya perlu diperhatikan jenis sasteranya yang meniru gaya sastera tawarikh Israel dahulu. Pun pula maksud pengarang perlu diperhatikan.
Sebab, walaupun penulis 1 Makabe dengan panjang lebar menceritakan peperangan dan catur politik, maupun tujuan utamanya ialah mengisahkan sejarah keagamaan. Kemalangan yang menimpa bangsanya diartikan oleh penulis sebagai hukuman atas dosa; kemenangan-kemenangan para pejuang Yahudi selalu dihubungkan dengan Allah yang kemenangan-kemenangan mereka.
Kitab 1 Makabe dikarang oleh seorang Yahudi yang sungguh-sungguh dijiwai Imannya dan yakin, bahwa justru Iman itulah yang menjadi taruhan dalam bentrok antara pengaruh peradaban kafir dan adat-istiadat nenek moyang Yahudi. Penulis sangat memusuhi kebudayaan Yunani dan mengagumi pahlwan-pahlawan yang berjuang demi untuk hukum Taurat dan Bait Allah, lalu berhasil memperoleh kebebasan agama bagi bangsa mereka dan juga kemerdekaan politiknya. Pengarang 1 Makabe mencatat peristiwa-peristiwa perang yang menyelamatkan agama dan bangsa Yahudi sebagai penerus Wahyu Ilahi.
KITAB MAKABE YANG KEDUA bukanlah lanjutan 1 Makabe. Isi 2 Makabe memang sebagiannya sejalan dengan isi 1 Makabe. Tetapi ia mulai sejarahnya lebih dahulu dengan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir pemerintahan raja. Seleukus IV, pendahulu Antiokhus Epifanes. Dan hanya melanjutkan kisahnya sampai kekalahan panglima Nikanor sebelum Yudas Makabe tewas di medan perang. Dengan demikian kisah 2Makabe hanya meliputi lima belas tahun dari kisah yang disajikan 1 Makabe, yaitu tahun-tahun yang diuraikan dalam 1 Makabe 1-7.
Jenis sastera 2 Makabe sangat berbeda dengan jenis sastera 1 Makabe, 2 Makabe langsung ditulis dalam bahasa Yunani dan memperkenalkan diri sebagai ringkasan sebuah karya besar yang dikarang oleh seseorang yang bernama Yason dari Kirene, 2Makabe 2:19-32. Di muka kisahnya pengarang 2 Makabe menempatkan dua pucuk surat yang dikirim orang-orang Yahudi di Yerusalem kepada orang-orang Yahudi di perantauan, 2Makabe 1:1-2:18. Gaya bahasa 2 Makabe meniru-niru sastrawan Yunani di zaman itu, tetapi peniruannya kurang berhasil. Bahasa 2 Makabe kadang- kadang berlebih-lebihan. Gaya bahasa semacam itu lebih sesuai dengan ahli pidato dari pada dengan seorang penulis sejarah. Namun demikian ternyata, bahwa penulis 2 Makabe melebihi pengarang 1 Makabe dalam hal pengetahuan tentang lembaga- lembaga yunani dan tokoh-tokoh yang berperan di zaman yang diceritakannya.
Tujuan pengarang 2 Makabe ialah menyenangkan dan membina, 2Mak 2:25; 15:39, melalui ceritera-ceritera mengenai perang kemerdekaan yang dipimpin oleh Yudas Makabe, didukung oleh penampakan-penampakan sorgawi dan dimenangkan berkat Allah yang turun tangan dalam jalannya peristiwa-peristiwa, 2Mak 2:19-22. Bahkan penganiayaan diartikan oleh penulis sebagai bukti belas-kasihan Tuhan yang memperbaiki umat Israel sebelum dosanya memuncak tak tersembuhkan, 2Mak 6;12- 17. Pengarang 2 Makabe menulis kitabnya bagi orang-orang yahudi di Aleksandria. Maksudnya membangkitkan semangat persatuan mereka dengan saudara-saudara di Palestina. Ia ingin menarik perhatian mereka kepada hal-ihwal Bait Allah yang merupakan pusat hidup keagamaan menurut hukum Taurat, tetapi menjadi rasa benci bangsa-bangsa lain.
Maksud-tujuan penulis 2 Makabe itu nampak dalam susunan kitabnya. Setelah disajikan kisah mengenai Heliodorus,2Mak 3:1-40, dengan maksud menekankan kesucian Bait Allah yang tidak terganggu-gugat, maka bagian pertama kitab, 2 Mak 4:1-10:8, Berakhir dengan kematian ngeri pengejaran yang mencerminkan Bait Allah, yaitu raja Antiokhus Epifanes, dan ditetapkannya hari raya Pentahiran Bait Allah. bagian kedua, 2Mak 10:9-15:36juga berakhir dengan kematian seorang musuh Bait Allah yang lain, yakni Nikanor yang mengancam Bait Allah, dan ditetapkannya hari peringatan yang lain. Sesuai dengan maksud-tujuan itupun kedua puncuk surat yang ditempatkan pada bagian permulaan kitab 2Mak 1:1- 2:18. Kedua surat itu merupajan suatu undangan yang dialamatkan kepada orang- orang Yahudi di Mesir, supaya mereka turut merayakan hari raya Pentahiran Bait Allah (atau: Pentahbisan Bait Allah).
Oleh karena peristiwa terakhir yang dilaporkan ialah kematian Nikanor, maka karya Yason dari Kirene yang diikhtisarkan 2 Makabe, agaknya dikarang tidak lama sesudah thn 160 seb. Mas. Andaikan peringkas sendiri - hal ini memang diperdebatkan para ahli - menempatkan kedua surat pembukaan di muka ringkasan karya Yason sebagai surat pengantar, maka tahun penyusunan ikhtisar itu (ialah 2 Makabe) dapat ditanggalkan pada thn 124 seb. Mas,. sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam 2Mak 1:10a.
Nilai historis 2 Makabe jangan terlalu diremehkan. Sudah barang tentu pembuat ikhtisar (atau seorang redaktur) tidak segan menampung juga cerita-cerita apokrip, seperti yang terdapat dalam 2Mak 1:10b-2:18, dan tidak segan pula penyalin cerita-cerita ajaib seperti cerita tentang Heliodorus, 3, dan cerita- cerita hebat-hebat seperti kisah mengenai kemartiran Eleazar, 2Mak 6:18-31, dan ketujuh orang bersaudara serta ibu mereka, 9, yang semua dipetik dari karya Yason. Cerita-cerita itu memang mendukung (dan dimaksudkan demikian juga) pikiran-pikiran keagamaan yang mau dipaparkan penulis 2 Makabe. Namun demikian, menurut garis-garis besarnya, kisah 2 Makabe sesuai dengan 1 Makabe. Kesesuaian itu menjamin nilai historis kejadian-kejadian yang diceritakan oleh kedua sumber yang tidak bergantung satu sama lain itu. Ada satu peristiwa penting dimana 2 Makabe tidak sesuai dengan 1 Makabe, 1Mak 6:1-13 menempatkan pentahiran Bait Allah sebelum kematian Antiokhus Epifanes, sedangkan 2Mak 9:1-29 menempatkan peristiwa itu sesudah kematian raja itu. Tetapi dalam hal ini 2 Makabe ternyata benar dan 1 Makabe keliru. Baru-baru ini ditemukan sebuah papan yang ditulisi khronologi kerajaan "Babel" dan papan itu membenarkan 2 Makabe. Menurut papan itu Antiokhus Epifanes meninggal dalam bulan Oktober-Nopember thn 164 seb. Mas., jadi sebelum pentahiran Bait Allah yang diadakan dalam bulan Desember. Mengenai peristiwa-peristiwa yang hanya dikisahkan dalam 2 Makabe, tidak perlu diragukan keterangan-keterangan yang tercantum dalam bab 4 tentang tahun-tahun yang mendahului perampasan Bait Allah oleh Antiokhus Epifanes. Lebih-lebih peringkas (2 Makabe) dari pada Yason dari Kirene yang bertanggung jawab atas dicampur- adukkannya beberapa hal, yaitu: Penulis memiliki sepucuk surat dari Antiokhus V, 2Mak 11:22-26, lalu dalam 2Mak 11:1-12:9 dideretkannya beberapa surat lain dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman pemerintahan Antiokhus Epifanes, yang seharusnya ditempatkan dalam bab 8-9.
Sehubungan dengan ajarannya, 2 Makabe penting oleh karena membenarkan kepercayaan bahwa orang-orang mati akan dibangkitkan, 2Mak 7:9; 14:46; bahwa orang mendapat balasan di alam baka, 2Mak 6:26, dan bahwa arwah orang yang meninggal dapat didoakan, 2Mak 12:41-46. Iapun membicarakan jasa para martir, 2Mak 6:18-7:41, dan pengantaraan orang kudus, 2Mak 15:12-16. Semua hal itu tidak diuraikan dengan jelas dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Dan justru itulah yang membenarkan Gereja Katolik dalam memasukkan 2 Makabe ke dalam daftar kitab-kitab Suci.
Sistem urutan dalam waktu (khronologi) yang dituruti masing-masing kitab Makabe dapat kita kenal dengan lebih baik berkat papan tsb. yang baru-baru ini ditemukan. Papan (kepingan-kepingan) itu ditulis dengan huruf-huruf yang berupa paku. Ia memuat sebagai dari daftar raja-raja wangsa Seleukus. Atas dasar itu dapat ditetapkan tahun mangkatnya Antiokhus Epifanes. Menjadi jelas pula, bahwa 1 Makabe menuruti tarikh Makedonia (Yunani) yang mulai dengan bulan Oktober thn 312 seb. Mas. Sebaliknya 2 Makabe menuruti tarikh Yahudi yang sangat berdekatan dengan tarikh Babel. Tarikh ini mulai dengan bulan Nisan (3 April) thn 311 seb. Mas. Tetapi ada dua kekecualian: dalam 1 Makabe peristiwa-peristiwa yang menyangkut Bait Allah dan sejarah bangsa Yahudi ditanggalkan menurut tarikh Babel-Yahudi (1Mak 1:54; 2:70; 4:52; 9:3, 54; 10:21; 13:41, 51; 14:27; 16:14); sebaliknya, surat-surat yangdikutip 2Mak 11 ditanggalkan menurut tarikh Makedonia dan hal ini memang masuk akan juga.
Adapun TEKS kedua kitab Makabe tersimpan dalam tiga buah naskah yang bertuliskan huruf-huruf besar (unciales), yaitu kodeks Sinaiticus, kodeks Alexandrinus dan kodeks Venetus. Ada pula l.k. tiga puluh naskah yang bertuliskan huruf-huruf kecil/miring (minusculae). hanya sayanglah, dalam kodeks Sinaiticus (yang paling baik) bagian yang memuat 2 Makabe sudah hilang lenyap. Naskah-naskah minusculae yang memuat teks-saduran Lukianus (thn 300 Mas) kadang-kadang menyajikan sebuah teks yang lebih tua dari pada yang terdapat dalam naskah-naskah besar tsb. Teks itu sama dengan yang terdapat dalam Antiquitates Judaicae, ialah sebuah karya sejarahnya Yahudi, Flanius Yosefus. Flavius Yosefus biasanya mengikuti sejarah sebagaimana disajikan 1 Makabe dan sama sekali tidak memperhatikan cerita-cerita yang tercantum dalam 2 Makabe. Adapun terjemahan Latin kuno (Vetus Latina) berlatar-belakang sebuah teks Yunani yang hilang juga. Kerap kali teks terjemahan Latin itu lebih baik dari pada teks Yunani yang terdapat dalam naskah-naskah Yunani yang kita kenal. Terjemahan Latin (Vulgata) bukan karya Hieronimus, tetapi karya seorang lain, sebab Hieronimus tidak menganggap kitab- kitab Makabe sebagai Kitab Suci.
KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN
PENGANTAR
Lima kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu kitab Ayub, Amsal, Pengkhotbah, Bin Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo, diberi judul bersama: "Kitab-kitab Kebijaksanaan" atrau "Kitab-kitab Hikmat". Kitab Mazmur dan Kidung Agung secara kurang tepat dicantumkan dalam kelompok kitab-kitab ini. Kitab-kitab Kebijaksanaan itu mencerminkan suatu alam pikiran yang juga dijumpai dalam bagian-bagian tertentu Kitab Tobit dan kitab Barukh.
Kesusasteraan "Hikmat" semacam itu berkembang di seluruh dunia Timur dahulu. Bangsa Mesir sepanjang sejarahnya menghasilkan karya-karya kebijaksanaan. Sejak zaman bangsa Sumer di negeri Mesopotamia ada pengarang yang menciptakan pepatah- pepatah, dongeng-dongeng dan juga syair-syair yang bertemakan penderitaan dan yang boleh dibandingkan dengan kitab Ayub. Aliran kebijaksanaan yang berkembang di Mesopotamia itu juga menyusup ke negeri Kanaan. Di Ras Syamra ditemukan kembali tulisan-tulisan kebijaksanaan yang memakai bahasa Akkad. Dari kalangan- kalangan yang berbahasa Aram berasallah "Hikmat Ahikar", yang dikarang di negeri Asyur, lalu diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa kuno. Maka kebijaksanaan itu mempunyai sifat internasional. Ini kurang memperhatikan masalah keagamaan, lebih bertemakan hal keduniawian. Diterangkan olehnya nasib perorangan, tetapi bukan melalui pemikiran ilmu filsafat sesuai dengan kebiasaan orang-oran Yunani, melainkan berdasarkan pelbagai pengalaman. Hikmat itu tidak lain kecuali peri kehidupan yang baik, sebagaimana layak bagi orang yang berpendidikan. Hikmat itu mengajar manusia, bagaimana menyesuaikan diri dengan tata tertib alam semesta dan memberi petunjuk tentang cara orang mencapai kebahagiaan dan mendapat sukses. Tetapi oleh karena tidak senantiasa demikian halnya, maka pengalaman sedih itu membenarkan sikap pesimis dan muram yang diuraikan beberapa karya kebijaksanaan, baik yang digubah di negeri Mesir maupun di negeri Mesopotamia.
Hikmat-kebijaksanaan semacam itu juga dikenal orang-orang Israel. Untuk memuji- muji hikmat raja Salomo, alkitab menegaskan bahwa kebijaksanaan raja itu melebihi kebijaksanaan Bani Timur dan orang-orang Mesir, 1Raj 4:30. Dalam Yer 49:7; Bar 3:22-23; Ob 8, disebelah orang bijak dari negeri Arab dan bangsa Edom. Memang Ayub serta ketiga sahabatnya yang berhikmat, berkediaman di negeri Edom. Pengarang kitab Tobit mengenal "Hikmat Ahikar", sedangkan Ams 22:17-23:11 jelas dan kuat-kuat terpengaruh oleh petuah-petuah Amenemope dari negeri Mesir. Sejumlah mazmur dipertalikan dengan Heman dan Etan, yaitu dua orang bijak dari negeri Kanaan menurut 1Raj 4:31. Kitab Amsal memuat perkataan Agur, Ams 30:1-14, dan perkataan Lemuel, Ams 31:1-9, yang berasal dari Masa, yaitu sebuah suku yang hidup di bagian utara negeri Arab, Kej 25:14.
Tidak mengherankan bahwa karya-karya hikmat pertama yang dikarang di Israel tidak lain kecuali kumpulan-kumpulan sejumlah besar pepatah yang serupa dengan yang lazim di luar Israel. Sebab karya-karya itu berasal dari daerah yang sama. Bagian-bagian tertua dalam kitab Amsam seluruhnya berisikan patokan-patokan kebijaksanaan manusia. Kecuali kitab Bin Sirakh dan kitab Kebijaksanaan Salomo, yang dua-duanya dikarang di kemudian hari, kitab-kitab Kebijaksanaan tidak menyinggung tema-tema yang biasa muncul dalam Perjanjian Lama, yakni: Hukum Taurat, perjanjian pemilihan, keselamatan. Para bijak di Israel tidak menyibukkan diri dengan sejarah atau masa dengan bangsanya. Sama seperti rekan- rekan mereka di daerah Timur mereka memperhatikan nasib manusia perorangan. Hanya mereka merenungkannya dalam terang sorgawi, yaitu dalam cahaya agama Yahwe. Walaupun sama asalnya dan banyak persamaannya dengan karya bangsa-bangsa lain, namun karya para bijak di Israel berbeda secara hakiki. Dan perbedaan yang mengutamakan bijak di Israel dari rekan-rekannya diluar negeri itu semakin jelas dalam perkembangan Wahyu. Hikmat yang diperlawankan dengan kebodohan di Israel menjadi kebenaran, yang lawannya ialah ketidak-benaran atau takwa yang berlawanan dengan kefasikan. Memang hikmat sejati ialah takwa dan takwa tidak lain adalah kesalehan. Kalau hikmat bangsa-bangsa Timur lain boleh dikatakan kemanusiaan, maka hikmat Israelboleh disebut peri kemanusiaan yang bertakwa.
Tetapi mutu keagamaan hikmat itu mekar sedikit demi sedikit. Istilah Ibrani "hokmah" mempunyai banyak arti. Dapat berarti ketangkasan atau keahlian dalam salah satu kejuruan, kebijaksanaan dalam utusan politik, kecerdikan dan malahan kelicikan, "know how" dan ilmu sihir. Hikmat manusiawi dapat dipakai untuk hal- hal yang baik dan yang jahat. Justru karena sifat hikmat yang tidak menentu itu, maka para nabi suka mengecam para bijaksana, seperti misalnya Yes 5:21; 29:14; Yer 8:9. Sifat yang mendua itupun menjadi sebab mengapa begitu lama orang tidak berkata tentang hikmat Allah, walaupun Dialah yang menganugerahkannya kepada manusia dan walaupun di kota Ugarit hikmat sudah dipandang sebagai sifat yang dimiliki ilah utama, yakni El Baru dalam tulisan-tulisan sehabis masa pembuangan dikatakan bahwa hanya Allahlah yang berhikmat, bahwa kebijaksanaan bersifat transenden. Dalam karya penciptaan Allah menusia dapat menatap hikmat itu, tetapi tidak sanggup menyelaminya, Ayb 28:38-39; Sir 1:1-10; 16:24 dst; 42:15- 43:33, dll. Dalam bagian pembukaan kitab Amsal yang panjang, Ams 1-9. Hikmat Allah bertitah sebagai pribadi; Ia berada dalam Allah sejak awal-mulanya dan bergiat bersama denganNya dalam penciptaan, lih terutama Ams 8:22-31. Dalam Ayb 28 ditanyakan bahwa Hikmat itu berbeda dengan Allah, satu-satunya yang tahu di mana Hikmat itu menyembunyikan diri. Tetapi dalam Sir 24 Hikmat itu sendiri menyebut dirinya sebagai yang berasal dari mulut Yang Mahatinggi; Ia bertempat tinggal di sorga, lalu diutus oleh Allah kepada umat Israel. Menurut Keb 7:22-8:1 hikmat itu ialah"pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa" dan "gambar kebaikanNya". Dengan demikian maka hikmat sebagai sifat Allah menjadi terpisah dari padaNya dan mempribadi. Dalam terang kepercayaan. Perjanjian Lama ungkapan-ungkapan yang begitu tajam itu bukan hanya sarana sastera yang memperorangkan sifat ilahi, tetapi dengan tetap mengurung rahasia keterangan-keterangan itu menyiapkan pernyataan tentang adanya diri-diri ilahi. Sama seperti Hikmat itu, demikian Logos yang disebut oleh Yohanes, sekaligus berada di dalam Allah dan di luar. Semua keterangan yang penting itu membenarkan Paulus dalam memberi Kristus gelar "Hikmat Allah", 1Kor 1:24.
Oleh karena para bijaksana terutama sibuk dengan nasib masing-masing manusia, maka masalah pembalasan menjadi persoalan yang mahapenting bagi mereka. Justru di kalangan mereka dan berkat pemikirannya ajaran mengenai pembalasan itu berkembang maju. Dalam bagian-bagian kitab Amsal yang tertua, hikmat, artinya: kelakuan benar, dengan sendirinya menghasilkan kebahagiaan; sedangkan kebodohan, ialah kefasikan, memang membawa kehancuran. Begitulah Allah mengganjar orang yang baik dan menghukum yang jahat. Pendirian yang sama masih terdapat dalam bagian pembukaan kitab Amsal, Keb 3:33-35; 9:6 dan 18. Ajaran itu menjadi dasar pengajaran kebijaksanaan dan berupa kesimpulan yang diambil dari dunia yang dibimbing oleh Allah yang berhikmat dan adil. Ajaran itu dianggap berdasarkan pengalaman. Tetapi justru pengalaman itulah yang sering kali menyangkal benarnya ajaran tersebut. Hal ini secara dramatis diuraikan dalam kitab Ayub, di mana ketiga sabahat Ayub membela pendirian tradisionil itu. Tetapi atas persoalan yang diajukan oleh orang bertakwa yang menderita tidak ada jawaban yang memuaskan hati selama dipertahankannya ajaran tentang pembahasan di dunia. Dalam persoalan itu tidak ada jalan ke luar, kecuali dengan kepercayaan menyerah kepada Allah. Meskipun nadanya berbeda, kitab Pengkhotbah tidak memberi pemecahan persoalan itu secara lain. Juga Pengkhotbah menegaskan bahwa jawaban yang lazim tidak memuaskan. Ia menolak kemungkinan meminta pertanggungan jawab dari Allah atau menuntut kebahagiaan sebagai hak pribadi. Kitab Bin Sirakhpun mempertahankan pendirian yang sama. Yesus bin Sirakh memang memuji kebahagiaan orang yang berhikmat, Keb 14:20-15:10, tetapi ia juga dihantui oleh pemikiran akan kematian: ia tahu bahwa segala-galanya bergantung pada saat terakhir itu. Maka ia menegaskan "Mudah bagi Tuhan pada hari terakhir membalas manusia tingkah-lakunya", Keb 11;26, bdk Keb 1:13; 7:36; 28:6; 41:9.
Dalam kitab Bin Sirakh ini sudahmulai terasa ajaran tentang "nasib terakhir". Hanya ajaran itu belum juga sampai diungkapkan dengan jelas. Tidak lama sesudahnya. Dan 12:2 akan menguraikan kepercayaan akan suatu pembalasan sesudah kematian: Dalam kitab Daniel kepercayaan itu terkait pada kepercayaan akan kebangkitan orang mati. Ini sesuai dengan alam pikiran Ibrani, yang tidak tahu-menahu tentang jiwa yang dapat hidup terus, setelah terpisah dari badan. Dalam pemikiran Yahudi dikota Aleksandria perkembangannya lebih kurang sejalan, hanya lebih maju selangkah. Berkat filsafah Plato dan teorinya tentang jiwa yang tidak dapat mati maka pemikiran Ibrani dibebaskan dari belenggu-belenggunya. Kitab Kebijaksanaan Salomo dapat berkata bahwa "Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan". Sesudah kematiannya jiwa orang beriman dekat pada Allah, menikmati kebahagiaannya yang tidak ada kesudahannya, sedangkan orang jahat akan menerima hukumannya, Keb 3:1-12. Demikian akhirnya terpecahkan persoalan besar yang merepotkan para bijak bangsa Israel.
Bentuk sastera kebijaksanaan yang paling sederhana dan paling kuno ialah "masyal". Inilah (dalam bentuk jamak) judul kitab yang kita sebut kitab Amsal. Kata Indonesia-Arab ini (mufradnya: misal) pada pokoknya sama dengan kata Ibrani itu. Sebuah "masyal" ialah suatu ungkapan jitu yang mencari perhatian, suatu peribahasa rakyat, pepatah atau petuah. Dalam bagian-bagian kitab Amsal yang tentu hanya terdapat peribahasa-peribahasa pendek saja. tetapi kemudian "masyal" itu berkembang menjadi perumpamaan atau kiasan, uraian dan risalat. Perkembangan yang sudah terasa dalam bagian-bagian pendek yang ditambahkan pada kitab Amsal dan terlebih dalam bagian pembukaannya, Ams 1-9, ini, dengan cepat berkembang dalam kitab-kitab Kebijaksanaan yang berikut. Memang kitab Ayub dan kitab Kebijaksanaan Salomo merupakan karya sastera yang besar.
Dengan menembus segala bentuk sastera, bahkan yang paling sederhana sekalipun, orang harus mencari asal-usul hikmat itu dalam hidup kekeluargaan dan kesukaan. Pengalaman-pengalaman mengenai dunia dan manusia yang turun-temurun terkumpul akhirnya terungkap dalam bentuk petuah dan peribahasa yang lazim di kalangan kaum tani, dalam wejangan-wejangan pendek yang bertujuan membina akhlak dan menjadi patokan bagi kelakuan yang baik. Demikian asal-usul perumusan hukum adat yang pertama, yang kadang-kadang isi dan bukan saja bentuknya mengingatkan pepatah-pepatah kebijaksanaan itu. Hikmat kerakyatan itu berkembang terus sejalan dengan terbentuknya kumpulan petuah kebijaksanaan. Hikmat kerakyatan itu berkembang terus sejalan dengan terbentuknya kumpulan petuah kebijaksanaan. Hikmat kerakyatan misalnya mencetuskan pepatah-pepatah yang terdapat dalam 1 Sam 24:14; 1 Raj 20:11, dan dongeng-dongeng dalam Hak 9:8-15 dan 2Raj 14:9. Malahan para nabipun tidak segan memanfaatkan kebijaksanaan rakyat itu, Yes 28:24-28; Yer 17:5-11.
Pendeknya pepatah-pepatah yang mudah dapat dihafal itu menjadi pengajaran lisan. Ayah atau ibu mengajarkan kepada anak, Ams 1:8; 4:1; 31:1; Sir 3:1. Para guru kebijaksanaan akan menyapa anak didiknya sebagai "anakku", sebab para bijaksana memang memimpin sekolah, Sir 51:23; bdk Ams 7:1 dst; 9:1 dst. Hikmat manjadi urusan khusus golongan terdidik, dan golongan itu oleh karenanya juga pandai menulis. Para bijaksana dan para penulis dalam Yer 8;8-9 tampil berdampingan. Sir 38:24-39:11 memuji para penulis yang mendapat kesempatan untuk memperoleh hikmat, sampai memperlawankan para penulis denganpara tukang dan pekerja. Dari kalangan para penulis yang berhikmat berasallah pegawai-pegawai raja dan justru terutama di istana raja berkembanglah kebijaksanaan itu. Semuanya itu juga dijumpai di negeri-negeri Timur yang lain, seperti di negeri Mesir atau Mesopotamia, di mana hikmat dibina dan berkembang. Satu dari kumpulan-kumpulan amsal salomo yang terdapat dalam kitab Amsal memang disusun oleh "pegawai- pegawai Hizkia, raja Yehuda", Ams 25:1. Tetapi para bijaksana bukan hanya pengumpul pepatah-pepatah yang sudah tersedia;mereka juga menciptakan dan menuliskannya. Dua karya sastera yang barangkali dikerjakan di istana Salomo, yaitu riwayat Yusuf dan kisah mengenai penggantian takhta Daud, boleh dianggap sebagai karya kebijaksanaan.
Kalangan para berhikmat cukup berbeda dengan kalangan-kalangan yang menghasilkan karanga-karangan para imam dan kitab para nabi. Yer 18:18 memang menyebut tiga macam golongan, yaitu: para imam, para bijaksana dan para nabi. Berbeda-beda pula apa yang menyibukkan ketiga golongan itu. Para bijaksana itu tidak begitu memperhatikan ibadat dan tidak begitu tergerak hatinya oleh kemalangan- kemalangan yang melanda bangsa mereka dan mereka juga tidak tertarik kepada pengharapan yang menyemangati bangsa Israel. Tetapi mulai dari masa pembuangan ketiga golongan tersebut saling bertemu dan bercampur. Bagian pembukaan kitab Amsal bernada kenabian; Bin Sirakh, Sir 44-49, dan kitab Kebijaksanaan Salomo, Sal 10-19, dengan panjang lebar merenungkan sejarah kudus; Bin Sirakh menjunjung tinggi imamat, menaruh minat besar kepada ibadat dan akhirnya ia menyamakan Hikmat dengan hukum Taurat, Sir 24:23-34. Inilah persekutuan antara penulis (yang berhikmat) dengan ahli Kitab, seperti yang kita jumpai di masa pewartaan Injil.
Penggabungan hikmat dengan hukum Taurat itu dalam Perjanjian Lama merupakan akhir suatu perkembangan yang menempuh perjalanan yang makan banyak waktu. Pada awal perkembangan itu ditemukan raja Salomo. Dalam hal inipun ada kesamaan antara bangsa Israel dan dunia Timur pada umumnya. Ada dua tulisan hikmat Mesir yang dikatakan berupa pengajaran yang pernah diberikan oleh seorang Firaun kepada puteranya. Mulai dengan 1Raj 4:29-34, bdk 1Raj 3:9-12, 28; 10:1-9, sampai dengan Sir 47:12-17, raja Salomo dipuji sebagai orang berhikmat yang paling besar di Israel. Dengan dialah dihubungkan kedua kumpulan pepatah-pepatah yang paling penting dan tertua dalam kitab Amsal, 10-22 dan 25-29. Inipun sebabnya mengapa seluruh kitab Amsal diberi judul: Amsal-amsal Salomo bin Daud, Ams 1:1 Nama Salomo itu juga dicantumkan pada kitab Pengkhotbah, kitab Kebijaksanaan Salomo dan kitab Kidung Agung. Seluruh pengajaran hikmat- kebijaksanaan yang tahap demi tahap disampaikan kepada umat terpilih mempersiapkan penyataan Hikmat yang telah menjadi daging Hanya "yang ada di sini lebih dari pada Salomo", Mat 12:42.
Ende: Ester (Pendahuluan Kitab) KITAB -KITAB TOBIT JUDIT ESTER
PENDAHULUAN
Didalam Kitab Sutji Junani dan Latin terdapatlah sesudah kitab2 Tawarich, djadi
kitab2 sedjarah, ketiga kit...
KITAB -KITAB TOBIT JUDIT ESTER
PENDAHULUAN
Didalam Kitab Sutji Junani dan Latin terdapatlah sesudah kitab2 Tawarich, djadi kitab2 sedjarah, ketiga kitab ketjil: Tobit, Judit, Ester, menurut urut2an terdjemahan Latin Vulgata, atau Ester, Judit dan Tobit, menurut susunan Septuaginta. Namun dalam beberapa naskah terdjemahan Junani tertera ditempat ain sekali, sedangkan didalam Kitab Sutji Hibrani itu Ester termasuk dalam "Ketubim" dan merupakan bagian dari apa jang disebut"Kelima Megillot", jaitu salah satu dari kelima kitab ketjilm jang dibatjakan didalam synagoga pada pesta2 tertentu. Kedalam "Megillot" itu termasuk pula Pengchotbah, Lagu Ratap, Rut dan Madah Agung. Karena kaum Protestan mengenai Perdjandjian Lama mengambil-alih daftar kitab2 sutji jang diakui orang2 Jahudi di Palestina, maka merekapun hanja menerima Ester sadjalah jang termasuk Kitab Sutji, sedangkan Tobit dan Judit disebut mereka "apokrip". Dengan mengikuti terdjemahan2 Junani dan Latin dalam urutan2 biasa Vulgata, maka dalam terdjemahan inipun kami masukkan Tobit, Judit, dan Ester dalam satu kelompok. Itupun bukan hanja karena pendek isinja, tetapi djuga karena ketiga kitab itu mempunjai beberapa tjorak jang sama.
Kesamaan pertama jang lahiriah belaka sebetulnja bersandarkan tjorak kesusasteraan jang sama terletak dalam sangat populernja kisah2 itu dikalangan umat Kristen, dahulu dan sekarang. Setiap orang mengenal kisah2 itu dan senipun tidak sedikit mengambil bahannja daripada Tobit, Judit dan Ester. Kisah2 itu seringlah lebih terkenal daripada bagian2 lain Perdjandjian Lama, jang dari segi keigamaan dan sedjarah keselamatan djauh lebih penting adanja. Kepopuleran kitab2 ketjilini lebih2 diakibatkan oleh kenjataan, bahwa didalamnja seni tjerita Hibrani mentjapai pentjak jang djrang ada tara-bandingnja. Pada umumnja kisah2, jang dipusatkan kepada satu tokoh itu, dipaparkan sebagai suatu keseluruhan utuh jang besar dan harmonos, dan segala dajdupaja digunakan dengan sangat mahirnja untuk tetap menarik perhatian dan memelihara ketegangan samapi achir. Unsur dramatik digunakan habis2an dan fantasipun mendapatkan umpan jang ber-limpah2 dalam kisah2 tersebut.
Tetapi kesamaannja lebih mendalam, karena latarbelakan tema dari kisah2 itu dalam banjak hal sama djua adanja. Tiap2 kali mengenai manusia-seluruh rakjat- jang berada didalam darurat besar, kepapaan dan penindasan. Tetapi demi kesalehan besar serta kebaktian dalam dari tokoh2 tertentu, maka Penjelenggaraan ilahi bertjampurtangan setjara sedikit banjak adjaib akan penjelamatan dan penebusan. Perhatian dipusatkan pada tokoh2 itu, sehingga rakjat sebagai keseluruhan agak dan sedikit banjak tinggal dilatarbelakang. Namun demikian, dalam ketiga kitab itu rakjat Jahudi muntjul dalam keadaan2 jang kira2 sama. Mereka ditindas dan malahan diantjam akan dibinasakan oleh penguasa2 kafir, jang maunja menghantjurkan bangsa maupun agama. Bangsa Jahudi adalah bangsa asing, jang terpentjil dari bangsa2 lain dari lingkungan kafir. Mereka dibentji dan dinistakann, dan sering membangkitkan kembali taufan antisemitisme. Dalam kitab2 Judit dan Ester itu amat djelasnja, tetapi ada pula didalam kitab Tobit, meskipun tidak begitu tadjam gambarannja. Didalamnjapun bangsa Jahudi itu adalah masa kompak jang mengembara di-tengah2 lingkungan kafir, dibentji, dinistakan dan di-buru2.
Ketiga kitab ketjil itu mempunjai kesamaan ini djuga, bahwa kitab2 tersebut baru agak belakangan dan bukan tanpa kesulitan diakui sebagai Kitab Sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji sesudah abad pertama Masehi, dan itupun hanja naskah jang singkat bentuknja. Itu antara lain diakibatkan oleh tjoraknja jang agak profan, bila dipandang sepintas lalu. Tetapi Judit, meskipun orang2 Jahudi mengenal dan menggunakannja djua, ditolak mereka setjara definitif sebagai Kitab Sutji. Nasib jang sama dialami Tobit pula, kitab mana dikenal dan digunakan se-tidak2nja oleh beberapa golongan Jahudi. Mengenai djaman Kristen: ketiga kitab ketjil itu digunakan dan pada umumnja diakui sebagai Kitab Sutji oleh para bapak Geredja, tetapi tjorak inspirasinja disana sini toh disangsikan djuga, lebih2 setelah daftar Jahudi kitab2 sutji itu dikenal dan terutama di-daerah2, tempat kontak dengan orang2 Jahudi agak rapat. Namun achirnja kitab2 itu diakui umum dan diterima oleh Geredja2 Kristen di timur dan barat serta dimasukkan dalam daftar2 resmi Kitab Sutji. Baru oleh reformasilah pendirian ini ditinggalkan oleh beberapa golongan. Terhadapnjalah Konsili Trente menetapkan tjorak inspirasinja setjara definitif.
Selandjutnja teks Tobit, Judit dan Ester sampai kepada kita dalam wudjud jang berlainan. Akan Ester, Kitab SutjiHibrani mempunjai teks jang djauh lebih singkat daripada terdjemahan Junani serta terdjemahan2 kuno lainnja. Tetapi djuga dimana teks Junani sedjadjar djalannja dengan teks Hibrani, perbedaan2 itu toh amat besarnja. Dalam naskah2 Junani itu sendiripun masih ada perbedaan2 djuga. Naskah jang terpenting dan paling termasjhur (BAS) menjadjikan teks jang amat sama bunjinja. Tetapi disamping itu ada naskah2 lainnja, jang agak besar perbedaan2nja dan jang sukar dikembalikan kepada satu jang aseli. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani. Hieroenimus telah membuat terdjemahan baru menurut teks Junani, tetapi menurut keterangannja sendiri ditemukan didalam terdjemahan Junani tapi tidak terdapat dalam naskah Hibrani, oleh Hieronimus ditempatkan pada achir terdjemahannja. Terdjemahan kami mengikuti urut2an Junani, tetapi menterdjemahkan teks Hibrani, bila itu ada. Dalam lampiran diberikan urut2an teks Vulgata. Imbuhan2 tekas Junani itu ialah: sebuah impian Mordekai (1,a-r) sebuah doa Mordekai dan Ester (3,17,a-z), teks jang lebih pandjang dari 5,1-2 dikrit radja Parsi, jang memberikan hak bela diri kepada orang2 Jahudi (8,12a-v), keterangan tentang mimpi Mordekai serta tjatatan mengenai terdjemahan Junani (10,3a-1). Bagaimana selandjutnja hubungannja antara teks Hibrani dengan teks Junani Ester itu, adalah djauh dari djelas. Dapat dipikirkan, bahwa teks Hibrani itu jang aseli, jang kemudian diperpandjangkan dalam teks Hibrani, jang lalu mendjadi dasar terdjemahan Junani. Atau mungkin djuga perpanjdjangan itu hanja ada dalam teks Junani sadja dan dikerdjakan oleh penjadur Junani. Hal sematjam itu terdjadi djuga, menurut pendapat umum, dengan Indjil Mateus. Achirnja dapat dikemukakan pula penggunaan liturgis. Teks jang aseli jang lama kirannja terpelihara dalam terdjemahan Junani, sedang teks singkatnja terpelihara dalam bahasa Hibrani. Semua hipotese ini ada pro dan kontranja, dan rupa2nja agak mustahillah untuk mengetahui denan pasti duduk perkaranja. Teks aseli Hibrani atau Aram kitab Judit tiada naskah atau sisanja lagi. Teks Hibrani jang sekarang ada, adalah terdjemahan dari bahasa Latin. Jang ada hanja terdjemahan2 kuno. Jang penting ialah terdjemahan Junani dan terdjemahan Latin Vulgata. Terdjemahan Junani sampai kepada kita dalam tiga wudjud jang berlainan. Teks jang lawim dipakai terdapat dalam naskah2 besar (BAS). Kami taruh teks ts. sebagai dasar terdjemahan kami. Terdjemahan Latin Vulgata dikerdjakan Hieronimus menurut teks Aram, dengan kebebasan dan ketjepatan jang besar. Tetapi teks tersebut agak besar perbedaannja dengan terdjemahan Junani, sehingga teks Aram aseli jang dipakai Hieronimus itu adalah sematjam parafrase. Tambahan lagi Hieronimus menggunakan dengan leluasa terdjemahan Latin kuno. Jang paling rumit ialah teks kitab Tobit. Aselinja betul Hibrani atau Aram, dan belum lama ini diketemukan kembali beberapa fragmen dalam bahasa Hibrani dan Aram. Tetapi selebihnja sudah hilanglah aselinja. Terdjemahan Junani mengenal tiga bentuk jang sangat berlainan satu sama lain. Teks jang lazim dipakai, didalam naskah A dan B, adalah jang tersingkat. Disamping itu naskah S menjadjikan teks jang lebih pandjang. Teks jang lebih pandjang itulah jang umumnja kami ikuti. Hanja beberapa bagian dan perbaikan diambil dari A dan B, dan, sebagaimana biasa, dinjatakan dengan tjetakan chusus. Bentuk ketiga teks Junani tidaklah begitu penting. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani A dan B, tetapi teks Vulgata resmi, jang dikerdjakan oleh Hieronimus dengan banjak kebebasan, kembali pada jang aseli Aram. Tetapi teks tersebut, meskipun mengenai isinja sama garis besarnjam berbeda sungguh djauh dari terdjemahan2 Junani jang dikenal. Akan imbuhan dan lagi karna teks Latin itu dipakai dalam liturgi Katolik, maka kami muat terdjemahan teks Vulgata itu sebagai lampiran dibelakan, dimanapun teks Vulgata itu agak djauh menjimpang dari teks Junani, jang kami ikuti dalam terdjemahan kami.
Kesamaan terachir antara kitab2 Tobit, Judit, Ester jang sungguh amat penting bagi tafsiran jang tepat, ialah gaja sasteranja. Tidak dapat diungkirilah, kisah2 tersebut memberikan kesan, bahwa hendak memberitahukan peristiwa2 tertentu, Tetapi setelah dipeladjari lebih dalam dan lebih2 dibandingkan dengan apa jang dapat diketahui dengan tjukup pasti dari sumber2 lain, kesan pertama itu sangat diperlemah. Pada tempatnja akan kami tundjukkan beberapa kesuliran, jang dihadapkan kitab2 itu kepada orang ahli sedjarah kuno, kesulitan2 mana seringlah tak teratasi. Teranglah, bahwa keterangan2 sedjarah dan ilmu bumi dipergunakan dengan kebebasan jang mentjengangkan, se-akan2 kesemuanja itu sama sekali tidak menarik perhatian si pengarang. Sering tidak bersesuaian satu sama lain maupun dengan keterangan2 sumber lainnja. Daripadanja mesti ditarik kesimpulan bahwa si pengarang sendiri kisahjang semu sedjarah itu njatanja tidak begitu dimaksudkan sebagai sedjarah dalam arti sebenarnja. Kita berhadapan dengan matjam gaja, jang tidak dapat dimasukkan lagi dalam djenis sedjarah, bahkan bukan pula dalam artinja jang lluas. Namun demikian, tidak dapat dikemukakan begitu sadja, bahwa sama sekali tiada peristiwa jang mendjadi dasar kisah itu, sehingga kita berpapasan dengan chajalan belaka atau mungkin dengan mytos se-mata2. Bagi tiap2 kitab tersendiri dapatlah orang lalu menetapkan lebih landjut peristiwa demikian, tetapi kesemuanja mempunjai kesamaan dan menghiasi setjara puitis peristiwa2 itu dengan kebebasan se-besar2nja. Dan itupun begitu rupa, sehingga inti sedjarahnja tidak lagi dapat dikenali menurut kenjataannja sendiri. Kisah itu njatanja tidak bermaksud untuk melapor peristiwa2 untuk mengadjarkan sesuatu dengannja, tetapi kisah itu per-tama2 lebih suka mengadjarkan sesuatu, dan dalam pada itu, djika perlu, dengan kebebasan fantasi menggunakan peristiwa2 jang sedikit banjak dikenal dari masa lampau jang sudah djauh atau masih dekat. Dengan kisah2 tersebut kita lebih berdekatan dengan sastera kebidjaksanaan daripada dengan kitab2 jang bertjorak sedjarah. Baik kenjataan, bahwa Ester dalam Kitab Sudji Hibrani termasuk dalam golongan "hagiografa", maupun kebebasan besar jang pada hemat para penterdjemah kuno dapat digunakan mereka dalam hal kisah2 tersebut, kiranja memberikan petundjuk sedikit tentang pendapat kuno mengenai tjorak chas kitab2 Tobit, Judit dan Ester. Dalam hal kitab2 sematjam itu baiknja djangan menerima kisah2 itu sebagaimana adanja, menanjakan apa jang hendak diadjarkan para pengisah. Gaja sastera itu se-kali tidak bertentangan dengan tjorak inspirasi Kitab Sutji, karena inspirasi dapat menggunakan setiap djenis sastera manusia, jang pada dirinja tidak djahat adanja. Roman, novel dan parabel, pun kalau itu diberi berpakaian historis dapat diterima sepenuhnja. Soalnja hanjalah, bahwasanja si pembatja memperhatikan gaja sastera jang disadjikan. Nah, kitab2 Tobit, Judit dan Ester, bila ditindjau lebih landjut, memberi dasar jang tjukup untuk mengenali tjoraknja. Ke-tiga2nja tidak hendak mentjeritakan peristiwa jang dibeberkan sertjara teliti, tetapi per-tama2 maunja membina, meskipun mungkin berpangkal dari suatu peristiwa.
KITAB TOBIT menjadjikan kisah suatu keluarga, jang berlangsung dikalangan orang Jahudi buangan di Asyria. Tobit adalah seorang Jahudi jang landjut umurnja dan sangat mursjid, jang memperoleh kekajaan besar dan djabatan jang tinggi dalam pemerintahan. Tetapi ia kena murka radja, karena ia menjokong kaum sebangsanja jang di-buru2 dan menguburkan orang jang dibunuh. Ia dirampasi segala harta- bendanja dan dibuang. Kemudian ia dapat kembali lagi, tetetapi bangsa ditimpa malapetaka baru, tengah ia memberikan bantuan kepada kaum sebangsa dengan amat murah dan berani. Didalam kemalangannja ia malahan di-olok2 oleh isterinja sendiri karena ketabahannja dalam kemursjidan. Kendati kesusahan dan kepapaannja jang besar itu, ia tetap pertjaja pada tuhan dan mentjurahkan isi hatinja didalam doa jang pandjang. Pada waktu jang bersamaan kemanakannja di Media, jang bernama Sara, mendjadi kkorban malapetaka dan setan. Iapun mengeluhkan deritanja jang tak tertanggung itu didalam doa jang hangat kepada Tuhan. Tuhan datang membantu dengan mengutus malaekat Rafael, untuk menjembuhkan Tobit maupun Sara. Tobit menjuruh anaknja, jang mursid djuga, ke Media untuk menagih hutang disana, Rafael mengantar Tobia kesana. Ditengah djalan dimaklumkan kepada Tobia chasiat djantung serta empedu ikan, jang hendak mentjaplok Tobia, jakni kekuatan untuk membuang setan dan menjembuhkan penjakit mata. Di Media Rafael bertindak sebagai perantara dalam perkawinan bahagia antara Tobia dan kerabatnja Sara. Chasiat djantung ikan jang dibakar disertai kemursjidan Tobia dan Sara berhasil membuang setan, sehingga Tobia tidak dibunuh oleh setan itu. Mereka kembali dengan bahagia kepada Tobit, jang disembuhkan dari kebutaannja dengan empedu ikan itu. Tobit masih hidup lama dan berbahagia, dan sebelum adjalnja memberikan banjak nasehat baik kepada Tobia dan meramalkan kehantjuran Asyria dan Ninive.
Adapun maksud umum kisah itu tjukup djelas dan dismaping itu djuga merumuskan sedjumlah gagasan keigamaan dan kesusilaan jang luhur. Penjelenggaraan Allah jang ajaib, jang datang membantu orang2 mursjidNja, selalu ditandaskan dengan amat kentara. Dalam Penjelenggaraan itu deritapun memainkan peranannja jang positif. Derita bukanlah selalu hukuman bagi dosa, tetapi mungkin djuga suatu udjian kebadjikan demi keselamatan manusia. Dengan djalan itu kitab tersebut menentang pendapat lama jang lebih laku, tetntang sensara dan dengan problematikanja mendekatai kitab Ijob. Kitab itu me-njadung2 seluruh kitab itu. Dalam hal ini kitab Tobit sampai ketingkat adjaran Kristus tentang nilai pekerdjaan2 belas-kasihan badani. Dirumuskannja pula pendapat tentang perkawinan, jang boleh dikatakan pendapat Kristen sebelum djaman kekristenan. Kesemuanja ini adalah tema2 kitab2 kebidjaksanaan dan kitab Tobit menundjukkan kemiripan dengannja dalam lebih dari satu segi sadja. Achirnja kitab Tobit berarti madju selangkah lagi mengenai adjaran tentang roh2 djahat dan baik. Penutup kitab itu melahirkan suatu pengharapan jang hangat akan masa Al-Masih, tanpa mengkonkretisirnja dalam oknum tertentu. Isinja lebih mengenai pemulihan jang megah-mulia dari umat Allah pada achir djaman dan pembalasan hukuman atas lawan2 umatNja. Dan dalam hal ini kitab itu mirip sastera apokalyptik.
Kesulitan2 sedjarah jang amat menjolok, jang dapat ditimbulkan kitab2 itu, andaikata itu hendak merupakan sedjarah jang sungguh2, adalah hal2 jang berikut ini: Tobit mendjadi saksi mata perpisahan di Israil dimasa Jerobe'am (th.931) (Tb 1,4), ia dibuang dua abad kemudian (th.734) bersama dengan suku Naftali (Tb 1,5.10) dan anaknja Tobia menjaksikan kehantjuran Ninive (Tb 14,15) dalam tahun 642 sebelum Masehi. Djadi, Tobit mentjapai umur jang legendaris, pada hal ia hanja sampai umur 112 tahun sadja (Tb 14,12). Dalam ajat 1,15 Sanherib dikemukakan sebagai pengganti Sjalmaneser, pada hal ia sesungguhnja pengganti Sargon. Perdjalanan dari Ragai ke Ekbatana dalam kitab itu hanja makan tempo dua hari sadja (5,6), hal mana sangat pendek bagi djarak 300 km. itu. Dalam kitab itu (1,22;2,10;11,18;14,10) seseorang jang bernama Ahikar memainkan peranan pula. Nah, tokoh jang istimewa itu menundjukkan kesamaan dengan Ahikar, jang tampil dalam dongengan jang terkenal didjaman dulu dan jang teranglah lebih tua daripada kitab Tobit. Tjara Tobit disembuhkan dengan empedu ikan dari kebutaannja (6,9;11,8-12) tidak dikenal para tabib (2,10). Rafael memaklumkan obat itu kepada Tobia. Tetapi pastilah dimasa kitab tersebut berlangsung, para tabib sudah menggunakan obat itu pada penjakit mata, sehingga pemakluman tadi tidak banjak artinja lagi. Adakalanja djuga ditundjuk pula kesamaan antara adjaran perihal malaekat kitab ini dan pendapat2 Parsi tertentu dalam hal itu. Dapat diterima, bahwa orang2 Jahudi agak dipengaruhi karenanja, tetapi tidak dapat dibuktikan-dan djuga tidak perlulah-bahwasanja Tobit setjara langsung tergantung dari pendapat2 Parsi.
Kesulitan2 tadi dapat dipetjahkan dengan amat mudahnja dengan memandang kitab Tobit bukannja sebagai sedjarah jang sungguh2, melainkan lebih dalam artinja seperti jang diuraikan diatas. Mungkin ada sesuatu peristiwa jang mendjadi dasarnja, tetapi tidak mungkinlah merekonstruir peristiwa tersebut.
Walaupun teks Junani menaruh bagian pertama kitab itu dimulut Tobit sendiri, namun ia bukanlah pengarang kisah itu. Kita bersua disini dengan suatu pseudepigrafi, seperti sering terdapat dalam Kitab Sutji. Pengarang Jahudi kitab itu sama sekali tidak dikenal. Betul, ia telah menjusun kisahnja dengan bersandarkan tradisi lisan atau mungkin malahan tertulis, tetapi apa bagian peribadinja dan apa jang sudah tersedia baginja tidak dapat ditentukan lagi. Karena soalnja sungguh mengenai suatau komposisi dan si pengarang sendiri njatanja tidak tahu lagi hubungan2 sedjarah jang tepat, dan lagi karena gagasan2 keigamaan kitab itu menjaksikan pula tentang masa belakangan didalam sedjarah bangsa Jahudi, maka dapatlah dikirakan, bahwa kitab itu ditulis antara th.300 dan 200 seb.Mas. Karena mengenai orang2 Jahudi didiaspora se-mata2, maka si pengarang kiranja berasal pula dari lingkungan mereka. Tetapi apa ia hidup di Mesir atau dinegeri lain, tidak lagi dapat disimpulkan dari kitab itu dan keterangan2 lainpun tidak tersedia.
KITAB JUDIT mengisahkan kemenangan bangsa Jahudi atas bala2 radja Nebukadnezar jang djauh lebih kuat dibawah pimpinan Holofernes, berkat tjampurtangan djanda mursjid jang bernama Judit. Holofernes jang mendapat tugas jang pongah dan keberani2an dari radjanja untuk menaklukkan seluruh bumi kepada Nebukadnezar dan untuk memaksakannja memudja sebagai dewa, dengan djajanja melintasi Asia depan, Mesopotamia dan Arabia. Bangsa2 lainnja takluk djuga penuh kedahsjatan. Tetapi di Palestina terbenturlah Holofernes pada kota Betulua, jang enggan takluk kepadanja dan oleh karenanja harus dikepung. Darurat memuntjak dikota itu dan orang sudah bermaksud utnuk menjerah, malahan imam-agung sudah kehilangan akal. Tetapi Judit tahu mempertetapkan hati mereka dan membengkitkan kepertjajaan pada Tuhan tanpa sjarat didalam hati mereka. Setelah persiapan dengan doa dan puasa Judit lalu pergi keperkemahan Holofernes. Ia berhasil memperdajakan sang panglima dan membudjuknja dengan ketjantikannja. Ia tidak sampai mengadakan hubungan badaniah dengannja, tetapi tiga hari kemudian menurut rentjananja jang tjerdik itu ia berhasil memenggal kepala panglima jang tengah mabuk. Kepala itu dibawa pulang ke Betulua. Bala Holofernes lari tunggang-langgang. Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan sebagai suri teladan kepertjajaan jang tak terhingga pada Tuhan. Ia sendiri melambungkan madah pudji serta sjukur jang hangat kepada Penjelamat jang sesungguhnja, jakni Allah Israil.
Tjara kisah Judit mempermainkan ilmu bumi dan sedjarah, menundjukkan kebebasan mutlak si pengarang terhadap keterangan2 tersebut. Perlawatan Holofernes, seperti jang dilukiskan dalam pasal2 permulaan, mempermudahkan segala geografi. Djuga perlawatannja terhadap Betulua itu sendiri sukarlah disesuaikan dengan keterangan2 tertentu dari topologi. Kota Betulua sendiripun adalah suatu teka- teki dan sama sekali tidak dapat ditjotjokkan dengan tempat manapun djua. Nebukadnezar tidak pernah mendjadi radja Asyria dan tidak pernah berkedudukan di Ninive (1,1), karena kota tersebut dihantjurkan dalam th 612, djadi sebelum djaman Nebukadnezar. Arfaksad, radja Media (1,5) tidak terdapat dalam sedjarah. Disebutkan (4,3), bahwa orang2 Jahudi baru sadja kembali dari pembuangan dan bahwa baitullah sudah dibangun kembali, hal mana aneh bunjinja didjaman Nebukadnezar, jang mengangkut Juda kepembuangan. Boleh sadja mentjoba tjari dibawah nama Nebukadnezar itu seorang radja lain didalam sedjarah, tetapi segala usaha pada gilirannja terbentur pula pada kesulitan2 jang tak terpetjahkan. Semua alasan itu membenarkan pendapat, bahwa seluruh kitab itu hendaknja dipandang sebagai suatu komposisi jang puitis-didaktak bukan hanjalah nama2 symbolik sadja. Dari satu sudut lawan2 Israillah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan dalam diri Judit. Mereka berperang mati2an, tetapi berkat penjelenggaraan Allah jang melindungi, maka umat Allah dibebaskan dari musuhnja.
Perang dan kemenangan luar-sedjarah itu merupakan tema pokok kitab tersebut. Soalnja bukalah mengenai kedjadian tertentu, melainkan mengenai sesuatu jang senantiasa berlangsung terus. Dalam kitab ini diperbintjangkan dalam bentuk kisah historis tema sama, jang kemudian setjara fantastis dan dengan djalan symbolik jang gandjil diperluas oleh sastera apokalyptik, mulai kitab Daniel sampai dengan kitab Wahyu Johanes dalam Perdjandjian Baru. Dan seperti kitab2 wahyu itu menurut tjoraknja tersendiri adalah komposisi bebas pula dalam bentuk kisah historis. Mungkinlah si pengarang berpangkal pada suatu kejadian, jang kini tidak diketahui lagi, tetapi itupun tak lain dan tak bukan hanjalah titik pangkalnja sadja.
Kitab Judit sangat berhaluan keigamaan sebagaimana sudah njata dari tema pokok tersebut diatas. Allah dari kitab Judit adalah Allah dari Perdjandjian Lama, Allah perdjandjian, jang membimbing sedjarah akan keselamatan bangsa pilihanNja. Ia menuntut kesetiaan umatNja kepada hukumNja dan terangnja hukum rituil jang dalam kitab Judit mendapat tempat jang penting. Allah jang kudus itu membentji dosa, lebih2 kesombongan, jang diperorangkan dalam diri Nebukadnezar dan Holofernes. Apabila umatNja bebas dari dosa dan pelanggaran rituil, maka terdjaminlah keselamatan dan kedjajaannja, sebagaimana dirumuskan Ahior (5,17- 25). Gagasan2 keigamaan kitab itu agak kuat tjorak rituilnja, dengan mana kitab Judit mendekati faraseisme dari masa kemudian, dengan pandangan2nja jang amat nasionalistis dan eksklusivistis. Namun kita lihat djuga, bahwa seorang kafir seperti Ahior, malahan seorang 'Amon, diperbolehkan masuk kedalam umat Jahwe, sehingga rigorisme sangat diperlunak karenanja. Maka itu kitab tersebut tidak dapat kita pandang begitu sadja sebagai pelopor faraseisme.
Melihat tema pokok maupun gagasan2 keigamaan lainnja, mestilah Judit itu dari masa agak belakangan. Walaupun dikatakan, bahwa orang2 Jahudi baru kembali dari pembuangan, namun kitab itu sendiri adalah dari masa jang djauh lebih belakangan. Dengan kepastian agak besar dapatlah dikatakan, bahwa kitab itu ditulis didalam djaman Junani, kira2 th.150 seb.Mas. Sebab ada hal jang meng- ilat2kan adat-istiadat, jang baru terdapat dimasa Junani (3,8;15,12-13). Soal lainlah, apa perlu mundur kewaktu lebih belakangan lagi. Beberapa ahli mau menanggalkan kitab itu dalam abad pertama seb.Mas. Sebab, demikian kata mereka, gagasan2 farisi kitab itu adalah dari abad tersebut. Didalam seluruh kitab tidaklah pernah tampil pembesar sipil satupun dan Israil rupanja diperintah imam-agung. Pada hemat mereka hal itu adalah bukti, bahwa faraseisme berbentrok dengan keturunan para Makabe. Nah, perpetjahan itu terdjadi dimasa Johanes Janeos (th 103-76 seb.Mas), sehingga kitab itu mestilah bertanggalkan masa itu. Akan tetapi faraseisme dari kitab itu djanganlah di-lebih2kan dan lukiskan Israil lebih bertjorak idiil daripada historis. Adapun si pengarang adalah anonim sama sekali dan tidak dapat diadakan terkaan2 mengenai identitasnja.
Adakalanja dikemukakan keberatan2 kesusilaan terhadap kitab Judit. Kelakuan Judit terhadap Holofernes, tipudaja serta budjukannja memang dipudji. Namun kelakuan itu tidak dapat dibenarkan. Dari segi Kristen memang benarlah itu. Tetapi djangan dilupakan, bahwa Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan pembebas bangsanja. Dan lagi sebagian besar toh mengenai suatu chajalan dan bukan kedjadian njata, jang lalu dibenarkan. Achirnja tidak seadilnjalah mengenakan pada masa 2 dahulu jang bukan Kristen itu ukuran2 kesusilaan, jang baru diadakan oleh Kristus. Djuga dalam bidang kesusilaanpun wahju mengenal perkembangan pula.
Kisah KITAB ESTER menundjukkan banjak kesamaan dengan kitab Judit. Bangsa Jahudi terantjam dengan kebinasaan oleh kekuatan raksasa kafir, tetapi diselamatkan oleh seorang wanita Jahudi jang mursid. Kesamaannja dengan kitab Tobit terletak dalam hal ini, bahwasanja kisah itu tidak terdjadi ditanahair orang2 Jahudi, seperti kisah Judit, melainkan dalam pembuangan. Tetapi bukan dianrara orang2 buangan keradjaan utara, melainkan diantara kaum buangan Juda. Kisah itu terdjadi dikeradjaan Parsi, dalam keradjaan mana Babel telah tergabung. Makar terhadap bangsa Jahudi direntjanakan oleh perdana menteri jang amat kuasa dari radja Xerxes, Aman, jang didorong oleh antisemistisme jang tak se-mena2 Ratu Ester, asal Jahudi, jang menggantikan Vasti jang ditjeraikan, dan jang dididik dan masih dibimbing oleh Mordekai, orang Jahudi jang mursjid, berhasil dengan mempertaruhkan njawanja sendiri, mendesak radja untuk memberi orang2 Jahudi hak untuk mempertahankan diri. Aman dan keluarganja dihukum mati dan orang2 Jahudi mengadakan pembantaian besar2an dikalangan musuh2nja, pada hari mereka sendiri tadinja hendak dimusnahkan. Kedjadian tersebut mendjadi pangkal-mula bagi perajaan tahunan pesta Purim. bagian terachir kitab itu (9,20.32) muat sedjumlah dokumen, jang mewadjibkan perajaan pesta, jang diadakan Ester dan Mordekai.
Kitab Ester nampak lebih bertjorak historis daripada kitab2 Tobit dan Judit. Adat-istiadat diistana Parsi dikenal baik2 oleh si pengarang. Watak Xerxes dilukiskan dengan tjermatnja, dan si pengarang tahu sungguh tentang tata-negara keradjaan Parsi dan susunan ibukota Susa. Selandjutnja dari sumber lain diketahui negeri jang tinggi2. Unsur historis dalam kitab Ester tidak dapat diungkiri dan kiranja berguna bagi ahli sedjarah. Maka itu orang mungkin tjondong untuk menerima begitu sadja kedjadian jang dikisahkan. Tetapi djustru dalam hal inilah timbul kesulitan2. Teranglah, bahwa didjaman Xerxes tidak pernah ada ratu jang bernama Vasti dan dimasa jang dilukiskan kitab Ester itu jang mendjadi ratu ialah Amerstris. Seorang wanita Jahudi sebagai ratu pertama tidak mungkin pula. Sebab ratu haruslah Parsi aseli. Dari sedjarah keradjaan Parsi se-kali2 tidak dikenallah sebuah dikrit pemusnahan orang2 Jahudi, hal mana tidak begitu sesuai pula dengan sikap toleran radja2 Parsi terhadap bangsa2 taklukan serta agama mereka. Tidak begitu mungkin djuga, bahwa radja Parsi mengidjinkan minorita2 ketjil untuk mengadakan penggorokan besar2an di-tengah2 rakjatnja. Atas dasar2 tersebut tjorak historis dalam arti jang se-benar2nja dari kitab itu sangat sukar dipertahankan. Sebaliknja terlalu djauh pula untuk mentjap kitab itu suatu chajalan belaka, atau saduran Jahudi dari suatu mytos dewa2 Babel (Ester=Isjtar; Mordekai=Marduk), untuk mendapat dasar bagi pesta Purim. Lebih baik dikatakan, bahwa itu pengolahan bebas dari seni dari peristiwa sedjarah tertentu. Pesta Purim, jang dibenarkan kitab tersebut, adalah sungguh perajaan, jang memperingati kedjadian tertentu. Soalnja hanjalah: kedjadian jang manakah. Adapun pesta Purim jang bertjorak profan itu, sangat boleh djadi Parsi aseli, jang diambil-alih orang2 Jahudi didalam pembuangan. Pangkal-mula pesta Parsi adalah suatu kedjadian, jang dalam tema pokoknja tjotjok dengan kisah Ester, meskipun bukan orang2 Jahudi, jang memainkan peranan didalam kisah Parsi itu. Seperti kisah tersebut maka kitab Ester mempunjai titik pangkal historis pula.
Tetapi djelas pulalah, bahwa kedjadian itu bukanlah jang terpenting dari kitab Ester, melainkan gagasan2 keigamaan, jang tertjantum didalamnja. Tetapi betullah, bahwa teks Hibrani, bila dipandang sepintas lalu, sangat sedikit tjorak keigamaannja. Nama Allah sama sekali tidak terdapat tidak terdapat didalamnja dan njatanja dihindari setjara sistematis. Boleh djadi itu diakibatkan oleh tjorak profan belaka dari pesta Purim. Namun kekurangan akan tjorak keigamaan itu hanjalah kelihatannja daripada kenjataannja. Tanpa perumusan2 jang tegas kitab itu sungguh didukung oleh gagasan keigamaan. Allah dan pekerdjaanNja di-man2 terbajang dibelakang. Dialah, jang membimbing kedjadian2 dan menjelamatkan umatNja. Makanja teks Junani, jang lebih kentara tjorak keigamaannja dan djauh lebih tegas dalam bidang tersebut, tidak menjalahi maksud dan tudjuan kitab itu. Maunja merupakan paparan jang tjemerlang dari tema kebidjaksanaan: Kedjahatan djatuh kembali kepada jang merentjanakan dan melakukannja. Dalam kitab Ester dalil itu dikenakan pada Aman serta rentjana2nja, pada orang2 kafir dan permusuhannja kepada umat Allah. Dengan djalan itu kitab Ester mentjapai pula tema apokalyptik kitab Judit: orang2 kafir akan dibinasakan oleh pembalasan Allah karena permusuhannja terhadap Jang Kuasa serta umatNja. Dalam rangka teks tersebut haus akan darah dan kekedjaman dalam kitab itu tidak begitu mentjengangkan lagi. Inipun termasuk djenis sastera pula. Tambahan pula kitab itu tidak mengemukakannja sebagai sesuatu jang diperbuat orang2 Jahudi setjara spontan, melainkan karena terpaksa dan untuk membela diri. Si pengarang tidak begitu bergembira atas penumpahan darah jang dilukiskannja, melainkan lebih atas keadilan Allah dan PenjelenggaraanNja jang adjaib, jang dinjatakan setjara demikian.
Karena seluruh pesta Purim itu dari masa agak belakangan dan kitab itu disusun untuk keperluan itu, maka mesti djuga ditanggalkan agak belakangan pula. Terdjemahan atau saduran Junani bertanggal kira2 114 seb. Mas (30,31), meskipun teksnja sendiri tidak memberikan pegangan jang mutlak. Teks Hibrani haruslah lebih tua. Dalam th. 160 seb. Mas. pesta Purim, mungkin dengan nama lain, dirajakan di Palestina (II Mak. 15,36), dan kisah Ester dan mungkin djuga kitab Ester sudah dikenal. Karena kisah itu berlangsung di Parsi dan temanja: "kedjahatan menghukum dirinja sendiri", termasuk dalam sastera kebidjaksanaan belakangan, jang kitab itu pada umumnja ada kemiripannja, maka kitab dari pengarang Jahudi jang tidak ketahuan namanja itu dapat diberi bertanggal kira2 th. 200 seb-Mas. Tema peperangan antara kekafiran dan agama Jahudi sungguh tjotjok dengan suasana djaman Makabe, waktu peperangan itu meledak dan berachir dengan kemenangan agama Jahudi.
BIS: Ester (Pendahuluan Kitab) ESTER
PENGANTAR
Buku Ester mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di istana raja
Persia, yang biasanya dipakai di musim dingin. Dalam buku ini
ESTER
PENGANTAR
Buku Ester mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di istana raja Persia, yang biasanya dipakai di musim dingin. Dalam buku ini yang memegang peran utama ialah Ester, seorang wanita Yahudi yang patut disebut pahlawan. Karena cintanya kepada bangsanya maka dengan gagah berani ia menggagalkan rencana musuh yang hendak membinasakan orang Yahudi. Buku ini menerangkan latar belakang dan arti suatu perayaan Yahudi yang disebut Purim.
Isi
- Ester menjadi ratu
Est 1:1-2:23 - Haman membuat rencana jahat
Est 3:1-5:14 - Haman dihukum mati
Est 6:1-7:10 - Orang Yahudi mengalahkan musuh mereka
Est 8:1-10:3
Ajaran: Ester (Pendahuluan Kitab)
Tujuan
Supaya dengan mengetahui isi Kitab Ester, setiap anggota Jemaat yakin, bahwa
Allah memelihara dan menolong umat-Nya ketika mengalami pencobaa
Tujuan
Supaya dengan mengetahui isi Kitab Ester, setiap anggota Jemaat yakin, bahwa Allah memelihara dan menolong umat-Nya ketika mengalami pencobaan dan penderitaan.
Pendahuluan
Penulis : Penulis Kitab Ester sangat sukar untuk dipastikan. Tetapi menurut para ahli Alkitab, ada kemungkinan ditulis oleh Mordekhai atau Ester bahkan mungkin juga Nehemia.
Isi Kitab: Isi Kitab Ester menceritakan keadaan Bangsa Israel di pembuangan. Untuk dapat mengerti isi Kitab Ester ini, kita akan mempelajari riwayat para pelaku dan peranannya.
I. Ajaran-ajaran utama dalam Kitab Ester
Raja Ahasyweros
Pasal Est 1:1, raja Ahasyweros adalah raja yang memerintah 127 daerah, dari India sampai Etiopia. Dia adalah salah satu raja yang terkenal pada zaman itu, namun dalam pemerintahannya dia suka bertindak sewenang-wenang.
Pendalaman
- Mengapakah raja Ahasyweros mau membinasakan orang Yahudi? (Est 3:8-11).
- Tetapi bagaimanakah sebenarnya kepribadiannya? (Est 6:1-3,10-11).
Ratu Wasti
Ratu Wasti adalah orang yang dipecat oleh raja Ahasyweros, karena pada waktu raja Ahasyweros menyuruh Wasti memperlihatkan kecantikannya pada pesta yang diadakannya, ratu Wasti menolak. Hal ini bagi raja adalah satu penghinaan, maka raja memberikan keputusan, bahwa ratu Wasti dipecat sebagai ratu dan akan dicari penggantinya.
Pendalaman
- Bacalah pasal Est 1:9-22. Mengapakah ratu Wasti dipecat?
- Kekerasan hati ratu Wasti ini, justru merupaka kesempatan bagi orang Yahudi menjadi rat (Est 2:17-18).
Haman
Haman adalah seorang yang menerima kebesaran dari raja Ahasyweros dengan kenaikan pangkat dan kedudukan tertinggi di atas semua pembesar. Semua rakyat diperintahkan menyembah Haman. Haman sangat memusuhi orang Yahudi karena Mordekhai tidak mau menyembah dia. Haman diberi kuasa oleh raja untuk membunuh bangsa Yahudi.
Pendalaman
- Siapakah Haman? (Est 3:1,5-6). Dan bagaimanakah kepribadiannya? Serta mengapakah ia membenci orang Yahudi?
- Bagaimanakah nasib orang seperti Haman, yang berusah memusnahkan umat Allah? (Est 7:1-10).
Mordekhai
Mordekhai adalah orang Yahudi yang menjadi pegawai istana raja. Dia mempunyai tugas duduk di pintu gerbang istana raja (pasal Est 2:5,19,21). Dan ia adalah seorang yang tidak menyembah kepada Haman, karena menurut keyakinan Mordekhai hanya Tuhanlah yang patut disembah. Dalam pasal 4 (Est 4:1-17) dijelaskan Mordekhai berdukacita dan bersedih bersama orang Yahudi karena adanya keputusan raja memberi kuasa kepada Haman, untuk membunuh orang Yahudi.
Pendalaman
- Siapakah Mordekhai? (Est 2:5; 3:1-5). Dan bagaimanakah kepribadiannya?
- Bacalah pasal Est 6:1-11. Apakah sebabnya Mordekhai dihormati raja?
- Bagaimanakah keadaan orang yang taat pada Tuhan, sepert Mordekhai ini? (Est 8:1-2; 9:4; 10:1-3).
Ester
Ester adalah seorang anak yatim bangsa Yahudi. Dia adalah saudara sepupu dari Mordekhai. Ketika ratu Wsti dipecat dari kedudukannya sebagai ratu, maka Ester diangkat menjadi ratu. Pada waktu orang Yahudi akan dibunuh, Ester menerima permohonan dari Mordekhai untuk menolong membebaskan orang Yahudi (pasal Est 4:14).
Pendalaman
- Siapakah Ester? (Est 1:7; 2:17). Dan apakah kedudukan Ester dalam kerajaan?
- Apakah tugas Ester bagi umat Allah? (Est 4:8-16).
- Apakah usahanya itu berhasil? (Est 7:1-8 8:5-8).
II. Kesimpulan/penerapan
Kitab Ester membuktikan bahwa Allah tetap setia dalam memelihara dan menolong umat-Nya yang berada dalam kesusahan dan kesulitan.
Pengalaman Haman membuktikan bahwa kesombongan ketamakan akan menghasilkan kerugian bagi diri sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan yang Dapat Digunakan untuk Tanya Jawab
- Siapakah nama raja yang ada dalam Kitab Ester?
- Mengapakah Ester bisa menjadi ratu?
- Apakah sebabnya Haman sangat membenci umat Allah?
- Bagaimanakah nasib Haman?
- Pelajaran rohani apakah yang saudara dapatkan dar mempelajari Kitab Ester?
Intisari: Ester (Pendahuluan Kitab) Allah mengatur di belakang layar
RINGKASAN CERITAEster, anak angkat pamannya, Mordekhai dijadikan ratu oleh Raja Persia Xerxes, yang juga dikenal den
Allah mengatur di belakang layar
RINGKASAN CERITA
Ester, anak angkat pamannya, Mordekhai dijadikan ratu oleh Raja Persia Xerxes, yang juga dikenal dengan nama raja Ahasyweros. Perdana menterinya, Haman, membenci orang Yahudi dan bersekongkol untuk melenyapkan mereka. Sasaran utamanya ialah Mordekhai. Ester dengan kepintarannya membuat raja mengalihkan keputusannya terhadap bangsa Yahudi, dan Haman akhirnya digantung. Mordekhai kemudian diberi kekuasaan dan bangsa Yahudi memperingati peristiwa itu dengan perayaan.
TEMPAT KEJADIAN
Kisah ini terjadi di ibu kota Persia, Susan, pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros yang memerintah pada tahun 486-465 S.M.
TUJUAN KITAB ESTER
Ada tiga alasan mengapa kitab ini ditulis:
1. Alasan yang paling utama ialah untuk menerangkan kepada bangsa Yahudi mengenai asal mula Perayaan Purim yang mereka rayakan antara tanggal 13 dan 15 bulan Adar (Februari-Maret). Lihat Ester 9:20-32 dan Est 3:7.
2. Alasan lain yang jelas mengapa kitab itu ditulis ialah untuk memperingatkan umat terhadap anti-Semitisme. Bangsa Yahudi adalah umat Allah yang istimewa, yang menduduki tempat yang unik dalam sejarah dan mempunyai kuasa untuk bertahan melawan segala yang jahat. Ester merupakan salah satu episoda sejarah yang menarik.
3. Kitab ini juga memperlihatkan kuasa Allah untuk mengendalikan peristiwa dan memelihara umat-Nya, bahkan pada saat segala sesuatu tampaknya tak bersahabat dengan mereka.
CIRI-CIRI ISTIMEWA
1. Kitab ini tidak pernah sekali pun menyebut-nyebut Allah, namun kehadiran-Nya terasa di mana-mana.
2. Kitab ini menggambarkan istana Persia dan adat-istiadatnya secara mendetail.
3. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab dalam Alkitab yang judulnya diambil dari nama wanita.
4. Banyak orang meragukan nilai kitab ini, karena nasionalisme Yahudinya yang sangat kuat dan kurangnya acuan kepada Allah. Namun kisah dan pesan yang disampaikan tidak boleh diabaikan.
Pesan
Kitab Ester menyampaikan dua hal utama:
1. Pemeliharaan AllahPemeliharaan Allah berarti bahwa Ia berkuasa penuh atas dunia. Hal ini juga berhubungan dengan pemeliharaan-Nya yang penuh kasih atas umat-Nya (Roma 8:28). Perhatikan:
o Allah selalu ingat akan umat-Nya. Banyak orang Yahudi dalam pembuangan di Persia berpikir bahwa Allah telah melupakan mereka. Mereka bahkan merasa lebih ditinggalkan oleh Allah sewaktu Haman berencana untuk membinasakan mereka. Tetapi, Allah mengingat mereka.
o Allah mengatur segala peristiwa. Allah menempatkan Ester pada kedudukan penting pada waktu yang tepat. Pada waktu diperlukan, Dia bahkan membuat Raja Ahasyweros tidak dapat tidur (Est 6:1)!
o Allah merencanakan tindakan-Nya dengan sempurna. Hal ini jelas terlihat dalam seluruh kisah, tetapi perhatikan secara khusus Est 4:14.
o Allah sungguh-sungguh bekerja. Dia tidak memilih untuk mengadakan mukjizat di sini. Dia semata-mata bekerja melalui hubungan antar manusia yang biasa dan melalui diplomasi. Namun demikian, Dia sungguh-sungguh bekerja. Allah tidak pernah ditonjolkan dalam kisah ini, tetapi umat-Nya tahu bahwa Dia hadir di antara mereka dan melakukan segala sesuatu untuk kebaikan mereka.
2. Umat Allah
o Umat Allah yang istimewa. Kisah ini menunjukkan bahwa bangsa Yahudi merupakan umat pilihan Allah (lihat Ula 7:7,8). Ester merupakan salah satu kisah mengenai hal ini.
o Allah menyelamatkan umat-Nya. Mereka boleh bergantung pada Allah yang akan menyelamatkan mereka, walaupun mereka tahu bahwa mereka hanya akan selamat jika mereka taat pada perjanjian dengan Allah. Lihat Maz 81:13-16.
o Umat Allah yang jujur (Est 2:19-23). Kejujuran Mordekhai dan kejujuran yang berani dari Ester merupakan kunci utama pembebasan bangsa Yahudi. Umat Allah haruslah orang-orang yang penuh kejujuran. Est 7:1-10
o Umat Allah yang minoritas. walaupun merupakan kelompok minoritas, umat Allah dapat mencpai sukses besar jika Dia ada bersama-sama mereka.
o Umat Allah yang percaya. Dalam saat-saat kritis, orang Yahudi percaya penuh kepada Allah. Est 4:15,16
Penerapan
Ester mengajar kita:
o Untuk menaruh keyakinan pada Allah, karena Dia memelihara kita.o Untuk percaya kepada Allah, sebab waktu Tuhan sangat sempurna.
o Untuk melakukan apa yang benar dan menyerahkan selebihnya kepada Allah.
o Untuk bertindak dengan berani, tak peduli apapun risikonya.
o Untuk berdoa dalam saat-saat kristis.
o Untuk mengasihi golongan minoritas rasial.
o Untuk mengingat kasih Allah yang istimewa terhadap bangsa Yahudi.
Tema-tema Kunci
Ester merupakan sebuah buku mengenai penelitian tentang karakter manusia. Pelajarilah tokoh-tokoh di bawah ini:
1. Ester
Ia lemah lembut dan menarik (Est 2:1-18); bergantung sepenuhnya kepada Allah (Est 4:15-17); berani (Est 4:6); diplomatis (Est 5:1-8; 7:1-6). Apa lagi yang dapat Anda katakan mengenai Dia?
2. Mordekhai
Anda dapat melihat karakternya dengan dua cara. Apakah ia seorang Yahudi yang rencananya dimotivasi oleh rasa patriotisme (lihat Est 2:10; 9:2-4), ataukah ia seorang yang dimotivasi oleh kasihnya kepada umat Allah (lihat Est 2:7; 19-23; 4:1-17; 10:3). Bagaimana pendapat Anda mengenai dia?
3. Haman
Kejatuhannya disebabkan oleh ambisi yang serakah (Est 5:10-12), didorong oleh istrinya (Est 5:14), dan oleh perubahan pendapat istrinya (Est 6:13). Kejatuhan Haman melalui suatu perjalanan panjang (Est 3:1,2). Pelajaran apa yang diajarkan Haman kepada Gereja dewasa ini mengenai ambisi?
Garis Besar Intisari: Ester (Pendahuluan Kitab) [1] RATU WASTI DITURUNKAN DARI KEDUDUKANNYA SEBAGAI RATU Est 1:1-22
Est 1:1-9 Raja mengadakan pesta
Est 1:10-12Ratu menolak menghadap raj
[1] RATU WASTI DITURUNKAN DARI KEDUDUKANNYA SEBAGAI RATU Est 1:1-22
Est 1:1 | -9 Raja mengadakan pesta |
Est 1:10-12 | Ratu menolak menghadap raja |
Est 1:13-22 | Raja menurunkan ratu |
[2] ESTER MENJADI RATU Est 2:1-18
Est 2:1 | -4 Raja mencari seorang ratu baru |
Est 2:5-18 | Seorang wanita Yahudi yatim piatu terpilih |
[3] JIWA RAJA DISELAMATKAN Est 2:19-23
[4] HAMAN SI PEMBENCI YAHUDI Est 3:1-15
Est 3:1-6 | Haman membuat rencana jahat untuk membinasakan orang Yahudi |
Est 3:7-15 | Haman melibatkan raja |
[5] ESTER DATANG UNTUK MENYELAMATKAN Est 4:1-5:8
Est 4:1-17 | Ester mengetahui rencana itu |
Est 5:1-8 | Ester mulai menggunakan cara-cara diplomatis |
[6] HAMAN MENGUTARAKAN NIATNYA Est 5:9-14
[7] KEADAAN BERBALIK Est 6:1-14
Est 6:1-11 | Mordekhai diberi anugerah untuk kesetiaannya |
Est 6:12-14 | Haman menggerutu |
[8] KEBENARAN DINYATAKAN Est 7:1-8:17
Est 7:1-10 | Rencana Haman untuk membunuh Mordekhai terungkap dan Haman digantung |
Est 8:1-1 | 7 Raja mengubah keputusannya |
[9] ORANG YAHUDI BERSUKARIA Est 9:1-32
Est 9:1-17 | Orang Yahudi mengadakan pembalasan |
Est 9:18-32 | Orang Yahudi mengadakan pesta |
[10] KEBESARAN MODERKHAI YANG TERAKHIR Est 10:1-3
Bank BCA Cabang Pasar Legi Solo - No. Rekening: 0790266579 - a.n. Yulia Oeniyati
Kontak | Partisipasi | Donasi