Topik : Surga

21 November 2002

Sebuah Pengharapan

Nats : Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir (Ibrani 6:19)
Bacaan : Roma 8:18-27

Ada dua wanita, yang pertama adalah bekas teman sekerja yang telah saya kenal selama 20 tahun dan yang kedua adalah istri bekas murid saya dulu ketika saya menjadi guru sekolah. Keduanya sama-sama memiliki dua anak kecil, sama-sama menjadi misionaris, dan sama-sama begitu mengasihi Yesus Kristus.

Lalu tanpa diduga, hanya dalam selang waktu sebulan, keduanya meninggal. Yang pertama, Sharon Fasick, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Kematiannya tidak mengundang perhatian publik, tetapi membuat keluarga dan teman-temannya sangat terpukul. Yang kedua, Roni Bowers, meninggal bersama anak perempuannya, Charity, ketika pesawat yang mereka tumpangi jatuh tertembak di hutan Peru. Tragedi itu mendapat sorotan internasional.

Kematian mereka menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi banyak orang. Namun, di samping kesedihan, ada pula harapan. Kedua suami wanita itu sama-sama memiliki pengharapan yang sangat kuat akan bertemu istri mereka lagi di surga. Kejadian setelah kematian istri mereka menunjukkan bahwa iman kristiani bekerja. Kedua laki-laki itu, Jeff Fasick dan Jim Bowers, sama-sama bersaksi tentang kedamaian yang telah diberikan Allah bagi mereka. Mereka memberikan kesaksian bahwa pengharapan itu membuat mereka sanggup melanjutkan hidup di tengah-tengah kepedihan yang amat menyakitkan.

Paulus berkata bahwa penderitaan kita sekarang ini "tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18). Pengharapan seperti itu hanya datang dari Kristus. –Dave Branon

10 Februari 2003

Pemikiran tentang Surga

Nats : Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka (Wahyu 21:3)
Bacaan : Wahyu 21:1-5

Para kartunis sering kali melukiskan orang yang ke surga dengan memakai jubah putih, melayang-layang bagaikan hantu melintasi awan- awan, atau duduk di atas kursi emas sambil memainkan harpa.

Betapa jauh perbedaan gambaran itu dengan gambaran yang kita temukan di dalam Alkitab. Dalam 1 Korintus 15, kita membaca bahwa tubuh kebangkitan kita, yang tidak dapat dibinasakan oleh maut, akan tampak nyata dan berwujud; tidak seperti hantu. Wahyu 21:1-5 juga menjelaskan kepada kita bahwa Allah akan menciptakan "langit yang baru dan bumi yang baru". Dia akan menciptakan "kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi" (Ibrani 12:22) dan meletakkannya di atas bumi yang baru sebagai "Yerusalem Baru". Di dalam kota itu digambarkan terdapat banyak jalan, tembok, pintu gerbang, bahkan ada juga sebuah sungai dan pepohonan (Wahyu 22:1-5). Kehidupan di kota itu kelak akan menyenangkan, bebas dari akibat dosa yang melemahkan. Di sana tidak akan ada lagi kematian, kesedihan, dukacita, dan penderitaan, karena Allah akan membuat "semuanya menjadi baru". Namun lebih daripada itu, Dia sendiri akan datang untuk tinggal di tengah-tengah kita sehingga kita dapat menjalin hubungan yang akrab bersama-Nya.

Sungguh sulit bagi kita untuk membayangkannya. Namun bukankah itu masa depan yang menyenangkan? Semuanya menjadi mungkin karena karya Yesus saat mati di kayu salib bagi kita. Seharusnya hal ini memotivasi kita untuk menyembah-Nya, hidup saleh, dan memberitakan kepada sesama bahwa mereka pun dapat memperoleh jaminan masa depan yang mulia --Herb Vander Lugt

4 Juni 2003

Kabar Buruk?

Nats : Hari Tuhan akan tiba .... Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat (2Petrus 3:10)
Bacaan : 2Petrus 3:1-13

Beberapa ilmuwan berkata bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh juta tahun, bumi tidak akan mampu lagi menampung kehidupan karena matahari akan menjadi sangat panas. Kabar ini membuat takut mereka yang menaruh segala pengharapannya kepada dunia ini, karena ini berarti suatu hari nanti semua yang telah dicapai umat manusia akan lenyap.

Namun bagi kita anak-anak Allah, yang mempercayai kebenaran Alkitab, berita ini tidaklah mengejutkan. Kita tahu bahwa suatu hari nanti, bumi dengan segala keberadaannya sekarang ini akan dimusnahkan "dalam nyala api" (2Petrus 3:10). Namun, sesungguhnya Ini bukan-lah kabar yang menakutkan. Sebaliknya, kita menantikan dengan gembira, karena hari di mana planet kita yang telah rusak oleh dosa ini akan digantikan oleh dunia "di mana terdapat kebenaran" (ayat 13). Pengharapan ini tentunya menjadi motivasi yang kuat bagi setiap kita untuk hidup "suci dan saleh" (ayat 11).

Kita juga menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangat berarti, karena melalui doa, sikap, dan kesaksian kristiani kita, kita menjadi mitra Allah selama Dia berkarya di dalam dunia ini. Dan saat Dia menggantikan dunia kita sekarang dengan dunia yang sempurna kelak, kita akan mendapat tempat di dalam rumah yang kekal (Yohanes 14:2).

Oleh iman kita di dalam Kristus, kita dapat dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan. Tuhan ingin memakai kita selama hidup di dunia ini dan Dia menjanjikan dunia yang sempurna kelak --Herb Vander Lugt

28 Juni 2003

Pulang

Nats : Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (2Korintus 5:8)
Bacaan : 2Korintus 5:1-8

Kita dapat menghadapi kematian seperti keriangan anak-anak yang pulang sekolah. Seorang penyair tak di-kenal menulis puisi:

Suatu hari lonceng akan berbunyi,

Suatu hari hatiku akan berdebar-debar

Seiring dengan teriakan, sekolah usai,

Pelajaran selesai, aku berlari pulang.

Walaupun demikian, jarang ada orang percaya yang menghadapi kematian dengan sukacita. Ya, terkadang rasanya kita ingin mati saat sakit atau menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Atau saat kita tua, sendirian, dan tidak dapat menikmati kegembiraan hidup. Namun, sebaliknya tentu saja kita akan memegang hidup kita erat-erat dengan naluri untuk bertahan hidup yang dianugerahkan Allah.

Alkitab mengatakan bahwa Yesus datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan di sini dan saat ini, sampai selama-lamanya (Yohanes 10:10,28). Dan kita dengan sukacita menyadari bahwa Allah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1Timotius 6:17).

Namun, sebaiknya kita menimbang kecintaan terhadap hidup ini secara bijaksana dengan kebenaran yang tercermin dalam syair sebuah lagu lama: "Dunia ini bukanlah rumahku." Dan memang bukan. Kita adalah orang asing, peziarah, dan pengunjung selama tahun-tahun yang berlalu dengan cepat.

Jadi, entah kematian kelihatan masih jauh atau sudah di depan mata, kita dapat yakin bahwa dengan iman kepada Yesus yang bangkit, kita akan meninggalkan dunia ini dan memasuki kemuliaan surgawi (2Korintus 5:8). Pada suatu hari yang membahagiakan, kita akan pulang --Vernon Grounds

16 Juli 2003

Tempat Baru

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:12-26

Sebuah bank di Binghamton, New York mengirimkan bunga kepada pesaing bisnisnya yang baru-baru ini pindah ke gedung baru. Kekeliruan terjadi di toko bunga, sehingga ucapan yang tertulis pada kartu yang menyertai rangkaian bunga itu berbunyi, "Diiringi rasa simpati kami yang terdalam."

Si pemilik toko bunga yang merasa amat malu memutuskan untuk meminta maaf. Namun, ia merasa lebih malu lagi ketika menyadari bahwa kartu yang ditujukan kepada bank itu disematkan pada rangkaian bunga yang dikirim ke rumah duka untuk menghormati orang yang telah meninggal. Kartu itu bertuliskan, "Selamat menempati lokasi baru Anda!"

Sebenarnya ucapan semacam itu tepat ditujukan bagi orang kristiani, karena mereka pindah ke suatu tempat baru yang sangat indah saat mereka meninggal. Mereka pergi untuk bersatu dengan Kristus, maka penderitaan serta dukacita selama keberadaan mereka di dunia telah sirna untuk selama-lamanya. Mendekati akhir hidupnya, Paulus mengatakan bahwa diam bersama-sama dengan Kristus "jauh lebih baik" daripada tetap tinggal di dunia (Filipi 1:23).

Ya, perpisahan memang menyakitkan. Namun, sebagai orang kristiani janganlah kita berduka seperti mereka yang tidak berpengharapan. Sebaliknya, kita dapat bersukacita, bahkan dengan berurai air mata, karena orang yang kita kasihi telah menempati rumah yang baru di surga.

Pada saat orang percaya di dalam Kristus meninggal, sangatlah tepat bagi kita untuk mengatakan kepadanya (jika memungkinkan), "Selamat menempati lokasi baru Anda!" --Richard De Haan

23 Oktober 2003

Hidup Setelah Kematian

Nats : Setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? (Yohanes 11:26)
Bacaan : Yohanes 11:1-44

Bill, suami saya yang terkasih, meninggal karena kanker dalam usia 48 tahun. Pada suatu pagi yang masih diliputi kedukaan, saya membaca Yohanes 11, yang menceritakan bahwa Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Saya diteguhkan oleh dua kebenaran dalam perkataan Yesus kepada para murid-Nya dalam perjalanan ke kubur Lazarus.

Kebenaran pertama dinyatakan saat Yesus mengatakan Lazarus tertidur dan Dia akan membangunkannya (ayat 11-14). Murid-murid-Nya lalu berkata, "Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh." Yesus menjawab, "Lazarus sudah mati." Dengan mengatakan Dia akan membangunkan Lazarus, saya yakin, Dia bermaksud mengajar mereka dengan lembut agar tidak takut terhadap kematian, dan menganggap kematian itu seperti tidur. Karena kuasa-Nya, membangkitkan seseorang dari kubur itu sama seperti membangunkan seseorang dari tidur.

Saya melihat kebenaran yang kedua dalam pernyataan Yesus kepada Marta, "Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (ayat 25,26). Tentu saja orang-orang percaya tidak terhindar dari kematian fisik. Namun, Yesus berjanji mereka akan hidup selamanya. Sebagai 'kebangkitan dan hidup', kelak Dia akan "membangunkan" tubuh mereka. Kuasa-Nya untuk melakukan hal itu ditunjukkan saat Dia membangkitkan Lazarus (ayat 43,44).

Saat seseorang yang kita kasihi pergi untuk tinggal bersama Yesus, janji-janji ini memberikan penghiburan dan jaminan bagi kita --Joanie Yoder

6 November 2003

Pandangan Pertama

Nats : Mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka (Wahyu 22:4)
Bacaan : Yohanes 13:36-14:3

Sewaktu naik pesawat dari Chicago ke Tampa, saya memerhatikan sebuah keluarga di dalam pesawat yang saya naiki. Dari kegembiraan yang terpancar di raut wajah kedua anak mereka, saya menduga keluarga itu belum pernah pergi ke Florida. Saat pesawat mendekati tujuan, awan menutupi pandangan kami sehingga kami tidak dapat melihat daratan. Hanya saat pesawat mulai terbang menurunlah, kami akhirnya berhasil menerobos gumpalan awan itu.

Ketika pertama kali melihat daratan kembali, sang ibu berseru kepada kedua anaknya yang duduk di sebelahnya, "Lihat, itu pasti Florida!" Setelah hening sejenak, si anak laki-laki memprotes, "Tapi Bu, di mana pohon palemnya? Saya tidak melihatnya!" Saat berpikir tentang Florida, hal pertama yang melintas di benak anak laki-laki itu adalah pepohonan tropis, dan itulah yang pertama kali ingin dilihatnya.

Hai orang kristiani, ketika Anda bersiap untuk mendarat di surga, apa yang pertama kali ingin Anda lihat? Betapa indahnya jika kita bisa menyapa orang-orang terkasih yang telah mendahului kita. Wow, betapa bahagianya jika kita bisa mengunjungi orang-orang percaya dari masa lampau, dan betapa menyenangkan bisa melihat pemandangan surga yang penuh dengan kemuliaan! Namun demikian, betapa pun menyenangkan semuanya ini, sukacita kita yang terbesar adalah melihat Tuhan Yesus Sendiri karena Dialah yang membuat kita mungkin untuk pergi ke sana.

Ya, dalam syair sebuah himne lama pun dikatakan bahwa, "Saya rindu untuk pertama-tama melihat Juruselamat saya" --Richard De Haan

26 November 2003

Dalam Hadirat-Nya

Nats : Maut telah ditelan dalam kemenangan (1Korintus 15:54)
Bacaan : 1 Korintus 15:50-58

Ketika jemaat di sekeliling saya menyanyikan bait terakhir lagu "Ajaib Benar Anugerah" (Amazing Grace), saya tidak mampu ikut bernyanyi bersama mereka. Saya justru menyeka air mata ketika membaca kata-kata John Newton, "Meski selaksa tahun lenyap di surga mulia, rasanya baru sekejap memuji nama-Nya." Saat itu saya tidak tertarik dengan 10.000 tahun (selaksa) di surga. Yang saya pikirkan hanyalah bahwa putri saya yang berusia 17 tahun telah berada di sana. Melissa, yang beberapa bulan kemudian akan masuk sekolah menengah atas, telah berada di surga. Ia telah mengalami kekekalan yang hanya dapat kita bicarakan dan nyanyikan.

Sejak Melissa meninggal karena kecelakaan mobil pada musim semi tahun 2002, surga memiliki arti baru bagi keluarga kami. Karena putri remaja kami yang cerdas dan cantik itu telah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, kami tahu ia telah berada di surga. Seperti yang dikatakan Paulus, "Maut telah ditelan dalam kemenangan" (1Korintus 15:54). Bagi kami, surga bahkan menjadi semakin nyata. Kami sadar bahwa ketika kami berbicara dengan Allah, kami sedang berbicara dengan Dia yang menerima Melissa kami di dalam hadirat-Nya.

Kenyataan tentang surga merupakan salah satu kebenaran Alkitab yang paling mulia. Surga merupakan tempat yang nyata di mana orang-orang yang kita kasihi hidup di dalam hadirat Allah yang Mahabesar. Di sana mereka selamanya melayani dan menyanyikan pujian-pujian untuk-Nya. Semua itu karena anugerah-Nya yang luar biasa! --Dave Branon

30 Desember 2003

Aktivitas di Surga

Nats : Hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka (Wahyu 22:3,4)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Terkadang saya bertanya apa yang akan kita lakukan di surga. Apakah kita akan duduk di awan dan memetik harpa surgawi? Apakah kita akan terbang dengan sayap kain yang halus? Dalam penglihatannya, Yohanes menyaksikan tiga kegiatan di surga kelak.

Yang pertama adalah melayani (Wahyu 22:3). Mungkin kita akan menjelajah sudut jagat raya yang tak terbatas, atau seperti kata C. S. Lewis, memerintah bintang yang sangat jauh. Apa pun pelayanan yang diperintahkan bagi kita, takkan ada rasa kekurangan, kelemahan, dan keletihan. Di surga kita akan memiliki pikiran dan tubuh yang setara dengan tugas yang dirancang bagi kita.

Aktivitas kedua adalah memandang: Kita akan "memandang wajah-Nya" (ayat 4). "Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar" (1Korintus 13:12), tetapi di surga kita akan melihat wajah Juruselamat kita, dan kita "akan menjadi sama seperti Dia" (1Yohanes 3:2). Ini yang dimaksud dalam Wahyu 22:4, "Nama-Nya akan tertulis di dahi mereka." Nama Allah menyatakan kepribadian-Nya yang sempurna. Jadi, menyandang nama-Nya berarti menjadi seperti Dia. Di surga kita takkan bergumul dengan dosa lagi, tetapi akan mencerminkan keindahan dari kekudusan-Nya selamanya.

Yang terakhir adalah memerintah. Kita akan melayani Raja kita dengan memerintah dan bertakhta bersama Dia "selama-lamanya" (ayat 5).

Apakah yang akan kita lakukan di surga? Kita akan melayani Allah, memandang Juruselamat kita, dan memerintah bersama Dia selamanya. Kita akan sibuk! --David Roper

8 Januari 2004

Menuju Rumah

Nats : Karena iman [Abraham] diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing (Ibrani 11:9)
Bacaan : Ibrani 11:8-10

Kini ketika saya semakin mendekati akhir perjalanan hidup, saya semakin merasa sebagai pendatang di dunia ini. Saya pikir ini adalah hal yang wajar. Pada awalnya Abraham menggambarkan dirinya sebagai "orang asing dan pendatang" ketika ia membeli sebidang tanah untuk menguburkan Sara (Kejadian 23:4). Waktu dan kematian dapat membuat Anda berpikir seperti itu.

Kebanyakan orang percaya yang sudah berusia senja mengatakan hal semacam ini: tak ada rumah bagi kita di dunia ini sebelum sampai ke surga. Seperti peziarah dalam The Pilgrim's Progress karya John Bunyan, sekali kita memandang Kota Surgawi, kita takkan pernah puas dengan hal lain yang tidak semulia itu. Seperti Abraham, kita mencari sebuah kota yang dibangun oleh Allah (Ibrani 11:10).

Dalam Lord Of The Rings karya Tolkien, Frodo dan kawan hobbitnya yang lain berangkat menyongsong petualangan besar sambil menyanyikan, "Rumah kita tinggalkan, dunia tujuan kita." Namun bagi orang kristiani, kita menyanyikan kebalikannya: dunia kita tinggalkan, rumah tujuan kita.

Di sana ada lembah air mata karena "Ia akan menghapus segala air mata dari mata [kita], dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4). Janji ini membuat perjalanan kita sekarang lebih mudah dijalani.

Dengan kata lain, pengharapan untuk pulang ke rumah, itulah yang membuat saya tetap berjalan. Saya tak sabar lagi untuk tiba di sana! --David Roper

18 April 2004

Hidup Kita di Surga

Nats : Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya (Wahyu 22:3)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Kata-kata berikut ini terukir pada sebuah batu nisan: “Janganlah menangisi aku sekarang, janganlah menangisi aku nanti; karena aku tidak akan melakukan apa pun lagi untuk selamanya”. Sebagian orang menganggap surga adalah tempat yang membosankan. Yang lainnya berharap bahwa setelah bertahun-tahun bekerja keras, mereka tak ingin melakukan apa pun di surga—surga adalah tempat pensiun terakhir!

Memang benar, di surga kita akan beristirahat dari pekerjaan duniawi (Wahyu 14:13), tetapi bukan berarti di sana tidak ada aktivitas. Ketika Yohanes mendapat penglihatan tentang Yerusalem Baru dengan takhta Allah dan Anak Domba, yang penuh dengan umat tebusan Allah, ia menyatakan dengan jelas, “Hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya” (22:3).

Jika kita mengenal Kristus sebagai Juruselamat, kita akan dibangkitkan oleh kuasa-Nya untuk melayani Dia di surga. Kita akan melayani-Nya dengan setengah hati atau hanya sewaktu-waktu, seperti yang sering kita lakukan kini. Sebaliknya, kita akan terus melayani dengan antusias (7:15). Kita akan bersekutu bersama Allah secara kreatif dengan cara yang tak terbayangkan, tanpa takut akan kemerosotan fisik dan kematian (21:4). Kita akan menjalani kekekalan dengan penuh sukacita oleh kasih penebusan Allah dan mengalami kebahagiaan tiada akhir di sisi kanan-Nya (Mazmur 16:11).

Surga bukan tempat membosankan di mana kita melakukan apa-apa. Surga adalah tempat di mana kita akan memandang wajah Kristus sambil melayani-Nya dengan sukacita untuk selamanya! —Joanie Yoder

1 Juli 2004

Tersedia Bagi Anda

Nats : Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (1 Petrus 1:6)
Bacaan : 1 Petrus 1:3-9

Pernahkah Anda mengalami suatu liburan seperti berikut ini? Anda berencana untuk mendatangi suatu tempat yang jauh. Anda tahu bahwa di sana Anda akan melewatkan saat yang menyenangkan. Namun, Anda mengalami begitu banyak kesukaran dalam perjalanan ke sana sehingga Anda bertanya-tanya apakah perjalanan tersebut memang layak dilakukan.

Mobil mogok. Kemacetan lalu lintas. Tersesat. Anak-anak sakit. Teman-teman seperjalanan yang menjengkelkan. Anda tahu bahwa tujuan perjalanan itu akan menyenangkan, tetapi perjalanan itu sendiri tidak mulus. Tetapi, Anda tetap menjalaninya karena Anda tahu bahwa segala jerih payah itu sepadan dengan hasilnya.

Itulah gambaran kehidupan kristiani. Mereka yang telah memercayai Yesus sebagai Juruselamat tengah melakukan perjalanan yang penuh dengan berbagai kesukaran, hambatan, tragedi, dan gangguan. Kesukaran tampaknya selalu ada atau siap menghadang. Namun, kita tahu bahwa di depan kita ada tujuan luar biasa yang tak terlukiskan (1 Petrus 1:4). Dan terkadang keyakinan mengenai apa yang tersedia bagi kita di surga itulah yang membuat kita terus bertahan.

Petrus mengerti. Ia mengatakan bahwa saat menjalani hidup, kita akan menderita sebagai akibat dari persoalan yang kita hadapi. Tetapi sesungguhnya kita dapat bersukacita melalui segala kesukaran tersebut, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang istimewa di akhir perjalanan kita.

Apakah Anda menghadapi persoalan hari ini? Pandanglah ke depan. Surga membuat perjalanan kita tidak sia-sia —Dave Branon

10 Juli 2004

Pernikahan di Surga

Nats : Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga (Markus 12:25)
Bacaan : Markus 12:18-27

Ketika masih menjadi mahasiswa di Moody Bible Institute, saya mengenal seorang profesor yang istrinya telah meninggal. Lalu ia menikahi seorang janda yang adalah mantan istri sahabatnya. Suatu hari seorang mahasiswa bertanya kepadanya, “Akankah istri pertama Anda mengetahui pernikahan kedua Anda ketika Anda berjumpa dengannya di surga kelak, dan jika ya, menurut Anda bagaimana reaksinya?” Profesor itu tersenyum dan berkata, “Tentu saja ia tahu, dan karena ia sempurna, ia takkan cemburu. Meski kami tak lagi hidup sebagai suami-istri, saya yakin kami akan saling mengenali. Kami semua akan menjadi sahabat selamanya.”

Dalam Markus 12, kita membaca tentang beberapa musuh Yesus yang mengarang kisah tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dan tidak meninggalkan seorang anak lelaki pun. Menurut hukum Yahudi, saudara dari orang yang meninggal harus mengawini jandanya demi mendapatkan seorang anak lelaki (Ulangan 25:5). Menurut cerita mereka, ini terjadi dengan ketujuh saudara lelaki orang tersebut. Para pencemooh Yesus bertanya, “Saat mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu?” Dia mengatakan mereka tidak memahami Kitab Suci maupun kuasa Allah dalam membangkitkan orang mati serta menjadikannya makhluk yang mulia tanpa pernikahan.

Saya percaya di surga kita akan saling memiliki perasaan istimewa terhadap orang lain. Kita akan mengasihi dengan sempurna dan menikmati pemulihan total dari segala sakit hati selama menjalin hubungan di dunia. Itu jauh lebih bermakna daripada pernikahan mana pun —Herb Vander Lugt

25 September 2004

"ia di Surga"

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : 2Korintus 5:1-8

Pada tanggal 28 Agustus 2003, sahabat saya Kurt De Haan, mantan redaktur pelaksana Our Daily Bread, meninggal karena serangan jantung ketika makan siang. Ketika mendengar berita itu, saya berkata kepada diri sendiri, "Ia di surga." Kata-kata itu sungguh menghibur saya.

Beberapa hari kemudian saya bercakap-cakap dengan mantan pendeta saya, Roy Williamson, yang berusia delapan puluhan. Saya menanyakan keadaan seorang pria di jemaat kami. "Ia sudah di surga," jawabnya. Saya lalu menanyakan seorang jemaat lain. "Wanita itu juga sudah di surga," jawabnya. Kemudian, dengan mata berbinar-binar, ia berkata, "Saya mengenal lebih banyak orang di surga daripada di dunia."

Kemudian saya merenungkan perkataan Pendeta Williamson itu. Ia sebenarnya dapat dengan mudah berkata, "Ia sudah meninggal," atau "Wanita itu sudah tiada." Namun, betapa meneguhkan saat mendengar bahwa orang kudus yang dikasihi Allah telah berada di surga. Alangkah bersukacitanya mengetahui bahwa ketika orang-orang yang memercayai Kristus meninggal, mereka langsung bersama Yesus! Rasul Paulus menjelaskannya demikian, "Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Korintus 5:8). Tak ada lagi rasa sakit, kesedihan, dan dosa. Yang ada hanyalah kedamaian, sukacita, dan kemuliaan.

Kita masih berdukacita ketika seorang percaya yang terkasih meninggal. Dukacita adalah ungkapan kasih. Tetapi pada hakikatnya ada sukacita yang tidak tergoyahkan, karena kita tahu orang yang kita kasihi ada di surga --Dave Egner

1 Oktober 2004

Mengangkat Beban

Nats : Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini (Kejadian 45:5)
Bacaan : Kejadian 45:1-15

Saat itu adalah akhir pekan terakhir pada musim pertandingan bisbol pada tahun 1964. Bill Valentine menjadi wasit dalam pertandingan antara Detroit Tigers dan New York Yankees.

Dave Wickersham adalah pelempar bola tim Detroit, dan sepanjang musim itu ia telah mencetak 19 kemenangan bagi timnya. Jika ia dapat mencetak satu kemenangan lagi, maka ia akan menjadi bintang. Namun, hal itu tidak terjadi.

Setelah pertandingan yang berlangsung ketat, Wickersham menepuk pundak sang wasit untuk meminta istirahat. Dalam pertandingan bisbol, menyentuh wasit merupakan pelanggaran, sehingga Valentine mengeluarkannya dari pertandingan dan ia pun kehilangan kesempatan untuk mencetak kemenangan kedua puluh.

Selama 39 tahun berikutnya, Valentine hidup dalam penyesalan karena mengeluarkan pelempar bola itu lewat keputusannya yang sangat cepat. Namun, sekarang ia tidak lagi memikul beban penyesalan tersebut. Tahun lalu, Wickersham telah menulis surat kepadanya. Ia mengatakan bahwa sang wasit telah mengambil keputusan yang benar dan ia tidak menyimpan dendam. Surat itu telah mengangkat sebuah beban dari pundak Valentine.

Dalam Kejadian 45, Yusuf pun mengangkat beban perasaan bersalah kakak-kakaknya yang telah menjualnya sebagai budak. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih serius daripada sekadar kesalahpahaman. Namun, ia bersedia mengampuni mereka.

Adakah seseorang yang perlu mendengar kata pengampunan dari Anda yang akan mengangkat beban penyesalan mereka? --Dave Branon

16 Oktober 2004

Senang Tiba di Rumah!

Nats : Di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang (Ibrani 13:14)
Bacaan : Wahyu 21:1-5

Selama musim dingin, kondisi yang dikenal sebagai whiteout (badai salju yang mengaburkan pandangan) kadang kala terjadi di sepanjang tepi Danau Michigan. Udara dipenuhi butiran salju sehingga jarak pandang Anda hanya beberapa senti ke depan. Anda benar-benar tak dapat berbuat apa-apa, apalagi jika Anda berkendaraan. Dan itulah yang kami alami pada suatu hari di bulan Desember yang sangat dingin.

Keluarga kami diundang untuk menikmati makan malam Natal di rumah saudara perempuan saya. Saat kami bergerak ke barat ke arah Danau Michigan, cuaca berubah menjadi tidak aman, tetapi kami berhasil mencapai tujuan. Namun dalam perjalanan pulang ke rumah setelah langit gelap, situasi berkembang menjadi semakin buruk. Jalan tol diselimuti es, lalu lintas bergerak sangat lambat, dan beberapa mobil terperosok ke dalam parit. Lalu tiba-tiba kami diselubungi whiteout singkat. Sungguh, suasana itu amat menakutkan. Setelah perjalanan yang lambat dan melelahkan itu, kami pun akhirnya tiba di Grand Rapids dan memasuki halaman rumah kami. Saya pikir semua anggota keluarga kami saat itu berkata, "Saya benar-benar senang tiba di rumah!"

Saya bertanya-tanya apakah kita nanti akan merasakan hal yang sama saat memasuki surga. Whiteout berbahaya dari perjalanan kita di dunia ini akan berakhir. Cobaan, stres, dan kegagalan akan kita tinggalkan. Namun yang terbaik dari semuanya itu, kita aman bersama Juruselamat kita.

Ya, kita akan merasa begitu senang saat tiba di rumah! --Dave Egner

26 Oktober 2004

Harta Karun yang Hilang

Nats : Juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga (Markus 10:21)
Bacaan : Markus 10:17-27

Don berjalan-jalan di jalur kereta api dan mencari-cari di kolong jembatan jalan tol. Ia tidak mencari harta karun yang hilang; ia mencari para tunawisma. Don bertemu Jake, yang sakit jiwa dan tinggal di sebuah gubuk tersembunyi. Kadang ia mampir untuk mengunjungi Jake dan memastikan bahwa ia tidak kedinginan dan punya makanan. Ia bercerita tentang Yesus kepada Jake karena ia ingin agar Jake menemukan "harta di surga".

Yesus berbicara tentang harta ini dengan seorang pemuda kaya yang bertanya kepada-Nya bagaimana caranya memperoleh hidup kekal. Yesus berkata, "Juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" (Markus 10:21).

Yesus tidak mengajarkan bahwa kita harus meninggalkan kekayaan kita agar dapat Dia terima. Dengan usaha sendiri, kita tak akan pernah memperoleh hidup kekal. Dia menunjukkan kepada pemuda itu kebangkrutan rohaninya. Hatinya tertuju pada kekayaan, bukan kepada Yesus.

Kita mungkin tidak menyangka bahwa pemuda kaya dan tunawisma tadi punya banyak persamaan. Di mata Allah, keduanya bangkrut secara rohani. Kita semua pun demikian, kecuali jika kita memiliki Yesus.

Tak ada perbuatan baik untuk meraih hidup kekal, baik itu menolong orang tunawisma ataupun memberikan semua uang kita. Yesus ingin agar kita memberikan hati kita. Maka kita akan memperoleh harta sejati, harta di surga, dan kita akan berusaha untuk menolong orang lain --Anne Cetas

23 Januari 2005

Berhasrat Akan Surga

Nats : Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening (Wahyu 21:21)
Bacaan : Filipi 1:19-26

Tetangga saya Jasmine, berumur 9 tahun, sedang duduk di serambi muka dengan saya pada suatu petang di musim panas. Tiba-tiba ia mulai bercerita mengenai keputusan buruk yang telah dibuatnya dan betapa ia memerlukan pengampunan Allah. Kami berbincang dan berdoa bersama dan ia memohon kepada Yesus untuk menjadi Juruselamatnya.

Lalu pertanyaan-pertanyaan mengenai surga mulai mengalir darinya, “Apakah jalan-jalan di sana benar-benar dari emas? Apakah ibu saya akan ada di sana? Bagaimana jika ia tidak ada di sana? Apakah saya akan mempunyai tempat tidur, atau apakah saya akan tidur di atas awan-awan? Apakah yang akan saya makan?” Saya meyakinkannya bahwa surga akan menjadi rumah yang sempurna, dan bahwa ia akan bersama Yesus, yang akan memberikan segala sesuatu yang ia perlukan. Ia menjawab dengan girang, “Baiklah, kalau begitu mari kita pergi sekarang!”

Rasul Paulus juga memiliki pandangan surgawi (Filipi 1:23). Kesaksiannya adalah, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (ayat 21). Ia menyadari bahwa hidup ini adalah untuk mengenal, memercayai, dan melayani Allah. Akan tetapi ia juga tahu bahwa kehidupan di surga akan “jauh lebih baik” karena ia akan “bersama-sama Kristus” (ayat 23). Ia memang ingin tinggal di sini supaya dapat melayani orang-orang Filipi dan orang-orang lainnya, namun ia siap untuk pergi ke surga setiap waktu untuk bertemu Yesus.

Jasmine siap untuk pergi sekarang. Apakah kita memiliki hasrat sebesar itu? —Anne Cetas

24 Februari 2005

Menyanyikan Kasih-mu

Nats : Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya (Mazmur 89:1)
Bacaan : Wahyu 5:8-14

Saya sedang berkendara menuju tempat kerja sambil mendengarkan stasiun radio kristiani lokal. Di tengah-tengah senda-gurau pagi terdengarlah lagu, “Aku Dapat Menyanyikan Kasih-Mu Selamanya”.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Segera setelah lagu pujian yang indah ini diputar, saya merasakan air mata saya bercucuran. Saya sedang berada dalam perjalanan menuju tempat kerja, dan saya tidak bisa melihat jalan gara-gara sebuah lagu. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Sesampainya di tempat kerja, saya duduk di dalam mobil, berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi. Akhirnya saya menemukan jawabnya. Lagu itu mengingatkan saya bahwa walaupun di bumi ini dimulai hari baru untuk melakukan kegiatan normal, putri saya Melissa kini mendapatkan kepenuhan dari harapan atas lagu itu di surga. Saya dapat membayangkan dengan jelas ia sedang menyanyikan cinta kasih Allah, mendahului kita semua dalam menyanyikan lagu abadi tersebut. Memahami sukacita Melissa sementara kami sendiri diingatkan akan kesedihan kami karena ia sudah tidak bersama kami lagi, merupakan momen yang manis bercampur pahit.

Hidup kita kebanyakan seperti itu. Sukacita dan penderitaan jalin- jemalin. Oleh sebab itu, kita perlu mengingat kemuliaan Allah. Kita perlu melihat sekilas masa depan kita yang penuh sukacita yang dijanjikan di hadapan Penyelamat kita. Dalam kesedihan hidup, kita perlu mencicipi sukacita, yakni sukacita yang datang saat kita menyanyikan cinta kasih Allah dan menikmati kehadiran-Nya selamanya —Dave Branon

1 Maret 2005

Hanya Sekilas

Nats : Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya ... (Wahyu 22:3)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Betapa bersyukurnya kita atas keajaiban dunia yang telah diciptakan Allah bagi kita sebagai tempat tinggal saat ini. Sekalipun telah rusak oleh kejahatan dan kesengsaraan, bumi ini penuh dengan hal-hal indah yang memesona indra kita. Pagi-pagi benar di hari yang cerah, berjalanlah di taman bunga dan nikmati keindahan serta aromanya. Lalu renungkanlah tentang keindahannya. Keindahan itu adalah sekilas pemandangan samar akan kemuliaan surga.

Beberapa tahun lalu, saya berdiri di luar sebuah pondok di ketinggian pegunungan Rocky. Sejauh mata memandang, saya dapat melihat seluruh puncak bukit diselimuti salju dan bercahaya di bawah sinar bulan purnama. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Namun tetap saja, itu hanyalah sekilas gambaran kemuliaan surga.

Dengarlah alunan harmoni yang menggetarkan dalam Simfoni No. 9 ciptaan Beethoven. Lalu bayangkan nyanyian paduan suara malaikat yang meriah.

Juruselamat kita meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia akan kembali ke rumah Bapa-Nya, yaitu rumah-Nya yang kekal, untuk menyiapkan tempat bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Itu akan menjadi tempat yang sangat megah, dan tidak satu pun tempat di bumi ini yang dapat menyamainya.

Satu-satunya syarat agar dapat memasukinya adalah dengan beriman secara pribadi kepada Kristus, serta pada kematian dan kebangkitan-Nya. Percayalah akan pengurbanan-Nya, maka suatu hari Dia akan menyambut Anda dalam keindahan dan sukacita yang mulia —VCG

3 Juni 2005

Saya Bayar Kemudian

Nats : Engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar (Lukas 14:14)
Bacaan : Lukas 14:7-14

Diandaikan seorang atasan berkata kepada seorang karyawannya, "Kami sangat menghargai apa yang Anda lakukan di sini, namun kami memutuskan untuk mengubah cara menggaji Anda. Mulai hari ini, kami akan membayar nanti setelah Anda pensiun." Apakah karyawan ini akan melompat kegirangan? Tentu tidak. Bukan hal seperti itu yang berlaku di dunia ini. Kita menginginkan pembayaran sekarang, atau setidaknya setiap tanggal satu.

Tahukah Anda bahwa Allah berjanji untuk "membayar" kita kemudian—jauh ke depan? Dan Dia meminta kita bergirang karenanya!

Yesus berpendapat bahwa upah terakhir kita atas hal-hal baik yang kita lakukan di dalam nama-Nya diberikan setelah kita mati. Dalam Lukas 14, Yesus berkata bahwa jika kita memedulikan orang miskin, orang lumpuh, dan orang buta, upah kita atas perbuatan baik ini akan diberikan pada hari kebangkitan orang-orang benar (Lukas 14:14). Dia juga mengatakan bahwa bila kita dianiaya, hendaknya "Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upah [kita] besar di surga" (6:22,23). Tuhan tentu mengaruniakan kenyamanan, kasih, dan bimbingan pada hari ini, tetapi sesuatu yang indah, yang telah Dia rencanakan bagi kita, tersedia di masa depan!

Hal itu mungkin tidak seperti yang kita rencanakan; kita tidak suka menunggu-nunggu. Tetapi, bayangkan betapa mulianya saat itu kelak, yaitu saat kita mendapatkan upah kita di hadirat Yesus. Betapa agungnya waktu yang akan kita miliki saat kita menikmati apa yang telah Allah sediakan bagi kita kelak —JDB

11 Juni 2005

Aspal Surga

Nats : Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening (Wahyu 21:21)
Bacaan : Wahyu 21:14-21

Cerita ini mengisahkan tentang seorang penambang yang menemukan emas dan membawa-bawa tasnya yang penuh dengan batangan emas ke mana-mana. Suatu hari ia meninggal dan menuju surga, sambil masih membawa batangan emasnya yang berharga. Setibanya di surga, seorang malaikat bertanya mengapa ia membawa aspal. "Ini bukan aspal," jelasnya, "ini emas." Sang malaikat menanggapi perkataannya dengan berkata, "Di bumi, benda itu memang disebut emas, tetapi di sini, di surga, kami memakainya untuk mengeraskan jalan-jalan."

Ini memang cuma lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita untuk berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.

Dalam Wahyu 21, saya paling terkesan terhadap penggambaran tentang jalan-jalan di surga yang adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!

Benda yang kita angap berharga di bumi ini, tidak dinilai tinggi di surga—itu adalah barang-barang tak perlu yang kita beli dan kumpulkan, saham dan rekening bank, kekaguman dan kemasyhuran. Ketika tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?

Harta benda duniawi sifatnya hanya sementara. Ingat, kekayaan kita yang sejati ada di surga —VCG

21 Agustus 2005

Harapan ke Surga

Nats : Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka (1Korintus 13:12)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Menjelang ulang tahun saya yang ke90, ada dua emosi muncul di dalam hati saya. Salah satunya adalah kepastian, yaitu jaminan positif akan kehidupan yang akan datang. Tentu saja. Yesus berkata, Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup (Yohanes 14:19).

Namun jaminan itu acap kali diikuti oleh sebuah emosi yang lain, yaitu rasa penasaran. Seperti apakah dunia berikutnya itu? Bahkan penjelasan yang penuh inspirasi dalam kitab terakhir Alkitab tentang tempat tinggal surgawi tidak cukup untuk menyampaikan apa yang sudah terbentang di depan kita. Namun semua itu memperkuat kerinduan kita untuk meninggalkan keberadaan duniawi yang gelap dan memasuki realitas surgawi. Kita membaca tentang sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah, pohon-pohon kehidupan, dan tidak akan ada lagi laknat (Wahyu 22:1-3).

Apakah reaksi Anda pada saat memikirkan hidup setelah kehidupan di dunia ini? Barangkali Anda tidak secara khusus merasa penasaran. Namun demikian, apakah Anda diberkati dengan kepastian surga, yang dapat Anda miliki oleh iman di dalam Yesus? Pikirkanlah kata-kata yang diucapkan-Nya di kubur Lazarus: Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya (Yohanes 11:25,26).

Apakah janji itu merupakan dasar kepastian hidup Anda? Anda dapat menjadikannya sebagai kepastian dengan percaya kepada Yesus VCG

30 September 2005

Misteri Agung

Nats : Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (2Korintus 5:8)
Bacaan : Lukas 16:19-31

Banyak orang menggemari kisah-kisah misteri. Memang menyenangkan berperan sebagai detektif dan mencoba menebak siapa pelakunya pada saat kita membaca novel misteri. Tetapi ada kasus yang tidak akan pernah kita pecahkansebelum kita mengalaminya sendiri.

Kita yang telah menyaksikan dengan perasaan sedih kematian orang yang kita kasihi, mungkin akan bertanya-tanya mengenai keberadaan baru mereka. Hati kita sangat ingin mengetahui apa yang mereka lakukan atau di mana mereka berada saat ini. Jika mereka telah mengakui Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, kita tahu bahwa mereka berada di surga. Namun, pada saat ini, ada sebuah selubung yang memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi dan kita tidak dapat melihat apa yang berada di balik selubung tersebut.

Akan tetapi, kita memiliki beberapa petunjuk mengenai misteri ini. Kita tahu bahwa orang-orang terkasih yang telah meninggal sedang menikmati hadirat Allah (2Korintus 5:8). Kita juga tahu bahwa mereka dikenali dan mengenali sekeliling merekasama seperti orang kaya dan pengemis yang dibicarakan Yesus dalam Lukas 16:22,23. Dan kita pun tahu bahwa mereka saat ini belum menerima tubuh sempurna yang akan mereka miliki kelak ketika Yesus kembali (1Tesalonika 4:13-17).

Lebih dari itu, kita telah diberi kebenaran ini: Allah, di dalam kasih dan kuasa-Nya yang tiada taranya, sedang merancang pertemuan yang mulia. Selanjutnya, sukacita kekal kita akan dimulai. Halaman terakhir dari misteri agung ini berakhir dengan bahagia JDB

26 November 2005

Manakah Tujuan Kematian?

Nats : Sengat maut ialah dosa …. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:56,57)
Bacaan : 1Korintus 15:12-26

Pada tahun 410M, bangsa barbar dari Jerman yang dikenal sebagai bangsa Gotik menjarah kota Roma. Selama penyerbuan itu, banyak orang kristiani dibunuh secara sadis dan kejam.

Di tengah-tengah tragedi ini, ahli teologi ternama Agustinus (354-430) menulis buku klasiknya, The City of God [Kota Allah]. Pikiran-pikirannya masih segar hingga kini, walaupun sudah hampir berusia 16 abad.

Agustinus menulis, “Akhir dari kehidupan ini menyejajarkan kehidupan terlama dengan kehidupan tersingkat …. Kematian menjadi jahat hanya karena hukuman setimpal yang mengikutinya. Karena itu, mereka yang ditentukan untuk mati tidak perlu bertanya tentang kematian macam apa yang akan mereka jalani, tetapi ke mana kematian itu akan mengantar mereka.”

Bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, kematian bukanlah seperti polisi yang menyeret kita ke pengadilan, melainkan seperti hamba yang mengantar kita untuk memasuki hadirat Tuhan yang penuh kasih. Rasul Paulus memahami hal ini. Ia memandang kehidupan dan kematian dari perspektif Kristus. Karena ia mengetahui ke mana kematian akan membawanya, maka ia dengan berani menyatakan, “Maut telah ditelan dalam kemenangan” (1 Korintus 15:54).

Setiap orang kristiani dapat memiliki keberanian yang sama. Karena kematian dan kebangkitan Kristus, kita yang menaruh iman di dalam Dia dapat memandang kematian bukan sebagai sebuah titik, melainkan sebuah koma yang mendahului kemuliaan kekal bersama Tuhan kita -HWR

2 Desember 2005

Bayangkan Saja!

Nats : Tatkala aku melihat [kemuliaan Allah] aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman (Yehezkiel 1:28)
Bacaan : Yehezkiel 1:1-5, 22-28

Seperti apa kelak saat kita melihat Tuhan pertama kalinya? Lagu “I Can Only Imagine” (Aku Hanya Dapat Membayangkan) bertanya,

Dikelilingi oleh kemuliaan-Mu,
apakah yang akan dirasakan hatiku?

Akankah aku menari bagi-Mu, Yesus,
atau terdiam dalam ketakjuban-Mu?

Akankah aku berdiri di hadapan-Mu,
atau jatuh berlutut?

Akankah aku bernyanyi Haleluya?

Akankah aku sanggup berkata-kata?

Aku hanya dapat membayangkan!

Yehezkiel adalah seorang imam di antara orang buangan Yahudi di Babel dan ia memperoleh penglihatan dari Tuhan (lihat pasal 1,8,10,11). Ia menggambarkan kehadiran Allah sebagai “api yang dikelilingi sinar”, “seperti suasa mengilat”, dan “seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan”. Dan reaksi Yehezkiel saat itu adalah tersungkur dan mendengarkan firman-Nya (1:27,28).

Rasul Yohanes pun memperoleh penglihatan akan kehadiran Allah. Ia mungkin kawan terdekat Yesus di bumi ini. Pada Perjamuan Malam Terakhir, sebelum penyaliban, Yohanes “bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya” (Yohanes 13:23). Namun, saat ia memperoleh penglihatan akan Putra Allah dalam segala kemuliaan dan kuasa-Nya, ia bereaksi seperti Yehezkiel. Ia “tersungkur … di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati” (Wahyu 1:10-17).

Kita tak dapat memahami betapa luar biasa kemuliaan Tuhan, sehingga kita tak tahu bagaimana reaksi kita nanti saat di hadirat-Nya. Akankah kita menari atau terdiam? Akankah kita berdiri dengan penuh ketakjuban atau jatuh berlutut? Akankah kita bernyanyi atau tidak sanggup berbicara sama sekali? Bayangkan saja! -AMC

5 Januari 2006

Pilihan

Nats : Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas (Lukas 16:23)
Bacaan : Lukas 16:19-31

Terakhir kali saya amati, tak seorang pun senang punya masalah-masalah dengan uang, mobil, komputer, orang, kesehatan. Kita semua lebih menyukai sebuah kehidupan dengan sesedikit mungkin kesulitan.

Jadi, jika Anda menawarkan kepada orang lain pilihan antara (1) masa depan yang benar-benar bebas dari masalah, dukacita, air mata, dan kesakitan, dan (2) masa depan yang penuh dengan kesakitan, penderitaan, penyesalan, dan keluh kesah mereka akan memilih pilihan pertama, bukan?

Yesus mati di atas kayu salib agar kita memiliki kesempatan untuk mengambil pilihan itu. Jika kita bertobat dari dosa-dosa kita dan memercayai Dia sebagai Juru Selamat kita, Dia telah menjanjikan suatu persekutuan hidup dengan Allah di tempat yang disebut Alkitab sebagai surga. Sebuah tempat tanpa masalah. Sebuah tempat di mana tidak ada lagi air mata.

Orang-orang yang hidup di dunia yang penuh masalah perlu mengantre untuk mengambil tawaran itu. Sayangnya, banyak orang belum mendengar kabar baik itu; sedangkan yang lainnya menolak untuk memercayai Kristus. Saat orang-orang mati tanpa Yesus, mereka sudah terlambat untuk menerima tawaran itu, dan mereka akan menuju ke tempat penyiksaan yang disebut Alkitab sebagai neraka.

Apakah Anda membenci kesusahan dan kesakitan? Berpalinglah kepada Yesus dan terimalah tawaran pengampunan-Nya. Masalah Anda di dunia ini tidak akan lenyap, namun Allah telah mempersiapkan sebuah rumah di surga tempat sukacita dan damai kekal bersama Allah --JDB

21 Juli 2006

Sisi Terjauh Dunia

Nats : Kewargaan kita terdapat di dalam surga (Filipi 3:20)
Bacaan : Kolose 3:1-4

Patrick O’Brian (1914-2000) adalah seorang penulis terkenal novel-novel yang berbau sejarah. Pada tahun 1969 ia menerbitkan sebuah novel yang berjudul Master and Commander: The Far Side of the World. Itu adalah novel (yang kemudian menjadi film yang sukses) tentang peperangan di laut selama berlangsungnya Perang Napoleon. Salah satu peng-angkat kepopuleran buku ini adalah per-hatian O’Brian yang luar biasa terhadap pengetahuan tentang angkatan laut dan sejarah alam. Dan ia menuliskannya de-ngan wawasan yang merasuk sampai ke dalam jati diri manusia.

Dalam suatu adegan yang menggugah hati, digambarkan Kapten "Lucky Jack" Aubrey sedang mempersiapkan awak kapalnya untuk suatu pertempuran. Ia berkata, "Inggris terancam akan diserbu, dan meski saat ini kita berada di sisi terjauh dunia, kapal ini adalah kampung halaman kita. Kapal ini adalah Inggris."

Pandangan Kapten Aubrey tentang kewarganegaraan tersebut didasarkan pada kesetiaan, bukan pada suatu tempat tertentu. Pandangan ini dengan jelas menggambarkan suatu prinsip yang alkitabiah. Rasul Paulus pernah menulis surat kepada jemaat di Filipi, sebuah daerah jajahan Romawi, "Kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat" (Filipi 3:20).

Kita perlu senantiasa diingatkan bahwa walaupun kita tinggal di bumi saat ini, kita harus meletakkan kesetiaan kita di rumah abadi kita. Kita perlu selalu memikirkan "hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2) --HDF

6 September 2006

"di Situlah Surga"

Nats : Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka (Wahyu 22:5)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Ketika Bree berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman, ketika Bree dan keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan mengungkap pemahamannya, "Di situlah surga." Ia tahu kakeknya sudah ke surga. Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree berpikir bahwa di sanalah surga itu.

Ibu Bree menulis, "Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak mengenai surga yang ada di balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita lihat." Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree tentang surga membuat sang ibu berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu membuatnya terhibur.

Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu. Setelah diangkat ke surga, ia melihat "sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal" dan "pohon kehidupan" (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak membutuhkan "cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka" (ayat 5).

Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita meyakini bahwa surga adalah tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus me-yakinkan kita, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2). Suatu hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu lagi -AMC

12 September 2006

Pindah Alamat

Nats : Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus-itu memang jauh lebih baik (Filipi 1:23)
Bacaan : 2Korintus 5:1-10

Setiap 26 tahun atau lebih, kami pin-dah ke rumah baru.

Sebenarnya, saya dan Sue pindah ke rumah pertama kami pada saat putri pertama kami masih bayi. Kami tidak pernah menyangka bahwa kami akan menempati rumah itu selama 26 tahun. Kami merasa sangat sedih ketika harus meninggalkan rumah itu untuk pindah ke rumah yang lain.

Pada hari kepindahan kami, setelah semua barang dikeluarkan dari rumah, kami berjalan mengelilingi rumah itu untuk terakhir kalinya, untuk menghidupkan kembali kenangan yang kami miliki. Saat yang tersulit bagi kami adalah ketika kami masuk ke kamar Melissa. Ia meninggalkan kami dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya. Sekarang, kami harus mengatakan selamat tinggal pada kamar yang penuh hiasan bunga matahari kesukaannya.

Ketika saya merenungkan saat yang emosional ketika kami pindah rumah, saya diingatkan kembali tentang kepindahan luar biasa yang dialami Melissa saat ia menghadap ke hadirat Allah. Kepindahan kami ke rumah yang baru tersebut tidak sebanding dengan kemuliaan yang kini dirasakan putri kami di surga. Kami merasakan penghiburan sangat besar ketika menyadari bahwa orang terkasih kami yang telah meninggal, yang percaya kepada Yesus, kini tinggal di kerajaan Allah yang megah! (2Korintus 5:1).

Apakah Anda sudah siap pindah "rumah" untuk yang terakhir kalinya? Di mana pun tempat tinggal Anda di dunia ini, pastikanlah bahwa rumah terakhir yang akan Anda tempati nantinya adalah surga -JDB

29 Desember 2006

Penglihatan yang Kabur

Nats : Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar (1 Korintus 13:12)
Bacaan : 1 Korintus 13:8-13

Ketika saya masih kecil, saya harus mengenakan kacamata. Yang menarik, penglihatan saya membaik, dan mulai SMA sampai usia 40 tahun saya tidak memerlukan kacamata lagi. Pada rentang usia yang penting itu, saya memiliki penglihatan yang sangat baik. Sekarang, karena degradasi alami yang terjadi pada mata, saya kembali mengenakan kacamata untuk melihat jauh dan dekat. Tanpa kacamata, penglihatan saya kabur.

Mengenai "penglihatan rohani" kita, Rasul Paulus berkata, "Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka" (1 Korintus 13:12). Kata samar-samar (enigma dalam bahasa Yunani) mengandung arti bahwa sebagus apa pun penglihatan rohani kita dalam kehidupan duniawi sekarang, tetaplah tidak sempurna.

Zaman dahulu, orang tidak memiliki cermin yang jelas seperti zaman sekarang. Sebagai gantinya, cermin pada zaman itu dibuat dari logam yang dikilapkan, dan cermin itu memberikan bayangan yang samar-samar, tidak jelas. Yang terlihat melalui cermin hanyalah perwujudan tidak sempurna dari apa yang bisa tampak jelas jika dilihat langsung.

Jika Anda menanyakan apa yang sedang dikerjakan Allah dalam hidup Anda, teruslah memercayai-Nya dan carilah kejelasan jawabannya melalui doa dan firman-Nya.

Saat ini, pemahaman kita memang masih terbatas (1 Korintus 13:9). Penglihatan rohani kita masih kabur, tetapi kelak kita akan melihat dengan jelas di surga. Kita akan melihat Yesus "muka dengan muka" --HDF

13 Februari 2007

Bangkit Dalam Kemuliaan

Nats : Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan (1 Kor. 15:42)
Bacaan : 1 Korintus 15:42-49

Bertahun-tahun lalu, saya mendengar kisah tentang seorang lelaki yang sedang mencari bunga untuk ditanam saat musim semi. Di sebuah rumah kaca, ia memilih krisantemum emas yang penuh bunga bermekaran. Satu hal yang membuatnya heran, tanaman itu tersembunyi di sudut ruangan dan ditanam di sebuah ember tua yang penyok serta berkarat.

"Andai bunga ini milikku," katanya pada diri sendiri, "aku akan menaruhnya di pot cantik dan memamerkannya dengan bangga! Mengapa bunga ini terpenjara di ember, di tempat tersembunyi seperti ini?"

Ketika ia menanyakannya, sang pemilik menjelaskan, "Oh, saya memang menyemaikan tanaman itu di ember tua sampai bunganya mekar. Namun, itu hanya untuk sementara. Saya akan segera memindahkannya ke kebun saya."

Lelaki itu tertawa dan membayangkan pemandangan seperti ini di surga, "Ada satu jiwa yang cantik," begitu Allah akan berkata, "hasil dari kasih setia dan anugerah-Ku. Sekarang jiwa itu terpenjara dalam tubuh yang rusak dan tidak dikenal, tetapi sebentar lagi, ia akan tumbuh tinggi dan cantik dalam taman-Ku!"

Mungkin sekarang kita "ditanam" di wadah yang penyok serta rusak untuk sementara waktu, dan di situ Tuhan mempercantik jiwa kita. Namun, "sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang surgawi" (1 Kor. 15:49). Kemudian, Dia akan memajang pekerjaan tangan-Nya dan keindahan kita agar dapat dilihat semua orang. Inilah jaminan dan sukacita kita --DHR

Dalam tubuh yang tak akan dimakan usia,
Kita berkuasa bersama-Nya sepanjang masa;
Sungguh suatu pengharapan yang menakjubkan:
Kita bersama dengan Kristus sepanjang kekekalan. --Watson

8 Maret 2007

Yesus Menangis

Nats : Lalu menangislah Yesus (Yoh. 11:35)
Bacaan : Yohanes 11:17-37

Seorang teman yang putrinya tewas dalam kecelakaan mobil pada bulan Mei 2005 berkata kepada saya, "Saya memang mudah menangis sebelum kecelakaan Natalie .... Namun, kini saya selalu menangis. Kadang air mata mengalir begitu saja."

Siapa pun yang pernah mengalami tragedi pribadi sepedih itu akan memahami apa yang dikatakannya.

Salahkah bila kita menangis? Ataukah kita memiliki bukti alkitabiah untuk menyatakan bahwa menangis itu wajar?

Yesus memberi jawabannya kepada kita. Lazarus, sahabatnya, meninggal. Ketika Yesus tiba di rumah saudara-saudara perempuan Lazarus, mereka dikelilingi oleh teman-teman yang datang untuk menghibur. Yesus melihat Maria, Marta, dan teman-temannya berkabung. Demikian pula dengan Dia. Karena berbela rasa dengan mereka, "menangislah Yesus" (Yoh. 11:35).

Kesedihan, air mata, dan dukacita merupakan hal yang umum bagi setiap orang di dunia ini -- bahkan bagi Yesus. Air mata-Nya menyatakan bahwa air mata "yang begitu saja mengalir ke luar" itu wajar. Dan hal itu mengingatkan kita bahwa air mata dukacita akan lenyap di dalam kekekalan karena "maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita" (Why. 21:4).

Ketika Allah menghapus segala pengaruh dosa, Dia akan menghapus air mata. Ini adalah satu alasan lagi bagi kita untuk menantikan kekekalan --JDB

Tuhan akan menghapus air mata;
Tiada maut, sakit, takut terasa,
Dan waktu terus secercah pagi,
Sebab malam tak ada lagi. --Clements

21 Juli 2007

Dikenal di Surga

Nats : Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku (Yohanes 10:27)
Bacaan : Yohanes 20:11-18

Maria berdiri di depan kuburan yang kosong dan menangis dengan sedih karena Tuhannya telah wafat. Ia mendambakan "sentuhan tangan yang telah lenyap", seperti yang dilukiskan Tennyson dalam syairnya tentang dinginnya kepastian maut, "suara yang sunyi".

Lalu, Yesus pun muncul. Dalam kesedihannya, mata Maria terkecoh. Ia mengira Yesus adalah tukang kebun. Akan tetapi, Yesus kemudian memanggil namanya, dan ia segera mengenali-Nya. Ia berteriak, "Rabuni!" yang artinya Guru (Yohanes 20:16).

Saya ditanya apakah nantinya kita akan saling mengenal di surga. Saya percaya bahwa kelak di sana kita akan mengenal dan dikenal. Pada waktu Yesus memperoleh tubuh-Nya yang mulia, para pengikut-Nya dapat mengenali-Nya (Yohanes 20:19,20). Dan, pada suatu hari nanti kita juga akan memperoleh tubuh yang mulia (1Korintus 15:42-49, 1Yohanes 3:2).

"Bersukacitalah," kata Yesus kepada murid-murid-Nya, "karena namamu ada terdaftar di surga" (Lukas 10:20). Kelak kita akan kembali mendengar suara orang-orang yang kita kasihi dan yang namanya tertulis di surga -- suara-suara yang kini masih sunyi. Kita akan mendengar suara ayah yang memanggil nama kita dengan kasih yang murni, dan suara ibu yang memanggil kita supaya masuk rumah setelah kita bermain di luar.

Meskipun demikian, ada satu suara yang sangat ingin saya dengar melebihi semua suara lainnya, yaitu suara Tuhan Yesus yang memanggil nama saya, "David." Dan, seperti Maria, saya akan segera mengenali-Nya. Juru Selamatku! --DHR

18 November 2007

Langsung ke Surga

Nats : Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain ... yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah 4:12)
Bacaan : Yohanes 3:1-8

Sebuah lagu rohani lama mengingatkan, "Setiap orang yang membicarakan surga tidak akan pernah ke sana." Karena surga adalah tempat tinggal Allah, suatu tempat untuk menyatakan hadirat dan kemuliaan-Nya dalam segala keagungan, Dia memiliki hak penuh untuk menentukan siapa dan dengan syarat apa seseorang dapat diterima di surga. Kepercayaan lain mengenai bagaimana dan mengapa kita diterima di surga sudah pasti salah.

Contohnya adalah rasa percaya diri yang diekspresikan oleh seorang artis terkenal. Ketika ditanya mengenai imannya, ia menjawab, "Saya berdoa. Saya membaca Alkitab. Alkitab adalah buku terindah yang pernah ditulis. Saya seharusnya masuk surga; kalau tidak, itu tidak menyenangkan. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Suara hati saya sangat jernih. Jiwa saya pun seputih bunga anggrek yang tumbuh di sana, dan saya akan langsung ke surga."

Allah sendirilah yang menentukan siapa yang akan langsung pergi ke surga. Dalam Alkitab, firman Allah yang kudus, Dia menyatakan bahwa hanya mereka, yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, yang akan diterima. Rasul Paulus mengatakan, "Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12).

Penilaian diri tentang kemurnian jiwa dan kelayakan karakter seseorang untuk masuk surga bukanlah kriteria. Hanya firman Allah yang memberi kita standar penerimaan di surga --VCG

1 Maret 2008

Menatah Kristus

Nats : Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus (Efesus 4:20)
Bacaan : Efesus 4:17-32

Pada awal kariernya, Dannecker, seorang pemahat dari Prancis, terkenal karena karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewi-dewi Yunani lainnya. Suatu kali ia terdorong untuk mencurahkan segenap energi dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Jadi, ia bertekad untuk mengukir sosok Kristus. Dua kali usahanya gagal sebelum akhirnya berhasil menatah patung Kristus secara prima. Karyanya begitu elok dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya tak ayal begitu mengagumi dan mencintainya.

Suatu kali ia menerima undangan dari Napoleon. "Datanglah ke Paris," kata Napoleon. "Tolong ukirkan bagi saya patung Venus untuk ditempatkan di Louvre." Dannecker menolak. Jawabannya sederhana, namun telak: "Tuan, tangan yang pernah memahat Kristus ini tak akan dapat lagi menatah dewi kafir."

Sosok Kristus yang sejati, Adikarya yang sesungguhnya, juga tengah "dipahat" di dalam diri setiap anak Tuhan. Kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama yang duniawi dan mengenakan manusia baru yang rohani. Kalau dahulu kita "diukir" menurut pola pikir duniawi yang cenderung egois dan merusak, sekarang kita tengah "ditatah" untuk menjadi manusia baru, serupa dengan karakter Kristus (ayat 22-24). Proses pembentukan ini berlangsung melalui ketaatan kepada pimpinan Tuhan.

Proses itu belum selesai. Dunia akan berusaha merusaknya dan "mencukil" kita kembali menurut polanya. Dannecker menantang kita untuk menolak upaya dunia dengan menyadari bahwa sebuah Adikarya tengah dikerjakan di dalam dan melalui kehidupan kita - ARS

24 April 2008

Berdiri di Belakang

Nats : Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)
Bacaan : Yohanes 1:35-42

Rela dan tetap bersukacita dengan posisi "di belakang layar", sungguh tidak gampang. Terlebih di dunia di mana persaingan yang terjadi begitu ketat. Termasuk di gereja. Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terkemuka. Bahkan, untuk itu tidak jarang orang memakai "gaya katak": ke atas menyembahnyembah, ke bawah menendang-nendang.

Namun, Andreas tidak demikian. Ia adalah salah satu dari dua murid Tuhan Yesus yang mula-mula (ayat 40). Ia juga yang membawa Petrus kepada Tuhan Yesus (ayat 42). Akan tetapi dalam perjalanan selanjutnya, justru Petrus yang lebih banyak ditonjolkan. Berulang kali Alkitab menyebut Andreas dengan embel-embel "saudara Simon Petrus" -- menunjukkan bahwa Petrus selalu membayanginya.

Ia juga tidak termasuk murid yang utama. Ketika Tuhan Yesus naik ke gunung untuk dimuliakan, yang dibawa serta ke sana adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus (Matius 17:1). Begitu juga ketika Dia menyembuhkan anak perempuan Yairus (Lukas 8:51) dan ketika Dia di Taman Getsemani (Markus 14:33).

Andreas bisa saja menyesalkan hal ini. Sebagai murid mula-mula dan yang membawa Petrus, ia punya alasan untuk berharap mendapat tempat utama dalam kelompok para murid. Namun, rupanya posisi terkemuka, kedudukan, dan kehormatan tidak pernah menjadi target Andreas. Baginya, yang penting adalah mengikuti dan melayani Gurunya sebaik mungkin. Andreas adalah contoh orang yang tidak mementingkan kedudukan atau status nomor satu. Sebaliknya, dengan rendah hati dan tulus, ia rela berdiri di belakang -AYA

26 Mei 2008

Waktu Teduh

Nats : Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Markus 6:32)
Bacaan : Markus 6:30-32

Seorang pemuda sedang memotong kayu dengan kampak. Dari pagi hingga siang ia terus bekerja. Tidak ada waktu untuk berhenti. Ia harus mengejar target. Itu sebabnya, ia terus-menerus mengayunkan kampaknya. Suatu kali seorang bapak tua datang menghampirinya. "Nak, kampakmu sudah tumpul. Berhentilah sejenak untuk mengasahnya," kata si bapak tua. "Wah, tidak ada waktu, Kek. Saya harus mengejar target," sahut si pemuda.

Kehidupan di dunia ini semakin hiruk pikuk; tuntutan dan tantangan zaman semakin besar. Kita tidak terhindarkan dari kesibukan dan belenggu rutinitas. Padahal, ibarat sebuah mesin, kita tentu membutuhkan istirahat. Hidup dalam rutinitas tanpa sejenak pun "beristirahat" sama dengan pemuda dalam cerita di atas, yang terus memotong kayu tanpa sedikit pun waktu untuk mengasah kampaknya, sehingga kampaknya pun menjadi tumpul. Inilah makna pentingnya waktu teduh: keluar sejenak dari kesibukan rutin untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan.

Waktu teduh lebih merupakan kebutuhan, daripada kewajiban. Karena itu, kita perlu meresponsnya dengan sukacita. Dalam rutinitas sehari-hari, perlu selalu ada waktu untuk sejenak berdiam diri. Menutup mata dan telinga dari segala hiruk pikuk kegiatan rutin sehari-hari. Menyediakan diri dan membuka hati untuk Tuhan, membiarkan Dia menyapa dengan cara-Nya. Tuhan Yesus telah mencontohkannya. Di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa -- mengajar dan menolong orang -- Dia selalu menyempatkan diri untuk sejenak menyepi, untuk menenangkan diri dalam waktu teduh (ayat 31,32) -AYA

29 Mei 2008

Ganggulah Aku

Nats : ... sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem ... (2Samuel 11:1)
Bacaan : 2Samuel 11:1-27

Biasanya orang lebih suka berada di tempat yang aman daripada harus berpetualang dan meninggalkan kenyamanan. Begitu juga banyak orang kristiani sudah cukup puas dengan keadaan rohaninya yang "aman-aman" saja. Daripada memulai petualangan rohani yang seru bersama Tuhan, mereka lebih suka memiliki keadaan rohani yang monoton dan datar saja. Sedapat mungkin mereka berharap situasi akan terus stabil, tidak ada gangguan, masalah, ataupun hambatan.

Seorang yang luar biasa bernama Sir Francis Drake, merindukan petualangan rohani bersama Tuhan, sehingga saat keadaan "aman", ia berdoa demikian: "Ganggulah kami Tuhan, ketika kami berpuas diri karena mimpi-mimpi kecil kami menjadi nyata. Ketika kelimpahan harta benda membuat kami kehilangan rasa haus terhadap air kehidupan. Ketika kecintaan pada hidup ini membuat kami berhenti memimpikan kekekalan. Ketika keinginan kami membangun bumi baru meredupkan visi kami akan surga. Ganggulah kami agar berani berpetualang di lautan yang lebih luas, di mana badai akan memperlihatkan kuasa-Mu yang dahsyat!"

Doa di atas sebenarnya ingin menunjukkan betapa bahayanya sebuah tempat di mana kita merasa nyaman di situ. Lihatlah kehidupan Daud ketika jatuh dalam dosa perzinaan dengan Batsyeba. Ia jatuh bukan saat ia ada dalam pelarian atau peperangan yang menegangkan, tetapi justru saat ia santai di istananya yang nyaman.

Hati-hati jika kita sudah cukup puas dengan kekristenan kita selama ini. Daripada puas dengan kehidupan rohani yang biasa-biasa, sebaiknya kita berdoa meminta keberanian untuk mengalami perkara yang lebih besar -PK

30 Mei 2008

Roh-Nya Menguatkan

Nats : Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak teruca (Roma 8:26)
Bacaan : Roma 8:26-30

Ketika kebakaran besar terjadi di Kalifornia, Oktober 2007, dua ribu rumah habis dilalap api.

Barbara Warden, seorang korban dalam peristiwa itu, hanya sempat menyelamatkan tiga kotak berisi foto dan jam kuno warisan kakeknya. Meskipun hatinya remuk, ia tetap tegar. Dalam kebaktian di gerejanya, ia bersyukur karena tidak ada anggota keluarganya yang cedera. "Di dalam Tuhan, kita selalu menemukan banyak alasan untuk bersyukur -- walau pada masa sulit sekalipun," kata-nya.

Apa yang memampukan Barbara bersyukur di saat sulit? Pimpinan Roh Kudus! Paulus berkata bahwa saat hidup berada di titik terendah, saat itulah Roh Kudus mengirimkan perawatan intensif. Ketika hati begitu sarat beban sampai tak mampu lagi mengucapkan keluhan, Roh berdoa untuk kita kepada Allah. Dia sanggup mengubah bahasa air mata menjadi doa. Dengan cara ini, "keluhan yang tak terucapkan" itu bisa disalurkan (ayat 26), hingga kita mengalami kelegaan di hati, penghiburan ilahi, dan semangat hidup. Kita tidak menjadi panik, tetapi bisa mengamini bahwa apa pun yang terjadi, semua akan mendatangkan kebaikan (ayat 28). Hasilnya, kita tetap memandang masa depan secara positif, meski hari ini semuanya tampak suram. Roh Kudus memampukan kita berjalan dengan iman, bukan penglihatan.

Apakah hidup Anda terasa rumit? Apakah Anda sedang berada di "titik terendah"? Adakah keresahan menyelimuti Anda? Berdiam dirilah di hadapan Allah. Izinkan Roh Kudus menyampaikan keluh-kesah Anda dan mengubah airmata Anda menjadi doa. Anda akan menjadi lega dan tegar -JTI

8 Juli 2008

Tergerak Bertindak

Nats : Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14)
Bacaan : Matius 14:13-21

Kalau Anda hanya punya tabungan Rp3.300.000,00, maukah Anda menyumbangkannya untuk orang lain? Elly Liligoli mau. Ia mempergunakan seluruh uang yang ia miliki untuk membeli buku pelajaran, alat tulis, dan kapur tulis untuk anak-anak Suku Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku. Semua itu berawal dari air matanya yang mengucur ketika menyaksikan kenyataan bahwa ratusan anak Suku Rana tak dapat mengenyam bangku sekolah, sehingga mereka tidak dapat membaca, menulis, dan berhitung. Hati Elly tergerak oleh belas kasihan.

Ia pun nekat membangun sekolah darurat dan harus berupaya keras meyakinkan masyarakat yang telanjur apatis terhadap upaya pengadaan pendidikan. Bahkan, Elly memberi dirinya menjadi guru pengajar dari 125 anak Suku Rana. Ia mengajar membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan mata pelajaran lain. Dari upaya yang dirintis tahun 2001 itu, akhirnya ada 17 murid Sekolah Dasar Suku Rana pertama yang lulus Ujian Akhir Nasional. Murid-murid itu pun kemudian melanjutkan ke SMP.

Tentu kita juga pernah tergerak oleh belas kasihan ketika melihat, mendengar, atau membaca pengalaman menyedihkan yang dialami orang lain. Lalu kita bersimpati dan merasa iba. Alkitab juga kerap mencatat bahwa Tuhan Yesus "tergerak hatinya oleh belas kasihan". Bedanya, pada saat-saat demikian Yesus tidak hanya tergerak hati-Nya tetapi juga bertindak secara praktis, yaitu menyembuhkan mereka yang sakit (ayat 14). Ya, simpati yang diikuti tindakan sekecil apa pun akan jauh lebih berarti daripada sekadar rasa kasihan -AYA

31 Juli 2008

Harus Dimainkan

Nats : Marilah kita ... berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus (Ibrani 12:1,2)
Bacaan : Ibrani 12:1-12

Di kota Cremona, Italia, didirikan sebuah museum biola. Di museum itu ada ratusan biola kenamaan yang dipajang, termasuk yang sudah berusia lebih dari tiga ratus tahun. Andrea Masconi ditugaskan untuk merawat biola-biola tersebut. Selama tiga puluh tahun, tiap pagi ia memainkan sekitar sepuluh biola bergantian. Tiap biola dimainkannya selama enam sampai tujuh menit. Tujuannya supaya kualitas suaranya tetap terjaga. "Kayu biola bagai otot manusia. Jika tidak dimainkan bakal cepat kendor dan rusak," katanya.

Otot rohani kita juga harus dipakai agar tetap berfungsi prima. Hidup kristiani bagaikan "perlombaan lari yang diwajibkan" (ayat 1). Tiap peserta harus melatih otot tubuhnya tiap hari. Memang melelahkan, tetapi itulah satu-satunya cara mempertahankan stamina otot. Dalam pertandingan iman, otot rohani bisa dilatih lewat ujian dan masalah. Tak heran, kadang Tuhan memberi "ganjaran" (ayat 7-9). Kadang kita dibiarkan menghadapi masalah rumit. Di waktu lain, kita dihadapkan dengan ujian iman yang berat. Lewat semua itu kita bisa melatih kesabaran, kepekaan, dan kebergantungan diri kepada-Nya. Dia menghajar kita untuk kebaikan kita (ayat 10).

Apakah Anda sering meragukan kasih Allah, ketika menempuh jalan hidup yang sulit? Pernahkan Anda merasa iri melihat orang lain hidup lebih nyaman, sedang hidup Anda penuh perjuangan? Percayalah, Allah mengizinkan banyak persoalan datang, karena Dia ingin terus membentuk hidup kita. Seperti Andrea Masconi, setiap pagi Dia menggesek dawai hidup kita supaya tetap berada dalam kondisi prima. Tidak kendur. Berjuanglah bersama-Nya -JTI



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA