Topik : Suami/Istri

15 Februari 2003

Dalam Susah Ataupun Senang?

Nats : Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan .... Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (Efesus 5:22,25)
Bacaan : Efesus 5:22,33

Di dekat rumah kami ada sebuah lapangan golf. Saat berdiri di halaman belakang, saya melihat kolam yang seolah-olah tak sabar menunggu pukulan meleset saya berikutnya. Sering kali saya membayangkan sandtraps [lubang berisi pasir dalam permainan golf] dan pepohonan mengejek permainan saya yang jelek.

Saya menceritakan permainan golf ini dengan perasaan campur aduk. Sesekali saya suka bermain golf. Namun tinggal berdekatan dengan lapangan golf selalu mengingatkan saya akan kesalahan-kesalahan yang saya buat saat bermain golf. Itulah tidak enaknya.

Masalah yang sama dapat timbul dalam pernikahan. Terkadang suami-istri melupakan harapan dan mimpi yang pernah saling mereka bagikan. Maka kehadiran pasangan hanya menjadi sumber gangguan, pengingat berbagai kesalahan dan kekecewaan di masa lalu.

Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, ia meminta agar para suami dan istri mengarahkan pikiran mereka pada hubungan mereka dengan Anak Allah (5:22,33). Di dalam Dia kita menemukan kasih yang tak berkesudahan dan pengampunan bagi kegagalan kita. Di dalam Dia kita menemukan Pribadi yang suka melupakan hal-hal yang paling buruk dalam diri kita dan memberikan yang terbaik. Dia mengingatkan kita, bukan pada kekalahan kita, tetapi pada apa yang belum kita capai.

Bapa, ampuni kami yang hanya memusatkan perhatian pada kekurangan dan kesalahan kami, dan bukan pada kasih Putra-Mu Yesus Kristus. Bantulah kami untuk kembali mengasihipasangan kami dalam terang kasih Tuhan yang besar --Mart De Haan II

3 Mei 2003

Bahagia Selamanya?

Nats : Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, ... tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi (1Petrus 3:3,4)
Bacaan : 1Petrus 3:1-12

Selain dalam banyak cerita dongeng, tak pernah ada jaminan bahwa pasangan yang menikah akan hidup bahagia selamanya. Selalu ada saja masalah yang muncul, bahkan kadang begitu rumit. Meskipun kita berusaha membentuk keluarga yang bahagia, kita bisa saja terperangkap dalam rumah tangga yang penuh dendam, permusuhan, pertikaian, dan penderitaan. Tak ada kesedihan yang lebih dalam dibanding kesedihan yang diakibatkan oleh pernikahan yang tidak bahagia.

Namun, pernikahan yang sulit dapat menjadi tempat di mana Allah menggarap "manusia batiniah yang tersembunyi" (1Petrus 3:4). Daripada hanya memfokuskan diri pada kesalahan pasangan, kita seharusnya membuka hati bagi Tuhan dan memohon agar Dia melawan kejahatan dalam hati kita. Secara bertahap, Dia akan bekerja dengan lembut dan murah hati. Dengan begitu, kita akan mulai melihat diri kita yang sebenarnya. Ternyata kita bukan orang yang penuh pertimbangan, sabar, sopan, ramah, murah hati, dan penuh penguasaan diri seperti yang kita bayangkan. Kita menjadi sadar betapa kita membutuhkan pengampunan Juruselamat dan pertolongan Roh Kudus untuk melakukan apa yang benar dan penuh kasih (ayat 1-12), bahkan ketika kita disalahkan.

Pertumbuhan kita dalam kasih karunia bisa mengubah pasangan kita, bisa juga tidak. Tak ada jaminan apa pun dalam hidup ini selain kasih Allah. Namun, dengan pertolongan-Nya, kita bisa berubah. Meskipun mungkin tidak semua luka dalam pernikahan kita dapat disembuhkan, kasih karunia Allah pasti mampu memulihkan kita --David Roper

16 Oktober 2003

Membukakan Pintu

Nats : Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! (1Petrus 3:7)
Bacaan : 1Petrus 3:1-12

Saat saya dan istri makan siang bersama pasangan suami-istri lain, saya perhatikan, setelah keluar dari mobil, sang suami memutar ke sisi lain mobilnya dan membukakan pintu bagi istrinya. Kemudian saya berkata pada pria itu, "Sebagian wanita mungkin menganggap tindakan itu memalukan." "Benar," jawabnya. "Seorang wanita pernah melihat saya melakukan hal ini, dan ia pun segera berkomentar, 'Saya yakin sebenarnya istri Anda sangat mampu membuka pintu sendiri!' Lalu saya menjelaskan kepadanya, 'Saya membukakan pintu untuk istri saya bukan karena ia tidak mampu membuka pintu sendiri, melainkan untuk menghormatinya.'"

Yesus memperlakukan wanita dengan penuh penghargaan dan hormat (Yohanes 4:1-38; 8:3-11; 19:25-27). Begitu juga di dalam 1 Petrus 3:7, para suami diminta untuk hidup bijaksana dengan istrinya, sebagai kaum yang lebih lemah! Pria dan wanita masing-masing memiliki kelemahan tersendiri. Namun secara umum, wanita lebih lemah daripada pria secara fisik. Selain itu, wanita juga memiliki kebutuhan dan sifat sensitif yang unik. Hal ini bukan berarti kedudukan mereka lebih rendah. Sebaliknya, Petrus berkata bahwa sebagai orang-orang kristiani, pria dan wanita adalah "pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan" (ayat 7).

Membukakan pintu bagi seorang wanita mungkin mungkin bagi sebagian orang tampak seperti sopan-santun yang kuno. Namun, hal itu juga dapat menjadi tanda penghargaan yang indah, baik bagi pria maupun wanita, jika itu menggambarkan penghargaan dan rasa hormat yang dimiliki seseorang terhadap pasangannya --Dennis De Haan

6 Oktober 2005

Keajaiban Hidup Pernikahan

Nats : Adam berkata, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kejadian 2:23)
Bacaan : Matius 19:1-8

Ketika Pendeta Howard Sugden memimpin upacara pernikahan kami, ia menekankan bahwa kami sedang terlibat dalam sebuah mukjizat. Kami memercayainya, tetapi kami tidak memahami seberapa besar mukjizat yang diperlukan untuk mengikat dua orang, apalagi menjadikan keduanya satu.

Setelah 20 tahun, saya sadar bahwa kehidupan pernikahan, bukan upacara pernikahan, adalah mukjizat sejati. Setiap orang bisa menikah, tetapi hanya Allah yang bisa menciptakan sebuah kehidupan pernikahan yang sejati.

Sebuah definisi menikah adalah “membangun keterikatan dengan setia atau keras kepala”. Bagi beberapa pasangan, istilah “keras kepala” lebih tepat menggambarkan keterikatan mereka daripada istilah “setia”.

Allah memiliki definisi yang jauh lebih baik bagi kita mengenai pernikahan daripada mendefinisikannya sebagai keterikatan yang terus-menerus diusahakan agar tidak terjadi perceraian. Kesatuan dalam pernikahan itu begitu kuat sehingga kita menjadi “satu daging”. Allah menginginkan hidup pernikahan berlangsung seperti ketika Dia menciptakan Hawa dari Adam pertama kali (Kejadian 2:21-24). Itulah penjelasan Yesus kepada orang-orang Farisi ketika mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” (Matius 19:3). Yesus menjawab, “Sebab itu laki-laki akan … bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (ayat 5).

Menyerahkan hidup Anda kepada orang lain adalah tindakan iman yang benar-benar memercayai mukjizat. Puji syukur, Allah campur tangan dalam menciptakan kehidupan pernikahan -JAL

21 Juni 2006

Kasih Tak Pernah Gagal

Nats : Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengha-rapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)
Bacaan : 1Korintus 13

Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua. Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.

Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Minggu lalu saya melihat Barbara membungkuk ke ranjang Claude, menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." Claude menjawab, "Engkau cantik."

Saya merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan saya sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman saya di tahun-tahun terakhir mereka.

Saya telah menyaksikan Claude dan Barbara selama bertahun-tahun, dan saya tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita --DHR

25 Agustus 2006

Rumput yang Lebih Hijau

Nats : Bagi kamu masing-masing berlaku: Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)
Bacaan : Efesus 5:22-33

Nancy Anderson mengatakan bahwa imannya berubah menjadi suam-suam kuku, sehingga ia memercayai kebohongan dunia: "Saya berhak untuk bahagia." Kebohongan ini membuatnya terlibat dalam hubungan cinta gelap yang nyaris mengakhiri perkawinannya. Ia menulis buku berjudul Avoiding The Greener Grass Syndome (Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau) agar kisah ketidaksetiaannya tidak menjadi "kisah orang lain".

Di bukunya, Nancy menyarankan enam tindakan untuk membangun "pagar" yang melindungi perkawinan Anda dan membantu membentuk "perkawinan bahagia":

Mendengar-pasang telinga bagi pasangan Anda.

Memberikan dorongan-membangun citra pasangan Anda dengan memusatkan diri pada sifat-sifat baik.

Tanggal-memperingati pernikahan Anda dengan bermain dan tertawa bersama.

Berhati-hati-membuat batas-batas yang jelas.

Belajar-mempelajari pasangan Anda agar dapat sungguh-sungguh memahaminya.

Memuaskan-saling memenuhi kebutuhan satu sama lain.

Rumput di seberang pagar mungkin tampak lebih hijau, tetapi kesetiaan kepada Allah dan janji kepada pasangan Anda sajalah yang dapat memberikan damai di hati dan kepuasan.

Apabila Anda menghindari sindrom rumput yang lebih hijau dengan mencintai dan menghormati pasangan Anda, pernikahan Anda akan menjadi gambaran tentang hubungan Kristus dan jemaat bagi orang-orang di sekitar Anda (Efesus 5:31,32) -AMC

14 Februari 2007

Ada Cinta

Nats : Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Kor. 13:13)
Bacaan : 1 Yohanes 4:7-11

Beberapa waktu lalu, saya berkirim-kiriman e-mail dengan seorang teman yang usianya mendekati 30 tahun dan tidak sedang menjalin hubungan asmara yang serius. Ia seorang pria kristiani yang berbakat, menyenangkan, tampan, dan beriman. Namun sejauh ini, segala hal romantis tampaknya tak banyak berarti lagi baginya.

Beberapa bulan sebelumnya, ia begitu bersemangat menjalin hubungan de-ngan seorang wanita muda sahabat penanya. Namun, dua minggu sebelum mereka bertemu untuk kali pertama, wanita itu tewas tertabrak seorang pengemudi mabuk. Teman saya pun pergi menemui keluarga wanita itu, ikut berbelasungkawa, dan mengatasi kehilangannya sendiri.

Dewasa ini, banyak orang merasakan ketidakhadiran cinta, sejelas orang lain yang merayakan kehadirannya. Di dunia di mana cinta sangat berarti, adakah firman Tuhan yang berlaku bagi setiap orang, baik yang memiliki maupun tidak memiliki kekasih?

Fokus 1 Yohanes 4 bukanlah tentang dicintai orang lain, melainkan tentang kasih Allah kepada kita dan kasih kita kepada sesama (ay. 7-11). Menurut 1 Korintus 13:7, kasih seperti ini "menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu". Bagaimana mungkin? Karena kasih Allah "telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Rm. 5:5).

Setelah kartu dan bunga lama dilupakan, selalu ada kasih dari hati Allah bagi kita! --DCM

Hari ini saat kita mengungkapkan
Kasih setia yang tak kunjung padam,
Jangan lupa bahwa kasih Allah yang sempurna
Dinyatakan kepada kita di dalam Anak-Nya. --Hess

24 Maret 2007

Baginya

Nats : Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (Ef. 5:25)
Bacaan : Efesus 5:22-33

Ketika istri saya menjalani operasi gigi, ia bebas tugas selama akhir minggu itu. Selama proses penyembuhan, saya melakukan tugas yang tidak terlalu menyenangkan bagi saya seperti merawat dia dan anak-anak. Saya memasak, mencuci piring, berbelanja untuknya, dan memandikan anak-anak. Ketika melihat semua yang telah saya kerjakan, saya berpikir, Saya berhak mendapatkan pujian ekstra dan pelayanan balasan saat ia sembuh. Namun, sebelum saya memuji diri sendiri, Roh Kudus mengingatkan saya bahwa yang sedang saya kerjakan ini merupakan suatu kehormatan bagi saya sekaligus tugas saya sebagai seorang suami kristiani.

Di zaman Paulus, banyak orang yakin bahwa kebutuhan suamilah yang diutamakan dalam rumah tangga, dan istri hanya bertugas memenuhi kebutuhan suami dan melayaninya. Namun, cara pandang kristiani sangat berbeda. Wanita dipandang sama berharganya dengan pria. Wanita tidak lagi dianggap sebagai pembantu, tetapi sebagai pribadi yang bernilai, yang menjadi fokus perhatian sang suami. Kini bukannya menuntut kaum wanita untuk melayaninya, kaum pria justru diminta untuk melayani kaum wanita!

Efesus 5:25 menggambarkan Kristus sebagai Pribadi yang mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya. Ayat 29 menunjukkan bahwa Yesus mengasuh dan merawat jemaatnya. Ketika para suami berusaha semakin menyerupai Yesus, mereka mendapatkan kehormatan sekaligus tugas untuk berkorban, mengasuh, dan merawat istri mereka --MW

Meski pasangan punya kekurangan,
Pernikahan dapat bertahan selamanya;
Kalau keduanya meminta kepada-Nya --
Untuk menjaga cinta mereka. --Branon

12 Februari 2008

Cemburu=tanda Cinta?

Nats : Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu (1Korintus 13:4)
Bacaan : 1Korintus 13:4-7

Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan "kasih ... tidak cemburu" (1Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha "mencetaknya" menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih.

Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1Korintus 13:7 mengatakan, "Kasih ... percaya segala sesuatu." Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap! --JTI

12 Juli 2008

Kupu-kupu

Nats : Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin ... sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi (Keluaran 13:17)
Bacaan : Keluaran 13:17-22

Kupu-kupu adalah salah satu contoh hewan yang mengalami siklus cukup panjang di hidupnya. Dari telur, ia menetas sebagai ulat. Setelah beberapa saat, ia membungkus dirinya sebagai kepompong. Dan, pada waktunya ia menjadi seekor kupu-kupu yang bisa terbang! Uniknya, bila salah satu saja dari tahapan ini tidak dilewati dengan baik, maka ia akan gagal menjadi kupu-kupu dan mati.

Seperti ulat yang baru menetas, demikian pula bangsa Israel yang baru saja keluar dari tanah Mesir di bawah pimpinan Musa. Allah tahu bahwa apa bila Israel terlalu cepat tiba di tanah Kanaan, mereka akan mudah melupakan penyertaan Tuhan dan menjadi hancur. Jadi, Israel perlu dipersiapkan agar menjadi bangsa yang besar dan mandiri saat memasuki Kanaan. Itulah sebabnya Allah membawa mereka menjalani siklusnya; menempuh perjalanan memutar melalui padang gurun yang luas. Perjalanan berat yang membuat Israel bersungut-sungut, bahkan membuat mereka menyerah dan ingin kembali ke Mesir, sungguh akan mendidik dan mendewasakan mereka.

Kerap kali Allah juga sengaja membawa kita menempuh "jalan memutar". Bentuknya bisa berupa masalah-masalah yang Dia izinkan terjadi di hidup kita; kegagalan menempuh ujian di sekolah, kekalahan dalam persaingan bisnis, atau masalah relasi dengan pasangan, keluarga, atau teman-teman. Semuanya ini mungkin membuat kita putus asa. Namun, jangan menyerah. Jalanilah semua dengan tetap percaya kepada Allah. Pada saatnya nanti, Allah akan menuntun kita keluar dari situ. Dan kita akan siap menjalani kehidupan dengan lebih mantap -ALS



TIP #29: Klik ikon untuk merubah popup menjadi mode sticky, untuk merubah mode sticky menjadi mode popup kembali. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA