Topik : Tujuan

16 November 2002

Tindakan-tindakan yang Saling Berkaitan

Nats : Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana (Amsal 22:8)
Bacaan : Amsal 22:1-8

Putra saya, Steve, ingin menjadi pelari lintas alam terbaik. Meski baru masuk SMU, tetapi ia telah mendapat tempat istimewa pada tim sekolahnya.

Kejadiannya berawal saat Steve memutuskan ingin mengikuti lomba balap motor. Maka hari Sabtu itu ia mengikuti lomba balap motor di lintasan berlumpur. Semua berjalan lancar sampai ia membuat kesalahan dalam melakukan lompatan. Ia terjatuh dan kakinya tertindih sepeda motor Yamahanya.

Tulangnya tidak ada yang patah, tetapi otot betisnya memar sehingga ia harus mengorbankan lomba lari lintas alam yang hendak diikutinya. Keadaannya semakin buruk, dan ia gagal membawa tim sekolahnya ke final tingkat nasional.

Steve mendapat sebuah pelajaran penting: Semua tindakan yang kita lakukan saling berkaitan. Setiap tindakan kita mempengaruhi sisi kehidupan kita yang lain.

Kadang kita berusaha memisahkan sebagian hidup kita dari iman kepada Kristus. Misalnya berpikir bahwa menonton acara TV yang tidak bermoral tidak mempengaruhi perjalanan kita bersama Allah. Namun, dalam Alkitab dituliskan, "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana" (Amsal 22:8), dan "Barangsiapa menabur dalam dagingnya akan ... menuai kebinasaan, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh akan ... menuai hidup yang kekal" (Galatia 6:8).

Semua elemen kehidupan saling terkait satu sama lain. Kita harus memastikan bahwa setiap pikiran, tindakan, dan perkataan kita mengalir dari hati yang bersih. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk memuji, menghormati, dan memuliakan Allah –Dave Branon

13 Februari 2003

Hidup Secara Maksimal

Nats : Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10)
Bacaan : Yohanes 10:7-11

Seorang pendaki gunung kawakan sedang membagikan pengalamannya kepada sekelompok pendaki pemula yang mempersiapkan pendakian pertama mereka. Orang itu telah menaklukkan puncak-puncak gunung yang paling ganas, sehingga ia dipercaya untuk memberikan nasihat. "Ingatlah," katanya, "tujuan pendakian adalah menikmati kegembiraan dan sukacita karena dapat mencapai ... puncak. Setiap langkah membawa kalian mendekati tujuan. Jika tujuan kalian hanyalah untuk menghindari kematian, pendakian kalian tidak akan maksimal."

Saya melihat bahwa nasihat itu berlaku pula dalam pengalaman hidup kristiani. Panggilan Yesus kepada kita untuk menjalani hidup kristiani bukan semata-mata untuk menghindari neraka. Tujuan kita bukanlah hidup dengan sedikit sukacita dan kepuasan, melainkan hidup yang penuh sukacita. Tujuan kita mengikut Kristus seharusnya tidak hanya untuk menghindari siksaan kekal. Jika itu motivasi utama kita, kita akan kehilangan keajaiban, sukacita, dan kemenangan setelah mendaki semakin tinggi dan tinggi bersama Yesus.

Tuhan menjanjikan kepada kita "hidup ... dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Kita tidak dapat mengalami hidup dalam kepenuhan dan kelimpahan jika hidup kita dipenuhi rasa takut. Saat kita berjalan dengan iman, maka setiap hari kita akan memandang kehidupan kristiani sebagai tantangan yang harus dihadapi dan satu langkah lagi menuju puncak kemenangan!

Janganlah hidup secara minimal. Hiduplah semaksimal mungkin! Dakilah gunung kehidupan dengan penuh percaya diri! --Dave Egner

28 Februari 2003

Tujuan yang Bermakna

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : 2Korintus 11:21-29

Seorang ahli ilmu jiwa asal Austria bernama Viktor Frankl dipenjara oleh Nazi selama masa pembantaian besar-besaran. Saat dibebaskan, ia menulis buku berjudul Man's Search For Meaning (Pencarian Manusia Akan Makna Hidup), yang menjadi buku terlaris sepanjang masa. Dalam buku ini, Frankl membagikan semua pelajaran penting yang ia petik dari penderitaannya: "Saya berani berkata bahwa di dunia ini tak ada yang dapat benar-benar menolong seseorang untuk terus bertahan hidup, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, selain pemahaman bahwa sesungguhnya hidup seseorang itu berarti."

Rasul Paulus juga berulang kali mengalami penderitaan (2 Korintus 11:23-27). Ia tentu memiliki tujuan yang membuatnya tetap bertahan. Ia mengatakan kepada pemimpin jemaat di Efesus, "Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain daripada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah" (Kisah Para Rasul 20:22-24).

Kita pun memiliki tujuan dan tugas: Allah memanggil kita untuk menjadi saksi bagi Juruselamat. Kita mungkin tidak menderita seperti Paulus, tetapi dalam iman kita dapat menemukan sebuah makna yang akan menolong kita untuk berjalan dengan setia melalui berbagai pengalaman hidup yang berat --Vernon Grounds

14 Maret 2003

Kepuasan Sejati

Nats : Mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar (Pengkhotbah 1:8)
Bacaan : Pengkhotbah 2:1-11

Seseorang datang ke biro perjalanan dan berkata bahwa ia ingin pergi berlayar. “Ke mana?” begitu ia ditanya. “Saya tidak tahu,” jawabnya. Lalu petugas biro perjalanan itu menyarankan supaya ia memperhatikan sebentar bola dunia yang besar, yang ada di ruangan itu. Ia melihat- lihat sebentar, kemudian dengan putus asa bertanya, “Apakah hanya ini yang Anda tawarkan?”

Dunia tempat kita hidup berisi banyak hal yang menarik. Terlepas dari hal-hal dosa, kita bisa dan sebaiknya menikmati kesenangan-kesenangan itu. Makanan lezat yang disantap bersama teman-teman sepersekutuan dapat menghangatkan hati kita. Keindahan alam akan menimbulkan inspirasi dan memenuhi benak kita dengan kekaguman. Musik yang indah bisa menyegarkan jiwa kita. Dan pekerjaan dapat membuat kita menjadi manusia yang utuh.

Di dalam dunia yang sudah terkutuk oleh dosa ini, kita bahkan dapat menemukan kegembiraan. Namun mengejar kesenangan-kesenangan seperti itu tidak dapat menimbulkan kepuasan penuh dan abadi. Sebenarnya, orang yang hidup hanya untuk mengejar kepuasan diri, tak peduli betapa pun tinggi prestasi mereka, akan selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Walaupun mereka telah mereguk sumber-sumber kesenangan dunia, rasa haus mereka tidak akan terpuaskan. Karena itu, mereka harus setuju dengan Salomo bahwa “segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 2:17).

Hanya dengan hidup bagi Yesus Kristus, kita akan mendapatkan kepuasan sejati --Richard W. De Haan

30 Maret 2003

Sumber Air Hidup

Nats : Yesus berdiri dan berseru, “Barang siapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (Yohanes 7:37)
Bacaan : Yeremia 2:4-13

Lee Atwater adalah seorang tokoh politik Amerika Serikat. Ia memimpin kampanye calon presiden George H.W. Bush tahun 1988 sehingga dapat berhasil dan mengepalai Komite Nasional Partai Republik (1988-1991). Namun, di tengah-tengah semua kegiatannya itu, ia terserang tumor otak yang tidak mungkin dioperasi. Ia meninggal pada usia 40 tahun.

Selama sakitnya, Atwater mulai menyadari bahwa kemakmuran, penghormatan, dan kekuasaan bukanlah nilai-nilai hidup yang tertinggi. Mengakui kekosongan di dalam dirinya, ia lalu mendorong orang lain untuk berkarya mengisi “kekosongan rohaniah dalam masyarakat Amerika”. Dalam komentarnya yang penuh makna, ia mengakui, “Penyakit ini membantu saya menyadari bahwa sesuatu yang hilang dalam masyarakat adalah juga sesuatu yang hilang dalam diri saya, yakni sepotong hati yang penuh rasa persaudaraan.”

Pada zamannya, Yeremia merasakan kekosongan yang sama dalam banyak jemaat Israel. Ia memperingatkan mereka tentang bahaya kekosongan pribadi dan kekosongan bangsa. Mereka menggali kolam, katanya, “yang bocor yang tidak dapat menahan air” (Yeremia 2:13).

Bagaimana dengan hidup Anda sendiri? Apakah secara rohaniah mengering? Mintalah kepada Yesus, Sang sumber air hidup (Yohanes 7:37), untuk mengisi diri Anda dengan kehadiran-Nya. Maka sukacita dan damai akan meluap bahkan melimpah-limpah --Vernon Grounds

24 April 2003

Sebagaimana Mestinya

Nats : Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan (Kolose 1:16)
Bacaan : Kolose 1:15-18

Saya pernah mendengar kisah tentang seorang profesor etika yang menjadi konsultan untuk membantu mengatasi dilema-dilema besar etika dan kasus-kasus hukum di seluruh dunia. Berulang kali ia mengajukan wawasan yang mendalam untuk menjawab berbagai pertanyaan moral yang rumit. Pendapat-pendapatnya pun telah banyak mempengaruhi berbagai keputusan bersama yang bermakna secara global. Namun sayangnya, guru besar itu sendiri tidak beretika. Ia tidak jujur terhadap istrinya, dan ia mempermalukan universitas dengan tingkah lakunya di muka umum.

Pria ini memahami hukum. Ia memiliki pengertian yang dalam tentang benar dan salah. Namun, pengetahuannya itu tidak mempengaruhi cara hidupnya. Ia seperti seorang pemain piano yang menghadapi barisan not, tetapi tidak memainkannya menjadi sebuah lagu. Ia seperti seorang ahli bangunan yang mempunyai semua rancangan dan bahan-bahan bangunan, tetapi tidak membangun gedung itu sebagaimana mestinya. Ia seperti kebanyakan orang yang hidup tanpa Kristus, Pribadi yang menciptakan dan mempunyai rancangan atas hidup mereka. Segala sesuatu yang ada telah diciptakan “oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16), dan adalah bijak bila kita mengikuti rencana-Nya.

Seperti musisi yang baik dan ahli bangunan yang berpengalaman, kita akan berhasil melaksanakan rencana-Nya atas hidup kita bila kita hidup sesuai rancangan-Nya. Seperti doa Rasul Paulus, semoga kita “menerima segala hikmat dan pengertian yang benar” (ayat 9). Dan, kita pun dapat hidup sebagaimana mestinya --Dave Egner

26 April 2003

Bagai Sekuntum Bunga

Nats : Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia (Mazmur 103:15,16)
Bacaan : Mazmur 103:8-18

Beberapa tahun lalu, seorang anak laki-laki berjalan dari satu kotak ke kotak lain di toko permen. Ia tengah menimbang-nimbang permen apa yang akan dibelinya. Ibunya, yang telah lelah menunggui, memanggilnya, “Ayo, cepat beli permennya! Kita harus segera pergi.” Namun anak laki- laki itu menjawab, “Tapi Bu, uangku hanya satu penny, jadi aku harus membelanjakannya dengan hati-hati.”

Kita pun hanya punya kesempatan hidup satu kali. Jadi, kita harus menjalaninya dengan hati-hati! Jika kita punya kesempatan hidup sepuluh kali, mungkin kita dapat menjalani salah satu di antaranya sekadar untuk bersenang-senang atau mencari uang.

Untuk menekankan betapa singkatnya hidup ini, Alkitab menggunakan beberapa ilustrasi, di antaranya tentang sekuntum bunga (Mazmur 103:15,16). Bunga adalah sesuatu yang indah. Sebagai tempat penampung madu, biasanya bunga mengeluarkan aroma yang wangi dan berperan penting dalam menghasilkan bibit baru. Namun, yang paling mengejutkan saya adalah kecantikannya berlalu begitu cepat!

Karena hari-hari kita di dunia begitu singkat, maka kita seharusnya menggunakan dengan cermat “saat-saat kita berbunga”. Madu kasih Allah yang ada dalam hati kita seharusnya membawa orang-orang kepada Sang Juruselamat. Selain itu, hidup kita juga harus diwarnai dengan pelayanan rohani, karena kita diizinkan untuk mekar dan menghasilkan bibit baru (membawa orang lain kepada Kristus).

Hidup begitu singkat. Jadikan hidup Anda indah! --Henry Bosch

4 Agustus 2003

Apa yang Akan Bertahan?

Nats : Yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal (2Korintus 4:18)
Bacaan : 2Korintus 4:16-18

Saya punya seorang teman yang tidak dapat menerima gelar doktor dari sebuah universitas bergengsi di West Coast karena sudut pandang kekristenannya. Menjelang akhir masa studinya, ia diminta datang ke kantor penasihat akademiknya dan diberi tahu bahwa disertasinya ditolak.

Yang pertama kali terpikir olehnya adalah ribuan dolar dan lima tahun hidupnya seketika lenyap begitu saja. Ia merasa sangat terpukul. Namun, kemudian ia teringat kata-kata pujian gubahan Rhea Miller, "Lebih baik memiliki Yesus daripada perak atau emas, lebih baik menjadi milik-Nya daripada memiliki kekayaan yang tak terhitung; ... lebih baik memiliki Yesus daripada semua yang dikejar dunia saat ini." Kemudian teman saya itu tertawa, karena ia menyadari bahwa ternyata ia sama sekali tidak kehilangan hartanya yang abadi.

Reaksi kita terhadap kehilangan ditentukan oleh cara pandang kita. Ada orang yang mementingkan harta abadi; sementara yang lain mementingkan harta yang fana. Ada yang menyimpan hartanya di surga; ada yang menumpuknya di dunia. Ada yang bertahan dalam pernikahan yang sulit demi surga yang akan datang; sementara orang lain bercerai dan mencari kebahagiaan dengan pasangan lain. Walaupun kebanyakan orang percaya bahwa kebahagiaan ditemukan dalam kekayaan dan kemasyhuran, tetapi bila harus memilih, pengikut Kristus akan mau menderita kemiskinan, kelaparan, penghinaan, dan rasa malu karena "kemuliaan yang akan dinyatakan kelak" (1 Petrus 5:1).

Bukankah Anda juga akan lebih suka memilih Yesus?--David Roper

14 Agustus 2003

Faedah Makanan

Nats : Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? (Yesaya 55:2)
Bacaan : Yesaya 55

Seekor burung kolibri di dekat Bingham Canyon, Utah, tampak sedang mencucukkan paruhnya pada "bunga" merah terbesar di kota. Tak seorang pun tahu berapa lama burung itu akan menyadari bahwa ia tidak akan mendapatkan madu dari lampu lalu lintas!

Majalah National Wildlife juga menceritakan seekor rajawali ekor merah di North Carolina yang tiba-tiba menukik untuk menyambar seekor kucing jantan besar. Kucing itu melawan dengan geram sampai- sampai rajawali itu hampir kehilangan nyawanya.

Kebodohan semacam ini tidak hanya terjadi pada burung. Kita semua pernah memboroskan banyak energi untuk hal-hal yang tidak bisa memuaskan jiwa kita. Kadang kita merasa tidak mendapatkan apa-apa. Namun, di saat yang lain kita hampir dilahap oleh apa yang kita kejar. Oleh karena itu, firman Tuhan dalam Yesaya 55 menjadi sangat relevan. Dia bertanya, "Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?"

Allah tidak meninggalkan kita begitu saja dengan pertanyaan itu. Namun, Dia juga memberikan jaminan bahwa kerinduan kita yang terdalam bisa dipenuhi--hanya di dalam diri-Nya (ayat 1-7). Ada kekuatan di dalam kasih dan bukan dendam, dalam kebenaran dan bukan dusta, dalam perdamaian dan bukan perselisihan. Itulah sebabnya kita harus mendahulukan Kristus daripada agama, mendahulukan Alkitab daripada tradisi. Ketika kita menyantap "makanan" yang tepat, kita akan menemukan bahwa Tuhan itu baik (ayat 2)--Mart De Haan II

22 September 2003

Khotbah Dalam Diam

Nats : Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain (Kolose 3:16)
Bacaan : Kolose 3:12-17; Ibrani 10:24,25

Seberapa pentingkah persekutuan kita dengan umat percaya lainnya di gereja? Izinkan saya menjawab pertanyaan ini dengan menceritakan sebuah kisah.

Seorang pendeta prihatin karena seorang jemaatnya yang biasanya rutin hadir kebaktian tidak lagi tampak di gereja. Setelah beberapa minggu, sang pendeta itu memutuskan untuk mengunjunginya. Ketika sampai di rumah jemaatnya itu, sang pendeta mendapati pria tersebut sedang duduk sendirian di depan perapian. Lalu sang pendeta menyeret sebuah kursi dan duduk di sampingnya. Namun, pria itu hanya mengangguk kepada sang pendeta, tanpa bicara sepatah kata pun.

Kedua orang itu duduk berdiam diri selama beberapa saat, sementara sang pendeta memandangi nyala api di perapian. Ia lalu mengambil penjepit bara, dan dengan hati-hati mengambil sepotong bara, dan menjauhkannya dari dalam api yang menyala. Pendeta itu kemudian duduk kembali sambil tetap berdiam diri. Pria itu termenung memandangi nyala bara api yang disingkirkan itu meredup dengan perlahan. Tak lama kemudian, bara itu pun padam dan jadi dingin.

Sang pendeta melihat jamnya dan pamit pulang. Namun sebelum pulang, ia mengambil bara api yang sudah dingin itu, lalu menaruhnya kembali ke dalam nyala api. Dengan segera bara itu menyala kembali karena cahaya dan kehangatan yang dipancarkan bara-bara di sekelilingnya.

Saat sang pendeta bangkit untuk pergi, pria itu pun berdiri dan menjabat tangannya. Kemudian, sambil tersenyum ia berkata, "Terima kasih atas khotbahnya, Pak Pendeta. Sampai jumpa besok Minggu di gereja" --David Roper

3 Oktober 2003

Berlomba Mencapai Tujuan

Nats : Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehny (1Korintus 9:24)
Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Saat mengawali tahun keduanya di SMU, putra saya juga memulai tahun keduanya dalam olahraga lari lintas alam. Steve mengawali tahun itu dengan berjuang untuk mendapatkan tempat dalam regu universitas. Dan itu bukanlah tugas yang mudah.

Itu berarti ia harus lari berkilo-kilometer, latihan angkat beban, istirahat ekstra, dan makan dengan benar (yah, walaupun tidak selalu). Itu juga berarti bahwa ia harus berjuang sebaik mungkin dalam berbagai pertandingan.

Kecepatan larinya terus meningkat. Ia pernah terkilir dan harus berlari lagi. Namun ia pantang menyerah. Akhirnya, ia pun berhasil masuk regu universitas. Dan saat regu itu akan mengikuti pertandingan regional, ia adalah pelari tercepat ketiga dalam tim.

Memiliki tujuan hidup dapat memberi makna dan mengantar kita mencapai sesuatu yang sangat berharga. Prinsip ini sangat berguna, terutama dalam hidup kita sebagai orang yang mempercayai Kristus. Saat kita berlari dalam pertandingan iman, tujuan kita adalah "lari begitu rupa" sehingga kita dapat memenangkan mahkota yang abadi -- upah kekal dari Sang Juruselamat (1 Korintus 3:12-14; 9:24,25). Hal ini membutuhkan disiplin pribadi, kerja keras, dan perbaikan terus-menerus. Ini mencakup komitmen yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya bagi Tuhan.

Dibutuhkan ketekunan, usaha sekuat tenaga, dan suatu dorongan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Namun, berlari seperti itu sungguh bernilai karena hadiah yang akan diterima bersifat kekal --Dave Branon

15 November 2003

Menemukan Jalan Pulang

Nats : Kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia (Filipi 2:15)
Bacaan : Filipi 2:1-4,12-16

Penulis Anne Lamott mengisahkan seorang gadis kecil berusia 7 tahun yang tersesat di sebuah kota besar. Dengan cemas anak itu berlari mondar-mandir di beberapa ruas jalan, mencari tempat yang ia kenal. Seorang polisi melihatnya, menyadari kesulitan anak itu, dan menawarkan bantuan. Anak itu masuk ke mobil, dan sang polisi menjalankan mobilnya pelan-pelan menyusuri daerah itu. Tiba-tiba si anak menunjuk sebuah gereja dan minta turun dari mobil. Ia meyakinkan polisi itu, "Ini gereja saya. Saya selalu bisa menemukan jalan pulang dari sini."

Banyak orang berpikir gereja adalah lembaga kuno yang tak lagi relevan dengan dunia modern. Namun, saya yakin gereja yang setia mengajarkan Alkitab dan mewartakan kabar baik keselamatan melalui Kristus benar-benar memberi apa yang semua kita butuhkan untuk "menemukan jalan pulang".

Apabila gereja kita menjalankan fungsi yang diberikan Allah, maka para jemaatnya akan dengan rendah hati melayani dan memerhatikan satu sama lain, saling mendorong untuk mengikuti teladan Kristus (Filipi 2:1-11). Kelompok jemaat ini, lewat kata-kata dan hidupnya, juga menjadi penunjuk jalan bagi dunia yang tersesat menuju Yesus. Mereka melayani "seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan" (ayat 15,16).

Gereja yang mengajarkan kebenaran tentang Kristus tak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan dalam dunia kita ini. Gereja ini dapat menolong orang-orang dari sepanjang zaman untuk menemukan jalan pulang ke rumah mereka --Vernon Grounds

17 November 2003

Selalu Segar

Nats : Apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:9)
Bacaan : Pengkhotbah 1:1-9

Kita semua cenderung melakukan rutinitas sehari-hari secara berulang-ulang. Dari waktu ke waktu kita makan, tidur, bekerja, dan merapikan diri. Kita dapat kehilangan semangat hidup jika "tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" (Pengkhotbah 1:9).

Namun, ada cara lain untuk memandang kehidupan ini. Dunia dapat disamakan dengan panggung tempat pementasan drama kekekalan dan kita adalah para aktornya. Matahari yang terbit dan terbenam seumpama layar besar hari demi hari. Dan setiap kali kita "mengulang jalur kita", sebenarnya kita membuat suatu keputusan. Kita dapat memandang peran kita dalam kehidupan sehari-hari hanyalah untuk menyelesaikan tugas kita, atau justru melihatnya sebagai suatu kesempatan yang indah untuk mengenal dan menikmati kebaikan dan kebijaksanaan Sang Sutradara yang agung (ayat 5:18-20; 12:13,14).

Saat kita dengan gembira ikut ambil bagian dalam aktivitas yang berulang-ulang ini, maka karakter kita dibentuk, iman kita dikuatkan, harapan kita ditambahkan, dan daya tahan kita dikembangkan. Melalui kejadian-kejadian yang biasa, Allah mengatakan kepada kita bahwa ada sesuatu yang lebih dengan keberadaan kita di dunia ini selain dari rentetan tugas yang tidak berarti.

Bagian dari rencana Allah bagi kita adalah agar kita berserah pada bimbingan-Nya dalam kejadian-kejadian biasa yang terjadi berulang-ulang. Mempercayai Allah terus-menerus sepanjang bulan, minggu, hari, dan jam, merupakan cara yang paling tepat untuk membuat hidup kita selalu segar --Mart De Haan

6 Maret 2004

Menyia-nyiakan Hidup

Nats : Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia (Efesus 4:17)
Bacaan : Efesus 4:17-29

Betapa stresnya berbicara kepada sebagian orang tentang Allah, Yesus, dan keselamatan. Mereka meremehkan Anda dengan berkata, “Kita memiliki keyakinan masing-masing.” Atau, “Jangan mengkhotbahi saya tentang bagaimana harus hidup karena saya juga tidak akan mengkhotbahi Anda.”

Bagaimana cara kita menanggapi hal itu? Dengan menceritakan dan menunjukkan kepada mereka bahwa keyakinan kita di dalam Kristus masuk akal. Keyakinan ini memberi arti bagi kehidupan kita sekarang dan selamanya.

Dalam buku Papillon, sang tokoh utama bermimpi sedang diadili. Hakim mendakwanya melakukan kejahatan paling mengerikan yang pernah dilakukan manusia. Saat Papillon menanyakan kejahatan apa yang dilakukannya, sang hakim memberitahunya, “Tragedi menyia-nyiakan hidup.” “Aku bersalah!” kata Papillon, terisak. “Bersalah.”

Ada banyak orang di sekitar kita yang hidupnya tidak bermakna atau tidak berpengharapan. Mereka terjebak dalam jaring dosa, hidup “dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17). Peran kita, sebagai pengikut Tuhan Yesus, adalah menunjukkan bahwa hidup dengan iman itu masuk akal. Di tengah-tengah dunia yang tanpa tujuan dan penuh keputusasaan, kita harus hidup dengan tujuan dan harapan.

Ketika kita menunjukkan perbedaan yang telah dibuat Yesus dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita, mereka akan melihat bahwa hidup dapat memiliki arti dan tujuan. Dengan demikian, jika mereka berpaling kepada Yesus, mereka pun akan menghindari tragedi menyia-nyiakan hidup —Dave Egner

25 Oktober 2004

Untuk Apa Anda Hidup?

Nats : Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2Timotius 4:7)
Bacaan : 2Timotius 4:6-18

Banyak orang yang hidup di usia senja tiba-tiba menyadari betapa hampa dan tidak bermaknanya hidup mereka selama ini. Kini di usia tua, mereka telah mencapai kesepakatan bisnis yang berhasil dan menikmati kesenangan. Namun, dalam hal persahabatan yang memuaskan atau pencapaian hidup yang langgeng, hidup mereka nol. Mereka telah memanjat tangga kesuksesan, tetapi akhirnya mendapati bahwa ternyata tangga tersebut bersandar di dinding yang salah.

Saat Rasul Paulus merenungkan kembali pelayanannya, ia melihat bahwa semua pelayanannya itu memuaskan namun tidak mudah. Jika diukur dengan ukuran kesuksesan dunia, hidupnya akan tampak tidak berarti.

Paulus menulis suratnya yang kedua kepada Timotius ketika ia tengah menderita di dalam penjara bawah tanah yang dingin dan lembab, untuk menanti hukuman mati. Dalam waktu beberapa minggu, ia akan berdiri di hadapan Nero, kaisar Romawi yang setengah gila, dan hidupnya pun akan segera berakhir. Namun, ia tahu bahwa setelah kematiannya, ia akan menerima mahkota kehidupan dari Raja segala raja. Dan sekarang kita tahu bahwa pengaruh hidupnya mengubah alur sejarah itu sendiri.

Sejarawan kuno mungkin sudah menulis begitu banyak buku tentang kemegahan Nero, tetapi tidak pernah menyebut tentang Paulus. Namun, kini kita dapat menamai anjing kita Nero dan anak kita Paulus. Saya kira pada akhirnya apa yang kita kejar dalam hidup menjadi sangat penting.

Untuk apakah Anda hidup? --Haddon Robinson

11 Januari 2005

Apakah Intinya?

Nats : Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah- perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pengkhotbah 12:13)
Bacaan : Pengkhotbah 1:1-11; 12:13,14

Apakah intinya? Pertanyaan ini muncul dalam pikiran saya ketika melihat anjing cucu saya berkali-kali mengambil bola yang saya lemparkan kepadanya.

Apakah intinya? Pertanyaan itulah yang dilontarkan oleh penulis kitab Pengkhotbah ketika ia memikirkan tentang siklus monoton yang ia amati di alam dan dalam kehidupan. Hal-hal yang sama terjadi tahun demi tahun, generasi demi generasi.

Apakah intinya? Itulah yang sebenarnya ditanyakan oleh seorang pensiunan pengusaha, ketika ia menceritakan kepada saya bahwa ia ingin cepat mati daripada hidup lebih lama. Ia telah melihat dan melakukan segala hal yang diinginkannya. Sekarang ia telah mencapai tempat yang menyimpan lebih banyak penderitaan daripada kesenangan hidup.

Apakah intinya? Ini dia. Beberapa tahun sebelum teman dekat saya meninggal, ia berkata, “Hidup adalah suatu pengalaman yang luar biasa. Betapa indahnya menyaksikan Allah menjaga alam berjalan sesuai dengan polanya. Alangkah indahnya mengetahui bahwa kita di sini untuk mengasihi Allah di atas segalanya dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Betapa nyamannya memercayai bahwa semua dosa kita diampuni karena apa yang dilakukan Kristus di kayu salib. Dan betapa menyenangkannya berpikir tentang kekekalan yang disediakan Allah bagi kita. Hidup memang indah.”

Kehidupan dapat menjadi menyedihkan jika tanpa Allah. Tetapi betapa menyenangkannya kehidupan ini apabila Dia menjadi pusatnya! —Herb Vander Lugt

31 Desember 2005

Anda Mampu!

Nats : Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)
Bacaan : Roma 7:15-25

Seorang anak kecil sedang berada di sebuah tempat cukur rambut. Ruangan itu dipenuhi asap cerutu. Si anak memencet hidungnya dan berseru, “Siapa sih yang merokok di sini!” Sang pemangkas rambut dengan malu-malu mengaku, “Saya.” Anak itu bertanya, “Tidakkah Anda tahu bahwa hal itu tidak baik bagi Anda?” “Saya tahu,” kata sang pemangkas rambut. “Saya sudah mencoba untuk berhenti seribu kali, tetapi saya tidak bisa.” Sang anak berkomentar, “Saya mengerti. Saya pun sudah berusaha untuk berhenti mengisap jempol, namun tidak bisa!”

Kedua orang itu mengingatkan saya pada apa yang terkadang dirasakan orang-orang percaya terhadap pergumulan mereka dengan dosa kedagingan. Paulus meringkasnya dengan baik dengan berseru, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Pergulatan rohaninya akan dapat meninggalkan Paulus dalam keputusasaan, seandainya ia tidak menemukan solusinya. Menyambung pertanyaannya yang menyiksa dirinya, ia berseru dengan penuh kemenangan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (ayat 25).

Apakah Anda sedang bergumul untuk berhenti dari kebiasaan-kebiasaan yang sulit dilepaskan? Seperti Paulus, Anda pun bisa menjadi pemenang. Jika Anda mengenal Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat Anda, kemenangan itu dimungkinkan melalui kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Nyatakanlah dengan penuh percaya diri bersama Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Anda dapat melakukannya! -RWD



TIP #21: Untuk mempelajari Sejarah/Latar Belakang kitab/pasal Alkitab, gunakan Boks Temuan pada Tampilan Alkitab. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA