Topik : Sukacita

17 Februari 2003

Pencuri Sukacita

Nats : Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya (Filipi 1:6)
Bacaan : Filipi 1:1-11

Mengapa banyak orang kristiani tidak mengalami sukacita yang merupakan buah Roh dalam Galatia 5:22?

Dalam bukunya yang berjudul Laugh Again (Tertawa Lagi), Charles Swindoll menuliskan tiga hal yang sering menjadi "pencuri sukacita", yakni kekhawatiran, tekanan batin, dan ketakutan.

Ia mendefinisikan kekhawatiran sebagai "kegelisahan yang berlebihan akan suatu hal yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi". (Dan biasanya tidak terjadi.) Tekanan batin diartikan sebagai "ketegangan yang berlebihan terhadap situasi yang tidak dapat kita ubah atau kontrol". (Padahal Allah mampu.) Dan ketakutan, menurut Swindoll, adalah "kecemasan yang sangat terhadap bahaya, kejahatan, atau penderitaan". (Dan hal itu hanya akan memperbesar masalah kita.)

Swindoll mengatakan bahwa untuk membentengi diri dari "pencuri sukacita", kita harus memiliki keyakinan yang sama seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi. Setelah mengucap syukur atas jemaat Filipi (1:3-5), ia menyakinkan mereka bahwa "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya" (ayat 6).

Apa pun yang membuat Anda khawatir, tertekan, dan ketakutan, tidak dapat menghalangi Allah untuk terus bekerja dalam hidup Anda. Kita dapat hidup dengan keyakinan bahwa Dia mengatur segalanya. Kita dapat memasrahkan segalanya kepada-Nya.

Bentengi diri Anda dari "pencuri sukacita" itu dengan memperbarui keyakinan Anda kepada Allah setiap pagi. Lalu tenangkan hatimu dan bersukacitalah --Joanie Yoder

22 April 2003

Jawabannya Bisa Menunggu

Nats : Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1Timotius 1:15)
Bacaan : Lukas 4:14-22

David Herwaldt kawan saya, adalah pendeta yang penuh hikmat dan suka merenung. Ajal hampir menjemputnya setelah ia melayani Tuhan selama 50 tahun. Ia sering berbicara kepada saya tentang sifat dasar Allah dan keabadian yang akan ia masuki. Meski sadar bahwa pemahaman kami akan misteri ini amat dangkal, kami tak berkecil hati. Kami tahu Allah telah menyelamatkan kami dari dosa dan kesalahan kami. Kami bersukacita atas keselamatan kami. Kami telah memiliki semua yang dibutuhkan untuk menaati Tuhan dengan sukacita, hidup dengan penuh keyakinan, dan melayani Dia dengan ucapan syukur.

Mungkin adakalanya kita tertekan karena tak tahu jawaban atas banyak pertanyaan yang amat mengganggu dalam hidup. Namun, ingatlah Kristus datang bukan untuk memuaskan keingintahuan kita. Sebaliknya, karena Dia melihat kita jatuh dan terluka, Dia datang untuk mengangkat dan menyembuhkan kita.

Ketika Yesus membacakan Yesaya 61:1,2 kepada banyak orang di rumah ibadat (Lukas 4:16-21), Dia menyatakan diri sebagai Mesias yang dijanjikan. Tujuan utama kedatangan-Nya adalah untuk mengadakan pemulihan rohani. Dia datang untuk membebaskan kita dari ketidakberdayaan rohani dan belenggu perasaan bersalah, menyembuhkan kebutaan rohani karena dosa, dan membebaskan kita dari kuasa dosa yang memperbudak.

Mari kita mempercayai-Nya dan menjadikan ketaatan kita kepada-Nya sebagai tujuan utama. Inilah jalan menuju hidup yang penuh syukur, sukacita, dan pengharapan. Keingintahuan kita akan berbagai misteri hidup bisa menunggu --Herb Vander Lugt

12 Agustus 2003

Mengasihani Diri atau Bersukacita?

Nats : Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)
Bacaan : Filipi 4:1-8

Temperamen kita tampaknya sudah melekat semenjak lahir. Sebagian dari kita ada yang tampak selalu bergembira, sementara yang lain kelihatan murung. Namun, bagaimana tanggapan kita terhadap ujian hidup juga mempengaruhi watak kita secara keseluruhan.

Misalnya, Fanny Crosby kehilangan kemampuan penglihatannya ketika baru berusia enam minggu. Ia mencapai usia 90-an, dan ia telah menggubah ribuan pujian yang digemari banyak orang. Pada ulang tahunnya yang ke-92 dengan gembira ia berkata, "Jika ada orang di dunia ini yang lebih bahagia daripada saya, bawalah orang itu kemari supaya saya bisa menyalaminya."

Apa yang memampukan Fanny Crosby mengalami sukacita yang demikian besar dalam situasi yang bagi kebanyakan orang merupakan "tragedi"? Sejak usia dini ia memilih untuk "bersukacita senantiasa dalam Tuhan" (Filipi 4:4). Sebenarnya, Fanny hanya melaksanakan sebuah keputusan yang dibuatnya ketika baru berusia 8 tahun: "Betapa banyak rahmat yang saya nikmati tetapi tidak dapat dinikmati orang lain. Menangis dan mengeluh karena buta? Saya tidak akan dan tidak bisa berbuat demikian."

Ingatlah bahwa "sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu" (Nehemia 8:11). Juga bersukacitalah dalam pengajaran Yesus yang mengatakan dalam Yohanes 15:11, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." Ketika dihadapkan pada pilihan antara mengasihani diri atau bersukacita, marilah kita memilih untuk bersukacita--Vernon Grounds

27 November 2003

Nyanyian Sukacita

Nats : Mereka bersukaria karena Allah memberi mereka kesukaan yang besar ... sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh (Nehemia 12:43)
Bacaan : Nehemia 12:27-43

Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah konferensi pria kristiani di boulder, colorado, saya bersama 50.000 pria lainnya menyanyikan all hail the power of jesus' name. Di stadion sepakbola itu suara nyanyian terdengar begitu membahana, sehingga saya bertanya-tanya bagaimana kedengarannya dari luar gedung. Mungkinkah terdengar oleh orang-orang yang berjalan-jalan di taman sebelah, yang duduk di serambi rumah, atau yang sedang mengendarai mobil? Apa kesan mereka tentang pujian itu?

Suara pujian yang keras itu mengingatkan saya akan kisah dalam bacaan Alkitab hari ini. Kitab Nehemia dimulai dengan pengakuan dosa, dilanjutkan dengan rencana pembangunan, lalu diakhiri dengan konser. Keseluruhan kisahnya merupakan satu pelajaran mengenai kesetiaan dan kekuasaan Allah.

Setelah bertahun-tahun bekerja keras tanpa menghiraukan para penentang, akhirnya tembok Yerusalem berdiri kembali. Pada peresmian pembukaannya, dua "paduan suara syukur" berdiri di atas tembok itu untuk memuji Allah. Dikatakan bahwa "para penyanyi memperdengarkan kidung ... Allah memberi mereka kesukaan yang besar ..., sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh" (Nehemia 12:42,43).

Sukacita tidak bisa dibendung. Sukacita harus diungkapkan dalam bentuk pujian bagi Allah melalui nyanyian syukur. Tak peduli apakah orang yang mendengar curahan sukacita kita itu mengerti atau tidak, tetapi sukacita akan terus bergema sebagai suatu paduan suara yang tak bisa diabaikan, yakni musik kehidupan yang dilantunkan dalam pujian bagi Allah --David McCasland

10 Desember 2003

Hai Dunia, Gembiralah!

Nats : Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa (Mazmur 98:2)
Bacaan : Mazmur 98

Dalam perjalanan pulang dari sebuah acara kebaktian gereja di Southampton, Inggris, Isaac Watts, 20 tahun, berkata kepada ayahnya bahwa lirik mazmur yang dinyanyikan pada kebaktian itu kurang megah dan indah. Padahal seharusnya itu menjadi ciri kidung pujian penyembahan. Lalu si ayah mendorongnya untuk mencoba menciptakan pujian yang lebih baik. Maka di tahun 1694, Isaac Watts mulai menulis lagu, dan memasukkan kitab Mazmur dalam liriknya untuk penyembahan.

Watts memakai pernyataan nubuat dalam Mazmur tentang kedatangan Mesias dan mengungkapkannya dalam penggenapan Perjanjian Baru. Pujiannya menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Tuhan. Ketika sampai pada Mazmur 98, ia menulis:

Hai dunia, gembiralah dan sambut Rajamu!

Di hatimu terimalah!

Bersama bersyukur, bersama bersyukur,

Bersama-sama bersyukur!

Hai dunia, elukanlah Rajamu penebus!

Hai bumi, laut, gunung, lembah,

Bersoraklah terus, bersoraklah terus,

Bersorak-soraklah terus!

Lagu ini telah menjadi lagu Natal favorit. Yang mengajak kita untuk mengenal Kristus sebagai Juruselamat dan Raja, dan untuk membuka hati kita bagi pemerintahan-Nya yang penuh kasih dan kemurahan.

Pemazmur menuliskan, "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi Tuhan!" (ayat 98:1). Isaac Watts melakukan perintah itu dengan memproklamirkan bahwa Kristus telah datang, dan kita bersukacita di dalam Dia --David McCasland

20 Desember 2003

Memuji dengan Pengertian

Nats : Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu (Mazmur 143:5)
Bacaan : Mazmur 143

Banyak dari kita yang rindu memuji Allah dengan lebih bersukacita. Salah satu halangannya adalah meskipun kita telah berusaha keras memuji Dia, kita tidak merasa sedang memuji Dia.

Pengajar Alkitab Selwyn Hughes mengatakan bahwa Allah telah meletakkan dalam diri kita tiga fungsi utama: kehendak, perasaan, dan pikiran. Kehendak kita, katanya, tidak terlalu menguasai atau tidak berkuasa sama sekali atas perasaan kita. Anda tak dapat berkata, "Saya ingin merasakan sesuatu yang berbeda," dan kemudian berhasil melakukannya dengan membelokkan kekuatan kehendak Anda. Apa yang ditanggapi oleh perasaan adalah pikiran. Dengan mengutip sumber lain, Hughes berkata, "Perasaan kita mengikuti pikiran kita seperti anak itik mengikuti induknya." Jadi, bagaimana kita dapat membuat pikiran kita menjadi pemimpin bagi perasaan kita?

Dalam Mazmur 143 Daud menunjukkan caranya kepada kita. Karena merasa kewalahan dan tertekan (ayat 4), ia meluangkan waktu untuk berpikir tentang Tuhan (ayat 5). Ia mengingat kasih setia Allah, bimbingan-Nya, dan bahwa Dia dapat dipercaya (ayat 8); perlindungan dan kebaikan-Nya (ayat 9,10); keadilan dan belas kasih-Nya (ayat 11,12). Dan sekali ia melakukannya, perasaannya mulai mengikuti pikirannya.

Sebutkan berkat-berkat yang Anda terima setiap hari; renungkan berkat-berkat itu secara menyeluruh; ceritakan berkat-berkat itu kepada Allah dan orang lain. Perlahan-lahan, perhatian terhadap perasaan Anda akan berkurang dan Anda akan memuji Allah dengan penuh sukacita --Joanie Yoder

7 Januari 2004

Daftar Sukacita

Nats : Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh (Yohanes 15:11)
Bacaan : Yohanes 15:9-17

Penulis C.W. Metcalf tengah menjadi sukarelawan rumah sakit darurat ketika bertemu Chuck, 13 tahun, yang sedang sekarat. Suatu hari Chuck memberikan setengah lusin kertas yang ditulis bolak-balik kepada Metcalf sambil berkata, "Saya ingin Anda memberikannya kepada ibu dan ayah saya setelah saya meninggal. Ini adalah daftar kegembiraan yang pernah kami alami; masa-masa yang penuh canda tawa." Metcalf kagum terhadap remaja yang di ambang kematiannya masih sempat memikirkan kebaikan orang lain.

Metcalf pun mengirimkan daftar itu. Bertahun-tahun kemudian, ia juga memutuskan untuk membuat daftarnya sendiri. Yang mengejutkan, mulanya ia merasa kesulitan dalam menyusun "daftar sukacitanya". Namun ketika ia mulai memerhatikan momen-momen penuh canda tawa, kepuasan, dan sukacita dalam kesehariannya, daftarnya mulai bertambah.

Apa pun daftar sukacita yang kita kumpulkan sebagai seorang kristiani, pastilah berhubungan dengan kehadiran dan kuasa Yesus Kristus dalam berbagai peristiwa. Apa pun keadaan kita, sukacita adalah pemberian penuh rahmat bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan ketika Yesus hampir menghadapi kesengsaraan di kayu salib, hati-Nya tetap bersukacita. Dia memberi tahu para murid-Nya, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh" (Yohanes 15:11).

Mulailah membuat daftar sukacita Anda hari ini. Daftar itu dapat mengingatkan Anda akan kasih setia Tuhan dan kegirangan hati yang Dia berikan --David McCasland

1 April 2004

Menata Pikiran

Nats : Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)
Bacaan : Filipi 4:4-9

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah kisah tentang seorang wanita kristiani berusia 92 tahun yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia selalu berpakaian rapi. Rambutnya selalu tersisir rapi dan ia berdandan dengan sangat cantik. Setiap pagi ia menyambut hari yang baru dengan penuh semangat.

Setelah suaminya meninggal pada usia 70 tahun, wanita itu merasakan perlunya pindah ke panti wreda supaya mendapatkan perawatan yang layak. Pada hari kepindahannya itu, seorang tetangga yang baik hati mengantarkannya ke panti wreda dan menuntunnya menuju ruang tunggu. Karena kamarnya belum disiapkan, maka ia menunggu di ruang tunggu dengan sabar selama beberapa jam.

Ketika akhirnya seorang petugas datang menjemputnya, ia tersenyum manis sembari mengarahkan alat bantu jalannya menuju lift. Petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya kepadanya, termasuk gorden-gorden baru yang dipasang di jendela kamarnya. “Saya menyukainya,” sahut wanita buta itu. “Tapi Bu Jones, Anda kan belum melihat kamar Anda,” sahut petugas itu. “Hal itu tidak ada pengaruhnya bagi saya,” timpalnya. “Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Entah saya menyukai kamar saya atau tidak, hal itu tidak tergantung pada bagaimana penataan kamar saya. Itu tergantung pada bagaimana saya menata pikiran saya.”

Alkitab mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (Filipi 4:4). Ingatlah selalu akan semua yang telah dilakukan Yesus bagi Anda dan bersyukurlah. Demikianlah seharusnya Anda menata pikiran Anda —David Roper

21 Mei 2004

Harapan Baru

Nats : Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan (Roma 15:13)
Bacaan : Roma 15:5-13

Grant Murphy adalah seorang pria aktif dari Seattle yang melakukan segalanya serbacepat. Bermalas-malasan dan bersantai di pantai bukanlah sifatnya. “Orang bahkan menyebutnya hiperaktif,” kenang seorang teman.

Namun, penyakit multiple sclerosis menghambat gerak Grant. Mulanya ia membutuhkan kruk untuk berjalan berkeliling. Lalu ia hanya bisa duduk di kursinya. Dan akhirnya, ia tidak mampu bangkit dari ranjang.

Menjelang akhir hayatnya, ia hampir tidak dapat berbicara. Namun, temannya teringat bahwa “ia selalu menampakkan sukacita dan syukur, dengan pengharapan untuk senantiasa berada dalam hadirat Tuhan”. Sebelum meninggal, Grant membisikkan Roma 15:13 kepada temannya. Ia mengulang kata-kata “dalam iman kamu”, lalu menambahkan, “Aku tak dapat melakukan apa pun sekarang.”

Ketika kita tidak dapat melakukan apa pun, Allah yang melakukan segala sesuatunya. Di sini terletak paradoks yang mendalam dari pengalaman orang kristiani. Iman merupakan perpaduan tindakan dari yang berdasarkan pada kehendak kita dan campur tangan kekuatan ilahi. Dari perpaduan menakjubkan itu timbullah sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan yang berlimpah.

Apakah kini Anda benar-benar tak berdaya? Kekuatan Anda lenyap? Tak ada pilihan lagi? Bila Anda telah memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Allah akan menguatkan Anda untuk tetap beriman. Bila Anda memercayai-Nya, Dia tidak hanya memberi Anda sukacita dan damai sejahtera, melainkan juga pengharapan tatkala seluruh pengharapan yang ada telah sirna —Dennis De Haan

3 Juli 2004

Obat yang Manjur

Nats : Hati yang gembira adalah obat yang manjur (Amsal 17:22)
Bacaan : Amsal 17:17-22

Dalam majalah Better Homes and Gardens, terdapat sebuah artikel yang berjudul “Tertawa Adalah Jalan Menuju Sehat”. Di situ Nick Gallo mengadakan pengamatan yang menggemakan apa yang ditulis Salomo ribuan tahun silam: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur” (Amsal 17:22). Gallo berkata, “Humor adalah obat yang manjur, dan sesungguhnya dapat membantu menjaga kondisi Anda agar tetap sehat.” Ia mengutip pernyataan William F. Fry, M.D., yang menggambarkan tertawa bagaikan “joging batiniah” dan mengatakan bahwa hal itu baik bagi sistem peredaran darah seseorang.

Saat membandingkan tertawa dengan olahraga, Gallo menjelaskan bahwa ketika seseorang tertawa lepas, ia memperoleh beberapa keuntungan fisik. Terjadi penurunan tekanan darah untuk sementara, penurunan kecepatan pernapasan, dan ketegangan otot yang berkurang. Ia mengatakan bahwa banyak orang mengalami suatu “perasaan senang dan santai”. Ia menyimpulkan, “Selera humor yang tetap, terutama bila digabungkan dengan sumber-sumber batiniah lainnya seperti iman dan optimisme, tampak sebagai kekuatan yang berpotensi untuk memperoleh kesehatan yang lebih baik.”

Orang kristiani, dibandingkan orang-orang lain, seharusnya mendapatkan manfaat dari tertawa karena kita memiliki alasan terbesar untuk bersukacita. Iman kita berakar kuat di dalam Allah, dan optimisme kita didasarkan pada keyakinan bahwa hidup kita ada di bawah kendali-Nya yang bijaksana.

Jangan takut untuk menikmati tawa yang sehat, karena itu adalah obat yang manjur —Richard De Haan

21 Agustus 2004

Nyanyian Baru

Nats : Bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru (Mazmur 33:2,3)
Bacaan : Mazmur 33:1-5

Suatu pagi, saya berjalan-jalan di taman sambil mendengarkan kaset paduan suara Brooklyn Tabernacle. Saya menjepitkan walkman tua ke ikat pinggang saya dan menempelkan headphone pada kedua telinga saya. Saya terhanyut mendengarkan suaranya, seakan berada di dunia lain. Musiknya begitu penuh sukacita! Tanpa memedulikan keadaan sekitar, saya mulai menyanyi dan menari.

Namun kemudian saya memergoki tetangga saya yang sedang bersandar pada sebuah pohon, memandangi saya dengan wajah penuh keheranan. Ia tidak dapat mendengar musik saya, tetapi ia senang melihat tingkah laku saya. Seandainya ia bisa mendengar lagu saya.

Kemudian saya berpikir tentang lagu baru yang ditaruh Allah di dalam hati kita, lagu yang kita dengar dari "dunia yang lain". Lagu itu memberi tahu kita bahwa Allah mengasihi dan akan selalu mengasihi kita, dan Dia telah "melepaskan kita dari kuasa kegelapan" (Kolose 1:13), "memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga" (Efesus 2:6). Dan suatu hari nanti, Dia akan membawa kita bersama-Nya selamanya.

Pada saat itu, Dia akan memberikan tugas-tugas yang bermanfaat dan kekal untuk kita lakukan. Kasih karunia di masa sekarang, dan kemuliaan kelak di masa yang akan datang! Bukankah ini alasan untuk bernyanyi?

Jika suatu saat Anda bersedih hati, ingatlah akan kebaikan Allah. Dengarkan musik dari surga dan nyanyikan lagu baru bersama para malaikat. Pujian itu akan membuat kaki Anda menari dan membuat orang-orang di sekitar Anda terheran-heran. Mungkin mereka juga ingin mendengar musiknya --David Roper

31 Agustus 2004

Bersukacitalah Hari Ini

Nats : Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (Mazmur 118:24)
Bacaan : Mazmur 118:14-24

Dalam bukunya The Tapestry, Edith Schaeffer menceritakan suatu musim panas ketika suaminya Francis pergi ke Eropa selama tiga bulan. Selama waktu yang penuh dengan rasa kehilangan itu, Edith dan saudarinya, Janet, membawa anak-anak mereka untuk tinggal di bekas gedung sekolah di Cape Cod. Dengan anggaran yang mepet mereka menyewa rumah, hidup tanpa mobil, dan menciptakan petualangan menyenangkan setiap hari bagi kelima anak mereka yang masih kecil.

Bertahun-tahun kemudian, Edith mengenang kembali musim panas tersebut, "Saya tidak pernah menghabiskan waktu bersama anak-anak, saudari, dan kemenakan-kemenakan saya seindah saat-saat itu. Masa itu sungguh berharga dalam hidup. Momen-monen berharga dalam hidup menjadi berarti karena kemunculannya. Jangan sampai momen itu hilang hanya karena kita menginginkan sesuatu yang lebih baik."

Cara pandang Edith ini memberi kita kunci untuk menerapkan kata-kata dalam Mazmur 118:24, "Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya." Selama masa-masa sulit, kita tergoda untuk menjadi pasif sambil menunggu badai hidup berlalu. Tetapi Allah mengajak kita untuk secara aktif memanfaatkan berbagai kesempatan yang ada di depan mata, bukannya meratapi apa yang tidak kita miliki.

Karena Tuhan sudah mengadakan hari ini, kita dapat mengarahkan pandangan melampaui semua pintu yang tertutup untuk melihat orang-orang dan berbagai kesempatan yang sebelumnya kita abaikan. Dengan menghargai setiap kesempatan, kita akan menemukan sukacita dan kegembiraan dari Allah --David McCasland

19 November 2004

Pencobaan Penuh Sukacita

Nats : Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yakobus 1:2)
Bacaan : Yakobus 1:1-12

Alkitab mengajar kita untuk me-nanggapi keadaan sulit dengan cara yang berlawanan dengan kecenderungan alami kita. Salah satu perintah Alkitab yang menantang kita adalah: “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2).

Dengan kata lain, kita perlu meman-dang kesulitan dengan sukacita sejati dan menganggapnya kebahagiaan—tidak menolak ujian dan pencobaan, atau meng-anggapnya pengacau, tetapi menyambutnya sebagai teman. Saya tak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi saya tak pernah langsung dapat berpikir.

Pandangan alkitabiah ini mungkin tampak janggal dan tak terjangkau bila kita tidak menyimak penjelasan setelahnya: “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (ayat 3). Sikap penuh sukacita tidak didasarkan pada perasaan kita, tetapi pada apa yang kita ketahui tentang Allah dan karya-Nya dalam hidup kita. Karena itu, proses penuh penderitaan yang dapat mewujudkan tujuan yang didambakan sepantasnya disambut sebagai teman.

Bukan ujian terhadap kekuatan kita, melainkan pembuktian iman kita kepada Allahlah yang dapat membangun ketahanan kita. Dalam semua kesulitan kita, Tuhan berjanji memberi hikmat hari ini (ayat 5) dan mahkota kehidupan bagi mereka yang bertekun (ayat 12).

Tanggapan alami saya terhadap keadaan yang sulit adalah, “Oh, tidak!” Tetapi Tuhan ingin saya melihat apa yang bisa Dia wujudkan melalui keadaan sulit, sehingga saya dapat berkata, “Oh, ya!” —David McCasland

22 Februari 2005

Alasan Optimis

Nats : Hati yang gembira adalah obat yang manjur (Amsal 17:22)
Bacaan : Yohanes 16:16-33

Alkitab memang bukan buku psikologi, tetapi memberi nasihat yang paling bijak bagi kita untuk mengalami kebahagiaan kini dan di sini. Amsal 17:22, misalnya, meyakinkan kita bahwa “hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”.

Pernyataan sederhana itu belakangan ini dibenarkan oleh penelitian ekstensif yang dilakukan Dr. Daniel Mark, spesialis jantung di Duke University. Artikel dari The New York Times yang melaporkan temuan- temuannya berJudul: “Optimisme Bisa Berarti Kehidupan Bagi Pasien Jantung, Sedangkan Pesimisme Berarti Kematian”. Artikel tersebut diawali dengan kalimat: “Pandangan yang sehat membantu menyembuhkan jantung.” Akan tetapi, Dr. Nancy Frasure-Smith, spesialis jantung yang telah mempelajari efek depresi, kecemasan, dan kemarahan mengakui bahwa, “Kami tidak tahu bagaimana mengubah emosi-emosi negatif.” Bagaimanapun juga, iman terhadap Allah dapat menghasilkan perubahan itu. Orang-orang yang mengarahkan pandangan melampaui kesulitan mereka saat ini dan menaruh kepercayaan pada kebaikan Allah, tidak akan dapat menahan sukacita mereka.

Itu adalah hal yang penting, sampai-sampai Juruselamat kita beberapa kali berkata, “Teguhkanlah hatimu” (Matius 9:2,22; 14:27; Kisah Para Rasul 23:11). Karena tahu bahwa hidup penuh dengan berbagai krisis, Dia menguatkan kita dengan kata-kata peneguhan berikut ini: “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33) —Vernon Grounds

4 Juni 2005

Semoga Menyenangkan!

Nats : Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (Mazmur 118:24)
Bacaan : Mazmur 118

Suatu hari saya berada di sebuah toko yang nyaman, mengantre di belakang pria yang sedang membayar belanjaannya. Ketika ia selesai membayar, sang kasir mengantar kepergiannya dengan ucapan riang, "Semoga hari Anda menyenangkan!"

Namun, yang mengejutkan sang kasir (dan saya), pria tersebut malah marah-marah. "Ini adalah hari yang terburuk dalam hidupku," teriaknya. "Bagaimana mungkin hariku menyenangkan?" Dan setelah berkata begitu, pria itu bergegas keluar.

Saya memahami kejengkelan pria itu, karena saya sendiri pun pernah mengalami hari yang "buruk" di luar kendali saya. Bagaimana mungkin hari saya menyenangkan, tanya saya pada diri sendiri, apabila hari itu di luar kendali saya? Lalu saya teringat kata-kata ini: "Inilah hari yang dijadikan Tuhan" (Mazmur 118:24).

Tuhan telah menjadikan hari demi hari, dan Bapa akan menunjukkan kekuatan-Nya bagi saya. Ia memegang kendali atas semua hal dalam sehari ini, bahkan kesulitan yang menimpa saya. Semua peristiwa telah disaring melalui hikmat dan kasih-Nya, dan semua itu merupakan peluang bagi saya untuk bertumbuh di dalam iman. "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (ayat 1). "Tuhan di pihakku. Aku tidak akan takut" (ayat 6).

Kini, apabila orang mengantar kepergian saya dengan berkata, "Semoga hari Anda menyenangkan," saya akan menjawab, "Itu di luar kendali saya, tetapi saya dapat bersyukur atas apa pun yang saya alami, dan saya bersukacita karena hari ini adalah hari yang dijadikan Tuhan" —DHR

1 Juli 2005

Sukacita Dalam Kemiskinan

Nats : Sekalipun ... hasil pohon zaitun mengecewakan, ... namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan (Habakuk 3:17,18)
Bacaan : Habakuk 3:14-19

Dalam buku 450 Stories for Life, Gust Anderson menceritakan kunjungannya ke sebuah gereja di suatu daerah pertanian, di sebelah timur Alberta, Kanada. Di daerah itu telah berlangsung kekeringan selama delapan tahun. Kondisi ekonomi petani di tempat itu tampaknya tak ada harapan lagi. Meskipun dalam kemiskinan, namun banyak di antara mereka yang terus berkumpul untuk memuji dan menyembah Allah.

Anderson sangat terkesan dengan kesaksian seorang petani yang berdiri dan mengutip Habakuk 3:17,18. Dengan sungguh-sungguh petani itu berkata, Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi di kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Anderson berpikir, orang suci itu telah menemukan rahasia sukacita sejati.

Mendapatkan kesenangan dari barang-barang yang dapat dibeli memang bukan suatu kekeliruan. Akan tetapi, jangan sampai kita mengandalkan barang-barang tersebut untuk mendapatkan kebahagiaan. Apabila kepuasan kita ditentukan oleh kepemilikan atas barang-barang, kita akan hancur pada saat kehilangan barang-barang tersebut. Tetapi jika sukacita kita berada di dalam Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat merusakkannya, bahkan kesulitan ekonomi pun tidak.

Ya, orang-orang yang mengenal dan memercayai Tuhan akan bersukacitabahkan dalam kemiskinan! RWD

24 Januari 2006

Hari yang Buruk?

Nats : Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (Mazmur 118:24)
Bacaan : Mazmur 118:15-24

Dr. Cliff Arnall, seorang ahli jiwa yang berasal Inggris, telah mengembangkan suatu rumus untuk menentukan hari yang paling buruk dalam setahun. Salah satu faktornya adalah jangka waktu setelah Natal, setelah kemeriahan hari raya yang diikuti oleh tagihan-tagihan kartu kredit. Cuaca musim dingin yang suram, hari-hari yang pendek, dan kegagalan untuk menepati resolusi yang dibuat pada Tahun Baru juga merupakan bagian yang diperhitungkan oleh Dr. Arnall. Tahun lalu, tanggal 24 Januari diberi gelar sebagai "hari yang paling membuat depresi dalam setahun".

Orang-orang kristiani bukanlah orang yang kebal terhadap pengaruh cuaca dan kekecewaan setelah hari libur. Akan tetapi, kita memiliki sebuah sumber daya yang dapat mengubah cara berpikir kita tentang hari tertentu. Mazmur 118 menuliskan sebuah daftar kesulitan termasuk kesusahan pribadi (ayat 5), keresahan nasional (ayat 10), dan disiplin rohani (ayat 18), namun pasal tersebut diikuti dengan pernyataan demikian, "Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!" (ayat 24).

Mazmur ini dipenuhi dengan perayaan akan kebaikan dan belas kasihan Allah di tengah masalah dan kesakitan. Ayat 14 merupakan sebuah seruan kemenangan: "TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku."

Bahkan ketika situasi di sekitar kita memasang tanda "Hari Buruk!" di kalender kita, Sang Pencipta memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya atas anugerah hidup dan untuk menerima setiap hari dengan sukacita --DCM

12 Maret 2006

Bersenang-senang

Nats : Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai .... Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita (Mazmur 126:2,3)
Bacaan : Mazmur 126

Cucu keponakan saya, istrinya, dan anak perempuan mereka melayani sebagai misionaris di New Guinea. Ia menutup surat yang dikirimnya dengan kalimat ini: "Bersenang-senanglah melayani Dia".

Yang dimaksudkannya dengan kata bersenang-senang adalah bergembira, bukan sesuatu yang sifatnya hura-hura. Betapa menyenangkan bisa menjadi alat di tangan Allah -- memimpin orang datang kepada Juru Selamat, menghibur orang yang sakit dan berduka, membawa perubahan pada pernikahan yang bermasalah, dan melakukan kebaikan dalam nama Yesus.

Saya yakin penulis Mazmur 126 pun akan setuju. Keenam ayat tersebut memancarkan roh sukacita dan kegembiraan, dari awal hingga akhir. Mazmur tersebut diawali dengan sebuah peringatan tentang waktu ketika Allah "memulihkan keadaan Sion" (ayat 1). Secara ajaib Allah melepaskan umat-Nya dari situasi suram (kita tidak tahu situasi apa tepatnya). Seperti mimpi yang jadi kenyataan -- dan umat-Nya dipenuhi dengan sukacita yang terpancar melalui tawa riang dan nyanyian sepenuh hati mereka. Itu adalah sebuah kebangkitan kembali!

Setelah berdoa memohon pemulihan baru, sang pemazmur mengungkapkan janji bagi orang-orang yang melayani Allah: "Orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai" (ayat 5).

Panenan rohani yang berlimpah-limpah akan menciptakan tawa dan nyanyian. Ya, melayani Tuhan memang sungguh menyenangkan! --HVL

15 Mei 2006

L’chayim!

Nats : Tuhan ... tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi (Keluaran 12:23)
Bacaan : Keluaran 12:21-30

Teman saya Deb dan Bryce diundang oleh beberapa kawan berkebangsaan Yahudi untuk menghadiri makan malam seder [perayaan bangsa Yahudi untuk memperingati keluarnya bangsa itu dari tanah Mesir]. Perayaan ini diselenggarakan oleh para keluarga Yahudi untuk memperingati Paskah pertama mereka di Mesir (Keluaran 12:24-27). Seluruh keluarga terlibat dalam perayaan ini, termasuk anak-anak kecil.

Deb dan Bryce mengira perayaan itu bakal muram, tetapi ternyata perayaan itu sangat meriah. Pada awal santap malam, sepotong roti dibagi dua. Setengahnya dibagi di antara para tamu; bagian lainnya disembunyikan oleh anggota keluarga yang paling muda. Semua orang dewasa mencarinya, sehingga anak itu merasa sangat senang. Bila tidak ditemukan, maka si anak mengangkat roti tersebut di tengah gelak tawa yang riuh. Setelah itu disusul acara cerita dan nyanyian, dan kalimat yang sering diulang-ulang "L’Chayim! Demi kehidupan!"

Mengapa Paskah tidak dirayakan dengan penuh sukacita? Padahal Paskah menandai pembebasan Israel dari perbudakan dan si "pemusnah"!

Saat Yesus dan para murid mengadakan perjamuan malam terakhir, itu juga suatu perayaan Paskah, tetapi dengan nuansa serius. Inilah awal dari banyak peristiwa yang membawa pada pengurbanan-Nya serta penyelamatan kita dari dosa dan Setan.

Dari perbudakan rohani ke pembebasan rohani. Dari kematian ke kehidupan. Ketika merayakan pembebasan kita, kita pun dapat berkata dengan sukacita satu kepada yang lain, "L’Chayim! Demi kehidupan!" --DCE

13 Agustus 2006

Bersukacitalah!

Nats : Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian .... Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah (Mazmur 69:31,33)
Bacaan : Mazmur 69:30-37

Untuk beberapa hari setelah suami saya dan saudara laki-lakinya menyanyikan duet lagu Be Ye Glad di gereja, saya tidak dapat menghapuskan lirik lagu Michael Blanchard itu dari pikiran saya. Sebab kata-katanya indah untuk selalu diingat:

Oh giranglah, oh giranglah!
Setiap utang yang kaupunya
Sudah lunas seluruhnya
Oleh kasih kurnia Allah.
Giranglah, giranglah, giranglah!

Penulis lagu dan raja Israel zaman dahulu sering menulis tentang kegembiraan. Dalam tiga lagu berturut-turut, Daud berbicara tentang kegembiraan: Mazmur 68:4; 69:33; 70:5. Lirik-liriknya meyakinkan kita bahwa bukan orang-orang yang kaya atau yang berkuasa yang mempunyai alasan untuk bergembira, tetapi mereka yang rendah hati dan benar di hadapan Allah.

Daud memperluas tema ini di dalam lagu lain: "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi .... Bersukacitalah dalam TUHAN, dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!" (32:1,11).

Bila Anda merasa malang dan tak berdaya hari ini, Anda tetap dapat bergembira. Anda dapat memiliki suatu hal yang jauh lebih berharga, yaitu hubungan dengan Allah yang bebas dari utang.

Apabila kita berhenti untuk membela kelakuan kita yang berdosa dan dengan rendah hati mengakui kebenaran jalan Allah, maka sukacita yang sejati akan meluap keluar dari lagu-lagu pujian yang indah -JAL

1 Oktober 2007

Nyanyikanlah!

Nats : Bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! (1Tawarikh 16:9)
Bacaan : 1Tawarikh 16:23-27

Hampir setiap hari saya berolahraga jalan pagi di taman dekat rumah kami di Boise. Pada saat yang sama, seorang wanita tua juga berjalan pagi di sana. Ia selalu berjalan searah jarum jam, sedangkan saya berjalan berlawanan dengan arah jarum jam, sehingga kami berpapasan dua kali untuk setiap putaran yang kami lalui.

Ia memiliki mata yang sangat indah dan wajah keriput yang semakin berkerut setiap kali ia tersenyum. Saat ia tersenyum, seluruh wajahnya ikut tersenyum! Ia mengidap Alzheimer.

Saat kami bertemu pertama kali, ia bertanya, "Apakah saya sudah menyanyikan lagu saya?" Saya berkata, "Belum, Bu." Maka ia menyanyikan sebuah lagu pendek tentang matahari: "Selamat pagi, Pak Matahari. ..." Lalu ia tersenyum, mengangkat tangan seperti sedang memberikan berkat, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Kami pun berpisah, mengitari lapangan 180 derajat, sampai berpapasan kembali. Ia bertanya, "Apakah saya sudah menyanyikan lagu saya?" Saya berkata, "Nyanyikan lagi!" Dan ia pun bernyanyi kembali. Saya tidak dapat mengenyahkan lagunya yang ceria itu dari pikiran saya.

Saya ingin menjadi seperti wanita itu, yang menjalani hidup di dunia sambil bernyanyi dan bersenandung di dalam hati, menyanyikan Surya Kebenaran yang terbit dengan kesembuhan pada sayap-Nya (Maleakhi 4:2), serta meninggalkan kenangan yang kuat tentang kasih-Nya.

Semoga lagu-Nya senantiasa tinggal di hati dan bibir Anda hari ini. Dan, kiranya banyak orang mendengarnya serta menjadi percaya kepada Tuhan --DHR

23 Oktober 2007

Teruslah Tertawa

Nats : Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22)
Bacaan : Mazmur 126

Seorang hakim memerintahkan seorang pria Jerman untuk berhenti tertawa di hutan. Joachim Bahrenfeld, seorang akuntan, dituntut ke pengadilan oleh salah seorang dari beberapa orang yang berjoging, dan berkata bahwa kegiatan joging mereka terganggu oleh ledakan tawa Bahrenfeld yang memekakkan telinga. Ia diancam akan dipenjara selama 6 bulan jika tertangkap sedang tertawa lagi. Bahrenfeld, 54 tahun, berkata bahwa hampir setiap hari ia pergi ke hutan untuk tertawa. Itu dilakukannya untuk melepaskan stres. "Bagi saya, tertawa adalah bagian dari hidup," katanya, "seperti makan, minum, dan bernapas." Ia merasa bahwa hati yang gembira, yang diungkapkan melalui tawa yang terbahak-bahak, penting bagi kesehatan dan kelangsungan hidupnya.

Hati yang gembira sangatlah penting dalam kehidupan kita. Kitab Amsal 17:22 berkata, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur." Hati yang gembira memengaruhi jiwa dan kesehatan tubuh kita.

Namun, ada sukacita yang lebih dalam dan lebih bertahan lama bagi mereka yang percaya kepada Tuhan. Sukacita itu bukan sekadar didasarkan atas perasaan senang dan keadaan di sekitar kita, melainkan atas keselamatan dari Allah. Dia telah memberikan pengampunan dosa dan hubungan yang dipulihkan dengan-Nya melalui Yesus, Putra-Nya. Itu memberikan sukacita mendalam yang tidak dapat diusik oleh keadaan sekitar kita (Mazmur 126:2,3; Habakuk 3:17,18; Filipi 4:7).

Kiranya hari ini Anda mengalami sukacita karena telah mengenal Yesus Kristus! --MLW

17 Desember 2007

Bersukacita Selamanya

Nats : Sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya (2Korintus 8:9)
Bacaan : 1Timotius 6:6-16

Jonathan Clements, kolumnis Wall Street Journal menawarkan kepada para pembacanya "Sembilan Tips untuk Berinvestasi dalam Kebahagiaan". Hal yang menarik adalah, salah satu sarannya persis sama seperti yang disampaikan dalam lagu lama favorit karangan Johnson C. Oatman, "Hitunglah Berkatmu". Clements mengajak kita untuk tidak memikirkan kekayaan sesama kita, tetapi untuk berpusat pada banyaknya berkat yang saat ini kita miliki. Ini merupakan nasihat yang bijaksana, asalkan kita sadar bahwa kekayaan rohani kita di dalam Yesus tidak dapat diukur dan lebih berharga daripada harta apa pun.

Allah tidak memberikan Alkitab sebagai buku pedoman untuk mencapai kebahagiaan. Namun, Alkitab mengajarkan kita bagaimana kita dapat bersukacita selamanya dan bagaimana kita dapat mengalami sukacita dalam perjalanan kita menuju kebahagiaan kekal. Jadi, kita akan lebih mengerti apabila membandingkan kebenaran Alkitab dengan nasihat akal budi.

"Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar," tulis Paulus kepada Timotius (1Timotius 6:6). Rasul Paulus menginginkan agar muridnya mengerti bahwa mensyukuri hal-hal yang pokok dalam hidup akan menghindarkannya dari perangkap keserakahan.

Dengan demikian, marilah kita memusatkan perhatian pada karunia Allah yang menakjubkan, sambil melatih diri kita agar roh ucapan syukur meresap dalam hidup kita sehari-hari. Beginilah caranya untuk mengalami sukacita hari ini dan untuk bersukacita selamanya --VCG

17 April 2008

Prioritas Hidup

Nats : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)
Bacaan : Matius 6:19-24

Yang adalah salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Bergulirnya aktivitas ekonomi yang menyertakan uang tak akan pernah habis. Bahkan, Benjamin Franklin mengeluarkan slogan "time is money", seakan-akan seluruh hidupnya hanya diprioritaskan dan ditujukan untuk mendapat uang. Bukankah dewasa ini ada banyak orang yang dibutakan oleh uang? Sebenarnya uang bukan sesuatu yang jahat. Hanya, kita perlu menjagai sikap hati kita terhadap uang.

Itulah yang hendak Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Penumpukan harta yang tanpa tujuan sebenarnya justru akan membuat manusia khawatir. Atau, membuat manusia percaya pada diri sendiri secara berlebihan. Dan yang paling parah, membuat hidup manusia dikuasai oleh uang. Itulah inti perkataan Tuhan Yesus (ayat 24). Tuhan menegaskan bahwa di mana hati kita berada, di situlah prioritas hidup kita cenderung berada. Bila hati kita ada pada harta, maka seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kita konsentrasikan untuk mengumpulkan harta pula.

Tuhan Yesus tidak mengecam orang kaya. Buktinya, Zakheus pun dipanggil menjadi murid-Nya (Lukas 19:5). Namun Tuhan ingin agar kita memprioritaskan hubungan dengan-Nya di tengah rutinitas mencari nafkah setiap hari. Ketika kita menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari, hendaknya kita tetap memancarkan kasih Tuhan. Dengan demikian, cara kita mencari uang pun akan dipengaruhi oleh sikap hati. Inilah kuncinya agar kita tidak terjerumus dalam sikap cinta uang, yang merupakan akar dari segala kejahatan di bumi ini. Mari melihat ke dalam diri. Apa prioritas hidup kita hari ini? -BL

7 Mei 2008

Menguasai Diri

Nats : Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Korintus 9:27)
Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Para prajurit yang tidak ingin menjadi jenderal, bukan prajurit yang baik. Atlet yang tidak ingin menjadi juara adalah atlet yang buruk," demikianlah bunyi salah satu tulisan penyemangat yang digantung di sebuah ruang pelatihan olahraga di Beijing, Cina. Untuk menyiapkan diri menghadapi pesta olahraga Olimpiade 2008 ini, para atlet Cina telah menjalani latihan keras sejak 6 tahun yang lalu. Selain itu, mereka punya sebuah lagu penyemangat yang berbunyi, "Laki-laki (berhati) baja tidak menangis. Kami mau menjadi pahlawan. Menjadi pemenang. Meraih emas!"

Bacaan kita hari ini juga berbicara tentang pertandingan. Paulus menulis bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya ada satu yang mendapat hadiah. Jadi, Paulus menasihati kita agar menguasai diri dalam segala hal, bukan untuk mengejar hadiah yang sementara, melainkan mahkota yang abadi (ayat 25). Setiap anak Tuhan yang mau menjadi pemenang, tidak boleh berlari tanpa tujuan, tidak boleh menjadi petinju yang sembarangan memukul (ayat 26). Ini berarti, anak Tuhan jangan sampai hidup sembarangan, tanpa perencanaan, tanpa tujuan.

Apakah cita-cita Anda? Jawabannya bisa apa saja, terserah Anda. Namun, yang penting adalah merencanakan dan menyiapkan diri untuk meraih cita-cita Anda mulai dari sekarang. Nasihat Paulus di atas patut kita terapkan mulai hari ini, melalui beberapa langkah. Langkah pertama: kenalilah diri Anda. Langkah kedua: latihlah. Langkah selanjutnya: kuasailah! Mulailah melangkah dari langkah pertama! -CHA

22 Juni 2008

Menghibur yang Berduka

Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)
Bacaan : 2 Korintus 1:3-7

Setiap orang pasti pernah berduka. Sebabnya bisa macam-macam; dari kehilangan hingga kerugian, dari tersakiti hingga terabaikan. Ketika susah, hati kita pedih dan perih. Realitas hidup terasa suram. Dalam kondisi demikian, bagaimana kita dapat berbahagia, seperti sabda Tuhan? Hari ini firman Tuhan ditujukan bagi Anda yang sedang berduka, juga bagi Anda yang hendak menolong orang berduka.

Ucapan Bahagia Yesus ini ditujukan kepada orang banyak, yang umumnya adalah rakyat jelata. Mereka berasal dari dalam juga luar negeri Israel (ada yang datang dari Dekapolis dan seberang Yordan), dan banyak di antara mereka pernah sakit fisik serta jiwa. Mereka adalah orang kebanyakan, orang-orang di akar rumput, yang disebut okhlos dalam bahasa Yunani. Bukan orang berpangkat hebat atau berkedudukan sosial mantap. Yesus berkata kepada mereka, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur ." Betapa melegakan sabda ini! Pertama, Yesus mengemukakan kenyataan yang indah kepada mereka. Kedua, Yesus mengajar mereka untuk tidak digilas kedukaan. Kedukaan memang menyedihkan dan menyesakkan, namun ia tidak abadi. Setelah kedukaan, realitas akan berganti lewat penghiburan, yang dapat diwujudkan dalam tindakan cinta kasih. Ya, orang yang berduka adalah sasaran cinta kasih, demikian pesan Yesus. Dan inilah kuncinya bagaimana mereka yang berdukacita dapat berbahagia.

Hari ini, maukah kita menjadi saluran cinta kasih Tuhan bagi mereka yang menderita? Pergilah, lawatlah teman Anda yang sedang susah. Hadirkan hati Anda bagi mereka, agar mereka terhibur oleh cinta kasih Tuhan —DKL

1 Juli 2008

Selidikilah Dirimu

Nats : Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tid (2Korintus 13:5)
Bacaan : 2Korintus 13:1-10

Anda adalah orang yang ...; menurut saya, Anda cenderung ...; seperti yang sering saya katakan, Anda itu ...." Demikianlah contoh ungkapan sehari-hari yang sering ditujukan kepada kita, atau sebaliknya, kerap kita tujukan kepada orang lain. Ya, manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri. Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.

Paulus mengajak jemaat Korintus untuk lebih banyak menyelidiki diri sendiri ketimbang menilai orang lain (2Korintus 13:5). Sebab bagi Paulus, menyelidiki diri sendiri sangat penting dalam pertumbuhan rohani. Saat seseorang berani menyelidiki diri sendiri, berarti ia berani melihat kondisi hidupnya apa adanya, termasuk kelemahannya. Dengan menyadari kelemahan diri sendiri, orang dapat bercermin dan terbuka kepada Allah yang menyelidiki hati. Lalu mengambil langkah untuk memperbaiki diri. Hasilnya, ia lebih tahan uji dibandingkan mereka yang tak pernah memeriksa batin sendiri dan malah asyik menilai apa yang tampak dari orang lain.

Sudahkah kita membangun kebiasaan untuk menyelidiki diri sendiri? Atau, kita hanya pintar "mengutak-atik" hidup orang lain dan marah apabila orang lain meneliti hidup kita? Mari memperbanyak waktu untuk melihat ke dalam diri supaya kita lebih waspada dan juga toleran terhadap orang lain. Orang yang selalu sedia memeriksa batinnya setiap saat ibarat seseorang yang rajin membersihkan rumahnya dari debu dan sampah. Hati kita pun akan bersih bila kita bersedia selalu membersihkannya bersama dengan Allah -DKL

13 Juli 2008

Tuhan Selalu Hadir

Nats : Dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Matius 18:20)
Bacaan : Matius 18:19,20

Suatu hari, telepon di gereja tempat Presiden Roosevelt beribadah berdering. Si penelepon bertanya kepada sang pendeta, "Pak Pendeta, apakah Presiden Roosevelt akan ikut kebaktian di gereja minggu ini?" "Saya tidak bisa memastikan hal itu," ujar sang pendeta. "Namun, yang pasti Allah hadir di sana. Dan, itu sudah sangat cukup untuk menarik jemaat datang."

Dewasa ini, banyak artis kristiani sering diundang untuk melayani dalam ibadah suatu gereja. Saat mereka melayani, tampaknya suasana ibadah menjadi hidup dan semarak. Dan tampaknya jemaat mendapat banyak "berkat". Namun jika tiba-tiba artis yang diundang batal hadir, suasana ibadah seolah-olah menjadi mati, kering, membosankan, dan jemaat pulang tanpa membawa "berkat". Kenyataan ini sungguh menyedihkan, karena artis-artis rohani itu malah menjadi faktor penentu dalam ibadah. Ini menandakan bahwa ada masalah; bukan pada si artis, tetapi pada jemaat itu sendiri. Motivasi jemaat yang seperti ini sudah bukan lagi hendak mencari Tuhan, tetapi seolah-olah datang hendak "menyaksikan pertunjukan".

Jika motivasi kita murni untuk beribadah, kita tak perlu kecewa apabila artis yang dijadwalkan hadir ternyata tidak jadi datang. Toh, mereka ada atau tidak, Tuhan tetap hadir di sana (ayat 20). Sekalipun tak ada artis rohani yang hadir, Tuhan tetap dapat melakukan sesuatu dalam ibadah, melalui siapa saja. Mari kita luruskan lagi motivasi kita dalam beribadah; yakni untuk mencari Tuhan, bukan siapa pun yang lain. Pasti kita akan mendapat berkat dalam ibadah, siapa pun yang melayani -PK

16 Juli 2008

Kalap!

Nats : Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! (Mazmur 46:11)
Bacaan : 2Raja-raja 6:14-18

Ketika berjalan memasuki kantor, Eddy menyenggol ujung meja seorang teman yang memang posisi mejanya agak miring. Karena kesakitan, Eddy menjadi marah. Dalam kondisi marah, ia kemudian menjadi kalap dan menyalahkan temannya yang tidak menyusun meja dengan benar. Sikap kalap membuatnya tidak tenang, over reaktif, sehingga ia tak dapat melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan mata jernih.

Bujang Elisa juga bersikap kalap ketika mendapati dirinya dan Elisa, tuannya, dikepung oleh pasukan raja Aram. Sikap reaktif membuatnya panik dan ketakutan, bahkan mengeluarkan kalimat putus asa (ayat 15). Hal itu menghalanginya untuk melihat bahwa pertolongan Tuhan ada di sekelilingnya (ayat 17). Sebaliknya, Elisa memiliki kepercayaan yang besar kepada Allah yang dapat diandalkan. Dengan begitu ia dapat bersikap tenang, bahkan dapat berdoa meski ia ada dalam situasi yang sama dengan bujangnya.

Kalap membuat hati kita bergejolak dan tidak dapat berpikir jernih. Dalam kondisi demikian, sangat mungkin kita mengambil tindakan yang salah. Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak kalap, meskipun tekanan datang tanpa dapat diduga? Pemazmur membukakan sebuah sikap yang indah, yaitu "diam". Diam dan tenang di hadapan Allah akan menolong kita untuk tidak bersikap kalap dalam menghadapi tekanan.

Doa bukan sekadar waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Doa juga merupakan waktu untuk menenangkan diri di hadapan-Nya dan melihat Dia berkarya melalui keadaan yang sulit sekalipun. Hari ini, bila situasi hidup menekan Anda, ambillah pilihan untuk berdoa -RY

9 Agustus 2008

Sanjungan Dunia

Nats : Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak ...: "Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia" (Kisah Para Rasul 14:11)
Bacaan : Kisah Para Rasul 14:8-20

Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, pernah ditanya, "Tidakkah Anda merasa tersanjung? Setiap kali Anda berpidato, orang datang berbondong-bondong sampai tidak kebagian tempat. Mereka sangat menyanjung Anda!" Sang Perdana Menteri menjawab: "Tiap kali ingin berbangga, saya ingat satu hal. Seandainya saya kelak dihukum gantung, jumlah orang yang hadir pasti melonjak dua kali lipat!"

Sanjungan dunia semu sifatnya. Gampang berubah. Ketika Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, rakyat menyanjung-Nya. Beberapa hari kemudian, massa yang sama meneriakkan "Salibkan Dia!" Itu juga yang dialami Rasul Paulus. Sehabis menyembuhkan seorang lumpuh dengan kuasa Allah di Listra, penduduk terkesima. Dikiranya Paulus dan Barnabas adalah titisan dewa. Mereka berdua pun langsung dipuja-puja dan diberi aneka persembahan. Tetapi begitu orang-orang Yahudi membujuk mereka, segera saja mereka berbalik melempari Paulus dengan batu (ayat 19). Untunglah Paulus dan Barnabas tidak haus sanjungan. Keduanya malah prihatin melihat penduduk memuja-muja mereka. Paulus berusaha menjelaskan bahwa hanya Tuhan yang layak disembah. Pantang baginya untuk mencuri kemuliaan Tuhan bagi diri sendiri.

Setiap orang suka disanjung. Sebetulnya tidak salah kalau kita merasa tersanjung saat dipuji orang. Yang salah, kalau kemudian kita gila sanjungan, hingga rela mengorbankan apa pun demi mendapat sanjungan. Sanjungan bisa menyesatkan, lagipula cepat sirna. Lebih baik fokuskan diri untuk melakukan tugas sebaik mungkin. Tidak peduli disanjung atau tidak -JTI



TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA