Topik : Tubuh Kristus

22 September 2003

Khotbah Dalam Diam

Nats : Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain (Kolose 3:16)
Bacaan : Kolose 3:12-17; Ibrani 10:24,25

Seberapa pentingkah persekutuan kita dengan umat percaya lainnya di gereja? Izinkan saya menjawab pertanyaan ini dengan menceritakan sebuah kisah.

Seorang pendeta prihatin karena seorang jemaatnya yang biasanya rutin hadir kebaktian tidak lagi tampak di gereja. Setelah beberapa minggu, sang pendeta itu memutuskan untuk mengunjunginya. Ketika sampai di rumah jemaatnya itu, sang pendeta mendapati pria tersebut sedang duduk sendirian di depan perapian. Lalu sang pendeta menyeret sebuah kursi dan duduk di sampingnya. Namun, pria itu hanya mengangguk kepada sang pendeta, tanpa bicara sepatah kata pun.

Kedua orang itu duduk berdiam diri selama beberapa saat, sementara sang pendeta memandangi nyala api di perapian. Ia lalu mengambil penjepit bara, dan dengan hati-hati mengambil sepotong bara, dan menjauhkannya dari dalam api yang menyala. Pendeta itu kemudian duduk kembali sambil tetap berdiam diri. Pria itu termenung memandangi nyala bara api yang disingkirkan itu meredup dengan perlahan. Tak lama kemudian, bara itu pun padam dan jadi dingin.

Sang pendeta melihat jamnya dan pamit pulang. Namun sebelum pulang, ia mengambil bara api yang sudah dingin itu, lalu menaruhnya kembali ke dalam nyala api. Dengan segera bara itu menyala kembali karena cahaya dan kehangatan yang dipancarkan bara-bara di sekelilingnya.

Saat sang pendeta bangkit untuk pergi, pria itu pun berdiri dan menjabat tangannya. Kemudian, sambil tersenyum ia berkata, "Terima kasih atas khotbahnya, Pak Pendeta. Sampai jumpa besok Minggu di gereja" --David Roper

5 Oktober 2003

Menyingkirkan Penghalang

Nats : Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Galatia 3:28)
Bacaan : 1Korintus 10:16-22

Seorang utusan injil di Kalkuta mengatakan bahwa ia sangat terkesan dengan suatu Perjamuan Kudus yang dihadirinya selama Perang Dunia II. Pendeta yang memimpin ibadah itu adalah seorang pendeta Swedia. Di antara mereka yang hadir ada pendeta dari Cina, guru dari Jepang, dokter dari Jerman, beberapa warga negara Inggris, dan beberapa jemaat kristiani India.

Utusan Injil tersebut teringat bahwa ia merasakan kedekatan dengan setiap orang dalam pertemuan yang diwarnai keberbedaan itu, terutama ketika mereka menikmati roti dan anggur perjamuan. Mereka merasakan suatu ikatan persekutuan kristiani, meski sebagian dari mereka berasal dari negara-negara yang sedang berperang dengan kejamnya.

Apabila Anda merayakan Perjamuan Kudus, renungkanlah kesatuan Anda dengan semua orang yang ikut ambil bagian dalam kebaktian itu. Arahkanlah pandangan yang melampaui segala perbedaan budaya, dan singkirkanlah berbagai penghalang di antara Anda dan orang lain.

Berbelaskasihanlah terhadap mereka yang menyakiti Anda. Katakan kepada Allah bahwa Anda bersedia mengampuni dan menerima mereka kembali. Teguhkan hati bahwa dengan pertolongan-Nya Anda dapat menunjukkan kebaikan hati kepada setiap orang, entah Anda merasa suka atau tidak. Pandanglah orang-orang di sekitar Anda sebagai sesama anggota tubuh Kristus.

Model kesatuan seperti ini akan memperkaya hidup Anda dan juga meningkatkan pengaruh gereja Anda di dalam dunia ini --Herb Vander Lugt

18 Maret 2004

Kawan yang Mendengarkan

Nats : Sekiranya kamu menutup mulut, itu akan dianggap kebijaksanaan dari padamu (Ayub 13:5)
Bacaan : Ayub 13:1-9

Saat itu kira-kira pukul sembilan malam. Saya dan Ginny, istri saya, sedang duduk-duduk di ruang keluarga kami. Saya sedang asyik membaca buku ketika tiba-tiba Ginny berkata, “Sayang, aku mau bicara denganmu sebentar.” Ginny pun mulai berbicara, tetapi kemudian mendadak ia bertanya, “Apakah kau mendengarkan aku?”

Saya tergoda untuk menyahut, “Tentu saja. Aku kan cuma berjarak setengah meter darimu.” Padahal pikiran saya saat itu terpancang pada buku yang sedang saya baca. Saya harus menutup buku itu dan memberikan perhatian sepenuhnya pada apa yang dikatakan Ginny. Ia layak mendapatkan perhatian dari saya.

Ayub juga frustrasi karena teman-temannya tidak memerhatikan apa yang ia katakan kepada mereka. Ia merasa bahwa saat ia berbicara, teman-temannya malah memikirkan respons selanjutnya. Mereka berusaha keras meyakinkan Ayub bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan hukuman atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan selama hidup. Mereka tidak mendengarkan jeritan hati Ayub yang terdalam.

Banyak dari kita bukan pendengar yang baik. Banyak remaja frustrasi karena orangtua mereka selalu memberikan jawaban-jawaban langsung, padahal yang mereka inginkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan pergumulan mereka dan menerima mereka. Seorang remaja berkata, “Kadang kala saya baru mau bicara kalau saya tahu pasti apa yang ingin saya bicarakan.”

Hubungan yang mendalam dibangun melalui penerimaan, pengertian, dan kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik —Herb Vander Lugt

21 April 2004

Siapa Menyiapkan Parasut?

Nats : Sebab, bagian orang yang tinggal di dekat barang-barang adalah sama seperti bagian orang yang pergi berperang; itu akan dibagi sama-sama (1 Samuel 30:24)
Bacaan : 1 Samuel 30:1-25

Charles Plumb sedang duduk di sebuah restoran ketika seorang pria menghampirinya dan berkata, “Anda Plumb, kan, yang menerbangkan pesawat jet tempur di Vietnam? Anda pernah berada di pesawat pengangkut Kitty Hawk sebelum Anda tertembak jatuh!” “Bagaimana Anda bisa tahu semuanya?” tanya Plumb. Pria yang ternyata berada satu kapal induk dengan Plumb itu menjawab, “Saya yang menyiapkan parasut Anda.” Kemudian ia menambahkan, “Tampaknya parasut itu berfungsi dengan baik.” “Memang,” sahut Plumb.

Malam itu Plumb membayangkan pria itu sedang berdiri di atas meja dalam perut kapal induk dan melipat parasut dengan hati-hati bagi orang-orang yang hidupnya mungkin bergantung pada parasut tersebut. Plumb merasa sedih dan menyesal saat ia berpikir, Berapa kali aku telah melewati pria ini tanpa mengucapkan selamat pagi, hanya karena aku seorang pilot pesawat jet dan ia seorang kelasi rendahan?

Kisah ini mengingatkan kita akan perkataan Daud dalam bacaan Alkitab hari ini. Dua ratus anak buah Daud yang sudah terlalu lelah untuk maju memerangi orang Amalek tinggal di perkemahan untuk menjaga perbekalan. Namun, ketika Daud kembali dari medan perang, ia tidak membedakan mereka dengan orang-orang yang berperang bersamanya. Ia berkata, “Bagian mereka adalah sama” (1 Samuel 30:24).

Dalam melayani Allah, tidak ada orang yang posisinya lebih tinggi atau rendah, tidak ada tugas yang mulia atau hina. Kita semua bergantung satu sama lain. Jangan pernah lupakan mereka yang menyiapkan parasut kita —Herbert Vander Lugt

6 Maret 2005

Organ Tetap Berbunyi

Nats : Malahan justru anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan (1Korintus 12:22)
Bacaan : 1Korintus 12:20-26

Beberapa tahun lalu, seorang pemain organ yang andal melakukan konser. (Di masa itu, organ harus dipompa dari belakang panggung agar tabung-tabungnya terisi udara.) Setiap satu lagu berakhir, para penonton bertepuk tangan meriah. Sebelum membawakan lagu terakhir, sang pemain organ berdiri dan berkata, "Sekarang saya akan memainkan ...", lalu ia mengumumkan judul lagunya. Ia duduk kembali dan bersiap untuk memainkan organ. Dengan kaki menginjak pedal dan tangan menekan tuts, ia memulainya dengan chord yang sangat megah. Namun, organ itu tidak berbunyi. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang panggung, "Jangan cuma ‘saya’, tetapi katakan ‘kita’."

Dalam pekerjaan Tuhan, ada banyak kesempatan untuk mencapai prestasi pribadi. Kemampuan kita adalah pemberian Allah, dan Roh Kudus menolong kita unggul dalam bidang yang dapat kita kerjakan dengan baik. Namun, merasa diri paling hebat dan memandang remeh bantuan orang lain dapat menghancurkan semuanya. Tak ada seorang kristiani pun yang menapaki tangga keberhasilannya sendirian. Mereka diiringi oleh ibu, ayah, teman-teman, suami, istri, anak-anak yang berdoa, berkorban, dan melakukan apa saja untuk membantu.

Sadarilah bahwa kita berutang kepada banyak orang, dan kita perlu bersyukur atas peran penting mereka dalam pekerjaan Tuhan di dalam dan melalui diri kita. Sebuah ungkapan terima kasih melalui kartu ucapan, ucapan penghargaan, ataupun perbuatan kasih yang tulus akan sangat membantu untuk membuat "organ tetap berbunyi" —DJD

19 Juli 2006

Penampilan dan Kehidupan

Nats : Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1Samuel 16:7)
Bacaan : 1Samuel 16:1-13

Selama beberapa jam pertama acara reuni 30 tahun universitas mereka, Mary Schmich bersama teman-temannya sebagian besar menghabiskan waktu untuk membicarakan paras teman-teman sekelas mereka. Akan tetapi, pada saat acara terus berlangsung, fokus perhatian mereka pun perlahan-lahan mulai berubah. Selanjutnya, di kolom Chicago Tribune, Mary menulis demikian, "Pada saat Anda telah terbiasa dengan fakta bahwa waktu ternyata telah merampas setiap hal dari kepunyaan Anda -- atau menambahkannya di tempat yang salah ... maka berhentilah untuk berpikir tentang penampilan [dan] mulailah berbicara tentang kehidupan."

Selama ini kita banyak mencurahkan waktu dan perhatian untuk penampilan fisik yang kita anggap sebagai aspek terpenting kehidupan. Akan tetapi, Alkitab telah memberi peringatan kepada kita bahwa Allah menghendaki agar kita memandang diri sendiri dan orang lain dengan cara pandang yang berbeda.

Ketika Tuhan mengutus Samuel untuk mengurapi seorang raja baru atas bangsa Israel (1Samuel 16:1), Allah mengingatkannya untuk tidak sekadar melihat ciri-ciri fisik, "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi .... Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (ayat 7).

Firman Allah memberi terguran yang keras kepada mereka yang memuja penampilan (Yakobus 2:1,2). Tatkala kita mulai memandang orang lewat cara pandang Allah, fokus kita akan berubah dari penampilan menjadi kehidupan --DCM



TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA