Daftar Isi
Dikecewakan Sahabat
Cara Yesus
Belanja Sedikit, Memberi Lebih Banyak
Benih dan Buah
Memangkas Habis
Mengatasi Keraguan
Memberi Kebahagiaan
Tidak Pilih Kasih
Hidup Berkemenangan
Komunikator yang Baik
Berpakaian Putih
Iman Pada Kristus
Tanda Kasih
Surat yang Tak Ternilai
Yesus yang Sejati
Lingkaran Belas Kasih
Ucapkan Kata Itu
Mencari yang Baik
Transmisi Digital
Obat Kemarahan
Meniru Pencipta Sejati
Selalu Segar
Lebih Berbaik Hati
Kebaikan Tak Terduga
Makna Sebuah Nama
Tuntutan Kesetiaan
Memulihkan Gambar Allah
Kekuatan dari Dalam
Apa Identitas Anda?
Kemanusiaan Yesus
Cerminan Citra Allah
Pesan yang Baik
Jangan Putus Asa
Menjalankan Iman
Pembuat Jalan
Vas Niat Baik
Berlaku Bijaksana
Tak Tersembunyi
Penglihatan yang Mengubah
Lebih dari yang Terbaik
Kita Mengenal Allah?
Pembaruan Rohani
Mahabesar dan Mahabaik
Suami yang Baik
Uluran Tangan
Berjalan Dalam Debu-Nya
Berjuanglah!
Daftar Pekerjaan Allah
Siapakah Allah Itu?
Sesama-sesama Baru
Diselaraskan
Rela Berbagi
Dunia Luar
Kecantikan Batin
Dari Dalam ke Luar
Mahakarya dari Kain Kotor
Keagungan Kesalehan
Biografi Anda
Kenangan yang Diberkati
Keindahan Setiap Hari
Mentalitas Keledai
Saat Berbelas Kasih
Banyak Menerima
Potensi Kuntum Mawar
Diingat Orang
Mengubah Derita Menjadi Pujian
"ukurlah Saya"
Jadilah Contoh
Ia Telah Melakukannya
Rumah yang Kokoh
Jejak Hati
Semangat Natal
Karya Seni Allah
Pekerjaan Kotor
Kekuatan Pengaruh
Dibayar dengan Apa?
Kebahagiaan dan Kekudusan
Ikutilah Teladanku
Apa yang Anda Percayai?
Berjalan di Taman
Peti Beserta Perhiasannya
Menyalakan Lampu
Keindahan yang Unik
Jadilah Bintang
Iblis Gemetar
Bahaya Kekhawatiran
Gembala Hidup Kita
Terus Memangkas
Sibuk=kematian Hati
Terpeleset Kulit Jeruk
Taat Dalam Hal Kecil
Tetap Bersukacita
Siapakah Aku?
Hakuna Matata
Bukan Janji Kosong
Nilai Rupa Allah
Warisan Termahal
Sederhana Tapi Berharga
Baik Kok Menderita?
Bhinneka Tunggal Ika
Frustrasi?
Gereja Bukan Gedungnya
Membagi Berkat
Betapapun Hebatnya

Topik : Serupa Kristus

1 November 2002

Dikecewakan Sahabat

Nats : Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka (Yohanes 17:20)
Bacaan : Ayub 42

Dengan para sahabat seperti yang dimilikinya, Ayub tak lagi membutuhkan musuh. Ketiga sahabatnya yang seharusnya menghibur, sama sekali tidak meringankan penderitaan Ayub. Bukannya bersimpati, mereka malah melemparkan tuduhan yang memperberat penderitaannya.

Namun, Ayub berhasil keluar dari penderitaan dan kebingungan itu dengan penuh kemenangan. Satu langkah penting yang dilakukannya untuk mencapai kemenangan adalah mendoakan para sahabat yang telah mengkritik dan menyalahkannya. Allah mendengarkan doanya. Ia pun bahagia melihat sahabat-sahabatnya kembali kepada Allah untuk memperoleh pengampunan (Ayub 42:7-10).

Yesus juga mendoakan sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 17:6-19), meski mereka sering mengecewakan. Sementara menjalani penderitaan yang dalam menjelang penyaliban yang semakin dekat, Yesus berdoa bagi Petrus meski Dia tahu bahwa tak lama lagi Petrus akan menyangkal-Nya (Lukas 22:31-34).

Yesus pun berdoa bagi Anda dan saya (Yohanes 17:20-26). Pelayanan doa-Nya, yang dimulai sebelum kematian dan kebangkitan-Nya, terus berlanjut sampai hari ini. Meski kadang-kadang kita bersikap seperti musuh-Nya, dan bukan sebagai sahabat-Nya, Yesus tetap membela kita di hadapan Bapa-Nya (Roma 8:34; Ibrani 7:25).

Dalam mengikuti teladan Kristus, kita harus mendoakan para sahabat dan kenalan kita, bahkan ketika mereka menyakiti hati kita. Adakah seseorang yang dapat Anda doakan hari ini? — Haddon Robinson

6 November 2002

Cara Yesus

Nats : Ia ... pergi ke luar. Ia pergi tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Markus 1:35)
Bacaan : Markus 1:21-39

Pernahkah Anda melalui hari yang begitu sibuk sehingga merasa waktu dua puluh empat jam sehari masih kurang? Hari itu mungkin setiap orang mencari Anda untuk minta bantuan dan tugas-tugas Anda tampaknya tidak pernah selesai. Anda mungkin bertanya-tanya: Apakah Yesus pernah menggumulkan hal yang sama? Dan jika ya, bagaimana Dia menanganinya?

Renungkanlah suatu hari dalam kehidupan Yesus yang dicatat dalam Markus 1:21-34. Dia mengawali hari itu dengan berkunjung ke rumah ibadat untuk mengajar dengan kuasa. Lalu terjadi keributan. Seorang lelaki yang kerasukan roh jahat mulai berteriak-teriak kepada Yesus. Dengan tenang tetapi tegas, Sang Guru mengusir roh jahat itu keluar.

Ketika Yesus meninggalkan rumah ibadat, Dia dengan para sahabat-Nya ke rumah Petrus. Namun, Dia tidak dapat beristirahat. Ibu mertua Perus sakit dan memerlukan jamahan-Nya yang menyembuhkan. Lalu semua penduduk kota berkerumun di depan pintu. Mereka meminta Yesus untuk menyembuhkan lebih banyak orang sakit dan mengusir lebih banyak roh jahat. Hari itu sangat melelahkan.

Bagaimana Yesus menghadapi hari itu? Apakah besoknya Dia meliburkan diri? Pergi ke sungai yang sejuk di puncak gunung Kaisarea di Filipi? Tidak, hari berikutnya Dia bangun sebelum matahari terbit, mencari tempat yang sunyi, dan berdoa (ayat 35). Dia mencari pemulihan kekuatan dalam hadirat Bapa-Nya.

Bagaimana Anda mengatasi hari yang begitu sibuk? Menyendirilah bersama Allah dan mohon pertolongan-Nya. Mulailah hari Anda seperti cara Yesus —Dave Branon

6 Desember 2002

Belanja Sedikit, Memberi Lebih Banyak

Nats : Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas ... kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari (Yesaya 58:10)
Bacaan : Yesaya 58:1-10

Michelle Singletary dan suaminya memutuskan untuk mengurangi pengeluaran Natal mereka. Mereka membuat hadiah-hadiah Natal sendiri dan memikirkan ide-ide kreatif untuk memberikan waktu dan pelayanan mereka bagi orang lain.

Dalam kolom surat kabar yang membahas masalah keuangan pribadi, Michelle menuliskan tujuan mengapa ia memberi perhatian serius terhadap pengeluarannya: "Membangun dan mempertahankan hubungan, yang sangat penting selama liburan dan sepanjang tahun, merupakan prioritas yang seharusnya tidak tersingkirkan karena kesibukan berbelanja."

Keputusan untuk mengurangi pengeluaran di hari Natal adalah pilihan kita masing-masing. Namun jika hubungan dengan sesama menjadi prioritas utama kita, kita dapat memutuskan untuk memberi lebih banyak, yaitu dengan memberi diri kita bagi orang lain. Yesaya menggambarkan pengorbanan pribadi yang berkenan bagi Allah, yakni dengan melayani orang lain. "Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari" (Yesaya 58:10).

Yesus Juruselamat kita, yang kelahirannya kita rayakan, menyatakan diri-Nya demikian, "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45).

Dalam merayakan Natal tahun ini, mari kita lebih banyak memberi, dengan memberi diri bagi orang lain -David McCasland

19 Desember 2002

Benih dan Buah

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Galatia 6:7-10

Saya pernah membaca sebuah ilustrasi mengenai seorang pria yang melihat-lihat di sebuah toko. Mendadak ia terkejut karena melihat Allah duduk di salah satu gerai. Pria menghampiri-Nya dan bertanya, "Apa yang Engkau jual?" Allah menjawab, "Apa yang kauinginkan?" Pria itu berkata, "Aku ingin kebahagiaan, ketenangan pikiran, dan kebebasan dari rasa takut ... untuk diriku dan seisi dunia." Allah tersenyum dan berkata, "Di sini Aku tidak menjual buah. Yang Kujual hanya benihnya."

Dalam Galatia 6, Paulus menekankan pentingnya menaburkan benih-benih tindakan yang memuliakan Allah, karena "apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (ayat 7). Kita tidak dapat berharap menikmati buah-buah berkat Allah jika kita tidak menyadari pentingnya melakukan bagian kita.

Kita akan sangat tertolong jika mengikuti teladan orang lain yang telah menaburkan benih yang baik. Pengarang Samuel Shoemaker mengatakan bahwa teladan yang baik dapat mengilhami kita atau membuat kita berkata, "Oya, ia memang seperti itu. Ia tidak mudah marah, gelisah, tidak sabaran, dan khawatir seperti saya; ia selalu bahagia." Shoemaker melanjutkan, "Mungkin kita tidak menyangka kalau ia harus berjuang untuk mendapatkan ketenangan, dan bahwa kita dapat menang jika kita melakukan hal yang sama."

Apakah Anda mencemaskan keadaan diri Anda? Mintalah pertolongan Allah dan mulailah menaburkan benih-benih tindakan dan tanggapan yang baru hari ini. Pada saatnya nanti, Roh Kudus akan menambahkan hasilnya –Joanie Yoder

12 Januari 2003

Memangkas Habis

Nats : Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan (Roma 12:3)
Bacaan : Yakobus 4:1-12

Seorang pria yang terpilih dalam Parlemen Inggris memboyong seluruh keluarganya ke London. Ia merasa bangga sewaktu menceritakan tentang pekerjaan barunya dan membawa mereka berkeliling kota. Tatkala melewati Westminster Abbey, putrinya yang berusia 8 tahun terpesona dengan besarnya bangunan yang indah itu. Lalu sang ayah yang tengah berbangga diri itu bertanya, "Sayang, apa yang sedang kaupikirkan?" Putrinya menyahut, "Ayah, sebelumnya aku berpikir betapa besarnya Ayah di dalam rumah kita, tetapi ternyata kini aku melihat betapa kecilnya Ayah di sini!"

Tanpa disadari, gadis kecil ini telah mengatakan sesuatu yang perlu didengar sang ayah. Kesombongan dapat menyusup dengan begitu mudah dalam hidup kita, dan hal terbaik yang dapat dilakukan adalah "memangkas habis" sifat itu. Sebagai manusia kita perlu selalu diingatkan untuk tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan (Roma 12:3). Memang mudah bagi kita untuk memegahkan diri tatkala berada dalam lingkungan hidup yang kecil. Namun tatkala kita masuk dalam situasi yang lebih besar, dengan tuntutan, tekanan, dan persaingan yang bertambah, kita akan sadar bahwa "ikan besar di kolam yang kecil" itu dengan cepat menjadi ikan kecil di tengah samudra yang besar.

Yakobus berkata, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (4:6). Maka dari itu, marilah kita memohon pertolongan Tuhan untuk melihat diri kita yang sesungguhnya. Dengan pertolongan-Nya, kita akan belajar membuang kecongkakan yang bodoh --Richard De Haan

10 Maret 2003

Mengatasi Keraguan

Nats : Tetapi aku ini hidup dalam ketulusan; bebaskanlah aku dan kasihanilah aku. Kakiku berdiri di tanah yang rata (Mazmur 26:11,12)
Bacaan : Mazmur 26

Terkadang, ketika dituduh melakukan kesalahan, saya mendapati diri saya mempertanyakan ketulusan hati saya sendiri. Saat itulah saya mengikuti teladan Daud di Mazmur 26 dalam menanggapi kritik yang ditujukan kepadanya.

Ia langsung berseru kepada Tuhan, dan mengungkapkan keyakinannya yang teguh bahwa ia telah hidup dalam “kejujuran” (dalam bahasa Ibrani berarti ketulusan, bukan kesempurnaan). Ia memohon supaya Allah membuktikan bahwa ia benar, karena ia tidak bergaul dengan orang fasik dan ia mencintai Bait Allah. Ia juga memohon agar dihindarkan dari nasib yang menimpa orang-orang berdosa (ayat 1-10). Akhirnya, Daud menegaskan kembali keputusannya untuk hidup dalam ketulusan, dan dengan rendah hati meminta Allah untuk membebaskan dan mengasihaninya (ayat 11).

Apa yang terjadi kemudian? Allah meyakinkan Daud bahwa ia berdiri di “tanah yang rata” (ayat 12). Pernyataan itu menyiratkan bahwa Daud telah berada di tempat aman, diterima, dan dijaga Tuhan. Maka Daud menutup mazmurnya dengan perkataan yang penuh keyakinan dan pengharapan.

Apakah kritik yang tajam dan menyakitkan atau tuduhan yang membuat Anda merasa bersalah membuat Anda menjadi takut dan ragu pada diri sendiri? Bicarakanlah dengan Tuhan. Jika Anda merasa perlu mengaku dosa, lakukanlah. Lalu serahkan harapan dan keyakinan Anda kepada Allah. Dia akan mengganti ketakutan dan keraguan Anda dengan kedamaian-Nya yang bersifat adikodrati. Dia telah melakukannya bagi saya, dan akan melakukan hal yang sama kepada Anda --Herb Vander Lugt

14 April 2003

Memberi Kebahagiaan

Nats : Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (Amsal 11:25)
Bacaan : Amsal 11:16-26

Kisah sampul dalam A.U.S News & World Report mengupas tentang kebahagiaan. Menurut artikel itu, para ilmuwan menemukan bahwa “pernikahan, ikatan keluarga, dan persahabatan yang kokoh bisa memberi kebahagiaan, demikian pula kerohanian dan penghargaan pada diri sendiri. Pengharapan juga amat penting, demikian pula perasaan bahwa hidup ini berarti”. Namun, bagaimana jika beberapa elemen di atas tak ada dalam hidup kita? Para peneliti berkata bahwa “membantu orang agar sedikit merasa bahagia dapat menjadi lompatan awal dari sebuah proses yang akan membawa kita pada hubungan yang kokoh, harapan yang diperbarui, dan kebahagiaan yang berkesinambungan”.

Apa yang kita berikan, lebih daripada yang kita dapatkan, akan memberi sukacita dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya .... Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (Amsal 11:24,25).

Adakah hal-hal kecil yang bisa Anda lakukan hari ini untuk membuat hidup orang lain lebih bahagia? Mungkin Anda bisa mengirim kartu, menelepon, atau menjalin persahabatan. Hanya menyimpan apa yang kita miliki takkan membuat kita bahagia. Kebahagiaan akan datang bila kita berbuat baik kepada orang lain dan memberi orang lain apa yang telah diberikan Allah kepada kita.

Sikap seperti itu akan muncul dari hubungan kita dengan Kristus dan Roh-Nya (Galatia 5:22,23). Dari Dia, tumbuhlah buah kemurahan hati, kebahagiaan, dan kasih.

Apa yang akan Anda berikan hari ini? --David McCasland

18 Mei 2003

Tidak Pilih Kasih

Nats : Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka (Yakobus 2:1)
Bacaan : Yakobus 2:1-9

Seorang pria secara teratur menghadiri kebaktian di sebuah gereja selama beberapa bulan. Namun, tak sekali pun ia diperhatikan. Tak ada yang mengenalnya, dan ia tidak dianggap karena bajunya sudah usang dan lusuh. Tidak ada seorang pun yang pernah meluangkan waktu untuk berbicara kepadanya.

Pada suatu hari Minggu, ia sengaja tetap memakai topinya ketika menempati tempat duduk di gereja. Ketika sang pendeta berdiri di mimbar dan memandang para jemaat, ia langsung melihat pria yang masih memakai topinya tersebut. Ia lalu memanggil seorang majelis dan memintanya agar memberi tahu pria itu bahwa ia lupa melepas topinya. Saat majelis berbicara kepada pria itu, ia membalas dengan senyum lebar dan berkata, "Saya sudah mengira hal ini akan terjadi. Saya sudah menghadiri gereja ini selama enam bulan, dan Anda adalah orang pertama yang berbicara kepada saya."

Tidak ada tempat bagi prasangka atau sikap pilih kasih dalam keluarga Allah. Kita yang telah dilahirkan kembali melalui iman kepada Yesus adalah sama di mata Allah. Dan kesamaan itu seharusnya diwujudkan melalui cara kita memperlakukan orang percaya lainnya.

Kita harus senantiasa ramah dan sopan terhadap orang lain tanpa memandang ras, status sosial, atau penampilan mereka. Apabila kita bersikap pilih kasih, kita berdosa terhadap orang-orang yang dikasihi Allah dan yang diselamatkan oleh Kristus melalui kematian- Nya. Marilah kita bersikap ramah kepada setiap orang dan berhati- hatilah supaya kita tidak memandang muka --Richard De Haan

24 Mei 2003

Hidup Berkemenangan

Nats : Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar (1Timotius 6:6)
Bacaan : 1Timotius 6:3-19

Saya sering dikuatkan oleh banyak orang tanpa mereka sadari. Saya teringat ketika pada suatu malam yang telah larut, saya berjalan menyusuri ruang santai di komunitas pensiunan orang-orang kristiani. Malam itu, semua penghuninya telah masuk ke kamar masing-masing, kecuali seorang wanita tua. Tanpa menyadari kehadiran saya, dengan sabar ia mengerjakan puzzle bergambar sambil bersenandung riang sendirian. Kelihatannya ia cukup puas dengan keadaannya itu.

Saya pun bertanya-tanya, "Bagaimana orang dapat mengalami rasa cukup yang sejati dalam situasi apa pun?" Rasul Paulus membahas masalah ini dalam 1 Timotius 6. Ia memperingatkan orang-orang tidak jujur yang memandang ibadah sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan finansial (ayat 5). Kedua, ada juga se-buah kesalahan lain yang sering tidak disadari umat kristiani, yakni keyakinan bahwa ibadah ditambah uang adalah kombinasi hidup berkemenangan. Paulus membetulkan kedua kesalahan ini dengan mengungkapkan kombinasi kemenangan sejati, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar" (ayat 6). Ia meminta umat percaya untuk merasa cukup dengan makanan dan pakaian mereka (ayat 7,8). "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang" (ayat 10), tetapi kasih dan kepercayaan akan Allah adalah akar dari segala rasa cukup.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengalami sukacita yang datang ketika kesalehan disertai dengan rasa cukup? Jika benar demikian, berarti Anda telah mendapatkan kombinasi hidup berkemenangan yang sejati --Joanie Yoder

3 Juni 2003

Komunikator yang Baik

Nats : Berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota (Efesus 4:25)
Bacaan : Efesus 4:25 -- 5:1

Seorang anak laki-laki dan ayah tirinya mengalami kesulitan untuk saling berkomunikasi. Sang ayah adalah orang yang ramah, sedangkan sang anak pendiam. Sang ayah suka memancing, sedangkan sang anak suka membaca.

Agar bisa lebih dekat dengannya, sang ayah mengajaknya memancing. Sang anak sebetulnya tidak menyukai ajakan tersebut, tetapi ia tidak tahu bagaimana memberi tahu ayahnya secara langsung. Jadi ia menulis di atas secarik kertas bahwa ia ingin pulang. Setelah melihatnya sebentar, sang ayah mengan-tongi kertas itu.

Acara memancing terus berlanjut sampai empat hari berikutnya. Saat akhirnya mereka pulang, sang anak mengungkapkan keputusasaannya kepada ibunya dan berkata bahwa ayah tirinya tidak mempedulikan tulisannya. Namun sang ibu berkata kepadanya, "Nak, ayahmu tidak dapat membaca." Sayangnya, sang ayah tidak pernah mengungkapkan hal tersebut kepada si anak.

Komunikasi yang baik terjadi tidak hanya saat kita mengetahui apa yang ingin kita katakan, tetapi juga saat kita mengenal orang yang kita ajak bicara. Untuk saling mengenal, kita harus rela bila orang lain mengetahui kelemahan dan kekurangan kita.

Paulus mendorong kita sebagai orang-orang percaya untuk berkata benar seorang kepada yang lain (Efesus 4:25). Ia juga menasihati kita untuk "ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni" (ayat 32). Seperti itulah kasih Kristus, yang memberikan rasa aman sehingga komunikasi yang baik dapat bertumbuh --Haddon Robinson

21 Agustus 2003

Berpakaian Putih

Nats : Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (Kolose 3:12)
Bacaan : Kolose 3: 8-14

Saat saya beranjak dewasa, mengenakan pakaian putih di Amerika Serikat pada Hari Buruh merupakan kesalahan berpakaian yang serius. Sebab itu walaupun saya menyukai pakaian putih, saya selalu ingat untuk mulai menyingkirkan baju-baju itu pada setiap akhir Agustus.

Suatu hari di akhir tahun lalu, pembacaan Alkitab saya sampai pada Pengkhotbah 9:8 yang menyatakan, "Biarlah selalu putih pakaianmu." Saya tersenyum sambil membayangkan bagaimana sang penulis memberikan izin untuk mengenakan pakaian putih sepanjang tahun. Namun, Salomo tidak berbicara tentang pakaian. Ia mengajar kita untuk bersukacita dalam segala hal yang kita lakukan dan tetap beriman kepada Allah, bahkan saat hidup tampak tidak masuk akal.

Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengikuti "nasihat berpakaian" sebagaimana yang disarankan oleh Rasul Paulus. Orang- orang kristiani pada abad pertama di Kolose merasa bingung. Pada masa itu mereka terlalu memperhatikan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia. Itu sebabnya Rasul Paulus mengingatkan mereka akan hukum- hukum kudus Allah dan memberi mereka instruksi-instruksi seperti berikut: "Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran" (Kolose 3:12).

Inilah perintah dari Allah kita yang mahabesar, bukan aturan dari manusia yang terbatas. Jika kita mengenakan "pakaian-pakaian" ini setiap hari, kita tidak akan pernah ketinggalan zaman--Julie Link

25 Agustus 2003

Iman Pada Kristus

Nats : Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia (Kolose 2:6)
Bacaan : Kolose 2:1-10

Sebagian orang kristiani berusaha untuk terus mempertahankan kehidupan rohani mereka berada "di puncak". Hubungan mereka dengan Tuhan didasarkan pada perasaan mereka saat "di puncak". Untuk itulah mereka mengikuti konferensi, seminar, dan pemahaman Alkitab, demi mempertahankan perasaan mereka itu.

Mengacu pada kehidupannya mula-mula sebagai orang kristiani, penulis Creath Davis berkata, "Saya merasa iman saya menjadi lemah jika sesuatu yang mengagumkan tidak terjadi. Akibatnya, saya kehilangan banyak pengalaman indah, karena saya berada di lembah, dan harus menanti untuk kembali berada di puncak."

Apakah obat penawar yang efektif bagi iman yang berpusat pada perasaan belaka? Menurut Rasul Paulus di dalam Kolose 2, berpusat pada Kristus adalah jawabannya. Setelah menerima Kristus Yesus dengan iman, kita diperintahkan untuk terus "hidup tetap di dalam Dia" dengan iman (ayat 6) melalui naik-turunnya kehidupan. Dengan hidup di dalam persekutuan yang erat dengan Dia setiap hari, kita akan "berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia," dan "bertambah teguh dalam iman" (ayat 7). Kita bertumbuh dengan mantap menuju kedewasaan saat kita berpusat pada Kristus serta apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, dan bukan pada perasaan kita.

Berada di puncak kehidupan rohani bisa jadi bermanfaat. Namun sesungguhnya tidak ada yang lebih menguntungkan daripada kehidupan iman yang terus menerus berpusat pada Kristus -Joanie Yoder

26 Agustus 2003

Tanda Kasih

Nats : Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara . . . dan menangislah dengan orang yang menangis! (Roma 12:10,15)
Bacaan : Roma 12:9-16

Kartu. Beratus-ratus kartu. Petugas pos pasti mengira kami sedang mengejar rekor dunia. Kartu-kartu itu datang bertumpuk-tumpuk--hari demi hari.

Itu hanyalah salah satu cara yang melaluinya kami tahu bahwa orang- orang memperhatikan kami. Khususnya saat keluarga kami mengalami minggu-minggu awal yang menyakitkan setelah putri kami Melissa yang masih remaja tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

Namun bukan hanya kartu-kartu itu yang menunjukkan dukungan kasih. Makanan datang dengan cepat hingga hampir memenuhi lemari es. Bunga- bunga mengisi setiap sudut rumah, terutama bunga matahari--kesukaan Melissa.

Orang-orang mengirimkan foto-foto Melissa, selimut dengan ayat-ayat, hadiah kenang-kenangan untuk sekolahnya, dan buku--berbagai buku tentang mempercayai Allah dengan hati yang hancur. Selain itu, datang pula e-mail, telepon, juga kata-kata pengharapan dan penghiburan yang disampaikan secara pribadi. Janji-janji doa. Tawaran bantuan untuk melakukan apa pun yang kami perlukan. Semuanya dari teman-teman yang menaati perintah Allah.

Hati kami yang luka terhibur oleh perhatian-perhatian itu, yang terlalu banyak untuk disebutkan, dan terlalu indah untuk dilupakan. Kasih di balik semua ungkapan itu menolong kami untuk melalui hari- hari yang berat karena dukacita.

Carilah orang-orang yang membutuhkan dan ikutilah pimpinan Tuhan. Bantulah mereka untuk menyembuhkan hati yang hancur dengan bahasa- bahasa kasih (Roma 12:10-15). Kuatkanlah mereka untuk kemuliaan Allah--Dave Branon

28 Agustus 2003

Surat yang Tak Ternilai

Nats : Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus (Efesus 3:4)
Bacaan : Efesus 3:1-12

Jika Anda memiliki sepucuk surat dari Mark Twain di loteng Anda, nilai nominalnya bisa sangat mahal. Sebuah surat pribadi sepanjang sembilan halaman yang ia tulis kepada putrinya pada tahun 1875 terjual seharga 33.000 dolar di tahun 1991. Surat-menyurat biasa dengan penulis Tom Sawyer biasanya berharga 1.200 hingga 1.500 dolar per halaman. Para ahli mengatakan bahwa walaupun Twain menulis 50.000 surat sepanjang hidupnya, permintaan akan surat-surat pribadi dari salah satu penulis favorit Amerika ini masih tetap tinggi.

Anda mungkin tidak memiliki sepucuk surat pun dari Mark Twain, namun sesungguhnya Anda memiliki kumpulan surat yang tak ternilai harganya. Dua puluh satu dari dua puluh tujuh buku dalam Perjanjian Baru merupakan surat-surat yang ditulis untuk menguatkan dan memberi pengajaran kepada orang-orang kristiani. Dan surat-surat itu sungguh berharga, karena mengandung wahyu yang tak ternilai tentang Yesus Kristus.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menulis, "Rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu . . . Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya" (3:3,7). Ia telah menerima pesan dari Allah dan diperintahkan untuk memberitakannya kepada dunia (ayat 8). Surat- surat dalam Perjanjian Baru yang kita pegang hari ini mengandung wahyu khusus Allah bagi kita.

Bagi setiap orang kristiani, nilai terpenting dari surat-surat yang terpenting dalam Perjanjian Baru bukanlah nilai nominalnya, melainkan hikmat bagi hati yang terbuka, yakni hikmat dari Allah sendiri--David McCasland

31 Agustus 2003

Yesus yang Sejati

Nats : Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16:16)
Bacaan : Matius 16:13-20

Siapakah Yesus itu? Jika kita melihat bagaimana Dia digambarkan hari-hari ini, hampir tidak mungkin kita dapat mengenali Dia sebagai Yesus yang dikisahkan di dalam Alkitab. Sebagian kelompok menambahkan apa yang dikatakan Alkitab tentang Dia, sementara kelompok yang lain menurunkan derajatnya menjadi manusia belaka, menyatakan bahwa Dia hanyalah seorang guru yang bijaksana atau penegak hukum yang hebat. Sebagian lainnya bahkan ingin menghilangkan Dia sama sekali.

Namun, ini bukanlah suatu hal baru, dan sudah terjadi selama hampir 2.000 tahun. Hal ini mengingatkan saya akan Thomas Jefferson, yang menulis Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Ia membaca Injil Perjanjian Baru sambil memegang gunting dan menggunting semua hal yang menunjuk pada keilahian Yesus. Hasilnya adalah The Jefferson Bible. Bahkan akhir-akhir ini orang-orang telah memperlakukan Alkitab dengan cara yang serupa.

Saat Yesus bertanya pada kedua belas murid-Nya tentang apa yang dikatakan orang-orang tentang diri-Nya, sebagian orang menjawab Elia, Yeremia, dan Yohanes Pembaptis. Namun semua jawaban ini tidak cukup. Baru kemudian Petrus menjawab dengan benar saat ia berkata, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16).

Jangan tertipu dengan setiap penjelasan tentang Yesus yang tidak jelas, diragukan kebenarannya, atau salah, yang Anda baca, lihat, atau dengar. Tetaplah berpegang pada Alkitab. Saat orang-orang berusaha meminimalkan identitas-Nya, katakan kepada mereka dengan jelas siapa Yesus yang sejati! --Dave Egner

24 September 2003

Lingkaran Belas Kasih

Nats : Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! (Roma 12:15)
Bacaan : 2Korintus 1:1-4; Filipi 2:1-4

Sepeninggal putri kami yang berusia 17 tahun dalam kecelakaan mobil pada bulan Juni 2002, setiap anggota keluarga kami memiliki caranya sendiri untuk mengatasi rasa kehilangan. Dukungan paling berarti bagi istri saya adalah kunjungan dari para ibu yang juga telah kehilangan anak mereka dalam kecelakaan.

Sue mendapat kekuatan melalui kisah-kisah mereka. Ia ingin agar mereka menceritakan kasih setia Allah dalam hidup mereka, di samping duka yang mendalam karena kehilangan anak yang amat dikasihi.

Sue segera menjadi bagian dari suatu lingkaran belas kasih, kelompok kecil para ibu yang menangis, berdoa, dan mencari pertolongan Allah bersama-sama. Kelompok ibu-ibu yang berduka ini menjalin suatu ikatan empati dan harapan yang memberikan peneguhan bagi Sue dalam mengatasi kesedihannya sehari-hari.

Setiap orang punya caranya sendiri dalam berduka. Namun, kita tetap perlu berbagi isi hati, beban, pertanyaan, dan kesedihan dengan orang lain. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk memiliki seseorang yang dapat kita ajak bicara tentang penderitaan dan kesedihan kita.

Dalam hubungan kita dengan Kristus, kita mendapatkan dukungan, penghiburan, kasih, persekutuan, kasih mesra, dan belas kasihan (Filipi 2:1). Allah menghibur kita sehingga kita dapat menghibur orang lain (2 Korintus 1:4). Oleh karena itu, marilah kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15). Dengan demikian, orang lain juga akan mendapatkan lingkaran belas kasih --Dave Branon

7 Oktober 2003

Ucapkan Kata Itu

Nats : Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan (Amsal 12:18)
Bacaan : Amsal 12:17-25

Dalam novel David Copperfield karya Charles Dickens, David muda baru saja kembali dari kunjungan menyenangkan teman-temannya. Namun di rumah ia mendapati ibunya yang sudah menjanda menikah lagi dengan Edward Murdstone, seorang pria kasar dan suka menguasai orang lain. Pak Murdstone dan saudara perempuannya Jane, pengunjung tetap rumah itu, sepakat untuk menaklukkan David lewat hukuman dan intimidasi yang keji.

Di awal proses itu, David menggambarkan perasaannya demikian, "Mestinya seluruh hidupku menjadi makin baik, mestinya aku telah menjadi orang yang berbeda ... dengan satu perkataan ramah."

Copperfield sangat ingin mendengar sepatah kata yang menguatkan, penuh pengertian, dan meyakinkan, bahwa ia masih diterima dengan baik di rumahnya. Ia yakin kebaikan apa pun yang diterimanya akan membantunya menghormati dan menaati Pak Murdstone. Namun, yang membuatnya berkecil hati, ia tak pernah mendapatkan kata-kata penguatan.

Tragedi karena tidak mengucapkan kata-kata yang ramah kepada hati yang takut dan khawatir sudah setua umur manusia. Raja Salomo yang bijaksana menulis, "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan" (Amsal 12:18).

Dalam hubungan pribadi dan keluarga, apakah kita memaksakan kehendak kepada orang lain, ataukah berusaha membimbing mereka dengan memberi contoh dan dorongan semangat? Lidah yang tajam meninggalkan bekas luka, sedangkan kata yang bermanfaat menyembuhkan hati yang terluka --David McCasland

25 Oktober 2003

Mencari yang Baik

Nats : Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami (1Tesalonika 1:2)
Bacaan : 1Tesalonika 1

Saya membaca kisah tentang seorang anak lelaki yang nakal. Saat kebaktian keluarga, sang ayah mendoakan anak itu dan menyebutkan beberapa hal buruk yang telah dilakukannya. Tak lama kemudian, sang ibu mendengar anak berusia 6 tahun itu menangis tersedu-sedu. Saat ibunya bertanya mengapa ia menangis, anak itu berseru, "Ayah selalu memberitahukan hal-hal buruk tentang saya kepada Allah. Ia tidak pernah memberitahukan hal-hal baik yang saya lakukan!"

Apa yang terjadi pada anak itu menegaskan kekurangan yang lazim dijumpai di antara kita. Bukannya memperhatikan hal-hal baik dalam diri orang lain, kita justru cenderung memperhatikan kesalahan mereka. Kita bisa belajar dari teladan Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada anak-anak rohaninya di Tesalonika, ia menulis, "Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua" (ayat 2). Ia mengingat "pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan" mereka (ayat 3). Ia berkata demikian karena mereka "dalam penindasan yang berat telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus," dan mereka menjadi teladan bagi orang-orang lain (ayat 6,7). Ia berkata bahwa dari merekalah "firman Tuhan bergema ... di semua tempat" (ayat 8). Kata-kata Paulus pasti telah menguatkan dan mendorong mereka untuk lebih giat melayani Tuhan.

Marilah kita lebih siap untuk memuji daripada menghakimi. Saat kita melihat sesuatu yang baik pada orang lain, beritahukanlah itu kepada mereka. Mereka akan dikuatkan, dan itulah yang sesungguhnya mereka butuhkan --Richard De Haan

5 November 2003

Transmisi Digital

Nats : Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:15)
Bacaan : Yohanes 13:1-17

Pada tahun 2000, sebuah film ditransmisikan secara digital melalui internet dari sebuah studio di Kalifornia untuk pemutaran perdana tingkat dunia di Atlanta, Georgia. Film itu ditransfer langsung dari studio ke layar bioskop, tanpa menggunakan rol film. Secara digital, impuls-impuls elektronis dipakai untuk menggantikan gulungan seluloid yang besar.

Di abad elektronis yang sering digambarkan sebagai "high-tech, low-touch" (teknologi tinggi, sedikit sentuhan) ini, baiklah kita mengingat bahwa Allah menggunakan jenis "transmisi digital" lain. Sebaliknya, Allah menggunakan metode teknologi "high-touch" (banyak sentuhan) untuk mengomunikasikan anugerah dan kasih-Nya.

Dalam bahasa Inggris, kata digital berasal dari kata digit, yang mengacu pada jari tangan kita. Ketika saya berpikir mengenai hidup dan pelayanan Yesus, saya ingat bagaimana Dia memakai tangan-Nya untuk memberi harapan dan kesembuhan. Dia menjamah yang sakit, menggendong anak-anak kecil, memecahkan roti bagi yang lapar, dan membiarkan tangan-Nya dipaku di kayu salib bagi dosa-dosa kita. Dalam Yohanes 13 kita membaca bahwa Yesus menunjukkan sikap rendah hati yang mengagumkan dengan membasuh kaki para murid-Nya dan berkata kepada mereka, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu" (ayat 14).

Apabila kita merendahkan hati dan berserah kepada-Nya, Tuhan masih akan mentransmisikan Injil anugerah-Nya kepada sesama, melalui jamahan kasih manusiawi kita --David McCasland

7 November 2003

Obat Kemarahan

Nats : Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku" (Yohanes 21:22)
Bacaan : Yohanes 21:18-25

Kita mungkin akan langsung menyetujui pernyataan bahwa "semua manusia diciptakan setara". Namun, kita tidak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa kehidupan memperlakukan sebagian orang lebih baik daripada yang lain. Kita harus belajar menerima hal ini tanpa merasa marah.

Ketidakadilan hidup dapat terlihat dalam banyak segi kehidupan. Penyakit kanker menggerogoti tubuh seorang anak kecil, sementara para perokok dan peminum berat tetap hidup sampai usia lanjut. Sebagian orang menikmati kesehatan yang bagus, sedangkan yang lainnya tidak. Sebagian orang tidak menderita cacat fisik, tetapi yang lain mengalami cacat yang parah. Sebagian orang bekerja dengan keras namun tetap hidup dalam kemiskinan, sementara yang lain dilahirkan kaya atau tampaknya selalu mendapatkan segala macam kesempatan.

Ketika Yesus memberi tahu Rasul Petrus bahwa ia akan gugur sebagai martir karena memperjuangkan imannya, Petrus kemudian bertanya apa yang akan terjadi dengan Yohanes. Tampaknya ia berpikir bahwa tidak adil kalau Yohanes tidak mati dengan cara yang sama. Namun, Yesus berkata kepada Petrus bahwa apa yang akan terjadi pada Yohanes bukanlah urusan Petrus. Itu sudah menjadi keputusan Allah. Tanggung jawab Petrus hanyalah mengikuti Kristus.

Apabila melihat orang lain membuat Anda marah terhadap ketidakadilan hidup ini, ubahlah fokus Anda. Pandanglah Yesus dan ikutlah Dia. Ketidakadilan hidup hanyalah bersifat sementara. Keadilan sempurna akan kita nikmati selamanya di dalam surga --Herb Vander Lugt

10 November 2003

Meniru Pencipta Sejati

Nats : Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih (Efesus 5:1)
Bacaan : 1 Tesalonika 1

Museum Louvre di Paris mungkin merupakan museum seni termashyur di dunia. Museum ini memajang berbagai lukisan asli buah karya banyak pelukis besar seperti Delacroix, Michelangelo, Rubens, da Vinci, Ingres, Vermeer, dan masih banyak lagi.

Semenjak tahun 1793, Louvre telah mendorong para seniman yang bercita-cita tinggi untuk datang dan meniru lukisan-lukisan asli tersebut. Sebagian seniman modern kita yang termasyur telah melakukan hal itu dan telah menjadi pelukis yang semakin baik dengan meniru karya dunia terbaik.

Sebuah artikel di majalah Smithsonian mengisahkan tentang Amal Dagher, pria berusia 63 tahun yang sudah menduplikasi karya seni di Louvre selama 30 tahun. Sampai sekarang Dagher tetap terkagum-kagum pada para pelukis lukisan asli itu dan terus belajar dari itu semua. Ia berkata, "Jika Anda terlalu puas dengan diri sendiri, Anda tidak akan menjadi lebih baik."

Rasul Paulus memerintahkan kita untuk menjadi "penurut-penurut Allah" (Efesus 5:1). Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Tesalonika, ia memuji jemaat itu karena mereka semakin menjadi penurut Tuhan dan menjadi teladan bagi yang lain (1Tesalonika 1:6-10).

Seperti halnya para peniru lukisan di Louvre, kita pun tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sebelum kita naik ke surga. Namun demikian, kita harus menahan godaan untuk puas dengan peneladanan kita terhadap Yesus sekarang ini. Kita harus selalu memandang Dia, belajar dari-Nya, dan memohon pertolongan-Nya. Marilah kita meneladani Sang Pencipta Sejati --Dave Egner

17 November 2003

Selalu Segar

Nats : Apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pengkhotbah 1:9)
Bacaan : Pengkhotbah 1:1-9

Kita semua cenderung melakukan rutinitas sehari-hari secara berulang-ulang. Dari waktu ke waktu kita makan, tidur, bekerja, dan merapikan diri. Kita dapat kehilangan semangat hidup jika "tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" (Pengkhotbah 1:9).

Namun, ada cara lain untuk memandang kehidupan ini. Dunia dapat disamakan dengan panggung tempat pementasan drama kekekalan dan kita adalah para aktornya. Matahari yang terbit dan terbenam seumpama layar besar hari demi hari. Dan setiap kali kita "mengulang jalur kita", sebenarnya kita membuat suatu keputusan. Kita dapat memandang peran kita dalam kehidupan sehari-hari hanyalah untuk menyelesaikan tugas kita, atau justru melihatnya sebagai suatu kesempatan yang indah untuk mengenal dan menikmati kebaikan dan kebijaksanaan Sang Sutradara yang agung (ayat 5:18-20; 12:13,14).

Saat kita dengan gembira ikut ambil bagian dalam aktivitas yang berulang-ulang ini, maka karakter kita dibentuk, iman kita dikuatkan, harapan kita ditambahkan, dan daya tahan kita dikembangkan. Melalui kejadian-kejadian yang biasa, Allah mengatakan kepada kita bahwa ada sesuatu yang lebih dengan keberadaan kita di dunia ini selain dari rentetan tugas yang tidak berarti.

Bagian dari rencana Allah bagi kita adalah agar kita berserah pada bimbingan-Nya dalam kejadian-kejadian biasa yang terjadi berulang-ulang. Mempercayai Allah terus-menerus sepanjang bulan, minggu, hari, dan jam, merupakan cara yang paling tepat untuk membuat hidup kita selalu segar --Mart De Haan

3 Desember 2003

Lebih Berbaik Hati

Nats : Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih- Nya kepada manusia (Titus 3:4)
Bacaan : Efesus 4:25-32

Aldous Huxley (1894-1963), seorang cendekiawan dunia terkemuka, mengunjungi Houston Smith, profesor filsafat dan agama terkenal. Lalu mereka mengendarai mobil menuju suatu pertemuan. Di tengah perjalanan Huxley berkata, "Tahukah engkau, Houston, rasanya agak memalukan harus menghabiskan hidup untuk memikirkan kondisi manusia ... tetapi akhirnya saya mendapati bahwa nasihat yang benar-benar berarti hanyalah, 'Cobalah untuk sedikit lebih berbaik hati.'"

Paulus melihat kebaikan hati dari sudut pandang yang berbeda. Dalam Efesus 4:32, ia menghubungkan sikap baik hati, lemah lembut, dan penuh pengampunan dengan perlakuan Allah kepada kita. Dalam Titus 3:4, ia berkata bahwa "kemurahan Allah ... dan kasih-Nya" memberikan keselamatan yang kekal.

Dalam dunia di mana keegoisan yang tanpa perasaan dan sikap tidak peduli terhadap orang lain sudah dianggap sangat umum, kebaikan hati dapat membuat hidup kita berbuah jika digerakkan oleh kasih seperti Kristus. Apabila jalan hidup kita selaras dengan perkataan kesaksian kita, maka hidup kita akan memberikan dampak yang menarik perhatian orang lain dengan mengarahkan mereka pada kasih yang Allah sediakan bagi mereka dalam Yesus Kristus. Jika Huxley telah mempelajari apa yang dipelajari Paulus, ia pasti melihat bahwa mencoba untuk sedikit lebih berbaik hati adalah salah satu kebenaran yang terdalam.

Apa yang memotivasi kita untuk mencoba melakukannya? Tak ada alasan yang lebih baik daripada kasih Allah seperti yang telah dinyatakan Yesus kepada kita --Vernon Grounds

3 Maret 2004

Kebaikan Tak Terduga

Nats : Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! (Roma 12:20)
Bacaan : 1 Samuel 26:1-26

Seorang utusan Injil sedang mengajarkan kebaikan kepada sekelas gadis-gadis kecil. Ia menceritakan kepada mereka tentang Yesus yang mengatakan bahwa seseorang yang memberikan secangkir air di dalam nama-Nya “tidak akan kehilangan upahnya” (Markus 9:41).

Hari berikutnya, utusan Injil itu mengamati sekelompok laki-laki yang tampak letih berjalan menuju alun-alun. Mereka menurunkan ransel mereka yang berat, dan duduk untuk beristirahat sejenak. Beberapa menit kemudian, tampaklah beberapa gadis kecil yang dengan malu-malu mendekati orang-orang yang terkejut itu dan memberi mereka semua minum. Kemudian mereka lari menghampiri si utusan Injil. “Guru!” teriak mereka, “kami memberi orang-orang itu minuman dalam nama Yesus.”

Walaupun Markus 9:41 terutama diterapkan untuk menunjukkan kebaikan kepada orang-orang yang percaya di dalam Kristus, kita tahu bahwa kita harus “berbuat baik kepada semua orang” (Galatia 6:10) dan bahkan memberi musuh kita minum (Roma 12:20).

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Daud mempunyai kesempatan untuk membalas dendam kepada Raja Saul (1 Samuel 26:9). Tetapi karena Daud menyembah Allah, ia menunjukkan kebaikan kepada raja itu.

Menunjukkan kebaikan yang tak terduga kepada orang asing atau musuh kita memang tidak selalu akan mengubah hati mereka. Namun cepat atau lambat, seseorang akan bertanya-tanya mengapa kita berbuat kebaikan, dan kita akan memiliki kesempatan untuk menceritakan Tuhan kita yang baik, bahkan terhadap para musuh-Nya (Roma 5:10) —Herb Vander Lugt

22 Maret 2004

Makna Sebuah Nama

Nats : Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk (Amsal 10:7)
Bacaan : Amsal 10:1-17

Pada pertengahan tahun 1800-an, seorang peternak asal Texas bernama Samuel Augustus Maverick menolak untuk mengecap ternaknya. Maka, ketika para penggembala sapi di sekitar situ menemukan seekor anak sapi yang tidak dicap, mereka menyebutnya seekor “maverick”. Kata itu kemudian dimasukkan dalam kosakata bahasa Inggris yang berarti seseorang yang tidak memihak partai mana pun dan menolak untuk menyamakan diri.

Nama-nama lain yang menggambarkan karakter dan perilaku seseorang: Yudas dan Benedict Arnold, keduanya berarti “pengkhianat”. Einstein berarti seorang genius, sedangkan Salomo berarti seorang yang bijak.

Sebagian nama kita mungkin akan menjadi bagian dari kosakata bahasa, tetapi nama-nama itu akan menunjukkan siapa kita serta bagaimana kita hidup, kini dan selamanya. Salomo berkata, “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk .... Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui” (Amsal 10:7,9).

Ketika merenungkan seseorang yang kita kenal dan kagumi, kita akan menghubungkan nama orang itu dengan sifat-sifat yang juga ingin kita miliki. Kejujuran, kemurahan hati, dan kasih kerap menempati urutan teratas dalam daftar itu. Kita melihat semua karakter ini dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus, yang mengizinkan kita menyandang nama-Nya sebagai orang kristiani.

Hari ini, Tuhan ingin bekerja di dalam diri kita agar nama kita mengacu kepada-Nya —David McCasland

14 April 2004

Tuntutan Kesetiaan

Nats : Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (1 Korintus 4:2)
Bacaan : 1 Korintus 4:1-5, 14-20

Kita sering memerhatikan dan memuja orang-orang yang terkenal dan sukses. Namun terkadang kita membaca tentang orang biasa yang terkenal, tetapi dihormati karena pelayanannya yang setia selama bertahun-tahun. Bisa jadi ia seorang penjaga sekolah, pelayan kantin, tukang, atau kasir toko yang telah melayani orang lain dengan cara yang dapat diandalkan dan penuh dedikasi.

Sikap dapat dipercaya seperti ini sering luput dari perhatian banyak orang, tetapi saya yakin itu adalah gambaran luar biasa mengenai bagaimana seharusnya kita hidup. Meskipun kesetiaan bukan sesuatu yang mudah terlihat, tetapi kian hari kian dipandang penting oleh Allah.

Paulus menulis, “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan ... bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Korintus 4:2). Jika kita hidup dengan penuh kesetiaan kepada Kristus, Allah telah berjanji untuk memberikan ganjaran kepada kita pada waktu yang telah ditetapkan-Nya. Ketika Tuhan datang, Dia “akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah” (ayat 5).

Ketika kita merindukan keberhasilan, Allah berkata, “Aku akan memberimu ganjaran.”

Ketika kita haus akan pengakuan, Allah berkata, “Aku mengakuimu.”

Ketika kita siap menyerah, Allah berkata, “Aku akan menolongmu.”

Entah pelayanan kita diketahui banyak orang atau tidak, kita memiliki tanggung jawab yang sama, yakni setia —David McCasland

28 Mei 2004

Memulihkan Gambar Allah

Nats : Kita semua ... diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18)
Bacaan : Kolose 3:8-17

Semasa kecil, teolog Alister McGrath senang bereksperimen dengan bahan kimia di laboratorium sekolahnya. Ia suka menjatuhkan sekeping uang logam yang kusam ke dalam gelas kimia berisi asam nitrat yang telah diencerkan. Ia sering menggunakan uang logam penny Inggris yang kuno bergambar Ratu Victoria. Karena kotoran yang menumpuk pada uang logam itu, gambar sang ratu menjadi tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun, asam membersihkan kotoran pada logam itu dan gambar sang ratu pun dapat terlihat kembali dalam keagungannya yang cemerlang.

Kita tahu pasti bahwa kita ini diciptakan seturut dengan gambar Allah (Kejadian 1:26), meskipun gambar itu telah kotor karena dosa-dosa kita. Namun demikian, kita tetap menyandang gambar Allah.

Begitu kita mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan kita sebagai Sang Juruselamat, Dia bekerja untuk membenahi gambar asli kita. Dia mengubah kita agar menjadi serupa dengan-Nya (2 Korintus 3:18). Proses ini digambarkan dengan menanggalkan sebagian perilaku yang ada dan mengenakan perilaku yang lain. Sebagai contoh, ada tertulis, “Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor” (Kolose 3:8) dan “kenakanlah kasih” (ayat 14).

Jika jiwa kita yang telah kusam karena dosa tidak dibasuh oleh pengampunan Yesus, gambar Allah akan tampak kabur di dalam kehidupan kita. Namun bila kita memercayai pengurbanan Yesus di kayu salib, maka kita pun diampuni dan pemulihan itu dimulai —Vernon Grounds

8 Juli 2004

Kekuatan dari Dalam

Nats : Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu (Efesus 3:16)
Bacaan : Efesus 3:14-21

Sebuah perusahaan besar menggunakan pompa penyedot untuk mengisap zat-zat pencemar dari dalam beberapa drum baja. Pompa bertenaga raksasa itu akan menyedot keluar zat-zat tersebut dari dalam drum-drum itu. Namun, para pekerja harus sangat berhati-hati dalam menyetel kekuatan pompa tersebut, karena jika mereka menyedot udara terlalu banyak, maka drum-drum itu akan mengempis bagaikan gelas-gelas kertas. Peristiwa itu terjadi karena tekanan dari luar lebih besar daripada tekanan yang ada di dalam drum.

Sama halnya ketika kesukaran dan kemalangan terjadi dalam hidup kita, Allah pasti memberi kita kekuatan dari dalam. Jika tidak, kita tidak akan mampu menahan tekanan dari luar. Kita memang memperoleh dukungan yang kuat dari orang-orang yang terkasih dan sahabat-sahabat kristiani kita, tetapi manusia batiniah kita juga akan “dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh-Nya” (Efesus 3:16) sehingga mampu menahan dan menjaga kita agar tidak “mengempis”.

Roh Kudus bekerja untuk menguatkan dan memperbarui pikiran kita pada saat kita membaca Alkitab dan berdoa. Jika kita melalaikan Kitab Suci, jarang bercakap-cakap dengan Tuhan, dan menghentikan persekutuan dengan orang-orang percaya lainnya, kita akan menjadi lemah dan rapuh, sehingga tidak mampu bertahan melawan tekanan pencobaan atau kesukaran.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar Dia dapat membangun kekuatan di dalam diri kita, sehingga ketika hantaman dan beban kehidupan menekan, kita tidak akan hancur —Dave Egner

11 Agustus 2004

Apa Identitas Anda?

Nats : Kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (Galatia 3:26)
Bacaan : Galatia 3:26-4:7

Bagaimana orang mengenali Anda? Apakah mereka berkata, "Hei, itu pria yang berjualan mobil." Atau, "Wanita itu adalah seorang guru sekolah."

Ketika masih kecil, putri sulung kami pernah bernyanyi dalam sebuah acara radio anak-anak nasional, dan saya senang dikenal sebagai "ayahnya Lisa Sue". Sejak tahun 1990 saya menikmati julukan sebagai "pria Sports Spectrum" karena saya bekerja di majalah itu. Kita semua memiliki julukan sederhana yang digunakan orang lain untuk mengenali kita.

Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Kata orang, siapakah Aku ini?" (Markus 8:27). Sebagian orang mengira Yesus adalah Elia atau nabi lain. Namun mereka yang sudah sangat mengenal Yesus berkata, "Engkau adalah Mesias!" (ayat 29). Itu adalah sebutan yang tepat untuk Juruselamat dunia.

Anda dipanggil oleh orang-orang yang sudah sangat mengenal Anda? Apakah mereka berkata, "Kelihatan sekali kalau ia pengikut Yesus"? Panggilan itu tergantung pada bagaimana cara Anda berbicara dengan orang lain, cara Anda memperlakukan keluarga, dan cara hidup Anda.

Rasul Paulus mengatakan bahwa kita semua adalah "anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus" (Galatia 3:26). Pengenalan yang intim dengan Allah Bapa seharusnya dapat terlihat dengan sendirinya oleh para teman dan kenalan kita.

Mereka yang memiliki hubungan yang akrab dengan Yesus mengetahui bahwa Dia adalah Sang Juruselamat. Apakah orang-orang yang dekat dengan kita mengetahui bahwa kita adalah milik-Nya? --Dave Branon

22 Agustus 2004

Kemanusiaan Yesus

Nats : Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (Ibrani 4:15)
Bacaan : Ibrani 2:9-18

Saya pernah mendengar komentar terhadap seseorang yang selalu mengkritik demikian, "Masalahnya, ia lupa bagaimana rasanya menjadi manusia!" Betapa mudahnya kita melupakan berbagai macam pergumulan masa lalu kita dan tidak bersimpati kepada mereka yang sedang menghadapi pergumulan. Namun, ada Pribadi yang tidak pernah melupakan bagaimana rasanya menjadi manusia. Dia adalah Yesus.

Dalam Ibrani 2:9-18, kita "melihat" kemanusiaan Yesus dengan lebih jelas. Sebagai manusia, oleh anugerah Allah Dia sanggup menghadapi kematian untuk menggantikan kita. Dan selama hidup-Nya di dunia, Yesus disempurnakan melalui penderitaan-Nya (ayat 10). Tetapi ada yang lebih lagi. "Sebab [Yesus] yang menguduskan dan [kita] yang dikuduskan, semua berasal dari Satu." Karena kesatuan ini, Yesus tidak malu menyebut kita semua saudara (ayat 11).

Dalam tubuh manusiawi seperti kita, Yesus hidup, bekerja, serta mengatasi setiap hambatan, sehingga Dia tahu bagaimana rasanya menjadi salah satu dari kita. Karena telah mengalami semua pengalaman manusiawi tanpa berbuat dosa, sekarang Dia telah naik ke surga dan menjadi Imam Besar bagi kita yang duduk di takhta kasih karunia-Nya, dan dapat kita hampiri (ayat 17,18; 4:14-16).

Kita semua memerlukan seseorang yang tahu benar bagaimana rasanya menjadi manusia, namun juga memiliki kuasa yang tidak terbatas untuk membantu kita mengatasi berbagai kelemahan manusiawi kita. Pribadi yang kita butuhkan itu adalah Yesus. Dia rindu mendengar kita menyebut nama-Nya dan memohon pertolongan-Nya --Joanie Yoder

7 September 2004

Cerminan Citra Allah

Nats : Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2Korintus 3:18)
Bacaan : 2Korintus 3:7-18

Beberapa tahun yang lalu, seorang pebisnis yang sudah senior bertanya kepada saya, "Apakah masalah terbesar Anda?"

Saya merenungkan pertanyaan ini sejenak sebelum menjawab, "Tatkala saya bercermin setiap pagi, saya melihat masalah terbesar saya sedang menatap saya."

Bacaan Kitab Suci hari ini mengajarkan kepada saya bahwa orang kristiani harus seperti cermin. Paulus berkata bahwa kita tidak boleh menutupi wajah kita. Perkataannya itu memang masuk akal. Tidak ada orang yang memasang cermin lalu menutupi cermin itu dengan tirai. Cermin yang berselubung tidak akan dapat menjalankan fungsinya yaitu memantulkan objek yang ada di depannya.

Dalam 2 Korintus 3:18, digambarkan bahwa kita "mencerminkan kemuliaan Tuhan". Apabila kita mencerminkan kemuliaan-Nya, kita akan diubah "menjadi serupa dengan gambar-Nya", yaitu menyerupai Kristus.

Barangkali kita bertanya-tanya mengapa cara berpikir dan perilaku kita masih jauh dari serupa dengan Kristus. Mungkin pertanyaan berikut ini dapat menolong: "Hidup siapakah yang kita cerminkan?"

Umat Allah harus mencerminkan kemuliaan Allah. Untuk itu kita harus membiasakan diri mencerminkan kemuliaan-Nya. Kita harus membaca dan merenungkan firman-Nya. Kita harus berdoa dan memercayai Roh Kudus Allah untuk bekerja di dalam hati kita. Barulah setelah itu kita dapat menaati perintah-Nya dan berpegang pada janji-Nya.

Kemuliaan siapakah yang Anda cerminkan hari ini? --Albert Lee

22 September 2004

Pesan yang Baik

Nats : Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka (Matius 14:14)
Bacaan : Matius 14:14-21

Sungguh suatu kesalahan tragis. Pada tanggal 3 Juli 1998, peluru kendali dari kapal perang USS Vincennes menembak jatuh sebuah pesawat penerbangan sipil Iran dengan 290 jiwa di dalamnya. Semuanya tewas. Kapten kapal USS Vincennes itu mengira mereka sedang diserang oleh sebuah pesawat tempur F-14 milik Iran. Tetapi ternyata perkiraannya keliru.

Jajak pendapat umum menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Amerika menentang pembayaran ganti rugi kepada para keluarga korban. Perlakuan kejam terhadap para sandera Amerika di Iran masih terbayang jelas di benak banyak orang. Tetapi Presiden Reagan menyetujui pembayaran ganti rugi itu. Ketika ditanya para wartawan bagaimana jika pembayaran seperti itu menimbulkan preseden yang buruk, ia menjawab, "Saya tidak pernah melihat belas kasihan sebagai preseden buruk."

Prinsip balas dendam jauh lebih mudah untuk diterapkan. Namun, belas kasihan adalah cara Kristus, yaitu memberi perhatian yang mendalam terhadap kebutuhan fisik, emosi, dan rohani seseorang secara utuh. Hal ini menyingkapkan hati Allah untuk orang-orang berdosa, bagi Anda dan saya.

Memberi makan 5.000 orang adalah mukjizat yang lahir dari belas kasihan. Yesus tergerak oleh kebutuhan rohani dan jasmani orang-orang (Matius 14:14; Markus 6:34). Dia tidak puas hanya mengajar mereka dan membiarkan mereka pulang begitu saja.

Sebagai orang kristiani, kita harus melihat seseorang secara menyeluruh melalui mata Yesus. Tindakan belas kasihan selalu memancarkan pesan yang baik --Dennis De Haan

3 Oktober 2004

Jangan Putus Asa

Nats : Kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia (2Petrus 3:14)
Bacaan : 2Petrus 3

Hari-hari ini terjadi berbagai peristiwa mengerikan di dunia. Orang kristiani boleh takut, tetapi tak perlu terkejut. Yesus telah memperingatkan kita tentang waktu-waktu sulit yang akan datang (Lukas 21:25-28). Dalam bacaan Alkitab hari ini, Petrus menghibur orang-orang percaya dengan mengingatkan mereka akan maksud Allah yang akan dinyatakan serta kemenangan terakhir.

Petrus menjelaskan tentang para pengejek kafir, yang pada hari-hari terakhir akan berkata, "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?" (2 Petrus 3:4). Kita pun mungkin bertanya-tanya mengapa Kristus tidak datang sekarang dan mengubah segalanya. Petrus menegaskan bahwa Tuhan "tidak lalai menepati janji-Nya", namun Dia menunda kedatangan-Nya yang kedua agar banyak orang di mana saja punya lebih banyak waktu untuk bertobat (ayat 9).

Kita tidak boleh lupa bahwa "di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari" (ayat 8). Akhirnya hari Tuhan akan datang, membawa penghakiman dalam bentuk api yang menghanguskan. Hal ini akan diikuti oleh langit dan bumi yang baru, tempat bagi kebenaran dan orang-orang yang telah diampuni Allah (ayat 13).

Selagi menantikan hari yang penuh kemenangan itu, kita harus hidup dengan konsisten dan suci (ayat 14), menolak semua pengaruh jahat (ayat 17), dan bertumbuh dalam kasih karunia serta pengenalan akan Kristus (ayat 18). Maka kita tak akan putus asa atas kejahatan, tetapi mampu membagikan kabar baik tentang Yesus kepada dunia --Joanie Yoder

10 November 2004

Menjalankan Iman

Nats : Kamu lihat, bahwa iman bekerja sama dengan perbuatan- perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna (Yakobus 2:22)
Bacaan : Roma 2:17-24

Sebagai orang kristiani, kita sering dituntut untuk “tidak hanya bicara”, tetapi “menjalankan ucapan kita”. Nasihat yang sama juga diungkapkan dalam kata-kata berikut: Jangan biarkan tingkah laku Anda bertentangan dengan iman yang Anda percayai. Pada kesempatan lain kita diingatkan untuk memastikan bahwa hidup kita selaras dengan ucapan kita. Jika perilaku kita tidak selaras dengan pengakuan iman kita, maka ketidakselarasan itu akan menghapuskan kesaksian Injil yang kita sampaikan.

Seperti yang kita ketahui, Mahatma Gandhi tidak pernah menjadi orang kristiani. Namun, ia pernah membuat pernyataan bahwa kita, pengikut Yesus, harus memikirkan hidup dengan baik. Ketika diminta untuk menyampaikan pesan pendek, ia menjawab, “Hidupku adalah kesaksianku.”

Kita perlu menjelaskan pesan Injil sejelas mungkin. Namun, penjelasan yang paling jelas sekalipun, tidak akan memenangkan hati yang mendengarnya bagi Tuhan, bila kasih-Nya tidak menyatu dalam hidup kita. Rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 11:1, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Karena ia menempatkan dirinya sebagai teladan, ia menulis dalam Filipi 4:9, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”

Berdoalah, agar seperti Paulus, kita bisa membuktikan iman kita yang menyelamatkan di hadapan dunia yang sedang menyaksikan hidup kita —Vernon Grounds

21 Desember 2004

Pembuat Jalan

Nats : Luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh (Ibrani 12:13)
Bacaan : Ibrani 12:12-24

Sampul Our Daily Bread baru-baru ini menggambarkan sebuah jalan yang penuh dengan dedaunan di pegunungan Vermont. Mereka yang melewati jalan ini dapat menikmati perjalanan yang mulus dan indah melewati daerah yang sulit. Agar semuanya ini menjadi mungkin, ada orang yang harus bekerja keras untuk merancang rutenya, menebang pepohonan, dan meratakan tempat-tempat yang tidak rata.

Dalam arti tertentu, semua orang kristiani adalah pembuat jalan. Kita sedang menyiapkan jalan iman bagi generasi mendatang. Kesetiaan hidup kita menentukan seberapa sulit perjalanan yang akan mereka tempuh. Akankah mereka harus memperbaiki kerusakan jalan akibat perbuatan kita? Dapatkah mereka membuat jalan-jalan baru bagi orang lain agar dapat menemukan Allah?

Untuk menjadi pembuat jalan yang baik, kita harus memerhatikan nasihat dalam firman Allah. Penulis surat Ibrani meminta kita untuk hidup damai dan kudus (12:14), untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tidak menikmati rahmat Allah, dan untuk mencegah tumbuhnya akar kepahitan yang menimbulkan kerusuhan serta mencemarkan banyak orang (ayat 15).

Kita yang telah datang kepada Yesus berutang budi kepada mereka yang telah “meluruskan jalan” bagi iman kita (ayat 13). Pada gilirannya, kita harus mengingat mereka yang akan mengikuti kita dan meluruskan jalan bagi mereka. Marilah kita praktikkan iman kita dalam cara yang akan mempermudah orang lain untuk datang kepada Yesus dan untuk mengikuti-Nya. Pembuat jalan seperti apakah Anda? —Julie Link

31 Januari 2005

Vas Niat Baik

Nats : Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4:17)
Bacaan : Yakobus 4:13-17

Dalam kartun Peanuts karya Charles Schulz, Marcie memberi bunga kepada gurunya. Tidak mau kalah, Peppermint Patty berkata kepada guru itu, “Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama Bu, tetapi saya tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukannya. Dapatkah Anda memakai vas yang berisi niat baik?”

Kita semua pernah mempunyai niat untuk melakukan sesuatu yang baik, tetapi kemudian gagal untuk menindaklanjuti niat itu. Kita mungkin ingin menelepon untuk mengetahui kabar seorang sahabat, atau mengunjungi seorang tetangga yang sedang sakit, atau menulis pesan untuk memberi dorongan kepada seorang yang terkasih. Tetapi kita tidak meluangkan waktu.

Beberapa orang tahu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, dan mereka berencana untuk memercayai-Nya kelak. Namun, mereka selalu menundanya. Mereka mungkin memiliki niat baik, namun hal itu tidak membawa keselamatan.

Sebagai orang kristiani, kita mungkin mengatakan bahwa kita ingin bertumbuh lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi entah bagaimana, kita tidak menyediakan waktu untuk membaca firman Allah atau berdoa.

Yakobus telah memberi peringatan yang keras mengenai masalah tidak mengambil tindakan: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17).

Adakah sesuatu yang kita tunda? Tulislah kartu atau surat itu hari ini. Kunjungilah teman yang sakit itu. Vas yang penuh niat baik tidak akan mencerahkan hari seseorang —Anne Cetas

31 Maret 2005

Berlaku Bijaksana

Nats : Daud maju berperang ke mana juga Saul menyuruhnya dan dia berlaku bijaksana .... Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat (1Samuel 18:5)
Bacaan : 1Samuel 18:1-5

Sebanyak empat kali di dalam 1 Samuel 18, penulis kitab ini mengatakan bahwa Daud "berlaku bijaksana" (lihat ayat 5,14,15,30). Kenyataannya, "Daud bersikap lebih bijaksana dari semua pegawai Saul, sehingga namanya menjadi sangat masyhur" (ayat 30).

Frasa "sangat masyhur" menggambarkan sebuah penghormatan yang tidak biasa. Daud sangat dihormati oleh semua orang, akan tetapi yang lebih tepat, ia sangat dihormati di kalangan pegawai Saul yang sangat terpesona oleh karakter Daud yang berwibawa.

Ketika orang kristiani mulai mengenal Yesus dengan menaati perintah-Nya, mereka akan mulai menampakkan kualitas karakter yang akan membedakan mereka dari orang-orang lain. Karena hikmat yang murni adalah hidup seperti Kristus. Hal ini lebih dari sekadar kepintaran biasa; ini adalah perilaku yang tidak biasa.

Yakobus berkata, "Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik" (3:17).

Pengalaman Daud di masa lalu dapat juga menjadi pengalaman kita pada masa kini. Janji Allah kepadanya juga merupakan janji Allah kepada orang-orang percaya pada zaman ini. Ia berkata demikian, "Aku hendak mengajar [agar engkau berlaku bijaksana] dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh" (Mazmur 32:8).

Apakah kita saat ini tengah belajar untuk berlaku bijaksana? —DHR

29 April 2005

Tak Tersembunyi

Nats : Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan (Markus 7:24)
Bacaan : Markus 7:24-30

Minyak wangi dari bunga mawar merupakan salah satu produk negara Bulgaria yang paling berharga dan dibebani pajak ekspor yang tinggi. Suatu kali seorang turis yang tidak bersedia membayar pajak, menyembunyikan dua botol kecil minyak berharga ini di dalam kopernya. Akan tetapi, ada sedikit parfum yang telah tumpah di kopernya. Setibanya di stasiun kereta api, aroma parfum itu telah menyebar dari dalam koper, sehingga memberitakan harta karun yang tersembunyi tersebut. Pihak berwenang segera mengetahui apa yang telah dilakukan sang pria dan menyita suvenir mahal tersebut.

Hal yang sama berlaku untuk Tuhan Yesus. Dia pun tidak dapat dirahasiakan. Orang banyak selalu mengerumuni-Nya. Mereka ingin mendengar perkataan hikmat, menerima pengampunan-Nya, serta meminta belas kasihan-Nya.

Setelah Dia naik ke surga kepada Bapa-Nya, pengaruh Yesus berlanjut di dalam kehidupan murid-murid-Nya. Orang banyak sadar bahwa mereka bersama Yesus (Kisah Para Rasul 4:13). Sikap dan tingkah laku mereka menandakan bahwa mereka adalah pengikut-Nya yang sejati.

Apakah Anda benar-benar hidup bagi Yesus? Apakah kasih Kristus begitu nyata di dalam hidup Anda sehingga orang-orang yang mengenal Anda dapat menyadari bahwa Anda adalah pengikut Dia yang "tidak dapat dirahasiakan"? (Markus 7:24). Jika memang demikian halnya, maka dunia akan dengan mudah melihat bahwa Anda berada di pihak Allah. Pengaruh Anda tidak dapat dirahasiakan —HGB

6 Juni 2005

Penglihatan yang Mengubah

Nats : Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2Korintus 3:18)
Bacaan : 2Korintus 3:7-18

Dalam salah satu versi mitos kisah Raja Arthur, diceritakan raja muda itu sedang bersembunyi di atas sebuah pohon. Ia merasa gelisah menunggu tunangannya. Setelah jatuh dari pohon, ia merasa harus menjelaskan tentang dirinya kepada sang putri. Jadi, ia menceritakan kembali kisah bagaimana ia secara misterius berhasil menarik sebuah pedang dari sebongkah batu, sehingga ia diangkat menjadi raja.

"Begitulah aku menjadi raja," kata Arthur. "Aku tidak pernah bercita-cita jadi raja. Tapi sekarang aku sudah menjadi raja, dan aku tidak nyaman dengan mahkota yang kupakai—sampai aku jatuh dari pohon dan melihatmu. Mendadak, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa aku menjadi raja. Aku senang menjadi raja. Dan yang paling mengherankan, aku ingin menjadi raja yang terbijak, paling berani, dan paling agung daripada semua raja mana pun." Hanya dengan memandang orang yang dicintainya, karakter dan tujuannya pun berubah.

Saat kita bercermin pada Pribadi yang kita kasihi, yaitu Tuhan Yesus, kita pun berubah. Paulus menulis, "Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18).

Dengan memandang Tuhan di halaman-halaman Kitab Suci, dan dengan berserah kepada Roh Kudus, kita akan menjadi pribadi yang berbeda. Kita ingin semakin menyerupai Dia. Dan hasrat kita yang terbesar adalah untuk menyenangkan-Nya —HDF

21 Juni 2005

Lebih dari yang Terbaik

Nats : Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku (Kolose 1:29)
Bacaan : Kolose 1:19-29

Ketika John bekerja sebagai seorang wiraniaga di perusahaan asuransi terkenal bertahun-tahun silam, ia ingin bekerja secara efektif tanpa mengompromikan integritas kekristenannya. Namun beberapa orang di perusahaannya menganggap dirinya naif. Menurut mereka, seseorang hanya dapat memiliki salah satu, kenyamanan dalam bekerja atau integritas kekristenan. Bukan keduanya.

Namun John tetap memegang teguh komitmennya untuk menjadi teladan yang saleh di dunia bisnis. Meskipun ia berkecimpung di dalam pekerjaan yang mensyaratkan perhitungan akurat, ia memiliki kelemahan ketika harus berhadapan dengan aritmetika sederhana. Ini membuatnya lebih bergantung kepada Kristus dalam segala hal, sehingga kesaksiannya semakin luas.

Akhirnya John menjadi wiraniaga terbaik di perusahaan itu, dan Allah memakainya untuk memenangkan banyak koleganya bagi Kristus. Kemudian, sebagai kepala cabang, John beserta timnya menjadi cabang perusahaan terbesar di seluruh dunia, dan semua itu dilakukan tanpa mengompromikan integritas kristiani.

Apakah Anda tengah berjuang untuk hidup dan bekerja tanpa kompromi di tempat yang sulit? Apakah Anda telah melakukan yang terbaik, tetapi ternyata apa yang Anda lakukan tidak cukup? Kolose 1:29 mengingatkan kita bahwa ketergantungan kepada kuasa Allah yang sangat besar di dalam diri kitalah yang membuat kita menjadi efektif. John, sang pengusaha, menyimpulkan demikian: "Allah membantu saya melakukan yang lebih baik dari yang mampu saya lakukan!"

Dia akan melakukan hal yang sama bagi Anda —JEY

10 Juli 2005

Kita Mengenal Allah?

Nats : Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3)
Bacaan : Yohanes 17:1-5

Penulis Amerika, Mark Twain, terkenal karena kecerdasan dan pesonanya. Dalam suatu perjalanan ke Eropa, ia diundang untuk makan malam dengan seorang kepala negara bagian. Ketika anak perempuannya mengetahui undangan ini, ia berkata, Ayah mengenal semua orang penting yang harus dikenal. Tetapi ayah tidak mengenal Allah. Sedihnya, kata-kata ini benar karena Mark Twain adalah orang tak percaya yang skeptis.

Komentar anak perempuannya itu seharusnya menimbulkan pertanyaan terhadap diri kita sendiri, yaitu apakah kita mengenal Allah. Kita mungkin diberkati dengan persahabatan yang memperkaya hidup, berteman dengan begitu banyak orang penting, namun apakah kita mengenal Allah? Dan apakah pengetahuan kita akan Dia lebih dari sekadar informasi dari orang lain atau spekulasi, hal-hal yang mungkin dapat kita baca di buku?

Yesus ingin agar para murid-Nya memiliki pengenalan yang intim tentang Allah. Dia berdoa, Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (Yohanes 17:3). Pengenalan ini benar-benar bersifat pribadi, dan hanya bisa didapatkan melalui persahabatan yang dalam dan lama. Sebenarnya, pengenalan yang dimaksud dalam bacaan ini dan di tempat lain dalam Kitab Suci digambarkan seperti keintiman suami istri saat mereka menjadi satu (Kejadian 4:1).

Kita dapat memiliki pengenalan itu jika kita meluangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan Allah, membaca firman-Nya, dan membagikan kasih-Nya kepada dunia VCG

23 Agustus 2005

Pembaruan Rohani

Nats : Mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (Efesus 4:24)
Bacaan : Efesus 4:17-24

Saat kami pindah rumah lima tahun yang lalu, kami mendapati bahwa ternyata sang pemilik yang lama telah meninggalkan enam kursi ruang makan bagi kami. Kursi tersebut dilapisi tenunan seni Afrika yang indah, yaitu belang zebra yang artistik. Kami menghargai hadiah yang tidak terduga tersebut. Dan kami kerap menggunakan meja makan itu untuk menjamu tamu.

Ketika baru-baru ini kami pindah lagi, kami merasa bahwa kursi-kursi itu perlu didandani ulang agar sesuai dengan dekorasi kami yang baru. Maka kemudian saya memanggil seorang tukang mebel dan bertanya, Tidakkah sebaiknya kita cukup memasang material baru di atas kain yang sudah ada? Ia menjawab, Tidak, Anda akan merusak bentuk kursi tersebut jika Anda hanya memasang material baru di atas material yang lama.

Seperti itu juga pekerjaan Allah di dalam hidup kita. Dia tidak berminat semata-mata mengubah penampilan rohani kita. Sebaliknya, Dia bermaksud mengganti karakter kita dengan apa yang disebut manusia baru, yang diciptakan menurut rupa Kristus (Efesus 4:24). Daging memiliki kecenderungan untuk menampilkan kegiatan religius, namun itu bukan karya Roh Kudus. Dia akan sepenuhnya mengubah kita dari dalam.

Namun, proses tersebut merupakan sebuah kemitraan kerja (Filipi 2:12,13). Apabila kita setiap hari mengesampingkan perilaku kita yang lama dan setelah itu menggantinya dengan perilaku yang ilahi, maka Allah yang penuh kasih karunia akan bekerja di dalam kita melalui kuasa Roh Kudus.

Allah ingin memperbarui kita HDF

4 September 2005

Mahabesar dan Mahabaik

Nats : Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa .... Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan (Nahum 1:3,7)
Bacaan : Nahum 1:1-8

Ketika kami masih kecil, saya dan kakak laki-laki saya selalu mengucapkan doa seperti berikut ini sebelum makan malam: Allah mahabesar, mahabaik. Marilah kita mengucapkan syukur kepada-Nya atas makanan ini. Selama bertahun-tahun saya mengucapkan doa ini tiada henti-hentinya karena saya tidak tahu akan seperti apa hidup saya nantinya jika hal ini tidak benar yaitu, jika Allah sebenarnya tidak mahakuasa dan tidak baik.

Tanpa kebesaran-Nya yang menjaga keteraturan di alam semesta, semua galaksi akan menjadi tempat sampah bintang-bintang dan planet-planet yang bertabrakan. Dan tanpa kebaikan-Nya yang berkata cukup untuk setiap penguasa jahat, maka bumi akan seperti taman bermain yang dikuasai oleh penggertak besar.

Doa masa kecil yang sederhana itu memuji dua sifat dasar Allah: transenden dan imanen. Transenden berarti bahwa kebesaran-Nya melampaui pemahaman kita. Imanen menggambarkan kedekatan-Nya kepada kita. Kebesaran Allah yang mahakuasa membuat kita tersungkur dalam kerendahan hati. Akan tetapi, kebaikan Allah mengangkat kita kembali dalam puji-pujian kemenangan dan ucapan yang penuh syukur. Dia yang mengatasi segala sesuatu merendahkan diri-Nya dan menjadi bagian dari kita (Mazmur 135:5, Filipi 2:8).

Puji Tuhan karena Dia mempergunakan kebesaran-Nya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan kita. Selain itu, Dia mempergunakan kebaikan-Nya bukan sebagai alasan untuk menolak kita, melainkan untuk meraih kita JAL

6 September 2005

Suami yang Baik

Nats : Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat (Efesus 5:25)
Bacaan : Efesus 5:25-33

Pada masa-masa awal pernikahan mereka, seorang pengkhotbah terkenal bernama W.E. Sangster (19001960) berkata kepada istrinya, Aku tidak dapat menjadi suami sekaligus menjadi pendeta yang baik. Aku ingin menjadi seorang pendeta yang baik.

Sangster banyak diminta untuk menjadi pengkhotbah dan pengajar. Ia pun sering bepergian meninggalkan keluarganya untuk menjadi pembicara. Ketika berada di rumah, ia jarang mengajak istrinya makan malam atau menikmati hiburan malam. Ia pun tidak membantu pekerjaan di rumah. Putranya memerhatikan kegagalan ini, tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada ayahnya, ia menulis, Jika suami yang baik adalah pria yang mengasihi istrinya secara mutlak ... dan mengabdikan diri bagi sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua, maka kebaikan ayah saya sebagai seorang pendeta sebenarnya tidak lebih baik daripada kebaikannya sebagai seorang suami.

Sangster memang setia terhadap istrinya. Akan tetapi, saya percaya ia bisa menjadi suami sekaligus pendeta yang baik seandainya ia lebih memerhatikan kebutuhan sang istri daripada jadwalnya yang padat.

Banyak orang yang memangku jabatan penting memiliki banyak tuntutan, yang terkadang tidak terhindarkan. Tetapi apabila seorang suami kristiani sungguh-sungguh memerhatikan perintah Paulus untuk mengasihi istrinya sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat, tentunya ia akan menemukan jalan untuk memberikan diri bagi istrinya, bahkan untuk perkara-perkara yang kecil. Begitulah cara Kristus, teladan kita, mengasihi jemaat-Nya HVL

8 September 2005

Uluran Tangan

Nats : Siapa yang menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa (Ayub 6:14)
Bacaan : Lukas 5:17-26

Seorang mahasiswi bernama Kelly mengalami cedera patah lengan pada musim pertandingan bola voli pertamanya. Karena cedera ini berarti ia tidak dapat melanjutkan pekerjaan paruh waktunya. Lalu beberapa waktu kemudian, mobilnya mogok. Puncaknya, pemuda yang selama ini berpacaran dengannya tidak lagi menghubunginya. Kelly merasa begitu sedih sehingga ia mulai menghabiskan banyak waktu mengurung diri di kamarnya dan menangis.

Laura, salah seorang teman kristianinya di tim voli, prihatin dengan keadaan Kelly dan memutuskan untuk menolongnya. Lalu ia merencanakan sebuah kegiatan. Ia dan teman-temannya mengumpulkan uang, dan sekelompok pemuda memperbaiki mobil Kelly. Mereka mencarikan pekerjaan sementara bagi Kelly, yang dapat dilakukan dengan menggunakan satu tangan. Mereka pun memberinya tiket menonton pemain basket jagoannya pada saat tim basket tersebut datang ke kota. Tidak lama kemudian, Kelly pun pulih kembali. Ketika ia bertanya mengapa mereka melakukan semua itu baginya, Laura berkesempatan memberitahunya mengenai kasih Yesus.

Kisah Kelly mengingatkan saya tentang seorang pria yang lumpuh dan disembuhkan oleh Yesus. Kawan orang itu cukup peduli kepadanya sehingga ia membawanya kepada Sang Juru Selamat (Lukas 5:17-26).

Adakah teman Anda yang memerlukan bantuan? Pikirkanlah cara untuk dapat menolongnya. Tunjukkanlah kasih Kristus, lalu ceritakanlah Injil. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi manakala Anda mengulurkan tangan DCE

13 September 2005

Berjalan Dalam Debu-Nya

Nats : Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya ... lalu mengikuti Dia (Markus 1:20)
Bacaan : Markus 1:16-20

Pada abad pertama, seorang Yahudi yang ingin menjadi murid seorang rabi (guru) harus meninggalkan keluarga dan pekerjaannya untuk mengikuti sang rabi. Mereka akan menjalani hidup bersama selama 24 jam setiap hari. Mereka akan berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengajar dan belajar, serta bekerja. Mereka berdiskusi dan menghafalkan Kitab Suci serta menerapkannya dalam hidup mereka.

Panggilan menjadi seorang murid, seperti yang dijelaskan dalam berbagai tulisan Yahudi pada zaman mula-mula mengenai etika dasar, adalah menyelubungi dirinya dalam debu kaki [sang rabi], meneguk setiap perkataannya. Ia mengikuti rabinya dengan begitu dekat sehingga ia akan berjalan dalam debunya. Dengan melakukan hal itu, ia akan menyerupai sang rabi, gurunya.

Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes mengetahui bahwa ini merupakan tipe hubungan yang diinginkan oleh Yesus ketika Dia memanggil mereka (Markus 1:16-20). Jadi, mereka pun segera meninggalkan pekerjaan mereka dan mengikuti Dia (ayat 20). Selama rentang waktu tiga tahun mereka bergaul karib dengan-Nya. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan berbagai mukjizat-Nya, mempelajari berbagai prinsip-Nya, dan berjalan dalam debu-Nya.

Sebagai pengikut Yesus yang hidup pada zaman ini, kita pun dapat berjalan dalam debu-Nya. Dengan meluangkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman-Nya serta menerapkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, kita akan menjadi seperti rabi kitaYesus AMC

15 September 2005

Berjuanglah!

Nats : Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal (1Timotius 6:12)
Bacaan : 1Timotius 6:6-19

Setelah hidup lebih dari 80 tahun, saya tahu bahwa segala pernyataan yang menawarkan cara melangsingkan tubuh tanpa usaha adalah omong kosong belaka. Demikian pula dengan segala judul khotbah yang menjanjikan kepada kita cara mudah untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Penulis Brennan Manning bercerita tentang seorang pecandu alkohol yang meminta pendetanya untuk mendoakannya agar ia terlepas dari masalah kecanduan. Ia mengira ini adalah cara yang cepat dan mudah untuk mengatasi ketergantungannya. Sang pendeta, yang mengetahui motivasinya untuk minta didoakan menjawab, Saya punya ide yang lebih baik. Pergilah ke Alcoholics Anonymous [grup penolong pecandu alkohol]. Ia menyarankan orang itu untuk mengikuti program yang ada dengan tekun serta membaca Alkitab setiap hari. Dengan kata lain, kata sang pendeta mengakhiri ucap-annya, berjuanglah.

Berjuanglah. Itulah yang dikatakan oleh Paulus kepada Timotius, ketika ia memberi tahu betapa ia harus menata hidupnya supaya dapat mengajar orang percaya bagaimana mereka harus hidup. Coba Anda perhatikan kata kerjanya, Kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertadingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal (1Timotius 6:11,12).

Tidak ada cara yang mudah untuk membebaskan diri dari kecanduan alkohol, demikian pula tidak ada jalan tanpa usaha untuk menjadi serupa dengan Kristus. Apabila kita sungguh-sungguh ingin menjadi serupa dengan Yesus, kita pun harus terus berjuang HVL

23 Oktober 2005

Daftar Pekerjaan Allah

Nats : Masyhurkanlah, bahwa nama (Allah) tinggi luhur (Yesaya 12:4)
Bacaan : 1Petrus 2:9-17

Allah memiliki daftar pekerjaan, yang, menurut Max Lucado dalam bukunya It’s Not About Me, terdiri dari satu hal: “Menyatakan kemuliaan-Ku.”

Tuhan menyatakan diri-Nya dan kemuliaan-Nya melalui ciptaan. Tetapi Dia juga melakukannya dalam berbagai cara melalui umat-Nya. Dalam 1 Petrus, kita melihat bahwa Allah telah menjadikan kita “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Setiap kali kita menyampaikan kepada orang lain bahwa Dia telah memanggil kita “keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” dan me-nunjukkan kepada kita belas kasihan (2:9,10), Dia menerima kemuliaan yang hanya layak diberikan bagi Dia.

Melalui cobaan-cobaan yang kita hadapi, Yesus menerima pujian, hormat, kemuliaan, karena iman kita “diuji kemurniannya dengan api” (1:6,7). Orang menyaksikan kita, dan ketika melihat kita bertahan terhadap pencobaan, mereka akan “memuliakan Allah” (2:12).

Kita juga mengarahkan orang lain kepada-Nya ketika kita menaati hukum dan pemegang kekuasaan “karena Allah” (2:13). Dan jika kita menggunakan talenta serta kemampuan yang telah dikaruniakan Allah untuk melayani orang lain, Dia “dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya” (4:11).

Tuhan berfirman, “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain” (Yesaya 42:8). Jika prioritas pertama Allah adalah menyatakan kemuliaan-Nya, hak istimewa dan tanggung jawab kita sebagai umat-Nya adalah mencerminkan kemuliaan tersebut -AMC

24 Oktober 2005

Siapakah Allah Itu?

Nats : Firman Allah kepada Musa: “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14)
Bacaan : Keluaran 3:13-22

Tiga ribu lima ratus tahun yang lalu, Musa bertanya kepada Allah siapakah diri-Nya dan ia menerima jawaban yang aneh. Allah berfirman, “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: ‘Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu.’ … Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya” (Keluaran 3:14,15).

Sudah lama saya bertanya-tanya mengapa Allah menyebut diri-Nya dengan nama demikian, tetapi perlahan-lahan saya memahami maksudnya. Sebuah kalimat hanya memerlukan dua hal supaya lengkap, yaitu sebuah subjek dan sebuah kata kerja. Jadi, ketika Allah mengatakan nama-Nya “Akulah Aku,” hal ini mengandung konsep bahwa Dia lengkap dalam diri-Nya. Dia adalah subjek sekaligus kata kerja. Dia dapat memenuhi segala yang kita butuhkan.

Jawaban Allah yang mendasar terhadap pertanyaan Musa, “Siapakah Engkau?” akhirnya menjadi sosok yang nyata dalam diri Yesus. Yesus meninggalkan surga untuk menunjukkan kepada kita apa artinya menyandang nama Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Dia juga mengatakan, “Akulah roti hidup” (6:48), “terang dunia” (8:12), “gembala yang baik” (10:11), dan “kebangkitan dan hidup” (11:25). Dalam Wahyu, Yesus menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (22:13). Dan Dia mengatakan, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yohanes 8:58).

Jika Anda mempertanyakan siapakah Allah itu, luangkan waktu sejenak untuk mengenal Yesus lewat halaman-halaman firman-Nya -JAL

6 November 2005

Sesama-sesama Baru

Nats : “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Lukas 10:29)
Bacaan : Lukas 10:29-37

Pada tanggal 26 Desember 2004, banyak orang tiba-tiba menjadi sesama baru kita. Mereka hanya memiliki kehidupan yang hancur setelah tsunami dahsyat menyapu 12 negara Asia, menewaskan puluhan ribu sahabat, kerabat, dan teman sebangsa mereka. Jutaan orang yang selamat mengalami kekurangan. Namun, bagaimana mereka bisa menjadi sesama kita?

Menurut perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10, sesama adalah orang yang menunjukkan belas kasihan kepada orang yang memerlukan. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ayat 29). Yesus bercerita kepadanya tentang orang yang sedang bepergian dan terluka karena diserang kawanan penyamun. Imam dan orang Lewi tidak memedulikannya. Tetapi ia lalu ditolong orang Samaria. Kemudian Dia bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Ahli Taurat itu menjawab dengan tepat, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (ayat 36,37).

Orang-orang kekurangan yang kita jumpai adalah sesama baru kita, dan kita harus menjadi sesama yang membantu mereka. Kita sering berpikir bahwa sesama kita adalah orang yang terhubung dengan kita secara geografis. Tetapi Yesus menyatakan kita harus menganggap siapa pun yang kekurangan sebagai sesama, siapa pun mereka dan di mana mereka tinggal.

Lihat sekitar Anda. Ada orang yang memerlukan bantuan, belas kasih, dan kasih Anda. Merekalah sesama baru Anda -JDB

13 November 2005

Diselaraskan

Nats : Dan ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh, “Ada tiga orang mencari engkau (Kisah Para Rasul 10:19)
Bacaan : Kisah 10:1-23

Allah berbicara kepada kita terutama melalui firman-Nya, Alkitab. Tetapi, terkadang, Dia mengarahkan kita ke jalan-jalan yang tidak kita bayangkan.

Gary Dougherty, seorang rekan kerja di RBC Ministries, sedang berjalan pulang dari gereja pada suatu petang ketika ia melihat seorang pemuda berjalan dari arah yang berlawanan. Tiba-tiba di dalam diri Gary muncul hasrat yang kuat untuk berbicara dengannya tentang menjadi orang kristiani. Awalnya ia ragu, tetapi kemudian ia berkata kepada orang yang sama sekali tak dikenalnya ini, “Permisi, saya percaya Allah ingin agar saya memberi tahu Anda tentang bagaimana menjadi orang kristiani.”

“Saya baru saja menanyakan hal itu kepada ibu pacar saya,” katanya, “tetapi ia tidak tahu caranya.” “Maksud Anda, Anda ingin menjadi orang kristiani?” tanya Gary. “Ya!” jawabnya. Karena masih tak percaya, Gary bertanya kepadanya lagi, kemudian membagikan rencana keselamatan kepadanya. Malam itu, seorang pemuda memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat.

Sebagian orang mungkin menyebut ini kebetulan. Tetapi hal ini memiliki kesamaan alkitabiah dengan Kisah Para Rasul 10, yaitu tentang Kornelius dan Petrus, dua orang yang berhubungan dengan Roh Allah.

Tidak semua orang percaya memiliki pengalaman-pengalaman dramatis seperti itu. Tetapi jika firman Allah, doa, dan ketaatan merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari, kita akan diselaraskan dengan pimpinan Roh dan kita akan siap untuk menyatakan kasih Allah kepada orang lain -DJD

7 Januari 2006

Rela Berbagi

Nats : Menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi (1Timotius 6:18)
Bacaan : 1Timotius 6:6-10,18

Para pengikut Yesus haruslah "kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi" (1Timotius 6:18). Sikap seperti ini tampak tidak lama setelah bencana tsunami terjadi dan melanda wilayah Asia Tenggara. Melihat kejadian itu, orang-orang kristiani segera mengirimkan uang, barang, dan tenaga kerja untuk meringankan penderitaan. Bantuan tersebut telah berlanjut.

Orang-orang percaya juga menunjukkan kemurahan hati seperti ini di dalam komunitas lokal mereka. Suatu kali, ada sebuah keluarga yang kehilangan rumah dan harta akibat kebakaran. Tidak lama kemudian datanglah bantuan melimpah yang berupa uang, makanan, pakaian, tempat tinggal sementara dari saudara-saudara seiman di daerah itu untuk menolong mereka melalui krisis tersebut.

Suatu kali, ketika ada seorang suami meninggalkan istri dan ketiga anaknya setelah menguras tabungan mereka dan meninggalkan tagihan yang sangat besar, orang-orang dari gereja sang istri segera melibatkan diri lewat dukungan rohani, emosional, dan keuangan yang mereka butuhkan. Selain itu, beberapa wanita dari gereja tersebut dengan setia memberikan dukungan berupa doa dan penghiburan.

Orang-orang percaya ini telah mengikuti rancangan Allah bagi kehidupan kristiani. Ada kebutuhan-kebutuhan di sekitar Anda, dan Anda dapat turut mengambil bagian yang penting untuk memenuhinya.

Apakah Anda "kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi"? -DCE

21 Januari 2006

Dunia Luar

Nats : Kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis, dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan (Matius 23:23)
Bacaan : Matius 23:13-23

Iman pribadi di dalam Kristus itu disertai dengan melakukan tanggung jawab sosial. Jika kita percaya bahwa Dia memerintah sebagai Tuhan atas sejarah, sama seperti Tuhan atas hidup kita masing-masing, kita jangan semata-mata berpusat pada "dunia di dalam" dan melupakan "dunia luar". Membatasi kedaulatan-Nya hanya pada pergumulan-pergumulan pribadi kita berarti merendahkan diri-Nya. Apakah yang kita nyatakan secara tidak langsung mengenai Sang Juru Selamat jika kita mencari kehendak Allah tentang pindah ke kota lain atau menikahi seseorang, namun tidak pernah mencari apa yang Dia pikirkan tentang kesulitan para tunawisma, hak-hak janin yang belum dilahirkan, atau persamaan ras?

Memelihara kehidupan batiniah, betapa pun pentingnya, terlalu sempit dan dangkal tanpa bergumul dengan masalah-masalah sosial. Kita harus memikirkan tanggapan yang diinginkan Kristus terhadap berbagai situasi tidak adil dalam masyarakat kita dan dunia secara umum.

Di sisi lain, menekankan keprihatinan sosial tanpa menekankan pengabdian kepada Tuhan itu sama seperti menari di atas satu kaki. Jika kita memiliki komitmen kuat terhadap suatu tujuan namun tidak berkomitmen kuat terhadap Kristus, kita menukar kuasa Allah dengan kuasa politik.

Orang-orang fasik menolak mengakui ketuhanan Kristus dalam berbagai keputusan mereka. Namun, alasan apakah yang dapat kita berikan sebagai orang-orang kristiani saat kita lupa bahwa pemerintahan-Nya atas "dunia di dalam" juga mencakup "dunia luar"? --HWR

11 Februari 2006

Kecantikan Batin

Nats : Kita telah melihat kemuliaan-Nya (Yohanes 1:14)
Bacaan : Yohanes 1:9-14

Kemah Suci yang terletak di tengah padang gurun adalah sebuah kemah tempat kemuliaan Allah berada. Kemah itu terbuat dari kulit binatang berwarna kelabu. Bagian luarnya tidak menarik, tetapi bagian dalamnya sangat indah (Keluaran 25-27).

Kita dapat membandingkan Kemah Suci itu dengan rupa Yesus sebagai manusia. Yohanes berkata, "Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita" (Yohanes 1:14). Kata tinggal berarti Dia "memasang kemah-Nya dengan kita". Itu adalah kata yang juga digunakan pada versi Yunani kuno dari Kitab Perjanjian Lama untuk Kemah Suci.

Yesus menyerupai manusia biasa: Dia "rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya" (Yesaya 53:2). Tak seorang pun ingin memandang-Nya lagi. Namun Yohanes "melihat kemuliaan-Nya", yaitu kemuliaan Allah sendiri. Kadang-kadang, penutup tenda itu tersibak dan ia dapat melihat sekilas keindahan dan keagungan Yesus.

Kita juga adalah Kemah Suci, terbuat dari kulit, dibuat untuk menjadi tempat Roh Allah. Kebanyakan dari kita memiliki raut wajah biasa-biasa saja, tidak seperti para aktor yang didandani dalam film-film atau para model yang wajahnya dipoles dalam iklan. Namun Allah, sekarang-pada saat ini sedang memproses kita agar bagian dalam diri kita terpancar dengan indah.

Bagian luar kita mungkin tidak menarik dan biasa-biasa saja. Namun, selama kita mengizinkan Roh Allah bekerja di dalam diri kita, keindahan akan hadirat Allah yang tinggal di dalam diri kita itu akan terpancar dari wajah kita.

Jadi, apakah dunia melihat Yesus di dalam diri Anda? --DHR

18 Februari 2006

Dari Dalam ke Luar

Nats : Kata-Nya lagi, "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya" (Markus 7:20)
Bacaan : Efesus 4:25-32

Ketika sedang menyampaikan khotbah, misionaris Hudson Taylor mengisi sebuah gelas dengan air dan meletakkannya di atas meja di depannya. Sewaktu berbicara, ia memukulkan tinjunya cukup keras sehingga air terpercik ke meja. Lalu ia menjelaskan, "Anda akan menghadapi masalah besar. Tetapi apabila Anda mengalaminya, ingatlah, hanya apa yang ada di dalam diri Andalah yang akan tercurah keluar."

Hal itu layak untuk dipikirkan, bukan? Ketika kita diperlakukan tidak baik atau disalah mengerti, bagaimana tanggapan kita? Apakah kita menanggapinya dengan perkataan yang menyenangkan, kesabaran, dan kebaikan? Atau kita cenderung membalas dengan marah?

Dalam Efesus 4:25-32, kita melihat perbedaan antara bagaimana seseorang sebelum diselamatkan dan sesudah diselamatkan. Apabila kita hidup di bawah kendali Roh Kudus, hal itu akan terlihat pada cara kita bereaksi terhadap guncangan pencobaan dan godaan dalam hidup. Bagaimana kita menanggapi pencobaan, situasi yang memalukan yang tiba-tiba melanda kita adalah sebuah ujian yang baik mengenai seberapa banyak kita telah bertumbuh dalam kasih karunia.

Menekan rasa frustrasi dan amarah, serta tampil tenang di hadapan orang-orang di sekitar kita bukan hal yang mustahil dilakukan. Namun, jika hati kita dipenuhi kasih Sang Juru Selamat, kita akan menanggapi guncangan pencobaan yang tak terduga dengan kesabaran dan kebaikan hati yang murni. Seperti sebuah gelas yang penuh dengan air, apa yang ada di dalam diri kitalah yang akan tumpah keluar --RWD

23 April 2006

Mahakarya dari Kain Kotor

Nats : Hai anak-anak-Ku ... aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu (Galatia 4:19)
Bacaan : Galatia 4:13-20

Suatu kali seorang seniman mendapat tuduhan palsu dan dijebloskan ke dalam penjara. Meskipun diizinkan untuk membawa kuas dan cat lukisnya, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan kanvas.

Pada suatu hari di tengah keputusasaan, ia kemudian meminta kepada seorang sipir sesuatu yang dapat dipakainya untuk melukis. Dengan acuh tak acuh, sipir itu membawakan sehelai sapu tangan tua yang kotor dan melemparkannya kepada sang seniman seraya berkata, "Coba, apa yang dapat kamu kerjakan dengan kain kotor itu!"

Seniman yang juga seorang kristiani itu kemudian melukiskan pemahamannya tentang wajah Yesus. Setelah melukis cukup lama dan dengan tekun, ia berpikir akan menunjukkan hasil karyanya pertama kali kepada sipir yang memberinya kain kotor sebagai kanvasnya. Ketika sang sipir melihat lukisan yang indah itu, hatinya tergerak, dan air matanya berlinang-linang. Di kemudian hari lukisan itu menjadi terkenal.

Jika seseorang dapat mengubah sehelai kain tua yang kotor menjadi berkilau dengan keindahan yang membuat seorang sipir penjara yang acuh tak acuh dan tak peduli itu menangis, coba pikirkan apa yang dapat dikerjakan oleh Sang Seniman Agung terhadap kehidupan kita apabila kita mengizinkan Dia memenuhi kehendakNya dalam diri kita.

Di dalam keadaan yang berdosa, kita ini hanyalah "kain-kain kotor" tua, yang tidak memiliki keindahan rohani. Namun, kuasa Roh Kudus Allah dapat mengubah kita menjadi sebuah mahakarya anugerah ilahi! --HGB

10 Mei 2006

Keagungan Kesalehan

Nats : Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun (Kejadian 47:10)
Bacaan : Kejadian 47:7-12

Dalam pandangan sebagian besar orang, Esau, saudara Yakub, adalah orang yang lebih hebat di antara kedua saudara kembar tersebut. Selama bertahun-tahun ia telah mengumpulkan kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa. Ia adalah penguasa di tanah Edom dan dapat bertemu Firaun dengan mudah. Namun Esau, dengan segala kekuasaan duniawinya, tidak dapat memberkati Firaun. Hanya Yakub yang dapat melakukannya (Kejadian 47:10).

Kekuatan rohani lebih besar dibandingkan kekuatan jasmani. Allah dapat mengaruniakan kepada seorang insan sederhana kekuatan moral yang dahsyat. Di dalam kesucian sendiri terdapat kuasa yang sanggup mengatasi segala kuasa lainnya.

Kata Yunani untuk kuasa atau otoritas (exousia) berawalan ex, yang berarti "keluar dari" atau "dari". Hal ini menyatakan bahwa kemampuan untuk memengaruhi orang lain keluar dari dalam diri kita. Kemampuan itu berakar dalam siapa diri kita. "Apakah Anda ingin menjadi pribadi yang agung?" tanya Agustinus. "Jika ya, mulailah menjadi pribadi yang agung." Keagungan berasal dari kesucian, tidak lebih.

Saya mempunyai teman yang dapat memasuki ruang-ruang penting di Washington, DC, dan bertemu dengan orang-orang yang paling berkuasa di dunia. Ia hanya berbicara sepatah dua patah kata, kemudian pergi, tetapi ia meninggalkan pengaruh Kristus yang berkesan dan mendalam di hati mereka. Ia mempunyai aura agung yang meliputi semua orang yang hidupnya mencerminkan sifat Yesus. Inilah keagungan dari kesalehan --DHR

11 Mei 2006

Biografi Anda

Nats : Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2Timotius 4:7)
Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Ketika D.L. Moody mulai beranjak tua, seseorang meminta izin untuk menuliskan biografinya. Namun, Moody menolak dan berkata, "Hidup seseorang tidak boleh ditulis selagi ia masih hidup. Karena yang terpenting ialah bagaimana ia mengakhiri perjalanannya, bukan bagaimana ia memulainya."

Apa pun yang terjadi, ternyata saya gagal mengikuti petuah itu. Biografi saya telah diterbitkan. Meskipun demikian saya sepakat dengan Moody bahwa bagaimana seseorang menjalani akhir hidupnya, merupakan ujian penting bagi seorang murid sejati. Yang perlu terus kita lakukan adalah menjaga hubungan yang dekat dengan Sang Juru Selamat. Dengan demikian kita dapat yakin bahwa kita tidak saja akan masuk surga, tetapi juga memperoleh mahkota kemenangan (1Korintus 9:25).

Paulus sangat serius memikirkan tentang kemungkinan ia ditolak oleh Tuhannya (ayat 27). Ia adalah seorang beriman yang telah ditebus dan melayani Tuhan, tetapi ia sempat takut bahwa setelah diuji pelayanannya ternyata tidak lebih seperti kayu, rumput kering, atau jerami; dan bukan emas, perak, atau batu permata (1Korintus 3:12,13).

Bagaimanakah kira-kira penilaian yang akan Tuhan berikan atas hidup kita? Bila ada seseorang yang mencoba mengevaluasi kita, dapatkah ia mengatakan dengan jujur bahwa kita tetap berbuah, bahkan pada masa tua? (Mazmur 92:15). Apa pun panggilan hidup yang kita kejar, dengan pertolongan Roh Kudus kita akan tetap teguh, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan Tuhan (1Korintus 15:58) --VCG

29 Mei 2006

Kenangan yang Diberkati

Nats : Apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia (Matius 26:13)
Bacaan : Matius 26:6-13

Beberapa nama tertentu dari masa lalu dapat memancing beraneka ragam tanggapan. Dengan menyebut nama Hitler, misalnya, dapat menimbulkan perasaan jijik dalam hati kita. Sebaliknya, seorang tokoh sejarah besar seperti Churchill menimbulkan tanggapan yang positif. Bahkan dalam lingkungan kenalan kita, kita akan mengingat beberapa orang dengan perasaan syukur. Dan kita secara negatif mengingat orang lain yang hidupnya dilewatkan dengan mengejar hal-hal bagi kepentingan diri sendiri.

Pada Hari Pahlawan, kita merenung sejenak untuk menghormati orang-orang dari generasi sebelum kita. Ketika berbagai kenangan akan mereka muncul kembali, kita menyadari bahwa suatu saat kita masing-masing juga akan menjadi kenangan belaka. Apa yang akan dikenang oleh orang lain tentang perkataan dan perbuatan kita apabila mereka mengingat kita?

Suatu kali saya membaca tentang James Lewis Pettigru. Hidupnya begitu patut diteladani, sehingga setelah ia meninggal masyarakat mendirikan tugu peringatan yang bertuliskan kata-kata ini untuk menghormatinya:

Tidak terpesona oleh opini, tidak terbujuk oleh rayuan,
tidak cemas oleh bencana, ia menghadapi hidup dengan berani,
dan kematian dengan harapan kristiani.

Apakah yang akan dikenang orang tentang Anda? Dengan anugerah Allah milikilah ketetapan hati untuk hidup bagi-Nya dan berikanlah diri Anda sendiri bagi kebutuhan orang lain. Dengan demikian, kesaksian Anda akan menjadi berkat dan inspirasi bagi semua orang yang mengikuti langkah Anda --RWD

7 Juni 2006

Keindahan Setiap Hari

Nats : Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (Kisah Para Rasul 6:15)
Bacaan : Kisah Para Rasul 6:9-15

Saat Anda melihat ke dalam cermin, apakah yang Anda lihat? Pantulan wajah yang manis? Wajah yang tampan? Ataukah penampilan yang datar dan tidak menarik?

Kita ingin memberi berkat keindahan kepada orang yang melihat kita. Namun, bagaimana dengan keindahan yang muncul dari kekudusan? Apakah orang lain diberkati dengan keindahan Kristus yang mengalir melalui diri kita?

Seorang ahli Alkitab abad ke-19 yang terkenal, J.B. Lightfoot, digambarkan oleh salah seorang muridnya yang setia sebagai orang yang "sangat buruk rupa: seorang pria yang kecil dan gemuk dengan figur yang tak berbentuk serta bermata juling". Akan tetapi, murid yang sama itu juga berkata bahwa Lightfoot adalah "orang terbaik yang pernah saya jumpai, dan saya mengatakan hal ini dengan hati-hati setelah memiliki pengalaman bersamanya selama bertahun-tahun. Dalam sehari atau dua hari ... wajahnya akan tampak sebagai wajah paling indah dan manis yang dapat dibayangkan".

Saat Stefanus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi untuk diinterogasi, "mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara" (Kisah Para Rasul 6:10). Saat ia dihakimi, mereka "melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat" (ayat 15).

Dengan kasih karunia Allah yang membawa perubahan, kita pun dapat memiliki keindahan setiap hari di dalam hidup kita. Apabila kita menjalani hidup dengan penuh doa di dalam Roh Kudus, wajah kita akan semakin menampakkan keindahan Yesus --VCG

19 Juni 2006

Mentalitas Keledai

Nats : Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda (Matius 21:5)
Bacaan : Matius 21:1-11

Seorang pendeta berkhotbah tentang Kristus yang memasuki kota Yerusalem dengan penuh kemenangan. Ia lalu bertanya, "Bagaimana jika seandainya keledai yang dinaiki Yesus berpikir bahwa semua sorak-sorai itu ditujukan untuk dirinya? Bagaimana jika seandainya hewan kecil itu yakin bahwa seruan hosana dan ranting-ranting itu ditujukan untuk menghormati dia?"

Sang pendeta lalu menunjuk kepada dirinya sendiri dan berkata, "Saya adalah seekor keledai. Semakin lama saya berdiri di sini, maka Anda akan semakin menyadarinya. Saya hanyalah seorang pembawa Kristus, bukan pribadi yang menjadi pusat pujian."

Pada saat menulis tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, Matius mengacu kepada nubuatan Zakharia: "Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Matius 21:5; lihat Zakharia 9:9).

Pada Minggu Palem, sang keledai hanyalah pembawa Kristus, yang membawa Putra Allah ke dalam kota. Di sana Dia akan memberikan nyawa-Nya bagi dosa dunia.

Apabila kita dapat mengembangkan "mentalitas keledai" yang sehat, maka kita akan memiliki aset yang luar biasa untuk menjalani hidup ini. Dengan mental seperti itu, kita tidak akan memikirkan hal yang dipikirkan orang lain tentang diri kita, tetapi kita justru akan bertanya, "Dapatkah mereka melihat Kristus Yesus, Sang Raja?" Kita tidak akan mengharapkan pujian atas pelayanan yang kita lakukan. Namun, sebaliknya kita akan puas bila dapat meninggikan Tuhan --DCM

18 Juli 2006

Saat Berbelas Kasih

Nats : Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34)
Bacaan : Lukas 23:26-34

Pada tahun 2002 saya berada di Jakarta, Indonesia. Saat itu saya menjadi pengajar selama dua malam dalam suatu konferensi Alkitab. Malam pertama, saya berangkat lebih awal ke gereja yang menjadi penyelenggara acara, dan sang pendeta mengajak saya untuk berkeliling gedung. Keindahan gereja itu mengesankan saya.

Kemudian sang pendeta mengajak saya ke ruangan yang besar di tempat yang lebih rendah. Di bagian depan terdapat mimbar dan meja Perjamuan Kudus. Di belakangnya tampaklah dinding beton sederhana dengan salib kayu menempel di dinding. Di bawahnya tertera tulisan berbahasa Indonesia. Saya menanyakan apa bunyi tulisan itu, dan saya terkejut saat ia mengutip perkataan Kristus yang dilontarkan-Nya dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

Saya menanyakan apakah ada alasan khusus sehingga tulisan itu tertulis di situ. Ia lalu menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya di kota ini pernah terjadi kerusuhan hebat, dan 21 gereja dibakar habis dalam satu hari. Dinding beton itu merupakan satu-satunya yang tersisa -- dari gereja pertama yang dibakar.

Dinding dan ayat tersebut mengingatkan mereka pada belas kasih yang ditunjukkan Kristus di atas kayu salib, dan hal itu menjadi pesan gereja bagi kota mereka. Balas dendam dan kepahitan bukanlah respons yang menyembuhkan kebencian dan kemarahan dunia yang terhilang ini. Akan tetapi, belas kasih Kristus dapat menjadi respons yang memulihkan, seperti halnya yang terjadi 2.000 tahun silam --WEC

1 Agustus 2006

Banyak Menerima

Nats : Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya (Lukas 12:48)
Bacaan : Lukas 12:41-48

Jeff, seorang pemuda berusia 20 tahun di komunitas kami, telah mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang seharusnya ia terima. Ia pernah menjatuhkan batu dengan sengaja dari atas jembatan layang sehingga jatuh mengenai kaca depan mobil yang sedang dikendarai Vickie Prantle. Batu itu menyobek wajah Vickie, membuat mata kanannya keluar, merusak gigi-giginya, sehingga wanita itu perlu menjalani serangkaian panjang pembedahan yang menyakitkan.

Jeff mengira Vickie dendam padanya. Akan tetapi, bahkan ketika ia menunggu kedatangan paramedis, Vickie berdoa agar Tuhan mengampuni pelaku kejahatan itu.

Lalu, wanita itu meminta kepada hakim untuk memberikan kesempatan kedua kepada Jeff, dan pemuda ini divonis untuk mengikuti program rehabilitasi anak nakal selama 90 hari. "Ia memberi hadiah kepada saya," kata Jeff, "dan saya akan memanfaatkan pemberian itu sebaik-baiknya. Saya sangat bersyukur bahwa ia seorang kristiani. Kalau tidak, saya pasti masih mendekam di penjara."

Bila kemudian pemuda bermasalah itu beriman kepada Yesus Kristus, ia akan sangat berterima kasih kepada Vickie atas hadiah yang diterimanya. Namun jika tidak, kesalahannya akan bertambah pada hari penghakiman terakhir. Yesus berkata, "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya" (Lukas 12:48). Jeff telah diberi banyak. Demikian juga Anda dan saya. Kita yang telah mengenal Kristus sudah menerima sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu keselamatan dan pengampunan dari Yesus.

Apa yang akan Anda lakukan dengan hadiah kasih karunia-Nya? -HVL

14 Agustus 2006

Potensi Kuntum Mawar

Nats : Ia menetapkan dua belas orang, yang juga disebut-Nya rasul-rasul, untuk menyertai Dia (Markus 3:14)
Bacaan : Markus 3:13-19

Saya dan istri saya suka bunga mawar mini. Baru-baru ini kami menanam beberapa semak mawar, tetapi ada satu yang tidak bertahan hidup. Kami mengembalikannya ke penjual tanaman dan meminta ganti. Waktu itu pertengahan musim panas dan tanaman bunga mawar mini terbatas jumlahnya.

Saya melihat ke sebuah tanaman yang rasanya berpotensi menghasilkan banyak bunga apabila sudah berkembang. Namun, tanaman mawar itu sendiri tampak agak jelek. Istri saya lalu memberi saran yang baik. "Jangan melihat pada bunga-bunga yang sudah mekar. Lihatlah pada banyaknya kuntum mawar sehat yang mulai menyembul keluar."

Dengan mengikuti nasihatnya, kami pun memilih tanaman itu, membawanya pulang, menanamnya, dan merawat tanaman dengan kuntum mawar terbanyak itu. Dalam seminggu, mawar-mawar itu telah bermekaran dengan sangat indah!

Ketika Tuhan memilih para murid-Nya, Dia memilih orang-orang yang tak sempurna (Markus 3:13-19). Yang satu berlatar belakang praktik bisnis yang tidak jujur, yang lain berperangai keras. Yesus tak memandang ketidaksempurnaan mereka, tetapi potensi mereka.

Yesus menggunakan pendekatan yang sama dengan kita. Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia memilih kita meskipun memiliki kekurangan (2Tesalonika 2:13). Melalui karya Roh Kudus dalam hidup kita, Dia memelihara dan mengubah kita menjadi serupa dengan gambar-Nya yang mulia (2Korintus 3:18). Lain kali apabila Anda sedang bersama keluarga, sahabat, dan mitra kerja Anda, janganlah terfokus pada kekurangan-kekurangan mereka. Sebaliknya, pandanglah potensi "kuntum-kuntum mawar" itu -HDF

24 Agustus 2006

Diingat Orang

Nats : Mereka semua . . . telah diberi kesaksian yang baik tentang mereka karena iman (Ibrani 11:39)
Bacaan : Ibrani 11:32-40

Setelah Amerika Selatan kalah dalam Perang Saudara di Amerika, John Wilkes Booth ingin dikenang sebagai orang yang membalas dendam kepada Amerika Utara. Beberapa orang terpelajar berpikir karena ia seorang aktor, maka rencana Booth untuk membunuh Presiden Lincoln, di dalam benaknya, merupakan "pertunjukan" terbaiknya.

Ironisnya, John Wilkes Booth disebut sebagai penjahat di dalam sejarah. Ia diingat sebagai orang yang telah membunuh Lincoln yang tidak bersenjata dengan tembakan di belakang kepala. Sebaliknya, Abraham Lincoln diingat sebagai seorang presiden yang memelihara Persatuan, membebaskan budak, dan "tidak mungkin dengki kepada seorang pun tetapi menyatakan kemurahan hati kepada semua orang" (Pidato Pengukuhan yang Kedua).

Semua orang berdosa yang sudah ditebus di Ibrani 11, diingat oleh satu kebaikan yang sama: "Mereka semua . . . telah diberi kesaksian yang baik tentang mereka karena iman" (ayat 39). Lama setelah kematian mereka, catatan mengenai kehidupan iman dan ketaatan mereka tetap mengilhami kita hari ini.

Sedikit di antara kita yang akan tercatat dalam buku sejarah setelah kita meninggalkan dunia ini. Namun, kita semua akan meninggalkan kenangan bagi keluarga dan teman-teman kita. Orang-orang terdekat kitalah yang memerhatikan tanggapan kita kepada Allah melalui saat-saat pencobaan dan berkat.

Apakah Anda hidup dalam iman dan ketaatan kepada-Nya? Warisan apa yang akan Anda tinggalkan dari kehidupan Anda? -HDF

20 September 2006

Mengubah Derita Menjadi Pujian

Nats : Sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami (2Korintus 1:7)
Bacaan : 2Korintus 1:7-11

Setelah melalui tahun-tahun pelayanan yang menakjubkan dan menghasilkan buah di India, Amy Carmichael menderita sakit dan tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Sebagai pendiri Dohnavur Fellowship (Persekutuan Dohnavur) yang penuh semangat dan berhati dinamis, ia menjadi alat untuk menyelamatkan ratusan anak lelaki dan perempuan dari kesengsaraan akibat perbudakan seks.

Ketika melakukan langkah penyela-matan untuk membawa kaum muda menuju kemerdekaan rohani melalui Yesus Kristus, ia menulis banyak buku dan puisi yang sampai saat kini masih menjadi berkat bagi para pembacanya di seluruh dunia.

Kemudian penyakit radang sendi menggerogoti tubuhnya sehingga ia menjadi cacat. Apakah ia mengeluhkan penderitaannya atau meragukan Allah? Tidak. Army masih tetap menjadi inspirasi dan tetap membimbing Dohnavur. Ia pun masih terus menulis. Renungan, surat-surat, serta puisi yang ditulisnya penuh dengan pujian kepada Allah dan semangat bagi rekan peziarahnya.

Pada saat penderitaan melanda kita, bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan merasa sakit hati, ataukah tetap percaya pada kasih karunia Allah yang selalu menopang kita? (2Korintus 12:9). Apakah kita berdoa dengan khusyuk untuk memberi semangat kepada orang-orang di sekitar kita dengan pertolongan Roh Kudus yang memampukan kita untuk gembira, berani, dan percaya kepada Allah?

Apabila kita bersandar kepada Tuhan, Dia akan menolong kita untuk mengubah penderitaan menjadi pujian -VCG

1 Oktober 2006

"ukurlah Saya"

Nats : Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya (Lukas 2:52)
Bacaan : Efesus 4:11-16

Maukah Anda mengukur tinggi badan saya hari ini?" tanya Caleb, pengantar koran kami. Ini bukan kali pertama ia meminta hal itu. Beberapa tahun silam, saya pernah mengatakan bahwa ia bertambah tinggi. Sejak itu, kami kerap mengukur tinggi badannya dengan papan di dinding bagian luar rumah kami. Itu sebabnya hingga saat ini ia masih suka meminta saya mengukur tinggi badannya.

Pengukuran dapat menjadi penanda pertumbuhan. Mengukur pertumbuhan rohani kita merupakan ide bagus. Sebagai contoh: Apakah saya meluangkan waktu untuk membaca firman Allah dan berbicara dengan-Nya setiap hari? Apakah saya rindu bersekutu dengan Tuhan? "Buah Roh" apa yang tampak dalam hidup saya? Apakah saya berbicara tentang Yesus kepada orang yang belum mengenal-Nya? Bagaimana saya menggunakan karunia rohani? Apakah saya suka memberi dan pemurah? Seberapa besar pening-katan kualitas saya dalam mengenal Allah hari ini dibanding tahun lalu? Berbagai pertanyaan ini merupakan indikator yang baik untuk mengukur pertumbuhan rohani.

Seorang anak sepertinya tumbuh besar dengan tiba-tiba, tetapi sesungguhnya hal itu merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Seperti halnya Yesus tumbuh dalam hikmat dan fisik-Nya, kita sebagai orang kristiani harus terus "bertumbuh(lah) dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus" (2Petrus 3:18). Kita bukan lagi anak-anak, tetapi kita diminta untuk "bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala" (Efesus 4:14,15). Sudahkah Anda mengukur diri Anda akhir-akhir ini? -CHK

24 Oktober 2006

Jadilah Contoh

Nats : Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perka-taanmu, dalam tingkah laku-mu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam ke-murnianmu (1Timotius 4:12)
Bacaan : 1Timotius 4:12-16

Sebuah SMA yang dinobatkan sebagai SMA yang "Terbaik dan Paling Cemerlang" di lingkungan kami, menunjukkan integritas yang kuat. Ketika dalam lomba mengeja kata-kata sukar di tingkat daerah, tim sekolah tersebut diberi soal kata "auditorium". Brady Davis, yang mewakili sekolah itu, menunduk sejenak untuk berpikir, tetapi kemudian ia mendapati bahwa ternyata kata itu tertulis pada penyangga mikrofon. Ia memberitahukan hal ini dan minta perhatian juri, yang kemudian menanggapinya dengan memberi lebih banyak kata sukar. Brady melakukan hal yang ia anggap benar dan tidak peduli orang lain menerimanya atau tidak.

Kita tidak tahu kapan tindakan kita bisa menjadi contoh bagi orang lain. Akan tetapi, jika hidup kita sehari-hari memuliakan Yesus, kebiasaan kita akan meneladan kebajikan-Nya, tidak peduli siapa yang memandangnya.

Kaum muda kerap kali lebih bisa menunjukkan idealisme dan antusiasme. Akan tetapi, kejujuran dan reputasi selayaknya menjadi tujuan para pengikut Kristus dari segala usia. Paulus berkata kepada penasihat mudanya yang bernama Timotius, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataaanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kemurnianmu" (1Timotius 4:12).

Brady Davis mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah mengubah dunia tanpa berkompromi terhadap dirinya sendiri. Kita dapat bergabung dengannya untuk mengejar kehidupan, integritas, dan perilaku yang dapat dicontoh -DCM

8 November 2006

Ia Telah Melakukannya

Nats : Apa yang telah engkau dengar dariku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dipercayai, yang juga pandai mengajar orang lain (2 Timotius 2:2)
Bacaan : 2 Timotius 2:1-10

Pada kebaktian pemakaman LeRoy Eims, seorang anggota staf Navigator yang setia, saya heran mengapa ada ratusan teman dan koleganya yang mau jauh-jauh datang untuk memberi penghormatan? Mengapa banyak orang yang mengasihi dia?

Sebagai seorang pemuda kristiani, LeRoy tertantang untuk memuridkan seorang demi seorang. Ia menanggapi dengan serius perintah Paulus kepada Timotius: "Apa yang telah engkau dengar dariku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dipercayai, yang juga pandai mengajar orang lain ( 2 Timotius 2:2). LeRoy memegang teguh perintah yang sederhana ini dan mempraktikkannya dengan setia selama lebih dari lima puluh tahun.

Banyak orang yang memadati gereja pada hari itu pernah tinggal di rumah LeRoy dan Virginia Eims. Mereka diterima, disemangati, dan diberi tuntunan oleh LeRoy. Sebagai murid rohani LeRoy, mereka membuat pelayanan tersebut menjadi berlipat ganda dengan memuridkan orang lain, sama seperti yang telah LeRoy lakukan terhadap mereka.

Satu kalimat dalam tulisan yang dibuat untuk memberikan penghormatan kepada dia menggambarkan inti dari kepribadian lelaki ini: "Kehidupannya ditandai oleh satu tujuan, kreativitas tinggi, dan selera humor yang luar biasa."

Teladan yang diberikan oleh LeRoy, mengajak kita untuk setia mengikut Tuhan sepanjang hidup kita. LeRoy telah melakukannya! Dan dengan anugerah Allah, kita pun pasti dapat melakukannya --DCM

12 November 2006

Rumah yang Kokoh

Nats : Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh (Matius 7:25)
Bacaan : Matius 7:15-27

Menurut sebuah artikel yang dimuat di Wall Street Journal, dikatakan bahwa sebagian orang Amerika saat ini telah membangun rumah yang lebih kokoh daripada waktu-waktu sebelumnya.

Badai, banjir, dan tornado telah menyebabkan kerusakan harta benda yang bernilai jutaan dolar di seluruh negara. Karena itu, didorong oleh faktor bisnis, pemerintah, dan perusahaan asuransi, sebagian kontraktor telah membuat konstruksi rumah yang sangat kokoh dengan jendela yang mampu menahan angin berkecepatan 250 km/jam, penggunaan paku atap yang sangat kuat dan tidak mudah patah, serta material lain yang kekuatannya dapat menahan kebisingan jet supersonik.

Bolingbrook, Illinois, adalah sebuah area permukiman yang pernah hancur oleh angin tornado pada tahun 1990-an. Kemudian sebuah perusahaan konstruksi membangun rumah-rumah yang kokoh di daerah tersebut dengan harapan bahwa kejadian yang sama tidak akan terulang kembali.

Kita yang mengenal Tuhan Yesus menyadari bahwa fondasi rohani pun harus kuat dan aman. Dalam bacaan Kitab Suci hari ini, Kristus menggambarkan dengan jelas bagaimana seharusnya sebuah fondasi itu dibangun pada saat Dia merujuk pada kalimat "setiap orang yang mendengar perkataan-Ku" (Matius 7:24), demikian juga saat Dia mengajarkan Khotbah di Bukit (Matius 5-7).

Apabila kita menerima dengan iman perkataan dan karya Yesus yang dilakukan semata demi kebaikan kita, maka kehidupan rohani kita akan berdiri di atas sebuah batu yang kokoh, yaitu Yesus Kristus --DCE

22 November 2006

Jejak Hati

Nats : Dorkas .... Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah (Kisah Rasul 9:36)
Bacaan : Kisah Rasul 9:36-43

Kita meninggalkan sidik jari di kenop pintu, buku, tembok, atau keyboard. Karena setiap orang memiliki sidik jari yang berbeda, maka setiap kali kita memegang sesuatu, identitas kita pasti akan tertinggal di sana. Beberapa supermarket di luar negeri bahkan menggunakan suatu teknologi yang memungkinkan para pelanggan dapat melakukan pembayaran dengan memindai sidik jari. Setiap sidik jari dan nomor rekening pelanggan didokumentasikan, sehingga untuk membayar tagihan mereka hanya perlu memindai sidik jari.

Seorang wanita yang hidup di zaman gereja mula-mula meninggalkan jejak yang lain, yaitu "jejak hati". Dorkas menyentuh hidup banyak orang dengan talentanya yang unik, yakni menjahit dan memberi baju. Ia digambarkan sebagai orang yang "banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah" (Kisah Para Rasul 9:36). Kita sebenarnya juga dapat menjadi orang yang "yang rajin berbuat baik" (Titus 2:14). Kita mempunyai jejak hati yang unik, yang dapat menyentuh hati orang lain.

Seorang penulis tak dikenal menulis sebuah doa tentang memberi semangat bagi orang lain: "Ya Allah, ke mana pun aku pergi, izinkan aku meninggalkan jejak hati! Jejak hati belas kasihan, pengertian, dan kasih. Jejak hati yang penuh kebaikan dan kepedulian yang tulus. Kiranya hatiku menyentuh orang yang kesepian, anak perempuan yang pergi dari rumah, atau ibu-ibu yang risau bahkan kakek-kakek tua. Utuslah aku untuk meninggalkan jejak hatiku. Dan, jika ada seorang yang mengatakan, "Aku tersentuh", kiranya ia merasakan kasih-Mu melalui aku."

Apakah Anda akan menaikkan doa yang sama hari ini? --AMC

1 Desember 2006

Semangat Natal

Nats : Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5)
Bacaan : Filipi 2:1-11

Bagaimana Anda mendefinisikan "semangat Natal"? Apakah itu berarti senyuman ramah kepada orang asing, suara pujian yang akrab di telinga Anda, pohon yang berkelap-kelip di tengah lautan hadiah dengan bungkus berkilauan, atau hanya sekadar perasaan senang atas apa yang telah Anda raih tahun ini?

Tak satu pun dari banyak hal di atas yang mampu menggambarkan makna sejati dari ungkapan itu. Semuanya hanya menunjukkan perasaan yang mungkin muncul sebagai respons terhadap komersialisme yang menyelewengkan semangat Natal yang sejati.

J.I. Packer membahas inti masalah ini dalam bukunya Knowing God. Ia menulis, "Kita berbicara dengan meyakinkan tentang semangat Natal, tetapi maknanya kerap tak lebih dari sekadar kesenangan sentimental .... Seharusnya semangat Natal berarti perwujudan kembali dalam kehidupan manusia [sifat] Pribadi yang rela menjadi miskin untuk kita, ... semangat orang-orang yang, seperti Sang Guru, menjalani seluruh hidup mereka berdasarkan prinsip menjadi miskin -- memanfaatkan hidup mereka dan mengizinkan hidup mereka dimanfaatkan -- untuk memperkaya sesama, memberikan waktu, pikiran, perhatian, dan kepedulian demi kebaikan orang lain ... dengan cara apa pun yang diperlukan."

Dalam Filipi 2, Rasul Paulus menggambarkan Allah Sang Penguasa surga dan bumi mengesampingkan kemuliaan Ilahi-Nya dan menjadi pelayan bagi kita dengan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Saat ini Dia mendorong kita untuk juga melayani orang lain dengan rendah hati. Itulah semangat Natal yang sejati --DJD

6 Desember 2006

Karya Seni Allah

Nats : ... mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya (Kolose 3:10)
Bacaan : Kolose 3:8-17

Vincent Van Gogh membeli cermin dan menggunakan gambaran wajahnya sendiri di banyak lukisannya. Rembrandt juga menggunakan dirinya sendiri sebagai model, buktinya ia menyelesaikan hampir 100 potret diri. Para seniman ini memiliki panutan yang sangat baik, yakni Allah sendiri, yang menggunakan gambar diri-Nya sendiri sebagai pola bagi ciptaan-Nya yang termulia (Kejadian 1:27).

Henry Ward Beecher, pendeta pada abad ke-19 yang termasyhur, berkata, "Setiap seniman mencelupkan kuasnya ke dalam jiwanya sendiri, dan melukiskan dirinya sendiri pada lukisan yang dibuatnya." Di dalam segala sesuatu yang kita ciptakan -- karya seni, musik, karya sastra, bahkan anak-anak kita -- akan terungkap sebagian kecil diri kita. Begitu juga dengan Allah; kita masing-masing mengungkapkan sebagian kecil dari diri-Nya. Gambaran tersebut mungkin menjadi kusam, tetapi gambar itu akan selalu ada dan tidak bisa dihilangkan.

Perubahan-perubahan lahiriah yang kita lakukan tidak akan memperbaiki berbagai kekurangan yang ada pada diri kita. Pakaian, kosmetik, dan operasi memang dapat membuat kita menjadi tampak seperti orang lain, tetapi tidak seperti mahakarya unik yang telah dirancang Allah dalam diri kita masing-masing. Kita memerlukan "diri" yang benar-benar baru (Kolose 3:10), diri yang diperbarui menurut gambar-Nya dan didandani dengan pakaian belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12).

Untuk memperbaiki citra "diri" Anda, kenakan karakter Allah dan perlihatkan citra-Nya dengan segala kemuliaan-Nya --JAL

16 Desember 2006

Pekerjaan Kotor

Nats : Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu (Matius 8:3)
Bacaan : Matius 8:1-4

Seorang tokoh televisi terkenal mencari pekerjaan yang paling kotor dan menjijikkan yang bisa ia temukan. Ia kemudian melakukan pekerjaan tersebut dan disiarkan secara langsung, sehingga kita semua merasa jijik.

Hal mengejutkan yang biasa muncul dari petualangan ke tempat kotor ini adalah orang-orang yang mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan yang benar-benar kotor ini tampaknya bahagia ketika melakukannya.

Saya bertanya-tanya apakah hal yang sama juga terjadi di antara jemaat Allah. Di gereja dan dalam komunitas umat Allah, terdapat pekerjaan yang benar-benar "kotor" yang dikehendaki oleh Allah untuk kita lakukan.

Misalnya, apa menariknya bekerja di tempat penampungan tunawisma, membagikan harapan kabar gembira dan bantuan fisik kepada orang-orang jalanan? Di manakah sukacitanya saat berjalan ke bangsal rumah sakit untuk mengunjungi pasien yang baru saja menerima berita buruk dari dokter? Dan, apa enaknya duduk di ruang konseling dan mendengarkan seorang istri yang dilecehkan suaminya, lalu berusaha membantunya mendapatkan kembali harga diri dan semangat hidup?

Bayangkan bagaimana anggapan kerumunan orang ketika Yesus mengulurkan tangan dan menjamah orang lepra. Dia tidak takut dengan pekerjaan-pekerjaan "kotor". Yesus datang "untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Dia "tergerak ... oleh belas kasihan" kepada orang yang timpang, sakit, dan tertindas (Matius 9:36). Mari kita ikuti teladan-Nya dan kita kerjakan tugas-tugas berat di sekitar kita dengan kasih --JDB

7 Februari 2007

Kekuatan Pengaruh

Nats : Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? (Mat. 5:13)
Bacaan : Matius 5:1-16

Pada 9 Februari 1964, The Beatles tampil di The Ed Sullivan Show dan menawan hati kaum muda Amerika. Setelah mendengarkan musik dan menonton "penampilan" mereka, saya melakukan seperti yang dilakukan jutaan pemuda Amerika -- saya memohon kepada orangtua saya agar boleh memanjangkan rambut. Lalu, bersama sahabat saya, Tommy, saya mulai membentuk band garasi. Penampilan The Beatles sangat memengaruhi kami, sehingga kami berusaha meniru mereka. Peristiwa ini menyadarkan saya pada kekuatan pengaruh.

Bertahun-tahun kemudian, kekuatan pengaruh menjadi jauh lebih penting bagi saya, yaitu saat saya memulai perjalanan sebagai pengikut Kristus. Saya memiliki hasrat untuk hidup di bawah pengaruh Kristus, tetapi saya juga ingin menjadi "pengaruh" bagi sesama dengan mengarahkan mereka kepada Sang Juru Selamat.

Di sini Yesus menantang kita untuk memahami Matius 5:13-16. Garam dan terang merupakan faktor yang berpengaruh dalam dunia yang gelap dan rusak. Adapun Kristus, Sang Terang dunia, juga memanggil kita untuk menjadi cahaya yang memberi pengaruh. Sang Maestro yang meneladankan kesucian sempurna memanggil kita untuk menjadi garam yang menambahkan rasa dan mencegah kerusakan dunia.

Semoga kita tidak hanya dipengaruhi Kristus, tetapi juga menjadi pengaruh demi Yesus Kristus di dunia yang membutuhkan ini --WEC

Tuhan, kiranya aku menjadi cahaya gemilang
Dalam segala perkataan dan perbuatan,
Kasih-Mu yang terpancar melalui hidupku
Kiranya menuntun seseorang kepada-Mu. --Sper

10 Februari 2007

Dibayar dengan Apa?

Nats : Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Flp. 3:7)
Bacaan : Lukas 14:25-33

Bertahun-tahun lalu, ketika Rumania masih di bawah kendali komunisme, Bela Karolyi adalah pelatih senam. De-ngan keahliannya, ia mengembangkan ba-kat para bintang, misalnya atlet peraih medali emas, Nadia Comaneci. Atas keberhasilannya melatih para atlet yang membawa kemasyhuran bagi negara Tirai Besinya, Bela dihadiahi mobil mewah dan banyak hadiah lain. Namun, Bela men-damba kebebasan. Maka suatu hari, de-ngan tekad kuat dan hanya sebuah kopor kecil, ia meninggalkan Rumania menuju kebebasan, meski tanpa uang sepeser pun.

Ada harga yang harus dibayar untuk mengikut Yesus dan mengalami kebebasan yang diberikan-Nya. Ketika dua nelayan, Petrus dan Andreas, mendengar panggilan Yesus, "Ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia," mereka pun "segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia" (Mat. 4:19,20). Begitu juga Yakobus dan Yohanes meninggalkan ayah serta mata pencarian mereka untuk memulai hidup yang tidak pasti sebagai murid. Mereka tahu harganya dan memilih untuk mengikut Yesus, serta meninggalkan semuanya (ay. 21,22).

Sungguh teladan agung bagi kita semua yang mengaku sebagai murid-murid Yesus! Dia berkata, "Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk. 14:27). Bersediakah kita berkorban, besar maupun kecil, untuk Tuhan kita? Marilah kita menanggapi undangan Sang Juru Selamat, "Ikutlah Aku," tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan --VCG

Saat Yesus memanggil -- tentu aku menyahut,
Dan mengikuti Dia hari ini juga;
Saat suara-Nya memohon dengan lembut,
Bagaimana bisa aku menunda-nunda? --Brown

22 Februari 2007

Kebahagiaan dan Kekudusan

Nats : Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan (Ibr. 12:14)
Bacaan : 1 Petrus 1:13-21

Di Harvard University, Anda dapat mengambil kelas yang membahas kebahagiaan. Kelas populer ini menolong siswa untuk mengetahui, seperti kata sang dosen, "Cara agar Anda merasa bahagia."

Itu bukan ide buruk. Sesungguhnya, dalam beberapa kesempatan Alkitab bahkan menyarankan pentingnya merasakan kebahagiaan atau sukacita. Salomo mengatakan bahwa kita punya hak istimewa untuk merasakan kebahagiaan yang diberikan Allah (Pkh. 3:12; 7:14; 11:9).

Meskipun begitu, terkadang kita terlalu berlebihan mencari kebahagiaan du-niawi. Kita menganggapnya sebagai hal utama yang harus diraih, bahkan yakin bahwa kebahagiaan adalah tujuan utama Allah bagi kita. Lalu kita pun merasa bingung.

Firman Allah menyatakan bahwa kebahagiaan sejati dapat terwujud jika kita taat pada taurat Allah (Mzm. 1:1,2; Ams. 16:20; 29: 18). Allah menuntut kekudusan dan memanggil kita untuk menjalani hidup yang kudus, yang mencerminkan karakter moral-Nya (1 Tes. 4:7; 2 Ptr. 3:11). Dalam surat pertama Petrus kita membaca, "Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1 Ptr. 1:15,16).

Pada saat kita harus membuat keputusan mengenai bagaimana kita harus bertindak atau bagaimana kita harus menjalani hidup, maka kita harus ingat bahwa perintah Allah bukan "Bersenang-senanglah", melainkan "Jadilah kudus". Sukacita sejati berasal dari hidup yang kudus dan menghormati Allah --JDB

Dalam semua pikiran, ucapan, dan tindakanku,
Aku rindu, ya Allah, untuk menghormati-Mu;
Dan kiranya motivasiku yang terdalam
Adalah mengasihi Kristus yang rela berkurban. --D. De Haan

12 Juni 2007

Ikutilah Teladanku

Nats : Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus (1Korintus 11:1)
Bacaan : 1Korintus 4:9-17

Andrew Marton teringat saat pertama kali ia bertemu dengan calon kakak iparnya Peter Jennings, seorang koresponden berita luar negeri ternama pada tahun 1977. Menurutnya, saking gugupnya, ia berlaku seperti "seorang penggemar yang salah tingkah di hadapan seorang pahlawan jurnalistik yang sangat berpengaruh di Manhattan".

Andrew mengagumi Peter dan berusaha menandinginya. Ia juga menjadi seorang wartawan dan caranya menjalankan tugas sama seperti yang dilakukan Peter -- "ia menyelami bidang itu dan bekerja lebih keras dibanding yang lain". Andrew berusaha meniru Peter, baik dalam cara berjalan, cara berpakaian, dan berusaha memiliki "aura" yang sama.

Kita semua cenderung meniru orang lain. Demikian pula dengan jemaat Korintus. Namun, mereka mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan para pemimpin jemaat. Alih-alih meniru sifat-sifat yang menyerupai Kristus dari para pemimpin ini, mereka malah membiarkan kesetiaan mereka mengarah pada perpecahan dan perselisihan dalam gereja (1Korintus 1:10-13). Rasul Paulus melihat penyimpangan ini, sehingga ia mengutus Timotius untuk mengingatkan mereka tentang ajarannya dan pentingnya berjalan dalam ketaatan kepada Tuhan (4:16,17).

Kita patut meniru Kristus (1Petrus 1:15,16). Kita juga sangat terbantu bila memiliki pengajar yang meneladani-Nya. Mereka yang berjalan seiring dengan Kristus memberi teladan yang baik untuk kita tiru. Namun, contoh utama kita tetaplah Yesus sendiri --AMC


Mengikuti langkah-langkah mereka
Yang matanya tertuju kepada Tuhan
Membantu kita tetap kuat dan setia,
Tak menyimpang dari petunjuk firman-Nya. --D. De Haan

4 Agustus 2007

Apa yang Anda Percayai?

Nats : Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (Yesaya 50:4)
Bacaan : Yesaya 50:4-10

Francis Collins meraih gelar Ph.D. untuk bidang kimia fisik di Yale University, kemudian melanjutkan ke sekolah kedokteran. Pada saat menjalani pelatihan di rumah sakit North Carolina, seorang perempuan yang mendekati ajal sering mengajaknya mengobrol tentang imannya di dalam Kristus. Collins menolak keberadaan Allah, tetapi ia tidak bisa mengabaikan ketenangan perempuan itu. Suatu hari perempuan itu bertanya, "Apa yang Anda percayai?" Seperti orang yang tertangkap basah, wajah Collins memerah dan dengan tergagap menjawab, "Entahlah." Beberapa hari kemudian perempuan itu meninggal dunia.

Dengan heran dan gelisah, dokter muda itu menyadari bahwa ia telah menolak Allah tanpa melakukan pengujian yang cukup terhadap bukti-bukti yang ada. Oleh sebab itu, ia mulai membaca Alkitab dan tulisan-tulisan C.S. Lewis. Setahun kemudian, ia berlutut dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Apa yang mendorongnya mengambil keputusan itu? Pertanyaan tulus dari perempuan tua yang berfisik lemah, tetapi memiliki perhatian yang sangat besar terhadap orang lain.

Dalam gambaran profetik tentang Mesias, Yesaya 50:4 mengatakan, "Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu."

Semoga kita siap mengucapkan kata-kata yang tepat atau mengajukan pertanyaan yang penuh perhatian terhadap orang lain, supaya mereka menghampiri Juru Selamat yang menawarkan kehidupan dan kedamaian kepada semua orang --DCM

20 September 2007

Berjalan di Taman

Nats : Hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu (Efesus 5:2)
Bacaan : Efesus 5:1-14

Rumah kami di Boise, Idaho, menghadap ke taman yang memiliki jalan setapak untuk berjalan-jalan. Sebagian besar jalan setapak itu tampak dari jendela dapur kami. Dari situ saya belajar mengenali orang dari cara mereka berjalan.

Ada seorang pengacara dari kota yang senantiasa tampak tergesa-gesa, seorang pria tua yang berjalan perlahan dengan susah payah, seorang wanita yang berjalan dengan langkah yang pasti. Masing-masing orang memiliki gaya berjalan yang khas.

Alkitab memerintahkan, "Hiduplah [Inggris: walk (berjalanlah)] di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu" (Efesus 5:2) dan "Hiduplah [Inggris: walk (berjalanlah)] dengan penuh hikmat" (Kolose 4:5). Saya bertanya pada diri sendiri, "Adakah hidup saya mencerminkan kasih dan hikmat Allah?" Adakah hidup saya "murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik" (Yakobus 3:17)? Apakah saya memiliki kasih, sukacita, dan damai sejahtera? Apakah saya lemah lembut, namun kuat? Apa yang dilihat orang pada diri saya tatkala saya menjalani hidup ini?

George MacDonald berkata, "Jika Anda yang berteori tentang kekristenan telah menetapkan diri untuk melakukan kehendak Tuhan Yesus, yang menjadi objek pemberitaan Injil, maka Anda dapat memengaruhi belahan dunia yang Anda singgahi." Wow, betapa berpengaruhnya Anda!

Sudahkah hidup Anda berpengaruh bagi kehidupan orang-orang di sekitar Anda? Adakah orang lain melihat Yesus melalui perkataan dan perbuatan Anda? --DHR

22 Oktober 2007

Peti Beserta Perhiasannya

Nats : Harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2Korintus 4:7)
Bacaan : Roma 2:17-24

Seorang pendeta dari Kanada, John Gladstone, membuat sebuah penerapan yang menarik dari sebuah babak menyedihkan dalam kehidupan Isaac Watts. Sang penulis nyanyian pujian asal Inggris yang terkenal itu jatuh cinta dengan seorang wanita muda yang cantik bernama Elizabeth Singer. Wanita muda tersebut mengagumi puisi, pemikiran, dan semangat Isaac, tetapi ia tidak dapat menutupi rasa tidak sukanya terhadap penampilan Isaac.

Isaac adalah seorang yang pendek dan kecil, memiliki mata berwarna abu-abu yang sangat kecil, berhidung bengkok, dan tulang pipi yang menonjol. Saat ia melamar Elizabeth, wanita muda itu dengan berat hati menjawab, "Tuan Watts, seandainya saja kotak perhiasaan itu seindah perhiasan di dalamnya."

Pendeta John Gladstone menghubungkan kisah di atas dengan analogi "perhiasan" Injil dan "kotak perhiasan" gereja. Betapa banyak orang yang menolak kabar baik Injil karena meskipun para saksi memiliki sikap yang tulus, namun mereka terlalu menggebu-gebu! Apakah tanpa disadari, kita telah menjadi orang-orang yang tidak disukai dan tidak menunjukkan kasih? Bagaimana kita dapat menjadi "penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan" (Roma 2:19) jika keindahan Yesus tidak terlihat di dalam diri kita?

Bagaimanapun caranya, kita harus mengabarkan Injil. Namun, marilah kita berdoa agar Roh Kudus membuat kita memiliki pribadi yang menarik, penuh kasih, dan bebas dari dosa, sehingga kita dapat menarik orang lain kepada-Nya --VCG

24 Oktober 2007

Menyalakan Lampu

Nats : Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi (Matius 5:14)
Bacaan : Matius 5:13-20

Orang-orang sering bertanya kepada saya tentang hal yang paling berkesan saat melayani sebagai pemimpin Moody Bible Institute. Jawabannya adalah, siswa-siswinya. Saya mengagumi semangat mereka bagi Yesus dan cara mereka menunjukkannya kepada dunia di sekitar mereka. Para pemimpin perusahaan yang nonkristiani sering mengatakan kepada saya mengenai etika kerja siswa-siswi Moody yang patut dicontoh. Kepala polisi Chicago pernah berkata, "Saat siswa-siswi Moody kembali ke kampus, daerah di sekitarnya menjadi lebih terang, seperti ada seseorang yang menyalakan lampu di sana."

Itulah maksud Yesus saat Dia mengatakan, "Kamu adalah terang dunia" (Matius 5:14). Itu adalah kata-kata yang ampuh dalam menggambarkan suatu perbedaan. Harus ada perbedaan yang jelas antara integritas yang dimiliki orang-orang kristiani dan kegelapan dunia yang merajalela.

Yang penting bukan berbicara tentang Yesus, melainkan bagaimana orang melihat kita. Walaupun mereka mungkin tidak ingin mendengar tentang Yesus, Anda boleh yakin bahwa mereka ingin melihat apakah Dia membuat perbedaan dalam hidup kita. Saat Yesus berkata, "Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik" (ayat 16). Maksud-Nya adalah sebelum kita berbicara, kita harus dapat menunjukkan bukti dari apa yang kita katakan. Kemampuan kita untuk bersinar bagi Yesus diukur oleh perbuatan baik kita, yang memberikan kesaksian kuat dalam hidup kita. Mari kita menyalakan lampu-lampu kita --JMS

12 November 2007

Keindahan yang Unik

Nats : Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan (Mazmur 149:4)
Bacaan : 1Petrus 2:9-17

Bagi sebagian orang, kata kekudusan memunculkan gambaran orang pemalu dan kaku, yaitu orang "baik" dalam arti terburuk dari kata itu, dengan wajah cemberut dan murung. Mereka penuh kebenaran diri dan kewajiban yang kaku, "berpegang pada kehidupan selanjutnya," seperti yang digambarkan penulis Washington Post.

Kebanyakan orang merindukan kebenaran dan kebaikan. Namun, keinginan itu bisa dirusak oleh apa yang mereka lihat dalam diri sebagian orang kristiani, yang mereka anggap orang yang membenarkan diri dan suka menghakimi. Bagi orang yang belum percaya, "sifat baik" jauh lebih tidak menarik daripada sifat buruk, sehingga mereka memilih sifat buruk meskipun mereka mungkin membenci sifat buruk itu. Joy Davidman, istri C.S. Lewis, mengatakan, "Satu orang munafik yang sok suci menghasilkan seratus orang tidak percaya."

Seandainya dunia melihat hal yang sebenarnya, yaitu kualitas hidup luar biasa yang dibicarakan Petrus, kehidupan yang begitu menawan dan menarik hati, maka banyak orang akan datang kepada Sang Juru Selamat (1 Petrus 2:12). "Seandainya saja 10% penduduk dunia memiliki [kekudusan]," C.S. Lewis bertanya-tanya, "bukankah seluruh dunia akan diubahkan dan menikmati kebahagiaan sebelum tahun ini berakhir?"

Kita bisa melakukannya! Ketika kita menyandarkan hidup kepada Roh Allah, maka kita dapat menjalani hidup yang sangat indah di hadapan dunia yang mengamati kita. Penyair Israel meyakinkan kita, "Tuhan ... memahkotai orang-orang yang rendah hati" (Mazmur 149:4) --DHR

10 Desember 2007

Jadilah Bintang

Nats : Orang-orang ... yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran [akan bercahaya] seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya (Daniel 12:3)
Bacaan : Matius 2:1-12

Akhir-akhir ini banyak orang mencari ketenaran dengan berusaha untuk disorot oleh media. Akan tetapi, seorang tawanan Yahudi yang masih muda mencapai "ketenaran" dengan cara yang lebih baik.

Ketika Daniel dan teman-temannya ditangkap oleh bangsa penyerbu yang kejam, tampaknya mustahil nama mereka akan terdengar lagi. Tetapi tak lama kemudian, para pemuda saleh ini justru menjadi menonjol karena cerdas dan dapat dipercaya.

Ketika raja mendapat mimpi yang tidak dapat diulangi atau ditafsirkan oleh orang-orang bijak di istana raja, ia menghukum mati mereka. Setelah semalaman berdoa bersama teman-temannya, Daniel menerima isi mimpi raja tersebut dan tafsirannya dari Allah. Maka, raja mempromosikan Daniel menjadi penasihat utamanya (lihat Daniel 2).

Kisah ini sudah cukup luar biasa jika berakhir di situ. Namun, beberapa orang terpelajar percaya bahwa pengaruh Daniel di Babel membuat orang sadar akan adanya berbagai nubuatan tentang Mesias, tentang Juru Selamat yang akan lahir di Betlehem. Pengajaran Daniel mungkin dijadikan alasan oleh orang-orang bijak dari Timur yang 500 tahun kemudian mengikuti bintang sampai ke bagian dunia yang terpencil dan asing. Mereka menemukan Raja yang masih bayi, menyembah-Nya, dan kembali ke negeri mereka dengan kabar baik tentang perjalanan Allah yang luar biasa ke dunia (Matius 2:1-12).

Dengan membuat orang-orang lain berbalik kepada kebenaran, kita, seperti Daniel, dapat menjadi bintang yang bersinar abadi --JAL

4 Januari 2008

Iblis Gemetar

Nats : Doa orang yang benar, sangat besar kuasanya dan ada hasilnya (Yakobus 5:16)
Bacaan : Yakobus 5:13-18

Anda mungkin mengenal tokoh-tokoh kristiani seperti Hudson Taylor, Martin Luther, Gordon Lindsay, atau Corrie ten Boom. Tahukah Anda mengapa tokoh-tokoh ini bisa dipakai Allah secara luar biasa? Salah satu kesamaan yang mereka miliki adalah kehidupan doa yang luar biasa.

Corrie ten Boom mengatakan, "Iblis tersenyum ketika Anda menyusun suatu rencana. Ia tertawa ketika Anda terlalu sibuk. Namun, Iblis gemetar saat Anda berdoa." Gordon Lindsay berkata, "Waktu yang Anda manfaatkan untuk berhubungan dengan Tuhan tidak akan pernah sia-sia." Hudson Taylor mengatakan, "Jangan melakukan konser terlebih dulu, baru memeriksa alat musik Anda. Mulailah setiap hari bersama Allah." Martin Luther berkata, "Begitu banyak yang harus saya kerjakan hari ini, maka saya menggunakan tiga jam pertama saya untuk berdoa." Kita tidak bisa hidup tanpa doa. Tanpa doa, kehidupan rohani kita menjadi lemah, sehingga kita mudah untuk jatuh ke dalam dosa. Iblis tidak akan takut jika setiap hari kita menghadiri rapat di gereja untuk menyusun strategi. Iblis tidak akan takut jika kita membuat program-program gereja yang sangat menarik. Iblis bahkan tertawa terbahak-bahak saat melihat kesibukan kita yang padat di gereja. Semua itu tidak akan membuat Iblis gentar. Namun, saat kita berdoa, Iblis akan gemetar dan lari dari hadapan kita.

Doa menembus batas ketidakmungkinan dan kemustahilan. Kemampuan kita sangat terbatas. Tanpa doa, kita tidak dapat berbuat banyak. Sebab itu, mari kita mulai kehidupan hari ini dengan doa! --PK

11 Januari 2008

Bahaya Kekhawatiran

Nats : Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:27)
Bacaan : Matius 6:25-34

Belum lama ini saya bertemu seorang teman lama. Saya hampir tidak mengenalinya. Wajahnya sangat berubah, terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Kami bercakap-cakap tentang banyak hal. Ketika saya bertanya mengapa ia tampak kurus dan tua, padahal saya dua tahun lebih tua darinya, ia menceritakan banyak masalah. Dari perbincangan yang cukup panjang, saya mendapat satu kesimpulan: ia selalu mengkhawatirkan masa depan. Masa depan keluarga -- istri dan putrinya. Masa depan pabrik tempatnya bekerja. Hal itu terus mengganggu pikirannya dan akhirnya bermuara pada penampilan fisiknya -- terlihat kurus dan tua.

Yesus adalah Allah yang memahami kebutuhan manusia secara utuh. Matius 5-7 dimasukkan di bawah judul Khotbah di Bukit. Banyak orang berpikir jika Yesus yang berkhotbah, tentu yang dibicarakan-Nya masalah surga. Namun, Khotbah di Bukit menyadarkan kita bahwa Yesus pun memahami persoalan yang erat dengan hidup manusia -- kekhawatiran.

Sepintas, kekhawatiran merupakan hal lazim karena semua orang mengalaminya. Namun, Yesus berkata ada bahaya besar di balik kekhawatiran. Matius 6:27 menjelaskan bahwa kekhawatiran tidak dapat menambah sehasta pada jalan hidup manusia. Dengan kata lain, kekhawatiran memperpendek usia manusia. Secara medis hal ini dapat dijelaskan. Ada sejenis hormon dalam tubuh kita yang tidak dapat bekerja apabila seseorang tidak tenang. Semakin lama tidak tenang, semakin lama khawatir, semakin lama pula hormon itu tidak bekerja. Akibatnya, kesehatan pun memburuk. Ingin sehat? Buanglah kekhawatiran -- MZ

1 Februari 2008

Gembala Hidup Kita

Nats : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23

Sadar atau tidak, setiap orang mempunyai gembala dalam hidupnya. "Gembala" dalam arti sesuatu yang menggerakkan, memotivasi, mengarahkan, dan memengaruhi pola pikir, prioritas, perilaku, dan keputusan-keputusan dalam hidup seseorang. Gembala itu bisa berwujud uang, jabatan, popularitas, tokoh yang dikagumi, bisa juga akar pahit atau pengalaman traumatis di masa lalu.

Sesungguhnya, hal-hal tersebut bukanlah gembala yang baik. Sebaliknya malah akan menjerumuskan dan mencelakakan; baik diri sendiri maupun orang lain. Tidak sedikit tragedi di dunia ini yang dipicu dan dipacu orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh uang atau jabatan, misalnya.

Gembala yang baik adalah Tuhan sendiri. Ini yang dialami dan dihayati oleh Daud. Daud sungguh-sungguh merasakan Tuhan membimbing, menuntun, dan memeliharanya. Ia memang tidak selalu bergelimang kesuksesan. Ia pun kerap hidup dalam kesulitan; pernah dibenci setengah mati dan dikejar-kejar oleh Saul (1Samuel 19), pernah dikudeta oleh Absalom, anaknya, dan terlunta melarikan diri (2Samuel 15). Namun, Daud merasakan betapa Tuhan tidak pernah jauh darinya. Pun dalam saat-saat tergelap hidupnya, saat-saat kritis. Tuhan mencukupkan segala kebutuhannya. Tuhan membimbingnya ke jalan yang benar. Tuhan menyegarkan jiwanya. Ia sungguh merasakan jejak-jejak kasih dan pemeliharaan Tuhan dalam setiap jengkal hidupnya.

Bagaimana dengan kita? Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah; apakah Tuhan sudah menjadi gembala dalam hidup kita, sebagai prioritas dan dasar dari segala tindakan kita? --AYA

2 Februari 2008

Terus Memangkas

Nats : Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia akan mengikat pinggangnya dan mempersi-lakan mereka duduk makan, dan ia akan dat (Lukas 12:37)
Bacaan : Lukas 12:35-48

Sekalipun saya tahu besok dunia akan hancur berkeping-keping, saya akan tetap menanam pohon apel kecil saya dan melunasi utang saya," kata Martin Luther.

St. Francis dari Assisi ternyata juga memiliki sikap serupa. Ia sedang memangkas tanaman di kebunnya ketika seseorang bertanya, apa yang akan dilakukannya seandainya ia tahu bahwa nanti sore ia akan meninggal. Ia menjawab, "Saya akan terus memangkas kebun sampai selesai."

Terus terang saya heran menyimak sikap mereka. Terasa kurang "pas" bagi tokoh sekaliber mereka. Terasa begitu sederhana jawaban yang diberikan. Namun, justru dari kesederhanaan itulah muncul pelajaran sangat berharga tentang kesetiaan.

Bagi Luther dan St. Francis, rutinitas sehari-hari adalah tugas ilahi. Tugas yang sakral. Perhatian mereka tidak ditujukan terutama pada apa yang mereka kerjakan. Hal yang tampak remeh seperti mengurus tanaman pun bernilai, sehingga mereka akan tetap setia melakukannya sampai mati. Mengapa? Mereka mempertimbangkan untuk siapa mereka melakukannya. Mereka memandang diri mereka sebagai hamba Tuhan, maka mereka melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia.

Apa dampaknya bila kita juga bersikap demikian? Pekerjaan sehari-hari -- mulai dari mengganti popok bayi, mengajar murid, melayani pelanggan, sampai memimpin negara -- semuanya menjadi aktivitas yang signifikan dan patut dilakukan dengan setia. Dan, jika kita melakukannya bagi Tuhan, bukankah kita tidak akan melakukannya dengan asal-asalan? --ARS

23 Februari 2008

Sibuk=kematian Hati

Nats : Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang ... membual dan menyombongkan diri ... menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak (2Timotius 3:2)
Bacaan : 2Timotius 3:1-9

Sibuk adalah kata yang akrab menemani perjaanan hidup manusia di abad ini. Banyak orang terjebak dalam kesibukan yang menggunung. Pekerjaan kantor yang terus menumpuk dan tanggung jawab yang semakin besar menjadi dalih pembenaran.

Di banyak tempat, hampir setiap hari orang "berkelahi" dengan waktu. Akibatnya, orang tidak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri, keluarga, apalagi untuk Tuhan. Waktunya telah habis dalam perjalanan. Konsekuensinya, dalam keluarga pun anak memberontak kepada orangtua yang sudah sekian lama kurang memerhatikan mereka.

Sibuk menjadi kata yang semakin populer di tengah masyarakat. Dalam aksara Cina, kata "sibuk" berarti "kematian hati" atau "hati yang mati". Ya, kesibukan cenderung membuat orang "mati rasa". Ia mencuri dan merampas hal yang berharga dalam hidup kita, yakni kepekaan. Orang yang sibuk bisa kehilangan kepekaan terhadap Tuhan dan sesama. Lebih parah lagi, orang yang sibuk lama-kelamaan bisa menjadi egois -- tidak lagi peduli pada manusia di luar dirinya.

Rasul Paulus mengingatkan anak didiknya, Timotius yang masih muda. Paulus membukakan tentang kondisi manusia akhir zaman kepada Timotius. Kondisi di mana manusia akan "mencintai dirinya sendiri [egois], menjadi hamba uang, membual, menyombongkan diri, menjadi pemfitnah, berontak terhadap orangtua, tidak tahu berterima kasih, dan tidak memedulikan agama" (2Timotius 3:2). Sebagai anak Tuhan, mari kita latih kepekaan rohani dalam mencermati tanda zaman, agar tidak terjebak dalam kematian hati --MZ

8 Maret 2008

Terpeleset Kulit Jeruk

Nats : Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya (1Samuel 17:42)
Bacaan : 1Samuel 17:40-58

Pada tahun 1911, Bobby Leach, seorang stuntman, terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang dirancang khusus. Ia selamat dan hanya mengalami cedera ringan. Kisah keberaniannya menjadi buah bibir di mana-mana. Beberapa tahun kemudian, Bobby Leach diberitakan meninggal dunia di New Zealand. Penyebabnya "sederhana". Saat berjalan kaki di New Zealand, ia terpeleset kulit jeruk. Jatuh. Patah kaki parah. Akhirnya meninggal karena komplikasi.

Kita bisa saja sanggup menghadapi bahaya besar, tetapi justru kalah dengan tantangan kecil. Kita siap berhadapan dengan masalah besar, tetapi malah kelimpungan ketika berhadapan dengan masalah sepele. Kita bisa tegar menahan gempuran "air terjun Niagara", tetapi tidak berdaya karena "kulit jeruk". Begitulah risiko kalau kita lalai, menganggap remeh, atau merasa hebat.

Itu juga yang terjadi pada Goliat ketika menghadapi Daud. Ia menganggap remeh "anak kecil" yang kemerahan dan elok parasnya itu (ayat 43). Merasa "besar" dan sanggup "menanganinya" dengan mudah. Namun, sejarah mencatat akhir tragis dari sang pendekar kebanggaan bangsa Filistin itu. Sebetulnya Goliat telah kalah sebelum batu umban Daud menghantamnya, yaitu saat ia lengah dan meremehkan lawannya.

Jadi, selalu waspada itu penting; dalam setiap keadaan dan kesempatan. Jangan sampai kita lengah. Jangan mudah menggampangkan sesuatu. Jangan menyepelekan tantangan sekecil apa pun. Kelengahan adalah awal dari kejatuhan. Ingat, bahkan kulit jeruk pun bisa menewaskan seorang Bobby Leach -AYA

18 Maret 2008

Taat Dalam Hal Kecil

Nats : Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja yang tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar (Lukas 16:10)
Bacaan : Lukas 16:10-13

Saya pernah membaca tentang sebuah penelitian yang menarik. Di sebuah kelas Taman Kanak-kanak seorang guru berkata, "Anak-anak, Ibu menaruh kue dan permen ini di atas meja. Ibu ada keperluan sebentar di kantor. Nanti kalau Ibu kembali, Ibu akan bagikan semua makanan ini untuk kalian!" Tanpa sepengetahuan anak-anak, para peneliti memasang monitor CCTV yang dipakai untuk melihat apa saja yang dilakukan anak-anak itu.

Begitu sang guru keluar, beberapa anak segera mengambil kue dan permen itu. Sebagian anak mulanya ragu, tetapi melihat sikap teman yang lain mereka pun ikut mengambil. Hanya sedikit anak yang taat dan tetap duduk. Dengan cermat para peneliti mencatat perilaku setiap anak. Tiga puluh tahun kemudian, mereka mengadakan penelitian ulang terhadap anak-anak tersebut. Ternyata, anak-anak yang dulu taat kini menjadi orang-orang yang berhasil. Sedangkan anak-anak yang tidak taat menjadi orang-orang yang gagal, baik dalam rumah tangga maupun karier yang mereka bangun.

Ternyata, untuk menjadi taat diperlukan latihan; sejak muda dan dimulai dari halhal yang kecil. Marilah kita belajar untuk taat dan setia kepada tugas dan panggilan kita, sehingga Tuhan dapat memakai kita sebagai saksi yang menjadi berkat bagi dunia ini: "Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja yang tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar" (Lukas 16:10). Yesus telah meneladankan ketaatan yang sempurna, mari kita belajar menjadi seperti Dia -XQP

30 Maret 2008

Tetap Bersukacita

Nats : ... aku selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1:4)
Bacaan : Filipi 1:3-14

Sebuah kutipan bijak mengatakan, "Pergumulan dan penderitaan tak dapat dihindari, tetapi kesedihan adalah pilihan." Ya, ada banyak alasan yang membuat kita tidak dapat bersukacita, tetapi sebenarnya sukacita tidak ditentukan oleh kondisi di sekeliling kita. Dalam situasi terburuk pun, sebenarnya kita tetap dapat bersukacita, tergantung apakah kita memilih untuk tetap bersukacita atau larut dalam kesedihan.

Mengawali suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata bahwa ia sedang bersukacita dalam doanya (Filipi 1:4). Apa yang membuat Paulus bersukacita? Hidup yang nyaman? Dalam kondisi apa ia berkata demikian? Bacaan kita menunjukkan bahwa Paulus mengatakan hal ini saat ia berada dalam penjara yang begitu gelap dan dingin! Penjara boleh memenjarakan tubuhnya, tetapi tidak dapat memenjarakan sukacita dalam dirinya! Andaikan Paulus memilih untuk bersedih hati, maka kekuatannya hilang, dan pengabaran Injil pun akan berhenti. Namun, Paulus bersandar kepada kekuatan Allah yang menolongnya untuk tetap bersukacita; sehingga ia dapat melihat arti penderitaannya, terus memikirkan kemajuan pengabaran Injil, dan mendoakan kesetiaan rekan-rekannya di luar penjara (ayat 9-11)!

Apakah pergumulan dan penderitaan merebut sebagian besar sukacita kita? Apakah masalah dalam pekerjaan, pelayanan, studi, bahkan keluarga, telah membuat kita menjadi anak Tuhan yang lupa untuk tertawa? Pilihan untuk terus bersedih tak akan membantu, sebaliknya akan membuat kita pesimis dalam memandang hidup. Mari kita memohon pertolongan Allah untuk dapat bersukacita dalam segala keadaan! -PK

1 April 2008

Siapakah Aku?

Nats : Apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya? ... sehingga Engkau mengindahkannya? (Mazmur 8:5)
Bacaan : Mazmur 8:4-10

Seorang biolog dari Hongkong pernah meneliti tubuh manusia dan mengatakan bahwa dalam diri seorang manusia terdapat berbagai unsur bahan kimia seperti lemak, zat besi, fosfor, kapur, air, dengan jumlah yang nilainya dalam rupiah kira-kira sebesar data berikut:

o Lemak, yang hanya dapat dibuat sebatang lilin = Rp500,00
o Zat besi, yang hanya dapat dibuat 1 ons paku = Rp300,00
o Fosfor, yang hanya dapat dibuat sekotak korek api = Rp500,00
o Kapur, yang hanya untuk melabur sebuah kandang anjing = Rp1.000,00
o Air, yang dapat diperoleh secara gratis = Rp0,00

Jika perhitungan ini benar, maka nilai seorang manusia hanya sekitar Rp2.300,00. Wah, betapa murahnya! Apalagi jika mengingat fakta bahwa manusia diciptakan dari debu tanah, maka semakin dihitung sebenarnya kita -- manusia ini -- makin tidak ada harganya. Berdasarkan kebenaran tersebut, maka kita pasti akan terheran-heran saat melihat betapa indahnya karya dan berkat-berkat Allah bagi kita. Dan seperti raja Daud, kita juga akan bertanya hal yang sama kepada-Nya: "Tuhan, siapakah kami manusia ini sehingga Engkau membuat kami segambar dengan-Mu -- memberi kami napas hidup, memerhatikan, bahkan mengindahkan kami?" (ayat 5,6).

Biarlah kita yang tidak berharga, tetapi telah dibuat Tuhan menjadi sangat berharga, makin memuliakan Tuhan saja dari hari ke hari. Tidak lupa diri, tidak banyak menuntut Tuhan, sebaliknya lebih banyak bersyukur. Jikalau bukan Tuhan, kita ini tidak ada apa-apanya dan bukanlah siapa-siapa -MNT

19 April 2008

Hakuna Matata

Nats : Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? (Matius 6:27)
Bacaan : Matius 6:25-34

Hakuna Matata adalah sebuah lagu yang diluncurkan sebagai soundtrack film The Lion King, yang memiliki arti "jangan khawatir". Sebuah nasihat yang meminta kita untuk melepaskan diri dari masalah supaya dapat menikmati hidup. Ya, begitu banyak orang tidak dapat menikmati hidup karena dari waktu ke waktu hati mereka terlalu khawatir.

Pada liburan lalu, pompa air di rumah saya rusak. Persediaan air semakin sedikit sementara tak ada toko pompa yang buka di hari libur. Jadi, yang muncul dalam pikiran kami adalah kekhawatiran. Banyaknya aktivitas pribadi yang sangat dan mutlak membutuhkan air, membuat kekhawatiran itu mekar dengan subur. Dan benar, selama kami sulit mendapat air di hari-hari itu, kami melewati hari dengan hati menderita dan kehilangan sukacita.

Ketika Tuhan meminta kita supaya jangan khawatir, bukan berarti Tuhan hendak menyingkirkan begitu saja masalah dalam hidup kita. Masalah akan tetap ada selama kita masih hidup di dunia ini. Namun saat masalah itu hadir, Tuhan meminta kita untuk mengalihkan fokus pandangan kita dari kekhawatiran kepada Kristus Sang Pemelihara hidup (Matius 6:33,34). Dengan demikian, kita dapat kembali menikmati hidup di dalam Tuhan.

Kekhawatiran membelokkan fokus kita dalam menjalani hidup. Kekhawatiran membuat masalah yang kita hadapi menjadi tampak lebih berat dan sulit diselesaikan. Kekhawatiran membuat kita lemah dan tak berpengharapan. Tuhan ingin kita menetapkan fokus pandangan kepada Kristus Sang Pemelihara Hidup, bahkan saat kita berada dalam masalah sekalipun -RY

2 Mei 2008

Bukan Janji Kosong

Nats : Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka (Kisah 1:9)
Bacaan : Kisah 1:6-11

Menjelang pemilihan umum, para juru kampanye beramai-ramai memaparkan janji politik calon pejabat yang diusungnya. Namun setelah terpilih, tidak sedikit pejabat yang ingkar. Alih-alih bekerja keras untuk mewujudkan janji kampanye, mereka malah mendayagunakan kekuasaan untuk memuaskan ambisi pribadi.

Berbeda dengan Yesus, kenaikan-Nya ke surga membuktikan bahwa Dia menepati janji. Jika Yesus tidak bangkit dari kematian, murid-murid punya alasan kuat untuk terus bersedih dan ketakutan setelah Guru mereka meninggal. Jika Yesus bangkit namun kelak meninggal lagi, seperti Lazarus atau anak janda dari Nain, berarti Yesus hanya menunjukkan mukjizat ekstra. Namun kenyataannya, setelah bangkit Yesus naik ke surga disaksikan para murid-Nya (ayat 9). Dengan demikian murid-murid tanpa ragu lagi mengetahui bahwa Dia sungguh-sungguh Allah yang hidup (ayat 11).

Lalu, apabila Dia telah naik ke surga dan membuktikan bahwa Dia tidak sekadar mengobral janji, bagaimana sepatutnya kita menanggapi firman-Nya? Para malaikat yang mengatakan bahwa Yesus akan datang kembali, mengingatkan para murid untuk tidak hanya diam menatap langit (ayat 10,11). Sebaliknya, mereka harus senantiasa siap sedia menyambut kedatangan-Nya dengan bertekun memberitakan Injil dalam perkataan dan tindakan kasih yang nyata, supaya orang lain ikut mengalami janji Kerajaan Allah. Panggilan kita, sebagai orang percaya, adalah turut mengambil bagian dalam kelompok murid yang terus-menerus bekerja, sampai Dia datang kembali -ARS

16 Mei 2008

Nilai Rupa Allah

Nats : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39)
Bacaan : Kejadian 1:26,27; Matius 22:36-40

Belakangan ini di Jakarta, pemukulan tanpa ampun terhadap seorang pencuri sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, pernah ada yang mengerikan; massa yang mengamuk membakar hidup-hidup si pencuri. Tak sedikit orang mengambil risiko itu dan mempermalukan diri sendiri demi mencukupi kebutuhan hidup. Memang, mencuri bukan tindakan yang benar. Namun, massa yang main hakim sendiri secara kejam juga tak dapat dibenarkan. Mereka tak lagi peduli bahwa orang yang mereka hakimi secara keji adalah ciptaan Tuhan.

Sejak mula manusia dicipta, Allah menyatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ..." (Kejadian 1:26). Ini berarti bahwa setiap manusia -- siapa pun dia -- adalah gambaran Allah yang mulia. Lalu bila demikian, bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka? Bagaimana sikap anak Tuhan dalam dunia yang semakin tidak menghargai nilai seorang manusia? Firman Tuhan meminta hal yang sederhana; "Kasihilah sesamamu ... seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39).

Sudahkah kita terus berusaha memperlakukan setiap orang sebagai gambar dan rupa Allah? Atau, apakah kita turut menindas ciptaan Allah di sekeliling kita; para pembantu, bawahan, orang miskin, dan sebagainya? Yesus bahkan mengajak kita untuk mengasihi musuh, karena mereka juga gambar dan rupa Allah. Bila kita pernah merendahkan gambar dan rupa Allah dalam diri orang lain, kiranya kita dengan rendah hati memohon ampun kepada Allah. Mari kita ubah sikap dan pikiran yang negatif saat memandang sesama. Kiranya Allah disenangkan saat manusia belajar saling mengasihi -BL

22 Juli 2008

Warisan Termahal

Nats : Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu (Ulangan 6:6,7)
Bacaan : Ulangan 6:6-9, 20-25

Setelah multimiliuner J.P. Morgan (seorang pendiri General Electric) meninggal, seluruh keluarga berkumpul untuk membuka wasiatnya. Orang mengira sebagian besar isinya mengenai uang. Namun mereka salah. Berikut petikannya: "Saya menyerahkan jiwa saya ke tangan Sang Juru Selamat. Saya telah ditebus dan disucikan oleh darah-Nya, sehingga Dia akan membawa jiwa saya tanpa cacat cela kepada Bapa surgawi. Karena itu saya minta agar anak-anak terus mempertahankan dan menjalankan pengajaran mengenai penebusan sempurna oleh darah Kristus yang tercurah; dengan segala tantangan, risiko, maupun pengorbanan pribadi yang menyertainya."

Kebanyakan orangtua berpikir keras hendak mewariskan sebanyak mungkin uang bagi anak-anaknya. Namun, J.P. Morgan memberi kita pandangan yang berbeda. Sebagai warisan terutama dan termahal, Morgan lebih memilih mewariskan iman kepada Kristus bagi anak-anaknya. Segala bentuk harta benda-sebaik apa pun kita menyimpannya, dapat habis dan lenyap. Namun, iman kepada Kristus memberi hidup yang takkan layu.

Mari kita mulai mewariskan iman semacam ini kepada anak-anak kita, mulai hari ini, yakni melalui pembicaraan yang berulang-ulang tentang firman Tuhan (ayat 7). Tentang Kristus yang menanggung hukuman dosa kita di kayu salib, agar kita memiliki hak untuk hidup kekal bersama-Nya. Tentang bagaimana anak Tuhan belajar menaati dan melakukan kehendak-Nya. Tentang cinta Allah yang nyata dalam kehidupan masing-masing pribadi. Niscaya warisan itu akan menjadi harta paling berharga, kapan pun anak-anak akan membuka surat wasiat kita -AW

29 Juli 2008

Sederhana Tapi Berharga

Nats : Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1Samuel 16:7)
Bacaan : Kisah Para Rasul 9:36-39

Bila ditanya tentang pelayanan yang paling berharga bagi Allah, kebanyakan kita akan langsung berpikir tentang pelayanan gerejawi yang biasa dilakukan; misalnya memimpin pujian, menyanyi dalam paduan suara, penginjilan pribadi, pelawatan, dan sebagainya. Padahal, sesungguhnya pelayanan yang dilakukan bagi Tuhan bisa lebih banyak bentuk dan luas cakupannya.

Cerita tentang Dorkas membukakan wawasan kita tentang arti sebuah pelayanan. Alkitab tidak terlalu banyak memberi keterangan mengenai Dorkas. Ia hanya disebut sebagai seorang murid perempuan dari Yope, yang memiliki nama lain Tabita (ayat 36). Namun, Alkitab mencatat bahwa ia adalah wanita yang banyak berbuat baik dan memberi sedekah, khususnya menjahit pakaian bagi para janda (ayat 39). Jika dibandingkan dengan Petrus atau Paulus, nama Dorkas memang kurang populer. Pekerjaan yang dilakukannya pun tak sehebat murid Yesus yang lain. Namun, apa yang telah dilakukannya berharga bagi Allah.

Ya, inilah pelayanan yang berharga di mata Allah. Allah tidak menilai pelayanan dari seberapa banyak pelayanan yang telah dilakukan, tetapi dari sikap hati sang pelayan (1Samuel 16:7). Melayani Allah, sekecil apa pun, bila diiringi motivasi untuk memuliakan Allah dan dilakukan dengan tulus hati, maka pelayanan itu berharga bagi-Nya. Sebaliknya, meski pelayanan kita tampak luar biasa tetapi tidak dilakukan dengan tulus atau didasari motivasi memuliakan diri sendiri, maka hasilnya tak akan berarti di hadapan Allah. Sudahkah pelayanan kita didasari motivasi yang murni dan dikerjakan dengan tulus? -RY

30 Juli 2008

Baik Kok Menderita?

Nats : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5)
Bacaan : Ayub 1:1; 42:1-6

Banyak dari kita mungkin sering mendengar ungkapan ini: "Mengapa ia bisa mengalami hal itu? Padahal ia orang baik. Kasihan, ya?" Orang cenderung berpikir bahwa tidak adil bila ada orang baik yang hidup menderita. Ibarat orang tak bersalah yang harus menerima hukuman. Orang berpikir bahwa hidup orang baik itu selalu diberkati Tuhan. Atau, bila ia harus mengalami kesulitan, Allah akan segera menolong.

Alkitab mencatat bahwa Ayub adalah orang saleh, yang bahkan dipuji oleh Allah sendiri (1:1). Namun, Ayub harus mengalami penderitaan yang datang bertubi-tubi. Dari yang awalnya kaya raya sekarang jatuh miskin; dari yang semula sehat sekarang jatuh sakit. Seluruh anaknya tewas dalam sebuah kejadian. Istri serta teman-temannya meninggalkan Ayub. Apa salah Ayub? Tidak, Ayub tidak bersalah. Lalu mengapa ia mengalami penderitaan yang begitu berat? Karena Allah ingin mengajar Ayub tentang siapa diri-Nya. Melalui penderitaan, Allah ingin Ayub mengenal Dia lebih dalam. Dan inilah yang diakui Ayub pada akhir cerita tentangnya. Pengenalan Ayub akan Allah menjadi lengkap saat ia berkata: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (42:5).

Penderitaan bukan berasal dari Allah, tetapi kerap kali Allah mengizinkan hal itu terjadi supaya kita dapat memetik hikmah dari penderitaan tersebut; baik itu hikmah mengenai kekudusan, pertobatan, ataupun mengenai Allah sendiri. Jadi, daripada menangis dan mengeluh, mari temukan apa yang hendak Tuhan ajarkan lewat penderitaan kita -RY

16 Agustus 2008

Bhinneka Tunggal Ika

Nats : Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7)
Bacaan : Roma 15:5-7

Menjelang 17 Agustus 1945, Bung Karno pernah diculik oleh para pemuda agar segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada hari H-nya, ia didesak teman-teman yang sudah berkumpul di rumahnya. Namun Soekarno berkata, "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada." Pertimbangannya adalah: Soekarno orang Jawa, sementara Hatta orang Sumatra. "Demi persatuan," tambahnya. Bung Karno menyadari betul, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang mencakup beragam suku. Karenanya tidak ada bentuk negara yang lebih baik selain negara kesatuan. Dalam negara kesatuan, perbedaan dihargai.

Dalam hidup bermasyarakat dan bergereja, sangat mudah menemukan orang lain yang berbeda dengan kita; mulai dari hitam-putihnya kulit, lebar-kecilnya mata, lurus-ikalnya rambut, ragamnya aksen dan dialek, sampai "kotak-kotak" baru, seperti partai politik dan denominasi gereja. Dan karena perbedaan itu, kita pun merasa terpisah.

Namun, sebagaimana para pendiri negeri ini rindu menciptakan bangsa yang bersatu dalam kepelbagaian yang ada, marilah kita hidupi pula semangat bersatu dalam kepelbagaian ini. Jauhkan sikap membeda-bedakan. Mohon Tuhan mengaruniakan kerukunan kepada kita (ayat 5). Sambil kita juga berperan aktif bagi terciptanya kerukunan itu dengan memupuk sikap saling menerima seperti yang dicontohkan Kristus (ayat 7). Jangan biarkan perbedaan itu memisahkan kita, sebaliknya biarkan itu menjadi kekayaan di hidup kita.

Saatnya Indonesia bersatu. Saatnya Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan di negeri ini. Dan, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri di lingkungan yang paling dekat -AW

26 Agustus 2008

Frustrasi?

Nats : Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku ...? Berharaplah kepada Allah (Mazmur 42:6)
Bacaan : Mazmur 42:4-12

Bila Anda frustrasi, jangan merasa sendirian. Anda akan merasa lebih baik saat mengetahui bahwa setiap orang pernah mengalami ini:

* Memberi waktu dan tenaga untuk suatu karya yang tiba-tiba menjadi tak berguna.

* Mengalami kesulitan dalam usaha.

* Mengetahui bahwa jerih payahnya dirusak orang lain.

* Geraknya diperlambat ketika ia sebenarnya sudah terlambat.

* Tidak menemukan peralatan apa pun saat ia sudah siap dengan suatu proyek.

* Melakukan tugas dengan baik tetapi orang lain yang mendapat penghargaan.

* Tidak mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah di depan mata.

* Rencana-rencana terbaiknya berantakan.

* Segala sesuatu tampak begitu berat.

Para tokoh Alkitab juga pernah frustrasi; mulai dari Abraham yang anaknya diminta kembali oleh Tuhan, Musa yang frustrasi karena bangsa yang dipimpinnya keras tengkuk, Elia yang dikejar-kejar Izebel, Ayub yang merasa apa yang menjadi miliknya tiba-tiba lenyap, dan masih banyak lagi. Namun, mereka tetap tampil sebagai pribadi yang kuat. Apa yang membuat mereka tetap bertahan saat frustrasi? Mereka menanggapi keadaan yang tidak menyenangkan dengan respons yang tepat. Mereka sadar semuanya itu merupakan cara Allah untuk mendewasakan mereka. Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda sedang frustrasi? Belajarlah untuk melihat bahwa yang Anda alami adalah bagian dari rencana Allah yang terbaik. Bila Anda tak berespons dengan tepat, Anda bisa kecewa kepada Tuhan, kepada orang lain yang merugikan Anda, bahkan kepada diri sendiri. Respons yang tepat menentukan langkah Anda selanjutnya! -PK

1 September 2008

Gereja Bukan Gedungnya

Nats : Dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan" (Filipi 2:11)
Bacaan : Matius 16:13-20

Pada masa kini, ada kesan kuat bahwa gereja seolah-olah hanya tempat pertunjukan dan hiburan. "Pengunjung" datang dan pergi sesukanya demi mencari acara yang memuaskan selera. Bila gedung gereja dipenuhi oleh hadirin yang terpikat, entah oleh apa, itu dinilai sukses. Gereja hanya dipahami sebagai sebuah gedung, tempat, acara, dan pertunjukan.

Atas perkenan Allah, Petrus mengaku bahwa Yesus-lah Anak Allah; dan Tuhan mendirikan Gereja-Nya di atas dasar pengakuan iman itu. Keberadaan gereja ditentukan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejarah gereja membuktikan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, pengakuan itu bertahan walaupun diterjang pelbagai tantangan, siksaan, penganiayaan, dan pembantaian. Selama kaum beriman yang tinggal masih setia pada pengakuan imannya, gereja-dalam arti sesungguhnya-tak akan pernah binasa, meskipun para tokohnya dibunuh, gedung-gedungnya dibakar, kegiatan-kegiatannya dilarang, ruang gerak dan izin pendiriannya dibatasi. Sebaliknya, gereja justru makin berkembang.

Keberadaan gereja lebih ditentukan oleh faktor orang-orang yang hidup di atas dasar pengakuan iman, yaitu makna Yesus bagi jemaat. Bukan dari megahnya gedung, rapinya organisasi, bervariasinya kegiatan, dan kuatnya keuangan. Semua itu memang perlu, tetapi bukan yang utama. Kekuatan gereja bertumpu pada karya Roh Kudus di dalam dan melalui orang-orang yang setia pada imannya. Pada akhirnya, orang-orang tidak hanya mencari gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga demi melaksanakan hidup bergereja; terlibat aktif dalam setiap pelayanan gereja -PAD

14 September 2008

Membagi Berkat

Nats : Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (Amsal 11:25)
Bacaan : Amsal 11:24-31

Danau Galilea dan Laut Mati di Palestina memiliki karakteristik yang berbeda. Di Danau Galilea hidup banyak ikan. Para nelayan biasa menangkap ikan di sana. Di sekitarnya hidup bermacam tumbuhan hijau dan subur. Kontras dengan Laut Mati. Air Laut Mati banyak mengandung garam, sehingga tak ada makhluk hidup yang mampu bertahan di sana. Daerah di sekelilingnya pun kering dan gersang.

Mengapa bisa demikian? Rupanya begini, Danau Galilea memperoleh air dari sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya, lalu mengalirkannya ke Sungai Yordan. Membuat tanah di sepanjang aliran antara danau itu dengan Sungai Yordan menjadi subur. Sebaliknya, Laut Mati memperoleh air dari Sungai Yordan, tetapi ia tidak mengalirkannya ke mana pun. Laut itu sama sekali tidak punya saluran keluar.

Hikmahnya adalah, bahwa membagi berkat itu menyehatkan. Bukan saja bagi orang yang menerima, melainkan juga bagi yang memberi. Maka, jangan menganggap bahwa dengan membagi berkat kepada yang lain, seolah-olah kita melulu yang berkorban. Tidak. Sebab pada saat kita memberi, saat itu juga sebetulnya kita menerima, walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Berkat yang kita tebar akan selalu "berbunga" dan "berbuah". Sebaliknya, berkat yang kita simpan hanya untuk diri sendiri malah bisa membusuk.

Sebagai orang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi penyalur berkat, seperti Danau Galilea; bukan menjadi penimbun berkat seperti Laut Mati. Dengan memberi kita mendapat, dengan menahan berkat kita justru akan kehilangan (ayat 24) -AYA

25 September 2008

Betapapun Hebatnya

Nats : Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan ... burung-burung ... ternak dan atas seluruh bumi ... segala binatang melata (Kejadian 1:26)
Bacaan : Kejadian 1:1-31

Bioteknologi adalah sebuah bidang ilmu yang menerapkan kemajuan teknologi ke dalam bidang ilmu biologi. Prospek kemajuan yang ditawarkan oleh bidang ilmu yang satu ini sungguh luar biasa. Mulai dari yang sudah kita anggap normal, seperti semangka tanpa biji, sampai kepada yang masih terasa bagaikan mimpi seperti mengganti anggota tubuh kita yang rusak dengan teknologi sel punca (stem cell).

Namun, perkembangan ini juga menimbulkan banyak masalah etika. Kemajuan yang ditawarkan tersebut acap kali berbenturan dengan batas-batas etika yang selama ini dipegang oleh masyarakat. Sebagai contoh, teknologi embryonic stem cell membutuhkan janin sebagai bahan percobaannya. Tak heran begitu banyak perdebatan yang terjadi di kalangan para ahli etika seputar isu-isu bioteknologi tersebut.

Disadari atau tidak, perkembangan bioteknologi memang membawa perubahan yang besar dalam pola pikir manusia mengenai seluruh alam dan ciptaan. Manusia, dengan perkembangan bioteknologi, seakan-akan merasa mampu mengubah alam dan kemudian menciptakan kehidupan baru. Dengan demikian, manusia merasa bahwa ia adalah allah. Dan karena itu, ia tidak lagi memerlukan Allah yang sejati.

Sebagai umat percaya, kita harus berhati-hati terhadap isu ini. Sebab seperti yang kita baca dalam bacaan Alkitab hari ini, tampak jelas siapa Tuhan dan siapa kita. Dia adalah pencipta segala sesuatu, sedangkan kita, betapa pun hebat dan canggihnya, tetap hanyalah ciptaan yang penuh keterbatasan. Tanpa Dia kita tidak ada. Terlepas dari Dia kita binasa -ALS



TIP #34: Tip apa yang ingin Anda lihat di sini? Beritahu kami dengan klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA