Topik : Keputusasaan/Kekecewaan

31 Desember 2003

Awal yang Baru

Nats : Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi (Yosua 1:9)
Bacaan : Yosua 1:1-9

Mereka berdiri di tengah udara dingin bersama ribuan orang lain di Times Square, New York. Apa yang membawa mereka ke tempat itu? Tak ada pertandingan olahraga atau konser musik rock. Yang ada hanya kembang api raksasa yang turun sejauh lima meter di atas sebuah bangunan. Kejadiannya hanya beberapa detik, dan tampaknya bukan peristiwa penting yang perlu disaksikan sampai harus berjuang melawan kepadatan lalu lintas dan pejalan kaki di terowongan bawah tanah -- kecuali jika itu terjadi di malam Tahun Baru.

Mengapa kita menciptakan hari libur saat tidak terjadi peristiwa luar biasa? Pada hari libur lainnya, kita merayakan ulang tahun orang terkenal, atau tonggak bersejarah, atau sesuatu yang lain. Malam Tahun Baru hanyalah suatu perayaan pergantian waktu. Kita melebih-lebihkannya karena ini menandai akhir periode yang lalu dan awal periode yang baru. Masalah dan pergumulan tahun lalu menjadi kenangan kelam saat kita memikirkan awal yang baru.

Hal ini tentu terjadi ketika bangsa Israel berdiri bersama Yosua dan menatap era baru di depan mereka (Yosua 1:1-9). Mereka telah mengembara di gurun selama 40 tahun. Di depan mereka terbentang tanah yang berlimpah susu dan madu. Terlebih lagi, mereka memiliki janji Allah bahwa Dia akan menyertai mereka.

Ketika berdiri membelakangi masa 12 bulan yang telah lalu, dan wajah kita menghadap ke arah tahun yang baru, kita memiliki pengharapan karena kita juga meyakini pertolongan Allah. Hal ini membuat pengharapan akan tahun yang baru layak untuk dirayakan! --Dave Branon

11 Maret 2004

Tanda

Nats : Ia datang kepada mereka berjalan di atas air (Markus 6:48)
Bacaan : Markus 6:45-52

Ketika sebuah helikopter jatuh di hutan belantara bergunung-gunung yang dingin, para pilotnya selamat namun terluka parah. Siang yang membeku berganti menjadi malam yang jauh lebih membekukan lagi. Situasi tampaknya tak memberikan harapan, sampai sebuah helikopter penyelamat muncul, dan lampu sorotnya menembus kegelapan malam. Helikopter itu berhasil menemukan bangkai pesawat, mendarat di dekatnya, dan menyelamatkan seluruh awaknya.

“Bagaimana kalian bisa mengetahui posisi kami?” tanya seorang pilot yang terluka.

“Dari radar di helikopter Anda,” jelas si penyelamat. “Alat itu mati secara otomatis ketika Anda jatuh. Yang kami lakukan hanyalah mengikutinya.”

Murid-murid Yesus juga mengalami sukacita karena diselamatkan. Mereka telah berusaha mendayung perahu mereka melawan angin dan gelombang di tengah kegelapan malam di Laut Galilea (Markus 6:45-47). Kemudian Yesus mendatangi mereka, berjalan di atas air, dan menenangkan laut yang bergejolak itu (ayat 48-51).

Kita mungkin mengalami situasi yang sama, yaitu ketika semuanya gelap dan memberikan pertanda buruk. Kita tidak dapat menolong diri sendiri, dan tampaknya orang lain pun tidak dapat menolong kita. Tidak seorang pun tahu betapa takut dan letihnya kita. Tidak seorang pun tahu, kecuali Yesus.

Ketika kita terperangkap, terluka, kesepian, atau kecil hati, Yesus mengetahuinya. Tangis kesedihan kita adalah tanda yang akan membawa Dia ke sisi kita, tepat pada saat kita sangat membutuhkan-Nya —Dave Egner

23 Maret 2004

Menghadapi Rasa Takut

Nats : Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku (Mazmur 138:3)
Bacaan : Mazmur 138

Setelah menikah dengan Bill, saya menjadi sangat bergantung kepadanya, bukannya bergantung kepada Allah untuk memperoleh rasa aman serta kekuatan. Karena merasa sangat tidak berdaya dan ketakutan, diam-diam saya khawatir, “Bagaimana jika seandainya suatu hari kelak Bill tidak di sisiku lagi?”

Ketika Bill setiap kali harus meninggalkan rumah untuk pekerjaan misi selama seminggu, saya mulai bergantung pada diri sendiri, bukan pada Bill. Ketika merasa semakin tidak berdaya, saya berusaha sebisa mungkin mengurangi risiko di dalam kehidupan ini dan tinggal di dalam “kepompong” kegelisahan. Bahkan saya takut keluar ke tempat-tempat umum.

Akhirnya, pada titik terendah, saya mengikuti teladan Daud dalam Mazmur 138:3. Daud berkata, “Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” Saya pun berseru dan Allah menjawab saya. Jawaban-Nya memberi saya pengertian dan kekuatan untuk menembus kepompong rasa takut serta mulai merentangkan sayap saya dalam kebergantungan kepada Allah. Secara perlahan namun pasti, Dia menjadikan saya pendamping yang kuat di sisi Bill.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Bill meninggal, saya menyadari bahwa Allah dengan penuh kasih mengatasi rasa takut saya yang dahulu: “Bagaimana jika seandainya suatu hari kelak Bill sudah tidak di sisiku lagi?” Bukannya menyingkirkan rasa takut saya, Allah justru memberi saya kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi ketakutan itu. Dan Dia akan memampukan Anda bila Anda bergantung kepada-Nya —Joanie Yoder

13 November 2004

Mengerikan Sekali!

Nats : Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada Tuhan (Ratapan 3:40)
Bacaan : Ratapan 3:25-42

Seorang teman bercerita kepada saya tentang seorang pria yang memiliki kebiasaan unik. Ia meneriakkan dua kata yang sama setiap pagi dari kios korannya di sudut jalan. “Mengerikan sekali!” Itulah yang dikatakannya kepada orang-orang yang lewat saat ia menawarkan koran. Lalu orang-orang akan membeli korannya karena ingin tahu hal mengerikan yang telah terjadi.

Tragedi dan ramalan-ramalan menakutkan selalu mengisi halaman depan surat kabar. Namun bila kita terlena oleh berita-berita yang buruk, kita akan kalah terhadap situasi yang disebut teman saya “pengerian”—suatu pesimisme menular yang menyelimuti setiap situasi dengan kesuraman.

Jika ada orang yang memiliki alasan yang tepat untuk bersedih hati, ia adalah Nabi Yeremia. Selama 40 tahun, ia memberitakan penghakiman Allah atas kaum Yehuda yang memberontak dan tidak bertobat. Yeremia menderita karena ketidaktaatan kaum Yehuda. Namun, ia tetap berpegang teguh pada imannya akan kebaikan Allah. Bahkan setelah menyaksikan runtuhnya Yerusalem dan penawanan orang-orang Yehuda, Yeremia menulis: “Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hati kita, dan berpaling kepada Tuhan” (Ratapan 3:31,32,40).

Ketidaktaatan kepada Allah dapat menyebabkan kesengsaraan yang besar. Namun jalan keluar dari keputusasaan, memimpin kita kepada Tuhan yang “baik bagi orang yang berharap kepada-Nya” (ayat 25) —David McCasland

14 Juli 2006

Pengharapan yang Realistis

Nats : Tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku ... tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku (2Timotius 4:16,17)
Bacaan : 2Timotius 4:16-18

Salah satu hal yang saya pelajari setelah dewasa adalah jangan berharap banyak dari sesama. Kita mungkin mencurahkan banyak tenaga dan kasih kepada seorang teman atau anggota keluarga, tetapi kita tidak melihat adanya perkembangan atau tidak menerima ucapan terima kasih atas usaha kita. Bahkan mungkin orang lain yang menerima pujian atas pekerjaan yang kita lakukan.

Jika kita berharap semua orang mengakui dan menghargai hasil kerja kita bagi mereka, maka kita akan sangat ter-luka. Kita akan mulai bertanya pada diri sendiri, "Hanya inikah wujud terima kasih yang saya dapatkan?"

Di tengah kekecewaan itu, kita perlu mencermati motivasi kita. Apakah kita me-miliki pemahaman yang tidak kudus tentang pemberian hak, atau hasrat besar agar dilihat dan dipuji karena usaha kita? Dapatkah kita memberi dengan rela dan membiarkan orang lain bertanggung jawab dengan respons mereka sendiri? Dalam pelayanannya bagi Tuhan, Rasul Paulus pernah melewati masa-masa ketika semua orang meninggalkannya. Namun, perhatiannya tetap terfokus pada kekuatan yang Allah berikan kepadanya "supaya ... Injil diberitakan dengan sepenuhnya" melalui dirinya (2Timotius 4:16,17).

Kita seharusnya tidak berharap memperoleh apa yang hanya dapat diberikan oleh Yesus dari sesama kita. Berharap seperti itu hanya menunjukkan betapa tidak realistisnya kita. Tugas kita hanyalah memberi dan menyerahkan hasilnya kepada Tuan kita, karena kita tahu bahwa pada waktunya kelak kita akan menerima upah dari Dia: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia" (Matius 25:21) --DHR

16 Juli 2006

Umat-ku

Nats : [Kami] sekarang telah menjadi umat-Nya (1Petrus 2:10)
Bacaan : 1Petrus 2:1-10

Seorang gadis kecil dihukum karena berperilaku buruk. Orangtuanya kemudian menyuruh dia untuk menyantap makan malamnya seorang diri di pojok ruangan. Mereka tidak memedulikan gadis kecil itu sampai mendengar ia memanjatkan doa yang dikutip dari Mazmur 23, "Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku."

Kisah di atas memang lucu. Akan tetapi, keluarga kita sendiri memang kadang kala dapat menjadi seperti musuh tatkala perilaku mereka tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Bahkan keluarga seiman kita di gereja kadang-kadang juga dapat mengecewakan kita. Namun dengan mengubah fokus diri kita, maka kita akan dapat belajar mengesampingkan pemikiran yang naif bahwa orang lain akan senantiasa memenuhi pengharapan kita yang tinggi.

Daripada memusatkan pengharapan kepada sesama, kita dapat menemukan pengharapan di dalam kebenaran bahwa kita adalah salah seorang anak Allah dengan meletakkan iman kepada Yesus (1Petrus 2:10). Dia telah memilih kita dan menjadikan kita "umat kepunyaan Allah sendiri" (ayat 9). Tuhan telah membawa kita masuk ke dalam keluarga-Nya, dan kita dapat merasa yakin bahwa persekutuan kita dengan-Nya takkan pernah dapat diputuskan. Dia tidak akan memperlakukan kita sebagai musuh.

Ketika orang lain mengecewakan Anda, janganlah berkecil hati. Ubahlah fokus perhatian Anda dan ingatkan diri sendiri bahwa Anda yang telah mengimani Yesus adalah seorang anak Allah -- yang dihargai dan dipelihara oleh-Nya --AMC

2 Desember 2006

Tidak Adil

Nats : Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil (Ulangan 32:4)
Bacaan : Mazmur 19:8-15

Ketika menjadi pelatih basket siswi kelas satu SMA di musim gugur 2005, saya heran betapa seringnya saya mendengar ucapan, "Itu tidak adil!"

Motivasi para siswi itu tampaknya tergantung pada anggapan mereka tentang adil atau tidaknya perintah saya kepada mereka. Apabila saya meminta beberapa siswi untuk berlatih bertahan, sementara yang lain berlatih lemparan bebas, saya akan mendengar suara, "Tidak adil!" Jika saya mengizinkan satu tim menyerang lebih lama daripada tim lainnya, saya akan mendengar, "Tidak adil!"

Begitu banyak situasi hidup yang meneriakkan, "Tidak adil!" Saya melihat banyak pasangan kristiani yang bergumul untuk memiliki anak, sementara yang lain diberkati dengan memiliki anak-anak tetapi lalu melecehkan mereka. Saya melihat banyak keluarga yang semua anaknya hidup dan sehat, sementara saya tidak memiliki satu anak pun. Saya melihat teman-teman yang rindu untuk melayani Allah, tetapi terhalang oleh masalah kesehatan.

Sebab itu, saya harus kembali pada kebenaran yang mendasar. Kita ini bukan hakim yang menentukan keadilan. Allah sendirilah yang menjadi hakim, dan Dia jauh lebih mengerti daripada kita mengenai berbagai rencana dan tujuan-Nya. Ini bukan masalah keadilan. Pada akhirnya, ini mengenai kepercayaan kepada Allah yang setia, yang benar-benar tahu apa yang sedang dilakukan-Nya. "Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil" (Ulangan 32:4).

Hidup tak pernah tampak adil. Namun, jika kita memercayai Allah, kita selalu tahu bahwa Dia setia --JDB

26 Januari 2007

Ke Padang Pasir

Nats : Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau (Keluaran 15:26)
Bacaan : Keluaran 15:22-27

Setelah umat Israel menyeberangi Laut Merah dengan cara yang ajaib, mereka kemudian dituntun ke padang pasir. Sungguh aneh bahwa Allah menuntun mereka dari tempat pewahyuan dan kuasa menuju tempat kekecewaan dan kesukaran yang mengerikan!

Namun, Allah ingin menunjukkan kepada mereka bahwa hidup adalah kombinasi pengalaman pahit dan manis, menang dan kalah. Pada saat umat Israel tiba di Mara, mereka bersungut-sungut karena airnya pahit (Keluaran 15:23). Setelah Musa menengahi (ayat 25), Allah mengingatkan mereka untuk melakukan perintah-perintah-Nya (ayat 26). Lalu Dia membawa mereka ke Elim yang penuh kelimpahan dan menyegarkan (ayat 27).

Tuhan ingin mengajarkan kepada mereka bahwa setiap pengalaman sepanjang perjalanan itu mengungkapkan isi hati mereka. Ujian ini menunjukkan bahwa ternyata mereka hidup dengan mengandalkan penglihatan, bukan iman.

Mereka juga belajar bahwa Allah sebenarnya terlibat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dia ingin mereka tahu bahwa Dia tak hanya dapat membelah laut, tetapi Dia juga akan menyediakan air bagi umat-Nya. Dia mengetahui kebutuhan mereka karena Dia yang merancang jalan mereka.

Jika Anda saat ini sedang dituntun menuju gurun kekecewaan dan kepahitan, percayalah kepada Allah, karena Dia tahu pasti di mana Anda berada saat ini dan apa yang sedang Anda butuhkan. Apabila Anda menaati perintah-Nya, Dia akan menuntun Anda keluar dari gurun itu ke tempat kelimpahan rohani, kesembuhan, dan kesegaran --MW

5 Maret 2007

Kegalauan Batin

Nats : Aku ... mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan (1Sam. 1:15)
Bacaan : 1 Samuel 1:9-18

Kadang kala saya merasa seperti berada dalam hubungan yang buruk -- dengan diri sendiri! Setiap kali Julie sang penulis memulai sebuah paragraf, Julie sang editor menyela. "Jangan, jangan, jangan begitu. Jangan mengatakan dengan cara seperti itu. Mengapa kau selalu bernada sangat negatif?" Atau "Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau memiliki hal yang berharga untuk dikatakan?"

Sebelum menyelesaikan sebuah pemikiran, pribadi saya yang lain mengoyak-ngoyak. Ini merupakan ritual yang sangat melemahkan. Hal ini juga kondisi yang umum terjadi pada manusia.

Setan senang mengacaukan pikiran kita dengan kritik, dan ia berusaha agar kita melontarkan kritik itu kepada orang lain dan diri sendiri. Kita terlalu dini menghakimi orang lain dan berusaha mengoreksi orang lain sebelum mengetahui apa yang akan mereka katakan. Itulah yang dilakukan Imam Eli ketika Hana berseru kepada Allah. Ia menyela doa Hana dan menuduhnya mabuk (1Sam. 1:12-14).

Namun, Allah mengizinkan kita mencurahkan isi hati secara jujur kepada-Nya (Mzm. 62:9). Bahkan, mazmur itu menunjukkan bahwa saat kita mengungkapkan keraguan dan rasa takut itulah Allah memulihkan kita. Banyak Mazmur yang diawali dengan keputusasaan dan diakhiri dengan pujian (22, 42, 60, 69, 73).

Ketika terjadi perang batin, curahkanlah isi hati Anda di hadapan Tuhan (1Sam. 1:15). Dia akan membuat hal yang tampaknya bodoh menjadi masuk akal --JAL

Bila kekacauan mengguncang jiwa
Dan hari seakan berat menimpa,
Kubuka hati dan merasakan
Damai Tuhan menenangkan pikiran. --Hess

13 April 2007

Merayakan Kekecewaan

Nats : Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari (Mazmur 30:12)
Bacaan : Mazmur 30

Setelah menerima Piala Oscar yang kedua, Denzel Washington berkata kepada keluarganya, "Seperti yang sudah saya katakan, jika saya kalah malam ini, saya akan pulang dan kita akan berpesta. Dan, jika saya menang malam ini, saya akan pulang dan kita akan berpesta." Denzel, yang merupakan seorang kristiani, percaya kepada Allah, baik dalam kesuksesan maupun kekecewaan.

Pasangan suami istri kristiani yang saya kenal termotivasi untuk mengikuti teladan Denzel. Sang istri melamar sebuah jabatan impian yang baru saja dibuka di tempat kerjanya. Wawancaranya berjalan baik, tetapi ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan mendapatkan posisi itu. Suaminya menyarankan, "Mari kita memesan tempat di restoran favorit kita hari Jumat ini untuk merayakan, apa pun hasilnya."

Tak lama kemudian datanglah berita bahwa orang lainlah yang mendapatkan jabatan itu. Namun pada hari Jumat, pasangan suami istri yang kecewa itu tetap merayakannya. Sambil menikmati makanan yang lezat, mereka menghitung berkat-berkat mereka dan memperbarui iman mereka di dalam Allah yang memegang peluang-peluang masa depan di tangan-Nya.

Saat sang pemazmur menghitung berkatnya, ia diangkat dari keputusasaannya dan memuji Allah, katanya, "Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari" (Mazmur 30:12).

Apakah Anda sedang menghadapi situasi yang membuat Anda kecewa? Mengapa Anda tidak mengadakan sebuah perayaan untuk menghitung berkat-berkat Anda, apa pun hasilnya? --HDF


Bersyukurlah kepada-Nya dalam kekecewaanmu,
Masyhurkanlah karunia dan kasih-Nya;
Ingatlah Dia tak pernah meninggalkanmu
Dia akan memberkatimu dari surga. --D. De Haan

8 Januari 2008

Peluang

Nats : Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat (Efesus 5:15,16)
Bacaan : Efesus 5:1-20

Pemilik Genting Resort di Malaysia, mengawali usahanya sebagai pedagang eceran atau kaki lima. Berkat kerja keras dan kejeliannya melihat peluang, serta kepandaiannya memanfaatkan peluang itu dengan tepat, maka usahanya berkembang pesat hingga ke mancanegara. Orang-orang menyanjungnya dengan sebutan si tangan dingin, the man with golden arms, orang berhoki tebal. Orang mengatakan bahwa tembaga yang digenggamnya akan berubah menjadi emas. Namun, atas segala pujian itu ia menjawab singkat, "Sekalipun kita dilempari batangan emas dari langit, kalau kita tidak memungutnya, maka emas itu tidak akan kita miliki."

Ada tiga tipe orang berkenaan dengan peluang atau kesempatan dalam hidup ini. Pertama, orang yang tidak menyadari bahwa ada peluang baginya. Kedua, orang yang mengetahui adanya peluang, tetapi tidak mampu memanfaatkannya; mungkin karena ia takut mengambil risiko atau malas baik secara fisik maupun intelektual. Ketiga, orang yang bukan saja jeli melihat peluang yang baik, melainkan juga berani mengambil risiko untuk memanfaatkan serta mengembangkannya. Bahkan, orang tipe ini mampu menciptakan peluang, atau dari menggarap satu peluang, ia menciptakan peluang-peluang baru, baik bagi dirinya atau orang lain.

Bagaimana dengan kita? Sesungguhnya, Tuhan selalu menyediakan peluang untuk kita meningkatkan kehidupan, asal kita mau berusaha mengerti kehendak-Nya dan berupaya menjadi seperti yang Dia kehendaki. Untuk itu, seperti Rasul Paulus katakan, marilah kita hidup bijak dan saksama. Jangan hidup seperti orang bebal --NDA

25 Januari 2008

Dipercaya

Nats : ... dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit.... Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka (Lukas 8:2,3)
Bacaan : Lukas 7:36-38, 47-8:3

Abraham Lincoln, mantan presiden AS, mempunyai seorang lawan politik bernama Stanton. Semasa kampanye, orang ini selalu menjelek-jelekkannya; menjulukinya "badut licik murahan", bahkan "gorila". Namun Lincoln tak membalas, bahkan ketika terpilih menjadi presiden, ia mengangkat Stanton sebagai sekretaris negara! "Karena dialah orang yang terbaik," katanya. Dan benar, sejarah mencatat bahwa Stanton adalah sekretaris negara yang sangat loyal. Saat Lincoln meninggal, Stanton memandang jenazahnya di peti mati dengan cucuran air mata. "Di peti mati ini terbaring seorang pemimpin terhebat yang pernah saya kenal," katanya. Lincoln hebat, sebab ia berani mengampuni dan memercayai orang yang pernah menyakiti hatinya.

Tuhan Yesus pun terkenal suka mengampuni dan memberi kesempatan baru bagi pendosa. Dalam Lukas 7 diceritakan bagaimana Dia mengampuni perempuan berdosa yang dianggap sampah masyarakat. Tidak hanya itu. Ia diberi kesempatan untuk melayani bersama rombongan Yesus (8:1-3). Dipercaya. Di kelompok itu ada juga perempuan yang sudah disembuhkan dari roh-roh jahat, serta istri pejabat (bendahara Herodes) yang masa lalunya kelam. Ditinjau dari track record-nya, mereka bukan kandidat unggulan. Namun, Yesus memandang mereka dengan kacamata positif. Jika seseorang diampuni dan dipercaya, pasti ia berubah menjadi lebih baik.

Apakah Anda memiliki kacamata positif dalam memandang orang lain? Jika seseorang pernah melukai hati, bahkan mengkhianati Anda, dapatkah Anda memberinya kesempatan? Memercayainya sekali lagi? --JTI

5 Juni 2008

Kambing Hitam

Nats : Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibrani 4:13)
Bacaan : Kejadian 3:1-21

Sebuah cerita humor. Suatu hari Iblis bertemu Tuhan. "Tuhan, manusia itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang disalahkan. Kata mereka, digoda Iblis," keluhnya. "Sama, Aku juga begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami istri bercerai, mereka bilang, sudah kehendak Tuhan," kata Tuhan pula.

Begitulah kecenderungan manusia; lari dari tanggung jawab, senang mencari kambing hitam, melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Itu juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah "terlarang" itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa (ayat 12). Hawa pun tidak terima, sehingga ia juga melemparkan kesalahannya kepada ular (ayat 13).

Tentu saja ini kecenderungan buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bukan saja berarti kita telah melipatgandakan dosa kita, tetapi kita juga jadi tidak belajar dari kesalahan. Lagipula, betapa pun cerdiknya kita bersembunyi dari dosa, kita tidak bisa lari dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari akibat dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap dosa kita di hadapan Tuhan.

Dosa, kalau dibiarkan akan "menggelinding" melahirkan dosa-dosa lainnya. Tidak ada jalan lain, kita harus memutus mata rantai dosa; dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Untuk sesaat mungkin kita akan "sakit" menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada kita harus menanggung akibat yang berkepanjangan —AYA

22 Juni 2008

Menghibur yang Berduka

Nats : Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)
Bacaan : 2 Korintus 1:3-7

Setiap orang pasti pernah berduka. Sebabnya bisa macam-macam; dari kehilangan hingga kerugian, dari tersakiti hingga terabaikan. Ketika susah, hati kita pedih dan perih. Realitas hidup terasa suram. Dalam kondisi demikian, bagaimana kita dapat berbahagia, seperti sabda Tuhan? Hari ini firman Tuhan ditujukan bagi Anda yang sedang berduka, juga bagi Anda yang hendak menolong orang berduka.

Ucapan Bahagia Yesus ini ditujukan kepada orang banyak, yang umumnya adalah rakyat jelata. Mereka berasal dari dalam juga luar negeri Israel (ada yang datang dari Dekapolis dan seberang Yordan), dan banyak di antara mereka pernah sakit fisik serta jiwa. Mereka adalah orang kebanyakan, orang-orang di akar rumput, yang disebut okhlos dalam bahasa Yunani. Bukan orang berpangkat hebat atau berkedudukan sosial mantap. Yesus berkata kepada mereka, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur ." Betapa melegakan sabda ini! Pertama, Yesus mengemukakan kenyataan yang indah kepada mereka. Kedua, Yesus mengajar mereka untuk tidak digilas kedukaan. Kedukaan memang menyedihkan dan menyesakkan, namun ia tidak abadi. Setelah kedukaan, realitas akan berganti lewat penghiburan, yang dapat diwujudkan dalam tindakan cinta kasih. Ya, orang yang berduka adalah sasaran cinta kasih, demikian pesan Yesus. Dan inilah kuncinya bagaimana mereka yang berdukacita dapat berbahagia.

Hari ini, maukah kita menjadi saluran cinta kasih Tuhan bagi mereka yang menderita? Pergilah, lawatlah teman Anda yang sedang susah. Hadirkan hati Anda bagi mereka, agar mereka terhibur oleh cinta kasih Tuhan —DKL

5 Agustus 2008

Senjata Rohani

Nats : Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan (Lukas 22:46)
Bacaan : Keluaran 17:8-16

Dengan garang, si banteng menyerudukkain merah di tangan matador. Setelah berulang kali ia pun kelelahan, sebab tiap kali mendekati kain merah, si matador mengibaskannya. Ia tak sadar kain merah itu bukan lawan yang sebenarnya.

Peperangan Israel melawan Amalek bukan sekadar perang fisik antara dua kekuatan militer. Amalek hanya alat-semacam "kain merah" yang dikibaskan oleh kekuatan yang ingin menghambat rencana Allah bagi masa depan Israel. Itu sebabnya Musa sebagai pemimpin Israel perlu memimpin bangsanya menghadapi perang tersebut secara tepat. Caranya? Dengan "mengangkat tangan", yakni terus berdoa, seperti lazimnya umat Israel berdoa dengan menadahkan tangan (Ezra 9:5; 1 Timotius 2:8) sampai kemenangan mereka raih. Doa yang tak henti, karena tidak dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama-sebagaimana Musa berdoa bersama Harun dan Hur-besar sekali kuasanya. Sebab Tuhan-lah yang berperang melawan "si musuh sejati".

Hidup kita serupa pertempuran. Banyak musuh menyerbu; desakan nafsu, situasi pelik, orang sulit di pekerjaan, pengusik ketenangan rumah tangga, penjegal karier, pesaing yang curang, pengacau, dan pemfitnah di gereja. Menghadapi hal-hal ini dengan kekuatan fisik hanya akan membuat kita lelah dan kalah. Apalagi jika kita pun terkecoh untuk membalas dengan cara serupa. Kita mesti sadar bahwa mereka hanya "kain merah", bukan "si matador" yang mengibarkannya. Jadi, hadapilah dengan doa. Angkatlah tangan, tetaplah berdoa! Jika Anda menjadi lelah, mintalah saudara seiman untuk turut menopang dan berdoa bersama kita. Andalkan kekuatan Allah dalam melawan "sang matador", si penguasa kegelapan -PAD

16 September 2008

Kristen Bola

Nats : Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa (2Korintus 4:8,9)
Bacaan : 2Korintus 4:1-15

Sepulang sekolah, Kathleen, putri saya, suka bermain bola di rumah. Anak usia empat tahun itu sangat suka memantul-mantulkan bola kesayangannya ke lantai. Suatu saat ia berkata, "Pa, Kathleen suka dengan bola ini. Tiap kali Kathleen membanting bola ini, ia malah melambung tinggi. Lucunya, semakin keras dibanting, ia malah melambung makin tinggi ya, Pa."

Paulus adalah seorang rasul yang berterus terang tentang realitas kehidupan dan pelayanan yang tengah dilakukannya. Sejak menyerahkan diri untuk melayani Tuhan, masalah justru seakan-akan enggan meninggalkannya. Ketika melayani jemaat di Korintus, ia pun tidak bebas dari masalah. Jemaat Korintus terkenal dengan reputasinya yang buruk. Banyak hal yang terjadi dalam jemaat ini, telah menyakitkan hati Allah dan Paulus. Misalnya perpecahan, juga tindakan tidak bermoral. Secara logika, sangat masuk akal bila Paulus mempertanyakan penyertaan Tuhan atas hidupnya, memprotes, atau bahkan mengambek. Namun, Paulus tidak melakukannya. Ia tetap setia memegang komitmen pelayanannya.

Inilah inti "karakter pelayanan kristiani" sejati yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan; di mana pun dan dalam peran apa pun. "Ditindas namun tidak terjepit ... habis akal namun tidak putus asa ... dianiaya namun tidak ditinggalkan sendiri ... dihempaskan namun tidak binasa" (ayat 8,9). Saya menyebutnya "Kristen bola", yang tak menjadi "kempes" walaupun "dibanting" dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Apa rahasianya? "Kami senantiasa membawa kematian Yesus dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus nyata dalam tubuh kami" (ayat 10) -MZ



TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA