Topik : Kerendahan Hati/Kebanggaan Diri

1 Desember 2002

Manfaat Perjamuan Kudus

Nats : Hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu (1Korintus 11:28)
Bacaan : 1Korintus 11:17-34

Perjamuan Tuhan. Perjamuan Kudus. Apa pun sebutannya, tak ada ibadah lain yang sekhidmat dan sepenting Perjamuan Kudus.

Kita bisa saja mengikuti Perjamuan tanpa memusatkan pikiran kepada Allah. Namun dengan begitu, Perjamuan Kudus akan menjadi semacam ritual yang penuh aksi tapi tanpa makna. Jika kita membiarkannya, kita akan kehilangan kesempatan untuk bersyukur dan bersekutu. Selain itu, kita juga kehilangan berkat yang semestinya kita terima saat kita melakukan introspeksi diri yang sungguh-sungguh terhadap kondisi rohani kita (1 Korintus 11:28).

Pada suatu Minggu pagi, saya merasa agak jengkel dengan istri saya. Alasan detailnya tidak perlu saya utarakan di sini, tetapi yang jelas karena kesalahan sayalah maka pagi itu kami tidak merasakan indahnya hidup sebagai pasangan suami-istri. Sementara saya pergi ke gereja bersama anak-anak, Sue bertugas di panti wreda, tempat ia bekerja dengan amat rajin. Saat roti dan anggur perjamuan dibagikan, saya sadar bahwa saya harus minta maaf kepadanya. Sikap buruk saya telah melukai hatinya, sekaligus mengganggu hubungan saya dengan Tuhan (Matius 5:23,24). Maka seusai kebaktian saya mampir ke tempat kerjanya dan meminta maaf kepadanya.

Perjamuan Kudus adalah saat yang khidmat untuk mengintrospeksi diri di hadapan Allah, serta mengingatkan tangggung jawab kita untuk memeriksa sikap hati kita. Perjamuan Kudus juga membantu kita untuk memperbaiki kesalahan kita di masa lalu. Pastikan diri Anda memperoleh manfaat dari Perjamuan Kudus –Dave Branon

12 Januari 2003

Memangkas Habis

Nats : Aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan (Roma 12:3)
Bacaan : Yakobus 4:1-12

Seorang pria yang terpilih dalam Parlemen Inggris memboyong seluruh keluarganya ke London. Ia merasa bangga sewaktu menceritakan tentang pekerjaan barunya dan membawa mereka berkeliling kota. Tatkala melewati Westminster Abbey, putrinya yang berusia 8 tahun terpesona dengan besarnya bangunan yang indah itu. Lalu sang ayah yang tengah berbangga diri itu bertanya, "Sayang, apa yang sedang kaupikirkan?" Putrinya menyahut, "Ayah, sebelumnya aku berpikir betapa besarnya Ayah di dalam rumah kita, tetapi ternyata kini aku melihat betapa kecilnya Ayah di sini!"

Tanpa disadari, gadis kecil ini telah mengatakan sesuatu yang perlu didengar sang ayah. Kesombongan dapat menyusup dengan begitu mudah dalam hidup kita, dan hal terbaik yang dapat dilakukan adalah "memangkas habis" sifat itu. Sebagai manusia kita perlu selalu diingatkan untuk tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan (Roma 12:3). Memang mudah bagi kita untuk memegahkan diri tatkala berada dalam lingkungan hidup yang kecil. Namun tatkala kita masuk dalam situasi yang lebih besar, dengan tuntutan, tekanan, dan persaingan yang bertambah, kita akan sadar bahwa "ikan besar di kolam yang kecil" itu dengan cepat menjadi ikan kecil di tengah samudra yang besar.

Yakobus berkata, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (4:6). Maka dari itu, marilah kita memohon pertolongan Tuhan untuk melihat diri kita yang sesungguhnya. Dengan pertolongan-Nya, kita akan belajar membuang kecongkakan yang bodoh --Richard De Haan

3 Mei 2003

Bahagia Selamanya?

Nats : Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, ... tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi (1Petrus 3:3,4)
Bacaan : 1Petrus 3:1-12

Selain dalam banyak cerita dongeng, tak pernah ada jaminan bahwa pasangan yang menikah akan hidup bahagia selamanya. Selalu ada saja masalah yang muncul, bahkan kadang begitu rumit. Meskipun kita berusaha membentuk keluarga yang bahagia, kita bisa saja terperangkap dalam rumah tangga yang penuh dendam, permusuhan, pertikaian, dan penderitaan. Tak ada kesedihan yang lebih dalam dibanding kesedihan yang diakibatkan oleh pernikahan yang tidak bahagia.

Namun, pernikahan yang sulit dapat menjadi tempat di mana Allah menggarap "manusia batiniah yang tersembunyi" (1Petrus 3:4). Daripada hanya memfokuskan diri pada kesalahan pasangan, kita seharusnya membuka hati bagi Tuhan dan memohon agar Dia melawan kejahatan dalam hati kita. Secara bertahap, Dia akan bekerja dengan lembut dan murah hati. Dengan begitu, kita akan mulai melihat diri kita yang sebenarnya. Ternyata kita bukan orang yang penuh pertimbangan, sabar, sopan, ramah, murah hati, dan penuh penguasaan diri seperti yang kita bayangkan. Kita menjadi sadar betapa kita membutuhkan pengampunan Juruselamat dan pertolongan Roh Kudus untuk melakukan apa yang benar dan penuh kasih (ayat 1-12), bahkan ketika kita disalahkan.

Pertumbuhan kita dalam kasih karunia bisa mengubah pasangan kita, bisa juga tidak. Tak ada jaminan apa pun dalam hidup ini selain kasih Allah. Namun, dengan pertolongan-Nya, kita bisa berubah. Meskipun mungkin tidak semua luka dalam pernikahan kita dapat disembuhkan, kasih karunia Allah pasti mampu memulihkan kita --David Roper

11 Juni 2003

Masalah Harga Diri

Nats : Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu (1Yohanes 2:15)
Bacaan : 1Yohanes 2:15-17

Saya sedang menghadiri sebuah konferensi untuk membawakan seminar.

Di sana ada pula para pembicara yang lain, termasuk seorang pemimpin kristiani terkenal, yang waktu seminarnya bersamaan dengan saya. Saat pemimpin konferensi mengumumkan pertemuan tersebut, ia mengajak sebanyak mungkin orang untuk menghadiri seminar yang dibawakan pembicara terkenal tersebut, dan berkata, "Kehadirannya di sini merupakan kehormatan bagi kita."

Saya berpikir, Saya mungkin meng-habiskan waktu yang sama dengannya untuk mempersiapkan presentasi ini. Saya harus meninggalkan keluarga saya supaya bisa berada di sini. Dan sekarang direktur konferensi mengajak semua orang untuk menghadiri seminar yang lain? Apa-apaan ini?

Saya merasa terhina, sakit hati, dan marah. Sementara saya berjalan menuju ruangan untuk memulai seminar saya, Roh Kudus menyadarkan saya bahwa saya telah memberikan reaksi dengan kesombongan dan iri hati. Dia pun mengingatkan saya bahwa Dia akan mengarahkan semua orang yang Dia inginkan untuk hadir di sana. Saat itulah saya meminta Tuhan mengampuni sikap iri hati dan mementingkan diri sendiri yang ada dalam hati saya (Yakobus 3:14).

Kadang kala kita mengalami kemunduran rohani karena memiliki pemikiran yang tidak benar. Kita terjebak dalam keangkuhan dunia dan pemusatan diri (1Yohanes 2:16). Saat hal ini terjadi, kita memiliki tugas rohani penting yang harus dilakukan. Kita harus bertobat, mengakui kesombongan kita kepada Allah, dan memohon ampunan-Nya --Dave Egner

9 September 2003

Hidup dengan Anugerah

Nats : Rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1Petrus 5:5)
Bacaan : 1Petrus 5:5-11

Kevin Rogers, seorang pendeta gereja di Kanada, telah mengumpamakan anugerah Allah sebagai sekretaris khayalan yang memaksanya untuk memperlakukan orang lain seperti yang Allah lakukan. Rogers menulis, "Grace (dalam bahasa Indonesia: Anugerah) adalah sekretaris saya, tetapi ia membuat saya tidak dapat memenuhi jadwal harian saya sendiri. Ia membiarkan orang asing masuk ruang kerja saya untuk mengusik pekerjaan saya. Entah bagaimana, ia membiarkan semua panggilan telepon tersambung ke saya, padahal saya lebih suka menerimanya pada waktu yang lebih tepat. Tidakkah ia tahu bahwa saya punya jadwal acara? Terkadang saya berharap sekretaris saya itu tidak berada di sini. Akan tetapi, ia punya cara yang menakjubkan dalam menutupi kesalahan saya dan mengubah kantor saya menjadi tempat yang kudus. Ia menemukan kebaikan dalam segala sesuatu, bahkan dalam kegagalan."

Oleh anugerah Allah, kasih dan kebaikan hati-Nya yang tak terbatas, kita telah diampuni di dalam Kristus. Allah berfirman, daripada menjalin relasi dengan sikap meninggikan diri, lebih baik kita mengutamakan orang lain daripada diri kita sendiri. Kita harus mengenakan pakaian kerendahan hati karena Dia "menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (1 Petrus 5:5).

Ketika "Allah sumber segala kasih karunia" (ayat 10) mengontrol hidup kita, Dia mampu mengubah gangguan jadi kesempatan, kesalahan jadi keberhasilan, kesombongan jadi kerendahan hati, dan kesengsaraan menjadi kekuatan. Itulah kuasa Allah yang menakjubkan. Itulah bukti anugerah-Nya! --David McCasland

29 Desember 2003

Mencari Kebahagiaan

Nats : Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Matius 5:3)
Bacaan : Matius 5:1-10

Setiap orang mencari kebahagiaan, dan orang menempuh banyak jalan untuk mencoba menemukannya. Mereka mencarinya melalui uang, pesta pora, program pengembangan diri, mobil bagus, rumah mewah, atau pencapaian suatu tujuan.

Itu adalah daftar yang salah. Daftar yang benar dapat dijumpai dalam Matius 5. Yesus mengajar kita bahwa kebahagiaan yang terdalam dan tak pernah habis, diperoleh karena mempunyai hubungan baik dengan Allah. Dia berkata bahwa kita diberkati, atau berbahagia, ketika kita:

o Miskin di hadapan Allah -- mengenali kebutuhan yang mendalam akan Allah.

o Berdukacita -- menyadari keburukan dosa dan benar-benar bertobat karenanya.

o Lemah lembut -- menunjukkan pengendalian diri, bahkan apabila kita diperlakukan tidak adil.

o Lapar dan haus akan kebenaran -- rindu untuk menjadi kudus dan murni.

o Murah hati -- menunjukkan kemurahan kepada orang lain, sama seperti Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya kepada kita.

o Suci hatinya -- berlaku setia dan sungguh-sungguh dalam penyembahan kita kepada Kristus.

o Pembawa damai -- membagikan kedamaian yang ditawarkan oleh Kristus, dan mengusahakan damai dengan orang lain.

o Dianiaya -- rela menderita demi Kristus.

Anda sedang mencari kebahagiaan? Ikutilah cara Yesus --Dave Branon

8 Februari 2004

Tinggi Hati

Nats : Dan selama ia mencari Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil (2Tawarikh 26:5)
Bacaan : 2 Tawarikh 26

Sungguh menyedihkan menyaksikan seseorang yang memulai kehidupannya dengan baik, tetapi kemudian hidupnya berakhir dengan tragis. Seperti itulah kisah hidup Uzia. Uzia diangkat sebagai raja pada usia yang masih sangat muda, yaitu 16 tahun. Meskipun masih muda, tetapi dapat kita baca bahwa Uzia "melakukan apa yang benar di mata Tuhan .... Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil" (2Tawarikh 26:4,5).

Kemasyhuran Uzia tersebar luas dan kekuatan pasukannya bertambah besar (ayat 8). Ia memiliki 2.600 kepala prajurit dan 307.500 balatentara yang membantunya mengalahkan musuh (ayat 12,13).

Namun tragisnya, setelah itu kita membaca, "Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak" (ayat 16). Uzia tidak ingat lagi akan Dia yang telah menganugerahkan keberhasilan dan orang-orang yang telah memberikan bimbingan ilahi. Ia berdosa kepada Tuhan ketika membakar kemenyan di bait Tuhan, karena itulah Allah menimpakan penyakit kusta kepadanya (ayat 16-19). Raja Uzia "sakit kusta sampai kepada hari matinya" (ayat 21).

Agar dapat menyelesaikan hidup ini dengan baik, kita harus menghindari sikap "tinggi hati". Jadikanlah Amsal 16:18 sebagai peringatan bagi kita, "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." Marilah kita senantiasa mencari Tuhan, menaati-Nya, dan bersyukur atas semua yang telah dilakukan-Nya --Albert Lee

8 Maret 2004

Terlalu Berambisi

Nats : Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45)
Bacaan : Markus 10:35-45

Jika Anda mengenal karya-karya William Shakespeare, Anda pasti mengenal Macbeth sebagai salah satu tokoh dalam karyanya. Macbeth begitu ingin menjadi raja sehingga ia melakukan pembunuhan, dan ia harus membayar perbuatannya itu dengan nyawanya.

Kita akan menjadi seperti tokoh yang tragis itu jika kita membiarkan ambisi memenuhi pikiran, sehingga akhirnya melupakan siapa yang sebenarnya mengendalikan kehidupan kita. Kita mungkin tidak mempergunakan cara-cara yang jahat untuk mencapai tujuan, tetapi kita membiarkan ambisi menutupi pikiran kita mengenai kedaulatan Allah. Bukannya menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya, kita malah menyelesaikannya sendiri.

Contoh lain dari ambisi yang berlebihan ditemukan dalam percakapan antara Yakobus dan Yohanes dengan Yesus di dalam Markus 10. Mereka bertujuan untuk menduduki posisi yang memiliki kehormatan dan kekuasaan tertinggi di Kerajaan Surga. Dan karena tidak sabar untuk menunggu dan melihat apakah Yesus akan menganugerahkan kehormatan itu kepada mereka, maka mereka dengan berani memintanya. Mereka begitu tidak sabar untuk menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya.

Ambisi memang tidak selalu salah. Namun ketika ambisi begitu memenuhi pikiran sehingga kita tidak sabar menunggu Allah, maka kita menunjukkan kurangnya iman seperti yang dilakukan para murid itu.

Apabila kita menyerahkan semua tujuan dan keinginan kita kepada Tuhan, kita dapat yakin bahwa Dia akan memberikan yang terbaik bagi kita —Dave Branon

7 Mei 2004

Pelajaran yang Menyadarkan

Nats : Aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil (Daniel 4:37)
Bacaan : Daniel 4:28-34

Seorang pria muda yang kasar dan kuat sering berjalan dengan angkuh mengelilingi kota sambil membual bahwa ia dapat berjalan bertelanjang kaki di atas pagar kawat berduri sambil mengepit kucing liar dengan kedua lengannya. Begitulah kisah dalam Iron County Miner. Namun, si pembual akhirnya memperoleh pelajaran yang menyadarkan ketika menikahi seorang wanita mungil yang tegas, yang menugaskannya mencuci piring dua kali sehari.

Sebuah pelajaran yang menyadarkan juga dialami seorang sersan peleton ketika membangunkan seorang tentara baru setelah melewati malam pertama di asrama tentara. “Bangun! Sudah setengah lima!” seru sang sersan. “Setengah lima!” keluh si tentara baru. “Kembalilah tidur, Kawan. Besok kita akan menghadapi hari yang melelahkan!”

Kita semua cenderung hidup di dalam mimpi sampai seseorang atau sesuatu menghadapkan kita pada dunia nyata. Bagi Nebukadnezar, raja Babylon kuno, pelajaran yang diterimanya cukup serius. Sebelum bertemu dengan Allah, ia berpikir bahwa ia memiliki kehidupan yang baik. Namun tiba-tiba ia mendapati dirinya merangkak di atas tangan dan kakinya, dan memakan rumput seperti binatang (Daniel 4:33). Setelah tujuh tahun lamanya (ayat 32), ia mengerti bahwa di dunia nyata setiap orang harus tunduk pada otoritas, bahwa hidup setiap orang berada dalam waktu Allah, dan semua yang kita miliki adalah karunia dari tangan-Nya yang murah hati.

Bapa, bangunkan kami hari ini. Buat kami menyadari arti hidup di bawah hikmat dan kuasa-Mu yang penuh kasih —Mart De Haan

12 Mei 2004

Berlari Bagi Orang Lain

Nats : … dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah ... seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri (Filipi 2:3)
Bacaan : Filipi 2:1-11

Tom Knapp tidak pernah memenangkan sebuah pertandingan pun di sepanjang karier berlarinya di Sekolah Menengah Umum. Tom adalah seorang “pemacu”. Tugasnya adalah menentukan kecepatan lari untuk diikuti anggota timnya, yang kemudian akan mendahuluinya ke garis akhir. Ketika ia dapat berlari dengan kencang, ia memampukan rekan timnya untuk menang. Walaupun Tom tidak pernah memiliki tenaga cadangan yang cukup untuk menyelesaikan pertandingan dan menang, sang pelatih menganggapnya sebagai anggota tim yang berharga.

Kitab Perjanjian Baru pun memerintahkan kita untuk berlari di dalam pertandingan iman dengan memikirkan keberhasilan orang lain. Kita diharapkan “…tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:3,4). Teladan kita untuk hidup seperti itu adalah Yesus Kristus, yang meninggalkan kemuliaan surga untuk menjadi manusia sama seperti kita, dan mati di kayu salib sehingga kita dapat beroleh hidup kekal (ayat 5-8).

Jika dorongan keteladanan kita dapat membantu orang lain untuk bertumbuh dan berhasil, kita seharusnya bersukacita. Saat hadiah kekal diberikan atas pelayanan yang setia kepada Allah, maka banyak “pemacu” akan mendapatkan penghargaan khusus. Hingga saat itu tiba, marilah terus berlari sehingga orang lain dapat menang —David McCasland

23 Juli 2004

Mati Setiap Hari

Nats : Dalam segala hal kami ditindas .... Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami (2 Korintus 4:8,10)
Bacaan : 2 Korintus 4:7-12

Apakah Anda berada dalam situasi di mana Anda sering disalahpahami karena iman Anda di dalam Kristus? Apakah Anda dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki jiwa suka mencela dan mengkritik? Apakah pekerjaan yang Anda lakukan di gereja Anda atau untuk keluarga Anda kurang atau sama sekali tidak dihargai?

Reaksi yang tepat untuk itu adalah bersedia memiliki roh yang rendah hati dan penyerahan diri -- untuk mati seperti yang Yesus lakukan di sepanjang hidup-Nya. Ya, Tuhan kita mati satu kali di atas kayu salib; tetapi dalam pengertian lain, Dia pun mati setiap hari. Salib menjadi puncak dari seluruh kematian seumur hidup. Dia bersedia disalahpahami dan difitnah, mengorbankan tempat tinggal dan kenyamanan, untuk mengambil peran sebagai seorang hamba. Itu adalah “kematian” yang harus dialami-Nya. Kita harus bersedia untuk mati seperti itu juga.

Ketika kita mati bersama-Nya, karunia Allah kepada kita adalah “kehidupan Yesus” (2 Korintus 4:10), hidup paling menarik yang pernah ada. Keindahannya perlahan-lahan akan tumbuh dalam diri kita dan menjadi keindahan kita juga.

Ingatlah peribahasa ini: “Sebuah gambar bernilai seribu kata”. Kerendahan hati dan ketenangan yang melukiskan tentang Yesus dalam menghadapi kesalahpahaman yang menyedihkan nilainya sebanding dengan ribuan kata-kata. Sebagian orang boleh melihat hidup Yesus yang terungkap dalam diri Anda dan rindu untuk masuk ke dalam hidup itu. Begitulah, mati setiap hari dapat membantu membawa hidup kepada orang lain —David Roper

21 September 2004

Diturunkan

Nats : Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya (1Petrus 5:6)
Bacaan : Filipi 2:5-11

Seorang penulis bidang olahraga menggambarkan mantan pemain bisbol liga utama sekaligus manajer, Don Baylor, sebagai seorang yang selalu mengingat bagaimana rasanya "diturunkan" ke liga minor. Apabila salah satu pemainnya harus mengalami penurunan posisi, ia selalu akan menemuinya untuk menjelaskan tentang keputusan tersebut. Seorang pemilik tim berkomentar mengenai Baylor, "Ia telah mengalami banyak pelajaran hidup yang dapat ia bagikan kepada para pemain." Ada perbedaan besar apabila seorang manajer mengetahui bagaimana perasaan seorang pemainnya.

Penurunan pangkat, hak istimewa, atau tanggung jawab selalu menimbulkan perasaan rendah diri. Tetapi hal-hal ini bisa jadi merupakan bagian dari pelatihan dari Allah dalam hidup kita. Rasul Petrus berkata, "'Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.' Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:5,6).

Rasul Paulus menjelaskan bahwa Yesus adalah teladan kerendahan hati bagi kita untuk menaati Allah. Dia telah diutus turun dari surga untuk menjadi manusia. Dia adalah seorang "hamba yang setia" yang taat sampai mati di kayu salib bagi dosa-dosa kita (Filipi 2:6-8).

Kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti dari sifat dan kuasa seperti yang diteladankan oleh Kristus. Kita dapat menerima keberanian dan kekuatan dari Yesus sendiri, yang mengetahui bagaimana rasanya "diturunkan" --David McCasland

18 Juli 2005

Ide Cemerlang

Nats : Tolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar (2Tawarikh 14:11)
Bacaan : 2Tawarikh 16:1-13

Sebuah dongeng kuno dari Indonesia menceritakan tentang seekor kura-kura yang dapat terbang. Ia menggigit sebatang kayu yang dibawa oleh dua ekor angsa. Pada saat kura-kura itu mendengar orang-orang dari darat yang melihatnya berkata, Wah, cemerlang sekali ide angsa-angsa itu! harga dirinya sangat terluka sehingga ia berteriak, Itu ideku! Tentu saja ia jadi kehilangan pegangan. Harga dirinya telah menjadi kehancuran bagi dirinya.

Selama empat puluh satu tahun, Asa menjadi raja yang kuat dan rendah hati. Ia membawa kedamaian dan kemakmuran bagi kerajaan Yehuda. Dan pada tahun-tahun awal pemerintahannya, Asa menaikkan doa demikian, Ya Tuhan, selain daripada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya Tuhan, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar (2Tawarikh 14:11).

Namun pada akhir pemerintahannya, ketika pasukan kerajaan Israel bagian utara menyerangnya, Asa mencari pertolongan dari raja Siria dan bukannya dari Allah. Karena kebodohannya, pemerintahannya melemah dan bangsanya mengalami peperangan. Apa yang salah dalam hal ini? Karena bangga dengan keberhasilan masa lalu, Asa telah lupa bahwa seharusnya ia bergantung pada Tuhan, sehingga Tuhan tak lagi menunjukkan diri-Nya kuat demi kepentingan Asa (2Tawarikh 16:9).

Allah masih mencari orang-orang yang mengizinkan Dia untuk menunjukkan kekuatan-Nya dalam hidup mereka. Hidup dengan rendah hati dan bergantung pada Allah merupakan ide yang benar-benar cemerlang! AL

24 Juli 2005

Pengumpul Sampah

Nats : Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain (1Petrus 5:5)
Bacaan : 1Petrus 5:1-6

Saya pernah berkhotbah di sebuah gereja yang menunjukkan kasih dan keramahan. Hal itu merupakan suatu hak istimewa bagi saya. Di gereja tersebut, saya terkesan oleh kemauan jemaat untuk ikut menyingsingkan lengan baju dan bekerja. Pada hari Minggu ketika saya berkhotbah, ada tiga kebaktian yang sudah dijadwalkan. Para wanita dari gereja tersebut menghidangkan banyak makanan pada sela-sela setiap pertemuan bagi para tamu yang telah menempuh perjalanan jauh.

Usai makan malam, setelah kebanyakan orang sudah pulang ke rumah masing-masing, saya memerhatikan pasangan yang berpenampilan terhormat membersihkan meja dan menimbun piring kertas ke dalam tas plastik besar. Ketika saya melontarkan pujian atas perbuatan yang mereka lakukan, mereka dengan jujur berkata, Oh, kami adalah pengumpul sampah. Kami secara sukarela membersihkan gereja setiap kali setelah kebaktian. Kami menganggap ini sebagai pelayanan.

Sungguh menyenangkan mengetahui bahwa pasangan ini tidak saja bersedia melayani Tuhan, namun mereka juga dengan rendah hati melakukan sesuatu yang mungkin dianggap sebagai pekerjaan yang merendahkan martabat.

Sebagian anggota tubuh Kristus dipanggil untuk melayani di tempat yang terkemuka; yang lainnya dipanggil untuk bekerja diam-diam di balik layar. Entah apa yang diminta Allah untuk kita lakukan, mari kita berkeinginan untuk melakukannya dengan melayani satu sama lain melalui kasih, menyadari bahwa pada akhirnya kita melayani Tuhan RWD

2 Agustus 2005

Maafkan Saya

Nats : Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa (Lukas 15:21)
Bacaan : Lukas 15:11-24

Permintaan maaf yang sungguh-sungguh dapat menjadi langkah pertama menuju pengampunan. Colleen O Connor menulis dalam The Denver Post: Permintaan maaf yang berhasil dapat melarutkan amarah, rasa malu, menunjukkan rasa hormat, membangun rasa percaya, dan membantu mencegah kesalahpahaman yang lebih lanjut. Permintaan maaf yang tulus membuat orang jauh lebih mudah mengampuni.

Pengarang Barbara Engel mengatakan bahwa permintaan maaf sejati tergantung pada tiga hal: penyesalan, tanggung jawab, dan perubahan.

Dalam perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang diceritakan bahwa sang pemuda keras kepala yang pulang ke rumah setelah memboroskan harta warisannya, menghampiri bapanya dengan kerendahan hati dan perasaan bersalah, Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa (Lukas 15:21). Ia menunjukkan penyesalan atas luka yang ia timbulkan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan siap bekerja sebagai pekerja upahan (ayat 19).

Sebagai pengikut Yesus, kita diperintahkan mengampuni orang lain ketika mereka bertobat dan menyesal (Lukas 17:3,4). Selain itu di dalam roh kerendahan hati dan kasih yang sama, kita harus menolong mereka yang perlu memaafkan kita dengan mengajukan permintaan maaf yang tulus.

Permintaan maaf yang tulus tidak memaksa orang lain untuk mengampuni, namun merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Kita harus mengambil langkah pertama menuju kebebasan untuk mengampuni DCM

9 Desember 2005

Pintu Kerendahan Hati

Nats : Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada (Filipi 2:9,10)
Bacaan : Filipi 2:5-11

Selama berabad-abad, pintu masuk Gereja Kelahiran di Betlehem telah dua kali diperkecil. Tujuannya adalah agar para perampok berkuda tidak dapat menerobos masuk. Pintu itu sekarang disebut “Pintu Kerendahan Hati”, karena para pengunjung harus membungkuk untuk dapat masuk.

Saat kita beranjak tua, menekuk lutut menjadi semakin sulit dan sakit. Di dunia kesehatan, beberapa orang dengan berani menjalani operasi penggantian lutut. Untuk menghindari kerusakan sambungan yang semakin sakit selama bertahun-tahun, mereka rela menderita selama beberapa minggu.

Seperti lutut fisik kita, lutut rohani pun dapat menjadi kaku seiring dengan berjalannya waktu. Tahun-tahun yang penuh kesombongan dan keegoisan yang keras kepala membuat kita tidak fleksibel, sehingga semakin sulit dan menyakitkan bagi kita untuk merendahkan diri. Karena terbujuk oleh perasaan penting yang palsu saat orang lain tunduk kepada kita, kita tidak pernah belajar bahwa arti penting yang sejati muncul bila kita tunduk kepada Allah dan orang lain (Efesus 5:21; 1 Petrus 5:5).

Pada saat kita merayakan kelahiran Yesus, alangkah baiknya jika kita mengingat Pintu Kerendahan Hati, karena hal itu mengingatkan kita bahwa kita semua membutuhkan lutut-lutut baru, yaitu lutut yang bersedia menekuk. Kerendahan hati merupakan satu-satunya jalan untuk memasuki hadirat Allah.

Menghormati Dia yang telah membungkuk begitu rendah untuk menyertai kita, benar-benar merupakan sebuah jalan yang lebih baik -JAL

31 Maret 2006

"clocky"

Nats : Ya Tuhan, beri tahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku (Mazmur 39:5)
Bacaan : Mazmur 39

Seorang mahasiswa lulusan Massachusetts Institute of Technology telah membantu memecahkan masalah tidur terlalu lama. Gauri Nanda dari jurusan desain industri yang berusia 26 tahun, membuat "Clocky", sebuah jam alarm yang dibungkus busa dan diberi roda yang membuat jam itu dapat berlari dan bersembunyi sebelum dering alarmnya sempat dimatikan. Sebuah papan sirkuit memberi perintah pada motor-motor kecil untuk bergerak secara acak, sehingga jam itu akan berhenti di tempat yang berbeda setiap hari. Untuk mematikannya, Anda harus turun dari tempat tidur dan mencari jam itu.

Kita sering mengatakan bahwa "waktu cepat berlalu", tetapi orang bijak membuktikan bahwa "waktu itu tetap; kitalah yang berubah". Entah kita cepat bangun atau masih tidur di tempat tidur, kita akan terus dikendalikan oleh kekuatan misterius yang bernama waktu.

Setiap hari, kesadaran yang baru tentang singkatnya hidup dapat mendorong kepercayaan kita kepada Allah. Sang pemazmur menulis, "Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! .... Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! .... Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap" (Mazmur 39:5,6,8).

Apa yang perlu kita selesaikan hari ini? Mungkin kita perlu memulai tugas penting, mengerjakan hal-hal yang lazim, atau bekerja untuk memperbarui hubungan yang berarti sebelum kita tidur dan dibangunkan kembali.

Hidup itu singkat, tetapi Allah kita kuat --DCM

6 April 2006

Tertikam Karena Aku

Nats : Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita (Yesaya 53:5)
Bacaan : Yesaya 53

Seorang pria yang sangat gelisah karena dosa-dosanya bermimpi melihat Yesus tengah dicambuk dengan biadab oleh seorang prajurit. Ketika cambuk keji itu menyentuh punggung Kristus, pria itu gemetar melihat tali cambuk yang tampak mengerikan, yang meninggalkan luka menganga di tubuh-Nya yang tampak bengkak dan bersimbah darah. Saat prajurit yang memegang cambuk itu mengangkat tangannya untuk mencambuk Tuhan kembali, pria itu maju ke depan untuk menghentikannya. Saat itulah prajurit itu menoleh, dan betapa terkejutnya ia ketika menatap wajah sang prajurit yang tak lain adalah dirinya sendiri!

Ia bangun bermandikan keringat dingin. Ia tersadar betapa dosanya telah membuat Sang Juru Selamat menanggung hukuman memilukan. Tatkala merenungkan penderitaan Kristus, ia teringat firman dalam Yesaya 53:5, "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Sungguh menakjubkan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menderita dan mati untuk menebus dunia yang penuh dosa dan terhilang ini! Dia tertikam karena pemberontakan kita. "Kita sekalian sesat seperti domba," namun puji Tuhan, "Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6).

Di satu sisi, Jumat Agung merupakan saat yang terkelam dalam sejarah manusia. Namun, karena pengurbanan Yesus bagi kita, sesungguhnya salib menjadi kemenangan terbesar sepanjang sejarah! --HGB

12 April 2006

Ular Tersembunyi

Nats : Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian (Amsal 29:23)
Bacaan : 2Raja 20:12-21

Ketika saya masih kecil, keluarga kami tinggal di daerah pertanian. Pada suatu musim semi, kami berhasil membunuh tiga belas ekor ular derik dalam waktu singkat.

Membunuh ular berbisa adalah suatu hal yang mudah jika Anda tahu tempat ia berada dan sejauh mana jangkauan serangannya. Karena itulah, saya dan saudara-saudara saya tidak pernah merasa khawatir dengan ular-ular yang dapat kami lihat. Akan tetapi, kami akan sangat khawatir kalau-kalau menginjak ular berbisa yang kehadirannya tidak terlihat oleh kami.

Raja Hizkia "digigit" oleh sebuah godaan yang terselubung, bukan digoda oleh Iblis yang besar dan tampak jelas. Hal tersebut terjadi karena ia membiarkan sikap sombong dan mengandalkan diri sendiri menghancurkan kariernya. Ia seharusnya percaya kepada Tuhan yang akan memberinya perlindungan dari para musuh. Akan tetapi, ia malah mencari perlindungan melalui suatu persekutuan dengan bangsa yang menyembah berhala (2Tawarikh 32:25,31).

Sayang sekali raja yang baik itu justru menodai pemerintahannya dengan dosa ini. Kita patut waspada agar tidak membiarkan kesombongan bertakhta di hati kita sehingga kita, seperti Hizkia, menyerah terhadap tipu muslihat musuh. Mungkin kita dipersiapkan untuk melawan ajakan dosa yang tampak jelas dan dapat menodai nama kita, tetapi bisa jadi kita tidak siap menghadapi godaan kehidupan yang "cerdik".

Waspadalah terhadap "ular derik yang tersembunyi". Ular-ular seperti itu justru yang paling membahayakan! --HVL

15 Agustus 2006

Di Belakang Layar

Nats : Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30)
Bacaan : Yohanes 3:22-36

Orang-orang di seluruh dunia akan dapat segera mengenali tokoh Big Bird dan Oscar the Grouch di pertunjukan televisi untuk anak-anak, Sesame Street. Akan tetapi, Caroll Spinney bukanlah seorang selebriti yang terkenal, meskipun ia telah menghidupkan kedua tokoh tersebut dalam acara yang populer ini sejak tahun 1969. Sebagai seorang dalang yang terampil dalam permainan boneka, Spinney sudah merasa puas bekerja di belakang layar.

Saya percaya bahwa setiap pengikut Yesus harus melakukan pendekatan yang serupa dalam memperkenalkan Dia kepada dunia. Yohanes Pembaptis berkata kepada para pendengarnya: "Aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya .... Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yohanes 3:28,30). Yohanes mengakui bahwa ia bukanlah mempelai laki-laki itu, melainkan hanya sahabat-Nya (ayat 29).

Oswald Chambers mengingatkan kita: "Kebaikan dan kesucian tidak boleh digunakan untuk menarik perhatian bagi diri sendiri, tetapi harus menjadi magnet untuk menarik orang kepada Yesus Kristus. Seorang saleh yang baik dapat menjadi penghalang apabila ia tidak mengenalkan Yesus Kristus, tetapi hanya menunjukkan apa saja yang telah Kristus lakukan baginya; ia akan meninggalkan kesan-'Alangkah baiknya orang itu!'-bahwa ia bukanlah sahabat sejati Mempelai laki-laki. Aku semakin bertambah, sedangkan Dia tidak."

Yesus Sang Juru Selamat berada di atas panggung, sedangkan kita harus berada di belakang layar -DCM

3 Oktober 2006

Olahraga dan Kerendahan Hati

Nats : Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu (Efesus 4:2)
Bacaan : Efesus 4:1-3

Pada 2 Mei 2003, sekolah putri saya, Melissa, memberikan penghargaan yang besar dengan mempersembahkan lapangan atletik baru di sekolah itu untuk mengenang Melissa. Pada upacara untuk menandai pembukaan Melissa Branon Memorial Softball Field, sekolah itu membuka selubung batu peresmian untuk mengingatkan generasi selanjutnya akan seorang gadis yang mengenakan kaus bernomor 11.

Pada batu peresmian itu tertulis: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu" (Efesus 4:2)-sebuah ayat yang telah Melissa tandai di Alkitabnya.

Betapa seringnya dalam hidup ini kerendahan hati dan kelemahlembutan tidak lagi dimiliki. Sebaliknya, kesombongan dan kekasaran menandai ukuran kesuksesan. Namun, Melissa dan teman-temannya dapat bertanding dengan sukses dalam olahraga atletik tingkat sekolah menengah tanpa menunjukkan sifat-sifat tadi.

Salah seorang teman satu tim Melissa menulis tentang Melissa: "Sikapmu yang pantang mundur, maju terus, dan pantang menyerah benar-benar membangkitkan semangatku." Itulah cara Melissa dan teman satu timnya bertanding demi kemuliaan Allah, yaitu tanpa kesombongan.

Persaingan yang dikendalikan dengan benar dapat berlangsung dengan baik dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kita harus senantiasa ingat untuk tetap rendah hati dan lemah lembut dalam segala hal yang kita lakukan. Kita harus mencerminkan karakteristik kehidupan yang serupa dengan Kristus -JDB

29 Januari 2007

Perbandingan yang Benar

Nats : Mereka ... membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka! (2 Korintus 10:12)
Bacaan : 2 Korintus 10:12-18

Ketika saya masih kecil, saya harus mengenakan kacamata. Yang menarik, penglihatan saya membaik, dan mulai SMA sampai usia 40 tahun saya tidak memerlukan kacamata lagi. Pada rentang usia yang penting itu, saya memiliki penglihatan yang sangat baik. Sekarang, karena degradasi alami yang terjadi pada mata, saya kembali mengenakan kacamata untuk melihat jauh dan dekat. Tanpa kacamata, penglihatan saya kabur.

Mengenai "penglihatan rohani" kita, Paulus berkata, "Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka" (1 Korintus 13:12). Kata samar-samar (enigma dalam bahasa Yunani) mengandung arti bahwa sebagus apa pun penglihatan rohani kita dalam kehidupan duniawi sekarang, tetaplah tidak sempurna.

Zaman dahulu, orang tidak memiliki cermin yang jelas seperti zaman sekarang. Sebagai gantinya, cermin pada zaman itu dibuat dari logam yang dikilapkan, dan cermin itu memberikan bayangan yang samar-samar, tidak jelas. Yang terlihat melalui cermin hanyalah perwujudan tidak sempurna dari apa yang bisa tampak jelas jika dilihat langsung.

Jika Anda menanyakan apa yang sedang dikerjakan Allah dalam hidup Anda, teruslah memercayai-Nya dan carilah kejelasan jawabannya melalui doa dan firman-Nya.

Saat ini, pemahaman kita memang masih terbatas (1 Korintus 13:9). Penglihatan rohani kita masih kabur, tetapi kelak kita akan melihat dengan jelas di surga. Kita akan melihat Yesus "muka dengan muka" --HDF

4 Mei 2007

Keluarga Palsu

Nats : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku (Matius 15:8)
Bacaan : Matius 15:1-9

Seorang kontraktor di Kalifornia mencetuskan suatu ide inovatif dalam menjual rumah-rumahnya. Ia pikir cara yang baik untuk membuat sebuah rumah tampak menarik adalah dengan menghadirkan keluarga di dalamnya saat ia memamerkan rumah itu kepada calon pembeli. Maka, ia menyewa para aktor untuk memerankan keluarga bahagia dalam rumah-rumah model yang dibangun perusahaannya. Bahkan, para pembeli dapat bertanya kepada para aktor tentang kondisi rumah itu. Setiap anggota keluarga palsu itu menjalankan perannya masing-masing. Ada yang memasak, menonton tele-visi, dan bermain sementara para calon pembeli rumah melihat-lihat.

Pemalsuan seperti ini memang tak salah, namun renungkan kepura-puraan para pemimpin agama di zaman Yesus (Matius 15:1-9). Mereka pura-pura mengasihi Allah, dengan saleh membuat daftar aturan yang harus mereka dan orang lain patuhi. Namun, ini hanya cara agar mereka tampak saleh. Mereka bahkan menganggap aturan buatannya sama penting dengan Hukum yang langsung difirmankan Tuhan (ayat 5,6). Yesus menyebut mereka "munafik" (ayat 7). Di ucapan bibir saja tampaknya mereka menghormati Allah, tetapi hati mereka berkata lain -- mereka jauh dari-Nya (ayat 8).

Orang di masa kini pun banyak yang berpura-pura seperti ini. Secara lahiriah kita seperti orang kristiani yang baik karena rajin ke gereja, menaati beberapa peraturan sesuai hukum, dan berkata benar. Kita berkata kita mengasihi Yesus, tetapi mungkin hati kita jauh dari-Nya. Allah menghendaki kita untuk tidak berpura-pura --AMC


Allah melihat jalan kita dan mengenal hati kita,
Apa yang dapat kita sembunyikan dari-Nya?
Kebenaran lahiriah tak menyelamatkan,
Dia tahu lubuk hati kita yang terdalam. --Sper

14 Mei 2007

Hanya Pajangan

Nats : Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang (Matius 23:5)
Bacaan : Matius 23:1-12

Terjadi peningkatan pembelian buku antik bersampul kulit. Orang membeli karena sampulnya, bukan isinya. Perancang interior membeli buku seperti itu berdasar keselarasan ruang dan memanfaatkannya untuk menciptakan nuansa klasik yang hangat di rumah klien-klien mereka yang kaya. Yang terpenting adalah apakah buku-buku itu pas dengan dekorasi ruangan atau tidak. Seorang pengusaha kaya membeli 13.000 buku antik yang tak akan pernah ia baca. Ia hanya ingin membuat tampilan seperti perpustakaan sebagai pajangan di rumahnya yang telah direnovasi.

Mementingkan penampilan luar memang baik dalam hal mendekorasi rumah, tetapi justru menjadi cara hidup yang berbahaya. Yesus menegur banyak pemimpin agama di zaman-Nya karena mereka tak melakukan apa yang mereka khotbahkan. Mereka senang menerima pujian dan menganggap diri penting. Alih-alih membuka kerajaan surga untuk sesama, mereka terang-terangan menutup pintu surga di hadapan sesama dengan perilakunya. Tentang mereka Yesus berkata, "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang" (Matius 23:5).

Tuhan memanggil kita demi menjadi orang yang memiliki rohani berkualitas, tak hanya secara lahiriah. Kita harus menyatakan kehadiran-Nya dalam diri kita dengan sikap rendah hati. "Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (ayat 11).

Jika kita hidup bagi Yesus, "isi" kita jauh lebih penting daripada "sampul" luarnya. Kita ada di sini tak hanya untuk menjadi pajangan --DCM


Biarlah kehendakku mengalir dalam kehendak-Nya,
Tanpa bertanya-tanya; tanpa mencari posisi;
Tugas yang hina dijalankan dengan suka hati,
Untuk menyatakan kebenaran dan anugerah-Nya. --Anon.

3 Maret 2008

Affluenza

Nats : Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri (Roma 15:1)
Bacaan : Roma 15:1-6

Carolina Reyes, koordinator rubrik koran kampus Western Washington University, menengarai adanya penyakit sosial bernama "affluenza" (affluence-bahasa Inggris: kemakmuran) yang menjangkiti masyarakat negara maju. Saat orang memiliki harta benda dan berbagai kemudahan hidup, mereka cenderung menjalani hidup yang konsumtif dan mengejar kenikmatan bagi diri sendiri. Namun, dari situ ternyata timbul berbagai penyakit seperti obesitas, diabetes, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan sebagainya, yang dapat berakibat fatal.

Setiap orang percaya dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini dan mengalami pembaruan budi, sehingga dapat mengetahui kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Oleh karena itu, sekalipun kecenderungan hidup konsumtif mulai menjalar di sekitar kita, marilah kita memohon pertolongan Allah agar dapat mengambil sikap yang berbeda. Sikap yang tidak hanya mengejar kenikmatan duniawi bagi diri sendiri, tetapi juga mau menyatakan kasih Allah dengan berbagi berkat kepada yang lemah dan membutuhkan. Hidup menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama dan tidak hanya menikmatinya sendiri. Firman Tuhan mengingatkan tentang kewajiban kita untuk menanggung kelemahan mereka yang tidak kuat dan jangan hanya mencari kesenangan diri sendiri (Roma 15:1).

Mari kita bermurah hati kepada mereka yang membutuhkan, agar sebagai anak-anak Allah kita tampil secara berbeda dengan dunia ini dan terhindar dari "affluenza" yang dapat menyebabkan berbagai penyakit jasmani dan rohani -NDA

30 Maret 2008

Tetap Bersukacita

Nats : ... aku selalu berdoa dengan sukacita (Filipi 1:4)
Bacaan : Filipi 1:3-14

Sebuah kutipan bijak mengatakan, "Pergumulan dan penderitaan tak dapat dihindari, tetapi kesedihan adalah pilihan." Ya, ada banyak alasan yang membuat kita tidak dapat bersukacita, tetapi sebenarnya sukacita tidak ditentukan oleh kondisi di sekeliling kita. Dalam situasi terburuk pun, sebenarnya kita tetap dapat bersukacita, tergantung apakah kita memilih untuk tetap bersukacita atau larut dalam kesedihan.

Mengawali suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus berkata bahwa ia sedang bersukacita dalam doanya (Filipi 1:4). Apa yang membuat Paulus bersukacita? Hidup yang nyaman? Dalam kondisi apa ia berkata demikian? Bacaan kita menunjukkan bahwa Paulus mengatakan hal ini saat ia berada dalam penjara yang begitu gelap dan dingin! Penjara boleh memenjarakan tubuhnya, tetapi tidak dapat memenjarakan sukacita dalam dirinya! Andaikan Paulus memilih untuk bersedih hati, maka kekuatannya hilang, dan pengabaran Injil pun akan berhenti. Namun, Paulus bersandar kepada kekuatan Allah yang menolongnya untuk tetap bersukacita; sehingga ia dapat melihat arti penderitaannya, terus memikirkan kemajuan pengabaran Injil, dan mendoakan kesetiaan rekan-rekannya di luar penjara (ayat 9-11)!

Apakah pergumulan dan penderitaan merebut sebagian besar sukacita kita? Apakah masalah dalam pekerjaan, pelayanan, studi, bahkan keluarga, telah membuat kita menjadi anak Tuhan yang lupa untuk tertawa? Pilihan untuk terus bersedih tak akan membantu, sebaliknya akan membuat kita pesimis dalam memandang hidup. Mari kita memohon pertolongan Allah untuk dapat bersukacita dalam segala keadaan! -PK

16 Juni 2008

Kualitas Pekerjaan

Nats : Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23)
Bacaan : Kolose 3:22-25

Kualitas sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh "nilai rohani" yang terkandung dalam pekerjaan itu—misalnya pendeta atau orang yang bekerja di lembaga keagamaan, tetapi oleh motivasi yang mendasarinya. Seorang petani yang bekerja dengan motivasi "bekerja buat Tuhan", akan lebih bernilai karyanya, daripada pendeta yang berkhotbah sekadar untuk mendapatkan honorarium atau pujian.

Pekerjaan apa pun—selain tentunya baik dan benar—yang penting sungguh-sungguh dilakukan untuk Tuhan. Ada sebuah sajak yang dikutip oleh Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu bukunya, Tuhan dari Poci dan Panci. Konon sajak itu ditulis oleh seorang pekerja rumah tangga berumur 19 tahun:

Tuhan dari setiap poci dan panci, aku tak punya cukup waktu, bukan pula seorang ahli, untuk menjadi anak-Mu dengan mengerjakan yang suci-suci. Tapi jadikanlah aku anak-Mu melalui makanan yang kusaji. Jadikanlah aku anak-Mu melalui piring-piring yang kucuci. Hangatilah dapur ini dengan kasih-Mu. Terangi dapur ini dengan sinar-Mu. Sama seperti ketika Engkau menyajikan makanan di tepi danau, atau ketika perjamuan malam. Dan terimalah pekerjaanku yang sehari-hari ini, yang kukerjakan bagi Engkau sendiri.

Nasihat Paulus memang ditujukan bagi para hamba dalam hal ketaatan kepada tuannya. Namun juga berlaku bagi semua orang dalam setiap profesi. Bukankah setiap profesi sangat berarti, jika dikerjakan sebagai bagian dari persembahan kepada Tuhan? —AYA

15 Agustus 2008

Buta Rohani

Nats : ... tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3)
Bacaan : Yohanes 9:1-7

Keterlaluan! Di dekat seorang buta yang tidak berdaya, murid-murid bukannya memberi sedekah tetapi malah membicarakan mengapa orang itu buta. "Pasti karena telah berbuat dosa. Tetapi siapa yang berbuat dosa; orang buta ini sendiri atau orangtuanya, ya?" Begitulah obrolan para murid Yesus.

Orang buta itu telah sangat menderita dengan kebutaannya. Kalau orang-orang malah mencurigai dirinya atau orangtuanya telah melakukan dosa, dan lantas hanya mendiskusikan tentu ini hanya menambah penderitaannya. Murid-murid mungkin lupa bahwa mereka sendiri juga orang berdosa (Roma 3:23). Bahkan, jika orang buta itu buta secara jasmani, mereka mungkin saja malah lebih parah, yakni buta rohani.

Yesus tidak terjebak dalam obrolan yang tidak membangun itu. Dia memilih melakukan sesuatu; menyembuhkan mata orang buta itu. Dan yang mengejutkan, Yesus juga berkata: "... bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia" (ayat 3). Bisa dibayangkan, betapa senangnya si buta mendengar hal itu! Pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dirinya? Wow! Sebelum berjumpa Yesus, baginya semua gelap. Hidupnya serasa hampa tidak berguna. Tak ada yang peduli, apalagi melibatkannya dalam aktivitas. Namun, segalanya berbeda setelah berjumpa Yesus. Sang Terang dunia bukan saja menyembuhkan, tetapi bahkan mau melibatkannya dalam pekerjaan Allah!

Kita, daripada membicarakan dosa orang lain, marilah perbincangkan pekerjaan di ladang Tuhan, yang harus kita kerjakan selagi hari masih siang -MNT



TIP #15: Gunakan tautan Nomor Strong untuk mempelajari teks asli Ibrani dan Yunani. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA