Topik : Kesatuan

16 Februari 2003

Keteladanan Belalang

Nats : Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (Ibrani 10:24)
Bacaan : Ibrani 10:19-25

Seekor belalang yang melompat melintasi ladang tampak tak ada artinya. Namun ketika ia bergabung dengan belalang-belalang lain, sekawanan belalang itu akan segera melahap semua tanaman yang mereka lewati.

Belalang menunjukkan kekuatan kerja sama demi kepentingan bersama. Apa yang tidak dapat mereka lakukan sendiri, dapat diselesaikan bersama- sama. Dalam kitab Amsal di Perjanjian Lama, Agur, seorang yang berhikmat berkata, "Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur" (30:27).

Kita dapat memetik pelajaran dari makhluk kecil ini. Para pengikut Kristus yang bekerja dan berdoa bersama-sama akan dapat membuat kemajuan yang jauh lebih besar bagi Dia daripada jika masing-masing berusaha sendiri. Pada saat orang-orang kristiani bersatu untuk melayani Tuhan, mereka dapat menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Allah dalam memenuhi kehendak-Nya bagi gereja.

Meskipun Perjanjian Baru mendorong kita untuk memiliki iman secara pribadi dalam Yesus Kristus, tetapi tak sedikit pun disinggung tentang iman yang hanya mementingkan diri sendiri. Kita membutuhkan saudara seiman lain, dan saudara kita pun membutuhkan kita (Ibrani 10:24,25).

Marilah kita bersukacita dan ikut serta dalam membangun kekuatan dan persekutuan dalam satu tubuh Kristus. Gereja yang efektif akan mengikuti keteladanan yang ditunjukkan oleh belalang, yakni kerja sama dan kesatuan kita dalam Roh Kudus --Haddon Robinson

19 Oktober 2003

Fungsi Gereja

Nats : Jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? (1Korintus 3:3)
Bacaan : Efesus 4:1-16

Setiap kali mendengar tentang perselisihan di gereja, saya merasa ngeri. Saat saya dan istri pergi makan bersama seorang teman pendeta, ia menceritakan kepada kami beberapa hal yang menjadi sumber pertengkaran orang-orang di gerejanya. Orang-orang kristiani bertentangan satu sama lain hanya karena masalah-masalah seperti warna karpet, pengaturan AC, dan apakah paduan suara sebaiknya mengenakan jubah.

Banyak pendeta terpaksa meninggalkan gereja karena berbagai perselisihan seperti di atas. Orang-orang kristiani saling memutuskan hubungan persahabatan. Gereja terpecah karena jemaat meributkan hal-hal semacam itu.

Mengapa hal ini terjadi? Mereka yang terlibat dalam pertengkaran karena masalah sepele telah melupakan fungsi gereja yang sesungguhnya. Gereja adalah tempat kita beribadah, membaca firman Tuhan, bernyanyi untuk kemuliaan Allah, melayani orang lain, dan saling membantu untuk bertumbuh bersama. Gereja seharusnya menjadi tempat yang penuh kasih, pengampunan, dan pengharapan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menjelaskan tentang kesatuan tujuan (4:1-16) yang dapat membantu kita mengatasi berbagai perbedaan pendapat tanpa mengakibatkan perpecahan. Ia tahu betul bahwa keinginan yang egois, kepentingan pribadi, dan sikap pilih kasih dapat menimbulkan malapetaka (1 Korintus 3:1-9).

Marilah kita jadikan gereja sebagai tempat yang bebas dari perselisihan dengan mengingat fungsi gereja yang sebenarnya --Dave Branon

13 Juni 2004

Kita Saling Membutuhkan

Nats : Menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab (Lukas 4:16)
Bacaan : Ibrani 10:19-25

Jika jajak pendapat yang baru-baru ini diadakan dapat dipercayai, terjadi lonjakan kerohanian ala petualang di Amerika Serikat. Banyak orang tidak pergi ke gereja. Kepercayaan terhadap Alkitab dilupakan. Semakin banyak orang Amerika mencari pemahaman sendiri, melakukan pencarian di internet, dan melakukan berbagai kegiatan di luar rumah untuk mendapatkan peningkatan kerohanian yang dulu mereka cari di ruang ibadah di gereja.

Betapa berbedanya dengan Yesus! Dia menjadikan ibadah di bait Allah sebagai suatu kebiasaan-Nya yang teratur (Lukas 4:16). Tetapi sekarang, orang tidak lagi meneladani-Nya. Mereka merasa nyaman dengan apa yang secara sembarangan mereka sebut sebagai “kerohanian” dan mencoba untuk memelihara jiwa mereka tanpa tradisi abadi jemaat seperti pujian, doa, pengajaran alkitab, dan persekutuan yang membangun.

Berkumpul bersama dengan pengunjung kebaktian lain secara teratur adalah suatu sumber peningkatan kerohanian yang memberikan penghiburan, inspirasi, dan kekuatan emosional. Alkitab menganjurkan kita supaya tidak menjauhi “pertemuan-pertemuan ibadah kita” (Ibrani 10:25).

Tentu saja kita tetap harus mempunyai waktu ibadah pribadi yang teratur. Demikian juga kita membutuhkan berkat dari persekutuan dengan orang-orang percaya lain dalam ibadah dan persekutuan. Kita perlu meluangkan waktu bersama “supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (ayat 24). Kita perlu membuat ibadah bersama menjadi kebiasaan kita. Kita memang saling membutuhkan —Vernon Grounds

19 Juli 2004

Ikatan Keluarga

Nats : Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan (Efesus 2:21)
Bacaan : Efesus 2:11-22

Seorang pria tua yang mengunjungi sebuah galeri seni sangat terkesan melihat sebuah lukisan yang menggambarkan Kristus di atas salib. Lukisan itu begitu nyata dalam menggambarkan penderitaan Juruselamat, sehingga hatinya dipenuhi ucapan syukur atas harga mahal yang telah dibayar Tuhan Yesus untuk menebusnya. Dengan air mata berlinang di pipinya, ia berseru, “Pujilah Dia! Saya mengasihi-Nya! Saya mengasihi-Nya!”

Para pengunjung lain yang berdiri di dekatnya merasa heran mendengar perkataan pria itu. Seseorang dari mereka maju dan mengamati lukisan itu. Ia pun segera merasakan perasaan yang mendalam terpancar dari dalam hatinya. Sambil menoleh ke arah pria tua itu, ia menjabat erat tangannya dan berkata, “Saya juga! Saya juga mengasihi-Nya!” Adegan itu terulang ketika pria ketiga dan keempat melintas, menatap lukisan itu, dan berseru, “Saya juga mengasihi-Nya!” Walaupun pria-pria ini berasal dari gereja yang berbeda, mereka merasakan ikatan yang sama karena iman mereka di dalam Kristus.

Sebagai orang percaya, kita memerlukan kesadaran akan kesatuan rohani kita dengan orang kristiani lainnya. Kita perlu berpusat pada dasar yang kita setujui, seperti kasih kita kepada Juruselamat yang telah mati untuk kita, daripada bertengkar seputar pokok persoalan yang kurang berguna.

Dengan mengabaikan perbedaan pendapat, kita sebagai orang percaya yang telah dibayar dengan tebusan darah seharusnya mengakui bahwa kita mempunyai satu ikatan keluarga yang kuat di dalam Kristus —Richard De Haan

18 Agustus 2004

Mengenal Keluarga "tate"

Nats : Mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau" (1Korintus 12:21)
Bacaan : 1Korintus 12:12-27

Kerja sama sangat penting dalam bisnis dan industri. Untuk menekankan hal ini, Co-op Magazine memuat tulisan berikut: "Anda telah sering mendengar tentang keluarga 'Tate'. Mereka ada pada setiap organisasi. Ada Dick Tate [Mendikte] yang ingin mengatur segalanya. Ro Tate [Memutar] ingin mengubah segala sesuatu. Agi Tate [Mengguncang] menciptakan masalah setiap ada kesempatan, dan Irri Tate [Mengganggu] selalu membantunya.

"Ketika gagasan baru ditawarkan, Hesi Tate [Meragukan] dan Vegi Tate [Kepasifan] membuat hati menjadi tawar. Imi Tate [Meniru] berusaha meniru setiap orang, Devas Tate [Merusak] senang merusak, dan Poten Tate [Penguasa] ingin menguasai. Namun Facili Tate [Memperlancar], Cogi Tate [Memikirkan], dan Medi Tate [Merenungkan] selalu menyelamatkan keadaan, dan berhasil menggerakkan semuanya untuk bekerja sama."

Bekerja seorang diri takkan memberikan banyak hasil. Namun, kebenaran ini tak pernah dapat diterapkan dan terpenuhi dengan baik selain dalam tubuh Kristus. Kitab Suci mengajarkan bahwa karena rencana Allah, semua yang di dalam Kristus telah dibuat saling bergantung. Kita mengira dapat mengandalkan diri sendiri, tetapi ternyata tidak. Kita tidak dapat memenuhi panggilan tertinggi kita sebagai anggota tubuh Kristus bila kita tidak menyadari bahwa kita semua memiliki peran penting untuk dimainkan. Kita adalah keluarga. Kita saling membutuhkan.

Tuhan, tolonglah kami untuk mengatasi keangkuhan kami. Ajar kami untuk bekerja sama, bagi kebaikan kami sendiri dan bagi Engkau --Mart De Haan

3 September 2004

Keramahan Palsu

Nats : Seseorang yang memiliki sahabat harus menunjukkan sikap yang ramah (Amsal 18:24, versi King James)
Bacaan : Yohanes 15:9-17

Baru-baru ini, saya menerima telepon dari wanita bersuara ramah yang mengatakan bahwa ia ingin membuat hidup saya jadi lebih mudah. Ia memanggil dengan nama depan saya dan dengan hangat menanyakan kabar saya hari itu. Kemudian ia memberi tahu bahwa ia dapat menolong saya menghemat ribuan dolar dalam setahun jika saya mau mempertimbangkan ulang pembiayaan rumah saya dengan perusahaan hipotek rumah tertentu. Tetapi begitu ia tahu bahwa saya tidak tertarik, keramahannya memudar.

Keramahan yang tidak tulus seperti itu acap kali merupakan sikap yang dianggap benar dan dipakai orang untuk menarik perhatian orang lain atau untuk mendapatkan sesuatu dari mereka.

Alangkah kontrasnya sikap yang mementingkan diri sendiri seperti itu dengan persahabatan sejati yang Yesus tunjukkan kepada kita. Dia berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13). Lalu Dia menunjukkan kasih yang rela mengurbankan diri, dengan mati di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosa kita.

Apabila kita meyakini Yesus sebagai Juruselamat dan belajar menaati-Nya, kita akan mengalami persahabatan erat yang memberikan kesungguhan dan ketulusan pada keramahan yang kita tunjukkan kepada sesama.

Tuhan, tolonglah kami untuk menghindari keramahan yang palsu dengan memanfaatkan orang lain untuk memperoleh apa yang kami inginkan. Ajar kami untuk memancarkan hangatnya keramahan sejati seperti Kristus kepada setiap orang yang kami temui --Dave Egner

28 September 2004

Berpikir Bersama

Nats : Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Filipi 4:4-13

Seorang eksekutif dari perusahaan pembuat mainan terbesar di dunia berkata, "Kami ini seperti mesin yang berproduksi sepanjang tahun sehingga tidak sempat berpikir."

Untuk memacu kreativitas, perusahaan ini mengajak beberapa karyawan terpilih untuk keluar dari kantor pusat dan mendorong mereka untuk berpikir bersama-sama dengan cara baru. Misalnya, ketika diminta untuk merancang suatu metode guna menghindari pecahnya sebuah telur apabila dijatuhkan dari ketinggian 4 meter, sebuah kelompok tidak melakukan pendekatan konvensional dengan meletakkan bantalan di tempat jatuhnya telur. Mereka menciptakan tali elastis untuk telur.

Bagaimana dengan diri kita? Apakah hidup kita begitu terpusat pada kegiatan dan produktivitas sehingga tidak sempat berpikir lagi? Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, ia menasihati mereka supaya memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar (4:8). Apa yang akan terjadi jika kita bersama-sama mulai berpikir seperti itu di gereja dan di rumah? Bisakah kita menemukan pendekatan kreatif yang diberikan Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi? Apakah pandangan hidup kita mengalami perubahan secara radikal?

"Pikirkanlah semua itu" adalah sebuah perintah yang luar biasa. Menaati perintah itu bersama keluarga kita dan orang percaya lainnya dapat membuka pintu-pintu penemuan baru untuk membantu orang lain, melayani Allah, dan hidup bagi Dia.

Sekarang, pikirkanlah semua itu! --David McCasland

6 Maret 2005

Organ Tetap Berbunyi

Nats : Malahan justru anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan (1Korintus 12:22)
Bacaan : 1Korintus 12:20-26

Beberapa tahun lalu, seorang pemain organ yang andal melakukan konser. (Di masa itu, organ harus dipompa dari belakang panggung agar tabung-tabungnya terisi udara.) Setiap satu lagu berakhir, para penonton bertepuk tangan meriah. Sebelum membawakan lagu terakhir, sang pemain organ berdiri dan berkata, "Sekarang saya akan memainkan ...", lalu ia mengumumkan judul lagunya. Ia duduk kembali dan bersiap untuk memainkan organ. Dengan kaki menginjak pedal dan tangan menekan tuts, ia memulainya dengan chord yang sangat megah. Namun, organ itu tidak berbunyi. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang panggung, "Jangan cuma ‘saya’, tetapi katakan ‘kita’."

Dalam pekerjaan Tuhan, ada banyak kesempatan untuk mencapai prestasi pribadi. Kemampuan kita adalah pemberian Allah, dan Roh Kudus menolong kita unggul dalam bidang yang dapat kita kerjakan dengan baik. Namun, merasa diri paling hebat dan memandang remeh bantuan orang lain dapat menghancurkan semuanya. Tak ada seorang kristiani pun yang menapaki tangga keberhasilannya sendirian. Mereka diiringi oleh ibu, ayah, teman-teman, suami, istri, anak-anak yang berdoa, berkorban, dan melakukan apa saja untuk membantu.

Sadarilah bahwa kita berutang kepada banyak orang, dan kita perlu bersyukur atas peran penting mereka dalam pekerjaan Tuhan di dalam dan melalui diri kita. Sebuah ungkapan terima kasih melalui kartu ucapan, ucapan penghargaan, ataupun perbuatan kasih yang tulus akan sangat membantu untuk membuat "organ tetap berbunyi" —DJD

18 September 2005

Gereja yang Baik

Nats : Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan (Rasul 2:42)
Bacaan : Rasul 2:41-47

Pendeta dan penulis Greg Laurie ber-kata bahwa gereja disebut well (baik) adalah gereja-gereja yang melakukan kegiatan-kegiatan ini:

W-orship [menyembah]

E-vangelize [menginjili]

L-earn [belajar]

L-ove [mengasihi]

Seperti jemaat mula-mula, kita pun kini harus aktif melakukan hal-hal di atas.

Worship [menyembah]. Kita harus berkumpul untuk bersekutu, memecahkan roti, berdoa, dan mengidungkan puji-pujian (Rasul 2:42,47). Allah harus menjadi fokus dari segala yang kita lakukan di gereja-Nya.

Evangelize [menginjili]. Saat kita membagikan firman Allah, Tuhan akan menambahkan jumlah orang percaya (ayat 47). Kita dapat terlibat dalam penyebaran firman Allah dengan mengembangkan persahabatan, dengan memberikan traktat tentang Injil, atau dengan membagikan ayat-ayat Kitab Suci pada seseorang yang tak dikenal.

Learn [belajar]. Kita harus terus mempelajari doktrin yang diajarkan oleh para pemimpin yang berkualitas (ayat 42). Alkitab dipenuhi berbagai petunjuk mengenai hidup, dan kita harus mengambil setiap kesempatan untuk mempelajarinya, menerapkannya dalam hidup kita, serta mengajar sesama.

Love [kasih]. Kita harus berbagi dengan setiap orang yang memerlukan, dan menikmati persekutuan dengan orang percaya lainnya secara teratur (ayat 45,46).

Gereja yang jemaatnya menyembah, menginjili, belajar, serta mengasihi, akan menjadi gereja yang baik, efektif bagi masyarakat, dan dihargai semua orang (ayat 47) AMC

21 September 2005

Kumpulan yang Tak Terlihat

Nats : Kamu sudah datang ... kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah (Ibrani 12:22)
Bacaan : Ibrani 12:18-24

Pada suatu hari Minggu pagi, ketika kami pergi ke West Virginia, kami mengunjungi suatu gereja kecil di sebuah desa yang kecil. Hanya ada lima belas orang yang hadir saat itu, tetapi mereka memancarkan sukacita pada saat menaikkan nyanyian. Dan sang pendeta pun berkhotbah dari Alkitab dengan sangat antusias. Akan tetapi, melihat kenyataan di sekelilingnya saya merasa kasihan kepada dia dan jemaatnya. Dengan kecilnya kemungkinan untuk bertumbuh, tampaknya hal itu merupakan pelayanan yang tidak menantang.

Namun, kesaksian seorang siswa seminari muda telah mematahkan dugaan saya! Ketika ia ditugaskan untuk melayani di kapel sebuah desa kecil, ia sempat merasa kecewa ketika yang hadir dalam kebaktian hanya dua orang. Pada saat ia membaca liturgi, ia membaca kalimat: Karena itu, bersama para malaikat dan semua penghuni surga, kita menyembah dan memuja nama-Nya yang kudus. Kalimat itu mengubah segala pemikiran di dalam kepalanya. Di dalam hati ia kemudian berkata, Ya Tuhan ampunilah aku. Aku tidak tahu bahwa ternyata ada begitu banyak yang hadir.

Ketika kita menghampiri Kristus dalam iman, kita akan bergabung dengan suatu kumpulan meriah yang tidak terlihat, yang digambarkan oleh penulis kitab Ibrani sebagai beribu-ribu malaikat, dan jemaat anak-anak sulung (12:22,23). Karena itu, ingatlah selalu kenyataan luar biasa ini pada saat Anda menyembah Allah. Hal ini akan memberi makna yang besar bagi setiap pelayanan, entah yang hadir pada saat itu ribuan atau hanya dua atau tiga orang HVL

17 November 2005

Tujuh “kesatuan”

Nats : Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Efesus 4:3)
Bacaan : Efesus 4:1-7

Pernahkah Anda memiliki suatu pekerjaan yang membuat Anda merasakan suatu ikatan kuat dengan rekan-rekan kerja Anda? Mungkin Anda disatukan oleh misi yang sama, atau rasa hormat kepada atasan, atau kepercayaan bahwa perusahaan yang makmur akan menguntungan setiap orang secara finansial. Semakin banyak hal yang disepakati dalam sebuah kelompok, persatuan mereka semakin erat, kinerja mereka semakin baik, dan kemungkinan terjadi pertengkaran di antara rekan kerja semakin kecil.

Orang kristiani memiliki pemersatu bawaan yang dapat membuat mereka bekerja bersama dalam satu kesatuan roh. Di Efesus 4:4-6, Paulus mendaftar tujuh hal yang menjadi satu “kesatuan”. Renungkan betapa bergunanya hal-hal itu dalam membantu kelompok orang percaya mana pun untuk bekerja sama pada proyek sama:

Satu tubuh-kita adalah satu keluarga yang dipersatukan untuk satu tujuan,
Satu Roh-kita semua mempunyai Roh yang menjadi sumber kekuatan,
Satu pengharapan-kita menantikan masa depan yang sama,
Satu Tuhan-kita memercayai Pemegang Kendali yang sama,
Satu iman-kita semua memercayai pengurbanan Yesus untuk keselamatan kita,
Satu baptisan-kita semua mempunyai identitas tunggal, dan
Satu Allah dan Bapa-kita semua berbagi sumber eksistensi yang sama.

Alangkah besarnya perbedaan yang terjadi jika kita semua bisa tinggal dalam tujuh “kesatuan” itu -JDB

19 Maret 2006

Satu Iman

Nats : Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi (Kisah 17:26)
Bacaan : Efesus 4:1-6

Aristides, seorang pembela iman kristiani pada abad kedua, menulis hal berikut ini kepada Kaisar Roma, Hadrian, tentang orang-orang percaya pada zamannya:

"Mereka saling mengasihi satu sama lain. Orang-orang percaya itu tidak pernah pernah lalai menolong para janda; menyelamatkan anak-anak yatim piatu dari orang yang akan mencelakai mereka. Jika memiliki sesuatu, mereka akan memberikannya dengan rela kepada orang yang tidak punya apa-apa; jika melihat orang asing, mereka membawanya ke rumah mereka, dan mereka bersukacita seolah-olah orang asing itu adalah saudara mereka. Mereka tidak menganggap diri mereka sebagai saudara biasa, tetapi saudara melalui Roh Kudus, di dalam Allah."

Sebagai manusia, kita semua berasal dari keluarga yang sama. Meskipun kita dipisahkan oleh segala batasan dan perbedaan, namun pada dasarnya kita semua adalah sama (Kisah 17:26).

Sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus, apa pun yang menjadi perbedaan kita -- denominasi, berbagai pilihan, tata ibadah -- kita sebenarnya satu tubuh secara rohani dan mengenal Bapa surgawi yang sama (Efesus 4:4-6). Teladan dari para pendahulu kita dapat menjadi arahan yang menantang kita sebagai murid-murid Yesus di abad 21 ini.

Mari kita melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk menyatakan kesatuan hidup dalam Kristus. Kesatuan dalam perbedaan merupakan kesaksian paling efektif bagi dunia yang rusak oleh dosa --VCG

25 Juni 2006

Tarik Tambang

Nats : Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:2)
Bacaan : Filipi 2:1-4; 4:1-3

Sebuah perguruan tinggi di daerah kami memiliki upacara tahunan yang menarik, yaitu tarik tambang. Dua tim berlatih dan mempersiapkan diri untuk bersama-sama menarik ujung tali mereka guna memenangkan kompetisi dan menghindari galian lumpur di tengah-tengah mereka serta berhak menyombongkan diri selama setahun ke depan. Kompetisi itu menyenangkan, namun dapat menjadi menegangkan.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus, kita kerap kali menghadapi tantangan dalam belajar bagaimana caranya agar dapat "menarik" bersama-sama. Kepentingan diri, agenda pribadi, dan pergumulan kekuasaan dapat menjadi penghalang bagi pelayanan yang tulus serta karya Kristus.

Begitulah kejadiannya di dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, di mana ia harus memohon kepada Euodia dan Sintikhe supaya "sehati sepikir" (4:2). Gesekan pribadi di antara mereka menciptakan batu sandungan bagi pelayanan rohani mereka, dan "tarik tambang" mereka membahayakan hidup gereja.

Paulus memohon agar mereka menarik bersama-sama dan bekerja untuk menghormati Sang Tuan. Permohonan tersebut berlaku juga bagi kita hari ini. Saat kita merasa jauh dari rekan-rekan kita sesama orang percaya, kita harus mencari kesamaan dalam Juru Selamat.

Gereja bukanlah tempat untuk "bertarik tambang". Kita harus bekerja sama bagi kemajuan kerajaan Allah. Dia dapat memakai kita melalui cara-cara yang indah jika kita mengesampingkan perbedaan pribadi kita dan menarik "tali" itu bersama-sama --WEC

24 September 2006

Kuasa yang Merusak

Nats : Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28)
Bacaan : Matius 20:20-28

Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja? Cukup seseorang yang haus kekuasaan.

Salah seorang pendeta yang pernah menjadi teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat.

Namun kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh keku-asaan lebih, maka mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri.

Apabila kita melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Matius 20:28).

Apakah Anda seorang pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari gereja Anda -JDB

29 September 2006

Benteng Hadrianus

Nats : [Kristus] merobohkan tembok pemisah (Efesus 2:14)
Bacaan : Efesus 2:11-18

Ketika Julius Caesar menyerbu pantai selatan Inggris pada tahun 55 SM, ia mendapatkan perlawanan dari para pejuang suku Celtic. Namun, seabad kemudian kekuasaan Roma terhampar di seluruh daerah utara, yang kini disebut Skotlandia.

Penaklukan itu merenggut nyawa 30.000 orang suku Celtic, tetapi kemenangan Roma berumur pendek. Pejuang yang selamat segera memulai perang ge-rilya yang kejam melawan tentara pendudukan. Akhirnya, pada tahun 122 M, Kaisar Hadrianus memerintahkan untuk membangun benteng yang memisahkan orang-orang Roma dari kaum barbar di utara. Dan, Benteng Hadrianus masih berdiri hingga kini.

Pada zaman Yesus, penghalang yang lebih kuat daripada Benteng Hadrianus berdiri di antara anak-anak Allah dan bangsa-bangsa lain, yang berada di luar komunitas rohani mereka. Penghalang tersebut berupa kecurigaan etnis. Allah memiliki rancangan untuk memberkati semua bangsa di dunia melalui Abraham (Kejadian 12:1-3; Yesaya 51:2). Namun, bukannya menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, Israel justru menumbuhkan kecurigaan terhadap bangsa-bangsa lain.

Kecurigaan dan rasisme masih ada hingga kini, bahkan di kalangan gereja. Sikap seperti ini akan merusak kesaksian kita mengenai kasih Kristus untuk semua orang. Yesus menyerahkan hidup-Nya untuk menebus umat manusia dari setiap suku dan segala bangsa. Kita tidak hanya harus menerima mereka, tetapi kita juga harus me-ngasihi mereka sebagai saudara laki-laki dan perempuan di dalam Kristus (Galatia 3:28,29; Wahyu 5:9) -HDF

29 Oktober 2007

Hanya Sebuah Keling

Nats : Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya suka damai, lembut ... tidak memihak dan tidak munafik (Yakobus 3:17)
Bacaan : Yakobus 3:13-18

Para ilmuwan telah sepakat bahwa keling yang cacat merupakan penyebab tenggelamnya kapal Titanic yang "tak dapat tenggelam" itu. Menurut para peneliti yang baru-baru ini menyelidiki bagian-bagian kapal yang berhasil dikumpulkan dari puing-puing Titanic, keling kapal yang terbuat dari besi tempa, bukannya baja, menyebabkan badan kapal terbuka seperti resleting. Nasib Titanic membuktikan bahwa menghabiskan uang untuk peralatan mewah dan promosi publik, tetapi mengabaikan bagian-bagian yang "kecil" adalah tindakan bodoh.

Dalam beberapa hal, gereja hampir sama seperti kapal, dan banyak orang di dalam gereja bertindak sebagai keling kapal. Meskipun keling sepertinya tidak penting, merekalah yang menyatukan bagian-bagian kapal dan menjaganya agar tetap mengapung.

Banyak orang merasa tidak penting, bahkan perasaan itu juga menyerang orang-orang kristiani, dan beberapa orang melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk membuat mereka merasa penting. Yakobus berkata, "Di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat" (3:16). Orang-orang yang terkorupsi oleh keinginan duniawi akan kecantikan, kekayaan, dan kekuasaan dapat meruntuhkan gereja-gereja besar, tetapi orang-orang yang murni dan tak bercacat (1:27) menyatukan gereja.

Sebagai anggota gereja, kita harus menjadi "keling-keling" yang tak bercacat. Jika kita murni (Yakobus 3:17), kuat (Efesus 6:10), dan berdiri teguh (1 Korintus 15:58), kita akan dipakai Tuhan untuk menjaga kapal-Nya agar tetap mengapung di tengah krisis --JAL

2 Maret 2008

Bersaksi Melalui Profesi

Nats : ... dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kisah 2:47)
Bacaan : Kisah 2:41-47

Dokter Teoh Seng Hing adalah salah satu dokter ginekologi di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Ia seorang kristiani. Semua orang yang saya kenal dan pernah menjadi pasiennya punya kesan yang sangat positif terhadapnya. Sebab selain ahli, ia juga sangat baik, sabar, telaten, ramah, penuh perhatian. Pasien bisa bebas dan nyaman berkonsultasi dengannya. Bahkan ketika Kezia, anak saya yang berumur 8 tahun, bertanya ini itu saat istri saya konsultasi, ia juga melayani dengan baik. Dengan sikapnya itu, Dokter Teoh telah menunjukkan kesaksian yang indah sebagai dokter kristiani.

Kekristenan berkembang bukan hanya karena peran para penginjil ternama. Namun juga melalui kesaksian hidup para "penginjil" anonim. Orang-orang yang dalam peran dan profesinya masing-masing telah memberi kesaksian indah bagi masyarakat sekitar. Seorang dokter-dokter kristiani yang berbeda dari dokter lain. Seorang pejabat-pejabat kristiani yang berbeda dari pejabat lain. Seorang mahasiswa-mahasiswa kristiani yang berbeda dari mahasiswa lain, dan sebagainya. Iman kristiani mereka betul-betul nyata dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap dan tutur kata yang ditunjukkan.

Jemaat mula-mula adalah jemaat yang bertumbuh sangat pesat. Ciri-ciri hidup mereka selain tekun dalam pengajaran para rasul (ayat 42), dan satu sama lain memiliki hidup kebersamaan yang kuat dan akrab (ayat 46), juga memberi pengaruh positif bagi orang-orang luar. "Dan mereka disukai semua orang" (ayat 47). Mari kita menjadi saksi yang setia, sehingga kehadiran kita sungguh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar -AYA

11 Juli 2008

Bersahabat

Nats : Betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul ... [dengan] orang-orang yang bukan Yahudi. Tetapi ... aku tidak boleh menyebut seorang pun najis (Kisah Para Rasul 10:28)
Bacaan : Kisah Para Rasul 10:24-35

Dengan telepon genggam, dewasa ini orang dapat lebih leluasa berkomunikasi ketimbang sepuluh tahun lalu. Harga telepon genggam pun semakin terjangkau. Namun anehnya, penelitian menunjukkan bahwa pemakai telepon genggam rata-rata hanya menghubungi empat orang secara rutin dan intensif. Padahal daftar kontaknya berisi ratusan nomor telepon. Itu berarti, walaupun ada begitu banyak kenalan, hanya segelintir orang yang dijadikan sahabat.

Banyak orang cenderung memilih-milih teman dalam bergaul. Akibatnya, kita kerap membuat tembok pembatas, seperti suku, budaya, status sosial, maupun agama, sehingga lingkaran pergaulan kita malah menjadi sempit. Para murid Yesus pun semula bersikap demikian. Petrus, sebagai orang Yahudi dilarang keras berkunjung ke rumah Kornelius, orang Italia. Mereka dianggap orang kafir. Namun, pandangan Petrus segera berubah setelah Kristus menyadarkannya bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan orang (ayat 34). Jadi, ia pun pergi mengunjungi Kornelius, sebab Tuhan ingin memakainya menjadi saluran berkat bagi "orang kafir" itu. Keberanian Petrus menerobos tradisi dan membangun relasi membuahkan berkat besar. Hasilnya, seisi rumah Kornelius pun diselamatkan.

Allah mencintai orang-orang yang hidup di sekitar kita dan ingin menunjukkan cinta-Nya kepada mereka, melalui kita. Hal ini hanya dapat terjadi apabila kita bersedia membuka diri untuk bersahabat dengan siapa saja. Belajar mencintai yang Tuhan cintai. Coba periksa lagi daftar kontak Anda. Adakah orang yang perlu dijadikan sahabat? -JTI

21 Juli 2008

Pola Asuh

Nats : Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Amsal 29:15-17

Tak ada peristiwa yang "kebetulan". Setiap kejadian pasti ada alasannya. Dalam Alkitab, Yakub dikenal sebagai penipu. Bayangkan, Esau-kakaknya yang sedang lapar-ditodong hak kesulungannya, diganti hanya dengan semangkuk kacang merah! Ia juga menipu ayahnya yang sudah renta dan rabun dengan berpura-pura menjadi Esau, demi mendapat berkat kesulungan (Kejadian 25, 27). Setelah menikah pun Yakub mengelabui Laban, mertuanya, hingga mendapat banyak kambing domba (Kejadian 30).

Mengapa Yakub penuh tipu daya? Sebab ia dibesarkan dalam keluarga di mana sang ayah lebih sayang kepada Esau, sedang si ibu lebih menyayanginya. Ibunya pula yang mengajari Yakub membohongi ayahnya. Selanjutnya, Yakub mengadopsi pola asuh yang dialaminya sebagai model untuk mengasuh anak-anaknya. Ia lebih menyayangi Yusuf dan Benyamin, anak-anak yang lahir dari Rahel, ketimbang sepuluh anak dari ketiga istrinya yang lain. Akibatnya, saudara-saudara Yusuf menaruh dendam terhadap Yusuf dan membohongi Yakub dengan berkata bahwa Yusuf diterkam binatang buas, padahal mereka menjualnya sebagai budak.

Bagi Anda yang sudah menjadi orangtua, camkan firman Tuhan hari ini: "Jangan sesat! ... apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7). Hukum ini tak terelakkan, kecuali kita bertobat dan percaya kepada Kristus, sebab di dalam Dia kita menjadi ciptaan baru. Bangun dan didiklah anak-anak Anda dalam suasana pertobatan setiap hari; agar kejujuran, ketulusan, dan penerimaan seorang akan yang lain menjadi pola asuh dalam kehidupan keluarga Anda -SST



TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA