Topik : Keputusan/Pilihan

7 Desember 2002

Polusi Suara

Nats : Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (Kolose 3:8)
Bacaan : Kolose 3:1-11

Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.

Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.

Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (4:6).

Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini -Dennis De Haan

19 Desember 2002

Benih dan Buah

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Galatia 6:7-10

Saya pernah membaca sebuah ilustrasi mengenai seorang pria yang melihat-lihat di sebuah toko. Mendadak ia terkejut karena melihat Allah duduk di salah satu gerai. Pria menghampiri-Nya dan bertanya, "Apa yang Engkau jual?" Allah menjawab, "Apa yang kauinginkan?" Pria itu berkata, "Aku ingin kebahagiaan, ketenangan pikiran, dan kebebasan dari rasa takut ... untuk diriku dan seisi dunia." Allah tersenyum dan berkata, "Di sini Aku tidak menjual buah. Yang Kujual hanya benihnya."

Dalam Galatia 6, Paulus menekankan pentingnya menaburkan benih-benih tindakan yang memuliakan Allah, karena "apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (ayat 7). Kita tidak dapat berharap menikmati buah-buah berkat Allah jika kita tidak menyadari pentingnya melakukan bagian kita.

Kita akan sangat tertolong jika mengikuti teladan orang lain yang telah menaburkan benih yang baik. Pengarang Samuel Shoemaker mengatakan bahwa teladan yang baik dapat mengilhami kita atau membuat kita berkata, "Oya, ia memang seperti itu. Ia tidak mudah marah, gelisah, tidak sabaran, dan khawatir seperti saya; ia selalu bahagia." Shoemaker melanjutkan, "Mungkin kita tidak menyangka kalau ia harus berjuang untuk mendapatkan ketenangan, dan bahwa kita dapat menang jika kita melakukan hal yang sama."

Apakah Anda mencemaskan keadaan diri Anda? Mintalah pertolongan Allah dan mulailah menaburkan benih-benih tindakan dan tanggapan yang baru hari ini. Pada saatnya nanti, Roh Kudus akan menambahkan hasilnya –Joanie Yoder

1 Juni 2004

Kemenangan Atas Pencobaan

Nats : Allah ... tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. ... Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar (1 Korintus 10:13)
Bacaan : Matius 4:1-11

Wanda Johnson, seorang ibu tunggal dengan lima anak, sedang dalam perjalanan menuju tempat pegadaian. Ia berharap di sana ia akan mendapat pinjaman 60 dolar atas TV miliknya. Kemudian terjadilah sesuatu yang sangat aneh. Sewaktu truk berlapis baja yang penuh dengan kantong uang berjalan melintasinya, pintu samping truk itu terbuka, dan jatuhlah sekantong uang ke jalan. Wanda berhenti dan memungut kantong uang itu. Ketika ia menghitung uang di dalam kantong, ternyata jumlahnya sebanyak 160.000 dolar.

Pertentangan batin berkecamuk dalam jiwanya. Ia dapat menggunakan uang itu untuk melunasi semua tagihannya dan memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya. Tetapi uang itu bukan miliknya.

Setelah empat jam bergumul hebat dengan keyakinan moralnya, Wanda menelepon polisi dan mengembalikan uang itu. Kesadarannya untuk melakukan hal yang benar menang atas pencobaan untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Seberapa kuatkah tabiat moral Anda? Apakah tabiat itu akan hilang saat Anda dihadapkan pada kesempatan yang sangat menggoda untuk melakukan hal yang tidak benar? Seperti halnya terhadap Yesus, Setan menyerang Adam dan Hawa pada tiga hal, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Nenek moyang kita yang pertama kalah dalam menghadapi bujukan ular (Kejadian 3:1-6), tetapi Yesus tidak (Matius 4:1-11).

Apa pun yang sedang Iblis lakukan untuk menekan kita, mari kita ikuti teladan Yesus dan melakukan tindakan yang benar —Vernon Grounds

8 Februari 2005

Apa Hubungannya?

Nats : Semua yang manis, semua yang sedap didengar, ... pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Kolose 3:1-14

Gambar di layar televisi menarik perhatian kita, sehingga membuat kita duduk menontonnya. Bila kita beralih dari satu saluran ke saluran lainnya dengan cepat, apakah hal itu berhubungan dengan apa yang kita putuskan untuk kita tonton dan apa yang ada di dalam hati kita? Apakah iman kita dalam Kristus ada hubungannya dengan pilihan saluran televisi kita?

Di dunia dengan standar-standar yang merosot, kita harus berpikir lewat pertanyaan ini: Bagaimana hubungan kita dengan Kristus memengaruhi kebiasaan kita menonton televisi?

Seorang penulis sekuler yang mengomentari acara-acara televisi masa kini berkata, “Pendapat tentang ketidaksenonohan kini telah usang.” Ia menjelaskan bahwa ada sebuah standar yang telah dikesampingkan pada masa kini. Standar apakah itu? Saya yakin itu adalah standar moral yang ditemukan dalam ajaran alkitabiah.

Kebanyakan acara yang diproduksi oleh stasiun televisi tidak diatur sesuai dengan pedoman yang Allah kehendaki untuk kita ikuti. Alkitab menyatakan, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Kita memang sulit melakukan hal itu ketika diserang oleh gambar-gambar tidak senonoh yang disajikan oleh televisi.

Mari kita minta pertolongan Allah agar kita dapat membuat pilihan yang benar terhadap acara yang kita tonton di TV —Dave Branon

9 Maret 2005

Berpikir Hati-hati

Nats : Beginilah firman Tuhan semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (Hagai 1:7)
Bacaan : Hagai 1

Pernahkah Anda mengunci mobil dan meninggalkan kunci di dalamnya? Mengeposkan amplop tanpa menempelkan perangko di atasnya? Memasak sebuah resep makanan tanpa memasukkan salah satu bumbu utama?

Hal-hal seperti itulah yang kita lakukan bila kita tidak betul-betul memerhatikan apa yang sedang kita kerjakan. Melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan adalah pikiran yang ceroboh. Tindakan yang keliru atau kelalaian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, dapat menjadi gangguan kecil—atau dapat menimbulkan akibat serius yang berlangsung lama.

Anda dapat berpikir bahwa orang-orang pada zaman Hagai tidak mungkin melakukan kesalahan-kesalahan yang ceroboh. Dua puluh tahun sebelumnya, mereka hidup dalam pembuangan di Babilonia karena tidak menaati Allah. Sekarang mereka telah kembali ke Yerusalem, akan tetapi hidup mereka seolah-olah menunjukkan tidak pernah mengalami pembuangan.

Maka, melalui Nabi Hagai, Allah memberi tahu mereka, "Perhatikanlah keadaanmu!" (Hagai 1:7). Lalu Dia memberi tahu kesalahan mereka: Mereka hidup angkuh dalam kemewahan dan tidak menyelesaikan pembangunan Bait Allah. Pikiran yang ceroboh telah menghasilkan kelalaian dan keputusan yang keliru.

Allah ingin supaya kita berpikir hati-hati terhadap tindakan, perkataan, dan hubungan kita, serta membuat keputusan yang membawa kemuliaan bagi-Nya. Apa pun yang Anda lakukan hari ini, pikirkanlah dengan sungguh-sungguh —JDB

12 April 2005

Rumah Papan

Nats : Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (Hagai 1:4)
Bacaan : Hagai 2:2-10

Nubuat Hagai di dalam Kitab Suci acap kali dilewatkan. Padahal di dalamnya terkandung banyak hal penting bagi kita. Kitab yang singkat ini berisi empat pesan Allah kepada orang-orang buangan Yahudi yang telah kembali dari Babel. Misi mereka adalah membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.

Mereka mengawalinya dengan baik. Namun kemudian semangat mereka menyusut dan justru membangun rumah bagi mereka sendiri. Dalam pesan pertamanya, Hagai bertanya, "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?" (1:4).

Di dalam pesan keduanya (2:2-10), Hagai bertanya apakah ada orang yang mengingat bait Allah yang dibangun oleh Salomo dan dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar. Ternyata tidak banyak orang tua yang pernah mengalami pembuangan itu, yang dapat mengingat kejayaan masa silam. Jika dibandingkan, proyek pembangunan yang diabaikan tersebut tampak menyedihkan.

Marilah kita renungkan selama beberapa saat tentang pekerjaan membangun gereja. Bagi kita, gereja merupakan tubuh Kristus, yaitu orang-orang percaya itu sendiri (1 Korintus 12:27). Misi kita sebagai pengikut Yesus adalah menjadi kuat, mengabdi, bertumbuh, serta bersaksi.

Bagaimanakah keadaan jemaat yang Anda hadiri? Apakah jemaat itu sibuk mengerjakan pekerjaan Allah? Apakah Anda terlibat? Ataukah pikiran Anda telah terganggu dengan pekerjaan membangun "rumah-rumah papan" Anda sendiri? —DCE

11 Januari 2006

Jangan Ganggu Saya

Nats : Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk (Wahyu 3:20)
Bacaan : Wahyu 3:14-22

Ketika masih muda, C.S. Lewis pernah meninggalkan imannya kepada Allah dan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap agama. Ia berkata bahwa semua agama adalah mitos yang diciptakan oleh manusia. Bertahun-tahun kemudian, setelah mengakui Yesus sebagai Putra Allah dan Juru Selamatnya, Lewis menulis di dalam bukunya yang berjudul Surprised By Joy [Dikejutkan oleh Sukacita]:

"Dalam perbendaharaan kata saya, tidak ada kata yang lebih saya benci selain kata campur tangan. Namun kekristenan terletak pada suatu pusat yang bagi saya saat itu tampaknya sebagai Pencampur Tangan tertinggi. Tidak ada tempat, bahkan di kedalaman jiwa seseorang, yang dapat dikelilingi dengan pagar kawat berduri dan dijaga dengan tulisan "Dilarang Masuk". Padahal hal itulah yang saya inginkan; yaitu sebuah tempat, seberapa pun kecilnya, di mana saya dapat berkata kepada makhluk-makhluk lain, 'Ini urusan saya dan hanya milik saya.'"

Setiap orang berhak berkata kepada Allah, "Tinggalkan saya sendiri. Jangan ganggu saya." Namun, Tuhan pun berhak untuk mengejar kita dengan belas kasih-Nya yang pantang menyerah. Kepada gereja yang puas diri di Laodikia, Kristus yang telah bangkit berkata, "Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku" (Wahyu 3:20).

Karena anugerah-Nya, Tuhan terus mengetuk, siap untuk mengisi hidup kita dengan kasih-Nya --DCM

24 Maret 2006

Hakim Tukang Kayu

Nats : Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati (Kisah 10:42)
Bacaan : Kisah 17:22-31

Kita tidak dapat menghindar dari Ye-sus Kristus. Jika kita tidak menerima-Nya sebagai Juru Selamat, kita tetap akan berdiri di hadapan-Nya sebagai Hakim Kekal kita dalam kehidupan yang akan datang.

Ada sebuah cerita di dalam buku yang berjudul Gray and Adams Commentary tentang seorang dokter yang "mengangkat topik ini sebagai masalah utama dalam pembahasannya tentang agama. Ia mengangkat topik ini dengan tujuan untuk merendahkan karakter dan wibawa Kristus". Ia sangat memandang rendah Sang Juru Selamat dan sering mengucapkan hal-hal yang merendahkanNya dengan menjuluki-Nya "anak tukang kayu".

Akhirnya, dokter tersebut menderita sakit yang parah. Selama beberapa minggu sebelum kematiannya, ia menjadi sangat gelisah. Ia berkata kepada orang yang membesuknya, "Saya sedang sekarat, dan penyebab utama dari semua ini pasti karena saya dihakimi oleh anak tukang kayu itu!"

Dokter itu menghadapi masa depan yang mengerikan, yang akan dialami oleh orang-orang yang menolak Yesus. Namun, pada saat-saat terakhir, jika ia mau menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya, ia akan menemukan kedamaian dan menerima keselamatan kekal.

Bagaimanakah cara Anda memperlakukan Kristus? Ingatlah bahwa "anak tukang kayu itu" adalah Anak Allah. Percayalah kepada-Nya hari ini! Dengan begitu, Anda nantinya akan menerima anugerah keselamatan -- dan bukan hukuman kematian (Yohanes 3:17) --RWD

21 April 2006

Tidak Cukup

Nats : Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Lukas 9:25)
Bacaan : Pengkhotbah 2:1-16

Penulis kitab Pengkhotbah mengata-kan bahwa kesenangan, harta benda, dan bahkan pengetahuan yang hebat tidak membawa kepuasan abadi. Perkataan Yesus bahkan melebihi itu. Dia berkata bahwa seseorang yang memiliki segalanya di bumi ini, tetapi tidak siap menyongsong kekekalan adalah orang yang mati rohani. Kita semua membutuhkan lebih dari sekadar kesenangan, uang, dan ketenaran.

Merenungkan hal ini membuat saya teringat pada beberapa orang terkenal yang bunuh diri. Salah satunya adalah seorang bintang bisbol, beberapa adalah pekerja di dunia hiburan, dan dua lainnya adalah pewaris harta kekayaan yang besar. Saya juga teringat pada seorang cendekiawan yang sangat dihormati dan istrinya yang bersama-sama meminum obat-obatan dengan dosis mematikan tatkala mereka mengetahui bahwa sang istri mengidap kanker stadium akhir. Orang-orang ini gagal menemukan makna hidup mereka.

Karena kita diciptakan segambar dengan Allah, kehidupan kita memiliki makna, baik sekarang maupun kelak dalam kekekalan. Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya dan menempatkan kita di dunia ini untuk menghormati-Nya. Kita mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk merenungkan tentang Dia dan kekekalan.

Percaya bahwa Yesus telah mati bagi dosa-dosa kita dan bangkit akan memenuhi kebutuhan kita akan makna kehidupan. Keselamatan memberi jaminan bahwa kita telah diampuni. Kita memiliki tujuan kekal dan pengharapan surgawi. Ini cukup untuk membawa kedamaian dan sukacita yang mendalam bagi kehidupan kita. Sudahkah Anda mendapati hal ini terjadi dalam hidup Anda? --HVL

8 Mei 2006

Menjarah Perkemahan

Nats : Bukankah hatiku ikut pergi ...? Maka sekarang, engkau telah menerima uang dan pakaian ...? (2Raja 5:26, versi King James)
Bacaan : 2Raja 5:15-27

Pada saat mengunjungi medan tempat terjadinya perang saudara Amerika di Virginia, saya tertarik pada kisah tentang sebuah kesatuan militer yang terlambat tiba di pertempuran. Mereka terlambat karena berhenti dulu untuk menjarah perkemahan yang ditinggalkan musuh. Dengan mengambil barang-barang yang mereka rasa perlu, mereka akhirnya tak dapat menunaikan tugas.

Kisah ini sepertinya dapat menggambarkan kegagalan Gehazi, pelayan Nabi Elisa, yang meminta uang dan pakaian dari Naaman, panglima raja Syria (2Raja 5:20-25). Elisa memberi tahu Naaman bagaimana ia dapat sembuh dari penyakit kustanya, tetapi Elisa menolak segala hadiah atau pembayaran darinya (ayat 16). Namun, Gehazi memutuskan untuk mengambil sesuatu bagi dirinya sendiri (ayat 20). Dengan kecaman pedas, Elisa berkata kepada Gehazi, "Maka sekarang, engkau telah menerima uang dan pakaian ...? Tetapi penyakit kusta Naaman akan melekat kepadamu dan kepada anak cucumu untuk selama-lamanya" (ayat 26,27).

Keinginan untuk memperoleh keuntungan pribadi dapat menjadi jerat dalam pelayanan kita bagi Tuhan. Jerat itu dapat berupa daya pikat halus untuk memperoleh pengakuan atau daya tarik mematikan untuk memperoleh imbalan uang. Semua alasan yang mengubah fokus kita dari sikap memberi kepada Allah menjadi mengambil sesuatu dari-Nya dapat menjadi bahaya rohani yang nyata.

Keserakahan membuat kita percaya bahwa kita berhak menerima apa yang kita inginkan. Pikiran ini mengarahkan kita ke jalan yang salah. Kiranya Allah memberi kita hikmat untuk menghindari dosa yang diperbuat oleh Gehazi --DCM

23 Mei 2006

Selamat Datang Kritik

Nats : Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak (Amsal 15:5)
Bacaan : Amsal 9:1-10

Peneliti kanker Dr. Robert Good adalah sosok pekerja keras yang secara cerdas dapat memunculkan ide-ide baru. Menurut artikel yang saya baca tentang beliau, ia memiliki kemampuan untuk menggunakan semua informasi yang pernah ia peroleh.

Meskipun demikian saya sangat terkesan dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa ia bersedia mengakui kesalahan yang terjadi dalam berbagai teorinya dan meninggalkannya lebih cepat dari siapa pun dalam penelitian medis. Salah seorang rekannya berkata, "Dr. Good tidak pernah ‘menikahi’ hipotesa-hipotesanya, jadi ia juga tidak merasakan sakitnya ‘perceraian’ apabila salah satu hipotesanya terbukti salah."

Amsal 9 sangat menghargakan kesediaan untuk menghadapi kesalahan dan mengakuinya. Renungan hari ini menggambarkan "orang bijak" sebagai orang yang mau belajar dari kesalahannya. Apabila ia ditantang, ia menahan diri untuk tidak meninggikan punggungnya seperti layaknya kucing jantan yang terancam. Sebaliknya, ia menerima setiap nasihat dengan baik dan bahkan itu menjadi sarana penting baginya untuk menambah pengetahuan (ayat 9). Di pihak lain, apabila seorang "pencemooh" dikecam, ia menanggapinya dengan kemarahan dan kebencian (ayat 8). Karena rasa egonya terlalu besar, ia tidak mau mendengar apabila kesalahannya dikemukakan.

Kita perlu mengikuti jalan yang penuh hikmat dengan memerhatikan kata-kata yang menegur kita. Untuk sungguh-sungguh menjadi bijak, kita harus ingat bahwa adakalanya kita juga melakukan hal yang bodoh --MRD

5 Juni 2006

Apa yang Allah Katakan?

Nats : Beginilah diperintahkan kepadaku atas firman Tuhan (1Raja-raja 13:9)
Bacaan : 1Raja-raja 13:7-22

Sebuah eksperimen menunjukkan bagaimana para remaja bersikap saat menghadapi tekanan dari teman-teman sebaya. Kelompok-kelompok yang terdiri dari sepuluh remaja itu dibawa ke dalam sebuah ruangan dan diperintahkan untuk mengangkat tangan saat sang guru menunjuk garis yang terpanjang dari tiga pilihan garis. Sembilan dari mereka telah diberi tahu sebelumnya untuk memilih garis terpanjang kedua. Akan tetapi, satu orang di dalam kelompok itu tidak diberi tahu.

Eksperimen tersebut dimulai dengan sembilan orang remaja yang memilih garis yang salah. Lalu orang yang kesepuluh biasanya akan menoleh ke sekelilingnya, mengernyitkan dahi dengan bingung, kemudian ia akan mengangkat tangan mengikuti kelompok tersebut karena ia tidak memiliki cukup keberanian untuk berbeda dari mereka.

Di dalam 1Raja-raja 13, seorang nabi Allah yang tak dikenal melakukan tanda-tanda mukjizat di altar di Betel (ayat 1-6). Namun kemudian, setelah kemenangan besar ini, ia mengutip perkataan seorang nabi lain sebagai kebenaran, sekalipun ia tahu perkataan itu bertentangan dengan apa yang telah dikatakan Allah kepadanya (ayat 15-19). Dan karena ketidaktaatannya itu, ia pun akhirnya tewas oleh seekor singa (ayat 20-24).

Cerita di atas mengajarkan kepada kita bahwa firman Allah lebih tinggi daripada perkataan orang lain, dan karena itu harus ditaati. Saat kita tergoda untuk menyerah di bawah tekanan, saat itulah kita harus berdiri tegak. Firman Allah -- kebenaran itu -- selalu dapat diandalkan --AMC

20 Juni 2006

Sesuai Hukum Vs Benar

Nats : Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia" (Kisah Para Rasul 5:29)
Bacaan : Kisah Para Rasul 5:17-29

Di dalam bukunya yang memberi dampak bagi banyak orang, Unspeakable, Os Guinness bergumul dengan masalah kejahatan di dunia. Pada satu bagian, ia memusatkan perhatian pada pengadilan Nuremberg setelah Perang Dunia Kedua. Orang-orang Nazi dituntut atas kejahatan mereka terhadap nilai kemanusiaan, tetapi mantra pembelaan mereka sederhana: "Saya hanya mengikuti perintah." Namun, pengadilan memutuskan bahwa para prajurit tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menolak perintah, yang walaupun sesuai hukum, tetapi perintah itu jelas-jelas salah.

Dalam konteks yang jauh berbeda, Petrus dan para murid ditangkap karena menyampaikan pesan tentang Kristus yang bangkit dan mereka dibawa ke hadapan para pimpinan agama di Yerusalem. Para murid tidak membiarkan diri dibentuk oleh pendapat orang banyak. Sebaliknya, mereka menyatakan maksud mereka untuk terus mengabarkan tentang Kristus.

Perintah institusi agama itu mungkin sesuai dengan hukum yang berlaku, tetapi salah. Saat para murid memilih untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada pemimpin-pemimpin agama yang tidak bertuhan, mereka menaikkan standar yang jauh melebihi pendapat para pemimpin dunia ini.

Pencobaan yang kita hadapi barangkali menguji komitmen kita. Namun, kita akan memiliki kesempatan untuk mengagungkan Sang Raja, apabila kita percaya Dia memberikan kekuatan yang melampaui kata-kata yang menyenangkan orang banyak, dan melakukan hal yang benar seperti yang telah Dia tetapkan di dalam firman-Nya --WEC

10 Juli 2006

Tidak Cukup dengan Otak

Nats : Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan (1Raja-raja 11:6)
Bacaan : 1Raja-raja 11:1-13

Mengapa orang pandai melakukan hal-hal yang bodoh? Berulang kali saya mendengar kisah sedih tentang orang dengan IQ tinggi yang tidak memiliki kearifan moral, sehingga mereka mengalami akibat yang tragis. Hal ini tampak jelas bahwa otak yang cerdas tidak cukup untuk mencegah seseorang untuk membuat pilihan yang buruk.

Hal ini berlawanan dengan keyakinan yang dipegang oleh sebagian orang bahwa pendidikan yang lebih baik dapat memecahkan masalah ketidakberesan di tengah masyarakat. Alasannya, "Jika kita mendidik orang tentang bahaya terhadap ..., mereka tidak akan melakukan hal ‘itu’ sehingga akan menjauhkannya dari berbagai akibat yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan."

Akan tetapi, pengalaman dan Alkitab menyatakan hal yang berbeda kepada kita. Kenyataannya, orang paling pandai yang pernah ada pun bisa bertindak bodoh ketika membuat pilihan yang buruk.

Raja Salomo, raja Israel pada zaman dahulu, penulis banyak kitab Amsal, menulis, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan" (4:23) dan "Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian" (14:33). Meskipun mengetahui hubungan antara hati dan hikmat, sang raja tidak menaati Allah dengan menikahi wanita asing yang "mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain" (1Raja-raja 11:4). Akibatnya, Tuhan berfirman, "Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu" (ayat 11).

Kecakapan untuk membuat keputusan yang baik menuntut adanya hati yang dipersembahkan kepada Allah --JAL

4 November 2006

Para Penasihat

Nats : Jikalau penasihat banyak, keselamatan ada (Amsal 11:14)
Bacaan : Amsal 11:14; 12:15; 27:9

Pada bulan Oktober tahun 1962, dunia seolah-olah menahan napas saat Amerika Serikat dan Rusia hampir melancarkan perang nuklir. Pada saat itu, Perdana Menteri Nikita Khrushchev telah mengirim bom nuklir ke Kuba dan Presiden John F. Kennedy memerintahkan agar bom tersebut segera dimusnahkan. Ketegangan pun menjadi sangat tinggi pada saat itu.

Kennedy kemudian menghubungi tiga orang mantan presiden Amerika Serikat untuk meminta nasihat dari mereka. Herbert Hoover yang pernah mengalami krisis ekonomi Depresi Besar; Harry Truman yang mengakhiri Perang Dunia kedua; dan Dwight Eisenhower yang pernah menjadi Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa. Masing-masing memiliki wawasan bernilai yang dapat dibagikan. Setelah Kennedy berunding dengan ketiga penasihat yang berasal dari Gedung Putih itu, maka ia dapat mengambil keputusan adil yang menghapuskan semua krisis. Hasilnya, perang pun dapat dihindari.

Alkitab mendorong kita untuk mencari nasihat dari orang yang bijaksana. Amsal 11:14 mengatakan, "Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada." Kata yang diterjemahkan "penasihat" (counsel) adalah terjemahan bahasa Ibrani untuk "mengemudikan sebuah kapal". Nasihat yang bijak akan menuntun kita ke arah yang benar.

Apakah Anda sedang mengalami krisis? Seorang yang benar-benar bijaksana akan terbuka untuk memberikan nasihat dan saran bagi orang lain. Tidakkah hari ini Anda berdoa untuk mendapatkan nasihat dari orang-orang percaya yang saleh? --HDF

6 Januari 2007

Memberi Sepenuhnya

Nats : Janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya (Markus 12:44)
Bacaan : Markus 12:41-44

Pak Branon, saya harus berbicara dengan Anda mengenai hal yang sangat penting," kata suara di ujung telepon yang lain. Telepon itu saya terima dua hari sebelum sekelompok kecil remaja dan orang dewasa pergi ke Jamaika untuk mengikuti perjalanan misi khusus. Selama berbulan-bulan kami berencana untuk pergi ke sebuah sekolah khusus anak tunarungu untuk membangun lapangan bermain yang sangat dibutuhkan. Karena itu, saat remaja ini menelepon, saya berpikir, Oh, tidak. Jangan-jangan ia tidak bisa ikut pergi.

Namun, saat ia, ibunya, dan saya bertemu untuk makan siang, saya baru menyadari betapa istimewanya gadis ini. Ia mengatakan bahwa ia akan menyumbangkan seluruh tabungannya untuk membantu biaya perjalanan. Tabungan itu sebenarnya hendak ia pakai untuk membeli sebuah mobil. "Saat saya berdoa selama dua hari terakhir ini," jelasnya, "saya merasa Allah menyuruh saya memberikan semua uang saya." Hari itu kami berlinang air mata sukacita sambil menikmati burger dan kentang goreng.

Kisah di atas menggambarkan seberapa besar diri kita harus dipersembahkan kepada-Nya! Allah menginginkan pengorbanan yang utuh -- betapa pun sulitnya -- tak hanya pemberian sebanyak 10 persen. Jika Yesus benar-benar Tuhan kita, maka kita harus memberikan seluruh keberadaan kita kepada-Nya, yaitu berupa kata-kata, waktu, dan berbagai pilihan kita.

Yesus memuji janda yang "memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya" (Markus 12:44). Bayangkan pengaruh yang dapat kita miliki jika kita memberikan diri kita seluruhnya --JDB

27 September 2007

Menabur dan Menuai

Nats : Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Galatia 6:7-9

Waktu itu diri saya tampak masih lugu. Saya baru saja pulang dari sekolah dan memberi tahu Ibu bahwa saya akan pergi ke rumah seorang teman untuk bermain football. Ibu bersikeras agar saya tetap di rumah dan mengerjakan PR. Namun, saya menyelinap keluar lewat pintu belakang dan menghabiskan 2 jam berikutnya untuk bermain football di halaman belakang rumah teman saya. Namun, pada permainan terakhir, saya dijegal hingga tersungkur dan gigi depan saya patah. Saya sangat kesakitan, dan rasanya lebih sakit lagi saat menceritakannya kepada orangtua saya.

Keputusan untuk tidak taat itu mengantar saya pada berbagai masalah gigi selama 10 tahun dan rasa sakit yang pengaruhnya masih berlanjut sampai hari ini. Pemain bisbol, Roy Hobbs, berkata dalam film The Natural, "Sebagian kesalahan memiliki dampak yang harus Anda tanggung seumur hidup."

Berabad-abad lalu, Paulus menangkap pemahaman yang sama dalam hukum universal tentang menabur dan menuai. Ia berkata, "Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7). Keputusan kita kerap memiliki jangkauan dan dampak yang tak pernah kita bayangkan. Dengan demikian, perkataan Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mengambil keputusan dengan bijaksana.

Keputusan yang kita ambil hari ini menghasilkan konsekuensi yang akan kita tuai esok hari. Jauh lebih baik menghindari dosa sejak awal daripada kelak harus bergumul untuk mengatasi akibat dosa.

Ya Tuhan, kami membutuhkan hikmat-Mu untuk menolong kami mengambil keputusan yang benar, dan pengampunan-Mu bila kami mengambil keputusan yang buruk --WEC

6 Januari 2008

Gereja Online?

Nats : Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati ... (Ibrani 10:25)
Bacaan : Ibrani 10:19-25

Di zaman serbacanggih ini, orang bisa beribadah tanpa harus pergi ke gereja. Ada "gereja BTV" atau "gereja online" di internet. Setiap Minggu, orang bisa beribadah di depan layar kaca. Bahkan, di Amerika ada gereja yang menawarkan ibadah drive-thru. Anda bisa beribadah tanpa turun dari mobil. Cukup buka kaca mobil Anda. Petugas akan memberikan CD berisi khotbah, lembar bacaan Alkitab, serta kotak berisi roti dan air anggur perjamuan. Anda bisa memberi kolekte atau minta didoakan, lalu melanjutkan perjalanan sambil mendengarkan CD khotbah. Setelah itu, makan roti dan minum anggur perjamuan.

Namun, apakah yang kurang di sini? "Pertemuan ibadah"! Penulis kitab Ibrani melarang kita untuk menjauhi pertemuan ibadah. Maksudnya, ibadah bersama di mana umat Tuhan saling bertemu. Bertatap muka. Hadir. Kehadiran itu penting, sebab kita tidak dirancang untuk hidup sendiri. Sebagai anggota tubuh Kristus, kita perlu terus saling berhubungan. Sekeping puzzle tidak akan berarti jika berdiri sendiri. Namun, saat disatukan dengan kepingan-kepingan lain pada posisi yang tepat, maka akan terbentuk gambar yang indah. Itulah yang terjadi saat umat Tuhan beribadah. Ketika kita hadir, bukan hanya Tuhan dimuliakan. Kita pun dapat saling menguatkan dan menasihati.

Tahun lalu, pernahkah Anda menjauhkan diri dari pertemuan ibadah? Entah karena bosan dengan acara ibadahnya, atau karena di sana ada orang yang tidak Anda sukai. Di tahun baru ini, buatlah komitmen untuk kembali hadir di sana. Libatkan diri dalam ibadah bersama dan rasakan bedanya! --JTI

5 Maret 2008

Tidak Berkubang

Nats : Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan (Roma 6:22)
Bacaan : Roma 6:15-23

Suatu hari, Philip Yancey, penulis kristiani ternama, didatangi seorang pria yang menyatakan ingin menceraikan istrinya dan menikahi perempuan lain. Ia bertanya, "Maukah Allah mengampuni dosa yang akan saya lakukan ini? Bukankah Allah Mahakasih?" Yancey mengingatkan, jika seseorang sengaja hidup dalam dosa, bisa jadi ia lupa kembali ke jalan Tuhan. Namun, nasihat itu tak digubris. Rencananya tetap dijalankan. Ternyata benar, pria itu tak lagi mau kembali. Ia tidak hanya jatuh dalam dosa, tetapi juga memilih hidup dalam dosa.

Ini serupa dengan cerita tentang babi dan kucing. Pria itu memilih menjadi seperti babi, yang bila dimasukkan ke kubangan, ia betah berkubang di situ. Ia tak memilih sikap seperti seekor kucing, yang bila jatuh ke kubangan, ia akan segera berupaya keluar.

Seperti Yancey, Paulus pun mengingatkan kita supaya berhati-hati. Setelah menerima kasih karunia Tuhan, kita harus berjaga-jaga agar jangan diperalat lagi untuk menjadi hamba dosa, sebab kita sudah dimerdekakan! Kuasa Kristus memampukan kita untuk menang atas dosa.

Mari kita jagai hidup agar tidak menyerah pada perbuatan dosa. Sebaliknya, hendaklah kita menjadi hamba kebenaran (Roma 6:18). Artinya, tiap hari dan tiap saat kita berupaya menaati kebenaran firman yang membawa kita kepada pengudusan. Ya, orang percaya masih bisa jatuh ke dalam dosa. Godaan dan cobaan masih akan terus kita jumpai. Namun, jika kita jatuh, segeralah bangkit kembali. Jangan betah berlama-lama hidup dalam dosa. Jangan biarkan dosa menguasai kita -JTI

4 April 2008

Gembalakanlah

Nats : Kata Yesus kepadanya, "Gembalakanlah domba-dombaku" (Yohanes 21:16)
Bacaan : Yohanes 21:15-17

Singapura terkenal sebagai negeri "kecil" yang sibuk. Biasanya, orang-orang di sana berjalan kaki sangat cepat, tidak menengok kanan kiri; seolah-olah dikejar sesuatu. Grasah-grusuh. Tak heran kalau ada humor, katanya untuk menemukan orang Indonesia di Singapura itu mudah; kalau jalannya santai, alon-alon waton kelakon, dia pasti orang Indonesia.

Kesibukan memang belum tentu buruk, tetapi hati-hati jangan sampai kesibukan membuat kita tak punya waktu untuk hal-hal yang justru penting. Pendeta, majelis, aktivis gereja, bisa terjebak kesibukan sehingga malah tidak memiliki waktu pribadi bersama Tuhan. Orangtua yang berkarier "demi anak" bisa sangat sibuk sehingga malah tak punya waktu bersama anak. Suami yang sibuk bekerja demi membahagiakan istri, malah tidak punya waktu untuk bersama istrinya. Kesibukan justru mengaburkan tujuan awal dari aktivitas yang dilakukan.

Kesibukan bisa menghambat kebahagiaan, bahkan menghambat kita melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Sebab tanpa disadari kita mengabaikan banyak orang karena sibuk. Saat Yesus berkata hingga tiga kali dalam bacaan kita, "Gembalakanlah domba-dombaku", Dia memberi kita tanggung jawab penggembalaan. Yakni untuk peduli, melindungi, memelihara, menghibur, mengobati yang terluka, mencari yang hilang.

Mari lihat kembali laju hidup ini. Lambatkan sedikit lajunya bila terlalu cepat, supaya kita bisa melihat kepenatan dan kesakitan orang yang dicambuk kehidupan, serta dapat melakukan sesuatu bagi mereka. Dengan kepedulian, semoga kita dapat memberi kesejukan, dan kekuatan baru -MNT

21 April 2008

Dari yang Terdekat

Nats : Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya .... Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia (Amsal 31:27,28)
Bacaan : Amsal 31:10-31

Saat berbincang santai dengan ibu saya yang berumur 83 tahun, saya menarik-narik pelan kulit tangannya yang sudah menggelambir. Ya, saya ingat bagaimana tangan itu kadang harus mengangkat papan-papan jati yang besar dan berat ketika ia membuka dan menutup toko rotinya yang mungil. Dengan senyum, setiap hari ia melayani pelanggannya selama hampir 30 tahun. "Dulu tangan ini kuat untuk bekerja sehingga kalian bertujuh bisa bersekolah dan mandiri. Sekarang aku berbahagia dan bersyukur atas hidupku," simpulnya saat mengenang masa ia berjuang demi hari depan anak-anaknya.

Peran wanita dalam Amsal 31 sungguh luar biasa. Ia dapat dipercaya, dan olehnya, suaminya diberkati (ayat 11,12). Ia rajin dan dapat mengatur rumah tangga dengan baik, hingga anak-anak dan suaminya sangat menghargainya (ayat 13-15,27, 28). Ia meniti karier (ayat 16-18), tetapi masih sempat memerhatikan orang lain yang membutuhkan pertolongan (ayat 20). Penampilannya selalu apik (ayat 22). Ia takut akan Tuhan (ayat 30). Ia melayani sesama sebagai perwujudan imannya kepada Tuhan.

Meski mungkin tak selengkap gambaran Amsal 31, setiap wanita juga dapat mulai memberi hidup bagi sesama, sejak hari ini. Dan bisa mulai dari keluarga, yang ditemui setiap hari. Mulai dari hal yang biasa dilakukan untuk mereka. Bila semuanya dilakukan dengan penuh syukur dan kesetiaan, kelak akan timbul kekaguman karena Tuhan memakai hidup keseharian seorang wanita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Orang-orang terdekat kita, apakah mereka merasakan kehadiran, kasih, dan pelayanan kita? -YS

3 September 2008

Bukan Bahan Gosip

Nats : Siapa saja di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu (Yohanes 8:7)
Bacaan : Yohanes 8:1-11

Dalam buku Connecting, Larry Crabb menceritakan kisah berikut. Dalam sebuah acara retret bagi kaum muda bermasalah, seorang gadis berdiri untuk menuturkan pergumulannya. Dengan bibir bergetar dan air mata meleleh membasahi pipi, ia mengaku, "Saya telah menjadi pelacur selama tiga tahun terakhir ini. Saya sangat menyesal."

Saat gadis itu masih berdiri dengan gamang, ayahnya berjalan menghampiri, lalu memeluknya dan berkata, "Saat aku melihatmu, aku tidak melihat seorang pelacur di dalam dirimu. Kamu sudah dibasuh oleh darah Kristus. Kini aku melihat putriku yang cantik."

Kisah ini bukan hanya kisah keluarga yang menyentuh, melainkan juga memuat pelajaran yang patut diterapkan dalam kehidupan bergereja, khususnya saat menyikapi anggota jemaat bermasalah. Bagaimana tanggapan kita bila tahu ada saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa? Tak jarang kejadian itu malah menjadi ajang penghakiman dan bahan gosip.

Tanggapan itu sangat ganjil kalau kita menyadari bahwa gereja adalah keluarga Allah. Orang yang jatuh ke dalam dosa bukan penyakit yang perlu disingkiri, melainkan saudara yang harus diperhatikan dan ditolong. Seperti ayah gadis tadi, kita dapat belajar untuk tidak berfokus pada kesalahan yang diperbuat, tetapi pada realitas kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus dan pemulihan yang tersedia di dalam anugerah-Nya. Sikap semacam ini mengandung daya pemulihan yang manjur untuk membangkitkan kembali mereka yang jatuh. Itulah yang dilakukan Yesus terhadap perempuan -ARS

7 September 2008

Persepuluhan

Nats : Yang satu (persepuluhan)
Bacaan : Maleakhi 3:1-10

Tentang persepuluhan, ada yang berkata, "Persepuluhan harus dikembalikan ke gereja lokal, kalau tidak, berarti kita merampok milik Tuhan". Sebaliknya, ada pula yang berkata, "Itu sistem di Perjanjian Lama. Bukankah kita hidup di zaman Perjanjian Baru, zaman anugerah, jadi yang penting kita memberi dengan rela dan sukacita."

Begitulah, kita bisa terjebak dalam kebingungan bila mengubah, menambah, atau mengurangi ayat Alkitab semau kita menjadi "lebih indah dari warna aslinya". Padahal, Maleakhi 3:10 dan Imamat 27:30 telah menuliskan persepuluhan ini dengan jelas. Tak ada kata tuduhan "merampok" atau "merampas". Kita hanya menerima nasihat, "bawalah milik TUHAN". Selanjutnya, persepuluhan tidak hanya disebut dalam Perjanjian Lama, tetapi juga dalam Perjanjian Baru. Yesus mengatakan, "Yang satu (persepuluhan) harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan" (Matius 23:23). Bahkan lebih jauh Perjanjian Baru juga menegaskan, bahwa tak hanya sepersepuluh, tetapi juga seluruh hidup kita adalah milik Tuhan, karena kita sudah ditebus dengan darah Yesus yang mahal (1Petrus 1:18,19).

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru berbicara sangat jelas mengenai persembahan. Yang penting; baik persepuluhan, persembahan iman dan syukur, atau apa pun namanya, harus diberikan bukan dengan duka atau terpaksa. Namun, dengan motivasi yang benar, bukan untuk pamer (Matius 6:3) dan dengan rela dan sukacita (2Korintus 9:7). Dengan demikian, Allah pun berkenan atas setiap persembahan kita. Inilah prinsip yang utuh di dalam seluruh Alkitab -ACH



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA