Topik : Tuntunan/Pimpinan

18 November 2002

Interlude

Nats : Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Markus 6:31)
Bacaan : Markus 6:30-34

Allah menuliskan irama hidup kita. Dan tugas kita adalah mengikuti arahannya dalam menyenandungkan, menyelaraskan, memadukan, dan menyanyikan sebuah irama.

Melayani Tuhan, seperti halnya menyanyi, dapat membangkitkan semangat dan membanggakan. Namun, seperti halnya ketika musik interlude [nada sela di tengah-tengah lagu, biasanya penyanyi berhenti menyanyi] mengalun, saat kita disisihkan karena sakit, digantikan orang lain, atau pensiun, kita bisa frustasi dan kecewa. Ketika Allah berkata, "Mari ... beristirahatlah" (Markus 6:31), kita mungkin tidak ingin berhenti. Kita menganggap seakan-akan pertunjukan kita sudah selesai dan kita sudah sampai pada akhir lagu kita.

Jika kita membiarkan diri tenggelam dalam kesedihan karena ketidakaktifan, maka kita hanya akan memusatkan perhatian pada kekurangan kita. Untuk itu, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa Tuhan barangkali menggunakan waktu istirahat kita untuk membuat musik kita lebih baik.

Sang Konduktor Agung menghitung waktu dengan tepat. Dia memiliki begitu banyak aransemen musik yang tidak kita ketahui. Jika mata kita tetap tertuju kepada-Nya, maka di saat yang tepat Dia akan memampukan kita untuk kembali bernyanyi.

Selain itu kita dapat menikmati waktu istirahat kita. Itu adalah kesempatan untuk menenangkan jiwa dan mempersiapkan langkah kita selanjutnya. Istirahat bukanlah suatu kesalahan atau penelantaran, melainkan satu bagian penting dari simfoni yang Allah tuliskan di awal hidup kita dan Dia melatih kita setiap hari.

Sang Konduktor tahu yang terbaik. Nantikanlah Dia –David Roper

6 Januari 2003

Allah Melihat Kita

Nats : Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi" (Kejadian 16:13)
Bacaan : Kejadian 16:1-13

Hamba perempuan Sarah, yakni Hagar, melarikan diri ke padang gurun karena ia telah ditindas oleh Sarah. Tatkala Hagar berdiri di dekat mata air yang ada di tempat yang terpencil dan sunyi itu, Malaikat Tuhan datang kepadanya. Malaikat itu meyakinkan dirinya bahwa Allah mengetahui keadaannya. Mendengar perkataan malaikat tersebut, Hagar menjawab, "Engkaulah El-Roi [Allah yang telah melihat aku]" (Kejadian 16:13). Ia mendapat penghiburan yang luar biasa ketika mengetahui bahwa Allah telah melihatnya dan mengetahui kesulitannya.

Dalam pemeliharaan Allah, kita pun dapat memiliki keyakinan yang sama seperti Hagar. Kita boleh yakin bahwa Tuhan Allah menyertai kita ke mana pun kita pergi. Dia juga mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada kita. Sebagai Pribadi yang Mahakuasa, Dia mampu memecahkan setiap masalah, betapapun berat dan rumitnya masalah yang kita hadapi. Ya, kita tak pernah sendiri, tak pernah terlupakan, dan tak pernah putus pengharapan.

Bagaimanapun sukarnya keadaan Anda saat ini; menderita penyakit, mengalami ketidakadilan, kehilangan orang yang terkasih, atau kecewa karena seorang sahabat mengkhianati atau menolak Anda, ingatlah hal ini. Allah memahami semua yang Anda alami dan Dia mempedulikan Anda. Mungkin Anda sangat tertekan. Mungkin Anda diliputi kesepian dan keputusasaan. Namun Anda harus yakin bahwa Allah senantiasa memperhatikan Anda. Ya, seperti Hagar, Anda harus tahu bahwa Allah melihat keadaan Anda --Richard De Haan

14 Januari 2003

Warisan

Nats : Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)
Bacaan : Mazmur 46

Erma Bombeck menulis sebuah kolom tentang konflik yang kadang kala terjadi saat dilakukan pembagian harta keluarga di antara saudara kandung setelah orangtua mereka meninggal. Entah itu berupa mangkuk, selimut Nenek, atau hiasan-hiasan Natal, sering kali orang merasa yakin bahwa merekalah yang seharusnya memiliki benda tertentu. Bombeck mengatakan bahwa ia tak pernah menginginkan TV atau tote bag [tas besar yang dipakai untuk membawa pakaian, sepatu, paket-paket, dll.] untuk mengenang orangtuanya, karena warisan sejati mereka untuknya adalah cara hidup mereka, bukan harta yang mereka tinggalkan.

Tulisan tersebut membuat saya bertanya, "Apakah warisan yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak saya kelak?" Lalu saya menyimpulkan bahwa saya ingin anak-anak saya merasa bahwa ayah mereka telah membantu mereka belajar ke mana harus pergi bila badai kehidupan menerpa. Dalam Mazmur 46, tiga kali penulis menunjuk Tuhan sebagai "tempat perlindungan", yakni tempat perlindungan pada masa yang penuh bahaya atau kesukaran (ayat 2,8,12). Dalam Amsal 14:26, kita juga membaca bahwa akan "ada perlindungan" bagi anak-anak dari orang yang takut akan Allah.

Jika saat ini saya belajar untuk mencari tempat berlindung dan kekuatan dalam Tuhan, maka kelak anak-anak saya akan memiliki teladan untuk diikuti dan tahu ke mana mereka harus berpaling. Saya akan gembira jika suatu hari kelak mereka akan mengatakan bahwa mereka telah menemukan perlindungan di dalam Tuhan dan bahwa: "Ayah ingin saya memiliki ini." --David McCasland

21 Januari 2003

Pencucian Mobil

Nats : Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau (Yesaya 43:2)
Bacaan : Yesaya 43:1-13

Saya tak akan pernah melupakan pengalaman pertama saya menggunakan pencuci mobil otomatis. Saya mendatangi tempat itu dengan ketakutan yang sama seperti ketika ke dokter gigi. Lalu saya memasukkan uang ke mesin. Dengan gugup saya memeriksa jendela berkali-kali, memindahkan mobil ke jalur yang tersedia, dan menunggu. Tiba-tiba ada sesuatu yang mulai menggerakkan mobil saya, seolah-olah saya berada di atas ban berjalan. Dan ketika air yang deras menyembur, sabun dan sikat-sikat menerpa mobil saya dari berbagai arah, saya terpaku di dalam mobil seperti kepompong. Bagaimana bila saya terjepit di sini atau air menyembur masuk? pikir saya dengan bodoh. Tiba-tiba air berhenti. Setelah dikeringkan, mobil saya terdorong keluar lagi, dalam keadaan bersih dan mengkilap.

Pada saat itu, saya teringat akan masa-masa ketika saya diterpa badai kehidupan. Dalam keadaan seperti itu saya seolah-olah berada di atas ban berjalan, dan menjadi korban dari suatu kekuatan di luar kendali saya. "Pengalaman di pencucian mobil" demikian saya menyebutnya. Saya ingat bahwa ketika saya melalui sungai yang dalam, Sang Penebus menyertai saya dan melindungi saya dari air pasang (Yesaya 43:2). Ketika saya berhasil tiba di seberang, saya bisa berkata dengan sukacita dan penuh iman, "Dia adalah Allah yang setia!"

Apakah Anda sedang mengalami "pengalaman di pencucian mobil"? Percayalah, Allah akan membawa Anda ke seberang dengan selamat. Anda akan dapat memberikan kesaksian yang indah tentang kuasa pemeliharaan- Nya --Joanie Yoder

22 Januari 2003

Kritik

Nats : Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak (Amsal 12:15)
Bacaan : Amsal 15:1-12

Ketika saya masih remaja, sebuah keluarga baru masuk menjadi anggota jemaat kami. Sang istri pendiam, tetapi suaminya bersuara keras, suka mengkritik, dan suka memaksa. Saya berdiri dekatnya pada suatu hari Minggu pagi. Saat itu ia menegur pendeta dan dengan kata-kata tajam menyerang sesuatu yang telah dikhotbahkan sang pendeta. Pria itu berkata dengan lantang, dan nada bicaranya tidak menunjukkan penghargaan.

Namun, pendeta tidak menunjukkan sikap yang saya harapkan. Ia malah berbicara dengan lembut, berterima kasih kepada si pengkritik atas pandangannya, dan berjanji untuk memikirkan hal itu.

Kemudian saya bertanya kepada pendeta saya, mengapa ia tidak membalas kritikan itu. Lalu ia memberi nasihat berharga yang terus saya ikuti sampai sekarang. Ia berkata, "Setiap kritik dapat berguna. Mungkin Allah ada di dalamnya, dan saya perlu mendengar apa yang Dia katakan. Mungkin saja pengkritik itu benar."

Ketika seseorang mengkritik Anda, berikut ada beberapa prinsip Alkitab yang bisa Anda ikuti: Pertama, jangan menanggapinya dengan amarah (Amsal 15:1). Itu hanya akan menambah ketegangan di antara Anda. Kedua, sadari bahwa Anda sedang dihadapkan pada suatu kesempatan emas untuk meneladani sikap Kristus yang penuh kasih, tidak mementingkan diri sendiri, rendah hati, dan peduli terhadap sesama (Filipi 2:1-4). Ketiga, pengkritik itu mungkin benar; Anda mungkin perlu berubah. Orang yang bijak akan menerima masukan dengan baik (Amsal 9:8,9). Perlakukan seorang pengkritik seperti teman, dan Anda berdua akan menang --David Egner

11 Februari 2003

Dia Selalu Setia

Nats : Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan (Mazmur 119:90)
Bacaan : Mazmur 119:89-96

Jim dan Carol Cymbala terus-menerus berdoa, memuji, dan berkhotbah meskipun selama dua tahun keluarga mereka mengalami hal yang menyedihkan. Putri remaja mereka, Chrissy, telah berpaling dari Allah yang mereka kasihi dan layani dengan setia. Meskipun hati mereka sangat terluka, Jim dan Carol tetap melanjutkan pelayanannya bagi jemaat Gereja Tabernakel Brooklyn di New York.

Sebagian orang mengira bahwa Carol menulis lagu yang berjudul "Dia Selalu Setia" setelah putrinya bertobat secara dramatis. Namun, ternyata tidak. Ia menuliskan lagu itu sebelum kejadian tersebut. Carol menyebut lagu itu sebagai "lagu pengharapan yang tercipta di tengah-tengah penderitaanku". Saat hatinya sangat terluka, Carol mengatakan bahwa lagunya "menenangkan jiwaku, dan berulang kali menguatkanku". Lirik yang ditulisnya pada saat yang berat itu telah membantunya untuk terus melangkah. Meskipun putrinya belum bertobat, Carol masih bisa memuji kasih setia-Nya di dalam hidupnya.

Beberapa waktu kemudian, saat Chrissy pulang ke rumah dan berlutut memohon ampun kepada kedua orangtuanya, kebenaran yang tertulis dalam Mazmur 119:90 menjadi terlihat begitu nyata di mata Carol. Kesetiaan Allah tidak hanya akan tampak bagi keturunan kita saja, melainkan dari keturunan ke keturunan! Carol memperoleh pengalaman baru seperti yang tertuang dalam sebaris lirik lagunya yang telah memberi berkat bagi banyak orang: "Apa yang kupikir mustahil, kini telah kulihat Allah melakukannya!" --Julie Link

24 Maret 2003

Selamat Sampai ke Tepi

Nats : Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti- nantikan sepanjang hari (Mazmur 25:5)
Bacaan : Mazmur 25:1-10

Benda apakah yang mampu mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya tiba di pantai dan tumbuh? Menurut artikel National Geographics di majalah World, benda yang luar biasa itu adalah kacang yang berasal dari Amerika Selatan dan India Barat. Orang-orang menyebut benda tersebut “hati laut”.

Biji kacang berwarna yang berukuran 0,8 cm ini berbentuk hati. Ia tahan terhadap segala macam cuaca, dan tumbuh pada tanaman merambat yang tinggi. Biji-biji itu sering jatuh ke sungai dan terapung menuju lautan. Biji-biji itu telah mengarungi lautan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya sampai di pantai dan tumbuh menjadi tanaman.

Biji yang kuat, mampu bertahan, dan dapat menguasai arus ini menggambarkan prinsip dasar rohani. Mungkin dibutuhkan penantian panjang untuk mendapatkan pemenuhan rencana Allah bagi kita. Kenyataannya, Nuh harus tahan dicemooh selama 120 tahun sewaktu membangun sebuah kapal untuk menghadapi banjir besar. Abraham menanti pemenuhan janji Allah bahwa ia akan dikaruniai anak pada usia tuanya. Daud, orang yang diurapi Allah, memilih untuk menunggu waktu Allah daripada membunuh Raja Saul yang iri hati.

“Hati laut” tidak dapat memilih untuk bersabar, tetapi kita dapat. Tidak ada yang lebih sulit dan lebih baik bagi kita selain mengikuti teladan Daud yang menulis Mazmur 25. Dengan menanti Tuhan, kita akan memperoleh kedamaian, dan iman kita akan dapat bertumbuh, terlebih saat kita telah sampai di tepi --Mart De Haan II

6 Mei 2003

Di Pihak Kita

Nats : Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)
Bacaan : Roma 8:31-39

Seorang pemuda kristiani baru pertama kali bekerja. Setiap malam ia bekerja di pabrik perakitan lemari es untuk membiayai kuliahnya di Sekolah Alkitab. Sayang, teman-teman sekerjanya rata-rata berperangai kasar. Mereka menertawakannya karena ia seorang kristiani. Mereka selalu menghinanya pada jam istirahat dan semakin lama mereka semakin kurang ajar.

Suatu malam terjadilah hal yang paling buruk. Mereka menertawakan dirinya, juga menyumpahi dan mencemooh Yesus. Pemuda itu berpikir hendak berhenti saja bekerja. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang berdiri di bagian belakang ruangan berkata, "Cukup! Carilah orang lain sebagai bulan-bulanan kalian!" Dan mereka pun segera pergi. Beberapa saat kemudian orang tua itu berkata kepada si pemuda. "Aku tahu kau menghadapi saat yang sulit. Namun, aku ingin kau tahu bahwa aku ada di pihakmu."

Mungkin Anda adalah seorang kristiani yang harus menentang orang- orang yang tidak mengenal Allah sendirian. Dan, kelihatannya Setanlah yang menang. Tuhan bisa saja mengirimkan seorang percaya yang akan berdiri di pihak Anda. Akan tetapi, sekiranya itu tidak terjadi, Anda harus tetap percaya bahwa Dia ada di pihak Anda. Dia melakukan hal itu dengan mengirimkan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib menggantikan Anda. Anda tidak akan pernah terpisah dari kasih dan pemeliharaan-Nya (Roma 8:38,39).

Kini, dengan penuh keyakinan Anda dapat berkata, "Jika Allah

di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat 31) --Dave Egner

8 Juni 2003

Teman dan Pembimbing

Nats : Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13)
Bacaan : Yohanes 16:5-15

Lisa Marino memiliki pelatih fitnes pribadi yang memberinya nasihat dan semangat setiap hari. Namun, Lisa tidak pernah bertemu sang pelatih. Sebagai peserta dari program "Praktik Hidup Sehat", Lisa memulai setiap hari dengan mengirim laporan diet, olahraga, tidur, dan stresnya ke sebuah website. Setelah itu, ia menerima e-mail balasan dari pe-latihnya. Lisa mengatakan bahwa dengan mengirim laporan setiap hari ia tertolong untuk tetap jujur dan terfokus pada sa-saran fitnesnya.

Sebagai orang kristiani, kita memiliki pengalaman yang indah tetapi misterius, yaitu memiliki Roh Kudus sebagai teman dan pembimbing kita, walaupun kita tidak dapat melihat-Nya. Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa saat Dia meninggalkan dunia ini, Dia akan mengirimkan Seseorang yang lain untuk menyertai mereka. "Jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu" (Yohanes 16:7).

"Penolong" atau "Penghibur" dalam bahasa aslinya berarti "dipanggil untuk mendampingi atau menolong seseorang". Seorang peneliti Alkitab bernama W. E. Vine berkata bahwa hal itu menunjuk kepada Pribadi yang bisa menjadi seperti Kristus kepada murid-murid-Nya.

Walaupun tidak kelihatan, Roh Kudus menyertai kita setiap hari, sama seperti Yesus mendampingi para murid-Nya di bumi. Roh Kudus-lah yang akan menolong kita untuk tetap jujur, fokus, dan bersemangat dalam hidup ini sehingga dapat memuliakan Kristus --David McCasland

21 Juni 2003

Akibat Kelalaian

Nats : Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan .... Tempuhlah jalan yang rata (Amsal 4:23,26)
Bacaan : Amsal 24:30-34

Saya membaca kisah tentang sese-orang dari Detroit yang tidak dapat menemukan rumahnya. Ia tiba pada ala-mat yang tepat, tetapi yang ia temui ha-nyalah tempat kosong. Dengan penuh kebingungan, ia meminta bantuan dari Detroit Free Press untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang war-tawan surat kabar menemukan bahwa selain rumah itu sudah tidak ada, akta tanah tersebut juga telah menjadi milik orang lain.

Apa yang terjadi? Memang, pemilik rumah itu telah meninggalkan kota sejak beberapa tahun silam, tanpa meninggalkan alamat baru. Tambahan pula, ia lalai menugaskan seseorang untuk menjaga rumah itu supaya dirawat dengan baik. Akhirnya rumah itu dirobohkan karena peraturan kota telah meng-undangkan tentang pembersihan bangunan yang mengganggu keindahan di lingkungan perumahan itu.

Kelalaian pemilik rumah itu menggambarkan kebenaran dari Amsal 24:30-34. Kelalaian dapat menyebabkan kita mengalami kehilangan. Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari kita dengan Allah. Jika kita mengabaikan waktu doa dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, hubungan kita dengan-Nya akan memburuk sehingga kita tidak lagi menerima berkat-Nya. Tentunya kita tak ingin hal seperti itu terjadi, tetapi ini mungkin saja terjadi bila kita tenggelam dalam hal-hal lain yang mengganggu hubungan kita dengan Kristus.

Kita perlu menetapkan prioritas untuk menghormati Allah. Dengan demikian, kita akan mampu menghindari kehilangan yang terjadi karena kelalaian --Mart De Haan II

8 Juli 2003

Allah Mendengarkan

Nats : Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan (Mazmur 139:4)
Bacaan : Mazmur 139

Ketika teolog Skotlandia John Baillie mengajar di Edinburgh University, ia memiliki kebiasaan untuk selalu membuka kelas mata kuliah mengenai doktrin Allah dengan pernyataan berikut: "Yang perlu diingat saat kita berdiskusi tentang Allah adalah bahwa kita tidak mungkin membicarakan-Nya tanpa menyadari kenyataan bahwa Dia mendengarkan setiap perkataan yang kita ucapkan. Kita mungkin dapat membicarakan orang lain di balik punggung mereka, tetapi Allah ada di mana-mana. Sungguh, Dia bahkan ada di dalam ruang kelas ini. Oleh sebab itu, dalam setiap pembahasan kita harus menyadari hadirat-Nya yang tak terbatas, dan membicarakan-Nya seolah-olah kita berbicara tepat di hadapan-Nya."

Pengetahuan bahwa Tuhan ada di mana-mana seharusnya berdampak pada perkataan kita. Karena menyadari kemahahadiran Allah, Daud mengungkapkan, "Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan" (Mazmur 139:4).

Kebohongan, gosip, teguran kasar, lelucon tidak senonoh, kata-kata penuh kemarahan, komentar yang tidak sopan, dan penyebutan nama Tuhan dengan tidak hormat, seharusnya tidak pernah keluar dari mulut kita. Sebaliknya, kita seharusnya membicarakan hal-hal yang disukai Allah. Keinginan kita seharusnya serupa dengan keinginan Daud yang disampaikan melalui doanya dalam Mazmur 19, "Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya Tuhan, gunung batuku dan penebusku" (ayat 15).

Ingat, Allah sedang mendengarkan --Richard De Haan

9 Juli 2003

Hal Berbicara

Nats : Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! (Mazmur 141:3)
Bacaan : Mazmur 141

Seorang pria menghadiri suatu pertemuan dengan pembicara tamu yang bicaranya bertele-tele. Karena sudah tidak tahan lagi, pria ini menyelinap keluar dari pintu samping. Ketika sedang berjalan di koridor, ia bertemu dengan seorang teman yang bertanya, "Ia sudah selesai bicara?"

"Belum," sahut pria itu, "ia sudah berbicara berjam-jam, tapi ia tidak menyadarinya! Tampaknya ia tidak akan berhenti bicara!"

Gagasan untuk berbicara langsung mengenai topik yang hendak disampaikan dan mengatakan sesuatu yang berharga setiap kali berbicara dengan orang lain pada setiap hari merupakan sebuah nasihat bijak bagi kita. Jika saja kita bersedia jujur pada diri sendiri, mau tak mau kita harus mengakui bahwa sebagian pembicaraan kita merupakan perkataan yang sia-sia. Tuhan Yesus memperingatkan, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman" (Matius 12:36).

Ambillah waktu sejenak untuk merenungkan percakapan Anda sehari- hari. Topik apakah yang paling sering Anda bicarakan? Apakah Anda terlalu banyak bicara sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara? Apakah perkataan Anda bermanfaat bagi orang lain? Dan yang terpenting, apakah perkataan Anda memuliakan Tuhan?

Allah dapat memampukan Anda untuk berbicara dengan perkataan yang membangun sesama dan tidak sekadar berbicara. Hari ini, marilah kita jadikan perkataan Daud sebagai doa kita: "Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3) --Richard De Haan

8 Oktober 2003

Tembok Berapi

Nats : Aku sendiri, demikianlah firman Tuhan, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya (Zakharia 2:5)
Bacaan : Zakharia 2:1-5

Tembok Besar Cina mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang kerap disebut sebagai "keajaiban dunia kedelapan" itu memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh.

Dalam kitab Zakharia 2, kita membaca kisah tentang tembok perlindungan yang lain. Zakharia mendapatkan sebuah penglihatan lain, yaitu penglihatan tentang seseorang yang sedang memegang tali pengukur untuk mencoba memastikan panjang dan lebar Yerusalem (ayat 1,2). Pria itu bermaksud untuk membangun kembali tembok benteng yang mengelilingi kota. Orang ini kemudian diberi tahu bahwa ia tidak perlu membangun benteng itu kembali karena Yerusalem akan dipenuhi oleh banyak umat Allah sehingga tembok Yerusalem itu tidak akan mampu memuat mereka semua (ayat 4). Selain itu, mereka tidak lagi membutuhkan tembok karena Tuhan telah berjanji, "Aku sendiri ... akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya" (ayat 5).

Tembok lahiriah dapat dikikis atau dirobohkan, betapa pun tinggi dan kokohnya tembok tersebut. Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tembok perlindungan terbaik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, yakni kehadiran Allah secara pribadi. Tak satu pun yang dapat mencapai kita tanpa terlebih dahulu melewati Dia dan kehendak-Nya. Di dalam Dia kita aman dan tenteram --Albert Lee

22 Desember 2003

Bimbingan Allah

Nats : Malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut" (Matius 1:20)
Bacaan : Matius 1:18-25

Kisah Natal adalah kisah yang berisi pandangan singkat yang mengejutkan tentang cara Allah memimpin orang yang percaya kepada-Nya. Ketika Tuhan akan mengubah kehidupan Maria dan Yusuf secara drastis, Dia menyatakan rencana-Nya kepada mereka dalam waktu dan cara yang berbeda.

Maria menerima pemberitahuan terlebih dahulu dari malaikat Gabriel. Malaikat itu berkata bahwa ia akan mengandung Anak Allah oleh kuasa Roh Kudus (Lukas 1:30-35).

Namun Yusuf, tunangannya, tampaknya belum diberi tahu oleh Allah pada waktu itu. Kemudian, ketika ia mengetahui kehamilan Maria dan memikirkan bagaimana mengakhiri pertunangan mereka tanpa mempermalukan Maria di muka umum, "malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, 'Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus'" (Matius 1:20).

Begitulah misteri pimpinan Allah. Maria diberi tahu sebelumnya, sedangkan Yusuf harus bergumul dengan apa yang tampaknya seperti musibah pembawa kehancuran. Namun kapan pun firman Allah datang kepada mereka, Maria dan Yusuf tetap taat dengan penuh kesetiaan.

Kita tidak dapat memperkirakan segala hal yang Allah ingin kita lakukan, atau bagaimana Dia akan mengarahkan hidup kita, tetapi kita dapat meyakini bahwa Dia akan memimpin kita. Dan, seperti Maria dan Yusuf, kita harus siap mengikuti pimpinan-Nya --David McCasland

2 Maret 2004

Keluar dan Masuk

Nats : Atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk (Bilangan 27:21)
Bacaan : Bilangan 27:15-23

Ungkapan “atas titahnya” digunakan dua kali dalam Bilangan 27:21 untuk menegaskan bagaimana Allah akan membimbing bangsa Israel. Yosua harus mengarahkan bangsa Israel untuk “keluar” dan “masuk”, sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada Imam Eleazar.

Seberapa sering kita membuat keputusan untuk pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu berdasarkan kesombongan, ambisi pribadi, atau hanya supaya tetap sibuk? Seberapa sering kita pergi hanya untuk menyenangkan hati seseorang yang menyuruh kita pergi, dan bukan karena ingin menyenangkan Tuhan? Ketika kita “keluar” untuk mengejar keinginan-keinginan kita sendiri, dan tidak mengikuti pimpinan Allah, kita akan frustrasi dengan usaha-usaha kita, sehingga semua itu menjadi sia-sia dan mengecewakan.

Namun jika kita keluar atas anjuran dan petunjuk Tuhan, “atas titah-Nya”, maka Dia bertanggung jawab atas hasilnya. Disadari atau tidak, yang kita hasilkan adalah pekerjaan yang menghasilkan buah.

Waktu untuk “masuk” juga diatur oleh Tuhan. Ada waktu untuk mundur dari segala aktivitas dan meluangkan waktu untuk berdoa, mengisi hati kita dengan firman-Nya, serta mengistirahatkan tubuh kita.

Kita harus datang setiap hari di hadapan Imam Besar kita, Tuhan Yesus, dan menerima perintah-Nya. Jika kita menundukkan kepala di hadapan-Nya dan memohon pimpinan dari-Nya, Dia akan membantu kita untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya —David Roper

6 April 2004

Lembah Kekelaman

Nats : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23

Kegelapan di atas kegelapan. Penderitaan di atas penderitaan. Kepedihan di atas kepedihan. Siksaan di atas siksaan. Itulah kematian.

Kematian membawa ketakutan, merenggut orang-orang yang berarti dalam hidup kita, dan membuat kita meratap, berduka, dan bertanya-tanya. Kematian menutup terang yang sebelumnya bersinar bebas dalam hidup kita.

Apa pun kematian yang kita hadapi, entah itu kematian yang akan menjemput kita atau yang merenggut orang yang kita kasihi, kematian dapat menghancurkan hidup kita. Ia dapat menyedot energi kita, mengubah rencana kita, menguasai jiwa kita, membelokkan pandangan kita, menguji iman kita, mencuri sukacita kita, dan menantang berbagai anggapan kita mengenai tujuan hidup.

Ketika berjalan dalam lembah kekelaman, kita merasa ditelan oleh bayangan kematian dan berhadapan muka dengan ketakutan. Kekosongan yang menggelisahkan akibat pengalaman kehilangan kita menggoyahkan kenyamanan yang bersumber dari iman kita kepada Allah, dan karena itu kita menjadi takut. Takut menghadapi masa depan. Takut menikmati hidup kembali.

Namun dalam lembah itu, di bawah kekelaman tersebut, kita dapat berseru kepada Tuhan, “Aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4). Lengan-Nya yang penuh kasih takkan pernah membiarkan kita pergi. Dia selalu menyertai kita.

Secara perlahan tetapi pasti, Dia memberikan kedamaian dan membebaskan kita dari kekelaman. Dia memberi terang. Dia memimpin kita keluar. Pada akhirnya, kita terlepas dari lembah kekelaman —Dave Branon

20 April 2004

Tersesat Dalam Kabut

Nats : Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5)
Bacaan : Amsal 3:1-6

Saat itu kabut sangat tebal seperti uap sup kacang polong. Jarak pandang hanya sebatas beberapa meter, dan permukaan air danau tampak sebening kaca. Satu-satunya bunyi yang memecah keheningan adalah teriakan burung loon dari seberang danau.

Saya mendayung selama satu jam menyusuri pantai, berusaha memancing ikan di beberapa tempat yang berbeda. Namun tidak seekor ikan pun menggigit umpan kail saya! Maka saya memutuskan kembali ke pondok untuk minum segelas kopi. Saya sedang berada di mulut sebuah teluk kecil, yang saya tahu berada tepat di seberang pondok tersebut. Maka saya mulai mendayung lurus menyeberangi danau ke arah (yang saya kira) dermaga.

Menit-menit pun berlalu. Setelah mendayung selama satu jam, saya terkejut saat menyadari bahwa saya telah kembali berada di mulut teluk kecil tempat saya tadi mulai mendayung. Ternyata saya telah mendayung perahu memutar dalam kabut. Saya begitu yakin akan arah yang saya tuju, namun setelah satu jam mendayung, ternyata saya tidak mengarah ke mana pun! Seharusnya saya menggunakan kompas, bukannya mengandalkan kepekaan saya sendiri untuk menemukan arah.

Tiba-tiba terbersitlah Amsal 3:5 dalam benak saya, “Janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Tanpa Tuhan yang memimpin Anda menerobos kabut kehidupan, dan tanpa firman-Nya sebagai kompas, Anda hanya akan berputar-putar tanpa tujuan.

Maka, pastikanlah Amsal 3:6 menjadi semboyan hidup Anda: “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” —M.R. De Haan, M.D.

23 Agustus 2004

Kuat Sampai Akhir

Nats : Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1Korintus 9:27)
Bacaan : 1Korintus 9:19-27

Delapan puluh tahun yang lalu, Eric Liddell menggemparkan dunia ketika merebut medali emas Olimpiade dalam perlombaan lari 400 meter -- pertandingan yang tidak diduga akan dimenangkannya. Liddell adalah atlet yang diunggulkan untuk lari 100 meter, tetapi ia mengundurkan diri setelah tahu bahwa babak penyisihan diadakan pada hari Minggu, yang baginya adalah hari untuk beribadah dan beristirahat. Ia tidak meratapi kesempatan yang hilang pada lari 100 meter, tetapi ia menghabiskan 6 bulan berikutnya berlatih lari 400 meter. Dan akhirnya ia mencatat rekor Olimpiade baru.

Paulus menggunakan perumpamaan tentang olahraga untuk menekankan perlunya disiplin rohani bagi orang kristiani. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal" (1 Korintus 9:25), yakni melakukan latihan secara ketat. "Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Paulus rindu untuk tetap setia kepada Kristus karena ia ingin membawa pesan keselamatan bagi orang lain (ayat 19,27).

Di sepanjang hidupnya, Liddell melatih diri secara rohani setiap hari dengan meluangkan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Ia tetap setia sampai ia meninggal karena tumor otak yang menyerangnya dalam kamp pengasingan Jepang selama Perang Dunia II.

Karena dikuatkan oleh anugerah dan kuasa Allah, Eric Liddell dapat berlari dengan baik dan tetap kuat saat menyelesaikan pertandingan kehidupan. Kita pun bisa berbuat seperti itu --David McCasland

9 September 2004

Jalanan yang Asing

Nats : Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, dan tuntunlah aku di jalan yang rata (Mazmur 27:11)
Bacaan : Mazmur 119:105-112

Kita sering menemui masalah ketika sedang menyusuri jalan yang tidak kita kenal.

Saya mengenal seorang remaja yang suatu pagi memutuskan mengambil jalan lain ke tempat kerjanya. Ketika mencoba menelusuri jalan yang tidak dikenalnya, ia melewati persimpangan tanpa melihat rambu-rambu merah segi delapan yang menginstruksikan untuk berhenti.

Dalam hitungan detik, ia pun berhenti. Tetapi ia berhenti bukan karena rambu-rambu tadi. Ia diminta menepi oleh seorang baik hati dari dalam mobil polisi, yang mengingatkan bahwa ia seharusnya berhenti. Akibatnya, ia harus merogoh koceknya sebesar 80 dolar untuk mempelajari jalan-jalan yang tak dikenalnya itu.

Apa yang akan terjadi seandainya pemuda ini ditemani seorang penunjuk jalan? Bagaimana seandainya ada orang yang duduk di sebelahnya untuk mengarahkan jalan dan memperingatkannya akan adanya bahaya? Pasti ia tak akan kehilangan uang 80 dolar.

Dalam hidup, kita kerap harus melewati jalanan yang tidak kita kenal. Jalan-jalan ini membuat kita takut. Bagaimana kita dapat melewatinya tanpa melakukan berbagai kesalahan yang mahal harganya?

Caranya adalah dengan mengajak Seseorang yang mengetahui jalan itu. Pemazmur mengenal Sang Penunjuk jalan ketika ia menulis, "Tuhan, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu ... ratakanlah jalan-Mu di depanku" (Mazmur 5:9).

Apakah jalan yang sedang Anda tempuh hari ini adalah jalan yang tidak Anda kenal? Mintalah Bapa untuk menemani Anda melewati jalan itu --Dave Branon

15 September 2004

Dipimpin Oleh Roh

Nats : Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah (Roma 8:14)
Bacaan : Roma 8:5-17

Sebagai seorang pendeta muda pada masa 1940-an, Francis Schaeffer terkenal karena kemampuannya dalam berorganisasi. Sekolah Alkitab musim panas di gerejanya di St. Louis mampu menarik 700 anak-anak dari seluruh penjuru kota dan peristiwa tersebut menjadi berita satu halaman penuh di surat kabar setempat. Tetapi ketika ia dan istrinya membuka L'Abri Fellowship di Swiss, Schaeffer sengaja tidak membuat target-target organisasional.

Ia menjelaskan pendekatan yang tidak semestinya ini sebagai tuntunan khusus dari Allah bagi mereka, dan mengatakan bahwa itu adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan. Namun, ia ingin supaya orang-orang lebih melihat tangan Allah, dan bukannya keberhasilan program-program yang tersusun dengan baik.

Schaeffer berkata, "Menurut saya, masyarakat zaman sekarang sulit menerima segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan kepada publik. Akan tetapi, dalam hal ini kami mencari pribadi Allah untuk melihat apa yang ingin Dia lakukan dengan pekerjaan ini."

Paulus berkata, "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah" (Roma 8:14). Ayat ini selain berlaku pada keputusan-keputusan tertentu, juga berbicara mengenai pendekatan umum terhadap hidup. Anak-anak Allah seharusnya tidak mencoba melakukan sesuatu tanpa pimpinan Roh Kudus.

Berjalan dengan tuntunan Roh dan mengikuti arah yang ditunjuk-Nya adalah langkah iman yang memberikan kemuliaan bagi Allah dan akan memimpin pada hidup dan damai sejahtera (ayat 6,13) --David McCasland

24 September 2004

Bertemu Allah

Nats : Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)
Bacaan : Amsal 16:1-9

Peristiwa yang mengubah hidup tidak terjadi secara kebetulan. Hal itu tidak ditentukan oleh bintang-bintang. Tidak juga terjadi begitu saja. Tidak ada peristiwa yang bersifat kebetulan. Tuhan menggunakan setiap keadaan dalam kehidupan ini untuk menggenapi tujuan-Nya.

Frank W. Boreham (1871-1959), seorang pendeta dan penulis esai asal Inggris, berkata, "Bukanlah suatu kebetulan Elia dan Ahab bertemu di lereng Gunung Karmel yang berumput. Bukanlah suatu kebetulan Herodes dan Yohanes bertemu di jalan raya Galilea. Bukanlah suatu kebetulan Pilatus dan Yesus bertemu di ruang pengadilan Yerusalem. Bukanlah suatu kebetulan Petrus dan Kornelius bertemu di tepi laut Siria.

Bukan kebetulan Filipus dan seorang Etiopia bertemu di jalan berpasir menuju Gaza. Bukan kebetulan Nero dan Paulus bertemu di tengah-tengah keindahan barang-barang antik Roma kuno. ... Tidak, pertemuan-pertemuan kita tidak terjadi secara kebetulan, termasuk pertemuan Stanley dan Livingstone di Afrika Tengah."

Kita seharusnya memulai setiap hari dengan hasrat yang tulus untuk menyenangkan Tuhan, dengan senang hati menantikan janji "bertemu"Allah dengan kita. Mungkin akan ada keadaan yang tidak direncanakan, atau ada orang yang kita temui secara tak sengaja. Tetapi kita seharusnya menyambut itu semua sebagai kesempatan untuk bersaksi, melayani orang lain, dan untuk bertumbuh secara rohani.

Dengan mengetahui pimpinan Allah yang berdaulat, marilah kita bersukacita di dalam janji untuk "bertemu" dengan-Nya --Richard De Haan

1 Februari 2005

Panggilan yang Jelas

Nats : Samuel menjawab, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3:10)
Bacaan : 1 Samuel 3:1-10

Semasa menjadi mahasiswa di Iowa Agricultural College (sekarang Iowa State University), George Washington Carver dan seorang temannya berencana pergi sebagai misionaris ke Afrika. Namun ketika studi di bidang pertaniannya mengalami kemajuan, Carver, yang adalah seorang kristiani yang taat, mulai merasakan adanya panggilan hidup yang berbeda dari Allah.

Pada saat Booker T. Washington mengajaknya untuk bergabung dengan sebuah fakultas di Tuskegee Institute di Alabama, Carver mendoakan hal ini dengan sungguh-sungguh. Kemudian pada tahun 1896, Carver menulis surat kepada Washington demikian, “Saya memang memiliki cita-cita untuk memberikan bantuanterbesar bagi sebanyak mungkin orang di tengah-tengah bangsa saya, dan untuk tujuan ini saya telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.” Ia lalu berjanji akan melakukan apa pun sekuat tenaga melalui kuasa Kristus, untuk memperbaiki kondisi orang-orang Amerika keturunan Afrika di wilayah Selatan yang mengalami diskriminasi ras.

Hati Carver yang peka dan ketaatannya kepada Allah mengingatkan kita pada pengalaman Samuel. Di bawah bimbingan Imam Eli, Samuel menanggapi suara Allah dengan berkata, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Samuel 3:10).

Selama pelayanannya yang berlangsung seumur hidup, ilmuwan terkenal Amerika keturunan Afrika ini, George Washington Carver, menghormati Allah dengan menaati panggilan-Nya. Ia mewariskan peninggalan yang sangat berkesan dan teladan yang abadi bagi kita semua —David McCasland

9 Mei 2005

Dia Menerangi Jalan

Nats : Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar (Mazmur 112:4)
Bacaan : Mazmur 112

Suatu malam, seorang misionaris di Peru mengunjungi sekelompok orang percaya. Ia tahu bahwa rumah tempat mereka bertemu berada di sebuah lereng dan jalan menuju ke sana berbahaya. Ia pergi ke sana naik taksi, sejauh bisa taksi menjangkau. Kemudian ia mulai naik menapaki jalan yang berbahaya menuju rumah itu. Malam itu gelap dan jalannya sangat sulit. Ketika ia melewati belokan, tiba-tiba ia melihat beberapa orang percaya membawa lentera yang terang. Mereka datang untuk menerangi jalannya. Ketakutannya sirna, dan ia melewati jalan yang menanjak itu dengan mudah.

Dengan cara yang sama seperti itulah Allah menerangi jalan kita. Ketika kita memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Dia yang adalah Terang dunia, memasuki kehidupan kita dan menghilangkan kegelapan dosa serta keputusasaan kita. Terang ini senantiasa menghibur kita melewati saat-saat sulit. Di tengah-tengah kesedihan, masalah, sakit penyakit, atau kekecewaan, Tuhan menerangi jalan dan menguatkan anak-anak-Nya dengan memberikan harapan.

Harapan ini barangkali disampaikan melalui kata-kata nasihat dari sesama orang percaya. Mungkin harapan itu berupa penerangan firman Allah melalui pelayanan Roh Kudus, peneguhan yang menenteramkan sebagai jawaban doa yang sepenuh hati, atau melalui penyediaaan barang kebutuhan tertentu secara ajaib. Apa pun kejadiannya, Allah mengirimkan terang pada saat kita dilanda kegelapan.

Yesus senantiasa memberikan terang pada malam yang gelap gulita! —DCE

15 Mei 2005

Permohonan Mulia

Nats : Maka gemetarlah ia dan keheranan, katanya, "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:6)
Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-9

Ketika masih menjadi mahasiswa seminari, saya sering terkesan oleh kisah-kisah orang kristiani yang telah melakukan pekerjaan besar bagi Allah. Maka saya memohon kepada Tuhan untuk mengaruniakan wawasan dan kekuatan rohani seperti yang mereka miliki. Kelihatannya itu permohonan yang mulia. Tetapi suatu hari saya menyadari bahwa itu sebenarnya doa yang egois. Maka, bukannya meminta Tuhan untuk menjadikan saya seperti orang lain, saya justru mulai meminta Tuhan untuk menunjukkan apa yang Dia ingin saya lakukan.

Ketika Saulus dari Tarsus bertobat sewaktu ia dalam perjalan ke Damaskus, ia mengajukan dua pertanyaan. Pertama, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Dan karena menyadari bahwa ia berada di hadirat Allah yang hidup, maka hanya ada satu pertanyaan lagi yang penting: "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:5,6). Ia menyadari bahwa ketaatan kepada kehendak Allah merupakan fokus utama sepanjang sisa hidupnya.

Permohonan akan kesehatan, kesembuhan, keberhasilan, dan bahkan kekuatan rohani tidaklah salah, tetapi bisa menjadi doa yang egois jika tidak mengalir dari hati yang berketetapan untuk taat kepada Allah. Yesus mengatakan, "Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku" (Yohanes 14:21). Ketaatan menyatakan cinta kita kepada Allah dan memungkinkan kita mengalami cinta-Nya bagi kita.

Apakah Anda sudah menyampaikan permohonan mulia: "Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lakukan?" —HVL

14 Juni 2005

Selalu di Jembatan

Nats : Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau (Yosua 1:5)
Bacaan : Yosua 1:1-9

Kawan saya Ralph mengalami kejadian mendebarkan saat melakukan perjalanan singkat dengan menaiki kapal perang induk USS Kennedy. Ia melihat bagaimana pesawat-pesawat jet penyerang mulai tinggal landas, dan mempertontonkan manuver. Ia diberi tahu bahwa kapan pun pesawat tinggal landas maupun mendarat—suatu operasi berbahaya—sang kapten mengawasi dari jembatan. Bahkan ketika pesawat-pesawat itu terus-menerus terbang, ia tetap berada di sana, tidur-tidur ayam di sela-sela tugasnya, jika perlu. Jadi, setiap kali seorang pilot tinggal landas atau mendaratkan pesawatnya, ia tahu sang kapten selalu mengawasi.

Bacaan Kitab Suci hari ini mengisahkan bahwa ketika Yosua harus mengambil alih tampuk kepemimpinan Israel, ia butuh diyakinkan kembali bahwa Allah akan menyertainya seperti Dia menyertai Musa. Bangsa Israel tahu Musa memiliki arahan ilahi selama menempuh perjalanan di padang gurun, karena Allah memimpin mereka dengan tiang api dan tiang awan.

Namun, bagaimana dengan Yosua? Allah berjanji kepadanya, "Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5). Akhirnya Yosua mampu memimpin Israel dengan keyakinan mutlak bahwa Allah selalu mengawasinya.

Di mana pun kita berada kini, betapa pun kerasnya usaha yang kita lakukan, atau apa pun peperangan rohani yang mungkin kita hadapi, kita memiliki keyakinan bahwa Allah bersama kita. Terlebih lagi, Dia memimpin, melindungi, dan memimpin kita. Dia selalu berada "di atas jembatan"! —DCE

16 Oktober 2005

Secukupnya Saja

Nats : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)
Bacaan : Matius 6:5-15

Seorang perempuan yang menyiapkan makanan selama musim panen untuk para pekerja pertanian yang lapar, akan mengamati mereka saat menghabiskan setiap makanan yang disajikan di meja makan. Kemudian ia akan berkata, “Bagus. Saya menyiapkan jumlah yang cukup.”

Banyak di antara kita bergumul untuk merasakan hal serupa mengenai sumber daya yang dipercayakan kepada kita. Saat selesai makan atau saat berada di akhir bulan, apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah telah mencukupkan kebutuhan kita? Ketika kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11), berapa banyak yang kita harapkan akan disediakan Allah? Sebanyak yang kita inginkan? Atau sebanyak yang kita perlukan?

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa kunci untuk nutrisi yang baik adalah makan sampai kita merasa kenyang, bukan sampai kita kekenyangan. Dalam setiap bidang kehidupan, ada perbedaan antara lapar yang sebenarnya dan nafsu tamak. Kerap kali, kita menginginkan sedikit lebih lagi.

Dalam ajaran Yesus mengenai berdoa, Dia berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (Matius 6:8,31).

Ketika Tuhan menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita, mungkin kita harus melihat pemeliharaan-Nya melalui perspektif baru dan bertekad untuk mengucap syukur dengan berkata, “Bapa, Engkau memberikan jumlah yang cukup bagiku” -DCM

19 Oktober 2005

Lebih dari Nasihat Baik

Nats : Ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar (Yohanes 10:3)
Bacaan : Yohanes 10:1-15

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang untuk berbicara mengenai masalah tuntunan. Untuk mempersiapkan diri, saya kemudian membuka konkordansi untuk melihat kata “tuntunan”. Saya berharap akan menemukan daftar ayat-ayat yang panjang yang menyatakan janji Allah tentang tuntunan. Tetapi saya terkejut karena tidak ada kata tuntunan di sana. Saya justru menemukan kata penuntun dan sejumlah ayat yang menjanjikan bahwa Allah sendiri akan menjadi penuntun umat-Nya.

Penemuan ini menambah wawasan segar bagi perjalanan panjang iman kristiani saya. Saya diingatkan bahwa orang-orang buta membutuhkan anjing penuntun, bukan anjing yang memberikan tuntunan! Bahkan apabila anjing mampu berbicara, alangkah tidak memuaskannya jika mereka hanya menjadi pengawas yang meneriakkan peringatan-peringatan kepada orang buta tersebut dari kejauhan: “Sekarang kamu harus hati-hati! Kamu mendekati lubang. Awas pinggir jalan!” Tidak, makhluk bisu tetapi setia ini akan menuntun orang buta di setiap langkah di jalan, menjadi mata dan memimpin langkah si buta dengan aman di sepanjang jalan yang berbahaya.

Sebagian orang menginginkan Allah menjadi agen penasihat yang mulia. Tetapi ketika pandangan kita kabur dan jalan menjadi gelap, seperti yang sering terjadi, kita memerlukan lebih dari sekadar nasihat baik-kita memerlukan Gembala yang Baik untuk memimpin kita (Yohanes 10:3,11).

Apabila kita mengikuti Kristus setiap hari, kita akan menerima tuntunan yang kita perlukan -JEY

11 November 2005

Orang Biasa

Nats : Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus (Kisah Para Rasul 4:13)
Bacaan : Kisah 4:1-21

Penulis novel laris, Arthur Hailey (1920-2004), pernah berkata mengenai tokoh-tokohnya, “Rasanya saya tidak benar-benar menciptakan seorang tokoh. Saya menggambarkan kehidupan nyata.” Apabila para pembaca membuka buku karya pengarang Inggris itu, maka mereka akan menjumpai orang-orang biasa yang ditempatkan dalam situasi-situasi luar biasa oleh sang penulis.

Dalam Kisah Para Rasul 4 kita menemukan orang-orang biasa, termasuk Petrus dan Yohanes yang bekerja sebagai nelayan, yang ditempatkan Allah dalam situasi-situasi tak terduga sebagai saksi-saksi realitas kebangkitan Kristus. Orang-orang ini, yang melarikan diri saat Yesus ditangkap, kini dengan berani menghadapi berbagai ancaman dan hukuman karena memberitakan Dia kepada orang lain.

Bahkan para penguasa yang pada saat itu menentang para pengikut Yesus ini heran “ketika sidang melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar … dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus” (ayat 13).

Sebagian besar dari kita adalah orang-orang biasa yang hidup dalam dunia kerja, relasi, dan kejadian sehari-hari yang nyata. Kesempatan kita untuk menunjukkan realitas Kristus kadang kala datang secara tersamar dalam kesulitan-kesulitan, sama seperti yang terjadi pada para murid dalam Kisah Para Rasul.

Sebagai orang biasa, kita dapat memiliki pengaruh luar biasa bagi Kristus, jika kita memercayai Sang Penulis keadaan kita dan mengandalkan kuasa Roh Kudus -DCM

1 Januari 2006

Tanpa Tahu Tujuan

Nats : Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil ..., lalu ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya (Ibrani 11:8)
Bacaan : Ibrani 11:8-16

Salah satu ganjalan terbesar yang kita hadapi dalam mengikut Kristus adalah ketakutan tentang hal-hal yang tak diketahui. Kita ingin mengetahui lebih dulu hasil dari ketaatan kita dan ke mana Dia sedang membawa kita. Namun, kita hanya diberi jaminan bahwa Dia beserta kita dan bahwa Dia memegang kendali. Dan dengan jaminan itu, kita mengambil risiko untuk berjalan tanpa tahu tujuan bersama-Nya.

Abraham memberikan teladan mengenai respons seseorang yang bersedia berjalan bersama Allah ke masa depan yang tak pasti. "Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya" (Ibrani 11:8).

Abraham tahu bahwa Allah telah memanggilnya dan telah memberi sebuah janji dan hal itu cukup. Ia bersedia memercayakan masa depannya kepada Tuhan.

Kita dapat melakukan hal yang sama dengan memercayakan masa depan kita kepada Tuhan dan melangkah dengan iman. Sewaktu kita berdiri di ambang tahun yang baru, kiranya doa iman dan harapan ini menjadi milik Anda:


Oh Tuhan Allah, yang telah memanggil kami, hamba-hamba-Mu,
Ke dalam ketidakpastian yang ujungnya tidak dapat kami lihat,
Melalui jalan yang belum pernah dilalui,
Dan bahaya yang tidak diketahui,
Berikanlah kami iman untuk pergi dengan keberanian,
Meskipun kami tidak tahu ke mana kami pergi
Namun kami hanya tahu bahwa tangan-Mu memimpin kami
Dan kasih-Mu menopang kami. Amin --DCM

7 Februari 2006

Bandel Seperti Prunes

Nats : Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang (Mazmur 32:9)
Bacaan : Mazmur 32:8-11

Pada sebuah peternakan besar di Colorado tempat saya pernah bekerja, kami mempunyai seekor bagal (percampuran kuda dan keledai) bernama Prunes. Ia besar, kuat, dan pintar. Ia adalah pemimpin komplotan sekelompok kecil kuda yang biasanya melarikan diri dari kandang.

Suatu petang kami bersembunyi di dekat lumbung untuk melihat bagaimana mereka bisa keluar kandang. Sebelum hari gelap Prunes mendekati pintu gerbang, menyentak selot pengunci ke atas dengan hidungnya, lalu membenturkan kepalanya pada pengungkit. Gerbang itu terbuka dan Prunes meringkik puas sewaktu ia dan teman-temannya berlari menuju kebebasan.

Prunes memang pintar, tetapi ia juga bandel, dan hanya penunggang kuda yang kuat dan terampil yang dapat mengendalikannya. Barangkali pemazmur telah mengenal binatang semacam itu ketika ia menulis: "Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau" (Mazmur 32:9).

Tuhan rindu memimpin anak-anak-Nya dengan cara yang sangat berbeda: "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu" (ayat 8). Tatapan sekilas dari Tuhan cukup untuk menjaga orang kristiani yang taat dan mau bekerja sama, pada jalur yang benar. Diperlukan tali dan kekang untuk mengarahkan bagal yang bandel.

Manakah yang akan menjadi bagian kita hari ini? --DCM

9 Februari 2006

Pertolongan Tak Terduga

Nats : Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu (Yosua 2:4)
Bacaan : Yosua 2:1-14

Pada tahun 1803, Thomas Jefferson memerintahkan Lewis and Clark untuk memimpin suatu ekspedisi melintasi bagian Amerika yang belum terjelajahi sampai ke Pantai Pasifik. Ekspedisi ini dinamai Corps of Discovery [Satuan Penemuan] sesuai dengan namanya. Ekspedisi itu mendata 300 spesies baru, mengidentifikasi hampir 50 suku Indian, dan menjelajahi medan yang belum pernah disaksikan orang Eropa sebelumnya.

Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan seorang pedagang bulu dari Perancis dan istrinya, Sacajawea. Mereka segera menyadari bahwa sang istri berperan sangat penting sebagai pemandu dan penerjemah.

Dalam perjalanan, Sacajawea bertemu dengan keluarganya. Kakak laki-lakinya telah menjadi seorang kepala suku, dan ia membantu mereka mendapatkan kuda dan peta daerah Barat yang belum tergambar. Tanpa bantuan tak terduga dari Sacajawea dan saudaranya, ekspedisi itu belum tentu berhasil.

Alkitab menceritakan sebuah ekspedisi yang juga mendapat pertolongan tak terduga. Orang-orang Israel mengirimkan mata-mata memasuki Yerikho, sebuah kota yang berada di tanah yang dijanjikan kepada mereka. Rahab setuju menjamin keluarnya mereka dari kota itu. Sebagai gantinya, mereka melindungi keluarganya bila Yerikho runtuh. Dengan cara ini, Allah sumber kasih karunia yang berdaulat menggunakannya untuk menyiapkan jalan bagi kemenangan penaklukan Israel dan pendudukan Tanah Perjanjian.

Apakah Anda tengah mengalami suatu tantangan? Ingatlah, Allah dapat memberikan pertolongan dari sumber-sumber yang tak terduga --HDF

27 Februari 2006

Lengan yang Kekal

Nats : Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Ulangan 33:26-29

Setelah latihan di Carnegie Hall di kota New York, Randall Atcheson duduk di panggung sendirian. Ia berhasil memainkan komposisi piano yang sulit dari Beethoven, Chopin, dan Liszt untuk acara petang, dan ia ingin bermain sekali lagi untuk dirinya sendiri. Apa yang keluar dari hatinya dan tangannya adalah sebuah himne kuno: "Terhadap apakah aku harus khawatir, terhadap apakah aku harus takut, bersandar pada lengan-lengan yang kekal? Aku dianugerahi kedamaian karena Tuhan begitu dekat, bersandar pada lengan-lengan yang kekal."

Kata-kata itu menggemakan kebenaran dalam berkat Musa yang terakhir kali: "Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan. Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal" (Ulangan 33:26,27).

Alangkah besarnya karunia yang kita peroleh melalui lengan dan tangan yang kita miliki. Tangan ini dapat mengayunkan sebuah palu, menggendong seorang anak, atau membantu seorang sahabat. Namun, sementara kekuatan kita terbatas, kuasa Allah yang tak terbatas untuk kita dinyatakan dalam perhatian yang lembut dan kuat. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan" (Yesaya 59:1). "[Dia akan] menghimpunkan [kawanan ternak-Nya] dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya" (Yesaya 40:11).

Apa pun tantangan atau kesempatan yang sedang Anda hadapi, ada keamanan dan kedamaian dalam lengan-Nya yang kekal --DCM

4 Maret 2006

Bersama Whitaker

Nats : Ia membimbing aku (Mazmur 23:2)
Bacaan : Mazmur 23

Saya dan anjing saya, Whitaker, senang berjalan-jalan pagi menyusuri hutan. Ia berlari di depan, sementara saya berjalan santai sambil merenung atau berdoa. Saya tahu arah yang kami tuju, tetapi ia tidak. Jika saya berhenti di jalan setapak, ia terus berlari -- mengendus, menyelidik, dan kadang-kadang menyeruduk ke dalam hutan untuk mengejar tupai, yang kerap kali hanya tupai khayalan.

Sekalipun Whitaker berada di depan, tetapi sayalah yang memimpin. Kerap kali ia menoleh ke belakang untuk mengecek di mana saya berada. Jika saya berbalik untuk berjalan pulang, atau berbelok ke jalan setapak lain, saya mendengar kakinya yang berderap dan napasnya yang terengah-engah ketika berlari menyusul saya. Jika saya bersembunyi di balik semak, ia akan berlari ke tempat terakhir ia melihat saya lalu mulai melacak jejak saya. Dan kami pun kembali berjalan bersama menyusuri jalan setapak itu.

Seperti itulah bimbingan Allah. Dia mengenal jalan yang dilalui karena Dialah yang mempersiapkan jalan itu. Namun, terkadang kita tak dapat melihat-Nya -- sehingga kita berusaha sebaik-baiknya untuk menuju tempat yang diinginkan-Nya dengan mengikuti tuntunan firman-Nya. Ada saat-saat di mana Dia seolah-olah bersembunyi dari kita. Kadang langkah-Nya tak secepat yang kita harapkan. Namun pada saat lain, kita ingin Dia memperlambat langkah-Nya.

Namun, seperti Whitaker yang selalu menoleh ke arah saya, kita pun perlu memandang Allah dan firman-Nya setiap kali menghadapi saat genting. Kita harus memercayai arahan Roh Kudus-Nya.

Itu yang saya renungkan ketika berjalan bersama Whitaker --DCE

13 Mei 2006

Pemimpin atau Pengikut

Nats : Yesus berkata kepadanya, "Ikutlah Aku!" (Lukas 5:27)
Bacaan : Lukas 5:27-32

Seorang teman dekat bertanya kepada Gandhi, "Jika kau begitu mengagumi Kristus, mengapa kau tak mau menjadi orang kristiani?" Konon Gandhi menjawab, "Bila aku bertemu dengan seorang kristiani yang benar-benar mengikut Kristus, aku akan mempertimbangkannya."

Namun, bukankah itu yang diharapkan dari seorang kristiani -- mengikut Kristus? Joe Stowell, mantan pimpinan Moody Bible Institute menulis dalam buku Following Christ: "Banyak di antara kita yang menghidupi iman kita seolah-olah Kristus hadir untuk mengikuti kita. Bahkan kita percaya bahwa Kristus hadir untuk memenuhi kebutuhan kita .... Bentuk tersamar dari agama yang melayani diri sendiri ini menempatkan Kristus hanya sebagai salah satu kebutuhan hidup, yang dapat menambah dan memberi daya pada impian-impian kita."

Ketika Yesus memanggil murid-murid untuk mengikuti-Nya, Dia menghendaki agar Dialah yang memimpin serta mengarahkan mereka; dan mereka mengikuti-Nya (Lukas 5:27). Seperti para murid itu, kita harus meninggalkan keinginan kita, taat kepadanya, dan memilih untuk "kehilangan" nyawa bagi-Nya (17:33).

Bila tak direnungkan dengan sungguh-sungguh, hal ini mungkin terdengar mudah dilakukan. Namun kenyataannya, kita tidak mungkin melakukannya sendiri. Hanya dengan memilih untuk melepaskan rencana-rencana kita sendiri setiap hari dan memercayai pimpinan Roh Kudus, kita dapat bekerja sama dengan Dia yang berkarya dalam hidup kita.

Demikianlah cara Allah mengajar kita agar menjadi pengikut-Nya yang taat, dan bukannya menjadi pemimpin --AMC

22 Mei 2006

Siapa Pemilik Anda?

Nats : Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mazmur 24:1)
Bacaan : Mazmur 24

"Engkau bukan pemimpinku!" Pernahkah Anda mendengar seorang anak mengucapkan perkataan ini kepada seseorang yang berkuasa? Beginilah upaya si anak untuk menuntut kebebasannya.

Namun, ini tidak hanya terjadi pada anak-anak. Berapa pun usia kita, kita tidak suka apabila seseorang mendikte apa yang harus kita lakukan. Masalahnya, orang itu dapat meminta kita melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan, atau menempatkan kita dalam situasi yang tidak kita inginkan.

Di situlah muncul ketakutan untuk memercayai Allah. Karena takut memercayakan hidup kita kepada-Nya, kita lebih suka berkilah dan berkata, "Engkau bukan pemimpinku."

Jalan pikiran seperti ini mengandung masalah serius: ini sama sekali tidak benar. Kenyataannya, kita tidak dapat berkata kepada Allah bahwa Dia tidak memegang kendali. Dalam Mazmur 24, Daud berkata, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya" (ayat 1). Allah adalah pemimpin dari "mereka yang berdiam" di dunia. Dan itu berarti kita semua, umat manusia.

Karena itu, tanggapan kita untuk memercayai Dia dan memercayakan hidup kita kepada-Nya muncul apabila kita mengakui kuasa-Nya. Kita berkata kepada-Nya, "Tuhan, Engkaulah pemimpinku! Aku mengakui kepemilikan-Mu, dan aku mau bekerja sama dengan-Mu untuk menyempurnakan kehendak-Mu."

Kita adalah milik Allah. Dialah yang bertanggung jawab atas diri kita. Tugas kita adalah memercayai Dia dan hidup bagi-Nya --JDB

22 Juni 2006

Jutaan!

Nats : Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Lukas 12:34)
Bacaan : Lukas 12:13-34

Film buatan Inggris berjudul Millions (Jutaan) mengisahkan secara menarik mengenai dua orang kakak beradik yang menemukan sekantong penuh uang, yang tidak jelas siapa pemiliknya. Si bungsu ingin menggunakannya untuk menolong orang miskin, sementara si sulung melihat uang itu sebagai jalan menuju popularitas dan hidup yang enak. Film itu membandingkan secara kontras kebebasan dari roh yang murah hati dengan kefrustrasian dari tangan yang menggenggam.

Saat berkhotbah dari Kejadian 3, pendeta saya berkata, "Kejatuhan manusia ke dalam dosa telah membuat tangan kita menggenggam kuat." Ajaran Yesus tentang iman dan kemurahan hati menuntun kita untuk membuka tangan. Dia berkata, "Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Lukas 12:32-34).

Kata-kata Tuhan mungkin terdengar begitu radikal, sehingga sulit bagi kita untuk mengetahui bagaimana cara mempraktikkannya. Namun, jika kita benar-benar mencari tuntunan-Nya, Dia akan menuntun setiap langkah kita dan menjaga hati kita dari kekhawatiran.

Saya yakin, anak yang murah hati di dalam film itu telah memiliki tangan yang terbuka jauh sebelum jutaan uang jatuh ke tangan mereka --DCM

24 Juni 2006

Papan Panah atau Pipa Saluran

Nats : Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku (Kolose 1:29)
Bacaan : Kolose 1:24-29

Suatu hari di tengah waktu teduh saya, hal berikut terlintas di pikiran saya: "Janganlah hidup terjadi begitu saja pada dirimu. Biarlah hidup terjadi melalui engkau."

Kalimat pertama menggambarkan betapa diri saya ini bagai papan panah, karena saya cenderung melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa saya. Saya merasa seperti papan panah yang kelelahan. Saya menggunakan semua tenaga saya untuk melindungi diri dari panah-panah cobaan hidup.

Namun, kalimat kedua, "Biarlah hidup terjadi melalui engkau," memberi pendekatan yang berbeda. Bukannya menghindari panah-panah hidup yang ganas, saya justru harus mengizinkan hidup dan kasih Allah tersalur melalui saya. Dia memberkati saya agar melalui cara demikian Dia dapat memberkati orang-orang lain pula.

Pada hari itu saya memilih untuk menjadi pipa saluran Allah, bukannya menjadi papan panah. Maka saya dapat mulai hidup secara lebih efektif bagi Dia.

Kadang kala saya memang kembali menjadi papan panah, tetapi saya segera kehabisan kasih dan tenaga untuk memberkati orang lain. Lalu melalui pengakuan dosa, iman, dan ketaatan, saya menyambungkan diri kembali dengan sumber pemeliharaan surgawi dan memulai lagi hidup sebagai pipa saluran.

Pada suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus menyebutkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Namun, ia bersikeras menjadi saluran berkat dengan mengizinkan Allah bekerja melalui dirinya.

Bagaimana dengan Anda? Anda papan panah atau pipa saluran? Inilah tantangan dan pilihan bagi tiap orang percaya --JEY

26 Juni 2006

Dua Ketakutan Besar

Nats : Dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka (Mazmur 107:30)
Bacaan : Mazmur 107:23-32

Mazmur 107 menceritakan tentang "orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal" (ayat 23). Sepanjang perjalanan mereka di laut, mereka melihat Allah sebagai Pribadi yang berada di balik badai yang bergelora dan Pribadi yang menenangkan badai tersebut. Di dunia kapal layar, ada dua ketakutan besar, yaitu angin ribut yang menakutkan dan tidak ada angin sama sekali.

Di dalam puisi yang berjudul The Rime of the Ancient Mariner, penyair Inggris, Samuel Taylor Coleridge (1772-1834) menggambarkan badai dan kesunyian di laut. Dua kalimat dari puisi tersebut telah sangat terkenal:

Air, air di mana-mana,

Dan tak setetes pun dapat menghapus dahaga.

Pada posisi garis lintang tertentu, angin benar-benar berhenti bertiup sehingga kapal layar tidak bergerak. Kapten dan awak kapal "terjebak" tanpa bantuan. Akhirnya, tanpa adanya angin yang bertiup, persediaan air mereka pun habis.

Kadang kala kehidupan menuntut kita untuk bertahan di dalam badai. Namun pada kesempatan yang lain, kita juga diuji di dalam kejemuan. Kita mungkin merasa terjebak. Sesuatu yang sangat kita idam-idamkan, sama sekali tidak dapat kita raih. Akan tetapi, sekalipun kita berada di dalam keadaan krisis atau berada di sebuah tempat di mana "angin" rohani telah diambil dari pelayaran kita, sangatlah penting bagi kita untuk memercayai tuntunan Allah. Tuhan, yang bertakhta atas situasi yang berubah-ubah, pada akhirnya akan menuntun kita menuju pelabuhan kesukaan kita (ayat 30) --HDF

2 Juli 2006

Awan dan Roh

Nats : Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan (Keluaran 13:21)
Bacaan : Keluaran 13:17-22; 14:19,20

Tuhan memimpin anak-anak Israel dalam tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari (Keluaran 13:21)

Seorang ahli tafsir bernama Arthur Pink menarik persamaan yang signifikan antara awan [dalam bacaan hari ini] yang ada di tengah padang gurun dengan Roh Kudus yang ada dalam kehidupan orang kristiani.

Pink menunjukkan bahwa sama seperti awan itu menjadi anugerah yang luar biasa bagi umat Israel, maka demikian pula Roh Kudus menjadi suatu anugerah bagi anak Allah yang beriman kepada-Nya.

Yesus berkata, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain" (Yohanes 14:16). Tiang awan tersebut diberikan untuk memimpin umat Israel. Demikian juga Roh Kudus diberikan untuk memimpin orang kristiani. Yesus berkata, "Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran" (16:13).

Bahkan sama halnya dengan awan yang tinggal bersama umat Israel di padang gurun, Yesus pun menjanjikan bahwa Bapa akan mengutus Roh, yang akan "menyertai" orang kristiani untuk selama-lamanya (14:16). Renungkan hal itu! Allah sendirilah yang tinggal di dalam hati kita. Kita yang mengenal Yesus Kristus sebagai Sang Juru Selamat dan Tuhan adalah bait Roh Kudus-Nya (1Korintus 6:19).

Apabila kita dipimpin oleh Roh Kudus, maka kehidupan kita akan bercirikan dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, penguasaan diri (Galatia 5:16, 22,23). Kita pun akan menjadi saksi Kristus yang efektif pada saat berjalan melalui "padang gurun" dunia ini --RWD

17 Juli 2006

Raih Kesempatan

Nats : Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang (Galatia 6:10)
Bacaan : Kisah Para Rasul 8:26-38

Hujan deras mengguyur di luar ketika Marcia, direktur Jamaican Christian School bagi kaum tunarungu, menjadi pembicara untuk kelompok kami. Tiga puluh empat remaja dan beberapa orang dewasa terdaftar di sekolah itu. Namun, seorang siswi kami tampaknya tidak ter-ganggu oleh hujan di luar atau oleh anak-anak yang berlarian keliling ruangan.

Remaja itu mendengar Marcia berkata, "Saya bermimpi dapat memiliki tempat bermain bagi anak-anak ini." Siswi ini mengingat-ingat perkataan Marcia, dan melalui dorongan dari Tuhan, ia mewujudkan impian itu menjadi suatu gagasan. Kemudian pada hari itu juga ia berkata kepada saya, "Kami akan kembali dan membangun tempat bermain bagi mereka." Suatu kesempatan pelayanan telah dibukakan.

Setelah lewat empat bulan, pada hari hujan di Jamaika, kami mengadakan perayaan di ruangan yang sama. Kami berkumpul di sebuah tempat bermain yang terbuat dari kayu -- lengkap dengan luncuran, tangga bermain, palang-palang panjatan, ayunan, benteng, dan rekstok gantung. Seorang siswa meraih kesempatan itu dan sebuah impian terwujud.

Seberapa sering Allah mendorong kita bertindak untuk memenuhi kebutuhan sesama, tetapi kita membiarkan kesempatan itu berlalu? Berapa kali Roh Kudus mendorong kita untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dalam nama Yesus, tetapi kita mengabaikan dorongan itu? Seperti halnya Filipus dalam Kisah Para Rasul 8, marilah kita menghormati Tuhan dengan merespons-Nya melalui tindakan. Raihlah setiap kesempatan yang Allah berikan untuk melayani sesama dalam nama-Nya --JDB

27 Juli 2006

Dipanggil untuk Menjadi Berkat

Nats : Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya (Ibrani 11:8)
Bacaan : Kejadian 12:1-9

Salah satu pengalaman yang paling menyedihkan dalam hidup ini adalah ketika kita dipisahkan dari benda-benda dan orang yang kita cintai. Kerap kali sulit bagi kita untuk meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan indah, dan selalu berat bagi kita untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang kita kasihi tatkala harus meninggalkan mereka.

Demikian pula tidak mudah bagi Abraham untuk menaati permintaan Allah supaya ia meninggalkan negeri, teman-teman, dan kerabatnya. Namun, bila ia tidak taat pada perintah Allah, tidak akan ada berkat bagi dia dan keturunannya.

Allah memanggil Abraham untuk menjalani kehidupan dengan pengabdian yang khusus ini, karena Dia telah memilihnya menjadi saluran yang melaluinya Dia akan mengerjakan rencana penebusan. Umat manusia telah memberontak dan menjadi penyembah berhala, sedangkan Abraham harus menyembah satu-satunya Allah yang sejati.

Tugas semua orang kristiani adalah memutuskan hubungan dengan segala yang menghalangi kemajuan dan efektivitas kerohanian. Kita harus meninggalkan semua dosa, seluruh kekerasan hati, dan setiap kesenangan duniawi yang dapat menjauhkan hati kita dari Allah.

Jika kita melakukan hal ini, saat diuji dan dicobai, maka integritas rohani dalam hidup kita akan tetap bertahan melalui ujian kehidupan itu. Kita dikuatkan dalam proses tersebut, agar pada gilirannya kita dapat menjadi berkat bagi orang lain yang ada di sekitar kita --HVL

8 September 2006

Belajar Berjalan

Nats : Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku (Hosea 11:3)
Bacaan : Hosea 11:1-4

Saya mengenang hari-hari yang telah lama berlalu, yaitu ketika anak-anak kami sedang belajar berjalan. Mula-mula mereka menunjukkan bahwa mereka sudah siap untuk belajar berjalan dengan berdiri dan dengan ragu-ragu menapakkan satu atau dua langkah. Saya dan istri saya lalu mengulurkan tangan dan menyemangati mereka agar berjalan ke arah kami. Kami memegang tangan mereka atau tali pada pakaian terusan mereka. Kami memberikan pujian terhadap setiap upaya dan menyemangati setiap usaha. Kami tidak pernah berkecil hati, atau menyerah sampai mereka berhasil.

Demikian juga yang diperbuat oleh Bapa surgawi kita: Dia "mengajar [Israel] berjalan" (Hosea 11:3). Dia mengangkat anak-anak-Nya "di tangan-Ku" serta "menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih" (ayat 3,4).

Bapa surgawi kita berdiri di hadapan kita dengan tangan yang terbuka, mendorong kita untuk melangkah menuju kesucian, dan akan segera memegang kita ketika kita terantuk. Dia akan membangkitkan ketika kita jatuh. Dia tidak pernah berkecil hati maupun menyerah melihat kemajuan kita. Semakin sulit proses yang kita hadapi, maka semakin besar perhatian dan kebaikan yang dicurahkan-Nya.

George MacDonald pernah mengatakan demikian, "Allah akan membantu ketika kita tidak dapat berjalan, dan Dia juga akan membantu pada saat kita sulit untuk berjalan. Akan tetapi, Dia tidak dapat membantu apabila kita tidak mau berjalan." Walaupun Anda jatuh, Anda harus mencoba lagi. Bapa akan memegang tangan Anda -DHR

23 September 2006

Menemukan Arus

Nats : Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yohanes 7:38)
Bacaan : Yohanes 7:32-44

Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja? Cukup seseorang yang haus kekuasaan.

Salah seorang pendeta yang pernah menjadi teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat.

Namun kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh kekuasaan lebih, maka mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri.

Apabila kita melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang "datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" (Matius 20:28).

Apakah Anda seorang pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari gereja Anda -JDB

25 November 2006

Hampa Tanpa Allah

Nats : Kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang ... kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlubang (Hagai 1:6)
Bacaan : Hagai 1:1-11

Sepenggal bait dalam sebuah puisi murahan berbunyi demikian: "Seekor beruang tua yang gembira di kebun binatang, selalu tahu apa yang harus dilakukan. Jika bosan, ia akan berjalan maju mundur, berbalik, dan maju mundur lagi!" Penulis puisi ini tampak jelas berharap manusia dapat menangkap pelajaran dari sang beruang, karena makhluk hidup ini selalu gembira selama ada cukup makanan dan ada beberapa teman di sekeliling mereka.

Akan tetapi, tidak demikian halnya yang terjadi dengan manusia. Bangsa Israel yang telah kembali dari Babel mendapati bahwa manusia tidak bisa bahagia apabila ia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Saat itu mereka tidak peduli pada Bait Allah yang belum dibangun. Sebaliknya, mereka justru membangun rumah yang bagus serta berfoya-foya dan sibuk dengan hal-hal yang bersifat materialistis. Akan tetapi, hasil panen mereka sedikit, baju mereka tidak layak, dan uang mereka tidak dapat mengimbangi harga-harga yang melambung tinggi (Hagai 1:6). Sang nabi mengatakan bahwa ketidakbahagiaan mereka sesungguhnya bersumber dari ketamakan yang ada dalam diri mereka sendiri.

Allah menciptakan kita sesuai dengan citra-Nya dan demi kemuliaan-Nya. Kita tak akan pernah menemukan sukacita sejati sebelum mematuhi perintah Kristus, yaitu "carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya" (Matius 6:33). Jika kita melakukan prinsip firman Allah tersebut, maka kita akan menabur dan menuai dengan berlimpah, dan seluruh kebutuhan hidup kita pun akan dapat terpenuhi --HVL

27 April 2007

Mengobarkan Api

Nats : Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita? (Lukas 24:32)
Bacaan : Lukas 24:13-32

Dalam Kisah Para Rasul 17, Paulus pergi ke Areopagus untuk memberitakan kebenaran kebangkitan. Sebagian besar orang yang berkumpul di sana bukan orang yang ingin mendengarkan hal-hal rohani. Lukas, yang menuliskan Kisah Para Rasul, mencatat mereka hanya ingin menghabiskan waktu untuk membahas ide-ide terbaru, tanpa memiliki minat yang berkobar-kobar untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari (ayat 21).

Terlalu banyak informasi dapat membahayakan. Semua ide itu dapat saling memburamkan dan tak berkaitan, sehingga yang kita ketahui tak mengubah kita.

Berabad-abad lalu, sejarawan Plutarch mengingatkan, hidup pada tahap informasi semata itu berbahaya. Dengan bijak ia berkata, "Akal budi bukan bejana untuk diisi, tetapi api untuk dikobarkan."

Para pengikut Kristus yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus akan menyetujui hal itu (Lukas 24). Ketika mereka meratapi kematian Yesus, Kristus yang telah bangkit bergabung dengan mereka tetapi menyembunyikan identitas-Nya. Dia mulai mengajar mereka tentang nubuatan-nubuatan kuno dalam Perjanjian Lama mengenai semua peristiwa itu. Setelah itu, Kristus menyatakan diri-Nya kepada mereka kemudian pergi.

Setelah Yesus pergi, mereka heran akan apa yang telah mereka dengar. Hal-hal yang diajarkan-Nya bukan fakta-fakta mandul, melainkan api yang membakar hati mereka dengan pengabdian kepada-Nya. Marilah kita juga memercayai Gembala jiwa kita untuk membakar hati kita saat kita bertumbuh di dalam firman-Nya --WEC


Kala menempuh perjalanan masa,
Kehadiran-Nya terasa bersama kita;
Membaca firman-Nya, mendengar sabda-Nya
Nyala-Nya memperbarui hati kita. --Hess

28 Juni 2007

Fleksibilitas

Nats : Sebenarnya kamu harus berkata, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (Yakobus 4:15)
Bacaan : Yakobus 4:13-17

Selama bertahun-tahun, dipercaya untuk memimpin beberapa wisata studi ke negara-negara yang terdapat di dalam Alkitab menjadi suatu kehormatan bagi saya. Pada bulan-bulan menjelang memimpin keberangkatan kelompok kami, kami mengikuti serangkaian rapat orientasi untuk mempersiapkan perjalanan itu. Jadwal, akomodasi hotel, informasi telepon yang bisa dihubungi -- semua itu dapat berubah sewaktu-waktu.

Karena alasan itulah, masa-masa persiapan kami menekankan tentang perlunya fleksibilitas. Kesediaan untuk "mengalir" dan menyesuaikan diri dengan perubahan apa pun yang mungkin kami alami merupakan sesuatu yang berharga. Hidup ini memiliki unsur yang tak terduga, sehingga fleksibilitas merupakan respons terbaik.

Yakobus mengungkapkan sebuah pandangan tentang fleksibilitas dalam pasal 4 suratnya. Merencanakan masa depan itu bijak, tetapi kita harus melakukan hal itu dengan pengakuan bahwa rencana Allah bisa berbeda dengan rencana kita. Bukannya berkata dengan kaku, "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu" (ayat 13), Yakobus justru menasihati kita untuk berserah pada pimpinan Allah dalam hidup kita. Ia berkata, "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu" (ayat 15).

Petualangan mengikuti Kristus adalah petualangan yang mau berserah kepada rencana-Nya yang sempurna -- dan fleksibilitas menolong kita untuk siap pergi, ke mana pun rencana-Nya membawa kita --WEC


Dia tidak menuntunku tahun demi tahun,
Tidak pula hari demi hari;
Namun langkah demi langkah Dia menuntun,
Mengarahkan jalanku, dan meneguhkan hati. --Ryberg

8 Oktober 2007

Siap Dilatih!

Nats : Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11)
Bacaan : Filipi 4:10-19

Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses, memerhatikan bahwa setiap anggota timnya tidak menyukai latihan fisik 10-kali-100 di akhir latihan. Sebelum para pemain boleh meninggalkan lapangan, mereka harus berlari sejauh 100 yard [kira-kira 90 meter] sebanyak 10 kali dengan kecepatan penuh dan istirahat sesedikit mungkin. Jika gagal mengalahkan waktu yang telah ditetapkan, mereka harus mengulanginya lagi.

Para pemain membenci latihan itu -- sampai tiba saatnya bertanding. Saat itu, mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kekuatan penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah terbayar dengan menduduki posisi juara!

Rasul Paulus menggunakan perumpamaan tentang latihan dan pertandingan dalam surat-suratnya. Saat ia menjadi misionaris bagi orang-orang bukan Yahudi, ia tunduk kepada perintah dan latihan dari Allah di tengah penderitaan serta kesukaran yang besar. Dalam Filipi 4, ia berkata, "Aku telah belajar" (ayat 11). Baginya dan bagi kita masing-masing, mengikuti Yesus merupakan proses belajar seumur hidup. Kita belum dewasa secara rohani saat diselamatkan, sama seperti seorang atlet di sekolah yang belum siap bermain sepak bola secara profesional. Kita bertumbuh dalam iman saat mengizinkan Allah, melalui firman-Nya dan Roh Kudus, memberi kita kuasa untuk melayani-Nya.

Melalui kesulitan hidup, Paulus belajar untuk melayani Allah dengan baik. Demikian pula halnya dengan kita. Kesulitan memang tidak menyenangkan, tetapi itu semua patut dihargai! Semakin mudah kita diajar, maka semakin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus, mari kita menyiapkan diri untuk dilatih --DCE

21 Oktober 2007

Apa yang Benar?

Nats : Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam (Yesaya 1:16,17)
Bacaan : Yesaya 1:11-18

Suatu pagi saat komputer saya menyambut saya dengan "layar biru kematian", saya tahu bahwa komputer itu rusak, tetapi saya tidak tahu cara memperbaikinya. Saya membaca dan mencoba beberapa hal, tetapi akhirnya saya harus meminta bantuan seorang ahli. Mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres hanyalah sebagian kecil dari permasalahan; saya tidak dapat memperbaikinya karena saya tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Permasalahan itu mengingatkan saya akan para ahli yang tampil di acara berita televisi. Mereka semua "ahli" dalam mencari kesalahan, tetapi sebagian besar dari mereka tidak tahu sama sekali tentang apa yang benar.

Ini juga terjadi dalam hubungan antara sesama manusia. Dalam keluarga, gereja, dan tempat kerja, kita kerap kali mencari-cari kesalahan, sehingga justru tidak ada perbaikan. Tanpa bantuan seorang ahli pun kita tahu bahwa ada sesuatu yang keliru saat orang-orang mulai saling berselisih dan melukai dengan perkataan dan tingkah laku yang kasar. Namun, untuk mengetahui cara memperbaikinya, kita benar-benar memerlukan seorang ahli.

Allah menyatakan kepada nabi-nabi Israel bukan hanya apa yang salah, melainkan juga apa yang benar: "Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yesaya 1:16,17).

Daripada memusatkan perhatian kita untuk mencari-cari kesalahan, marilah kita menaati Pribadi yang mengetahui apa yang benar --JAL

7 Maret 2008

Senjata Kita

Nats : Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:11)
Bacaan : Efesus 6:10-20

Manusia kerap diperhadapkan pada tiga bidang yang memancing kelemahan manusiawi, yakni harta, kekuasaan, seksualitas. Setiap orang bisa tergoda pada salah satu atau lebih bidang tersebut. Siapa pun orangnya, bahkan para hamba Tuhan sekalipun. Status religius sama sekali bukan jaminan bahwa seseorang pasti tahan uji atau kebal salah. Alih-alih kebal salah, status religius acap kali malah menjadi topeng!

Untuk maksud itulah, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus agar mereka mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (ayat 11). Dan tentunya, ini juga berlaku bagi kita semua. Sebagai orang percaya, kita membutuhkan perlindungan yang menyeluruh atas hidup kita. Mengapa? Karena perjuangan kita sama sekali tidak mudah. Kita harus berjuang melawan roh-roh jahat di udara dan melawan keinginan jahat di dalam diri sendiri. Sebab itu, kita harus selalu waspada dan siap sedia dalam segala hal, dengan mengenakan setiap senjata yang Dia sediakan. Siapa lengah atau gegabah, akan mudah terpeleset dan jatuh.

Selanjutnya, kita harus senantiasa berdoa dan saling mendoakan di antara saudara seiman (ayat 18,19). Memang, kejatuhan bukanlah akhir hidup kita. Ada orang yang justru dapat memanfaatkan kejatuhannya sebagai awal pembaruan hidup yang sejati. Namun yang pasti, kita semua harus terus memiliki kewaspadaan dan penyerahan diri yang total kepada Allah. Melalui doa, mari kita mohonkan dua hal ini kepada Allah, agar kita tak mudah terpeleset pada tiga bidang godaan yang terus berupaya menjatuhkan kita dalam hidup ini -DKL

29 April 2008

Panggilan Seorang Pelayan

Nats : Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8)
Bacaan : Yohanes 6:32-40

Suatu kali seseorang bertanya kepada Ibu Teresa, "Ibu telah melayani kaum miskin di Kolkata, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?" Ibu Teresa menjawab, "Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ...."

Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Sebab jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat riskan jatuh pada kesombongan atau penghalalan segala cara. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Semampunya, bukan semaunya.

Itulah yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Menurut ukuran dunia, Tuhan Yesus bisa dibilang tidak berhasil semasa hidup-Nya. Betapa tidak, Dia harus menjalani hukuman salib. Satu murid-Nya mengkhianati-Nya. Satu murid lagi menyangkali-Nya. Dan, para murid-Nya yang lain kocar-kacir meninggalkan-Nya dan bersembunyi. Tiga tahun berkarya, ujung-ujungnya hanya begitu. Namun, Dia toh tetap setia menjalankan tugas pelayanan-Nya; melaksanakan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yohanes 4:34). Dia tidak undur sedikit pun. Itu sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia (ayat 9). Kesetiaan-Nya membuahkan keselamatan manusia.

Dalam melayani, bisa saja kita melihat bahwa apa yang kita lakukan seolah-olah tidak ada hasilnya. Bila kita menghadapi situasi demikian, jangan undur. Tetaplah setia. Kesetiaan kita dalam melayani Tuhan tidak akan pernah sia-sia -AYA

15 Mei 2008

Pencipta Sejarah

Nats : Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan (Yohanes 6:9)
Bacaan : Yohanes 6:1-14

Suatu Minggu pagi, salju menyelimuti Colchester di Inggris. Semula John Egglen berniat tinggal di rumah, sebab berjalan kaki hampir 10 kilometer ke gereja dalam cuaca bersalju tidaklah mudah. Namun, tanggung jawab sebagai diaken membuatnya berubah pikiran. Di gereja, hanya 12 jemaat yang hadir dan satu jiwa baru -- seorang remaja 13 tahun. Pendeta tidak bisa datang karena rumahnya tertimbun salju. Sebagian jemaat menyarankan kebaktian ditiadakan. Namun, Egglen tetap mengadakan kebaktian. Karena pendeta tidak hadir, Egglen pun berkhotbah. Khotbahnya begitu buruk, sebab ia memang tak bertalenta di situ dan baru pertama kali berbicara di depan banyak orang. Namun, setelah mendengar khotbah itu, remaja tersebut menyerahkan diri kepada Tuhan.

Tahukah Anda, siapa remaja itu? Charles Haddon Spurgeon! Seorang pengkhotbah legendaris di Inggris. Andai Egglen memutuskan tinggal di rumah dan meniadakan kebaktian, mungkin Inggris atau bahkan kekristenan takkan pernah memiliki Spurgeon. Pada Minggu pagi yang dingin itu, Egglen mencatat sejarah.

Sesungguhnya, setiap hari kita punya kesempatan mencipta sejarah. Mungkin Anda seorang guru Sekolah Minggu yang menghadapi murid-murid bandel. Namun, tetaplah setia, sebab siapa tahu kelak seorang dari mereka akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Ingat pula kisah Agustinus. Setiap hari -- selama 14 tahun -- ibunya berdoa bagi Agustinus hingga ia bertobat dan mengguncang dunia dengan pelayanannya. Anak kecil dalam Yohanes 6 juga adalah anak biasa, yang bahkan namanya tidak dikenal. Namun lewat kemurahan hatinya, mukjizat Yesus tercatat dalam Alkitab -PK

27 Mei 2008

Kenali yang Benar

Nats : Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:31,32)
Bacaan : Yohanes 8:30-36

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus menyiratkan bahwa ada dua macam murid; yang benar-benar murid dan yang semu. Dalam era informatika global seperti sekarang ini, kita pasti akan dibanjiri oleh berbagai informasi dan pengajaran. Repotnya, jika tidak memiliki penyaring yang baik, kita dapat menjadi tong sampah. Padahal seharusnya setiap murid Tuhan mengutamakan air susu yang murni dan yang rohani, yang akan menjamin pertumbuhan iman dan membentenginya dari pengajaran-pengajaran yang menyesatkan (1 Petrus 2:2,3).

Kita belajar bahwa murid-murid di Galatia terlalu cepat berpaling dari Injil yang benar kepada "injil yang lain" (Galatia 1:6-10). Jadi, mari kita memerhatikan peringatan Paulus tersebut dengan saksama. Terlebih Rasul Paulus juga mengingatkan kita bahwa akan muncul pengajar-pengajar palsu, "serigala berbulu domba" yang menyusup ke dalam persekutuan orang-orang percaya. Parahnya, pengajar-pengajar palsu semacam itu bisa muncul dari antara kita sendiri (Kisah Para Rasul 20:29,30).

Betapa pentingnya bagi kita untuk mengadakan waktu khusus secara tetap dan teratur -- sebagaimana halnya kita harus makan setiap hari -- agar kita tetap sehat dan bertumbuh secara rohani. Hanya dengan semakin mengenal firman Tuhan secara benar, kita akan mudah membedakan yang palsu dari yang benar. Kita juga akan dimerdekakan sehingga kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam angin pengajaran yang merupakan permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Efesus 4:14,15) -CC

5 Juni 2008

Kambing Hitam

Nats : Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibrani 4:13)
Bacaan : Kejadian 3:1-21

Sebuah cerita humor. Suatu hari Iblis bertemu Tuhan. "Tuhan, manusia itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang disalahkan. Kata mereka, digoda Iblis," keluhnya. "Sama, Aku juga begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami istri bercerai, mereka bilang, sudah kehendak Tuhan," kata Tuhan pula.

Begitulah kecenderungan manusia; lari dari tanggung jawab, senang mencari kambing hitam, melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Itu juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah "terlarang" itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa (ayat 12). Hawa pun tidak terima, sehingga ia juga melemparkan kesalahannya kepada ular (ayat 13).

Tentu saja ini kecenderungan buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bukan saja berarti kita telah melipatgandakan dosa kita, tetapi kita juga jadi tidak belajar dari kesalahan. Lagipula, betapa pun cerdiknya kita bersembunyi dari dosa, kita tidak bisa lari dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari akibat dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap dosa kita di hadapan Tuhan.

Dosa, kalau dibiarkan akan "menggelinding" melahirkan dosa-dosa lainnya. Tidak ada jalan lain, kita harus memutus mata rantai dosa; dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Untuk sesaat mungkin kita akan "sakit" menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada kita harus menanggung akibat yang berkepanjangan —AYA

24 September 2008

Mission Possible

Nats : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19)
Bacaan : Matius 28:16-20

Film Mission Impossible yang dibintangi Tom Cruise sempat menjadi box-office pada tahun 2006. Film yang diangkat dari serial televisi berjudul sama ini berkisah tentang agen Ethan Hunt yang mendapatkan misi yang teramat berat, bahkan nyaris mustahil. Dalam upaya mewujudkan misinya itu Hunt tidak sendiri. Ia dibantu teman-temannya yang tergabung dalam Impossible Mission Force (IMF).

Seperti film-film Hollywood yang lain, sesulit apa pun misi yang diemban oleh Hunt dan teman-temannya, pada akhirnya mereka berhasil menuntaskannya. Mereka sanggup mengubah apa yang tadinya dianggap "mustahil" menjadi "tidak mustahil". Kuncinya terletak pada penggunaan peralatan canggih dan kemampuan para tokohnya.

Sebagai pengikut Kristus kita pun memiliki misi yang harus diemban di dunia ini, yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dari sisi "target akhirnya", betul, ini sungguh tugas yang teramat berat. Bayangkan, menjadikan semua bangsa murid Kristus-walaupun pasti bukan sebuah mission impossible. Sebab kalau itu mustahil, Tuhan Yesus pun tentu tidak akan memerintahkannya.

Namun, dari sisi bagaimana misi tersebut dapat diwujudkan, sebetulnya tidaklah "seberat" itu. Maksudnya, kita semua bisa turut berperan serta. Caranya? Yaitu dengan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian yang indah bagi orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, mereka melihat dan merasakan sapaan kasih Kristus lewat tindakan dan ucapan kita, lalu tergerak untuk mengikut Kristus. Kuncinya terletak pada kasih kita kepada Tuhan dan kepedulian kita terhadap sesama -AYA



TIP #19: Centang "Pencarian Tepat" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab tanpa keluarga katanya. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA