Topik : Uang/Harta

13 Desember 2002

Saat Semuanya Tidak Berarti

Nats : Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (Filipi 3:7)
Bacaan : Filipi 3:7-14

Saat membongkar garasi putra saya, saya menemukan semua trofi yang ia menangkan melalui berbagai macam pertandingan atletik selama bertahun-tahun. Semuanya itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus, dan siap untuk dibuang.

Saya mengenang darah, keringat, dan air mata yang mengucur demi mendapatkan semua penghargaan itu. Namun sekarang ia membuangnya. Semuanya itu tidak berharga lagi baginya.

Saya jadi teringat pada sebuah puisi anak-anak yang aneh karangan Shel Silverstein berjudul "Hector si Kolektor". Puisi itu mengisahkan tentang semua benda yang dikoleksi Hector selama bertahun-tahun. Ia "menyayangi benda-benda itu lebih dari berlian yang bersinar, lebih dari emas yang berkilauan". Lalu Hector mengundang semua temannya, "Kemarilah, aku mau membagikan hartaku!" Lalu semua temannya "datang untuk melihatnya, tetapi mereka menyebut barang-barang itu sampah!"

Seperti itulah nantinya akhir hidup kita. Semua milik kita, semua benda yang kita perjuangkan di sepanjang hidup kita, menjadi tidak berarti apa-apa kecuali sampah. Saat itulah kita diyakinkan bahwa harta bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini.

Mulai saat ini kita akan memiliki cara pandang yang benar, seperti cara pandang Paulus. "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus"(Filipi 3:7). Kita harus bersikap wajar terhadap harta milik kita, karena sebenarnya kita telah memiliki harta yang paling bernilai, yaitu pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan kita -David Roper

15 Januari 2003

Siapa Pemilik Rumah Anda?

Nats : Punya-Mulah ... segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! (1Tawarikh 29:11)
Bacaan : 1Tawarikh 29:10-15

Saya dan istri saya membeli rumah pertama kami ketika kami pindah ke Grand Rapids, Michigan. Dulu selama saya menjadi pendeta, selalu tersedia sebuah rumah untuk saya. Saya teringat perasaan saya tatkala menandatangani hipotek rumah untuk jangka waktu 30 tahun. Seolah-olah saya tengah mengikatkan diri seumur hidup pada utang.

Akhir-akhir ini ada pikiran lain yang menghantui saya, yakni bahwa saya takkan pernah memiliki rumah saya sendiri, sekalipun hipotek itu telah terbayar lunas. Sebab Allah adalah pemilik rumah itu yang sebenarnya. Segala sesuatu adalah milik-Nya.

Renungan ini memunculkan masalah penting dalam budaya kita yang sangat materialistis. Kita sebagai orang kristiani harus mengakui bahwa Allah adalah pemilik sah harta milik kita. Jika tidak, harta itu akan menjadi sumber frustrasi kita. Sikap kita akan tercermin lewat apa yang terjadi pada harta kita. Misalnya jika bumper mobil baru kita penyok, maka hati kita akan hancur berkeping-keping. Kopi yang tumpah di mebel juga dapat menodai sikap kita. Pencurian dapat dengan mudah mencuri kedamaian kita.

Kita perlu menyerahkan hak kepemilikan kita kepada Tuhan dan mengemban tanggung jawab untuk mengurus kekayaan Tuhan itu dengan serius. Bukan berarti kita boleh bersikap acuh tak acuh dan boros. Dalam hati, kita harus menyerahkan semua harta kita kepada Allah, dan selalu mengingatkan diri kita tentang siapa pemilik harta itu yang sebenarnya (1 Tawarikh 29:11). Ini akan menolong kita menggunakan harta itu dengan bijaksana, menyimpannya dengan baik, dan menikmatinya seutuhnya --Dennis De Haan

23 Juni 2003

Pinjaman

Nats : Peringatkanlah kepada orang-orang kaya ... agar mereka berharap ... pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati (1Timotius 6:17)
Bacaan : Mazmur 89:5-12

Setiap hari saya dikelilingi oleh barang-barang yang bukan milik saya, tetapi saya akui sebagai milik saya. Misalnya, saya merujuk komputer yang saya pakai untuk menulis artikel ini sebagai "komputer saya". Saya juga mengatakan "kantor saya", "meja saya", dan "telepon saya". Namun, sebenarnya tak satu pun dari per-alatan itu milik saya. Semua itu dapat saya gunakan, tetapi bukan milik saya. Ketika RBC Ministries "memberikannya" kepada saya, saya tahu apa yang dimaksud: Semua itu adalah pinjaman.

Ini tidaklah mengherankan dalam hubungan antara tuan dan pegawai. Hampir mirip dengan itu, demikian pula semua barang yang kita sebut sebagai milik kita. Ketika kita berbicara tentang keluarga kita, rumah kita, atau mobil kita, kita berbicara tentang orang-orang dan barang-barang yang telah Allah izinkan untuk kita nikmati selama hidup di bumi. Namun, sesungguhnya semua itu adalah milik-Nya. Perhatikan pujian sang pemazmur kepada Allah, "Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi" (Mazmur 89:12).

Dengan memahami siapa yang sesungguhnya memegang semua jabatan yang kita miliki, seharusnya mengubah cara pikir kita. Seperti saya menyadari bahwa RBC mengizinkan saya meng-gunakan peralatannya untuk membantu saya melakukan pekerjaan dengan lebih efisien, demikian juga seharusnya kita menyadari bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada kita sudah seharusnya dipakai untuk melayani Tuhan.

Waktu, talenta, dan segala harta milik kita adalah pinjaman dari Allah agar kita dapat mengerjakan pekerjaan-Nya dengan lebih baik --Dave Branon

25 November 2003

Bepergian Tanpa Beban

Nats : Apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (Lukas 12:20)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Banyak pelancong membawa barang bawaan yang berlebih sewaktu liburan. Mereka membawa sepatu, pakaian, dan barang lebih dari yang mereka butuhkan. Mereka berpikir, "Lebih baik saya membawa semua yang diperlukan karena nantinya saya tidak dapat pulang lagi untuk mengambilnya." Padahal, beban mereka akan berkurang jika mereka bertanya, "Seberapa banyak barang yang dapat saya tinggal?" Akibatnya, mereka sibuk membawa kopor yang lebih berat daripada semestinya. Sebagian orang bahkan membeli banyak barang baru saat liburan itu sehingga harus meninggalkan sebagian milik mereka sendiri di hotel.

Kita cenderung mengumpulkan terlalu banyak harta dalam perjalanan hidup kita. Kita dibombardir oleh iklan-iklan yang mendorong kita untuk membeli barang-barang yang "tanpanya kita tidak dapat hidup". Akibatnya, kita membeli lebih, dan lebih banyak barang lagi.

Orang kaya dalam perumpamaan Yesus (Lukas 12:13-21) mungkin telah memimpikan semua barang bagus yang dapat diperoleh karena hasil panennya berlimpah. Ia mengatakan akan mendirikan lumbung yang lebih besar, dan menghabiskan waktu untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Namun, Allah berfirman kepadanya, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ayat 20).

Prinsipnya jelas: jadilah "kaya di hadapan Allah", bukan kaya harta (ayat 21). Di samping itu, Anda harus meninggalkan semua itu jika tiba waktunya untuk pulang ke Rumah yang kekal --Dave Egner

25 Februari 2004

Grafiti

Nats : Walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Pendeta dan penginjil E.V. Hill pulang ke rumah Tuhan dan Juruselamatnya pada tanggal 25 Februari 2003. Sebagai pembicara konferensi, ia sangat digemari banyak orang. Tidak banyak orang yang memperoleh perhatian dan penghormatan dari berbagai kalangan masyarakat seperti dirinya.

Bertahun-tahun yang lalu, Pendeta Hill diundang untuk berbicara di sebuah gereja, di pinggiran sebuah kota besar di Amerika Serikat bagian selatan. Pada pembukaan khotbahnya, Pendeta Hill mengomentari perbedaan antara daerah pinggiran yang kaya tersebut dengan daerah perkotaan miskin tempat ia melayani. "Saya tahu apa yang kurang," katanya. "Di sini tak ada grafiti sama sekali. Saya bersedia dengan sukarela membuatkannya bagi kalian. Saya akan mengambil seember cat dan berjalan mengelilingi kawasan kalian. Lalu saya akan menuliskan satu kata ini di atas rumah jutaan dolar dan mobil mahal buatan Eropa milik kalian: sementara. Hanya satu kata itu: sementara. Tak satu pun dari semua kekayaan itu bersifat kekal."

Kita menikmati dan mengurusi harta kita, dan memang seharusnya demikian. Namun, Yesus mengatakan bahwa kita tidak boleh dikuasai oleh harta kita, karena semua itu tidak akan dapat dibawa ke dalam kekekalan (Lukas 12:15-21). Rumah hanyalah sebuah kotak tempat berlindung dari hujan dan panas; mobil hanyalah sebuah alat untuk membawa kita dari satu tempat ke tempat yang lain. Karena kita tidak dapat membawanya saat kita meninggal dunia, sebaiknya kita melihat semuanya itu sebagaimana dilihat oleh E. V. Hill melihatnya: sementara --Dave Egner

9 Maret 2004

Uang dan Waktu

Nats : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17)
Bacaan : Markus 12:13-17, 28-31

Selama perjalanan ke London, saya mengunjungi Museum Bank of England, lalu terus ke Museum Clockmakers. Dalam beberapa hal, saya terkejut saat menyadari bahwa uang dan waktu telah menjadi komoditas sangat penting sejauh ingatan manusia. Namun, keduanya juga menghadirkan satu dilema besar dalam hidup. Kita memanfaatkan waktu yang berharga untuk bekerja mencari uang, lalu menghabiskan uang kita untuk menikmati waktu libur. Kita jarang memiliki keduanya secara seimbang.

Sebaliknya, Tuhan tidak pernah dipusingkan oleh uang atau waktu. Ketika ditanya apakah membayar pajak kepada Kaisar itu sah menurut hukum, Yesus menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17). Meskipun kesibukan-Nya menyita waktu, Yesus meluangkan waktu di pagi hari dan larut malam untuk berdoa, mencari dan melakukan kehendak Bapa-Nya.

Penulis himne Frances Havergal menulis:

Ambillah hidupku, dan biarlah
Diabdikan kepada-Mu, Tuhan;
Ambillah waktu-waktu dan hari-hariku,
Biarlah mereka mengalir dalam pujian tanpa henti.
Ambillah perakku dan emasku,
Tak sedikit pun akan kutahan;
Ambillah kepandaianku dan pakailah
Setiap kekuatan yang akan Kaupilih.

Kita dapat menyeimbangkan waktu dan uang dengan sebaik-baiknya jika kita mempersembahkan diri tanpa syarat kepada Allah—David McCasland

6 Juli 2004

“lalu Bagaimana?”

Nats : Harta benda tidaklah abadi (Amsal 27:24)
Bacaan : Matius 6:19-24

Pada abad ke-16 ada sebuah kisah tentang percakapan penuh selidik antara seorang pemuda yang ambisius dengan seorang kristiani yang saleh bernama St. Philip Neri. Sang pemuda berkata kepadanya dengan semangat, “Orangtua saya akhirnya menyetujui rencana saya untuk masuk sekolah hukum!” Philip hanya menanggapinya dengan sebuah pertanyaan, “Lalu bagaimana?”

Ia menjawab, “Lalu saya akan menjadi seorang ahli hukum!” “Lalu?” kejar Philip. “Lalu saya akan mendapatkan banyak uang, membeli sebuah rumah pedesaan, membeli kereta dan kuda-kuda, menikahi seorang wanita cantik, dan menjalani hidup yang menyenangkan!” jawabnya.

Lagi-lagi Philip bertanya, “Lalu?” “Lalu ....” Untuk pertama kalinya pemuda itu mulai merenungkan tentang kematian dan kekekalan. Ia menyadari bahwa ternyata ia tidak melibatkan Allah dalam rencana-rencananya, dan membangun hidupnya di atas nilai-nilai yang fana.

Inti kisah ini bukan hendak mengatakan bahwa kekayaan itu salah. Tetapi jika kekayaan menjadi tujuan utama, maka kita mengabaikan kekekalan dan mengandalkan uang, bukan Allah. Yesus mengatakan bahwa kita tidak mungkin mengabdi kepada uang dan kepada Allah (Matius 6:24). Dan Dia memperingatkan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi .... Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga” (ayat 19,20).

Baik anak muda maupun orang tua memang harus membuat berbagai perencanaan hidup yang penting. Namun, marilah kita senantiasa mengingat kekekalan dengan selalu mengarahkan diri kita pada pertanyaan, “Lalu bagaimana?” —Joanie Yoder

18 Desember 2004

Perawat, Bukan Pemilik

Nats : Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu (1 Tawarikh 29:14)
Bacaan : Mazmur 95

John Hauberg dan istrinya tinggal di sebuah rumah yang sangat indah di Seattle. Interior maupun eksterior rumah itu sebagian besar terbuat dari kaca. Ratusan perkakas kaca menghiasi ruang-ruang yang penuh cahaya. Bahkan bak cuci, rak-rak buku, dan rak di atas perapian juga terbuat dari kaca. Anda mungkin mengira keluarga Hauberg selalu khawatir kalau-kalau ada barang yang pecah. Sebaliknya, mereka justru mengundang pada pengunjung untuk menjelajahi seluruh isi rumah dengan bebas.

John juga merupakan seorang peneliti seni kerajinan Amerika asli, tetapi ia telah menyumbangkan seluruh koleksinya kepada Museum Seni Seattle. Tujuannya bukanlah untuk menimbun, melainkan untuk berbagi. “Saya bukanlah pemilik, melainkan perawat,” demikian katanya.

Pernyataan John Hauberg mengungkapkan sebuah prinsip alkitabiah yang mendasar yang berlaku untuk semua harta milik kita. Kita bukan pemilik melainkan perawat. Tentu saja secara hukum kita memang memiliki harta milik kita. Tetapi sebagai orang kristiani, dengan sukacita kita mengaku bersama Daud bahwa “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24:1).

Sebagai pencipta, Allah adalah pemilik semua yang ada, ter-masuk apa yang kita miliki. Dia mengizinkan kita menggunakan sumber kekayaan dunia-Nya untuk sementara. Tetapi pada akhirnya semua akan kembali pada-Nya.

Apakah kita cukup bijaksana dan murah hati dalam menjadi perawat harta kekayaan Allah? —Vernon Grounds

20 Mei 2005

Uang Itu Penting

Nats : Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain (Lukas 16:13)
Bacaan : Lukas 16:1-13

Godfrey Davis, yang menulis biografi Duke Wellington, berkata demikian, "Saya menemukan sebuah catatan pembukuan tua yang menunjukkan bagaimana Duke membelanjakan uangnya. Catatan itu menjadi petunjuk yang jauh lebih baik mengenai apa yang dianggapnya benar-benar penting daripada membaca surat-surat ataupun pidato-pidatonya."

Bagaimana kita menangani uang banyak akan menunjukkan apa yang kita anggap penting dalam hidup ini. Karena itulah, Yesus berbicara mengenai uang. Seperenam isi Injil, termasuk satu dari setiap tiga perumpamaan, menyinggung tentang masalah pengurusan uang. Yesus memang bukan pengumpul dana. Dia membicarakan masalah uang karena uang adalah hal yang penting. Namun bagi beberapa orang di antara kita, uang sangat-sangat penting.

Yesus mengingatkan bahwa kita dapat menjadi budak uang. Kita mungkin tidak berpikir bahwa uang lebih penting daripada Allah. Tetapi Yesus tidak mengatakan kita harus melayani Allah lebih daripada uang. Masalahnya bukan mana yang mendapat prioritas pertama dalam hidup kita, tetapi apakah kita menjadi hamba uang, betapapun kecil prioritasnya. Pendeta sekaligus penulis George Buttrick mengatakan, "Dari semua perkara yang dapat dipilih oleh jiwa, akhirnya hanya ada dua pilihan—Allah dan uang. Semua pilihan, betapa pun kecil, betapa pun tersembunyi alternatifnya, hanyalah varian dari pilihan ini."

Apakah buku cek Anda menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuan bagi hidup Anda? —HWR

11 Juni 2005

Aspal Surga

Nats : Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening (Wahyu 21:21)
Bacaan : Wahyu 21:14-21

Cerita ini mengisahkan tentang seorang penambang yang menemukan emas dan membawa-bawa tasnya yang penuh dengan batangan emas ke mana-mana. Suatu hari ia meninggal dan menuju surga, sambil masih membawa batangan emasnya yang berharga. Setibanya di surga, seorang malaikat bertanya mengapa ia membawa aspal. "Ini bukan aspal," jelasnya, "ini emas." Sang malaikat menanggapi perkataannya dengan berkata, "Di bumi, benda itu memang disebut emas, tetapi di sini, di surga, kami memakainya untuk mengeraskan jalan-jalan."

Ini memang cuma lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita untuk berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.

Dalam Wahyu 21, saya paling terkesan terhadap penggambaran tentang jalan-jalan di surga yang adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!

Benda yang kita angap berharga di bumi ini, tidak dinilai tinggi di surga—itu adalah barang-barang tak perlu yang kita beli dan kumpulkan, saham dan rekening bank, kekaguman dan kemasyhuran. Ketika tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?

Harta benda duniawi sifatnya hanya sementara. Ingat, kekayaan kita yang sejati ada di surga —VCG

10 November 2005

Dewa dari Emas

Nats : Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3)
Bacaan : Keluaran 12:29-42

Allah telah menarik perhatian Firaun dan orang-orang Mesir dengan serangkaian bencana. Kini mereka berusaha keras untuk mengenyahkan budak-budak Ibrani mereka. Tetapi Allah tidak ingin orang-orang Israel meninggalkan Mesir dengan tangan hampa. Lagi pula, ada upah selama 400 tahun yang harus dibayarkan kepada mereka. Maka mereka meminta barang-barang dari perak, emas dan pakaian dari mantan tuan mereka dan mereka mendapatkan semua itu. Keluaran 12:36 mengatakan bahwa orang-orang Israel “merampasi orang Mesir itu”.

Namun, tidak lama kemudian umat Allah jatuh dalam penyembahan berhala. Mereka menggunakan emas milik mereka untuk membuat anak lembu emas. Mereka menyembahnya sewaktu Musa sedang berada di Gunung Sinai menerima hukum Allah (32:1-4).

Pengalaman tragis orang-orang Israel ini menyoroti hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang kristiani mengenai harta milik mereka. Ada banyak hal di dalam masyarakat yang dapat kita nikmati, tetapi benda-benda materi juga membawa bahaya yang mematikan apabila kita gunakan tanpa berpikir panjang. Os Guinness berkata bahwa kita “bebas menggunakannya”, tetapi kita “jangan menjadikannya berhala”. Kita adalah “orang asing dan pendatang” (Ibrani 11: 13), dan kita jangan sampai begitu mencintai “kekayaan Mesir” sehingga kita merasa puas dan melupakan panggilan sejati kita.

Apakah kita telah menggunakan berkat-berkat materi kita untuk melayani Tuhan? Atau apakah kita telah menjadi budak mereka? -HWR

2 April 2006

Meminjami Tuhan

Nats : Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu (Amsal 19:17)
Bacaan : Matius 25:34-46

Seorang ayah memberikan uang 50 sen kepada putranya yang masih kecil dan berpesan bahwa ia boleh memakai uang itu sesukanya. Di kemudian hari ketika sang ayah menanyakan tentang uang itu, si anak menjawab bahwa ia telah meminjamkannya kepada seseorang.

"Siapa yang kaupinjami?" tanya ayahnya. Anaknya menjawab, "Aku memberikannya kepada seorang pria miskin di jalan yang kelihatannya lapar."

"Oh, sungguh bodoh! Kamu takkan pernah mendapatkan uang itu kembali," kata ayahnya. "Tetapi, Yah, Alkitab mengatakan bahwa orang yang memberi kepada orang miskin berarti memiutangi Tuhan."

Sang ayah sangat senang mendengar jawaban anaknya sehingga ia memberinya 50 sen lagi. "Lihat, Ayah," ujar sang anak. "Tadi sudah kukatakan bahwa aku akan mendapatkan uang itu kembali, hanya saja aku tidak menduga itu terjadi begitu cepat!"

Pernahkah Tuhan meminjam sesuatu dari Anda? Pernahkah Anda sadar bahwa dalam kebutuhan orang lain terdapat permintaan langsung dari surga terhadap sedikit dari yang Anda miliki? Alkitab menegur sikap mengabaikan orang miskin, yang sering kita lakukan dengan melontarkan perkataan saleh tanpa berbuat apa-apa untuk mereka (Yakobus 2:14-17). Bahkan Galatia 6:10 meminta kita supaya "berbuat baik kepada semua orang".

Tak ada janji bahwa kita akan segera menerima balasan. Namun, saat Yesus mengajar para pengikut-Nya tentang kedatangan-Nya kembali, Dia mengatakan kita akan diberi upah karena memberi diri kepada orang lain dalam nama-Nya (Matius 25:34-46) --HGB

5 September 2006

Pemberian Tanpa Bayaran

Nats : Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? (Yesaya 55:2)
Bacaan : Yesaya 55:1-7

Selama penantian panjang di sebuah bandara, saya memerhatikan sebuah bisnis di terminal utama yang paling menarik perhatian banyak orang dibandingkan bisnis lainnya. Dalam beberapa jam, pembeli terus-menerus datang sambil membawa uang, mengantre, mengadakan transaksi, lalu segera pergi. Tampaknya masing-masing tahu pasti apa yang diinginkan.

Bisnis yang laris itu ternyata agen penjualan lotere. Walaupun kemungkinan menang dalam mesin undian bola jackpot hanya 1 banding 146 juta, tampaknya orang tergoda untuk membeli lotere tersebut dan, hampir terjadi dalam setiap ka-sus, tidak memperoleh apa pun. Inilah gambaran nyata bagaimana kita melakukan pengejaran tanpa henti demi memperoleh kepuasan dan keamanan terhadap harta duniawi.

Ketika Allah bertanya kepada umat-Nya melalui Nabi Yesaya, Dia menanyakan mengapa mereka membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau memuaskan mereka. Tuhan mengundang mereka yang tidak mempunyai penghasilan untuk menerima "anggur dan susu tanpa bayaran ... dan kamu akan menik-mati sajian yang paling lezat. Sendengkanlah telingamu, dan da-tanglah kepada-Ku" (Yesaya 55:1-3).

Allah menawarkan diri untuk memberi sesuatu yang tidak bisa kita beli-belas kasihan, pengampunan, dan perubahan hidup yang terjadi saat Dia hadir. Dia mengundang kita: "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui" (ayat 6).

Berkat anugerah Allah, kita dapat dengan bebas memperoleh sesuatu dari-Nya, tanpa pembayaran apa pun -DCM

18 September 2006

Harta di Surga

Nats : Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21)
Bacaan : Matius 6:19-21

Dalam perjalanan untuk mengajar ke Togo, Afrika Barat, saya melihat ratusan bangunan setengah jadi yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Saya kemudian bertanya kepada sang misionaris yang menjadi tuan rumah, mengapa banyak bangunan yang tidak diselesaikan. Jawaban yang diberikannya sungguh mengejutkan.

Rupanya, hukum di Togo memperbolehkan orang yang terluka untuk meminta ganti rugi berupa uang tunai dari anggota keluarga orang yang telah melukainya. Bahkan tidak terkecuali sanak saudara jauh. Karena itu, agar simpanan uang tunai milik mereka tidak dikuasai oleh negara, maka orang-orang itu pun membeli tanah. Setahap demi setahap, kadang kala selama berpuluh-puluh tahun, mereka membangun rumah-rumah mereka dengan tambahan uang. Ironisnya ratusan bangunan yang belum jadi itu merupakan pernyataan bahwa alangkah mudahnya orang kehilangan harta miliknya.

Hal ini menggambar sebagian dari ajaran Tuhan kita, "Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya" (Matius 6:19). Harta duniawi mudah sekali hilang, dicuri, dirusak, atau jatuh nilainya. Jika itu menjadi fokus kita, maka kita hanya akan mengalami frustrasi.

Jika hati kita tertarik oleh nilai-nilai yang bersifat kekal-karakter ilahi, hubungan, jiwa-jiwa yang perlu dimenangkan-maka kita tidak akan menyesal. Kita justru akan menjadi kaya dengan hal-hal yang berhubungan dengan Kristus. Selain itu, tidak ada seorang pun yang dapat merampas harta karun yang kita kumpulkan di surga! -WEC

13 Desember 2006

Uang Bicara

Nats : Akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman (1 Timotius 6:10)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Ketika saya mengendarai mobil pulang dari kantor, saya melihat minivan yang dengan bangga ditempeli stiker bemper yang berbunyi: "Uang Bicara: Uangku Bilang Selamat Tinggal." Saya kira banyak orang bisa memahami sentimen seperti itu.

Sebagian besar kehidupan kita dihabiskan untuk mencari dan menghabiskan uang, yang tidak akan bertahan selamanya. Pasar saham anjlok. Harga-harga membubung tinggi. Para pencuri mengambil barang-barang milik orang lain. Benda-benda menjadi usang dan rusak, sehingga menuntut pemasukan dan pengeluaran uang yang semakin banyak untuk menggantikan yang hilang. Sifat kekayaan materi yang tidak bertahan lama menjadikan uang kurang berguna jika digunakan untuk mendapatkan keamanan di dunia yang tidak aman ini. Uang lebih mudah terlepas daripada tetap bertahan dalam genggaman kita.

Tak ada bagian Alkitab yang mengatakan bahwa memiliki uang atau benda yang bisa dibeli dengan uang itu salah. Namun, kita akan tersesat jika uang menjadi tujuan yang menggerakkan hidup kita. Sama seperti kisah orang kaya dan lumbungnya (Lukas 12:13-21), kita terlalu fokus untuk menumpuk harta benda yang akhirnya akan hilang -- jika tidak saat kita hidup, maka saat kita mati.

Betapa menyedihkan apabila setelah menghabiskan seluruh hidup ini, kita akhirnya tidak mendapatkan apa pun yang bernilai kekal sebagai hasil dari semua jerih payah yang kita lakukan. Jika kata-kata Yesus dirumuskan kembali, maka jauh lebih baik jika kita kaya di mata Allah, daripada bekerja demi harta yang tidak abadi (ayat 21) --WEC

6 Januari 2007

Memberi Sepenuhnya

Nats : Janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya (Markus 12:44)
Bacaan : Markus 12:41-44

Pak Branon, saya harus berbicara dengan Anda mengenai hal yang sangat penting," kata suara di ujung telepon yang lain. Telepon itu saya terima dua hari sebelum sekelompok kecil remaja dan orang dewasa pergi ke Jamaika untuk mengikuti perjalanan misi khusus. Selama berbulan-bulan kami berencana untuk pergi ke sebuah sekolah khusus anak tunarungu untuk membangun lapangan bermain yang sangat dibutuhkan. Karena itu, saat remaja ini menelepon, saya berpikir, Oh, tidak. Jangan-jangan ia tidak bisa ikut pergi.

Namun, saat ia, ibunya, dan saya bertemu untuk makan siang, saya baru menyadari betapa istimewanya gadis ini. Ia mengatakan bahwa ia akan menyumbangkan seluruh tabungannya untuk membantu biaya perjalanan. Tabungan itu sebenarnya hendak ia pakai untuk membeli sebuah mobil. "Saat saya berdoa selama dua hari terakhir ini," jelasnya, "saya merasa Allah menyuruh saya memberikan semua uang saya." Hari itu kami berlinang air mata sukacita sambil menikmati burger dan kentang goreng.

Kisah di atas menggambarkan seberapa besar diri kita harus dipersembahkan kepada-Nya! Allah menginginkan pengorbanan yang utuh -- betapa pun sulitnya -- tak hanya pemberian sebanyak 10 persen. Jika Yesus benar-benar Tuhan kita, maka kita harus memberikan seluruh keberadaan kita kepada-Nya, yaitu berupa kata-kata, waktu, dan berbagai pilihan kita.

Yesus memuji janda yang "memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya" (Markus 12:44). Bayangkan pengaruh yang dapat kita miliki jika kita memberikan diri kita seluruhnya --JDB

18 Januari 2007

Anda dan Harta Anda

Nats : Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga (Matius 19:23)
Bacaan : Matius 19:16-26

Enam orang perampok bersenjata api menerobos penyimpanan kotak deposit di sebuah bank di kota London dan mencuri barang-barang berharga senilai lebih dari tujuh juta dolar [kira-kira 70 miliar rupiah]. Seorang wanita, yang memiliki perhiasan senilai 500.000 dolar [kira-kira lima miliar rupiah], meratap, "Semua yang saya miliki ada di situ. Seluruh hidup saya ada di dalam kotak itu."

Sebagian orang telah mengambil risiko yang bodoh dengan berpegang pada harta mereka. Mereka mati karena menyerbu masuk ke dalam rumah yang terbakar api atau terbunuh karena melawan para perampok yang membawa senjata api. Mereka sepertinya merasa bahwa tanpa harta benda, hidup menjadi tidak ada artinya lagi. Orang yang lain jatuh ke dalam keputusasaan, bahkan langsung bunuh diri saat harta benda mereka hilang.

Keterikatan yang mendalam dengan harta sangat membahayakan hidup kerohanian kita. Keterikatan yang tidak sehat pada hal-hal yang bersifat materi dapat menghalangi orang yang belum percaya untuk datang kepada Kristus dan menghalangi orang percaya untuk hidup bagi Dia. Kisah pemuda yang kaya melukiskan dengan tajam kebenaran tersebut. Perkataan Yesus, "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada [uang]" (Matius 6:24) tentunya berlaku bagi kita semua.

Buatlah jarak yang lebar antara Anda dan harta Anda. Dengan begitu Anda akan terhindar dari banyak duka. Apabila Anda belum percaya kepada Kristus, janganlah membuat kesalahan seperti pemuda yang kaya tadi. Hal itu akan membuat Anda kehilangan jiwa Anda --HVL

23 Februari 2007

Agama Baru

Nats : Waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaan-nya itu (Luk. 12:15)
Bacaan : Pengkhotbah 2:1-11

Ketika berkendara menuju Irlandia untuk menghadiri konferensi Alkitab, saya melihat papan reklame yang menarik. Papan yang besar dan berwarna putih itu tidak memuat gambar apa pun selain sepatu wanita berwarna merah dengan kalimat yang ditulis tebal: "Apakah Belanja Telah Menjadi Agama Baru?"

Pemenuhan keinginan untuk memiliki sesuatu terus menjadi motivasi terkuat yang dapat dialami manusia. Namun, bisakah barang-barang yang kita miliki membuat kita merasakan kepuasan sejati?

Dalam Lukas 12:15, Yesus menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan tanpa kompromi, "Tidak!" Selama membicarakan harta duniawi, Dia berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala keta-makan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu." Hidup seharusnya memiliki makna lebih jika dibandingkan setumpuk benda yang kita miliki.

Raja Salomo juga pernah tergoda untuk mencari kepuasan dalam mengumpulkan harta benda. Namun ia mendapati bahwa semua itu sia-sia (Pkh. 2:1-17). Bila kita menempatkan "harta berlimpah" sebagai pusat hidup kita, maka kegemaran kita berbelanja bisa jadi telah menggantikan Allah -- dan menjadi agama baru. Namun, hal-hal seperti ini pasti akan berakhir dengan kesia-siaan.

Daud berdoa, "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup" (Mzm. 145:16). Hanya Allah yang sanggup memberi kepuasan sejati dalam hidup ini --WEC

Ya Tuhan, bantu dan ajarlah kami
Berpuas atas segala yang kami miliki,
Dan kiranya hati kami melimpah
Dengan rasa syukur yang tercurah. --Sper

23 Juni 2007

Terbebas

Nats : Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga (Markus 10:21)
Bacaan : Markus 10:17-27

Tindakan pengurangan biasanya terjadi saat seseorang pindah ke rumah yang lebih kecil. Ada perabot dan benda-benda yang terpaksa disingkirkan sebab ruangan tak cukup besar untuk menampungnya. Namun, ketika seorang psikolog, Jane Adams pindah ke rumah yang lebih besar, ia juga sulit berpisah dengan barang kesayangan yang ia dapat dari berkeliling dunia. Bukannya mengurangi, ia justru membebani diri dengan benda-benda tak penting yang mengikatnya di masa lalu.

"Pengurangan," ujarnya, "berkaitan dengan tekanan, pembatasan, dan pemangkasan saat kita sedang menikmati mimpi kemarin. Pembebasan menyuarakan kemerdekaan, perluasan, ... hak untuk memimpikan [mimpi-mimpi] baru."

Alih-alih mencari makna harta benda, kita dipanggil untuk mencari kehidupan dan kemerdekaan di dalam Yesus. Kristus berkata kepada seorang pemuda yang masih terikat pada harta kekayaannya, "'Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.' Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya" (Markus 10:21,22).

Sulit membayangkan Yesus membutuhkan suatu tempat untuk menyimpan barang-barang "ekstra"-Nya. Jika semua yang saya miliki membuat saya tidak menaati-Nya dengan segenap hati, siapkah saya membuka tangan saya, melepaskan barang itu, dan mengikut Dia tanpa beban? --DCM


Aku tak lagi meminta berbagai benda,
Karena Kristuslah kerinduanku;
Dia berjalan dan bercakap-cakap denganku;
Dialah yang memuaskan hasratku. --Bang

12 Juli 2007

Penyakit Kemakmuran

Nats : Berjaga-jagalah dan waspa-dalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Karena orang-orang dari kalangan atas suka memborong Blackberry (alat nirkabel untuk e-mail dan telepon) dan televisi layar datar, kita tak dapat menyangkal adanya peningkatan kemakmuran di berbagai belahan dunia. Anda dapat menyebutnya sebagai "penyakit kemakmuran". Namun, ada satu kekhawatiran di tengah kemakmuran itu. "Inilah teka-teki ekonomi zaman kita," kata Robert J. Samuelson di surat kabar The Washington Post. Saya ingin tahu apakah hidup seperti ini benar, sebab kita berusaha menemukan ketenteraman jiwa dengan memiliki "lebih banyak barang" -- barang yang hanya bersifat sementara dan cepat lenyap.

Alkitab menyebut keinginan mengejar lebih banyak harta sebagai "ketamakan". Yesus memperingatkan para pengikut-Nya tentang keserakahan dengan menceritakan kisah seorang kaya. Masalah orang kaya ini bukan karena ia mempunyai hasil bumi yang melimpah, atau karena ia memutuskan membangun lumbung yang lebih besar (Lukas 12: 16-18). Masalahnya adalah ia menginvestasikan seluruh hidupnya untuk harta (ayat 15). Ia meraih rasa aman dari harta bendanya tetapi gagal menjadi "kaya di hadapan Allah" (ayat 21). Menolak pengetahuan dan ajaran Allah sebagai dasar hidup adalah perbuatan bodoh orang kaya itu. Ia hidup pada saat itu dan menganggap masa depannya sudah terjamin dengan banyak harta (ayat 19,20).

"Hidup yang baik" tidak dapat ditemukan dalam harta yang melimpah. Kita tak dapat menemukan ketenteraman hati dengan memborong "lebih banyak harta". Kita hanya akan memperoleh kepuasan sejati dengan menginvestasikan sumber penghidupan serta hidup kita dalam dan untuk kerajaan-Nya --MLW

2 Agustus 2007

Kemurahan Hati Radikal

Nats : Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam perbuatan baik, suka memberi dan membagi (1Timotius 6:18)
Bacaan : 1Timotius 6:17-19

Cindy Kienow, seorang pegawai sebuah restoran terkenal di Hutchinson, Kansas, sedang menunggu salah satu pelanggan tetapnya selama tiga tahun. Ia selalu memberi tip besar kepada Cindy, bahkan kadang sampai setengah dari uang yang ia belanjakan di situ. Suatu hari, ia melakukan hal yang tidak lumrah, yaitu memberi Cindy tip sebanyak 90 juta rupiah ketika ia membeli makanan seharga Rp234.000,00. Ia berkata pada Cindy, "Ketahuilah, ini bukan lelucon." Sungguh radikal kemurahan hati yang ditunjukkan orang ini!

Paulus menasihati Timotius supaya ia mendorong orang-orang kaya dalam jemaatnya untuk menunjukkan kemurahan hati yang radikal (1 Timotius 6:18). Timotius melayani di sebuah kota yang makmur, yaitu Efesus, yang sebagian jemaatnya adalah orang kaya. Beberapa di antara orang-orang kaya itu tak memahami tanggung jawab mereka terhadap kerajaan Allah. Jadi, Paulus menantang Timotius supaya ia memperingatkan mereka bahwa kekayaan yang banyak menuntut tanggung jawab yang besar pula. Termasuk untuk menjadi rendah hati, untuk mengandalkan Allah dan tidak mengandalkan kekayaan, dan menggunakan uang untuk melakukan kebaikan. Cara mereka mengurus keuangan akan mencerminkan sikap hati mereka.

Walaupun kita tidak kaya, Allah juga memanggil kita untuk menunjukkan kemurahan hati yang radikal. Kita bisa membagikan sesuatu yang kita miliki dan banyak melakukan kebaikan. Jika kita bisa bermurah hati dalam masalah keuangan, kita akan lebih bisa bermurah hati dalam bidang lain yang berkaitan dengan umat Tuhan dan pekerjaan-Nya --MLW

10 November 2007

Kehidupan yang Baik

Nats : Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)
Bacaan : Lukas 12:13-21

Ketika menyusuri jalan raya di Houston, saya melewati papan iklan dengan tulisan besar berbunyi: "KEHIDUPAN YANG BAIK!" Saya tak sabar mendekatinya agar bisa membaca tulisan kecil yang menjelaskan bahwa maksud "kehidupan yang baik" adalah membeli rumah di tepi danau yang harganya mulai 300.000 dolar [kira-kira 2,7 miliar rupiah]. Saya lalu bertanya-tanya bagaimana seandainya yang tinggal di rumah-rumah itu adalah keluarga tidak bahagia, yang anak-anaknya tidak pernah bertemu orangtuanya, atau pasangan yang, meskipun tinggal di tepi danau, berharap agar mereka tidak hidup bersama.

Saya lalu teringat pada kisah dalam Lukas 12 tentang seorang lelaki yang meminta Yesus untuk memberi tahu saudaranya agar berbagi warisan dengannya. Sangat keliru jika ia meminta Yesus melakukan hal itu! Dia menjawab dengan peringatan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu" (ayat 15). Dia kemudian bercerita tentang seorang kaya raya yang menurut pandangan Allah adalah orang bodoh, bukan karena ia berhasil menjadi kaya, melainkan karena ia tidak kaya di hadapan Allah.

Kita akan hidup semakin baik jika kita semakin cepat menghilangkan anggapan bahwa semakin banyak kekayaan yang terkumpul berarti semakin damai, bahagia, dan puas. Dan, kita akan semakin mampu menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sudah lama dirindukan, yaitu "kehidupan baik" yang sejati, yang hanya bisa diberikan oleh Yesus --JMS

27 Februari 2008

Jangan Serakah!

Nats : Dinamailah tempat itu Kibrot Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus (Bilangan 11:34)
Bacaan : Keluaran 16:13-16; Bilangan 11:31-34

Suatu kali seorang pemilik tanah berujar kepada seorang pria yang ingin memiliki tanah yang luas, demikian, "Anda akan mendapatkan tanah seluas daerah yang mampu Anda kelilingi sebe-lum matahari terbenam. Jika Anda berha-sil mengelilingi 40 hektar, Anda mendapat-kan 40 hektar. Jika Anda mampu me-ngelilingi 50 hektar, Anda mendapatkan 50 hektar." Tanpa buang waktu, orang ini segera berlari sekuat tenaga. Ia terus berla-ri, dari pagi hingga petang, sampai akhir-nya dengan terhuyung-huyung ia berkata kepada pemilik tanah itu, "Saya dapat, saya dapat 500 ribu meter persegi." Namun seketika ia roboh, dan mati.

Hal yang sama juga dialami bangsa Israel ketika mendapat manna dan burung puyuh. Tuhan memerintahkan agar mereka mengambil secukupnya saja (Keluaran 16:16), tetapi banyak dari mereka yang serakah dan mengambil lebih dari yang seharusnya. Ini membuat Tuhan marah, sehingga mereka yang serakah mati kena tulah di tempat yang diberi nama "Kibrot Taawa", yang berarti Kuburan Orang Serakah.

Keserakahan tidak akan membuat hidup kita semakin kaya, keserakahan justru akan membuat jiwa kita miskin dan akhirnya menghancurkan kita. Mungkin secara materi kita semakin kaya, tetapi apa arti semuanya itu jika kita mengabaikan keluarga, pelayanan, dan diri kita? Jika dituruti, keserakahan tidak akan pernah ada habisnya. Dari sedikit ingin banyak, dari banyak ingin lebih banyak lagi. Semua itu baru berhenti, setelah keserakahan itu menghancurkan semua hal di hidup kita. Mari kita belajar untuk mencukupkan diri, sehingga kita punya banyak waktu tidak hanya untuk mencari, tetapi juga untuk menikmati -- PK

25 April 2008

Bunga dan Daun

Nats : Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:11,12)
Bacaan : Matius 23:1-12

Sun Zi menulis buku dengan judul Sun Zi Bingfa (seni berperang) yang sangat fenomenal lebih dari 2.300 tahun yang lalu. Ternyata, prinsip-prinsip strategi kemiliteran yang terdapat dalam buku tersebut dianggap masih relevan hingga saat ini. Bahkan, prinsip-prinsip itu banyak dipakai dalam dunia bisnis yang sarat intrik, juga dalam hubungan antarmanusia yang kompleks. Sun Zi pernah mengungkapkan sebuah perumpamaan yang sangat mengena berbunyi: "Sekuntum bunga sesungguhnya menjadi elok berkat dukungan daun-daun yang hijau." Daun hijau yang memiliki klorofil (zat hijau daun) -- sekalipun tidak seelok bunga -- mempunyai fungsi yang sangat vital, yakni sebagai pemasok nutrisi karbohidrat melalui proses fotosintesis dari air dan gas asam arang, serta penyinaran cahaya matahari.

Perumpamaan di atas hendak menunjukkan bahwa kesombongan adalah sikap yang tidak pada tempatnya. Dalam pelayanan, sikap demikian bisa menjadi batu sandungan. Tuhan Yesus sangat tidak berkenan dengan sikap para ahli Taurat dan orang Farisi yang sombong, sehingga kita diminta agar tidak meneladan perbuatan-perbuatan mereka.

Sesungguhnya di ladang pelayanan Tuhan, kita adalah mitra-mitra Tuhan yang setara, sekalipun memiliki fungsi yang berbeda-beda. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa paling hebat, atau sebaliknya untuk merasa rendah diri. Pribadi-pribadi yang menjadi "bunga" atau "daun hijau" dapat saling mendukung untuk menghasilkan "buah-buah" yang baik; dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelayanan -NDA

24 Mei 2008

Jenmanii

Nats : Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah (Matius 13:23)
Bacaan : Matius 13:3-9, 18-23

Jenmanii adalah tanaman yang sepintas mirip talas. Para pecinta anturium berani membelinya dengan harga mahal. Biji Jenmanii yang siap disemai, umbi, bunga, dan kecambah hasil semaian bisa dijual ratusan ribu rupiah. Bila sudah besar, harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Jenmanii memang memiliki tekstur dan hijau daun yang indah. Terkesan gagah, anggun, mewah, dan memendarkan keunggulan. Tanaman ini juga memiliki daya hidup yang sangat kuat. Dan inilah rahasianya; biji Jenmanii harus ditaruh di media tanam yang tepat agar dapat tumbuh dengan baik.

Terkadang kita mungkin bertanyatanya, mengapa tidak semua benih firman yang kita terima membuat kita bertumbuh menjadi orang kristiani yang "unggul dan berkelas" seperti Jenmanii? Padahal kita sudah beribadah di gereja yang baik, mendapat pelayanan terbaik, bahkan mungkin hadir dalam setiap Kebaktian Kebangunan Rohani! Namun, rasanya kerohanian kita biasa saja. Mengapa demikian? Kita menemukan jawabannya dalam perumpamaan Yesus tentang seorang penabur. Biji yang ditaburnya tidak akan bertumbuh bila tanah yang menerimanya kering di pinggir jalan (ayat 4,19), berbatu-batu (ayat 5,6,20,21) atau penuh semak berduri (ayat 7,22). Benih itu hanya akan tumbuh pada tanah yang baik (ayat 8,23).

Tuhan ingin kita bertumbuh menjadi pribadi unggul. Mulailah dengan langkah kecil, yakni dengan menerapkan firman yang kita terima tiap-tiap hari. Kita perlu menjaga hati agar selalu siap menerima firman, memahaminya, dan benar-benar melakukannya. Dengan demikian, kita pun sungguh-sungguh berbuah bagi-Nya! -AGS



TIP #04: Coba gunakan range (OT dan NT) pada Pencarian Khusus agar pencarian Anda lebih terfokus. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA