Topik : Rasa Syukur/Ucapan Syukur

27 November 2002

Yang Terpenting

Nats : Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! (Mazmur 30:5)
Bacaan : Mazmur 30

Saat badai tornado dahsyat menerjang daerah Will County, Illinois, seorang ayah muda sedang duduk sambil menimang bayinya yang baru berusia 3 minggu. Setelah angin ganas yang menderu-deru itu reda, dan keadaan mulai tenang, rumah laki-laki itu telah lenyap, begitu pula bayinya. Namun, menurut sebuah laporan berita, ia berhasil menemukan bayinya di lapangan dekat rumahnya dalam keadaan hidup dan selamat! Begitu pula dengan anggota keluarganya yang lain.

Ketika ditanya seorang reporter apakah ia marah karena kehilangan segala harta bendanya, ia menjawab, "Tidak, saya justru bersyukur karena bayi dan keluarga saya selamat. Sebagian orang tidak seberuntung saya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu semua."

Sering kali suatu tragedi berguna untuk mengingatkan kita akan apa yang sesungguhnya penting dalam hidup ini. Ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, dengan mudah kita terbuai oleh apa yang kita miliki. Kita menjadi terikat dengan begitu banyak hal yang tidak penting dan tidak berguna. Kita terlalu asyik dengan mobil, rumah, perabotan, alat-alat rumah tangga, pakaian, dan segala gemerlap kehidupan modern yang tidak terhitung banyaknya. Namun, saat semuanya lenyap, dan yang tertinggal hanyalah hal-hal yang penting, seperti pada kejadian badai tornado di Illinois, kita serasa diingatkan kembali bahwa kehidupan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk memuliakan Allah.

Sudahkah Anda meluangkan waktu pada hari ini untuk memuliakan Allah atas anugerah kehidupan dan orang-orang tempat kita saling berbagi? Itulah yang terpenting –Dave Branon

29 Desember 2002

Alasan untuk Memuji

Nats : Besarlah Tuhan dan sangat terpuji (Mazmur 48:2)
Bacaan : Mazmur 48

Allah. Pernahkah Anda duduk diam dan mengagumi betapa agung dan mulianya Allah, Juruselamat kita? Hari ini, marilah kita diam sejenak untuk merenungkan kemuliaan dan kebesaran-Nya.

Untuk mempermudah, berikut ini adalah beberapa gambaran tentang Allah yang saya temukan saat membaca Mazmur 1-48.

Tuhan adalah perisai (3:4), sumber ketenteramanku (4:9), Rajaku (5:3), Hakim (7:9), Yang Mahatinggi (7:18), tempat perlindunganku (9:10), penolong anak yatim (10:14), Raja untuk selama-lamanya (10:16), Tuhan adalah adil (11:7).

Allah adalah kekuatan, bukit batu, kota benteng, dan kubu pertahananku (18:2-4;28:1;31:4), penyelamatku (18:3), sandaranku (18:19), Penebusku (19:15).

Dia adalah gembalaku (23:1), Raja Kemuliaan (24:7), Tuhan semesta alam (24:10), Allah penyelamatku (25:5), terang dan keselamatanku (27:1), kekuatan dan perisaiku (27:1;28:7).

Dia adalah Allah yang mulia (29:3), Tuhan Allah yang setia (31:6), Allah yang hidup (42:3), penolong dalam kesesakan (46:2), Raja yang besar atas seluruh bumi (47:3).

Semua gambaran itu sudah cukup untuk direnungkan dalam satu hari. Bahkan cukup untuk dijadikan bahan perenungan untuk selama-lamanya!

Mulai hari ini, mari kita menyembah Allah kita yang menakjubkan dengan kesungguhan hati. Dialah satu-satunya Allah yang memberi kita begitu banyak alasan untuk memuji Dia –Dave Branon

14 Mei 2003

Seberapa Pantas?

Nats : Bukan karena jasa-jasamu Tuhan, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki (Ulangan 9:6)
Bacaan : Ulangan 9:1-6

Saya ingat saat kulkas bekas kami akhirnya rusak. Sebagai pasangan yang baru menikah dan bekerja pada lembaga pelayanan kristiani, saya tidak punya cukup uang untuk memperbaikinya. Karena tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa, saya menelepon seorang kawan yang berkecimpung dalam bisnis elektronik. Ia berjanji akan membantu kami mengatasi masalah itu. Malamnya saya mendapati sebuah kulkas yang masih baru di dapur kami. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang telah saya lakukan sehingga pantas mendapatkan bantuan sebesar ini?"

Kita cenderung beranggapan bahwa kita layak menerima bantuan tulus dari orang lain. Ketika kita sukses dalam hal tertentu, kita juga cenderung berpendapat bahwa kita pantas mendapat kesuksesan itu. Keberhasilan bisa membuat kita sombong dan jauh dari Allah.

Dalam Ulangan 9, kita membaca bagaimana Allah mengingatkan bangsa Israel akan alasan keberhasilan mereka. Allah ingin umat-Nya mengingat bahwa Dialah yang memimpin mereka memasuki negeri baru untuk menggenapi rencana dan janji-Nya. Mereka berhasil karena Allah, bukan karena kebenaran hati mereka sendiri (ayat 4,5). Allah tahu mereka akan tergoda untuk menjadi bangsa yang tak tahu berterima kasih manakala di Tanah Perjanjian mereka menjadi makmur.

Sikap tak tahu berterima kasih adalah cobaan yang juga kita alami di masa sekarang ini. Jika usaha kita berhasil, pastikan agar kita tidak lupa bersyukur kepada Allah atas kebaikan, pertolongan, dan perlindungan-Nya --Albert Lee

10 Juli 2003

Bintangnya Tidak Cukup!

Nats : Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (1Tawarikh 16:34)
Bacaan : Mazmur 147

"Saya suka bermain dengan bintang," kata seorang gadis kecil kepada pendetanya yang datang berkunjung. Gadis kecil ini harus terus berada di tempat tidurnya karena menderita kelainan tulang belakang yang parah. Ia meminta agar tempat tidurnya diletakkan sedemikian rupa sehingga ia dapat melihat langit dan memandangi bintang- bintang. "Saya sering terjaga di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi," katanya kepada sang pendeta, "dan saat itulah saya bermain dengan bintang-bintang."

Karena perkataan si gadis menimbulkan rasa ingin tahu, sang pendeta bertanya kepadanya, "Bagaimana caranya kamu dapat bermain dengan bintang-bintang? Gadis kecil ini menjawab, "Saya memilih satu bintang dan berkata, 'Itu Ibu'. Saya menunjuk bintang lain dan berkata, 'Itu Ayah'. Untuk setiap bintang, saya menyebutkan satu orang atau satu hal yang saya syukuri dalam hidup ini; saudara- saudara saya, dokter saya, teman-teman saya, anjing saya." Ia terus menyebutkan berbagai macam hal, sampai akhirnya ia berseru, "Tapi jumlah bintang di langit tidak cukup untuk menyebutkan semuanya!"

Pernahkah Anda merasakan hal yang sama saat merenungkan berkat- berkat Allah yang tercurah atas diri Anda? Tentu saja Anda tidak akan pernah dapat menyebutkan semua berkat jasmani, rohani, yang bersifat sementara, dan yang kekal. Namun, alangkah baiknya jika dari waktu ke waktu kita mengingat semua karunia-Nya dengan penuh rasa syukur. Ketika Anda melakukannya, seperti gadis kecil itu, Anda juga akan berseru, "Jumlah bintang di langit tidak cukup untuk menyebutkan semuanya!" --Richard De Haan

13 Oktober 2003

Selamanya Berutang

Nats : Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa (Mazmur 23:6)
Bacaan : Mazmur 23

Terkadang sangat membantu bila kita bersedia meluangkan waktu sejenak untuk bersaat teduh, mengingat kembali kehidupan kita yang lalu, dan meninjau betapa kita berutang budi kepada Allah atas kebaikan dan belas kasihan-Nya. Tentu saja tidak ada dua kisah hidup pribadi yang sama. Namun, kita semua dapat menggemakan kata-kata Daud, sang raja penyair, dalam Mazmur 23:6. Daud menulis demikian, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku." Jika kita mempercayai Yesus Kristus, perkataan itu akan merangkum seluruh pengalaman hidup kita.

Kebaikan Allah memberikan apa yang tidak layak kita terima; belas kasihan-Nya menahan apa yang seharusnya kita terima. Dalam kepedihan dan penderitaan, Bapa surgawi dengan setia memenuhi kebutuhan kita, menghibur hati, dan memberi kita kekuatan untuk menanggung beban yang harus kita tanggung. Meskipun kita adalah orang percaya, kita tetap berdosa dan tidak memenuhi standar kudus yang ditetapkan oleh Putra-Nya, Yesus Kristus. Namun, Dia tetap mencurahkan pengampunan- Nya dalam jiwa kita saat kita mengaku dosa. Kita bisa saja menganggap diri sebagai orang yang baik, tetapi kita harus tetap mengakui bahwa "kita telah mengabaikan hal-hal yang seharusnya kita kerjakan, dan telah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan" (The Book of Common Prayer).

Kiranya rasa syukur senantiasa memenuhi hati kita, karena kebaikan dan belas kasihan Allah akan menyertai kita sepanjang jalan menuju kemuliaan. Selamanya kita berutang budi kepada-Nya sepanjang masa --Vernon Grounds

23 November 2003

Pujian Sepenuh Hati

Nats : Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! (Mazmur 47:8)
Bacaan : Mazmur 47

Saya bertanya-tanya apa yang Allah pikirkan mengenai cara kita bernyanyi di gereja. Yang saya maksudkan bukan mengenai kualitas suara, melainkan ketulusan ucapan kita. Jika kita mau jujur, judul nyanyian pujian yang diplesetkan berikut ini mungkin lebih tepat mengungkapkan isi hati kita saat menyanyikannya:

"Sebagaimana Adanya Aku" menjadi "Bukan Aku yang Sebenarnya". "O Betapa Aku Mengasihi Yesus" menjadi "O Betapa Aku Menyukai Yesus." "Aku Serahkan Segalanya" sebenarnya adalah "Aku Serahkan Sebagian". "Dia Adalah Segalanya Bagiku" artinya "Dia Sedikit Artinya Bagiku". Yesus mengatakan bahwa kita harus menyembah-Nya dalam kebenaran (Yohanes 4:24). Bernyanyi dengan segenap hati dan penuh kesadaran merupakan suatu tantangan serius bagi kita (Mazmur 47:8).

Marilah kita jawab tantangan itu dengan mencari pertolongan Allah untuk menjadikan judul asli dari nyanyian pujian di atas sebagai ungkapan hati kita yang sebenarnya. Dalam pertobatan dan tanpa kepura-puraan, marilah kita berpaling kepada-Nya sesuai dengan diri kita apa adanya. Dalam hadirat-Nya yang penuh pengampunan, marilah kita nyatakan kasih yang sungguh-sungguh kepada Yesus dengan berserah sepenuhnya kepada Dia.

Pada akhirnya, Yesus benar-benar akan menjadi segala-galanya bagi kita. Kita akan mampu bernyanyi dengan jujur tentang Yesus Kristus dan tentang kasih kita kepada-Nya. Ketika menyanyikan kidung pujian dengan segenap hati bagi Tuhan (Efesus 5:19), marilah kita menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran --Joanie Yoder

5 Desember 2003

Inikah Saat untuk Berdoa?

Nats : Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6)
Bacaan : Filipi 4:1-7

Saat menghadapi cobaan, banyak orang sering memutuskan untuk menjadikan doa sebagai usaha terakhir. Saya mengenal seorang pria yang sedang berjuang mati-matian melawan kanker. Ketika orang-orang melihat kanker itu berangsur-angsur memperburuk tubuh dan gaya hidupnya, seseorang berkata, "Ya, mereka telah mencoba segalanya. Saya kira inilah saatnya untuk mulai berdoa."

Seorang pria lain sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit dalam pekerjaan. Itu merupakan krisis besar yang sangat berpengaruh terhadap dirinya dan masa depan perusahaannya. Ia tidak mampu menyelesaikannya. Akhirnya ia berkata, "Saya telah mencoba segala yang saya ketahui untuk keluar dari situasi ini, tetapi tak ada yang berhasil. Ini saatnya untuk mulai berdoa."

Dalam kedua contoh di atas, doa telah dipandang sebagai jalan keluar terakhir untuk mengatasi masalah. Hanya setelah pilihan-pilihan lain tersisihkan, maka orang mengambil keputusan untuk berdoa. Doa akhirnya menjadi usaha terakhir ketika sudah tidak ada jalan lain.

Doa seharusnya merupakan tindakan pertama yang kita lakukan, bukannya tempat pelarian terakhir. Tuhan menjawab doa, dan Dia ingin agar kita senantiasa datang kepada-Nya dengan membawa seluruh kebutuhan kita (1Tesalonika 5:17). Alkitab mengatakan kepada kita "janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa" (Filipi 4:6).

Jadi, jangan menunggu lagi. Setiap waktu adalah saat yang tepat untuk berdoa --Dave Egner

29 Desember 2003

Mencari Kebahagiaan

Nats : Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga (Matius 5:3)
Bacaan : Matius 5:1-10

Setiap orang mencari kebahagiaan, dan orang menempuh banyak jalan untuk mencoba menemukannya. Mereka mencarinya melalui uang, pesta pora, program pengembangan diri, mobil bagus, rumah mewah, atau pencapaian suatu tujuan.

Itu adalah daftar yang salah. Daftar yang benar dapat dijumpai dalam Matius 5. Yesus mengajar kita bahwa kebahagiaan yang terdalam dan tak pernah habis, diperoleh karena mempunyai hubungan baik dengan Allah. Dia berkata bahwa kita diberkati, atau berbahagia, ketika kita:

o Miskin di hadapan Allah -- mengenali kebutuhan yang mendalam akan Allah.

o Berdukacita -- menyadari keburukan dosa dan benar-benar bertobat karenanya.

o Lemah lembut -- menunjukkan pengendalian diri, bahkan apabila kita diperlakukan tidak adil.

o Lapar dan haus akan kebenaran -- rindu untuk menjadi kudus dan murni.

o Murah hati -- menunjukkan kemurahan kepada orang lain, sama seperti Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya kepada kita.

o Suci hatinya -- berlaku setia dan sungguh-sungguh dalam penyembahan kita kepada Kristus.

o Pembawa damai -- membagikan kedamaian yang ditawarkan oleh Kristus, dan mengusahakan damai dengan orang lain.

o Dianiaya -- rela menderita demi Kristus.

Anda sedang mencari kebahagiaan? Ikutilah cara Yesus --Dave Branon

21 Maret 2004

Duri atau Mawar?

Nats : Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan tentang nasib buruk mereka (Bilangan 11:1)
Bacaan : Bilangan 14:1-11

Dua orang anak laki-laki sedang memakan buah anggur. Salah seorang dari mereka berkata, “Anggurnya manis, ya?” “Memang,” sahut anak satunya, “tapi bijinya banyak sekali.” Sembari berjalan menyusuri kebun, anak yang pertama berseru, “Lihat, mawar-mawar merah yang besar dan indah itu!” Anak yang satunya berkomentar, “Mawar itu penuh duri!” Saat itu hari terasa panas sehingga mereka mampir ke sebuah kedai untuk membeli minuman soda. Setelah meneguk minumannya beberapa kali, anak yang kedua mengeluh, “Botolku sudah setengah kosong.” Dengan cepat anak yang pertama menyahut, “Botolku masih setengah penuh!”

Banyak orang seperti anak yang berpikiran negatif dalam cerita di atas. Mereka senantiasa memandang kehidupan ini melalui kaca yang gelap. Seperti halnya orang-orang Israel dalam Kitab Suci yang kita baca hari ini, mereka mengeluh dan bersungut-sungut ketika seharusnya mereka memuji Tuhan atas pemeliharaan-Nya yang murah hati. Namun syukur kepada Allah, tidak semuanya demikian. Ada orang-orang yang memerhatikan sisi-sisi positif dan mereka tampak ceria, gembira, dan penuh syukur. Mereka bersikap realistis terhadap sisi suram kehidupan, tetapi tidak cemberut dan rewel.

Anda dapat mengatasi pikiran yang negatif. Siapa pun Anda dan bagaimanapun keadaan Anda, ada banyak hal yang senantiasa dapat Anda syukuri. Renungkanlah kasih Allah bagi Anda. Pujilah Dia atas pemeliharaan-Nya. Kemudian, daripada mengeluh tentang “duri”, lebih baik bersyukurlah atas “mawar” yang indah —Richard De Haan

1 April 2004

Menata Pikiran

Nats : Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! (Filipi 4:4)
Bacaan : Filipi 4:4-9

Beberapa tahun yang lalu saya membaca sebuah kisah tentang seorang wanita kristiani berusia 92 tahun yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia selalu berpakaian rapi. Rambutnya selalu tersisir rapi dan ia berdandan dengan sangat cantik. Setiap pagi ia menyambut hari yang baru dengan penuh semangat.

Setelah suaminya meninggal pada usia 70 tahun, wanita itu merasakan perlunya pindah ke panti wreda supaya mendapatkan perawatan yang layak. Pada hari kepindahannya itu, seorang tetangga yang baik hati mengantarkannya ke panti wreda dan menuntunnya menuju ruang tunggu. Karena kamarnya belum disiapkan, maka ia menunggu di ruang tunggu dengan sabar selama beberapa jam.

Ketika akhirnya seorang petugas datang menjemputnya, ia tersenyum manis sembari mengarahkan alat bantu jalannya menuju lift. Petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya kepadanya, termasuk gorden-gorden baru yang dipasang di jendela kamarnya. “Saya menyukainya,” sahut wanita buta itu. “Tapi Bu Jones, Anda kan belum melihat kamar Anda,” sahut petugas itu. “Hal itu tidak ada pengaruhnya bagi saya,” timpalnya. “Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Entah saya menyukai kamar saya atau tidak, hal itu tidak tergantung pada bagaimana penataan kamar saya. Itu tergantung pada bagaimana saya menata pikiran saya.”

Alkitab mengatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (Filipi 4:4). Ingatlah selalu akan semua yang telah dilakukan Yesus bagi Anda dan bersyukurlah. Demikianlah seharusnya Anda menata pikiran Anda —David Roper

26 Mei 2004

Allah Hidup!

Nats : Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu (Mazmur 30:13)
Bacaan : Mazmur 30

Martin Luther, teolog besar abad ke-16, pernah merasa khawatir dan putus asa dalam waktu lama. Suatu hari istrinya berpakaian kabung berwarna hitam.

“Siapa yang meninggal?” tanya Luther.

“Allah,” sahut istrinya.

“Allah!” tukas Luther terkejut. “Bagaimana kamu bisa berkata begitu?”

Istrinya menjawab, “Yang kumaksud caramu menjalani hidup saat ini.”

Luther menyadari cara hidupnya saat itu menggambarkan seolah Allah telah mati dan tak lagi melindungi mereka dengan kasih-Nya. Ia pun mengubah penampilannya yang murung menjadi penuh rasa syukur.

Terkadang cara hidup kita pun menggambarkan seolah-olah Allah telah mati. Ketika putus asa, kita dapat membaca kitab Mazmur. Sebagian penulis kitab itu menghadapi masa-masa yang suram dan susah, tetapi mereka memiliki satu kebiasaan yang menjaga agar mereka tidak makin tenggelam, yakni bersyukur kepada Allah. Misalnya, Daud menulis, “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari ... Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” (Mazmur 30:12,13).

Menghadapi segala situasi dengan penuh syukur bukanlah suatu bentuk penyangkalan atas kesulitan. Cara itu justru menolong kita melihat situasi tersebut melalui cara pandang Allah, yakni melihat sebagai kesempatan untuk merasakan kuasa dan kasih-Nya.

Tiap kali Anda mengucap syukur kepada Allah di tengah situasi yang sulit, sesungguhnya Anda sedang menyatakan, “Allah hidup!” —Joanie Yoder

25 November 2004

Dipenuhi Rasa Syukur

Nats : Marilah kita … senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya (Ibrani 13:15)
Bacaan : Roma 1:18-22

Sepanjang sejarah, banyak budaya yang mengkhususkan waktu tertentu untuk mengungkapkan syukur. Di Amerika Serikat, hari Pengucapan Syukur pertama kali dirayakan para pendatang dari Inggris. Di tengah kesukaran yang hebat, kehilangan orang-orang terkasih, dan kekurangan bahan makanan, mereka tetap percaya bahwa mereka diberkati. Mereka memilih untuk merayakan berkat Allah dengan berbagi makanan dengan penduduk asli Amerika yang telah membantu mereka bertahan hidup.

Kita sadar bahwa kita telah kehilangan makna perayaan pengucapan syukur yang sebenarnya. Kita mengeluh bahwa hari Pengucapan Syukur kita “tidak beres” karena cuaca buruk, makanan yang kurang enak, atau flu yang menjengkelkan. Sebenarnya kitalah yang “tidak beres”. Kita terlena oleh berkat-berkat yang seharusnya dapat menjadikan setiap hari sebagai hari pengucapan syukur, bagaimanapun keadaan kita.

Billy Graham menulis, “Tidak mengucap syukur adalah dosa, sama halnya dengan berbohong, mencuri, bertindak amoral, atau melakukan dosa-dosa lain yang disebutkan Alkitab.” Kemudian ia mengutip Roma 1:21, salah satu dakwaan Alkitab terhadap manusia yang memberontak. Dr. Graham menambahkan, “Tak ada satu pun yang dapat lebih cepat membuat kita menjadi orang yang pahit hati, mementingkan diri sendiri, dan tidak puas, selain hati yang tidak bersyukur. Dan tidak ada yang lebih sanggup memulihkan kepuasan dan sukacita akan keselamatan kita selain roh yang tulus untuk mengucap syukur.”

Mana yang menggambarkan keadaan Anda? —Joanie Yoder

20 Februari 2005

Sudahkah Anda Bersyukur?

Nats : Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur ... bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya (Mazmur 100:4)
Bacaan : Mazmur 100

Suatu hari dalam perjalanan ke tempat kerja, saya melihat stiker mobil yang berbunyi: “Sudahkah Anda berterima kasih pada tanaman hijau hari ini?” Tanaman memang penting bagi keseimbangan alam. Mereka melepaskan oksigen ke udara. Mereka pun menjadi sumber makanan, bahan bakar, obat, dan bahan bangunan.

Apakah stiker mobil itu menyatakan bahwa karena kita begitu tergantung pada tanaman, maka kita semestinya mengucapkan terima kasih kepadanya? Jika itu yang diyakini oleh sang sopir, ia harus belajar banyak tentang siapa yang pantas menerima rasa syukur.

Alam menyimpan kesaksian yang mengagumkan mengenai kebijaksanaan Sang Pencipta. Saling ketergantungan dari satu bentuk kehidupan pada kehidupan lain, membuat kita menyadari bahwa kita sebenarnya adalah bagian dari sebuah sistem kompleks yang bercirikan keindahan dan keseimbangan. Akan tetapi, penyembahan terhadap alam mengingatkan kita akan celaan Paulus bagi mereka yang “memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya” (Roma 1:25). Hanya Allah yang layak disembah! Dia menggerakkan dunia dan menopangnya dengan kekuatan-Nya.

Ya, hidup benar-benar mengagumkan, dan perasaan mendalam karena rasa syukur terhadap kehidupan sering terpancar dari diri kita. Tetapi kita harus memusatkan pengabdian bagi Dia yang tak hanya menyediakan udara yang kita hirup, tetapi juga yang memberi kita hidup abadi melalui iman akan Kristus.

Saya lebih suka jika stiker mobil itu berbunyi: “Sudahkah Anda berterima kasih kepada Allah hari ini?” —Dennis De Haan

10 April 2005

Lepaskan Balon Anda!

Nats : Aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya Tuhan, ... dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu (2Samuel 22:50)
Bacaan : 2Samuel 22:1-8

Para peserta konferensi pada sebuah gereja di Nebraska diberi balon-balon yang berisi gas helium. Kemudian mereka diminta untuk melepaskan balon-balon tersebut di tengah-tengah kebaktian, yaitu pada saat mereka merasa ingin mengungkapkan sukacita. Sepanjang kebaktian, balon-balon tersebut membumbung naik satu per satu. Akan tetapi, di akhir kebaktian, sepertiga peserta belum melepaskan balon mereka. Saya lalu bertanya-tanya, apakah mereka tidak dapat memikirkan satu alasan pun untuk memuji Allah.

Raja Daud pasti telah melepaskan balonnya pada saat menyanyikan lagu pujian yang tercatat di dalam kitab 2 Samuel 22. Ia bersukacita karena Allah telah melepaskan ia dari semua musuhnya (ayat 1). Sebelumnya, pada saat bersembunyi dari Raja Saul di padang gurun yang berbatu, ia telah belajar bahwa rasa aman yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah (1 Samuel 23:25). Hati Daud merasa harus "menyanyikan syukur" dan "menyanyikan mazmur", karena Tuhan telah menjadi bukit batu, kubu pertahanan, penyelamat, kota benteng, perlindungan, dan Juruselamat baginya (2 Samuel 22:2,3,50).

Berperan sebagai apakah Tuhan di dalam hidup Anda? Pemberi kedamaian di waktu kacau? Penghibur di tengah kehilangan? Pengampun dosa? Kekuatan di dalam tugas yang sulit?

Ambillah selembar kertas dan tuliskanlah daftar ucapan syukur Anda. Lalu luangkan waktu untuk memuji Allah atas segala keberadaan-Nya dan segala yang telah dilakukan-Nya.

Lepaskanlah balon Anda! —AMC

20 September 2005

Mengapa Saya?

Nats : Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Lukas 17:15)
Bacaan : Lukas 17:11-19

Beberapa tahun lalu, seorang remaja acak-acakan dan kurang dapat menyesuaikan diri bernama Tim (bukan nama sebenarnya) menyatakan kepercayaannya kepada Kristus dalam sebuah KKR penginjilan. Beberapa hari kemudian, masih berpenampilan acak-acakan tetapi bermandikan kasih Kristus, ia dikirim ke rumah saya supaya saya dapat menolongnya menemukan gereja yang tepat. Itulah awal ia bergereja dengan saya.

Walaupun Tim memerlukan dan menerima banyak pertolongan kasih dalam pertumbuhan rohani serta dalam santun sosial dasar, ada satu karakter yang tetap tidak berubahkasihnya kepada Juru Selamat yang belum terjinakkan.

Setelah kebaktian Minggu, Tim bergegas menghampiri saya, ia tampak kebingungan. Ia berseru, Mengapa saya? Saya terus bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, kenapa saya? Oh, tidak, pikir saya, ia menjadi salah satu orang kristiani yang suka mengeluh. Tetapi lalu dengan tangan terentang, ia meneruskan, Dari semua orang di dunia yang lebih hebat dan lebih pintar dari saya, mengapa Allah memilih saya? Lalu ia bertepuk tangan dengan sukacita.

Selama bertahun-tahun saya mendengar banyak orang kristiani, termasuk saya, bertanya, Mengapa saya? ketika menghadapi masa sulit. Tetapi Tim adalah orang pertama bagi saya yang mengajukan pertanyaan itu berkaitan dengan berkat Allah. Banyak orang yang juga bertobat pada waktu yang bersamaan dengan Tim, tetapi saya bertanya-tanya, berapa banyak dari mereka yang dengan rendah hati bertanya, Mengapa saya? Semoga kita pun sering mempertanyakannya JEY

15 November 2005

Fokus yang Benar

Nats : Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)
Bacaan : Mazmur 90

Kita menyebut tahun-tahun akhir hidup seseorang sebagai “usia senja”. Tetapi apakah masa itu benar-benar indah? Bagi sebagian orang, masa tua memang indah. Tetapi bagi banyak orang, bahkan bagi orang kristiani, usia senja mungkin penuh dengan kepahitan dan keputusasaan.

Untuk meminimalkan hal tersebut, kita harus menetapkan tujuan untuk memperoleh fokus yang benar sejak masih muda. Robert Kastenbaum memahami hal ini. Ia menulis, “Saya merasa semakin bertanggung jawab atas masa depan saya dan atas semua orang yang hadir dalam hidup saya. Jika diberi kesempatan hidup sampai tua, saya akan menjadi orang tua seperti apa? Jawaban pertanyaan itu sangat tergantung pada pribadi seperti apa saya saat ini.”

Ketika memerhatikan orang-orang tua yang merasa puas, saya mendapati bahwa fokus kitalah, bukannya perasaan kita, yang lebih menentukan orang macam apa kita kelak. Saya pernah mengunjungi wanita saleh berusia sembilan puluhan yang merasa setiap sendi dan bagian tubuhnya sudah renta. “Usia tua bukan untuk pengecut!” rintihnya jujur. Seperti biasa, rintihannya justru menjadi jalan untuk memuji kebaikan Allah. Fokus untuk mengucap syukur yang dimulai sejak masih muda, membelah awan dan memungkinkan sinar matahari menembusnya.

Entah bagaimana perasaan Anda, apa yang menjadi fokus Anda hari ini? Apakah itu salah satu ucapan syukur kepada Yesus dan anugerah kehidupan kekal yang diberikan-Nya? Jika demikian, Anda akan bertumbuh lebih menyenangkan seiring bertambahnya usia -JEY

24 November 2005

Seni yang Hilang

Nats : Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu …. Dan bersyukurlah (Kolose 3:15)
Bacaan : Kolose 1:9-14

Rasul Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Kolose, tetapi ia mendengar semua hal tentang jemaat itu dari Epafras. Ia tahu bahwa gereja itu sedang mengalami serangan dari guru-guru palsu, sehingga ia sungguh-sungguh berdoa untuk jemaat ini (Kolose 1:9-14; 2:4-7).

Di antara permohonannya, Paulus meminta supaya mereka dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada Bapa karena Dia telah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan dan memindahkan mereka ke dalam Kerajaan Putra-Nya (1:12,13). Kita pun perlu mengucap syukur untuk hal-hal yang telah dilakukan Kristus bagi kita.

Ucapan syukur tampaknya adalah seni yang hilang di masa kini. Warren Wiersbe menggambarkan masalah ini di dalam tafsirnya tentang Kitab Kolose. Ia bercerita tentang seorang murid sekolah Alkitab di Evanston, Illinois, yang menjadi anggota regu penyelamat. Pada tahun 1860, sebuah kapal kandas di tepi Danau Michigan dekat Evanston, dan Edward Spencer berulang kali berjalan di air beku untuk menyelamatkan 17 penumpang kapal. Dalam proses penyelamatan itu, kesehatannya menjadi buruk. Beberapa tahun kemudian, pada hari pemakamannya, diketahui bahwa ternyata tidak ada satu pun orang yang diselamatkannya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Marilah kita sering meluangkan waktu untuk mengingat bagaimana Allah telah menyelamatkan kita dari kematian kekal dan telah memberikan kehidupan kekal melalui Putra-Nya. Pastikan bahwa kita tidak pernah membiarkan ucapan syukur kepada Bapa menjadi seni yang hilang -DCE

29 Januari 2006

Pentingnya Berterima Kasih

Nats : Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Lukas 17:15)
Bacaan : Lukas 17:11-19

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem ketika sepuluh orang kusta mendekati Dia. Sambil berdiri jauh-jauh, sebagaimana yang seharusnya dilakukan penderita kusta, mereka berseru kepada-Nya: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (Lukas 17:13).

Ketika Yesus melihat mereka, Dia memberikan perintah, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan dalam perjalanan, mereka sembuh.

Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali, tersungkur di kaki Yesus, dan bersyukur kepada-Nya. "Di manakah yang sembilan orang itu?" tanya Yesus. Pertanyaan yang bagus.

Yesus menunjuk pria yang penuh ucapan syukur itu sebagai seorang Samaria orang luar mungkin untuk menekankan perkataan-Nya bahwa "anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang" (16:8). Kata "cerdik" dalam bahasa aslinya berarti "penuh perhatian". Kadang kala orang-orang dunia memiliki tata krama yang lebih baik daripada para pengikut Yesus.

Dalam kesibukan hidup, kita mungkin lupa untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang telah melakukan sesuatu bagi kita memberi hadiah, melakukan suatu tugas, menyampaikan khotbah yang tepat, memberikan perkataan nasihat atau penghiburan. Namun, kita lalai untuk berterima kasih.

Apakah ada seseorang yang telah melakukan sesuatu untuk Anda minggu ini? Teleponlah teman Anda itu atau kirimkan sebuah kartu ucapan terima kasih. Lagi pula, kasih "tidak melakukan yang tidak sopan" (1Korintus 13:5) --DHR

30 Januari 2006

Perpustakaan yang Hilang

Nats : Rumput menjadi kering, ... tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8)
Bacaan : Yesaya 40:6-8

Bagian yang paling saya senangi di perpustakaan adalah sejarah dan majalah. Bagaimana dengan Anda? Bayangkanlah jika pada suatu Sabtu pagi Anda datang ke perpustakaan, tetapi hanya menemukan bahwa buku-buku favorit Anda telah menjadi tumpukan abu.

Berabad-abad yang lalu, hal itulah yang terjadi ketika ribuan buku di Perpustakaan Alexandria dilanda kebakaran. Pada zaman kuno, Alexandria merupakan tempat untuk melakukan penelitian. Lalu pada hari yang membawa bencana di tahun 47 SM, Julius Caesar membakar kapal-kapalnya di pelabuhan Alexandria agar tidak jatuh ke tangan musuh. Api itu segera menyebar ke dok dan gudang senjata angkatan laut, dan akhirnya menghancurkan 400.000 gulungan tulisan yang berharga di dalam perpustakaan.

Tragedi semacam itu menunjukkan betapa mudahnya materi-materi tertulis itu rusak. Kenyataan ini membuat kelangsungan Alkitab kita sebagai suatu mukjizat. Firman Allah telah melalui berbagai peristiwa pembakaran, kerusuhan, revolusi, penganiayaan, dan bencana. Namun, para ahli teologi berkata bahwa naskah-naskah itu telah terpelihara dengan akurat setelah diperbanyak selama ribuan tahun.

Allah mengilhamkan penulisan Kitab Suci (2Timotius 3:16) dan telah berjanji untuk memeliharanya sepanjang abad (Yesaya 40:8). Pada kesempatan berikutnya saat Anda membuka Alkitab, luangkanlah waktu untuk merenungkan betapa berharganya Alkitab itu, dan bersyukurlah kepada Allah yang telah menjaganya tetap aman bagi Anda --HDF

18 Mei 2006

Anda Suka Mengeluh?

Nats : Bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan ... dan ketika Tuhan mendengarnya bangkitlah murka-Nya (Bilangan 11:1)
Bacaan : Bilangan 11:1-10

Alkisah, ada seorang petani yang terkenal karena sikapnya yang negatif. Suatu hari seorang tetangga berhenti dan mengomentari tanaman si petani yang tumbuh dengan subur. "Anda pasti sangat gembira dengan panen tahun ini," katanya. Si petani dengan enggan menjawab, "Ya, betul, memang kelihatannya baik. Tetapi hasil bumi yang istimewa ini sangat sulit ditanam."

Bangsa Israel juga suka mengeluh. Dengan penuh keajaiban Allah telah memelihara mereka selama menempuh perjalanan melalui gurun yang ganas, tetapi mereka terus-menerus mengeluh. Misalnya, mereka mengomel tentang manna yang disediakan dengan begitu murah hati oleh Allah. Ketika teringat akan ikan, timun, melon, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih dari Mesir, mereka pun merajuk, "Tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat" (Bilangan 11:6). Betapa tidak bersyukurnya mereka!

Kadang-kadang kita juga cenderung memikirkan hal-hal yang negatif daripada yang positif. Kita menggerutu dan melawan Tuhan, saat kita seharusnya memuji Dia atas berkat-berkat-Nya yang tiada habisnya. Saat Allah mengizinkan kekecewaan dan kehilangan terjadi dalam hidup ini demi kebaikan rohani kita, maka kita begitu larut untuk membiarkan hal-hal itu mengalihkan perhatian kita dari kasih Allah.

Apabila kita tergoda untuk mengomel dan tidak bersyukur, ingatlah akan peringatan dari Bilangan 11:1, "Bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan ... dan ketika Tuhan mendengarnya bangkitlah murka-Nya" --RWD

28 Juni 2006

Berterima Kasih

Nats : Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita (Kolose 3:17)
Bacaan : Kolose 3:12-17

Tolong dan terima kasih adalah sebagian dari kata-kata pertama yang diajarkan kepada kita. Tak ada yang segembira orangtua atau kakek dan nenek, saat seorang anak mengucapkan kata-kata itu untuk pertama kalinya dan tahu hubungan antara meminta dengan sopan dan menerima dengan berterima kasih.

Namun saya yakin bahwa saat kita tumbuh dewasa, kita lebih terlatih untuk berkata "tolong" daripada "terima kasih", terutama kepada Bapa surgawi. Kita lebih memusatkan perhatian kepada kebutuhan yang mendesak daripada apa yang sudah kita terima; kita lebih banyak memohon daripada menaikkan pujian. Allah memang mengundang kita untuk datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, tetapi Dia juga mendorong kita untuk membiasakan diri berterima kasih.

Dalam Kolose 3:15, Paulus mengajarkan kepada setiap pengikut Yesus Kristus "hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu". Dan tiga kali ia mengingatkan kita untuk tetap bersyukur kepada Allah: "bersyukurlah" (ayat 15); bernyanyi dengan penuh syukur kepada Tuhan (ayat 16); "lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (ayat 17).

Dr. Michael Avery, presiden Sekolah Alkitab Allah di Cincinnati, Ohio, berkata, "Aroma harum dari jiwa yang bersyukur menghormati dan memuliakan Allah. Hal itu mengusir kemuraman dan mendatangkan kedamaian yang indah serta pengharapan yang penuh berkat. Rasa syukur mendorong kemurahan hati."

Bersyukur kepada Allah itu baik --DCM

19 Oktober 2006

Kunjungan Rasa Syukur

Nats : Aku meminta perhatianmu terhadap Febe .... Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri (Roma 16:1,2)
Bacaan : Roma 16:1-16

Berdasarkan penelitian beberapa dokter di Amerika Serikat, menghitung berkat yang Anda terima dapat meningkatkan kesehatan jasmani. Para sukarelawan yang mencatat berkat setiap minggu, lebih jarang mengeluh sakit dan tidak enak badan dibanding para sukarelawan yang hanya mencatat pertengkaran-pertengkaran atau kejadian biasa setiap hari.

"Kunjungan rasa syukur" dikembangkan oleh Dr. Martin E.P. Seligman untuk meningkatkan kesehatan emosi yang kuat. Ia memberi anjuran kepada orang-orang agar memikirkan seseorang yang telah membuat perubahan besar dalam hidup mereka. Ia meminta mereka untuk menuliskan kisah tentang bagaimana orang itu telah membantu mereka, mengunjungi orang tersebut, dan membacakan kisahnya keras-keras. Tes itu menunjukkan bahwa setahun kemudian, orang-orang yang melakukan itu menjadi lebih bahagia dan dilaporkan bahwa tingkat depresi mereka berkurang. Bahkan yang lebih penting adalah mereka memikirkan bagaimana cara berterima kasih kepada orang yang berarti bagi mereka!

Rasul Paulus memiliki daftar panjang orang-orang yang telah membantunya dan kepada siapa ia berutang budi (Roma 16:1-16). Ia menulis bahwa Febe telah "menjadi pelayan", Priska dan Akwila telah "mempertaruhkan nyawa" baginya, dan Maria telah "bekerja keras" untuknya. Ia menghabiskan waktu untuk menuliskan rasa terima kasihnya dalam sebuah surat kepada jemaat di Roma.

Siapakah yang telah membantu untuk membentuk kehidupan Anda? Dapatkah Anda melakukan kunjungan syukur, demi kebaikan mereka dan diri Anda? -AMC

2 November 2006

Saat Semua Tampak Indah

Nats : Maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan (Ulangan 6:12)
Bacaan : Ulangan 6:10-19

Bagi banyak orang, hidup ini tampak menyenangkan. Pekerjaan mereka berhasil. Rumah atau apartemen tidak butuh diperbaiki. Rekening uang di bank mereka surplus. Keluarga sehat dan bahagia. Teman-teman pun setia.

Akan tetapi, saat yang menyenangkan dapat menimbulkan bahaya. Pada saat seperti itu, kenyamanan dan kesenangan duniawi dapat menjadi sangat penting sehingga kita tidak memberi banyak tempat bagi Allah dalam pikiran kita. Kesejahteraan dapat segera menjadi tolok ukur kepuasan hidup.

Allah tahu bahwa hal seperti di atas dapat terjadi pada anak-anak-Nya pada saat mereka memasuki Tanah Perjanjian. Oleh sebab itu, Dia mengingatkan mereka agar tidak melupakan sumber dari segala anugerah yang mereka terima (Ulangan 6:12). Dia memberi perintah yang jelas agar mereka:

o takut kepada Tuhan (ayat 13);
o melayani Dia (ayat 13);
o tidak berpaling kepada ilah-ilah lain (ayat 14);
o tidak mencobai Tuhan (ayat 16);
o berpegang pada perintah-perintah-Nya (ayat 17); dan
o melakukan apa yang baik dan benar (ayat 18).

Para sejarawan pernah berujar bahwa dorongan iman biasanya menurun pada saat-saat yang sejahtera. Namun, hal itu tak perlu terjadi pada kita jika kita belajar dari pengalaman orang Israel dan patuh pada perintah-Nya.

Marilah kita selalu mengingat Allah, terutama ketika semua terasa indah --HVL

23 November 2006

Ucapan Syukur

Nats : Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus (Kolose 3:17)
Bacaan : Kolose 2:6,7; 3:12-17

Selama berabad-abad, manusia dari berbagai bangsa menyelenggarakan pesta panen untuk mengucapkan syukur atas anugerah alam dan berkat dalam kehidupan. Pada tahun 1863, Presiden Abraham Lincoln menetapkan sebuah hari libur nasional di Amerika Serikat sebagai "hari untuk mengucapkan syukur dan memuji kebaikan Bapa".

Kolumnis Washington Post, Richard Cohen menganggap bahwa sebagian besar hari libur dirusak oleh semangat perniagaan. Namun, hari raya Pengucapan Syukur sampai sekarang masih tetap sesuai dengan tujuannya. Ia berkata, "Hari ini adalah hari yang luar biasa. Ini adalah hari yang penuh dan seluruhnya tentang pengucapan syukur."

Entah apa yang dilakukan orang lain, tetapi kita sebagai pengikut Kristus memiliki hak istimewa dan tanggung jawab untuk terus mengucap syukur setiap hari, di sepanjang tahun yang kita jalani. Paulus mendorong jemaat Kolose untuk terus bertumbuh di dalam Kristus dan senantiasa berlimpah dengan ucapan syukur (Kolose 2:6,7). Kita melakukan semua hal "dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita" (Kolose 3:17).

Pengumuman resmi dari Abraham Lincoln itu juga menyatakan bahwa seluruh berkat yang kita terima adalah "karunia luar biasa dari Allah yang Mahatinggi, yang, meskipun membenci dosa-dosa kita, Dia tetap berbelas kasihan".

Hari ini adalah hari yang pantas bagi kita untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Begitu juga besok dan hari-hari yang akan datang --DCM

30 Desember 2006

Mengingat-ingat

Nats : Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Bacaan : Mazmur 103:1-5

Kadang-kadang kita terbangun dengan persendian yang nyeri, semangat yang lesu, dan bertanya-tanya bagaimana kita bisa menyingkirkan kelesuan kita serta dapat menjalani hari-hari dengan baik.

Berikut ini ada sebuah ide: Berusahalah mengucap syukur kepada Allah seperti Daud. Pikirkan dan ingatlah kembali semua "kebaikan" Allah yang layak Anda syukuri (Mazmur 103:2). Ucapan syukur akan membuahkan sukacita.

Bersyukurlah kepada Allah atas pengampunan-Nya. Dia "mengampuni semua kesalahanmu" (ayat 3), dan "melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mikha 7:19).

Bersyukurlah kepada-Nya atas kesembuhan Anda (ayat 3). Allah menggunakan kelemahan dan sakit penyakit untuk menarik Anda lebih dekat kepada kasih dan kepedulian-Nya. Dan, suatu hari ketika Tuhan datang kepada Anda, Dia akan menyembuhkan semua sakit penyakit Anda.

Bersyukurlah kepada-Nya atas penebusan hidup Anda dari kehancuran (ayat 4). Ini lebih dari sekadar menyelamatkan Anda dari kematian dini. Ini pembebasan dari kematian itu sendiri.

Bersyukurlah kepada-Nya karena memahkotai hidup Anda dengan "kasih setia dan rahmat" (ayat 4).

Bersyukurlah kepada Dia yang memuaskan hasrat Anda (ayat 5). Dialah sumber kepuasan Anda. Setiap hari, Dia memperbarui kekuatan dan semangat Anda. Dengan demikian semangat Anda akan naik dan membubung seperti rajawali.

"Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (ayat 2) --DHR

1 Februari 2007

Hidup Setiap Hari

Nats : Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta (Ams. 15:15)
Bacaan : Amsal 15:13-31

Ketika Tamer Lee Owens merayakan ulang tahunnya yang ke-104, ia berterima kasih atas "tawa, Tuhan, dan hal-hal kecil" yang membuatnya bertahan hidup. Wanita itu masih dapat menemukan sukacita setiap hari dengan mengobrol, berjalan-jalan, dan membaca Alkitab seperti yang telah dilakukannya sejak kecil. "Saya tidak tahu berapa lama lagi Dia mengizinkan saya tinggal di sini," katanya. "Saya hanya bersyukur kepada Tuhan atas semua yang diberikan-Nya kepada saya."

Kebanyakan orang tidak mencapai usia 104 tahun, tetapi kita dapat belajar dari Tamer Lee bagaimana cara menikmati setiap hari yang diberikan kepada kita.

Tawa -- "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat" (Ams. 15:13). Kebahagiaan sejati dimulai jauh di lubuk hati kita dan terpancar di wajah kita.

Tuhan -- "Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan" (ay. 33). Jika Allah menjadi fokus utama hati kita, Dia dapat mengajarkan jalan-Nya kepada kita melalui setiap pengalaman hidup.

Hal-hal Kecil -- "Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian" (ay. 17). Memelihara hubungan yang penuh kasih dan menikmati hal-hal mendasar dalam hidup jauh lebih penting daripada kekayaan dan kesuksesan.

Tidak semua orang akan hidup hingga usia lanjut, tetapi kita dapat menjalani hidup dengan baik setiap hari -- melalui tawa, Tuhan, dan hal-hal kecil --DCM

Dunia ini penuh dengan kebaikan --
Hal-hal kecil yang mendatangkan kesenangan --
Namun Kristus memenuhi hidup kita dengan sukacita
Yang melampaui segala harta dunia. --Sper

19 Mei 2007

Bersyukurlah

Nats : Adalah baik untuk menya-nyikan syukur kepada Tuhan, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi (Mazmur 92:2)
Bacaan : Mazmur 92

Mazmur 92 adalah sebuah "Nyanyian untuk hari Sabat", tempat istirahat bagi mereka yang mengalami kesesakan.

Nyanyian ini diawali dengan pujian: "Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan." Hal ini membawa kebaikan bagi kita karena kita dapat berpaling dari pikiran yang resah dan tidak tenang kepada pikiran yang memberitakan "kasih setia-[Nya] di waktu pagi dan kesetiaan-[Nya] di waktu malam" (ayat 3). Allah mengasihi kita dan selalu setia! Dia membuat kita selalu bersukacita (ayat 5).

Nyanyian pujian tidak hanya membuat kita bersukacita, tetapi juga membuat kita menjadi bijaksana. Kita mulai memahami sesuatu yang berhubungan dengan kebesaran Allah dan rancangan kreatif dalam segala sesuatu yang dilakukan-Nya (ayat 6-10). Kita mendapatkan hikmat yang tersembunyi bagi mereka yang tak mengenal Allah. Orang fasik bisa "berkembang" dan "bertunas seperti tumbuh-tumbuhan" untuk sementara waktu (ayat 8), namun akhirnya mereka akan layu.

Sebaliknya, orang benar dipersatukan dengan Allah yang tinggal dalam kekekalan (ayat 9). Mereka "bertunas seperti pohon kurma" dan "seperti pohon aras di Libanon" (ayat 13), lambang keindahan yang anggun dan kekuatan yang kokoh. Itu semua karena mereka telah "ditanam di bait Tuhan" (ayat 14). Akar mereka menancap masuk ke dalam lahan kesetiaan Allah; mereka menikmati kasih-Nya yang tak akan pernah padam.

Bersyukurlah dan pujilah Tuhan hari ini! --DHR


Oh, bersyukurlah kepada Allah di surga,
Mata air kasih yang kekal,
Rahmat-Nya teguh sepanjang masa
Bertahan, dan akan berlanjut sampai kekal. --Anon.

8 Juni 2007

Bersyukur Sepanjang Masa

Nats : Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! (1Tawarikh 16:34)
Bacaan : 1Tawarikh 16:8-13,23-36

Kidung pujian yang indah ini, "We Plow the Fields [Kita Membajak Sawah]," kerap dinyanyikan di Amerika Serikat selama hari Pengucapan Syukur pada bulan November. Bagi saya, kidung pujian itu mengingatkan kita pada banyak keluarga yang berbagi hidangan tradisional selama musim panen.

Namun, saya terkejut ketika mendengar lagu itu dinyanyikan di gereja selama bulan Juni, melenceng dari konteks hari besar tradisional itu. Saya jadi sadar bahwa bersyukur kepada Allah atas kebaikan dan pemeliharaan-Nya harus menjadi perayaan yang berkelanjutan bagi umat-Nya.

Untuk sebuah acara perayaan nasional yang istimewa, Raja Daud menulis sebuah lagu untuk memimpin bangsanya memuji Allah pada masa itu, "Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! ... Biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan!" (1Tawarikh 16:8,10). Hingga kini lagu ini bertahan menjadi bagian dalam buku kidung pujian di Israel yang tak henti-hentinya dinyanyikan (Mazmur 105:1-15).

Dua abad silam, Matthias Claudius menulis:


Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa, atas segala hal
yang cemerlang dan indah; /
Masa menabur dan masa menuai, kehidupan kami,
kesehatan kami, makanan kami; /
Tak ada yang mampu kami berikan kepada-Mu atas segala kasih
yang Engkau curahkan selain yang Kaukehendaki, kerendahan hati
kami dan hati yang penuh syukur. /
Segala anugerah yang baik di sekeliling kami berasal dari surga; /
Syukur kepada Tuhan, oh syukur kepada Tuhan atas kasih-Nya.

Ada banyak hal yang bisa kita syukuri setiap hari. Allah senantiasa menyediakan segala kebutuhan kita. Dengan demikian, mari kita merayakan hari Pengucapan Syukur sepanjang masa --DCM

4 Juli 2007

Bangkitnya Sang Raja

Nats : Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup (Yohanes 14:19)
Bacaan : Yohanes 14:1-6

Kita mengagumi siapa pun yang bangkit kembali setelah mengalami kegagalan dan kekalahan. Pada tahun 2001, majalah Sports Illustrated menampilkan sebuah artikel tentang kebangkitan-kebangkitan terbesar sepanjang masa. Yang mengejutkan, mereka menempatkan kebangkitan Kristus di urutan pertama. Di situ ditulis, "Yesus Kristus, pada tahun 33 Masehi menghadapi para kritikus dan membuat orang-orang Romawi tercengang dengan kebangkitan-Nya."

Betapa bijaksananya perkataan itu! Dalam daftar mana pun tentang kebangkitan-kebangkitan dalam sejarah, kemenangan Kristus atas kematian memang pantas mendapat tempat yang utama. Sesungguhnya, kebangkitan-Nya masuk dalam golongan yang melampaui kebangkitan lainnya.

Pada akhirnya, kematian akan menang atas kehidupan. Saat seseorang meninggal, ia tidak mungkin hidup lagi -- setidaknya tidak di dunia ini. Namun, tidak demikian dengan Yesus. Dia telah berjanji kepada para murid bahwa setelah disalibkan oleh musuh-musuh-Nya, Dia akan bangkit -- menang atas kematian. Matius mencatat hal ini dalam injilnya, "Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan ... lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (16:21). Dan, memang itulah yang terjadi pada Juru Selamat kita.

Kebangkitan Yesus Kristus meyakinkan kita bahwa dengan iman di dalam Dia, kita pun akan hidup kembali ketika kita dibangkitkan dari kubur (Yohanes 11:25,26) --VCG


Ketika Yesus mati di salib yang keji,
Mereka yang berdiri menonton mengira, "Ini sudah berakhir";
Namun, dapatlah perkataan-Nya kita percayai:
"Jika engkau percaya kepada-Ku, engkau tidak akan mati." --Hess

4 Juli 2007

Rayakan Kebebasan

Nats : Sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2)
Bacaan : Roma 6:15-23

Setelah diculik dan disandera selama 13 hari, lalu akhirnya dilepaskan, juru kamera berita dari Selandia Baru, Olaf Wiig, sambil tersenyum lebar berkata, "Kini saya merasa lebih hidup dibandingkan sepanjang hidup saya yang lalu."

Untuk beberapa alasan yang sulit dimengerti, dibebaskan ternyata lebih menggembirakan daripada hidup bebas.

Untuk mereka yang menikmati kebebasan setiap hari, sukacita Olaf merupakan peringatan yang baik tentang bagaimana kita begitu mudah melupakan betapa kita sangat diberkati. Hal ini juga berlaku dalam hidup rohani. Siapa pun di antara kita yang sudah lama menjadi orang kristiani sering lupa bagaimana rasanya menjadi hamba dosa. Kita dapat berpuas diri dan bahkan kurang bersyukur. Namun, Allah mengirimkan peringatan melalui seseorang yang baru bertobat. Ia dengan sukacita memberi kesaksian yang menggugah tentang apa yang sudah Allah lakukan di dalam hidupnya. Dan, kesaksian itu sekali lagi mengingatkan kita tentang sukacita yang kita rasakan saat kita dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut (Roma 8:2).

Apabila kebebasan telah menjadi hal yang biasa bagi Anda, atau bila Anda cenderung memusatkan perhatian pada apa yang tidak dapat Anda lakukan, pikirkanlah hal ini: Anda bukan hanya tidak lagi menjadi hamba dosa, tetapi Anda juga dibebaskan agar menjadi kudus dan menikmati hidup kekal di dalam Kristus Yesus! (Roma 6:22).

Rayakanlah kebebasan Anda di dalam Kristus dengan menyediakan waktu untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas hal-hal yang dapat dan bebas Anda lakukan sebagai pelayan-Nya --JAL

21 November 2007

Sisi Lain Terima Kasih

Nats : [Kasih] tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (1Korintus 13:5)
Bacaan : 1Korintus 13

Pasangan muda yang baru saja dikaruniai anak menerima hadiah atas kelahiran bayi mereka. Mereka sangat berterima kasih atas hadiah tersebut, maka sang ibu mengambil kartu ucapan terima kasih, menulis pesan indah, dan siap mengirimkannya.

Namun entah bagaimana, kartu itu tertimbun di tumpukan kertas pekerjaan dan tak pernah terkirim. Ucapan terima kasih itu terlupakan. Pemberi hadiah menunggu, tetapi tak ada ucapan terima kasih yang datang.

Hubungan menjadi renggang ketika satu keluarga mengira ucapan terima kasih telah dikirimkan, sementara yang lain menganggap tidak adanya ucapan terima kasih adalah sikap yang tidak sopan. Kegagalan untuk mengirimkan kartu, membuat pemberi hadiah merasa diremehkan, tidak dihargai, dan diabaikan.

Di antara banyak kata-kata penting, alangkah baiknya bila kita bisa menyampaikan dua kata berharga ini, yaitu "Terima kasih". Selain bahwa mengucapkan terima kasih sangat penting, ada sisi lain yang mesti kita perhatikan. Jika kita memberi hadiah kepada orang lain, kita harus melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan balasan apa pun, termasuk ucapan terima kasih kembali. Kasih yang sejati memberi tanpa mengharapkan balasan.

Kasih, sebagaimana digambarkan dalam 1 Korintus 13:4, "sabar dan baik hati" dan tidak pernah mencari keuntungan diri. Kasih tidak pernah memendam kesalahan, bahkan saat seseorang lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang kita lakukan. Sisi lain dari ucapan terima kasih adalah hati tulus yang mencerminkan kasih Allah yang sempurna kepada kita --JDB

22 November 2007

Lumbung

Nats : Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! (Yakobus 5:8)
Bacaan : Yakobus 4:13-17; 5:7-11

Himne berjudul Come, Ye Thankful People, Come sering dinyanyikan pada kebaktian pengucapan syukur kristiani. Himne yang ditulis pada 1844 oleh Henry Alford itu diawali dengan ucapan syukur kepada Allah atas hasil panen yang berhasil dikumpulkan sebelum musim dingin. Akan tetapi, himne itu sebetulnya lebih dari sekadar rasa syukur atas berkat hasil bumi. Himne itu berakhir dengan fokus pada "panen" Allah akan umat-Nya ketika Kristus datang:

Ya Tuhan, segeralah datang
Ke lumbung panenan akhir-Mu:
Kumpulkan umat-Mu,
Bebas dari penderitaan,
bebas dari dosa;
Dimurnikan selamanya,
Tinggal selamanya dalam hadirat-Mu:
Datanglah, bersama semua malaikat-Mu, datanglah --
Dirikanlah lumbung panenan yang mulia.

Ketika kita mengucap syukur atas pemenuhan kebutuhan materi, sangatlah penting untuk mengingat bahwa rencana kita tidak pasti dan hidup kita bagaikan uap yang cepat berlalu (Yakobus 4:14). Yakobus mendorong kita untuk bersikap seperti petani yang menunggu tanamannya bertumbuh dan siap dipanen. "Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!" (5:8).

Ketika kita bersyukur kepada Allah karena telah menyediakan berbagai kebutuhan kita, ingatlah akan kedatangan kembali Yesus Kristus yang telah dijanjikan. Dengan penantian yang sabar, kita hidup bagi-Nya dan menanti datangnya hari ketika Dia datang untuk mengumpulkan tuaian kemenangan-Nya --DCM

15 April 2008

Berdoa dan Bekerja

Nats : Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka (Nehemia 4:9)
Bacaan : Nehemia 4:1-23

Mana yang lebih penting; berdoa atau bekerja? Ada yang berkata bahwa berdoa lebih penting, sebab tanpa berdoa kita tidak bisa melakukan apa-apa. Namun ada juga yang mempertanyakan, buat apa banyak berdoa, tetapi tidak bekerja?

Bagi Nehemia, kedua hal ini tak perlu diadu tingkat kepentingannya. Mari simak apa yang ia lakukan. Saat menghadapi tantangan dan ancaman dari Sanbalat dan Tobia, Nehemia menaikkan doa kepada Tuhan agar rencana musuhnya digagalkan. Namun, Nehemia juga menyuruh orang-orangnya agar tetap berjaga-jaga supaya dapat mengantisipasi bila sewaktu-waktu ada serangan musuh (ayat 9).

Dari Nehemia kita belajar bahwa doa adalah hal yang sangat penting, tetapi bekerja juga hal yang tidak kalah penting. Dalam film Facing The Giants, seorang pendeta bertutur kepada sang pelatih futbol tentang dua petani yang sama-sama berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Petani yang pertama hanya berdoa, tetapi ia tidak mempersiapkan ladangnya untuk menerima hujan. Sedangkan petani yang kedua bukan hanya berdoa, tetapi juga mempersiapkan ladangnya. Jika kemudian Tuhan memilih; kepada petani mana Tuhan akan menurunkan hujan? Tentu yang kedua, karena dengan mempersiapkan ladang, ia beriman bahwa doanya akan dikabulkan.

Ketika menghadapi rintangan dalam hidup ini, mari kita datang kepada Tuhan. Sampaikan segala keluh kesah kita kepada-Nya, dan percayalah bahwa Tuhan pasti akan menolong. Namun sementara itu, kita pun harus waspada dan memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Tak hanya berdoa, kita harus bekerja juga -RY

17 April 2008

Prioritas Hidup

Nats : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)
Bacaan : Matius 6:19-24

Yang adalah salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Bergulirnya aktivitas ekonomi yang menyertakan uang tak akan pernah habis. Bahkan, Benjamin Franklin mengeluarkan slogan "time is money", seakan-akan seluruh hidupnya hanya diprioritaskan dan ditujukan untuk mendapat uang. Bukankah dewasa ini ada banyak orang yang dibutakan oleh uang? Sebenarnya uang bukan sesuatu yang jahat. Hanya, kita perlu menjagai sikap hati kita terhadap uang.

Itulah yang hendak Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Penumpukan harta yang tanpa tujuan sebenarnya justru akan membuat manusia khawatir. Atau, membuat manusia percaya pada diri sendiri secara berlebihan. Dan yang paling parah, membuat hidup manusia dikuasai oleh uang. Itulah inti perkataan Tuhan Yesus (ayat 24). Tuhan menegaskan bahwa di mana hati kita berada, di situlah prioritas hidup kita cenderung berada. Bila hati kita ada pada harta, maka seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kita konsentrasikan untuk mengumpulkan harta pula.

Tuhan Yesus tidak mengecam orang kaya. Buktinya, Zakheus pun dipanggil menjadi murid-Nya (Lukas 19:5). Namun Tuhan ingin agar kita memprioritaskan hubungan dengan-Nya di tengah rutinitas mencari nafkah setiap hari. Ketika kita menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari, hendaknya kita tetap memancarkan kasih Tuhan. Dengan demikian, cara kita mencari uang pun akan dipengaruhi oleh sikap hati. Inilah kuncinya agar kita tidak terjerumus dalam sikap cinta uang, yang merupakan akar dari segala kejahatan di bumi ini. Mari melihat ke dalam diri. Apa prioritas hidup kita hari ini? -BL

23 April 2008

Katedral Sang Janda

Nats : Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:4)
Bacaan : Matius 6:1-4

Seorang raja membangun katedral, namun tidak menghendaki siapa pun memberikan sumbangan. Ia ingin dikenang sebagai pembangun tunggal katedral itu. Begitulah. Katedral itu berdiri dengan sebuah plakat yang menyatakan bahwa sang raja adalah pembangunnya.

Namun, suatu malam sang raja bermimpi. Seorang malaikat menghapus plakat itu dan menuliskan nama seorang janda miskin untuk mengganti namanya. Mimpi itu terulang dua kali. Saat terbangun, raja segera memerintahkan agar janda itu dipanggil untuk memberikan penjelasan. Dengan gemetar janda itu berkata, "Paduka, hamba sangat mengasihi Tuhan dan sangat ingin terlibat dalam pembangunan katedral ini. Namun, karena rakyat dilarang memberi bantuan apa pun, saya hanya menyediakan jerami untuk kuda yang mengangkut batu-batuan."

Kisah di atas menggambarkan motivasi orang dalam memberikan persembahan. Ada yang memberi demi unjuk kedermawanan, agar tidak disebut orang kaya yang kikir. Ada pula yang memberi supaya dapat mengontrol gereja dan hamba Tuhan. Orang-orang seperti itu, menurut Yesus, sudah menerima upahnya (ayat 2).

Si ibu janda mewakili orang yang memberi berdasarkan kasih, bahkan dengan pengorbanan. Kalau ia didakwa melanggar perintah raja, bukankah ia mesti menanggung hukuman? Meski tampak remeh dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, pemberiannya juga sangat menentukan keberhasilan pembangunan katedral tersebut. Mari kita melihat kembali motivasi kita dalam memberi persembahan. Apakah kita bersikap seperti sang raja? Atau, seperti si janda miskin? -ARS

14 Juni 2008

Bikin Hidup Lebih Hidup

Nats : Mereka akan makan tetapi tidak menjadi kenyang, mereka akan bersundal tetapi tidak menjadi banyak, sebab mereka telah meninggalkan TUHAN (Hosea 4:10)
Bacaan : Hosea 4

Kalau kita berjalan-jalan di mal, menonton TV, atau membaca majalah, maka kita akan melihat banyaknya barang atau jasa yang ditawarkan. Secara tidak langsung kita dibuat untuk selalu tidak puas dengan apa yang kita miliki sekarang. Selalu ada barang yang lebih baru, lebih baik, lebih canggih, dan berbagai lebih lainnya. Kebohongan terbesar yang ditawarkan adalah kalau Anda punya ini, Anda akan bahagia.

Bacaan hari ini berkisah mengenai imam dan bangsa Israel yang tidak setia. Ketika membaca daftar "dosa" yang dipampangkan, mungkin kita berpikir bahwa itu "kasus" bangsa Israel (ayat 2), bukan saya. Saya tidak berzina; saya setia kepada pasangan saya. Ya, mungkin kita setia kepada pasangan, tetapi baiklah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita setia kepada Tuhan?

Tuhan berjanji memberkati orang yang takut dan setia kepada-Nya. Salah satu berkat Tuhan yang mungkin sangat jarang dibahas adalah, "karunia untuk menikmati apa yang Allah berikan" (Pengkhotbah 4:17,18). Ada orang-orang yang luar biasa kaya, tetapi tidak bisa menikmati kekayaannya karena Tuhan tidak mengaruniakan kuasa untuk menikmatinya (Pengkhotbah 6:2). Dalam bacaan kita, Tuhan berfirman bahwa umat yang meninggalkan-Nya akan makan tetapi tidak menjadi kenyang. Melakukan banyak hal, tetapi tidak membuahkan hasil. Itu terjadi karena mereka meninggalkan Tuhan.

Mari kita memeriksa hidup kita sejenak. Apakah kita tidak merasa puas? Apakah kita sedang merasa kurang? Apakah kita tidak bisa menikmati hal-hal yang Tuhan berikan? Jika ya, ini saatnya berbalik kepada Tuhan. Dia menanti Anda. Sekarang —GS

1 Juli 2008

Selidikilah Dirimu

Nats : Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tid (2Korintus 13:5)
Bacaan : 2Korintus 13:1-10

Anda adalah orang yang ...; menurut saya, Anda cenderung ...; seperti yang sering saya katakan, Anda itu ...." Demikianlah contoh ungkapan sehari-hari yang sering ditujukan kepada kita, atau sebaliknya, kerap kita tujukan kepada orang lain. Ya, manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri. Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.

Paulus mengajak jemaat Korintus untuk lebih banyak menyelidiki diri sendiri ketimbang menilai orang lain (2Korintus 13:5). Sebab bagi Paulus, menyelidiki diri sendiri sangat penting dalam pertumbuhan rohani. Saat seseorang berani menyelidiki diri sendiri, berarti ia berani melihat kondisi hidupnya apa adanya, termasuk kelemahannya. Dengan menyadari kelemahan diri sendiri, orang dapat bercermin dan terbuka kepada Allah yang menyelidiki hati. Lalu mengambil langkah untuk memperbaiki diri. Hasilnya, ia lebih tahan uji dibandingkan mereka yang tak pernah memeriksa batin sendiri dan malah asyik menilai apa yang tampak dari orang lain.

Sudahkah kita membangun kebiasaan untuk menyelidiki diri sendiri? Atau, kita hanya pintar "mengutak-atik" hidup orang lain dan marah apabila orang lain meneliti hidup kita? Mari memperbanyak waktu untuk melihat ke dalam diri supaya kita lebih waspada dan juga toleran terhadap orang lain. Orang yang selalu sedia memeriksa batinnya setiap saat ibarat seseorang yang rajin membersihkan rumahnya dari debu dan sampah. Hati kita pun akan bersih bila kita bersedia selalu membersihkannya bersama dengan Allah -DKL

4 Juli 2008

Parfum Kristus

Nats : Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan (2Korintus 2:16)
Bacaan : 2Korintus 2:12-17

Durian adalah buah paling aneh. Rasanya nikmat, tetapi baunya busuk. Jika ingin mencoba, tutup dulu hidungmu sebelum buahnya menyentuh bibirmu." Begitu Mark Twain menulis tentang durian ketika ia mengunjungi Asia Tenggara. Para pecinta durian pasti tidak sependapat. Bagi kebanyakan kita, durian berbau harum! Aroma durian bahkan dipakai untuk membuat es krim dan kue. Rupanya setiap orang menilai bau secara berbeda. Apa yang berbau harum bagi seseorang, bisa dianggap berbau busuk bagi orang lain.

Menurut Paulus, tiap-tiap orang kristiani juga menebarkan bau "parfum Kristus". Di mana pun, bau "parfum pengenalan akan Kristus" itu terpancar lewat sikap, kata-kata, dan tindak-tanduk kita. Hidup kita adalah kesaksian. Namun, ini bukan berarti semua orang spontan akan menyukai kita! Bagi yang mencintai Tuhan, kesaksian kita akan dipandang sebagai "bau harum". Mereka suka berada di dekat kita. Sebaliknya bagi yang menolak Tuhan, kesaksian kita dianggap sampah "berbau busuk". Perlu dihindari. Tidak heran jika ada orang yang membenci kita hanya karena kita beriman pada Kristus. Jika itu terjadi, jangan lepaskan cara hidup kristiani hanya supaya disukai semua orang. Paulus meminta kita tetap berbicara "sebagaimana mestinya" (ayat 17).

Sudahkah "bau parfum" Kristus memancar semerbak dari cara hidup Anda? Apakah orang-orang di sekitar Anda bisa mencium "aroma" Kristus yang unik melalui kata dan kerja Anda? Ataukah Anda secara sengaja menyingkirkan "parfum" Kristus itu karena malu atau takut orang-orang mengenali Anda sebagai pengikut-Nya? -JTI



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA