16 Maret 2005

Nurani yang Bersih

Topik : Konsekuensi

Nats : Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kisah Para Rasul 24:16)
Bacaan : Roma 2:12-16

Cerita anak-anak yang sangat digemari, Pinokio, adalah kisah sebuah boneka kayu yang hidungnya akan semakin panjang apabila ia berdusta. Temannya, si Jimmy Jangkrik mengatakan, "Jadikan hati nurani sebagai penuntunmu." Pinokio pun menuruti nasihat temannya. Ia bertobat, lalu kembali kepada Geppetto, penciptanya. Pinokio kemudian berbakti kepada Geppetto dan dibebaskan dari tali-talinya.

Ada sebuah prinsip dalam cerita ini yang pantas diterapkan bagi anak-anak Allah. Jika kita tak mendengarkan suara dari dalam batin kita yang mengatakan apa yang perlu atau tidak perlu kita lakukan, hidup kita akan terbelenggu. Namun, nurani yang murni akan memberi kebebasan.

Beberapa orang tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan yang saleh. Hati nurani mereka lemah, dan mereka dengan mudah diombang-ambingkan sikap orang lain. Dan ada juga orang yang hati nuraninya telah rusak. Ukuran yang mereka pakai untuk menilai yang baik dan jahat telah rusak, tercemar, dan tidak kudus (Titus 1:15). Namun yang paling menyedihkan adalah mereka yang hati nuraninya telah "memakai cap" dusta dan kesesatan (1 Timotius 4:2). Mereka telah sekian lama menolak suara batin mereka, sehingga tidak dapat lagi mendengar bisikan hati nurani.

Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana kita dapat memiliki nurani yang bersih?" Kita harus bertobat dari dosa dan berbalik kepada Pencipta kita. Kita harus meminta Dia memperbarui hasrat dan sikap kita sesuai dengan firman-Nya dan kemudian menaatinya dengan hati-hati —DHR



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA