Topik : Kisah/Kesaksian Hidup

9 November 2002

Kesaksian yang Kuat

Nats : Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen! (Kisah Para Rasul 26:28)
Bacaan : Kisah Para Rasul 26:12-29

Seorang ilmuwan Inggris bernama Thomas Huxley (1825-1895) sangat giat mendukung teori evolusi, sehingga ia mendapat sebutan "anjing buldognya Darwin". Sebagai seorang agnostik, ia percaya bahwa agama adalah takhayul yang berbahaya.

Pada suatu hari Huxley bertanya kepada seorang kristiani yang sangat taat, "Apa arti imanmu bagimu?" Orang itu tahu kalau Huxley adalah orang yang skeptis. Ia diam sejenak, kemudian menjawab, "Anda sangat berpendidikan, dan Anda bisa menentang apa pun yang saya katakan."

Huxley terus mendesaknya untuk menjelaskan mengapa ia menjadi seorang kristiani. Maka dengan tulus hati, orang itu menceritakan arti Yesus bagi dirinya. Huxley begitu tersentuh sehingga ia tidak mampu mendebatnya. Ia berkata dengan sungguh dan tulus, "Saya kagum akan iman Anda kepada Yesus."

Ada dua pelajaran yang dapat kita petik dari pengalaman di atas. Pertama, kita boleh saja menghargai pengetahuan, tetapi kita tahu bahwa pendidikan formal tidak seharusnya digunakan untuk menguji iman yang menyelamatkan dan mengubah hidup (Efesus 2:8,9). Kedua, sering kali kesaksian sederhana yang keluar dari lubuk hati lebih efektif daripada penjelasan ilmiah.

Ketika Rasul Paulus berdiri di hadapan Raja Agripa, ia bercerita bagaimana Yesus telah mengubah hidupnya. Agripa sangat tersentuh mendengarnya (Kisah Para Rasul 26:28).

Jangan ragu-ragu menceritakan kepada sesama akan arti Yesus bagi diri kita secara pribadi —Vernon Grounds

23 Februari 2003

Nama Baik Allah

Nats : Aku merasa sakit hati karena nama-Ku yang kudus yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka datang (Yehezkiel 36:21)
Bacaan : 2Samuel 21:1-14

Nama baik Allah dapat dimuliakan atau sebaliknya menjadi buruk oleh karena sikap dan tindakan umat-Nya. Bacaan Alkitab hari ini menunjukkan realitas ini.

Selama masa pemerintahan Daud, Allah menghukum Israel dengan tiga tahun kelaparan karena pendahulu Daud, yakni Raja Saul, telah berusaha untuk membunuh orang-orang Gibeon (2 Samuel 21:1). Tindakannya itu melanggar sumpah yang telah dibuat antara Yosua beserta para penguasa Israel dengan bangsa Gibeon dalam nama "TUHAN, Allah Israel" (Yosua 9:18). Dengan demikian, nama baik Allah sedang dipertaruhkan.

Ketika Daud bertanya kepada bangsa Gibeon apa yang harus dilakukan agar ia dapat menebus kesalahan itu, mereka meminta tujuh orang dari keturunan Saul diserahkan kepada mereka untuk digantung. Alkitab tidak menyatakan bahwa itulah yang diminta Tuhan sebagai hukuman yang pantas bagi Saul, karena kematian anak-cucu Saul pastilah membuat Allah berduka. Namun, Dia mengizinkan eksekusi itu dilaksanakan agar perjanjian umat-Nya, yang dibuat atas nama-Nya, dapat diperbarui. Dari situ pulalah bangsa Gibeon akhirnya tahu bahwa Allah yang disembah bangsa Israel adalah Allah yang patut dihormati.

Sama halnya seperti bangsa Israel yang menajiskan kekudusan nama Allah dengan melakukan kekejian (Yehezkiel 36:22), kita pun dapat menajiskan nama Allah lewat cara hidup kita. Marilah kita teladani hidup Yesus sehingga kita dapat menghormati nama Allah --Herb Vander Lugt

26 Maret 2003

Jadilah Penyemangat

Nats : Aku ingin melihat kamu, ... supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku (Roma 1:11,12)
Bacaan : Roma 1:8-15

Ron baru saja lulus dari sekolah Alkitab dan telah menjadi pendeta muda sekitar 3 bulan. Sebagian jemaat muda tampaknya sengaja membuatnya kesal, beberapa jemaat tua mulai mengkritiknya, dan pemuda itu mulai berkecil hati. Suatu kali, ketua majelis gereja mengundangnya makan siang. “Aduh,” keluhnya pada istrinya. “Saya akan menghadapi masalah.”

Saat makan siang, ketua majelis itu menatap langsung ke matanya dan berkata, “Saya dengar Anda mendapat banyak kritikan. Saya ingin memberi tahu Anda bahwa menurut para majelis, Anda bekerja dengan baik. Memang, tak ada hal serius yang terjadi saat ini, tetapi kami yakin hal itu bisa saja terjadi. Anda bekerja sesuai dengan apa yang kami minta. Pertahankanlah.”

Ron meninggalkan ruang pertemuan dengan kepala tegak dan hati riang. Ia bekerja dengan rasa percaya diri yang diperbarui. Tak lama, kelompok kaum muda di gerejanya mulai berkembang, baik secara jumlah maupun kualitas rohaninya.

Paulus berkata kepada jemaat di Roma bahwa ia ingin mengunjungi mereka supaya mereka semua dapat saling menghibur (1:11,12). Kita tahu bahwa suasana seperti itu dapat sangat membantu. Kita semua menghargai rangkulan yang melingkar di bahu atau kata-kata yang ramah.

Jika Anda menerima dukungan yang tak terduga hari ini, bersyukurlah kepada Allah atas semuanya itu. Dan bila Roh Kudus memimpin Anda untuk menyemangati seseorang, pergi dan lakukanlah. Jadilah seorang penyemangat. Anda dan orang yang Anda semangati akan bersukacita karenanya --Dave Egner

7 Mei 2003

Mati Tanpa Kasih

Nats : Delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang (2Tawarikh 21:20)
Bacaan : 2Tawarikh 21:4-20

Seorang kenalan memberi tahu saya bahwa kakak laki-lakinya telah meninggal dunia. Ketika saya terkejut karena belum mendengar kabar itu, ia berkata, "Kami memang tidak mengumumkannya karena ia tak pernah peduli kepada siapa pun dan tak seorang pun peduli kepadanya."

Semula saya terperangah mendengar perkataannya, tetapi kemudian saya teringat khotbah yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Khotbah itu berjudul "Orang yang Tidak Dikasihi Siapa Pun". Dalam 2 Tawarikh 21 kita membaca tentang orang itu, yakni Raja Yoram. Di awal pemerintahannya, ia membunuh semua saudara dan orang-orang yang mungkin akan menjadi saingannya. Ia memimpin bangsanya pada pemujaan terhadap ilah-ilah palsu. Selama delapan tahun, pemerintahannya selalu diliputi masalah dan karena penyakit yang dahsyat dan menyakitkan, akhirnya ia meninggal "dengan tidak dicintai orang" (ayat 20).

Sungguh kisah yang mengenaskan. Tak seorang pun merasa kehilangan atas kematian Yoram karena ia adalah seorang yang egois dan tidak mengenal Allah. Alkitab memberikan catatan pendek yang tragis tentangnya: "ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan" (ayat 6).

Ingatlah bahwa kepedulian akan hubungan kita dengan Allah dan sesama akan menentukan besarnya rasa kehilangan yang dirasakan saat kita meninggal. Jika kita mengingat hal ini, dan kita hidup untuk menyenangkan Allah serta menunjukkan kasih kepada sesama, maka banyak orang akan merasa kehilangan saat kita meninggalkan panggung duniawi ini --Herb Vander Lugt

26 Mei 2003

Nama Baik

Nats : Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk (Amsal 10:7)
Bacaan : Amsal 10:1-7

Pada hari Pahlawan di Amerika Serikat, ribuan orang berziarah ke berbagai makam dan monumen untuk mengenang dan menghormati orang- orang yang mereka kasihi. Di sana mereka merenungkan nama yang terukir di batu nisan itu dan mengenang orang-orang yang mendapat penghormatan dengan pendi-rian batu nisan itu.

Refleksi tentang hidup orang-orang yang telah pergi mendahului kita dapat menolong kita untuk mengevaluasi cara hidup yang kita jalani saat ini. Lalu, ketika orang mendengar nama kita, apakah mereka mengingat seseorang yang de-ngan setia hidup bagi Kristus?

Raja Salomo mengamati bahwa "kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat" (Amsal 10:7). "Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar" (Amsal 22:1). "Nama yang harum lebih baik daripada minyak yang mahal" (Pengkhotbah 7:1).

Reputasi yang baik dan hubungan yang penuh kasih adalah suatu prestasi yang bagus. Kejujuran, integritas, dan kemurahan hati dalam hidup lebih berharga daripada pemakaman paling mahal sekalipun. Wangi parfum akan segera pudar, tetapi aroma hidup kita yang baik akan senantiasa tinggal.

Melalui sikap dan tindakan, kita menciptakan kenangan yang akan selalu dihubungkan dengan nama kita, baik dalam kehidupan maupun kematian. Hari ini kita memiliki kesempatan untuk memperbarui komitmen kita kepada Kristus dan untuk menciptakan nama baik, nama yang memuliakan Dia dan menguatkan orang-orang yang kita kasihi selama tahun-tahun yang akan datang.

Apakah Anda telah menyandang nama baik? --David McCasland

5 September 2003

Menjadi Mentor

Nats : Apa yang telah engkau dengar dari padaku ..., percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2Timotius 2:2)
Bacaan : 2Timotius 1:13-2:2

Menurut kisah Odyssey yang ditulis oleh Homer, ketika Raja Odysseus berangkat untuk bertempur di perang Troya, ia menitipkan Telemachus, putranya dalam asuhan seorang tua bijak bernama Mentor. Mentor diberi tanggung jawab untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada anak muda itu.

Lebih dari 2.000 tahun sesudah Homer, seorang ahli teologi berkebangsaan Perancis yang bernama François Fénelon menyadur kisah tentang Telemachus itu ke dalam sebuah novel yang berjudul Télémaque. Dalam novel itu, sang pengarang menonjolkan tokoh Mentor. Lambat laun istilah mentor diartikan sebagai "guru yang bijaksana dan bertanggung jawab"; orang berpengalaman yang tugasnya memberi nasihat, membimbing, mengajar, memberi inspirasi, menegur, mengoreksi, dan menjadi teladan.

Ayat 2 Timotius 2:2 menggambarkan tentang pendampingan rohani ini. Selain itu, Alkitab memberikan banyak contoh pendampingan rohani kepada kita. Timotius meneladan Paulus; Markus meneladan Barnabas; Yosua meneladan Musa; Elisa meneladan Elia.

Namun, bagaimana dengan kehidupan masa kini? Siapa yang akan mengasihi dan bekerja bersama orang-orang kristiani baru, serta menolong mereka bertumbuh kuat secara rohani? Siapa yang akan mendorong, membimbing, dan menjadi teladan kebenaran bagi mereka? Siapa yang akan bertanggung jawab atas para jemaat muda ini, dan bekerja sama dengan Allah untuk membantu membentuk karakter mereka?

Bersediakah Anda menjadi alat Allah untuk menanamkan kebijaksanaan dan menolong orang lain tumbuh dewasa? --David Roper

11 September 2003

Keamanan Rumah Tangga

Nats : Siapa percaya kepada Tuhan, dilindungi (Amsal 29:25)
Bacaan : Ulangan 6:4-9

Setelah Amerika Serikat diserang oleh para teroris pada tanggal 11 September 2001, Presiden Bush meminta Kongres untuk membentuk Departemen Keamanan Dalam Negeri. Badan ini bertugas melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga keamanan warga Amerika.

Rumah tangga pribadi kita juga membutuhkan suatu rencana berkaitan dengan "keamanan dalam negeri", karena kita harus menjaga anak-anak kita dari orang-orang yang dapat membahayakan mereka. Akan tetapi, di dalam dunia yang mudah dimasuki oleh kekuatan dari luar yang membahayakan ini, bagaimana cara kita mengamankan rumah tangga kita? Berikut ini beberapa saran untuk menciptakan keamanan rumah tangga Anda:

1. Kontrollah media. Daripada membiarkan para pembuat acara TV,
film, dan CD mendikte apa yang Anda lihat dan dengar, lebih baik
gunakan panduan alkitabiah untuk mengevaluasi bahasa dan moralitas
dari apa yang anak-anak Anda saksikan dan dengarkan.

2. Kenalilah teman-teman mereka. Standar teman-teman anak Anda
mungkin tidak sesuai dengan standar Anda. Buatlah rumah Anda
sebagai pelabuhan, tempat teman-teman anak Anda diterima dengan
tangan terbuka. Ini membantu Anda mengenal mereka.

3. Bangunlah perisai diri. Dengan mengajarkan prinsip-prinsip
alkitabiah kepada anak-anak Anda dan mendorong iman mereka, Anda
akan menolong mereka menjadi arif, sehingga mereka dapat membangun
perisai diri yang akan melindungi mereka dari bahaya yang mereka
hadapi.

Seberapa baikkah keamanan rumah tangga Anda? --Dave Branon

10 Oktober 2003

Epitaf

Nats : Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar (Yohanes 10:41)
Bacaan : Yohanes 10:40-42

Perikop ini menyiratkan Yohanes Pembaptis setidaknya telah meninggal 2 tahun dan kenangan pelayanannya mulai pudar. Demikianlah bila seorang tokoh telah meninggal dan kemasyhurannya pudar oleh kehadiran penerusnya yang lebih terkenal.

Ketika orang banyak mengelilingi Yesus di dekat tempat Yohanes pernah mengajar, mereka ingat kehidupan dan perkataan sang pembaptis, lalu berkata, "Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar" (Yohanes 10:41).

Seperti Yohanes, kita tak harus membuat berbagai mukjizat untuk memberitakan Yesus kepada orang banyak. Kita dapat menceritakan apa yang telah kita pelajari tentang Dia dari Alkitab, apa yang telah dilakukan-Nya untuk mengubah hati dan hidup kita, serta untuk orang lain. Jika kita menyampaikan kabar baik tentang Yesus dengan setia, kita telah menjalankan tujuan hidup dengan baik.

Bahkan lama setelah kita mati, perkataan kita dapat terekam dalam benak orang-orang yang pernah mendengar kesaksian kita, dan dapat menjadi sarana untuk membawa mereka beriman kepada Tuhan Yesus. Seperti benih yang terpendam di tanah, firman Allah yang telah kita tabur mungkin tidak bertumbuh selama bertahun-tahun, tetapi akhirnya bersemi dan membawa pada kehidupan kekal.

Perkataan orang menjadi epitaf [pernyataan singkat di batu nisan] terkenal tentang hidup seseorang: "Ia tidak membuat satu mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakannya tentang Yesus adalah benar" --David Roper

12 Oktober 2003

Mengejar Anak-anak

Nats : Ia lebih berharga daripada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya (Amsal 3:15)
Bacaan : Amsal 3:1-18

Para pemasang iklan berusaha mempengaruhi anak-anak muda kita. Mereka semakin menjadikan anak-anak sebagai sasaran berbagai pesan iklan. Mereka menghabiskan uang ratusan juta rupiah untuk menarik perhatian anak-anak, karena dalam diri anak-anak telah tertanam pengaruh kuat dari kebiasaan berbelanja orangtua mereka dan karena anak-anak sendiri memiliki daya beli yang semakin tinggi. Orang- orang dalam dunia periklanan yakin bahwa konsumen muda yang puas dengan produk mereka dapat menjadi konsumen mereka seumur hidup. Anak-anak akan berhasrat membeli produk mereka di waktu-waktu yang akan datang.

Dengan cara serupa, kita perlu mempengaruhi anak-anak muda kita untuk "membeli" hal-hal baik yang telah Allah sediakan bagi mereka sepanjang hidup. Menurut Amsal 3, sejumlah kemungkinan yang luar biasa terbentang di hadapan orang muda yang memilih jalan Allah: panjang umur dan damai sejahtera (ayat 2), kasih dalam pandangan Allah dan manusia (ayat 4), arah jalan dari Allah (ayat 6), kesehatan dan kekuatan (ayat 8), kelimpahan (ayat 10), kebahagiaan (ayat 13). Orang yang percaya, hormat, dan takut akan Tuhan menemukan hikmat -- suatu penghargaan yang tiada bandingnya (ayat 15).

Dunia menghabiskan biaya ratusan juta rupiah dalam usahanya untuk meyakinkan anak-anak kita bahwa mereka tak dapat merasa berbahagia tanpa memakai sepatu merk tertentu. Betapa lebih banyak lagi hal menarik yang harus kita tawarkan kepada anak-anak kita, yaitu dengan menunjukkan bahwa kebahagiaan itu berasal dari perjalanan bersama Allah! --Dave Branon

1 Desember 2003

Terang yang Besar

Nats : Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar (Yesaya 9:1)
Bacaan : Yesaya 8:23-9:1-6

Pada suatu malam yang dingin di bulan Desember, saya menyetir mobil melintasi pegunungan Maryland barat. Setibanya di salah satu puncak pegunungan di dekat Taman Nasional Rocky Gap, perhatian saya tertuju pada lautan cahaya yang terang benderang. Astaga, apakah itu? pikir saya ketika melewati tapal batas antar-negara bagian. Cahaya berkilauan itu membuat saya penasaran, sehingga setelah delapan kilometer meninggalkan batas antar-negara bagian tersebut, saya berputar dan kembali ke sana untuk melihatnya lagi. Ternyata itu adalah lampu-lampu perayaan masyarakat setempat selama musim Natal. Jika berkendara di siang hari, saya tak akan melihat apa-apa. Namun pada malam hari, cahaya menakjubkan itu tidak dapat diabaikan begitu saja.

Bukankah aneh jika kita mengeluhkan kegelapan moral dan rohani dunia kita ini, padahal itu sebenarnya tempat yang tepat untuk menunjukkan kecemerlangan cahaya Tuhan Yesus Kristus. Pada hari Natal, kita sering membaca kata-kata nubuat ini: "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" (Yesaya 9:1).

Yesus bersabda tentang diri-Nya sendiri, "Akulah terang dunia" (Yohanes 8:12), dan kepada para rasul-Nya, "Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi" (Matius 5:14).

Dalam dunia yang gelap, orang yang pernah melihat terang yang besar akan bertanya mengapa terang itu tampak dan apa maknanya. Dan tugas kitalah untuk menjawabnya --David McCasland

10 Januari 2004

Dunia Menyaksikan

Nats : Barang siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam [Yesus], ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1Yohanes 2:6)
Bacaan : 1 Yohanes 2:1-11

Apabila masyarakat sekitar Anda ditanyai tentang umat kristiani yang hidup di tempat itu, kira-kira apa yang akan mereka katakan? Apakah mereka akan mengatakan bahwa mereka mengenali orang kristiani karena kasih mereka, atau karena sesuatu yang lain?

Renungkanlah dua kisah nyata berikut. Pada sebuah kota kecil, sebuah restoran memutuskan untuk tutup di hari Minggu malam karena karyawannya menolak melayani orang-orang yang mampir untuk makan sepulang mengikuti kebaktian malam. Orang-orang kristiani itu bersikap kasar, jorok, dan hanya meninggalkan sedikit tip.

Di kota yang lain, seorang manajer sebuah toko menjual tiket konser. Ia melaporkan bahwa orang-orang paling kasar yang pernah dijumpainya adalah mereka yang membeli tiket konser grup musik kristiani terkenal.

Kadang kala kita tidak menyadari bahwa orang-orang nonkristiani sedang menyaksikan kita. Tetangga dan sahabat-sahabat kita, juga orang-orang lain yang kita jumpai sedang memerhatikan tingkah laku kita. Mereka tahu bahwa kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus seharusnya bersikap ramah dan penuh kasih sayang. Mereka tahu bahwa hidup kita seharusnya mencerminkan kasih dan menyerupai Kristus (Yohanes 13:35; 1 Yohanes 2:6). Mereka tahu bahwa tidak seharusnya kita menyibukkan diri dengan kepentingan pribadi sehingga lalai untuk menunjukkan kasih kepada orang lain.

Pastikanlah bahwa orang-orang yang memerhatikan kehidupan kita akan memiliki kerinduan untuk mengenal Juruselamat kita --Dave Branon

22 Januari 2004

Saksi Pengharapan

Nats : Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu (1Petrus 3:15)
Bacaan : Kisah Para Rasul 26:1-8,24-32

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di bekas negara Uni Soviet, Nickolas adalah satu-satunya siswa di sekolahnya yang menolak untuk bergabung dengan kelompok politik pemuda. Karena imannya kepada Allah, ia pun dikucilkan dan diejek, diberi nilai jelek yang tidak sepantasnya ia terima, dan rekomendasinya ke universitas ditolak. Meskipun mendapat tentangan, ia tetap bertekun. Dan beberapa tahun kemudian, ia membawa beberapa penentangnya untuk percaya kepada Yesus Kristus. Saat ini, ia adalah pendeta dari sebuah gereja yang berkembang di Belarus.

Rasul Paulus juga mengalami penganiayaan. Karena imannya, ia dihadapkan pada pengadilan Raja Agripa. Dan di sana ia mempunyai kesempatan untuk bersaksi bagaimana Allah telah mengubah hidupnya. Paulus memberikan kesaksian, "Dan sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh sebab aku mengharapkan kegenapan janji, yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita" (Kisah Para Rasul 26:6). Kesaksiannya di hadapan raja tentang keselamatan dalam Kristus dan pengharapan akan kebangkitan, sangat jelas dan meyakinkan.

Jika kita menjalankan hidup dalam iman kepada Kristus, kita pasti menarik perhatian orang lain dan bahkan mungkin menghadapi penganiayaan. Kita tahu bahwa dosa kita telah diampuni dan kita menanti saat untuk bersama dengan Yesus di surga selamanya. Kita ingin membagikan iman kita kepada sesama dan beberapa orang ingin mengetahui alasan pengharapan kita (1Petrus 3:15). Saat orang mulai bertanya, persiapkanlah diri Anda untuk bersaksi! Dave Egner

24 Maret 2004

Kaki Yudas

Nats : Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:15)
Bacaan : Yohanes 13:1-20

Saat membaca kisah Yesus yang membasuh kaki para murid-Nya, kita mungkin menganggap bahwa kita sudah mengerti alasan tindakan-Nya tersebut. Misalnya, karena Yohanes adalah seorang teman dekat-Nya. Atau karena Petrus dan Andreas telah sedemikian setia mengikuti Dia.

Setiap murid pasti memiliki sesuatu yang membuat Yesus menyayangi dia. Namun, mengapa Dia mau membasuh kaki Yudas? Yesus sadar bahwa dengan membasuh kaki Yudas, sebenarnya Dia telah merendahkan diri untuk melayani seseorang yang sebentar lagi akan melakukan pengkhianatan yang terburuk dalam sejarah.

Yesus melakukan tindakan paling rendah kepada seseorang yang memperlakukan Sang Pencipta semesta alam sebagai Pribadi yang dihargai tidak lebih dari tiga puluh keping perak. Dengan sengaja, Pribadi yang nama-Nya dihubungkan dengan pemberi kehidupan, membuat tangan-Nya kotor untuk melayani seseorang yang namanya berarti pengkhianatan dan kematian kekal.

Bukankah teladan yang diberikan Yesus mengajarkan kita suatu pelajaran yang istimewa tentang pelayanan? Bukankah hal itu mengingatkan kita bahwa kita tidak dipanggil untuk melayani orang-orang seperti kita saja, atau bahkan mereka yang memerhatikan kita? Kita dipanggil untuk melayani semua orang, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, orang yang ramah maupun yang tidak terlalu ramah.

Kapan terakhir kali Anda “membasuh kaki” seseorang seperti Yudas? —Dave Branon

4 April 2004

Batu yang Berteriak

Nats : Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak (Lukas 19:40)
Bacaan : Lukas 19:29-40

Saya menerima sepucuk surat dari seorang wanita yang menceritakan bahwa ia tumbuh dalam keluarga yang bermasalah. Ia kabur dari rumah dalam usia yang sangat muda, mulai melakukan tindak kriminal, dan pernah dipenjara. Lalu ketika terjerat obat-obat terlarang, ia merasa satu-satunya jalan keluar dari hidup yang penuh kegelapan dosa adalah bunuh diri.

Saat itulah, berkat kesaksian dua wanita mengenai Yesus, ia percaya kepada Juruselamat dan menemukan alasan untuk hidup. Ia pun segera ingin bersaksi mengenai Yesus kepada orang lain. Dengan bakat seninya, ia mulai melukis ayat-ayat Alkitab dan kata-kata rohani pada batu-batu halus yang ia kumpulkan dari pantai. Ia menjual hasil karyanya itu dan menggunakan uangnya untuk membantu karya misi. Batu-batu itu dipakainya untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain.

Kisah wanita ini mengingatkan saya akan ucapan Yesus ketika Dia memasuki Yerusalem beberapa hari sebelum disalibkan. Orang banyak berseru, “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan” (Lukas 19:38). Ketika kaum Farisi meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak tersebut diam, Dia berkata bahwa jika mereka diam, batu-batulah yang akan berteriak (ayat 40).

Tentu saja Yesus tidak berbicara mengenai batu-batu yang dilukis. Tetapi benar bahwa meski kesaksian melalui kata-kata dibungkam, masih ada banyak cara untuk bersaksi tentang Yesus kepada orang lain. “Batu” apakah yang dapat Anda gunakan untuk memberitakan kesaksian mengenai Juruselamat dan Raja Anda kepada orang lain? —Henry Bosch

30 April 2004

Terangilah Dunia

Nats : Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam (Zakharia 4:6)
Bacaan : Zakharia 4:1-6

Apakah Anda merasa bahwa semangat Anda dalam melayani Allah mulai meredup? Anda mungkin rindu memancarkan cahaya rohani bagi dunia yang gelap hingga akhir hidup Anda, tetapi Anda ragu apakah Anda dapat melakukannya. Semangat Anda tidak akan padam jika Anda memahami dan menerapkan kebenaran dalam Zakharia 4:1-6</