Daftar Isi
BROWNING: PENGKHOTBAH, KITAB
ENSIKLOPEDIA: PENGKHOTBAH, KITAB

PENGKHOTBAH, KITAB

PENGKHOTBAH, KITAB [browning]

Sebagian besar dari salah satu kitab PL ini benar-benar misterius -- siapa penulisnya dan kapan ditulis serta apakah pesan-pesannya. Tidak sekalipun kitab ini dikutip dalam PB; dan pada abad pertama M persekutuan rabinik *Shammai mempertanyakan apakah kitab ini layak dianggap sebagai bagian dari Kitab Suci, meskipun sekolah *Hillel, yang lebih liberal, menerimanya. (Salah satu akibat praktis dari hal ini adalah bahwa kumpulan liberal tersebut harus membersihkan diri setelah menyentuh kitab yang termasuk *kanon membuat tangan menjadi najis.) Dalam bahasa Ibrani judul kitab ini adalah Kohelet, yang diterjemahkan dengan 'pengkhotbah'. Bentuk terakhir kitab Ibrani ini memberi petunjuk bahwa tidak mungkin Raja *Salomo adalah penulisnya (bnd. Pkh.1:12), dan hubungan kitab ini dengan sastra hikmat Ibrani menunjukkan asalnya dari kira-kira tahun 200 sM. Apakah jalan *hikmat itu mengejar kesenangan, atau kekayaan, atau pekerjaan-pekerjaan besar, atau mengumpulkan budak-budak (Pkh. 2:3 dst.)? Tidak semua itu berakhir pada kematian. Berkali-kali penulis mengatakan bahwa keberadaan manusia berlalu dengan cepat, sia-sia dan 'tak berguna'. Pemahaman mengenai maksud utama kitab ini sangat terbatas. Yang paling baik, ambiguitas kehidupan ini diterima apa adanya dan hal-hal yang mendatangkan kepuasan harus dinikmati sementara hal itu berlangsung (Pkh. 8:14-15), karena segala hal yang baik pasti akan berakhir (Pkh. 12:1-2). Tidak benar bahwa Allah mengganjar orang-orang benar; semua itu hanyalah persoalan waktu dan kesempatan (Pkh. 9:11-12): namun disarankan agar selalu berada dalam hubungan baik dengan Allah, dan jangan melukai diri sendiri dengan kekesalan sia-sia yang tak terhindarkan (Pkh. 3:1-8). Para sarjana modern beranggapan bahwa perpaduan antara skeptisisme dan nasihat moral konvensional merupakan petunjuk bahwa kitab ini merupakan hasil karya lebih dari seorang penulis. Barangkali, berdasar suatu kitab skeptis, seorang editor telah menyusunnya sedemikian rupa, sehingga dapat diterima oleh para pembacanya yang lebih ortodoks. Hipotesis alternatif yang dikemukakan oleh *kritik bentuk mengenai penyusunan kitab ini adalah: sekumpulan besar amsal independen yang telah beredar secara lisan telah dihimpun sebagai sebuah antologi, tanpa memperhatikan kesesuaian teologisnya. Kedua pandangan atas kitab ini dipaparkan bersama oleh para *kritikus redaksi yang berpendapat bahwa nasihat untuk menikmati kehidupan selagi ada kesempatan (spt. dalam 11:9 dst.) telah ditempatkan dalam konteks religius: kita menikmati apa yang diberikan Allah dan ingat bahwa Ia adalah hakim pada saat kematian (12:1a). Skeptisisme pesimistik Pengkhotbah pada mulanya tidak lagi menjadi kesimpulannya. Demikianlah generasi-generasi pembaca, yang mendekatinya dengan praanggapan Kristen, melihatnya.

PENGKHOTBAH, KITAB [ensiklopedia]

Penulis menyebut dirinya qohelet. Akhiran feminimnya mungkin memaksudkan jabatan yg dipegang, dalam hal ini jabatan pemanggil untuk berkumpul. 'Pengkhotbah' (memang ini yg dipilih TB) atau 'Pengajar' atau 'Guru' adalah terjemahan yg dapat diterima akal.

I. Garis besar isi

Tema pokok Pengkhotbah ialah pencarian kunci pengertian makna hidup. Pengkhotbah memeriksa hidup dari segala sudut untuk melihat dimana bisa didapati kepuasan hati. Ia mendapati bahwa hanya Allah saja yg memegang kuncinya, dan Allah harus dipercaya. Lagipula kita harus menerima hidup itu dari tangan-Nya hari demi hari, dan memuliakan Dia kendati dalam hal biasa sekalipun.

Dalam kerangka umum ini Pkh dapat dibagi menjadi dua bagian pemikiran utama, yaitu: (a) 'hidup itu sia-sia', dan (b) 'jawabnya dari iman praktis'. Kedua bagian ini sama 'ditenun' di seluruh ps Pkh. Dalam garis besar di bawah ini bagian-bagian yg termasuk golongan pertama dicetak dengan huruf tegak, sedang yg termasuk golongan kedua dengan huruf miring.

Pkh 1:1-2. Tema 'kesia-siaan hidup' diungkapkan.

Pkh 1:3-11. Alam semesta adalah suatu sistem yg sudah lengkap seutuhnya, dan sejarah hanyalah peristiwa berurutan tanpa arti yg menentukan.

Pkh 1:12-18. Hikmat mengecilkan hati manusia.

Pkh 2:1-11. Bersenang-senang membiarkan manusia tidak puas.

Pkh 2:12-23. Hikmat harus dinilai unggul dari hal-hal seperti itu, tapi maut sama menelan orang berhikmat pun orang bodoh.

Pkh 2:24-26. Terimalah hidup dari Allah hari demi hari, muliakan Dia dalam hal-hal biasa sekalipun.

Pkh 3:1-15. Hiduplah langkah demi langkah dan ingat bahwa Allah sendiri yg mengetahui seluruh rencana hidup.

Pkh 3:16. Masalah kelaliman.

Pkh 3:17. Allah akan menghakimi semua orang.

Pkh 3:18-21. Manusia dan binatang sama-sama mati.

Pkh 3:22. Justru Allah harus dimuliakan dalam hidup ini.

Pkh 4:1-5. Masalah penindasan dan iri hati.

Pkh 4:6. Karena itu ketenangan hati harus dicari.

Pkh 4:7-8. Orang kikir yg hidup sendirian.

Pkh 4:9-12. Berkat persahabatan.

Pkh 4:13-16. Kegagalan para raja.

Pkh 5:1-7. Sifat orang yg benar-benar beribadah.

Pkh 5:8-9. Birokrasi penindas.

Pkh 5:10; 6:12. Uang mendatangkan banyak kejahatan.

Pkh 5:18-20. Mensyukuri apa yg dikaruniakan Allah.

Pkh 7:1-29. Hikmat praktis, mencakup takut dalam hormat kepada Allah, adalah penuntun hidup.

Pkh 8:1-7. Manusia harus tunduk kepada perintah perintah Allah, walaupun masa depan masih tersembunyi.

Pkh 8:8; 9:3. Masalah kematian, sama menelan orang baik dan orang jahat.

Pkh 9:4-10. Karena kematian meliputi seluruh alam semesta, manfaatkanlah hidup itu semanfaat-manfaatnya mumpung masih punya daya.

Pkh 9:11-12. Tapi janganlah tinggi hati karena bakat-bakat bawaan lahir.

Pkh 9:13; 10:20. Tambahan pepatah-pepatah untuk kehidupan praktis.

Pkh 11:1-8. Karena masa depan tak dapat diketahui, manusia harus bijaksana memakai hukum-hukum alam yg diketahui.

Pkh 11:9; 12:8. Ingatlah Allah pada masa mudamu, sebab pada usia tua semua kesanggupan jiwa melemah.

Pkh 12:9-12. Dengarkanlah kata-kata hikmat.

Pengkhotbah menasihatkan supaya hidup dengan takut dalam hormat kepada Allah, sambil menyadari bahwa suatu hari kelak pertanggungjawaban harus diberikan kepadaNya.

II. Penulis dan tarikh

Kendati penulis berkata bahwa dia raja Israel (Pkh 1:12), dan berbicara seolah-olah dia Salomo, tak pernah dikatakannya di mana pun bahwa dia adalah Salomo. Gaya bh Ibraninya berasal dari zaman sesudah Salomo. Jika memang ia penulisnya, kitab ini sudah mengalami pemodernisasian bahasa pada masa kemudian. Jika tidak, maka penulis yg kemudian mungkin sudah memberi ulasan mengenai hidup yg diungkapkan Salomo, yaitu: 'kesia-siaan belaka, segala sesuatu sia-sia', dan memakai ini sebagai pokok untuk menunjukkan, kenapa bahkan raja yg bijaksana dan kaya raya harus berkata demikian. Belum dapat ditentukan kapan Pkh mendapat bentuknya yg sekarang, sebab tidak memuat acuan sejarah yg jelas dan dapat menolong. Biasanya disarankan kr 200 sM.

III. Tafsiran

(Lih garis besar isi di atas). Tafsiran Pkh sebagian terkait dengan masalah kesatuan kitab ini. Para ahli yg menolak kesatuan kitab ini berpendapat bahwa aslinya ada, suatu sari pati yg ditulis oleh seorang penulis skeptis, yg mempertanyakan apakah tangan Allah berdaulat atas dunia ini. Sari pati itu diolah kembali oleh satu atau lebih penulis, paling tidak satu di antaranya berusaha memperbaiki keseimbangan di pihak golongan ortodoks (ump Pkh 2:26; 3:14 dab), dan seorang lain mungkin menyisipkan bagian-bagian ajaran Epikurus (ump Pkh 2:24-26; 3:12-15 dab). Tapi, kelihatannya aneh, jika seorang penulis ortodoks menganggap berfaedah menyelamatkan sesuatu, yg pada dasarnya merupakan kitab aliran skeptis. Lagipula, Pengkhotbah (= penulis Pkh) disebut 'berhikmat' (Pkh 12:9), suatu hal yg aneh jika ia benar seorang skeptis.

Karena kitab ini merupakan satu kesatuan yg utuh, ada ahli yg menganggapnya lamunan dari manusia duniawi. Si Pengkhotbah menghentikan upaya memikirkan masalah Allah dan manusia, tapi menerima bahwa sangat baik memilih hidup yg tenang dan biasa saja, seraya menyingkirkan kedua ujung yg berbahaya (ump Bentzen, Introduction to the Old Testament, 2, hlm 191).

Tapi, ringkasan penutup Pkh 12:13-14 mengisyaratkan bahwa kitab ini bukanlah melulu skeptis, dan yg disebut bagian-bagian ajaran Epikurus tidaklah dimaksudkan dalam semangat makna Epikurus asli. Hidup itu teka-teki, Pengkhotbah mencoba mencari jawabnya. Makna hidup tidak terdapat dalam memperoleh pengetahuan atau ilmu, uang, kesenangan hawa nafsu, penindasan, kesibukan keagamaan, atau kebebalan. Semua hal tadi telah terbukti hampa, atau bila sesuatu terjadi, maka terhadap sesuatu itu semuanya tak berdaya. Bahkan tangan Allah kadang-kadang tak dapat dimengerti. Manusia memang diciptakan demikian, sehingga ia selalu harus mencoba memahami alam semesta ini, karena Allah memberikan kekekalan dalam hatinya; namun hanya Allah sendiri yg mengetahui seluruh polanya (Pkh 3:11).

Justru rencana bagi manusia ialah, menerima hidupnya hari demi hari dari tangan Allah, menikmatinya sebagai pemberian tangan-Nya dan demi Dia. Pokok ini perlu dibandingkan dengan apa yg dikatakan Paulus tentang kesia-siaan dunia dalam Rm 8:20-25, 28.

KEPUSTAKAAN. C. H. H Wright, The Book of Koheleth, 1883; H Ranston, Ecclesiates and the Early Greek Wisdom Literature, 1925; G. S Hendry, 'Pengkhotbah' dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini II, hlm 333 dst, YKBK, 1989; J Paterson, The Book that ia Alive, 1954, hlm 129-150; F. D Kidner, Pengkhotbah, YKBK, 1987. JSW/MHS/HAO




TIP #29: Klik ikon untuk merubah popup menjadi mode sticky, untuk merubah mode sticky menjadi mode popup kembali. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA