: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Pai | Pajak | Pakaian | Pakaian PL | Palal | Palestina | Pallu | Palluites | Palmira | Palsu | Palti
Daftar Isi
HAAG: Palestina
BROWNING: PALESTINA
ENSIKLOPEDIA: PALESTINA

Palestina

(Filistea), negeri orang asing. Mazmur 83:8

Palestina [haag]

Palestina.

Sebutan Yunani-Romawi untuk propinsi -- Yudea. Sudah sejak abad 5 sebelum Mas. Timbul nama "Palestinoi" untuk menamakan orang Filistin yang tinggal di pantai timur Laut Tengah pada sebelah selatan gunung Karmel.

  1. (I) ILMU BUMI. Keadaan bentuk morfologis daerah itu ditentukan oleh jalannya lembah Yordan dari utara ke selatan, dengan titik kedalaman terdalam di Laut Mati yang berkedalaman -- 392 m dan dilanjutkan pada sebelah selatan serta membentuk sebuah lembah kering yang luas sampai pada teluk El-Akaba. Olehnya ~P dibelah menjadi dua bagian. Daerah bagian timur Yordan berbentuk bagaikan sebuah meja yang dibelah oleh berbagai lembah. Meja itu pada pinggirnya menurun secara tajam pada sungai Yordan. Daerah di sebelah barat Yordan berbentuk sebuah gundukan pegunungan yang menjulang dari utara ke selatan dan dipisahkan menjadi dua oleh dataran Yisreel. Daerah pegunungan di sebelah utara disebut daerah pegunungan Galilea (: puncak tertinggi: Dsyebel Dsyermak (Di Isr. sekarang ini adalah Har Meron), (1208 m). Gundukan pegunungan di sebelah selatan dibentuk oleh: (a) daerah pegunungan Samaria, yang dikelilingi oleh daerah pegunungan perbatasan (dataran tinggi Gilboa, Karmel) dan dibentuk pula oleh beberapa dataran tinggi (puncak tertinggi: Ebal 940 m dan Gerizim 868 m), kemudian (b) pegunungan Yudea, sebuah pegunungan yang berpuncak seperti sisir dengan puncak Skopus (819 m) dan puncak gunung --> Zaitun (818m). Daerah itu pada bagian timur bertahap menurun ke lembah Yordan. Pegunungan itu meniadakan --> gurun Yuda memperoleh hujan. Pada sebelah selatan Hebron pegunungan Yudea menurun dan berakhir di --> Negeb. Kemudian pada bagian barat terbentanglah --> Syefela yang merupakan peralihan menuju ke dataran pantai yang luas pada Laut Tengah. Keseluruhan daerah pegunungan itu sekaligus membentuk batas antara dua aliran air. Anak sungai Yordan lainnya pada sebelah kiri serta dipandang paling utama adalah Yarmuk dan -- Yabok. Anak sungai yang terletak pada sebelah kanan Yordan adalah Nahr-dsyalud (Dalam bahasa Isr. sekarang: Nahal Harod). Banyak jumlah lembah kering yang mengalirkan air pada musim hujan. Pada seluruh sisi barat pegunungan tidak ada sungai yang tetap mengalir. Kekurangan air itu diakibatkan dari susunan geologis tanahnya (dasarnya adalah tanah kapur yang tidak menahan air), tetapi dasar paling utama adalah cuaca kering. Hujan hanya jatuh antara bulan Oktober dan April. Gamb. 23 dan Peta PB/PL.
  2. (II). SEJARAH KEBUDAYAAN. Pengetahuan kita mengenai awal sejarah ~P sama sekali tidak bergantung dan didasarkan pada penemuan penggalian-penggalian. Kebudayaan yang merupakan sebuah kesatuan relatif di seluruh daerah antara pegunungan Amanos dan Sinai tidak memungkinkan untuk mengetrapkan pembagian politis antara Siria dan ~P di kemudian harinya bagi seluruh sejarah daerah itu. Adapun penemuan-penemuan yang dipandang utama adalah tahap-tahap sejarah tertentu yang dapat ditandai sebagai berikut: Paleolitikum (sebelum tahun 10.000 sebelum Mas.): Pemburu dan penghuni gua-gua. Kebanyakan orang Neandertal. Tetapi juga homo sapiens yang tinggal di daerah Karmel. Perlengkapan-perlengkapan dan senjata dibuat dari batu dan batu api. Mesolitikum (10.000 - 7.000): Rumah-rumah pertama. Penggunaan gandum untuk yang pertama kalinya. Penghalusan alat-alat dari batu untuk mata pisau, sabit, pucuk anak-panah dan lain-lain. Neolitikum (dasa abad 7 - 5): Pengelolaan tanah, cara hidup menetap, awal keramik, perbentengan yang pertama (--> Yerikho). Kalkolitikum (dasa abad 4): Puncak pertama di dalam kebudayaan hidup yang menetap dan pengelolaan tanah. Beberapa alat dan senjata dari perunggu. Lukisan-lukisan fresko dan warna-warni di Tetelat Ghassul. --> Ossuarium berbentuk rumah. Zaman awal perunggu (3.100 - 2.200): Pembuatan --> kota dan benteng. Pembentukan kerajaan-kerajaan kota menurut contoh-contoh bangsa asing (: titik puncaknya sekitar tahun 2600). Akhirnya secara pelan tibalah saat dihancurkannya hampir semua kota besar. Tiba pula saat penurunan kebudayaan secara umum. Keramik hitam-merah "Khirbet-kerak" (sekitar 2600) yang diberi glasur menunjukkan adanya hubungan dengan Anatolia-timur. -- Waktu perubahan menuju zaman perunggu pertengahan menunjukkan adanya kemunduran kebudayaan dan ekonomi: Timbul desa-desa kecil, tempat tinggal di alam terbuka karena hidup pengembara, pembentukan kelompok dan golongan perampok (Khabiru; kelompok --> Ibr). Zaman perunggu pertengahan dan --> akhir (1950 - 1200): Kerajaan kota yang diperkuat dengan benteng. Titik puncak kebudayaan Palestina kuno. Pengaruh dari Mesir, dari Siprus dan dari Egea. Penemuan penting perihal naskah-naskah. Naskah kutukan (sekitar 1800), naskah --> Ugarit (abad 15 - 12) dan naskah --> Amarna (abad 14). Zaman besi (1200/1150 - 600): Kota-kota besar, sebagian dengan pusat administrasi (Megido, Samaria dan lain-lain) dan dengan benteng yang kuat-kuat. Penggunaan besi untuk alat-alat dan senjata. Penemuan pelarikan. Berbagai penemuan dari --> Skarabia, meterai-meterai gulung, ukiran gading, batu manikam. Penemuan naskah-naskah: --> Ostraka dari Lakisy dan Arad. Zaman kekuasaan Persia (600 - 300): Hancurnya kebudayaan kota. Rumah-rumah kecil dan miskin. Penemuan langit-langit yang berkubah. Awal dari pengaruh Yunani. Zaman Helenis dan Romawi (300 sebelum Mas. - 300 sesudah Mas.): Pengaruh helenis menjangkau segala bidang: Keramik, kesenian, arsitektur, benteng, pembangunan kota (aturan jalan yang bersudut siku-siku), perlengkapan-perlengkapan, lampu-lampu, hiasan-hiasan dan lain-lain. Penemuan --> Kumran berasal dari zaman ini. Zaman Romawi ditandai banyak bangunan-bangunan. Dari Herodes Agung (37 - 4 Sebelum Mas.) berasal: Kenisah Agustus, forum dan stadion di Samaria; tanggul di pelabuhan, amfiteater, teater dan stadion di Kaisarea, kenisah dan benteng Antonia di Yerusalem; istana Herodes di --> Masada.
  3. (III). SEJARAH.
    1. (1) Zaman sebelum Alkitab. Surat-surat Amarna menyebutkan, bahwa ~P pada abad 15/14 sebelum Mas., terpecahbelah oleh kerajaan-kerajaan kota yang tak terhitung jumlahnya dan di dalam politik luar-negerinya berdiri di bawah kekuasaan Mesir. Setidak-tidaknya sejak Amenofis III (1402-1364) bawahan itu semakin menipis dan hanya berhenti pada sebutan melulu. Secara etnologis para penghuni ~P itu tidak satu. PL menyebutkan 3 (Kel 23:28) sampai sepuluh (Kej 15:19-21) kesatuan bangsa-bangsa. Yang paling utama di antara mereka adalah: bangsa (-->) Amori, bangsa Kanaan, bangsa Het, bangsa Hewi, bangsa Feris dan bangsa Yebus.
    2. (2) Pada zaman PL. Dengan kedatangan bangsa Isr. timbullah suatu elemen bangsa baru di ~P. Pengusiran bangsa asli berhasil secara pelan (Hak 1:16-36). Saul dan Daud baru bisa membentuk sebuah kerajaan kesatuan dari berbagai daerah suku-suku di dalam tanah itu. Salomo (sekitar 965-926) baru bisa membentuk administrasi pemerintahan atas mereka (1Raj 4:7-19). Pemisahan kerajaan (926) memecah kesatuan menjadi kerajaan kecil Yehuda di sebelah selatan dan kerajaan besar Israel di sebelah utara. Perbatasannya berubah menurut pertimbangan kekuasaan mereka. Tahun 734 Galilea jatuh, tahun 721 (setelah Samaria dikalahkan oleh Sargon II, 722-705) jatuhlah sisa bagian lain dari kerajaan utara pada Asyur. Sebagian besar penghuninya dibuang dan diganti dengan pendatang-pendatang Asyur. Raja Yosia (639-609) pada awal mulanya dapat memerintah kerajaan selatan dengan penuh hasil. Tetapi, setelah kekalahannya di Megido (609) kerajaan selatan selalu dikuasai oleh Mesir, kemudian setelah itu lalu dikuasai oleh Babilon. Pengulangan pemberontakan akhirnya mengakibatkan Yerusalem dihancurkan oleh Nebukadnezar dan orang-orang dibawa ke --> pembuangan (586). Perintah pembuangan pada zaman Koresy (559-529) mengakibatkan dibentuknya propinsi Yehud di bawah penguasa Persia. Setelah pemerintahan singkat oleh Iskandar Agung (332-323), ~P lalu jatuh ke tangan para Ptolemei, kemudian ke tangan para Seleukid (198 sebelum Mas.). Negeri itu lalu dibagi dalam eparkhi. Politik Antiokhus IV Epifanes (175-164) yang memasukkan helenisme secara paksa membangkitkan pemberontakan kemerdekaan oleh para --> Makabe yang semula bisa berhasil dengan baik. Akhirnya kekurangan kemampuan dan kejatuhan akhlak para --> Hasmonit mengakibatkan Roma turun-tangan. Pada tahun 63 sebelum Mas., Pompeius menggabungkan ~P pada propinsi Siria.
    3. (3) Pada zaman PB. Setelah berkecamuknya kekacauan-kekacauan dalam negeri secara dahsyat, akhirnya seorang Idumea yang bernama Herodes Agung (37-4 sebelum Mas.) berhasil menjadi raja dengan bantuan Roma. Daerah yang dikuasai meliputi tanah sebelah barat Yordan dan beberapa daerah di sebelah timurnya. Di sebelah selatan berbatasan dengan kerajaan bangsa --> Nabati, dan di sebelah utara dengan --> Dekapolis. Setelah Herodes meninggal, kerajaan lalu dibagi para puteranya --> Arkelaus memperoleh Yudea dan Samaria; Herodes Antipas memperoleh Galilea dan Persa, sedangkan --> Filipus memperoleh Iturea dan Trakhonitis (bdk.: Luk 3:1). Pada tahun 6 sesudah Mas., Arkelaus dipecat. Yudea dan Samaria menjadi daerah di bawah naungan administrasi Romawi. Wakil penguasa yang paling terkenal adalah Prokurator Ponsius --> Pilatus (26-36). Propinsi-propinsi yang lain berubah batas daerah. Penguasanya ditunjuk sesuai dengan kemauan Kaisar dari Roma. Pemberontakan Yahudi (66-70), yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem bersama kenisahnya. Mengakibatkan mereka kehilangan kebebasan politik untuk selamanya. Pemberontakan Bar Kokhba (132-135) tidak bisa mengadakan perubahan. Yerusalem menjadi koloni Romawi Aelia Capitolina. --> Yudaisme.

PALESTINA [browning]

Batas-batas tradisional dari Palestina Alkitab adalah *Dan di utara dan *Berseba di selatan (1Sam. 3:20), yang jaraknya kurang lebih 240 km. Di dalam negeri ini terdapat dua laut (Laut *Galilea dan *Laut Mati) yang dihubungkan oleh Sungai *Yordan yang mengalir melalui lembah yang dalam dan sering meluap. Laut Galilea (juga dikenal sebagai Genesaret atau Tiberias), kurang lebih 21 km panjang dan 12,8 km lebar, dan mempunyai ikan dalam jumlah besar yang dapat dimakan. Tetapi, Laut Mati yang jauh lebih besar berada di bawah permukaan laut dan tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup. Sungai Yordan bermula di pegunungan Libanon dan disambut oleh banyak sungai kecil, seperti Sungai Kerit (1Raj. 17:1-7). Dua lembah lagi ada di tengah negeri ini, dari *Laut Tengah di barat sampai Sungai Yordan, yaitu dataran *Megido dan Lembah *Yizreel. Deretan pegunungan yang utama, terbentang dari utara ke selatan, sedikit di sebelah barat Sungai Yordan, dari ketinggian Galilea ke padang gurun. Di balik pegunungan dekat Laut Mediterania, sebelah selatan dataran Megido, terdapat dataran yang subur, dari Filistia dan Saron, tetapi di ujung utara dataran itu dipotong oleh perbukitan *Karmel dan di tengahnya ada tembusan di Megido. Di sini ada tempat penting untuk pengawasan militer dan lalu lintas perdagangan antara *Mesir dan *Siria dan wilayah timur. Inilah medan pertempuran-pertempuran besar, seperti pada waktu *Yosia mencoba menahan tentara Mesir (2Raj. 23:29 dst.). Gunung-gunung lain yang disebut dalam Alkitab adalah *Hermon, beberapa mil dari Dan; *Tabor, di sebelah barat dari Laut Galilea dan *Sinai, sebelah selatan Palestina dan sebelah utara dari Laut Merah. Gurun di sekitar Sinai dihubungkan dengan Bersyeba oleh daerah gurun yang dikenal dengan nama *Negeb.

PALESTINA [ensiklopedia]

Istilah 'Palestina' mula-mula dipakai untuk daerah musuh-musuh Israel, yaitu orang Filistin. Nama ini pertama kali dipakai oleh Herodotus untuk menamai daerah di sebelah selatan Siria. Dengan ejaan Palaestina, istilah itu dipakai oleh bangsa Roma juga. 'Kanaan', istilah yg lebih tua, mempunyai sejarah yg serupa. Dalam Surat-surat Tell el-Amarna (abad 14 sM) istilah Kanaan terbatas hanya meliputi dataran tepi pantai, lalu dengan ditaklukkannya daerah pedalaman oleh bangsa Kanaan, istilah itu dipakai untuk seluruh tanah sebelah barat lembah Yordan. Istilah 'negeri Israel' (1 Sam 13:19) dan 'tanah yg dijanjikan' (Ibr 11:9) yg terkait dengan bangsa Israel adalah meliputi daerah yg sama, mulai dari Dan sampai Bersyeba, di sebelah utara padang gurun Negeb. Bermukimnya dua setengah suku umat Israel di sebelah timur Yordan, agaknya adalah akibat keadaan yg di luar dugaan, dan penguasaan mereka atas bagian lembah itu umumnya tidak mantap. Sesudah kerajaan Israel terbagi dua, nama Israel biasanya dikenakan kepada kerajaan utara. Dalam abad Pertengahan Eropa (kr 500-1500 M) istilah 'Tanah Suci' menjadi lazim dipakai (bnd Za 2:12).

I. Posisi Palestina dan jalan-jalan rayanya

Pandangan kuno mengenai Yerusalem sebagai pusat dunia bukanlah pikiran gila, seperti umumnya dipikirkan orang. Tanah genting Siria itu menghubungkan benua Eropa, Asia, Afrika, dan lima laut, yaitu Laut Tengah, Laut Hitam, Laut Kaspik, Laut Merah dan Teluk Persia -- di situlah bertemu benua yg paling besar di bumi menjadi tanah genting mungil. Semua jalan raya utama benua-benua tadi harus melalui tanah genting ini, dan jalur pelayaran laut dari zaman kuno antara Samudera Hindia dan Laut Tengah harus pula dilanjutkan dengan jalan darat melalui jazirah Sinai. Barisan gunung yg tinggi yg membentang ke arah timur dari Asia Kecil ke Kurdistan dan padang gurun yg meluas ke selatan dan ke timur, selanjutnya mengharuskan jalan-jalan raya itu bersatu pada dan melalui 'Tanah Sabit yg subur' (karena berbentuk sabit), melintang dari Palestina dan Siria Selatan menuju lembah tempayan Tigris dan Efrat. Daerah itu disebut 'subur' dibandingkan padang gurun dan daerah pegunungan di sekitarnya, karena bagian terbesar wilayahnya adalah tandus. Pada setiap ujung 'Tanah Sabit yg subur' itu berkembang peradaban secara luas, satu di bagian hilir (tempayan) Mesopotamia, dan satu lagi di hilir lembah Nil; negara-negara itu menguasai sejarah Asia Barat selama hampir 2.000 thn.

Tiga jalan raya perdagangan selalu menyilang tanah Palestina. Jalan Raya Utama, barangkali adalah yg dimaksud dalam Yes 8:23 sebagai jalan ke laut', yg melalui tepi pantai dari Mesir ke lembah Esdraelon. Lalu membelok ke pedalaman di dekat pegunungan Siria dengan menyusuri pantai barat Danau Galilea, kemudian melalui Pintu Gerbang Siria dan wilayah rendah pusat ke Damsyik; di sini bergabung lagi dengan jalan kafilah gurun pasir langsung ke Mesopotamia. Ada dua lagi jalan lain, termasuk jalan kuno, kendati kurang pentingnya. Satu di antaranya ialah Jalan Raja yg mengikuti tepi dataran tinggi Transyordan dari Teluk Akaba menuju Damsyik. Jalan ini menandakan suatu daerah dengan curah hujan yg lebih besar, dan sebagian dari jalan ini ditempuh umat Israel waktu keluar dari Mesir (Bil 21-22). Semua kota yg dicatat dalam Bil 21; 27-30 terdapat di jalan ini.

Batas air dari Palestina Tengah diikuti jalan yg satu lagi, yg terpendek adalah ruas jalan antara Sinai dengan Kanaan. Di Negeb Utara jalan ini menghubungkan sederetan mata air yg penting, di sebelah barat yakni daerah rendah yg kering dan tandus dari Negeb Timur, yg masih sukar diterobos. Jalan ini menghubungkan semua tempat penting yg bersejarah mulai dari Kadesy-Barnea dan Bersyeba sampai ke Hebron, Yerusalem, Sikhem dan Megido. Jalan ini ramai dilintasi sejak zaman Abraham (Zaman Perunggu Pertengahan I) dan seterusnya, lalu menjadi termasyhur karena Yosua dan teman-temannya pengintai menempuh jalan ini. Semua ruas jalan ini menekankan penyatuan tanah Palestina dari utara sampai selatan, yg mengambil untung dari hubungan dagang dan budaya yg sangat banyak memberi faedah. Tapi Israel jarang sanggup menguasai jalan jalan raya ini tanpa mengguncang pikiran dan strategi dari negara-negara besar yg menguasai pusat-pusat pertemuan jalan-jalan itu. Bahkan pada zaman raja Salomo jalan raya pantai itu terlalu kokoh dikuasai oleh negara penguasa laut, sehingga ia tak dapat menjamin kekuasaannya di sana (1 Raj 9:11; 10:22; Yeh 27:17), dan Edom menguasai jalan-jalan dari Teluk Akaba, tempat Israel menambang tembaga.

Beberapa jalan kecil melintang menyertai jalan-jalan raya yg berjajar itu. Yg terpenting di antaranya ialah: (1) Gaza-Bersyeba-Petra; (2) Askelon-Gat-Helvan; (3) Yope (Yafo)-Betel-Yerikho (bnd Yos 10:6-14) dan Yope (Yafo)Sikhem-Adam-Gilead (Yos 3:16); (4) Lembah Esdraelon-Megido-Gilead. Karena ditutupi endapan pantai dari S Nil, maka pantai Palestina sampai ke G Karmel tidak cocok untuk pengembangan pelabuhan. Karena itu kota-kota utama berada pada pusat pertemuan jalan-jalan besar, atau di dataran Esdraelon yg strategis, atau di sepanjang punggung bukit-bukit Yudea dan Samaria. Laut tidak merupakan sarana perhubungan yg disukai orang Ibrani (bnd Mzm 107), dan padang gurun ditakuti sebagai 'negeri yg penuh kesesakan dan kesempitan' (Ul 8:15; Yes 30:6). Dengan menjulang di tempat yg berbahaya itu di antara laut dan padang gurun, orang Ibrani, penghuni pegunungan itu, selamanya menjauhkan diri baik dari lingkungan itu maupun penghuni-penghuninya. Maka ciri utama watak Israel ialah berjiwa otonomi, kendati tempat kedudukan mereka berada pada pusat pertemuan jalan-jalan perdagangan dari dunia kuno.

II. Geologi

Daerah Palestina mulai dari perbatasan Mesir sampai ke Asia Kecil, yg panjangnya 675 km, terdiri dari lima wilayah utama, yaitu: (1) daerah pesisir; (2) daerah bukit barisan barat (Tanah Tinggi Yudea-Galilea; Libanon dan pegunungan Ansariya); (3) daerah lembah-lembah (Lembah Araba, Yordan, Bika dan Got); (4) daerah pegunungan timur (Tanah Tinggi Transyordan, Hermon dan Anti-Libanon); dan (5) padang gurun Negeb, Arab dan Siria. Perbedaan wilayah utara yg berlawanan dengan wilayah selatan dari bagian utama ini menjelaskan kekhususan Palestina. Wilayah utara dari Akre, lereng-lereng gunung yg terjal mencolok dari laut memenggal-menggal dataran pantai yg amat sempit itu menjadi potongan-potongan yg terpisah-pisah, tapi di situlah bermunculan pelabuhan-pelabuhan termasyhur seperti Sidon, Tirus, Beirut, Tripoli dan Ras Syamra. Daerah pedalaman yg sangat sempit dari setiap pelabuhan ini, mendorong timbulnya kota maritim yg merdeka yg menjadi tempat 'pelarian' 'kaum-kaum orang Kanaan itu' (Kej 10:18). Tapi di sebelah selatan G Karmel, daerah pantai melebar menjadi dataran yg luas dalam satu hamparan yg tidak putus-putus, tanpa pelabuhan, kecuali pelabuhan buatan karya orang-orang Filistin dan bangsa-bangsa pelaut di kemudian hari.

Kontras kedua terdapat di bagian daerah lembah. Tanah rendah Bika di Siria, yakni dataran yg luas dan subur di antara dataran tinggi Libanon dan Anti-Libanon, dengan jalan masuk yg lebar menuju dataran-dataran lain, penuh dengan tempat-tempat bersejarah seperti Kadesy, Homs dan Hamat. Di wilayah selatan, tanah rendah yg dihadang oleh lava batu basal yg belum begitu tua, menyempit menjadi mulut jurang yg dalam sebelum terbuka lebar menjadi Danau Hule, mengakibatkan perhubungan utara -- selatan menjadi sukar. Unsur-unsur ini memisahkan Palestina dari daerah bagian utara.

Gunung-gunung Palestina terutama terdiri dari batu kapur, muntahan gunung berapi seperti lapisan-lapisan muda berupa campuran tanah liat dan kapur, kerikil dan pasir. Daerah lembah menunjukkan ciri-ciri planet kuno, yg dapat dilacak sampai ke danau-danau Afrika Timur. Secara ringkas, daerah itu berperan seperti engsel; artinya, daerah-daerah di wilayah barat kebanyakan terbenam di bawah laut, sedangkan tanah kawasan Arab yg di sebelah timur umumnya adalah tanah daratan. Jadi, wilayah sebelah barat daerah lembah itu bergunung-gunung dan terutama berbatu kapur, yg khusus terjadi pada zaman Kapur (Cretaceous) dan Zaman Eosen. Beberapa bagian daripadanya keras dan mengandung kapur dolomit (Cenomanian dan Eosen), yg menerangkan keadaan tanjung G Karmel yg curam, gunung kembar Ebal dan Gerizim di atas Sikhem, dan pada umumnya semua punggung pegunungan Yudea-Galilea yg tinggi dan berbukit jurang itu.

Tapi batu kapur Senones lunak, mudah sekali dikeruk menjadi jurang-jurang dan lembah-lembah, yg membelah tanah-tanah tinggi, terutama di Megido, lembah Ayalon, parit atau terusan Bet-Semes yg memisah bukit-bukit Eosen, yg terdapat pada Daerah Bukit, dari dataran tinggi Yudea. Batu kapur ini meninggi ke atas pada punggung gunung di bagian tengah dan membungkuk dengan indah menjadi deretan kubah, yg menjadi lebih berliku-liku lebih jauh ke utara di Samaria dan Galilea. Tapi di Transyordan batu kapur yg sama mendatar di atas landasan benua, yg ada di bawahnya. Landasan benua yg kuno ini kelihatan di bagian tenggara dalam bentuk bukit curam, yg tinggi di Wadi Araba dan Jazirah Sinai. Yg menindih lapisan batu-batu karang ini ialah apa yg disebut batu pasir Nubia, yg berasal dari padang pasir dan meliputi zaman geologi yg panjang; asalnya inilah mungkin menerangkan warna merah, yaitu nama yg dimiliki Edom, dan dari situlah mungkin nama itu ('yg merah'). Di sebelah timur, lava batu basal yg muda menutupi batu kapur di dataran tinggi yg luas dan bergelombang yg terdapat di tanah Basan, dan yg meluas sampai ke lembah Yordan sekeliling Danau Galilea. Lava batu basal ini berubah menjadi tanah-tanah subur, yg sejak dari zaman dahulu menarik penduduk ke pantai Galilea.

Di Palestina kerak bumi sering berubah-ubah. Muntahan-muntahan gunung berapi berjalan terus sampai kepada masa sejarah manusia, terutama ihwal Harat en-Nar, bagian tenggara Teluk Akaba, yg masih berapi sampai abad 8 dan 13 M. Kel 19:18 dan Mzm 68:9 sangat menggoda kita untuk menyamakannya dengan gejala-gejala gunung berapi, tapi tempat Sinai tradisional terdapat di suatu daerah pegunungan yg berunsur hablur kuno, yg di situ tak pernah terjadi letusan muda gunung berapi. Nasib Sodom dan Gomora (Kej 14:10; 19:23-28) memang merupakan ingatan akan suatu letusan gunung berapi, yg mungkin disertai gangguan gas belerang dan aspal cair. Ada juga catatan Alkitab mengenai gempa bumi (Kej 19:25; 1 Sam 14:15; Am 1:1) dan tanah yg retak atau terbelah (Bil 16:31-35). Semua keadaan ini dihubungkan dengan Daerah Jurang Besar sepanjang Yordan dan Laut Mati, atau dengan deretan retakan-retakan tanah yg melintang, yg menjadikan Lembah Esdraelon dan membagi daerah Samaria dan daerah Galilea menjadi tanah-tanah tinggi yg berderet-deret pada satu pihak, dan pada pihak lain lembah-lembah yg di dalamnya terdapat endapan-endapan tanah.

Dalam keadaan semi gersang ini, bukit-bukit tanpa tanah menjadi ciri khas, terutama sekitar tepi jurang sebelah timur dan selatan tanah tinggi Yudea dan tepi barat dataran tinggi Transyordan. Di lembah Yordan yg dalam itu terdapat campuran tanah liat dengan kapur yg halus, di dalam suatu danau yg lebih luas dari Laut Mati yg sekarang. Tanah itu terbelah dua membentuk lembah Gor di tengah-tengahnya, yg letaknya lebih dari 365 m di bawah permukaan laut. Wadi-wadi, yg mempunyai air pada saat-saat tertentu saja, dan yg airnya mengalir ke lembah Araba, membelah dalam lereng-lereng jurangnya. Jadi ay-ay Alkitab yg bicara tentang 'jalan jalan yg licin', menghunjuk pada ciri khas dari banyak tempat di Negeb dan Yordan (Ul 32:35; Ams 3:23; Yer 23:12; 31:9). Bagian terbesar Negeb adalah daerah batu tandus tanpa tanah, dan ada ay-ay yg langsung membicarakan tumpukan tanah liat yg dibawa angin (Kel 10:20-23; Ul 28:24; Nah 1:3).

III. Iklim dan tumbuh-tumbuhan

Di Palestina terdapat tiga bagian daerah iklim: 1. Daerah iklim Laut Tengah; 2. Daerah iklim padang tandus (stepe), dan 3. Daerah iklim padang gurun. Masing-masing mempunyai jenis tumbuh-tumbuhannya. Sepanjang tepi pantai ke arah selatan sampai di Gaza, daerah iklim Laut Tengah mempunyai musim dingin yg sedang (12¦ C rata-rata pada Januari di Gaza), dibandingkan dengan keadaan yg lebih dingin di bukit-bukit bagian pedalaman (Yerusalem 70¦ C pada Januari). Tapi musim panas di mana pun sama-sama panas (di Gaza 26¦ C, Juli, dan di Yerusalem 23¦ C). Salju yg terus-menerus menutupi gunung-gunung Libanon yg tinggi (Yer 18:14) termasuk kekecualian, walaupun salju tidaklah jarang di Hauran. Di tempat lain salju** merupakan gejala yg agak ganjil (2 Sam 23:20). Kurang dari 1/15 bagian dari curah hujan tahunan terjadi dalam musim panas, mulai dari Juni sampai Oktober, hampir semua curah hujan terjadi pada musim dingin, dan maksimumnya pada pertengahan musim dingin. Curah hujan bervariasi dari kr 350-400 mm di tepi pantai, sampai kr 750 mm di G Karmel dan pegunungan Yudea, Galilea dan Transyordan.

\\==> Image 00220\\

Di sekitar Bersyeba ke arah selatan, dan di bagian-bagian lembah Yordan dan bagian dataran tinggi Transyordan, iklimnya ialah iklim padang tandus, dengan curah hujan hanya 200-300 mm, walau keadaan suhu dapat dibandingkan dengan suhu di pegunungan Yudea. Lembah Yordan yg dalam itu mempunyai iklim subtropis dengan sengat terik matahari pada musim panas; di Yerikho suhu maksimum rata-rata harian tetap di atas 38¦C dari Juni-September, dengan sering suhu tertingginya 43-49¦C. Tapi musim dingin mempunyai suhu yg enak antara 18-20¦ C (suhu maksimum rata-rata harian pada Januari). Di Negeb, dan bagian selatan lembah Yordan, dan daerah sebelah timur dan selatan padang tandus Transyordan terdapat iklim padang gurun, dengan curah hujan kurang dari 200 mm setahun.

Bahwa terjadi perubahan iklim sejak zaman Alkitab tidak ada bukti yg mendukungnya. Dekat Teluk Akaba, beberapa parit dari zaman Roma yg baru-baru ini digali, masih tetap cocok dengan mata air, yg untuknya parit-parit itu dibuat dahulu. Dan di mana saja sumur di Negeb dari Zaman Bizantiun yg masih tetap dipelihara bersih dan masih dipakai, airnya tetap mencapai permukaan seperti dahulu kala. Jadi berita Alkitab memberikan gambaran yg meyakinkan mengenai iklim sekarang ini. Musim panas dibedakan dari musim dingin (Kej 8:22; Am 3:15), dan permulaan hujan musim rontok (hujan akhir musim) dengan jelas diterangkan (Ul 11:14; Hos 6:3; Yl 2:23). Variasi curah hujan dan banyaknya curah hujan termasuk hal biasa (Am 4:7), dan terjadinya masa kekeringan yg lama pada beberapa waktu ada tercatat (1 Raj 17:7; Yer 17:8; Yl 1:10-12, 17-20).

Karena perbedaan tinggi rendahnya tanah Palestina, dari 1.020 m di atas permukaan laut dekat Hebron, sampai 390 m di bawah permukaan laut pada Laut Mati, dunia tumbuh-tumbuhan Palestina sangat kaya (kr 3.000 macam tumbuh-tumbuhan yg mempunyai pembuluh) untuk suatu daerah yg begitu kecil. Sebagian besar tumbuh-tumbuhan itu termasuk tanaman tahunan. Hanya sedikit daerah yg pernah mempunyai hutan yg lebat, tapi sisa-sisanya masih terdapat di G Hermon di Libanon dengan pohon aras, pohon sanobar, pohon besar (1 Taw 10:12; Yes 6:13) dan pohon berangan dan di daerah Golan (Jaulan) yg disebut dalam Alkitab, yg di situ masih terdapat hutan berangan dan hutan pohon-pohon besar (beringin). Libanon selalu terkenal karena kayu arasnya. Orang Israel turut dalam penebangan hutan-hutan yg dulu pernah memenuhi pegunungan di bagian tengah (Yos 17:18), dan sekarang ini tak ada lagi tanda-tanda dari daerah hutan yg pernah ada di Betel (2 Raj 2:24), di Efraim (Yos 17:15), dan di Gilead dekat lembah Yordan.

Hutan pohon-pohon besar lama terdapat di Saron, dan nama ini berarti hutan. Tapi nubuat Alkitab mengungkapkan tiga daerah hutan akan berganti menjadi padang rumput bagi kambing domba, yaitu tepi pantai Saron, bagian utara Galilea dan bagian tenggaranya (lih Yes 65:10). Perkembangan peternakan bertanggung jawab mengenai penebangan hutan-hutan di Palestina (bnd 2 Raj 3:4). Tapi keadaan Laut Tengah mengakibatkan 'rumput padang gurun' berumur pendek, justru Rabi Akiba (kr 100 M) menyatakan dengan tegas, bahwa 'orang-orang yg memelihara ternak kecil dan menebang pohon-pohon yg baik ... tidak akan melihat tanda-tanda berkat'.

Keadaan rumput semak-semak di tanah-tanah perhutanan di Palestina makin memburuk sebelum berdirinya negara Israel baru pada thn 1948. Bagian terluas dari tanah yg tidak diolah terdiri dari padang batha yg sangat menyedihkan, yaitu semacam semak yg pendek, yg tumbuh pada tanah batu-batuan yg sudah mulai muncul ke atas. Mendekati tanah tandus dan padang gurun, keadaan pemandangan lebih diwarnai oleh daerah batu-batuan daripada tanaman yg tumbuh, dengan sedikit unsur semak-semak, seperti ipuh, kayu arar dan gelang laut, dan kelompok-kelompok rumput xerofitis. Hanya sepanjang tepian Yordan ada hutan-hutan yg agak lebat dan luas, yg terdiri dari berbagai pepohonan.

Tapi banyak dari perbukitan Palestina, yg tanah gemuknya sudah habis terkikis karena erosi, menjadi kuburan dari peradaban zaman dahulu, terutama karena hilangnya pengolahan tanah yg bertangga-tangga. Ada perkiraan yg mengatakan, bahwa sejak zaman kerajaan Roma 2.000-4.000 juta meter kubik tanah telah hilang dari bagian timur pegunungan Yudea, dan tanah ini cukup untuk membuat 4.000-8.000 km persegi tanah yg baik untuk ditanami. Ancaman dari erosi tanah ini barangkali digambarkan dalam Ayb 14:18-19, dan mudahnya api menjalar waktu musim panas dan kering digambarkan dalam Mzm 83:15.

Ciri-ciri dari ketidakseimbangan iklim Laut Tengah ini memaksakan perlunya keseimbangan dan pengekangan, di suatu negeri yg terletak di antara padang gurun dan tanah yg diolah (Kel 23:29-30; Ams 24:30-34). (*ANGIN; *HUJAN; *EMBUN.)

IV. Pengadaan air pertanian

Tidaklah begitu saja ada lebih 70 nama tempat di Palestina yg mengandung kata 'ain, yg artinya 'mata air atau sumber air', dan 60 lagi tempat lain yg memakai kata bir, yaitu 'sumur'. Kecuali S Yordan, beserta beberapa anak sungainya dan empat atau lima sungai kecil di pantai yg airnya berasal dari mata air, maka semua sungai di Palestina bergantung pada musim hujan. Sungai-sungai yg airnya berasal dari pegunungan bersalju, membuat airnya paling banyak pada bulan Mei-Juni (Yos 3:15), tapi kebanyakan menjadi kering karena kepanasan pada musim panas (1 Raj 17:7; Ayb 24:19; Yl 1:20), terutama di gurun Negeb (Mzm 126:4). Dengan turunnya hujan musim gugur terjadilah banjir tiba-tiba, dan hal itu digambarkan dengan jelas (Hak 5:21; Mat 7:27). Maka 'sumber air yg hidup' adalah yg dicita-citakan oleh pemukim Israel. Penemuan semacam lumpang, yg dapat dipakai dalam membuat kolam penampung air hujan (kr thn 1300 sM), mungkin sekali menjadi faktor yg menentukan dalam pemukiman tanah tinggi Yudea dengan cepat oleh pemukim-pemukim Israel. Sumur-sumur, yg digali untuk memberi minum kambing domba, sudah sejak dahulu diketahui (Kej 26, dll) dan begitu juga pengairan ladang (Kej 13:10). Tempat persediaan air untuk kebutuhan penduduk kota sering juga disebut (Kid 7:4), dan ada di antaranya yg mendapat air dengan menembus gunung batu dan sangat mengagumkan (2 Raj 20:20). Kebutuhan akan air sering memberi pelajaran moral bagi orang Israel (Ul 8:7-10; 11:10-17; 1 Raj 18; Yer 2:13; 14:22).

Paling tidak sebelum berdiri Kerajaan Israel, para petani penduduk Palestina Tengah terdiri dari petani-petani kecil. Basil khas daerah itu digambarkan dalam hadiah-hadiah yg diberikan Abigail kepada raja Daud (1 Sam 25:18). Bahwa di Yudea hasil jelai lebih utama dari hasil gandum adalah karena curah hujan yg begitu kecil, dan Karmel termasyhur karena buah anggurnya, Efraim dan Galilea karena buah zaitunnya, semuanya itu dibenarkan sejak zaman Alkitab. Tapi musim kemarau cenderung menimbulkan hutang dan perbudakan, sehingga, walaupun cita-cita demokrasi dibayangkan dalam tahun Yobel (Im 25), tanah milik kerajaan, pemilikan tanah yg luas dan kerja paksa sudah timbul pada zaman Saul. Di Transyordan dan Negeb agaknya hidup penggembalaan secara tradisi sudah didampingi oleh usaha pertanian yg menetap, jika ada sumur-sumur dan oase yg mengizinkannya. Tapi mundurnya pertanian selalu diakibatkan oleh penyediaan lahan yg tidak seimbang dengan pertambahan kambing domba, lepas dari serangan-serangan yg lebih berbahaya yg datangnya dari padang gurun.

V. Permukiman

Masalah utama dalam sejarah geografis daerah Palestina ialah penentuan nama-nama tempat. Ada kr 622 nama tempat di sebelah barat Yordan yg dicatat dalam Alkitab. Daftar kota dari raja-raja Tutmosis III, Setos I, Rameses II dan Syesyong I di Karnak hanya memberi sedikit penjelasan mengenai topografi Palestina. Kitab Onomasticon (buku mengenai nama-nama) dari Eusebius dan Yerome merupakan sumber lain yg berharga. Kerja R Reland (1714) merintis jalan untuk kerja topografi modern dari Dr Edward Robinson, sewaktu ia mengunjungi Palestina thn 1838. Ia tentukan 177 nama tempat, dan hanya sedikit dari situ yg kemudian diubah. Pada thn 1865 terbentuklah Dana Penelitian Palestina (Palestine Exploration Fund), dan menjelang thn 1927 telah ditentukan kr 434 nama tempat; Conder, secara khusus menambah 147 nama baru. Beberapa di antaranya masih diperdebatkan, dan ahli-ahli modern terus meninjau kembali beberapa nama itu.

Penemuan-penemuan yg mencengangkan dari Nona K Kenyon di Yerikho menunjukkan, bahwa sudah ada di sana yg menyerupai kehidupan kota sejak thn 6000-8000 sM, berupa suatu tempat yg kr 3,2 ha luasnya dihuni oleh kr 3.000 penduduk. Memang, Iembah Yordan agaknya dari zaman purba merupakan permukiman yg padat. N Glueck mencatat di sana kr 70 tempat, semuanya didirikan lebih 5.000 thn lalu, dan lebih 35 di antaranya masih dihuni menjelang zaman umat Israel. Baru kemudian hari lembah yg begitu menarik dalam penglihatan Lot (Kej 13:10) menjadi lengang, mungkin karena timbulnya penyakit malaria. Pernah dikatakan, bahwa beberapa dari yg disebut Tel, merupakan bukit buatan, yg dibangun dengan sengaja lebih tinggi dari tanah rawa-rawa, walaupun kemudian ditambah karena pendudukan di kemudian hari. Tapi di mana pun, adanya persediaan air selalu merupakan faktor yg menentukan untuk permukiman. Kota-kota dan benteng yg diperkokoh dibangun di tempat-tempat penting, yaitu di dekat mata air yg terus mengeluarkan air seperti Yerikho, Bet Sean dan Afek (termasyhur karena perang Israel melawan orang Filistin). Memang, itu kesimpulan, bahwa tempat-tempat yg mempunyai banyak mata air biasanya mempunyai pemukim yg terus-menerus sejak zaman purba.

Sepanjang daerah dataran pantai sebelah selatan G Karmel, sejak dahulu kala penduduknya agak padat, yg dimungkinkan oleh mudahnya menggali sumur menembus lapisan tanah pasir sampai ke bedeng-bedeng tanah liat yg berbentuk lensa, yg mengandung persediaan air. Lebih jauh ke utara di Lembah Saron dan Galilea Hulu, kendati persediaan airnya berlimpah-limpah tapi karena hutannya lebat mengakibatkan orang sukar menghuninya sampai abad-abad terakhir ini. Di Galilea Hilir, sepanjang aliran sungai dan daerah Samaria, penduduknya sudah sejak lama padat, tersebar di banyak desa, tapi wilayah selatan Yerusalem desa-desanya menjadi berkurang dan berkumpul di pusat. Sekitar Bersyeba permukiman terbatas hanya sampai tempat-tempat strategis yg diperkokoh. Di Transyordan pinggiran dataran tingginya ditandai sejumlah benteng seperti Petra, Bozra (Buseira) dan Tofel (Tafileh).

Lewat kota-kota ini ke arah timur terdapat jalur jalur tanah pertanian yg sempit dengan desa-desanya yg terpencar, dan Jalan Raya Raja melintasi desa-desa ini. Dalam lingkungan permukiman ini, yg umumnya ditentukan oleh adanya persediaan air, timbullah kota-kota yg strategis dan yg terpenting pada persilangan jalan. Bila di dekatnya ada jalan pegunungan, maka jalan-jalan lintang dapat menghubungkan kota-kota itu dengan jalan raya utama yg membujur dari utara ke selatan. Kota-kota seperti itu pada zaman Alkitab antara lain adalah Bersyeba, Hebron, Yerusalem, Betel, Sikhem, Samaria, Megido, Bet-Sean dan Hazor. Justru pemazmur berseru, 'Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yg lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang' (Mzm 107:7).

VI. Daerah-daerah Palestina

Banyak hal yg layak diteliti, sebanyak daerah yg dapat disebut oleh seorang ahli ilmu bumi; jadi tidak masuk akal bila dikatakan bahwa batas daerah-daerah dalam lingkungan Palestina berlaku terus. Tapi beberapa daerah tertentu tampil berulang-ulang dalam sejarah Palestina dan hal ini patut diakui. Pembagian wilayah secara umum seperti disinggung adalah dataran tepi pantai, tanah pegunungan di bagian tengah, Daerah Jurang, dataran tinggi Transyordan dan padang gurun.

Dataran tepi pantai membujur, panjangnya kr 200 km mulai dari perbatasan Libanon sampai ke Gaza, yg dibendung oleh G Karmel di utara. Ke sebelah utaranya membentang dataran Asyer sepanjang 40 km sampai ke Tangga Tirus kuno; di situlah berjejal bukit-bukit Galilea sampai dekat ke tepi pantai. Tak ada peranan daerah ini dalam hidup Israel, tapi daerah di tenggaranya, lembah Yizreel dan dataran Esdraelon mempunyai arti yg utama. Daerah ini terhampar sejauh 50 km ke pedalaman dengan lebarnya yg terbesar 20 km dan inilah merupakan jalan utama dari Mesir ke Damsyik dan ke utara. Di sepanjang daerah inilah terletak pusat-pusat yg strategis seperti Megido, Yizreel dan Bet-Sean, yg termasyhur dalam banyak peperangan Israel (Hak 5; 7:1; 1 Sam 29:1; 31:12), dan menurut nubuat akan menjadi pusat peristiwa-peristiwa pada masa datang (Why 16:16). Di selatan G Karmel, yg menaungi dataran Dor yg sempit, terdapat dataran Saron, dengan kelima kubu besar orang Filistin yaitu Ekron, Asdod, Askelon, Gat dan Gaza. Dan di sebelah timur, dataran Saron ini meleburkan diri dengan Daerah Bukit (Syefela), suatu daerah penyangga di antara Israel dan Filistin. Dahulu kala gunung-gunung mi ditumbuhi dengan lebat oleh pohon ara (1 Raj 10:27; 2 Taw 1:15; 9:27), di silang oleh lembah-lembah sempit, tempat-tempat perjuangan Israel pada zaman itu sejak zaman Hakim-hakim sampai kepada raja Daud, terutama Ayalon (Yos 10:10-15; 1 Sam 14:31), Sorek (Hak 16), dan Ela (1 Sam 17:1-2).

Pegunungan yg di tengah yg membujur sepanjang 300 km dari Galilea Utara sampai ke Sinai, terdiri dari bukit-bukit dan dataran-dataran tinggi. Di selatan, wilayah Yehuda terdapat bukit-bukit yg bergelombang indah kecuali di bagian timur; di sana bukit-bukit kapur yg terdapat di gurun Yehuda itu, yg dikorek dalam-dalam, dengan terjalnya menurun ke Daerah Jurang. Bagian utara dataran tinggi Yudea ini bergabung dengan bukit-bukit Efraim, dengan jalan-jalan lintangnya yg baik, tapi di sebelah utara, pegunungan Samaria, menurun lebih 1.000 m sampai rata-rata 300 m di tanah belanga yg di tengah-tengah; di situlah terdapat tempat-tempat yg disebut Alkitab: Gibea, Salem, Sikhem dan Sikhar. Di atas semua ini menjulanglah ke atas G Ebal (945 m) dan G Gerizim (890 m). Bersama dengan tanah belanga lain yg subur, tanah Samaria terbuka bagi pengaruh-pengaruh dari luar, dan imannya cepat luntur. Di sebelah utara dari dataran Esdraelon terletak Galilea, yg terbagi menjadi Galilea selatan atau hilir, yg pemandangannya sama dengan tanah Samaria, dan Galilea utara atau hulu, gunung-gunungnya sampai 1.000 m. Di antara tepi pantai dan daerah Danau (Galilea), banyak tanah belanga, terutama Nazaret, mempunyai jalan tembus yg baik dan tumbuh-tumbuhan yg kaya yg berpenduduk padat pada zaman Tuhan Yesus.

Sambil membelah dua Palestina sepanjang 100 km, S Yordan menelusuri Daerah Jurang. Di utaranya terdapat Danau Hule dan Danau Galilea, dikelilingi oleh gunung-gunung yg tinggi, terutama G Hermon, sumber air S Yordan (Ul 3:9; 4:48). Di sebelah hilir tanah belanga Hule, S Yordan menembus bendungan batu basal, yg dulu menghalangi menurunnya lembah ke bawah, melalui suatu jurang untuk memasuki Danau Tiberias atau Danau Galilea, 200 m di bawah permukaan laut. Sedikit di sebelah hilir air S Yarmuk bergabung dengan air S Yordan, dan lembah itu lambat laun semakin lebar menuju ke selatan ke Laut Mati. Di sebelah selatan karang-karang 'Ain Kanezer mulailah lembah Araba, menghampar sejauh 160 km ke Teluk Akaba, suatu padang gurun, yg dikawal dinding lereng yg panjang dan besar dari dataran tinggi Transyordan. Ke sebelah barat menghampar daerah perbukitan yg tandus dari Negeb tengah beserta dataran-dataran tandusnya ke arah Bersyeba. Ke sebelah timur lewat tepi dataran tinggi Transyordan menghampar sederet daerah yg terkenal dalam zaman Alkitab: dataran tinggi Basan, di sebelah timurnya berada gua-gua gunung berapi yg besar pada G Jebel Druze; Gilead yg terletak di suatu kubah raksasa yg lonjong, besarnya 55 x 40 km dan termasyhur karena hutan-hutannya (Yer 22:6; Za 10:10); tanah tandus Amon dan Moab yg datar; dan di sebelah selatan lembah Zered (Ul 2:13; Yes 15:7) tanah landasan Edom, yg secara geologi patah dan miring, dengan kubu-kubunya yg tak dapat direbut. Lewat daerah itu di sebelah timur dan selatan terdapat padang gurun; tanah dataran tinggi yg terdiri dari batu-batu besar dan pasir, yg ditiup oleh angin panas.

KEPUSTAKAAN. F. M Abel, Geographie de la Palestine, 1937 (2 jilid); D Baly, The Geography of the Bible2, 1974; G Dalman, Sacred Sites and Ways, 1935; M du Buit, Geographie de la Terre Sainte, 1958; N Glueck, The River Jordan, 1946; W. J Phythian-Adams, 'The Land and the People' di A Companion to the Bible (red T. W Manson), 1944, hlm 133-156; A Reifenberg, The Struggle between the Desert and the Sown in the Levant, 1956 G. A Smith, The Historical Geography of the Holy Land25, 1931; National Atlas of Israel (dlm bh Ibrani), dalam penerbitan sejak thn 1958. JMH/MHS/HAO




TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.05 detik
dipersembahkan oleh YLSA