Topik : Pujian bagi

4 November 2002

Berhala Dalam Hati

Nats : Orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya (Yehezkiel 14:3)
Bacaan : Yehezkiel 14:1-8

Ketika saya dan suami saya pergi mengabarkan Injil untuk pertama kalinya, saya prihatin melihat maraknya materialisme di masyarakat kami. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya pun bisa menjadi orang yang materialistis. Lagi pula, bukankah sewaktu kami pergi untuk mengabarkan Injil, kami pergihampir tanpa membawa apa-apa? Bukankah kami harus tinggal di apartemen kuno yang tak terpelihara dengan perabotnya yang sudah usang? Saya pikir materialisme tidak bisa menyentuh kami.

Namun, perasaan tidak puas perlahan-lahan mulai berakar dalam hati saya. Tak lama kemudian, saya mulai memimpikan benda-benda bagus dan diam-diam merasa kesal karena tidak dapat memiliki benda-benda tersebut. Suatu hari, Roh Allah membuka mata saya terhadap suatu pemahaman yang menyentak. Materialisme tidak harus berarti memiliki harta benda, tetapi dapat berupa keinginan untuk memilikinya. Saya terpaku karena merasa bersalah telah bersikap materialistis! Tuhan telah menunjukkan bahwa ketidakpuasan saya telah menjadi berhala dalam hati saya. Hari itu saya menyesali dosa yang tidak kentara ini, dan saat itu juga Allah kembali menguasai hati saya sebagai singgasana-Nya yang sah. Sudah tentu saya merasakan kepuasan yang mendalam, bukan karena harta benda, melainkan karena Dia.

Di zaman Yehezkiel, Tuhan pun menunjukkan penyembahan berhala di hati umat-Nya (Yehezkiel 14:3-7). Dan sekarang, Dia rindu melihat kita membersihkan hati dari segala yang merusak kepuasan kita akan Dia —Joanie Yoder

27 November 2002

Yang Terpenting

Nats : Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! (Mazmur 30:5)
Bacaan : Mazmur 30

Saat badai tornado dahsyat menerjang daerah Will County, Illinois, seorang ayah muda sedang duduk sambil menimang bayinya yang baru berusia 3 minggu. Setelah angin ganas yang menderu-deru itu reda, dan keadaan mulai tenang, rumah laki-laki itu telah lenyap, begitu pula bayinya. Namun, menurut sebuah laporan berita, ia berhasil menemukan bayinya di lapangan dekat rumahnya dalam keadaan hidup dan selamat! Begitu pula dengan anggota keluarganya yang lain.

Ketika ditanya seorang reporter apakah ia marah karena kehilangan segala harta bendanya, ia menjawab, "Tidak, saya justru bersyukur karena bayi dan keluarga saya selamat. Sebagian orang tidak seberuntung saya. Tak ada lagi yang lebih penting dari itu semua."

Sering kali suatu tragedi berguna untuk mengingatkan kita akan apa yang sesungguhnya penting dalam hidup ini. Ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, dengan mudah kita terbuai oleh apa yang kita miliki. Kita menjadi terikat dengan begitu banyak hal yang tidak penting dan tidak berguna. Kita terlalu asyik dengan mobil, rumah, perabotan, alat-alat rumah tangga, pakaian, dan segala gemerlap kehidupan modern yang tidak terhitung banyaknya. Namun, saat semuanya lenyap, dan yang tertinggal hanyalah hal-hal yang penting, seperti pada kejadian badai tornado di Illinois, kita serasa diingatkan kembali bahwa kehidupan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk memuliakan Allah.

Sudahkah Anda meluangkan waktu pada hari ini untuk memuliakan Allah atas anugerah kehidupan dan orang-orang tempat kita saling berbagi? Itulah yang terpenting –Dave Branon

28 November 2002

Kasih yang Tak Berkesudahan

Nats : Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia- Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib (Mazmur 107:21)
Bacaan : Mazmur 107:21-31

Setelah mengunjungi istrinya di ruangan khusus penderita Alzheimer, Pendeta (Em.) Browning Ware yang sudah emeritus menggambarkan situasi saat ia dan para sahabatnya akan meninggalkan tempat itu: "Kami saling berpelukan dan berdoa sambil bergandengan tangan. Begitu banyak hal yang patut disyukuri! Saya bersyukur atas keluarga, teman, dan atas kasih-Nya yang begitu besar, yang membebaskan kami bahkan saat kami terjebak dalam situasi yang mencekam."

Saat kita berhenti sejenak untuk mensyukuri segala berkat Allah, alangkah baiknya jika kita mengingat bahwa harta kita yang paling berharga adalah kasih-Nya yang tak berkesudahan. Sering kali ucapan syukur kita mengalir seiring dengan pasang-surutnya kondisi kesehatan dan keuangan kita. Kita menyamakan berkat Allah dengan kebebasan dari penderitaan dan kesedihan. Namun, melalui iman dan pengalaman, kita belajar bahwa kasih Allah yang besar bagi kita sebagaimana yang diungkapkan dalam diri Yesus Kristus mampu menenangkan hati dan pikiran kita, bahkan dalam situasi paling berat sekalipun.

Dalam Mazmur 107, ayat ini diulang hingga empat kali, "Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia" (ayat 8,15,21,31). Bahkan saat hidup begitu menyesakkan, kita dapat berseru kepada Tuhan. Dia akan membebaskan kita dari kecemasan kita (ayat 6,13,19,28).

Bukan kesehatan atau kekayaan, melainkan kasih Allah yang tak berkesudahan membebaskan kita dari segala situasi hidup –David McCasland

14 Desember 2002

Layak Dipuji

Nats : Aku mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta (Wahyu 5:11)
Bacaan : Wahyu 5

Paduan Suara Symphonic dan Orkestra Grand Rapids Symphony menggelar konser Natal tahunan. Menjelang akhir pertunjukan, bersama-sama dengan 4.000 penonton, mereka bernyanyi, "Kesukaan bagi dunia, Tuhan sudah datang! Bri hatimu kepada-Nya." Hati saya bergetar saat mendengar baris terakhir, "Nyanyi, nyanyi s’kalian alam."

Meskipun suasana saat itu begitu megah, tetapi itu barulah bayangan samar-samar dari pujian yang akan dinaikkan bagi Anak Domba di surga. Yesus layak menerima pujian dan penyembahan dari segala makhluk: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!"( Wahyu 5:12).

Dalam Wahyu 5, kita dapat membaca gambaran Yohanes tentang semakin banyaknya makhluk yang memberikan pujian bagi Tuhan. Puji-pujian itu dimulai oleh "keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua"(ayat 8). Lalu bergabunglah bersama mereka para malaikat yang jumlahnya "berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa" (ayat 11).

Namun tidak hanya itu. Setiap makhluk di surga, di bumi, dan di laut suatu hari kelak akan bersama-sama menyanyi, "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" (ayat 13)

Anda tidak perlu menunggu hari itu tiba untuk melantunkan pujian bagi Anak Domba. Dia layak menerima pujian Anda, sejak saat ini! –Dave Egner

20 Mei 2003

Pujian Saat Berperang

Nats : Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap ... orang- orang ... yang hendak menyerang Yehuda (2Tawarikh 20:22)
Bacaan : 2Tawarikh 20:1-22

Mengunjung Museum Militer di Istanbul, Turki dapat mendengar gegap gempita musik yang berasal dari tahun-tahun awal Kekaisaran Ottoman. Setiap kali pasukan mereka maju perang, mere-ka diiringi oleh band- band musik.

Berabad-abad lalu, para pemimpin pujian juga berjalan di depan orang-orang Yudea saat menuju medan perang. Namun, ada satu perbedaan besar antara mereka dengan para serdadu Ottoman. Orang- orang Ottoman memakai musik untuk membangkitkan rasa percaya diri para tentara, tetapi orang-orang Yahudi menggunakannya untuk menyatakan ke-percayaan mereka kepada Allah.

Karena mendapat ancaman dari laskar yang besar, Raja Yosafat dari Yudea sadar bahwa tentaranya tidak cukup kuat untuk mempertahankan diri. Maka, ia berseru memohon pertolongan Allah (2Tawarikh 20:12). Jawaban Tuhan datang melalui Yahaziel yang berkata, "Ja-nganlah kamu takut dan terkejut ..., sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah" (ayat 15).

Yosafat menanggapinya dengan menyembah Tuhan dan ke-mudian menunjuk para penyanyi untuk berjalan di muka pasukan tentara (ayat 18-21). Ketika orang-orang mulai menyanyi, "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi Tuhan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (ayat 21), Allah mengacaukan para penyerang dan mereka malah saling membunuh (ayat 22-24).

Apa pun perang yang kita hadapi, Tuhan akan menolong saat kita berseru kepada-Nya. Daripada mundur ketakutan, lebih baik kita maju dengan penuh kepercayaan pada kekuatan Allah dan menya-nyikan pujian bagi Dia --Julie Link

11 Juli 2003

Kidung Pujian

Nats : Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh (Mazmur 149:1)
Bacaan : Mazmur 149

Musik adalah salah satu anugerah dalam hidup yang sudah dianggap biasa. Meskipun begitu, seperti yang kerap terjadi, manusia berdosa telah menggunakan anugerah Allah ini untuk berbagai tujuan buruk. Di zaman sekarang, kita sangat menyadari penyalahgunaan musik, misalnya dengan adanya berbagai lirik lagu yang memalukan. Bagaimanapun juga, musik yang baik merupakan anugerah dari Tuhan. Musik dapat menenangkan hati yang sedang gundah. Musik dapat memotivasi kita untuk hidup bagi Kristus, dan melalui musik kita dapat mengangkat hati dalam pujian kepada Tuhan. Tanpa musik, kita bisa menjadi sangat tidak bersemangat.

Sebuah legenda Yahudi kuno mengisahkan bahwa setelah menciptakan dunia, Allah memanggil para malaikat dan menanyakan pendapat mereka. Salah satu malaikat itu berkata, "Hanya satu yang kurang, yaitu suara pujian bagi Sang Pencipta." Maka Allah pun menciptakan musik, yang terdengar melalui desiran angin dan nyanyian burung. Allah juga memberikan karunia pujian itu kepada manusia. Dan di sepanjang masa, musik telah memberkati begitu banyak orang.

Nyanyian pujian kepada Allah berguna untuk memuliakan Tuhan, memperhalus budi saudara-saudari kita dalam Kristus, dan membawa sukacita bagi kita. Saat kita bergabung dengan orang-orang kristiani lainnya dalam pujian, hal itu harus diiringi dengan pengertian yang telah diperbarui tentang musik. Jadi, marilah kita menyatukan suara dengan orang-orang percaya lainnya, dan menaikkan hati dalam pujian, kapan pun kita berkesempatan untuk itu --Richard De Haan

23 November 2003

Pujian Sepenuh Hati

Nats : Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! (Mazmur 47:8)
Bacaan : Mazmur 47

Saya bertanya-tanya apa yang Allah pikirkan mengenai cara kita bernyanyi di gereja. Yang saya maksudkan bukan mengenai kualitas suara, melainkan ketulusan ucapan kita. Jika kita mau jujur, judul nyanyian pujian yang diplesetkan berikut ini mungkin lebih tepat mengungkapkan isi hati kita saat menyanyikannya:

"Sebagaimana Adanya Aku" menjadi "Bukan Aku yang Sebenarnya". "O Betapa Aku Mengasihi Yesus" menjadi "O Betapa Aku Menyukai Yesus." "Aku Serahkan Segalanya" sebenarnya adalah "Aku Serahkan Sebagian". "Dia Adalah Segalanya Bagiku" artinya "Dia Sedikit Artinya Bagiku". Yesus mengatakan bahwa kita harus menyembah-Nya dalam kebenaran (Yohanes 4:24). Bernyanyi dengan segenap hati dan penuh kesadaran merupakan suatu tantangan serius bagi kita (Mazmur 47:8).

Marilah kita jawab tantangan itu dengan mencari pertolongan Allah untuk menjadikan judul asli dari nyanyian pujian di atas sebagai ungkapan hati kita yang sebenarnya. Dalam pertobatan dan tanpa kepura-puraan, marilah kita berpaling kepada-Nya sesuai dengan diri kita apa adanya. Dalam hadirat-Nya yang penuh pengampunan, marilah kita nyatakan kasih yang sungguh-sungguh kepada Yesus dengan berserah sepenuhnya kepada Dia.

Pada akhirnya, Yesus benar-benar akan menjadi segala-galanya bagi kita. Kita akan mampu bernyanyi dengan jujur tentang Yesus Kristus dan tentang kasih kita kepada-Nya. Ketika menyanyikan kidung pujian dengan segenap hati bagi Tuhan (Efesus 5:19), marilah kita menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran --Joanie Yoder

20 Desember 2003

Memuji dengan Pengertian

Nats : Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu (Mazmur 143:5)
Bacaan : Mazmur 143

Banyak dari kita yang rindu memuji Allah dengan lebih bersukacita. Salah satu halangannya adalah meskipun kita telah berusaha keras memuji Dia, kita tidak merasa sedang memuji Dia.

Pengajar Alkitab Selwyn Hughes mengatakan bahwa Allah telah meletakkan dalam diri kita tiga fungsi utama: kehendak, perasaan, dan pikiran. Kehendak kita, katanya, tidak terlalu menguasai atau tidak berkuasa sama sekali atas perasaan kita. Anda tak dapat berkata, "Saya ingin merasakan sesuatu yang berbeda," dan kemudian berhasil melakukannya dengan membelokkan kekuatan kehendak Anda. Apa yang ditanggapi oleh perasaan adalah pikiran. Dengan mengutip sumber lain, Hughes berkata, "Perasaan kita mengikuti pikiran kita seperti anak itik mengikuti induknya." Jadi, bagaimana kita dapat membuat pikiran kita menjadi pemimpin bagi perasaan kita?

Dalam Mazmur 143 Daud menunjukkan caranya kepada kita. Karena merasa kewalahan dan tertekan (ayat 4), ia meluangkan waktu untuk berpikir tentang Tuhan (ayat 5). Ia mengingat kasih setia Allah, bimbingan-Nya, dan bahwa Dia dapat dipercaya (ayat 8); perlindungan dan kebaikan-Nya (ayat 9,10); keadilan dan belas kasih-Nya (ayat 11,12). Dan sekali ia melakukannya, perasaannya mulai mengikuti pikirannya.

Sebutkan berkat-berkat yang Anda terima setiap hari; renungkan berkat-berkat itu secara menyeluruh; ceritakan berkat-berkat itu kepada Allah dan orang lain. Perlahan-lahan, perhatian terhadap perasaan Anda akan berkurang dan Anda akan memuji Allah dengan penuh sukacita --Joanie Yoder

27 Desember 2003

Kudus, Kudus, Kudus

Nats : Dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang" (Wahyu 4:8)
Bacaan : Wahyu 4

"Waktu berlalu cepat ketika Anda sedang bergembira." Ucapan klise ini tidak berdasarkan fakta, tetapi tampaknya pengalaman membuatnya tampak benar.

Ketika hidup menyenangkan, waktu berlalu begitu cepat. Beri saya tugas yang saya senangi, atau orang yang saya kasihi untuk menemani saya, maka waktu tampaknya menjadi tidak penting.

Pengalaman saya akan "kenyataan" ini telah memberi pemahaman baru tentang gambaran dalam Wahyu 4. Dulu, ketika saya memikirkan keempat makhluk di sekitar takhta Allah, yang berulang kali mengucapkan kata-kata sama, saya berpikir, Alangkah membosankan kehidupan seperti itu!

Saya tidak berpikir seperti itu lagi. Yang saya pikirkan adalah pemandangan yang mereka saksikan dengan banyak mata yang mereka miliki (ayat 8). Saya memikirkan pemandangan yang mereka lihat saat berada di sekitar takhta Allah (ayat 6). Mereka takjub akan keterlibatan Allah yang bijak dan penuh kasih terhadap penduduk dunia yang suka melawan. Lalu saya berpikir, adakah lebih baik yang mungkin ada di sana? Apa lagi yang harus dikatakan selain, "Kudus, kudus, kudus"?

Apakah membosankan mengucapkan kata yang sama berulang-ulang? Tidak, ketika Anda berada di hadapan seseorang yang Anda kasihi. Tidak, ketika Anda melakukannya tepat seperti yang sudah dirancangkan untuk Anda.

Seperti keempat makhluk tersebut, kita dirancang untuk memuliakan Allah. Kehidupan kita tidak akan pernah membosankan jika kita memusatkan perhatian kepada-Nya dan menggenapi tujuan itu --Julie Ackerman Link

20 Maret 2005

Cara Memuji-Nya

Nats : Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Lukas 19:38)
Bacaan : Lukas 19:28-38

Semaraknya peristiwa saat Yesus memasuki Yerusalem beberapa hari sebelum kematian-Nya sebenarnya memusatkan perhatian pada Kristus sebagai Tuhan. Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk mengambil keledai yang akan ditunggangi-Nya, Dia memberi tahu mereka agar menyampaikan kepada pemilik keledai itu, "Tuhan membutuhkannya" (Lukas 19:31). Dan ketika orang banyak mengelu-elukan-Nya, mereka mengutip perkataan dari Mazmur 118:26, yang berkata, "Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan" (Lukas 19: 38).

Yesus adalah Tuhan. Nama-Nya adalah "nama di atas segala nama" (Filipi 2:9). Kata Tuhan mengacu pada kedaulatan-Nya. Dia adalah Raja, dan setiap orang yang percaya kepadaNya adalah anggota kerajaan-Nya.

Kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita dengan tunduk pada kekuasaan-Nya sebagai Raja. Dengan demikian berarti kita hidup dengan taat kepada-Nya. Jangan mengaku sebagai orang kristiani, jika memilih untuk hidup dalam dosa. Ketika pendeta menegurnya, ia menjawab dengan santai, "Jangan khawatir, Pak Pendeta. Tidak masalah. Saya memang seorang kristiani yang buruk."

Hal itu tidak benar. Sama sekali tidak! Tidak benar bagi seorang warga kerajaan Kristus (Lukas 6:43-49).

Dalam Minggu palem ini, pastikan Anda tetap menghormati Kristus melalui perbuatan dan perkataan Anda. Sehingga Anda dapat bergabung dengan orang yang lain untuk menyatakan, "Yesus adalah Tuhan!" —DCE

28 Juli 2005

Ketika Matahari Tak Bersinar

Nats : Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Bacaan : Mazmur 103

Acap kali kita menyepelekan berkat-berkat Allah hingga akhirnya berkat-berkat itu diambil dari kita. Lalu kita menyadari betapa berartinya anugerah Allah, bahkan untuk hal yang paling lazim sekalipun.

Ada sebuah legenda mengenai hari ketika matahari tidak bersinar. Pada pukul enam pagi, langit masih gelap. Pukul tujuh pagi masih tetap malam. Siang datang, tetapi suasana masih seperti tengah malam. Akhirnya, pada pukul empat sore, orang-orang berkumpul di beberapa gereja untuk memohon matahari kepada Allah.

Pagi berikutnya, sekumpulan orang berkumpul di luar rumah dan memandang ke langit sebelah timur. Ketika secercah cahaya matahari menyibak fajar, orang-orang tersebut bersorak dan memuji Allah karena matahari itu.

Pemazmur mengerti ia tidak mungkin mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Allah baginya. Ia sedih karena ia mungkin saja melupakan hal-hal tersebut. Lalu ia menggenggam jiwanya yang lembek, menggoncang-goncangkannya, dan memaksanya untuk memikirkan beberapa karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Karena kebaikan Allah sepasti matahari, kita berada dalam bahaya jika melupakan apa yang dicurahkan-Nya bagi kita setiap hari. Jika kita menghitung berkat satu per satu, kita tak akan pernah dapat menyelesaikannya. Tetapi jika kita mendaftar 10 atau 20 pemberian yang diberikan Allah bagi kita setiap hari, akan terjadi sesuatu pada hati kita.

Marilah kita coba dan kita akan mengetahui sendiri hasilnya HWR

20 September 2005

Mengapa Saya?

Nats : Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Lukas 17:15)
Bacaan : Lukas 17:11-19

Beberapa tahun lalu, seorang remaja acak-acakan dan kurang dapat menyesuaikan diri bernama Tim (bukan nama sebenarnya) menyatakan kepercayaannya kepada Kristus dalam sebuah KKR penginjilan. Beberapa hari kemudian, masih berpenampilan acak-acakan tetapi bermandikan kasih Kristus, ia dikirim ke rumah saya supaya saya dapat menolongnya menemukan gereja yang tepat. Itulah awal ia bergereja dengan saya.

Walaupun Tim memerlukan dan menerima banyak pertolongan kasih dalam pertumbuhan rohani serta dalam santun sosial dasar, ada satu karakter yang tetap tidak berubahkasihnya kepada Juru Selamat yang belum terjinakkan.

Setelah kebaktian Minggu, Tim bergegas menghampiri saya, ia tampak kebingungan. Ia berseru, Mengapa saya? Saya terus bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, kenapa saya? Oh, tidak, pikir saya, ia menjadi salah satu orang kristiani yang suka mengeluh. Tetapi lalu dengan tangan terentang, ia meneruskan, Dari semua orang di dunia yang lebih hebat dan lebih pintar dari saya, mengapa Allah memilih saya? Lalu ia bertepuk tangan dengan sukacita.

Selama bertahun-tahun saya mendengar banyak orang kristiani, termasuk saya, bertanya, Mengapa saya? ketika menghadapi masa sulit. Tetapi Tim adalah orang pertama bagi saya yang mengajukan pertanyaan itu berkaitan dengan berkat Allah. Banyak orang yang juga bertobat pada waktu yang bersamaan dengan Tim, tetapi saya bertanya-tanya, berapa banyak dari mereka yang dengan rendah hati bertanya, Mengapa saya? Semoga kita pun sering mempertanyakannya JEY

4 November 2005

Para Pelayan Mengetahuinya

Nats : Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5)
Bacaan : Yohanes 2:1-11

Beberapa pesta pernikahan merupakan persoalan hidup dan mati. Persoalan itu kerap dirasakan demikian oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Setelah menikahkan tiga anak perempuan, saya dapat memahami kecemasan para orangtua dalam menyambut para tamu dengan baik. Karena itu, setiap kali saya membaca kisah perkawinan di Kana dalam Yohanes 2:1-11, saya selalu tersenyum.

Meskipun peristiwa itu agak lucu bagi saya, keajaiban Yesus mengubah air menjadi anggur mengandung tujuan serius, yaitu pernyataan Diri-Nya sendiri sebagai Anak Allah kepada para murid-Nya.

Banyak orang mungkin telah melihat tempayan batu berukuran besar yang diisi air sampai penuh. Namun, kepada para pelayan yang menuangkan air itulah Tuhan berkata, “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta” (ayat 8). Alkitab mengatakan, “Lalu mereka pun membawanya.” Ketaatan tanpa ragu yang mereka miliki itu merupakan teladan bagi kita saat menjalankan tugas sehari-hari yang diberikan Allah kepada kita.

Pemimpin pesta itu memuji mempelai laki-laki, dengan berkata, “Engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Ia tidak mengetahui asal anggur itu (ayat 10), “tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya” (ayat 9).

Sama seperti mereka, kita sadar bahwa ketika Allah menggunakan kekurangan kita untuk membantu orang lain, hal itu terjadi karena kuasa-Nya. Para pelayan di Kana yang mencedok air itu mengetahui bahwa pujian hanya pantas ditujukan kepada Yesus. Demikian juga kita -DCM

15 November 2005

Fokus yang Benar

Nats : Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)
Bacaan : Mazmur 90

Kita menyebut tahun-tahun akhir hidup seseorang sebagai “usia senja”. Tetapi apakah masa itu benar-benar indah? Bagi sebagian orang, masa tua memang indah. Tetapi bagi banyak orang, bahkan bagi orang kristiani, usia senja mungkin penuh dengan kepahitan dan keputusasaan.

Untuk meminimalkan hal tersebut, kita harus menetapkan tujuan untuk memperoleh fokus yang benar sejak masih muda. Robert Kastenbaum memahami hal ini. Ia menulis, “Saya merasa semakin bertanggung jawab atas masa depan saya dan atas semua orang yang hadir dalam hidup saya. Jika diberi kesempatan hidup sampai tua, saya akan menjadi orang tua seperti apa? Jawaban pertanyaan itu sangat tergantung pada pribadi seperti apa saya saat ini.”

Ketika memerhatikan orang-orang tua yang merasa puas, saya mendapati bahwa fokus kitalah, bukannya perasaan kita, yang lebih menentukan orang macam apa kita kelak. Saya pernah mengunjungi wanita saleh berusia sembilan puluhan yang merasa setiap sendi dan bagian tubuhnya sudah renta. “Usia tua bukan untuk pengecut!” rintihnya jujur. Seperti biasa, rintihannya justru menjadi jalan untuk memuji kebaikan Allah. Fokus untuk mengucap syukur yang dimulai sejak masih muda, membelah awan dan memungkinkan sinar matahari menembusnya.

Entah bagaimana perasaan Anda, apa yang menjadi fokus Anda hari ini? Apakah itu salah satu ucapan syukur kepada Yesus dan anugerah kehidupan kekal yang diberikan-Nya? Jika demikian, Anda akan bertumbuh lebih menyenangkan seiring bertambahnya usia -JEY

24 November 2005

Seni yang Hilang

Nats : Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu …. Dan bersyukurlah (Kolose 3:15)
Bacaan : Kolose 1:9-14

Rasul Paulus belum pernah mengunjungi jemaat di Kolose, tetapi ia mendengar semua hal tentang jemaat itu dari Epafras. Ia tahu bahwa gereja itu sedang mengalami serangan dari guru-guru palsu, sehingga ia sungguh-sungguh berdoa untuk jemaat ini (Kolose 1:9-14; 2:4-7).

Di antara permohonannya, Paulus meminta supaya mereka dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada Bapa karena Dia telah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan dan memindahkan mereka ke dalam Kerajaan Putra-Nya (1:12,13). Kita pun perlu mengucap syukur untuk hal-hal yang telah dilakukan Kristus bagi kita.

Ucapan syukur tampaknya adalah seni yang hilang di masa kini. Warren Wiersbe menggambarkan masalah ini di dalam tafsirnya tentang Kitab Kolose. Ia bercerita tentang seorang murid sekolah Alkitab di Evanston, Illinois, yang menjadi anggota regu penyelamat. Pada tahun 1860, sebuah kapal kandas di tepi Danau Michigan dekat Evanston, dan Edward Spencer berulang kali berjalan di air beku untuk menyelamatkan 17 penumpang kapal. Dalam proses penyelamatan itu, kesehatannya menjadi buruk. Beberapa tahun kemudian, pada hari pemakamannya, diketahui bahwa ternyata tidak ada satu pun orang yang diselamatkannya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Marilah kita sering meluangkan waktu untuk mengingat bagaimana Allah telah menyelamatkan kita dari kematian kekal dan telah memberikan kehidupan kekal melalui Putra-Nya. Pastikan bahwa kita tidak pernah membiarkan ucapan syukur kepada Bapa menjadi seni yang hilang -DCE

29 Januari 2006

Pentingnya Berterima Kasih

Nats : Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring (Lukas 17:15)
Bacaan : Lukas 17:11-19

Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem ketika sepuluh orang kusta mendekati Dia. Sambil berdiri jauh-jauh, sebagaimana yang seharusnya dilakukan penderita kusta, mereka berseru kepada-Nya: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (Lukas 17:13).

Ketika Yesus melihat mereka, Dia memberikan perintah, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan dalam perjalanan, mereka sembuh.

Salah seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali, tersungkur di kaki Yesus, dan bersyukur kepada-Nya. "Di manakah yang sembilan orang itu?" tanya Yesus. Pertanyaan yang bagus.

Yesus menunjuk pria yang penuh ucapan syukur itu sebagai seorang Samaria orang luar mungkin untuk menekankan perkataan-Nya bahwa "anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang" (16:8). Kata "cerdik" dalam bahasa aslinya berarti "penuh perhatian". Kadang kala orang-orang dunia memiliki tata krama yang lebih baik daripada para pengikut Yesus.

Dalam kesibukan hidup, kita mungkin lupa untuk mengucapkan terima kasih. Seseorang telah melakukan sesuatu bagi kita memberi hadiah, melakukan suatu tugas, menyampaikan khotbah yang tepat, memberikan perkataan nasihat atau penghiburan. Namun, kita lalai untuk berterima kasih.

Apakah ada seseorang yang telah melakukan sesuatu untuk Anda minggu ini? Teleponlah teman Anda itu atau kirimkan sebuah kartu ucapan terima kasih. Lagi pula, kasih "tidak melakukan yang tidak sopan" (1Korintus 13:5) --DHR

30 Januari 2006

Perpustakaan yang Hilang

Nats : Rumput menjadi kering, ... tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yesaya 40:8)
Bacaan : Yesaya 40:6-8

Bagian yang paling saya senangi di perpustakaan adalah sejarah dan majalah. Bagaimana dengan Anda? Bayangkanlah jika pada suatu Sabtu pagi Anda datang ke perpustakaan, tetapi hanya menemukan bahwa buku-buku favorit Anda telah menjadi tumpukan abu.

Berabad-abad yang lalu, hal itulah yang terjadi ketika ribuan buku di Perpustakaan Alexandria dilanda kebakaran. Pada zaman kuno, Alexandria merupakan tempat untuk melakukan penelitian. Lalu pada hari yang membawa bencana di tahun 47 SM, Julius Caesar membakar kapal-kapalnya di pelabuhan Alexandria agar tidak jatuh ke tangan musuh. Api itu segera menyebar ke dok dan gudang senjata angkatan laut, dan akhirnya menghancurkan 400.000 gulungan tulisan yang berharga di dalam perpustakaan.

Tragedi semacam itu menunjukkan betapa mudahnya materi-materi tertulis itu rusak. Kenyataan ini membuat kelangsungan Alkitab kita sebagai suatu mukjizat. Firman Allah telah melalui berbagai peristiwa pembakaran, kerusuhan, revolusi, penganiayaan, dan bencana. Namun, para ahli teologi berkata bahwa naskah-naskah itu telah terpelihara dengan akurat setelah diperbanyak selama ribuan tahun.

Allah mengilhamkan penulisan Kitab Suci (2Timotius 3:16) dan telah berjanji untuk memeliharanya sepanjang abad (Yesaya 40:8). Pada kesempatan berikutnya saat Anda membuka Alkitab, luangkanlah waktu untuk merenungkan betapa berharganya Alkitab itu, dan bersyukurlah kepada Allah yang telah menjaganya tetap aman bagi Anda --HDF

12 Februari 2006

Satu Keajaiban Lagi

Nats : Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur! (Keluaran 15:1)
Bacaan : Keluaran 5:1-21

Jika Anda mencari pola pujian dan penyembahan, Anda cukup melihat Keluaran 15.

Di sana Anda mendapati bangsa Israel mencurahkan hormat kepada Allah. Orang-orang itu baru saja mengalami satu penyelamatan terbesar dalam sejarah. Tuhan telah melindungi mereka dari amukan bangsa Mesir, dan pujian-pujian mereka mencerminkan keyakinan kepada Allah yang diperbarui, yang terjadi pada mereka karena peristiwa ini.

Menumpahkan pujian secara meluap-luap kepada Allah ketika kita melihat-Nya bekerja dengan cara-cara yang luar biasa dan ajaib adalah hal yang tepat. Namun itu bukanlah satu-satunya waktu di mana Dia layak mendapatkan penghormatan dari kita. Kita justru lebih sering menunggu Allah memberi jawaban yang luar biasa terhadap doa sebelum kita bersedia menyanyikan pujian bagi-Nya.

Namun renungkan hal ini: Allah tidak berutang keajaiban apa pun kepada kita. Dia tidak perlu melakukan sesuatu untuk membuktikan kebesaran-Nya. Dia telah memberikan kepada kita gambaran kuasa-Nya yang luar biasa dalam ciptaan-Nya. Dia telah melakukan pengurbanan terbesar untuk membayar penebusan kita. Melalui kuasa-Nya, Dia telah melakukan transaksi paling ajaib yang pernah dikenal umat manusia Dia membawa kita dari kematian rohani menuju kehidupan rohani.

Apakah Anda menunggu keajaiban? Allah telah banyak melakukannya. Dengan mengingat apa yang telah Dia lakukan dan menirukan pujian dalam Keluaran 15, mari kita menyembah Allah tanpa syarat --JDB

16 Februari 2006

Diamlah dan Ketahuilah

Nats : Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi! (Mazmur 46:11)
Bacaan : Mazmur 46:2-12

Pada bulan Februari 1946, komputer elektronik pertama di dunia untuk berbagai keperluan diperkenalkan di University of Pennsylvania. Komputer itu, The Electronic Numerical Integrator and Computer (ENIAC), memenuhi ruangan seluas 9,2 x 15,3 m, berbobot 50 ton, dan setiap detiknya memakan listrik sebanyak yang digunakan untuk rumah tangga pada umumnya selama seminggu. Padahal kini kalkulator saku pun mempunyai daya komputasi lebih daripada yang bisa dilakukan ENIAC pada waktu itu.

Satu dekade yang lalu, seorang pengamat mencatat bahwa komputer dan perangkat berteknologi tinggi lainnya telah "menyusup di antara kita tanpa kita sadari". Kemudian ia berbicara mengenai betapa indahnya bila kita pergi ke tempat yang bebas dari komputer, telepon, atau radio, atau pergi ke pantai dan mendengarkan ombak di laut.

Ketenangan yang tidak terusik kini menjadi lebih sukar dicari. Oleh karena itu, hal tersebut kini lebih penting untuk dicari. Tuhan Allah berkata, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11).

Beristirahat dari kegiatan memungkinkan kita untuk memusatkan pikiran-pikiran pada keagungan Allah. Hati yang tenang memungkinkan kita mendengarkan Dia. Menjauhkan diri dari pesan suara dan surat elektronik dapat membuat kita beralih dari jadwal harian ke dalam rencana kekal-Nya.

Dalam dunia kita yang bergerak serbacepat, kita perlu tenang dan menyadari bahwa Allah berkuasa --DCM

11 Maret 2006

Menghadapi Hari Baru

Nats : Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (Mazmur 118:24)
Bacaan : Yakobus 4:13-17

Pemain selo terkenal, Pablo Casals, pernah menyampaikan pernyataan yang menantang ini: "Selama 80 tahun terakhir ini saya memulai setiap hari dengan cara yang sama .... Saya duduk di depan piano dan memainkan dua buah prelude dan fuga karya Bach. Saya tidak dapat melakukan hal yang lain. Ini semacam doa berkat dalam rumah saya. Tetapi bagi saya maknanya bukan itu saja. Saya menemukan kembali dunia di mana saya bersukacita karena menjadi bagian di dalamnya."

Jika seorang musisi yang penuh dedikasi telah memulai harinya dengan cara seperti itu, maka kita orang kristiani -- berkat anugerah Roh Kudus yang memampukan kita -- tentu dapat mempersembahkan setiap hari yang baru bagi Tuhan kita. Di mana pun kita berada atau bagaimana pun situasi yang kita hadapi, setiap hari kita dapat memutuskan untuk mempersembahkan waktu-waktu kita untuk memuji Allah. Seperti yang ditulis Daud, "Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya" (Mazmur 118:24).

Jika Anda merasa kesepian atau menghadapi penderitaan saat sekali lagi harus menanggung beban, Anda dapat menerima berkat Allah dan menjadi saksi yang hidup tentang bagaimana Allah selalu mencukupkan. Jika Anda selalu bersyukur dan memuji Tuhan, Anda pun dapat menceritakan kebaikan Allah kepada orang lain.

Yakobus mengingatkan bahwa kita "tidak tahu apa yang akan terjadi besok" (4:14). Dan itu juga menjadi alasan mengapa kita perlu mempersembahkan setiap hari untuk bersukacita di dalam Tuhan --VCG

27 April 2006

Persekutuan

Nats : Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat ... berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa ...." (Lukas 11:1)
Bacaan : Lukas 11:1-13

Direktur dari sebuah perusahaan besar ingin berbicara dengan manajer pabrik tentang suatu masalah yang sangat mendesak. Akan tetapi, sekretaris manajer itu berkata, "Saat ini beliau tidak dapat diganggu. Beliau sedang ada pertemuan -- seperti yang dilakukannya setiap hari."

"Katakan kepadanya Pak Direktur ingin menemuinya," sahut direktur itu tak sabar.

Dengan tegas sang sekretaris menjawab, "Pak, saya mendapat perintah keras dari beliau agar tidak mengganggunya saat ia sedang ada pertemuan."

Dengan marah direktur itu menerobos melewati sang sekretaris dan membuka pintu kantor sang manajer. Setelah melongok ke dalam sejenak, ia kemudian keluar kembali, menutup pintu dengan pelan sambil berkata, "Maafkan, saya!" Direktur itu mendapati manajernya sedang berlutut di depan Alkitab yang terbuka.

Tujuan melakukan saat teduh setiap hari adalah untuk mendorong pertemuan yang akrab dan teratur dengan Raja di atas segala raja. Kita perlu mencari perintah-perintah baru setiap hari dari Pribadi yang telah merencanakan hidup kita dan memenuhi kebutuhan kita.

Yesus sendiri meluangkan waktu secara teratur untuk berdoa dan mendorong para murid-Nya untuk berdoa (Lukas 11:1). Dia mengajarkan kepada mereka Doa Bapa Kami dan mengatakan kepada mereka untuk senantiasa meminta, mencari, dan mengetuk (ayat 9,10).

Sudahkah Anda meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Allah hari ini? Belum terlambat untuk memulainya --MRD

30 Desember 2006

Mengingat-ingat

Nats : Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mazmur 103:2)
Bacaan : Mazmur 103:1-5

Kadang-kadang kita terbangun dengan persendian yang nyeri, semangat yang lesu, dan bertanya-tanya bagaimana kita bisa menyingkirkan kelesuan kita serta dapat menjalani hari-hari dengan baik.

Berikut ini ada sebuah ide: Berusahalah mengucap syukur kepada Allah seperti Daud. Pikirkan dan ingatlah kembali semua "kebaikan" Allah yang layak Anda syukuri (Mazmur 103:2). Ucapan syukur akan membuahkan sukacita.

Bersyukurlah kepada Allah atas pengampunan-Nya. Dia "mengampuni semua kesalahanmu" (ayat 3), dan "melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut" (Mikha 7:19).

Bersyukurlah kepada-Nya atas kesembuhan Anda (ayat 3). Allah menggunakan kelemahan dan sakit penyakit untuk menarik Anda lebih dekat kepada kasih dan kepedulian-Nya. Dan, suatu hari ketika Tuhan datang kepada Anda, Dia akan menyembuhkan semua sakit penyakit Anda.

Bersyukurlah kepada-Nya atas penebusan hidup Anda dari kehancuran (ayat 4). Ini lebih dari sekadar menyelamatkan Anda dari kematian dini. Ini pembebasan dari kematian itu sendiri.

Bersyukurlah kepada-Nya karena memahkotai hidup Anda dengan "kasih setia dan rahmat" (ayat 4).

Bersyukurlah kepada Dia yang memuaskan hasrat Anda (ayat 5). Dialah sumber kepuasan Anda. Setiap hari, Dia memperbarui kekuatan dan semangat Anda. Dengan demikian semangat Anda akan naik dan membubung seperti rajawali.

"Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (ayat 2) --DHR

17 April 2008

Prioritas Hidup

Nats : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)
Bacaan : Matius 6:19-24

Yang adalah salah satu aspek penting dalam hidup manusia. Bergulirnya aktivitas ekonomi yang menyertakan uang tak akan pernah habis. Bahkan, Benjamin Franklin mengeluarkan slogan "time is money", seakan-akan seluruh hidupnya hanya diprioritaskan dan ditujukan untuk mendapat uang. Bukankah dewasa ini ada banyak orang yang dibutakan oleh uang? Sebenarnya uang bukan sesuatu yang jahat. Hanya, kita perlu menjagai sikap hati kita terhadap uang.

Itulah yang hendak Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Penumpukan harta yang tanpa tujuan sebenarnya justru akan membuat manusia khawatir. Atau, membuat manusia percaya pada diri sendiri secara berlebihan. Dan yang paling parah, membuat hidup manusia dikuasai oleh uang. Itulah inti perkataan Tuhan Yesus (ayat 24). Tuhan menegaskan bahwa di mana hati kita berada, di situlah prioritas hidup kita cenderung berada. Bila hati kita ada pada harta, maka seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kita konsentrasikan untuk mengumpulkan harta pula.

Tuhan Yesus tidak mengecam orang kaya. Buktinya, Zakheus pun dipanggil menjadi murid-Nya (Lukas 19:5). Namun Tuhan ingin agar kita memprioritaskan hubungan dengan-Nya di tengah rutinitas mencari nafkah setiap hari. Ketika kita menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari, hendaknya kita tetap memancarkan kasih Tuhan. Dengan demikian, cara kita mencari uang pun akan dipengaruhi oleh sikap hati. Inilah kuncinya agar kita tidak terjerumus dalam sikap cinta uang, yang merupakan akar dari segala kejahatan di bumi ini. Mari melihat ke dalam diri. Apa prioritas hidup kita hari ini? -BL

15 Juli 2008

Pelita Kaki

Nats : Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105)
Bacaan : Mazmur 119:9-16

Mazmur 119 adalah mazmur yang paling panjang. Lembaga Alkitab Indonesia memberinya judul: "Bahagianya Orang yang Hidup Menurut Taurat Tuhan". Kata Taurat di sini harus dipahami secara luas; bukan hanya Kitab Musa, tetapi juga seluruh wahyu dan penyataan Tuhan yang menjadi penuntun pada keselamatan. Setelah masa pembuangan, kata Taurat memang tidak lagi hanya merujuk pada Kitab Musa. Bacaan kita merupakan "bait" kedua dalam Mazmur ini. Diawali dengan pertanyaan retoris: "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?"

Sejak dulu orang menyadari peran penting kaum muda dalam kehidupan sosial. Penting bukan saja karena secara alamiah kaum muda memiliki "energi" dan ideliasme sangat besar. Namun, penting juga diperhatikan karena dari sisi "kematangan", mereka bisa dikatakan belum banyak makan "asam garam"; sehingga mudah gamang, mudah "terprovokasi", dan sangat rentan dengan kesalahan dalam menentukan sikap.

Supaya kaum muda dapat menyalurkan "energi" dan idealismenya secara bajik dan mengambil keputusan secara bijak, maka perlu ada patokan yang bisa menjadi teladan pegangan. Patokan yang kokoh adalah firman Tuhan. Di dalam firman Tuhan ada nasihat, ketetapan, teguran, panduan, dan ajaran untuk melangkah secara benar; tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Karena itu, penting sekali bagi kaum muda untuk mengakrabkan diri dengan firman Tuhan. Tanpa firman Tuhan seseorang bagai bepergian ke hutan belantara tanpa membawa peta perjalanan. Ia bisa tersesat, bahkan celaka-AYA



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA