Topik : Persekutuan dengan

12 November 2002

Penyeberangan yang Berbahaya

Nats : Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan (Mazmur 77:20)
Bacaan : Mazmur 77:17-21

Saya tidak mau lagi menyeberangi sungai berarus deras. Dasarnya terlalu licin, arusnya terlalu kuat, dan kaki tua saya ini sudah tidak sekuat dulu lagi.

Begitu banyak tantangan yang dulunya selalu siap saya hadapi, tetapi sekarang begitu sulit melakukannya. Seperti kata pemazmur, saya terkadang tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana saya bisa melewatinya (Mazmur 77:2-5).

Kemudian saya ingat "perbuatan-perbuatan TUHAN," "keajaiban- keajaiban-Nya dari zaman purbakala" (ayat 12). "Melalui laut jalan- Nya, dan lorong-Nya melalui muka air yang luas," meskipun Dia tidak meninggalkan jejak kaki (ayat 20).

Demikianlah keberadaan kita bersama Allah. Meskipun Anda tidak dapat melihat-Nya, Dia selalu hadir. Tanpa terlihat, Dia menuntun umat-Nya "seperti kawanan domba" (ayat 21). Dia tidak takut pada arus dan badai kehidupan, karena kekuatan dan keberanian-Nya tidak terbatas.

Selain itu, Sang Gembala menuntun kita melalui perantaraan sesama kita. Dia memimpin umat Israel "dengan perantaraan Musa dan Harun" (ayat 21). Dia menuntun kita melalui nasihat bijak dari ayah dan ibu, genggaman erat seorang sahabat yang saleh, dorongan istri atau suami yang penuh kasih, dan melalui sentuhan lembut seorang anak kecil.

Tangan-tangan yang penuh kasih terulur bagi kita. Tuhan kita adalah Gembala perkasa dan lemah lembut. Dia menuntun kita menyeberangi sungai yang sangat berbahaya. Sudahkah Anda menaruh tangan Anda di dalam genggaman tangan-Nya? —David Roper

3 Januari 2003

Setiap Langkah Berarti

Nats : Henokh berjalan dengan Allah (Kejadian 5:24, versi KJ)
Bacaan : Kejadian 5:21-6:9

Orang yang ingin hidup lebih sehat, mengurangi stres, dan mengurangi berat badan mendapati bahwa berjalan adalah olahraga yang terbaik. Filosofi kesehatan yang menyatakan tentang 10.000 langkah setiap hari, pertama kali dianut di Jepang. Lalu filosofi itu populer di banyak negara lainnya. Para ahli menganjurkan agar kita melakukannya secara bertahap, dengan menyadari setiap hari bahwa setiap langkah berarti.

Namun yang lebih penting adalah bila kita sehat secara rohani dengan berjalan bersama Allah. Hal itu digambarkan Alkitab sebagai hubungan yang bertumbuh dengan Tuhan. "Henokh berjalan dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi" (Kejadian 5:22, versi KJ). "Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu berjalan dengan Allah" (6:9, versi KJ). Kedua orang yang disebutkan dalam Ibrani 11 itu dipuji karena iman mereka. "Henokh ... memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah" (ayat 5). "Nuh ... ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya" (ayat 7).

Untuk berjalan dengan Allah, kita perlu menjaga langkah kita agar tidak mendahului di depan atau tertinggal di belakang. Di sepanjang perjalanan, kita berbicara dengan Tuhan, mendengarkan-Nya, dan menikmati kehadiran-Nya. Kita mempercayai pimpinan-Nya manakala kita tak dapat melihat apa yang ada di depan sana. Yang penting bukan hanya tujuan kita, tetapi juga perjalanan yang kita lalui bersama-Nya.

Saat ini adalah saat terbaik untuk mulai berjalan bersama Allah, karena dalam setiap hari tiap langkah berarti --David McCasland

7 April 2003

Menghasilkan Anggur

Nats : Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yohanes 15:4)
Bacaan : Yohanes 15:1-8

Saat membaca tafsir modern dari Yohanes 15:1-8, saya mulai memikirkan ulang konsep saya tentang arti menjadi orang kristiani yang berbuah. Yesus berkata, “Akulah Pokok Anggur Sejati dan Bapa-Kulah Petaninya. Dia memotong setiap ranting-Ku yang tidak menghasilkan anggur. Dan setiap ranting yang menghasilkan anggur Dia pangkas lagi supaya lebih banyak berbuah” (The Message, karya Eugene Peterson).

Anggur adalah hasil dari aliran kehidupan yang disalurkan pokok anggur ke ranting-rantingnya. Saya sering menganggap orang kristiani yang berbuah adalah orang yang banyak terlibat dalam aktivitas gereja seperti mengajar Sekolah Minggu atau memimpin Pendalaman Alkitab. Semua pelayanan itu memang baik dan bermanfaat. Namun, Yesus berfirman bahwa hidup yang berbuah maksudnya adalah jika kita mengizinkan Dia hidup dan mengalir dalam diri saya: “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (ayat 4). Tak seorang pun dapat menghasilkan “anggur” jika ia tidak tinggal dalam Kristus, Sang Pokok Anggur. Buah tidak semata- mata berarti apa yang telah saya capai. Buah adalah hasil persekutuan intim saya bersama Dia.

Jika Anda merasa sebagai orang kristiani yang “berbuah”, tanyakan kepada diri sendiri, “Sudahkah saya menyerupai Yesus? Apakah Dia telah mengalir dalam diri saya melalui aktivitas dan pergaulan sehari-hari? Apakah “anggur” hidup saya mengarahkan sesama kepada Sang Pokok Anggur?” --David McCasland

30 April 2003

Berdoa dengan Berani

Nats : Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia (Ibrani 4:16)
Bacaan : Mazmur 6

Pernahkah Anda merasa sulit berdoa? Kondisi itu bisa terjadi ketika kita enggan mengungkapkan perasaan kita yang sesungguhnya kepada Allah. Sewaktu kita berdoa, mungkin saja kita tiba-tiba berhenti di tengah-tengah kalimat. Kita merasa khawatir kalau-kalau Bapa surgawi tidak mempedulikan kita.

Membaca kitab Mazmur dapat membantu kita berdoa dengan lebih terbuka. Dalam Mazmur, kita dapat mendengar percakapan Daud dengan Allah dan menyadari bahwa ia tidak takut untuk sepenuhnya terbuka dan jujur kepada Tuhan. Daud berseru, “Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu” (Mazmur 6:2). “Kasihanilah aku, Tuhan, sebab aku merana” (6:3). “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan?” (10:1). “Janganlah berdiam diri terhadap aku” (28:1). “Berbantahlah, Tuhan, melawan orang yang berbantah dengan aku” (35:1). “Ya Allah, dengarkanlah doaku” (54:4). “Aku mengembara dan menangis karena cemas” (55:3).

Renungkanlah cara Daud berdoa. Ia berkata kepada Allah, “Tolonglah saya!” “Dengarkan saya!” “Jangan marah kepada saya!” “Di manakah Engkau?” Daud menghadap Allah dengan berani dan mengungkapkan kepada- Nya apa yang ada dalam pikirannya. Ya, Allah mengharapkan kita datang kepada-Nya dengan hati yang bersih. Kita sendiri harus menghampiri Dia dengan rasa hormat. Namun, kita tidak perlu takut untuk mengungkapkan kepada Allah apa yang kita pikirkan dan rasakan.

Lain kali jika Anda berbicara kepada Bapa surgawi, berbicaralah secara terbuka. Dia pasti mendengarkan, dan Dia pasti mengerti --Dave Branon

14 Juni 2003

Dari Hati ke Hati

Nats : Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita (Mazmur 62:9)
Bacaan : Mazmur 62

Kita tentu menyangka bahwa Raja Daud akan sangat kesal karena musuh- musuhnya berencana menjatuhkan dia dari takhtanya. Namun, di dalam Maz-mur 62 ia bersaksi bahwa jiwanya tetap tenang dan teguh di hadapan Allah. Ba-gaimana mungkin hal ini terjadi sementara ia di tengah kemelut semacam itu? Ayat 9 memberikan kuncinya, dan saya menemukannya bagi diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu.

Saya baru saja kembali ke rumah, lelah dan sendirian. Sementara saya mulai mencurahkan keluhan-keluhan saya kepada Allah, tiba-tiba saya berhenti dan berkata, "Bapa, ampuni saya. Saya memperlakukan Engkau seperti seorang penasihat!"

Namun, kata demi kata terus mengalir, sekalipun diikuti permohonan ampun memalukan yang sama. Kemudian Roh Allah berbisik jauh di dalam hati saya, "Akulah Penasihat Agungmu." Tentu saja! Bukankah Dia, Pencipta tubuh dan jiwa saya, juga menciptakan sisi emosional saya? Itu sebabnya, sungguh masuk akal bila saya membeberkan perasaan- perasaan saya kepada-Nya. Baru setelah itu, datanglah nasihat-Nya yang menghibur dan menegur, yang dikerjakan dengan mahir oleh Roh Kudus melalui firman-Nya. Masalah-masalah saya tidak lenyap begitu saja. Namun, seperti Daud, saya dapat merasa nyaman di dalam Allah. Saya pun merasa damai kembali.

Jangan pernah ragu untuk menumpahkan isi hati Anda kepada Allah. Dalam menjalani hari-hari yang sulit, Anda akan menemukan bahwa doa adalah jalur tersingkat antara hati Anda dan hati Allah --Joanie Yoder

21 Juni 2003

Akibat Kelalaian

Nats : Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan .... Tempuhlah jalan yang rata (Amsal 4:23,26)
Bacaan : Amsal 24:30-34

Saya membaca kisah tentang sese-orang dari Detroit yang tidak dapat menemukan rumahnya. Ia tiba pada ala-mat yang tepat, tetapi yang ia temui ha-nyalah tempat kosong. Dengan penuh kebingungan, ia meminta bantuan dari Detroit Free Press untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang war-tawan surat kabar menemukan bahwa selain rumah itu sudah tidak ada, akta tanah tersebut juga telah menjadi milik orang lain.

Apa yang terjadi? Memang, pemilik rumah itu telah meninggalkan kota sejak beberapa tahun silam, tanpa meninggalkan alamat baru. Tambahan pula, ia lalai menugaskan seseorang untuk menjaga rumah itu supaya dirawat dengan baik. Akhirnya rumah itu dirobohkan karena peraturan kota telah meng-undangkan tentang pembersihan bangunan yang mengganggu keindahan di lingkungan perumahan itu.

Kelalaian pemilik rumah itu menggambarkan kebenaran dari Amsal 24:30-34. Kelalaian dapat menyebabkan kita mengalami kehilangan. Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari kita dengan Allah. Jika kita mengabaikan waktu doa dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, hubungan kita dengan-Nya akan memburuk sehingga kita tidak lagi menerima berkat-Nya. Tentunya kita tak ingin hal seperti itu terjadi, tetapi ini mungkin saja terjadi bila kita tenggelam dalam hal-hal lain yang mengganggu hubungan kita dengan Kristus.

Kita perlu menetapkan prioritas untuk menghormati Allah. Dengan demikian, kita akan mampu menghindari kehilangan yang terjadi karena kelalaian --Mart De Haan II

29 Oktober 2003

Datanglah Kepada-ku

Nats : Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya (Yohanes 10:4)
Bacaan : Yohanes 10:1-18

Setelah sebuah pesawat yang dibajak menghantam gedung Pentagon pada tanggal 11 September 2001, banyak orang terjebak di dalam gumpalan asap yang tebal dan pekat di dalam gedung tersebut. Petugas polisi Isaac Hoopi berlari ke dalam gedung yang penuh asap itu untuk mencari orang-orang yang selamat, dan mendengar orang-orang berseru minta tolong. Ia pun mulai balas berteriak tanpa henti, "Berjalanlah ke arah suara saya! Berjalanlah ke arah suara saya!"

Enam orang yang telah kehilangan arah dalam lorong yang penuh asap itu, mendengar teriakan polisi tersebut dan mengikutinya. Suara Hoopi menuntun mereka keluar dari gedung itu dengan selamat.

"Berjalanlah ke arah suara saya!" Undangan itu jugalah yang ditujukan Yesus pada kita semua saat kita berada dalam bahaya atau saat kita tersesat. Yesus menggambarkan gembala rohani yang sejati sebagai seseorang yang "memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya" (Yohanes 10:3,4).

Apakah kita mendengarkan suara Yesus saat berdoa dan membaca Alkitab? Saat kita berada dalam situasi yang sulit, apakah kita berjalan menuju pada-Nya ataukah kita meraba-raba dalam gelap?

Yesus adalah "gembala yang baik" (ayat 11). Saat kita membutuhkan tuntunan atau perlindungan, Dia memanggil kita untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia --David McCasland

17 Desember 2003

Tak Pernah Sendiri

Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Ibrani 13:5,6

Robinson Crusoe, tokoh utama dalam novel karya Daniel Defoe, mengalami kerusakan kapal dan terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Hidupnya menderita, tetapi ia menemukan pengharapan dan penghiburan ketika membaca firman Allah.

Crusoe berkata, "Suatu pagi, dalam keadaan sangat sedih, saya membuka Alkitab dan menemukan ayat ini, 'Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau'. Tiba-tiba saya berpikir bahwa ayat ini ditujukan kepada saya. Kepada siapa lagi ayat ini diberikan kalau bukan untuk saya dengan cara demikian, tepat ketika saya meratapi keadaan saya sebagai orang yang ditinggalkan Allah dan manusia?

"'Kalau begitu,' kata saya, 'jika Allah tidak meninggalkan saya ... apa yang perlu dipermasalahkan, meski seluruh dunia meninggalkan saya ...?' Sejak saat itu saya menyimpulkan bahwa saya bisa saja lebih berbahagia dalam keterasingan ini, dalam kesendirian dan kesunyian, daripada apabila saya berada dalam situasi lain di dunia ini. Dengan pemikiran ini saya ingin bersyukur kepada Allah karena telah membawa saya ke tempat ini."

Apakah Anda telah ditinggalkan oleh sahabat, anak, atau pasangan Anda? Allah telah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Dengan demikian Anda pun dapat berkata dengan penuh keyakinan, "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (ayat 6) --David Roper

21 Januari 2004

Apa yang Anda Cari?

Nats : Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat mereka mengikuti Dia lalu berkata kepada mereka, "Apakah yang kamu cari" (Yohanes 1:38)
Bacaan : Yohanes 1:35-42

Bagaimana jawaban Anda seandainya Yesus bertanya, "Apakah yang kamu cari?" (Yohanes 1:38). Apakah Anda memohon kesehatan dan kebugaran dari-Nya? Sebuah pekerjaan yang lebih baik? Pernikahan yang lebih bahagia? Jaminan keuangan? Pemulihan nama baik karena tuduhan yang salah? Keselamatan untuk orang yang suka melawan, yang kita kasihi? Sebuah penjelasan tentang konsep teologi yang sulit?

Bagi dua orang murid Yohanes Pembaptis, situasi ini lebih dari sekadar sebuah latihan imajinasi. Suatu hari ketika mereka sedang bersama Yohanes, Yesus lewat dan Yohanes berseru, "Lihatlah Anak domba Allah!" (ayat 36). Setelah itu kedua murid tersebut tidak lagi mengikuti Yohanes, tetapi mulai mengikuti Yesus.

Ketika Yesus melihat mereka, Dia bertanya, "Apakah yang kamu cari?" (ayat 38).

Tampaknya Yohanes telah mengajar mereka dengan sangat baik, karena jawaban mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sesuatu bagi diri mereka sendiri, tetapi Yesuslah yang mereka cari. Mereka ingin mengetahui tempat tinggal Yesus. Dan Yesus tidak hanya menunjukkan tempat tinggal-Nya, tetapi juga menghabiskan sisa hari itu bersama mereka.

Saya berpikir bahwa kita sering kehilangan kesempatan untuk meluangkan waktu bersama Yesus karena kita mencari hal lain selain hadirat-Nya. Dari pengalaman, saya sadar bahwa semakin banyak waktu yang saya habiskan bersama Yesus, semakin sedikit keinginan saya untuk memiliki banyak hal yang hanya tampak penting untuk sesaat --Julie Ackerman Link

9 Juni 2004

Persahabatan dengan Allah

Nats : Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yohanes 15:15)
Bacaan : Yohanes 15:13-15

Telusurilah halaman demi halaman buku pujian kuno dan perhatikan betapa sering penulis pujian merujuk pada berkat yang timbul dari persahabatan dengan Allah. Berhentilah sejenak dan renungkan makna sejati dari lagu-lagu itu.

Ya. Sungguh suatu berkat bila kita memiliki sahabat sesama manusia yang memperkaya hidup kita. Seorang sahabat, seperti yang dikatakan dalam Amsal 17:17, “menaruh kasih setiap waktu”, selalu berdiri teguh menemani kita menjalani cerahnya hidup dan dahsyatnya badai hidup.

Begitu juga sebagian dari kita bersyukur karena mengetahui bahwa berdasarkan pengalaman pribadi “ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara” (Amsal 18:24). Kita mengaitkannya dengan Daud dan Yonatan saat membaca tentang ikatan di antara mereka (1 Samuel 18:1).

Persahabatan antarmanusia memang menyenangkan, tetapi bagaimana tentang persahabatan dengan Allah? Sungguh berkat yang luar biasa memiliki sahabat Pencipta dan Pemelihara semesta alam. Meski telah disembah penghuni surgawi yang tak terhitung banyaknya, Dia sangat bersukacita berelasi dengan kita.

Apakah kita mengabaikan hak istimewa untuk berjalan bersama Allah, Sahabat terbesar dari semua sahabat? Dengan ucapan syukur dan kekaguman, mari kita luangkan waktu bersama-Nya hari ini juga dalam doa dan dalam pembacaan firman-Nya.

Ingatlah bahwa Yesus menyebut para pengikut-Nya sahabat (Yohanes 15:15). Sungguh suatu kehormatan bagi kita dapat menikmati persahabatan dengan Allah! —Vernon Grounds

23 Juni 2004

Mengatasi Semak Duri

Nats : Lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah mengimpit firman itu sehingga tidak berbuah (Markus 4:19)
Bacaan : Markus 4:13-20

Eceng gondok adalah tumbuhan air yang menarik, yang tampak seperti hutan cemara kecil yang tumbuh di atas permukaan air. Pada musim semi tumbuhan ini menghasilkan hamparan bunga kecil berwarna putih. Tetapi sebenarnya ini adalah tumbuhan yang berbahaya. Tumbuhan ini menutupi permukaan danau dan kolam, mengimpit tumbuhan lainnya dan mematikan ikan serta kehidupan air lainnya.

Baru-baru ini saya berjalan di dekat sebuah danau kecil di negara bagian Washington yang ditutupi oleh tumbuhan air ini. Lalu saya berpikir, seperti halnya tumbuhan air itu, kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, dan berbagai keinginan akan hal-hal lain masuk mengimpit firman Allah sehingga tidak berbuah (ayat 19). Inilah yang diajarkan Yesus dalam Markus 4:13-20.

Yesus memang sedang berbicara tentang bagaimana seorang yang tidak percaya menerima Injil, tetapi firman-Nya ini juga berlaku bagi kita semua. Kadang kala ketika kita membaca firman Tuhan, pikiran kita dipenuhi oleh berbagai permasalahan, kekhawatiran, dan ketakutan. Tekanan karena banyaknya hal yang perlu dikerjakan hari ini serta kekhawatiran akan hari esok merupakan “semak duri” yang dapat mengimpit firman Tuhan dan membuatnya tidak berbuah.

Untuk mengatasi semak duri, kita harus memohon agar Allah menenangkan hati kita sehingga kita dapat memusatkan perhatian kepada-Nya (Mazmur 46:11). Saat kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah, kita akan bebas menikmati hadirat-Nya dan mendengarkan suara-Nya —David Roper

28 September 2004

Berpikir Bersama

Nats : Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Filipi 4:4-13

Seorang eksekutif dari perusahaan pembuat mainan terbesar di dunia berkata, "Kami ini seperti mesin yang berproduksi sepanjang tahun sehingga tidak sempat berpikir."

Untuk memacu kreativitas, perusahaan ini mengajak beberapa karyawan terpilih untuk keluar dari kantor pusat dan mendorong mereka untuk berpikir bersama-sama dengan cara baru. Misalnya, ketika diminta untuk merancang suatu metode guna menghindari pecahnya sebuah telur apabila dijatuhkan dari ketinggian 4 meter, sebuah kelompok tidak melakukan pendekatan konvensional dengan meletakkan bantalan di tempat jatuhnya telur. Mereka menciptakan tali elastis untuk telur.

Bagaimana dengan diri kita? Apakah hidup kita begitu terpusat pada kegiatan dan produktivitas sehingga tidak sempat berpikir lagi? Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, ia menasihati mereka supaya memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar (4:8). Apa yang akan terjadi jika kita bersama-sama mulai berpikir seperti itu di gereja dan di rumah? Bisakah kita menemukan pendekatan kreatif yang diberikan Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi? Apakah pandangan hidup kita mengalami perubahan secara radikal?

"Pikirkanlah semua itu" adalah sebuah perintah yang luar biasa. Menaati perintah itu bersama keluarga kita dan orang percaya lainnya dapat membuka pintu-pintu penemuan baru untuk membantu orang lain, melayani Allah, dan hidup bagi Dia.

Sekarang, pikirkanlah semua itu! --David McCasland

19 Januari 2005

Sekutu

Nats : Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu (Mazmur 119:63)
Bacaan : Mazmur 119:57-64

Ada dua laki-laki saling bertetangga. Yang seorang telah membuka hatinya untuk Kristus, dan yang lainnya belum. Orang yang sudah percaya ini sering bersaksi; namun tetangganya mengabaikan.

Suatu hari orang kristiani itu mendengar ketukan, dan membuka pintu. Tetangganya sedang berdiri di depannya dengan senyum lebar. “Aku akhirnya melakukan apa yang kaukatakan. Pagi ini aku membuka hatiku untuk Yesus!” Keduanya saling berpelukan dan menangis. Selama bertahun-tahun mereka saling mendukung dan mendoakan, serta menjadi sahabat paling karib. Mereka bersama-sama melayani dalam pelayanan penjara yang efektif selama 25 tahun.

Persekutuan merupakan suatu bagian penting dari arti menjadi orang kristiani. Pemazmur membuat pernyataan yang tegas tentang pengenalan dengan mereka yang menghormati Allah dan melakukan perintah- perintah-Nya: “Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada- Mu” (Mazmur 119:63). Alkitab mempunyai banyak contoh persahabatan: Daud bersahabat dengan Yonatan. Paulus bersahabat dengan Silas. Markus bersahabat dengan Barnabas. Yesus bersahabat dengan murid- murid-Nya. Jemaat dalam Kisah Para Rasul terdiri dari orang-orang yang bersekutu, kadang kala dalam permusuhan dan keadaan sulit.

Gereja adalah suatu persekutuan, suatu komunitas. Lingkaran sahabat- sahabat kristiani membantu kita dengan berbagai cara sewaktu kita berjalan bersama-sama sepanjang jalur yang telah diletakkan Allah bagi kita. Mereka menawarkan persekutuan, tepat seperti yang kita perlukan —Dave Egner

9 Februari 2005

Pembekuan yang Cepat

Nats : Turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kaubawa keluar dari Mesir telah ... menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka (Ulangan 9:12)
Bacaan : Ulangan 9:9-16

Saya berterima kasih pada teknologi internet karena saya dapat melihat seni bangunan es di atas Danau Michigan dari kantor saya yang hangat. Padahal bangunan itu terletak 48 kilometer jauhnya dari kantor saya. Sudut perubahan sinar matahari di musim dingin mendinginkan bumi. Suhu yang sangat dingin mengubah air yang bergelora menjadi es batu dalam waktu singkat. Menyaksikan transisi yang cepat ini saya teringat bagaimana hati kita pun dapat dengan cepat berubah dingin terhadap Allah.

Hal itu terjadi pada bangsa Israel kuno. Setelah Allah dengan luar biasa menyelamatkan mereka dari perbudakan, mereka menjadi tidak sabar saat Musa naik ke Gunung Sinai untuk bertemu dengan Allah dan tidak segera turun menurut jadwal waktu yang mereka kehendaki. Lalu mereka berkumpul dan membuat allah mereka sendiri (Keluaran 32:1). Itu sebabnya Tuhan memberi tahu Musa untuk segera turun gunung karena bangsanya telah menyimpang dengan cepat (Ulangan 9:12).

Ketika situasi tidak berjalan sesuai perencanaan waktu kita, kita mungkin menganggap bahwa Allah tidak memerhatikan kita. Ketika kita tak lagi merasa dekat dengan-Nya, hati kita menjadi semakin dingin. Namun Allah senantiasa beserta kita. Pemazmur menulis, “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan- Mu?” (Mazmur 139:7).

Bahkan ketika Allah tampaknya jauh dari kita, sebenarnya tidak demikian. Hadirat-Nya memenuhi langit dan bumi (ayat 8-10). Jadi, tak pernah ada alasan untuk membiarkan hati kita menjadi beku —Julie Link

2 April 2005

Sahabat Anak-anak

Nats : Yesus berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Matius 19:14)
Bacaan : Matius 19:13-15

Hari ini, orang-orang di seluruh dunia merayakan peringatan 200 tahun kelahiran pendongeng besar Hans Christian Andersen. Pelajaran dan semangat yang terkandung di dalam kisah-kisah seperti Anak Itik yang Buruk Rupa, Putri Duyung, dan Pakaian Baru Sang Kaisar masih dianggap sebagai sebuah hadiah besar bagi anak-anak di mana saja.

Namun, saya diingatkan bahwa Yesus Kristus adalah sahabat terbesar anak-anak yang pernah dikenal dunia. Tak seorang pun pernah lebih banyak melakukan sesuatu bagi anak-anak itu daripada Yesus.

Saat murid-murid Yesus memarahi orang yang membawa anak-anak kecil kepada-Nya, Tuhan berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Matius 19:14).

Yesus menghargai anak-anak sebagai pribadi-pribadi yang bernilai. Setelah dielu-elukan di Yerusalem, Tuhan menerima pujian anak-anak dan mengingatkan orang-orang yang mengkritik mereka bahwa Allah telah menyediakan puji-pujian bahkan "dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu" (Matius 21:16; Mazmur 8:3).

Persahabatan dengan Sang Juruselamat merupakan hak istimewa bagi semua orang yang percaya kepada-Nya, yang memiliki iman sederhana seperti seorang anak. Tangan-Nya yang penuh kasih dan hati-Nya yang lembut siap memeluk setiap anak yang menerima-Nya. Dia bersedia menerima semua orang yang membuka hati mereka kepada-Nya dengan sepenuh hati. Dia adalah Sahabat anak-anak —DCM

23 Desember 2005

Mengenal Allah Secara Pribadi

Nats : Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel (Mazmur 103:7)
Bacaan : Keluaran 33:7-17

Sebagian besar orang kristiani lebih senang melihat Allah melakukan mukjizat besar daripada memiliki persekutuan dengan Dia, serta mengenal jalan-jalan-Nya.

Ayat hari ini mengatakan bahwa Allah memperkenalkan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar kepada orang Israel, namun kepada Musa Dia “memperkenalkan jalan-jalan-Nya”. Keluaran 33 mencatat sebuah krisis besar di mana Musa dengan rendah hati berdoa, “Jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beri tahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku” (ayat 13). Ia lebih ingin mengenal Allah dan rancangan-Nya bagi umat-Nya, daripada melihat sebuah mukjizat besar yang lain. Tidak mengherankan kalau Tuhan berbicara kepada-Nya “seperti seorang berbicara kepada temannya” (ayat 11).

Dalam menafsirkan perbedaan antara jalan dan perbuatan, F.B. Meyer menulis, “Jalan, atau rancangan, hanya diberitahukan kepada lingkaran dalam orang-orang kudus; jemaat biasa hanya mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.”

Seorang teman saya yang berbakat, Jennifer, mengerti perbedaan ini setelah menjalani beberapa tahun di atas kursi roda. Suatu hari ia berdoa sambil menangis, “Tuhan, saya pasti sudah melakukan banyak hal untuk Engkau sekiranya saja saya sehat.” Dan ia mendengar jawaban Allah dengan jelas, “Banyak orang bekerja untuk Aku, namun hanya sedikit yang bersedia menjadi sahabat-Ku.”

Jika Anda ingin mengenal Allah secara pribadi melebihi kerinduan Anda untuk melihat berbagai mukjizat besar-Nya, Anda akan dipuaskan -JEY

2 Februari 2006

Pertanyaan Terbaik

Nats : TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? (Mazmur 15:1)
Bacaan : Mazmur 15

Pemenang hadiah Nobel, fisikawan Martin Perl ditanya kepada siapa ia mempersembahkan keberhasilannya. "Ibu saya," jawabnya. "Setiap hari apabila saya pulang dari sekolah ia bertanya kepada saya, 'Marty, apakah kamu melontarkan pertanyaan-pertanyaan bagus hari ini?'"

Daud melontarkan pertanyaan terbaik dari semua pertanyaan: "TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?" (Mazmur 15:1). Ada dua kata yang dipakai oleh orang Ibrani kuno untuk mengekspresikan pertanyaan "siapa?". Salah satunya adalah seperti yang kita gunakan. Akan tetapi, di sini Daud menggunakan kata yang lain sehingga pertanyaannya, "Orang seperti apakah yang tinggal dekat dengan Allah?"

Jawaban yang muncul merupakan serangkaian sifat-sifat karakter: "Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil, dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya" (ayat 2).

Mengetahui kebenaran dan menaati kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Allah suka tinggal di gunung-Nya yang kudus dengan orang-orang yang kudus yang mencerminkan kenyataan akan kebenaran yang mereka percayai. Ia mengasihi orang-orang yang "mengenakan kebenaran".

Namun, Mazmur ini bukanlah mengenai kekudusan kita sendiri, yang kita pikir akan membuat kita dapat memasuki hadirat-Nya. Melainkan lebih mengenai keindahan dari kekudusan yang Allah bentuk dalam diri kita jika kita tinggal dalam persekutuan dengan-Nya.

Semakin kita dekat kepada Allah, kita semakin serupa dengan-Nya --DHR

25 Februari 2006

Menoleh ke Belakang

Nats : Karena kita telah menjadi bagian dari Kristus, asal saja kita berpegang teguh sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula (Ibrani 3:14)
Bacaan : Ibrani 3

Ada apa dengan bangsa Israel kuno? Mengapa mereka sangat sulit memercayai Allah? Dalam Ibrani 3, kita diingatkan bahwa mereka mendengar janji Allah tetapi mereka tidak mau memercayainya. Saya rasa saya tahu sebabnya, kita pun kini memiliki masalah seperti itu.

Allah mencukupi kebutuhan bangsa itu dalam perjalanan mereka di padang gurun. Untuk beberapa saat mereka akan puas dan gembira, tetapi kemudian kegalauan baru akan muncul lagi. Mereka menatap "tembok-tembok" masalah mereka, menjadi takut, dan kehilangan iman.

Sebelum Musa mendaki gunung untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, bangsa Israel baru saja mengalahkan bangsa Amalek. Semuanya baik-baik saja. Namun, ketika Musa terlalu lama di atas gunung, orang-orang itu panik.

Bukannya menoleh ke belakang dan mengingat bahwa Allah dapat dipercaya, mereka justru memandang ke depan dan tidak melihat apa-apa kecuali kemungkinan masa depan tanpa pemimpin. Maka mereka berusaha membuat "allah yang akan berjalan di depan" (Keluaran 32:1). Kepercayaan mereka telah tertutup oleh ketakutan masa depan. Padahal kepercayaan mereka itu dapat dikuatkan apabila mereka mau menoleh ke belakang, yaitu melihat pembebasan dari Allah.

Mirip dengan hal itu, rintangan-rintangan kita tampaknya sangat besar. Kita perlu menoleh ke belakang dan meyakinkan kembali diri kita dengan mengingat apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Pandangan ke belakang itu dapat memberi kita kepercayaan diri dalam memandang masa depan --JDB

19 Maret 2006

Satu Iman

Nats : Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi (Kisah 17:26)
Bacaan : Efesus 4:1-6

Aristides, seorang pembela iman kristiani pada abad kedua, menulis hal berikut ini kepada Kaisar Roma, Hadrian, tentang orang-orang percaya pada zamannya:

"Mereka saling mengasihi satu sama lain. Orang-orang percaya itu tidak pernah pernah lalai menolong para janda; menyelamatkan anak-anak yatim piatu dari orang yang akan mencelakai mereka. Jika memiliki sesuatu, mereka akan memberikannya dengan rela kepada orang yang tidak punya apa-apa; jika melihat orang asing, mereka membawanya ke rumah mereka, dan mereka bersukacita seolah-olah orang asing itu adalah saudara mereka. Mereka tidak menganggap diri mereka sebagai saudara biasa, tetapi saudara melalui Roh Kudus, di dalam Allah."

Sebagai manusia, kita semua berasal dari keluarga yang sama. Meskipun kita dipisahkan oleh segala batasan dan perbedaan, namun pada dasarnya kita semua adalah sama (Kisah 17:26).

Sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus, apa pun yang menjadi perbedaan kita -- denominasi, berbagai pilihan, tata ibadah -- kita sebenarnya satu tubuh secara rohani dan mengenal Bapa surgawi yang sama (Efesus 4:4-6). Teladan dari para pendahulu kita dapat menjadi arahan yang menantang kita sebagai murid-murid Yesus di abad 21 ini.

Mari kita melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk menyatakan kesatuan hidup dalam Kristus. Kesatuan dalam perbedaan merupakan kesaksian paling efektif bagi dunia yang rusak oleh dosa --VCG

20 Maret 2006

Kecelakaan di Balai Kota

Nats : Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan (1Korintus 11:27)
Bacaan : 1Korintus 11:17-34

Mobil-mobil pembongkar sedang bersiap untuk merobohkan sebuah toko roti yang terbakar di Troy, Illinois. Namun, ada sebuah kejutan besar terjadi di Balai Kota yang terletak tepat di sebelahnya. Sebuah mobil derek seberat 65 ton yang mundur ke arah gedung pemerintahan, membuat sebuah lubang besar di dinding depan. Menurut sang pengawas, operator mobil derek itu "telah berbuat ceroboh".

Kecelakaan itu mengingatkan saya mengenai apa yang terjadi pada jemaat Korintus pada zaman dahulu. Karena mengikuti keinginan diri sendiri dan ceroboh terhadap roti dan anggur pada Perjamuan Kudus, beberapa anggota gereja mengalami masalah besar. Kegagalan mereka dalam menghormati kekudusan Perjamuan Kudus itu telah melecehkan kenangan akan pengurbanan Kristus. Banyak orang percaya yang membayar kesalahan mereka dengan menjadi sakit atau kehilangan nyawanya (1Korintus 11:30).

Paulus meminta jemaat Korintus untuk menguji diri mereka sendiri agar tidak diuji oleh orang lain (ayat 28,31). Bahkan ia menegaskan bahwa hukuman dari Tuhan diberikan untuk kebaikan mereka sendiri (ayat 32).

Perjamuan Kudus masih akan tetap menjadi suatu kesempatan atau bahaya, sampai Yesus datang kembali (ayat 26). Melalui sikap hati, kita dapat menghormati Dia atau sebaliknya merusak nama-Nya.

Sebelum Anda merayakan Perjamuan Kudus, alangkah baiknya jika menguji diri Anda sambil berdoa terlebih dahulu. Kemudian dengan hati yang penuh syukur, renungkanlah pengurbanan-Nya bagi diri Anda --MRD

29 Maret 2006

Datang dengan Berani

Nats : Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah (Ibrani 4:16)
Bacaan : Ibrani 4:14-16

Suatu pagi, Scott Long dan istrinya baru saja bangun dan masih berbaring di tempat tidur. Tiba-tiba seseorang yang masih sangat belia masuk ke kamar mereka. Ia mengitari tempat tidur dan mendekati Scott.

Jika orang yang masuk itu adalah orang asing, maka ia termasuk pengganggu kriminal. Jika ia adalah seorang teman, maka kehadirannya itu cukup menjengkelkan. Namun yang masuk ke kamar tidur itu adalah anak balita mereka. Anak itu segera melompat ke atas tempat tidur, dan berkata tanpa malu-malu, "Saya mau di tengah." Scott tercengang terhadap rasa aman seorang anak yang mengetahui bahwa ia sangat disayangi.

Kita pun disambut dalam hadirat Bapa surgawi. Ibrani 4:16 mengatakan bahwa kita dapat "dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya". Kita dapat datang kepada-Nya dengan penuh keberanian untuk menyampaikan keperluan apa pun -- kebutuhan dan kerinduan kita -- karena kita tahu bahwa Dia memedulikan kita (1Petrus 5:7).

Penulis Phillip Brooks pernah mengatakan, "Jika manusia adalah manusia dan Allah adalah Allah, maka hidup tanpa doa bukan semata-mata hal yang sangat buruk; itu benar-benar suatu yang bodoh."

Janganlah kita bodoh dan mengabaikan pertolongan yang dapat kita peroleh melalui doa kepada Bapa. Sebaliknya, marilah kita menghampiri Dia dengan keberanian seorang anak, yang menyadari bahwa ia dikasihi dan diinginkan oleh ayahnya --AMC

7 Mei 2006

"sobat Baik"

Nats : Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu (Yohanes 15:14)
Bacaan : Yohanes 15:9-17

Jemaat menyimak dengan sungguh-sungguh pada saat pendeta memulai doanya dengan kalimat: "Bapa kami yang di surga ..." Tiba-tiba saja, kalimat sang pendeta seperti disahut oleh suara yang berkata, "Halo, sobat baik!"

Orang-orang mulai tertawa ketika mereka menyadari bahwa suara itu ternyata berasal dari sebuah alat komunikasi yang menangkap kata-kata seorang sopir truk yang sedang berbicara di radio panggilnya! Tidak banyak yang dapat dicapai pada kebaktian hari itu, sebab jemaat terus tertawa geli mengingat suara yang membuat mereka berpikir Allah menjawab sang pendeta dengan menyebutnya "sobat baik".

Musa mengerti bagaimana rasanya menjadi sahabat Allah -- yaitu menjalin relasi yang melebihi hubungan pertemanan biasa. Tuhan kerap berbicara kepada Musa "dengan berhadapan muka seperti seorang manusia berbicara kepada temannya" (Keluaran 33:11). Abraham, bapa bangsa-bangsa, juga disebut sebagai sahabat Allah (2Tawarikh 20:7).

Namun, apakah Anda dan saya dapat menjadi sahabat Allah? Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yesus, teladan tertinggi dari persahabatan yang penuh kasih, menyebut murid-murid-Nya sebagai sahabat (Yohanes 15:13,15). Dia berkata dengan sungguh-sungguh: "Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu" (ayat 14).

Dan apakah perintah-Nya bagi kita? Yaitu agar kita mengasihi-Nya dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Markus 12:30,31). Begitulah cara kita menjadi sahabat Allah --AMC

26 Mei 2006

Ketaatan Setiap Hari

Nats : Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari (Mazmur 96:2)
Bacaan : Mazmur 96

Tiger Woods telah memenangkan banyak turnamen secara dramatis selama kariernya sebagai pegolf profesional. Namun, salah satu dari keberhasilannya yang terbesar boleh dikatakan tidak menarik perhatian sebab berkembang lambat selama 7 tahun. Selama kurun masa itu, Tiger berhasil dalam 142 turnamen berturut-turut -- melebihi semua pemain dalam sejarah olahraga golf di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan kekuatan dari komitmen, konsistensi, dan keyakinannya untuk pantang menyerah.

Baru-baru ini saya merasa tertantang oleh pernyataan seorang teman tentang keinginannya yang semakin besar untuk mengikut Tuhan dengan "taat setiap hari, bukannya taat secara dramatis". Apakah itu yang terjadi dalam kehidupan iman saya dalam Yesus Kristus? Apakah saya konsisten, atau berjalan tak menentu? Apakah saya dapat diandalkan, atau tidak dapat dipercaya?

Ada peristiwa-peristiwa iman yang besar dalam hidup kita, tetapi pilihan-pilihan kita setiap hari untuk taat kepada Kristus mengungkapkan dengan baik kasih kita yang tak putus-putusnya kepada Dia. Mazmur 96, yang merupakan panggilan untuk bersaksi dan memuji Tuhan, berkata, "Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang daripada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa" (ayat 2,3).

Apabila kita secara konsisten taat kepada Tuhan, kita akan menyatakan kasih dan kuasa-Nya setiap hari. Seiring berjalannya waktu, hidup dalam ketaatan setiap hari akan menjadi kesaksian yang luar biasa bagi Juru Selamat kita --DCM

13 Juni 2006

Fokus Pada Jati Diri

Nats : Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal (Matius 6:28)
Bacaan : Matius 6:25-34

Di sebuah seminar, kami diminta membentuk kelompok-kelompok kecil lalu memperkenalkan diri satu sama lain tanpa menyebut pekerjaan kami. Tantangannya adalah kami harus dapat menjelaskan siapa kami dan bukan apa yang kami lakukan. Tidak mudah memang untuk berfokus kepada jati diri daripada pekerjaan.

Dr. William H. Thomas, seorang dokter spesialis yang menangani manula, menunjukkan bahwa bayi memulai hidupnya dengan jati diri. Akan tetapi saat menginjak usia dewasa, prestasilah yang menjadi sasaran utama. Lalu, saat kita beranjak tua dan tenaga kita melemah, kita harus kembali berfokus kepada jati diri. "Masa tua membawa kita kembali pada hidup yang lebih mementingkan jati diri daripada pekerjaan. Ini adalah sebuah karunia yang memiliki nilai luar biasa," kata Thomas.

Namun pencarian jati diri tidak hanya berlaku bagi orang-orang tua. Yesus mengatakan bahwa fokus yang benar adalah obat kekhawatiran bagi segala usia. Dia meminta para pengikut-Nya untuk memerhatikan burung-burung dan bunga-bunga. Tanpa menilai tindakan mereka, Allah tetap memelihara mereka.

Oswald Chambers berkata, "‘Perhatikanlah bunga bakung yang tumbuh di ladang’ . . . mereka tumbuh begitu saja! Perhatikanlah laut, udara, matahari, bintang, dan bulan -- semuanya itu ada begitu saja, tetapi pelayanan yang mereka berikan sangatlah besar."

Sebagai orang kristiani, nilai kita di hadapan Allah tidak berasal dari apa yang kita lakukan bagi Dia, namun ada pada hal yang ada dalam diri kita. Jati diri kita -- lebih daripada pekerjaan kita -- memuliakan nama-Nya --DCM

5 Maret 2007

Kegalauan Batin

Nats : Aku ... mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan (1Sam. 1:15)
Bacaan : 1 Samuel 1:9-18

Kadang kala saya merasa seperti berada dalam hubungan yang buruk -- dengan diri sendiri! Setiap kali Julie sang penulis memulai sebuah paragraf, Julie sang editor menyela. "Jangan, jangan, jangan begitu. Jangan mengatakan dengan cara seperti itu. Mengapa kau selalu bernada sangat negatif?" Atau "Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau memiliki hal yang berharga untuk dikatakan?"

Sebelum menyelesaikan sebuah pemikiran, pribadi saya yang lain mengoyak-ngoyak. Ini merupakan ritual yang sangat melemahkan. Hal ini juga kondisi yang umum terjadi pada manusia.

Setan senang mengacaukan pikiran kita dengan kritik, dan ia berusaha agar kita melontarkan kritik itu kepada orang lain dan diri sendiri. Kita terlalu dini menghakimi orang lain dan berusaha mengoreksi orang lain sebelum mengetahui apa yang akan mereka katakan. Itulah yang dilakukan Imam Eli ketika Hana berseru kepada Allah. Ia menyela doa Hana dan menuduhnya mabuk (1Sam. 1:12-14).

Namun, Allah mengizinkan kita mencurahkan isi hati secara jujur kepada-Nya (Mzm. 62:9). Bahkan, mazmur itu menunjukkan bahwa saat kita mengungkapkan keraguan dan rasa takut itulah Allah memulihkan kita. Banyak Mazmur yang diawali dengan keputusasaan dan diakhiri dengan pujian (22, 42, 60, 69, 73).

Ketika terjadi perang batin, curahkanlah isi hati Anda di hadapan Tuhan (1Sam. 1:15). Dia akan membuat hal yang tampaknya bodoh menjadi masuk akal --JAL

Bila kekacauan mengguncang jiwa
Dan hari seakan berat menimpa,
Kubuka hati dan merasakan
Damai Tuhan menenangkan pikiran. --Hess

20 Juni 2007

Bergantung Sepenuhnya

Nats : Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2Korintus 3:5)
Bacaan : 2Korintus 3:1-11

Live for Fighting adalah nama panggung seorang penyanyi yang menjadi sangat populer setelah serangan teroris 11 September 2001. Ia menyanyikan lagu Superman (It's Not Easy), sebuah balada yang menggambarkan bagaimana rasanya menjadi pahlawan super. Namun, ia tetap berjuang dengan kekuatannya yang tidak memadai untuk mengatasi keruwetan dunia.

Manusia tampaknya identik dengan tema lagu itu. Kehidupan nyata membuktikan bahwa kita tak sanggup memerangi beban tak tertahankan yang menghadang. Bahkan, orang-orang yang ingin mandiri pun tidak dapat mengatasi hidup ini dengan kekuatan sendiri.

Sebagai pengikut Kristus, kita memiliki sumber yang bahkan tak mungkin pernah diterima oleh Superman. Dengan memiliki hubungan dengan Allah, kita memperoleh hidup berkecukupan yang dapat mengatasi kelemahan kita dan memampukan kita hidup berkemenangan. Inilah dorongan Paulus bagi hati kita tatkala ia menulis surat kepada jemaat di Korintus. Ia berkata, "Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah" (2Korintus 3:5). Itulah yang sangat berpengaruh di dunia.

Dengan bergantung pada diri sendiri, kita akan dipaksa untuk hidup dalam kenyataan bahwa kita takkan pernah sanggup menghadapi kehidupan ini. Namun, dengan kekuatan Allah kita akan menemukan semua yang kita butuhkan untuk menghadapi badai kehidupan di dunia yang penuh kesengsaraan ini --WEC


Segala yang kubutuhkan Dialah senantiasa,
Segala yang kubutuhkan sampai kutatap wajah-Nya;
Segala yang kubutuhkan sepanjang kekekalan,
Yesuslah segala yang kubutuhkan. --Rowe

2 Juli 2007

Tak Memedulikan Tuhan

Nats : Hanya, lakukanlah ... mengasihi Tuhan, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya (Yosua 22:5)
Bacaan : Mazmur 63:1-9

Sebagai mantan guru SMA dan dosen tidak tetap di universitas, saya sering berpikir seperti ini: Alangkah tidak menyenangkan berdiri di depan kelas dan tak diperhatikan oleh seorang siswa pun -- berbicara tetapi tidak didengarkan oleh siapa pun, mengajar tetapi tidak dipedulikan para siswa.

Tak seorang pun suka apabila dirinya diabaikan. Pada saat kita sedang berbicara dengan seorang teman, sakit hati rasanya apabila kata-kata kita tidak diperhatikan. Ketika kita di toko dan sedang membutuhkan bantuan, sakit hati rasanya apabila para pegawai toko tidak memedulikan kita. Kalau kita sedang berjuang menghadapi masalah, sakit hati rasanya apabila tak seorang pun menawarkan bantuan.

Jadi, bayangkan betapa berdukanya Allah bila kita tidak memedulikan-Nya. Coba pikirkan bagaimana hati-Nya yang penuh kasih itu akan merasa sedih apabila kita bersikap seolah-olah Dia tidak ada, padahal sebenarnya Dia tinggal di dalam hati kita melalui Roh Kudus. Pikirkan bagaimana perasaan-Nya apabila kita mengabaikan petunjuk-petunjuk-Nya yang terdapat di dalam Kitab Suci, yang diberikan-Nya kepada kita.

Marilah kita berhati-hati untuk tidak mengabaikan Allah! Dalam segala hal, besar maupun kecil, biarlah Dia tetap ada di pikiran kita setiap saat. Kita dapat melakukannya dengan membaca Kitab Suci yang Dia berikan kepada kita; dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mendengarkan suara-Nya yang lembut dan tenang; dengan menikmati kehadiran-Nya; dengan melayani sesama di dalam nama-Nya. Sama seperti pemazmur, marilah kita bersama-sama berkata, "Jiwaku melekat kepada-Mu" (Mazmur 63:9) --JDB

17 September 2007

Teman Baru

Nats : Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yohanes 15:15)
Bacaan : Yohanes 15:9-17

Dalam penerbangan kembali dari Eropa ke Amerika Serikat, saya duduk di sebelah seorang gadis kecil yang tak henti-hentinya berbicara sejak ia duduk. Ia bercerita kepada saya mengenai sejarah keluarganya dan semua hal tentang anak anjingnya yang berada dalam ruangan khusus di pesawat. Dengan gembira ia menunjuk-nunjuk segala sesuatu di sekitar kami, "Lihat ini! Lihat itu!" Mau tak mau saya merasa penerbangan selama delapan jam ini menjadi penerbangan yang sangat lama!

Setelah bercakap-cakap selama beberapa saat, tiba-tiba ia diam. Ia menarik selimutnya sampai menutupi tubuhnya. Saya mengira ia akan tidur sejenak. Saya langsung memakai kesempatan itu untuk beristirahat, dan meraih majalah di dekat saya. Namun, sebelum sempat membuka majalah itu, saya merasakan sebuah siku mungil menyentuh pinggang saya. Saat saya menatap gadis kecil itu, ia langsung mengulurkan tangannya sambil berujar, "Pak Joe, maukah Anda berteman dengan saya?"

Hati saya pun menjadi luluh. "Tentu," sahut saya, "yuk, kita berteman."

Di tengah kekacauan kehidupan ini, pada saat kita berpikir ingin sendirian, Yesus justru akan mengulurkan tangan-Nya yang berbekas paku dan mengundang kita untuk menjadi sahabat-Nya. Dia berkata, "Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku" (Yohanes 15:15). Kita mempunyai dua pilihan: menyendiri, atau membuka hati bagi suatu persahabatan yang berisi kasih dan tuntunan yang tak terbatas --JMS

23 September 2007

Dia Mengenal Nama Saya

Nats : Domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar (Yohanes 10:3)
Bacaan : Yohanes 10:1-4

Saat datang ke sebuah gereja yang besar, kami mempelajari banyak hal baru, bergabung dengan sebuah kelompok kecil yang luar biasa, dan menikmati lagu-lagu yang khidmat. Namun setelah cukup lama, saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang terlewatkan, yakni sang pendeta tidak tahu siapa saya. Karena banyaknya jemaat yang hadir, saya bisa mengerti bahwa mustahil baginya untuk mengenal nama setiap orang di situ.

Di kemudian hari, ketika kami hadir di sebuah gereja yang lebih kecil, saya menerima sepucuk surat berisi ucapan selamat datang yang ditulis tangan oleh sang pendeta. Beberapa minggu kemudian, Pendeta Josh memanggil nama saya dan berbincang-bincang dengan saya perihal operasi yang baru saja saya jalani. Sungguh menyenangkan ketika kita dikenal secara pribadi.

Kita semua ingin dikenal -- terutama dikenal oleh Allah. Sebuah lagu ciptaan Tommy Walker yang berjudul He Knows My Name (Dia Mengenal Nama Saya), mengingatkan kita bahwa Allah mengetahui setiap pemikiran kita, melihat setiap air mata yang menetes, dan mendengarkan pada saat kita berseru. Dalam Injil Yohanes dikatakan, "Domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya .... Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku" (Yohanes 10:3,14).

Bagi Pribadi yang menciptakan langit dan bumi, mengenal miliaran orang bukanlah masalah. Allah sangat mengasihi Anda (Yohanes 3:16), Dia memikirkan Anda sepanjang waktu (Mazmur 139: 17,18), dan Dia mengenal nama Anda (Yohanes 10:3) --CHK

18 Desember 2007

Kodok dan Kodok Lagi

Nats : Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku (Mazmur 139:1)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Mary menerima kodok keramik dari rekan sekerjanya sebagai hadiah ulang tahun. Ia memajangnya di meja sehingga dapat dilihat semua orang. Sebagian teman kantornya mulai berpikir, ia pasti suka kodok, jadi mereka mulai memberinya barang-barang berupa kodok untuk Natal, ulang tahun, dan perayaan-perayaan khusus. Ruang Mary segera dipenuhi "barang-barang kodok" -- pena, lilin, post-it [memo tempel], poster, cangkir kopi.

Setelah Mary meninggalkan perusahaan, seorang teman bertanya kepadanya, apa yang dilakukannya dengan kodok-kodok itu. Ia menjawab, "Sebenarnya saya tidak suka kodok, jadi semuanya saya berikan kepada orang lain."

Orang-orang lain bermaksud baik terhadap kita, namun mereka tidak selalu mengenal kita dengan baik. Mereka tidak akan pernah mengenal kita seperti Allah mengenal kita. Bagi Dia, kita adalah buku yang terbuka -- tak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Mazmur 139 mengatakan:

Allah mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan (ayat 2). Dia tahu segala kegiatan kita sehari-hari dan detail jadwal kita.

Allah mengetahui segala sesuatu yang kita pikirkan (ayat 2) -- yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang tidak senonoh.

Allah mengetahui ke mana kita pergi -- "Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan ... segala jalanku Kaumaklumi" (ayat 3).

Allah mengetahui apa saja yang kita katakan (ayat 4).

Dia mengenal kita lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Alangkah nyamannya dikenal begitu dekat oleh Tuhan kita -- bahkan dengan segala kekurangan kita -- dan meskipun demikian kita dikasihi dengan begitu sempurna! --AMC

3 Januari 2008

Bukan Kaca Biasa

Nats : Tetapi kamulah bangsa yang terpilih ... supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia. (1Petrus 2:9)
Bacaan : 1Petrus 2:1-10

Kacamata saya adalah sebuah benda yang spesial bagi saya. Saya sangat menghargainya dan merawatnya karena besar manfaatnya bagi saya. Memang kacamata saya tampak seperti kaca biasa, tetapi ia bukan kaca jendela, atau kaca stoples tempat kue. Leburan kaca yang dicetak untuk menjadi lensa kacamata saya adalah leburan kaca yang dipilih secara khusus agar mencapai tujuan pembuatannya, yakni membantu saya untuk memiliki penglihatan yang lebih baik.

Hampir serupa dengan hal itu, bacaan Alkitab hari ini membukakan bahwa kita juga adalah orang-orang yang dipilih. Dari sekian miliar orang yang hidup di dunia ini, Allah sendiri memilih kita secara khusus untuk menjadi para pelayan Allah, yang wajib "memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia" (1Petrus 2:9).

Apabila kita telah dipilih sedemikian rupa oleh Allah, maka sudah seharusnya kita menjalani setiap profesi kita sebaik mungkin, apa pun itu, dengan memanfaatkan segala karunia dan talenta yang Dia anugerahkan. Jangan sampai kita berpikir bahwa kita cukup menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Dengan demikian, kita mencapai tujuan mengapa kita diciptakan, dan tidak sekadar menjadi "kaca biasa". Dia ingin kita selalu melakukan yang terbaik. Apabila kita seorang pekerja, biarlah kita menjadi pekerja yang terbaik. Bila kita seorang pelayan Tuhan, biarlah kita menjadi pelayan Tuhan yang terbaik.

Kita adalah orang-orang pilihan-Nya. Dan, bila Dia memilih, Dia juga memperlengkapi, menyertai, dan memampukan kita untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya --SST

7 Januari 2008

Hak Asasi Binatang

Nats : Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (2Tesalonika 3:11)
Bacaan : 2Tesalonika 3:7-13

Binatang kerap diidentikkan dengan hal-hal yang buruk. Orang jahat, kejam, telengas kerap kali disebut, "Seperti binatang!" Makian dan umpatan banyak juga yang memakai nama-nama binatang. Ini sebetulnya pelecehan terhadap binatang. Pelanggaran HAB. Hak Asasi Binatang. Sebab kalau mau jujur, dalam banyak hal tidak jarang perilaku binatang malah lebih luhur daripada perilaku manusia.

Dalam hal kerajinan bekerja, misalnya. Semut adalah contoh yang sangat baik. Maka, tidak heran penulis Amsal pun berujar, "Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak" (Amsal 6:6). Bayangkan! Kita, manusia, diminta untuk belajar kepada semut!

Salah satu "penyakit" manusia adalah kemalasan. Ingin hidup "enak", tetapi enggan bekerja. Lalu membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna. Bahkan kontraproduktif. Di jemaat Tesalonika, masalah kemalasan ini rupanya juga sudah sangat kronis. "Bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya, dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna," begitu Rasul Paulus menegur mereka.

Bagaimana kita mengisi hari-hari kita? Selama 24 jam sehari kita hidup, tujuh hari seminggu, 52 minggu setahun, berapa banyak waktu yang kita pakai untuk hal-hal yang tidak berguna, hal-hal bodoh yang tidak membuahkan apa-apa? Jadi, sangatlah perlu kita selalu bertanya kepada diri sendiri, "Apakah yang saya lakukan ini ada gunanya? Bagi diri saya maupun bagi orang lain? Sekarang ataupun kelak?" --AYA

15 Januari 2008

Saat Hening

Nats : Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman (Mazmur 4:9)
Bacaan : Mazmur 4:7-9

Dalam buku The Simple Path karya Lucinda Vardey, Ibu Teresa mengatakan bahwa di tengah melayani kaum papa di Calcuta, India, waktu untuk menyendiri atau saat teduh begitu sulit didapat. Di tengah pelayanan yang sibuk, privasi menjadi "barang" mahal, terlebih keheningan. Dalam kesibukan, keheningan adalah sebuah kelangkaan. Namun, Ibu Teresa melanjutkan bahwa kita harus tetap bisa mengambil waktu untuk bersaat teduh di tengah kesibukan, bahkan di antara keributan dan kebisingan sekalipun.

Hening hampir selalu dimaknai sebagai kesunyian. Padahal, hening yang kita cari lebih dari sekadar itu, yaitu hening dalam arti keleluasaan berteduh di tengah gempuran pergulatan hidup yang "bising". Hening, seperti kata sang pemazmur, adalah ketenteraman untuk membaringkan diri, saat Tuhan membiarkan kita diam dengan aman (Mazmur 4:9). Hening di sini bukan sekadar berarti lingkungan sekitar yang sepi. Hening juga bukan berarti malam yang larut tanpa suara.

Hening adalah saat di mana kita dapat merasakan kehadiran Tuhan, sehingga kita dapat membaringkan diri dengan tenang dan tenteram. Dengan demikian, kita dapat merasakan keteduhan, sekalipun kita sedang berada di tengah keramaian, karena hening itu bukan dinikmati oleh telinga kita, tetapi oleh hati yang teduh. Hening bisa terjadi saat kesibukan dan keingarbingaran menerkam diri kita. Itulah yang dialami oleh Daud dan terekspresi dalam mazmurnya. Marilah kita menikmati keheningan, di saat kita bekerja maupun saat beristirahat, di saat sunyi maupun saat suasana ramai. Izinkan Tuhan meneduhkan lautan kehidupan kita dengan kuasa-Nya. Mari Tuhan, teduhkan hati saya --AGS

29 Februari 2008

Meminta

Nats : Mintalah, maka akan diberi-kan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuk-lah, maka pintu akan dibuka-kan bagimu" (Lukas 11:9)
Bacaan : Lukas 11:5-13

Seorang anak jalanan meminta-minta di pinggir jalan. Anak kita di rumah juga minta dibelikan mainan. Keduanya sama-sama meminta, tetapi ada bedanya. Anak jalanan itu datang hanya untuk meminta. Setelah kita memberinya uang, ia berterima kasih lalu pergi. Anak itu tidak ada hubungan pribadi dengan kita. Sedangkan anak kita di rumah datang kepada kita bukan melulu untuk meminta. Kadang ia juga datang untuk mengobrol atau duduk di pangkuan kita. Merasakan kehadiran kita.

Banyak orang mengikuti anjuran Yesus, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu." Doa mereka berisi pelbagai permintaan. Hanya itu. Mereka lupa bahwa anjuran "mintalah" ini berlaku hanya jika ada hubungan akrab antara si peminta dengan orang yang dimintai. Yesus memakai perumpamaan tentang seseorang yang meminta roti kepada sahabat karibnya (ayat 7,8), lalu menggambarkan permintaan seorang anak pada bapanya (ayat 11-13). Dalam kedua kasus ini, permintaan itu dipenuhi karena adanya hubungan akrab yang penuh kasih. Dari hubungan itu muncul saling pengertian. Seandainya permintaan itu tidak dipenuhi, si peminta tidak akan kecewa, sebab ia tahu sahabat atau bapanya pasti mengupayakan yang terbaik baginya.

Mari periksa kembali kehidupan doa kita. Apakah kita berdoa hanya jika ingin meminta sesuatu? Apakah doa kita hanya berisi daftar permintaan, tetapi miskin pujian dan percakapan dari hati ke hati dengan Tuhan? Ketika datang pada Tuhan, kita datang sebagai anak, bukan sebagai pengemis. Maka, mintalah, tetapi jangan sebagai peminta-minta --JTI

12 April 2008

Menyalibkan Ego

Nats : Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:19,20)
Bacaan : 1Korintus 12:12-26

Tahun 2003-2004, Real Madrid dari Spanyol adalah kesebelasan bertabur bintang. Dalam daftar 10 pemain terbaik yang dikeluarkan FIFA (organisasi sepakbola dunia), lima di antaranya adalah pemain Madrid: Zidane, Ronaldo, Figo, Carlos, dan Beckham. Pemain lokal mereka juga tidak kalah hebat, seperti Raul dan Salgado. Kiper mereka, Iker Casilas, adalah kiper terbaik kedua di dunia. Mereka dijuluki Los Galacticos, kesebelasan dari planet lain.

Ironisnya, dalam kurun waktu itu Real Madrid justru mengalami kegagalan total. Tidak satu pun gelar mereka raih. Bahkan, di Liga Spanyol mereka hanya menduduki urutan keempat di bawah Valencia, Barcelona, dan Deportivo La Coruna. Banyak pengamat sepakbola menilai bahwa penyebab utama kegagalan Madrid adalah ego para pemain. Status bintang membuat mereka merasa hebat dan ingin menonjolkan diri. Padahal sepakbola adalah permainan tim.

Dalam pelayanan, ego juga bisa menjadi batu sandungan dan sumber masalah; keinginan untuk dipuji, untuk menonjol atau tampil, merasa paling hebat, paling berjasa, dapat merugikan bagi semua. Padahal pelayanan kristiani adalah pelayanan kolektif. Kita tak dapat bekerja sendiri, dan selalu membutuhkan orang lain. Paulus mengumpamakan gereja sebagai tubuh dan anggota-anggotanya. Setiap anggota mempunyai fungsi dan tempat yang berbeda. Semuanya berharga; tidak ada yang lebih penting atau kurang penting. Oleh karena itu, faktor utama dalam melayani bersama adalah bagaimana kita menyalibkan ego pribadi dan mewujudkan Kristus dalam hidup kita -AYA

1 Mei 2008

Praktik Ketidakadilan

Nats : Engkau telah melihat ketidakadilan terhadap aku, ya TUHAN; berikanlah keadilan! (Ratapan 3:59)
Bacaan : Kejadian 31:36-42

Hari ini banyak negara memperingati Hari Buruh Internasional. Walau tidak resmi, masyarakat Indonesia juga memperingatinya. Sejarah hari buruh dimulai sekitar abad ke-18 saat berlangsung revolusi industri di Inggris yang dikenal dengan "Gerakan 8 Jam". Untuk memprotes perlakuan dunia industri terhadap para pekerjanya. Kala itu, pekerja dipaksa bekerja dalam jam kerja yang panjang dengan kondisi kerja yang buruk. Dunia internasional kemudian mengeluarkan konvensi tahun 1866 di Jenewa, bahwa jumlah jam kerja bagi para pekerja dalam satu hari maksimal 8 jam.

Namun, hingga kini praktik ketidakadilan terhadap para pekerja di berbagai sektor masih berlangsung. Demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, kadang pengusaha bertindak tidak adil terhadap para pekerjanya. Di pihak lain, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, para pekerja tidak punya pilihan selain "menelan" perlakuan tidak adil itu demi memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Yakub pun mengalami ketidakadilan ketika bekerja pada Laban, pamannya. Selama 20 tahun bekerja, Laban kerap berlaku tidak adil terhadapnya. Ia tidak peduli dengan semua jerih lelah Yakub. Bahkan, 10 kali ia mengubah upah Yakub (ayat 41). Tetapi Allah tidak tinggal diam. Laban pun akhirnya menuai akibat dari kelicikannya, sedang Yakub kembali ke negerinya sebagai orang yang berhasil.

Pelajaran bagi kita. Kalau kita berada di posisi majikan, jangan memperlakukan para pekerja dengan tidak adil. Allah tidak akan tinggal diam terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, kalau kita berada di posisi pekerja yang diperlakukan tidak adil, jangan berkecil hati. Allah selalu punya cara untuk "membalikkan keadaan" -AYA

18 Juni 2008

Sapaan Damai

Nats : Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai (Yakobus 3:18)
Bacaan : Yakobus 3:13-18

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara sejak perang Korea lebih dari setengah abad lalu, tidak pernah reda. Bahkan, isu nuklir Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin kritis. Upaya diplomasi melalui perundingan berjalan sangat alot.

Atas prakarsa bersama, rombongan musik New York Philharmonic dari Amerika, menggelar konser musik di Teater Agung Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada tanggal 26 Februari 2008. Konser yang diusung oleh tim berjumlah 350 orang itu mendapat sambutan luar biasa. Banyak orang yang menyaksikan langsung atau melalui siaran televisi, terharu dan meneteskan air mata. Konser itu berhasil merengkuh hati warga Korea. Rupanya cara ini telah menjadi sapaan damai yang lebih ampuh ketimbang gunboat diplomacy (diplomasi ancaman perang) dan ancaman embargo.

Di dunia ini, sebuah dalil berkata, "Untuk menegakkan perdamaian, kita harus siap berperang." Namun kiranya dalil ini tak dianut oleh anak-anak Tuhan yang memiliki hikmat "dari atas". Firman Tuhan mengajak kita untuk menegakkan perdamaian dengan cara yang berkebalikan dengan dalil dunia; kita harus menunjukkan kelemahlembutan (ayat 13)! Kita juga harus rela menghilangkan segala keirihatian, egoisme, dan sifat memegahkan diri—yang kerap kali menjadi pemicu ketidakdamaian (ayat 16). Selanjutnya kita diminta untuk memiliki hati yang murni, pendamai, peramah ... (ayat 17). Melalui jalan inilah kita akan menuai damai (ayat 18). Inilah tantangan kita hari ini; menjadi pembawa damai di mana pun kita berada —NDA

25 Juni 2008

Bukan Pemerintahanmu

Nats : Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Matius 6:10)
Bacaan : Matius 6:5-14

Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar. Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."

Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya. "Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam namaku."

Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari aransemen, dan justru merusak harmoni.

Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik, mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita, mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja, Allah Bapa kita —ARS

25 Agustus 2008

Pembangkangan Parks

Nats : Sebab jika seseorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah (Roma 13:3)
Bacaan : Roma 13:1-7

Tanggal 1 Desember 1955, suatu sore di Montgomery, Alabama. Seorang penjahit wanita kulit hitam tampak lelah ketika pulang bekerja. Ia naik bus dan duduk di baris terdepan, di bangku yang disediakan bagi orang kulit hitam. Seorang pria kulit putih menyusul naik bus. Bangku bagi orang kulit putih sudah penuh. Kemudian ia memerintahkan wanita kulit hitam itu untuk pindah sesuai peraturan yang berlaku.

Wanita itu bergeming. Ia menolak pindah sebagai sikap tak setuju terhadap peraturan yang rasis itu. Maka ia ditangkap dan didenda karena melanggar hukum kota setempat. Wanita pemberani itu seorang kristiani bernama Rosa Parks. Peristiwa "pembangkangan kecil"-nya menyulut gerakan menuntut hak-hak sipil yang bertujuan mengakhiri segregasi (pemisahan) legal di Amerika.

Alkitab mendorong kita untuk tunduk pada pemerintah-atau otoritas yang lebih tinggi (ayat 1,2). Namun, orang kristiani juga jangan takut untuk bersikap bila ada peraturan yang salah (ayat 3). Yesus dan murid-murid-Nya juga berani bersikap demi menjunjung standar moral Allah (Matius 21:23-27). Meskipun dengan melakukannya, mereka harus membayar harga mahal, bahkan ada yang sampai dihukum mati. Mereka memilih untuk lebih menghormati Allah daripada menaati pemerintah (Kisah Para Rasul 4:19,20).

Kita memang perlu patuh kepada pemerintah, tetapi kita juga harus tetap bersikap kritis terhadap pemerintah. Bila pemerintah mengeluarkan peraturan yang menyimpang dari standar kebenaran Allah, kita harus memperjuangkan pembatalannya. Kalaupun terpaksa "tidak patuh" seperti Rosa Parks tadi, kiranya kita dimampukan menanggung konsekuensinya -ARS

4 September 2008

Gereja Tempat Bertumbuh

Nats : Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya (1Korintus 12:27)
Bacaan : Mazmur 92:13-16

Ada ungkapan bernada gurau: "Gereja Kristen Jalan-jalan". Istilah itu mengacu pada orang kristiani yang enggan menetap dan bertumbuh di satu gereja tertentu, tetapi berpindah dari satu gereja ke gereja lain. Bila diibaratkan suatu hubungan, mereka hanya ingin menikmati asyiknya berpacaran, tetapi enggan berkomitmen dan membina kehidupan berkeluarga.

Berjalan kaki pada pagi hari secara teratur tentu sangat dianjurkan demi menjaga kebugaran, namun berjalan-jalan dari gereja ke gereja setiap minggu malah akan mengganggu kesehatan rohani kita. Pemazmur antara lain menggambarkan kehidupan orang benar sebagai pohon yang "ditanam di bait TUHAN" (Mazmur 92:14). Supaya bertumbuh dengan baik, sebuah pohon perlu mengembangkan akarnya guna menyerap air dan sari-sari makanan yang tersedia di tanah.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sebuah pohon yang baru ditanam kemudian dicabut, lalu ditanam di tempat lain, lalu dicabut lagi, lalu ditanam di tempat lain lagi. Tidak ayal pohon itu akan layu sebelum berkembang.

Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi percaya, tetapi juga untuk menjadi anggota tubuh Kristus (1Korintus 12:27). Itulah salah satu makna yang terkait dalam gambaran Paulus tentang gereja sebagai "satu tubuh banyak anggota". Maka sudah semestinya kita berkomitmen di dalam gereja lokal. Dengan berkomitmen secara rohani, kita berakar dan menerima asupan makanan rohani secara teratur. Kita juga mendapatkan "tanah tempat bertumbuh", yaitu komunitas orang percaya, untuk saling mengasihi dan melayani menuju kedewasaan rohani -ARS

17 September 2008

Bukan Halangan

Nats : Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1Korintus 2:5)
Bacaan : 1Korintus 2:1-5

Jacky Chan, bintang film laga Hong Kong yang sudah mendunia, mengunjungi Indonesia pascabencana tsunami Aceh. Ia datang mewakili selebriti Hong Kong yang memberi sumbangan sebagai tanda empati atas penderitaan yang dialami rakyat Aceh. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, seorang wartawan bertanya, "Hampir di setiap film, Anda berperan sebagai seorang pahlawan. Menurut Anda, apa kriteria pahlawan itu?" Ia menjawab singkat, "Orang biasa yang melakukan sesuatu yang luar biasa."

Kitab Hakim-hakim adalah kitab yang menceritakan perjuangan para pahlawan atau pemimpin militer sebelum Israel menjadi sebuah kerajaan. Jadi bukan hakim dalam pengertian sekarang. Banyak tokoh hebat dalam kitab Hakim-hakim dan kisahnya diceritakan secara panjang lebar. Namun Samgar hanya diceritakan secara singkat-dalam satu ayat (Hakim-hakim 3:31). Berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya. Samgar tipikal sosok yang sederhana. Dalam melawan orang Filistin pun, ia hanya memakai tongkat pengusir lembu sebagai senjata-bukan pedang atau tombak seperti lazimnya orang berperang. Samgar adalah orang sederhana dengan prestasi spektakuler.

Tuhan dapat memakai siapa saja secara luar biasa, pun bila kita hanyalah orang biasa. Kuncinya, kita mau berusaha yang terbaik, sambil tetap mengandalkan diri pada hikmat Allah, bukan pada kekuatan sendiri (ayat 5). Bagaimana dengan kita? Boleh jadi kita bukan orang hebat seperti Otniel, Ehud, atau Simson-tokoh-tokoh dalam kitab Hakim-hakim, tetapi orang sederhana seperti Samgar. Jangan berkecil hati. Sebab itu bukan halangan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa -NDA



TIP #01: Selamat Datang di Antarmuka dan Sistem Belajar Alkitab SABDA™!! [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA