Topik : Pertumbuhan/Pengudusan

8 November 2002

Buldog Berlipstik

Nats : Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! (Matius 4:17)
Bacaan : Matius 4:17-25

"Dalam banyak organisasi, membuat perubahan bagaikan memoleskan lipstik pada anjing buldog. Anda harus berusaha keras. Sering kali yang Anda dapatkan hanyalah noda lipstik, dan seekor anjing buldog yang marah." Demikian tulis Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle (Kronik San Fransisco).

Perubahan yang sejati, entah dalam bisnis, gereja, keluarga, atau dalam diri kita sendiri, mungkin sangat sulit dilakukan dan sukar dipahami. Saat kita merindukan perubahan yang mendalam dan berkelanjutan, sering kali kita hanya dapat melakukan perubahan tambal sulam yang tidak menyelesaikan apa pun serta tidak memuaskan seorang pun.

Kata bertobat digunakan Alkitab untuk menggambarkan awal perubahan rohani yang sejati. Seorang ahli bahasa, W. E. Vine, mengartikan bertobat sebagai "perubahan pikiran atau tujuan seseorang". Dalam Perjanjian Baru, pertobatan selalu melibatkan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu ketika seseorang meninggalkan dosa dan berpaling kepada Allah. Yesus memulai pelayanan-Nya kepada orang banyak dengan berseru, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17).

Saat kita menyesal karena melakukan kesalahan atau karena tertangkap setelah berbuat salah, perasaan ini hanyalah sekadar kosmetik rohani. Pertobatan yang sejati terjadi di lubuk hati kita yang terdalam dan membuahkan perbedaan yang nyata dalam perbuatan kita.

Ketika kita berpaling kepada Kristus dan menyerahkan diri kepada- Nya, Dia mengadakan perubahan yang sejati, bukan sekadar perubahan tambal sulam —David McCasland

3 Desember 2002

Karunia Berpikir

Nats : Semua yang benar, semua yang mulia ... pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Filipi 4:4-9

Dalam beberapa hal manusia tidak lebih unggul daripada binatang. Saya telah menyaksikan pria-pria yang luar biasa kuatnya, tapi belum pernah ada manusia yang "sekuat lembu jantan". Manusia mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, tapi itu tidak ada artinya dibandingkan kecepatan lari seekor cheetah. Ada orang-orang yang sangat pandai untuk menentukan arah, meskipun begitu mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana burung layang-layang yang bermigrasi selalu dapat kembali ke tempat yang sama setiap tahunnya.

Memang beberapa jenis binatang benar-benar pandai. Namun, tak satu pun dari mereka dapat berpikir seperti kita. Tak satu binatang pun dapat mengembangkan masyarakat yang menakjubkan, dengan segenap kemajuan di bidang medis dan teknologi.

Kemampuan unik manusia untuk berpikir memungkinkan mereka untuk berpikir tentang Allah dan kekekalan. Seorang penyair Amerika terkenal, Walt Whitman, merasa terganggu dengan hal itu. Ia mengaku sering kali merasa iri pada ternak yang merumput sepuasnya di padang rumput, sebab mereka tak pernah khawatir dan memikirkan hal-hal yang menyusahkan.

Sebagai orang kristiani, kita tahu bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Namun sayang, kita dapat menyalahgunakannya dengan cara mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang cabul, kotor, dan buruk. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk merenungkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, bijak, patut dipuji, dan sedap didengar (Filipi 4:8).

Tuhan, bantulah kami untuk mendisiplin pikiran -Herb Vander Lugt

13 Januari 2003

Nasihat yang Bijak

Nats : Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Lukas 2:52)
Bacaan : Lukas 2:46-52

Saya takkan pernah lupa pada Jake. Kakinya tampak terlalu panjang dan kurus untuk menahan arus sungai. Sepatu botnya yang bertambal-tambal dengan warna yang sudah memudar terlihat lebih tua dari dirinya. Rompi memancingnya yang compang-camping direkatkan dengan peniti. Topi uzurnya telah koyak dan ternoda oleh keringat. Tangkai pancingnya yang kuno tampak carut-marut dan penuh balutan.

Saya mengamatinya saat ia menuju ke hulu air yang tenang dan mulai melemparkan pancingnya. Lihat! Ia memancing di tempat yang sama dengan tempat saya memancing sebelumnya pada hari itu, dan berhasil mendapatkan ikan trout, padahal saya tadi tidak mendapatkannya. Tampaknya ia dapat mengajarkan kepada saya satu atau dua hal. Jadi saya harus bertanya kepadanya.

Kita akan mendapatkan wawasan dengan mendengarkan mereka yang telah berpengalaman dan tahu lebih banyak dari kita, yakni pengetahuan yang tidak kita dapatkan karena terhalang oleh kesombongan kita. Kita dapat belajar dari orang lain bila kita mau merendahkan hati dan mengakui betapa sedikit yang kita ketahui. Kesediaan untuk belajar merupakan tanda orang yang bijaksana.

Renungkan tentang Yesus yang semasa kanak-kanak "duduk di tengah- tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka" (Lukas 2:46). Amsal 1:5 menyatakan bahwa "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan". Marilah kita bertanya kepada mereka yang hidup dengan mencari hikmat Allah --David Roper

30 Januari 2003

Membangun Kehidupan

Nats : Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Yohanes 20:11-18

Hari itu adalah hari yang cerah di tahun 1982, tapi juga menyedihkan, karena sehari sebelumnya suami saya dimakamkan. Saya pergi sendiri ke makam Bill tanpa tahu alasannya. Sama seperti Maria Magdalena yang mengunjungi kubur Yesus, di sana Tuhan yang bangkit juga menunggu saya. Dia menanamkan ayat Filipi 1:21 di benak saya yang masih berduka atas kematian Bill yang terlalu cepat karena kanker.

Saya pun merangkai doa berdasarkan ayat itu: "Tuhan, betapa seringnya Bill bersaksi, 'Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.' Ya, hamba-Mu itu sekarang telah tiada. Kepergiannya adalah kehilangan yang tak terperikan bagi kami, tetapi suatu keuntungan yang tak terkatakan buatnya. Aku tahu, Tuhan, suatu hari aku pun akan mati dan mendapatkan keuntungan itu. Namun saat ini aku masih hidup. Aku tak boleh hidup di masa lalu, dan menghargai hidupku yang sekarang. Bagiku, hidup adalah untuk-Mu!"

Sewaktu kembali, saya tahu saya telah mengucapkan doa yang mendasari hidup saya selanjutnya. Ke depan saya perlu melakukan banyak pemulihan dan perbaikan, tetapi saya yakin telah memiliki satu dasar yang kokoh, yakni Yesus Kristus.

Apakah kematian orang yang Anda kasihi atau rasa takut terhadap kematian Anda sendiri menguji dasar iman Anda? Biarlah perkataan Paulus, yang ditulisnya saat menghadapi kematian, dan juga sabda Yesus kepada Maria, menyemangati Anda untuk mempersembahkan doa yang menguatkan iman Anda. Lalu bangunlah kembali hidup Anda di atas dasar kasih Kristus yang bangkit! --Joanie Yoder

27 Februari 2003

Jalan Ketaatan yang Panjang

Nats : Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12)
Bacaan : Filipi 2:1-13

Setiap bulan Januari, anggota klub kebugaran akan meningkat secara drastis. Ruang latihan akan dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki niat yang menggebu-gebu di Tahun Baru. Para anggota tetap klub fitness tahu bahwa di bulan Maret banyak dari para pendatang baru itu akan menghilang. "Mereka tidak mendapatkan hasil secepat yang mereka pikirkan," kata salah seorang direktur klub tersebut. "Orang-orang itu tidak menyadari bahwa diperlukan kerja keras dan kegigihan untuk membentuk tubuh yang ideal."

Kita pun mengalami fenomena seperti itu dalam hal kerohanian. Penulis Eugene Peterson mencatat bahwa dalam budaya yang menyukai kecepatan dan efisiensi, "tidaklah sulit ... untuk membuat orang tertarik pada pesan dalam ajaran Yesus; tetapi yang sangat sulit adalah untuk mempertahankan ketertarikan itu." Untuk mengikuti Kristus dengan setia, kata Peterson, diperlukan "ketaatan yang terus-menerus pada satu tujuan".

Paulus menyuruh jemaat Filipi untuk memiliki tekad seperti Kristus. Ketaatan-Nya kepada Bapa begitu sempurna dan dilakukan dengan segenap hati (2:8). Paulus mendorong mereka untuk tetap taat kepada Tuhan dan untuk terus mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar (2:12).

Sebagai orang percaya baru, kita mungkin memiliki niat yang baik saat kita memulai langkah pertama dalam iman. Kemudian, saat kita bertumbuh dalam Kristus, kuasa Allah memampukan kita untuk terus berjalan dengan sukacita bersama Dia menyusuri jalan ketaatan yang panjang --David McCasland

9 Maret 2003

Hasrat Akan Firman Allah

Nats : Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku (Mazmur 119:103)
Bacaan : Mazmur 119:97-104

Alkitab. Seberapa dalam Anda mengenal dan memahaminya? Apakah pertanyaan ini tampak berlebihan? Apakah Anda merasa sudah sangat terlambat untuk mempelajarinya secara serius?

Renungkanlah kisah Cyrus. Meskipun orangtuanya kristiani, Cyrus tidak begitu sering membuka Alkitab. Ia lebih tertarik membaca karya Shakespeare dan buku sejarah. Menjelang usia 12 tahun, ia sudah memetakan seluruh peradaban manusia. Namun, Alkitab? Ia tidak tertarik untuk menyentuhnya.

Cyrus tumbuh menjadi pengacara yang disegani. Saat ia berumur 36 tahun, seorang kawannya datang ke kantornya dan bertanya mengapa ia tidak menjadi orang kristiani. Percakapan dengan kawannya itu menuntunnya untuk beriman kepada Yesus Kristus.

Saat menyadari bahwa ternyata dirinya hampir tidak tahu apa-apa tentang Alkitab, Cyrus bertekad untuk mendalami firman Allah lebih dari apa pun juga. Tak lama kemudian, Alkitab pun menjadi “lebih daripada madu” baginya (Mazmur 119:103). Tiga puluh tahun kemudian, pada tahun 1909, buku karyanya yang berjudul The Scofield Reference Bible diterbitkan. Pekerjaan besar Cyrus Ingerson Scofield telah usai.

Apakah kita harus melepaskan segala sesuatu dalam hidup kita dan menggunakan seluruh waktu untuk mempelajari Alkitab? Tentu saja tidak. Namun, kita harus menyadari bahwa pendalaman firman Allah secara terus-menerus sangatlah penting bagi pertumbuhan kita sebagai orang kristiani. Melalui Alkitab, kita tahu apa yang Allah harapkan dari kita, dan kita pun dapat mengenal Allah sendiri --Dave Branon

11 Maret 2003

Diubah untuk Mengubah

Nats : Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar (Kisah Para Rasul 22:15)
Bacaan : Kisah Para Rasul 22:1-16

Suatu malam, seorang wanita bermimpi bercakap-cakap dengan Allah. Ia begitu marah atas semua penderitaan dan kejahatan yang ia lihat di sekelilingnya. Lalu ia mengeluhkan hal itu kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu terhadap semua ini?” Dengan lembut Allah menjawab, “Sudah. Aku telah menciptakan engkau.”

Allah bisa saja mengirimkan banjir, seperti yang dilakukan-Nya pada zaman Nuh, untuk membasmi semua kejahatan dari muka bumi. Dia mampu, tetapi Dia tidak mau melakukannya. Dia telah berjanji untuk tidak akan melakukan hal seperti itu lagi (Kejadian 9:11). Sebaliknya, Dia memilih untuk bekerja melalui manusia seperti kita, mengubah mereka, kemudian memampukan mereka untuk menjadi agen-agen perubahan-Nya.

Dia mengubah Paulus dari seorang penganiaya jemaat menjadi “saksi-Nya terhadap semua orang” (Kisah Para Rasul 22:15). Hidup dan surat-surat Paulus memberi pengajaran, inspirasi, dan penghiburan kepada gereja pada masa-masa awal sampai saat ini. Kekuatan Allah telah mengubah Paulus. Dan ia kemudian dipakai Allah untuk mengubah dunia di sekitarnya.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda diubahkan oleh kekuatan Kristus Yesus? Apakah sekarang Anda melayani-Nya dengan taat untuk mengubah kehidupan orang-orang di sekeliling Anda?

Marilah memohon agar Allah bekerja di dalam hati dan hidup kita sehingga melalui kita, Dia akan membuat perubahan di dalam keluarga dan masyarakat, juga di dalam dunia ini --Vernon Grounds

20 Maret 2003

Pikiran yang Baik

Nats : Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Filipi 4:1-9

Menurut seorang anak lelaki, “Berpikir adalah saat mulut kita diam dan kepala kita berbicara sendiri.”

Tatkala kepala kita berbicara sendiri, saat itulah terungkap bagaimana kita bertindak secara moral dan spiritual. Untuk membentengi pikiran kita dan menghalangi masuknya pengaruh yang dapat menghalangi perjalanan kita dengan Allah, kita harus menggunakan pikiran kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Alkitab memberi kita tuntunan yang jelas tentang hal itu, yakni dengan menyebutkan hal-hal baik yang seharusnya kita pikirkan. Sebagai contoh, Mazmur 1:2 dan Mazmur 119:97 memerintahkan kita untuk merenungkan firman Allah siang dan malam. Itulah yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam benak kita.

Namun kita juga harus menjalani kehidupan, dan kita tidak mungkin menghabiskan seluruh waktu kita untuk terus-menerus merenungkan Kitab Suci. Meskipun demikian, kita juga membutuhkan tuntunan, apalagi saat memikirkan aspek duniawi dalam hidup kita. Paulus meminta kita supaya memikirkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Dalam menjalani segala aktivitas kita sehari-hari, hal-hal itulah yang seharusnya menguasai pikiran kita.

Saat kepala kita “berbicara sendiri”, pikiran kita seharusnya berkata, “Jangan masukkan pikiran kotor dan tidak baik!” Apabila kita berpikir seperti itu, kita akan tahu apa yang harus kita lakukan, bagaimana cara bertingkah laku, ke mana harus melangkah, dan apa yang harus dikatakan --Dave Branon

7 April 2003

Menghasilkan Anggur

Nats : Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yohanes 15:4)
Bacaan : Yohanes 15:1-8

Saat membaca tafsir modern dari Yohanes 15:1-8, saya mulai memikirkan ulang konsep saya tentang arti menjadi orang kristiani yang berbuah. Yesus berkata, “Akulah Pokok Anggur Sejati dan Bapa-Kulah Petaninya. Dia memotong setiap ranting-Ku yang tidak menghasilkan anggur. Dan setiap ranting yang menghasilkan anggur Dia pangkas lagi supaya lebih banyak berbuah” (The Message, karya Eugene Peterson).

Anggur adalah hasil dari aliran kehidupan yang disalurkan pokok anggur ke ranting-rantingnya. Saya sering menganggap orang kristiani yang berbuah adalah orang yang banyak terlibat dalam aktivitas gereja seperti mengajar Sekolah Minggu atau memimpin Pendalaman Alkitab. Semua pelayanan itu memang baik dan bermanfaat. Namun, Yesus berfirman bahwa hidup yang berbuah maksudnya adalah jika kita mengizinkan Dia hidup dan mengalir dalam diri saya: “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (ayat 4). Tak seorang pun dapat menghasilkan “anggur” jika ia tidak tinggal dalam Kristus, Sang Pokok Anggur. Buah tidak semata- mata berarti apa yang telah saya capai. Buah adalah hasil persekutuan intim saya bersama Dia.

Jika Anda merasa sebagai orang kristiani yang “berbuah”, tanyakan kepada diri sendiri, “Sudahkah saya menyerupai Yesus? Apakah Dia telah mengalir dalam diri saya melalui aktivitas dan pergaulan sehari-hari? Apakah “anggur” hidup saya mengarahkan sesama kepada Sang Pokok Anggur?” --David McCasland

5 Mei 2003

Menyerahkan Kendali

Nats : Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6)
Bacaan : Roma 8:1-11

Saat mengunjungi kawan yang menderita Lou Gehrig [penyakit yang menyerang saraf otak dan jaringan saraf tulang belakang, mengakibatkan kelumpuhan], saya bertanya pelajaran apa yang Allah ajarkan kepadanya selama masa sulit tersebut. Secara spontan wanita itu menjawab, "Kehilangan kendali."

Dulu ia adalah orang yang sangat teratur dan mandiri. Pekerjaan menuntutnya untuk sering pergi jauh dan menempuh perjalanan panjang. Namun, kini ia harus bergantung kepada orang lain dalam segala hal, mulai dari berpakaian sampai menggosok gigi. Ia tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Yang dapat ia kendalikan hanyalah apa yang ia pikirkan dan ucapkan. Ia sadar sebentar lagi ia pun tidak akan bisa bicara. "Saya dulu selalu mengutamakan pekerjaan," katanya, "dan tidak pernah benar-benar memasrahkannya kepada Tuhan. Namun, kini saat saya tak dapat mengendalikan semuanya, saya bisa terus terpaku pada keterbatasan fisik saya atau justru menyerahkannya kepada Kristus."

Kita juga punya pertanyaan yang sama, "Apakah hari ini saya akan mengendalikan sendiri hidup saya atau menyerahkannya kepada Tuhan?" Hidup yang hanya memenuhi keinginan diri sendiri sama artinya dengan membiarkan diri dikendalikan keinginan dosa. Paulus berkata, hidup yang demikian akan membawa kita pada kematian, "tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Roma 8:6).

Kelak, kita pun akan kehilangan kendali atas hidup kita, yakni saat kita bertambah tua. Menyerahkan kendali kepada Allah adalah pilihan yang bisa kita buat setiap hari, mulai hari ini --David McCasland

25 Agustus 2003

Iman Pada Kristus

Nats : Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia (Kolose 2:6)
Bacaan : Kolose 2:1-10

Sebagian orang kristiani berusaha untuk terus mempertahankan kehidupan rohani mereka berada "di puncak". Hubungan mereka dengan Tuhan didasarkan pada perasaan mereka saat "di puncak". Untuk itulah mereka mengikuti konferensi, seminar, dan pemahaman Alkitab, demi mempertahankan perasaan mereka itu.

Mengacu pada kehidupannya mula-mula sebagai orang kristiani, penulis Creath Davis berkata, "Saya merasa iman saya menjadi lemah jika sesuatu yang mengagumkan tidak terjadi. Akibatnya, saya kehilangan banyak pengalaman indah, karena saya berada di lembah, dan harus menanti untuk kembali berada di puncak."

Apakah obat penawar yang efektif bagi iman yang berpusat pada perasaan belaka? Menurut Rasul Paulus di dalam Kolose 2, berpusat pada Kristus adalah jawabannya. Setelah menerima Kristus Yesus dengan iman, kita diperintahkan untuk terus "hidup tetap di dalam Dia" dengan iman (ayat 6) melalui naik-turunnya kehidupan. Dengan hidup di dalam persekutuan yang erat dengan Dia setiap hari, kita akan "berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia," dan "bertambah teguh dalam iman" (ayat 7). Kita bertumbuh dengan mantap menuju kedewasaan saat kita berpusat pada Kristus serta apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, dan bukan pada perasaan kita.

Berada di puncak kehidupan rohani bisa jadi bermanfaat. Namun sesungguhnya tidak ada yang lebih menguntungkan daripada kehidupan iman yang terus menerus berpusat pada Kristus -Joanie Yoder

5 September 2003

Menjadi Mentor

Nats : Apa yang telah engkau dengar dari padaku ..., percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2Timotius 2:2)
Bacaan : 2Timotius 1:13-2:2

Menurut kisah Odyssey yang ditulis oleh Homer, ketika Raja Odysseus berangkat untuk bertempur di perang Troya, ia menitipkan Telemachus, putranya dalam asuhan seorang tua bijak bernama Mentor. Mentor diberi tanggung jawab untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada anak muda itu.

Lebih dari 2.000 tahun sesudah Homer, seorang ahli teologi berkebangsaan Perancis yang bernama François Fénelon menyadur kisah tentang Telemachus itu ke dalam sebuah novel yang berjudul Télémaque. Dalam novel itu, sang pengarang menonjolkan tokoh Mentor. Lambat laun istilah mentor diartikan sebagai "guru yang bijaksana dan bertanggung jawab"; orang berpengalaman yang tugasnya memberi nasihat, membimbing, mengajar, memberi inspirasi, menegur, mengoreksi, dan menjadi teladan.

Ayat 2 Timotius 2:2 menggambarkan tentang pendampingan rohani ini. Selain itu, Alkitab memberikan banyak contoh pendampingan rohani kepada kita. Timotius meneladan Paulus; Markus meneladan Barnabas; Yosua meneladan Musa; Elisa meneladan Elia.

Namun, bagaimana dengan kehidupan masa kini? Siapa yang akan mengasihi dan bekerja bersama orang-orang kristiani baru, serta menolong mereka bertumbuh kuat secara rohani? Siapa yang akan mendorong, membimbing, dan menjadi teladan kebenaran bagi mereka? Siapa yang akan bertanggung jawab atas para jemaat muda ini, dan bekerja sama dengan Allah untuk membantu membentuk karakter mereka?

Bersediakah Anda menjadi alat Allah untuk menanamkan kebijaksanaan dan menolong orang lain tumbuh dewasa? --David Roper

13 September 2003

"allah Tak Pernah Salah"

Nats : Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:21)
Bacaan : Roma 12:14-21

Beberapa hari setelah tiba di kampus Texas A&M University pada tahun 1984, Bruce Goodrich dibangunkan pada pukul dua dini hari. Kakak- kakak kelas membangunkannya dari tempat tidur untuk memelonconya melalui program Barisan Kadet, sebuah program orientasi bergaya militer.

Bruce dipaksa untuk berolah raga dan berlari beberapa kilometer dalam cuaca yang panas dan lembab. Ketika akhirnya ia tidak kuat lagi dan terjatuh, ia dipaksa bangkit untuk meneruskan larinya. Namun ia terjatuh lagi, mengalami koma, dan meninggal pada hari itu juga. Para siswa yang memaksa Bruce melakukan latihan itu telah diajukan ke pengadilan karena dituduh mengakibatkan kematiannya.

Ayah Bruce mengirimkan sepucuk surat kepada tata usaha universitas, staf pengajar, dan badan mahasiswa. Sekalipun menyesali apa yang terjadi pada Bruce, sang ayah menulis, "Saya hendak menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan rasa terima kasih dari keluarga saya atas perhatian dan simpati amat besar yang telah diberikan oleh Texas A&M University dan segenap sivitas akademika atas meninggalnya anak kami Bruce. Kami tidak menyimpan perasaan sakit hati ... Kami tahu, Allah tak pernah salah. Kini Bruce telah selamat sampai di rumah abadinya. Ketika muncul pertanyaan, 'Mengapa ini terjadi?' mungkin jawabannya adalah, 'Supaya banyak orang akan mempertimbangkan ke mana mereka akan menghabiskan waktu dalam kekekalan.'"

Keyakinannya akan kedaulatan Allah dapat mengubah kemarahan menjadi belas kasihan, dan kebencian menjadi perhatian --Haddon Robinson

28 Oktober 2003

Orang Menyenangkan

Nats : Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Lukas 2:52)
Bacaan : Lukas 2:41-52

Surat kabar lokal memberitakan kematian seorang pelempar bola bisbol semi-profesional yang selalu saya kagumi saat saya remaja. Namanya Elmer "Si Kidal" Nyenhouse. Ia adalah seorang kristiani yang menyenangkan. Artikel tersebut menceritakan bahwa ia aktif di gerejanya, dan merupakan anggota yang dihormati di dalam komunitasnya hingga kematiannya pada usia 88 tahun.

Dalam beberapa kesempatan saya menonton lemparan "Si Kidal" melawan tim semi-profesional terbaik, Chickie Giants. Mengetahui bahwa Elmer adalah seorang kristiani yang saleh, sebagian lawannya berusaha memancing emosinya (seperti saat tim Elmer ketinggalan angka). Mereka berlutut di tempat duduk dan berteriak, "Lebih baik engkau berlutut dan berdoa, Elmer!" "Si Kidal" tetap tenang. Mereka yang mengejek dia sebenarnya menghormatinya.

Saat Yesus tumbuh dewasa, Dia "makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52). Orang-orang datang kepada-Nya. Kasih mereka kepada-Nya tentu saja membuat gelisah para ahli Taurat yang membenci Dia karena pengajaran-Nya, dan mereka "mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak" (Lukas 22:2).

Saat ini, seperti biasa, ada sebagian orang yang membenci Anda karena Anda terang-terangan mengikuti Yesus. Namun, pastikan bahwa kebencian mereka bukan karena sifat Anda yang tidak menyenangkan, penuh kritik, dan sulit diajak bergaul. Menjadi orang yang menyenangkan berarti menjadi seperti Yesus --Herb Vander Lugt

10 November 2003

Meniru Pencipta Sejati

Nats : Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih (Efesus 5:1)
Bacaan : 1 Tesalonika 1

Museum Louvre di Paris mungkin merupakan museum seni termashyur di dunia. Museum ini memajang berbagai lukisan asli buah karya banyak pelukis besar seperti Delacroix, Michelangelo, Rubens, da Vinci, Ingres, Vermeer, dan masih banyak lagi.

Semenjak tahun 1793, Louvre telah mendorong para seniman yang bercita-cita tinggi untuk datang dan meniru lukisan-lukisan asli tersebut. Sebagian seniman modern kita yang termasyur telah melakukan hal itu dan telah menjadi pelukis yang semakin baik dengan meniru karya dunia terbaik.

Sebuah artikel di majalah Smithsonian mengisahkan tentang Amal Dagher, pria berusia 63 tahun yang sudah menduplikasi karya seni di Louvre selama 30 tahun. Sampai sekarang Dagher tetap terkagum-kagum pada para pelukis lukisan asli itu dan terus belajar dari itu semua. Ia berkata, "Jika Anda terlalu puas dengan diri sendiri, Anda tidak akan menjadi lebih baik."

Rasul Paulus memerintahkan kita untuk menjadi "penurut-penurut Allah" (Efesus 5:1). Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Tesalonika, ia memuji jemaat itu karena mereka semakin menjadi penurut Tuhan dan menjadi teladan bagi yang lain (1Tesalonika 1:6-10).

Seperti halnya para peniru lukisan di Louvre, kita pun tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sebelum kita naik ke surga. Namun demikian, kita harus menahan godaan untuk puas dengan peneladanan kita terhadap Yesus sekarang ini. Kita harus selalu memandang Dia, belajar dari-Nya, dan memohon pertolongan-Nya. Marilah kita meneladani Sang Pencipta Sejati --Dave Egner

27 Desember 2003

Kudus, Kudus, Kudus

Nats : Dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang" (Wahyu 4:8)
Bacaan : Wahyu 4

"Waktu berlalu cepat ketika Anda sedang bergembira." Ucapan klise ini tidak berdasarkan fakta, tetapi tampaknya pengalaman membuatnya tampak benar.

Ketika hidup menyenangkan, waktu berlalu begitu cepat. Beri saya tugas yang saya senangi, atau orang yang saya kasihi untuk menemani saya, maka waktu tampaknya menjadi tidak penting.

Pengalaman saya akan "kenyataan" ini telah memberi pemahaman baru tentang gambaran dalam Wahyu 4. Dulu, ketika saya memikirkan keempat makhluk di sekitar takhta Allah, yang berulang kali mengucapkan kata-kata sama, saya berpikir, Alangkah membosankan kehidupan seperti itu!

Saya tidak berpikir seperti itu lagi. Yang saya pikirkan adalah pemandangan yang mereka saksikan dengan banyak mata yang mereka miliki (ayat 8). Saya memikirkan pemandangan yang mereka lihat saat berada di sekitar takhta Allah (ayat 6). Mereka takjub akan keterlibatan Allah yang bijak dan penuh kasih terhadap penduduk dunia yang suka melawan. Lalu saya berpikir, adakah lebih baik yang mungkin ada di sana? Apa lagi yang harus dikatakan selain, "Kudus, kudus, kudus"?

Apakah membosankan mengucapkan kata yang sama berulang-ulang? Tidak, ketika Anda berada di hadapan seseorang yang Anda kasihi. Tidak, ketika Anda melakukannya tepat seperti yang sudah dirancangkan untuk Anda.

Seperti keempat makhluk tersebut, kita dirancang untuk memuliakan Allah. Kehidupan kita tidak akan pernah membosankan jika kita memusatkan perhatian kepada-Nya dan menggenapi tujuan itu --Julie Ackerman Link

22 Februari 2004

Kiat Berkebun

Nats : Yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah (Markus 4:20)
Bacaan : Markus 4:1-9

Suatu hari, saya membeli sebuah buku tentang berkebun dan memperoleh sebuah nasihat yang bagus, "Rawatlah tanahnya, dan tidak perlu khawatir dengan tanamannya. Jika tanahnya bagus, setiap benih pasti berakar dan bertumbuh."

Melalui perumpamaan tentang seorang penabur di dalam Markus 4, Yesus berbicara tentang betapa pentingnya "tanah yang baik". Dia menyebutkan tanah yang baik untuk menjelaskan tentang orang-orang yang "mendengar" firman Allah, "menerimanya", dan "berbuah" (ayat 20). Jika kita menjaga hati kita tetap lembut dan terbuka, maka firman Allah akan berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah.

Menurut teori berkebun, kehidupan ada di dalam benih. Dalam kondisi yang benar, benih itu akan bertumbuh sampai dewasa dan menghasilkan buah. Dengan cara yang sama, benih firman yang ditanam di tanah yang baik, yaitu hati yang terbuka, akan bertumbuh hingga karakter Yesus terlihat.

Bagi orang kristiani, kuasa kehidupan rohani berasal dari Roh Kudus yang berdiam di dalam hati. Jika kita membuka hati kita pada firman, disertai kerinduan yang dalam untuk menaatinya, maka Roh Kudus akan membuat kita bertumbuh dan berbuah (Galatia 5:22,23).

Kita tidak dapat membuat diri kita sendiri bertumbuh, sebagaimana kita tidak dapat memaksakan pertumbuhan benih di kebun kita. Namun, kita dapat memelihara tanahnya, dengan menjaga hati kita tetap lembut, terbuka, dan taat pada firman Allah. Maka akhirnya, kita pun akan menghasilkan buah kebenaran.

Tanah macam apakah hati Anda? --David Roper

15 Maret 2004

Perawatan Hati

Nats : Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)
Bacaan : Amsal 4:20-27

Jika Anda berusia di atas 40 tahun, itu artinya jantung Anda telah berdetak lebih dari 1,5 miliar kali. Saya sadar bahwa ketika jantung saya berhenti berdetak, sudah sangat terlambat bagi saya untuk mengubah gaya hidup. Jadi, saya berusaha mengontrol berat badan saya, berolahraga, dan memerhatikan tidak hanya apa yang saya makan, tetapi juga apa yang mengganggu pikiran saya.

Hal terakhir ini berhubungan dengan organ penting lain yang disebut “hati”, yaitu hati rohani kita. Hati kita juga berdenyut jutaan kali karena pemikiran, kasih sayang, dan berbagai pilihan. Di dalam hati, kita memutuskan bagaimana kita akan berbicara, bersikap, dan menanggapi keadaan lingkungan (Amsal 4:23). Apakah kita akan memercayai Tuhan dan memilih untuk menjadi ramah, sabar, dan penuh kasih? Atau apakah kita akan menyerah pada kesombongan, ketamakan, dan kepahitan?

Bacaan Kitab Suci hari ini menekankan pentingnya memelihara hati kita. Apakah kita tetap sehat secara rohani?

Berat: Apakah kita perlu mengurangi beban dan pemikiran yang tidak perlu?

Denyut: Apakah kita mempertahankan ketetapan irama ucapan syukur dan pujian?

Tekanan darah: Apakah kepercayaan kita lebih besar daripada kecemasan kita?

Diet: Apakah kita menikmati gizi firman Allah yang memberikan kehidupan?

Sudahkah Anda memeriksa hati Anda akhir-akhir ini? —Mart De Haan

17 Maret 2004

Masa Dalam Kehidupan

Nats : Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan .... Engkau yang selalu kupuji-puji (Mazmur 71:6)
Bacaan : Mazmur 71:1-21

Waktu muda, kita tak sabar menjadi dewasa. Setelah tua, kita mengenang kembali masa muda kita dengan penuh kerinduan. Namun, Allah ingin agar kita dapat sungguh-sungguh menikmati datangnya setiap masa kehidupan. Berapa pun usia kita, Dia memberi apa yang kita butuhkan untuk meraih apa pun yang dapat kita capai. Dia meminta kita mempertanggungjawabkan hidup kita kepada-Nya, serta menerima perjuangan hidup yang Dia izinkan terjadi dan kekuatan yang Dia sediakan.

Seorang wanita yang menghadapi masalah penuaan bertanya kepada seorang guru Alkitab J. Robertson McQuilkin, “Mengapa Allah membiarkan kita menjadi tua dan lemah?” McQuilkin menjawab, “Saya rasa Allah telah merencanakan bahwa kekuatan dan kecantikan masa muda bersifat fisik, tetapi kekuatan dan kecantikan masa tua bersifat rohani. Lambat laun kita mulai kehilangan kekuatan dan kecantikan yang fana. Lalu kita akan berkonsentrasi pada kekuatan dan kecantikan yang kekal. Kita menjadi sangat ingin meninggalkan kefanaan, mematikan sebagian diri kita, dan merindukan rumah kekal kita. Jika kita tetap muda, kuat, dan cantik, mungkin kita tak mau meninggalkan dunia ini.”

Apakah saat ini Anda menjalani masa muda? Percayalah pada pengaturan waktu Allah dalam memenuhi impian Anda. Apakah saat ini Anda menjalani masa setengah tua atau masa tua? Hadapilah tantangan hidup Anda setiap hari. Dan apabila Anda merasa tawar hati, mendekatlah kepada Tuhan. Kehadiran-Nya dapat membuat setiap masa kehidupan ini menjadi masa yang penuh kekuatan dan keindahan —Dennis De Haan

26 Maret 2004

Menjadi Berguna

Nats : Terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22)
Bacaan : Lukas 3:21,22

Yesus mulai tampil untuk melakukan pelayanan dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Namun, ketika keluar dari air setelah dibaptis, Dia mendengar Bapa-Nya berkata, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22).

Apa yang telah dilakukan Yesus sehingga Dia layak mendapatkan penerimaan yang sedemikian luar biasa? Dia belum mengadakan suatu mukjizat pun; Dia belum berkhotbah; Dia belum membuat penderita penyakit kusta menjadi tahir. Sebenarnya Dia belum melakukan apa pun yang dapat kita anggap sebagai suatu kehebatan. Apa yang dikerjakan-Nya selama 30 tahun di Nazaret sebelum Dia melayani? Dia makin bertambah “hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (2:52).

Apa yang dilakukan di tempat yang sunyi bersama Allah, itulah yang memberi arti. Di saat-saat persekutuan dengan Allah inilah kita dibentuk dan dipersiapkan sehingga menjadi manusia yang dapat dipakai-Nya, yakni menjadi orang-orang yang membuat-Nya berkenan.

Mungkin Anda berpikir, Saya berada di suatu posisi di mana saya tidak berguna. Mungkin Anda merasa terbatas dan frustrasi karena faktor usia, menderita penyakit, anak-anak yang susah diatur, dan pasangan yang tidak mau bekerja sama. Namun, di mana pun posisi Anda, itu adalah tempat untuk bertumbuh. Luangkanlah waktu untuk membaca firman Allah dan berdoa. Bertumbuh dan berbuahlah di mana pun Anda berada, dan Bapa akan berkenan terhadap Anda —David Roper

26 April 2004

Kesulitan dan Keberhasilan

Nats : Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11)
Bacaan : Ibrani 12:1-11

Bertahun-tahun yang lalu, saya adalah seorang kristiani yang selalu diliputi kekhawatiran. Saat saya mulai mengalami kemerosotan emosi, Allah tidak campur tangan karena Dia tahu saya perlu turun ke dasar terendah dari diri saya. Jadi ketika akhirnya saya mencapai dasar terendah tersebut, “batu” tempat saya berpijak adalah Yesus Kristus.

Tuhan segera membangun diri saya kembali, dengan menerapkan kebenaran firman-Nya untuk mengajarkan kepercayaan dan iman kepada saya. Setahap demi setahap Dia mengubah saya menjadi seseorang yang penuh sukacita dan bergantung kepada-Nya, dengan demikian sesuai kehendak-Nya atas saya. Melalui pengalaman yang menyakitkan namun menguntungkan ini, saya belajar bahwa saat Allah mendidik kita, hasil terpenting bukanlah apa yang kita peroleh, melainkan menjadi orang seperti apa kita nanti.

Dalam Ibrani 12, kita membaca bahwa Bapa surgawi begitu mengasihi kita sehingga tidak membiarkan kita tetap kanak-kanak. Sebagaimana ayah-ayah lain yang penuh kasih, Dia mendisiplin, memperbaiki, dan melatih kita—kerap kali melalui situasi yang sulit. Allah memakai saat-saat pergumulan untuk membantu kita bertumbuh dan membuat kita semakin kudus (ayat 10,11).

Banyak orang termotivasi untuk hidup demi kesehatan, kekayaan, dan kenyamanan, sehingga mereka berusaha menghindari kesulitan sekecil apa pun. Namun, hidup berkelimpahan yang Allah kehendaki bagi umat-Nya bukanlah hidup tanpa masalah. Pertumbuhan dan perubahan kerap kali terasa mengganggu, tetapi hasilnya sepadan dengan segala kesulitan itu —Joanie Yoder

4 Mei 2004

Pelempar Cakram

Nats : Allah, sumber segala kasih karunia, ... akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1 Petrus 5:10)
Bacaan : 1 Petrus 5:6-10

Seorang atlet Skotlandia pada abad kesembilan belas membuat sebuah cakram besi berdasarkan penjelasan yang dibacanya dalam sebuah buku. Ia tidak tahu bahwa cakram yang digunakan pada pertandingan resmi sebenarnya terbuat dari kayu dan hanya pinggiran luarnya yang terbuat dari besi. Cakram buatannya sepenuhnya terbuat dari besi, dan tiga atau empat kali lebih berat daripada cakram yang digunakan oleh pelempar lainnya.

Menurut penulis John Eldredge, pria tersebut menandai jarak rekor dunia pada sebuah lapangan di dekat rumahnya, dan berlatih siang malam untuk mencapainya. Setelah bertahun-tahun berlatih, akhirnya lemparannya dapat melampaui rekor tersebut. Kemudian ia membawa cakram besinya ke Inggris untuk mengikuti pertandingan pertamanya.

Setibanya di sana, ia diberi cakram resmi dan dengan mudah menciptakan rekor baru dengan jarak yang jauh melampaui lawan-lawannya. Ia menjadi juara yang tak tertandingi selama bertahun-tahun. Pria ini telah melatih dirinya dengan menggunakan beban yang berat, sehingga ia menjadi lebih baik.

Saat kita harus menanggung beban yang berat, kita perlu belajar untuk memikulnya di dalam kekuatan Yesus dan demi Dia. Apa pun beban atau penderitaan itu, Allah akan menggunakannya untuk “melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan” kita, sebagaimana dikatakan dalam 1 Petrus 5:10.

Beban dapat membentuk kita menjadi lebih baik daripada yang dapat kita bayangkan—lebih kuat, sabar, bersemangat, lembut, dan mengasihi —David Roper

28 Mei 2004

Memulihkan Gambar Allah

Nats : Kita semua ... diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18)
Bacaan : Kolose 3:8-17

Semasa kecil, teolog Alister McGrath senang bereksperimen dengan bahan kimia di laboratorium sekolahnya. Ia suka menjatuhkan sekeping uang logam yang kusam ke dalam gelas kimia berisi asam nitrat yang telah diencerkan. Ia sering menggunakan uang logam penny Inggris yang kuno bergambar Ratu Victoria. Karena kotoran yang menumpuk pada uang logam itu, gambar sang ratu menjadi tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun, asam membersihkan kotoran pada logam itu dan gambar sang ratu pun dapat terlihat kembali dalam keagungannya yang cemerlang.

Kita tahu pasti bahwa kita ini diciptakan seturut dengan gambar Allah (Kejadian 1:26), meskipun gambar itu telah kotor karena dosa-dosa kita. Namun demikian, kita tetap menyandang gambar Allah.

Begitu kita mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan kita sebagai Sang Juruselamat, Dia bekerja untuk membenahi gambar asli kita. Dia mengubah kita agar menjadi serupa dengan-Nya (2 Korintus 3:18). Proses ini digambarkan dengan menanggalkan sebagian perilaku yang ada dan mengenakan perilaku yang lain. Sebagai contoh, ada tertulis, “Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor” (Kolose 3:8) dan “kenakanlah kasih” (ayat 14).

Jika jiwa kita yang telah kusam karena dosa tidak dibasuh oleh pengampunan Yesus, gambar Allah akan tampak kabur di dalam kehidupan kita. Namun bila kita memercayai pengurbanan Yesus di kayu salib, maka kita pun diampuni dan pemulihan itu dimulai —Vernon Grounds

6 Juni 2004

Cincin

Nats : Apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil (Filipi 1:12)
Bacaan : Filipi 1:12-17

Saya tak begitu suka perhiasan. Sampai kini, hanya cincin kawinlah yang pernah saya inginkan. Di sebelahnya, di kelingking kiri saya, terpasang cincin perak sederhana milik putri saya, Melissa.

Tak lama setelah Mell tewas dalam kecelakaan mobil pada Juni 2002, 6 minggu sebelum ulang tahunnya yang ke-18, saya masuk ke kamarnya dan menemukan cincin itu. Saya ingat pernah melihat cincin itu terpasang di jari lentiknya.

Saya menyelipkan cincin itu, dan ternyata cincin itu pas di jari saya. Kini saya selalu memakainya karena saya dapat melihat atau menyentuhnya, dan merasa dekat dengan putri saya tercinta. Karena cincin ini pernah menghiasi jari putri saya, hati saya menjadi hangat saat sangat merindukannya.

Namun, ada alasan lain mengapa saya memakainya. Saya ingin orang melihat dan menanyakan cincin itu. Lalu saya dapat menceritakan Melissa dan hidupnya yang penuh kasih, iman, dan sukacita. Saya harap cincin itu dapat membuka percakapan yang memungkinkan saya memperkenalkan Juruselamat Melissa dan saya kepada orang lain.

Rasul Paulus memakai belenggunya, yaitu keadaannya dalam penjara, untuk memajukan Injil (Filipi 1:12). Bukannya ia senang dipenjara, tetapi ia tahu kesusahannya dapat diubah menjadi tujuan yang baik, seperti cincin ini. Andai cincin ini tidak saya pakai; dan Melissa masih memakainya. Tetapi ia telah tiada, dan saya berharap tragedi ini membawa kemuliaan bagi Allah.

Adakah kehilangan dalam hidup Anda yang dapat dipakai Allah? —Dave Branon

28 Juli 2004

Masalah Rasa

Nats : Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani (2 Korintus 7:1)
Bacaan : 2 Korintus 6:1-7:1

Dua ekor kecoa memutuskan untuk mengunjungi rumah makan favorit mereka. Ketika kecoa yang lebih besar sedang menikmati makanannya, kecoa yang lebih kecil berkata, “Kamu pasti tidak percaya mendengar cerita tentang rumah yang baru saja aku tinggalkan. Rumah itu tak bernoda sedikit pun. Wanita pemiliknya pastilah seorang yang suka bersih-bersih. Segala sesuatunya begitu bersih, baik bak cuci, meja pajangan, maupun lantainya. Kamu tidak akan bisa menemukan remah-remah di mana pun juga.” Kecoa satunya berhenti mengunyah, memandang temannya dengan jengkel, dan berkata, “Haruskah kamu berbicara seperti itu ketika aku sedang makan?”

Cerita tentang kecoa ini dapat diterapkan kepada manusia juga. Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus menunjukkan bahwa para pembaca surat-surat Paulus harus belajar banyak tentang hidup suci. Mereka perlu mengembangkan sifat lapar dan haus akan kebenaran yang lebih kuat. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta mereka untuk berbalik dari segala macam kekotoran (7:1). Ia mengingatkan mereka bahwa Allah ingin agar umat-Nya memisahkan diri mereka dari sampah rohani.

Jika “kebersihan” hati tampaknya tidak menarik, barangkali kita telah cukup puas dengan “remah-remah” keinginan duniawi kita. Karena itu, kita harus belajar untuk mengecap bagaimana rasanya kesalehan itu.

Bapa, ampunilah kami karena telah memenuhi keinginan daging kami yang penuh dosa ini. Sebaliknya, bantulah kami untuk menanamkan selera yang ingin dihasilkan Roh Kudus-Mu di dalam diri kami —Mart De Haan

4 September 2004

Mari Bertumbuh!

Nats : Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2Petrus 3:18)
Bacaan : Mazmur 1

Beberapa tahun yang lalu, ketertarikan saya akan bunga menjadikan rumah saya seperti kebun yang berisikan tanaman yang baru bertumbuh. Saya sangat menikmati kehadiran tanaman yang sedang bertumbuh itu. Setiap hari saya mengamati pertumbuhan mereka, dan dari teman-teman hijau mungil itu saya mendapatkan suatu cara baru untuk menghargai sukacita dan pentingnya proses pertumbuhan yang baik.

Sebagai orang kristiani, kita ini mirip tanaman. Kita harus menancapkan akar-akar kita, berjuang menembus tanah, merentangkan ranting-ranting, dan berbunga. Akan tetapi, pertumbuhan yang sepesat itu tidak selalu terjadi di dalam hidup kita. Dengan mudahnya kita menjadi bosan dan lesu dalam menjalani rutinitas yang tidak menggairahkan dalam aktivitas sehari-hari. Acap kali kita hanyalah terpaku dan sekadar hidup tanpa bertumbuh ke arah kedewasaan serta menghasilkan buah.

Pada masa-masa seperti itu kita mengalami stagnasi rohani sehingga harus mengizinkan Yesus Sang "Surya Kebenaran" (Maleakhi 4:2) untuk menghangatkan hati kita kembali dengan kasih-Nya. Kita harus menancapkan akar dalam-dalam di dalam firman Allah dengan merenungkannya siang dan malam (Mazmur 1:2). Maka kita akan seperti pohon yang menghasilkan buah dan ditanam di tepi aliran air hidup. Ranting-ranting kita akan menjalar keluar, memengaruhi dan menjadi kesaksian yang terus berkembang. Ranting-ranting itu akan dipenuhi kuncup bunga yang memancarkan keindahan cara hidup yang saleh.

Jika kita mulai terlelap, marilah kita bertumbuh! --Mart De Haan

1 November 2004

Serangga Penggerek Daun

Nats : Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air (Yeremia 17:8)
Bacaan : Yeremia 17:1-10

Pada musim panas 1992, api menghanguskan hutan seluas 1.296,4 ha, kira-kira 56 km sebelah utara Atlantic City. Seorang pemilik rumah menyaksikan sebuah bola api setinggi 18 m berkobar dari rumahnya ke jalanan, sebelum api itu berubah arah. Associated Press mengutip ucapan pria itu: “Saya sudah tinggal di tempat ini selama 25 tahun. Membayangkan bahwa rumah yang Anda tinggali akan habis terbakar hanya dalam waktu 10 menit, membuat Anda bertahan untuk menyaksikannya hingga menit terakhir.”

Kebakaran itu sulit dipadamkan karena kondisi udara yang kering. Sekalipun ada hujan, hutan tetap kering. Kekeringan itu juga disebabkan sejenis serangga yang disebut serangga penggerek daun, yangmembuat pohon-pohon gundul.

Kekeringan pohon-pohon yang menyebabkan kebakaran di New Jersey ini mirip dengan sejarah bangsa Israel. Yeremia mengatakan bahwa kaum sebangsanya menjadi seperti semak bulus di padang belantara, bukan seperti pohon yang tertanam di tepi aliran air (17:6-8). Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, Yeremia mengatakan bahwa bangsa Israel telah menyalakan api murka Allah (ayat 4) dengan mengandalkan manusia dan menjauhi Tuhan (ayat 5). Bagi umat kristiani saat ini, ujian kehidupan yang seperti ancaman kobaran api akan menghanguskan jiwa jika kita mengandalkan kekuatan sendiri.

Bapa, ampuni kami karena telah membuat hidup kami “kering” dan “tidak berdaun”. Tanpa belas kasih-Mu, kami akan terbakar oleh api yang akan datang. Ajari kami untuk menambatkan akar di tepi sungai kelimpahan-Mu —Mart De Haan

14 Januari 2005

Batu Dalam Mulut

Nats : Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya (Amsal 18:7)
Bacaan : Amsal 18:1-8

Kita semua akan merasa ngeri apa-bila membayangkan mulut yang penuh dengan kerikil. Tetapi sebuah batu di dalam mulut sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang diidamkan. Paling tidak, hal itu tampaknya benar bagi crane [burung bangau] yang hidup di pegunungan Taurus, Turki Selatan.

Burung-burung crane tersebut cenderung untuk berkotek, terutama selama mereka terbang. Akan tetapi suara itu justru akan menarik perhatian burung rajawali, yang menukik dan menyambar burung-burung itu untuk dimakan. Burung crane yang sudah berpengalaman, menghindari ancaman tersebut dengan memungut batu yang cukup besar untuk memenuhi mulut mereka. Hal ini mencegah mereka berkotek—dan supaya tidak menjadi santapan siang bagi burung-burung rajawali.

Manusia juga memiliki masalah dengan mulut. Penulis kitab Amsal berkata, “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” (13:3). “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan” (18:6). Betapa banyak kesulitan yang dapat dicegah jika kita mau belajar mengendalikan lidah kita! Betapa banyak sakit hati yang kita sebabkan bagi orang lain dapat dicegah jika kita mau menjaga perkataan kita!

Apakah Anda memiliki masalah yang berkaitan dengan lidah Anda? Cobalah cara berikut ini: Mintalah pertolongan dari Tuhan. Berpikirlah sebelum Anda membuka mulut. Belajarlah untuk sedikit berbicara. Mengikuti petunjuk itu bisa seefektif batu di mulut —Richard De Haan

3 Februari 2005

Terang yang Benar

Nats : Ditempatkannyalah kandil di dalam Kemah Pertemuan berhadapan dengan meja itu, pada sisi Kemah Suci sebelah selatan (Keluaran 40:24)
Bacaan : 1 Yohanes 1:1-7

Makan di tengah kegelapan memang tidak menyenangkan. Cahaya yang remang-remang di restoran memang sudah biasa, tetapi makan di dalam ruangan tanpa lampu adalah hal yang sama sekali berbeda. Begitu pula dalam perjalanan kita bersama Allah. Jika kita tidak menerima berkat terang yang ditawarkan-Nya, kita tidak akan melihat apa yang dilakukan-Nya bagi kita.

Perjanjian Lama memberi kita gambaran tentang hal ini—Kemah Suci. Ketika imam memasuki ruangan yang disebut Tempat Kudus, hanya dengan diterangi lampu-lampu ia dapat melihat kandil emas (Keluaran 25:31- 40). Seperti semua benda lain dalam ruangan itu, kandil itu pun dibuat berdasarkan contoh yang telah diberikan Allah kepada Musa (ayat 40).

Kandil merupakan gambaran tentang terang rohani. Emas menunjukkan nilai. Minyak melambangkan Roh Kudus. Keenam cabang yang muncul dari sisi tengah menggambarkan kesatuan di tengah kemajemukan yang ada. Bunga buah badam adalah lambang pemimpin yang diurapi Allah (Bilangan 17:1-8). Apabila semua ini digabungkan dengan keterangan dalam Perjanjian Baru yang memakai kandil emas untuk mewakili jemaat (Wahyu 1:20), kita akan mendapatkan gambaran yang lengkap. Allah memberi terang melalui Roh, yang bekerja melalui jemaat-Nya yang merupakan orang-orang yang diurapi (1 Petrus 2:9).

Roh Kudus memberikan terang yang kita butuhkan. Lalu, apakah setiap hari kita meluangkan waktu untuk berdoa dan membaca firman Allah sehingga kita mendapatkan berkat darinya? —Mart De Haan

12 Februari 2005

Imamat Sebagai Pengingat

Nats : Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus (Imamat 11:44)
Bacaan : Imamat 11:41-45

Jika Anda mengikuti jadwal bacaan Alkitab setahun di Renungan Harian, maka akhir-akhir ini Anda telah sampai pada kitab Imamat. Mungkin Imamat merupakan salah satu kitab yang paling jarang dibaca dalam Alkitab, dan mungkin Anda bertanya-tanya apa tujuan dari penulisan kitab itu. Mengapa perlu ada semua hukum dan peraturan tentang binatang yang kudus dan yang najis? (ayat 11). Pesan apa yang sedang Allah berikan kepada bangsa Israel waktu itu—dan kepada kita?

Ahli tafsir Alkitab Gordon Wenham berkata, “Apabila hukum membedakan binatang yang kudus dari yang najis, maka orang diingatkan bahwa Allah telah membedakan mereka dari semua bangsa lainnya di bumi untuk menjadi milik-Nya .... Tugas manusia yang paling utama adalah meniru Penciptanya.”

Lima kali dalam kitab Imamat Allah berkata, “Haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus” (11:44,45, 19:2, 20:7,26). Dan 45 kali Dia berkata, “Akulah Tuhan” atau “Akulah Tuhan, Allahmu.” Salah satu tema terpenting dalam kitab itu adalah panggilan Allah bagi umat-Nya untuk menjadi kudus. Yesus menggemakan tema ini ketika berkata, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48).

Ketika Anda membaca Imamat 11, ingatlah bahwa Anda istimewa bagi Allah dan harus “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang- Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

Kita membutuhkan kitab Imamat sebagai pengingat setiap hari —Anne Cetas

13 Mei 2005

Lebih dari Berharap

Nats : Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya (Matius 6:8)
Bacaan : Matius 6:5-15

Ketika masih kecil, C.S. Lewis senang membaca buku E. Nesbit, terutama Five Children and It. Dalam buku ini, beberapa anak kakak beradik pada liburan musim panas bertemu dengan peri pasir kuno yang mengabulkan satu keinginan mereka setiap hari. Tetapi setiap keinginan hanya menimbulkan masalah bagi anak-anak tersebut dan bukannya membawa kegembiraan, karena mereka tidak bisa memperkirakan akibat dari terkabulnya segala sesuatu yang mereka inginkan itu.

Alkitab memberi tahu kita untuk menyatakan segala keinginan kita kepada Allah (Filipi 4:6). Tetapi doa itu tidak hanya menyatakan kepada Allah apa yang kita ingin Dia lakukan untuk kita. Ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya bagaimana seharusnya berdoa, Dia mulai dengan mengingatkan mereka, "Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Matius 6:8).

Apa yang kita sebut "Doa Bapa Kami" lebih merupakan hidup dalam hubungan yang bertumbuh dan memercayai Bapa surgawi daripada mendapatkan apa yang kita inginkan dari-Nya. Ketika kita bertumbuh dalam iman, doa kita tidak akan lagi berupa daftar keinginan, tetapi akan lebih berupa percakapan akrab dengan Tuhan.

Menjelang akhir hidupnya, C.S. Lewis menulis, "Jika Allah mengabulkan semua doa tolol yang pernah saya panjatkan selama hidup, sekarang saya akan berada di mana?"

Doa merupakan cara menempatkan diri kita di hadirat Allah untuk menerima apa yang sungguh-sungguh kita perlukan dari-Nya—DCM

21 Mei 2005

Pendek dan Buruk

Nats : Jawab Yakub kepada Firaun, "... Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya" (Kejadian 47:9)
Bacaan : Kejadian 47:1-10

Kehidupan Yakub penuh pencobaan. Demikian pula hidup kita. Hidup menekan dan membatasi kita, menimpakan beban yang tidak ingin kita pikul. Akan tetapi penderitaan yang paling tidak adil, paling tidak layak kita terima, paling sia-sia, adalah kesempatan bagi kita untuk menanggapinya dengan cara yang dapat digunakan oleh Tuhan untuk mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya. Kita dapat bersukacita dalam pencobaan yang kita hadapi, karena kita tahu bahwa kesulitan membuat kita "sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun" (Yakobus 1:3,4). Tetapi ini perlu waktu.

Kita menginginkan hasil yang cepat, tetapi tidak ada jalan pintas menuju tujuan akhir yang Allah tentukan bagi kita. Satu-satunya cara untuk bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus adalah dengan tunduk setiap hari pada kondisi yang Allah sediakan bagi hidup kita. Apabila kita menerima kehendak-Nya dan tunduk pada jalan-Nya, maka kekudusan-Nya akan menjadi milik kita. Perlahan-lahan tetapi pasti, Roh Allah mulai mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih lembut hati, lebih tegar, lebih kuat, lebih kokoh dan lebih bijak. Prosesnya misterius dan tidak bisa dipahami, tetapi demikianlah cara Allah melimpahi kita dengan rahmat dan keindahan. Kita pasti mengalami kemajuan.

Ruth Bell Graham mengatakan, semoga Allah memberi kita rahmat "untuk memikul panasnya api pembersihan, supaya beban kita tidak terasa semakin berat, tetapi kita dapat ikut memikul bagian penderitaan kita dan beban kita tetap ringan, dalam nama Yesus" —DHR

29 Mei 2005

Menyentuh Dasar

Nats : Yesus . . . oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2Timotius 1:10)
Bacaan : Wahyu 1:10-18

Setiap minggu orang-orang berkumpul untuk mendengarkan khotbah yang menggugah jiwa dari Joseph Parker, pendeta London’s City Temple yang terkenal di akhir abad 19. Kemudian krisis hebat menimpanya. Istrinya meninggal sesudah menderita penyakit yang menyiksa. Parker kemudian mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan seekor anjing menderita seperti istrinya. Sebagai suami patah hati yang doa-doanya tidak terjawab, kepada publik ia mengakui bahwa selama satu minggu ia telah menyangkal bahwa Allah ada.

Tetapi Parker hanya sementara kehilangan iman. Dari pengalaman itu ia meraih kepercayaan pribadi yang lebih kuat akan kebangkitan Yesus yang mematahkan kematian dan mulai bersaksi, "Saya telah mencapai dasar penderitaan, dan saya telah mendapatkan maknanya."

Dengarkan seruan kemenangan dari Kristus yang telah bangkit ketika Dia menyatakan kemenangannya atas maut: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya" (Wahyu 1:17,18).

Kematian adalah musuh kita yang paling mengerikan, merampas sukacita dan harapan kita, kecuali jika kemenangan kebangkitan Kristus menggema di hati kita. Apabila kita percaya kepada Pemenang perkasa atas kematian, keragu-raguan akan musnah dan terang menghalau kegelapan.

Genggamlah erat-erat kepercayaan yang penuh kemenangan itu manakala Anda bergumul melalui krisis hidup yang paling berat —VCG

30 Mei 2005

Dikenal Allah

Nats : Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya (Mazmur 77:10)
Bacaan : Mazmur 77:2-16

Ketika mengunjungi makam para pahlawan yang gugur pada Perang Dunia I di Prancis, saya heran dengan banyaknya nisan yang hanya bertuliskan kata-kata berikut.

Tentara Perang Besar: Dikenal Allah

Makam itu dikelilingi oleh tiga sisi papan batu yang memuat 20.000 nama tentara yang mati dalam pertempuran tidak jauh dari tempat itu. Membayangkan betapa kesepiannya orang-orang yang tewas dalam perang dan kepedihan keluarga mereka yang berduka di rumah terasa sangat berat.

Dalam hidup kadang-kadang kita merasa dilupakan dan sendirian. Lalu kita berseru seperti pemazmur, "Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi? . . . Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?" (Mazmur 77:8,10).

Jawaban pemazmur atas perasaannya yang ditinggalkan datang ketika ia mengingat semua yang telah Allah kerjakan pada masa lampau, merenungkan karya-Nya yang ajaib, dan membicarakannya dengan orang lain (ayat 12,13).

Pada saat-saat yang paling gelap, kita dapat mengingat kata-kata Yesus: "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Lukas 12:6,7).

Kita tidak pernah dilupakan Allah —DCM

2 Juni 2005

Doa Lima Jari

Nats : Hendaklah kamu ... saling mendoakan (Yakobus 5:16)
Bacaan : Yakobus 5:13-18

Doa adalah percakapan dengan Allah, bukan formula. Namun, kita mungkin kadang perlu memakai suatu "metode" untuk menyegarkan doa. Kita dapat berdoa dengan mengutip ayat kitab Mazmur atau dari ayat-ayat Kitab Suci lainnya (seperti Doa Bapa Kami), atau memakai metode 4P (Penyembahan, Pengakuan dosa, Pengucapan syukur, dan Permohonan). Baru-baru ini saya menemukan metode "Doa Lima Jari", sebagai panduan saat mendoakan orang lain.

o Ketika Anda melipat tangan, yang paling dekat dengan Anda adalah ibu jari. Jadi, mulailah dengan mendoakan orang-orang yang dekat dengan Anda—orang-orang yang Anda kasihi (Filipi 1:3-5).

o Jari telunjuk biasanya untuk menunjuk. Maka, berdoalah bagi para pengajar—guru Alkitab dan pengkhotbah, dan para pengajar anak-anak (1 Tesalonika 5:25).

o Jari selanjutnya adalah jari yang tertinggi. Jari ini mengingatkan Anda untuk berdoa bagi orang-orang yang memegang kekuasaan—pemimpin negara dan pemimpin setempat, serta penyelia Anda di tempat kerja (1 Timotius 2:1,2).

o Jari keempat biasanya jari terlemah. Berdoalah bagi mereka yang sedang menghadapi masalah atau yang sedang menderita (Yakobus 5:13-16).

o Lalu sampailah kita pada jari kelingking. Jari ini mengingatkan Anda akan betapa kecilnya Anda dibandingkan dengan kebenaran Allah. Maka, mintalah agar Dia menyediakan kebutuhan Anda (Filipi 4:6,19).

Metode apa pun yang Anda pakai, bercakap-cakaplah dengan Bapa. Dia ingin mendengar apa yang ada di dalam hati Anda —AMC

15 Juli 2005

Jangan Menoleh ke Belakang

Nats : Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Lukas 9:62)
Bacaan : Lukas 9:57-62

Ketika saya masih kecil dan tinggal di daerah pertanian, Ayah berkata kepada saya, Kamu tidak akan dapat membajak dengan lurus apabila kamu menoleh ke belakang. Anda dapat menguji hal ini dengan menoleh ke belakang pada saat Anda berjalan di atas salju atau pasir pantai. Jejak kaki Anda tidak akan lurus.

Seorang petani yang baik tidak akan menoleh ke belakang pada saat ia membajak lahannya. Yesus mempergunakan persamaan ini untuk mengajar kita bahwa jika kita ingin menjadi murid-Nya, kita harus benar-benar memutuskan hubungan dengan semua kelekatan yang menghalangi hubungan kita dengan-Nya.

Kesetiaan yang total kepada Allah merupakan suatu prinsip yang berakar pada Perjanjian Lama. Bangsa Israel, setelah dimerdekakan dari perbudakan dan dipelihara dengan cara yang adikodrati, justru menoleh ke belakang dan merindukan hari-hari ketika mereka dapat menikmati ikan, mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih di Mesir (Bilangan 11:5,6). Hal itu sangat tidak menyenangkan bagi Allah, dan Dia menghakimi umat-Nya. Mereka menoleh ke belakang, dan hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak cukup berkomitmen dengan-Nya.

Kini, orang-orang yang tetap melekatkan diri pada dosa-dosa lama dan kesenangan duniawi yang mereka nikmati sebelum menjadi orang kristiani, tidak akan dapat menjadi murid Yesus Kristus yang setia. Kita harus memutuskan hubungan dengan dosa-dosa masa lalu.

Pemuridan artinya adalah kita tidak lagi menoleh ke belakang HVL

25 Juli 2005

Makin Tua, Makin Dewasa

Nats : Sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini (Mazmur 71:18)
Bacaan : Mazmur 71:14-24

Usia tua adalah masa di mana kita dapat melakukan pembentukan-jiwa, demikian kata orang-orang Quaker. Kita dapat memusatkan perhatian untuk mengenal Allah dengan lebih baik dan melatih karakter yang membuat kita semakin menyerupai Dia. Usia melemahkan kekuatan dan tenaga kita, serta merenggut kesibukan kita. Itulah cara yang digunakan Allah untuk memperlambat langkah kita, sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk Dia. Kita dapat lebih dalam memi-kirkan tentang kehidupan, diri kita sendiri, dan orang lain.

Perubahan adalah suatu hal yang tak dapat dihindari dalam hidup. Setiap menit kita dibentuk dalam langkah hidup kita. Setiap pikiran, keputusan, tindakan, emosi, respons, membentuk kita menjadi orang tertentu. Kita dapat semakin menyerupai Kristus atau justru menjauh dari Dia dan akhirnya sekadar menjadi karikatur dari pribadi yang dimaksudkan Allah bagi kita.

Kita memang kehilangan beberapa hal pada saat usia kita semakin bertambah: kekuatan fisik, kecekatan, kegesitan. Akan tetapi, cobalah Anda pikirkan ketenangan yang diberikan oleh Tuhan, kedamaian yang ditinggalkan-Nya bagi kita, keselamatan yang disediakan-Nya bagi kita, dan kesetiaan-Nya kepada kita (Mazmur 17:15).

Usia lanjut adalah saat yang paling baik untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan kesalehan, dalam kekuatan batiniah dan kecantikan karakter. Rambut putih, kata orang bijak, adalah mahkota indah, yang diperoleh pada jalan kebenaran (Amsal 16:31) DHR

19 Agustus 2005

Batu di Dasar Jurang

Nats : Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71)
Bacaan : Mazmur 119:65-72

Saat itu saya berusia awal tiga puluhan. Saya menjadi seorang istri dan ibu yang penuh pengabdian serta seorang pekerja kristiani mendampingi suami saya. Namun, saya menemukan diri saya berada di dalam sebuah perjalanan yang pasti tak mau dijalani siapa punperjalanan menurun. Saya menuju suatu kehancuran yang dihindari oleh sebagian besar dari kita, yaitu hancurnya sikap terus menerus mengandalkan pada diri sendiri.

Tetapi akhirnya saya mengalami kelegaan yang aneh setelah jatuh ke atas batu di dasar jurang. Di sana saya menemukan sesuatu yang tak terduga. Batu tempat saya terjatuh tidak lain adalah Kristus sendiri. Dengan berserah hanya kepada-Nya, saya berada pada posisi untuk membangun kembali sisa hidup saya, kali ini sebagai seseorang yang bergantung pada Allah, bukan sebagai seseorang yang bergantung pada diri sendiri. Pengalaman di dasar jurang itu menjadi sebuah titik perubahan dan salah satu perkembangan rohani yang paling penting dalam hidup saya.

Banyak orang merasa sama sekali tidak rohani ketika jatuh ke dasar jurang. Penderitaan mereka kerap kali diperkuat oleh orang-orang kristiani yang berpandangan sangat sempit terhadap apa yang sedang dialami oleh sang penderita, dan mengapa hal itu terjadi. Namun, Bapa surgawi kita gembira akan hasil yang ingin Dia capai dari proses yang menyakitkan itu.

Seseorang yang mengetahui rahasia hidup yang bergantung kepada Allah dapat berkata demikian, Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71) JEY

22 Agustus 2005

Menatap Sasaran

Nats : Jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah (1Timotius 4:7)
Bacaan : 1Timotius 4:1-11

Ahli Alkitab William Barclay menceritakan perjalanannya melalui padang rumput bersama anjing bull terrier-nya, Rusty. Setiap kali anjingnya sampai ke anak sungai yang dangkal, ia kemudian meloncat masuk dan mulai memindahkan bebatuan, satu per satu, dan meletakkannya begitu saja di tepi sungai. Aktivitas yang sia-sia ini berlangsung selama berjam-jam.

Barclay mengatakan bahwa perilaku aneh Rusty itu mengingatkan dia terhadap beberapa ahli Alkitab yang ingin menonjolkan diri sendiri. Mereka mengeluarkan tenaga yang sangat besar dan menghabiskan waktu yang tak terhitung untuk menafsirkan ayat-ayat yang tidak jelas. Namun segala usaha mereka tidak membangun diri mereka sendiri ataupun orang lain.

Selama bertahun-tahun saya telah menerima berbagai surat panjang dari orang-orang seperti itu. Sebagian dari mereka menunjukkan kepada saya bagaimana mengetahui dengan persis siapa Antikristus nantinya. Sebagian lainnya mengklaim bahwa mereka telah menemukan kunci dari beberapa misteri Alkitab tertentu dengan mempelajari arti nama-nama di dalam daftar-daftar silsilah.

Tampaknya ada beberapa guru di Efesus yang berusaha membuat orang-orang percaya menjadi terkesan dengan menenun mitos dan dongeng ke dalam penafsiran mereka akan Alkitab. Namun, pengajaran mereka tidaklah mendorong orang untuk beribadah. Maka hal itu sama sia-sianya seperti proyek Rusty memindahkan batu.

Paulus berkata kepada Timotius, Latihlah dirimu beribadah. Itulah sasaran terpenting yang perlu kita pandang ketika kita mempelajari Alkitab HVL

23 Agustus 2005

Pembaruan Rohani

Nats : Mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah (Efesus 4:24)
Bacaan : Efesus 4:17-24

Saat kami pindah rumah lima tahun yang lalu, kami mendapati bahwa ternyata sang pemilik yang lama telah meninggalkan enam kursi ruang makan bagi kami. Kursi tersebut dilapisi tenunan seni Afrika yang indah, yaitu belang zebra yang artistik. Kami menghargai hadiah yang tidak terduga tersebut. Dan kami kerap menggunakan meja makan itu untuk menjamu tamu.

Ketika baru-baru ini kami pindah lagi, kami merasa bahwa kursi-kursi itu perlu didandani ulang agar sesuai dengan dekorasi kami yang baru. Maka kemudian saya memanggil seorang tukang mebel dan bertanya, Tidakkah sebaiknya kita cukup memasang material baru di atas kain yang sudah ada? Ia menjawab, Tidak, Anda akan merusak bentuk kursi tersebut jika Anda hanya memasang material baru di atas material yang lama.

Seperti itu juga pekerjaan Allah di dalam hidup kita. Dia tidak berminat semata-mata mengubah penampilan rohani kita. Sebaliknya, Dia bermaksud mengganti karakter kita dengan apa yang disebut manusia baru, yang diciptakan menurut rupa Kristus (Efesus 4:24). Daging memiliki kecenderungan untuk menampilkan kegiatan religius, namun itu bukan karya Roh Kudus. Dia akan sepenuhnya mengubah kita dari dalam.

Namun, proses tersebut merupakan sebuah kemitraan kerja (Filipi 2:12,13). Apabila kita setiap hari mengesampingkan perilaku kita yang lama dan setelah itu menggantinya dengan perilaku yang ilahi, maka Allah yang penuh kasih karunia akan bekerja di dalam kita melalui kuasa Roh Kudus.

Allah ingin memperbarui kita HDF

27 Agustus 2005

Dihajar untuk Bertumbuh

Nats : Janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya (Amsal 3:11)
Bacaan : Ibrani 12:1-11

Banyak orang kristiani harus dihajar dengan kasih agar bertumbuh. Walaupun Bapa surgawi tidak pernah mengizinkan anak-anak-Nya mengalami penderitaan yang tidak perlu, kadang Dia mengizinkan mereka mengalami hantaman yang keras agar menjadi orang percaya yang dewasa.

Kebutuhan akan cuaca buruk untuk menstimulasi pertumbuhan dapat terlihat di alam sekitar kita. Para ilmuwan mengatakan bahwa benih sebagian semak padang pasir harus dihancurkan oleh badai agar dapat berkecambah. Benih-benih itu diselimuti oleh cangkang keras yang menjaga agar air tidak masuk. Hal ini memungkinkan mereka tergeletak dalam keadaan istirahat di atas pasir selama beberapa musim sampai kondisinya tepat untuk bertumbuh.

Saat hujan lebat akhirnya datang, benih-benih kecil itu terbawa banjir bandang. Mereka terbanting ke pasir, kerikil, dan bebatuan sewaktu meluncur menuruni tebing. Akhirnya mereka sampai di sebuah dataran rendah. Di situ tanahnya telah basah sedalam beberapa jengkal. Setelah itu barulah mereka mulai bertumbuh, karena butiran air telah diserap melalui torehan dan sobekan yang mereka alami saat terjatuh.

Demikian pula kesulitan mungkin diperlukan untuk membangunkan orang kudus yang sedang tidur. Ini mungkin menyakitkan sesaat, namun apabila kita berserah kepada Tuhan, maka kita akan menemukan bahwa tanda memar dalam kehidupan dapat menandai awal kemajuan rohani. Kita mungkin lebih suka menjadi benih, namun Dia ingin agar kita menjadi pohon yang berbuah banyak MRD

22 September 2005

Tampilkan Kilaunya

Nats : Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji Aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10)
Bacaan : Ayub 23:8-17

Bertahun-tahun yang lalu, saya membeli mobil Volkswagen keluaran tahun 1964 dari tetangga saya. Mesin mobil itu masih bagus, tetapi bagian luarnya tampak kasar. Permukaannya penuh penyokan, dan kotoran yang melekat telah memudarkan warna biru tuanya.

Setelah beberapa lama, saya merasa penasaran, apakah kilauan dan keindahan aslinya dapat dikembalikan. Saya yakin penyokannya dapat dihilangkan, tetapi bagaimana dengan hasil akhirnya? Lalu saya mulai bereksperimen di tempat-tempat yang paling parah. Saya senang sekali karena mendapati bahwa dengan kerja keras dan polesan di sana-sini, Volkswagen usang saya dapat kelihatan cemerlang kembali.

Sebagai orang kristiani, kita memiliki potensi untuk mencerminkan keindahan Juru Selamat kita. Tetapi dosa telah meninggalkan bekas dalam kepribadian kita, dan banyak jejak dosa yang harus dibuang sebelum karakter Yesus yang indah itu dapat terlihat di dalam diri kita.

Allah sering mengadakan perubahan semacam ini melalui proses yang keras disertai ujian, karena tekanan dapat membantu melepaskan kotoran, noda pemberontakan, serta keegoisan. Alkitab telah menyatakan kepada kita bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, tahan uji, pengharapan, dan keyakinan oleh Roh Kudus (Roma 5:3-5).

Mungkin kita berharap bahwa cuci mobil kilat dapat memperbaiki keadaan, tetapi tidak ada yang dapat menggantikan kesulitan-kesulitan yang dapat memunculkan kilau karakter yang menyerupai Kristus DJD

23 September 2005

Pakaian Kotor

Nats : Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis (Imamat 10:10)
Bacaan : Imamat 10:8-11, 1Korintus 2:13-16

Setiap kali saya dan suami meninggalkan rumah, anjing kami Maggie suka mengendus-endus sepatu-sepatu usang dan pakaian kotor. Ia mengelilingi dirinya dengan apa pun yang dapat ia temukan dan tidur dengan benda itu di dekat hidungnya. Bau yang tidak asing baginya itu memberi rasa nyaman padanya sampai kami kembali.

Tentu saja Maggie tidak sadar bahwa ia harus mengikuti perintah imamat untuk membedakan antara ... yang najis dengan yang tidak najis [yang tidak bersih dan yang bersih] (Imamat 10:10). Ia juga tidak tahu bahwa ia telah melanggar perintah itu.

Di dunia yang masih berkutat dengan dosa, jauh setelah benturannya yang mengerikan dengan kejahatan, Allah memerintahkan para pengikut-Nya untuk hidup kudus (Imamat 11:45). Membedakan mana yang najis dan tidak najis adalah tugas yang penting.

Pembedaan itu menuntut lebih dari sekadar kepekaan lahiriah yang baik. Rasul Paulus menulis bahwa manusia duniawiyaitu manusia yang berada dalam keadaan berdosatidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah ..., sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani (1Korintus 2:14). Roh Kudus-lah yang memberikan hikmat ini (ayat 13).

Sama seperti Maggie yang merasa nyaman di dekat sepatu dan kaus kaki usang, banyak orang juga mencari kenyamanan dalam dosa. Kita harus memahami bahwa kenyamanan dan penghiburan berasal dari Allah, yang mengasihi kita dan yang menetapkan kita dalam pekerjaan dan perkataan yang baik (2Tesalonika 2:16,17) JAL

25 September 2005

Membawa Serta

Nats : Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara (Ibrani 2:11)
Bacaan : Ibrani 2:5-18

Terdengar kor gerutuan setelah diumumkan bahwa penerbangan kami akan mengalami penundaan selama satu setengah jam. Karena cuaca buruk di Chicago, hanya beberapa pesawat yang dapat mendarat. Akan tetapi tidak lama kemudian, pengumuman lain membuat orang-orang itu ceria. Kami diberi tahu bahwa ada seorang kurir medis yang membawa tulang sumsum yang diperlukan untuk transplantasi. Hal ini membuat penerbangan kami menjadi prioritas utama untuk mendarat di Chicago. Dalam beberapa menit kami berangkat, terbawa serta oleh misi penting seseorang.

Ketika kami mendarat dan diantarkan langsung ke gerbang di OHare, salah satu bandar udara yang paling sibuk, saya kemudian merenungkan tentang Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya, telah memungkinkan kita untuk memasuki hadirat Allah. Hanya oleh iman pada karya-Nya, kita dipersekutukan dengan Dia dan turut ambil bagian dalam segala yang disediakan-Nya bagi kita. Penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa memang sesuai dengan keadaan Allah ... yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara (2:10,11).

Setiap hari, marilah kita menaikkan syukur kepada Allah atas karya keselamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, yang kasih serta pengurbanan-Nya telah membawa kita serta kepada Allah Bapa DCM

23 Desember 2005

Mengenal Allah Secara Pribadi

Nats : Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel (Mazmur 103:7)
Bacaan : Keluaran 33:7-17

Sebagian besar orang kristiani lebih senang melihat Allah melakukan mukjizat besar daripada memiliki persekutuan dengan Dia, serta mengenal jalan-jalan-Nya.

Ayat hari ini mengatakan bahwa Allah memperkenalkan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar kepada orang Israel, namun kepada Musa Dia “memperkenalkan jalan-jalan-Nya”. Keluaran 33 mencatat sebuah krisis besar di mana Musa dengan rendah hati berdoa, “Jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beri tahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku” (ayat 13). Ia lebih ingin mengenal Allah dan rancangan-Nya bagi umat-Nya, daripada melihat sebuah mukjizat besar yang lain. Tidak mengherankan kalau Tuhan berbicara kepada-Nya “seperti seorang berbicara kepada temannya” (ayat 11).

Dalam menafsirkan perbedaan antara jalan dan perbuatan, F.B. Meyer menulis, “Jalan, atau rancangan, hanya diberitahukan kepada lingkaran dalam orang-orang kudus; jemaat biasa hanya mengenal perbuatan-perbuatan-Nya.”

Seorang teman saya yang berbakat, Jennifer, mengerti perbedaan ini setelah menjalani beberapa tahun di atas kursi roda. Suatu hari ia berdoa sambil menangis, “Tuhan, saya pasti sudah melakukan banyak hal untuk Engkau sekiranya saja saya sehat.” Dan ia mendengar jawaban Allah dengan jelas, “Banyak orang bekerja untuk Aku, namun hanya sedikit yang bersedia menjadi sahabat-Ku.”

Jika Anda ingin mengenal Allah secara pribadi melebihi kerinduan Anda untuk melihat berbagai mukjizat besar-Nya, Anda akan dipuaskan -JEY

30 Desember 2005

Memperbaiki Bentuk Tubuh

Nats : Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan … kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Korintus 3:18)
Bacaan : 2Korintus 3:7-18

Seorang wanita mengunjungi sebuah pusat diet untuk menurunkan berat badan. Sang pimpinan membawanya ke sebuah cermin setinggi badan. Di cermin itu ia menggambar sebuah bentuk badan dan berkata kepada wanita itu, “Saya ingin Anda terlihat seperti ini pada akhir program.”

Hari-hari dengan diet ketat dan olahraga pun diikuti, dan setiap minggu wanita itu akan berdiri di depan cermin. Ia patah semangat karena bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan standar sang pimpinan. Namun ia terus melakukannya, dan akhirnya suatu hari tubuhnya menjadi seperti gambaran yang didambakannya.

Jika kita meletakkan diri kita di samping karakter Kristus yang sempurna, kita akan melihat betapa buruknya “bentuk tubuh” kita. Diubah ke dalam gambaran-Nya tidak berarti kita mencapai kesempurnaan tanpa dosa. Hal itu berarti kita menjadi lengkap dan dewasa.

Allah kerap kali bekerja melalui penderitaan untuk merealisasikan hal ini (Yakobus 1:2-4). Kadang kala Dia menggunakan akibat yang menyakitkan dari dosa kita. Pada kesempatan lain, kesulitan-kesulitan kita mungkin tidak disebabkan oleh sesuatu dosa, namun kita tetap menjalani proses yang menyakitkan untuk belajar menaati kehendak Bapa.

Apakah Anda terluka? Mungkin saat ini sedang berlangsung sebuah proses pembentukan tubuh pada diri Anda. Yesus itu sempurna, namun Dia tetap harus belajar untuk taat melalui hal-hal yang diderita-Nya (Ibrani 5:8).

Jika Anda terus memercayai Yesus, Anda akan terus bertambah di dalam gambaran keindahan-Nya -DJD

3 Januari 2006

Pertobatan Tiga Tahap

Nats : Orang-orang yang menerima perkataannya itu dibaptis.... Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kisah Para Rasul 2:41,42)
Bacaan : Kisah Para Rasul 2:38-47

Dikatakan bahwa seorang kristiani yang berkomitmen akan menjalani tiga pertobatan: "Pertama kepada Kristus, lalu kepada gereja, dan kemudian kembali ke dunia."

Kita melihat sebuah contoh dalam Kisah Para Rasul 2 dan 8. Melalui pembaptisan, 3.000 orang mendeklarasikan pertobatan kepada Kristus (2:41). Lalu mereka menunjukkan pertobatan kepada gereja dengan mengabdikan diri kepada pengajaran rasul-rasul dan bersekutu dengan orang-orang percaya lainnya. "Mereka disukai semua orang" (2:47) menandakan bahwa mereka pun menolong orang lain. Kemudian, saat mereka tersebar karena penganiayaan, mereka "menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil" (8:4). Ini adalah bentuk pertobatan mereka kembali ke dunia.

Pertama-tama, pertobatan terutama merupakan sebuah komitmen kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita. Tindakan ini membawa keselamatan. Namun, begitu kita mengenal Yesus sebagai Juru Selamat, keinginan untuk bersekutu dengan orang-orang lain yang memiliki iman sama adalah sesuatu yang wajar. Orang-orang kristiani yang berjuang sendirian, yaitu mereka yang tidak ingin melibatkan diri, cenderung tergelincir kembali ke cara hidup lama atau menjadi sombong dan merasa paling benar.

Walaupun bersekutu dengan sesama orang percaya itu penting, kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Kita perlu kembali ke dunia dengan belas kasihan, perbuatan kasih, perkataan yang ramah, dan senyum yang hangat. Kita hanya memerlukan satu pertobatan untuk diselamatkan, tetapi ada tiga tahap pertobatan untuk menjadi seperti yang diinginkan Allah --HVL

28 Januari 2006

Pilihan Ada di Tangan Kita

Nats : Pikirkanlah hal-hal yang di atas (Kolose 3:2)
Bacaan : Kolose 3:1-17

Pada suatu sore di musim panas, saya mendaki bukit di dekat rumah saya. Saat sampai di puncak, saya berbaring dan meregangkan tubuh saya di atas rumput.

Saat memalingkan kepala saya ke satu sisi, mata saya terpusat kepada beberapa lembar rumput yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah saya. Fokus jarak pendek ini tidak hanya menegangkan mata saya, tetapi juga mengaburkan pandangan terhadap hal-hal lain di depan hidung saya. Maka saya mulai mengubah fokus saya, sehingga kota yang jauh pun terlihat. Saya mendapati bahwa saya dapat mengubah pandangan saya dari jarak dekat ke jarak yang jauh sesuka hati saya. Pilihan itu ada di tangan saya.

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus menekankan bahwa para pengikut Kristus perlu menjaga agar kekekalan dalam jangkauan pandangan mereka. Ia menulis, "Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Kita dapat memilih ke mana kita mengarahkan fokus kita.

Kita dapat menyerah kepada pikiran-pikiran yang egois dan duniawi, dan mengaburkan pandangan kita akan hal-hal lain di depan hidung kita. Atau kita dapat menatap menembus suasana yang penuh dosa ini dan memusatkan perhatian kepada hal-hal yang di atas, di mana Kristus duduk di sebelah kanan Allah dan kita bersama Dia! Hanya dengan cara demikianlah kita dapat berada pada posisi yang tepat untuk melihat hal terpenting dalam hidup kita.

Hanya pikiran yang diarahkan pada hal-hal yang di ataslah yang dapat berkata "tidak" kepada dosa dan "ya" kepada kekudusan. Pilihan itu ada di tangan kita --JEY

10 Februari 2006

"mary Sampah"

Nats : Sebab itu, buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu (Yakobus 1:21)
Bacaan : Efesus 5:1-13

Wanita tersebut berpakaian compang-camping, tinggal di rumah yang ditempati oleh beberapa keluarga di tengah-tengah tumpukan sampah, dan menghabiskan banyak waktu dengan mengais-ngais tong sampah. Surat kabar lokal memuat ceritanya, yaitu setelah wanita yang di lingkungannya dijuluki "Mary Sampah" itu, masuk ke rumah sakit jiwa. Yang mengejutkan, di apartemennya yang kotor, polisi menemukan surat saham dan buku tabungan yang menunjukkan bahwa ia mempunyai sedikitnya uang sebesar satu juta dolar.

Keadaan wanita ini sungguh menyedihkan. Namun, menurut cara pandang Allah ada lebih banyak contoh tragis mengenai orang "kaya" yang hidup di tengah "sampah". Jika orang kristiani dikendalikan oleh nafsu, benci, iri hati, sombong, tidak sabar, atau kepahitan, maka mereka sebenarnya memilih untuk hidup di tengah sampah dunia.

Hal ini mungkin bisa dimengerti jika mereka tidak mempunyai sumber kekuatan yang menolong mereka. Perilaku seperti ini dapat terjadi pada orang yang tidak beriman di dalam Kristus. Namun, hal ini bukan masalah bagi orang percaya. Kita memiliki firman kebenaran dan pertolongan dari Roh Kudus. Kita tidak punya alasan untuk merendahkan diri dalam kekotoran dosa apabila kuasa Allah siap membantu kita.

Ya Bapa, ampunilah kami karena telah memakan "sampah", padahal Engkau sudah mempersiapkan perjamuan untuk kami. Karena itu, tolonglah kami untuk "membuang segala sesuatu yang kotor" (Yakobus 1:21) sehingga kami dapat berpesta dengan kebaikan-Mu --MRD

13 Februari 2006

Pelajaran dari Pohon Ek

Nats : Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Galatia 5:16)
Bacaan : Galatia 5:16-26

Pada musim dingin beberapa pohon ek tetap mempertahankan daunnya yang kering dan gemerisik, lama setelah pohon maple, pohon elm, dan pohon walnut menjadi kerangka tanpa daun. Bahkan angin musim dingin yang berembus kuat dan hujan awal musim semi tidak dapat benar-bener menelanjangi cabang-cabang pohon ek dari daun-daunnya yang sudah tua. Namun seiring dengan berjalannya musim semi, angin hangat berembus dan hal ajaib mulai terjadi. Tunas-tunas kecil mulai muncul pada ujung ranting dan sisa-sisa daun kering dari musim sebelumnya gugur. Kehidupan baru menggantikan kehidupan lama.

Kadang-kadang, kebiasaan-kebiasaan lama melekat begitu kuat dalam hidup kita, selekat daun-daun pohon ek itu. Bahkan "angin" kemalangan tidak dapat menghilangkan semua sisa kematian dari sifat manusiawi kita yang telah jatuh ke dalam dosa.

Namun, Kristus, yang tinggal di dalam hati kita oleh Roh Kudus, sedang bekerja. Kehidupan-Nya di dalam diri kita terus-menerus berusaha membuang kebiasaan-kebiasaan lama memperbarui kita apabila kita mengaku dosa, menegakkan kita apabila kita terhuyung-huyung, dan menguatkan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Apabila setiap usaha untuk membuang kebiasaan lama yang berdosa mengalami kegagalan, ingatlah pohon ek yang gagah perkasa. Bersyukurlah kepada Allah untuk Roh-Nya yang tinggal dalam diri Anda. Tetap katakan "ya" pada dorongan-Nya yang lemah lembut untuk menjadi baik hati, penuh kasih, berbelas kasihan, jujur, dan setia. Pada akhirnya "daun-daun tua yang mati" itu akan gugur --DJD

30 Maret 2006

Merintih Dulu

Nats : Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya (2Korintus 4:17)
Bacaan : Roma 8:16-30

Saya pernah mendengar sebuah seminar kristiani yang berjudul, "Bagaimana Hidup Tanpa Stres". Harapan yang tidak realistis seperti itu langsung membuat saya stres! Memang kita semua rindu untuk terlepas dari banyak tekanan hidup.

Teman kristiani saya, yang keluarganya mengalami masa-masa sulit, mengaku merasa dikecewakan oleh Allah. Ia berkata, "Saya telah berdoa, menderita, dan memegang janji-janji Allah, tetapi tidak ada perubahan. Yang lebih menjengkelkan adalah saya tahu bahwa Dia sebenarnya punya kuasa untuk melepaskan kami dari masalah ini. Saya telah melihat Dia melakukannya sebelumnya, tetapi kini Dia diam."

Larry Crabb, dalam bukunya Inside Out, menekankan bahwa satu-satunya pengharapan kita untuk mengalami kelepasan yang sempurna dari kesusahan adalah kembali ke surga bersama Yesus. "Sebelum saat itu tiba," katanya, "kita akan tetap merintih atau berpura-pura semua baik-baik saja." Ia menambahkan, "Namun kekristenan modern justru berusaha membelokkan kita agar terhindar dari pengalaman berkeluh-kesah yang tidak menyenangkan."

Teman saya berkeluh-kesah dan ia tidak tidak menutup-nutupinya. Seperti kebanyakan kita, ia pun ingin segalanya berubah. Namun kenyataannya, memang ada yang berubah -- ia berubah!

Paulus meyakinkan kita dalam 2 Korintus 4:17 bahwa penderitaan kita yang sekarang adalah penderitaan ringan dan singkat bila dibandingkan dengan perubahan penting dan kekal yang diakibatkannya dalam hidup kita. Kita saat ini berkeluh-kesah, namun kelak ada kemuliaan di bagi kita (Roma 8:18) --JEY

13 April 2006

Tatkala Tekanan Melanda

Nats : Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketabahan (Roma 5:3)
Bacaan : Roma 5:1-5

Apa yang membuat buah apel yang mengilap tampak begitu nikmat? Kulit luarnya, tentu saja. Namun, apa yang sebenarnya membuat apel begitu nikmat? Sari buah dan zat-zat di dalamnya. Itulah "karakter" buah apel yang sesungguhnya.

Saya mempelajari hal ini ketika masih kecil, saat melihat ibu saya membuat sari apel. Dengan penumbuk dari kayu, ia menumbuk begitu banyak apel yang menjadi lunak setelah direbus di sebuah mangkuk saringan. Di bawahnya ada mangkuk lain yang menampung hasil saringan. Akhirnya yang tersisa di mangkuk saringan itu hanyalah kulit apel yang sudah gepeng berwarna cokelat seperti lumpur. Namun oh, sari apel itu nikmat sekali!

Allah memakai tekanan hidup untuk menghasilkan keindahan karakter yang menyerupai Kristus di dalam diri kita. Kesengsaraan (yang berarti "tekanan" dalam bahasa Yunani) juga menolong kita untuk menyadari potensi natur dosa kita yang mengerikan dan memandangnya sebagaimana adanya -- buruk dan hambar. Di bawah tekanan, segala jenis dosa mulai muncul ke permukaan -- keserakahan, keegoisan, hawa nafsu, kesombongan.

Entah muncul dari perfeksionisme yang realistis dari dalam batin atau bukan, tekanan merupakan fakta dunia kita yang telah jatuh ke dalam dosa. Allah mengendalikan intensitas dan kelangsungan tekanan supaya kita dapat menyadari, mengakui, dan menolak "kulit" luar yang menghambat karakter Kristus berdiam dalam diri kita.

Kesengsaraan bukanlah hal yang dicari manusia. Namun ketika hal itu datang, Roh Kudus akan memakainya untuk menciptakan dalam diri kita ketabahan, sikap tahan uji, dan harapan (Roma 5:3,4) --DJD

28 April 2006

Gelandangan dan Pendatang

Nats : Mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini (Ibrani 11:13)
Bacaan : Ibrani 11:13-16

Selama Masa Depresi Besar pada awal tahun 1930-an, banyak orang menjadi gelandangan. Mereka naik kereta barang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, tidur di gerbong barang yang kosong, dan mendapat sedikit uang dengan melakukan kerja musiman. Bila tidak mendapatkan pekerjaan, mereka terpaksa mengemis. Ibu saya menjadi "sentuhan lembut" bagi gelandangan mana pun yang datang ke rumah kami untuk meminta makanan. Mereka telah kehilangan kenyamanan yang hanya bisa didapat di rumah sendiri.

Seperti gelandangan, seorang pendatang pun tak memiliki kenyamanan dan perlindungan yang hanya bisa didapat di rumah, tetapi ia tahu ke mana akan pergi. Pengharapan dan aspirasinya diarahkan pada suatu tujuan.

Orang-orang kristiani harus menjadi seperti pendatang. Dalam kitab Ibrani kita membaca tentang para pahlawan iman yang "mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini" (11:13). Mereka dapat menjalani kehidupan iman yang saleh karena mereka merindukan "tanah air yang lebih baik, yaitu satu tanah air surgawi" (ayat 16).

Tuhan sedang mempersiapkan Anda dan saya untuk menyongsong kekekalan, dan segala yang kita kerjakan penuh makna. Meskipun bumi ini bukan tempat tinggal kita yang tetap, kita bukanlah pengembara yang tanpa tujuan. Kita menjadi pesinggah yang hidup dengan penuh tanggung jawab tatkala pergi ke tempat tujuan yang telah dipersiapkan. Kita mempunyai Bapa surgawi yang mengasihi dan akan menyambut kita ke dalam rumah yang telah dipersiapkan oleh Juru Selamat kita --HVL

26 Mei 2006

Ketaatan Setiap Hari

Nats : Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari (Mazmur 96:2)
Bacaan : Mazmur 96

Tiger Woods telah memenangkan banyak turnamen secara dramatis selama kariernya sebagai pegolf profesional. Namun, salah satu dari keberhasilannya yang terbesar boleh dikatakan tidak menarik perhatian sebab berkembang lambat selama 7 tahun. Selama kurun masa itu, Tiger berhasil dalam 142 turnamen berturut-turut -- melebihi semua pemain dalam sejarah olahraga golf di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan kekuatan dari komitmen, konsistensi, dan keyakinannya untuk pantang menyerah.

Baru-baru ini saya merasa tertantang oleh pernyataan seorang teman tentang keinginannya yang semakin besar untuk mengikut Tuhan dengan "taat setiap hari, bukannya taat secara dramatis". Apakah itu yang terjadi dalam kehidupan iman saya dalam Yesus Kristus? Apakah saya konsisten, atau berjalan tak menentu? Apakah saya dapat diandalkan, atau tidak dapat dipercaya?

Ada peristiwa-peristiwa iman yang besar dalam hidup kita, tetapi pilihan-pilihan kita setiap hari untuk taat kepada Kristus mengungkapkan dengan baik kasih kita yang tak putus-putusnya kepada Dia. Mazmur 96, yang merupakan panggilan untuk bersaksi dan memuji Tuhan, berkata, "Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang daripada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa" (ayat 2,3).

Apabila kita secara konsisten taat kepada Tuhan, kita akan menyatakan kasih dan kuasa-Nya setiap hari. Seiring berjalannya waktu, hidup dalam ketaatan setiap hari akan menjadi kesaksian yang luar biasa bagi Juru Selamat kita --DCM

7 Juni 2006

Keindahan Setiap Hari

Nats : Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat (Kisah Para Rasul 6:15)
Bacaan : Kisah Para Rasul 6:9-15

Saat Anda melihat ke dalam cermin, apakah yang Anda lihat? Pantulan wajah yang manis? Wajah yang tampan? Ataukah penampilan yang datar dan tidak menarik?

Kita ingin memberi berkat keindahan kepada orang yang melihat kita. Namun, bagaimana dengan keindahan yang muncul dari kekudusan? Apakah orang lain diberkati dengan keindahan Kristus yang mengalir melalui diri kita?

Seorang ahli Alkitab abad ke-19 yang terkenal, J.B. Lightfoot, digambarkan oleh salah seorang muridnya yang setia sebagai orang yang "sangat buruk rupa: seorang pria yang kecil dan gemuk dengan figur yang tak berbentuk serta bermata juling". Akan tetapi, murid yang sama itu juga berkata bahwa Lightfoot adalah "orang terbaik yang pernah saya jumpai, dan saya mengatakan hal ini dengan hati-hati setelah memiliki pengalaman bersamanya selama bertahun-tahun. Dalam sehari atau dua hari ... wajahnya akan tampak sebagai wajah paling indah dan manis yang dapat dibayangkan".

Saat Stefanus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi untuk diinterogasi, "mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara" (Kisah Para Rasul 6:10). Saat ia dihakimi, mereka "melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat" (ayat 15).

Dengan kasih karunia Allah yang membawa perubahan, kita pun dapat memiliki keindahan setiap hari di dalam hidup kita. Apabila kita menjalani hidup dengan penuh doa di dalam Roh Kudus, wajah kita akan semakin menampakkan keindahan Yesus --VCG

28 Agustus 2006

Kodok dan Katak

Nats : Seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan ke-benaran (Yesaya 61:11)
Bacaan : Yesaya 61:10,11

Salah satu buku anak-anak yang saya sukai adalah Frog and Toad Together (Kodok dan Katak Bersama-sama) karya Arnold Lobel. Kodok mempunyai kebun yang dikagumi oleh Katak, sehingga Katak ingin memilikinya juga. Lalu Kodok berkata kepadanya, "Memang kebun itu indah, tetapi kamu harus bekerja keras." Ketika Kodok memberikan beberapa benih bunga kepada Katak, Katak pun segera pulang dan menanamnya.

"Ayo benih-benih," kata Katak, "bertumbuhlah sekarang." Ia berusaha keras membuat kebunnya berbunga. Ia berteriak kepada benih-benih itu, membacakan cerita-cerita panjang, dan menyanyikan lagu-lagu, tetapi benih-benih itu tidak kunjung tumbuh.

"Apa yang harus kulakukan?" teriak Katak. "Tinggalkanlah benih-benih itu sendirian," kata Kodok. "Biarkanlah matahari menyinari, dan hujan menyiraminya. Nanti benih-benihmu akan mulai tumbuh." Lalu suatu hari, tanaman-tanaman hijau kecil muncul. "Akhirnya," teriak Katak, "benih-benihku tidak takut lagi untuk tumbuh! Kamu benar, Kodok. Ini memang pekerjaan yang sangat keras."

Banyak orang berpikir bahwa sulit sekali bertumbuh dalam kebenaran. Kita harus menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan, berdoa, dan menumbuhkan iman kita dengan berada bersama orang-orang beriman lainnya. Namun, kemajuan kita dalam kesucian tetap tergantung kepada Allah. Ketika Dia menyinarkan wajah-Nya kepada kita dan mencurahkan kasih-Nya dalam hidup kita, kita akan bertumbuh. Lalu kebenaran akan mulai tumbuh (Yesaya 61: 11). Jangan putus asa apabila pertumbuhan itu lambat. Sebentar lagi Anda akan memiliki kebun -DHR

25 Oktober 2006

Penyakit Terburu-buru

Nats : Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya (Filipi 3:12)
Bacaan : Filipi 3:7-16

"Cepat!" "Kita terlambat!" "Kamu terlalu lambat!" Seberapa sering ungkapan tidak sabar tiba-tiba muncul dalam percakapan kita, menunjukkan kehidupan kita yang serba tergesa-gesa? Bila tidak hati-hati, kita bisa menjadi orang yang selalu cepat-cepat, yang menuntut segala hal hadir segera dan hasil seketika. Para ahli stres menamai hal ini "penyakit terburu-buru".

Pada surat Filipi 3, Rasul Paulus mengatakan bahwa pertumbuhan yang berlangsung sepanjang hidup mengingatkan kita bahwa proses kedewasaan kristiani dapat didorong, tetapi tidak bisa dipercepat. Dalam buku Overcomers Through the Cross, Paul Billheimer berkata bahwa seperti halnya Allah membutuhkan waktu untuk membuat pohon ek, Dia pun memerlukan waktu untuk membentuk orang suci. Pendewasaan kristiani adalah proses sepanjang hayat.

Billheimer menulis, "Sebuah apel mentah tidak enak dimakan, tetapi kita tidak selayaknya menyalahkannya. Apel itu tidak enak dimakan karena Allah belum selesai membuatnya. Itu adalah sebuah tahapan dari proses dan hal itu baik adanya."

Apakah Anda merasa tidak sabar dengan perkembangan rohani Anda? Ingatlah, Allah belum selesai dengan Anda-namun Dia juga tidak mengharapkan Anda tetap belum dewasa secara rohani sampai Dia memanggil Anda pulang. Pastikan bahwa tujuan hidup Anda adalah memahami Kristus dan menjadi seperti Dia. Kemudian pelan tetapi pasti, di bawah langit biru dan melalui badai, Dia akan membimbing Anda menuju kematangan. Inilah cara Dia menyembuhkan dengan pasti "penyakit terburu-buru" Anda -JEY

22 Januari 2007

"utang" Allah kepada Kita?

Nats : Hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya (Kolose 1:10)
Bacaan : Kolose 1:9-14

Alkisah ada seorang penjaja roti yang menjual rotinya masing-masing seharga 50 sen di sebuah stan makanan di sudut jalan. Seorang pelari lewat dan melemparkan uang 50 sen ke dalam kaleng penjaja roti, tetapi tidak mengambil roti. Ia melakukan hal yang sama setiap hari selama beberapa bulan. Suatu hari, saat pelari tersebut lewat, sang penjaja roti menghentikannya. Pelari tersebut kemudian bertanya, "Anda mungkin ingin tahu mengapa saya selalu memberi uang, tetapi tak pernah mengambil roti, kan?" "Bukan," kata sang penjaja. "Saya hanya ingin memberi tahu Anda bahwa harga roti kini telah naik menjadi 60 sen."

Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita sering memperlakukan Allah dengan sikap yang sama dengan si penjaja roti. Bukannya berterima kasih atas apa yang telah diberikan-Nya, kita justru ingin lebih. Entah mengapa kita merasa Allah berutang untuk memberi kita kesehatan yang baik, hidup yang nyaman, dan berkat materi. Padahal, tentu saja Allah tidak berutang apa pun kepada kita, karena Dia telah memberi kita segalanya.

G.K. Chesterton menulis, "Satu hari lagi telah berlalu, dan selama hari itu saya memiliki mata, telinga, tangan, dan dunia yang indah di sekitar saya. Besok dimulai lagi hari yang baru. Mengapa saya diberi dua hari?" Sang pemazmur berkata, "Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya" (Mazmur 118:24).

Setiap hari, baik itu hari baik ataupun buruk, adalah satu hadiah lagi yang diberikan Allah kepada kita. Kita dapat mengungkapkan rasa syukur dengan hidup menyenangkan hati-Nya --CHK

31 Maret 2007

Ke Mana Saya Bertumbuh?

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7)
Bacaan : Galatia 6:7-10

Sebagian orang menua dengan memiliki sifat menarik, sementara sebagian lainnya menua dengan memiliki sifat suka menggerutu dan pemarah. Kita perlu mengetahui ke mana kita bertumbuh karena kita semua akan tambah tua.

Seseorang tidak akan menjadi mudah tersinggung dan pemarah hanya karena bertambah tua. Penuaan tak seharusnya membuat kita menjadi suka mencela dan mudah marah. Tak begitu. Tampaknya kita menjadi pribadi seperti yang sudah kita bentuk selama ini.

Paulus menulis, "Siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan ..., tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal ..." (Gal. 6:8). Mereka yang membantu orang lain demi kepentingan diri sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, menabur benih yang akan menghasilkan tuaian berupa kesengsaraan dalam diri mereka dan orang lain. Sebaliknya, mereka yang mengasihi Allah dan memedulikan sesama, menabur benih yang kelak akan menghasilkan tuaian berupa sukacita.

C.S. Lewis berkata, "Setiap Anda membuat keputusan, sebenarnya Anda mengubah inti dari diri Anda, yaitu bagian diri Anda yang turut membuat keputusan, menjadi sesuatu yang agak berbeda dengan sebelumnya." Kita bisa menyerahkan kehendak kita kepada Allah setiap hari, sambil memohon kekuatan dari-Nya untuk hidup bagi Dia dan sesama. Ketika Dia bekerja di dalam diri kita, sifat-sifat yang menarik dan kebaikan akan tumbuh dalam diri kita.

Maka, kita perlu bertanya: Ke mana saya bertumbuh? --DHR

Yang lebih pasti dari panen musiman
Adalah panen pikiran dan perbuatan;
Seperti benih yang ditabur tangan,
Itulah tuaian yang kita kumpulkan. --Harris

12 Agustus 2007

Menjaga Nyala Api

Nats : Biarlah rohmu menyala-nyala (Roma 12:11)
Bacaan : Roma 12:9-12

Saat ini tungku perapian yang modern telah menyederhanakan kegiatan yang biasa dilakukan untuk menjaga rumah tetap hangat pada saat musim dingin. Kita dapat dengan mudah mengatur waktu pada termostat, sehingga rumah kita akan tetap hangat ketika kita bangun di pagi hari. Akan tetapi, dahulu, api harus dijaga dengan hati-hati dan persediaan bahan bakarnya harus selalu diperhatikan. Kehabisan bahan bakar bisa menimbulkan akibat yang mematikan.

Begitu pula dengan kehidupan rohani. Apabila kita berpikir bahwa "api rohani" kita dapat dinyalakan dengan mudahnya seperti tungku perapian modern, maka kita mungkin akan kehilangan gairah terhadap Tuhan.

Pada zaman Israel kuno, para imam diperintahkan untuk menjaga agar api di altar tidak padam (Imamat 6:9,12,13). Hal ini membutuhkan kerja keras, tidak hanya masalah mengumpulkan kayu bakar di hutan lebat yang belum pernah dijamah.

Sebagian ahli teologi menganggap api di altar sebagai simbol kobaran penyembahan kita kepada Tuhan. Gairah rohani bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng atau hal yang wajar. Gairah tersebut akan menjadi dingin apabila kita tidak bisa menyediakan bahan bakarnya.

Rasul Paulus membicarakan kegairahan rohani dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Roma (12:1,2,11). Supaya api penyembahan kita tetap berkobar-kobar, kita harus senantiasa bekerja keras mengisi persediaan bahan bakar kita dengan harapan, kesabaran, doa yang tekun, kemurahan hati, keramahan, dan kerendahan hati (ayat 11-16) --JAL

8 Oktober 2007

Siap Dilatih!

Nats : Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan (Filipi 4:11)
Bacaan : Filipi 4:10-19

Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses, memerhatikan bahwa setiap anggota timnya tidak menyukai latihan fisik 10-kali-100 di akhir latihan. Sebelum para pemain boleh meninggalkan lapangan, mereka harus berlari sejauh 100 yard [kira-kira 90 meter] sebanyak 10 kali dengan kecepatan penuh dan istirahat sesedikit mungkin. Jika gagal mengalahkan waktu yang telah ditetapkan, mereka harus mengulanginya lagi.

Para pemain membenci latihan itu -- sampai tiba saatnya bertanding. Saat itu, mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kekuatan penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah terbayar dengan menduduki posisi juara!

Rasul Paulus menggunakan perumpamaan tentang latihan dan pertandingan dalam surat-suratnya. Saat ia menjadi misionaris bagi orang-orang bukan Yahudi, ia tunduk kepada perintah dan latihan dari Allah di tengah penderitaan serta kesukaran yang besar. Dalam Filipi 4, ia berkata, "Aku telah belajar" (ayat 11). Baginya dan bagi kita masing-masing, mengikuti Yesus merupakan proses belajar seumur hidup. Kita belum dewasa secara rohani saat diselamatkan, sama seperti seorang atlet di sekolah yang belum siap bermain sepak bola secara profesional. Kita bertumbuh dalam iman saat mengizinkan Allah, melalui firman-Nya dan Roh Kudus, memberi kita kuasa untuk melayani-Nya.

Melalui kesulitan hidup, Paulus belajar untuk melayani Allah dengan baik. Demikian pula halnya dengan kita. Kesulitan memang tidak menyenangkan, tetapi itu semua patut dihargai! Semakin mudah kita diajar, maka semakin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus, mari kita menyiapkan diri untuk dilatih --DCE

25 Oktober 2007

Mendorong Pertumbuhan

Nats : Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi ... ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11)
Bacaan : Ibrani 12:7-11

Paman saya, Lester, yang tinggal di Florida, merasa kecewa karena pohon jeruk balinya tidak berbuah banyak. Lalu ia diberi tahu bahwa ia perlu memukul batang pohon itu beberapa kali menggunakan sebuah papan.

Rupanya, cara mendorong pertumbuhan yang tidak lazim ini ada benarnya juga. Seorang pakar berkebun berkata, "Terkadang, hormon yang mendorong munculnya bunga di pohon itu sepertinya terhambat, sehingga tidak ada bunga yang muncul. Hati-hati, piculah pohon itu untuk berbunga dengan cara mengejutkannya. Pukullah batang pohonnya ... beberapa kali, sampai muncul memar kecil di kulit batangnya." Saran ini ternyata dapat merangsang pertumbuhan.

Ketika berbagai-bagai masalah datang dalam kehidupan ini, kita terkadang merasa seperti dipukul dari samping. Kita merasa putus asa dan bertanya-tanya, Mengapa hal ini terjadi kepada saya?

Salah satu kemungkinannya adalah Allah sedang menggunakan sebuah pengalaman menyakitkan untuk menarik perhatian kita. Dalam Mazmur 119:71, Daud menulis, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Selain itu, Ibrani 12:11 berkata bahwa ganjaran "menghasilkan buah kebenaran".

Apakah Allah sedang menggunakan penderitaan hidup untuk membujuk Anda dengan penuh kasih agar Anda berubah? Musim kesulitan mungkin tidak mudah, tetapi jika kita mengizinkan diri kita dilatih oleh kesulitan itu, pertumbuhan yang baru akan terjadi pada saat kita semakin menjadi seperti Putra-Nya (Filipi 3:10) --CHK

31 Oktober 2007

Jalan yang Sepi

Nats : Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak (Markus 6:31)
Bacaan : Markus 6:30-46

Delapan puluh kilometer di sebelah barat Asheville, North Carolina, saya membawa mobil saya keluar dari jalan bebas hambatan yang padat dan melanjutkan perjalanan ke kota melalui jalur Blue Ridge Parkway yang berpemandangan indah. Pada sore hari di akhir bulan Oktober itu, saya mengemudi dengan lambat dan sering berhenti untuk menikmati pemandangan pegunungan serta dedaunan musim gugur yang berkilauan. Perjalanan itu memang tidak membawa saya sampai tujuan dengan cepat, tetapi perjalanan itu menyegarkan jiwa saya.

Pengalaman itu membuat saya bertanya, "Seberapa sering saya melewati jalan yang sepi bersama Yesus? Adakah saya keluar dari jalan bebas hambatan yang penuh tanggung jawab dan kesibukan untuk memusatkan perhatian kepada-Nya selama beberapa saat setiap hari?"

Setelah para murid Yesus menyelesaikan sebuah pelayanan yang penuh tantangan, Dia berkata kepada mereka, "Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak" (Markus 6:31). Bukannya memperoleh liburan panjang, mereka justru hanya melakukan sebuah perjalanan singkat di atas perahu bersama Yesus sebelum kemudian mereka dikerumuni orang banyak. Para murid menyaksikan belas kasihan Tuhan dan berpartisipasi dengan-Nya dalam memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut (ayat 33-43). Saat hari yang melelahkan itu berakhir, Yesus mencari penyegaran melalui doa kepada Bapa surgawi (ayat 46).

Yesus Tuhan kita selalu beserta kita, baik di tengah hiruk pikuk atau ketenangan. Namun demikian, kita perlu mengambil waktu setiap hari untuk melewati jalan yang sepi bersama-Nya --DCM

4 November 2007

Pelatihan Hidup

Nats : Latihlah dirimu beribadah (1Timotius 4:7)
Bacaan : 1Timotius 4:1-11

Ketika atlet Dean Karnazes menyelesaikan Maraton New York sejauh 42 kilometer pada bulan November 2006, hal itu menjadi tanda berakhirnya sebuah pertunjukan daya tahan tubuh yang hampir tidak mungkin terjadi. Karnazes telah mengikuti 50 lari maraton di 50 negara bagian dalam waktu 50 hari. Pertunjukan daya tahan ultra para atlet yang sangat langka ini mencakup: lari sejauh 563 kilometer tanpa henti, bersepeda gunung selama 24 jam tanpa henti, dan berenang menyeberangi Teluk San Francisco. Tingkat kebugaran tubuh semacam ini menuntut disiplin latihan yang harus dilakukan terus menerus.

Kebugaran rohani, demikian kata Paulus kepada Timotius, juga menuntut lebih daripada sekadar melakukan pendekatan yang santai untuk menjalani hidup yang menghormati Allah. Dalam budaya yang ditandai dengan pengajaran palsu dan disertai bentuk-bentuk ekstrem pemuasan dan penyangkalan diri, Paulus menulis, "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang" (1 Timotius 4:7,8).

Tubuh dan pikiran kita harus diarahkan kepada Allah serta disiapkan untuk melayani-Nya (Roma 12:1,2). Tujuannya bukan kehebatan rohani, melainkan ibadah, hidup yang menyukakan Tuhan. Mempelajari firman dengan giat, doa yang terfokus, dan disiplin tubuh menjadi bagian proses ini.

Seberapa baik latihan kita sangat menentukan seberapa baik kita menjalani arena kehidupan ini --DCM

16 November 2007

Tunas 2.000 Tahun

Nats : Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma.... Pada masa tua pun mereka masih berbuah (Mazmur 92:13,15)
Bacaan : Mazmur 92:13-16

Pada bulan Juni 2006, tim dokter dan ilmuwan di Israel berhasil menumbuhkan biji pohon kurma yang sudah berusia 2.000 tahun. Karena biji kurma itu ditemukan di benteng Herodes Masada di tepi barat Laut Mati, biji tersebut diberi nama "Metusalah", nama orang yang tercatat memiliki usia paling tua di dalam Alkitab (Kejadian 5:27). Selain merasa tertantang untuk menghidupkan biji yang sudah lama tertidur, tim dokter dan ilmuwan tersebut juga ingin belajar lebih banyak lagi mengenai pohon yang dipuji oleh Kitab Suci karena kerindangan, buah yang dihasilkan, keindahan, dan kualitasnya sebagai obat.

Pohon kurma memiliki peran yang sangat penting di dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, pohon ini dihubungkan dengan bait dan hadirat Allah. Perjanjian Baru menggambarkan kerumunan banyak orang yang memuji Allah dan meletakkan dahan-dahan kurma [yang berbentuk seperti daun palem] di jalan yang akan dilewati Yesus pada saat Dia memasuki kota Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai.

Janji Allah untuk memberkati dunia melalui keturunan Abraham juga "tertidur" selama 2.000 tahun (lihat Kejadian 12:1-3). Akhirnya, Biji janji itu tumbuh. Biji itu adalah Yesus, Mesias yang sudah lama dinantikan. Tak lama kemudian, kisah kebangkitan-Nya segera menyebar ke seluruh bangsa di bumi.

Inilah saatnya kita juga mengalami mukjizat itu. Waktu tidak menjadi masalah. Begitu pula lahan keadaan yang tandus. Hal yang penting adalah kita membiarkan hati kita menjadi tempat Kristus disambut dan dipuja --MRD II

16 Mei 2008

Nilai Rupa Allah

Nats : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39)
Bacaan : Kejadian 1:26,27; Matius 22:36-40

Belakangan ini di Jakarta, pemukulan tanpa ampun terhadap seorang pencuri sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan, pernah ada yang mengerikan; massa yang mengamuk membakar hidup-hidup si pencuri. Tak sedikit orang mengambil risiko itu dan mempermalukan diri sendiri demi mencukupi kebutuhan hidup. Memang, mencuri bukan tindakan yang benar. Namun, massa yang main hakim sendiri secara kejam juga tak dapat dibenarkan. Mereka tak lagi peduli bahwa orang yang mereka hakimi secara keji adalah ciptaan Tuhan.

Sejak mula manusia dicipta, Allah menyatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ..." (Kejadian 1:26). Ini berarti bahwa setiap manusia -- siapa pun dia -- adalah gambaran Allah yang mulia. Lalu bila demikian, bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka? Bagaimana sikap anak Tuhan dalam dunia yang semakin tidak menghargai nilai seorang manusia? Firman Tuhan meminta hal yang sederhana; "Kasihilah sesamamu ... seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39).

Sudahkah kita terus berusaha memperlakukan setiap orang sebagai gambar dan rupa Allah? Atau, apakah kita turut menindas ciptaan Allah di sekeliling kita; para pembantu, bawahan, orang miskin, dan sebagainya? Yesus bahkan mengajak kita untuk mengasihi musuh, karena mereka juga gambar dan rupa Allah. Bila kita pernah merendahkan gambar dan rupa Allah dalam diri orang lain, kiranya kita dengan rendah hati memohon ampun kepada Allah. Mari kita ubah sikap dan pikiran yang negatif saat memandang sesama. Kiranya Allah disenangkan saat manusia belajar saling mengasihi -BL

23 Juli 2008

Orangtua Sebagai Suporter

Nats : Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan aku yakin hidup juga di dalam dirimu (2Timotius 1:5)
Bacaan : 2Timotius 1:3-7

Andai kehidupan ini adalah sebuah arena pertandingan dan anak-anak adalah pemainnya, maka orangtua adalah suporter yang terutama. Peran orangtua akan sangat memengaruhi hasil yang akan dicapai anak-anaknya kelak. Pengalaman Patrick Hughes membuktikan hal itu. Sejak lahir, Patrick buta dan lumpuh, tetapi ia mempunyai prestasi yang sangat luar biasa: anggota band sekolah, pianis yang pernah menggelar konser di Kennedy Center, dan seorang artis rekaman. Ia juga mahasiswa dengan predikat "straight A" dan menerima Disney's Wide World of Sport Spirit Award 2006.

Faktor terpenting keberhasilan Patrick di tengah segala keterbatasannya adalah dukungan orangtua. Ibu dan kedua adik Patrick adalah suporter setianya dalam berbagai kesempatan. Ayahnya yang bekerja di perusahaan pengiriman, dengan sengaja mengambil kerja shift malam supaya pada siang hari ia dapat menjadi "mata" dan "kaki" buat Patrick di sekolah. Ketika Patrick menjadi anggota marching band berkursi roda pertama di universitasnya-sebagai peniup trompet-ayahnya turut serta dalam barisan; mendorong kursi rodanya, berputar mengikuti barisan, dan membentuk formasi.

Hal serupa juga terjadi dalam kehidupan rohani. Penghayatan iman orangtua yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari, sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan rohani anak-anak. Seperti Timotius. Pada usia muda ia telah menjadi pemimpin jemaat sekaligus rekan sekerja Paulus yang sangat diandalkan (2Timotius 3:10,11). Semua itu tidak dapat dilepaskan dari penghayatan iman ibunya, Eunike, dan neneknya, Lois (ayat 5) -AYA

30 Juli 2008

Baik Kok Menderita?

Nats : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5)
Bacaan : Ayub 1:1; 42:1-6

Banyak dari kita mungkin sering mendengar ungkapan ini: "Mengapa ia bisa mengalami hal itu? Padahal ia orang baik. Kasihan, ya?" Orang cenderung berpikir bahwa tidak adil bila ada orang baik yang hidup menderita. Ibarat orang tak bersalah yang harus menerima hukuman. Orang berpikir bahwa hidup orang baik itu selalu diberkati Tuhan. Atau, bila ia harus mengalami kesulitan, Allah akan segera menolong.

Alkitab mencatat bahwa Ayub adalah orang saleh, yang bahkan dipuji oleh Allah sendiri (1:1). Namun, Ayub harus mengalami penderitaan yang datang bertubi-tubi. Dari yang awalnya kaya raya sekarang jatuh miskin; dari yang semula sehat sekarang jatuh sakit. Seluruh anaknya tewas dalam sebuah kejadian. Istri serta teman-temannya meninggalkan Ayub. Apa salah Ayub? Tidak, Ayub tidak bersalah. Lalu mengapa ia mengalami penderitaan yang begitu berat? Karena Allah ingin mengajar Ayub tentang siapa diri-Nya. Melalui penderitaan, Allah ingin Ayub mengenal Dia lebih dalam. Dan inilah yang diakui Ayub pada akhir cerita tentangnya. Pengenalan Ayub akan Allah menjadi lengkap saat ia berkata: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (42:5).

Penderitaan bukan berasal dari Allah, tetapi kerap kali Allah mengizinkan hal itu terjadi supaya kita dapat memetik hikmah dari penderitaan tersebut; baik itu hikmah mengenai kekudusan, pertobatan, ataupun mengenai Allah sendiri. Jadi, daripada menangis dan mengeluh, mari temukan apa yang hendak Tuhan ajarkan lewat penderitaan kita -RY

16 Agustus 2008

Bhinneka Tunggal Ika

Nats : Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7)
Bacaan : Roma 15:5-7

Menjelang 17 Agustus 1945, Bung Karno pernah diculik oleh para pemuda agar segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada hari H-nya, ia didesak teman-teman yang sudah berkumpul di rumahnya. Namun Soekarno berkata, "Saya tidak mau mengucapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada." Pertimbangannya adalah: Soekarno orang Jawa, sementara Hatta orang Sumatra. "Demi persatuan," tambahnya. Bung Karno menyadari betul, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang mencakup beragam suku. Karenanya tidak ada bentuk negara yang lebih baik selain negara kesatuan. Dalam negara kesatuan, perbedaan dihargai.

Dalam hidup bermasyarakat dan bergereja, sangat mudah menemukan orang lain yang berbeda dengan kita; mulai dari hitam-putihnya kulit, lebar-kecilnya mata, lurus-ikalnya rambut, ragamnya aksen dan dialek, sampai "kotak-kotak" baru, seperti partai politik dan denominasi gereja. Dan karena perbedaan itu, kita pun merasa terpisah.

Namun, sebagaimana para pendiri negeri ini rindu menciptakan bangsa yang bersatu dalam kepelbagaian yang ada, marilah kita hidupi pula semangat bersatu dalam kepelbagaian ini. Jauhkan sikap membeda-bedakan. Mohon Tuhan mengaruniakan kerukunan kepada kita (ayat 5). Sambil kita juga berperan aktif bagi terciptanya kerukunan itu dengan memupuk sikap saling menerima seperti yang dicontohkan Kristus (ayat 7). Jangan biarkan perbedaan itu memisahkan kita, sebaliknya biarkan itu menjadi kekayaan di hidup kita.

Saatnya Indonesia bersatu. Saatnya Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan di negeri ini. Dan, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri di lingkungan yang paling dekat -AW

14 September 2008

Membagi Berkat

Nats : Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum (Amsal 11:25)
Bacaan : Amsal 11:24-31

Danau Galilea dan Laut Mati di Palestina memiliki karakteristik yang berbeda. Di Danau Galilea hidup banyak ikan. Para nelayan biasa menangkap ikan di sana. Di sekitarnya hidup bermacam tumbuhan hijau dan subur. Kontras dengan Laut Mati. Air Laut Mati banyak mengandung garam, sehingga tak ada makhluk hidup yang mampu bertahan di sana. Daerah di sekelilingnya pun kering dan gersang.

Mengapa bisa demikian? Rupanya begini, Danau Galilea memperoleh air dari sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya, lalu mengalirkannya ke Sungai Yordan. Membuat tanah di sepanjang aliran antara danau itu dengan Sungai Yordan menjadi subur. Sebaliknya, Laut Mati memperoleh air dari Sungai Yordan, tetapi ia tidak mengalirkannya ke mana pun. Laut itu sama sekali tidak punya saluran keluar.

Hikmahnya adalah, bahwa membagi berkat itu menyehatkan. Bukan saja bagi orang yang menerima, melainkan juga bagi yang memberi. Maka, jangan menganggap bahwa dengan membagi berkat kepada yang lain, seolah-olah kita melulu yang berkorban. Tidak. Sebab pada saat kita memberi, saat itu juga sebetulnya kita menerima, walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Berkat yang kita tebar akan selalu "berbunga" dan "berbuah". Sebaliknya, berkat yang kita simpan hanya untuk diri sendiri malah bisa membusuk.

Sebagai orang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi penyalur berkat, seperti Danau Galilea; bukan menjadi penimbun berkat seperti Laut Mati. Dengan memberi kita mendapat, dengan menahan berkat kita justru akan kehilangan (ayat 24) -AYA

19 September 2008

Injil di Balik Kue Bulan

Nats : Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang (1Korintus 9:19)
Bacaan : 1Korintus 9:19-23

Kue bulan atau tong jiu pia adalah makanan khas orang Tionghoa, yang biasanya ada untuk merayakan festival bulan purnama. Saya memiliki suatu kenangan mengesankan dengan kue ini ketika sedang belajar di Tiongkok. Menjelang festival bulan purnama, sepasang suami istri dari gereja lokal tempat saya beribadah mengundang kami, para mahasiswa asing, untuk datang ke rumah mereka dan makan kue bulan bersama. Beberapa rekan yang memiliki keyakinan berbeda pun ikut datang. Ternyata suami istri tersebut memakai kesempatan festival bulan purnama untuk menceritakan betapa besar kasih Tuhan dalam hidup mereka. Mereka menjadikan kue bulan sebagai sarana untuk menceritakan Injil.

Tak semua tradisi warisan budaya nenek moyang itu buruk. Memang ada tradisi yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan bisa menghambat pertumbuhan rohani kita, karenanya harus kita tolak. Akan tetapi ada juga tradisi yang bersifat "netral", yang bahkan bisa kita gunakan untuk menjadi sarana pemberitaan Injil yang efektif. Paulus, dalam pelayanannya, tidak mengabaikan tradisi yang dimiliki seseorang. Dikatakan dalam surat Korintus, ia "menjadi seperti orang yang dilayaninya" supaya bisa memenangkan sebanyak mungkin orang (ayat 19).

Saya belajar dari suami istri yang mengundang kami untuk makan kue bulan itu. Mereka begitu rindu mewartakan kabar baik tentang kasih Kristus, dan mereka menggunakan tradisi warisan budaya yang mereka miliki untuk dipakai menjadi sarana penginjilan. Dan itu sangat efektif. Walau tentu kue bulan itu hanya menjadi sarana, bukan yang utama. Akhirnya yang menyentuh hati kami bukanlah kue bulan, melainkan kasih Kristus dalam hati mereka -GS

24 September 2008

Mission Possible

Nats : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19)
Bacaan : Matius 28:16-20

Film Mission Impossible yang dibintangi Tom Cruise sempat menjadi box-office pada tahun 2006. Film yang diangkat dari serial televisi berjudul sama ini berkisah tentang agen Ethan Hunt yang mendapatkan misi yang teramat berat, bahkan nyaris mustahil. Dalam upaya mewujudkan misinya itu Hunt tidak sendiri. Ia dibantu teman-temannya yang tergabung dalam Impossible Mission Force (IMF).

Seperti film-film Hollywood yang lain, sesulit apa pun misi yang diemban oleh Hunt dan teman-temannya, pada akhirnya mereka berhasil menuntaskannya. Mereka sanggup mengubah apa yang tadinya dianggap "mustahil" menjadi "tidak mustahil". Kuncinya terletak pada penggunaan peralatan canggih dan kemampuan para tokohnya.

Sebagai pengikut Kristus kita pun memiliki misi yang harus diemban di dunia ini, yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dari sisi "target akhirnya", betul, ini sungguh tugas yang teramat berat. Bayangkan, menjadikan semua bangsa murid Kristus-walaupun pasti bukan sebuah mission impossible. Sebab kalau itu mustahil, Tuhan Yesus pun tentu tidak akan memerintahkannya.

Namun, dari sisi bagaimana misi tersebut dapat diwujudkan, sebetulnya tidaklah "seberat" itu. Maksudnya, kita semua bisa turut berperan serta. Caranya? Yaitu dengan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian yang indah bagi orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, mereka melihat dan merasakan sapaan kasih Kristus lewat tindakan dan ucapan kita, lalu tergerak untuk mengikut Kristus. Kuncinya terletak pada kasih kita kepada Tuhan dan kepedulian kita terhadap sesama -AYA



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA