Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 5 No. 1 Tahun 1990 > 
PEMBAGIAN POKOK-POKOK KULIAH BUKIT ZAITUN 
sembunyikan teks

Mat 24:1-3 Pendahuluan

Mat 24:4-14 Peristiwa-peristiwa di antara dua kedatangan Yesus

Mat 24:15-26 Krisis di Yudea

Mat 24:27-31 Kedatangan Anak Manusia

Mat 24:32-35 Pelajaran dari pohon ara.

Mat 24:36-51 Tidak terduganya kedatangan Anak Manusia

 I. PENDAHULUAN (MT. 24:1-3)
sembunyikan teks

Laporan Matius,"Yesus keluar dari Bait Allah" merupakan suatu tindakan simbolis yang nyata berkenaan dengan apa yang dikatakan Yesus dalam Mt. 23:38, "Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi." Berbeda dengan Tuhan Yesus yang telah melihat kehancuran Yerusalem pada waktu yang akan datang, murid-murid malah bengong mengagumi keindahan dan kekuatan bangunan Bait Allah. Dan Bait Allah memang pantas untuk dikagumi, apalagi oleh nelayan-nelayan dari Galilea. Bangunan itu terbuat dari marmer putih yang disalut emas, dan berkilap-kilap bila disoroti matahari. Markus mencatat kekaguman murid-murid: "Guru lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!" (Mk. 13:1). Meredam kekaguman murid-murid, Yesus malah menubuatkan kehancuran Bait Allah. Dari jawaban Tuhan Yesus kita melihat bahwa murid-murid bukan merasa sayang terhadap bangunan Bait Allah itu, tapi mereka tidak yakin bahwa bangunan semegah dan sekokoh itu akan dapat dihancurkan (Mt. 24:2; bdgk. Mk. 13:2). Kepercayaan apokaliptis orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus itu adalah bahwa Bait Allah yang megah itu tidak mungkin dapat dihancurkan.

Setelah meninggalkan Bait Allah, Yesus kemudian duduk di atas Bukit Zaitun. R.T. France melihat ini sebagai gema dari Yehezkiel 11:23 di mana "kemuliaan Tuhan naik ke atas dari tengah-tengah kota dan hinggap di atas gunung yang di sebelah timur kota."75 Berbeda dengan Khotbah di Bukit (Lih. Mt. 5:1), kali ini Tuhan Yesus berbicara sendirian dengan murid-muridNya. Perlu ditekankan di sini bahwa ajaran Yesus pada ayat-ayat berikut merupakan jawaban atas pertanyaan murid-murid. Pertanyaan mereka ini merangkaikan kehancuran Bait Allah ("bilamanakah itu akan terjadi") dan kesudahan sejarah dunia ini ("apakah tanda kedatanganMu dan tanda kesudahan dunia"). Satu kata sandang tertentu (definite article) yang memegang dua kata tes parousias ("kedatanganMu") dan sunteleias tou aionos ("kesudahan dunia") menunjukkan kedua istilah itu menunjuk pada satu peristiwa yang sama.

 II. PERISTIWA-PERISTIWA DI ANTARA DUA KEDATANGAN YESUS (MT. 24:4-14)
sembunyikan teks

Keseluruhan peristiwa yang dipaparkan dalam bagian ini akan lebih mudah kalau kita lihat dalam diagram di bawah ini:

Dalam permulaan ajaranNya ini, Yesus mengemukakan hal-hal yang akan terjadi di antara waktu kedatanganNya yang pertama kali dengan kedatanganNya yang kedua kali. Nasihat pertama yang diberikan Tuhan Yesus sehubungan dengan pertanyaan murid-murid mengenai kehancuran Bait Allah dan kesudahan zaman adalah: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!" (ay. 4). Peringatan Tuhan Yesus ini, sebagai nasihat pastoral bagi murid-murid yang segera akan ditinggalkan secara fisik, tetap berlaku bagi kita sekarang ini. Khususnya, memperingatkan orang Kristen setiap kali ada orang yang berbicara atau menguraikan tentang tanda-tanda kedatangan Yesus lengkap dengan perhitungan bilamana hal itu akan terjadi. Maksud uraian Tuhan Yesus adalah membawa semua peristiwa itu ke dalam perspektif parousia. Ayat 6b merupakan pesan sentral bagi bagian ini: "Namun berawas-awaslah, jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum ke sudahannya."

Penyesatan yang muncul bagi orang percaya bukan berbentuk oposisi terhadap Kekristenan, tapi berupa peniruan realitas. Penyesat-penyesat itu tidak mengklaim bahwa mereka adalah Yesus. Mereka datang dengan memakai nama Yesus76 dan mengaku: "Akulah Mesias." Dengan menganggap diri datang dengan otoritas dan kuasa penuh dari Yesus mereka menganggap diri mereka layak disebut sebagai "mesias". Mereka akan menyesatkan orang dengan mengatakan bahwa waktu berjaga-jaga telah lewat. Testing bagi mereka yang mengaku memberi ajaran dalam nama Yesus adalah apakah kehidupan pribadi mereka benar-benar serupa dengan Kristus atau tidak.

Bertentangan dengan nasihat penyesat, Yesus mengemukakan bahwa deru perang, kelaparan dan gempa bumi yang akan terjadi justru barulah merupakan tanda permulaan kesudahan zaman (Mat 24:6-8). Bila kita bandingkan dengan bagian-bagian lain dari Alkitab, khususnya ayat-ayat apokaliptik, maka sekalipun peristiwa-peristiwa yang terjadi dan yang akan terjadi tetap sama dalam waktu antara tersebut, namun intensitas kejadian itu akan bertambah berat menjelang kesudahan dunia.77

Berbeda dengan bagian paralel dalam Injil Markus (Mk. 13:9-11; bandingkan dengan Mt. 10:17-20) yang melihat penganiayaan murid-murid akan dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Matius melihat penganiayaan yang akan terjadi dalam skala yang lebih luas. Murid-murid itu akan dibenci oleh "semua bangsa" (ay. 9). Penganiayaan ini memberi dampak yang besar pada Kekristenan. Pengkhianatan, permusuhan dan nabi palsu akan muncul membuat kedurhakaan merajalela. "Kedurhakaan" dalam ayat 12, dalam bahasa Yunani anomia, secara hurufiah berarti "tidak adanya hukum." Ketimbang menyelamatkan diri dengan cara mengingkari hukum, yang malah akan membuat kasih kebanyakan orang menjadi dingin, Yesus menasehatkan untuk "bertahan" (ay. 13)!

Paralel dengan penganiayaan yang telah mencapai skala internasional, pemberitaan Injilpun tidak lagi terbatas pada orang Yahudi saja, tapi "akan diberitakan ke seluruh dunia" (ay. 14). Penglihatan ini mengantisipasi Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19. Pemberitaan Injil ke seluruh dunia ini juga menunjukkan bahwa proklamasi Injil merupakan tujuan eskatologis dalam rencana Allah. Masa kini kita melihat bahwa Injil telah diberitakan hampir ke seluruh dunia. Fakta ini mendorong orang untuk berpendapat bahwa kesudahan dunia ini akan segera terjadi. Namun, seperti dikatakan France, ayat 14 ini menekankan bahwa kesudahan dunia tidak akan terjadi sebelum Injil diberitakan ke seluruh dunia, tapi tidak berarti ayat ini mengatakan bilamana hal itu harus terjadi.78

 III. KRISIS DI YUDEA (MT. 24:15-26)
sembunyikan teks

Dalam bagian ini Yesus berbicara mengenai penderitaan besar yang akan dialami bangsa Yahudi, generasi pada masa itu (Mt. 23:36; 24:34). Penderitaan ini akan mencapai puncaknya dengan dihancurkannya Yerusalem dan Bait Allah oleh tentara Roma pada tahun 70 AD. Bagian ini menjawab pertanyaan murid mengenai kapan Bait Allah akan dihancurkan.

Dengan bahasa serupa seperti yang dikemukakan oleh Daniel (Dan. 9:27; 11:31; 12:11), Yesus memberi peringatan akan munculnya Pembinasa keji.79 Pada tahun 168 BC, Antiokhus Epifanes, raja Siria, menajiskan Bait Allah dengan mendirikan altar untuk Zeus di tempat orang mempersembahkan korban bakaran. Di altar itu ia juga mempersembahkan seekor babi yang merupakan binatang yang najis menurut Perjanjian Lama. Ia juga menjadikan kamar-kamar di Bait Allah menjadi tempat pelacuran. Diulangnya nubuatan nabi Daniel ini menunjukkan bahwa peristiwa tahun 168 BC itu belum merupakan penggenapan menyeluruh dari nubuatan nabi Daniel. Perang Yahudi pada tahun 66-70 AD menampak ulangkan Pembinasa keji yang dinubuatkan Daniel. Tentara Roma di bawah pimpinan Jenderal Titus benar-benar menjadikan Bait Allah menjadi lengang dengan membumiratakan bangunan tersebut.

Nasihat Tuhan Yesus untuk "melarikan diri ke pegunungan" (Mat 24:16) menunjukkan bahwa bagian ini jelas menunjuk pada peristiwa kehancuran Yerusalem dan bukan waktu kesudahan zaman. Malapetaka kosmis menjelang akhir zaman tidak akan dapat dihindari dengan melarikan diri ke pegunungan. Mat 24:17-20 pun merefleksikan urgensinya pelarian mereka untuk menghindari kekejaman tentara Roma yang datang menyerang.80

Sekalipun Yesus mengemukakan sesuatu yang pasti akan terjadi, sesuai dengan rencana Allah, ia tetap menasehatkan: "berdoalah!" Bahkan dalam kejadian yang pasti terjadi doa tetap mempunyai peranan yang sangat penting, karena Tuhan bebas untuk menjawab doa anak-anakNya. Murid-murid didorong untuk berdoa agar peristiwa ini tidak terjadi pada musim dingin (ay. 20) karena pada musim itu jalan akan menjadi berlumpur dan sulit dijalani. Juga mereka perlu berdoa agar peristiwa itu tidak terjadi pada hari Sabat, sebab pada hari itu tidak ada yang berjualan sehingga mereka akan kekurangan bekal makanan.

Dalam periode krisis ini akan banyak orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan menjadi mesias dan nabi palsu. Mereka juga memperlengkapi diri dengan "tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat" (ay. 24). Tentunya ini semua menjadi alat yang ampuh untuk menyesatkan pengikut-pengikut Yesus. Pesan Tuhan Yesus dalam menghadapi mereka adalah: "Jangan kamu percaya!" (Mat 24:23,26). Tindakan mesias dan nabi palsu ini sangat bertentangan dengan sikap Tuhan Yesus pada waktu ia ditantang untuk memperlihatkan "suatu tanda dari sorga" kepada orang-orang Farisi dan Saduki (Mt. 16:1). Yesus lebih menekan tanggung jawab untuk beriman dari pada mempercayakan diri pada penampakan mujizat yang kelihatannya hebat. Ini memperingatkan kita pada masa kini yang terlalu memaksa Tuhan untuk memperagakan kehebatanNya dengan membuat mujizat-mujizat.

 IV. KEDATANGAN ANAK MANUSIA (MT. 24:27-31)
sembunyikan teks

Mulai dari ayat 27 kita melihat adanya peralihan cerita dari krisis lokal menjadi bencana universal. Mulai dari kilat memancar dari timur dengan cahaya yang memancar sampai ke barat, menunjukkan bahwa kedatangan Yesus untuk kali yang kedua ini merupakan suatu peristiwa yang dapat disaksikan secara luas. Keagungan parousia akan terlihat dari timur sampai ke barat. Kejelasan kedatangan Tuhan Yesus diungkapkan dalam sebuah pepatah. Seperti adanya burung nazar akan menunjukkan di mana letak bangkai, begitu juga kedatangan Anak Manusia tidak perlu dicari-cari lagi.81

Setelah bencana-bencana kosmis (ay. 29) Anak Manusia akan datang dengan kekuasaan dan kemuliaanNya. Kedatangan Anak Manusia ini merupakan suatu momen tunggal dalam sejarah dan menjadi klimaks dari parousia. Manusia tidak terhempas pada sebuah roda nasib yang terus berputar tanpa akhir dan tanpa perubahan. Kedatangan Tuhan Yesus yang menyudahi sejarah menunjukkan bahwa sejarah tidak berjalan tanpa tujuan. Sejarah terus berjalan dengan pasti menuju titik yang telah ditetapkan Allah ini. Dengan kedatanganNya ini Yesus membawa keselamatan dan penghukuman secara sekaligus. Mereka yang menolak Dia akan meratap (ay. 30), sedangkan orang pilihanNya, yakni mereka yang mau mengikut Dia, akan memperoleh pewujudan keselamatannya secara penuh.

 V. PELAJARAN DARI POHON ARA (MT. 24:32-35)
sembunyikan teks

Dalam bagian ini Yesus mengaitkan hubungan antara penderitaan yang akan datang (ay. 15-25) dengan kedatanganNya (ay. 26-31). Sama halnya mereka dapat mengetahui musim panas akan datang dengan memperhatikan pohon ara, demikian juga mereka dapat mengetahui bahwa waktu penderitaan itu sudah dekat bila mereka melihat tanda-tanda dari peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Dalam ayat 3 murid-murid bertanya, "bilamanakah itu akan terjadi?". Dan dalam ayat 33 Tuhan menjawab, "jika kamu melihat semuanya ini."

Dengan penuh otoritas (ay. 35) Yesus memberi tahu: "Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi" (ay. 34). Kata 'angkatan' (Yun. yevex) seperti halnya dalam Mt. 23:36 menunjuk pada orang-orang Yahudi yang sezaman dengan Tuhan Yesus.

 VI. TIDAK TERDUGANYA KEDATANGAN ANAK MANUSIA (MT. 24:36-51)
sembunyikan teks

Hari dan saatnya parousia itu sendiri tidak ada yang tahu selain Allah Bapa. Ayat ini merupakan bagian terjelas dalam perjanjian Baru yang menunjukkan keterbatasan pengetahuan Yesus di dunia ini. Menarik untuk diperhatikan, Matius menempatkan keterbatasan Yesus ini dalam hubungan Anak dan Bapa. Istilah "Anak" juga dipakai dalam Matius 11:27,13) menunjukkan suatu hubungan yang intim antara Allah Bapa dan Allah Anak. Dalam ayat ini ditunjukkan kebergantungan Yesus kepada Bapa dalam inkarnasiNya. Mengutip perkataan Vincent Taylo r dalam komentarnya untuk Markus 13:32, Hill menulis: "Adalah merupakan kemuliaan dari inkarnasi kalau Kristus menerima pembatasan pengetahuan itu yang tak dapat dipisahkan dari kemanusiaan yang sejati."82

Penting bagi para murid untuk menyimak baik-baik ajaran Tuhan Yesus ini. Ketidaktahuan bilamana kedatangan Tuhan akan terjadi dapat menjerat orang tidak bersiap-siap. Orang-orang pada zaman Nuh tidak mau memperhatikan kesaksian Nuh, baik kesaksian yang dapat terlihat dengan nyata, yakni bahtera yang dibuat oleh Nuh, maupun kesaksian verbal (lih. 2Pet 2:5). Karena itu pada waktu Nuh masuk ke dalam bahtera mereka juga masuk ke dalam air bah dan hilang lenyap karena terlalu lama di air (Mat 24:39). Para murid diharapkan untuk tidak mengulang kesudahan orang-orang pada zaman Nuh itu.

Selain orang-orang yang masa bodoh di atas, Tuhan juga memperingatkan mereka yang terlalu percaya diri (Mat 24:40-42). Bahkan mereka yang merasa telah menjadi muridpun akan dihakimi (Mt. 16:27). Mat 24:40 dan Mat 24:41 menunjukkan bahwa dengan kedatanganNya Tuhan akan membawa pemisahan, tergantung pada hubungan pribadi orang tersebut dengan Tuhan. Dan hanya ada dua macam orang, mereka yang bersiap-siap dan mereka yang tidak.

Bagi mereka yang berpikir bahwa mereka dapat menduga dengan pasti kapan Tuhan akan datang, Yesus memperingatkan bahwa hari kedatanganNya akan seperti pencuri pada malam hari (Mat 24:43-44). Ini merupakan peringatan bagi mereka yang suka akan perhitungan tahun atau hari kedatangan Tuhan. Sejarah menunjukkan ada banyak orang yang tidak kapok-kapoknya untuk mencoba menghitung-hitung hari atau tahun bila Tuhan akan datang. Maximillian, seorang pemimpin gerakan Montanis pada abad kedua, mengatakan: "Setelah saya tidak ada lagi nubuatan; yang ada cuma kesudahan dunia ini."83 Dan herannya banyak orang Kristen juga tidak kapok-kapoknya. Mereka terpengaruh untuk mempercayai ramalan bohong tersebut. R.T. France justru melihat Matius 24 ini sebagai pasal untuk mencegah antusias yang prematur. Tema ini muncul berulang-ulang dalam ayat 4-5, 6b, 8, 14, 23-28, 36 dan secara keseluruhan pasal ini malah bermaksud untuk mengurangi penantian bahwa Yesus akan datang dengan segera.84 Namun aplikasi dari bagian ini yang pasti untuk kita semua, ketidakterdugaan kedatangan Tuhan Yesus ini mendorong kita semua untuk senantiasa berjaga jaga setiap waktu, ketimbang menghitung-hitung hari, seperti orang menghitung kode buntut!

Peringatan terakhir dalam pasal 24 (ay. 45-51) ditujukan pada semua murid, namun lebih khusus ditujukan pada mereka yang kemudian akan menjadi pemimpin di gereja (bdgk.,ay. 45b, "yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya"). Mereka yang menjalankan tugasnya dengan setia dan bertanggung jawab, oleh Tuhan akan diberikan kesempatan naik pangkat, ia akan dipercayakan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Tapi bagi mereka yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, Tuhan akan menghukumnya. Menarik perhatian adalah Tuhan menyamakan mereka dengan "orang-orang munafik" (ay. 51). Ini berarti mereka hanya pura-pura saja waktu menjabat profesi Kristennya. Sekalipun tema yang dibawakan bagian ini sama dengan di atas, yakni hidup berjaga-jaga, tapi bagian ini memberi petunjuk praktis bagaimana hidup yang demikian. Hidup berjaga jaga bukan duduk bengong menunggu Yesus datang, tapi bekerja secara aktif, rajin dan bertanggung jawab.

 KEPUSTAKAAN
sembunyikan teks

Barclay, William. The Daily Study Bible: The Gospel of Matthew, vol. 2. Edinburgh: Saint Andrew Press, 1975.

France, R.T. Evangelist and Teacher. Grand Rapids: Zondervan, 1989.

The Gospel according to Matthew: an introduction and commentary (The Tyndale New Testament Commentaries). Grand Rapids: Eerdmans, 1985.

Green, Michael. Matthew for Today. Dallas: Word Publishing, 1988.

Hill, David. The Gospel of Matthew (The New Century Bible Commentary). Grand Rapids: Eerdmans, 1981.

Ladd, Ge orge Eldon. A Theology of the New Testament Grand Rapids: Eerdmans, 1986.

LaSor, William Sanford. The Truth About Armageddon. Grand

Rapids: Baker, 1988.

Morris, Leon, "Parousia" dalam The International Standard Bible Encyclopedia (revised edition), ed. Geoffrey W. Bromiley. Grand Rapids: Eerdmans, 1987.

Nixon, R.E. "Matthew" dalam The New Bible Commentary Revised. Ed.D. Guthrie, J.A. Motyer, A.M. Stibbs dan D.J. Wiseman. London: Inter-Varsity Press, 1975.



TIP #06: Pada Tampilan Alkitab, Tampilan Daftar Ayat dan Bacaan Ayat Harian, seret panel kuning untuk menyesuaikan layar Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA