Topik : Khotbah

14 November 2002

Apakah Kita Sungguh Peduli?

Nats : Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing? (Rut 2:10)
Bacaan : Rut 2:1-13

Saat awal menjadi seorang kristiani, saya dan teman-teman memiliki cara untuk saling membantu menghafalkan ayat-ayat Alkitab. Kami saling memberi salam dengan cara meminta yang lain mengutip sebuah ayat. Ketika seorang teman mengetahui kalau daya ingat saya kurang baik, ia pernah menyapa saya dengan bercanda, "sebutkan ayat dalam Yohanes 11:35!" Ia tahu bahwa saya akan mudah mengingat ayat yang hanya terdiri dari tiga kata.

Meskipun hanya sebuah permainan, tetapi tujuan kami tidak hanya untuk bersenang-senang. Salam seperti ini mencerminkan keinginan kami yang mendalam untuk menjadi pelaku firman Allah.

Dalam kitab Rut, kita dapat membaca bahwa Boas memberi salam kepada para pekerjanya dengan berkata, "TUHAN kiranya menyertai kamu" dan mereka menjawab, "TUHAN kiranya memberkati tuan!" (2:4). Dari ayat di atas jelas terlihat bahwa Boas bukanlah seorang tuan tanah yang kasar, melainkan orang yang memperhatikan orang lain dengan tulus. Jawaban para pekerjanya mengungkapkan itikad baik mereka terhadapnya dan keinginan mereka agar Allah juga memberkati tuan mereka.

Saat kita merenungkan hubungan kita dengan Kristus dan orang-orang yang telah ditempatkan-Nya di sekeliling kita, alangkah baiknya seandainya kita memperhatikan makna penting dari salam yang kita ucapkan. Apakah ucapan "selamat pagi" dan "Allah memberkatimu" hanyalah salam kosong dan tidak tulus? Ataukah salam kita mengungkapkan rasa perhatian yang sungguh kepada orang yang kita sapa? —Albert Lee

7 Desember 2002

Polusi Suara

Nats : Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (Kolose 3:8)
Bacaan : Kolose 3:1-11

Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.

Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.

Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (4:6).

Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini -Dennis De Haan

7 Januari 2003

Hentikan

Nats : Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia (Roma 13:10)
Bacaan : Roma 13:8-14

Sebuah moto di stiker bumper kendaraan mengkampanyekan pengendalian gosip: "Hentikanlah loshon hora". Gerakan ini dimulai oleh Rabi Chaim Feld di Cleveland, Ohio, yang mengatakan bahwa Alkitab melarang orang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain dengan cara apa pun. Loshon Hora adalah frasa dari bahasa Ibrani yang berarti perkataan yang negatif atau keji, yakni suatu perkataan jahat yang dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Rabi Feld berkata, "Jika Anda belum pernah bertemu Michael, tetapi seseorang memberi tahu Anda bahwa ia adalah orang yang tolol, maka citra Michael telah rusak di hadapan Anda, bahkan sebelum Anda bertemu dengannya."

Seseorang berkata, "Ketika Anda tergoda untuk menggosip, tariklah napas melalui hidung." Ini memang cara yang baik untuk menjaga kita agar tetap tutup mulut, tetapi kita pun membutuhkan pemecahan masalah yang menyentuh inti masalah.

Penawar racun gosip adalah kasih. Kasih menetralkan racun dalam hati kita sebelum lolos keluar melalui bibir kita. Alkitab menyatakan, "'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!' Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:9,10).

Kapan pun kita tergoda untuk melontarkan perkataan negatif tentang seseorang, meski itu benar, mintalah Allah menolong Anda untuk menghentikan gosip itu. Daripada melontarkan loshon hora, akan jauh lebih baik bila kita mengucapkan sepatah kata yang berisi kebaikan dan kasih --David McCasland

7 Februari 2003

Bijakkah Lidah Anda?

Nats : Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan (Amsal 12:18)
Bacaan : Amsal 12:17-25

Orang yang suka berbicara diperkirakan melontarkan 30.000 kata setiap hari! Pertanyaannya adalah, bagaimana perkataan kita, entah banyak maupun sedikit, mempengaruhi sesama kita?

Seorang filsuf Yunani meminta pelayannya memasakkan hidangan paling lezat. Pelayan yang bijak menyuguhkan hidangan berupa daging lidah dan berkata, "Ini adalah hidangan terlezat di antara semua hidangan lain, karena hidangan ini mengingatkan kita agar menggunakan lidah untuk memberkati dan mengungkapkan sukacita, menghalau kesedihan, mengenyahkan keputusasaan, dan menyebarluaskan keceriaan."

Lalu ia minta hidangan yang paling tidak enak. Lagi-lagi si pelayan menyuguhkan daging lidah sembari berkata, "Ini adalah hidangan yang paling tidak enak, karena mengingatkan kita bahwa kita bisa menggunakan lidah untuk menyumpahi, dan meremukkan hati, menghancurkan reputasi, menciptakan pertikaian, serta membuat keluarga dan bangsa berperang."

Untuk memahami maksud kata-kata si pelayan itu, kita tidak perlu makan daging lidah terlebih dulu. Kita mungkin sering kali telah "menelan perkataan kita sendiri" sebelum kita belajar untuk menghindari perkataan yang ingin kita tarik kembali.

Salomo menulis: "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan" (Amsal 12:18). Ayat ini menegaskan dan menyemangati sesama kita. Kata kunci dari ayat tersebut bukanlah lidah melainkan bijak. Lidah tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, hanya si pemiliknyalah yang mampu mengontrolnya.

Jika Anda ingin lidah Anda membangun sesama dan tidak menjatuhkan, mintalah Allah membuat Anda bijak --Joanie Yoder

19 Februari 2003

Hanya Perlu Satu Orang

Nats : Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib (Amsal 16:28)
Bacaan : Efesus 4:17-32

Pada tahun 1520, seseorang turun dari kapal milik bangsa Spanyol di Meksiko dan mengakibatkan kematian ribuan orang. Orang itu adalah seorang prajurit di bawah pimpinan Pánfilo de Narváez. Ia tidak sadar kalau dirinya membawa penyakit cacar air. Jadi, ke mana pun ia pergi, orang itu telah menularkan penyakit baru tersebut kepada penduduk Meksiko. Dan, wabah cacar air itu mengakibatkan kematian ribuan penduduk Meksiko.

Satu orang saja mampu membinasakan ribuan penduduk Meksiko. Kontaknya dengan penduduk Meksiko yang tak disengaja itu menyebabkan malapetaka yang mengerikan dan menyakitkan. Efek yang mematikan dari penyakit itu menjalar dari satu orang ke orang lain, dan menulari sebagian besar penduduk.

Penyebaran penyakit mematikan apa pun sama buruknya dengan penyebaran penyakit rohani yang terkadang menyerang gereja, yakni penyakit gosip dan perkataan kotor (Efesus 4:29-32).

Suatu hal yang biasa jika sekelompok jemaat yang bahagia dan sejahtera menjadi rusak setelah seseorang menyebarkan gosip. Tak lama kemudian pertikaian pun akan merajalela di antara jemaat yang tadinya bekerja sama dengan penuh semangat. Dan gereja akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatasi masalah itu daripada untuk melayani.

Sebaiknya kita masing-masing berhati-hati agar tidak menyebarkan penyakit gosip. Lebih baik kita gunakan perkataan untuk memperkuat dan memberikan dorongan semangat satu sama lain --Dave Branon

5 April 2003

Membuang Sampah

Nats : Janganlah kamu saling memfitnah! (Yakobus 4:11)
Bacaan : Yakobus 4:11-17

Saat menyetir, saya melewati tanda peringatan: MEMBUANG SAMPAH DI JALAN RAYA, DENDA 100 DOLAR. Tak lama kemudian saya melihat tanda peringatan lain berbunyi: BAK SAMPAH 1,6 KM LAGI. Tak berapa lama kemudian, saya melewati truk sampah yang sedang menuju pabrik pengolahan sampah.

Ada tiga cara mengatasi sampah. Anda dapat mengumpulkan, menghamburkan, atau membuangnya. Sebagian orang adalah pengumpul sampah. Mereka suka mendengarkan gosip. Jika mereka hanya mengumpulkan gosip tersebut, masalahnya takkan menjadi begitu serius. Namun, pengumpul gosip ini acap kali “mengotori tempat-tempat umum”, dan bersikeras menebarkan sampah gosip di sepanjang jalan kehidupan. Untunglah, ada juga yang tahu cara membuang sampah yang baik. Mereka menaruh sampah pada tempatnya yaitu di tong sampah “lupakan”.

Yakobus 4:11 mengingatkan kita, “Janganlah kamu saling memfitnah!” Jika Anda tak dapat mengatakan hal yang membangun, jangan berkata apa- apa. Jika Anda mendengar gosip yang merugikan, buanglah segera ke tong sampah “lupakan”. Lalu doakan orang yang digosipkan, juga orang yang menyampaikannya. Jangan menyebarluaskan gosip, tetapi hentikanlah gosip dengan bersikap diam. Gosip akan berhenti jika tak diteruskan.

Hari ini, Anda akan menemukan banyak “sampah”. Anda dapat mengumpulkan, menebarkannya, atau membuangnya. Mintalah supaya Allah membantu Anda untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan Dia dan membangun sesama --M.R. De Haan, M.D.

21 Mei 2003

Pesan yang Salah

Nats : Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta (Amsal 30:6)
Bacaan : Ulangan 4:1-14

Bayangkan, betapa frustrasinya seorang ibu saat mencoba mengumpulkan anggota keluarganya untuk makan malam. Saat itu putranya yang berusia 8 tahun masuk ke dalam rumah sambil menyembunyikan bangkai burung di balik punggungnya. "Panggil Ann untuk makan malam," perintah ibunya. "Lalu cuci tanganmu dan pergilah ke ruang makan."

Tak lama kemudian, putrinya yang berusia empat tahun berlari ke dapur sambil menangis tersedu-sedu. Kakaknya baru saja mengayun- ayunkan bangkai burung itu di depan hidungnya dan memberitahunya bahwa jika ia tidak sampai ke ruang makan dalam waktu 17 detik, sang ibu tidak akan mengizinkannya keluar dan bermain selama seminggu.

Kisah tentang salah menyampaikan pesan dari sang ibu ini hampir sama dengan kebingungan yang dihasilkan saat kita salah menyampaikan pesan dari Bapa surgawi. Pikiran kita acap kali penuh dengan ide-ide kita sendiri tentang apa yang seharusnya berlaku, seperti teman- teman Ayub yang tidak berkata benar tentang Tuhan (Ayub 42:7). Hasilnya, kita malah justru menambahi atau mengurangi apa yang sesungguhnya dikatakan Allah dalam firman-Nya (Ulangan 4:2). Kita perlu memastikan bahwa kita tahu dengan pasti apa yang merupakan firman-Nya dan apa yang menjadi pendapat kita. Jika tidak, bisa-bisa kita salah dalam menggambarkan-Nya. Amsal 30:6 mengingatkan bahwa kita akan berada dalam bahaya karena terbukti berdusta di hadapan Allah.

Mari kita berhati-hati agar kita tidak menyatakan pendapat kita seolah-olah yang kita katakan adalah firman Allah --Mart De Haan II

18 Juni 2003

Sesuatu untuk Dikatakan

Nats : Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu (Yesaya 50:4)
Bacaan : Yesaya 50:4-10

Suatu kali Einstein diminta untuk men-jadi pembicara utama dalam acara makan malam di Swarthmore College. Ketika tiba saatnya untuk berbicara, ia mengejutkan hadirin dengan berdiri dan mengatakan, "Tak ada yang hendak saya sampaikan." Lalu ia duduk kembali.

Beberapa detik kemudian ia berdiri dan menambahkan, "Apabila ada hal yang ingin saya sampaikan, saya akan kembali dan menyampaikannya." Enam bulan ke-mudian ia menulis surat kepada pemimpin perguruan tinggi tersebut, "Kini ada hal yang ingin saya sampaikan." Lalu diadakanlah sebuah acara makan malam dan ia menyampaikan pidatonya.

Anda mungkin pernah mendapat kesempatan untuk "memberi semangat baru" kepada orang yang letih lesu (Yesaya 50:4), tetapi Anda merasa tidak ada yang patut dikatakan. Jika demikian, ikutilah teladan Hamba Tuhan, Mesias yang dijanjikan, yang kisah-Nya telah kita baca dalam Yesaya 50:4-10. Karena Dia mendengar dan menuruti apa yang didengar-Nya, maka Dia punya berita untuk disampaikan kepada orang lain.

Bukalah firman Allah dengan kerinduan untuk mempelajari dan melaksanakan apa yang Dia perintahkan. Bayangkan Allah hadir dan sedang berbicara kepada Anda, mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan-Nya. Renungkanlah kata-kata-Nya, sehingga Anda tahu apa yang Dia katakan.

Kemudian, sebagai Hamba yang ditetapkan, pada saatnya Allah akan memberi Anda "lidah seorang murid" (ayat 4). Jika Anda mendengarkan Allah, maka akan ada hal-hal berarti yang dapat dikatakan --David Roper

8 Juli 2003

Allah Mendengarkan

Nats : Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan (Mazmur 139:4)
Bacaan : Mazmur 139

Ketika teolog Skotlandia John Baillie mengajar di Edinburgh University, ia memiliki kebiasaan untuk selalu membuka kelas mata kuliah mengenai doktrin Allah dengan pernyataan berikut: "Yang perlu diingat saat kita berdiskusi tentang Allah adalah bahwa kita tidak mungkin membicarakan-Nya tanpa menyadari kenyataan bahwa Dia mendengarkan setiap perkataan yang kita ucapkan. Kita mungkin dapat membicarakan orang lain di balik punggung mereka, tetapi Allah ada di mana-mana. Sungguh, Dia bahkan ada di dalam ruang kelas ini. Oleh sebab itu, dalam setiap pembahasan kita harus menyadari hadirat-Nya yang tak terbatas, dan membicarakan-Nya seolah-olah kita berbicara tepat di hadapan-Nya."

Pengetahuan bahwa Tuhan ada di mana-mana seharusnya berdampak pada perkataan kita. Karena menyadari kemahahadiran Allah, Daud mengungkapkan, "Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan" (Mazmur 139:4).

Kebohongan, gosip, teguran kasar, lelucon tidak senonoh, kata-kata penuh kemarahan, komentar yang tidak sopan, dan penyebutan nama Tuhan dengan tidak hormat, seharusnya tidak pernah keluar dari mulut kita. Sebaliknya, kita seharusnya membicarakan hal-hal yang disukai Allah. Keinginan kita seharusnya serupa dengan keinginan Daud yang disampaikan melalui doanya dalam Mazmur 19, "Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya Tuhan, gunung batuku dan penebusku" (ayat 15).

Ingat, Allah sedang mendengarkan --Richard De Haan

9 Juli 2003

Hal Berbicara

Nats : Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! (Mazmur 141:3)
Bacaan : Mazmur 141

Seorang pria menghadiri suatu pertemuan dengan pembicara tamu yang bicaranya bertele-tele. Karena sudah tidak tahan lagi, pria ini menyelinap keluar dari pintu samping. Ketika sedang berjalan di koridor, ia bertemu dengan seorang teman yang bertanya, "Ia sudah selesai bicara?"

"Belum," sahut pria itu, "ia sudah berbicara berjam-jam, tapi ia tidak menyadarinya! Tampaknya ia tidak akan berhenti bicara!"

Gagasan untuk berbicara langsung mengenai topik yang hendak disampaikan dan mengatakan sesuatu yang berharga setiap kali berbicara dengan orang lain pada setiap hari merupakan sebuah nasihat bijak bagi kita. Jika saja kita bersedia jujur pada diri sendiri, mau tak mau kita harus mengakui bahwa sebagian pembicaraan kita merupakan perkataan yang sia-sia. Tuhan Yesus memperingatkan, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman" (Matius 12:36).

Ambillah waktu sejenak untuk merenungkan percakapan Anda sehari- hari. Topik apakah yang paling sering Anda bicarakan? Apakah Anda terlalu banyak bicara sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara? Apakah perkataan Anda bermanfaat bagi orang lain? Dan yang terpenting, apakah perkataan Anda memuliakan Tuhan?

Allah dapat memampukan Anda untuk berbicara dengan perkataan yang membangun sesama dan tidak sekadar berbicara. Hari ini, marilah kita jadikan perkataan Daud sebagai doa kita: "Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3) --Richard De Haan

17 Juli 2003

Membalik Kecenderungan

Nats : Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman (Amsal 15:1)
Bacaan : Amsal 15:1-7

Para peneliti di Kenyon College bekerja sama dengan US Navy [Angkatan Laut Amerika Serikat] untuk melakukan sebuah percobaan. Tujuan percobaan itu adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh nada suara terhadap para pelaut ketika mereka diberi perintah. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa cara seseorang ditegur sangat menentukan tanggapan yang akan diberikannya.

Sebagai contoh, jika seseorang ditegur dengan suara yang lembut, ia akan menjawab dengan cara serupa. Namun ketika ia diteriaki, orang itu akan menjawab dengan nada yang sama tajamnya. Hal ini juga berlaku pada komunikasi yang dilakukan secara langsung, melalui interkom, atau melalui telepon.

Penelitian ini mengingatkan saya pada Amsal 15:1 yang menyatakan, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." Perkataan kita dan cara pengungkapannya tidak hanya membuat perbedaan terhadap reaksi yang akan kita terima, tetapi juga menentukan apakah perkataan tersebut akan menghasilkan kedamaian atau justru mendatangkan konflik. Dengan mempraktikkan kebenaran dari ayat di atas, maka kita dapat menghindari perselisihan pendapat dan mendinginkan situasi yang tegang.

Di waktu yang akan datang, jika seseorang berbicara kepada Anda dengan nada marah atau kasar, baliklah kecenderungan itu dengan cara mengungkapkan kelembutan, ketenangan jiwa, dan perhatian yang penuh kasih. Dan lihatlah, bagaimana jawaban yang lembut dapat membuat perbedaan dalam hubungan kita! -- Richard De Haan

16 September 2003

Kebiasaan Buruk

Nats : Mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan: "Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" (Keluaran 17:7)
Bacaan : Keluaran 17:1-7

Hampir semua orang mempunyai kebiasaan buruk, dari yang hanya sedikit mengganggu seperti terlalu banyak bicara atau bicara terlalu cepat, hingga yang lebih serius.

Sebagai contoh adalah kebiasaan buruk yang diperlihatkan orang-orang Israel pada masa Perjanjian Lama. Saat itu mereka baru saja dibebaskan dari perbudakan (Keluaran 14:30). Namun, bukannya bersyukur, mereka malah mulai mengeluh kepada Musa dan Harun, "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan!" (16:3).

Seperti yang dapat kita baca dalam Keluaran 17, akhirnya keluhan mereka meningkat menjadi pertengkaran. Sesungguhnya keluhan mereka ditujukan kepada Allah, tetapi mereka memancing pertengkaran dengan Musa karena dialah pemimpin mereka. Kata mereka, "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak- anak kami, dan ternak kami dengan kehausan?" (ayat 3). Mereka bahkan mulai mempertanyakan apakah Allah sungguh-sungguh berada di tengah- tengah mereka (ayat 7). Padahal, Allah selalu memenuhi kebutuhan mereka.

Jika kita mau jujur, mau tak mau kita harus mengakui bahwa kadang- kadang kita juga mengeluh saat Allah tidak bekerja sesuai dengan keinginan kita. Kita menuduh Allah tidak ada atau tidak peduli. Padahal, seandainya hati kita tertuju pada kehendak Allah dan bukan pada kehendak kita sendiri, kita akan menjadi sabar dan percaya bahwa Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita. Dengan demikian, kita tidak akan mengembangkan sifat suka mengeluh di dalam diri kita --Albert Lee

15 April 2004

Mulut yang Kotor

Nats : Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Amsal 13:3)
Bacaan : Yakobus 3:5-12

Kata-kata saya tidak hanya akan berdampak pada orang lain, tetapi juga berdampak pada diri saya sendiri. Ketika saya mengucapkan kata-kata jahat, saya tidak hanya mengungkapkan dosa dalam hati saya (Lukas 6:45), tetapi juga memupuk dosa itu dan membuatnya bertumbuh. Yesus mengatakan bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut, melainkan apa yang keluar dari mulutlah yang najis. Yakobus menyatakannya dengan kalimat lain, “Lidah ... dapat menodai seluruh tubuh” (Yakobus 3:6). Lidah yang tidak dikendalikan akan merusak diri saya sendiri.

Di lain pihak, apabila saya menolak untuk menanggapi pemikiran yang kotor, tidak baik, dan sia-sia, itu artinya saya mulai mencekik kejahatan dalam jiwa saya.

Itulah sebabnya orang bijak dalam Amsal 13:3 mengatakan bahwa kita harus menjaga mulut kita. Ketika kita melakukannya, kita menghentikan kejahatan yang diam-diam menggerogoti akar jiwa kita. Apakah kita ingin mengakhiri kejahatan yang dengan mudahnya timbul dalam diri kita? Dengan bantuan Allah, kita harus belajar untuk mengendalikan lidah kita.

Anda mungkin berkata, “Saya sudah berusaha, tetapi saya tidak mampu mengendalikannya.” Yakobus sependapat bahwa, “Tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah” (Yakobus 3:8). Tetapi Yesus mampu. Mintalah kepada-Nya untuk mengawasi mulut Anda (Mazmur 141:3), dan serahkan kendali lidah Anda kepada-Nya.

Marilah kita menggemakan himne Frances Havergal: “Ambillah bibirku dan biarlah bibirku dipenuhi dengan kabar yang memuliakan-Mu”—David Roper

29 April 2004

Lebah Pejantan

Nats : Ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (2 Tesalonika 3:11)
Bacaan : 1 Timotius 5:8-16

Saat duduk memandangi sarang lebah, saya tertarik pada aktivitas sejumlah besar lebah yang tampak sangat sibuk. Mereka selalu mendengung, terbang keluar-masuk sarang, tetapi tidak melakukan pekerjaan yang berarti. Lebah-lebah yang tidak produktif ini disebut pejantan. Mereka adalah lebah jantan yang berukuran jauh lebih besar daripada lebah pekerja atau ratu lebah. Tugas mereka hanya membuahi ratu lebah dan lalu mati.

Sementara menunggu munculnya ratu lebah yang baru, para pejantan menghabiskan waktu mereka untuk berkunjung dari satu sarang ke sarang yang lain. Tetapi mereka tidak bekerja; mereka tidak membuat madu; mereka tidak membangun sarang; mereka bahkan tidak bisa menyengat. Tetapi mereka sangat berisik! Anda dapat mendengar mereka mendengung, tetapi itu hanyalah gertak sambal.

Sekilas tampaknya para pejantan memiliki hak istimewa, tetapi ketika musim gugur tiba dan jumlah madu berkurang, lebah-lebah pekerja akan membunuh para pejantan! Tidak ada seekor pun yang tersisa pada musim dingin. Waktu perhitungan telah tiba, dan mereka tidak memperoleh penghargaan dari lebah pekerja.

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus memperingatkan tentang orang-orang yang giat dalam aktivitas-aktivitas yang keliru. Mereka berkunjung dari rumah ke rumah untuk mencampuri urusan orang lain, bukan untuk melayani malah membuat masalah (1 Timotius 5:13).

Janganlah menjadi lebah pejantan jika Anda ingin mendapat bagian dari harta surgawi yang disediakan bagi mereka yang setia —M.R. De Haan, M.D.

20 Agustus 2004

Memperbaiki Kesalahan

Nats : Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia (Yakobus 3:9)
Bacaan : Yakobus 3:1-12

Ketika saya mulai memeriksa tugas makalah mata kuliah menulis dari mahasiswa tingkat satu yang saya ajar, saya agak toleran dalam mengoreksi kesalahan mereka. Saya berharap tidak akan melihat kesalahan yang sama lagi.

Tetapi ketika saya masih menemukan kesalahan yang sama pada makalah berikutnya, saya mulai agak jengkel. Saya berharap para mahasiswa saya belajar dari kesalahan mereka dan menghindarinya saat mengerjakan tugas berikutnya. Akan tetapi, biasanya yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

Gambaran itu mirip dengan kehidupan kekristenan kita. Tuhan dengan sabar mengingatkan kita melalui kehadiran Roh Kudus, misalnya supaya kita tidak mengatakan hal-hal negatif mengenai orang lain. Dia menyuruh kita untuk bersikap ramah dan penuh kasih, bukannya mencari-cari kesalahan dan menaruh dendam kepada orang lain (Efesus 4:31,32). Namun, kadang kala kita terpeleset kembali ke dalam kebiasaan lama dengan membiarkan kata-kata kasar dan menyakitkan keluar dari bibir kita saat membicarakan orang lain (Yakobus 3:8-12).

Saya kembali menerapkan hal mendasar ini kepada para mahasiswa saya untuk menghilangkan kebiasaan lama mereka. Kami berlatih, memeriksa berbagai kesalahan, memperbaikinya, dan menghilangkan banyak kesalahan.

Tuhan dengan penuh kesabaran terus bekerja bersama kita untuk memperbaiki cara kita berbicara tentang orang lain. Ketika kita mendengarkan ajaran-Nya, belajar dari kesalahan, dan bergantung pada kuasa-Nya, maka kita akan bertumbuh dan berubah --Dave Branon

14 Januari 2005

Batu Dalam Mulut

Nats : Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya (Amsal 18:7)
Bacaan : Amsal 18:1-8

Kita semua akan merasa ngeri apa-bila membayangkan mulut yang penuh dengan kerikil. Tetapi sebuah batu di dalam mulut sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang diidamkan. Paling tidak, hal itu tampaknya benar bagi crane [burung bangau] yang hidup di pegunungan Taurus, Turki Selatan.

Burung-burung crane tersebut cenderung untuk berkotek, terutama selama mereka terbang. Akan tetapi suara itu justru akan menarik perhatian burung rajawali, yang menukik dan menyambar burung-burung itu untuk dimakan. Burung crane yang sudah berpengalaman, menghindari ancaman tersebut dengan memungut batu yang cukup besar untuk memenuhi mulut mereka. Hal ini mencegah mereka berkotek—dan supaya tidak menjadi santapan siang bagi burung-burung rajawali.

Manusia juga memiliki masalah dengan mulut. Penulis kitab Amsal berkata, “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” (13:3). “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan” (18:6). Betapa banyak kesulitan yang dapat dicegah jika kita mau belajar mengendalikan lidah kita! Betapa banyak sakit hati yang kita sebabkan bagi orang lain dapat dicegah jika kita mau menjaga perkataan kita!

Apakah Anda memiliki masalah yang berkaitan dengan lidah Anda? Cobalah cara berikut ini: Mintalah pertolongan dari Tuhan. Berpikirlah sebelum Anda membuka mulut. Belajarlah untuk sedikit berbicara. Mengikuti petunjuk itu bisa seefektif batu di mulut —Richard De Haan

25 Juni 2005

Menjaga Kata-kata

Nats : Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi (Yakobus 3:10)
Bacaan : Yakobus 3:1-12

Saya sangat memerhatikan tatabahasa yang baik. Sebagai seorang penulis dan mantan guru bahasa, saya merasa terganggu saat mendengar seseorang memakai kata yang salah, padahal saya rasa ia seharusnya tahu mana yang benar. Sebagai contoh, penggunaan kata "kami" atau "kita", atau penggunaan kata "daripada" dan "dari". Kita sudah memiliki kaidah penggunaan bahasa yang tepat sehingga kuping saya geli saat mendengar kata-kata yang melanggar kaidah.

Ada penggunaan kata lain yang salah kaprah, dan ini jauh lebih parah. Ini terjadi ketika kata yang diucapkan orang kristiani tidak sesuai dengan standar yang diharapkan Allah. Setiap kali kita mengucapkan kata-kata kasar, kotor, atau jorok, berarti kita melanggar kaidah Allah yang jelas.

Apabila kita menyebut nama Allah dalam bentuk apa pun secara tidak hormat atau dengan cara yang tidak memuliakan-Nya, berarti kita mendukakan Dia (Keluaran 20:7). Jika kita membuat lelucon mengenai perbuatan dosa, berarti kita telah mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya (Efesus 5:12). Atau jika kita terlibat dalam percakapan yang tidak pantas (5:4), berarti kita telah mempermalukan nama Kristus.

Yakobus berkata, "Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi" (Yakobus 3:10). Cara bicara seperti ini adalah suatu kemunafikan.

Mengendalikan lidah kita memang hal yang sulit karena lidah adalah "sesuatu yang buas" (ayat 8). Karena itu, demi kemuliaan Allah dan dengan menghormati kaidah-Nya, marilah kita menjaga ucapan kita —JDB

5 Agustus 2005

Humor yang Sehat

Nats : Rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu, . . . Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono (Efesus 5:3,4)
Bacaan : Efesus 5:1-10

Sebagai seorang presiden, Abraham Lincoln menghadapi tekanan yang luar biasa semasa Perang Saudara Amerika Serikat. Tanpa humor, diragukan ia dapat memikul tekanan itu. Pada berbagai pertemuan kabinet, apabila suasana menjadi tegang, ia kerap menceritakan sebuah cerita lucu untuk menghilangkan ketegangan. Dengan menertawakan dirinya sendiri, ia tidak menjadi seorang yang defensif. Dan sebuah cerita baik yang sangat efektif kadang kala dapat melunakkan hati musuh.

Humor yang spontan mencerminkan cara Allah menciptakan manusia. Humor berguna bagi manusia secara fisik maupun emosional. Tawa dapat mencegah suasana yang tegang agar tidak berakhir dengan kata-kata pahit atau sakit hati.

Walaupun Yesus adalah seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yesaya 53:3), saya yakin Dia sering tertawa. Kadang kala Yesus menggunakan humor untuk menjelaskan sesuatu. Bayangkan seekor unta mencoba untuk masuk melalui lubang jarum! (Matius 19:24).

Namun, humor juga memiliki sisi yang buruk. Paulus menyebutnya sembrono dan hal itu jangan sampai mendapat tempat di dalam hidup seorang percaya (Efesus 5:4). Hal itu mempermalukan, merendahkan, dan mencemari mereka yang melontarkannya dan mereka yang mendengarnya.

Jadi, apakah yang kita tertawakan? Cerita macam apakah yang kita ceritakan kepada satu sama lain? Apakah Yesus akan tertawa bersama kita? Saya yakin Dia akan tertawa, jika humor itu sehat DJD

15 Desember 2005

Kata-kata yang Hidup

Nats : Hidup dan mati dikuasai lidah (Amsal 18:21)
Bacaan : Kolose 4:2-6

Kata-kata yang mendorong semangat dapat menjadi “kata-kata yang hidup”, yang membawa motivasi baru bagi hidup kita. Mark Twain mengatakan bahwa ia dapat hidup selama satu bulan penuh hanya karena ia menerima satu pujian yang baik.

Namun suatu dorongan kristiani lebih dari sekadar pujian atau tepukan di pundak. Seorang penulis menggambarkan hal itu sebagai “jenis ungkapan yang menolong seseorang untuk ingin menjadi seorang kristiani yang lebih baik, bahkan saat hidup ini sulit”.

Ketika masih muda, Larry Crabb menderita gagap, sehingga ia sempat merasa malu pada sebuah pertemuan sekolah. Beberapa waktu kemudian, saat berdoa dengan suara keras pada sebuah kebaktian gereja, kegagapannya menyebabkan kata-kata dan teologinya menjadi kacau di dalam doanya. Karena ia merasa akan ditegur dengan keras, Larry kemudian menyelinap keluar dari kebaktian, dan memutuskan untuk tidak pernah lagi berbicara di depan umum. Di pintu keluar ia diberhentikan oleh seorang pria lanjut usia yang berkata, “Larry, ketahuilah, apa pun yang engkau lakukan bagi Tuhan, saya akan mendukungmu seribu persen.” Tekad Larry untuk tidak pernah berbicara di depan umum lagi langsung lenyap. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia berbicara kepada orang banyak dengan penuh percaya diri.

Paulus mengajarkan kepada kita untuk membumbui ucapan kita dengan “penuh kasih” (Kolose 4:6). Dengan melakukan hal itu, maka kita akan mengeluarkan “kata-kata yang hidup”, yang memberi dukungan -JEY

23 Maret 2006

Tak Ada yang Remeh

Nats : Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia (Mazmur 103:13)
Bacaan : Yesaya 49:13-18

Beberapa ibu yang memiliki anak kecil saling berbagi tentang jawaban-jawaban doa yang menguatkan. Seorang ibu mengakui bahwa ia merasa egois jika mengganggu Allah dengan berbagai kebutuhannya. "Jika dibandingkan dengan kebutuhan semua orang yang dihadapi oleh Allah," jelasnya, "keadaan saya pasti tampak remeh bagi-Nya."

Beberapa saat kemudian, anak lelaki ibu itu berlari sambil menjerit karena jarinya terjepit pintu. Sang ibu tidak mengatakan, "Betapa egoisnya kamu mengganggu Ibu dengan jarimu yang sakit pada saat Ibu sedang sibuk!" Tidak, ia justru menunjukkan belas kasih dan kelembutan yang besar.

Mazmur 103:13 mengingatkan kita bahwa itu adalah respons kasih, yang ditunjukkan baik oleh Allah maupun manusia. Dalam Yesaya 49, Allah mengatakan bahwa sekalipun seorang ibu melupakan anaknya, Tuhan tidak akan melupakan anak-anak-Nya (ayat 15). Allah meyakinkan umat-Nya, "Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku" (ayat 16).

Keintiman dengan Allah semacam itu hanya dimiliki oleh mereka yang takut kepada-Nya, yang bersandar kepada Allah dan bukan kepada dirinya sendiri. Seperti anak kecil yang jarinya sakit berlari ke arah ibunya dengan bebas, demikian juga kita dapat berlari kepada Allah dengan segala masalah sehari-hari kita.

Allah kita yang penuh belas kasih tidak mengabaikan orang lain hanya karena Dia sedang menaruh perhatian kepada Anda. Dia memiliki waktu dan kasih yang tidak terbatas bagi masing-masing anak-Nya. Tidak ada kebutuhan manusia yang dianggap-Nya remeh --JEY

25 Maret 2006

Ketika Api Padam

Nats : Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran (Amsal 26:20)
Bacaan : Amsal 26:17-28

Jika api telah habis membakar sesuatu, maka ia akan padam. Demikian juga apabila gosip sampai ke telinga seseorang yang tidak akan meneruskannya, maka berakhirlah gosip itu.

Gosip, seperti halnya dosa-dosa yang lain, bagaikan "sedap-sedapan perkataan" (Amsal 26:22). Kita senang mendengar dan menceritakannya kepada orang lain karena "rasanya" mengasyikkan. Gosip berakar pada keinginan kita untuk menyenangkan diri sendiri. Saat kita menjelek-jelekkan orang lain, kita menganggap seolah-olah diri kita lebih baik.

Karena itulah, penyebaran gosip sangat sulit dihentikan. Diperlukan doa dan anugerah Allah agar kita dapat menolak menceritakan atau bahkan mendengar gosip -- bahkan terhadap gosip tersamar dalam keprihatinan pribadi atau permintaan untuk mendoakan teman yang berbuat dosa dan bermasalah.

Kita perlu memohon hikmat dari Allah agar kita dapat mengetahui kapan harus berbicara, apa yang dibicarakan, dan kapan kita perlu menutup mulut. Karena "di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (Amsal 10:19).

Kerap kali, lebih bijaksana apabila kita tetap diam atau tidak banyak mengucapkan kata-kata. Namun apabila kita harus berbicara, marilah kita membicarakan hal-hal yang membangkitkan semangat dan mendorong orang lain untuk lebih dekat dengan Allah, dan bukan hal-hal yang akan melemahkan dan melukai mereka. "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan" (Amsal 12:18) --DHR

25 Mei 2006

Kata-kata Kotor

Nats : Siapa yang menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Amsal 13:3)
Bacaan : Matius 15:17-20

Belum lama ini saya kebetulan mendengar seorang wanita yang lebih tua berbicara kepada seorang teman tentang obsesi orang-orang dewasa ini untuk melakukan diet. "Saat ini," katanya merenung, "saya lebih mementingkan sesuatu yang keluar dari mulut saya daripada apa yang masuk ke dalamnya." Ada hikmat yang bijak dalam kata-kata itu.

Yesus berkata, "Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat. Hal-hal inilah yang menajiskan orang" (Matius 15:18-20).

Sesuatu yang kita katakan akan memengaruhi orang lain. "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang," kata Amsal 12:18. Namun, yang mungkin sering kita lupakan adalah pengaruh kata-kata kita yang sembrono bagi diri kita sendiri. Pada waktu kita membicarakan orang lain, atau ketika kita memfitnah orang lain, kata-kata kita mulai menjatuhkan kita, sebab kita memuaskan pikiran jahat yang ada di dalam kita dan memupuknya sampai kata-kata itu meruntuhkan kita.

Sebaliknya, apabila kita menjaga bibir kita, kita mematahkan pikiran jahat itu. "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan," lanjut Amsal 12:18. Kita melindungi jiwa kita, sebab kita melemahkan pikiran jahat yang ingin meruntuhkan kita.

Mintalah kepada Allah untuk "mengawasi" mulut Anda dan "berjaga pada pintu" bibir Anda (Mazmur 141:3). Kiranya kata-kata Anda meningkatkan kualitas hidup Anda, bukan merusak atau meruntuhkannya --DHR

20 Maret 2007

Ucapan Orang Bijak

Nats : Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada kesukaran (Ams. 21:23)
Bacaan : Yakobus 3:1-12

Yakobus, sang "sokoguru jemaat" (Gal. 2:9), mengakui bahwa lidah yang tidak dikendalikan memiliki kekuatan dahsyat yang menghancurkan dan berbahaya. Tidak hanya ia yang berkata demikian. Orang-orang dari berbagai peradaban telah memperingatkan kita tentang perlunya mengendalikan perkataan kita. Beberapa bait puisi di bawah ini, yang ditulis oleh seseorang yang tidak diketahui namanya, mengungkapkan hal ini dengan sangat indah:

"Lidah tak bertulang, yang sedemikian kecil dan lemah, mampu menghancurkan dan membunuh," ungkap orang Yunani.

Peribahasa bijak dari Persia berbunyi, "Lidah yang panjang ibarat sebuah kematian dini." Kadang-kadang bisa juga berbunyi demikian: "Jangan sampai lidahmu memenggal kepalamu."

Sementara orang bijak Arab menanamkan, "Gudang besar lidah adalah hati."

Dari orang Ibrani muncul peribahasa:

"Kaki bisa tergelincir, tetapi jangan demikian dengan lidah."

Sebuah ayat dari Kitab Suci menyempurnakan semuanya:

"Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri."

Tidak heran jika Yakobus menyamakan lidah dengan api kecil yang dapat membakar hutan lebat, atau dengan kemudi sangat kecil yang mengendalikan kapal besar di tengah badai (Yak. 3:4-6).

Ya Tuhan, tolonglah agar kami dapat memetik pelajaran berharga dari kaum bijak. Tolonglah agar kami dapat mengekang lidah dan tidak membiarkannya lepas kendali --HWR

Beberapa orang diam dan tenang
Meskipun patut mereka dipuji;
Khotbah mereka dilakukan
Dengan menjaga mulut dan hati. --Posegate

27 September 2008

Menjaga Rahasia

Nats : Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara (Amsal 11:13)
Bacaan : Amsal 11:9-13

Ibu Debi jengkel sekali. Dua hari lalu, ia baru saja menceritakan uneg-unegnya pada istri pendeta di gerejanya. Ia menceritakan perihal suaminya yang diduga menyeleweng. Suatu pagi, teman satu gereja menelepon dan bertanya: "Ada masalah apa dengan suamimu?" Ibu Debi kaget sekaligus kecewa. Kabar soal suaminya sudah sampai ke telinga para ibu di komisi wanita. Rupanya, dalam persekutuan doa ibu-ibu kemarin malam, sang istri pendeta memasukkan namanya ke dalam pokok doa. "Doakan Ibu Debi yang sedang punya masalah dengan suaminya," katanya. Walau berniat baik dan tak menyebut masalahnya secara rinci, si istri pendeta telah gagal menjaga rahasia.

Di gereja, banyak orang kecewa karena berhadapan dengan orang yang tak bisa menjaga rahasia. Ini masalah serius. Membocorkan rahasia berarti mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan seseorang. Walaupun tanpa sengaja, dampaknya tetap merusak. Amsal mengingatkan, mulut yang mengucapkan apa yang tidak perlu bisa "membinasakan sesama" (ayat 9), bahkan "meruntuhkan kota" (ayat 10). Selanjutnya, ketidakmampuan menyimpan rahasia juga menandakan bahwa orang itu tidak setia dan tidak bisa mengendalikan diri (ayat 12). Seseorang yang bijak seharusnya tahu kapan saatnya berdiam diri dan kapan saatnya menutupi perkara.

Sekali gagal menjaga rahasia, orang lain akan kapok untuk berbagi rasa lagi dengan kita. Mereka akan menutup diri karena merasa tidak aman. Akibatnya, kita akan kehilangan persekutuan yang akrab dan mendalam. Oleh sebab itu, mulai sekarang kendalikanlah lidahmu! Stop membicarakan yang tidak perlu -JTI



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA