Topik : Konsekuensi

10 November 2002

Milik Siapa?

Nats : Apabila seseorang berbuat dosa ... terhadap TUHAN, dan memungkiri ... barang yang dirampasnya, ... maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya (Imamat 6:2,4)
Bacaan : Imamat 6:1-7

Seorang pencuri di New Jersey melakukan pencurian sebanyak 7.000 dolar dalam bentuk perhiasan, koin kuno, dan uang tunai dari seorang janda. Semua barang yang dicuri tersebut merupakan barang-barang peninggalan suaminya yang masih tersisa.

Saat memilah-milah barang curiannya, pencuri itu menemukan beberapa amplop persembahan gereja berisi uang yang akan dipersembahkan wanita itu kepada Tuhan. Tanpa melihat isinya terlebih dahulu, pencuri itu langsung memasukkan semuanya ke dalam amplop lain, menuliskan alamat, lalu mengirimkannya ke gereja wanita itu.

Ketika sang pendeta tahu apa yang telah terjadi, ia berkomentar, "Ini adalah ciri khas kebingungan moral zaman ini. Orang berpikir bahwa mencuri dari janda dan anak-anak dianggap tidak apa-apa, sementara mencuri dari gereja dianggap tindakan tercela."

Pencuri itu mengabaikan satu kebenaran penting: Dosa terhadap sesama adalah dosa terhadap Allah (Imamat 6:2). Saya khawatir kita semua cenderung berpikir bahwa batas harta kepunyaan Allah berakhir di belakang gereja. Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Segala harta benda di dunia ini dan setiap orang adalah kepunyaan Allah. Jika kita menghormati Dia, itu berarti kita juga harus menghormati harta benda yang telah dipercayakan Allah kepada anak-anak-Nya.

Orang yang takut akan Allah dan yang menyadari bahwa berbuat dosa terhadap sesama berarti berdosa terhadap Dia adalah seorang yang bijaksana —Mart De Haan II

15 Desember 2002

Pasir Dalam Sepatu

Nats : Janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya (Amsal 4:14,15)
Bacaan : Amsal 4:14-27

Bayangkan rintangan-rintangan yang harus diatasi saat seseorang berjalan kaki dari New York ke San Fransisco. Karena itu ia menjadi pemecah rekor. Ketika ditanya mengenai rintangan terbesar yang dihadapinya, ia mengatakan bahwa tantangan terberat yang ia jumpai bukanlah perjalanan mendaki gunung atau menyeberangi hamparan gurun pasir yang panas, kering, dan tandus. "Yang hampir-hampir membuat saya menyerah dalam perjalanan ini," akunya, "adalah pasir dalam sepatu saya."

Kisah tersebut mengingatkan bahwa kita juga dapat dikalahkan secara rohani oleh apa yang awalnya hanya berupa hal kecil yang mengganggu. Kita membiarkan kata-kata yang kasar dan merendahkan, atau kesalahpahaman, mengecewakan kita. Atau kita membiarkan orang-orang di sekitar kita memberikan pengaruhnya yang meskipun kecil, tapi tidak benar. Bukannya berkomitmen untuk menghindari yang jahat, baik itu kecil ataupun besar (Amsal 4:14-27), kita malah berkompromi dengan hal-hal itu. Kita lupa untuk datang kepada Tuhan, memohon pengampunan dan pertolongan.

Sir Francis Drake, penjelajah asal Inggris di abad ke-16, telah berlayar keliling dunia. Namun, saat menyeberangi Sungai Thames, badai besar mengancam akan membalikkan kapalnya. Lalu ia berseru, "Akankah saya yang telah berhasil menghadapi badai di lautan akan tenggelam di sebuah selokan?"

Alangkah bijaksana jika kita bertanya pada diri sendiri, "Akankah saya, yang telah sampai sejauh ini menjalani hidup dengan iman, akan dikalahkan oleh ‘pasir dalam sepatu saya’?" Kita harus menjawab dengan pasti, "Tidak!" -Dave Branon.

23 Desember 2002

Pesan Nahum

Nats : Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah (Nahum 1:3)
Bacaan : Nahum 1:1-8

Jika Anda pernah membaca kitab Nahum, Anda mungkin akan berkata, "Tidak banyak sukacita dalam kitab ini!" Itu karena Nahum menulis tentang kehancuran Asyur dan ibukotanya, Niniwe.

Nahum menyatakan murka Allah ketika Dia menantang Asyur (2:13,3:5). Beberapa tahun sebelumnya, karena belas kasih-Nya dan demi mewujudkan kehendak-Nya sendiri, Dia telah mengirim nabi yang ogah- ogahan, yakni Yunus, untuk menyampaikan firman Tuhan kepada penduduk Niniwe. Pada saat penduduk kota tersebut bertobat, kota itu terselamatkan.

Hampir tidak ada yang lebih buruk daripada menyesali sebuah pertobatan, dan itulah yang terjadi di Asyur. Generasi mereka yang berikutnya berbalik lagi pada cara hidup nenek moyang mereka yang jahat. Kemudian Asyur menyerang Israel, dan Allah memutuskan untuk menghukumnya.

"Tuhan itu panjang sabar" (1:3). Namun, Dia adil dan tidak akan membebaskan orang yang berdosa dari hukuman (1:3-6). Niniwe akan segera mengetahuinya.

Karena itulah, perasaan saya menjadi tidak enak setelah mendengarkan pengakuan seorang teman lama. Sudah bertahun-tahun ia menjadi orang percaya, tetapi kemudian ia berpaling dari Kristus. Sikapnya itu membuat saya bertanya-tanya: Apakah ia seorang kristiani yang bebal, atau ia tidak sungguh-sungguh percaya? Dalam hal ini, ia juga akan segera mengetahui bahwa Tuhan tidak akan membebaskan orang berdosa dari hukuman.

Tuhan Yesus, lindungilah saya agar saya tidak menyesali pertobatan saya. Amin –Dave Egner

31 Desember 2002

Hidup Dalam Ilusi

Nats : Kamu menyangka, "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan" (Maleakhi 2:17)
Bacaan : Maleakhi 2:13-17

Ilusi didefinisikan sebagai "persepsi yang salah terhadap kenyataan". Para pesulap mengandalkannya untuk mengelabui penonton. Namun, ada beberapa ilusi yang dapat berakibat fatal. Jika saya mengejar fatamorgana yang terlihat seperti air di padang gurun, saya bisa mati kehausan.

Ilusi yang paling berbahaya adalah ilusi rohani. Pada zaman Maleakhi, para pria tidak lagi menganggap serius janji pernikahan dan menceraikan istri mereka tanpa alasan yang adil. Mereka menyangka bahwa, "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan" (Maleakhi 2:17). Mereka tidak mengikuti cara pandang Allah.

Kita semua cenderung menipu diri sendiri. Karena terselubung oleh dosa, kita tidak mampu membedakan antara benar dan salah. "Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, ... siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yeremia 17:9).

Hidup dalam ilusi seperti itu harus diganti dengan hidup dalam kenyataan. Dan hal ini mungkin akan dapat terwujud setelah kita berhasil melewati saat-saat yang sulit. Kesengsaraan dan luka menjadi jalan untuk menyingkirkan kepalsuan hidup kita, sehingga kita dapat mengisi kekosongan hidup kita dengan kebenaran.

Jika kita mengandalkan Roh Allah untuk membantu kita mempelajari dan menaati ajaran-ajaran Alkitab, ilusi akan digantikan oleh kebenaran kasih Allah dan pengampunan dalam Kristus. Hanya kebenaran inilah yang sanggup memuaskan kerinduan hati kita yang terdalam dan menuntun kita pada hasrat untuk menjadi serupa dengan Dia –Dennis De Haan

2 Januari 2003

Akankah Kita Lulus Ujian?

Nats : Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, ... ia mengambil dari buahnya dan dimakannya (Kejadian 3:6)
Bacaan : Kejadian 3:1-19

Coyote [serigala padang rumput di Amerika Utara bagian barat] takkan mampu menolak santapan daging domba yang lezat. Itulah sebabnya bertahun-tahun silam para ahli melakukan eksperimen dengan menggunakan sekitar 500 bahan kimia yang berbeda untuk mengembangkan suatu larutan yang disemprotkan pada domba sehingga menjadikan mereka "anti-coyote". Sebuah campuran yang rasanya seperti saus pedas tampaknya menjanjikan keberhasilan.

Para ilmuwan berteori bahwa jika ujian ini berhasil, coyote tak akan berselera terhadap domba. Dengan demikian, coyote takkan lagi menjadi gangguan bagi masyarakat di negara yang beternak domba. Manusia pun akan menjadi sahabat terbaik dari anjing liar itu.

Kadang saya bertanya-tanya mengapa Allah tidak melakukan hal yang serupa di Taman Eden. Mengapa Dia tidak membuat pohon pengetahuan baik dan buruk itu berbuah jelek? Mengapa Dia tidak mengelilingi pohon itu dengan pagar berantai dan kawat berduri di atasnya? Bahkan, mengapa Allah menciptakan pohon itu? Saya yakin, sebagian jawabannya adalah bahwa godaan untuk melakukan yang jahat telah membawa Adam dan Hawa berhadapan dengan pertanyaan moral yang paling dasar, yakni: Apakah mereka akan menunjukkan kepercayaan penuh kepada sang Pencipta dan dengan penuh kasih menaati-Nya dengan segenap hati?

Kita menghadapi ujian yang serupa setiap hari. Dan, apakah yang akan kita perbuat? Apakah kita akan gagal dalam ujian itu? Atau, apakah kita akan mempercayai Allah sepenuhnya dan menaati perintah-perintah- Nya? --Mart De Haan II

19 Februari 2003

Hanya Perlu Satu Orang

Nats : Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib (Amsal 16:28)
Bacaan : Efesus 4:17-32

Pada tahun 1520, seseorang turun dari kapal milik bangsa Spanyol di Meksiko dan mengakibatkan kematian ribuan orang. Orang itu adalah seorang prajurit di bawah pimpinan Pánfilo de Narváez. Ia tidak sadar kalau dirinya membawa penyakit cacar air. Jadi, ke mana pun ia pergi, orang itu telah menularkan penyakit baru tersebut kepada penduduk Meksiko. Dan, wabah cacar air itu mengakibatkan kematian ribuan penduduk Meksiko.

Satu orang saja mampu membinasakan ribuan penduduk Meksiko. Kontaknya dengan penduduk Meksiko yang tak disengaja itu menyebabkan malapetaka yang mengerikan dan menyakitkan. Efek yang mematikan dari penyakit itu menjalar dari satu orang ke orang lain, dan menulari sebagian besar penduduk.

Penyebaran penyakit mematikan apa pun sama buruknya dengan penyebaran penyakit rohani yang terkadang menyerang gereja, yakni penyakit gosip dan perkataan kotor (Efesus 4:29-32).

Suatu hal yang biasa jika sekelompok jemaat yang bahagia dan sejahtera menjadi rusak setelah seseorang menyebarkan gosip. Tak lama kemudian pertikaian pun akan merajalela di antara jemaat yang tadinya bekerja sama dengan penuh semangat. Dan gereja akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatasi masalah itu daripada untuk melayani.

Sebaiknya kita masing-masing berhati-hati agar tidak menyebarkan penyakit gosip. Lebih baik kita gunakan perkataan untuk memperkuat dan memberikan dorongan semangat satu sama lain --Dave Branon

13 Mei 2003

Menabur Benih Baik

Nats : Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan (Hosea 10:12)
Bacaan : Hosea 10:12-15

Sebagai penggarap kebun baru, saya belajar bahwa tanah yang belum dipupuk tidak baik untuk menumbuhkan tanaman. Namun, ketika saya menanam benih yang baik pada tanah yang dipupuk dengan baik, matahari dan hujan akan memelihara pertumbuhan sampai saat panen tiba. Tanah yang disiapkan dengan baik, benih yang baik, dan berkat Allah sangatlah penting untuk memperoleh pa-nen melimpah. Itu tidak hanya berlaku dalam berkebun, tetapi juga dalam hidup orang kristiani.

Hosea, nabi Allah, mengajarkan prinsip ini kepada umat Israel. Waktu itu mereka tidak mau berserah kepada Allah. Umat Israel justru menabur kejahatan dan mengandalkan diri sendiri. Kini mereka memakan buah kebohongan, terutama kebohongan bahwa kese-lamatan dan keberhasilan berasal dari kekuatan militer mereka sendiri (Hosea 10:13).

Hosea mendesak bangsa Israel untuk mengikuti jalan Allah, menggemburkan hati mereka yang keras karena dosa dan "mencari Tuhan" (ayat 12). Jika mereka menabur benih kebenaran, maka mereka akan memetik belas kasih Allah dan Dia akan mencurahkan hujan berkat ke atas mereka.

Apakah Anda tidak mau membuka hati bagi Allah serta firman-Nya? Apakah Anda lebih mengandalkan diri sendiri daripada Allah? Jika demikian, kini saat yang tepat bagi Anda untuk mencari Tuhan dengan pertobatan yang jujur, menabur perbuatan dan sikap yang baik, serta setia mengikuti jalan-Nya. Yang terutama, bersandarlah pada kuasa- Nya dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Hidup Anda akan berbuah lebat --Joanie Yoder

29 Juni 2003

Penyelesaian Darurat

Nats : Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya (Mazmur 106:13)
Bacaan : Mazmur 106:1-15

Banyak orang berdoa hanya pada saat krisis. Mereka cenderung menganggap Allah sebagai "tempat penyelesaian darurat", pemecah masalah. Jadi ketika masalah terselesaikan dengan belas kasih, Dia diberi ucapan syukur dengan hormat, lalu lambat laun dilupakan sampai krisis berikutnya datang.

Alkisah, ada seorang gadis muda kaya yang terbiasa dilayani. Ia selalu takut naik tangga yang gelap sendirian. Ibunya menyarankan agar ia mengatasi rasa takutnya dengan meminta Yesus menemaninya menaiki tangga itu. Ketika sampai di ujung tangga, ia berkata, "Terima kasih, Yesus. Sekarang Engkau boleh pergi."

Kita mungkin tersenyum mendengar cerita ini, tetapi Mazmur 106 memuat peringatan keras tentang sikap menyingkirkan Yesus dari kehidupan kita, seolah-olah ini mungkin terjadi. Orang Israel menganggap belas kasih Tuhan adalah hal yang wajar, sehingga Allah menyebutnya pemberontakan (ayat 7). Dengan mengabaikan Allah, berarti mereka akan membiarkan jiwa mereka kelaparan (ayat 13-15). Ini adalah suatu pelajaran penting bagi kita!

Harapkanlah hal-hal yang besar dari Allah, tetapi jangan mengharapkan-Nya untuk menuruti perintah Anda. Sebagai gantinya, bersiaplah untuk menerima perintah-Nya dan memenuhi kehendak-Nya dengan penuh semangat.

Seperti gadis kecil yang kaya tadi, mintalah supaya Allah menemani Anda melalui lorong-lorong hidup yang gelap. Namun, meskipun keperluan Anda sudah terpenuhi, tetaplah berpegang erat-erat kepada- Nya karena hidup Anda semata-mata tergantung kepada-Nya --Joanie Yoder

14 Juli 2003

Tak Ada Lowongan

Nats : Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak (Amsal 18:9)
Bacaan : Efesus 6:5-9

Fred adalah seorang kasir di sebuah toko eceran yang suka bersikap kasar kepada pelanggan dan malas bekerja. Sudah berulang kali atasannya ingin memecatnya, tetapi tidak dilakukan karena mempertimbangkan istri dan anak-anak Fred yang akan menderita karena pemecatan ini.

Pada suatu hari, seorang pelanggan tetap datang ke toko itu dan melihat Fred sudah tidak ada. Ia bertanya kepada pengelola toko itu dan diberi tahu bahwa Fred telah mendapat pekerjaan lain. Pelanggan itu bertanya, "Apakah Anda berencana untuk mencari penggantinya?" Pengelola toko ini menjawab, "Tidak, tidak perlu. Tidak ada lowongan untuk 'pengganti Fred'."

Kualitas pekerjaan Fred begitu buruk sehingga toko itu dapat berjalan dengan lebih baik tanpa kehadirannya. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada pekerja mana pun, terutama orang kristiani.

Rasul Paulus menghimbau para pelayan agar taat kepada tuannya "dan (yang) dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia" (Efesus 6:7).

Allah mengharapkan para pelayan kristiani di zaman Rasul Paulus bekerja dengan rajin bagi tuan mereka. Demikian pula kita seharusnya memberikan hari-hari kerja yang baik kepada atasan kita. Ini adalah kebenaran yang harus dilakukan, yang akan memperkuat kesaksian kita akan Kristus.

Salah satu cara terbaik untuk menguji nilai pekerjaan Anda adalah dengan bertanya pada diri sendiri: jika saya meninggalkan pekerjaan saya, akankah ada lowongan untuk mencari "pengganti saya"? --Richard De Haan

18 Juli 2003

Pelikan yang Mengenaskan

Nats : Sebab barang siapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya (Galatia 6:8)
Bacaan : Galatia 6:6-10

Burung pelikan terlihat aneh dengan paruhnya yang sangat besar. Namun, saya melihat seekor yang super aneh. Paruhnya saling menyilang, seolah-olah ada yang menarik bagian atas dan bawah paruh itu ke arah yang berlawanan. Pelikan itu terlihat sangat mengenaskan!

Saya teringat bahwa pelikan biasanya meluncur dari tempat yang cukup tinggi dengan kepala lebih dahulu menuju sekawanan ikan yang akan menjadi santapan mereka. Saya menduga mungkin dulu pelikan aneh itu melihat mangsa yang sedemikian menggiurkan, maka ia nekad menyelam ke dalam sungai yang terlalu dangkal sehingga paruhnya membentur dasar sungai. Saya tidak tahu apakah benar demikian kejadiannya. Namun, ini membuat saya berpikir tentang konsekuensi dan (terkadang) akibat permanen dari berbagai pilihan buruk.

Banyak orang di zaman ini membawa serta parut dosa mereka. Meskipun benar bahwa, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:9), masalah kedagingan dan emosi kerap kali tetap tinggal. Mereka yang hidup gegabah dan tak terkendali akan menanggung bekas luka dari gaya hidup mereka yang merusak sampai hari kematian mereka, meskipun kelak di tahun-tahun mendatang mereka akan diselamatkan secara menakjubkan.

Ketika Anda tergoda untuk berbuat dosa, ingatlah pelikan dengan paruh yang bengkok itu. Allah akan mengampuni dosa jika Anda mengakuinya, namun konsekuensinya takkan hilang di sepanjang hidup Anda --Richard Dee Haan

8 Agustus 2003

Koyakan Kecil = Masalah Besar!

Nats : Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan (Galatia 5:9)
Bacaan : Galatia 5:16-26

Kami tidak tahu apa yang tidak beres. Saya dan anak saya membeli sebuah perahu motor tua untuk memancing, tetapi perahu itu tidak bisa berjalan dengan baik. Perahu itu tidak bisa berlari kencang, dan berguncang-guncang ketika kami mencoba mempercepat jalannya. Kami menduga sumber masalahnya ada pada sistem pembakaran. Jadi kami menyetel karburatornya dan mengganti filter bahan bakar. Namun, itu ternyata belum menyelesaikan masalah.

Ketika kami mengeluarkan perahu tersebut dari air, anak laki-laki saya menemukan penyebab masalahnya. Salah satu baling-balingnya terkoyak sepanjang dua sentimeter. Saya pikir, pasti bukan itu penyebabnya. Koyakan itu terlalu kecil. Namun, ketika kami memasang baling-baling yang baru, hasilnya benar-benar berbeda. Ternyata kami telah diperlambat oleh koyakan kecil itu.

Dalam menjalani hidup sebagai orang kristiani, kita kerap mengalami masalah yang sama. Dosa seperti yang digambarkan dalam Galatia 5:16- 21 berakar pada hal-hal yang tampaknya sepele (Matius 5:28; 15:18,19). Jika kita mengabaikan atau menoleransi dosa-dosa "kecil" ini, mereka akhirnya akan bertumbuh, membuat kerusakan yang lebih besar pada pikiran dan tingkah laku kita--bahkan membahayakan orang- orang di sekitar kita. Sama seperti sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan (Galatia 5:9), dosa "kecil" akhirnya juga bisa melemahkan pelayanan kita bagi Kristus dan gereja-Nya.

Ingat, koyakan kecil dapat menyebabkan masalah besar--Dave Egner

18 Agustus 2003

Tertangkap Basah

Nats : Para nabi . . . mengikuti apa yang tidak berguna (Yeremia 2:8)
Bacaan : Yeremia 2:4-19

Sebuah pesawat kecil bermuatan kokain senilai 20 juta dolar dicegat oleh agen federal Amerika saat terbang melintasi Pantai Florida. Tiba-tiba berkarung-karung kokain mulai berjatuhan dari langit. Salah satunya jatuh di pelataran parkir gereja. Satunya lagi menimpa atap rumah. Beberapa lainnya jatuh di rawa-rawa Everglade.

Saat pesawat tersebut mendarat di sebuah lapangan udara kecil di dekat Pangkalan Angkatan Udara Homestead, ternyata ditemukan empat bungkus kokain yang masih berada di dalam pesawat. Dua pria ditahan dan menghadapi tuntutan penjara seumur hidup. Sungguh ironis! Sesuatu yang mereka pikir begitu menguntungkan tiba-tiba menjadi sebuah hukuman.

Orang-orang Israel dan para pemimpinnya pun mengejar apa yang mereka pikir akan menguntungkan--mereka mengikuti dewa kesia-siaan (Yeremia 2:5). Namun, Tuhan berkata bahwa mereka mengejar "apa yang tidak berguna" (ayat 8), dan dosa mereka sedang menghukum mereka (ayat 19). Saat ditegur oleh Allah, mereka tidak hanya dinyatakan bersalah oleh-Nya tetapi juga oleh tindakan mereka sendiri. Mereka tidak dapat menghindar dari mata Tuhan ataupun luput dari keadilan-Nya.

Kita semua bersalah di hadapan Tuhan dan membutuhkan pengampunan-Nya (Roma 3:23). Namun, karena kasih-Nya yang begitu besar Dia mengutus Anak-Nya untuk wafat menggantikan kita, sehingga kita dapat menemukan--sebelum terlambat--anugerah yang tidak dapat ditawarkan oleh pengadilan manusia --Mart De Haan II

23 Agustus 2003

Mendua Hati

Nats : Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu (Mazmur 86:11)
Bacaan : Hosea 7:8-12

Bangsa Israel pada zaman Hosea mencoba untuk menyembah berhala sekaligus satu-satunya Allah yang hidup dan benar. Oleh karena itu, Nabi Hosea menggunakan tiga perumpamaan untuk menggambarkan hati mereka yang mendua.

Pertama, mereka seperti roti setengah matang, artinya mereka tidak akan diterima baik oleh Allah maupun orang-orang kafir (7:8). Kedua, mereka seperti pria sombong yang tidak dapat melihat tanda-tanda penuaan dirinya, artinya mereka tidak menyadari kemunduran rohani mereka (ayat 9,10). Ketiga, mereka seperti merpati tolol, yang terbang dari satu bangsa kafir kepada bangsa kafir lainnya dalam usaha yang sia-sia untuk mencari pertolongan (ayat 11).

Saat ini, kita sebagai orang-orang kristiani juga kerap kali mengalami sindrom mendua hati. Kita percaya kepada Yesus, namun enggan menyerahkan setiap bidang kehidupan kita kepada-Nya. Kita pergi ke gereja, tetapi tidak mau hidup sesuai dengan iman kita jika hal itu menghalangi untuk memperoleh kesuksesan atau kesenangan duniawi. Hati yang mendua menyebabkan beberapa akibat serius. Pertama, kita tidak membuat Allah senang dan tidak menarik orang- orang yang belum percaya kepada Kristus. Kedua, mungkin krisis harus terjadi supaya kita sadar akan kemunduran rohani kita yang sebenarnya. Dan ketiga, kita menjalani kehidupan yang tidak penuh, sekalipun kita selalu berusaha mencari kesenangan duniawi.

Marilah kita setiap hari berdoa, "Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu" (Mazmur 86:11)--Herb Vander Lugt

8 September 2003

Jangan Berdalih

Nats : Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati (Yehezkiel 18:4)
Bacaan : Yehezkiel 18:1-18

Ketika ikan salmon berenang ratusan kilometer jauhnya menuju hilir dan anak sungai untuk bertelur, mereka berenang berdasarkan insting. Pada batas tertentu, pergerakan mereka dikendalikan oleh kekuatan yang tak dapat mereka kendalikan.

Saya membaca tentang seorang narapidana muda yang berpikir bahwa tingkah laku manusia sama seperti ikan salmon itu. Dengan merujuk pada pembunuhan yang ia lakukan dan nasibnya sendiri, ia berkata, "Segala sesuatu terjadi begitu saja." Ia berpikir ada kekuatan tertentu yang bertanggung jawab atas tindakannya menarik pelatuk senapan dan membunuh dua orang. Padahal, pendapatnya itu salah. Manusia punya kehendak bebas, dan tidak dapat mengalihkan tanggung jawab atas tindakan dosanya itu pada kekuatan yang tak terkendali seperti insting.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, sebagian orang Israel menggunakan dalih yang sama untuk dosa-dosa mereka. Mereka mengutip amsal populer yang menimpakan kesalahan kepada para leluhur mereka (Yehezkiel 18:2). Namun, Allah menyalahkan mereka. Dia berfirman, orang baik tidak akan dihukum karena dosasa anaknya yang jahat. Demikian juga anak baik tidak akan dihukum karena dosa ayahnya yang jahat.

Jangan berbuat dosa. Tak peduli bagaimanapun situasinya, Anda bertanggung jawab atas apa yang Anda lakukan. Berhentilah mencari dalih bagi dosa-dosa Anda. Sebaliknya, akuilah kesalahan Anda kepada Allah dan terimalah pengampunan yang Dia tawarkan (Mazmur 32:5). Itu adalah langkah pertama untuk melatih tanggung jawab pribadi Anda --Herb Vander Lugt

16 September 2003

Kebiasaan Buruk

Nats : Mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan: "Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?" (Keluaran 17:7)
Bacaan : Keluaran 17:1-7

Hampir semua orang mempunyai kebiasaan buruk, dari yang hanya sedikit mengganggu seperti terlalu banyak bicara atau bicara terlalu cepat, hingga yang lebih serius.

Sebagai contoh adalah kebiasaan buruk yang diperlihatkan orang-orang Israel pada masa Perjanjian Lama. Saat itu mereka baru saja dibebaskan dari perbudakan (Keluaran 14:30). Namun, bukannya bersyukur, mereka malah mulai mengeluh kepada Musa dan Harun, "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan!" (16:3).

Seperti yang dapat kita baca dalam Keluaran 17, akhirnya keluhan mereka meningkat menjadi pertengkaran. Sesungguhnya keluhan mereka ditujukan kepada Allah, tetapi mereka memancing pertengkaran dengan Musa karena dialah pemimpin mereka. Kata mereka, "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak- anak kami, dan ternak kami dengan kehausan?" (ayat 3). Mereka bahkan mulai mempertanyakan apakah Allah sungguh-sungguh berada di tengah- tengah mereka (ayat 7). Padahal, Allah selalu memenuhi kebutuhan mereka.

Jika kita mau jujur, mau tak mau kita harus mengakui bahwa kadang- kadang kita juga mengeluh saat Allah tidak bekerja sesuai dengan keinginan kita. Kita menuduh Allah tidak ada atau tidak peduli. Padahal, seandainya hati kita tertuju pada kehendak Allah dan bukan pada kehendak kita sendiri, kita akan menjadi sabar dan percaya bahwa Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita. Dengan demikian, kita tidak akan mengembangkan sifat suka mengeluh di dalam diri kita --Albert Lee

21 Oktober 2003

Buah Terlarang

Nats : Hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut (Roma 7:5)
Bacaan : Roma 7:7-13

Di Galveston, Texas, sebuah hotel di pantai Teluk Meksiko memasang papan peringatan ini di setiap kamar:

DILARANG MEMANCING DARI ATAS BALKON

Namun, setiap hari para tamu hotel melemparkan tali pancing mereka dari atas balkon. Lalu pengelola hotel memutuskan untuk mencabut papan-papan peringatan itu -- dan para tamu pun berhenti memancing!

Agustinus (354-430), seorang teolog terkemuka pada masa gereja mula- mula, mengenang ketertarikannya pada hal-hal yang terlarang. Dalam bukunya Confessions, ia menulis,

"Di dekat kebun anggur kami ada sebatang pohon pir yang berbuah
lebat. Pada suatu malam yang berbadai, kami anak-anak berandalan
bersepakat untuk mencurinya .... Kami mengambil begitu banyak pir
-- bukan untuk kami nikmati sendiri, melainkan untuk dilemparkan
ke babi-babi. Kami hanya makan beberapa, sekadar merasakan
nikmatnya buah curian. Buah-buah pir itu enak. Namun bukan pir itu
yang diinginkan jiwa saya yang hina ini, karena sebenarnya saya
punya banyak yang lebih enak di rumah. Saya mengambilnya hanya
untuk menjadi seorang pencuri .... Keinginan untuk mencuri muncul
hanya karena ada larangan mencuri."

Roma 7:7-13 menunjukkan kebenaran yang diilustrasikan oleh pengalaman Agustinus: Sifat alami manusia adalah memberontak. Ketika dihadapkan pada suatu hukum, kita melihatnya sebagai tantangan untuk dilanggar. Namun, Yesus mengampuni sikap kita yang melawan hukum dan memberikan Roh Kudus. Dia memberikan keinginan baru dan kemampuan sehingga kesenangan kita yang terbesar adalah menyenangkan Allah --Haddon Robinson

24 Oktober 2003

Remote Control

Nats : Hiduplah sebagai anak-anak terang ..., dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan (Efesus 5:8,10)
Bacaan : Efesus 5:1-17

Klik. "Nantikan malam ini jam 8 di Saluran ABC." Klik. "Saat ini tekanan udara sedang tinggi." Klik. "Tendangannya melebar ke samping gawang!" Klik. "Saya pilih kategori 'Sejarah Dunia' untuk memenangkan 600 dolar, Alex." Klik. "Dalam berita hari ini ...." Klik!!

Apa yang sedang terjadi? Seorang penonton TV sedang memainkan remote control dengan jarinya, memilih acara terbaik untuk ditonton dari sekian banyak pilihan yang ada.

Setiap kali kita berhenti pada sebuah saluran TV, sebenarnya kita telah membuat sebuah pilihan. Kita telah mengambil keputusan untuk mengizinkan program tersebut mempengaruhi kita melalui berbagai cara. Namun, apakah kita telah membuat pilihan yang bijaksana? Apakah kita menggunakan waktu dengan baik dan bermanfaat? Apakah tontonan yang kita pilih akan membangun atau justru menjatuhkan iman kita? Semua ini adalah pertanyaan penting bagi orang kristiani, karena kita telah diperintahkan untuk melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31).

Salah satu petunjuknya ada dalam Efesus 5. Kita harus menghindari percabulan, kecemaran, perkataan yang kotor dan sembrono (ayat 3,4). Dan kita pun tidak boleh "mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa" maupun "menyebutkan apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi" (ayat 11,12).

Kita harus senantiasa mencari apa yang "berkenan kepada Tuhan" (ayat 10). Dan kadang kala hal itu berarti mengambil remote dan mematikan TV --Dave Branon

24 November 2003

Tekanan Orang Sekitar

Nats : Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati daripada membagi rampasan dengan orang congkak (Amsal 16:19)
Bacaan : 1 Raja-Raja 12:1-17

Keinginan untuk memperoleh persetujuan dari orang lain membuat kita melakukan hal-hal aneh. Kita mengenakan pakaian yang modis entah kita suka atau tidak, mendatangi berbagai undangan yang sebenarnya ingin kita tolak, dan bekerja jauh lebih keras daripada yang kita inginkan untuk mencapai suatu tingkat keberhasilan finansial yang tak kita butuhkan. Namun yang paling disesalkan, kita kerap memilih bergabung dengan suatu kelompok yang mendorong kita melakukan kesalahan.

Dalam 1 Raja-Raja 12, kita membaca kisah Raja Rehabeam, yang juga menyerah terhadap tekanan rakyatnya. Ia menolak nasihat baik dari orang-orang tua bijak, yang telah mengenal Salomo ayahnya, dan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya ketika menjadi raja. Sebaliknya, Rehabeam justru mendengarkan nasihat orang sebayanya yang mendampingi dia. Mereka agaknya terdorong oleh kesombongan dan keinginan untuk mendapatkan kedudukan. Selain itu, tampaknya Rehabeam goyah karena pengaruh mereka. Namun, betapa besar harga yang harus ia bayar untuk kesalahannya!

Kita semua dipengaruhi oleh tekanan orang-orang sekitar. Tekanan itu mengimpit dari segala arah. Namun, kita bebas memilih jalan yang akan kita tempuh. Jika kita goyah karena orang-orang sombong, yang mencintai uang, yang hidup untuk kesenangan, atau yang menginginkan kedudukan, maka tekanan mereka akan membuat kita hancur. Namun, jika kita memerhatikan nasihat orang-orang rendah hati, baik, dan saleh, maka kita akan mengikuti jalan yang menyenangkan hati Allah --Herb Vander Lugt

18 Januari 2004

Kenyataan atau Ilusi?

Nats : Kamu menyangka: "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan" (Maleakhi 2:17)
Bacaan : Maleakhi 2:13-17

Saya mulai memundurkan mobil van saya dari tempat pemuatan barang. Melalui kaca spion, saya melihat dua truk yang parkir berdampingan. Saya masih mempunyai cukup ruang. Namun kemudian, salah satu truk itu tampaknya bergerak ke arah saya. Saya menghentikan mobil. Kemudian saya menyadari bahwa ternyata truk sebelahnyalah yang sebenarnya berjalan mundur, sehingga hal itu menciptakan ilusi bahwa truk yang sedang parkir tersebut seolah-olah bergerak maju.

Menurut kamus, ilusi adalah sebuah "persepsi yang salah tentang kenyataan". Para pesulap memanfaatkan ilusi untuk "melakukan hal yang tidak mungkin". Kebanyakan ilusi memang tidak berbahaya, tetapi beberapa di antaranya bisa berakibat fatal. Di padang pasir, mengejar fatamorgana yang tampak seperti air bisa mengakibatkan kematian.

Namun, ilusi-ilusi yang paling berbahaya adalah ilusi rohani dan moral yang cenderung dipercayai orang. Dalam Maleakhi 2, bangsa Israel telah melanggar janji nikah mereka (ayat 14-16). Mereka tahu Allah membenci perceraian (ayat 16), namun mereka berkata, "Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata Tuhan" (ayat 17).

Bukankah hal itu mirip dengan budaya zaman sekarang? Karena alasan yang tidak alkitabiah, banyak orang percaya bahwa hal-hal seperti aborsi, seks di luar nikah, dan perceraian dapat dibenarkan secara moral. Bahkan sebagian orang kristiani memercayai ilusi-ilusi seperti itu.

Kita perlu menempatkan Alkitab sebagai standar agar dapat membedakan kenyataan dengan ilusi! Dennis De Haan

14 Maret 2004

Konsekuensi yang Mahal

Nats : Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan .... Sekarang kerajaanmu tidak akan tetap (1 Samuel 13:13,14)
Bacaan : 1 Samuel 13:1-15

Saya selalu sadar bahwa ketidaktaatan memiliki konsekuensi tertentu. Namun, saya terpaksa mengakuinya saat menjalani latihan dasar selama Perang Dunia II. Saya telah melakukan perjalanan melebihi jarak yang diizinkan pada akhir pekan untuk menemui istri saya Ginny. Dan saya terlambat pulang ke kamp karena kereta apinya rusak. Saya harus membayar pelanggaran itu dengan 20 jam tugas tambahan mencuci alat-alat dapur!

Raja Saul juga belajar tentang mahalnya sebuah ketidaktaatan. Ia menghadapi kemungkinan pertempuran melawan tentara Filistin yang sangat besar jumlahnya dan memiliki persenjataan lengkap, sedangkan ia hanya memiliki sekelompok kecil pengikut yang ketakutan dan tidak terlatih. Sementara menunggu kedatangan Samuel yang akan mempersembahkan korban sebelum menuju medan perang, Saul tidak sabar dan mempersembahkan korban itu sendiri. Padahal ia tahu bahwa Allah hanya memberikan hak itu kepada imam. Sungguh kesalahan yang harus dibayar mahal.

Saul sebenarnya telah memulai pemerintahannya dengan rendah hati serta penuh belas kasihan, dan ia memercayai Allah (1 Samuel 11). Dan Nabi Samuel memberitahunya bahwa Allah akan mempertahankan kedudukan raja dalam keluarganya jika saja ia menaati perintah Allah (13:13,14). Namun, satu ketidaktaatan telah mengubah jalan hidupnya. Sejak saat itu, perjalanan hidupnya semakin memburuk.

Jangan Anda lupa bahwa ketidaktaatan memiliki berbagai konsekuensi. Dan beberapa di antaranya harus dibayar mahal —Herb Vander Lugt

24 April 2004

Kekalahan Terburuk

Nats : Sebab oleh karena murka Tuhanlah terjadi hal itu terhadap Yerusalem dan Yehuda (2 Raja-raja 24:20)
Bacaan : 2 Raja-raja 25:1-21

Ada beberapa kekalahan dahsyat dalam sejarah olahraga, namun tidak ada kekalahan yang lebih telak daripada kekalahan tim Cumberland 222-0 atas tim Georgia Tech pada tahun 1916. Itu adalah kekalahan terburuk dalam sejarah kejuaraan football antar-perguruan tinggi, dan para pemain tim Cumberland pastilah sudah berputus asa.

Sebuah kekalahan lain dialami rakyat Yerusalem pada tahun 586 SM, dan kekalahan ini jauh lebih buruk daripada kekalahan mana pun dalam dunia olahraga. Sebagai penghukuman Allah atas dosa mereka yang menyembah ilah lain, mereka dikalahkan oleh pasukan Babel (2 Raja-raja 24:20).

Di bawah pimpinan Nebukadnezar, pasukan Babel mengepung Kota Suci itu dan meninggalkannya dalam keadaan hancur menjadi puing-puing. Mereka membakar tempat ibadah yang megah, istana raja, dan rumah-rumah rakyat.

Bisa jadi ini merupakan kekalahan terburuk dalam sejarah hidup umat Allah yang begitu panjang dan tragis. Ketidaktaatan mereka yang terus-menerus kepada Allah memberikan konsekuensi yang membawa kehancuran. Melalui semuanya itu, Allah mendesak mereka untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya.

Saya sangat sedih ketika menyadari betapa Tuhan mendambakan umat-Nya hidup dalam pola hidup yang memuliakan-Nya. Saya kerap kali harus mengingatkan diri sendiri tentang tugas saya untuk hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah, karena hal itu sangatlah berarti bagi-Nya.

Kekalahan besar Yudea seharusnya menantang kita semua untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah —Dave Branon

7 Mei 2004

Pelajaran yang Menyadarkan

Nats : Aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil (Daniel 4:37)
Bacaan : Daniel 4:28-34

Seorang pria muda yang kasar dan kuat sering berjalan dengan angkuh mengelilingi kota sambil membual bahwa ia dapat berjalan bertelanjang kaki di atas pagar kawat berduri sambil mengepit kucing liar dengan kedua lengannya. Begitulah kisah dalam Iron County Miner. Namun, si pembual akhirnya memperoleh pelajaran yang menyadarkan ketika menikahi seorang wanita mungil yang tegas, yang menugaskannya mencuci piring dua kali sehari.

Sebuah pelajaran yang menyadarkan juga dialami seorang sersan peleton ketika membangunkan seorang tentara baru setelah melewati malam pertama di asrama tentara. “Bangun! Sudah setengah lima!” seru sang sersan. “Setengah lima!” keluh si tentara baru. “Kembalilah tidur, Kawan. Besok kita akan menghadapi hari yang melelahkan!”

Kita semua cenderung hidup di dalam mimpi sampai seseorang atau sesuatu menghadapkan kita pada dunia nyata. Bagi Nebukadnezar, raja Babylon kuno, pelajaran yang diterimanya cukup serius. Sebelum bertemu dengan Allah, ia berpikir bahwa ia memiliki kehidupan yang baik. Namun tiba-tiba ia mendapati dirinya merangkak di atas tangan dan kakinya, dan memakan rumput seperti binatang (Daniel 4:33). Setelah tujuh tahun lamanya (ayat 32), ia mengerti bahwa di dunia nyata setiap orang harus tunduk pada otoritas, bahwa hidup setiap orang berada dalam waktu Allah, dan semua yang kita miliki adalah karunia dari tangan-Nya yang murah hati.

Bapa, bangunkan kami hari ini. Buat kami menyadari arti hidup di bawah hikmat dan kuasa-Mu yang penuh kasih —Mart De Haan

25 Mei 2004

Siapa Wasitnya

Nats : Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? (Ayub 39:35)
Bacaan : Ayub 39:34-40:9

Dalam suatu pertandingan bisbol di sore hari, ketika wasit Liga Amerika Bill Guthrie menempati posisinya di belakang home plate, sang penangkap bola yang merupakan anggota dari tim pendatang berulang kali memprotes keputusan penjuriannya.

Menurut kisah di dalam St. Louis Post Dispatch, Guthrie membiarkan dirinya diprotes selama tiga babak. Namun pada babak yang ke-4, ketika sang penangkap bola mulai mengeluh lagi, Guthrie menghentikannya. “Nak,” ujarnya lembut, “kau memang sudah sangat membantu saya dalam menentukan mana lemparan yang benar dan mana yang tidak. Saya menghargai itu. Tetapi saya sudah mengetahui semua itu. Karenanya, lebih baik kamu pergi ke ruang ganti dan mengajari orang-orang di sana bagaimana caranya mandi.”

Ayub juga mengeluhkan keputusan-keputusan Tuhan yang ia anggap tidak adil. Dalam kasusnya, sang wasit adalah Allah. Setelah mendengarkan keberatan-keberatan Ayub, akhirnya Tuhan memberi penjelasan dari dalam badai. Tiba-tiba Ayub dapat memahami segalanya. Allah itu lembut, tetapi juga tegas dan terus terang. Tuhan menanyai Ayub dengan pertanyaan yang membuat manusia yang terbatas mengakui keterbatasannya. Ayub mendengarkan, menghentikan keluh kesahnya, dan merasakan kedamaian melalui sikap berserah kepada Allah.

Bapa, kami tidak mengerti ketika mengeluhkan keadilan-Mu. Tolonglah kami agar dapat menjadi seperti Putra-Mu Yesus, yang memercayai-Mu tanpa mengeluh, bahkan hingga Dia wafat di kayu salib —Mart De Haan

21 Juni 2004

Kaum “apateis”

Nats : Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku (Wahyu 3:16)
Bacaan : Wahyu 3:14-19

Banyak orang mengaku bahwa mereka percaya akan Allah. Itu berarti mereka adalah orang-orang teis. Orang yang benar-benar ateis, sangatlah jarang ditemukan.

Saat ini, tampaknya kita perlu menambahkan istilah baru untuk sejumlah besar orang yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi tidak peduli akan Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sepatutnya mereka disebut orang-orang apateis. Kata ini terbentuk dari kata benda apati yang berarti “kemasabodohan”, yaitu suatu bentuk ketidakpedulian. Dan sayangnya, kepercayaan apa pun yang dianut seseorang, ia tetap hidup sebagai orang “apateis”. Imannya hanya menghasilkan perbedaan kecil dalam perilakunya.

Rasul Yohanes mencatat bahwa Yesus menggambarkan gereja di Laodikia sebagai gereja yang tidak dingin atau tidak panas (Wahyu 3:16). Mereka suam-suam kuku, atau dapat kita sebut sebagai orang-orang “apateis”.

Bagaimana dengan kita yang mengaku percaya kepada Yesus? Apakah kita suam-suam kuku? Kita berdoa, tetapi doa kita hanyalah sebagai kewajiban? Kita ke gereja dan mungkin terlibat dalam berbagai pelayanan kristiani, tetapi semua itu hanyalah suatu rutinitas, seperti menyikat gigi atau membersihkan rumah? Apakah kita telah kehilangan kasih yang mula-mula, suatu semangat yang kita miliki pada awal perjalanan rohani kita?

Hari ini, marilah kita jadikan doa pemazmur sebagai doa kita: “Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?” (Mazmur 85:7) —Vernon Grounds

29 Juni 2004

Kisah yang Panjang

Nats : Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan (Amsal 29:1)
Bacaan : 2 Tawarikh 36:11-17

Di bulan Agustus 1989, kebakaran hebat berkobar di bawah jalan layang antarnegara bagian sektor 78 di New Jersey. Panas yang hebat membuat sebagian jalan bebas hambatan tersebut melengkung sehingga jalan arteri East Coast harus ditutup. Gubernur menyatakan bahwa ini adalah musibah transportasi terburuk selama beberapa tahun itu.

Penyelidikan mengungkapkan suatu masalah yang sudah lama ada. Ternyata api berkobar dari pembuangan sampah yang menjadi tempat penumpukan puing-puing bangunan selama bertahun-tahun. Pemilik tempat pembuangan sampah itu dituduh telah melakukan konspirasi bernilai jutaan dolar dengan mengizinkan tempat itu menjadi tempat penampungan ilegal puing-puing bangunan. Namun, permohonan banding ke pengadilan federal dan negara bagian telah menyulitkan New Jersey membersihkan daerah itu. Sehari setelah kebakaran, pengadilan negara bagian akhirnya memerintahkan petugas tempat pembuangan sampah itu menghentikan pembuangan sampah dan membersihkan daerah tersebut.

Kebakaran itu menggambarkan kisah dasar kehidupan kita. Kebanyakan permasalahan kita tidak muncul begitu saja, tetapi merupakan hasil dari rangkaian keputusan yang keliru. Kitab 2 Tawarikh 36 menjelaskannya dan mengingatkan kita bahwa Allah tidak mengizinkan anak-anak-Nya terus berdosa. Walaupun Dia panjang sabar, tetapi kesabaran-Nya ada batasnya. Jika kita tidak memperbaiki kesalahan, maka Dia pasti akan mendisiplinkan diri kita.

Marilah kita bersihkan sampah-sampah kehidupan kita hari ini —Mart De Haan

17 Juli 2004

Warisan Adam

Nats : Oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar (Roma 5:19)
Bacaan : Roma 5:12-21

Jackson, cucu lelaki kami yang baru lahir, berwajah tampan, kulitnya lembut tanpa cela, dan memiliki sepuluh jari mungil di kedua tangan dan kakinya. Bagaimana mungkin seorang kakek yang bangga tidak melihatnya sebagai bayi yang “sempurna”? Pasti ia adalah sebuah keajaiban bentukan ilahi (Mazmur 139:13,14).

Rasul Paulus memberi kita suatu pandangan yang lebih luas tentang bayi mungil yang “sempurna” seperti itu ketika ia menulis, “Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga ... maut telah menjalar. Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang dibuat oleh Adam” (Roma 5:12-14). Dengan kata lain, tiap anak lahir dengan kecenderungan untuk berbuat dosa. Tetapi perkataan Paulus itu belum selesai. Ia juga menulis tentang Yesus, “Adam yang akhir” yang menjadi “roh yang menghidupkan” (1 Korintus 15:45).

Lama setelah dosa pertama manusia, seorang bayi yang merupakan perwujudan Allah telah lahir (Yohanes 1:14). Allah membuat Kristus, “yang tidak mengenal dosa ... menjadi dosa karena kita” (2 Korintus 5:21). Ketika kita memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Roh Kudus menciptakan suatu keinginan baru dalam diri kita untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan Allah. Daging masih memiliki daya tarik, tetapi daya tarik Roh lebih kuat.

Di dalam “Adam yang pertama”, kita semua adalah pendosa. Tetapi marilah kita mengarahkan perhatian pada siapakah kita di dalam Yesus “Adam yang akhir” —Dennis De Haan

18 September 2004

Memberi Makan Serigala

Nats : Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:14)
Bacaan : Roma 6:15-23

Ada kisah tentang seorang kepala Indian Cherokee tua yang duduk di depan api unggun bersama cucu lelakinya. Anak itu telah melanggar tata susila suku, dan sang kakek ingin membantunya memahami apa yang membuatnya melakukan hal itu. "Dalam diri kita seolah ada dua serigala," kata sang kepala suku. "Satu serigala baik, yang lainnya serigala jahat. Keduanya ingin kita taati."

"Yang mana pemenangnya?" tanya si bocah.

"Serigala yang kita beri makan!" kata kepala suku tua yang bijaksana itu.

Setiap pengikut Yesus Kristus dapat mengenali pergumulan itu. Kita senantiasa berjuang melawan keegoisan dan keinginan dosa. Keduanya bangkit di dalam diri kita dan menekan kita secara luar biasa supaya kita mau memuaskan mereka. Keduanya seperti rasa lapar yang tak tertahankan dan rasa haus yang tak terpuaskan. Mulanya mereka hanya suatu keinginan kecil "yang tidak berbahaya", tetapi kemudian mereka bertambah kuat dan akhirnya mengendalikan kita (Roma 6:16).

Agar dapat bertahan, kita harus memercayai yang dikatakan Alkitab kepada kita mengenai kekuatan pencobaan. Kita pun harus percaya bahwa Roh Kudus akan membantu kita untuk bertahan atau membebaskan kita dari kekuatan pencobaan itu.

Namun, kemudian muncul bagian yang susah dilakukan. Ketika keinginan jahat minta dipuaskan, kita harus berkata tidak -- mungkin berkali-kali. Paulus berkata, "Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:14).

Ingat, apa yang kita puaskan keinginannya, akan mengendalikan kita --Dave Egner

9 Oktober 2004

Marah Tanpa Berdosa

Nats : Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Efesus 4:26)
Bacaan : Amsal 15:1-18

Saat Hakim Agung Byron White sedang berada di Salt Lake City untuk berpidato, ia diserang oleh seorang pria yang marah. Tersangka mengatakan bahwa ia menyerang hakim itu karena keputusan-keputusannya di Pengadilan Tinggi. Ia berkata, "Hakim White menyebabkan sumpah serapah memasuki ruang keluarga saya melalui televisi." Untuk merasionalisasi serangannya, ia melanjutkan, "Satu-satunya cara yang saya ketahui untuk menghentikan hal itu adalah dengan mendatangi sumbernya."

Di situlah letak kesalahan pria itu. Tentu, ia berhak menyuarakan pendapatnya yang keras. Ia bahkan dibenarkan untuk marah jika ia yakin keputusan pengadilan mendorong imoralitas. Namun, sikap yang ia pilih untuk mengungkapkan kemarahannya sama buruknya, bahkan lebih buruk, dengan keputusan pengadilan yang salah.

Bacaan Kitab Suci hari ini berkata, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa" (Efesus 4:26). Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain mungkin membangkitkan amarah kita dan pada beberapa kasus perlu membuat kita marah. Namun, berhati-hatilah untuk tidak bereaksi secara berlebihan dan kehilangan kendali. Rasul Paulus mengingatkan bahwa walaupun kita "masih hidup di dunia", namun kita "tidak berjuang secara duniawi" (2 Korintus 10:3,4).

Apakah orang kristiani boleh marah? Tentu saja boleh! Namun, jangan pernah membiarkan kemarahan kita meledak dengan cara yang berdosa.

Dua kesalahan tidak menciptakan satu kebenaran --Richard De Haan

30 Oktober 2004

Tak Mungkin Lolos!

Nats : Dosa pemberontakan kami banyak di hadapan-Mu dan dosa kami bersaksi melawan kami (Yesaya 59:12)
Bacaan : Galatia 6:1-9

Sekelompok siswa Renaissance High School di Detroit memutuskan untuk membolos untuk menghadiri sebuah konser musik rock di Hart Plaza. Mereka merasa telah berhasil meloloskan diri. Namun keesokan harinya, ternyata surat kabar The Detroit News menampilkan foto berwarna konser tersebut tepat di halaman depan. Dan siapakah yang ada di dalam foto itu? Benar. Di dalam foto itu terpampang para siswa Renaissance High yang membolos, yang dengan mudah dikenali oleh siapa saja.

Alkitab mengajarkan bahwa kita tidak dapat menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran kita. Kita barangkali dapat menutupinya untuk sementara waktu dan bahkan meloloskan diri bersamanya selama waktu yang lebih lama. Namun, hari yang tidak terhindarkan itu akan tiba, saat kita harus menghadapinya, entah di dunia ini atau di dunia yang akan datang. Paulus memberi tahu orang-orang di Galatia, "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7).

Mungkin Anda memiliki dosa rahasia yang Anda sembunyikan. Jika demikian, saya mendesak Anda untuk mengakui dan meninggalkannya. Atau mungkin Anda kini perlahan-lahan terbawa ke dalam situasi yang Anda tahu salah dan Anda tergoda untuk melanjutkannya, serta berpikir bahwa Anda tidak akan tertangkap basah. Maka saya meminta Anda untuk tidak melangkah lebih jauh. Foto Anda mungkin tidak muncul di halaman depan sebuah surat kabar, namun Alkitab berkata bahwa Anda tidak mungkin meloloskan diri bersamanya! --Dave Egner

26 November 2004

Waspadai Mata Anda

Nats : Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu (Matius 6:22)
Bacaan : Matius 6:19-23

Kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang jahat ditentukan oleh fokus pandangan mata rohani kita. Jika kita memusatkan mata kita pada uang, misalnya, maka kita akan menikmati hidup senang untuk sesaat. Namun, keputusan-keputusan yang kita ambil akan menjadi kabur. Kita akan membuat keputusan yang bertentangan dengan norma- norma hidup kita sendiri—pilihan-pilihan yang akhirnya dapat menghancurkan keluarga dan diri kita sendiri.

Alkitab mengingatkan, “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan” (1 Timotius 6:9). Jika kita mencintai uang, kita akan melakukan usaha apa saja untuk mendapatkannya. Akhirnya, “Betapa gelapnya kegelapan itu” (Matius 6:23).

Dalam novel The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis, nafsu Edmund terhadap kembang gula membuat ia mengkhianati saudara-saudarinya. Hasrat Eustace untuk memiliki naga emas akhirnya menjadikannya seekor naga. Keserakahan memenuhi Pangeran Caspia di Pulau Deathwater ketika ia mendambakan kekuatan yang dapat diperolehnya dari air di pulau tersebut.

Makanan, uang, dan kekuatan—apa pun yang menjadi fokus mata rohani kita akan menentukan apa yang kita dambakan, dan juga menentukan apakah hidup kita dipenuhi oleh terang atau kegelapan. Yesus berkata, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu” (Matius 6:22).

Waspadailah pandangan mata Anda, karena itu akan menentukan hasrat Anda —David Roper

3 Desember 2004

Mencari Allah?

Nats : Pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 21:31)
Bacaan : Matius 21:28-32

Saya dan istri saya sedang makan ma-lam dengan sepasang suami istri di pondok pemancingan di Montana. Tetapi acara itu terganggu oleh suguhan cerita kasar seorang pemancing mabuk tentang kunjungannya.

Meski komentarnya terdengar bodoh dan menyinggung perasaan, saya menangkap nada belas kasihan dalam suaranya. Kemudian saya teringat ucapan G.K. Chesterton, “Bahkan ketika manusia mengetuk pintu rumah pelacuran, mereka sesungguhnya sedang mencari Allah.”

Chesterton memang benar. Banyaknya hasrat membuktikan adanya kehausan yang mendalam akan Allah. Pria tadi, yang tampaknya jauh dari Allah, sebenarnya tanpa ia sadari lebih dekat kepada Allah.

Setiap orang tahu bahwa ia diciptakan untuk mengejar sesuatu yang tinggi, tetapi dengan santai ia justru berjalan di jalan yang me- rendahkan dirinya. Ia menjadi kurang tangguh dari yang seharusnya, dan ia tahu hal itu. Ada perasaan yang selalu mengganggunya bahwa ia seharusnya lebih dari yang sekarang. Sebagian orang menyembunyikan hal itu dengan menganggap diri paling benar, seperti orang Farisi, atau bersikap tak peduli. Sebagian lagi tahu bahwa mereka telah tersesat. Perasaan yang sukar dimengerti itu bila ditindaklanjuti dapat membawa mereka kepada Allah.

Yesus berkata kepada orang Farisi, “Pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Matius 21:31). Karena itu, saya rasa pemancing mabuk tadi jauh lebih mungkin bertobat daripada kaum Farisi —David Roper

10 Desember 2004

Peribahasa Berbahaya

Nats : [Jika seseorang] hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia—ialah orang benar, dan ia pasti hidup (Yehezkiel 18:9)
Bacaan : Yehezkiel 18:1-9

Peribahasa apa pun mengandung bahaya. Peribahasa adalah prinsip umum—bukan kebenaran mutlak—dan dapat disalahgunakan. Dikatakan, “Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga”, tetapi itu tergantung siapa yang mengatakannya dan apa alasannya. Itu ada benarnya. Tetapi bila orang mengutipnya untuk membenarkan kekacauan yang ia lakukan, maka peribahasa itu dapat digunakan sebagai alasan bahwa ia hanyalah korban dari tindakan orang lain.

Nabi Yehezkiel ingin membawa tawanan Ibrani di Babel untuk tak hanya kembali ke kampung halaman mereka, tetapi juga kepada Allah. Itu adalah tawaran sulit. Mereka merespons dengan berlindung di bawah sebuah peribahasa, “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak- anaknya menjadi ngilu” (Yehezkiel 18:2).

Dengan peribahasa ini para tawanan menyalahkan pendahulu mereka atas penawanan yang mereka alami. “Anda tak mungkin serius minta kami bertobat,” protes mereka. “Ini salah orangtua ka-mi. Mereka makan buah mentah dan kami menanggung akibatnya.”

Maka Allah berbicara melalui Yehezkiel, “Kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini [peribahasa] lagi di Israel” (ayat 3). Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati,” Allah berfirman (ayat 4). Namun, “[Jika seseorang] hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan- Ku dengan berlaku setia—ialah orang benar, dan ia pasti hidup” (ayat 9).

Peribahasa adalah alat pembimbing yang baik. Peribahasa tak pernah dapat menjadi alasan perilaku buruk kita —Haddon Robinson

2 Januari 2005

Sifat Dasar Binatang

Nats : Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7:18)
Bacaan : Galatia 5:16-26

Seberapa tahun yang lalu kami memelihara seekor rakun. Rakun itu kami beri nama Jason. Satu menit ia akan merapat di pangkuan Anda seperti malai-kat yang sempurna, tetapi menit berikutnya ia akan bergerak seperti iblis yang jahat. Jika tidak dicegah, ia akan menyerbu tong sampah atau merusak taman bunga. Meskipun ia seekor binatang peliharaan yang menyenangkan, kami semakin sadar bahwa tindakan-tindakannya yang merusak tersebut dikendalikan oleh nalurinya yang liar. Jason akan selalu memiliki sifat alami seekor rakun, dan kami harus mengawasinya dengan ketat walaupun ia tampak jinak.

Acap kali, ketika saya mengamati perilaku Jason, saya menjadi teringat sifat dosa yang tetap kita miliki sebagai orang kristiani, meskipun Roh Kudus sudah tinggal di dalam diri kita. Paulus menyebut hal ini sebagai “daging” yang di dalamnya “tidak ada sesuatu yang baik” (Roma 7: 18). Hal tersebut memang dapat kita kekang, tetapi tetap ada di dalam diri kita. Apabila kita tidak dikendalikan oleh Tuhan setiap hari, maka “diri” kita yang lama akan memperagakan kapasitasnya sebagai pencari kesenangan yang menghancurkan dalam berbagai cara.

Meskipun kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17), kita masih memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Tetapi kita tidak perlu dikendalikan olehnya, karena kita dipersatukan de- ngan Kristus dan Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Dengan menaati firman Allah dan berserah kepada Roh Kudus (Roma 8:11), kita dapat menang atas daging—sifat alami seekor binatang yang ada di dalam diri kita —Mart De Haan

8 Januari 2005

Apa yang Layak Disimpan?

Nats : Seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan (Ibrani 12:16)
Bacaan : Kejadian 25:27-34

Suatu cerita mengisahkan tentang seorang pria yang menyukai buku kuno. Ia bertemu seorang kenalan yang baru saja membuang sebuah Alkitab yang telah sangat lama disimpan di loteng rumah leluhurnya. “Saya tidak dapat membacanya,” temannya menjelaskan. “Seseorang bernama Guten-anu telah mencetaknya.” “Gutenberg ya!” pecinta buku itu berteriak terkejut. “Alkitab itu adalah salah satu buku pertama yang pernah dicetak. Sebuah salinannya baru saja terjual lebih dari dua juta dolar!”

Temannya tidak tertarik. “Alkitab saya tidak akan laku sedolar pun. Seseorang bernama Martin Luther telah mencoret-coret seluruh isinya di Jerman.”

Cerita rekaan ini menunjukkan bagaimana seseorang dapat memperlakukan sesuatu yang sangat berharga seperti barang yang tidak ada harganya. Itulah yang dilakukan Esau. Meskipun ia seorang yang baik, Esau adalah seorang yang “mempunyai nafsu rendah” karena ia menjual hak kesulungannya “untuk sepiring makanan” (Ibrani 12:16). Ketika sudah terlalu terlambat untuk membatalkan transaksi yang buruk itu, ia baru betul-betul sadar bahwa ternyata ia telah mengorbankan sesuatu yang kekal di altar ketergesaan.

Kita sebaiknya berhati-hati dengan “transaksi” yang kita buat dalam hidup. Kebudayaan kita menempatkan hal yang tidak berharga di tempat utama, dan membuang hal yang kekal sama seperti hal yang tak berharga.

Mintalah Tuhan untuk menolong Anda membedakan apa yang berharga untuk disimpan dan apa yang sebaiknya dibuang —Haddon Robinson

12 Januari 2005

Memilih untuk Merasakan

Nats : Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak (Hosea 11:8)
Bacaan : Hosea 11

Stiker mobil pada mobil van biru mena-rik perhatian saya: MEMILIH UNTUK MERASAKAN.

Saat merenungkan kata-kata itu, saya memerhatikan papan iklan yang saya lewati. Mereka membujuk saya untuk memilih hal-hal yang akan menjauhkan saya dari perasaan, yakni alkohol untuk mematikan penderitaan emosional; makanan yang sarat lemak untuk meringankan penderitaan karena kesepian; mobil-mobil bagus dan barang-barang mahal lainnya untuk mengurangi rasa tidak berharga.

Banyak godaan menjauhkan kita dari Allah dengan janji akan meringankan perasaan terluka emosional yang kita rasakan akibat dosa, entah dosa kita sendiri atau dosa orang lain.

Allah memberi contoh yang berbeda. Bukannya menjadi kebal dengan penderitaan yang disebabkan oleh dosa kita, Dia justru me-milih untuk menderita sebagai akibat dari dosa itu. Melalui Nabi Hosea, Allah mengungkapkan kepedihan hatinya akibat kehilangan anak yang suka melawan. “Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan,” kata-Nya lembut. “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih” (11:3,4). Mereka masih tetap menolak Bapa surgawi mereka. Dengan berat hati, Dia membiarkan mereka menghadapi konsekuensinya.

Ketika kita memilih untuk merasakan berbagai perasaan sepenuhnya, kita akan sampai pada pemahaman yang lebih sempurna tentang Allah yang menciptakan kita sesuai gambar-Nya, yakni gambar Pribadi yang turut merasakan.

Tidak apa-apa merasakan bahwa semua yang di dunia tidak benar. Allah merasakannya juga! —Julie Link

29 Januari 2005

“penjaja Es Krim”

Nats : Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Timotius 2:22)
Bacaan : 1 Korintus 10:1-13

Jeff kecil berusaha keras menabung untuk membelikan ibunya sebuah hadiah. Usaha itu merupakan perjuangan berat bagi Jeff, karena ia sangat mudah menyerah atas godaan untuk membeli sesuatu dari penjaja es krim, tatkala mobil berwarna cerah itu datang berkeliling di sekitar rumahnya.

Suatu malam setelah ibunya menyelimutinya di ranjang, ibunya mendengar Jeff berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku supaya aku menjauh apabila penjaja es krim datang besok.” Bahkan di usianya yang masih belia, ia telah belajar bahwa cara yang paling baik untuk mengalahkan pencobaan adalah dengan menghindari apa yang menarik bagi kelemahan kita.

Semua orang percaya dicobai untuk berbuat dosa. Namun demikian, mereka tidak perlu menyerah. Tuhan menyediakan cara untuk menang atas segala bujukan iblis (1 Korintus 10:13). Akan tetapi kita harus melakukan tugas kita. Kadang kala itu termasuk menghindari situasi- situasi yang akan membuat kita kalah secara rohani.

Rasul Paulus memperingatkan Timotius untuk menjauhi nafsu orang muda (2 Timotius 2:22). Ia harus menjaga jarak dari godaan-godaan yang mungkin akan membuatnya menyerah karena daya pikatnya yang kuat. Itu adalah nasihat yang baik.

Jika mungkin, kita jangan pernah membiarkan diri kita berada di tempat-tempat yang salah, atau bergaul dengan orang yang akan membujuk kita untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita hindari.

Karena itu, pastikan Anda untuk lari dari “penjaja es krim”! —Richard De Haan

16 Maret 2005

Nurani yang Bersih

Nats : Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia (Kisah Para Rasul 24:16)
Bacaan : Roma 2:12-16

Cerita anak-anak yang sangat digemari, Pinokio, adalah kisah sebuah boneka kayu yang hidungnya akan semakin panjang apabila ia berdusta. Temannya, si Jimmy Jangkrik mengatakan, "Jadikan hati nurani sebagai penuntunmu." Pinokio pun menuruti nasihat temannya. Ia bertobat, lalu kembali kepada Geppetto, penciptanya. Pinokio kemudian berbakti kepada Geppetto dan dibebaskan dari tali-talinya.

Ada sebuah prinsip dalam cerita ini yang pantas diterapkan bagi anak-anak Allah. Jika kita tak mendengarkan suara dari dalam batin kita yang mengatakan apa yang perlu atau tidak perlu kita lakukan, hidup kita akan terbelenggu. Namun, nurani yang murni akan memberi kebebasan.

Beberapa orang tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan yang saleh. Hati nurani mereka lemah, dan mereka dengan mudah diombang-ambingkan sikap orang lain. Dan ada juga orang yang hati nuraninya telah rusak. Ukuran yang mereka pakai untuk menilai yang baik dan jahat telah rusak, tercemar, dan tidak kudus (Titus 1:15). Namun yang paling menyedihkan adalah mereka yang hati nuraninya telah "memakai cap" dusta dan kesesatan (1 Timotius 4:2). Mereka telah sekian lama menolak suara batin mereka, sehingga tidak dapat lagi mendengar bisikan hati nurani.

Mungkin Anda bertanya, "Bagaimana kita dapat memiliki nurani yang bersih?" Kita harus bertobat dari dosa dan berbalik kepada Pencipta kita. Kita harus meminta Dia memperbarui hasrat dan sikap kita sesuai dengan firman-Nya dan kemudian menaatinya dengan hati-hati —DHR

3 Mei 2005

Katakan

Nats : Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat (Mazmur 14:3)
Bacaan : Mazmur 14

Saat ini orang jarang menggunakan kata dosa lagi. Ketika kita berbuat salah, kita mengatakan bahwa kita menunjukkan "perilaku yang tidak tepat" atau melakukan "kesalahan taktis" atau "kekeliruan". Kita mungkin bahkan mengatakan, "Saya telah melakukan sesuatu yang buruk." Seakan-akan orang telah memercayai kebaikan bawaan mereka sendiri.

Kita melakukan hal tersebut walaupun ada begitu banyak bukti lahiriah dan rohaniah yang membuktikan kebenaran. Ketika saya menuliskan renungan ini, pembunuhan masal sedang merajalela di Sudan. Kekejian yang tak terperikan sedang dialami Bosnia dan Rwanda. Siapa yang bisa melupakan ladang-ladang pembunuhan di Kamboja? Dan bagaimana dengan jutaan bayi yang digugurkan di Amerika Serikat dengan mengatasnamakan kemudahan hidup? Kejahatan belum meninggalkan wajah bumi kita ini.

Sebagai pengikut Yesus, kita harus dengan tegas menolak usaha-usaha yang dilakukan oleh dunia untuk mengecilkan kenyataan dosa yang sebenarnya. Kita pun harus setuju dengan pernyataan Allah bahwa "tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak" (Mazmur 14:3).

Mengenali dosa bangsa memang jauh lebih mudah daripada mengakui dosa pribadi kita. Tetapi kita pun perlu mengakui dosa-dosa kecil yang telah kita lakukan yang melawan Allah yang kudus. "Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita" (1 Yohanes 1:10).

Ingatlah dosa Anda dan akuilah di depan Allah —DCE

8 Juni 2005

Generasi Bengkok Hati

Nats : Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda ... di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini (Filipi 2:14,15)
Bacaan : Filipi 2:12-16

Anda dapat menyebut generasi masa kini sebagai "angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat", seperti gambaran Paulus tentang generasi pada zamannya dalam Filipi 2:15. Bahkan Musa pun memahami apa yang dikatakan Paulus ketika ia berkata tentang bangsa Israel yang, "berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit" (Ulangan 32:5).

Kebengkokan di sini mengacu pada sarana yang dipakai orang untuk meraih tujuan. Mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jalan singkat menuju kesuksesan dipuji-puji. Sebagian orang bahkan membanggakan bagaimana mereka berkelit dari jeratan hukum.

Kesesatan mengacu pada cara seseorang memutarbalikkan kebenaran. Misalnya, saya pernah mendengar cerita tentang tiga anak remaja yang ingin mengakhiri sewa tempat mereka di sebuah asrama remaja, jauh sebelum waktu keberangkatan mereka yang seharusnya. Mereka bersikeras agar sang pengelola asrama mengembalikan uang titipan yang sebenarnya tidak dapat dikembalikan. Ketika si pengelola asrama akhirnya menyerah dan ketiga remaja itu bersiap-siap untuk keluar, mereka berkata kepada tamu asrama lain bahwa mereka telah diusir.

Kita mungkin terkadang sakit hati oleh tingkah laku yang bengkok dan pemikiran sesat orang lain. Namun, kita dipanggil untuk "tiada beraib dan tiada bernoda", dan untuk "bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia" (Filipi 2:15).

Mari kita tunjukkan cara hidup yang berbeda kepada dunia —AL

29 Juni 2005

Kembali

Nats : "Kamu tidak berbalik kepada-Ku," demikianlah firman Tuhan (Amos 4:6)
Bacaan : Amos 4:4-13

Kitab Amos dalam Perjanjian Lama telah memberi kita beberapa frasa yang tak terlupakan: "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (3:3). "Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu" (4:12). "Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air" (5:24).

Namun, frasa yang paling sering disebutkan dalam Kitab Amos disebutkan lima kali di dalam pasal 4. Berulang kali Tuhan berbicara mengenai semua hal yang telah dilakukan-Nya untuk menghukum umat-Nya yang suka melawan dan mau menang sendiri, kemudian membawa mereka kembali kepada-Nya. Respons terhadap setiap kasus selalu sama: "‘Kamu tidak berbalik kepada-Ku,’ demikianlah firman Tuhan" (Amos 4:6,8-11).

Saat kita membaca dan heran dengan kekerasan hati mereka, kita juga harus bertanya apakah hal yang sama juga terjadi pada kita. Kita sudah merasa bahwa Tuhan berusaha mendapatkan perhatian kita, bagaimana kita merespons-Nya?

Nubuat Amos terdiri dari peringatan atas penghakiman, penawanan, dan penghancuran. Kendati demikian, tersedia panggilan untuk bertobat dan janji pemulihan: "Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam, akan menyertai kamu" (5:14).

Kitab Amos memiliki banyak frasa yang mudah diingat, tetapi seharusnya kita tidak pernah melupakan undangan Allah bagi semua orang yang menjauh dari-Nya: Kembalilah pada-Ku.

Jika Anda belum kembali, maka kembalilah sekarang juga —DCM

2 Juli 2005

Bawaan Konyol

Nats : Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita (Ibrani 12:1)
Bacaan : 1Korintus 9:24-27

Pada tahun 1845, ekspedisi Franklin yang sial berlayar dari Inggris untuk menemukan suatu terusan yang melewati Laut Artik.

Awak kapal mengisi dua kapal layar mereka dengan banyak barang yang tidak mereka perlukan: perpustakaan yang terdiri dari 1.200 buku, keramik terbaik, gelas kristal, dan peralatan makan yang terbuat dari perak murni, dengan inisial setiap perwira yang diukir pada setiap pegangannya. Yang mengherankan, setiap kapal hanya membawa persediaan batubara cadangan untuk mesin uap yang cuma cukup untuk 12 hari.

Kapal itu terjebak di padang es yang beku dan sangat luas. Setelah beberapa bulan, Lord Franklin tewas. Anak buahnya memutuskan untuk menyelamatkan diri dalam kelompok-kelompok kecil, namun tak ada satu pun yang selamat.

Ada satu cerita yang sangat menyedihkan. Dua perwira menarik sebuah kereta salju besar sejauh 104.585 km melewati es yang berbahaya. Pada saat regu penyelamat menemukan jasad para perwira tersebut, mereka menemukan bahwa kereta salju itu berisi meja perak.

Mereka membuka jalan bagi kematian mereka sendiri dengan membawa barang yang tidak mereka perlukan. Bukankah kita kadang kala melakukan hal yang sama? Kita pun menyeret beban yang tidak kita perlukan dalam kehidupan, bukan? Pikiran-pikiran jahat menghalangi kita. Kebiasaan-kebiasaan buruk merongrong kita. Ketidakrelaan yang tidak kita lepaskan.

Mari kita bertekad menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita DCE

29 Juli 2005

Kulit Jeruk

Nats : Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Korintus 10:12)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Pada tahun 1911, seorang pemeran pengganti bernama Bobby Leach terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang sudah dirancang secara khusus. Ia berhasil terjun dengan selamat dan menceritakan tentang hal itu. Meskipun mengalami beberapa cedera ringan, ia bertahan hidup karena menyadari bahaya yang sangat besar dalam tindakan tersebut, dan ia telah melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya.

Beberapa tahun kemudian, ketika sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di New Zealand, Bobby Leach terpeleset kulit jeruk, jatuh, dan mengalami patah kaki yang parah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal di sana akibat komplikasi dari peristiwa itu. Ia justru mengalami cedera yang lebih parah saat berjalan kaki di New Zealand daripada saat ia terjun di air terjun Niagara. Ia tidak siap menghadapi bahaya di situasi yang dianggapnya aman.

Beberapa godaan hebat yang bergemuruh di sekeliling kita bagaikan suara gemuruh air di Niagara tidak akan membahayakan kita. Akan tetapi, suatu peristiwa kecil yang tampaknya tidak berarti dapat membuat kita jatuh. Mengapa demikian? Karena kita tidak hati-hati dan tak menyadari bahaya yang mungkin terjadi. Kita keliru karena berpikir bahwa kita berada dalam keadaan aman (1Korintus 10:12).

Kita harus selalu waspada terhadap godaan. Orang kristiani yang berkemenangan adalah seorang kristiani yang waspada, yang selalu berhati-hati bahkan ketika menghadapi kulit jeruk yang kecil RWD

3 Agustus 2005

Kami Tidak Butuh Engkau

Nats : Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia? (Yeremia 2:5)
Bacaan : Yeremia 2:5-13

Alkisah sekelompok ilmuwan memutuskan bahwa manusia dapat hidup tanpa Allah. Maka salah seorang dari mereka memandang ke atas, kepada Allah, dan berkata, Kami telah memutuskan bahwa kami tidak lagi membutuhkan Engkau. Kami memiliki cukup hikmat untuk mengkloning manusia dan melakukan banyak hal ajaib.

Allah mendengarkan dengan sabar dan kemudian berkata, Baiklah, mari kita mengadakan kontes penciptaan manusia. Kita akan melakukannya persis seperti Aku dulu menciptakan Adam. Para ilmuwan setuju. Kemudian salah satu dari mereka membungkukkan badan dan mengambil sekepal tanah. Allah memandang dia dan berkata, Oh, tidak! Engkau harus membuat tanahmu sendiri!

Pada zaman Yeremia, bangsa Israel hidup seakan-akan tidak lagi membutuhkan Tuhan. Mereka memercayakan diri mereka kepada ilah-ilah lain, sekalipun ilah mereka itu tidak dapat menanggapi kebutuhan-kebutuhan mereka. Yeremia menentang pemberontakan mereka, karena telah meninggalkan Allah yang sejati dan menunjukkan sikap yang tidak hormat terhadap Dia (Yeremia 2:13,19).

Apakah kita berbuat salah karena telah menjalani hidup seakan-akan tidak membutuhkan Allah? Kita mungkin mengenal Dia sebagai Juruselamat, namun memberhalakan hikmat atau kebebasan kita. Mungkinkah Tuhan berkata tentang kita, Mereka menjauh dari pada-Ku? (2:5).

Hidup jauh dari Allah mempermalukan dan tidak menyenangkan Dia, dan tidak akan pernah memenuhi kebutuhan kita yang terdalam. Namun, kita dapat berbalik kepada-Nya hari ini (3:7) AMC

7 September 2005

Dosaku

Nats : Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1:15)
Bacaan : Kejadian 3:1-6

Hawa menjelaskan aturan kepada setan, si penggoda. Menurut aturan yang ditetapkan Allah, ia dan Adam boleh memakan buah dari pohon mana pun di Taman Eden, kecuali buah dari pohon yang terletak di tengah taman. Katanya, dengan menyentuhnya saja bisa mengakibatkan maut.

Saya dapat membayangkan Setan memalingkan mukanya, dan sambil tertawa meremehkan ia berkata, Sekali-kali kamu tidak akan mati (Kejadian 3:4). Lalu ia mengelabui dengan mengatakan bahwa Allah menyembunyikan hal yang baik dari Hawa (ayat 5).

Selama ribuan tahun, si musuh telah mengulangi strategi itu. Bahkan ia tidak peduli jika Anda percaya terhadap kedaulatan Alkitab, selama ia dapat membuat Anda tidak percaya bahwa yang berada di antara Anda dan Allah adalah dosa.

Sekali-kali kamu tidak akan mati, katanya. Itulah tema dalam banyak novel modern. Lakonnya hidup dalam ketidaktaatan kepada Allah, namun tidak menerima konsekuensinya. Dalam tayangan televisi dan film, para lakonnya memberontak terhadap hukum moral Allah tetapi hidup bahagia selamanya.

Bahkan ada parfum bermerek My sin (dosaku). Aromanya sangat menggoda, menarik, dan menggairahkan, begitu bunyi iklannya, maka sebutan yang paling cocok baginya adalah My Sin. Anda tidak akan pernah menduga bahwa dosa adalah bau yang memuakkan bagi Allah.

Ketika pencobaan menghadang, apakah Anda akan Anda memercayai dusta Setan? Atau akankah Anda menaati peringatan Allah? HWR

26 September 2005

Percayalah!

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : Galatia 6:1-10

Sbuah buku anak-anak yang berjudul The Chance World menggambarkan sebuah planet khayalan di mana segala sesuatu terjadi secara tidak terduga. Misalnya saja, matahari bisa terbit sehari penuh atau bahkan tidak terbit sama sekali, dan bisa muncul pada jam berapa saja. Bulan dapat bersinar selama beberapa hari. Suatu hari Anda dapat melompat dan tidak jatuh lagi ke tanah. Tetapi kemudian keesokan harinya gravitasi menjadi begitu kuat sehingga Anda bahkan tidak dapat mengangkat kaki.

Seorang pakar biologi yang berasal dari Skotlandia, Henry Drummond, berkomentar bahwa di tempat seperti itu, di mana hukum alam tidak berlaku, logika akan menjadi hal yang mustahil diterapkan. Tempat itu akan menjadi dunia yang gila, yang dihuni oleh orang-orang gila.

Kita harus mensyukuri ketergantungan atas hukum-hukum alam yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Hukum alam adalah keuntungan besar bagi kita jika kita mengenali dan menghargainya. Tetapi jika kita melanggar hukum alam, kita akan menanggung akibatnya.

Hal itu juga berlaku untuk hukum rohani Allah, misalnya pada bacaan hari ini. Orang yang mengabaikan standar Allah dan kemudian melayani keinginan dosa akan mengalami kehancuran. Tetapi orang yang mengikuti tuntunan Roh Kudus akan mengalami berkat hidup yang kekal.

Hukum Allah tidak pernah gagal. Apa pun yang terjadi, entah baik atau buruk Anda akan menuai apa yang Anda tabur. Percayalah! RWD

27 September 2005

Ratapan Daud

Nats : Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku akan menjadi tahir, basuhlah aku, aka aku menjadi lebih putih dari salju! (Mazmur 51:9)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Mungkin Anda sudah tahu cerita berikut ini. Raja Daud, penguasa Israel yang paling terkenal, orang yang dekat dengan hati Allah, menjadi pribadi seorang penggoda, pezina, pendusta, pembunuh. Ia menjadi sangat tidak berbelas kasihan dan tidak tergerak oleh kelakuan jahatnya. Penguasa Israel itu telah dikuasai oleh dosa.

Setahun berlalu setelah Daud berzina dengan Betsyeba dan merencanakan pembunuhan terhadap suaminya. Kondisi Daud secara fisik dan emosional memburuk. Pikirannya yang terganggu membuatnya gelisah dan sedih. Ia tidak dapat tidur nyenyak.

Ketika Daud dihadapkan dengan pelanggarannya, ia tidak dapat melakukan pembelaan diri. Ia kemudian berseru, Aku sudah berdosa kepada Tuhan (2Samuel 12:13). Dan Nabi Natan menjawab, Tuhan telah menjauhkan dosamu itu. Walaupun Daud harus menerima akibat buruk dari perbuatan dosanya, ia menerima jaminan pengampunan dari Allah.

Setelah menyadari betapa besar dosa dan akibat-akibatnya, Daud kemudian menuliskan Mazmur 51, nyanyian pertobatan dan permohonan atas pengampunan Allah. Aku sendiri sadar akan pelanggaranku .... Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju (ayat 5,9).

Apakah Anda tengah menanggung akibat dosa? Jika demikian halnya, akuilah kesalahan Anda dan mintalah agar Allah membersihkan hati Anda. Maka Dia akan menunjukkan belas kasihan dan memulihkan sukacita Anda manakala Anda berbalik kepada-Nya DHR

13 Oktober 2005

Mendapat Tikus?

Nats : Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memerhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22)
Bacaan : 1Samuel 15:13-23

Setika sedang memotong rumput, saya melihat gundukan tanah berpasir pada halaman rumput yang selama ini rata. Ternyata rupanya ada satu keluarga tikus pondok yang telah berpindah dari hutan yang terletak di dekat rumah, kemudian tinggal di bawah tanah pekarangan kami. Makhluk-makhluk kecil ini telah merusak halaman rumput kami dengan menggali tanah dan merusak rumput yang indah.

Dalam beberapa hal, aktivitas tikus tersebut menggambarkan sisi gelap hati manusia. Di luar, kita barangkali kelihatan baik dan sopan. Tetapi ketamakan, hawa nafsu, prasangka, dan kecanduan dapat merusak dari dalam. Cepat atau lambat, dosa-dosa itu akan menjadi jelas.

Raja Saul melakukan kesalahan fatal yang telah membusuk di dalam dirinya, yaitu pemberontakan melawan Allah. Ia diperintahkan untuk tidak mengambil jarahan perang dari bangsa Amalek (1 Samuel 15:3). Tetapi sesudah mengalami kemenangan telak, ia membiarkan bangsa Israel menyimpan ternak terbaik untuk mereka sendiri (ayat 9).

Ketika Nabi Samuel menegur raja, Saul berdalih bahwa ia mengambil domba dan lembu tersebut untuk dikorbankan bagi Allah. Tetapi dalih ini hanya untuk menutupi kesombongannya yang penuh dosa, yang kemunculannya bertentangan dengan Allah yang menurut pengakuannya hendak ia layani.

Obat yang ditawarkan Allah bagi pemberontakan adalah pengakuan dan penyesalan. Seperti Saul, Anda mungkin mencari-cari dalih untuk membenarkan dosa Anda. Akui dan tinggalkanlah dosa itu sebelum terlambat -HDF

28 Oktober 2005

Balas Dendam Penebusan

Nats : Jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya (Roma 12:20)
Bacaan : Roma 12:17-21

Dalam buku yang berjudul Rumors Of Another World, Philip Yancey menceritakan kisah yang mengilustrasikan jenis “pembalasan dendam” yang dibicarakan oleh Paulus di dalam Roma 12:20, yaitu ketika ia mengatakan bahwa menunjukkan kebaikan kepada musuh akan “menumpukkan bara api di atas kepalanya”.

Ketika Nelson Mandela memegang jabatan sebagai presiden Afrika Selatan, ia menunjuk sebuah komisi untuk menghukum orang-orang yang telah melakukan tindak kekejaman selama berlangsungnya politik apartheid. Setiap pejabat kulit putih yang dengan sukarela menemui pendakwa dan mengakui kesalahannya tidak akan dihukum.

Suatu hari seorang wanita tua dipertemukan secara langsung dengan pejabat yang telah secara brutal membunuh anak laki-laki satu-satunya dan suami yang sangat dikasihi. Ketika ditanya apa yang ingin ia lakukan terhadap pejabat itu, ia menjawab, “Meskipun saya tidak memiliki keluarga, saya masih memiliki banyak cinta untuk diberikan.” Ia kemudian meminta pejabat itu untuk me-ngunjunginya secara teratur supaya wanita itu bisa memperlakukannya dengan penuh kasih. Kemudian ia berkata, “Saya ingin memeluknya supaya ia tahu bahwa pengampunan saya itu nyata.”

Yancey menulis bahwa ketika wanita tua itu menuju tempat saksi, pejabat itu merasa sangat malu dan menyesal sampai ia pingsan. Kepedihan yang ditusukkan wanita itu bukanlah balas dendam yang penuh dosa, melainkan api pemurnian cinta, yang dikaruniakan Allah yang dapat memunculkan penyesalan dan rekonsiliasi. Itulah balas dendam penebusan -HVL

3 November 2005

Bersembunyi dari Allah

Nats : Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” (Kejadian 3:13)
Bacaan : Kejadian 3:7-13

Ada dua anak laki-laki kakak beradik yang sangat nakal sampai-sampai orangtua mereka kehabisan akal mengatasinya. Maka mereka meminta pendeta untuk berbicara dengan keduanya.

Pertama, pendeta itu menyuruh duduk anak yang lebih muda. Karena ia ingin anak itu berpikir tentang Allah, ia memulai percakapan dengan bertanya, “Di manakah Allah?” Anak itu tidak menjawab, sehingga ia mengulangi pertanyaan itu dengan nada tegas. Ia tetap diam. Dengan putus asa, pendeta itu menunjukkan jarinya ke wajah anak itu dan berteriak, “Di manakah Allah?!”

Anak lelaki itu langsung keluar ruangan, berlari pulang, dan bersembunyi dalam lemari pakaiannya. Kakaknya mengikuti dan bertanya, “Apa yang terjadi?” Si adik menjawab, “Kita dalam masalah besar sekarang. Allah hilang, dan mereka berpikir kita yang menyembunyikannya!”

Hal itu kedengarannya seperti Adam dan Hawa, yang merasa bersalah dan mencoba bersembunyi dari hadapan Allah (Kejadian 3:10). Mereka telah mengenal persekutuan Tuhan yang erat, tetapi kini mereka takut bertemu muka dengan-Nya. Namun, Allah mencari mereka dan bertanya, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Bukannya bertobat, Adam justru menyalahkan Allah dan Hawa, dan Hawa menuduh ular.

Bagaimana respons kita ketika kita telah berdosa terhadap Allah? Apakah kita bersembunyi, dan berharap Dia tak akan mengetahuinya? Jika kita milik-Nya, Dia akan mencari kita. Pilihan yang paling bijaksana adalah keluar dari tempat persembunyian, mengakui dosa, dan memulihkan persekutuan kita -AMC

22 Maret 2006

Si Janggut Hitam

Nats : Engkau tak bercela di dalam tingkah laku-mu ... sampai terdapat kecurangan padamu (Yehezkiel 28:15)
Bacaan : Yesaya 14:12-15

Ketika masih muda, pada akhir dekade 1600-an, Edward Teach memutuskan untuk bergabung menjadi kru sebuah kapal Inggris yang berlayar menuju Karibia. Lama setelah menjadi pelaut, ia kemudian memimpin penangkapan sebuah kapal dagang dan mengubahnya menjadi kapal perang bersenjata 40 buah. Teach kemudian dikenal sebagai si Janggut Hitam -- bajak laut yang paling ditakuti di dunia.

Si Janggut Hitam mengalami banyak keberhasilan selama ia menjadi bajak laut. Akan tetapi, "kariernya" kemudian berakhir begitu saja pada saat ia bertemu dengan rombongan Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dalam sebuah peperangan yang seru, ia dan teman-teman bajak lautnya terbunuh dan peristiwa tersebut mengakhiri pergerakan terorisme mereka.

Dahulu di surga, seorang malaikat jatuh dalam pemberontakan rohani. Lucifer adalah kerub yang berdiri dalam kemuliaan Allah (Yehezkiel 28:11-15). Namun, kecintaannya kepada diri sendiri telah menggantikan cintanya kepada Sang Pencipta. Karena ingin menyamai Sang Mahatinggi, ia memimpin pemberontakan dan akhirnya dicampakkan dari surga (Yesaya 14:12-15). Kini, ia dan pasukannya melakukan apa saja untuk merebut kehidupan manusia (Lukas 8:12; 2 Korintus 4:4).

Walaupun demikian, kita tidak perlu takut. Setan memang musuh yang berbahaya, tetapi Yesus telah menjatuhkan hukuman baginya saat Dia bangkit dari maut. Dan Yesus telah memberi semua yang kita butuhkan untuk bertahan dari serangan iblis (Efesus 6:10-18) --HDF

25 Maret 2006

Ketika Api Padam

Nats : Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran (Amsal 26:20)
Bacaan : Amsal 26:17-28

Jika api telah habis membakar sesuatu, maka ia akan padam. Demikian juga apabila gosip sampai ke telinga seseorang yang tidak akan meneruskannya, maka berakhirlah gosip itu.

Gosip, seperti halnya dosa-dosa yang lain, bagaikan "sedap-sedapan perkataan" (Amsal 26:22). Kita senang mendengar dan menceritakannya kepada orang lain karena "rasanya" mengasyikkan. Gosip berakar pada keinginan kita untuk menyenangkan diri sendiri. Saat kita menjelek-jelekkan orang lain, kita menganggap seolah-olah diri kita lebih baik.

Karena itulah, penyebaran gosip sangat sulit dihentikan. Diperlukan doa dan anugerah Allah agar kita dapat menolak menceritakan atau bahkan mendengar gosip -- bahkan terhadap gosip tersamar dalam keprihatinan pribadi atau permintaan untuk mendoakan teman yang berbuat dosa dan bermasalah.

Kita perlu memohon hikmat dari Allah agar kita dapat mengetahui kapan harus berbicara, apa yang dibicarakan, dan kapan kita perlu menutup mulut. Karena "di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (Amsal 10:19).

Kerap kali, lebih bijaksana apabila kita tetap diam atau tidak banyak mengucapkan kata-kata. Namun apabila kita harus berbicara, marilah kita membicarakan hal-hal yang membangkitkan semangat dan mendorong orang lain untuk lebih dekat dengan Allah, dan bukan hal-hal yang akan melemahkan dan melukai mereka. "Lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan" (Amsal 12:18) --DHR

23 Agustus 2006

Tuhan Bertarung Melawan Kita

Nats : Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat (Yoel 2:14)
Bacaan : Yoel 2:12-17

Dalam kitab nubuat Yoel, Allah menyatakan: "Aku ini ada di antara orang Israel ... umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya" (2: 27). Namun di bagian yang lebih awal pada pasal tersebut, Allah berjanji untuk bertarung melawan bangsa-Nya sendiri. Wabah belalang akan turun kepada bangsa itu seperti pasukan yang sangat kelaparan (ayat 2-11).

Sungguh berat menduga Tuhan akan bertarung melawan bangsa pilihan-Nya. Namun, Israel telah memberikan cinta mereka kepada dewa-dewa lain.

Sebenarnya, Allah pernah bertarung melawan mereka. "Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka" (Hakim-hakim 2:15).

Saya telah belajar bahwa bila hati saya menjauh dari Allah, berarti saya akan membuat Dia bertarung untuk membawa saya kembali kepada-Nya. Apabila saya menjadi sombong dan mengandalkan diri sendiri, serta apabila membaca firman Tuhan dan meluangkan waktu untuk berdoa seakan-akan membuang-buang waktu, maka Allah akan campur tangan dan berurusan dengan saya.

Allah akan bertarung dengan kita demi kebaikan kita. Dia memperkenankan kita mengalami kegagalan sehingga kita akan mendengarkan-Nya apabila Dia berkata, "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia" (Yoel 2:13).

Jangan tunggu sampai Allah bertarung melawan Anda sebelum Anda melihat wajah-Nya. Kembalilah kepada-Nya hari ini -AL

20 November 2007

Menjauhlah!

Nats : Janganlah terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain (1Timotius 5:22)
Bacaan : 1Timotius 5:17-25

Seorang pria kristiani di lingkungan kami menerima promosi yang memberinya penghasilan yang jauh lebih besar. Teman-teman sesama tenaga penjual mendesak agar ia menaikkan gaya hidupnya dengan membeli banyak barang menggunakan kartu kredit. Ia melakukan apa pun yang dilakukan orang lain, misalnya liburan main ski sekeluarga, naik kapal pesiar, membeli perabot baru, melakukan perjalanan belanja yang mewah.

Kemudian penjualan surut, dan gajinya turun. Tekanan itu mengakibatkan ketegangan hebat dalam pernikahannya. Teman-temannya menganjurkan agar ia mengikuti apa yang mereka lakukan: mengakali laporan biaya operasional dan laporan penjualannya. Ia mengikuti anjuran mereka, tetapi ia kemudian diliputi kecemasan dan rasa bersalah.

Seorang sahabat kristiani yang bijaksana mengamati ketegangan yang dialaminya dan berdoa untuknya. Ia kemudian menganjurkan agar ia berani menghadapi kenyataan. Orang percaya yang sedang menderita itu akhirnya berseru kepada Allah dalam rasa malu dan penyesalan. Ia mengakui dosanya, membereskan masalahnya dengan perusahaan, dan membicarakan hal itu dengan istrinya. Kedamaian akhirnya kembali hadir dalam hidupnya.

Ajaran Paulus kepada para penatua dalam bacaan hari ini berlaku untuk semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Ketika sedemikian banyak budaya di dunia digerakkan oleh kesombongan dan ketamakan, ajaran sang rasul agar tidak "terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain" (ayat 22) sangatlah tepat.

Ketika kita tergoda untuk bergabung dengan orang lain dalam perbuatan yang salah, menjauhlah! --DCE

29 Maret 2008

Mengelola Negeri

Nats : Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau" (Kejadian 41:39)
Bacaan : Kejadian 41:25-46

Saat itu, status Yusuf masih narapidana. Namun karena hikmatnya, ia dapat berdiri di hadapan Firaun dan para pegawainya. Raja yang putus asa karena tak seorang ahli pun tahu makna mimpinya (ayat 24), kini mendapat jawaban hebat dan tepat dari narapidana Ibrani ini. Yusuf mengartikan mimpi Firaun bahwa akan ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Namun, ia juga segera memberi jalan keluarnya: sebagian hasil bumi harus disimpan dalam lumbung selama masa kelimpahan, agar di masa kesusahan ada persediaan. Agaknya Yusuf layak disebut ahli ekonomi dan ahli strategi sosial.

Ternyata, berada di negeri asing tak menghalangi kecemerlangan hikmatnya. Ia menabrak batas politis. Dalam tahuntahun berikutnya Yusuf menunjukkan bahwa pilihan Firaun tidak salah. Ia terbukti mumpuni (ayat 53-57). Ini menarik untuk direnungkan. Bukan hanya peningkatannya dari narapidana ke penguasa Mesir, melainkan juga sikap Yusuf yang sungguh memberikan hati untuk mengelola tugas berat di tanah asing. Dengan itu, ia pertama-tama berguna bagi Mesir. Namun kemudian, ia juga berguna bagi Israel, yang pada masa kelaparan tertolong oleh kemakmuran Mesir.

Yusuf melihat bahwa hidupnya yang naik turun-dijual sebagai budak, masuk penjara, sengsara, hingga dimuliakan di Mesir-sebagai karya Allah: "sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (45:5). Mari belajar dari Yusuf yang mengelola hidup demi membawa sejahtera bagi orang lain, masyarakat, dan bangsanya. Mari gunakan hikmat yang Allah karuniakan kepada kita dalam bidang masing-masing, untuk memberkati komunitas di tempat kita hidup -DKL

18 Agustus 2008

Dukung Pemimpin Kita

Nats : "Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!" Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi (Keluaran 32:26)
Bacaan : Keluaran 32:21-35

Dalam perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008 lalu, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, secara khusus menciptakan sebuah lagu penyemangat. Judulnya "Majulah Negeriku". Sebuah lagu yang mengajak seluruh komponen bangsa untuk bangkit dan berjuang, bersama mengubah masa depan, demi kesejahteraan anak cucu. Sebuah lagu yang sarat keyakinan, bahwa Indonesia bisa bangkit menjadi negara yang makmur! Sebuah semangat dan kerinduan seorang pemimpin, yang hanya bisa terwujud jika didukung dan dilaksanakan bersama-sama oleh seluruh bangsa.

Musa, sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh Allah untuk membawa Israel keluar dari Mesir, suatu kali merasa sangat sedih sekaligus marah. Betapa tidak? Bangsa yang dipimpinnya tidak mendukung apa yang ia perjuangkan di hadapan Allah Yang Mahabesar. Mereka malah membuat anak lembu tuangan untuk disembah. Ini sangat mendukakan Allah. Setelah kejadian itu, Musa menantang Israel untuk menentukan sikap; hendak mendukung Musa dan tetap menyembah Allah, atau tidak (ayat 26). Ya, sebagai pemimpin, Musa membutuhkan dukungan penuh dari bangsa yang dipimpinnya. Hanya dengan begitu ia akan mampu menjalankan fungsi kepemimpinanya dengan maksimal, sehingga dapat membawa bangsanya mencapai tujuan, yaitu tanah yang Tuhan janjikan.

Demi kebangkitan bangsa Indonesia tercinta, kita pun perlu mendukung penuh perjuangan para pemimpin kita; entah melalui doa, atau pun usaha-usaha sesuai peran dan kemampuan kita masing-masing. Jauhkan dari pada kita segala sikap yang akan menyusahkan serta menghambat jerih dan juang para pemimpin kita -AW



TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA