Topik : Komitmen

5 Januari 2003

Dalam Tangan Allah yang Aman

Nats : Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38)
Bacaan : Lukas 1:26-38

Pada usia 16 tahun, Jeanne Guyon (1648-1717) dipaksa menikah dengan pria cacat berusia 22 tahun. Namun dalam pernikahannya itu ia merasa sangat direndahkan. Suaminya kerap marah-marah dan bersikap melankolis. Ibu mertuanya seorang pengkritik yang kejam. Bahkan pembantunya pun merendahkan dia. Meski telah berusaha keras membaktikan diri kepada suami dan keluarganya, ia tetap dikecam dengan kejam.

Karena dilarang ke gereja oleh suaminya, ia mencari Allah melalui Alkitab dan beribadah secara sembunyi-sembunyi. Ia belajar bahwa di tengah keadaannya yang suram sekalipun, ia "berada dalam kondisi sangat baik, dalam tangan Allah yang aman". Dalam bukunya Experiencing The Depths Of Jesus Christ (Mengalami Kedekatan yang Dalam Dengan Yesus Kristus), ia menulis, "Sikap berserah penuh [kepada Kristus] merupakan kunci untuk mendapat pemahaman yang sulit dimengerti. Sikap berserah adalah suatu kunci dalam kehidupan rohani."

Bagaimana kita menanggapi berbagai keadaan sulit dengan sikap yang mau menerima dan berserah? Tanggapan Maria kepada malaikat dalam Lukas 1:38 merupakan teladan bagi kita. Satu-satunya cara agar kita memiliki sikap yang sama seperti Maria adalah dengan mempercayai bahwa kehendak Allah itu "baik, ... berkenan kepada Allah, ... sempurna" (Roma 12:2), mengesampingkan kehendak kita sendiri, serta dengan sabar berserah kepada-Nya setiap hari.

Kita pun dapat berdoa demikian: Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu --David Roper

1 Februari 2003

Kebesaran Sejati

Nats : Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu (Markus 10:43)
Bacaan : Markus 10:35-45

Sebagian orang mungkin merasa bagaikan sebutir batu kerikil yang hilang di tengah jurang Grand Canyon yang mahaluas. Namun, seburuk apapun penilaian kita terhadap diri kita sendiri, kita tetap dapat sangat berguna bagi Allah

Dalam sebuah Perjamuan Kudus di awal tahun 1968, Martin Luther King Jr. mengutip sabda Yesus dalam Matius 10 tentang hal melayani. Lalu ia berkata, "Setiap orang bisa menjadi orang besar karena setiap orang bisa melayani. Anda tidak perlu menjadi seorang sarjana untuk melayani. Anda tidak harus pandai berkata-kata untuk bisa melayani. Anda pun tidak perlu mengenal Plato atau Aristoteles untuk bisa melayani .... Anda hanya membutuhkan hati yang penuh kasih karunia, jiwa yang digerakkan oleh kasih."

Ketika para murid Yesus berdebat untuk memperebutkan tempat terhormat di surga, Dia mengatakan kepada mereka: "Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:43-45).

Saya jadi bertanya-tanya. Seperti itukah pengertian kita tentang kebesaran? Apakah kita melayani dengan senang hati, mengerjakan pekerjaan yang mungkin tidak diperhatikan? Apakah pelayanan kita lebih ditujukan untuk menyenangkan Tuhan daripada memperoleh pujian manusia? Jika kita bersedia menjadi pelayan, kita akan mendapatkan kebesaran yang sejati --Vernon Grounds

5 Maret 2003

Ikutlah Aku

Nats : Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Markus 8:34)
Bacaan : Markus 8:34-38

Selama Perang Dunia II, beberapa pesawat pembom B-17 menempuh pernebangan jarak jauh dari daratan AS menuju Saipan, pulau di daerah Pasifik. Saat pesawat-pesawat itu mendarat, mereka disambut oleh sebuah jip yang membawa spanduk bertuliskan “Ikutlah Aku!” Kendaraan kecil itu memimpin semua pesawat raksasa tersebut menuju tempat yang telah disediakan.

Seorang pilot yang mengaku bukan orang saleh memberikan komentar yang mengandung pengertian yang dalam: “Jip kecil dengan tanda unik itu mengingatkan saya kepada Yesus. Dia adalah orang desa [rakyat kecil], tetapi tanpa petunjuk-Nya, orang-orang “besar” di zaman ini akan tersesat.”

Berabad-abad setelah Juruselamat kita berkelana di sepanjang jalan dan perbukitan Israel, dunia dengan segenap kemajuannya masih membutuhkan teladan dan perintah-Nya. Saat kita tidak mengikuti jalan-Nya, maka banyak masalah dan kejahatan akan meningkat di dunia kita, termasuk imoralitas, tindak kriminal, dan keserakahan.

Bagaimana cara kita mengikut Yesus? Pertama, kita haruslah bertobat dari dosa-dosa kita dan mempercayakan hidup kepada-Nya, Juruselamat dan Tuhan kita. Lalu, dengan kuasa Roh Kudus dalam diri kita, kita harus mencari kehendak-Nya tiap-tiap hari dan mempraktikkannya. Kita juga harus belajar menyangkal keinginan egois kita dan menyerahkan diri sepenuhnya untuk mengikut Yesus (Markus 8:34,35).

Jika Anda ingin hidup sesuai dengan maksud Allah, jawablah undangan Yesus: “Ikutlah Aku!” --Vernon Grounds

29 Maret 2003

Sepasang Moccasin

Nats : Sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa (2Samuel 24:24)
Bacaan : 2Samuel 24:18-25

Beberapa tahun yang lalu seorang dokter bekerja di daerah terpencil Minnesota. Suatu ketika salah satu keluarga penduduk asli Amerika memohonnya untuk datang dan membantu penyembuhan nenek mereka yang sudah tua, yang sedang sakit parah. Dokter itu datang, mendiagnosa keadaannya, dan kemudian memberi instruksi terperinci untuk perawatannya.

Nenek itu sembuh, dan beberapa minggu kemudian seluruh keluarga tersebut melakukan perjalanan ke tempat praktik dokter di kota. Mereka menghadiahi dokter itu sepasang moccasin [sepatu dari kulit yang halus bulunya] yang berusia 150 tahun buatan leluhur mereka. Ketika dokter itu mengajukan keberatan karena menganggap pemberian itu terlalu bagus dan berharga, kepala suku itu menjawab, “Anda telah menyelamatkan hidup ibu saya. Kami meminta dengan sungguh-sungguh agar Anda bersedia menerima sepasang mokasin ini. Kami tidak mengungkapkan penghormatan yang besar dengan pemberian yang murah.”

Kita menemukan prinsip yang sama dalam 2 Samuel 24. Daud diminta untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan di tanah milik Arauna. Sebagai raja, ia sebenarnya dapat mengambil sepetak tanah dan ternak untuk dikorbankan, tetapi ia membeli semua itu. Arauna menawari Daud apa-apa yang dibutuhkannya, tetapi Daud berkata ia tidak akan “mempersembahkan kepada Tuhan ... dengan tidak membayar apa-apa” (ayat 24).

Artinya, sebuah pengorbanan ada harganya. Maka, jika Anda memberi kepada Tuhan, berilah dengan murah hati --Dave Egner

5 Mei 2003

Menyerahkan Kendali

Nats : Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6)
Bacaan : Roma 8:1-11

Saat mengunjungi kawan yang menderita Lou Gehrig [penyakit yang menyerang saraf otak dan jaringan saraf tulang belakang, mengakibatkan kelumpuhan], saya bertanya pelajaran apa yang Allah ajarkan kepadanya selama masa sulit tersebut. Secara spontan wanita itu menjawab, "Kehilangan kendali."

Dulu ia adalah orang yang sangat teratur dan mandiri. Pekerjaan menuntutnya untuk sering pergi jauh dan menempuh perjalanan panjang. Namun, kini ia harus bergantung kepada orang lain dalam segala hal, mulai dari berpakaian sampai menggosok gigi. Ia tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Yang dapat ia kendalikan hanyalah apa yang ia pikirkan dan ucapkan. Ia sadar sebentar lagi ia pun tidak akan bisa bicara. "Saya dulu selalu mengutamakan pekerjaan," katanya, "dan tidak pernah benar-benar memasrahkannya kepada Tuhan. Namun, kini saat saya tak dapat mengendalikan semuanya, saya bisa terus terpaku pada keterbatasan fisik saya atau justru menyerahkannya kepada Kristus."

Kita juga punya pertanyaan yang sama, "Apakah hari ini saya akan mengendalikan sendiri hidup saya atau menyerahkannya kepada Tuhan?" Hidup yang hanya memenuhi keinginan diri sendiri sama artinya dengan membiarkan diri dikendalikan keinginan dosa. Paulus berkata, hidup yang demikian akan membawa kita pada kematian, "tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Roma 8:6).

Kelak, kita pun akan kehilangan kendali atas hidup kita, yakni saat kita bertambah tua. Menyerahkan kendali kepada Allah adalah pilihan yang bisa kita buat setiap hari, mulai hari ini --David McCasland

8 Mei 2003

Mati untuk Hidup

Nats : Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Lukas 9:23)
Bacaan : Lukas 9:18-26

Salib pada zaman Romawi dirancang untuk kematian. Hanya untuk itu. Lalu apa maksud Yesus ketika Dia me-ngatakan bahwa siapa pun yang ingin mengikut Dia harus "memikul salibnya setiap hari" (Lukas 9:23)? Perkataan-Nya itu tidak berarti bahwa kita semua harus disalibkan secara jasmani. "Salib" yang Dia maksud adalah tindakan mematikan keinginan hati kita dan sikap penyerahan diri tanpa syarat pada kehendak Allah.

Kematian yang dimaksud di sini adalah penyangkalan terhadap keinginan kita akan rumah yang lebih besar, anak-anak yang lebih penurut, dan teman-teman yang selalu siap membantu. Kita juga diharapkan mampu menanggung beban ketika disalahpahami, dipermalukan, dan kehilangan harga diri, termasuk untuk mampu menerima berbagai situasi yang tidak bisa diubah. Utusan Injil dan penyair Amy Carmichael rupanya mengenal dengan baik apa itu kesengsaraan dan penderitaan. Oleh sebab itu ia menulis, "Dalam penerimaan ada kedamaian."

Yesus mengatakan bahwa kita harus memikul salib setiap hari. Ketika bangun setiap hari, hendaknya kita dengan ceria serta berani memikul beban kita, karena ada hal lain yang juga diberikan "setiap hari". Hal lain itu ialah kasih karunia-Nya yang senantiasa cukup setiap hari, sebab justru dalam kelemahan kitalah kuasa-Nya menjadi sempurna (2Korintus 12:9). Dia tidak akan pernah meninggalkan ataupun membiarkan kita (Ibrani 13:5). Dia berjanji bahwa melalui kematian rohani kita, Dia akan membuat kita lebih hidup daripada sebelumnya (1Korintus 15:53-57).

Sudahkah Anda mati untuk hidup? --David Roper

30 Juni 2003

Setiap Senti Diri Saya

Nats : Sebab itu tabahkanlah hatimu, Saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku (Kisah 27:25)
Bacaan : Kisah 27:13-26

Beberapa saat sebelum Peter Doot me-ninggal di usia 92 tahun, ia berkata, "Tinggi saya 193 sentimeter, dan setiap senti diri saya adalah milik Allah." Saya telah mengenalnya selama 65 tahun, dan saya yakin yang dikatakannya benar.

Semasa muda, Peter meninggalkan pekerjaan dengan gaji besar supaya ia dapat melayani sebagai pengabar Injil untuk gerejanya. Ia telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi ratusan jiwa, walaupun ia hanya mengenyam sedikit pendidikan formal. Saat saya berusia 19 tahun, ia menantang saya untuk menjadi saksi dan memberitakan Injil pada pertemuan-pertemuan di sudut jalan.

Apa yang membuat Peter begitu mengesankan? Cara hidupnya. Setiap orang dapat melihat jelas bahwa Allah adalah Tuannya.

Demikian juga dengan Rasul Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 27, kita membaca bahwa ketika ia menjadi tahanan yang akan dibawa ke Roma, kapal yang membawanya terkena badai topan. Bahkan para kelasi kapal telah putus asa. Namun, ketika Paulus berbicara, setiap orang mendengarkan dan kembali memiliki harapan. Bahkan perwira dan prajurit Romawi mengikuti petunjuknya. Mengapa? Karena Paulus memang orang pilihan Tuhan yang menyampaikan kebenaran. Mereka mempunyai alasan yang baik untuk mempercayainya ketika ia berkata tentang "Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya," dan ketika ia berkata bahwa tidak seorang pun akan kehilangan nyawanya (ayat 22,23).

Marilah kita menyerahkan diri kepada Allah supaya kita pun dapat berkata, "Setiap senti diri saya adalah milik Tuhan" --Herb Vander Lugt

20 September 2003

Cara Jalan Merpati

Nats : Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya (Daniel 6:11)
Bacaan : Daniel 6:1-11

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa cara berjalan burung merpati tampak lucu? Karena dengan cara berjalan seperti itu, ia menjadi tahu arah yang dituju. Merpati tidak dapat memusatkan penglihatannya sambil berjalan. Oleh sebab itu, setiap kali melangkah ia perlu memundurkan kepalanya sejenak untuk memusatkan kembali pandangannya. Gerakannya jadi tampak canggung, kepala maju ke depan, berhenti, mundur ke belakang, berhenti.

Dalam perjalanan rohani bersama Tuhan, kita memiliki masalah yang sama seperti merpati itu. Terkadang kita merasa sulit untuk melihat sambil berjalan. Kita perlu berhenti sejenak sebelum melangkah lagi, dan memusatkan perhatian kembali pada firman dan kehendak Allah. Bukan berarti kita harus berdoa dan merenungkan setiap keputusan kecil dalam hidup kita. Namun, perjalanan kita bersama Tuhan perlu dibangun dalam suatu pola pemberhentian sejenak yang memungkinkan kita untuk melihat dengan lebih jelas sebelum melangkah maju.

Kebiasaan Daniel berdoa tiga kali sehari merupakan bagian penting dari perjalanannya bersama Allah (Daniel 6:11). Daniel tahu ada suatu pemusatan perhatian kembali secara rohani yang tak dapat dilakukan tanpa berhenti dahulu. Pemberhentian sejenak ini memberinya bentuk perjalanan yang berbeda, yang sangat jelas terlihat oleh orang-orang di sekelilingnya.

Bagaimana dengan kita? Dengan risiko dianggap berbeda dengan orang lain, seperti halnya Daniel, marilah kita memetik pelajaran berharga dari burung merpati: "terlihat menarik" tidaklah sepenting "melihat dengan baik" --Mart De Haan

23 September 2003

Komitmen untuk Melayani

Nats : Ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, ... bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku (Rut 1:16)
Bacaan : Rut 1:1-18

Perkataan Rut yang terkenal itu kerap kita dengar pada upacara- upacara pernikahan di Barat. Padahal sebenarnya perkataan ini diucapkan oleh seorang janda muda yang berduka kepada ibu mertuanya, Naomi.

Rut berkata, "Ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku" (Rut 1:16). Rut tidak memiliki ikatan budaya maupun ikatan hukum dengan Naomi, yang juga seorang janda yang hidup sendirian. Tidak akan ada seorang pun yang akan menyalahkan Rut bila ia memilih untuk tetap tinggal bersama kaumnya di Moab, di mana kemungkinan untuk menikah lagi lebih besar.

Bahkan Naomi juga mendesak Rut untuk tetap tinggal di Moab. Namun, Rut telah berketetapan untuk pergi bersama mertuanya ke Yudea dan menjadi pengikut Allah Naomi. Pengabdian Rut yang tidak mementingkan diri sendiri ini layak mendapat pujian. Boas, calon suami Rut, berkata kepadanya, "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati .... Tuhan kiranya membalas perbuatanmu itu" (2:11,12).

Janji-janji yang diucapkan saat menikah begitu penuh harapan dan makna. Namun, perkataan Rut bertahan sampai berabad-abad karena komitmennya yang teguh kepada Allah dan orang yang membutuhkan. Rut menunjukkan kepada kita nilai pengorbanan kasih bagi Tuhan, dan bahwa berkat-Nya yang melimpah akan tercurah bagi setiap orang yang mau memberi diri dengan sukarela bagi orang lain --David McCasland

12 Januari 2004

Suam-suam Kuku

Nats : Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas (Wahyu 3:15)
Bacaan : Wahyu 3:14-22

Saya menyukai sup yang panas mengepul dan minuman ringan yang sedingin es. Saya tidak suka jika salah satunya suam-suam kuku. Yesus juga bersikap seperti itu terhadap mereka yang mengaku sebagai anak-Nya. Dia tidak suka hal yang suam-suam kuku. Dia berharap agar mereka dingin atau panas (Wahyu 3:15).

Sebagian orang menganggap istilah dingin mengacu pada perlawanan terhadap Yesus dan Injil. Namun, menurut saya tidak mungkin Dia lebih memilih perlawanan daripada pelayanan yang setengah hati. Saat menasihati jemaat Laodikia, mungkin yang ada di benak Yesus adalah dua mata air di daerah itu, yaitu mata air panas mineral di Hierapolis dan mata air dingin yang jernih di Kolose. Mata air panas dipercaya dapat mengobati penyakit, sementara mata air dingin memberikan kesegaran. Jadi, orang-orang kristiani di Laodikia tidak menjadi sumber penyembuhan bagi penyakit rohani, dan tidak juga memberikan kesegaran bagi orang yang letih. Mereka adalah orang yang suam-suam kuku dan tidak menjadi penolong bagi yang lain.

Anda perlu menanyakan hal-hal berikut: Apakah saya memberikan kesegaran bagi orang yang letih rohani dengan memberikan dorongan semangat, sukacita, dan pengharapan bagi mereka? Apakah saya membawa kesembuhan dengan cara menantang orang-orang yang acuh tak acuh, menunjukkan kebenaran bagi yang tersesat, dan memotivasi yang tak bersemangat? Ingatlah, kita tidak dapat menolong siapa pun jika kita suam-suam kuku. Tuhan ingin agar kita menjadi dingin atau panas, tergantung pada kebutuhan sesama kita saat itu --Herb Vander Lugt

31 Januari 2004

Waktu yang Berpacu

Nats : Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12)
Bacaan : Mazmur 90:10-17

Banyak ungkapan dalam karya sastra yang digunakan untuk menggambarkan singkatnya hidup. Hidup adalah sebuah mimpi, pelari cepat, sesuatu yang sukar dimengerti, segumpal asap, sebuah bayangan, lambaian di udara, goresan kalimat di atas pasir, seekor burung yang terbang di jendela sebuah rumah, dan masih banyak lagi. Satu ungkapan lain diusulkan oleh teman saya bahwa tanda sambung berupa garis pendek antara tanggal kelahiran dan kematian di batu nisan menunjukkan singkatnya hidup seseorang.

Ketika kita masih kecil, tampaknya waktu hanya berputar-putar. Namun ketika kita hampir mendekati ajal, waktu berpacu semakin cepat, seperti pusaran air yang turun ke pembuangan. Pada masa kanak-kanak, kita mengukur usia dalam skala kenaikan yang kecil. Kita berkata, "Saya berumur 6 1/2 tahun." Sepertinya butuh waktu yang lama untuk bertambah umur. Kini kita tidak mengukur waktu seperti kanak-kanak lagi. Siapakah yang mengatakan usianya 60 1/2 tahun?

Baik kiranya bila kita sesekali merenungkan singkatnya kehidupan. Hidup ini sangat singkat untuk dijalani dengan ceroboh. Dalam Mazmur 90, setelah menjelaskan singkatnya kehidupan, Musa berdoa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (ayat 12).

Untuk memanfaatkan sebaik-baiknya keberadaan kita di dunia ini, kita harus menyerahkan diri pada kehendak Allah (1Petrus 4:2). Ini dapat kita lakukan bahkan ketika waktu hampir habis. Tidak ada kata terlambat untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah --David Roper

9 Maret 2004

Uang dan Waktu

Nats : “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17)
Bacaan : Markus 12:13-17, 28-31

Selama perjalanan ke London, saya mengunjungi Museum Bank of England, lalu terus ke Museum Clockmakers. Dalam beberapa hal, saya terkejut saat menyadari bahwa uang dan waktu telah menjadi komoditas sangat penting sejauh ingatan manusia. Namun, keduanya juga menghadirkan satu dilema besar dalam hidup. Kita memanfaatkan waktu yang berharga untuk bekerja mencari uang, lalu menghabiskan uang kita untuk menikmati waktu libur. Kita jarang memiliki keduanya secara seimbang.

Sebaliknya, Tuhan tidak pernah dipusingkan oleh uang atau waktu. Ketika ditanya apakah membayar pajak kepada Kaisar itu sah menurut hukum, Yesus menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17). Meskipun kesibukan-Nya menyita waktu, Yesus meluangkan waktu di pagi hari dan larut malam untuk berdoa, mencari dan melakukan kehendak Bapa-Nya.

Penulis himne Frances Havergal menulis:

Ambillah hidupku, dan biarlah
Diabdikan kepada-Mu, Tuhan;
Ambillah waktu-waktu dan hari-hariku,
Biarlah mereka mengalir dalam pujian tanpa henti.
Ambillah perakku dan emasku,
Tak sedikit pun akan kutahan;
Ambillah kepandaianku dan pakailah
Setiap kekuatan yang akan Kaupilih.

Kita dapat menyeimbangkan waktu dan uang dengan sebaik-baiknya jika kita mempersembahkan diri tanpa syarat kepada Allah—David McCasland

22 Juni 2004

“ikutlah Aku”

Nats : Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku ....” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Markus 1:17,18)
Bacaan : Markus 3:13-19

Tujuh orang terpilih untuk menjadi astronot pertama ketika Amerika Serikat meluncurkan program luar angkasa pada tahun 1958. Bayangkanlah kegembiraan yang dialami Scott Carpenter, Gordon Cooper, John Glenn, Gus Grissom, Walter Schirra, Alan Shepard, and Deke Slayton karena terpilih untuk pergi ke tempat yang belum pernah didatangi seorang manusia pun.

Namun, sebagai astronot mereka tahu bahwa mereka akan menghadapi berbagai bahaya, tantangan, dan cobaan yang tak terduga. Setiap astronot tersebut menyadari bahwa kebanggaan yang mereka rasakan sebagai orang yang terpilih sedang dihadapkan dengan rasa takut untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Bayangkanlah kelompok lain yang dipilih untuk suatu tugas penting: 12 rasul Yesus yang suatu hari dipilih Yesus di sisi bukit dekat Danau Galilea. Orang-orang ini meninggalkan pekerjaan dan keluarga mereka untuk membaktikan diri kepada guru baru mereka yang radikal. Mereka tidak mengetahui tantangan politik, agama, dan keuangan yang akan mereka hadapi. Walaupun demikian, mereka tetap mengikuti Yesus.

Yesus meminta hal yang sama dari umat-Nya saat ini. Dia meminta setiap kita untuk mengikuti-Nya, mengasihi-Nya, menaati-Nya, dan memberitakan tentang Dia kepada semua orang. Seperti para rasul, kita juga tidak mengetahui akibat dari komitmen kita kepada Yesus.

Tuhan, tolonglah kami untuk mengikuti-Mu dengan setia dan memercayakan seluruh masa depan kami kepada-Mu —Dave Branon

27 Juli 2004

Senang Sekaligus Sedih

Nats : Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; .... Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga (Matius 6:19,20)
Bacaan : Lukas 12:16-21

Ada sebuah legenda kuno tentang tiga pria berkuda yang sedang melintasi padang gurun pada suatu malam. Ketika mendekati sebuah dasar sungai yang kering, mereka mendengar sebuah suara yang memerintahkan mereka untuk turun, mengambil beberapa kerikil, memasukkannya ke dalam saku mereka, dan tidak melihatnya hingga keesokan paginya. Mereka dijanjikan bahwa jika mereka mematuhi perintah itu, mereka akan senang, tetapi juga sedih. Setelah mereka melakukan seperti yang diperintahkan, ketiga pria itu menunggangi kuda mereka dan melanjutkan perjalanan.

Ketika fajar mulai merekah, ketiga pria itu merogoh saku mereka untuk mengeluarkan kerikil-kerikil itu. Mereka terkejut sekali karena mendapati kerikil-kerikil itu telah berubah menjadi intan, batu delima, dan batu permata berharga lainnya. Kemudian mereka menyadari arti dari janji yang mengatakan bahwa mereka akan menjadi senang, tetapi juga sedih. Mereka gembira karena telah mengambil kerikil sebanyak yang mereka ambil, tetapi juga menyesal -- sangat menyesal -- karena tidak mengumpulkan lebih banyak lagi.

Saya bertanya-tanya apakah kita juga akan memiliki perasaan serupa ketika sampai di surga. Kita akan bahagia atas harta yang kita simpan di surga selagi di bumi, dan bersukacita atas penghargaan yang akan Kristus berikan kepada kita. Tetapi kita pun akan menyesal karena tidak berbuat lebih banyak untuk melayani-Nya.

Mari pergunakan kesempatan kita dengan baik sehingga kita akan lebih senang daripada sedih —Richard De Haan

30 Juli 2004

Teruskan!

Nats : Firman-Ku ... tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki (Yesaya 55:11)
Bacaan : Yesaya 55:6-13

Mereka mengenal baik Thomas Dotson di penjara Michigan. Mereka pastilah mengenalnya, karena ia menghabiskan waktu lebih dari satu dekade mendekam di balik jeruji penjara.

Tom memberikan kesaksian di perjamuan tahunan bagi para pendeta penjara di Muskegon, Michigan. Ia bersaksi bahwa ia tumbuh besar di dalam sebuah keluarga kristiani, tetapi ia kemudian memberontak dan menolak Injil. Istrinya, yang bernyanyi di perjamuan itu, tetap menyertainya kendati ia telah gagal berulang kali. Ada seorang pendeta penjara yang dengan setia mendampinginya, sehingga Tom berserah sepenuhnya kepada Yesus Kristus, dan hidupnya diubahkan.

Dotson mengimbau para pelayan Tuhan, katanya, “Teruskan pelayanan Anda terhadap orang-orang seperti saya, tak peduli betapa frustrasinya hal itu. Kami mungkin mengalami banyak kemunduran. Tetapi jangan menyerah. Ada kekuatan untuk berubah bahkan pada orang yang paling frustasi sekalipun, melalui pengurbanan Kristus, Pribadi yang benar-benar membebaskan kita.” Kemudian, sambil menatap pendeta penjara yang telah dengan sabar bersaksi kepadanya, Tom berkata dengan lembut, “Terima kasih karena tidak menyerah terhadap saya.”

Allah akan memberikan “pengampunan dengan limpahnya” kepada semua orang yang datang kepada-Nya (Yesaya 55:7). Firman-Nya yang penuh kuasa dapat membawa perubahan (ayat 11), membebaskan baik pria maupun wanita dari penjara dosa (Yohanes 8:32).

Apakah Anda hampir menyerah terhadap seseorang yang Anda pikir tidak akan pernah berubah? Jangan! Teruskan! —Dave Egner

15 Agustus 2004

Sepaket Lengkap

Nats : Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1Korintus 6:20)
Bacaan : Kolose 1:19-23

Sudah bertahun-tahun keluarga kami tinggal di rumah yang sama, dan sekarang tibalah saatnya bagi kami untuk menikmati suasana yang berbeda. Akhirnya kami menemukan rumah yang kami sukai, dan melakukan penawaran untuk membelinya.

Kami harus memastikan apakah rumah itu dijual beserta lemari es dan kompornya. Namun, kami tahu ada beberapa barang yang tidak ikut dijual. Perabot tidak termasuk dalam penjualan rumah itu. Dan sambil bergurau saya bertanya apakah kami juga akan mendapatkan mobil yang disimpan di garasi rumah itu.

Ketika membeli rumah, Anda mungkin tidak mendapatkan rumah yang lengkap beserta isinya. Biasanya sang pemilik lama membawa serta barang-barang miliknya, meskipun mungkin Anda diberi pilihan untuk membeli sebagian barang tersebut.

Banyak hal dalam hidup ini dapat dipilih mana yang akan dibeli. Tetapi itu tidak berlaku bagi iman kita di dalam Yesus Kristus. Ketika Yesus membeli kita dengan darah-Nya di atas kayu salib, Dia tidak hanya mendapatkan sebagian diri kita. Dia bukan hanya Tuhan atas hal-hal religius; Dia memiliki segalanya. Jadi, mengapa kadang kala kita hidup seolah-olah sebagian diri kita bukan milik Yesus? Itu tidak adil bagi Sang Pembeli.

"Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar," tulis Paulus. "Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:20).

Kristus membeli kita secara utuh -- tubuh, jiwa, dan roh. Pastikanlah bahwa kita mengizinkan-Nya memakai diri kita seutuhnya bagi kemuliaan-Nya --Dave Branon

12 Oktober 2004

Diperlukan Bantuan!

Nats : Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Matius 16:24)
Bacaan : 2Timotius 2:1-13

Barangkali iklan paling efektif yang pernah ditulis adalah iklan di sebuah surat kabar di London pada awal abad kedua puluh. Iklan itu mengatakan demikian: "Diperlukan para pria untuk menempuh perjalanan berbahaya. Upah rendah, cuaca amat dingin, gelap gulita selama berbulan-bulan, bahaya selalu menghadang. Diragukan untuk kembali dengan selamat." Kata-kata dalam iklan tersebut ditulis oleh Sir Ernest Shackleton. Ia adalah penjelajah Kutub Selatan yang terkenal.

Mengomentari tanggapan luar biasa yang diperolehnya, Shackleton berkata demikian, "Seakan-akan semua pria di Inggris berketetapan untuk pergi bersama kami."

Kata-kata Shackleton mengingatkan saya akan ucapan Yesus di dalam Matius 16:24, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Tuhan memanggil orang-orang untuk pergi bersama dengan Dia di dalam sebuah perjalanan berbahaya, yakni jalan salib. Dia melontarkan panggilan itu setelah memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi ke Yerusalem untuk menderita dan dibunuh.

Selama berabad-abad, ribuan orang telah menanggapi perkataan Yesus dengan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Dia. Namun tidak seperti ekspedisi Shackleton yang sudah berakhir, pekerjaan Tuhan masih berlanjut dan untuk itu masih diperlukan sukarelawan. Dia terus memanggil orang-orang yang bersedia melayani Dia tanpa memandang harganya.

Apakah Anda sudah menjawab panggilan-Nya? --Richard De Haan

31 Desember 2004

Dulu, Kini, dan Nanti

Nats : Aku berlari-lari kepada tujuan ... Saudara-saudara, ikutilah teladanku (Filipi 3:14,17)
Bacaan : Filipi 3:15-21

Pada lukisan “An Allegory of Prudence”, seniman Venesia abad ke-16, Titian, memotret Kebijaksanaan sebagai seorang lelaki berkepala tiga. Kepala pertama adalah kepala orang muda yang menghadap masa depan, yang kedua kepala orang dewasa yang menatap masa kini, dan yang ketiga kepala orang tua bijaksana yang menatap masa lampau. Di atas kepala mereka, Titian menulis ungkapan Latin yang artinya, “Dari contoh masa lalu, manusia masa kini bertindak bijaksana supaya tidak menghancurkan masa depan.”

Kita butuh hikmat seperti itu untuk mengatasi kecemasan akibat kegagalan masa lampau, dan ketakutan akan terulangnya kegagalan yang sama di masa datang, yaitu kecemasan yang terus menghalangi kita hidup sepenuhnya di masa kini.

Paulus bisa “melupakan” masa lalunya dan menantikan masa depannya (Filipi 3:13,14). Itu tidak berarti bahwa ingatannya dihapus. Ini berarti Paulus bebas dari rasa bersalah dan kesombongan yang ia rasakan akibat perbuatannya di masa lampau, karena Allah telah mengampuninya. Sikap ini memungkinkannya hidup di masa kini dan “berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” (ayat 14). Ia punya hasrat yang mendorongnya, yaitu mengenal Kristus lebih baik.

Sambil menutup tahun 2004, mari kita arahkan kembali diri kita kepada Kristus. Yesus akan memampukan kita untuk hidup sepenuh-nya di masa kini, karena kita memperoleh kebijaksanaan dari masa lampau dan menghadapi masa depan dengan penuh keberanian —Dennis De Haan

27 Januari 2005

“kekristenan Konsumen”

Nats : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23)
Bacaan : Lukas 9:18-26

Dalam buku The Empty Church, sejarawan Thomas C. Reeves berkata, “Kekristenan di Amerika modern . . . cenderung mudah, menggembirakan, nyaman, dan kompatibel. Tidak diperlukan pengorbanan diri, disiplin, kerendahan hati, pandangan mengenai dunia yang dituju setelah kematian, hasrat bagi jiwa-jiwa, takut dan juga kasih akan Allah. Hanya ada sedikit rasa bersalah dan tak ada penghukuman, serta upah di surga pada hakikatnya pasti. Apa yang kita miliki sekarang mungkin sangat cocok diberi label ‘Kekristenan Konsumen’. Harganya murah dan kepuasan konsumen tampaknya terjamin.”

Jika kita hanyalah konsumen dari Allah yang Perkasa, kita dapat menjadi selektif dalam iman dan menolak segala sesuatu yang tidak kita sukai. Tetapi itu bukanlah gagasan yang kita peroleh dari Yesus. Dia mengarahkan kita ke salib, tidak ke meja pengecekan barang rohani. Dia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:23,24). Kristus mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita, bukan untuk kepuasan kita. Dan Dia memanggil kita untuk memercayai-Nya, kemudian mengikuti-Nya dengan hidup dalam penyangkalan diri.

Di dalam dunia ini, di mana konsumen selalu menjadi pihak yang benar, diperlukan ketaatan yang radikal kepada Allah supaya kita dijauhkan dari keikutsertaan dalam “Kekristenan Konsumen” —David McCasland

28 Januari 2005

Semut dan Gajah

Nats : Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah (1 Korintus 15:34)
Bacaan : Amsal 6:6-11

Gajah laut menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk tidur. Majalah Science News melaporkan, “Gajah laut jantan berukuran 4,8 meter, diukur dari hidungnya yang menyerupai belalai sampai ke bagian sirip. Dan berat mereka sekitar 3 ton. Kadang-kadang, seekor gajah laut akan menggunakan sirip depannya—yang sangat kecil bagi makhluk raksasa ini—untuk menggaruk dirinya atau mengais pasir pelindung matahari pada tubuhnya.” Selain itu binatang raksasa ini pada dasarnya tak bergerak.

Selanjutnya artikel itu menyatakan bahwa hal itu dikarenakan mereka tidak makan selama di darat pada musim berkembang biak, mereka tidur hampir sepanjang waktu. Selain menggaruk-garuk, bergulingan di lumpur, atau berguling-guling, binatang berat ini jarang bergerak.

Sebaliknya, semut kecil tampaknya tidak merasa lelah sewaktu mereka mulai melakukan pekerjaan secara tekun, yaitu menyimpan makanan untuk koloninya. Penulis kitab Amsal memuji kerajinan semut, mengutip keaktifan mereka sebagai contoh bagi orang yang mau hidup secara bijaksana.

Ada pelajaran rohani di sini. Orang-orang kristiani yang pola pelayanannya seperti semut, menyelesaikan segala sesuatu bagi Tuhan. Tetapi lainnya, seperti gajah laut, jarang bergerak. Mereka tampaknya hampir tidak hidup secara rohani, seolah-olah mereka menghemat energi untuk beberapa usaha yang sangat besar nantinya. Tetapi sekaranglah waktunya untuk sibuk bagi Kristus, meskipun talenta kita mungkin tampak tidak berarti.

Tirulah semut, bukan gajah laut —Dave Egner

12 April 2005

Rumah Papan

Nats : Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (Hagai 1:4)
Bacaan : Hagai 2:2-10

Nubuat Hagai di dalam Kitab Suci acap kali dilewatkan. Padahal di dalamnya terkandung banyak hal penting bagi kita. Kitab yang singkat ini berisi empat pesan Allah kepada orang-orang buangan Yahudi yang telah kembali dari Babel. Misi mereka adalah membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.

Mereka mengawalinya dengan baik. Namun kemudian semangat mereka menyusut dan justru membangun rumah bagi mereka sendiri. Dalam pesan pertamanya, Hagai bertanya, "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?" (1:4).

Di dalam pesan keduanya (2:2-10), Hagai bertanya apakah ada orang yang mengingat bait Allah yang dibangun oleh Salomo dan dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar. Ternyata tidak banyak orang tua yang pernah mengalami pembuangan itu, yang dapat mengingat kejayaan masa silam. Jika dibandingkan, proyek pembangunan yang diabaikan tersebut tampak menyedihkan.

Marilah kita renungkan selama beberapa saat tentang pekerjaan membangun gereja. Bagi kita, gereja merupakan tubuh Kristus, yaitu orang-orang percaya itu sendiri (1 Korintus 12:27). Misi kita sebagai pengikut Yesus adalah menjadi kuat, mengabdi, bertumbuh, serta bersaksi.

Bagaimanakah keadaan jemaat yang Anda hadiri? Apakah jemaat itu sibuk mengerjakan pekerjaan Allah? Apakah Anda terlibat? Ataukah pikiran Anda telah terganggu dengan pekerjaan membangun "rumah-rumah papan" Anda sendiri? —DCE

15 Juni 2005

Bekerja dengan Bijak

Nats : Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang (Yohanes 9:4)
Bacaan : Yohanes 9:1-11

Pada sebuah potret di tembok rumah saya, terlihat sebuah garu berkarat yang tersandar di sebuah tiang di sebuah kebun sayuran yang ditumbuhi ilalang dengan lebat. Saya mengambil foto itu beberapa bulan setelah ayah mertua saya meninggal dan tak ada seorang pun yang merawat kebun yang biasanya terpelihara dengan baik. Suatu sore, ia menyandarkan garunya di sebuah tiang, berjalan masuk rumah, dan tak pernah keluar lagi.

Potret itu mengatakan kepada saya dua hal mengenai pekerjaan: Pertama, saya harus melakukannya selagi masih bisa. Kedua, saya harus tetap terfokus pada pekerjaan itu dan tidak membuatnya lebih penting daripada yang sebenarnya. Karena waktu hidup saya terbatas, saya butuh hikmat dari Allah agar dapat memanfaatkan setiap waktu seperti yang seharusnya.

Ketika Yesus menyembuhkan seorang lelaki yang buta sejak lahir, Dia berkata kepada murid-murid-Nya, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia" (Yohanes 9:4,5).

Saat Yesus mengerjakan "kebun" milik Bapa-Nya di bumi, Dia menunjukkan bagaimana bekerja dengan bijaksana, yaitu dengan menyeimbangkan antara kerja dan istirahat. Ia tidak pernah menganggap produktivitas lebih penting daripada doa, dan Dia tidak pernah terlalu sibuk dengan sebuah program sehingga tak sempat menolong sesama yang membutuhkan.

Tuhan, berilah kami hikmat untuk bekerja dengan setia selama hari masih siang —DCM

23 Juni 2005

Memperoleh Penghormatan

Nats : Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)
Bacaan : Daniel 1:1-16

Ketika seorang musisi profesional dengan nama panggilan "Happy" memutuskan untuk menjadi orang kristiani, ia berhenti bermain musik di klub malam dan melayani di sebuah misi penyelamatan. Beberapa waktu kemudian, ia ditelepon oleh seorang manajer klub yang ingin mengontraknya untuk melakukan pertunjukan yang akan mendatangkan banyak uang. Namun, Happy menolak tawaran tersebut, dan berkata kepada sang manajer bahwa ia akan bermain musik di pelayanan misi. Happy berkata, "Ia mengucapkan selamat kepada saya. Itu membuat saya terkejut. Ia hendak mengontrak saya untuk bernyanyi untuknya, tetapi ia justru mengucapkan selamat karena saya telah menolak tawarannya." Manajer itu menghormati keputusan Happy.

Daniel menjadi tawanan di negeri asing, namun ia tidak melupakan prinsip keagamaannya. Ia tidak mungkin dapat dengan sepenuh hati memakan daging yang telah dipersembahkan bagi berhala dan yang tidak disembelih menurut hukum Ibrani. Ia kemudian hanya meminta makanan sederhana yaitu berupa sayuran dan air, dan pelayan itu menanggung risiko kehilangan nyawa untuk menghormati permintaannya. Saya percaya, pelayan itu melakukannya karena tingkah laku Daniel yang baik membuatnya menghormati Daniel.

Dunia sekitar kita akan memandang remeh terhadap orang-orang kristiani yang tidak menjalankan apa yang telah mereka yakini. Oleh karena itu, kita harus senantiasa setia pada keyakinan kita. Kekonsistenan karakterlah yang membuat orang lain menghormati kita—HVL

24 Agustus 2005

Panggilan Utama Kita

Nats : Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku (Keluaran 19:4)
Bacaan : Keluaran 19:1-8

Di dunia yang mengedepankan kinerja, umat kristiani kerap beranggapan bahwa panggilan utama Allah atas hidup mereka adalah bekerja bagi-Nya. Namun bekerja bagi Kristus harus diletakkan setelah pengabdian kita kepada-Nya. Oswald Chambers pernah mengingatkan, Pesaing terbesar dari pengabdian kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia.

Saya menghadapi pesaing terselubung ini tak lama setelah Tuhan memimpin keluarga kami memulai pelayanan bagi para pecandu jalanan. Kami mengasihi anak-anak muda yang sedang mencari jati diri ini, dan saya mengabdikan seluruh perhatian dan tenaga saya untuk menolong mereka mengalami kuasa Kristus yang menyelamatkan.

Tetapi kemudian Derek, salah satu dari mereka, kabur ke London dan mengonsumsi obat-obatan lagi. Kehilangan ini mengejutkan saya sehingga saya sadar telah begitu asyik dalam pekerjaan kami sehingga pengabdian saya kepada Yesus telah kehilangan nilai penting. Allah menggunakan kesedihan saya sebagai sayap rajawali yang mengangkat saya dari aktivitas yang mementingkan pekerjaan untuk kembali pada kasih saya mula-mula, yaitu Yesus!

Allah melakukan hal yang sama bagi bangsa Israel pada zaman Musa. Dia membebaskan orang-orang Ibrani dari tuan yang kejam dan membawa mereka di atas sayap rajawali untuk kembali kepada-Nya (Keluaran 19:4).

Puji Tuhan, tak lama kemudian Derek kembali. Saya pun telah memperoleh pelajaran penting bagi semua pengikut Yesus. Pekerjaan yang diberikan Allah jangan sampai bersaing dengan panggilan utama kita, yaitu pengabdian kepada Kristus JEY

20 Desember 2005

Kisah Dua Budak

Nats : Paulus, hamba Kristus Yesus, … dipanggil menjadi rasul (Roma 1:1)
Bacaan : Kisah 1:1-9,17,18

Spartakus bukan sekadar tokoh film yang melegenda, ia juga seorang tokoh sejarah. Para sejarawan mengatakan bahwa ia mungkin seorang prajurit Roma yang kabur, lalu ditangkap kembali, kemudian dijual dalam sistem perbudakan sebagai seorang gladiator.

Semasa di sekolah gladiator di Capua, Spartakus memimpin sebuah pemberontakan. Aksi pembelotan ini menarik perhatian sejumlah besar budak, yang berkembang menjadi sekitar 70.000 budak. Mulanya, pasukan budak Spartakus mengalami kemenangan-kemenangan yang spektakuler. Namun akhirnya mereka kalah, dan para pemberontak yang tertangkap disalibkan di sepanjang jalan ke Roma.

Pengalaman Rasul Paulus sangat berbeda dengan Spartakus. Saulus dari Tarsus (dikenal juga sebagai Paulus) dilahirkan sebagai orang bebas, namun ditetapkan menjadi “budak”. Kisah Para Rasul 9 mencatat hari yang sudah ditetapkan saat Saulus harus berhadapan muka dengan muka dengan Sang Juru Selamat yang ingin ia lawan. Sejak saat itu, ia melayani Yesus dengan sepenuh hati.

Spartakus dipaksa untuk melayani seorang majikan Roma. Namun Paulus, sebagai respons atas anugerah Allah, bersedia menjadi “budak” bagi Yesus Kristus.

Di dalam hati orang percaya berkecamuk peperangan rohani antara dosa dan kebenaran. Kita dapat menaati sang majikan dosa, atau kita berkata ya kepada Allah Sang Pemberi anugerah yang telah membebaskan kita (Roma 6:16; Yohanes 8:34). Kebebasan terbesar kita terletak dalam pelayanan kepada Dia yang menciptakan dan menebus kita -HDF

21 Desember 2005

Spasi Putih

Nats : Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2 Timotius 4:7)
Bacaan : 2Timotius 4:6-8

Selama hampir 50 tahun, Ann Landers membagikan nasihat melalui kolom harian yang diterbitkan oleh lebih dari 1.200 surat kabar di seluruh dunia. Ketika ia meninggal pada tanggal 22 Juni 2002, putrinya yang bernama Margo Howard menulis sebuah kolom perpisahan. Ia meminta para editor meninggalkan spasi kosong di bagian akhir kolom itu sebagai peringatan terhadap ibunya.

Ide tersebut datang dari sebuah kolom yang ditulis bertahun-tahun sebelumnya, yaitu saat Ann dan suaminya bercerai setelah lama menjalani pernikahan. Ann meminta editor meninggalkan spasi putih di bagian bawah sebagai peringatan sebuah pernikahan yang sempat berjalan baik, namun “tidak berhasil mencapai garis akhir”.

Saat seseorang menulis kolom terakhir Anda, seberapa lebarkah “spasi kosong” yang akan disertakan? Saat Anda mencapai akhir hidup, akankah terdapat hal-hal penting yang belum terselesaikan? Akankah spasi putih itu menjadi saksi bisu dari sasaran-sasaran yang tak tercapai, kebiasaan baik (seperti membaca Alkitab dengan teratur) yang tidak pernah Anda bentuk, pertolongan yang tak pernah Anda berikan, hal-hal baik yang terpikirkan namun tak pernah dilakukan? Akankah spasi kosong yang cukup lebar menyatakan bahwa Anda bermaksud mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah, namun ternyata keintiman yang dekat tetap tidak tercapai? Atau akankah orang lain dapat berkata bahwa Anda “telah mencapai garis akhir dan … telah memelihara iman”? (2 Timotius 4:7).

Pastikanlah spasi putih kita sempit! -VCG

22 Desember 2005

Pemberian kepada Allah

Nats : Aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1)
Bacaan : Roma 12:1-8

Di dalam kitab Roma 12:1, Rasul Paulus menerapkan kebenaran yang telah ditulisnya kepada para pengikut Yesus di Roma. Ia mengatakan agar kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Ia juga mengimbau kita agar menjauhkan tubuh kita dari dosa dan menghindari keburukan dunia dengan memperbarui pikiran kita (ayat 2).

Kita sudah sering diberi tahu untuk memberikan hati atau hidup kita kepada Kristus. Jadi, mengapa kali ini Paulus menyoroti tubuh kita?

Jika kita akan melaksanakan kehendak Allah, maka tubuh kitalah yang akan digunakan. Setiap pendeta memiliki jemaat yang berkata, “Saya tidak akan menghadiri kebaktian pada hari Minggu yang akan datang; kami akan pergi piknik ke danau. Namun, saya akan hadir di dalam roh.” Sayangnya, “roh” yang ia maksudkan itu tidak akan menyumbangkan apa pun terhadap atmosfir pujian dan penyembahan.

Kita pun mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai tanggapan terhadap kasih-Nya. Tubuh merupakan hadiah yang layak bagi Allah.

Renungkanlah nilai tangan manusia. Ahli bedah Dr. Paul Brand berkata tentang operasi tangan, “Saya belum pernah mendengar tentang satu operasi pun yang dilakukan untuk membuat sebuah tangan yang normal menjadi lebih baik. Tangan itu indah.”

Pada perayaan Natal kali ini, berikanlah kepada Allah sesuatu yang indah. Persembahkanlah kepada-Nya tidak hanya hati Anda, namun juga tangan, tubuh, jiwa, pikiran-keberadaan Anda seluruhnya! -HWR

18 April 2006

Ibadah Penuh Sukacita

Nats : Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! (Mazmur 100:2)
Bacaan : Efesus 6:5-9

Ketika saya masih kecil, semangat Ayah dalam berkebun tidak pernah menular ke saya. Selama beberapa kali musim panas, ia menanami kebun kecilnya di desa. Hal itu memberikan terapi fisik dan relaksasi baginya, serta satu meja penuh hasil kebun untuk keluarga dan teman-teman.

Waktu itu, sebuah bajak yang didorong dengan tangan dipakai untuk menggemburkan dan membalik tanah. Oleh karenanya, melakukan pembajakan untuk pertama kali akan terasa sulit. Saya ingat ketika suatu hari membantu Ayah memasukkan alat pengolah tanahnya ke dalam kotaknya dan pergi bersamanya ke kebun. Begitu kami sampai, ia mempersiapkan alur pertamanya untuk dibajak, sementara saya mengambil keranjang makan siang dan memilih kursi yang nyaman di bawah naungan sebuah pohon apel.

Saya sama sekali tidak curiga sewaktu memerhatikan Ayah mengikatkan tali pada kedua pegangan alat pengolah tanah itu dan membentuk tali kekang. Dan tidak lama kemudian seorang anak laki-laki yang ogah-ogahan, sudah berada di depan bajak. Ayah mendorong alat itu dan saya menariknya -- sambil mengomel. Alur demi alur dibajak -- terus-menerus. Alangkah sengsaranya saya menjalankan tugas itu!

Kadang kala ketika diminta untuk melayani Tuhan dengan cara khusus, kita menerima permintaan itu dengan enggan. Namun, kita tetap melakukannya karena alasan kewajiban. Saat hal itu terjadi, kita perlu berdoa untuk mendapatkan kerelaan yang penuh semangat supaya kita dapat "beribadah kepada Tuhan dengan sukacita" (Mazmur 100:2) --PRV

13 September 2006

Berdoa Sambil Berbagi

Nats : Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)
Bacaan : Mazmur 46

Sebuah penelitian berjudul "Kepedulian AS" memperkirakan lebih dari 44 juta warga Amerika adalah pekerja pembantu bidang medis atau perawatan yang tak dibayar, dan kebanyakan masih bekerja atau telah bekerja sambil membagikan kepedulian. Penelitian itu juga mendapati bahwa Allah, keluarga, dan teman-teman kerap disebut sebagai sumber kekuatan bagi mereka yang berbagi kepedulian dengan orang lain.

Tiga per empat dari responden mengatakan bahwa mereka bersandar pada kekuatan doa ketika diminta memberikan perawatan. "Doa adalah cara terbaik un-tuk menyegarkan kembali diri Anda," kata seorang responden. "Saya pergi ke tempat yang tenang, berdoa, menangis, dan merasa lega. Kemudian saya dapat kembali ke ruangan dengan perasaan tenang."

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan," kata pemazmur, "sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti" (Mazmur 46:2). Kalimat itu dibahasakan ulang oleh Eugene Peterson dengan sangat jelas: "Allah adalah tempat persembunyian teraman, Dia selalu siap untuk membantu saat kita membutuhkan-Nya."

Melalui doa, kita dapat masuk hadirat Tuhan yang menenangkan dan mendapat kekuatan untuk terus melangkah. Ketika kita menyerahkan rasa sakit hati dan semua kebutuhan kepada Allah, Dia akan memenuhi dan memberikan damai-Nya. Dialah bantuan yang selalu siap sedia, yang memedulikan kita dalam segala keadaan.

Memberikan bantuan adalah panggilan yang mulia dan tugas yang sulit. Namun, ada kekuatan dari Tuhan yang membantu kita untuk menolong mereka yang membutuhkan kita -DCM

16 September 2006

"mereka"

Nats : Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu ... supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu (Kejadian 17:7)
Bacaan : Kejadian 17:4-7, 15-19

Seorang penemu independen yang ber-asal dari Branson, Missouri memutuskan untuk mengganti namanya menjadi "Mereka". Ia mengatakan bahwa ia melakukan hal itu demi kesenangan, mengacu pada panggilan umum yang biasa digunakan orang untuk "mereka". Ia berkata, "Orang biasanya mengatakan, 'Mereka melakukan ini,' atau 'Mereka disalahkan karena itu.' 'Mereka' menyelesaikan banyak hal luar biasa. Ada orang yang harus bertanggung jawab." Ketika teman-temannya menelepon, mereka bertanya, "Apakah Mereka ada?" Nama barunya itu pasti akan membuat marah para ahli tata bahasa.

Nama Abram pun diubah, tetapi bukan karena keinginan yang tiba-tiba. Tuhanlah yang mengubahnya. Pada zaman Alkitab, Allah kerap kali mengubah nama orang untuk menunjukkan apa yang akan diperbuat-Nya melalui orang tersebut.

Nama Abram (yang artinya "bapa yang agung") diubah menjadi Abraham ("bapa orang banyak") karena Allah telah mengucapkan janji untuk menjadikannya bapa segala bangsa (Kejadian 17:5). Melalui dialah maka "semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (12:3).

Sebagai pemenuhan janji Allah, Yesus lahir dari garis keturunan Abraham dan memberkati segala bangsa dengan memberikan hidup-Nya demi menebus dosa-dosa kita. Apabila kita percaya kepa-da-Nya, kita akan diberkati dan mendapat janji kehidupan kekal bersama-Nya. Allah pun kini memanggil kita dengan nama yang baru: "umat-Ku" dan "anak-anak Allah yang hidup" (Roma 9:25,26). Sebagai umat-Nya, kita dapat dipakai untuk memberkati orang-orang lain -AMC

5 Oktober 2006

Lakukan Semampunya

Nats : Baik yang menanam mau-pun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri (1Korintus 3:8)
Bacaan : 1Korintus 3:5-15

Kadang kala kita merasa putus asa karena apa yang kita kerjakan bagi Tuhan tampaknya gagal. Anak-anak di kelas Sekolah Minggu yang kita ajar tampak gelisah dan kurang memerhatikan apa yang kita sampaikan. Para tetangga yang coba kita perkenalkan kepada Injil tampak acuh tak acuh. Para anggota keluarga kita sendiri tampak jauh dari Tuhan. Dunia yang kita doakan dengan penuh kesungguhan di hadirat Allah tampaknya kian hari kian kejam dan anti terhadap orang kristiani. Semua ini membuat keputusasaan kita semakin mendalam.

Perhatikanlah perkataan seorang rohaniwan asal Salvador yang dibunuh karena kritiknya yang berani atas kekerasan dan ketidakadilan. Ia menulis demikian, "Kita menanam benih yang kelak akan tumbuh. Kita menyirami benih yang telah ditanam, karena kita tahu bahwa benih itu menawarkan janji yang akan terwujud di masa yang akan datang. Kita meletakkan dasar yang kelak membutuhkan pertumbuhan lebih lanjut .... Kita tidak dapat melakukan semuanya, dan itu artinya harus ada kerelaan untuk melepaskan." Sikap seperti ini akan membantu kita untuk mengerjakan perkara-perkara kecil, dan membuka "kesempatan yang akan dimasuki dan dikerjakan selebihnya oleh anugerah Tuhan".

Sama seperti di atas, Rasul Paulus juga mendorong kita untuk setia pada tugas kita dan menantikan Allah yang "memberi pertumbuhan" (1Korintus 3:6,7).

Jangan biarkan keputusasaan menghentikan langkah Anda. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Allah, pekerjaan kita akan menghasilkan buah -VCG

23 Maret 2007

Teruskan

Nats : Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu (Mzm. 66:4)
Bacaan : Mazmur 66:1-10

"Berjalanlah terus. Berjalanlah terus ...," nyanyi para remaja dari Paduan Suara Dayspring. Mereka baru saja menyanyikan kata-kata pertama di sebuah konser pada hari Minggu malam ketika tiba-tiba segalanya menjadi gelap. Listrik padam.

Yang padam memang bukan semua daya. Itu bukan daya yang sejati.

Para siswa tetap bernyanyi. Senter-senter disorotkan pada paduan suara itu ketika mereka menyanyikan seluruh lagu mereka tanpa iringan musik.

Di tengah-tengah konser, sang dirigen, putri saya Lisa, meminta jemaat untuk turut bernyanyi. Itulah saat yang begitu menyentuh, karena saat itulah nama Allah ditinggikan di tengah gereja yang diliputi kegelapan itu. Lagu "Hallelujah" tampaknya tak pernah terdengar sekhidmat saat itu.

Sebelum konser dimulai, semua orang sudah bekerja keras untuk memastikan bahwa semua peralatan listrik berjalan dengan baik. Namun, kejadian terbaik yang terjadi justru saat listrik mati. Dengan begitu, daya Allah-lah yang disoroti. Lampu Allah, bukan lampu listrik, yang bersinar. Yesus dipuji.

Kadang rencana kita hancur berantakan dan usaha kita gagal. Tatkala segala sesuatu terjadi tanpa terkendali, kita harus "berjalan terus" dan selalu ingat dari mana datangnya daya yang sebenarnya untuk hidup kudus dan untuk memunculkan pujian sejati. Ketika usaha yang kita lakukan tersendat-sendat, kita harus tetap memuji dan meninggikan Yesus. Semua berfokus pada Dia --JDB

Pujilah Tuhan yang bertakhta di surga,
Tuhan segala ciptaan,
Tuhan penuh kasih, Tuhan yang kuasa,
Tuhan Penebus kita. --Schutz

2 April 2007

Saluran Kasih Allah

Nats : Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supa-ya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yohanes 13:15)
Bacaan : Yohanes 13:1-17

Martha, seorang wanita berusia 26 tahun yang menderita ALS [penyakit syaraf fatal yang dengan cepat menyerang sel-sel syaraf yang mengendalikan otot penggerak], memerlukan pertolongan. Saat sekelompok wanita dari Evanston, Illinois, mendengar tentang dia, mereka segera bertindak. Mereka mulai merawatnya siang malam. Mereka memandikan, menyuapinya makan, berdoa, dan bersaksi kepadanya. Martha, yang belum menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya dan tidak dapat mengerti mengapa Allah yang penuh kasih mengizinkan dirinya mengidap ALS, melihat kasih Allah dalam diri para wanita ini hingga akhirnya ia menjadi seorang kristiani. Kini ia dapat berada bersama Tuhan berkat enam belas wanita, yang mewujudkan kasih Allah dengan mengikuti teladan Yesus.

Kasih Allah tampak nyata dalam pribadi Yesus saat Dia berada di bumi. Ketaatan-Nya saat meninggalkan surga dan menjadi manusia tercermin saat Dia membungkuk untuk membasuh kaki para murid-Nya. Dia menyembuhkan orang sakit, tetapi justru dibalas dengan kebencian yang pahit. Dia mati seperti seorang penjahat di atas salib orang Romawi. Ketabahan dan perbuatan-perbuatan baik-Nya ini mencerminkan kasih Allah, karena Yesus berkata, "Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9).

Secara fisik Yesus memang sudah tak lagi bersama kita -- kini Dia duduk di sebelah kanan Allah di surga. Jadi, jika hari ini kasih Allah harus diwujudkan, maka itu harus terjadi melalui orang-orang kristiani. Apakah hal itu sedang terjadi melalui Anda? --HVL


Kuingin semakin mengikut teladan-Nya,
Makin mencontoh kasih-Nya pada sesama;
Makin menyangkal diri, seperti Dia di Galilea,
Kuingin semakin menyerupai Dia. --Gabriel

21 April 2007

Jalan Raya Senja

Nats : Mata [Musa] belum kabur dan kekuatannya belum hilang (Ulangan 34:7)
Bacaan : Ulangan 34

Pertunjukan musik Andrew Lloyd Webber yang berjudul Sunset Boulevard, mengangkat kisah Norma Desmond, seorang mantan pemain film bisu. Saat film bersuara mulai populer, ia kehilangan penonton. Sebagai seorang wanita tua, ia merindukan masa-masa jayanya. Di dalam pikirannya, ekspresi wajah bisu sajalah yang membuat sebuah film bagus, bukan dialog. Dalam lagu With One Look Norma bernyanyi:


Dengan satu pandangan aku bisa mematahkan hatimu;
Dengan satu pandangan aku memainkan semua peran ...
Dengan satu pandangan aku akan menyalakan api;
Aku akan kembali ke masa jayaku.

Karena Norma hidup di masa lalu, hidupnya berakhir tragis.

Hidup itu seperti buku, yang dijalani bab demi bab. Jika Anda berpikir bahwa tahun-tahun Anda yang paling berbuah ada di masa lalu, ingatlah Anda sedang menulis sebuah bab baru hari ini. Belajarlah menjalani hidup dengan puas setiap hari.

Menjelang akhir hidupnya, Allah memperlihatkan Tanah Perjanjian kepada Musa. Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Musa telah mencapai misi dalam hidupnya. Namun, ia tidak merindukan mukjizat-mukjizat dari "masa jayanya". Sebaliknya, Musa merasa puas menaati Allah pada masa itu. Di usia senjanya, ia membimbing Yosua untuk menjadi penggantinya (Ulangan 31:1-8).

Hidup dengan rasa puas pada masa sekarang dapat membuat kita produktif seumur hidup, bagi kemuliaan Allah --HDF


Kuberi hidupku padamu, Tuhan,
Dan setiap hari hidup bagi-Mu;
Beri kepuasan dalam perjuangan
Mengikuti dan menaati-Mu. --Sper

14 Juli 2007

Yang di Tangan Anda

Nats : Besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku (Keluaran 17:9)
Bacaan : Keluaran 4:1-5

Para petugas kebun binatang yang menangani ular selalu akan mengatakan kepada Anda agar jangan sekali-kali menangkap ular dengan memegang ekornya. Apabila itu terjadi, maka dalam sekejap ular itu akan membelit dan membenamkan taringnya di tangan Anda. Cara yang tepat untuk mengendalikan ular adalah dengan memegang kepalanya. (Mohon jangan mencoba hal ini di rumah!)

Namun, Allah justru meminta Musa supaya memegang ular pada ekornya (Keluaran 4:1-5). Musa, yang telah berpengalaman menghadapi berbagai jenis ular di Gurun Midian tentu tahu bahwa cara itu sangat tidak bijaksana.

Apa yang ingin Allah ajarkan kepada Musa? Allah ingin Musa menyadari kekuasaan-Nya dan bersedia dipakai sebagai utusan-Nya. Pada dasarnya, hanya ada sedikit perbedaan antara melempar tongkat ke tanah dan memegang ular pada ekornya. Keduanya merupakan tindak ketaatan kepada Tuhan. Pelajaran yang dapat diambil adalah Allah mampu menggunakan apa pun yang Dia inginkan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada manusia melalui Musa.

Apa yang ada di tangan kita? Dalam beberapa hal, hidup kita berada di tangan kita. Kita dapat memilih untuk menghamburkan setiap jam, hari, minggu, bulan, dan tahun demi kepentingan kita sendiri atau memilih untuk hidup dalam ketaatan yang akan berguna bagi Allah Yang Mahakuasa.

Kita akan heran saat menyaksikan betapa banyaknya hal yang Tuhan sempurnakan dalam diri kita dan melalui kita, apabila kita taat melakukan kehendak-Nya.

Apa yang ada di tangan Anda? --AL

15 Maret 2008

Ragu

Nats : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6)
Bacaan : Yohanes 14:1-11

Suatu kali saya bertanya kepada sekelompok orang kristiani, "Seandainya detik ini Tuhan memanggil kita untuk meninggalkan dunia, apakah kita yakin akan masuk surga?" Ternyata, respons mereka sangat mengejutkan! Sebagian kecil menjawab dengan pasti, "Ya!" Namun sebagian besar berkata, "Tidak tahu." Bahkan ada yang menjawab, "Tampaknya tidak." Sungguh ironis! Bertahun-tahun menjadi kristiani dan percaya kepada Yesus, tetapi mereka masih meragukan jaminan keselamatan.

Walaupun telah membuat komitmen untuk percaya kepada Tuhan, terkadang kita ragu dan bertanya-tanya. Apakah kasih Tuhan cukup besar untuk mengampuni dosa kita? Apakah kesabaran Allah cukup panjang saat melihat kita jatuh bangun dalam dosa? Apakah Tuhan masih mau menerima kita yang sudah lama mundur dan meninggalkan-Nya?

Ya, kasih Allah selalu lebih dari cukup! Pengampunan dan kesabaran Allah tak pernah kurang bagi kita. Jika kita sudah berkomitmen untuk percaya kepada Yesus, mengaku dosa, dan meninggalkan kehidupan lama, maka jaminan keselamatan menjadi milik kita. Jangan pernah terjebak dalam keraguan. Perasaan itu akan membuat kita meragukan jaminan keselamatan saat iman kita lemah.

Apakah kita masih meragukan jaminan keselamatan? Saat keraguan itu muncul, mari kita mengingat kasih, pengampunan, dan keselamatan yang sudah Allah karuniakan bagi kita. Lalu, mari kita perbarui komitmen dan berjalan dalam kebenaran. Kita tak perlu terombang-ambing oleh ketidakpastian. Dalam Yesus, keselamatan bukan lagi harapan, melainkan kepastian yang nyata -PK

9 April 2008

Indahnya Persatuan

Nats : Karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (Filipi 2:1)
Bacaan : Filipi 2:1-11

Sekelompok kuda liar tengah merumput di padang belantara. Tiba-tiba muncul seekor harimau yang sedang mencari mangsa. Serentak kuda-kuda itu melindungi diri dengan cara berdiri saling berhadapan membentuk lingkaran. Harimau pun tidak berani mendekat, karena takut kena tendang. Namun dengan tipu muslihatnya ia berkata, "Sungguh barisan yang bagus. Boleh aku tahu kuda pintar mana yang mencetuskan ide ini?" Kuda-kuda itu pun termakan hasutan. Mereka berdebat siapa yang pertama mencetuskan ide tadi. Karena tak ada kata sepakat, akhirnya mereka tercerai-berai. Harimau pun dengan mudah memangsa mereka.

Persatuan sangat penting. Tanpa persatuan sebuah komunitas atau kelompok akan rapuh, maka persatuan harus diperjuangkan. Begitu juga dalam gereja. Paulus menasihati jemaat di Filipi supaya bersatu. Dasar persatuan kristiani adalah Kristus. Jadi setiap orang dalam jemaat hendaknya meneladani Kristus (ayat 5):

1. Walaupun dalam rupa Allah, tetapi tidak menganggap kesetaraan-Nya itu sebagai milik yang harus dipertahankan (ayat 6) -- Tidak sombong atau merasa paling hebat.

2. Telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba (ayat 7a) -- Memiliki semangat memberi; bukan ha-nya mau menerima.

3. Menjadi sama dengan manusia (ayat 7b) -- Berempati terhadap sesama; tidak lekas menghakimi atau menuduh, tetapi berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain untuk mengerti dan memahami.

Saat jemaat sepakat untuk bersatu, iblis pun gentar! -AYA

23 Mei 2008

Waktunya Runtuh Juga

Nats : Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1)
Bacaan : Pengkhotbah 3:1-15

Bagi penduduk Amerika, jembatan Mississippi memiliki peran yang vital dalam menghubungkan perekonomian negara bagian Minnesota yang berbasis pertanian. Jembatan sepanjang 27,6 kilometer itu menghubungkan kota Minneapolis dan Saint Paul. Jembatan itu dibangun oleh Departemen Transportasi Minnesota pada 1967 dengan tinggi 64 kaki atau sekitar 20 meter. Namun, jembatan delapan lajur tersebut ambruk pada Rabu, 1 Agustus 2007, pukul 18.00 waktu setempat. Diduga jembatan runtuh bukan karena aksi teror, melainkan karena konstruksi jembatan telah rapuh ditelan usia. Jembatan yang berusia empat puluh tahun tersebut, akhirnya ambruk juga.

Firman Tuhan dengan tepat mengatakan "segala sesuatu ada masanya" (ayat 1). Sekolah kehidupan telah mengajar Salomo, raja Israel di Yerusalem, bahwa segala sesuatu ada waktunya. Waktu berlalu begitu cepat. Tak seorang pun mampu menahannya. Sepanjang berproses dengan waktu, seseorang dapat menikmati dinamika kehidupan. Ada waktu yang menyenangkan, ada juga waktu yang menyedihkan. Namun, Allah selalu membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Selagi napas dikandung badan, menggunakan waktu dengan bertanggung jawab adalah suatu keharusan. Bukankah segala sesuatu akan terus berubah? Filsuf Heraclitus memberikan ungkapan bijak, "Tidak ada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan." Hari ini kita masih bernapas, besok belum tentu. Hari ini kita masih bekerja dengan gagah, besok tidak tahu. Oleh karena itu, mari kita menaklukkan diri kepada-Nya sebelum ambruk bak jembatan Mississippi -MZ

7 Juni 2008

Halus Tetapi Mematikan

Nats : Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)
Bacaan : 2 Tawarikh 32:24-33

Kesombongan. Inilah dosa yang paling disukai oleh Iblis. Sebaliknya, inilah dosa yang paling dibenci oleh Allah (Amsal 6:17). Mengapa Iblis menyukai-nya? Karena kesombongan bersifat sangat halus sehingga kerap kali manusia tidak sadar bahwa mereka sedang menyombongkan diri. Dan, kesombongan bisa merasuki siapa saja termasuk orang yang memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Sebagai contoh adalah Hizkia. Dengan membaca seluruh kisah Hizkia, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ia adalah seorang raja yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia selalu mendahulukan Tuhan dan taat kepada setiap perintah Tuhan. Itu sebabnya tak heran jika Tuhan memberkati hidupnya. Namun sayangnya, di tengah berlimpahnya berkat Tuhan itu ia justru sempat menjadi angkuh (ayat 25), sehingga nyaris mendatangkan murka Tuhan atas negerinya.

Dari kisah Hizkia, ada dua peringatan yang harus kita waspadai. Pertama, dosa kesombongan bisa merasuki siapa saja termasuk kita, anak-anak Allah. Kedua, dosa kesombongan selalu menjadi godaan yang paling besar, justru pada saat kita berada di puncak kehidupan. Kesombongan adalah dosa yang halus, tetapi mematikan. Ia bisa merasuki manusia secara halus tetapi berakibat fatal. Bila kita menemukan kesombongan timbul di hati kita, mari ikuti langkah Hizkia selanjutnya. "Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia" (ayat 26) —RY

5 Juli 2008

Berpuasa dengan Tulus

Nats : Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik (Matius 6:16)
Bacaan : Matius 6:16-18

Puasa adalah salah satu bentuk disiplin rohani, biasanya dengan berpantang makan dan minum untuk jangka waktu tertentu dan dilakukan pada suatu momen atau situasi tertentu. Pada masa sekarang ada beberapa macam puasa: ada yang tidak makan dan tidak minum dari pagi sampai petang, ada yang hanya tidak makan tetapi tetap minum, ada yang hanya tidak makan makanan tertentu, misalnya daging dan garam. Ada juga yang berpantang melakukan "hobi" tertentu, misalnya menonton televisi atau mengakses internet, kemudian waktunya dipakai untuk membaca Alkitab atau bersaat teduh pribadi.

Apakah itu boleh? Boleh saja. Yang penting adalah semangat dan tujuan berpuasa, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mengasah kepekaan akan kehadiran Tuhan, serta untuk melatih dan mengendalikan diri terhadap "nafsu kedagingan". Jadi, jangan berpuasa misalnya, karena ikut-ikutan atau sekadar mengikuti kewajiban keagamaan, atau malah lebih-lebih lagi untuk mencari pujian!

Bacaan kita, Matius 6:16-18, memiliki pesan yang sejajar dengan dua perikop terdahulu, yaitu mengenai memberi sedekah (Matius 6:1-4) dan berdoa (Matius 6:5-15). Intinya, bahwa dalam menjalankan kegiatan keagamaan (memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa) hendaknya jangan "munafik" dan jangan sekadar untuk mencari pujian dan hormat dari manusia. Jika demikian, kegiatan keagamaan hanya akan penuh dengan kepura-puraan (ayat 16). Kegiatan keagamaan apa pun bentuknya, baiklah itu menjadi "urusan" pribadi dengan Tuhan; sertai dengan ketulusan hati untuk beribadah kepada Tuhan (ayat 18) -AYA

13 Juli 2008

Tuhan Selalu Hadir

Nats : Dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (Matius 18:20)
Bacaan : Matius 18:19,20

Suatu hari, telepon di gereja tempat Presiden Roosevelt beribadah berdering. Si penelepon bertanya kepada sang pendeta, "Pak Pendeta, apakah Presiden Roosevelt akan ikut kebaktian di gereja minggu ini?" "Saya tidak bisa memastikan hal itu," ujar sang pendeta. "Namun, yang pasti Allah hadir di sana. Dan, itu sudah sangat cukup untuk menarik jemaat datang."

Dewasa ini, banyak artis kristiani sering diundang untuk melayani dalam ibadah suatu gereja. Saat mereka melayani, tampaknya suasana ibadah menjadi hidup dan semarak. Dan tampaknya jemaat mendapat banyak "berkat". Namun jika tiba-tiba artis yang diundang batal hadir, suasana ibadah seolah-olah menjadi mati, kering, membosankan, dan jemaat pulang tanpa membawa "berkat". Kenyataan ini sungguh menyedihkan, karena artis-artis rohani itu malah menjadi faktor penentu dalam ibadah. Ini menandakan bahwa ada masalah; bukan pada si artis, tetapi pada jemaat itu sendiri. Motivasi jemaat yang seperti ini sudah bukan lagi hendak mencari Tuhan, tetapi seolah-olah datang hendak "menyaksikan pertunjukan".

Jika motivasi kita murni untuk beribadah, kita tak perlu kecewa apabila artis yang dijadwalkan hadir ternyata tidak jadi datang. Toh, mereka ada atau tidak, Tuhan tetap hadir di sana (ayat 20). Sekalipun tak ada artis rohani yang hadir, Tuhan tetap dapat melakukan sesuatu dalam ibadah, melalui siapa saja. Mari kita luruskan lagi motivasi kita dalam beribadah; yakni untuk mencari Tuhan, bukan siapa pun yang lain. Pasti kita akan mendapat berkat dalam ibadah, siapa pun yang melayani -PK

6 Agustus 2008

Pentingnya Rasa Sakit

Nats : Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yohanes 16:8)
Bacaan : Yohanes 16:7-15

Roberto Salazar, bocah 6 tahun, jarang menangis. Ia menderita penyakit langka; Hereditary Sensory and Autonomic Neuropathy, sebuah penyakit yang membuatnya tidak bisa merasakan sakit. Pernah ia gigit lidahnya sendiri sampai hampir putus. Orangtuanya panik, namun ia tenang saja. Kali lain Roberto terjatuh. Kakinya terluka, tetapi ia tidak menjerit minta tolong. Ia bangun dan berjalan lagi dengan luka menganga. Kondisi ini sangat berbahaya. Tubuhnya bisa terbakar atau terpotong tanpa disadari. Rasa sakit memang tidak enak, tetapi perlu untuk menyadarkan kita jika ada yang tidak beres.

Roh Kudus sering memberikan "rasa sakit" ketika orang beriman berbuat dosa. Dia menegur dan memberi peringatan, supaya kita insaf. Dia mengingatkan kita kembali akan perkataan-perkataan Kristus (ayat 13,14). Sebagai Roh Kebenaran, Dia bertugas memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Jadi, Dia tidak bisa tinggal diam waktu kita berbuat dosa. Dia akan menegur. Teguran-Nya mungkin terasa sakit dan menciptakan rasa bersalah di hati. Namun, ini perlu agar kita mendapatkan kesempatan untuk berbalik ke jalan Tuhan. Tanpa teguran, dengan mudah kita dapat disesatkan oleh pelbagai godaan. Seperti Roberto, kita bisa menjadi mati rasa terhadap dosa. Dan, bisa-bisa kita sudah terseret jauh sebelum sempat menyadarinya.

Bersyukurlah jika Roh Kudus masih menegur dan membuat Anda merasa bersalah ketika berbuat dosa. Itu tandanya Dia masih berkarya dalam diri Anda. Dengarkan dan hargailah teguran-Nya! Jangan sampai hati Anda kebal, hingga merasa nyaman berbuat dosa -JTI

15 Agustus 2008

Buta Rohani

Nats : ... tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3)
Bacaan : Yohanes 9:1-7

Keterlaluan! Di dekat seorang buta yang tidak berdaya, murid-murid bukannya memberi sedekah tetapi malah membicarakan mengapa orang itu buta. "Pasti karena telah berbuat dosa. Tetapi siapa yang berbuat dosa; orang buta ini sendiri atau orangtuanya, ya?" Begitulah obrolan para murid Yesus.

Orang buta itu telah sangat menderita dengan kebutaannya. Kalau orang-orang malah mencurigai dirinya atau orangtuanya telah melakukan dosa, dan lantas hanya mendiskusikan tentu ini hanya menambah penderitaannya. Murid-murid mungkin lupa bahwa mereka sendiri juga orang berdosa (Roma 3:23). Bahkan, jika orang buta itu buta secara jasmani, mereka mungkin saja malah lebih parah, yakni buta rohani.

Yesus tidak terjebak dalam obrolan yang tidak membangun itu. Dia memilih melakukan sesuatu; menyembuhkan mata orang buta itu. Dan yang mengejutkan, Yesus juga berkata: "... bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia" (ayat 3). Bisa dibayangkan, betapa senangnya si buta mendengar hal itu! Pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dirinya? Wow! Sebelum berjumpa Yesus, baginya semua gelap. Hidupnya serasa hampa tidak berguna. Tak ada yang peduli, apalagi melibatkannya dalam aktivitas. Namun, segalanya berbeda setelah berjumpa Yesus. Sang Terang dunia bukan saja menyembuhkan, tetapi bahkan mau melibatkannya dalam pekerjaan Allah!

Kita, daripada membicarakan dosa orang lain, marilah perbincangkan pekerjaan di ladang Tuhan, yang harus kita kerjakan selagi hari masih siang -MNT

19 Agustus 2008

Bebas Memaki

Nats : Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang (Galatia 5:13)
Bacaan : Galatia 5:1-15

Saya aktif mengikuti sebuah mailing list sastra. Bagi orang awam, sastra mengacu pada cabang kesenian berupa karya tulis, dengan bahasa yang elok dan isi yang mendidik. Namun, nyatanya diskusi di dalamnya kerap meluas, bahkan sampai ke kehidupan pribadi seseorang. Tak jarang diskusi menjadi panas, karena adanya orang mencaci maki dengan kata-kata kasar. Bila ada yang keberatan karenanya, orang itu akan berdalih bahwa itu adalah bagian dari kemerdekaannya berbicara.

Kemerdekaan, oleh sebagian orang, disalahartikan sebagai kebebasan melakukan atau mengatakan apa saja yang mereka kehendaki tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Padahal ketika kemerdekaan disalahartikan dan disalahgunakan; bukannya ketenteraman yang timbul, melainkan kekacauan.

Jemaat Galatia rupanya juga telah menyalahgunakan kemerdekaan yang mereka peroleh. Kemerdekaan dianggap sebagai kesempatan untuk tetap berbuat dosa dan bertindak sekehendak hati (ayat 13). Ini salah! Orang yang sungguh-sungguh merdeka dalam Kristus melihat kemerdekaan sebagai kesempatan untuk melakukan kebenaran dan memuliakan Allah dengan mengasihi dan melayani sesama (ayat 14).

Kristus memanggil kita untuk merdeka dan lepas dari belenggu dosa, keegoisan, dan penyesatan Iblis. Bila hidup lama menuruti tabiat dosa, sekarang kita dimampukan untuk menolak perbuatan dosa. Bila dulu kita hidup egois, sekarang kita dimampukan untuk menyenangkan Allah. Kita dimerdekakan dari penyesatan Iblis, sehingga kita bertumbuh dalam kebenaran oleh bimbingan Roh Kudus. Bagaimana Anda menikmati kemerdekaan di dalam Kristus? -ARS

29 Agustus 2008

Seribu Banding Satu

Nats : Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya (Kejadian 40:23)
Bacaan : Kejadian 40

Salah satu dialog dalam film "Dumb and Dumber" yang masih saya ingat adalah ketika Lloyd Christmas menyatakan cinta kepada Mary Swanson. Mary menolak. Lloyd tidak menyerah. Ia bertanya, berapa banyak kesempatan yang ia miliki untuk mendapat cinta Mary. Lalu wanita itu menjawab: seribu banding satu. Anehnya, Llyod justru bersorak gembira mendengarnya. "Itu berarti saya masih memiliki kesempatan, kan?" katanya.

Begitulah seorang yang optimis. Ia akan berfokus pada kesempatan yang ada, sekecil apa pun kesempatan itu. Karenanya ia akan selalu mempunyai pengharapan; tidak akan patah arang dalam kesusahan.

Yusuf juga seorang yang optimis. Ia tidak putus berharap, pun ketika ia berada dalam penjara. Ia menolong juru minuman dengan menafsirkan mimpinya. Lalu ia berpesan, "Ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini" (ayat 14). Kesempatan yang Yusuf miliki itu memang tidak besar, buktinya si juru minuman kemudian melupakannya (ayat 23). Namun, justru dari kesempatan kecil tersebut, Yusuf mengawali kisah suksesnya di Mesir.

Mungkin saat ini kita tengah berada dalam "penjara kesulitan". Dan kesempatan yang kita miliki untuk keluar dari situ begitu kecil. Jangan berkecil hati. Jangan menyerah. Teruslah berusaha. Lakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Ingat lah bahwa dari kesempatan kecil itu tidak jarang tersedia jalan yang lebar bagi kesuksesan. Seperti yang Yusuf alami -RY

1 September 2008

Gereja Bukan Gedungnya

Nats : Dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan" (Filipi 2:11)
Bacaan : Matius 16:13-20

Pada masa kini, ada kesan kuat bahwa gereja seolah-olah hanya tempat pertunjukan dan hiburan. "Pengunjung" datang dan pergi sesukanya demi mencari acara yang memuaskan selera. Bila gedung gereja dipenuhi oleh hadirin yang terpikat, entah oleh apa, itu dinilai sukses. Gereja hanya dipahami sebagai sebuah gedung, tempat, acara, dan pertunjukan.

Atas perkenan Allah, Petrus mengaku bahwa Yesus-lah Anak Allah; dan Tuhan mendirikan Gereja-Nya di atas dasar pengakuan iman itu. Keberadaan gereja ditentukan oleh orang-orang yang mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejarah gereja membuktikan bahwa dengan pertolongan Roh Kudus, pengakuan itu bertahan walaupun diterjang pelbagai tantangan, siksaan, penganiayaan, dan pembantaian. Selama kaum beriman yang tinggal masih setia pada pengakuan imannya, gereja-dalam arti sesungguhnya-tak akan pernah binasa, meskipun para tokohnya dibunuh, gedung-gedungnya dibakar, kegiatan-kegiatannya dilarang, ruang gerak dan izin pendiriannya dibatasi. Sebaliknya, gereja justru makin berkembang.

Keberadaan gereja lebih ditentukan oleh faktor orang-orang yang hidup di atas dasar pengakuan iman, yaitu makna Yesus bagi jemaat. Bukan dari megahnya gedung, rapinya organisasi, bervariasinya kegiatan, dan kuatnya keuangan. Semua itu memang perlu, tetapi bukan yang utama. Kekuatan gereja bertumpu pada karya Roh Kudus di dalam dan melalui orang-orang yang setia pada imannya. Pada akhirnya, orang-orang tidak hanya mencari gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga demi melaksanakan hidup bergereja; terlibat aktif dalam setiap pelayanan gereja -PAD

11 September 2008

Doa Syafaat

Nats : Maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu (Kejadian 19:29)
Bacaan : Kejadian 18:23-33

Dalam sebuah pengadilan, peran seorang advokat atau pengacara sangat penting. Pembelaannya di depan hakim akan menentukan nasib sang terdakwa. Bayangkanlah cerita Alkitab hari ini dengan situasi sebuah pengadilan. Kota Sodom dan Gomora duduk di kursi terdakwa; Allah sebagai Hakim; jaksa penuntut diperankan oleh banyak orang yang berkeluh-kesah tentang kedua kota itu; dan Abraham tampil membela pihak tertuduh dengan argumentasinya yang gigih.

Dengan "keberanian" yang mengagumkan, Abraham melakukan "tawar-menawar" dengan Tuhan tentang jadi atau tidaknya Dia menjatuhkan hukuman atas Sodom dan Gomora. "Kesepakatan" antara Tuhan dengan Abraham akhirnya diperoleh. Hukuman terhadap Sodom dan Gomora tetap dilaksanakan. Namun, perhatikanlah bahwa Allah menyatakan kemurahan-Nya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dan, Allah pun menjalankan misi penyelamatan atas Lot dan keluarganya. Mengapa? Karena Dia "ingat kepada Abraham"! Peristiwa ini sungguh menggetarkan hati. Allah mengingat Lot karena doa yang dinaikkan Abraham.

Sebuah lagu pop rohani berkata: "Bila kau rasa sepi dan hatimu pun sedih, ingatlah seorang mendoakanmu." Doa syafaat adalah seruan permohonan kepada Tuhan atas nama pihak lain. Tuhan memedulikan doa semacam ini. Abraham berseru kepada Tuhan atas nama Lot, dan Lot pun diselamatkan. Tuhan ingat seruan Abraham. Kita pasti pernah, atau bahkan sedang diberkati karena seseorang mendoakan kita. Namun, sebaliknya, biarlah ada seseorang yang juga diberkati karena Allah ingat akan doa-doa kita untuknya -PAD

18 September 2008

Jangan Menghakimi

Nats : Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Matius 7:3)
Bacaan : Matius 7:1-5

Istri saya sudah tuli," keluh seorang suami kepada dokter pribadinya. "Saya harus bicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti." Sang dokter lantas memberi usul: "Bicaralah dengannya dari jarak sepuluh meter. Jika tak ada respons, coba dari jarak lima meter, lalu dari jarak satu meter. Dari situ kita akan tahu tingkat ketuliannya."

Si suami mencobanya. Dari jarak sepuluh meter, ia bertanya pada istrinya, "Kamu masak apa malam ini?" Tak terdengar jawaban. Ia mencoba dari jarak lima meter, bahkan satu meter, tetap saja tak ada respons. Akhirnya ia bicara di dekat telinga istrinya, "Masak apa kamu malam ini?" Si istri menjawab: "Sudah empat kali aku bilang: sayur asam!" Rupanya, sang suamilah yang tuli.

Saat mengkritik orang lain, kita kerap kali tidak sadar bahwa kita pun memiliki kelemahan yang sama, bahkan mungkin lebih parah. Ada kalanya apa yang tidak kita sukai dari orang lain adalah sifat yang tidak kita sukai dari diri sendiri. Kita belum bisa mengatasi satu kebiasaan buruk, kemudian jengkel saat melihat sifat buruk itu muncul dalam diri orang lain, sehingga kita memintanya untuk berubah.

Tuhan Yesus tidak melarang kita menilai orang lain secara kritis. Namun, janganlah membesar-besarkan kesalahan orang lain dengan mengabaikan kesalahan diri sendiri. Jika kita memakai standar atau ukuran tinggi dalam menilai orang lain, pastikan kita sendiri sudah memenuhi standar yang kita buat. Yang terbaik adalah introspeksi diri terlebih dulu sebelum memberi kritik kepada orang lain -JTI

24 September 2008

Mission Possible

Nats : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19)
Bacaan : Matius 28:16-20

Film Mission Impossible yang dibintangi Tom Cruise sempat menjadi box-office pada tahun 2006. Film yang diangkat dari serial televisi berjudul sama ini berkisah tentang agen Ethan Hunt yang mendapatkan misi yang teramat berat, bahkan nyaris mustahil. Dalam upaya mewujudkan misinya itu Hunt tidak sendiri. Ia dibantu teman-temannya yang tergabung dalam Impossible Mission Force (IMF).

Seperti film-film Hollywood yang lain, sesulit apa pun misi yang diemban oleh Hunt dan teman-temannya, pada akhirnya mereka berhasil menuntaskannya. Mereka sanggup mengubah apa yang tadinya dianggap "mustahil" menjadi "tidak mustahil". Kuncinya terletak pada penggunaan peralatan canggih dan kemampuan para tokohnya.

Sebagai pengikut Kristus kita pun memiliki misi yang harus diemban di dunia ini, yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus. Dari sisi "target akhirnya", betul, ini sungguh tugas yang teramat berat. Bayangkan, menjadikan semua bangsa murid Kristus-walaupun pasti bukan sebuah mission impossible. Sebab kalau itu mustahil, Tuhan Yesus pun tentu tidak akan memerintahkannya.

Namun, dari sisi bagaimana misi tersebut dapat diwujudkan, sebetulnya tidaklah "seberat" itu. Maksudnya, kita semua bisa turut berperan serta. Caranya? Yaitu dengan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian yang indah bagi orang-orang di sekitar kita. Dengan begitu, mereka melihat dan merasakan sapaan kasih Kristus lewat tindakan dan ucapan kita, lalu tergerak untuk mengikut Kristus. Kuncinya terletak pada kasih kita kepada Tuhan dan kepedulian kita terhadap sesama -AYA



TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA