Topik : Hukuman

8 Juni 2004

Pembawa Damai

Nats : Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9)
Bacaan : 1 Samuel 25:14-35

Abigail adalah seorang wanita yang luar biasa! Ia adalah pembawa damai sejati. Karena keberaniannya, calon raja Israel tidak jadi melakukan suatu dosa yang mengerikan. Beginilah ceritanya:

Saat itu Daud terpaksa tinggal di desa-desa untuk menghindari amarah akibat kecemburuan Raja Saul. Ia diikuti oleh sekitar 600 orang laki-laki beserta keluarga mereka. Selama beberapa bulan mereka berkemah di dekat Karmel, tempat hewan ternak Nabal (suami Abigail) merumput. Orang-orang Daud telah membantu para gembala Nabal melindungi domba-domba mereka dari kawanan perampok. Kemudian tibalah masa pengguntingan bulu domba-domba itu, dan Daud mengutus beberapa orang untuk meminta bagian mereka dari Nabal, seorang yang sangat kaya. Namun, Nabal menolak permintaan mereka dan justru memperlakukan anak buah Daud dengan buruk.

Dalam kemarahan, Daud terburu-buru memutuskan untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki di rumahnya. Ketika Abigail mendengar apa yang terjadi, ia cepat-cepat mengumpulkan banyak makanan, menahan Daud beserta para prajuritnya, dan dengan rendah hati meminta ampun atas perlakuan suaminya yang tidak ramah. Daud segera menyadari bahwa wanita itu telah mencegahnya untuk melakukan keputusan yang penuh dendam, dan ia pun memuji Allah (1 Samuel 25:32).

Apakah kita juga terburu-buru dalam menyelesaikan konflik? Yesus berkata demikian, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9) —Herb Vander Lugt

2 Januari 2005

Sifat Dasar Binatang

Nats : Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7:18)
Bacaan : Galatia 5:16-26

Seberapa tahun yang lalu kami memelihara seekor rakun. Rakun itu kami beri nama Jason. Satu menit ia akan merapat di pangkuan Anda seperti malai-kat yang sempurna, tetapi menit berikutnya ia akan bergerak seperti iblis yang jahat. Jika tidak dicegah, ia akan menyerbu tong sampah atau merusak taman bunga. Meskipun ia seekor binatang peliharaan yang menyenangkan, kami semakin sadar bahwa tindakan-tindakannya yang merusak tersebut dikendalikan oleh nalurinya yang liar. Jason akan selalu memiliki sifat alami seekor rakun, dan kami harus mengawasinya dengan ketat walaupun ia tampak jinak.

Acap kali, ketika saya mengamati perilaku Jason, saya menjadi teringat sifat dosa yang tetap kita miliki sebagai orang kristiani, meskipun Roh Kudus sudah tinggal di dalam diri kita. Paulus menyebut hal ini sebagai “daging” yang di dalamnya “tidak ada sesuatu yang baik” (Roma 7: 18). Hal tersebut memang dapat kita kekang, tetapi tetap ada di dalam diri kita. Apabila kita tidak dikendalikan oleh Tuhan setiap hari, maka “diri” kita yang lama akan memperagakan kapasitasnya sebagai pencari kesenangan yang menghancurkan dalam berbagai cara.

Meskipun kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus (2 Korintus 5:17), kita masih memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Tetapi kita tidak perlu dikendalikan olehnya, karena kita dipersatukan de- ngan Kristus dan Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Dengan menaati firman Allah dan berserah kepada Roh Kudus (Roma 8:11), kita dapat menang atas daging—sifat alami seekor binatang yang ada di dalam diri kita —Mart De Haan

29 Januari 2005

“penjaja Es Krim”

Nats : Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Timotius 2:22)
Bacaan : 1 Korintus 10:1-13

Jeff kecil berusaha keras menabung untuk membelikan ibunya sebuah hadiah. Usaha itu merupakan perjuangan berat bagi Jeff, karena ia sangat mudah menyerah atas godaan untuk membeli sesuatu dari penjaja es krim, tatkala mobil berwarna cerah itu datang berkeliling di sekitar rumahnya.

Suatu malam setelah ibunya menyelimutinya di ranjang, ibunya mendengar Jeff berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku supaya aku menjauh apabila penjaja es krim datang besok.” Bahkan di usianya yang masih belia, ia telah belajar bahwa cara yang paling baik untuk mengalahkan pencobaan adalah dengan menghindari apa yang menarik bagi kelemahan kita.

Semua orang percaya dicobai untuk berbuat dosa. Namun demikian, mereka tidak perlu menyerah. Tuhan menyediakan cara untuk menang atas segala bujukan iblis (1 Korintus 10:13). Akan tetapi kita harus melakukan tugas kita. Kadang kala itu termasuk menghindari situasi- situasi yang akan membuat kita kalah secara rohani.

Rasul Paulus memperingatkan Timotius untuk menjauhi nafsu orang muda (2 Timotius 2:22). Ia harus menjaga jarak dari godaan-godaan yang mungkin akan membuatnya menyerah karena daya pikatnya yang kuat. Itu adalah nasihat yang baik.

Jika mungkin, kita jangan pernah membiarkan diri kita berada di tempat-tempat yang salah, atau bergaul dengan orang yang akan membujuk kita untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita hindari.

Karena itu, pastikan Anda untuk lari dari “penjaja es krim”! —Richard De Haan

24 April 2007

Perawatan Hati

Nats : Aku memandangnya, aku memerhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran (Amsal 24:32)
Bacaan : Amsal 24:30-34

Ayah mertua saya telah mengubah puncak bukit yang berbatu dan tandus di Texas menjadi sebuah rumah yang indah dengan padang rumput hijau yang teduh. Setelah memindahkan ribuan batu, ia menambahkan humus, menanami pohon dan rumput, serta menyiraminya dengan rajin. Sejak ia meninggal, lahan itu menjadi kurang terawat. Sekarang saat saya berkunjung dan bekerja di sekitar rumah itu untuk memerangi tanaman berduri dan semak belukar, saya pun merenungkan kondisi hati saya.

Apakah kondisi saya seperti pekarangan yang terabaikan itu, atau seperti ladang dan kebun anggur yang digambarkan dalam Amsal 24 -- ditumbuhi onak, tertutup dengan jeruju, temboknya sudah roboh? (ayat 31). Pemiliknya malas dan tidak berakal budi (ayat 30), mungkin telah menunda-nunda pekerjaan yang dapat dikerjakan hari ini untuk bersenang-senang lebih lama.

Selain nasihat yang praktis tentang kerajinan dalam bekerja, saya menemukan sebuah cara untuk merawat jiwa saya. Duri keegoisan bertumbuh secara alami di dalam diri saya, sementara buah yang menyenangkan Allah perlu dipelihara secara teratur dan disirami melalui doa, pengakuan dosa, dan ketaatan kepada Tuhan. Tanpa semua itu, tanah hati saya akan terimpit oleh duri kesia-siaan dan kerakusan.

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan," tulis Salomo, "karena dari situlah terpancar kehidupan" (Amsal 4:23). Hal itu membutuhkan perawatan yang teratur --DCM


Satu dosa kecil, apakah akan membinasakan?
Biarkan saja dosa itu maka ia akan berganda.
Lalu perbuatan dosa terasa biasa --
Karenanya, jaga pikiranmu, jangan dikuasai olehnya. --DJD

TAMAN HATI KITA PERLU DISIANGI DAN DIRAWAT SECARA TERATUR

29 Maret 2008

Mengelola Negeri

Nats : Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau" (Kejadian 41:39)
Bacaan : Kejadian 41:25-46

Saat itu, status Yusuf masih narapidana. Namun karena hikmatnya, ia dapat berdiri di hadapan Firaun dan para pegawainya. Raja yang putus asa karena tak seorang ahli pun tahu makna mimpinya (ayat 24), kini mendapat jawaban hebat dan tepat dari narapidana Ibrani ini. Yusuf mengartikan mimpi Firaun bahwa akan ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Namun, ia juga segera memberi jalan keluarnya: sebagian hasil bumi harus disimpan dalam lumbung selama masa kelimpahan, agar di masa kesusahan ada persediaan. Agaknya Yusuf layak disebut ahli ekonomi dan ahli strategi sosial.

Ternyata, berada di negeri asing tak menghalangi kecemerlangan hikmatnya. Ia menabrak batas politis. Dalam tahuntahun berikutnya Yusuf menunjukkan bahwa pilihan Firaun tidak salah. Ia terbukti mumpuni (ayat 53-57). Ini menarik untuk direnungkan. Bukan hanya peningkatannya dari narapidana ke penguasa Mesir, melainkan juga sikap Yusuf yang sungguh memberikan hati untuk mengelola tugas berat di tanah asing. Dengan itu, ia pertama-tama berguna bagi Mesir. Namun kemudian, ia juga berguna bagi Israel, yang pada masa kelaparan tertolong oleh kemakmuran Mesir.

Yusuf melihat bahwa hidupnya yang naik turun-dijual sebagai budak, masuk penjara, sengsara, hingga dimuliakan di Mesir-sebagai karya Allah: "sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (45:5). Mari belajar dari Yusuf yang mengelola hidup demi membawa sejahtera bagi orang lain, masyarakat, dan bangsanya. Mari gunakan hikmat yang Allah karuniakan kepada kita dalam bidang masing-masing, untuk memberkati komunitas di tempat kita hidup -DKL



TIP #05: Coba klik dua kali sembarang kata untuk melakukan pencarian instan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA