Topik : Harapan

21 November 2002

Sebuah Pengharapan

Nats : Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir (Ibrani 6:19)
Bacaan : Roma 8:18-27

Ada dua wanita, yang pertama adalah bekas teman sekerja yang telah saya kenal selama 20 tahun dan yang kedua adalah istri bekas murid saya dulu ketika saya menjadi guru sekolah. Keduanya sama-sama memiliki dua anak kecil, sama-sama menjadi misionaris, dan sama-sama begitu mengasihi Yesus Kristus.

Lalu tanpa diduga, hanya dalam selang waktu sebulan, keduanya meninggal. Yang pertama, Sharon Fasick, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Kematiannya tidak mengundang perhatian publik, tetapi membuat keluarga dan teman-temannya sangat terpukul. Yang kedua, Roni Bowers, meninggal bersama anak perempuannya, Charity, ketika pesawat yang mereka tumpangi jatuh tertembak di hutan Peru. Tragedi itu mendapat sorotan internasional.

Kematian mereka menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi banyak orang. Namun, di samping kesedihan, ada pula harapan. Kedua suami wanita itu sama-sama memiliki pengharapan yang sangat kuat akan bertemu istri mereka lagi di surga. Kejadian setelah kematian istri mereka menunjukkan bahwa iman kristiani bekerja. Kedua laki-laki itu, Jeff Fasick dan Jim Bowers, sama-sama bersaksi tentang kedamaian yang telah diberikan Allah bagi mereka. Mereka memberikan kesaksian bahwa pengharapan itu membuat mereka sanggup melanjutkan hidup di tengah-tengah kepedihan yang amat menyakitkan.

Paulus berkata bahwa penderitaan kita sekarang ini "tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18). Pengharapan seperti itu hanya datang dari Kristus. –Dave Branon

8 Maret 2003

Kabar Baik atau Buruk?

Nats : Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang (Lukas 12:37)
Bacaan : Lukas 12:35-40

Seorang guru berkata kepada murid-muridnya, “Anak-anak, saya akan ke kantor sekolah sebentar. Saya harap saya tidak akan lama. Saya percaya kalian tidak akan ribut. Kerjakan tugas kalian sementara saya pergi.”

Waktu pun berlalu; 15 menit, 20 menit, kemudian 40 menit. Tiba-tiba guru itu kembali. Saat itu Dennis baru saja melemparkan penghapus ke arah Carol yang tengah mengerjakan tugas matematikanya. Sementara Steven sedang berdiri di atas meja guru sambil bertingkah. Murid-murid yang menaati perintah guru itu merasa senang atas kembalinya guru itu ke kelas. Namun sebaliknya, Dennis dan Steven malah berharap agar guru mereka tidak kembali.

Yesus akan kembali! Dalam Perjanjian Baru, hal itu dapat berarti sebuah peringatan sekaligus janji, seperti dalam bacaan hari ini yang terambil dari Lukas 12. Kabar itu dapat dibilang baik atau buruk, tergantung kepada siapa yang mendengarnya.

Di gereja, kita menyanyikan lagu seperti “Datanglah Yesus, Engkau yang Telah Lama Kami Rindukan”. Ketika kita makan dan minum dalam Perjamuan Kudus Tuhan, kita “memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Korintus 11:26). Kedatangan Yesus yang kedua kalinya kedengarannya menjadi suatu kabar yang luar biasa jika Dia datang pada hari Minggu pagi. Namun, jika Dia datang dalam sisa minggu itu, apakah kita siap menyambut kedatangan-Nya?

Yesus akan kembali! Dia mungkin akan kembali dengan segera, atau mungkin dengan tiba-tiba. Apakah itu kabar baik atau buruk? Semuanya tergantung kepada Anda --Haddon Robinson

4 Juni 2003

Kabar Buruk?

Nats : Hari Tuhan akan tiba .... Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat (2Petrus 3:10)
Bacaan : 2Petrus 3:1-13

Beberapa ilmuwan berkata bahwa dalam waktu kurang dari sepuluh juta tahun, bumi tidak akan mampu lagi menampung kehidupan karena matahari akan menjadi sangat panas. Kabar ini membuat takut mereka yang menaruh segala pengharapannya kepada dunia ini, karena ini berarti suatu hari nanti semua yang telah dicapai umat manusia akan lenyap.

Namun bagi kita anak-anak Allah, yang mempercayai kebenaran Alkitab, berita ini tidaklah mengejutkan. Kita tahu bahwa suatu hari nanti, bumi dengan segala keberadaannya sekarang ini akan dimusnahkan "dalam nyala api" (2Petrus 3:10). Namun, sesungguhnya Ini bukan-lah kabar yang menakutkan. Sebaliknya, kita menantikan dengan gembira, karena hari di mana planet kita yang telah rusak oleh dosa ini akan digantikan oleh dunia "di mana terdapat kebenaran" (ayat 13). Pengharapan ini tentunya menjadi motivasi yang kuat bagi setiap kita untuk hidup "suci dan saleh" (ayat 11).

Kita juga menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini sangat berarti, karena melalui doa, sikap, dan kesaksian kristiani kita, kita menjadi mitra Allah selama Dia berkarya di dalam dunia ini. Dan saat Dia menggantikan dunia kita sekarang dengan dunia yang sempurna kelak, kita akan mendapat tempat di dalam rumah yang kekal (Yohanes 14:2).

Oleh iman kita di dalam Kristus, kita dapat dipenuhi oleh sukacita dan pengharapan. Tuhan ingin memakai kita selama hidup di dunia ini dan Dia menjanjikan dunia yang sempurna kelak --Herb Vander Lugt

25 Juni 2003

Kemurungan Persekutuan Doa

Nats : Tuhan, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu (Mazmur 102:2)
Bacaan : Mazmur 102:1-17

Terkadang, persekutuan doa dapat membuat Anda lesu. Meskipun Anda sangat senang dapat berkumpul dengan teman-teman untuk berdoa, pokok-pokok doa dapat membuat kecil hati. Seorang misionaris menghadapi masalah-masalah kesehatan. Seorang anak menderita kanker. Sepasang suami-istri dalam kelas Sekolah Minggu akan bercerai. Pengabar Injil yang ditunjuk kesulitan dalam mengumpulkan bantuan keuangan. Anda pun punya pergumulan sendiri. Semakin banyak permohonan yang Anda dengar, Anda semakin jemu.

Namun, kemudian seorang pelayan doa yang tekun mulai berdoa. Dengan penuh keyakinan, ia bersyukur kepada Allah atas pengendalian-Nya yang sempurna terhadap segala masalah yang kami doakan. Dengan mencucurkan air mata ia memohon agar Allah bekerja dalam hidup mereka yang didoakan. Dengan jujur ia mengakui bahwa kami tidak selalu memahami apa yang sedang Allah perbuat. Seperti pemazmur, ia mengubah keluh kesah menjadi pujian kepada Allah karena telinga-Nya selalu mendengarkan kita. Doa berubah menjadi pujian karena seorang yang saleh percaya bahwa Tuhan mendengar "doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka" (Mazmur 102:18).

Apakah Anda sedang bergumul dalam kesulitan hidup Anda sendiri dan persoalan-persoalan yang bertubi-tubi dari teman-teman terdekat serta orang-orang yang Anda kasihi? Belajarlah untuk menyerahkan semua masalah itu kepada Allah yang kekal. Inilah cara yang jitu untuk mengusir kejemuan dalam persekutuan doa --Dave Branon

16 Juli 2003

Tempat Baru

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:12-26

Sebuah bank di Binghamton, New York mengirimkan bunga kepada pesaing bisnisnya yang baru-baru ini pindah ke gedung baru. Kekeliruan terjadi di toko bunga, sehingga ucapan yang tertulis pada kartu yang menyertai rangkaian bunga itu berbunyi, "Diiringi rasa simpati kami yang terdalam."

Si pemilik toko bunga yang merasa amat malu memutuskan untuk meminta maaf. Namun, ia merasa lebih malu lagi ketika menyadari bahwa kartu yang ditujukan kepada bank itu disematkan pada rangkaian bunga yang dikirim ke rumah duka untuk menghormati orang yang telah meninggal. Kartu itu bertuliskan, "Selamat menempati lokasi baru Anda!"

Sebenarnya ucapan semacam itu tepat ditujukan bagi orang kristiani, karena mereka pindah ke suatu tempat baru yang sangat indah saat mereka meninggal. Mereka pergi untuk bersatu dengan Kristus, maka penderitaan serta dukacita selama keberadaan mereka di dunia telah sirna untuk selama-lamanya. Mendekati akhir hidupnya, Paulus mengatakan bahwa diam bersama-sama dengan Kristus "jauh lebih baik" daripada tetap tinggal di dunia (Filipi 1:23).

Ya, perpisahan memang menyakitkan. Namun, sebagai orang kristiani janganlah kita berduka seperti mereka yang tidak berpengharapan. Sebaliknya, kita dapat bersukacita, bahkan dengan berurai air mata, karena orang yang kita kasihi telah menempati rumah yang baru di surga.

Pada saat orang percaya di dalam Kristus meninggal, sangatlah tepat bagi kita untuk mengatakan kepadanya (jika memungkinkan), "Selamat menempati lokasi baru Anda!" --Richard De Haan

27 Juli 2003

Pengharapan Bagi Dunia

Nats : ... menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Titus 2:13)
Bacaan : Yesaya 2:1-5

PERUNDINGAN PERDAMAIAN GAGAL LAGI.
TINGKAT PENGANGGURAN MENINGKAT.
ANGIN TORNADO MELANDA KOTA.

Beberapa kepala berita dalam surat kabar yang dipilih secara acak ini cenderung membuat kita putus asa. Tampaknya sudah tidak ada harapan bagi dunia ini. Namun demikian, menurut Kitab Suci, impian untuk mengakhiri perang bukanlah sekadar khayalan. Ide kemakmuran bagi semua orang lebih dari sekadar tipu muslihat politik. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa penguasaan atas alam ini pada akhirnya menjadi suatu kepastian.

Namun demikian, pengharapan bagi dunia ini tidak ditemukan pada usaha manusia, melainkan pada kedatangan kembali Yesus Kristus. Yesus sendirilah yang dapat menyelesaikan masalah yang membingungkan manusia.

Nabi Yesaya mengatakan bahwa suatu hari nanti "bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yesaya 2:4). Harapan yang mulia ini akan menjadi kenyataan ketika Tuhan Yesus sendiri datang kembali sebagai "Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (1 Timotius 6:15) untuk membangun kerajaan damai dan kebenaran-Nya. Kita harus "menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (Titus 2:13). Dengan memiliki pengharapan yang mulia ini, kita dapat senantiasa bersikap optimis, bahkan saat berada di tengah zaman yang penuh dengan kesuraman ini.

Tetaplah memandang ke atas! --Richard De Haan

1 Agustus 2003

Tetap Membicarakan Yesus

Nats : Jawab Yesus, "Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)
Bacaan : 1Korintus 15:51-57

Dalam upacara pemakaman seorang jemaat, Pendeta Eloy Pacheco mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya sumber penghiburan yang abadi. Kemudian datanglah seorang wanita kepadanya dan berkata, "Semua pendeta memang sama saja. Yang selalu Anda bicarakan hanyalah Yesus, Yesus, Yesus!"

"Benar," jawabnya ramah. "Namun, penghiburan seperti apa yang bisa Ibu berikan kepada keluarga yang sedang berkabung?"

Ibu itu terdiam sebentar, kemudian menjawab, "Anda benar. Setidaknya Anda mempunyai Yesus."

Cepat atau lambat orang yang kita cintai akan meninggal, dan kita ingin dihibur. Pelukan, ungkapan belasungkawa dan air mata, serta kehadiran seorang teman, bisa sedikit meringankan penderitaan yang begitu pedih. Namun, semua ini tidak akan menjawab pertanyaan- pertanyaan kita yang paling mendesak: Apa yang terjadi setelah kematian? Di manakah orang yang kita cintai itu sekarang? Apakah kita akan dipersatukan kembali di surga? Bagaimana saya bisa mendapat kepastian mengenai kehidupan kekal?

Jawaban atas semua pertanyaan itu ada pada Yesus. Dialah yang telah mengalahkan dosa dan kematian dengan wafat di kayu salib bagi kita dan bangkit dari kubur (1 Korintus 15:1-28,57). Karena Dia hidup, semua yang beriman kepada-Nya akan hidup selamanya (Yohanes 11:25).

Ketika orang yang percaya kepada Kristus meninggal, kita yang ditinggalkan bisa menemukan penghiburan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Maka marilah kita tetap membicarakan Yesus--Dennis De Haan

7 Agustus 2003

Usang

Nats : Orang-orang yang dibebaskan Tuhan ... kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh (Yesaya 35:10)
Bacaan : Yesaya 35

Pendeta dan penulis Joseph Parker (1830-1902) memberikan komentar atas kata-kata penutup dalam Yesaya 35:10 yang berbunyi demikian, "Kedukaan dan keluh kesah akan menjauh." Ia mengatakan demikian, "Saat mencari makna kata-kata tertentu dalam kamus, Anda sekali waktu akan menemukan kata yang diberi tanda 'usang'. Sudah tiba waktunya kata kedukaan dan keluh kesah menjadi usang dalam hidup kita. Hal-hal yang merusak kehidupan di sini dan saat ini akan menjadi bagian dari masa lampau."

Keberadaan manusia tentu telah diwarnai dengan banyak tragedi, dukacita, kekecewaan, dan kejahatan. Oleh sebab itu sungguh menghibur ketika kita tahu bahwa akan tiba waktunya kedukaan dan kehancuran berlalu, dan Allah sendiri akan menghapus semua air mata kita. Pada saat itulah kita akan mengalami kebenaran yang telah disuratkan dalam kitab suci bahwa "segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).

Apakah hari ini Anda terbebani oleh masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi? Apakah Anda merasa sepi, patah hati, dan kecewa? Jika Anda adalah anak Allah, renungkanlah kata-kata yang meneguhkan ini: "Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Hari yang lebih cerah akan tiba. Pada hari yang indah itu, kata-kata seperti keluh kesah, kehancuran, dan air mata menjadi usang.

Jadi, janganlah bersedih hai anak Allah yang terkasih. Pandanglah ke atas!--Richard De Haan

19 Agustus 2003

Secercah Harapan

Nats : Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1Tesalonika 4:13)
Bacaan : 1Tesalonika 4:13-18

Saat itu seharusnya menjadi musim panas yang menyenangkan bagi keluarga kami. Kami telah menyusun banyak rencana, termasuk pergi ke Florida untuk membantu putri kami, Julie, memulai karier mengajarnya.

Namun, musim panas tahun 2002 itu diawali dengan tragedi. Putri kami, yang masih remaja, Melissa, tewas dalam sebuah kecelakaan mobil pada hari terakhir sekolahnya. Kejadian ini mengubah musim panas kami yang penuh harapan menjadi mimpi buruk.

Saat itu juga saya berdoa agar kematian putri kami yang cerdas, atletis, dan ramah, dapat berpengaruh positif terhadap para remaja-- pertama-tama di antara teman-temannya dan kemudian di antara orang- orang lain.

Menjelang akhir musim panas itu, kami tetap berangkat ke Florida untuk mengantar Julie, meski dengan perasaan sedih. Saat mulai mengajar, Julie tidak pernah melupakan kerinduannya untuk melihat hidup Melissa mengubah hidup orang lain. Sebab itu ia bercerita kepada murid-muridnya tentang sang adik dan imannya.

Suatu hari seorang murid berbicara kepada Julie seusai pelajaran. "Saya takut," katanya, "karena saya bukan seorang kristiani seperti Melissa." Kemudian Julie membimbingnya untuk mempercayai Yesus Kristus. Saya membayangkan betapa Melissa bersukacita di surga.

Musim panas kami di tahun 2002 itu memang tidak berlangsung sesuai rencana, tetapi kami bersyukur dapat melihat buah dari hidup yang telah dijalani dengan baik. Bahkan dalam dukacita kami, Allah memberi secercah harapan --Dave Branon

2 September 2003

Dunia yang Menangis

Nats : "Tuhan adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:24)
Bacaan : Ratapan 3:1-9,24

Seorang ibu diberi tahu bahwa putranya tewas dalam suatu kecelakaan kerja. Seketika itu juga, hidup ibu tersebut dipenuhi deraian air mata. Di keluarga lain, serangan jantung mendadak telah merenggut nyawa seorang suami, meninggalkan istrinya menghadapi hidup seorang diri. Begitu banyak air mata yang tercurah! Kita hidup dalam dunia yang menangis.

Kitab Ratapan ditulis oleh Yeremia, yang disebut nabi peratap. Penduduk Yehuda telah dijadikan tawanan (1:3); Yerusalem tinggal reruntuhan (2:8,9); orang-orang dalam keadaan berkekurangan (2:11,12); penderitaan mereka sangat hebat melampaui batas (2:20); dan Nabi Yeremia terus-menerus meratap (3:48,49). Namun demikian, Yeremia masih yakin akan anugerah, belas kasihan, dan kesetiaan Allah.

Dari lubuk hatinya yang terdalam, jiwanya berkata, "Tuhan adalah bagianku, ... oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya" (3:24).

Betapa luar biasa ratapan yang menyayat hati itu! Dari sini suatu kenyataan bahwa tangisan dan ratapan tidak selalu mencerminkan iman yang lemah atau kurangnya kepercayaan kepada Allah. Sebagian dari kita mungkin berpikir orang kristiani harus selalu merasakan sukacita, bahkan saat hatinya hancur. Atau paling tidak, berusaha tampak bersukacita. Namun, pengalaman Yeremia membuktikan bahwa itu tidak benar. Air mata adalah bagian alami dari kehidupan kristiani. Akan tetapi, syukur kepada Allah karena pada suatu hari kelak Juruselamat kita yang penuh berkat akan datang dalam Kemuliaan untuk menghapus segala air mata (Wahyu 21:4) --Dennis De Haan

3 September 2003

Alasan untuk Berharap

Nats : Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22,23)
Bacaan : Ratapan 3:19-33

Meskipun menjadi salah satu kisah paling menyedihkan di dalam Alkitab, kisah ini telah menjadi inspirasi dari salah satu himne yang penuh pengharapan di abad ke-20.

Nabi Yeremia menjadi saksi kengerian yang tak terbayangkan ketika orang Babilonia melakukan penyerangan ke Yerusalem pada tahun 586 SM. Bait suci Salomo runtuh menjadi puing-puing. Dan tidak hanya pusat penyembahan, jantung kehidupan masyarakat pun turut lenyap, bersamaan dengan hal itu. Orang-orang menjadi telantar; tanpa makanan, tempat bernaung, kedamaian, dan tanpa pemimpin. Namun, di tengah-tengah penderitaan dan kepedihan itu, salah seorang nabi mereka menemukan alasan untuk berharap. Yeremia menulis, "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (Ratapan 3:22,23).

Pengharapan Yeremia berasal dari pengalaman pribadinya saat merasakan kasih setia Tuhan, dan dari pengetahuannya akan janji- janji Allah di masa lalu. Tanpa semua ini, ia tidak akan mampu menyejukkan hati umatnya.

Pengharapan dalam Ratapan 3 ini digemakan dalam sebuah himne karya Thomas Chisholm (1866-1960). Meskipun menderita sakit dan mengalami banyak kemunduran fisik di sepanjang hidupnya, Chisholm menulis lagu "Besar Setia-Mu". Lagu ini meyakinkan kita bahwa meskipun dalam ketakutan yang sangat, kehilangan yang tragis, dan penderitaan yang berat, kita dapat menemukan penghiburan dan rasa percaya diri apabila kita percaya kepada kasih setia Allah yang besar --Julie Link

6 November 2003

Pandangan Pertama

Nats : Mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka (Wahyu 22:4)
Bacaan : Yohanes 13:36-14:3

Sewaktu naik pesawat dari Chicago ke Tampa, saya memerhatikan sebuah keluarga di dalam pesawat yang saya naiki. Dari kegembiraan yang terpancar di raut wajah kedua anak mereka, saya menduga keluarga itu belum pernah pergi ke Florida. Saat pesawat mendekati tujuan, awan menutupi pandangan kami sehingga kami tidak dapat melihat daratan. Hanya saat pesawat mulai terbang menurunlah, kami akhirnya berhasil menerobos gumpalan awan itu.

Ketika pertama kali melihat daratan kembali, sang ibu berseru kepada kedua anaknya yang duduk di sebelahnya, "Lihat, itu pasti Florida!" Setelah hening sejenak, si anak laki-laki memprotes, "Tapi Bu, di mana pohon palemnya? Saya tidak melihatnya!" Saat berpikir tentang Florida, hal pertama yang melintas di benak anak laki-laki itu adalah pepohonan tropis, dan itulah yang pertama kali ingin dilihatnya.

Hai orang kristiani, ketika Anda bersiap untuk mendarat di surga, apa yang pertama kali ingin Anda lihat? Betapa indahnya jika kita bisa menyapa orang-orang terkasih yang telah mendahului kita. Wow, betapa bahagianya jika kita bisa mengunjungi orang-orang percaya dari masa lampau, dan betapa menyenangkan bisa melihat pemandangan surga yang penuh dengan kemuliaan! Namun demikian, betapa pun menyenangkan semuanya ini, sukacita kita yang terbesar adalah melihat Tuhan Yesus Sendiri karena Dialah yang membuat kita mungkin untuk pergi ke sana.

Ya, dalam syair sebuah himne lama pun dikatakan bahwa, "Saya rindu untuk pertama-tama melihat Juruselamat saya" --Richard De Haan

8 November 2003

Dia Hidup!

Nats : Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup (Kisah Para Rasul 1:3)
Bacaan : Kisah Para Rasul 1:1-10

Ketika menara World Trade Center runtuh disertai suara gemuruh bangunan yang hancur berkeping-keping, warga kota New York mengalami apa yang sudah dialami oleh banyak orang dari belahan dunia lain, yaitu ketakutan akan terorisme. Berbagai serangan susulan di negara-negara lain telah meningkatkan keprihatinan bahwa umat manusia mungkin sedang menuju kehancuran diri.

Semua kerusuhan di dunia mungkin membuat kita berpikir bahwa masa depan kita tampak begitu suram. Kita bahkan mungkin menyimpulkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang layak untuk membesarkan anak-anak.

Meskipun demikian, tetap ada secercah cahaya pengharapan yang dapat menerangi pandangan kita akan masa depan. Bill Gaither menggambarkan hal itu dalam lagunya yang berjudul "S'bab Dia Hidup". Gagasan tentang lagu itu muncul di kepalanya pada akhir tahun 1960-an. Saat itu sedang terjadi kerusuhan sosial di AS dan konflik di Asia Tenggara. Istrinya, Gloria, sedang hamil, dan mereka berpendapat bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Namun ketika anak laki-lakinya lahir, Bill berpikir tentang Juruselamat yang hidup, lalu kata-kata ini melintas di dalam benaknya: "Anak ini dapat menghadapi hari-hari yang tidak pasti karena Dia hidup."

Dua ribu tahun yang lampau Yesus bangkit dari kubur dan memberikan "banyak tanda" bahwa Dia hidup (Kisah Para Rasul 1:3). Karena itu, kita dapat terus melangkah saat menghadapi ketakutan. Sebab Yesus hidup, kita dapat menghadapi hari esok --Dave Branon

30 Desember 2003

Aktivitas di Surga

Nats : Hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka (Wahyu 22:3,4)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Terkadang saya bertanya apa yang akan kita lakukan di surga. Apakah kita akan duduk di awan dan memetik harpa surgawi? Apakah kita akan terbang dengan sayap kain yang halus? Dalam penglihatannya, Yohanes menyaksikan tiga kegiatan di surga kelak.

Yang pertama adalah melayani (Wahyu 22:3). Mungkin kita akan menjelajah sudut jagat raya yang tak terbatas, atau seperti kata C. S. Lewis, memerintah bintang yang sangat jauh. Apa pun pelayanan yang diperintahkan bagi kita, takkan ada rasa kekurangan, kelemahan, dan keletihan. Di surga kita akan memiliki pikiran dan tubuh yang setara dengan tugas yang dirancang bagi kita.

Aktivitas kedua adalah memandang: Kita akan "memandang wajah-Nya" (ayat 4). "Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar" (1Korintus 13:12), tetapi di surga kita akan melihat wajah Juruselamat kita, dan kita "akan menjadi sama seperti Dia" (1Yohanes 3:2). Ini yang dimaksud dalam Wahyu 22:4, "Nama-Nya akan tertulis di dahi mereka." Nama Allah menyatakan kepribadian-Nya yang sempurna. Jadi, menyandang nama-Nya berarti menjadi seperti Dia. Di surga kita takkan bergumul dengan dosa lagi, tetapi akan mencerminkan keindahan dari kekudusan-Nya selamanya.

Yang terakhir adalah memerintah. Kita akan melayani Raja kita dengan memerintah dan bertakhta bersama Dia "selama-lamanya" (ayat 5).

Apakah yang akan kita lakukan di surga? Kita akan melayani Allah, memandang Juruselamat kita, dan memerintah bersama Dia selamanya. Kita akan sibuk! --David Roper

1 Januari 2004

Tahun yang Terbuang

Nats : Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang (Yoel 2:25)
Bacaan : Yoel 2:12-27

Berapa banyak tahun-tahun Anda yang hasilnya hilang dimakan belalang? Apakah keinginan pribadi, hawa nafsu, motivasi penuh dosa, dan ambisi pribadi Anda telah merampas sukacita, kedamaian, dan keberhasilan dari hidup Anda? Mungkin Anda merasa putus asa memikirkan waktu-waktu yang terbuang dan tidak dapat terulang lagi.

Jika memang demikian, perhatikanlah perkataan Tuhan melalui Nabi Yoel. Allah memberi tahu umat Israel bahwa sekalipun mereka pernah tidak menaati Tuhan dan mengalami pendisiplinan Tuhan melalui wabah belalang, tetapi masih ada pengharapan bagi mereka. Tuhan berkata bahwa Dia "pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia" (Yoel 2:13). Dan Dia berjanji, "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang" (ayat 25).

Apabila kita mengaku dosa kepada Tuhan, maka Dia akan segera mengampuni masa lalu dan mengisi hari depan kita dengan pengharapan. Dia dapat memunculkan kebaikan dari tahun-tahun kita yang terbuang. Dia melakukannya dengan cara mengajari kita kerendahan hati melalui kegagalan yang kita alami, dan menolong kita memahami kelemahan yang sering kita perbuat terhadap orang lain.

Meskipun tahun-tahun kita yang lalu telah dirusak oleh dosa, Allah sangat rindu untuk memulihkan kita dan memberi hasil terhadap pekerjaan kita. Apa yang telah kita pelajari di masa lalu menghasilkan pelayanan yang produktif dan pujian yang sepenuh hati bagi Dia. Tahun yang sedang kita jelang ini dipenuhi dengan pengharapan! --David Roper

27 April 2004

Surat Wasiat yang Sah

Nats : Allah … telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus … kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3)
Bacaan : 1 Petrus 1:3-12

Anda mungkin mengenal seseorang yang tidak mendapatkan warisan yang telah disiapkan oleh orangtuanya karena adanya kekeliruan dalam surat wasiat. Dalam artikel berjudul “Uang dan Hukum”, pengacara Jim Flynn mengatakan jika Anda ingin mewariskan tanah Anda kepada penerima yang Anda pilih dan bukan pada pejabat hukum, sebaiknya jangan membuat surat wasiat sendiri. Dokumen ini memang sah, tetapi sering tidak jelas sehingga gagal memberikan kepastian hukum dalam situasi tak terduga. Flynn menganjurkan agar kita membuat surat wasiat resmi yang memastikan bahwa keinginan kita tersampaikan.

Surat wasiat yang dibuat oleh tangan manusia bisa saja gagal, tetapi tak ada kata-kata yang kurang jelas tentang warisan yang disediakan Allah bagi kita. Rasul Petrus menegaskan bahwa Allah “telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu” (1 Petrus 1:3,4).

Tak ada fluktuasi ekonomi yang dapat mengurangi warisan ini. Warisan ini tak dapat ditinjau ulang oleh pengadilan atau diperdebatkan dalam keluarga yang tidak akur. Tak ada penderitaan atau pencobaan yang dapat mengurangi atau mengubah apa yang telah disediakan Allah bagi kita. Warisan kita pasti dan kekal (Ibrani 9:15). Dan jika kita hidup bagi Dia, kita beroleh kepastian bahwa surat wasiat-Nya bagi hidup kita hari ini adalah “baik, berkenan, dan sempurna” (Roma 12:2) —David McCasland

21 Mei 2004

Harapan Baru

Nats : Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan (Roma 15:13)
Bacaan : Roma 15:5-13

Grant Murphy adalah seorang pria aktif dari Seattle yang melakukan segalanya serbacepat. Bermalas-malasan dan bersantai di pantai bukanlah sifatnya. “Orang bahkan menyebutnya hiperaktif,” kenang seorang teman.

Namun, penyakit multiple sclerosis menghambat gerak Grant. Mulanya ia membutuhkan kruk untuk berjalan berkeliling. Lalu ia hanya bisa duduk di kursinya. Dan akhirnya, ia tidak mampu bangkit dari ranjang.

Menjelang akhir hayatnya, ia hampir tidak dapat berbicara. Namun, temannya teringat bahwa “ia selalu menampakkan sukacita dan syukur, dengan pengharapan untuk senantiasa berada dalam hadirat Tuhan”. Sebelum meninggal, Grant membisikkan Roma 15:13 kepada temannya. Ia mengulang kata-kata “dalam iman kamu”, lalu menambahkan, “Aku tak dapat melakukan apa pun sekarang.”

Ketika kita tidak dapat melakukan apa pun, Allah yang melakukan segala sesuatunya. Di sini terletak paradoks yang mendalam dari pengalaman orang kristiani. Iman merupakan perpaduan tindakan dari yang berdasarkan pada kehendak kita dan campur tangan kekuatan ilahi. Dari perpaduan menakjubkan itu timbullah sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan yang berlimpah.

Apakah kini Anda benar-benar tak berdaya? Kekuatan Anda lenyap? Tak ada pilihan lagi? Bila Anda telah memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Allah akan menguatkan Anda untuk tetap beriman. Bila Anda memercayai-Nya, Dia tidak hanya memberi Anda sukacita dan damai sejahtera, melainkan juga pengharapan tatkala seluruh pengharapan yang ada telah sirna —Dennis De Haan

1 Juli 2004

Tersedia Bagi Anda

Nats : Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan (1 Petrus 1:6)
Bacaan : 1 Petrus 1:3-9

Pernahkah Anda mengalami suatu liburan seperti berikut ini? Anda berencana untuk mendatangi suatu tempat yang jauh. Anda tahu bahwa di sana Anda akan melewatkan saat yang menyenangkan. Namun, Anda mengalami begitu banyak kesukaran dalam perjalanan ke sana sehingga Anda bertanya-tanya apakah perjalanan tersebut memang layak dilakukan.

Mobil mogok. Kemacetan lalu lintas. Tersesat. Anak-anak sakit. Teman-teman seperjalanan yang menjengkelkan. Anda tahu bahwa tujuan perjalanan itu akan menyenangkan, tetapi perjalanan itu sendiri tidak mulus. Tetapi, Anda tetap menjalaninya karena Anda tahu bahwa segala jerih payah itu sepadan dengan hasilnya.

Itulah gambaran kehidupan kristiani. Mereka yang telah memercayai Yesus sebagai Juruselamat tengah melakukan perjalanan yang penuh dengan berbagai kesukaran, hambatan, tragedi, dan gangguan. Kesukaran tampaknya selalu ada atau siap menghadang. Namun, kita tahu bahwa di depan kita ada tujuan luar biasa yang tak terlukiskan (1 Petrus 1:4). Dan terkadang keyakinan mengenai apa yang tersedia bagi kita di surga itulah yang membuat kita terus bertahan.

Petrus mengerti. Ia mengatakan bahwa saat menjalani hidup, kita akan menderita sebagai akibat dari persoalan yang kita hadapi. Tetapi sesungguhnya kita dapat bersukacita melalui segala kesukaran tersebut, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang istimewa di akhir perjalanan kita.

Apakah Anda menghadapi persoalan hari ini? Pandanglah ke depan. Surga membuat perjalanan kita tidak sia-sia —Dave Branon

31 Juli 2004

Sudah, Tetapi Belum

Nats : Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18)
Bacaan : Lukas 10:1-12; 17-20

Jika Yesus telah menang atas dosa, penderitaan, dan kematian, lalu mengapa kita masih berdosa, menderita, dan mati? Untuk memahami hal yang tampaknya kontradiksi ini, kita harus mengenali dualisme “sudah, tetapi belum”dari Injil.

Di satu pihak, kerajaan Allah telah datang dalam pribadi Yesus. Sebagai perwujudan dari manusia sekaligus Allah, Dia mati di atas salib sehingga melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia dapat menghancurkan iblis (Ibrani 2:14).

Di lain pihak, kerajaan sempurna yang dijanjikan-Nya belum datang. Kerajaan tersebut akan datang saat diri-Nya kembali ke bumi. Kita mengalami pertentangan antara aspek “sudah, tetapi belum” mengenai kerajaan Allah.

Lukas 10 menggambarkan dualisme ini. Ketika kembali dari berkhotbah, para murid merasa gembira sekali, dan mereka berkata kepada Yesus, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu” (Lukas 10:17). Yesus menjawab bahwa Dia telah melihat Setan “jatuh seperti kilat dari langit” (ayat 18). Dia juga meyakinkan mereka bahwa tidak ada satu pun yang akan menyakiti mereka (ayat 19). Namun, banyak di antara mereka yang menderita dan mati sebagai martir, dan kejahatan masih merajalela hingga sekarang.

Meskipun demikian kita dapat menghadapi apa pun yang terjadi, karena suatu hari nanti kita akan benar-benar masuk dalam kemenangan yang telah Yesus menangkan. Sementara itu, kita dapat merasa tenang karena mengetahui bahwa tiada satu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Roma 8:35-39) —Herb Vander Lugt

19 Oktober 2004

Hari Baik untuk Mati?

Nats : Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku (1Raja-raja 19:4)
Bacaan : 1Raja-raja 19:1-18

Keputusasaan dan kemarahan menyebabkan kematian seorang pemuda di lingkungan saya. Seseorang telah memukul dia karena ucapannya. Untuk membalas dendam, pemuda itu kembali sambil membawa senjata. Saat polisi tiba di tempat kejadian, ia lari sambil menembaki mereka. Untuk melindungi semua orang, polisi menembak pria tersebut. Ia kehilangan nyawanya pada usia 21 tahun. Setelah itu ada laporan bahwa pada pagi harinya, pemuda tersebut berkata kepada seorang anggota keluarganya, "Hari ini adalah hari yang baik untuk mati." Saya bertanya-tanya apakah yang membuat ia begitu putus asa.

Suatu hari Nabi Elia pun merasa putus asa dan ingin mati. Ia baru saja mengalami kemenangan besar atas nabi-nabi Baal, namun kini nyawanya diancam oleh Izebel istri raja. Di dalam ketakutan, ia melarikan diri ke padang gurun (1 Raja-raja 19:4). Di sana ia "ingin mati, katanya: 'Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku!'"

Kita mungkin berpikir bahwa Elia bersikap terlalu berlebihan, namun perasaan putus asa itu nyata. Ia dengan bijaksana mencari pertolongan ke sumber yang benar, ia berseru kepada Allah. Karena Tuhan tahu bahwa Elia membutuhkan pemulihan, maka Dia mencukupi kebutuhan-kebutuhannya (ayat 5-7). Dia menyatakan diri kepada Elia (ayat 9-13) dan memperbarui panggilan Elia dengan memberinya tugas untuk dikerjakan (ayat 15-17). Allah mendatangkan pengharapan baginya dengan mengingatkan bahwa ia tidak sendirian (ayat 18).

Pandanglah Allah. Dia adalah sumber pengharapan Anda --Anne Cetas

26 Desember 2004

Rasa Hampa

Nats : Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah (Lukas 2:19,20)
Bacaan : Lukas 2:8-20

Malam kelahiran Yesus benar-benar malam yang menakjubkan bagi Maria dan Yusuf. Di hadapan mereka terbaring Bayi Ajaib yang kedatangan- Nya ke dunia telah diberitahukan oleh malaikat. Para gembala juga terpana ketika mereka melihat dan mendengar “sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah” dan memuliakan kelahiran-Nya (Lukas 2: 13).

Tetapi tidak lama kemudian, Maria dan Yusuf akan segera menghadapi tugas-tugas harian merawat bayi dan semua tanggung jawab lainnya. Para gembala akan kembali ke lereng bukit untuk menjaga domba-domba mereka. Semua unsur yang dapat membawa pada kehampaan emosi ada di sana. Perasaan hampa memang acap kali muncul setelah seseorang merasakan puncak kebahagiaan.

Namun, saya tak percaya bila mereka mengalami “masa kelabu sesudah Natal”. Maria tak akan dengan mudah melupakan semua peristiwa yang telah terjadi, dan para gembala tidak begitu saja melupakan apa yang telah mereka lihat dan yang telah mereka dengar (ayat 19,20). Pesan malaikat telah terbukti kebenarannya, dan hidup mereka dipenuhi dengan harapan baru dan penantian.

Tidak ada alasan untuk merasa hampa sesudah Natal. Kita tahu seluruh jalan ceritanya. Yesus datang untuk wafat bagi dosa-dosa kita, kemudian mengalahkan kematian bagi kita dengan bangkit dari kubur. Dengan demikian, kita memiliki lebih banyak kebenaran untuk direnungkan dan lebih banyak alasan untuk memuliakan Allah daripada yang dialami oleh Maria serta para gembala —Herb Vander Lugt

23 Januari 2005

Berhasrat Akan Surga

Nats : Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening (Wahyu 21:21)
Bacaan : Filipi 1:19-26

Tetangga saya Jasmine, berumur 9 tahun, sedang duduk di serambi muka dengan saya pada suatu petang di musim panas. Tiba-tiba ia mulai bercerita mengenai keputusan buruk yang telah dibuatnya dan betapa ia memerlukan pengampunan Allah. Kami berbincang dan berdoa bersama dan ia memohon kepada Yesus untuk menjadi Juruselamatnya.

Lalu pertanyaan-pertanyaan mengenai surga mulai mengalir darinya, “Apakah jalan-jalan di sana benar-benar dari emas? Apakah ibu saya akan ada di sana? Bagaimana jika ia tidak ada di sana? Apakah saya akan mempunyai tempat tidur, atau apakah saya akan tidur di atas awan-awan? Apakah yang akan saya makan?” Saya meyakinkannya bahwa surga akan menjadi rumah yang sempurna, dan bahwa ia akan bersama Yesus, yang akan memberikan segala sesuatu yang ia perlukan. Ia menjawab dengan girang, “Baiklah, kalau begitu mari kita pergi sekarang!”

Rasul Paulus juga memiliki pandangan surgawi (Filipi 1:23). Kesaksiannya adalah, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (ayat 21). Ia menyadari bahwa hidup ini adalah untuk mengenal, memercayai, dan melayani Allah. Akan tetapi ia juga tahu bahwa kehidupan di surga akan “jauh lebih baik” karena ia akan “bersama-sama Kristus” (ayat 23). Ia memang ingin tinggal di sini supaya dapat melayani orang-orang Filipi dan orang-orang lainnya, namun ia siap untuk pergi ke surga setiap waktu untuk bertemu Yesus.

Jasmine siap untuk pergi sekarang. Apakah kita memiliki hasrat sebesar itu? —Anne Cetas

1 Maret 2005

Hanya Sekilas

Nats : Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya ... (Wahyu 22:3)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Betapa bersyukurnya kita atas keajaiban dunia yang telah diciptakan Allah bagi kita sebagai tempat tinggal saat ini. Sekalipun telah rusak oleh kejahatan dan kesengsaraan, bumi ini penuh dengan hal-hal indah yang memesona indra kita. Pagi-pagi benar di hari yang cerah, berjalanlah di taman bunga dan nikmati keindahan serta aromanya. Lalu renungkanlah tentang keindahannya. Keindahan itu adalah sekilas pemandangan samar akan kemuliaan surga.

Beberapa tahun lalu, saya berdiri di luar sebuah pondok di ketinggian pegunungan Rocky. Sejauh mata memandang, saya dapat melihat seluruh puncak bukit diselimuti salju dan bercahaya di bawah sinar bulan purnama. Pemandangan yang sangat menakjubkan! Namun tetap saja, itu hanyalah sekilas gambaran kemuliaan surga.

Dengarlah alunan harmoni yang menggetarkan dalam Simfoni No. 9 ciptaan Beethoven. Lalu bayangkan nyanyian paduan suara malaikat yang meriah.

Juruselamat kita meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia akan kembali ke rumah Bapa-Nya, yaitu rumah-Nya yang kekal, untuk menyiapkan tempat bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Itu akan menjadi tempat yang sangat megah, dan tidak satu pun tempat di bumi ini yang dapat menyamainya.

Satu-satunya syarat agar dapat memasukinya adalah dengan beriman secara pribadi kepada Kristus, serta pada kematian dan kebangkitan-Nya. Percayalah akan pengurbanan-Nya, maka suatu hari Dia akan menyambut Anda dalam keindahan dan sukacita yang mulia —VCG

24 Maret 2005

Merayakan Permulaan

Nats : Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus (Lukas 1:31)
Bacaan : Lukas 1:26-38

Banyak gereja yang merayakan 25 Maret sebagai hari peringatan Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan. Hari ini dihormati sebagai peringatan pemberitahuan malaikat kepada Maria bahwa ia akan menjadi ibu Yesus, Mesias. Di masyarakat kita yang berorientasi pada keberhasilan, perayaan ini adalah peringatan yang dibutuhkan untuk mengakui dan bersukacita atas dimulainya pekerjaan Allah dalam hidup seseorang. Kita tidak menahan kegembiraan atas suatu keberhasilan.

Karena kita sering membaca Injil Lukas pada hari Natal, kita mungkin lupa bahwa ada 9 bulan masa kepercayaan dan penantian sejak Maria menanggapi penyataan Gabriel hingga kelahiran Yesus. Ketika kita membaca kata-kata penyerahan Maria dalam konteks masa penantian ini, kita akan mendapat tambahan pemahaman: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Lukas 1:38). Maria pasti telah menerima dorongan semangat yang besar ketika sepupunya mengatakan, "Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana" (ayat 45).

Kita dapat merayakan suatu permulaan dengan memberikan pelukan atau jabat tangan kepada seorang percaya baru yang mengakui imannya di dalam Kristus. Kita dapat menulis sebuah catatan yang menyemangati kepada seorang teman yang telah memilih untuk menaati firman Allah.

Marilah kita meraih setiap kesempatan yang ada untuk merayakan permulaan pekerjaan Allah di dalam kehidupan orang lain —DCM

22 April 2005

Terluka dan Mendengar

Nats : Aku telah memerhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka (Keluaran 3:7)
Bacaan : Keluaran 5:24-6:8

Saat kita mengalami dukacita yang dalam atau situasi yang sulit, kita barangkali merasa tersinggung apabila seseorang mengatakan bahwa sesuatu yang baik dapat muncul dari kesukaran kita. Seseorang bermaksud baik yang mencoba untuk mendorong kita untuk memercayai janji-janji Allah, dapat dianggap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan atau bahkan tidak realistis.

Hal itu terjadi terhadap bangsa Israel, yaitu ketika Allah sedang mengusahakan pembebasan mereka dari tanah Mesir. Firaun mengeraskan hatinya terhadap perintah Allah untuk membiarkan umat-Nya pergi, dan ia memperberat beban kerja budak-budak Ibrani dengan memaksa mereka mengumpulkan jerami yang diperlukan untuk membuat batu bata (Keluaran 5:10,11). Mereka menjadi begitu patah semangat, sehingga tidak dapat menerima jaminan Musa bahwa Allah telah mendengar seruan mereka dan berjanji untuk membawa mereka ke tanah milik mereka sendiri (6:8).

Kadang-kadang luka dan ketakutan yang kita alami dapat menutup telinga kita terhadap kata-kata Allah yang penuh dengan pengharapan. Akan tetapi, Tuhan ternyata tidak berhenti berbicara kepada kita pada saat kita mengalami kesulitan untuk mendengarkan. Dia justru akan terus-menerus berusaha demi kepentingan kita. Hal itu terjadi sama seperti ketika Dia membebaskan umat-Nya dari tanah Mesir.

Pada saat kita mengalami belas kasihan Allah dan kepedulian-Nya, maka kita akan dapat mendengar suara-Nya kembali, sekalipun luka itu belum sembuh —DCM

12 Juli 2005

Mulai dari Akhir

Nats : Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku (Ayub 3:3)
Bacaan : Ayub 3:20-26

Pada usia 30 tahun, wanita itu sudah ingin menyerah. Ia menulis di buku hariannya, Allahku, apa yang akan terjadi padaku? Aku ingin mati saja. Namun awan gelap keputusasaan justru menuntunnya pada kecemerlangan. Saat itulah ia menemukan tujuan hidup yang baru. Ketika ia meninggal pada usia 90, ia meninggalkan jejak sejarah. Banyak orang percaya bahwa ia dan orang-orang yang memperkenalkan antiseptik dan kloroform untuk kepentingan pengobatan telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar meringankan penderitaan sesama pada abad ke-19. Nama wanita tersebut adalah Florence Nightingale, pemrakarsa profesi perawat.

Ayub sangat berharap ia tak pernah dilahirkan di dunia ini (Ayub 3:1-3). Namun puji Tuhan, ia tak mengakhiri hidupnya. Sama seperti Nightingale yang berhasil keluar dari tekanan dan menemukan cara untuk menolong orang lain, Ayub pun behasil melewati kesedihannya, dan pengalamannya telah menjadi sumber penghiburan yang tidak berkesudahan bagi jiwa yang menderita.

Mungkin Anda kini berada pada titik di mana Anda tak mau hidup lagi. Menjadi anak Allah justru meningkatkan keputusasaaan Anda, karena Anda menjadi bertanya-tanya bagaimana seorang percaya dapat merasa sendirian dan terlupakan. Jangan menyerah. Perasaan ingin mengakhiri hidup Anda sendiri mungkin merupakan suatu pengalaman paling menyakitkan yang pernah Anda hadapi. Namun kobarkan semangat Anda. Bergantunglah kepada Tuhan dalam iman dan mulai lagi dari awal. Allah dapat memakai permulaan dari suatu akhir MRD

30 Juli 2005

Sumber Pengharapan

Nats : Tak habis-habisnya rahmat-Nya (Ratapan 3:22)
Bacaan : Ratapan 3:19-41

Apa gunanya iman jika semuanya tampak sia-sia? Saya telah melontarkan pertanyaan yang mendalam itu dalam hidup saya, dan belum lama ini saya menerima surat dari seorang ibu yang menanyakan hal yang sama.

Ia menceritakan bahwa ia dan suaminya memulai pernikahan mereka dengan mencari kehendak Allah bagi hidup mereka dan memercayakan masa depan mereka kepada-Nya. Kemudian anak kedua mereka terlahir dengan sindrom Down. Respons awal mereka atas hal itu adalah sedih, terkejut, dan tak percaya. Namun pada hari kelahiran anak itu, Allah memakai Filipi 4:6,7 untuk meletakkan kedamaian di dalam hati mereka dan memberikan kasih yang abadi bagi anak mereka yang istimewa itu. Ayat itu berbunyi: Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah .... Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal akan memelihara hati.

Namun, hari-hari yang mereka lalui di gurun belum usai. Sembilan tahun kemudian, anak mereka yang keempat didiagnosa mengidap kanker. Sebelum usianya genap tiga tahun, ia meninggal. Keterkejutan, kesakitan, dan kesedihan menyeruak sekali lagi ke dalam kehidupan mereka. Dan sekali lagi, mereka menemukan pertolongan di dalam Allah dan firman-Nya. Ketika kesengsaraan mengimpit kami, kata ibu ini, kami kembali kepada firman Allah dan anugerah hidup kekal melalui Yesus Kristus.

Ketika persoalan hidup menghantam kita seperti gelombang pasang, kita dapat mengingat bahwa belas kasih Allah tak pernah meninggalkan kita (Ratapan 3:22). Dia dapat memberikan pengharapan yang kita perlukan JDB

21 Agustus 2005

Harapan ke Surga

Nats : Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka (1Korintus 13:12)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Menjelang ulang tahun saya yang ke90, ada dua emosi muncul di dalam hati saya. Salah satunya adalah kepastian, yaitu jaminan positif akan kehidupan yang akan datang. Tentu saja. Yesus berkata, Sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup (Yohanes 14:19).

Namun jaminan itu acap kali diikuti oleh sebuah emosi yang lain, yaitu rasa penasaran. Seperti apakah dunia berikutnya itu? Bahkan penjelasan yang penuh inspirasi dalam kitab terakhir Alkitab tentang tempat tinggal surgawi tidak cukup untuk menyampaikan apa yang sudah terbentang di depan kita. Namun semua itu memperkuat kerinduan kita untuk meninggalkan keberadaan duniawi yang gelap dan memasuki realitas surgawi. Kita membaca tentang sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah, pohon-pohon kehidupan, dan tidak akan ada lagi laknat (Wahyu 22:1-3).

Apakah reaksi Anda pada saat memikirkan hidup setelah kehidupan di dunia ini? Barangkali Anda tidak secara khusus merasa penasaran. Namun demikian, apakah Anda diberkati dengan kepastian surga, yang dapat Anda miliki oleh iman di dalam Yesus? Pikirkanlah kata-kata yang diucapkan-Nya di kubur Lazarus: Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya (Yohanes 11:25,26).

Apakah janji itu merupakan dasar kepastian hidup Anda? Anda dapat menjadikannya sebagai kepastian dengan percaya kepada Yesus VCG

24 September 2005

Berhenti Bersedih

Nats : Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup (Mazmur 119:77)
Bacaan : Mazmur 119:25-32

Apakah Anda merasa sedih? Apakah Anda sedang bergumul dengan salah satu hal terburuk dalam hidup? Anda tidak sendirian.

Alangkah menakjubkannya jika kita dapat merapal kata-kata rohani tertentu yang dapat membuat semua masalah kita lenyap, tetapi itu tidak akan terjadi. Hidup tidaklah terdiri dari senyuman dan hati yang gembira sajabahkan bagi umat Allah.

Tetapi dari pengalaman-pengalaman kelamlah timbul harapan akan pertolongan. Keputusasaan pemazmur, yang tercatat dalam Mazmur 119, menuntun pada janji akan kelegaan dan belas kasihan. Dari masalah timbul pengertian dan kekuatan baru. Pemazmur dengan bebas mengungkapkan perasaan dan keyakinannya bahwa Allah akan menjaganya.

Jiwaku melekat kepada debu (ayat 25). Kemudian ia mengajukan permohonan kepada Allah: Hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.

Jiwaku menangis karena duka hati (ayat 28). Lalu ia berharap dalam pemeliharaan Allah: Teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu.

Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu (ayat 32). Sekalipun di masa pencobaan berat, sang pemazmur berketetapan untuk mematuhi Allah.

Ya, ungkapkanlah keputusasaan Anda kepada Tuhantetapi jangan hanya berhenti di situ. Mintalah belas kasihan dan kekuatan-Nya. Tetaplah taat kepada-Nya. Berpeganglah pada janji-janji-Nya dalam Kitab Suci. Dia akan tetap menemani Anda melewati pencobaan apa pun JDB

2 Desember 2005

Bayangkan Saja!

Nats : Tatkala aku melihat [kemuliaan Allah] aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman (Yehezkiel 1:28)
Bacaan : Yehezkiel 1:1-5, 22-28

Seperti apa kelak saat kita melihat Tuhan pertama kalinya? Lagu “I Can Only Imagine” (Aku Hanya Dapat Membayangkan) bertanya,

Dikelilingi oleh kemuliaan-Mu,
apakah yang akan dirasakan hatiku?

Akankah aku menari bagi-Mu, Yesus,
atau terdiam dalam ketakjuban-Mu?

Akankah aku berdiri di hadapan-Mu,
atau jatuh berlutut?

Akankah aku bernyanyi Haleluya?

Akankah aku sanggup berkata-kata?

Aku hanya dapat membayangkan!

Yehezkiel adalah seorang imam di antara orang buangan Yahudi di Babel dan ia memperoleh penglihatan dari Tuhan (lihat pasal 1,8,10,11). Ia menggambarkan kehadiran Allah sebagai “api yang dikelilingi sinar”, “seperti suasa mengilat”, dan “seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan”. Dan reaksi Yehezkiel saat itu adalah tersungkur dan mendengarkan firman-Nya (1:27,28).

Rasul Yohanes pun memperoleh penglihatan akan kehadiran Allah. Ia mungkin kawan terdekat Yesus di bumi ini. Pada Perjamuan Malam Terakhir, sebelum penyaliban, Yohanes “bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya” (Yohanes 13:23). Namun, saat ia memperoleh penglihatan akan Putra Allah dalam segala kemuliaan dan kuasa-Nya, ia bereaksi seperti Yehezkiel. Ia “tersungkur … di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati” (Wahyu 1:10-17).

Kita tak dapat memahami betapa luar biasa kemuliaan Tuhan, sehingga kita tak tahu bagaimana reaksi kita nanti saat di hadirat-Nya. Akankah kita menari atau terdiam? Akankah kita berdiri dengan penuh ketakjuban atau jatuh berlutut? Akankah kita bernyanyi atau tidak sanggup berbicara sama sekali? Bayangkan saja! -AMC

5 Desember 2005

Secercah Kemuliaan

Nats : Meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibarui dari sehari ke sehari (2 Korintus 4:16)
Bacaan : 2Korintus 4:16-18

Proses penuaan memiliki kesulitan sendiri-pendengaran dan penglihatan menurun, pikun, sakit punggung, atau encok di tangan. Inilah tanda bahwa kita semakin lemah. Namun, Paulus menegaskan bahwa secara batiniah kita “dibarui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2 Korintus 4:16, 17). Bagaimana bisa demikian?

Proses penuaan dan kelemahan akan memusatkan pikiran kita kepada Allah. Kita belajar memusatkan pandangan kepada-Nya dan pada fakta-fakta yang tidak kelihatan; kita belajar membedakan antara hal-hal yang kekal dan hal-hal yang fana. Kita ditarik oleh kasih Allah untuk mengarahkan kasih kepada hal-hal di atas dan bukan kepada hal-hal yang ada di bumi.

Karena itu kita memusatkan pandangan pada hal-hal “yang tak kelihatan” (ayat 18). Pandangan kita harus melampaui kelemahan kita saat ini, dan mengarahkannya pada keberadaan kita nanti-makhluk-makhluk agung, yang memancarkan kecantikan yang bersinar dan energi yang tak terhingga!

Sebab itu “kami tidak tawar hati” (ayat 16). Kita dapat “bekerja sama” dengan penderitaan kita dan terus melayani, berdoa, mengasihi, bersikap peduli hingga akhir hidup kita. Kita dapat memiliki karakter yang kuat meskipun kemanusiaan kita lemah; kita dapat menunjukkan ketabahan dan kasih bagi orang lain di tengah kegelisahan kita. Meskipun kita memiliki kesulitan sementara, kita dapat terus melangkah maju, karena kita telah memandang secercah kemuliaan yang jauh melebihi semuanya itu -DHR

5 Maret 2006

Sayap Rajawali

Nats : Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya (Yesaya 40:31)
Bacaan : Yesaya 40:27-31

Perkataan Nabi Yesaya tentang menanti-nantikan Tuhan dengan sabar merupakan suatu penantian terhadap masa depan dengan pengharapan yang pasti. Pada saat kita mengalami pencobaan, kita menantikan keselamatan yang pasti akan datang. Yesus sendiri memberikan jaminan berikut ini kepada pengikut-pengikut-Nya, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4).

Karena kita telah mengetahui bahwa kita memiliki tujuan akhir yang sangat mulia, yaitu bahwa kita memiliki harapan yang pasti akan surga, maka kita akan sanggup menjalani hidup di dunia ini. Meskipun perjalanan hidup ini melelahkan, kita senantiasa dapat membentangkan sayap-sayap iman kita dan terbang! Kita dapat hidup dengan penuh ketaatan tanpa kemudian merasa lelah. Kita dapat melewati hari-hari yang rutin tanpa menjadi letih. Dunia yang lebih baik akan segera tiba, yaitu pada saat roh kita memanggil, maka tubuh kita pun akan dapat berlari, melompat dan terbang! Demikianlah harapan kita.

Sementara itu, apa yang akan digenapi pada suatu hari nanti, akan mulai terjadi sekarang. Kita dapat menjadi kuat, sabar, penuh sukacita walaupun merasa sangat kelelahan. Kita akan menjadi ramah dan tenang, tidak terfokus hanya pada kelemahan dan keletihan kita. Kita akan lebih memerhatikan orang lain daripada diri sendiri dan senantiasa siap mengucapkan kata-kata yang penuh kasih kepada mereka yang sedang berada dalam pergumulan. Kita dapat bersiap-siap sejak dari sekarang untuk menyambut hari saat jiwa kita akan terbang --DHR

8 Maret 2006

Pengharapan yang Hidup

Nats : Terpujilah Allah ... yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali ... kepada hidup yang penuh pengharapan (1Petrus 1:3)
Bacaan : 1Petrus 1:3-9

Hidup ini sulit bagi semua orang, tetapi beberapa orang merasakan kesulitan yang lebih berat dibanding orang lain. Menaruh kepercayaan kepada Kristus sebagai Juru Selamat tidak banyak mengubah hal itu. Tak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menjanjikan bahwa kita bebas dari kesulitan karena kita adalah pengikut Kristus. Kenyataannya, beberapa penyakit kita tidak dapat disembuhkan, dan beberapa kekurangan kita tidak dapat diperbaiki sepanjang hidup kita. Bahkan ada di antaranya yang bertambah parah. Namun, seluruh kekurangan dan kelemahan kita hanya bersifat sementara.

Kesadaran bahwa Allah menyediakan kebutuhan kita dapat menyunggingkan senyum dalam hati kita. Pengharapan memberi kita ketenangan dan memampukan kita hidup dengan kekuatan batiniah, karena kita tahu bahwa suatu saat nanti keadaan kita akan berubah secara dramatis dari keadaan sekarang.

Jika masa lalu merusak Anda atau Anda merasa dilemahkan oleh dosa, atau jika Anda merasa begitu tidak berarti dibanding dengan orang lain sehingga Anda merasa rendah diri, percayalah pada apa yang disediakan Allah bagi Anda. Hiduplah hari ini dengan semangat yang disediakan Allah bagi Anda. Dapatkanlah sesuatu yang baik dari penderitaan yang Anda alami. Namun bersukacitalah, karena semua yang menjatuhkan dan membatasi Anda hanya bersifat sementara. Semua itu akan berlalu -- bahkan ada yang lebih cepat berlalu daripada yang kita duga.

Jika Anda memiliki pengharapan yang hidup dalam Kristus, Anda dapat membereskan masa lalu karena memiliki masa depan. Kemuliaan Allah yang terbaik disediakan bagi Anda di depan --HWR

14 Maret 2006

Janji Damai

Nats : Anugerah dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita (2Petrus 1:2)
Bacaan : Lukas 2:8-15

Pada masa Natal kita senang mendengar pesan malaikat tentang damai di bumi. Namun, pesan yang diulangulang dalam banyak nyanyian dan khotbah itu perlu didengar dan diperhatikan setiap hari sepanjang tahun. Kita masih saja mendengar berita tragedi dari seluruh dunia. Dan mungkin kita gundah mendengar berbagai krisis dan masalah manusia. Kita merindukan dan berdoa untuk kedamaian.

Alkitab memberikan jawaban permohonan bagi kedamaian itu. Rasul Paulus meyakinkan kita dalam Roma 5:1 bahwa kita dapat hidup berdamai dengan Allah. Ya, kita umat yang tidak taat dan penuh dosa dapat didamaikan dengan Allah melalui iman dalam anak-Nya, Yesus (ayat 11).

Kita dapat menikmati kedamaian batin saat menyerahkan kekhawatiran kepada Sang Juru Selamat (Filipi 4:6,7; 1Petrus 5:7). Kita pun dapat menerima kedamaian antarsesama. Dalam Roma 12:18, Paulus meyakinkan orang-orang percaya, "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang!" Perdamaian dengan orang lain dapat menjadi kenyataan. Yang lebih baik lagi adalah kita dapat mengharapkan kedamaian bagi seluruh dunia ketika Juru Selamat kita, Sang Raja Damai, datang kembali.

Melalui doa dan teladan kita, marilah kita menjadi pembawa damai yang turut serta menggenapi pesan yang dibawa oleh malaikat: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lukas 2:14) --VCG

3 April 2006

Maut Takkan Memisahkan Kita

Nats : Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:14-27

Meskipun para penulis dan filsuf telah berusaha sebaik mungkin untuk menyusun berbagai argumen penting perihal kehidupan setelah kematian, mereka tetap belum berhasil memberikan penghiburan bagi hati yang terluka, resah, dan dipenuhi pertanyaan.

Sebaliknya, Yesus selalu dapat memuaskan kita. Dia tidak menyodorkan beragam argumen filosofis. Dia tidak berusaha membuktikan bahwa kekekalan itu masuk akal; Dia benar-benar menyatakan hal itu! Dia mengatakan hal yang diketahui-Nya, dan menjawab dengan kuasa surgawi, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). Kebangkitan ini mempunyai dua aspek. Tubuh orang percaya akan dibangkitkan, dan roh mereka akan hidup di surga.

Apa artinya hal ini bagi kaum kristiani yang berduka karena kematian orang-orang terkasih? Kematian tidak memutuskan tali kasih kita bagi mereka, karena kasih itu ada pada roh, bukan pada tubuh. Renungkan saja, ketika orang-orang yang kita kasihi harus melakukan suatu perjalanan yang panjang, pikiran mereka dapat melintasi jarak yang jauh sehingga seolah-olah jarak itu hanya tinggal sejengkal, dan kasih mereka menyelimuti kita seolah-olah mereka di sisi kita. Begitu pula yang terjadi dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului kita.

Apakah saat ini Anda sedang berdukacita karena seseorang telah dipanggil ke surga? Yesus berjanji bahwa kita akan dipersatukan kembali pada suatu hari kelak ketika Allah mengembalikan orang-orang berharga yang kita kasihi --MRD

8 April 2006

Bertahan Hidup

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 3:1-11

Isaac Asimov menceritakan kisah penyeberangan di laut yang berombak besar. Selama penyeberangan, Pak Jones mabuk laut. Di saat yang sulit itu seorang pelayan yang ramah menepuk pundak Pak Jones sambil berkata, "Pak, kondisi seperti ini memang mengerikan. Tetapi ingatlah, tak pernah ada orang yang mati karena mabuk laut." Pak Jones mengangkat wajahnya yang pucat pasi, memandang pelayan yang penuh perhatian itu, "Nak, jangan berkata begitu! Justru pengharapan yang indah akan kematianlah yang membuat saya bertahan hidup."

Perkataan Pak Jones ini bukanlah sekadar ironi. Kata-katanya itu menggemakan perkataan Paulus kepada jemaat di Filipi. Ia mengatakan bahwa pengharapan yang indah akan kematianlah yang membuatnya terus bertahan (1:21). Namun demikian, ia tidak mencari pembebasan dari penderitaannya. Pengharapan Paulus berakar di dalam Kristus, yang telah mati di kayu salib bagi para pendosa, yang bangkit dari kubur pada pagi Paskah pertama, yang hidup di surga, dan yang suatu hari kelak akan membawa pulang Paulus ke hadirat-Nya.

Namun, bagaimana pengharapan untuk melihat Kristus, entah setelah kematian atau ketika Dia datang kembali, dapat membuat Paulus bertahan hidup? Pengharapan itu memberi makna pada setiap momen kehidupannya. Pengharapan itu memberinya alasan untuk hidup bagi Kristus. Itu juga memberinya semangat untuk memerhatikan sesama yang membutuhkan dorongannya. Paulus mengenal Kristus sebagai kehidupannya.

Ya Bapa, terima kasih atas Kristus yang telah bangkit. Dialah yang menjadi alasan bagi kami untuk hidup --MRD

23 Oktober 2006

Sementara ...

Nats : Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berduka cita oleh berbagai-bagai pencobaan (1Petrus 1:6)
Bacaan : 1Petrus 1:3-9

Segala sesuatu yang kita selesaikan dalam kehidupan ini membutuhkan komitmen kuat untuk jangka waktu yang pendek, tetapi hasilnya bernilai seumur hidup.

Renungkan, misalnya, orang-orang yang telah meraih gelar doktor dalam bidangnya. Orang-orang yang rajin itu mengabaikan tujuan-tujuan lain dan mengabdikan waktu, uang, kecakapan, dan kerja kerasnya selama jangka waktu tertentu agar dapat menekuni sesuatu yang untuk 50 tahun ke depan masih akan menempel pada nama-nama mereka. Usaha tekun yang sementara itu menghasilkan penghargaan seumur hidup.

Dalam surat Petrus yang pertama, sang rasul menggambarkan bagaimana suatu masa yang berat memberikan hasil yang baik. Dalam hal ini, Petrus tidak hanya berbicara tentang pendidikan formal, walaupun kita bisa menyebutnya sebagai sekolah dengan latihan yang berat. Ia telah menulis tentang masa-masa berat yang kita alami, yang tidak kita minta. Petrus menunjukkan bahwa itu semua dapat memberi manfaat abadi. Kita bersukacita selama mengalami pencobaan, bukan karena pencobaan itu sendiri, melainkan karena kemuliaan dan penghargaan abadi yang akan dinikmati.

Masa-masa berat dapat mendatangkan penderitaan dan kesedihan. Selain itu, masa-masa tersebut tampaknya tidak menjanjikan berita baik sedikit pun. Akan tetapi, Petrus meminta kita untuk "bergembira" selama menjalani masa-masa itu (1:6,7). Ia menginginkan kita untuk melihat ke depan pada kebahagiaan abadi yang dijanjikan, yaitu sukacita yang akan membantu kita memahami masa-masa berat yang harus berlangsung sementara waktu -JDB

24 Mei 2007

Memandang ke Depan

Nats : Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali (Amsal 24:16)
Bacaan : Amsal 24:13-20

Saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, Jenderal Colin Powell mendapati sebagian pidato yang disampaikannya di PBB ditulis berdasarkan informasi yang salah. Selama perjalanan kariernya yang bertahan lama dan cemerlang, pidato tersebut menjadi noda yang mencoreng perjalanan kariernya. "Saya kecewa," ujarnya pada seorang pewawancara. "Saya menyesal kejadian itu bisa terjadi dan berharap seandainya mereka yang mengetahui informasi itu memberi tahu saya saat itu juga, tetapi saya tak dapat mengatakan apa pun lagi tentang ini."

Alih-alih terkurung dalam kungkungan masa lalu, Powell berkata bahwa ia memilih "fokus ke depan dan tak menengok ke belakang."

Kita memiliki masa lalu yang kita sesali sekarang. Mungkin berupa kesalahan tak disengaja, kegagalan moral, atau keputusan bodoh. Kita berharap, seandainya semua itu tak pernah terjadi. Namun, itu terus terngiang dalam pikiran kita dan sering membuat kita jatuh.

Penulis kitab Amsal berkata, "Tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan [pengharapan di masa yang akan datang], dan harapanmu tidak akan hilang" (Amsal 24:13,14).

Meski masa lalu menjadi bagian hidup kita, masa lalu tak harus menentukan masa depan kita. Dengan hikmat Allah dan ampunan yang ditawarkan-Nya (Mazmur 130:3,4; Kisah 13:38,39), kita dapat memusatkan pikiran pada masa depan dengan penuh harapan --DCM


Penyesalan sia-sia hari-hari yang dahulu
Lenyap sudah dalam anugerah pengampunan Allah;
Ketakutan penuh rasa bersalah pun berlalu,
Dan sebagai gantinya, sukacita merekah. --Ackley

26 Oktober 2007

Berharap kepada Allah

Nats : Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? ... Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6)
Bacaan : Mazmur 42

Setelah melihat pantai sebelah barat Sri Lanka, saya tidak bisa membayangkan bahwa bencana tsunami pernah melanda daerah itu hanya beberapa bulan sebelumnya. Laut itu kelihatan tenang dan indah, banyak pasangan kekasih berjalan-jalan di bawah sinar matahari yang cerah, dan orang-orang sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing. Semuanya itu memberi sebuah perasaan yang aneh kepada saya. Dampak dari bencana itu masih tetap ada, tetapi telah menyusup jauh ke dalam lubuk hati dan pikiran orang-orang yang selamat. Trauma itu sendiri tidak akan mudah mereka lupakan.

Malapetaka yang besar mendorong sang pemazmur untuk berseru dalam keluh kesahnya, "Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: ‘Di mana Allahmu?’" (Mazmur 42:4). Pergumulan hati sang pemazmur pun telah menyusup ke dalam. Pada saat orang-orang lainnya melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa, ia membawa kebutuhan akan kesembuhan yang dalam dan sempurna di dalam hatinya.

Hanya dengan menyerahkan kehancuran kita kepada Gembala hati kita yang baik dan besar, kita dapat menemukan kedamaian yang memampukan kita untuk menanggapi hidup: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (ayat 6).

Marilah kita berharap hanya kepada Allah. Karena, itu merupakan satu-satunya jawaban bagi trauma hati kita yang mendalam --WEC

14 November 2007

Kehilangan Sahabat

Nats : Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya (Ratapan 3:22)
Bacaan : Ratapan 3:19-29

Ketika bus-bus tingkat Routemaster warna merah di London ditarik dari layanan reguler pada Desember 2005, banyak orang merasa kehilangan teman. Routemaster telah menyediakan layanan yang andal selama 51 tahun, dan telah menjadi sangat populer di kalangan penduduk London dan juga wisatawan karena orang bisa dengan mudah melompat naik atau turun dari bus-bus tersebut. Beberapa bus tua itu masih beroperasi di dua rute wisata Heritage, tetapi di bagian lain kota yang tak beraturan itu, bus-bus tersebut sudah menghilang.

Banyak perubahan dalam kehidupan ini yang kita rasakan sebagai kehilangan, entah itu kehilangan sekecil kenangan akan bus yang menyenangkan ataukah sebesar rumah keluarga yang hancur, impian akan keberhasilan yang tidak tercapai, atau kematian orang yang sangat kita cintai. Dalam setiap kehilangan, kita merindukan sentuhan penyembuhan dan harapan.

Kitab Ratapan disebut sebagai kitab "penguburan sebuah kota". Di dalamnya, Nabi Yeremia meratapi umatnya yang ditawan musuh dan kehancuran kota Yerusalem. Namun, di tengah-tengah kesedihan yang dirasakannya, ada penghiburan karena kesetiaan Allah, "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! ‘Tuhan adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya" (Ratapan 3:22-24).

Ketika hati kita terluka karena kehilangan yang kita alami, kita dapat menemukan harapan di dalam Tuhan yang tidak pernah berubah --DCM

12 Maret 2008

Pengakuan Sang Tentara

Nats : Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh (Yakobus 5:16)
Bacaan : Yakobus 5:14-18

Saat perang Vietnam, seorang tentara Amerika menjatuhkan bom dari pesawat dan melukai bocah perempuan berusia 9 tahun, bernama Kim Phuc. Sekujur tubuh Kim terbakar. Namun, karena keajaiban Tuhan, setelah 17 kali dioperasi, Kim bisa terus hidup sampai kini. Setelah mengikut Kristus, ia menyatakan sudah mengampuni orang yang melukainya. Suatu hari, seorang pendeta menemuinya dan memohon maaf kepadanya dengan air mata berlinang. Rupanya, dialah mantan tentara yang menjatuhkan bom waktu itu! Ia telah bertobat, bahkan menjadi pendeta. Namun, ia tetap diburu rasa bersalah, sebelum mengaku dosa dan meminta maaf kepada Kim.

Setiap orang membutuhkan pengakuan dosa. Itu sebabnya, Yakobus menasihati jemaat agar "saling mengaku dosa" (ayat 16). Dosa yang tidak kita selesaikan bisa mengakibatkan penderitaan, bahkan penyakit. Bagaikan sampah yang dipendam di hati. Jika dibiarkan, sampah itu akan merusak dan membuat kita hidup dalam dendam dan kepahitan. Hanya lewat pengakuan, hidup kita akan dilegakan, batin pun dibebaskan dari rasa bersalah. Dan, alangkah baiknya bila pengakuan itu kita lakukan di hadapan Tuhan, juga di hadapan orang yang telah kita lukai. Ini akan menjadikan kita "benar". Kita disebut "benar" bukan karena tak pernah berbuat dosa, melainkan karena kita mau mengakui dosa, hingga dibenarkan Tuhan.

Mari periksa diri kita; adakah dosa yang telah lama kita simpan dan belum diakui di hadapan Tuhan? Bila ada, mari segera mengaku dosa kepada-Nya. Juga meminta maaf kepada orang yang kita lukai. Dia akan membuang beban di hati kita! -JTI

13 April 2008

Berkat Dalam Ibadah

Nats : Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kisah 2:42)
Bacaan : Kisah 2:41-47

Waktu masih kecil, saya sering mendengar pernyataan demikian, "Buat apa kamu terus ke gereja, apakah gereja akan memberimu makan?" "Bukankah kamu justru kehilangan uang karena harus memberi untuk persembahan?" Pemikiran semacam itu terus mengisi benak saya selama bertahun-tahun, hingga suatu saat Tuhan mengubah haluan hidup saya dan membuat saya bertobat.

Alkitab memberi perspektif yang lain tentang ibadah. Ternyata Tuhan menyediakan berkat yang khusus dalam ibadah. Bacaan kita hari ini diawali dengan khotbah Petrus yang membawa perubahan hidup. Jemaat yang pertama mendapat pencurahan Roh Kudus. Setelah itu, cara mereka beribadah pun diperbarui. Ibadah yang selama ini dijalankan biasa-biasa saja, kini berubah menjadi kebutuhan mutlak. Jemaat memiliki kehausan yang mendalam akan firman Tuhan. Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Setiap hari mereka berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (ayat 42). Peristiwa-peristiwa ajaib terjadi sebagai bukti penyertaan Tuhan atas firman-Nya. Dan lebih hebat lagi, Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan (ayat 47). Sungguh besar segala berkat dalam ibadah!

Menghayati makna ibadah dengan benar adalah keharusan. Jika kita beribadah sebagai rutinitas belaka, maka tidak akan ada dampak apa pun. Ibadah gereja mula-mula membawa berkat rohani dan jasmani, sebab berawal dari kehausan akan kehadiran Tuhan dan firman-Nya. Karena itu, mari kita sama-sama berusaha menumbuhkan kerinduan yang dalam untuk bertemu Tuhan dalam setiap ibadah! -MZ

2 Juni 2008

Sisi Ishak

Nats : Dan [Yesus] berkata: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Matius 18:3)
Bacaan : Kejadian 22:1-19

Saat merenungkan pengorbanan Ishak oleh Abraham, tak ayal perhatian kita terfokus pada kebesaran dan kerelaan hati Abraham untuk mempersembahkan anak tunggalnya sebagai wujud ketaatan pada Allah. Sisi Ishak nyaris tak pernah dibicarakan, padahal sisi ini menawarkan pelajaran yang tak kalah berharga.

Ketika itu Ishak sudah cukup besar sehingga Abraham menyuruhnya memikul kayu untuk korban bakaran (ayat 6). Saya membayangkan ia cukup kuat untuk melawan Abraham yang berusia seratus tahun lebih tua darinya. Ketika Abraham hendak mengikatnya, bisa saja ia memberontak dan melarikan diri. Nyatanya, Ishak pasrah (ayat 9). Ia membiarkan dirinya diletakkan di atas mezbah, siap dikorbankan. Ia memercayai kehendak baik ayahnya, dan juga memercayai kehendak baik Allah yang disembah oleh ayahnya. Ia tampaknya mengerti bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya, semuanya itu berlangsung demi suatu kebaikan. Di sini Ishak menjadi simbol Kristus yang berserah pada kehendak Bapa-Nya.

Sikap Ishak meneladankan penyerahan diri yang total. Penyerahan diri semacam itu berangkat dari pengertian bahwa Allah itu selalu baik dan tidak mungkin mencelakakan kita. Meskipun kita harus melewati pengorbanan yang menyakitkan, pada akhirnya rencana Allah bagi kehidupan kita senantiasa mendatangkan damai sejahtera. Sosok Ishak mewakili iman seperti seorang anak kecil, yang menandai orang-orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 18:3).

Sebagai anak-Nya, siapkah kita juga "diikat dan dikorbankan" dengan tetap memercayai hati-Nya? —ARS

2 Juni 2008

Bukan Pihak Penting

Nats : Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan segala jalanmu (Amsal 3:6)
Bacaan : Hosea 8:1-6

Beberapa waktu yang lalu, seorang kolega marah terhadap saya. Usut punya usut ternyata ia kecewa karena saya lupa tidak memberitahukan suatu berita penting kepadanya. Kelalaian saya ternyata menyebabkan dia merasa bahwa saya tidak menghargainya, tidak menganggapnya penting. Sikap saya telah menyakiti hatinya.

Di masa Nabi Hosea hidup, bangsa Israel juga pernah menyakiti Tuhan dengan cara yang serupa. Walaupun Allah telah menyatakan diri secara jelas dalam memimpin kehidupan mereka dari waktu ke waktu, namun mereka malah beribadah kepada dewa-dewa asing. Lebih dari itu, mereka juga mulai "menyingkirkan" Tuhan dari kehidupan mereka. Mereka tidak lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan dalam mengambil keputusan penting; seperti mengangkat raja maupun pemuka umat (ayat 4). Mereka tidak lagi merasa perlu meminta persetujuan Tuhan dalam melakukan sesuatu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang nomor satu dalam hidup kita? Apakah Tuhan adalah Pihak yang begitu penting bagi kita, sehingga kita selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya sebelum bertindak? Atau kita merasa dapat membuat keputusan kita sendiri tanpa persetujuan-Nya? Amsal 3:6 mengingatkan bahwa kita harus mengakui Dia, sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Dari situ kita akan selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya dalam mengambil suatu langkah. Dengan demikian, Dia akan meluruskan langkah kita. Tiap-tiap hari, selalu ada banyak hal perlu kita pertimbangkan. Apakah Anda rindu mengakui Dia sebagai Pemimpin Hidup kita? —GS

6 Juni 2008

Meledak Seperti Pistol

Nats : Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu (Efesus 4:26)
Bacaan : Efesus 4:20-32

Seorang perempuan yang suka marah-marah berusaha membenarkan kebiasaannya, "Kalau amarah saya sudah bisa meledak, berarti persoalan selesai. Jadi daripada dipendam, lebih baik diluapkan saja. Betul, tidak?" Temannya pun menimpali, "Yah, tapi kemarahanmu itu seperti pistol. Hanya dengan satu ledakan, kerusakan yang terjadi bisa sangat fatal." Kemarahan memang emosi yang pelik. Ada orang yang gampang sekali meledak amarahnya, seperti perempuan di atas. Ada orang yang suka menyimpan kemarahannya; sehingga menjadi akar pahit. Namun, ada pula orang yang tak bisa marah. Ia cukup menyalahkan diri sendiri, dan akhirnya depresi.

Apakah marah itu dosa? Alkitab tidak menyatakan bahwa kita tidak boleh marah. Hanya, kita perlu menghadapi kemarahan secara wajar. Ada saatnya kita juga perlu marah. Namun, Alkitab membatasi agar kita jangan memendam kemarahan hingga menjadi dendam (ayat 26). Kita mesti berjaga-jaga agar tak terjebak dalam amarah yang mengundang pengaruh Iblis (ayat 27).

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, nasihat Paulus tentang amarah ini ditaruh dalam konteks pelatihan rohani untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (ayat 23,24). Dalam proses ini kita ditantang untuk secara lebih tenang dan dewasa mengenali hal-hal yang memang sepatutnya memicu kemarahan, menyadari bahaya amarah yang tak terkendali, serta menjauhi amarah yang mendatangkan dosa.

Saat terjadi kecurangan atau ketidakadilan, misalnya, kita boleh marah. Namun, jangan asal meledak seperti pistol. Belajarlah mengungkapkan kemarahan dengan semestinya —ARS

2 Juli 2008

Tidak Mirip

Nats : Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak s (Roma 8:29)
Bacaan : Roma 8:18-30

Saya pernah mendengar seorang tokoh mengatakan, 'Saya menyukai Kristus, namun saya tidak suka pada orang-orang kristiani. Orang-orang kristiani itu sangat tidak mirip dengan Kristus.' Memang begitu ya?" tanya saya kepada seorang teman.

"Yah, begitulah. Menjadi seperti Kristus memang berat. Beberapa kawan non-kristiani berkomentar serupa. Kristus yes, orang kristiani no," jawab teman saya.

Kegagalan seperti itu bisa mematahkan semangat. Bisa juga malah memberi dalih, membenarkan kegagalan kita dalam upaya meneladani Kristus, membuat kita tidak bersungguh-sungguh mengikuti Dia. Kalau toh itu mustahil, kenapa mesti dicoba juga? Demikian kita berpikir.

Nyatanya, firman Tuhan menunjukkan bahwa tujuan pembaruan hidup kita tak lain agar kita semakin serupa dengan Kristus (ayat 29). Hanya, kebanyakan dari kita salah berpikir dengan mengira hal itu harus diusahakan dengan kekuatan sendiri. Tidak. Alkitab menegaskan, kita hanya mungkin mengalami pembaruan jika mengandalkan kekuatan anugerah Allah.

Dalam proses menjadi semakin serupa dengan Kristus, kita akan menemukan jati diri dan tujuan hidup kita dalam rencana Tuhan. Dan kita menempuh proses itu dengan menyimak dan menekuni firman, memerhatikan kehidupan Yesus di bumi yang tercatat dalam Injil, menjalin relasi yang akrab dengan-Nya, meminta kepenuhan Roh-Nya, dan menjalankan pelayanan-Nya di dunia.

Memang, seperti kata teman saya, itu proses yang berat. Namun, tidak berarti kita menyerah saja sebelum bertanding, bukan? Apalagi kita tidak berjuang seorang diri! (ayat 28) -ARS

9 Juli 2008

Perbuatlah Demikian!

Nats : Kata Yesus kepadanya, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Lukas 10:37)
Bacaan : Lukas 10:29-37

Cerita orang Samaria yang baik hati sudah sangat terkenal. Banyak film, drama, novel, dan cerpen yang ditulis berdasarkan cerita ini. Cerita ini bukan kisah nyata, tetapi maknanya sangat riil. Orang yang membutuhkan pertolongan, orang yang baik hati, dan orang yang tidak mau peduli terhadap sesama yang menderita adalah sosok-sosok nyata yang ada di dunia ini dari dulu sampai sekarang.

Bukan tanpa sengaja kalau Tuhan Yesus menjadikan orang Samaria sebagai "tokoh baik", sedangkan imam dan orang Lewi sebagai "tokoh buruk". Orang Samaria di mata orang-orang Yahudi adalah kelompok marginal, yang dianggap hina, sedangkan imam dan orang Lewi dianggap sebagai kalangan elite masyarakat dan terhormat. Cerita ini seakan-akan hendak menjungkirbalikkan anggapan umum yang ada pada waktu itu, bahwa yang Tuhan hargai dari manusia bukanlah status atau kedudukan sosial yang disandangnya, tetapi karya kasihnya kepada orang lain yang menderita.

Di dalam cerita itu, imam dan orang Lewi digambarkan sebagai orang-orang yang tidak memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap sesama. Sebaliknya orang Samaria, dengan sigap menyingsingkan lengan baju untuk menolong si korban. Bahkan, ia memberi pertolongan tanpa pamrih dan gembar-gembor. Tuhan Yesus menutup cerita ini dengan satu nasihat praktis, "Pergilah dan perbuatlah juga demikian" (ayat 37). Dalam hidup bermasyarakat, kita akan selalu bertemu dengan "korban", yakni mereka yang memerlukan pertolongan. Tuhan menghendaki kita perbuat seperti orang Samaria itu -AYA



TIP #15: Gunakan tautan Nomor Strong untuk mempelajari teks asli Ibrani dan Yunani. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA