Topik : Penderitaan

14 September 2003

Buah Kesengsaraan

Nats : Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (Roma 5:3)
Bacaan : Roma 5:1-5

Seorang pemuda kristiani menemui seorang jemaat yang lebih tua dan bertanya, "Bersediakah Anda berdoa supaya saya lebih sabar?" Lalu mereka pun berlutut bersama, dan pria itu mulai berdoa, "Tuhan, kirimkan kesulitan kepada anak muda ini di pagi hari; kirimkan padanya kesulitan di siang hari; kirimkan padanya ...." Sampai di sini, pemuda itu memotong, "Bukan, bukan kesulitan! Saya meminta kesabaran." "Saya tahu," jawab orang kristiani yang bijaksana itu, "tetapi melalui kesulitanlah kita belajar untuk bersabar."

Kata ketekunan dalam bacaan Kitab Suci hari ini dapat berarti kemampuan untuk tetap tegar di dalam tekanan kesulitan tanpa menyerah. John A. Witmer menulis, "Hanya orang percaya yang telah menghadapi penderitaanlah yang mampu membangun ketegaran. Dan pada akhirnya juga membangun karakternya."

Ketika Rasul Paulus mengajar jemaat di Roma bahwa "kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan" (Roma 5:3), ia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya. Ia telah menderita karena dipukul, dicambuk, dirajam, karam kapal, dan penganiayaan. Namun, ia tetap tegar dalam imannya dan tidak mundur dari tanggung jawabnya untuk mengabarkan Injil.

Jika saat ini Anda sedang menghadapi ujian berat, muliakanlah Allah! Di bawah kendali-Nya yang penuh hikmat, maka segala sesuatu yang terjadi pada kita -- entah menyenangkan atau menyakitkan -- dirancang untuk membangun karakter yang serupa dengan Kristus. Oleh sebab itu, kita dapat bermegah dalam penderitaan --Richard De Haan

17 Januari 2005

Yang Dapat Dilakukan Allah

Nats : Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi (2 Korintus 1:10)
Bacaan : 2 Korintus 1:3-11

Mereka dijuluki “anak-anak terhilang” dari Sudan. Ribuan dari mereka melarikan diri dari perang saudara di negara itu, dan mengungsi dari kekacauan dan pembunuhan. Banyak dari antara mereka yang telah belajar Injil di gereja-gereja yang didirikan para misionaris, tetapi pengetahuan mereka akan dunia di luar kampung halaman mereka sedikit.

Artikel di National Geographic mengisahkan salah satu dari “anak- anak terhilang” yang kini menetap di Amerika Serikat. Ia mengatakan kepada jemaat gereja bahwa ia sangat bersyukur atas bantuan dari Amerika, dan juga atas iman yang ia pelajari melalui kesulitan. “Orang Amerika memercayai Allah,” katanya, “tetapi mereka tidak tahu apa yang dapat Allah lakukan.”

Dalam ujian berat, kita bergerak dari teori menuju realitas saat mengalami kuasa Allah. Ketika tampaknya tidak ada harapan, kita dapat membagikan perasaan Paulus yang berkata, “Beban yang ditanggungkan ke atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga atas hidup kami” (2 Korintus 1:8). Tetapi kita pun dapat belajar, seperti Paulus, bahwa di masa kegelapan “kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (ayat 9).

Jika hari ini Allah telah mengizinkan Anda berada dalam keadaan yang tanpa harapan, pertimbangkan kembali semua yang telah dilakukan dan masih tetap dapat dilakukan Allah yang Perkasa. Dengan memercayai Allah dalam kesulitan, kita tahu apa yang dapat dilakukan-Nya dalam hidup kita —David McCasland

21 Maret 2005

Jalan Bergelombang

Nats : Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29)
Bacaan : Filipi 1:27-30

Ketika orang-orang mengatakan kepada saya bahwa hidup itu susah, saya selalu menjawab demikian, "Tentu saja." Saya rasa jawaban tersebut lebih memuaskan daripada jawaban lain yang dapat saya utarakan. Penulis Charles Williams berkata, "Dunia ini memang menyengsarakan dalam segala hal. Akan tetapi sungguh tak tertahankan apabila seseorang mengatakan bahwa kita diciptakan untuk menyukai hal tersebut."

Jalan yang ditunjukkan Allah kepada kita, kerap kali tampaknya menjauhkan kita dari apa yang kita anggap baik, sehingga kita percaya bahwa kita salah jalan dan tersesat. Hal itu terjadi karena banyak di antara kita telah diajar untuk memercayai bahwa jika kita berada di jalur yang benar, maka kebaikan Allah itu sama artinya dengan hidup yang tanpa masalah.

Namun, itu merupakan angan-angan yang sangat berbeda dengan pandangan alkitabiah. Kasih Allah sering memimpin kita melalui jalan yang menjauhkan kita dari kenyamanan duniawi. Paulus berkata, "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia" (Filipi 1:29). Apabila kita telah sampai di ujung lembah kekelaman, kita akan mengerti bahwa setiap keadaan diizinkan terjadi demi kebaikan kita.

"Tidak ada jalan yang seaman dan sepasti jalan yang telah kita lewati," kata seorang pengajar Alkitab, F.B. Meyer. "Jika saja kita dapat melihat jalan tersebut sebagaimana Allah selalu melihatnya, maka kita pun pasti akan memilih jalan yang dipilih Allah bagi kita" —DHR

1 April 2005

Barang yang Pecah

Nats : Aku ... telah menjadi seperti barang yang pecah (Mazmur 31:13)
Bacaan : Mazmur 31:10-25

Tidak banyak kehidupan utuh di dunia ini yang berguna bagi Allah. Hanya beberapa orang yang dapat melaksanakan harapan dan rencana mereka tanpa mengalami gangguan dan kekecewaan sepanjang hidup mereka.

Namun, kekecewaan manusia kerap kali merupakan rancangan Allah. Dan hal-hal yang kita yakini sebagai tragedi barangkali merupakan suatu kesempatan yang telah dipilih Allah untuk menunjukkan kasih dan anugerah-Nya. Hanya dengan mengikuti alur kehidupan orang-orang yang hancur ini, maka kita akan dapat melihat bahwa mereka akhirnya menjadi orang kristiani yang lebih baik dan efektif daripada jika mereka melaksanakan semua rencana dan maksud mereka sendiri.

Apakah Anda saat ini sedang mengalami kehancuran? Apakah sesuatu yang paling Anda kasihi telah direnggut dari kehidupan Anda? Ingatlah bahwa jika Anda mampu melihat maksud dari semuanya itu melalui sudut pandang Allah, maka Anda akan memuji Tuhan.

Hal-hal terbaik yang terjadi pada diri kita bukanlah hal-hal yang berlangsung dengan cara kita, namun bila kita mengizinkan Allah bekerja dengan cara-Nya. Walaupun ujian, pencobaan, serta dukacita kerap kali tampak keras dan kejam, tetapi itulah cara Allah menunjukkan kasih-Nya dan pada akhirnya akan menjadi yang terbaik bagi kita.

Ingatlah, kita kini memegang janji dari Tuhan: "Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela" (Mazmur 84:12) —MRD

16 April 2005

Batu Itu Akan Dipindah

Nats : Ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu ... itu sudah terguling (Markus 16:4)
Bacaan : Markus 16:1-14

Para wanita yang bermaksud meminyaki jenazah Yesus patut dipuji atas kelembutan kasih dan rasa hormat mereka bagi Juruselamat. Namun, saat mereka sudah hampir tiba di pemakaman, kesulitan memindahkan batu berat yang menyegel kubur-Nya membuat mereka khawatir. Ketakutan mereka tidak berdasar; batu itu sudah dipindahkan.

Demikian pula, kita kerap merasa perlu mengkhawatirkan kesulitan masa depan. Padahal Allah dengan murah hati akan menyingkirkan atau menolong kita mengatasinya. Mari kita menerapkan iman yang lebih besar dalam menghadapi rintangan yang mungkin menghadang di jalan. Kita dapat yakin bahwa Tuhan akan membantu ketika menghadapi hal-hal tersebut jika kita terus maju dalam nama-Nya dan bagi kemuliaan-Nya.

Puisi berikut memberi beberapa nasihat praktis yang sesuai dengan bacaan kita hari ini:

Di dalam kilauan sinar matahari hari ini,

Tinggalkanlah kekhawatiran esok hari—

Janganlah merusak sukacita saat ini dengan bertanya:

"Siapakah yang akan menggulingkan batu itu?"

Kerap, sebelum kita berhadapan dengan ujian itu

Kita telah datang dengan sukacita,

Para malaikat telah turun dari surga

Dan telah menggulingkan batu itu—Anonim

Hari ini majulah di dalam pelayanan, tak gentar oleh rintangan yang akan datang. Biarlah hati Anda bersorak oleh kepastian bahwa apa pun kesulitan yang mungkin Anda hadapi, Allah akan memindahkan batu itu —HGB

31 Juli 2005

Jembatan Kasih Karunia

Nats : Rasul-rasul itu meninggalkan sidang ... dengan gembira, karena telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (Rasul 5:41)
Bacaan : Rasul 5:33-42

Coba layangkan imajinasi Anda sejenak. Bayangkan Anda sedang berkendaraan melewati gurun di Kalifornia Selatan dan Anda melihat jembatan Golden Gate yang sangat gagah terbentang di antara aliran sungai kecil yang kering dan terletak di pinggiran persimpangan jalan desa. Pemandangan itu pasti akan sangat menggelikan.

Demikian juga Allah senantiasa menunjukkan kuasa dan kasih karunia-Nya pada waktu atau tempat yang tepat. Dia selalu menyediakan sesuai dengan kesulitan yang sedang dihadapi. Dia tidak akan memberikan kekuatan bila kekuatan itu belum diperlukan.

Kita merasa ngeri apabila memikirkan hal-hal yang dialami oleh beberapa anak Allah karena iman mereka kepada Juruselamat. Banyak di antara mereka lebih memilih jalan yang penuh penderitaan daripada mengikuti jalur yang lebih sedikit mengandung perlawanan. Saya pun kemudian bertanya-tanya, apakah kita akan melakukan hal yang sama?

Tentu saja Tuhan tidak meminta kita untuk membuat komitmen semacam itu sebelum hal tersebut diperlukan. Kita dapat meyakini bahwa apabila kita menderita demi Dia (Filipi 1:29), Dia akan menyediakan apa pun yang kita perlukan untuk menanggung penderitaan itu.

Sebagai pelayan-pelayan Kristus, kita dapat melakukannya selangkah demi selangkah dan percaya bahwa entah kita menemui ngarai yang kering atau sungai yang deras, jembatan kasih karunia Allah akan membuat kita dapat menyeberang dengan aman ke seberang MRD

12 Agustus 2005

Tiada Penyesalan

Nats : Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Matius 16:27)
Bacaan : 1Petrus 4:12-19

Seorang gadis kecil yang harus menjalani operasi, merasa ketakutan. Untuk membujuk dia, maka orangtuanya kemudian berjanji akan memberinya apa yang telah diingininya sejak lama, yaitu seekor anak kucing. Operasi itu berjalan dengan baik, namun saat pengaruh obat bius mulai sirna, sang anak terdengar bergumam kepada dirinya sendiri, Benar-benar cara yang tidak enak untuk mendapatkan seekor kucing!

Orang-orang kristiani yang mengalami kesukaran sewaktu melayani Tuhan tidak akan merasakan hal seperti itu saat mereka menoleh ke belakang. Memang benar bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2Timotius 3:12). Yesus berkata kepada para murid-Nya, Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku (Matius 16:24). Dia juga meyakinkan mereka bahwa saat Dia kembali ke bumi, Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (ayat 27).

Paulus berkata bahwa penderitaan kita bagi Kristus tidak layak jika dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18). Dan Petrus mengatakan, Bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya (1Petrus 4:13).

Orang-orang percaya yang bertahan di dalam kesukaran bagi Kristus akan menganggapnya sebagai hak istimewa untuk ambil bagian bersama Juruselamat mereka. Menderita bagi Dia mendatangkan upah yang pasti, tanpa penyesalan RWD

19 Agustus 2005

Batu di Dasar Jurang

Nats : Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71)
Bacaan : Mazmur 119:65-72

Saat itu saya berusia awal tiga puluhan. Saya menjadi seorang istri dan ibu yang penuh pengabdian serta seorang pekerja kristiani mendampingi suami saya. Namun, saya menemukan diri saya berada di dalam sebuah perjalanan yang pasti tak mau dijalani siapa punperjalanan menurun. Saya menuju suatu kehancuran yang dihindari oleh sebagian besar dari kita, yaitu hancurnya sikap terus menerus mengandalkan pada diri sendiri.

Tetapi akhirnya saya mengalami kelegaan yang aneh setelah jatuh ke atas batu di dasar jurang. Di sana saya menemukan sesuatu yang tak terduga. Batu tempat saya terjatuh tidak lain adalah Kristus sendiri. Dengan berserah hanya kepada-Nya, saya berada pada posisi untuk membangun kembali sisa hidup saya, kali ini sebagai seseorang yang bergantung pada Allah, bukan sebagai seseorang yang bergantung pada diri sendiri. Pengalaman di dasar jurang itu menjadi sebuah titik perubahan dan salah satu perkembangan rohani yang paling penting dalam hidup saya.

Banyak orang merasa sama sekali tidak rohani ketika jatuh ke dasar jurang. Penderitaan mereka kerap kali diperkuat oleh orang-orang kristiani yang berpandangan sangat sempit terhadap apa yang sedang dialami oleh sang penderita, dan mengapa hal itu terjadi. Namun, Bapa surgawi kita gembira akan hasil yang ingin Dia capai dari proses yang menyakitkan itu.

Seseorang yang mengetahui rahasia hidup yang bergantung kepada Allah dapat berkata demikian, Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71) JEY

11 September 2005

Menyanyi Bagi Tuhan

Nats : Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)
Bacaan : Mazmur 30

Penderitaan adalah bagaikan orang asing yang mencurigakan, yang mengetuk pintu rumah Anda. Mau tidak mau Anda harus mengizinkannya masuk karena ia terus-menerus mengetuk pintu dan tidak mau pergi.

Anda merasa yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihat kesedihan Anda dan Anda merasa kesepiantetapi Allah melihat kesedihan yang tengah Anda rasakan dan Dia mengerti. Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku, keluh Daud di dalam Mazmur 6:7. Tuhan telah mendengar tangisku (ayat 9). Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? (56:9). Walaupun sepanjang malam ada tangisan, itu tidak akan berlangsung selamanya, karena menjelang pagi terdengar sorak-sorai (30:6).

Seperti halnya Daud, kita ingat bahwa kasih dan kebaikan hati Allah akan berlangsung selama seumur hidup kita. Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan maupun membiarkan kita. Manakala kasih Allah masuk ke dalam pikiran kita, kepedihan hati dan ketakutan kita akan lenyap. Ratapan kita akan diubah menjadi tarian, pakaian kabung dan derita kita akan dilepaskan, dan kita pun diikat dengan sukacita. Kita dapat bangkit untuk menyambut hari sambil menyerukan puji-pujian karena belas kasihan, tuntunan, dan perlindungan yang telah diberikan-Nya. Kita bersukacita di dalam nama-Nya yang kudus (30:12,13).

Bagaimanapun keadaan kita, marilah kita menyanyi bagi Tuhan sekali lagi! DHR

19 Januari 2006

Belajar untuk Mengajar

Nats : Apakah engkau memerhatikan hamba-Ku Ayub? (Ayub 1:8)
Bacaan : Ayub 2:1-10

Setelah mata ayah saya yang terluka parah harus diangkat lewat pembedahan, para dokter dan perawat mengomentari sikap ayah saya yang menerima dengan baik kehilangan itu. Responsnya memang luar biasa. Di sepanjang percobaan berat itu saya tidak pernah mendengar ia mengeluh.

Setelah kecelakaan itu seseorang bertanya kepada saya, "Mengapa Allah mengizinkan hal ini terjadi? Hal apakah yang masih harus dipelajari ayah Anda di usianya sekarang?"

Tidak semua tragedi terjadi karena kita masuk di "sekolah" didikan keras Allah yang berlawanan dengan kehendak kita. Selalu ada sesuatu yang dapat kita pelajari dari penderitaan. Namun dalam hal ini, ayah saya adalah guru sekaligus murid.

Respons Ayah terhadap rasa sakit dan kehilangan yang dialaminya, digabung dengan respons saleh ibu saya terhadap masalah kesehatannya sendiri, memberi saya pelajaran yang diyakini oleh hamba Allah, Ayub, sebagai sesuatu yang benar. Pada puncak penderitaannya, istri Ayub mendorongnya untuk mengutuki Allah dan mati (Ayub 2:9). Namun Ayub menjawab, "Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (ayat 10).

Ayub tidak mengerti sebab dari penderitaannya, namun ia menyatakan kepercayaannya yang teguh kepada Allah yang berhak mengizinkan kesulitan maupun kebaikan di dalam hidup kita. Di dalam penderitaan, penting bagi kita untuk merenungkan apa yang Allah ingin untuk kita ajarkan, juga apa yang diinginkan-Nya untuk kita pelajari --JAL

15 Februari 2006

Satu Saudara

Nats : Aku ... menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus (Kolose 1:24)
Bacaan : Kolose 1:24-29

Dari semua drama hebat Shakespeare, Henry V mungkin adalah drama yang paling heroik. Dalam satu adegan yang menegangkan, saat tentara Inggris ketakutan menghadapi tentara Perancis yang lebih unggul, Raja Henry menguatkan para prajuritnya. Karena pertempuran itu akan berlangsung pada "hari raya Crispianus", maka jika mereka menang, kemenangan tersebut akan diperingati setiap tahun. Sang raja berkata kepada para prajuritnya, "Hari ini disebut hari raya Crispianus.... Kita akan diingat dalam hari raya itu; kita yang meski hanya sedikit, adalah orang-orang yang berbahagia, yang terikat sebagai satu saudara."

Kini Angkatan Laut Amerika pun menyebut dirinya "satu saudara". Ketika ada ancaman dan bahaya, saling ketergantungan dan pengorbanan pribadi akan mempersatukan orang-orang agar dapat bertahan hidup.

Orang kristiani yang menghadapi perlawanan bisa memiliki ikatan seperti itu. Paulus menulis, "Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus" (Kolose 1: 24).

Apakah Paulus percaya bahwa penderitaan Kristus di kayu salib tidak cukup? Tidak, penebusan-Nya sepenuhnya cukup untuk semua dosa kita. Apa yang dimaksud Paulus adalah bahwa bila kita menggenapkan pekerjaan Kristus di bumi di tengah-tengah perlawanan yang menyakitkan, berarti kita turut merasakan penderitaan-Nya. Yesus menderita karena menaati kehendak Allah, dan kita pun seharusnya demikian. Namun seperti Paulus, kita dapat bersukacita apabila dekat dengan Tuhan dan terikat dalam satu persaudaraan --HDF

17 Juni 2006

Sedikit Perspektif

Nats : Penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya (2Korintus 4:17)
Bacaan : 2Korintus 4:16-18

Seorang mahasiswi menulis sebuah surat yang mengejutkan kepada orangtuanya:

Ibu dan Ayah,

Ada banyak yang ingin saya ceritakan. Beberapa siswa membuat keributan dan membuat api di kamar saya. Akibatnya saya menderita kerusakan paru-paru dan harus ke rumah sakit. Di sana, saya jatuh cinta kepada seorang pegawai. Namun saya akhirnya ditangkap karena terlibat dalam keributan itu. Akhirnya, saya harus berhenti sekolah, menikah, dan pindah ke Alaska.

Putrimu yang terkasih.

NB: Sebenarnya tak satu pun hal di atas sungguh terjadi, saya hanya benar-benar gagal di pelajaran kimia. Saya ingin kalian memandang kegagalan saya ini dalam perspektif yang benar.

Kita mungkin heran melihat cara mahasiswi ini menyampaikan berita buruk kepada orangtuanya. Namun, hal itu menyoroti sebuah kebenaran: Perspektif yang benar itu penting.

Saat Paulus memberikan dorongan kepada jemaat di Korintus, ia menulis daftar pencobaan dan penderitaan yang benar-benar dialaminya. Agar memiliki perspektif yang benar, ia mengalihkan fokusnya kepada Allah. "Penderitaan ringan yang sekarang ini," katanya, "akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (2Korintus 4:17).

Dalam beberapa hal, perspektif kita lebih penting daripada apa yang kita alami. Paulus meneruskan, "Yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal" (ayat 18). Penderitaan kita akan menjadi tidak penting jika dibandingkan dengan kemuliaan yang menanti kita --HWR

22 Juli 2006

Pergumulan

Nats : Pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar (2Timotius 3:1)
Bacaan : 2Timotius 3

Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata bahwa dengan percaya kepada Yesus saja, Dia akan memecahkan seluruh masalah Anda dan Anda akan menikmati kekayaan dan kedamaian dalam hidup ini?

Jika itu jalan yang Allah rancangkan bagi orang-orang yang melayani-Nya, lalu apa masalah Paulus? Setelah bertobat, hidup Paulus begitu saleh, tetapi ia tetap mendapat banyak masalah. Ia adalah salah seorang misionaris terbesar sepanjang zaman -- dan apa masalah yang dihadapinya? Dipukul. Ditangkap. Hampir tenggelam. Melarikan diri ke luar kota.

Perhatikan Yusuf, Abraham, Ayub, Yeremia, Petrus. Mereka adalah orang-orang saleh. Namun, mereka semua menghadapi berbagai bahaya dan kesulitan yang tak pernah kita harapkan untuk kita alami.

Lalu, mengapa ada pergumulan seperti di atas? Mengapa tragedi yang menerpa orang kristiani sama kuatnya seperti tragedi yang menerpa kebanyakan kaum ateis yang antagonistis? Mengapa kita tidak terbebas dari bencana alam, penyakit serius, perselisihan antarpribadi, dan perlakuan tidak adil oleh orang lain?

Bagaimanapun juga, dengan cara yang dipakai Allah untuk membereskan segalanya, berbagai masalah kita dapat membawa kebaikan bagi kerajaan dan rencana-Nya (Roma 8:28; Filipi 1:12). Tugas kita adalah memuliakan Allah dalam keadaan apa pun. Jika kita melakukan hal itu, maka pergumulan kita akan dapat mengarahkan orang lain kepada Sang Juru Selamat saat kita berhasil mencapai tujuan utama kita, yakni untuk mendapatkan kedamaian dan upah di surga --JDB

17 Agustus 2006

Tawanan Siapa?

Nats : Kepadaku ... telah diberikan anugerah ini, untuk mem-beritakan kepada orang-orang bukan Yahudi keka-yaan Kristus, yang tidak terduga itu (Efesus 3:8)
Bacaan : Efesus 3:1-9

Ada sebuah kisah tentang seorang pendeta Skotlandia, Alexander Whyte, yang mampu menghadapi situasi yang paling suram dan tetap menemukan sesuatu untuk disyukuri. Suatu Minggu pagi yang gelap ketika cuaca dingin, basah, dan berangin keras, salah seorang anggota majelisnya berbisik, "Saya yakin bahwa Pak Pendeta tidak dapat mengucap syukur kepada Allah untuk apa pun juga pada hari seperti ini. Di luar benar-benar mengerikan!" Pendeta itu memulai kebaktian dengan berdoa, "Kami bersyukur kepada-Mu, ya Allah, bahwa cuaca tidak selamanya seperti ini."

Rasul Paulus juga melihat hal yang terbaik di dalam segala situasi. Bayangkanlah keadaannya ketika ia menulis surat kepada jemaat di Efesus, saat ia menunggu pemeriksaan pengadilan di depan kaisar Roma, Nero. Sebagian besar orang mungkin menyimpulkan bahwa ia merupakan tawanan Roma. Akan tetapi, Paulus memandang dirinya sendiri sebagai tawanan Kristus. Ia berpikir bahwa penderitaan yang dialaminya merupakan kesempatan baginya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi.

Kata-kata Paulus ini harus menantang kita: "Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah diberikan anugerah ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu" (Efesus 3:8). Paulus, sebagai tawanan Kristus, memandang dirinya sendiri sebagai orang yang memperoleh hak istimewa untuk melayani Allah dan memberitakan "kekayaan Kristus" kepada banyak orang.

Tawanan siapakah kita? -AL

18 Agustus 2006

Terus Mengejar

Nats : Aku suka dekat pada Allah (Mazmur 73:28)
Bacaan : Mazmur 73:25-28

Pemazmur menyikapi segala hal dengan sederhana: "Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi" (Mazmur 73:25). Segala pertumbuhan dalam kehidupan rohani kita ditandai oleh gerak kita menuju suatu kesimpulan, yaitu keyakinan bahwa hanya satu hal yang kita perlukan: Allah sendiri.

Semua perkembangan di dalam kehidupan rohani merupakan kemajuan dalam mengenal Allah dan mengasihi-Nya, yaitu bergerak menuju titik di mana kita dapat berkata seperti penyair Israel itu: "gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya" (ayat 26).

Cara pandang ini mengubah cara kita dalam menyikapi segala sesuatu. Penderitaan dan kesengsaraan menjadi sarana yang membuat kita lapar dan haus akan Allah. Kekecewaan menjadi alat yang menghentikan kita dari pekerjaan-pekerjaan duniawi dan menggerakkan kita menuju Allah sendiri. Bahkan dosa, apabila disesali, dapat menjadi alat untuk mendorong kita agar menjadi lebih dekat kepada-Nya, sehingga kita dapat mengalami kasih dan pengampunan-Nya. Semua hal dapat berguna apabila kita memandangnya sebagai sarana menuju sasaran yang utama, yaitu mendekat kepada Allah.

Seperti Paulus, kita dapat berkata, "Aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus" (Filipi 3:12). Bagaimana kita mengejarnya? Caranya dengan menjawab kasih-Nya dalam kerendahan hati dan penuh rasa syukur. Akan tetapi, semua itu dimulai dari diri Allah. Dialah yang lebih dulu mencari kita supaya kita dapat mencari Dia -DHR

20 September 2006

Mengubah Derita Menjadi Pujian

Nats : Sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami (2Korintus 1:7)
Bacaan : 2Korintus 1:7-11

Setelah melalui tahun-tahun pelayanan yang menakjubkan dan menghasilkan buah di India, Amy Carmichael menderita sakit dan tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya. Sebagai pendiri Dohnavur Fellowship (Persekutuan Dohnavur) yang penuh semangat dan berhati dinamis, ia menjadi alat untuk menyelamatkan ratusan anak lelaki dan perempuan dari kesengsaraan akibat perbudakan seks.

Ketika melakukan langkah penyela-matan untuk membawa kaum muda menuju kemerdekaan rohani melalui Yesus Kristus, ia menulis banyak buku dan puisi yang sampai saat kini masih menjadi berkat bagi para pembacanya di seluruh dunia.

Kemudian penyakit radang sendi menggerogoti tubuhnya sehingga ia menjadi cacat. Apakah ia mengeluhkan penderitaannya atau meragukan Allah? Tidak. Army masih tetap menjadi inspirasi dan tetap membimbing Dohnavur. Ia pun masih terus menulis. Renungan, surat-surat, serta puisi yang ditulisnya penuh dengan pujian kepada Allah dan semangat bagi rekan peziarahnya.

Pada saat penderitaan melanda kita, bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan merasa sakit hati, ataukah tetap percaya pada kasih karunia Allah yang selalu menopang kita? (2Korintus 12:9). Apakah kita berdoa dengan khusyuk untuk memberi semangat kepada orang-orang di sekitar kita dengan pertolongan Roh Kudus yang memampukan kita untuk gembira, berani, dan percaya kepada Allah?

Apabila kita bersandar kepada Tuhan, Dia akan menolong kita untuk mengubah penderitaan menjadi pujian -VCG

10 Oktober 2006

Menanggapi Penderitaan

Nats : Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan (Ayub 14:1)
Bacaan : Ayub 16:6-17

Mengapa ada penderitaan? Mungkin Anda akan bertanya demikian tatkala mendengar tentang angin topan, tanah longsor, gempa bumi, dan bencana alam lainnya yang merenggut nyawa banyak manusia. Ayub pun mengajukan pertanyaan yang sama.

Mengapa ada begitu banyak kepedihan di dunia milik Allah ini? Renungkanlah beberapa alasan berikut:

1. Kita tidak dapat melarikan diri dari hukum yang mengatur alam kita. Kita membutuhkan hal-hal seperti gravitasi, cuaca, dan api untuk bertahan hidup, tetapi itu semua dapat menyebabkan tragedi (Matius 5:45). Api bermanfaat apabila menyala di kompor Anda, tetapi api yang berkobar tak terkendali dapat membunuh.

2. Kita adalah makhluk sosial. Kehidupan kita merupakan satu kesatuan, sehingga kadang kala kita menderita saat dosa atau kebebalan orang lain menimbulkan kesulitan (1Korintus 12:26).

3. Dosa membawa kutuk di atas bumi serta para penghuninya. Kutuk ini mencakup penyakit dan kematian (Kejadian 3:15-24).

4. Penderitaan membangkitkan belas kasihan. Yesus meminta kita untuk memerhatikan mereka yang miskin. Kita adalah rekan kerja-Nya dalam menolong sesama (Lukas 10:33-35).

Sebagaimana yang dijumpai Ayub, dunia ini merupakan sebuah tempat yang hancur. Ketika melihat penderitaan, kita dapat memakainya sebagai kesempatan untuk melayani Allah dengan cara menolong sesama, memercayai-Nya meski di tengah kesulitan, dan bertumbuh dalam iman kepada-Nya.

Kala diterpa masalah, biarlah reaksi kita yang pertama adalah memercayai Tuhan dan memerhatikan kebutuhan orang lain -JDB

24 November 2006

"siapa?", Bukan "mengapa"

Nats : Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu (Mazmur 38:10)
Bacaan : Mazmur 42

Saat hadir dalam acara panel bersama para orangtua yang merasakan dan mengalami peristiwa kehilangan, saya terkejut bahwa saya bisa belajar banyak dengan cara mendengarkan. Kami hadir di dalam acara tersebut untuk membantu orang lain yang sedang berduka, tetapi akhirnya kami justru saling melengkapi di situ.

Seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya karena mengidap penyakit radang selaput otak, membagikan kebenaran sederhana yang menyentuh saya. Ketika ia terus-menerus bertanya "Mengapa?", ia bercerita kepada ayahnya. Sang ayah mengatakan bahwa pertanyaan yang lebih baik dilontarkan adalah "Siapa?". Ayahnya lalu menjelaskan bahwa ia pasti tidak akan pernah mengerti mengapa anaknya meninggal begitu cepat. Namun, akan sangat membantu apabila ia berpikir siapakah Allah di balik semua tragedi yang dialaminya itu.

Renungkanlah apa makna hal ini bagi kita dalam segala kesulitan ini. Ketika kita menghadapi kedukaan yang tidak disangka-sangka dan bertanya "Siapa?" kita mendapat jawaban: "Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan" (2 Korintus 1:3). Saat kita lemah, kita akan mendapati "Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku" (Mazmur 18:3). Ketika dosa dunia ini tampaknya sudah tidak tertahankan, kita tahu bahwa "Allah, sumber damai sejahtera, akan segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu" (Roma 16:20).

Apabila pertanyaan "Mengapa Tuhan?" muncul di dalam hati Anda, sebaiknya Anda bertanya, "Siapakah Engkau, Allah?" Lalu carilah Dia dalam firman-Nya --JDB

13 Februari 2007

Bangkit Dalam Kemuliaan

Nats : Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan (1 Kor. 15:42)
Bacaan : 1 Korintus 15:42-49

Bertahun-tahun lalu, saya mendengar kisah tentang seorang lelaki yang sedang mencari bunga untuk ditanam saat musim semi. Di sebuah rumah kaca, ia memilih krisantemum emas yang penuh bunga bermekaran. Satu hal yang membuatnya heran, tanaman itu tersembunyi di sudut ruangan dan ditanam di sebuah ember tua yang penyok serta berkarat.

"Andai bunga ini milikku," katanya pada diri sendiri, "aku akan menaruhnya di pot cantik dan memamerkannya dengan bangga! Mengapa bunga ini terpenjara di ember, di tempat tersembunyi seperti ini?"

Ketika ia menanyakannya, sang pemilik menjelaskan, "Oh, saya memang menyemaikan tanaman itu di ember tua sampai bunganya mekar. Namun, itu hanya untuk sementara. Saya akan segera memindahkannya ke kebun saya."

Lelaki itu tertawa dan membayangkan pemandangan seperti ini di surga, "Ada satu jiwa yang cantik," begitu Allah akan berkata, "hasil dari kasih setia dan anugerah-Ku. Sekarang jiwa itu terpenjara dalam tubuh yang rusak dan tidak dikenal, tetapi sebentar lagi, ia akan tumbuh tinggi dan cantik dalam taman-Ku!"

Mungkin sekarang kita "ditanam" di wadah yang penyok serta rusak untuk sementara waktu, dan di situ Tuhan mempercantik jiwa kita. Namun, "sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang surgawi" (1 Kor. 15:49). Kemudian, Dia akan memajang pekerjaan tangan-Nya dan keindahan kita agar dapat dilihat semua orang. Inilah jaminan dan sukacita kita --DHR

Dalam tubuh yang tak akan dimakan usia,
Kita berkuasa bersama-Nya sepanjang masa;
Sungguh suatu pengharapan yang menakjubkan:
Kita bersama dengan Kristus sepanjang kekekalan. --Watson

15 April 2007

Pertanyaan Sepanjang Zaman

Nats : Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)
Bacaan : Ayub 2:1-10

Saat Jeremy berusia 17 tahun, ia bergumul dengan pertanyaan yang telah digumuli para teolog berabad-abad. Masalahnya tidak teoritis, tetapi praktis. Ia berusaha memahami mengapa ibunya harus menjalani operasi otak. Ia bertanya, "Mengapa orang baik menderita, Bu?"

Ibunya berkata, "Penderitaan menjadi bagian hidup di dunia yang terkutuk dosa, dan orang baik menderita seperti orang lain. Karena itu Ibu gembira kita memiliki Yesus. Jika meninggal, Ibu akan ke tempat yang lebih baik, dan Ibu akan merindukan saat Ibu dapat bertemu denganmu lagi." Ibunya lalu berkata, ia mengerti kefrustrasian Jeremy, tetapi ia meminta Jeremy tak menyalahkan Allah.

Jika kita bingung oleh penderitaan yang dialami orang-orang baik, kita dapat bertanya secara terus terang di hadapan Allah, beradu pendapat dengan-Nya jika memang harus, dan bergumul dengan keraguan kita. Namun, janganlah kita menyalahkan Dia.

Allah tidak memberi penjelasan kepada Ayub tentang apa yang sedang dilakukan-Nya, tetapi Dia berkata bahwa Ayub dapat memercayai Dia untuk melakukan apa yang benar (Ayub 38-42). Dan Dia telah memberi jaminan bagi kita di dalam firman-Nya bahwa Yesus menderita bagi kita, bangkit dari kematian, dan kini sedang menyiapkan sebuah tempat yang bebas dari penderitaan bagi kita.

Semua ini mungkin bukan merupakan jawaban yang kita inginkan, tetapi semua itu adalah jawaban yang kita perlukan untuk menolong kita hidup dengan pertanyaan tentang penderitaan yang ada sepanjang zaman dan kerap kali tak terjawab itu --DJD


Mengapa mesti menderita begini? Aku tak tahu;
Satu yang kutahu, perbuatan-Nya baik bagiku.
Aku percaya kepada-Nya dengan segenap hati,
sehingga aku mengatasi, apa pun yang terjadi. --Smith

15 Juni 2007

Sekolah Kehidupan

Nats : Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu (Mazmur 119:71)
Bacaan : Mazmur 119:65-72

Selama masa Depresi pada tahun 1930-an, Little Orphan Annie adalah komik dan acara radio yang terkenal. Bertahun-tahun kemudian, komik itu menjadi dasar untuk pembuatan komedi musikal Annie. Adegan pembukaannya menampilkan Annie yang berada di panti asuhan, tempat para gadis dipaksa membersihkan dan menggosok segala sesuatu pada tengah malam. Untuk mengungkapkan ketidakberdayaan, mereka bernyanyi: "Ini adalah kehidupan yang keras bagi kami. Tak ada yang memedulikanmu saat engkau berada di panti asuhan. Ini adalah kehidupan yang keras."

Ketika berbicara tentang "sekolah kehidupan yang sangat keras", kita mengacu pada pengalaman sulit yang telah mengajar kita dalam hidup ini. Meskipun menghindari penderitaan sudah menjadi bagian dari natur manusia, orang kristiani harus dapat memetik hikmah dari kondisi yang penuh kepedihan.

Dengan bijak pemazmur berkata, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu" (Mazmur 119:71). Ia sangat sedih karena fitnah yang menodai nama baiknya (ayat 69,70). Namun, bahkan dalam kondisi itu, pemazmur menyadari bahwa ia dapat belajar menghargai firman Allah.

Masalah apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Serahkan kepada Tuhan dalam doa. Lalu, renungkanlah Kitab Suci dan bersyukurlah kepada Allah atas berbagai pelajaran kehidupan yang Anda pelajari. Tuhan atas surga dan bumi itu berdaulat -- bahkan atas "sekolah kehidupan yang sangat keras" --HDF


Allah masih duduk di atas takhta,
Dia tak pernah meninggalkan kepunyaan-Nya;
Dia tak akan melupakanmu, janji-Nya setia
Allah masih duduk di atas takhta. --Suffield

PENDERITAAN KITA TIDAK DIRANCANG UNTUK MENGHANCURKAN KITA

19 Oktober 2007

Tabib Agung

Nats : Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita (Matius 8:17)
Bacaan : Yohanes 9:1-7

Dalam perenungan yang ia lakukan pada saat kesehatannya memburuk, John Donne (1572-1631) menggambarkan perasaannya saat para dokter memeriksanya untuk mencari "akar dan sebab" dari penyakit seriusnya. Dengan suara pelan, para dokter itu membahas kesimpulan mereka di luar kamarnya.

Pada mulanya Donne takut, tetapi kemudian ia melihat belas kasihan di wajah mereka dan ia pun mulai memercayai mereka. Perhatian yang diberikan para dokter itu mengingatkan Donne bahwa ia dapat memercayai Sang Tabib Agung. Saat ia membaca Injil, ia melihat wajah Allah Bapa dalam wajah Yesus yang lemah lembut dan penuh belas kasihan.

Banyak dari antara kita yang bergumul tentang pemikiran kita akan Allah, terutama saat menderita sakit penyakit. Mungkin kita dibesarkan dalam gambaran gereja tentang Allah yang marah dan menimpakan penyakit kepada kita. Dapatkah kita memercayai-Nya? Seperti Donne, alasan yang kita miliki untuk memercayai Allah ada di dalam Injil. Dan, kita menemukannya dalam diri Putra-Nya, Yesus, yang penuh belas kasihan terhadap mereka yang menderita, apa pun alasannya.

Maka, marilah kita berdoa seperti Donne, "Karena itu lepaskanlah aku, oh Allahku, dari pikiran yang sia-sia ini." Pikiran yang sia-sia itu adalah kita menganggap telah kehilangan kebaikan dan kemurahan hati Allah karena dosa. Sebagaimana yang dikatakan Donne dengan bijaksana, Sang Tabib Agung "mengetahui kelemahan alamiah kita karena Dia pernah merasakannya, dan mengetahui betapa beratnya dosa kita karena Dia membayar mahal untuk itu semua" --DHR

18 Februari 2008

Tak Terpengaruh

Nats : Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. (Kejadian 6:9)
Bacaan : Kejadian 6:9-22

Delapan tahun menjadi pembina remaja di gereja, memberi saya banyak pelajaran berharga. Khususnya saat mendampingi anak-anak yang terlibat narkoba. Ketika ditanya alasan mereka mengonsumsi narkoba, hampir setiap anak menjawab bahwa mereka ingin menyenangkan teman-teman di kelompok mereka. Mereka merasa tidak enak hati bila tidak ikut serta dalam aktivitas kelompok.

Memang, mereka tidak begitu saja terjerumus narkoba. Namun, pergaulan yang terus-menerus telah memengaruhi pikiran dan pendirian mereka. Akhirnya, walaupun dilarang, mereka tetap terlibat dalam pemakaian obat-obat berbahaya tersebut.

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), akibat dosa sungguh nyata terasa. Pembunuhan Habel terjadi. Kejahatan terus meningkat. Bahkan kekudusan Allah tidak lagi dihiraukan. Kacau balau, mungkin begitulah gambaran manusia yang hidup pada zaman itu. Sampai-sampai Alkitab mencatat: "Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya" (Kejadian 6:6).

Dalam kondisi kacau itu, Nuh tetap didapati tidak bercacat cela di antara orang-orang sezamannya. Nuh, tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang tidak menghormati Allah. Nuh, tidak sama dengan bunglon yang cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada. Bagaimana bisa demikian? Sebab Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kejadian 6:9). Ia selalu dekat dengan Allah, sehingga pengaruh Allah dalam hidupnya lebih kuat dibanding pengaruh orang-orang di sekitarnya. Semoga kunci ini kita miliki bersama sejak saat ini --MZ

20 Mei 2008

Sungai di Gurun

Nats : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Kejadian 43:1-14

Barangkali banyak orang kristiani sudah mengetahui kisah di balik penulisan lagu It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Lagu itu menggambarkan iman yang luar biasa dari sang penulis, Horatio G. Spafford. Ia bangkit untuk menuliskan lagu ini di tengah rasa duka yang mendalam, yakni saat ia harus kehilangan empat anaknya yang tenggelam di Samudra Atlantik. Ya, di tengah permasalahannya yang besar Spafford tetap dapat melihat penyertaan Tuhan di dalam hidupnya, sehingga berulang kali ia mengatakan, "Nyamanlah jiwaku, nyamanlah jiwaku."

Yakub adalah sosok yang harus mengalami banyak rasa duka pada masa tuanya. Setelah anak kesayangannya, Yusuf, dikabarkan mati, kini ia harus bersiap-siap kehilangan anak bungsunya, Benyamin. Ia tahu bahwa hal itu sangat sulit bagi dirinya, bahkan ia pun menyebut apa yang dialaminya sebagai malapetaka (ayat 6). Namun, di tengah segala rasa duka yang berat di hatinya, Yakub masih mengingat dan tetap berharap bahwa Allah yang Mahakuasa tetap menyertai dirinya dan juga anak-anaknya (ayat 14).

Di tengah susah dan beratnya hidup ini, kita perlu tetap belajar menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kemahakuasaan-Nya akan tetap menyertai anak-anak-Nya. Inilah hal yang mesti selalu kita ingat dan syukuri. Memang kita kerap "tidak melihat" tangan Tuhan beserta kita, tetapi bukan berarti Tuhan tidak beserta kita. Barangkali Tuhan membiarkan kita hanya melihat padang gurun yang gersang, tetapi sesungguhnya Dia telah menyiapkan sungai di depan kita -RY

26 Juli 2008

Kobe Bryant

Nats : Yesus berkata kepadanya, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:22)
Bacaan : Matius 18:21-35

Kobe Bryant adalah salah satu pemain basket terbaik di liga bola basket Amerika Serikat (NBA). Ia banyak mendapatkan penghargaan atas prestasinya, bahkan banyak gelar juara liga sudah ia persembahkan bagi timnya. Namun pada tahun 2003, ia terlibat kasus pemerkosaan. Akibat kasus itu, citranya hancur di depan banyak orang. Kemudian ia meminta maaf secara terbuka kepada istrinya dan masyarakat. Sang korban pun sudah mencabut tuntutannya, tetapi sebagian masyarakat tak percaya ia sungguh-sungguh bertobat. Mereka tak memedulikan permintaan maafnya. Bahkan ada yang lantas menjadi sinis.

Memang tidak mudah mengampuni orang lain yang pernah menyakiti kita. Namun, bukankah kita juga orang-orang yang jahat dan berdosa di mata-Nya? Yang menakjubkan, Allah selalu peduli dan menerima kita kembali saat kita mau bertobat! Dia mengampuni dosa-dosa kita dan kembali memberi kesempatan bertobat bila kita datang kepada-Nya (ayat 23-27). Karenanya, Dia menghendaki kita bersikap sama kepada orang lain yang bersalah kepada kita, yakni mengampuni dan memberi kesempatan orang lain untuk memperbaiki diri (ayat 32-34).

Bila kita sudah mengalami pengampunan Allah, kita pun harus mengampuni orang lain. Suami atau istri yang pernah tidak setia pada kita. Sahabat yang pernah memanfaatkan kita. Rekan kerja yang pernah memfitnah kita. Kita dapat memulainya dengan memaafkan perbuatannya secara pribadi di dalam hati kita. Kemudian kita berikan kesempatan baginya untuk berubah. Semoga Allah memampukan kita untuk melakukannya! -ALS

7 Agustus 2008

Kuping Panci

Nats : Firman yang didengar itu tidak berguna bagi mereka, karena mereka tidak dipersatukan dalam iman dengan orang-orang yang mendengarkannya (Ibrani 4:2)
Bacaan : Bilangan 14:40-45

Waktu kecil, bila saya membandel dan tidak menyimak perintah orangtua, mereka akan berkomentar, "Kuping itu jangan jadi kuping panci, cuma ditempel di kepala, tapi tidak dipakai untuk mendengarkan." Maknanya sama dengan ungkapan: "masuk telinga kiri, keluar telinga kanan." Menunjukkan kesembronoan kita dalam mendengar, yang bisa berakibat fatal. Ini pula yang kerap membuat bangsa Israel gagal menghadapi persoalan, terutama ketika melintasi padang gurun. Mereka tidak mendengarkan dengan baik. Bacaan kita memuat contoh bagaimana mereka tak memedulikan teguran Musa; tetap nekad masuk ke Kanaan, dan gagal.

Kesungguhan kita dalam mendengar dan menanggapi firman Tuhan akan menentukan pertumbuhan iman kita (Roma 10:17). Tak ada rumus baku serta cara pintas mengenai cara membuang "kuping panci" dan memiliki telinga yang peka mendengar suara Tuhan. Satu-satunya cara adalah dengan melatih telinga rohani secara tekun dan teratur.

Pertama, kita perlu mengambil waktu untuk menyendiri dan mencari suasana sunyi, agar kita punya situasi kondusif untuk mendengarkan suara Tuhan yang lembut. Selanjutnya, dalam kesunyian ini, jangan biarkan pikiran menjadi kosong. Gunakan waktu tersebut untuk mengambil suatu bagian kecil firman Tuhan, dan merenungkannya. "Cerna" bagian tersebut sungguh-sungguh dan gali maknanya sedalam mungkin. Bila perlu, bandingkan dengan bagian-bagian lain yang serupa dalam Alkitab sebagai referensi, kemudian ambillah penerapan praktis dalam hidup Anda. Ketika kita terlatih untuk mendengarkan Tuhan, kita akan semakin memahami pola pikir dan kehendak Allah bagi kita -ARS



TIP #29: Klik ikon untuk merubah popup menjadi mode sticky, untuk merubah mode sticky menjadi mode popup kembali. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA