Topik : Pengasuhan

1 Maret 2003

Istimewa, Tapi Tidak Manja

Nats : Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4)
Bacaan : Efesus 6:1-4

Seorang konselor keluarga, John Rosemond, bertanya, “Apakah anak Anda istimewa ... orang paling istimewa di dunia ini?” Ia melanjutkan, “Bagi Anda, itu sudah pasti!”

Menurut Rosemond, membiarkan anak Anda tahu bahwa dirinya istimewa, bagi Anda mungkin itu adalah hal yang sehat. Namun anak tidak boleh tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya adalah yang paling istimewa dibanding orang-orang di sekitarnya. “Anak itu,” ia memperingatkan, “akan cenderung berpikir bahwa dirinya juga layak memperoleh barang dan hak yang istimewa pula. Ia menjadi mudah membenarkan diri bila marah karena sakit hati, egoisme, dan rasa iri.” Bagaimana cara menghindari bahaya ini?

Orangtua kristiani yang berpegang pada Kitab Suci, sesungguhnya telah diperlengkapi untuk memberikan perhatian yang seimbang. Pertama, mereka dapat memberikan perhatian kepada anak-anak tanpa memanjakan, yakni dengan memberi tahu bahwa setiap anak adalah ciptaan Allah yang unik (Mazmur 139:13-16). Kedua, orangtua dapat mengajar putra-putri mereka bahwa setiap manusia memiliki dorongan yang kuat untuk berbuat dosa, sehingga mereka juga memerlukan kasih karunia Kristus yang menyelamatkan (Roma 3:23,24).

Orangtua yang menanamkan prinsip seperti ini sesungguhnya sedang mematuhi perintah Rasul Paulus dalam hal pengasuhan anak: “Didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4). Anak yang dibesarkan dengan cara demikian akan dapat tetap merasa istimewa tanpa harus dimanjakan --Joanie Yoder

19 Maret 2003

Anak-anak Kita Mengawasi

Nats : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ulangan 6:5)
Bacaan : Ulangan 6:1-9

Kita mungkin merasa terganggu saat menyadari bahwa anak-anak kita kerap kali meniru apa yang kita katakan dan lakukan. Saya teringat saat saya prihatin melihat cara anak lelaki saya memarahi adik perempuannya yang membuatnya jengkel. Namun dengan lemah-lembut, istri saya menunjukkan bahwa perilakunya persis seperti saya.

Beberapa minggu kemudian, saya memarahi anak lelaki saya tatkala saya tengah frustrasi. Atas dorongan istri saya, saya meminta maaf kepada anak saya dan mengatakan kepadanya bahwa lain kali saya akan berusaha lebih menghargainya. Beberapa bulan kemudian, setelah saya perhatikan, ternyata perlakuannya terhadap adiknya pun semakin baik.

Anak-anak belajar mengasihi dan menaati Allah tidak hanya dari mendengarkan perkataan yang kita ucapkan. Mereka juga belajar dengan cara menyaksikan perilaku kita. Kita harus senantiasa mengajar mereka tentang Allah dan firman-Nya saat kita “duduk di rumah [kita], apabila [kita] sedang dalam perjalanan, apabila [kita] berbaring dan apabila [kita] bangun” (Ulangan 6:7). Seiring dengan perkataan yang kita sampaikan kepada anak-anak kita, kita juga perlu memberikan teladan kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Kita memang tidak pernah bisa menjadi orangtua yang sempurna, tetapi anak-anak kita harus melihat keinginan kita yang kuat untuk menyenangkan Tuhan. Dan saat kita mengalami kegagalan, mereka juga harus melihat penyesalan kita. Kita mengajar anak-anak kita baik melalui perkataan yang kita ucapkan maupun perbuatan yang kita lakukan --Albert Lee

11 Mei 2003

Masa-masa Menjadi Ibu

Nats : Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya (Pengkhotbah 3:1)
Bacaan : Lukas 2:1-7,25-35

Sebagai pendeta, saya telah melayani banyak wanita sewaktu mereka melewati masa-masa menjadi ibu. Saya telah mengunjungi para ibu di rumah sakit dan bersukacita bersama mereka atas kelahiran buah hati mereka ke dunia. Saya telah memberikan konseling kepada para ibu yang cemas dan berusaha meyakinkan mereka bahwa Allah selalu menjaga anak-anak remaja mereka yang suka memberontak. Saya menemani para ibu yang berjaga di dekat tempat tidur anak mereka yang sakit atau terluka, dan ikut merasakan kesusahan hati mereka. Bahkan saya pernah ikut menangis bersama mereka yang berduka ketika anak mereka meninggal.

Maria, ibu Yesus, pun mengalami masa-masa sukacita dan dukacita yang sama. Betapa bersuka-citanya dia ketika bayi Kristus dilahirkan! (Lukas 2:7). Betapa girangnya dia ketika para gembala dan kemudian orang-orang majus datang menyembah-Nya (Lukas 2:8-20; Matius 2:1- 12). Betapa cemas hatinya ketika Simeon menubuatkan pedang akan menem-bus jiwanya! (Lukas 2:35). Dan betapa tersayat hatinya ketika melihat Anaknya mati di kayu salib! (Yohanes 19:25-30). Namun, masanya menjadi ibu tidak diakhiri oleh peristiwa mengerikan itu. Ia bersukacita karena Dia bangkit dari kubur. Dan karena ia mem- percayai Yesus sebagai Juruselamatnya, Maria kini berada di surga bersama Dia.

Setiap ibu pasti akan mengalami sukacita yang besar dan dukacita yang dalam. Namun, jika ia menyerahkan hidupnya kepada Allah, maka setiap masa menjadi ibu akan menjadi sarana pelayanan demi semua tujuan kekal-Nya --Herb Vander Lugt

20 Juli 2003

Nasihat dari Alam

Nats : Anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya (Amsal 29:15)
Bacaan : Amsal 29:11-17

Saat masih kecil, saya pernah melihat seekor induk burung wren [jenis burung penyanyi dengan paruh panjang dan ekor mencuat ke atas] menukik marah menuju Ayah, dan sampai sekarang saya tidak bisa melupakannya. Ayah telah menempatkan sejumlah rumah burung wren di sekeliling halaman. Ia selalu senang melihat induk-induk burung itu kembali setiap tahun untuk membesarkan keluarga mereka. Ayah memasang tutup berengsel pada salah satu rumah burungnya sehingga ia bisa mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam sarang tersebut.

Suatu hari, karena ingin melihat satu anggota keluarga baru yang baru saja menetas, Ayah mendekati rumah burung itu, dan disambut dengan jeritan keras si induk wren. Ia mengusir Ayah! Tanpa menghiraukan peringatannya, Ayah bermaksud mengangkat tutup rumah burung itu, ketika induk kecil yang sangat marah ini terbang dengan kecepatan tinggi tepat di bagian atas kepala Ayah. Ia mematuk sedemikian ganasnya hingga kepala Ayah berdarah!

Apakah kita sebagai orangtua kristiani memiliki perhatian yang sedemikian besar untuk anak-anak kita? Apakah kita rajin melindungi mereka dari kejahatan yang dapat membawa luka rohani bagi mereka? Apakah kita mengajarkan mereka tentang ancaman dunia, daging, dan iblis? (1 Yohanes 2:14-16). Apakah kita mengenal teman-teman mereka? Apakah kita mengawasi program TV yang mereka tonton?

Anak-anak kita butuh perhatian, bimbingan, dan pemeliharaan kita (Amsal 29:15). Semoga Allah senantiasa menolong kita untuk menjaga mereka dari kejahatan rohani --Richard De Haan

12 Oktober 2003

Mengejar Anak-anak

Nats : Ia lebih berharga daripada permata; apa pun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya (Amsal 3:15)
Bacaan : Amsal 3:1-18

Para pemasang iklan berusaha mempengaruhi anak-anak muda kita. Mereka semakin menjadikan anak-anak sebagai sasaran berbagai pesan iklan. Mereka menghabiskan uang ratusan juta rupiah untuk menarik perhatian anak-anak, karena dalam diri anak-anak telah tertanam pengaruh kuat dari kebiasaan berbelanja orangtua mereka dan karena anak-anak sendiri memiliki daya beli yang semakin tinggi. Orang- orang dalam dunia periklanan yakin bahwa konsumen muda yang puas dengan produk mereka dapat menjadi konsumen mereka seumur hidup. Anak-anak akan berhasrat membeli produk mereka di waktu-waktu yang akan datang.

Dengan cara serupa, kita perlu mempengaruhi anak-anak muda kita untuk "membeli" hal-hal baik yang telah Allah sediakan bagi mereka sepanjang hidup. Menurut Amsal 3, sejumlah kemungkinan yang luar biasa terbentang di hadapan orang muda yang memilih jalan Allah: panjang umur dan damai sejahtera (ayat 2), kasih dalam pandangan Allah dan manusia (ayat 4), arah jalan dari Allah (ayat 6), kesehatan dan kekuatan (ayat 8), kelimpahan (ayat 10), kebahagiaan (ayat 13). Orang yang percaya, hormat, dan takut akan Tuhan menemukan hikmat -- suatu penghargaan yang tiada bandingnya (ayat 15).

Dunia menghabiskan biaya ratusan juta rupiah dalam usahanya untuk meyakinkan anak-anak kita bahwa mereka tak dapat merasa berbahagia tanpa memakai sepatu merk tertentu. Betapa lebih banyak lagi hal menarik yang harus kita tawarkan kepada anak-anak kita, yaitu dengan menunjukkan bahwa kebahagiaan itu berasal dari perjalanan bersama Allah! --Dave Branon

12 November 2003

Orangtua Pendoa

Nats : Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka (Matius 19:13)
Bacaan : Matius 19:13-15

Seorang ibu muda mengirimkan tulisan berikut ke sebuah majalah, "Saya berharap dapat menyelubungi anak-anak saya dengan gelembung penyelubung untuk melindungi mereka dari dunia luar yang besar dan jahat."

Wanita penulis Stormie Omartian memahami apa yang dirasakan ibu itu. Dalam bukunya The Power of A Praying Parent, ia menulis demikian, "Suatu hari saya berseru kepada Allah, 'Tuhan, beban ini telalu berat bagi saya. Saya tidak mampu terus-menerus mengawasi putra saya setiap saat selama 24 jam. Bagaimana saya dapat menemukan kedamaian?'"

Allah memberi tanggapan dengan membimbing Stormie dan suaminya untuk menjadi orangtua pendoa. Mereka mulai mendoakan putra mereka setiap hari, menyebutkan setiap detail kehidupannya dalam doa.

Keinginan untuk menyelubungi anak-anak kita dengan "gelembung penyelubung" berakar dari rasa takut. Itu adalah suatu kecenderungan umum, terutama di kalangan para ibu. Menyelubungi mereka dengan doa, seperti yang dilakukan Yesus (Matius 19:13-15), merupakan alternatif yang sangat ampuh. Kepedulian Dia terhadap anak-anak kita lebih besar daripada kepedulian kita, maka kita dapat memasrahkan mereka ke dalam tangan-Nya dengan mendoakan mereka. Dia tidak berjanji kepada kita bahwa hal buruk tidak akan menimpa mereka. Namun ketika kita berdoa, Dia akan memberi kita kedamaian yang kita dambakan (Filipi 4:6,7).

Ini merupakan tantangan bagi semua orangtua, bahkan bagi mereka yang memiliki anak-anak yang sudah dewasa: jangan pernah berhenti menyelubungi anak-anak Anda dengan doa! --Joanie Yoder

19 Juni 2005

Topi Ayah

Nats : Hormatilah ayahmu (Efesus 6:2)
Bacaan : Efesus 6:1-4

Terjadi tragedi di tengah suatu perayaan. Hari itu adalah upacara pembukaan Olimpiade musim panas tahun 1992 di Barcelona. Satu per satu tim memasuki stadion dan berparade keliling lintasan di tengah sorak-sorai 65.000 penonton. Akan tetapi, di salah satu bagian stadion Olimpiade, terjadilah peristiwa yang mengejutkan dan menyedihkan pada saat Peter Karnaugh, ayah perenang AS, Ron Karnaugh, mendapat serangan jantung yang fatal.

Lima hari kemudian, Ron tampil untuk berlomba dengan memakai topi ayahnya, yang ia sisihkan dengan hati-hati sebelum perlombaan dimulai. Tetapi mengapa ia memakai topi itu? Ia melakukannya sebagai penghormatan kepada ayahnya yang ia gambarkan sebagai "sahabat terbaikku". Topi itu adalah topi yang dipakai ayahnya saat mereka memancing dan melakukan banyak hal bersama. Memakai topi itu adalah cara Ron untuk menghormati ayahnya karena telah mendampingi, menyemangati, dan mengarahkannya. Ketika Ron berenang, ia tidak didampingi ayahnya, namun ia terinspirasi oleh kenangan tentang ayahnya.

Ada berbagai cara untuk menghormati ayah kita, terutama seperti yang diperintahkan Kitab Suci kepada kita (Efesus 6:2). Salah satu caranya adalah dengan menghormati nilai-nilai yang diajarkan ayah kita, bahkan ketika ia sudah tidak lagi bersama-sama dengan kita.

Apakah yang dapat Anda lakukan bagi ayah Anda hari ini, untuk menunjukkan rasa hormat seperti yang dikatakan di dalam Alkitab? —JDB

12 Mei 2006

Warisan

Nats : Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran (3Yohanes 1:4)
Bacaan : Mazmur 34:12-23

Kariernya sebagai pengarang berlangsung selama tiga puluh tahun, yakni dari pertengahan tahun 1960-an sampai pertengahan tahun 1990-an. Ia menulis 12 buku dan menerima 16 penghargaan doktor honoris causa. Namun, tiga tahun sebelum meninggal dunia karena kanker pada tahun 1996, seorang yang terkenal humoris, Erma Bombeck, berkata kepada seorang pewawancara dari TV ABC bahwa berapa pun jumlah artikel yang ditulisnya, warisan terbaiknya adalah ketiga anaknya. "Apabila saya tidak dapat membesarkan mereka dengan baik," katanya, "maka setiap hal yang saya lakukan tidaklah terlalu penting."

Bombeck memiliki kekayaan dan kemasyhuran serta digemari oleh jutaan pembacanya. Akan tetapi, ia sadar bahwa prioritas utamanya ialah merawat anak-anaknya.

Meskipun tidak ada orangtua yang dapat menjamin bahwa anaknya akan menjadi penduduk teladan yang beriman, sebagai orangtua kita harus berusaha memiliki sikap seperti Erma. Motivasi kita ialah memenuhi kebutuhan jiwa, raga, dan emosi anak-anak kita. Merekalah warisan kita.

Ini berarti kita harus memperkenalkan mereka kepada Sang Juru Selamat, menyediakan bimbingan rohani (Mazmur 34:12-15), berdoa bagi mereka, dan mendorong mereka untuk menemukan para pembimbing bijak yang dapat menolong mereka dalam menjalani hidup kristiani yang saleh.

Ya, ini merupakan perjuangan yang berat. Kerap kali bahkan menyita banyak waktu dan menuntut banyak pengorbanan. Namun, nilai seorang anak jauh melebihi semuanya --JDB

14 Mei 2006

Kekuatan Seorang Ibu

Nats : Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya (Amsal 31:26)
Bacaan : Amsal 31:26-31

Istri saya, Carolyn, dan saya, berjalanjalan di taman pada suatu pagi. Tiba-tiba kami melihat seekor induk tupai berlari cepat melalui kawat listrik sambil membawa bayi di mulutnya. Ia membawa tupai kecil ini ke sarang baru yang telah dibuatnya di sebuah pohon. Kemudian ia kembali berlari melalui kawat itu untuk mengambil seekor bayi lain dari sarang lama dan membawanya ke rumahnya yang baru. Ia berlari pulang-pergi sampai ia menaruh keenam bayinya di rumah mereka yang baru. "Menjadi ibu memang berat!" desah Carolyn.

Memang benar. Kesakitan waktu melahirkan baru merupakan awal. Betapa pentingnya seorang ibu memerhatikan hidup kerohaniannya sendiri sehingga ia dapat mengasuh anak-anaknya! Ya, di atas semuanya, seorang ibu harus memelihara jiwanya -- untuk bertumbuh dalam hikmat dan pengetahuan tentang Allah.

Susanna Wesley adalah seorang ibu yang sibuk dengan 19 anak. Namun ia selalu menyisihkan waktu setiap hari untuk bersekutu dengan Allah. Bahkan, kadang-kadang ia melewatkan waktu di atas kursi dengan celemek masih di atas kepalanya, untuk berdoa. Pada saat itu tidak seorang anak pun berani mengganggunya!

Wanita yang digambarkan dalam Amsal 31 sangat menjunjung tinggi hikmat, kebaikan, dan hormat kepada Tuhan (ayat 26,30). Pada hari ini, marilah kita menghargai para wanita dalam hidup kita yang membagikan hikmat mereka, menunjukkan kasih kepada kita, dan yang di atas semuanya itu berusaha untuk memuliakan Tuhan --DHR

20 Desember 2006

"kotak Mama"

Nats : Sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan melalui iman (2 Timotius 3:15)
Bacaan : 2 Timotius 3:14-17

Setiap Natal, saya memberikan sebuah "kotak Mama" kepada kedua anak perempuan saya. Setiap kotak berisi hal-hal yang dapat mendorong mereka menjadi ibu terbaik. Isinya bisa berupa buku-buku kerajinan tangan atau proyek khusus, buku atau kaset renungan untuk ibu muda, peralatan P3K, resep-resep untuk memasak bersama anak-anak -- dan kerap kali berisi sesuatu yang pribadi seperti sabun mandi busa untuk sedikit memanjakan diri setelah melewati hari yang melelahkan sebagai seorang ibu! Sudah menjadi tradisi bahwa Rosemary dan Tanya selalu menantikannya setiap tahun selama dekade terakhir ini.

Mendorong anak-anak kita untuk menjadi orangtua yang baik bisa kita mulai lebih awal. Cara yang terbaik adalah mulai memperlengkapi mereka dengan firman Allah ketika mereka masih muda.

Rasul Paulus menulis bahwa "dari kecil" Timotius sudah mengenal "Kitab Suci" (2 Timotius 3:15). Dan, 2 Timotius 1:5 menyebutkan ibu dan nenek Timotius memiliki "iman yang tulus". Pengajaran yang tekun dan teladan rohani membantu Timotius menjadi orang yang saleh.

Alkitab adalah sumber paling kaya yang dapat membantu kita membesarkan anak-anak sehingga mereka akan mengenal dan mencintai Yesus. Tidak ada hal yang lebih penting daripada "Kitab Suci" yang dapat dipakai untuk memperlengkapi mereka dalam menghadapi semua tantangan hidup.

Apa yang Anda lakukan saat ini untuk membuat generasi yang akan datang memiliki "hikmat ... kepada keselamatan melalui iman"? (3:15) --CHK

22 Januari 2008

Buat Si Lumpuh

Nats : Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus (Lukas 5:18)
Bacaan : Lukas 5:17-26

Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda idealis yang sedang berjalan-jalan. Ia melihat seorang ibu gelandangan dengan dua anaknya yang masih balita tengah mengais makanan di tempat sampah. Ia begitu trenyuh. Dari trenyuh, ia menjadi marah kepada Tuhan. "Tuhan, mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu untuk menolong keluarga gelandangan itu?" protesnya. Tuhan pun menjawab, "Aku sudah berbuat sesuatu. Dengan mengirimkan kamu kepada mereka!"

Kisah si lumpuh dalam bacaan hari ini adalah potret masyarakat kita. Orang lumpuh itu bisa muncul sebagai pemulung yang sakit dan hanya tergeletak di tikar karena tidak punya biaya ke rumah sakit. Atau, seorang pemuda yang bermasa lalu kelam hingga dikucilkan dan menjadi bahan gosip orang-orang di sekitarnya. Atau, seorang anak yang begitu nakal dan tidak terkendali karena salah didikan. Atau, seorang remaja yang merasakan kehampaan hidup lalu melarikan diri ke dugem. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan sapaan kasih Tuhan Yesus.

Apa yang sudah kita lakukan untuk si lumpuh? Dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan. Di balik setiap kejadian yang kita lihat dan alami, pasti ada maksud Tuhan. Kalau Tuhan mengizinkan kita melihat "orang-orang lumpuh" itu di sekitar kita, pasti juga bukan tanpa sengaja. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu untuk mereka.

Sudahkah kita mengambil sikap seperti beberapa orang yang dengan segala perjuangan menggotong si lumpuh kepada Tuhan Yesus? Jangan sampai kita malah menjadi seperti orang banyak itu, yang menghalangi si lumpuh untuk sampai kepada Tuhan Yesus! --AYA

11 Mei 2008

Dipenuhi Roh Kudus

Nats : Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan (Kisah 2:4)
Bacaan : Kisah 2:1-13

Bayangkan, misalnya di sebuah gereja sederhana di Jawa Tengah, tiba-tiba jemaatnya bisa berbahasa Jerman, Inggris, Prancis, Mandarin, Vietnam, Jepang, Korea, Spanyol, dan Italia. Betapa mencengangkan! Extravaganza! Begitulah kurang lebih yang dialami oleh para murid Yesus. Setelah berkumpul di suatu tempat, sepuluh hari sejak Yesus naik ke surga, mereka mengalami kepenuhan Roh Kudus. Diawali dengan bunyi tiupan angin keras dan lidah-lidah api yang menghinggapi mereka semua tanpa kecuali. Karena kepenuhan Roh Kudus itulah mereka lalu dapat berbicara dalam bahasa Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Pamfilia, Mesir, Libia, Kirene, Roma, Kreta, dan Arab. Orang-orang Yahudi perantauan pun tercengang bukan buatan. Mereka mendengar orang-orang Yahudi nonperantauan berbicara dalam bahasa mereka. Dan, yang mereka dengar itu adalah perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (ayat 11).

Dari sini jelas bagi kita bahwa karya Roh Kudus bermuara pada pemuliaan Allah. Jadi, adalah salah bila kita beranggapan bahwa karunia dan kepenuhan Roh Kudus terjadi untuk menunjukkan pencapaian rohani seseorang, atau untuk menggarisbawahi ranking kehidupan rohani seseorang. Lebih salah lagi, bila dipakai untuk menghakimi orang lain. Alih-alih terpusat pada diri sendiri, kepenuhan Roh Kudus terutama harus berpusat pada tindakan memuliakan Allah. Bila hal pokok ini ditindas oleh sikap egosentris dan sombong rohani, maka saatnya kita berkaca diri. Sebab pasti ada sesuatu yang salah dalam diri kita -DKL

12 Mei 2008

Bonsai dan Sequoia

Nats : Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil (Mazmur 1:3)
Bacaan : 2Timotius 3:10-17

Banyak orang Jepang gemar memelihara bonsai. Meski tinggi bonsai rata-rata hanya dalam hitungan sentimeter, pohon ini sudah berbentuk indah dan sempurna. Berkebalikan dengan itu, di Kalifornia ditemukan pohon hutan raksasa bernama Sequoia. Tinggi pohon ini luar biasa, bisa mencapai 90 meter, dan lingkar batangnya bisa mencapai 26 meter.

Saat masih berupa biji, bonsai dan Sequoia berukuran sama serta memiliki berat yang sama, yakni kurang dari satu miligram. Namun dalam masa pertumbuhan, keduanya mengalami perbedaan yang signifikan. Orang sengaja menghambat pertumbuhan biji bonsai, dengan harapan kelak mereka mendapatkan sebuah pohon mini yang indah. Sebaliknya, biji Sequoia dibiarkan mendapat gizi dari mineral, tumbuh di dekat sumber air, dan mendapat sinar matahari yang sangat cukup. Dengan begitu, ia menjadi pohon raksasa. Bayangkan saja, hanya dari satu pohon ini, kita dapat memperoleh kayu yang cukup untuk membangun 35 rumah dengan masing-masing lima kamar!

Timotius telah diajar mengenal firman Tuhan sejak kecil, dari ibu dan neneknya (ayat 14,15), juga dari didikan Paulus (ayat 10). Inilah kesempatan di mana jiwanya "diairi" dan "disinari matahari". Selanjutnya, didikan itu menjadikannya pelayan Tuhan yang memiliki "iman yang tulus ikhlas" (2 Timotius 1:5), yang tetap kuat meski harus menderita sengsara dalam pelayanan (ayat 11). Seperti Timotius, kita pun dapat menyerap semua hal positif di sekitar kita; pengetahuan, semangat, pengalaman, teladan, dan terutama ajaran firman Tuhan, supaya iman kita tumbuh seperti Sequoia. Jangan biarkan hal negatif mengerdilkan iman kita seperti bonsai -ENO

10 Juni 2008

Kebaikan di Masa Depan

Nats : Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, ... yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11)
Bacaan : Yeremia 29:1-23

Apakah Anda pernah melihat tukang obat yang "praktik" di pasar-pasar dengan tenda lebar dan gelegar musik serta loudspeaker-nya? Waktu kecil, saya senang melihat tukang obat semacam ini. Terutama karena di mata saya waktu itu, si tukang obat begitu hebat dan meyakinkan. Ada macam-macam obat; dari obat sakit gigi sampai rematik. Di mulut si tukang obat, semua tampak sangat ampuh!

Tampaknya begitu juga suara nabi-nabi palsu yang ikut dibuang ke Babel. Mereka bernubuat; umat akan segera pulang ke tanah perjanjian, umat Yehuda akan kembali berjaya (Yeremia 28:2-4,11). Siapa yang tidak senang mendengar penghiburan bahagia atas nama Tuhan? Wajar bila umat terhibur. Namun, nubuatan mereka palsu. Yeremia, nabi Tuhan, meradang melihat kepalsuan ini. Jadi, ia menulis surat kenabian bagi saudara sebangsa yang terbuai kepalsuan itu: "Dirikanlah rumah ... menikahlah ... usahakanlah kesejahteraan kota ... masih 70 tahun lagi waktu bagi Babel ... jangan teperdaya ucapan nabi palsu" (Yeremia 29:4-10).

Ya, Yeremia menyampaikan berita yang berbeda, "Sebab Aku tahu rancangan-Ku tentang kamu ... yakni rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan ..." (ayat 11). Namun itu tidak berarti umat bisa pulang sekarang. Tidak, umat masih harus menjalani masa pembuangan. Ini kehendak Tuhan. Berat. Betul, tetapi melaluinya Tuhan sedang merancang kebaikan di masa depan.

Jalan menuju masa depan kerap kali adalah jalan masa kini yang terjal. Siapa yang berani bertahan dan maju bersama Tuhan meski "dalam ketidakpastian hidup", akan melihat karya Tuhan yang pada akhirnya akan dilihat sebagai kebaikan —DKL

23 Juni 2008

Tempat Perlindungan

Nats : Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan (Mazmur 37:39)
Bacaan : Mazmur 37:34-40

Apakah bisnis yang paling menguntungkan di masa krisis ekonomi? "Bisnis hiburan," jawab Thomas M. Andersen, seorang konsultan investasi. Alasannya? Dalam majalah Kiplinger's Personal Finance ia menulis: "Saat badai ekonomi menerpa, orang mencari penghiburan dan perlindungan dalam segelas wiski, satu pak rokok, atau keberuntungan di meja rolet. Fakta menyatakan bahwa saat ekonomi lesu; bisnis judi (kasino), minuman keras, dan dunia hiburan justru melonjak." Ironis. Di sana orang merasa terhibur dan mendapat perlindungan, padahal di sana orang makin terjerumus ke dalam krisis!

Masa krisis kadang tak terhindarkan. Pemazmur pun pernah mengalaminya. Ada masa di mana ketidakadilan meraja-lela. Para pejabat yang semena-mena bertambah jaya. Sementara orang yang tulus hati dan jujur tambah miskin dan tertindas. Hati pemazmur terasa sesak. Ia butuh tempat penghiburan dan perlindungan. Namun, alih-alih lari pada hiburan duniawi yang semu, ia menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan. Hasilnya sangat berbeda. Judi dan minuman keras hanya membuat orang lari dari kenyataan. Sebaliknya, kehadiran Tuhan membuat orang berani menghadapi kenyataan hidup terpahit dengan optimis. Pemazmur dimampukan menghadapi masa sulit itu dengan penuh harap. Sampai akhirnya Tuhan memulihkan negerinya.

Anda sedang dilanda krisis? Merasa penat dan butuh hiburan? Hati-hatilah memilih tempat perlindungan. Tempat hiburan semu hanya mengajak Anda lari sejenak dari kenyataan. Begitu kembali ke realita hidup, Anda bisa makin kehilangan semangat. Tidak demikian halnya jika Tuhan yang kita jadikan tempat perlindungan —JTI

2 September 2008

Harga Sebuah Baptisan

Nats : Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Markus 16:16)
Bacaan : Kisah Para Rasul 8:1-17

Panggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya. Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut di depan altar untuk menerima baptisan. "Kini saya milik Yesus!" serunya.

Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan, orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas dianiaya (ayat 1-3). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak orang yang tetap mau dibaptis (ayat 12). Mereka percaya bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.

Baptisan itu berharga. Jangan disepelekan! Jika Anda belum dibaptis, usahakan untuk menerimanya! Iman Anda harus dinyatakan dengan berani di depan Allah dan manusia. Jika Anda sudah dibaptis, hadapilah konsekuensinya. Baptisan adalah langkah awal untuk hidup berpusatkan pada Yesus -JTI



TIP #04: Coba gunakan range (OT dan NT) pada Pencarian Khusus agar pencarian Anda lebih terfokus. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA