NABI-NABI DALAM PB
NABI-NABI DALAM PB [ensiklopedia]
a. Nabi-nabi PL diakui sah
Nubuat dan nabi-nabi merupakan gadis tumpu kesinambungan antar PL dan PB. Garis nubuat boleh dikatakan tidak berakhir dengan Maleakhi, tapi dengan Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus tegas berkata, 'Semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes...' (Mat 11:13). Sayang, pembagian Alkitab menjadi dua 'Perjanjian' mengaburkan kesatuan yg menakjubkan dari rencana penyataan Allah, yg membentang langsung dari Musa hingga Yohanes. Kita lihat pola nubuat PL dalam diri Yohanes, dan tentu juga dalam diri ayahnya, Zakharia, yaitu pemberitaan dan nubuat. Nubuatlah yg membuat amanat Yohanes demikian merangsang bagi angkatannya, yaitu nubuat tentang murka yg akan datang (Luk 3:7) dan tentang kasih karunia yg akan datang (Luk 3:16; Yoh 1:29 dab).
Selanjutnya, hubungan PB dengan amanat nabi-nabi PL, terletak pada pemenuhan atau penggenapannya. Berulangkali pemenuhan itu dikumandangkan dalam PB: apa yg dahulu difirmankan Allah kini digenapi (Mat 1:22; 26:56; Luk 24:25, 27, 44; Kis 10:43, dll). Ciri khas PB dalam mengakui kesahihan PL seperti itu adalah penting sekali. Begitu pentingnya sehingga boleh dikatakan tidak dapat ditambahi lagi. Nabi-nabi tidak boleh menjadi tokoh yg menarik hanya karena antiknya. Sekalipun mereka merupakan golongan minoritas yg dianiaya (Mat 5:12; 23:29-37; Luk 6:23, dll), namun mereka adalah suara yg penting, bahkan yg paling penting, yg membahana dari zaman kuno yg telah lampau, sebab mereka bukan pemimpin atau pengkhayal belaka. Mereka proklamator-proklamator kebenaran yg abadi, karena kata-kata mereka yg agung dibenarkan oleh kejadian yg paling akbar dari segala kejadian, yakni pribadi dan karya Kristus.
Hal itu dapat dirumuskan lengkap seutuhnya sbb: Tuhan Yesus Kristus sendiri menunjukkan kepada kita kembali nabi-nabi dan amanat mereka, sebagai penyataan Allah yg tetap. Merekalah penulis-penulis yg diberi kuasa dalam gereja Kristen. Kata-kata mereka wajib diperhatikan sebagai firman Allah, sebab Allah memberikan meterai-Nya atas kata-kata mereka berupa pemenuhannya dan karena ajaran AnakNya yg positif (Mat 5:17 dab).
b. Nabi-nabi dalam gereja Kristen
Pada dasarnya setiap orang Kristen adalah nabi. Pencurahan Roh ke atas setiap insan akan berdampak 'mereka akan bernubuat' (Kis 2:18). Paulus menghimbau umat Kristen Korintus supaya 'mengusahakan dirinya memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat' (1 Kor 14:1). Hal ini terjadi pada peristiwa di Efesus (Kis 19:6), atas anak-anak perempuan Filipus (Kis 21:9) dan atas para lelaki dan perempuan di gereja Korintus (1 Kor 11:4, 5).
Agaknya di gereja PB juga ada kelompok khusus yg dikenal sebagai 'nabi-nabi', yg dikhususkan bagi pelayanan bernubuat. Mereka disebut segera setelah para rasul dalam daftar para pelayan (1 Kor 12:28, 29; Ef 4:11), dihubungkan dengan pengajar-pengajar di gereja di Antiokhia (Kis 13:1). Pada Kis dan Surat-surat fungsi mereka adalah melayani kenabian rangkap yg biasa yaitu memberitakan dan bernubuat. Agabus, salah seorang dari nabi yg namanya diketahui, disebut bernubuat (Kis 11:28; 21:10, 11); dengan memanfaatkan kuasa untuk melihat, terlebih dahulu ia memberi bimbingan rohani kepada gereja. Seluruh Why menjadi teladan paling penting dalam Alkitab tentang bernubuat, yg dimanfaatkan bagi tugas meneruskan berita. Dalam fungsinya sebagai pemberita atau pengkhotbah kepada gereja, pekerjaan nabi-nabi diuraikan sebagai menasihati (Kis 15: 32), membangun dan menghibur (1 Kor 14:3). Reaksi orang-orang non-Kristen terhadap pelayanan nabi-nabi (1 Kor 14:24, 25) menunjukkan bahwa nabi-nabi itu adalah pemberita seluruh amanat tentang dosa dan keselamatan, murka dan kasih karunia.
Berkaitan dengan pertemuan gereja (1 Kor 14:26 dab) pelayanan nabi dibicarakan sebagai penyataan (ay 30). Pelayanan ini dapat berbentuk ucapan-ucapan spontan, dan dihubungkan dengan kegiatan Roh Allah (bnd 1 Tes 5:19). Kegiatan kenabian demikian tidaklah sama dengan berbicara dengan karunia lidah (lih 1 Kor 14:22-25, 27-29), juga bukan penafsiran bahasa lidah. Pelayanan itu ialah penerimaan kebenaran Allah yg diterangkan kepada jemaat. Adalah suatu penyalahgunaan nubuat jika nabi-nabi berpura-pura kerasukan dan hiruk-pikuk, sehingga mereka seolah-olah menjadi tidak dapat menguasai diri. Paulus menegaskan bahwa'roh nabi-nabi ditaklukkan kepada nabi-nabi'. Artinya, masing-masing memiliki kesadaran sepenuhnya, dan dapat menahan dorongan untuk berbicara jika tata tertib menuntutnya (ay 32, 33). Yg paling penting dari semuanya itu ialah, para nabi tidak boleh diberi kepercayaan tanpa pertimbangan.
Dua uji coba dapat diterapkan kepada tiap ucapan nubuat. Pertama, uji coba pengalaman nabi-nabi lain yg hadir. Rasul berkata, 'Biarlah yg lain menanggapi' (ay 29). Artinya, biarlah mereka menguji ucapan yg baru dikemukakan dengan pengetahuan mereka tentang Allah dan kebenaran-Nya. Kedua, uji coba apakah ucapan itu cocok dengan ajaran para rasul. Uji coba bagi nabi yg benar atau setiap orang yg menganggap dirinya bersifat rohani ialah, 'ia harus sadar, bahwa apa yg kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan', sebab lepas dari itu yg ada hanyalah ketidaktahuan (ay 37, 38). Ini mengajarkan bahwa nabi-nabi bukanlah sumber kebenaran baru bagi gereja, melainkan orang-orang yg menjelaskan kebenaran yg dinyatakan dengan cara lain. Sama seperti nabi PL ada di bawah Musa, yg memberikan norma ajaran yg sehat, demikianlah nabi PB berhubungan dengan rasul-rasul, dan harus tunduk kepada apa yg mereka umumkan sebagai firman Allah. Dalam arti inilah rasul mendesak gereja pada zamannya dan akan mendesak kita juga, supaya menginginkan dengan sungguh-sungguh untuk dapat bernubuat: maksudnya, bukan untuk menginginkan nama sebagai penemu ajaran baru, melainkan supaya tetap berjuang untuk mempertahankan kebenaran yg telah diberikan kepada para orang kudus, sekali untuk selamanya.
KEPUSTAKAAN. H. A Guy, New Testament Prophecy, its origin and significance, 1947; M. C Harper, Prophecy, 1964; A Bittlinger, Gifts and Graces, 1967; Gifts and Ministries, 1974; G Friedrich, TDNT 6, hlm 828-861; J Lindblom, Gesichte and Offenbarungen, 1968; E. E Ellis, The Role of the Christian Prophet in Acts', dalam Gasque dan Martin, Apostolic History and the Gospel, 1970; D Hill, 'On the evidence for the creative role of Christian prophets', NTS 20, 1973-1974, hlm 262-274; New Testament Prophecy, 1979; J. D. G Dunn, Jesus and the Spirit, 1975, hlm 170 dst, 225 dst; U. B Muller, Prophetie and Predigt im Neuen Testament, 1975; J Panagopoulos (red.) Prophetic Vocation in the NT and Today (NovT Supp. 45), 1977; C. H Peisker, C Brown, NIDNTT 3, hlm 74-92; F. F Bruce, The Time is Fulfilled, 1978, hlm 97-114. JAM/AL/HAO

