Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 11 No. 1 Tahun 1996 >  KATEKISASI > 
SEJARAH KATEKISASI 
sembunyikan teks

Dalam gereja mula-mula, belum ada katekisasi sebagaimana yang dikenal sekarang. Kita membayangkan bahwa sesudah peristiwa Pentakosta, orang yang percaya pada pemberitaan para rasul langsung dibaptis. Bagaimana mungkin Rasul Petrus dan rekan-rekannya membaptiskan tiga ribu orang dengan didahului katekisasi? (Kis 2:41). Pastilah baptisan itu dilakukan secara spontan, tanpa terlebih dahulu dilakukan adanya katekisasi. Hal ini juga sesuai dengan pesan yang disampaikannya: "Bertobatlah dan hendaknya kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis." (Kis 2:38). Tanpa didahului oleh misalnya "Ikutlah katekisasi dahulu". Sesudah gereja mapan keorganisasiannya, mulailah dilakukan adanya kegiatan katekisasi.

Walaupun demikian, tak berarti bahwa praktek katekisasi tidak ada sama sekali. Tradisi orang Israel ternyata telah membiasakan adanya pendidikan agama Yahudi dalam kehidupan keagamaan mereka. Ul 6:4-9 menyatakan, bahwa pendidikan agama dimulai sejak masa kanak-kanak di tengah keluarganya. Dengan seruan 'syemn' (dengarlah), anak berusia enam tahun mulai menjadi anak Torah. Mereka dididik oleh para imam yang mengajar umat Israel perihal makna korban-korban bakaran; hubungan dosa dan korban-korban itu; pengenalan tentang orang kudus, tempat kudus, perbuatan kudus dan hari kudus dan lain-lain. Kesemuanya itu merupakan ajaran teoritis di lingkungan rumah-rumah ibadat. Pada masa berikutnya, nabi-nabi yang muncul pada awal kerajaan Israel mengajar tentang firman, teguran, hukuman dan perdamaian sebagai pemeriksaan (kontrol) terhadap praktik kehidupan umat Israel di tengah masyarakat. Para pengajar lain adalah mereka yang disebut kaum bijaksana dengan pengajaran praktis mereka di pintu-pintu gerbang kota (Ams 15:1; 25:11; Pkh 3:19; 12:1; Ayb 42:5).

Pada satu sisi, gereja Kristen mengambil kebiasaan yang selama ini dipraktekkan dalam kehidupan umat Israel, tentu dengan penyesuaian di sana sini, mengingat adanya perbedaan yang besar dalam pokok ajarannya. Pada sisi lain, dalam perkembangan selanjutnya, kita juga mengenal adanya pengaruh agama misteri Yunani dalam kehidupan gereja Kristen purba, sehingga dikenal adanya proses pentahapan: mengikuti kebaktian umum dahulu dengan pengakuan dasar bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan dengan ajaran katekisasi yang amat sederhana; kemudian masuk dalam kelompok katekumenat, yang terdiri dari dua bagian yakni tingkat katekumin (boleh mengikuti kebaktian sampai turut berlutut dalam pelayanan doa dan penumpangan tangan, namun mereka harus ke luar pada saat ibadah yang sebenarnya) dan tingkat calon baptisan; baru kemudian masuk dalam sekolah katekisasi, yang memproses seseorang untuk menerima meterai baptisan.

Dengan mengacu pada apa yang biasa terjadi dalam lingkungan umat Israel, kemudian juga dijumpai adanya katekisasi keluarga yang dilaksanakan oleh suami/ayah; katekisasi sekolah, yang dilaksanakan oleh para guru; dan katekisasi gereja, yang dilaksanakan oleh para uskup, presbiter, diaken dan anggota-anggota jemaat.

Dalam perkembangannya, katekisasi pernah mengalami pendangkalan, sehingga bersifat proforma saja bagi mereka yang ingin menjadi anggota jemaat, oleh karena itu, Alkuinus, penasihat kaisar Karel Agung perlu memperingatkan, agar pelaksanaan katekisasi jangan asal-asalan, melainkan benar-benar diperhatikan. Alkuinus berkata: "Jangan sekali-kali sakramen baptisan hanya diterima oleh tubuh, padahal jiwa tidak paham terhadap kebenaran yang terkandung di dalamnya". Peringatan ini hanya sebentar saja diperhatikan, sebab ketika seluruh Eropa menjadi Kristen -- hingga masa Reformasi -- pelaksanaan katekisasi kembali mengalami kemerosotan. Martin Luther-lah yang kembali menekankan peranan Alkitab sebagai pusat teologi dan praktik kehidupan jemaat, juga pelaksanaan katekisasi. Ia menyusun buku Katekismus Besar dan Katekismus Kecil, terbit pada tahun 1529. Calvin menyusun buku Institutio sebagai katekismus dalam bahasa Perancis (1536), disusul Katekismus dari Geneva dalam bahasa Perancis (1541) dan bahasa Latin (1545). Selanjutnya atas perintah raja Frederik III dari Pfalz, pada tahun 1562 diterbitkan Katekismus Heidelberg yang disusun oleh Caspar Olevianus, penasihat istana dan Zakarias Ursinus, guru besar di Heidelberg. Buku katekisasi ini cukup lama dipakai dalam lingkungan banyak gereja di Indonesia.

Kebiasaan gereja-gereja di Eropa dibawa ke Indonesia pada zaman sending Belanda, yakni dengan menghadirkan pengajaran agama Kristen di sekolah-sekolah. Itu berarti, bahwa katekisasi juga dilakukan di sekolah-sekolah, yang dilaksanakan oleh para guru. Oleh sebab itu, dalam Sidang Raya Agung pada tahun 1624 di Batavia, ditetapkan bahwa semua murid sekolah harus mengikuti katekisasi gereja. Ketetapan ini diperbarui lagi dalam Reglemen Sekolah Baru pada tahun 1776. Bagi para calon gurunya wajib menandatangani tiga surat simbolis yakni pengakuan iman gereja Belanda, Katekismus Heidelberg dan dasar-dasar Sinode Nasional gereja Hervormd di Dordrecht (1618-1619).

Perkembangan selanjutnya, menunjukkan bahwa hanya katekisasi gerejalah yang masih bertahan, sedang katekisasi di lingkungan keluarga dan di sekolah tak terlaksana dengan baik.



TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA