Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 7 No. 1 Tahun 1992 > 
MUJIZAT TUHAN YESUS 
sembunyikan teks
Penulis: Andi Halim{*}

Bila saat ini kita atau orang yang sangat kita kasihi menderita sakit parah dan dalam keadaan sangat kritis, mungkin saat itu kita adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang mengharapkan mujizat terjadi. Salahkah sikap seperti ini? Tentunya tidak.

Memang ada kelompok yang cukup ekstrim beranggapan bahwa mujizat pada zaman ini sudah tidak pernah terjadi lagi; bahkan lebih dari itu, mujizat di Alkitab pun diragukan kebenarannya. Jelas bahwa kelompok seperti ini adalah kelompok yang sudah terjerat oleh pola pikir rasionalisme dan liberalisme. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang "tidak masuk akal" berarti tidak pernah ada. Bila ada kejadian yang nampaknya seperti "mujizat", maka itu hanya dianggap kebetulan atau sugesti diri atau psikosomatis, halusinasi atau fiksi. Kelompok ini menganggap akal atau logika adalah segalanya, selalu benar dan menjadi standar atau patokan terhadap segala penilaian.

Di pihak lain, ada yang meninjau dari teladan Tuhan Yesus sendiri. Ia banyak kali memperhatikan orang yang mengharapkan kesembuhan atau pertolongan berupa mujizat. Tuhan Yesus sendiri pun pernah berfirman: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu" (Mat 7:7). "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, - maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu" (Mat 17:20), "Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu" (Mrk 11:24).

Tuhan Yesus pada saat di dunia sebagai manusia, telah tercatat dalam Alkitab melakukan mujizat lebih dari 37 kali (belum lagi yang tidak tercatat; bdk.Yoh 21:25). Jadi bukankah Alkitab memberitakan, bahwa hal mujizat adalah merupakan suatu kejadian dan pengalaman yang unik bagi orang yang mau percaya? Bukankah Tuhan Yesus datang untuk menyembuhkan semua orang percaya dari pada segala macam penyakit?

"Ia ... melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka ... dibawalah kepadaNya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka" (Mat 4:23-24). "Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya" (Mat 12:15b; 14:35-36; 15:30-31).

Dari semua nabi, rasul maupun orang-orang lain yang dipakai Allah tidak pernah ada yang melakukan mujizat demikian "banyak" dan "besar" seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, termasuk mujizat membangkitkan diriNya sendiri dari kubur (Yoh 2:19,21; Mat 26:32).

Di samping itu, ada kelompok ekstrim lain yang berlawanan dengan rasionalisme yang mengajarkan bahwa Allah menghendaki anak-anakNya sehat walafiat tanpa sakit apapun, dalam keadaan berkelimpahan berkat, hidup makmur dan tanpa penderitaan apapun. Bahkan, pengalaman kesembuhan ilahi, hidup penuh dengan kesuksesan dan kelimpahan bukan lagi ditentukan oleh kehendak Tuhan, tetapi oleh kemauan atau usaha diri kita sendiri. Misalnya, perempuan yang menderita pendarahan yang mau menjamah jubah Tuhan Yesus (Mrk 5:28), seorang perwira yang bawahannya sedang sakit (Mat 8:10), serta perempuan Kanaan yang anaknya kerasukan setan (Mat 15:28), dipuji karena imannya yang sangat "besar". Iman dari Elia, Elisa, dan Paulus juga mendukung bukti bahwa mujizat bergantung mutlak pada "besar kecil"nya iman seseorang terhadap mujizat yang diharapkannya.

Bahkan, lebih dari itu, menurut kelompok ini, bukankah Tuhan Yesus juga berjanji bahwa setiap orang yang mau percaya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Yoh 14:12). Tuhan Yesus juga berkata, bahwa inilah tanda-tanda dari orang percaya, yaitu dapat mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, minum racun tidak mati, dan menumpangkan tangan pada orang sakit sehingga sembuh (Mrk 16:17-18). Bukankah semua ini membuktikan, bahwa mujizat sungguh-sungguh terjadi, dan bahkan sampai hari inipun tetap dapat berlangsung bagi setiap orang yang sungguh-sungguh percaya/beriman.

Kita memang mengimani bahwa mujizat sungguh-sungguh dapat terjadi, baik pada masa lampau maupun sekarang ini dan yang akan datang. Kita percaya bukan kepada Allah yang tidak dapat berbuat apa-apa alias patung atau berhala, namun Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup, yang berkarya dalam kekekalan dan dalam sejarah manusia, mahakuasa, Allah yang tak terhingga dalam kekuatan dan kedaulatanNya. Namun demikian, meskipun Alkitab mencatat banyak mujizat yang luar biasa dapat terjadi karena "iman" seseorang, serta mujizat yang tidak dapat terjadi karena orang yang kurang atau tidak ber"iman" (Mat 13:58; 17:19-20), jangan sampai kita terjebak pada apa yang sekedar kita lihat secara lahiriah.

Banyak orang, sekali lagi, yang beranggapan bahwa mujizat sangat tergantung dari "iman" dan "kemauan" kita. Bila kita beriman dan mau mengalami mujizat, maka terjadilah mujizat itu; dan sebaliknya, bila kita tidak beriman dan tidak mau percaya, maka mujizat itu juga tidak akan dapat terjadi. Dengan perkataan lain, tindakan Allah dalam melakukan mujizat sangat tergantung dari kondisi "iman" dan "kemauan" (kepercayaan) kita terhadap mujizat itu sendiri. Sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah Allah yang Alkitab perkenalkan adalah Allah yang demikian bergantung pada sikap kita?

Pernah dikisahkan sebuah lelucon di mana terdapat dua orang yang akan saling melawan dalam pertandingan badminton. Keduanya beriman dengan kualitas yang sama persis; keduanya berdoa agar mereka beroleh kemenangan. Lalu bila jawaban doa itu tergantung dari "iman" dan "kemauan" masing-masing pemain, apakah pertandingan tersebut akan mencapai nilai draw? Ada juga cerita bahwa dalam satu desa terdapat seorang yang beriman mempunyai ladang sawah dan pabrik payung untuk hujan, sedangkan di desa itu ada seorang beriman yang lain mempunyai pabrik kerupuk dan tambak yang menghasilkan garam. Yang satu berdoa supaya turun hujan agar ladang sawahnya subur dan payungnya laris, sedang yang lain berdoa agar hujan sama sekali tidak turun agar garam dan kerupuknya jadi. Bagaimana kira-kira jawaban yang tepat bagi doa-doa orang yang ber"iman" ini (bila misalkan Anda yang menjadi Allah)?

Memang Tuhan Yesus, beberapa nabi, rasul dan orang-orang yang dipakai Allah disertai tanda-tanda mujizat yang luar biasa, namun hal ini tidak harus berarti bahwa segala mujizat yang dilakukan itu bergantung dari "iman" masing-masing, sehingga setiap orang yang ber"iman" pasti dapat melakukan (mengalami) mujizat sesuai dengan apa yang diinginkannya (seperti orang yang memijat tombol otomatis). Di pihak lain, ternyata ada juga kejadian mujizat, yang meskipun terjadi di depan orang yang tidak beriman, hasilnya tetap tidak menjadikan mereka percaya (Mat 11:20; bdk. Luk 17:12-19). Bangsa Israel hampir setiap hari melihat mujizat yang datang dari Allah (mis. manna yang turun dari sorga, taut terbelah, tiang api dan awan, dll.), namun mereka tetap mengeraskan pati dan tidak mau taat kepada Allah.

Ternyata ada juga mujizat yang diberikan dari Allah bukan sebagai berkat bagi seseorang, namun sebagai hukuman bagi mereka yang gila mujizat atau yang mencobai Allah (Maz 106:15). Jadi peristiwa mujizat bukan merupakan jaminan bahwa hal tersebut adalah suatu berkat yang datang dari Allah. Bahkan, dalam Matius 7:21-23, dapat disimpulkan bahwa orang yang dapat melakukan mujizat sama sekali tidak dapat dijamin bahwa ia sudah diselamatkan (lahir baru). Rasul Paulus mengingatkan bahwa pada akhir zaman akan banyak berdatangan nabi atau rasul palsu yang dapat menyerupai aslinya, terutama dalam kemampuannya melakukan mujizat-mujizat ataupun hal spektakuler atau yang menimbulkan sensasi lainnya (2Tes 2:9-12; 2Kor 11:12-15, Iblis dapat menjadi seperti malaikat terang). Bahkan Tuhan Yesus sebelumnya juga pernah menyatakan bahwa di tengah-tengah kita akan muncul serigala yang berbulu domba (Mat 7:15)! Surat I Yohanes 4:1 dst. menegaskan agar kita selalu menguji setiap roh, apakah peristiwa, atau pemikiran, perkataan yang kita terima itu benar-benar dari Tuhan atau bukan.

Jikalau demikian, mengapa Tuhan Yesus, para rasul, nabi dan orang-orang yang dipakai Allah dapat melakukan mujizat yang begitu luar biasa? Dan dalam hal itu mengapa "iman" seolah-olah merupakan faktor yang sangat menentukan terjadi tidaknya suatu mujizat? Dan mengapa sampai hari ini praktek-praktek mujizat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh "iman" masih berlangsung dengan demikian hebat dan berdampak luar biasa?

Melalui Matius 7:21-23, ternyata kita melihat ada "iman" yang tidak jelas sumbernya. Mereka sebagai orang ber"iman" ternyata dapat melakukan mujizat dalam nama Tuhan, namun mereka sama sekali tidak mengenal siapa Tuhan yang mereka sebutkan itu. Kalau demikian perlu dipertanyakan kembali, dari mana asal (sumber) dari mujizat yang mereka lakukan? Banyak orang yang mengaku beriman dan beribadah kepada Tuhan, namun perlu dipertanyakan, apakah Tuhan yang kita anggap Tuhan itu benar-benar adalah Tuhan yang benar (Rm 10:1-3)?

Roma 10:17 menyatakan bahwa iman yang benar berasal dari pendengaran dan pendengaran akan firman Allah. Iman yang benar adalah iman yang lahir dari persekutuan atau hubungan pribadi dengan Allah. Berarti iman itu harus dan pasti sesuai dengan kehendak dan firman Allah. Mujizat yang benar harus berdasarkan atau bersumberkan pada iman yang benar, sedang iman yang benar harus bersumber dari kehendak dan rencana Allah sendiri. Jadi sumber terjadinya mujizat sebenarnya bukan bergantung dari iman kita namun dari kehendak dan rencana Allah.

Iman tidak sama dengan keyakinan. Iman adalah kepercayaan atas janji dan firmanNya yang pasti diwujudkan sesuai dengan rencanaNya. Iman itu sendiri adalah pemberian Allah, sehingga melalui iman yang dianugerahkan itu kita boleh mengerti akan kehendak dan rencana Allah, serta hidup seturut atau sesuai dengan rencanaNya. Sebagai contoh, Elia mampu mendatangkan mujizat hujan tidak turun selama tiga tahun, serta mujizat hujan turun setelah masa kemarau selama tiga tahun. Darimana asalnya iman yang mampu melaksanakan mujizat yang demikian hebat (Yak 5:17-18)? Kebanyakan orang akan beranggapan bahwa semua itu berasal dari "kebolehan" iman (keyakinan) Elia yang sangat kuat, sehingga dia mampu mengatur alam semesta, ia dapat mengubah cuaca dan keadaan. Benarkah analisis ini? Fungsi seorang nabi adalah sebagai juru bicara Allah. Ia tidak boleh menyampaikan apapun kepada umat bila Allah tidak memberikan perintah kepadanya, termasuk dalam melakukan mujizat. Bila ada nabi yang berani bertindak atau menjanjikan sesuatu atas nama Allah tetapi Allah sendiri tidak pernah memberikan perintah tersebut, maka boleh di kata nabi itu adalah nabi palsu. Elia menegaskan kata-katanya (1Raj 18:41-46) hanya berdasarkan perintah yang datang dari Allah (1Raj 18:1). Jadi jelas bahwa mujizat yang dilakukan oleh Elia adalah bersumber dari kehendak Allah pada waktu itu.

Banyak orang Kristen mengharapkan mujizat namun tidak mendapatkannya sesuai dengan selera mereka. Sebabnya hanya satu, yaitu Tuhan sendiri tidak merencanakan seperti demikian (2Kor 12:7-10). Bahkan kadangkala Tuhan mengizinkan peristiwa-peristiwa yang "tidak menyenangkan" terjadi (1Tim 5:23, Ibr 12:6-11), hanya supaya kita makin bersandar dan menyadari bahwa manusia penuh dengan kelemahan dan kekurangan, dan hanya Tuhan saja yang berdaulat dan merupakan sumber kekuatan serta kehidupan kita.

Kecanduan (kegandrungan) akan mujizat serta kekecewaan yang mendalam bila mujizat itu tidak terjadi adalah tanda atau bukti bahwa iman kita masih seperti iman orang yang tidak percaya/kafir (1Kor 1:22). Tuhan Yesus sangat mencela dan seringkali menyindir orang-orang yang selalu menuntut tanda sebagai angkatan yang jahat (Mat 12:39; buk. Yoh 6:26). Sebenarnya jikalau kita mau jujur mengaku, inti dari tuntutan orang yang "memaksa" Tuhan melakukan mujizat, bukanlah untuk kemuliaan bagi nama Tuhan, namun hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu atau kepuasan (kepentingan) bagi dirinya sendiri.

Seringkali Tuhan Yesus disertai dengan tanda-tanda, bukan untuk memenuhi kepuasan atau kenikmatan bagi pribadi Tuhan Yesus, namun semuanya adalah hanya bagi kemuliaan nama Tuhan dan untuk menggenapi misi Allah bagi dunia. Tuhan Yesus begitu banyak disertai tanda-tanda yang luar biasa, karena memang sudah dinubuatkan bahwa Mesias yang akan datang di tengah-tengah umat Israel akan disertai tanda-tanda yang luar biasa (Kis 2:22). Para Rasul dan Nabi seringkali disertai tanda-tanda karena mereka mempunyai status yang sangat istimewa sebagai dasar berdirinya gereja (Ef 2:19-20), serta menjadi saksi mata yang Allah utus sendiri untuk bersaksi dan membina jemaat mula-mula (Ibr 2:3-4; Kis 2:42).

Kesimpulan dari semua pembahasan ini adalah bahwa mujizat bukanlah misi utama Allah, namun hanya sebagai salah satu alat atau tanda yang menyatakan pekerjaan Allah pada masa itu. Dengan demikian tidak setiap pekerjaan Allah harus disertai dengan tanda atau mujizat. Seperti Yohanes Pembaptis sama sekali tidak pernah melakukan mujizat, bahkan sampai matinya tidak ada sesuatu yang istimewa. Sebenarnya sebagai seorang yang beriman, mujizat bukan lagi kebutuhan utama dalam hidup kita. Bahkan mata rohani kita dibukakan, yaitu diberi kemampuan untuk melihat bahwa dalam setiap keadaan, apapun keadaan itu, di dalamnya mujizat Allah dinyatakan, meskipun tidak ada peristiwa spektakuler atau yang menimbulkan sensasi. Dengan demikian, dalam setiap keadaan kita belajar bersyukur, Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik (Rm 8:28; 1Kor 10:13). Sikap doa orang beriman seharusnya meneladani Tuhan Yesus: "Bukan kehendakku Bapa, melainkan kehendakMulah yang jadi". Bila Tuhan memang menghendaki memakai kita untuk melakukan atau mengalami mujizat, maka pastilah hal itu akan terjadi dan hidup kita akan dipersiapkan untuk menghadapinya.



TIP #12: Klik ikon untuk membuka halaman teks alkitab saja. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA