Topik : Kematian

26 Februari 2003

Di Pekuburan

Nats : Barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:25-44

Saat orang yang kita kasihi meninggal, kita pergi ke kuburan untuk mengikuti prosesi yang panjang. Kita mungkin akan duduk atau berdiri di sekitar makam dan mendengarkan dengan khidmat saat pendeta membacakan ayat Alkitab tentang kebangkitan. Lalu jenazah diturunkan ke liang kubur. Kemudian kita mungkin akan tinggal sejenak untuk menaburkan bunga dan berdiri dengan kepala tertunduk untuk mengenang dan menghormati almarhum. Orang yang kita kasihi telah meninggal, dan kita sadar bahwa kita tidak dapat membawanya kembali.

Berbeda saat Yesus datang ke pemakaman Lazarus, sahabat-Nya yang baru saja meninggal. Ketika tiba di kuburnya, Dia menggunakan wewenang dan kuasa-Nya dengan memberi perintah: "Angkat batu itu" (Yohanes 11:39). "Lazarus, marilah keluar!" (ayat 43). "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi" (ayat 44).

Kita mungkin berharap sepenuh hati dapat mengembalikan orang yang kita kasihi, tetapi meskipun kita memberikan perintah seperti yang Yesus ucapkan, tak ada yang akan terjadi. Namun, Yesus memiliki kuasa untuk itu, karena Dia adalah "kebangkitan dan hidup" (ayat 25). Kuasa-Nya nyata saat Lazarus keluar dari kubur, dan hidup kembali!

Kelak, Yesus akan datang lagi ke kubur dari orang-orang percaya. Dan ketika Dia memberikan perintah, maka semua jenazah orang mati yang percaya kepada-Nya akan "keluar dan bangkit" (Yohanes 5:28,29; 1 Tesalonika 4:16). Betapa luar biasa hari itu kelak! --Dave Egner

13 Maret 2003

Apa yang Akan Terjadi?

Nats : Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan (2Timotius 4:8)
Bacaan : 2Timotius 4:1-8

Dalam bukunya Spirit Life (Semangat Hidup), Stuart Briscoe menulis, “Ketika pindah ke Amerika Serikat, saya terheran-heran melihat begitu banyak orang yang sangat asing bertamu ke rumah saya untuk menanyakan apakah saya baik-baik saja .... Ternyata mereka menjual polis asuransi!

“Suatu hari salah seorang dari tamu-tamu itu berbicara tentang perlunya berhati-hati dalam menghadapi segala kemungkinan. ‘Jika sesuatu terjadi pada Anda, Pak Briscoe ...’ ia mulai bicara, tetapi kemudian saya memotongnya, ‘Maaf, jangan diteruskan. Itu meresahkan saya.’ ... Ia tampak betul-betul bingung dan berkata, ‘Saya tak tahu mengapa perkataan saya meresahkan Anda.’ ‘Nah, saya akan memberi tahu Anda,’ jawab saya. ‘Saya resah karena Anda hanya berbicara seolah-olah hidup itu adalah sebuah kemungkinan. Dan lagi, kematian bukanlah kemungkinan, kematian jelas-jelas sebuah kepastian. Anda tidak bisa menggunakan kata “jika”, tetapi “ketika” kalau berbicara tentang kematian.’ Lalu saya menambahkan, ‘Jadi, ketika sesuatu terjadi pada Anda, apa yang akan benar-benar terjadi?’”

Rasul Paulus sangat terbuka menghadapi kematiannya (2 Timotius 4:6). Ia tahu bahwa sengat maut telah dipatahkan karena Kristus membayar hukuman dosa di kayu salib (1 Korintus 15:55-57). Kematian akan berubah menjadi kemuliaan (ayat 54); ia akan betul-betul mengalami kebenaran Kristus; dan ia akan bersama-sama dengan Kristus (2 Korintus 5:8). Yesus memberikan keyakinan yang sama kepada semua orang yang mempercayai-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan --Dennis De Haan

28 Juni 2003

Pulang

Nats : Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan (2Korintus 5:8)
Bacaan : 2Korintus 5:1-8

Kita dapat menghadapi kematian seperti keriangan anak-anak yang pulang sekolah. Seorang penyair tak di-kenal menulis puisi:

Suatu hari lonceng akan berbunyi,

Suatu hari hatiku akan berdebar-debar

Seiring dengan teriakan, sekolah usai,

Pelajaran selesai, aku berlari pulang.

Walaupun demikian, jarang ada orang percaya yang menghadapi kematian dengan sukacita. Ya, terkadang rasanya kita ingin mati saat sakit atau menderita penyakit yang tak tersembuhkan. Atau saat kita tua, sendirian, dan tidak dapat menikmati kegembiraan hidup. Namun, sebaliknya tentu saja kita akan memegang hidup kita erat-erat dengan naluri untuk bertahan hidup yang dianugerahkan Allah.

Alkitab mengatakan bahwa Yesus datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan di sini dan saat ini, sampai selama-lamanya (Yohanes 10:10,28). Dan kita dengan sukacita menyadari bahwa Allah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1Timotius 6:17).

Namun, sebaiknya kita menimbang kecintaan terhadap hidup ini secara bijaksana dengan kebenaran yang tercermin dalam syair sebuah lagu lama: "Dunia ini bukanlah rumahku." Dan memang bukan. Kita adalah orang asing, peziarah, dan pengunjung selama tahun-tahun yang berlalu dengan cepat.

Jadi, entah kematian kelihatan masih jauh atau sudah di depan mata, kita dapat yakin bahwa dengan iman kepada Yesus yang bangkit, kita akan meninggalkan dunia ini dan memasuki kemuliaan surgawi (2Korintus 5:8). Pada suatu hari yang membahagiakan, kita akan pulang --Vernon Grounds

7 Agustus 2003

Usang

Nats : Orang-orang yang dibebaskan Tuhan ... kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh (Yesaya 35:10)
Bacaan : Yesaya 35

Pendeta dan penulis Joseph Parker (1830-1902) memberikan komentar atas kata-kata penutup dalam Yesaya 35:10 yang berbunyi demikian, "Kedukaan dan keluh kesah akan menjauh." Ia mengatakan demikian, "Saat mencari makna kata-kata tertentu dalam kamus, Anda sekali waktu akan menemukan kata yang diberi tanda 'usang'. Sudah tiba waktunya kata kedukaan dan keluh kesah menjadi usang dalam hidup kita. Hal-hal yang merusak kehidupan di sini dan saat ini akan menjadi bagian dari masa lampau."

Keberadaan manusia tentu telah diwarnai dengan banyak tragedi, dukacita, kekecewaan, dan kejahatan. Oleh sebab itu sungguh menghibur ketika kita tahu bahwa akan tiba waktunya kedukaan dan kehancuran berlalu, dan Allah sendiri akan menghapus semua air mata kita. Pada saat itulah kita akan mengalami kebenaran yang telah disuratkan dalam kitab suci bahwa "segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21:4).

Apakah hari ini Anda terbebani oleh masalah yang tampaknya tidak dapat diatasi? Apakah Anda merasa sepi, patah hati, dan kecewa? Jika Anda adalah anak Allah, renungkanlah kata-kata yang meneguhkan ini: "Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18). Hari yang lebih cerah akan tiba. Pada hari yang indah itu, kata-kata seperti keluh kesah, kehancuran, dan air mata menjadi usang.

Jadi, janganlah bersedih hai anak Allah yang terkasih. Pandanglah ke atas!--Richard De Haan

21 Februari 2004

Apa Jawaban Anda?

Nats : Sebab pada waktu tanda diberi ... Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit (1Tesalonika 4:16)
Bacaan : 1 Tesalonika 4:13-18

Sir Norman Anderson diundang untuk berbicara di sebuah acara televisi tentang bukti kebangkitan Kristus, topik yang banyak ditulisnya. Ketika putranya meninggal karena kanker, produser acara televisi itu menawarkan untuk menunda keikutsertaannya dengan berkata, "Anda tentu tak dapat berbicara tentang kebangkitan saat Anda baru saja kehilangan seorang anak." Namun Anderson berkata, "Saya bahkan ingin bicara lebih lagi tentangnya." Demikianlah, walau hatinya sedih, dengan keyakinan teguh ia berbicara tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita sebagai orang percaya.

Kebangkitan Yesus bukanlah sebuah mitos, melainkan fakta bersejarah yang terbukti kebenarannya. Sesungguhnya, kebangkitan-Nya merupakan fakta yang kekal! Yesus berkata, "Aku adalah ... Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya" (Wahyu 1:18).

Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang kebangkitan-Nya dan meyakinkan mereka, "Sebab Aku hidup ... kamu pun akan hidup" (Yohanes 14:19). Paulus juga menulis tentang kebangkitan orang kristiani, dan mengajarkan bahwa ketika seorang saudara seiman meninggal, kita tidak perlu berdukacita seperti orang-orang yang tidak punya pengharapan (1Tesalonika 4:13).

Ketika Lazarus meninggal, Yesus meyakinkan Marta bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25,26). Lalu Dia bertanya, "Percayakah engkau akan hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah" (ayat 27). Apa jawaban Anda? --Joanie Yoder

28 Maret 2004

Dua Anak Perempuan

Nats : Datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati ...” (Lukas 8:49)
Bacaan : Lukas 8:40-42,49-56

Sebelumnya saya tidak pernah banyak berpikir tentang Yairus. Saya memang pernah mendengar kisah tentang kepala rumah ibadat ini, dan saya tahu ia meminta Yesus untuk datang ke rumahnya dan menyembuhkan anak perempuannya yang hampir mati. Namun, saya tak pernah memahami dukacitanya yang mendalam. Saya tidak pernah mengerti betapa hancur hatinya ketika seorang utusan dari keluarganya datang dengan membawa berita, “Anakmu sudah mati.” Tidak, saya tidak pernah mengerti kesedihan dan deritanya, sampai saya mendengar ucapan yang sama seperti itu dari seorang polisi yang datang ke rumah kami pada tanggal 6 Juni 2002.

Anak perempuan Yairus berusia 12 tahun, meninggal karena sakit. Anak perempuan kami berusia 17 tahun, meninggal karena kecelakaan mobil yang menghancurkan hati keluarga kami.

Anak perempuan Yairus dihidupkan kembali oleh jamahan tangan Yesus. Meski pun kami tahu anak perempuan kami Melissa takkan hidup kembali secara fisik, kami yakin ia dipulihkan secara rohani melalui pengurbanan kasih Yesus ketika ia memercayai-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya. Kini penghiburan itu datang ketika kami tahu bahwa keberadaannya yang kekal bersama Tuhan sudah dimulai.

Dua anak perempuan. Yesus yang sama. Dua hasil yang berbeda. Dan jamahan Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan merupakan mukjizat yang dapat membawa damai sejahtera bagi hati yang berduka, seperti hati Yairus, hati saya, dan hati Anda —Dave Branon

6 April 2004

Lembah Kekelaman

Nats : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23

Kegelapan di atas kegelapan. Penderitaan di atas penderitaan. Kepedihan di atas kepedihan. Siksaan di atas siksaan. Itulah kematian.

Kematian membawa ketakutan, merenggut orang-orang yang berarti dalam hidup kita, dan membuat kita meratap, berduka, dan bertanya-tanya. Kematian menutup terang yang sebelumnya bersinar bebas dalam hidup kita.

Apa pun kematian yang kita hadapi, entah itu kematian yang akan menjemput kita atau yang merenggut orang yang kita kasihi, kematian dapat menghancurkan hidup kita. Ia dapat menyedot energi kita, mengubah rencana kita, menguasai jiwa kita, membelokkan pandangan kita, menguji iman kita, mencuri sukacita kita, dan menantang berbagai anggapan kita mengenai tujuan hidup.

Ketika berjalan dalam lembah kekelaman, kita merasa ditelan oleh bayangan kematian dan berhadapan muka dengan ketakutan. Kekosongan yang menggelisahkan akibat pengalaman kehilangan kita menggoyahkan kenyamanan yang bersumber dari iman kita kepada Allah, dan karena itu kita menjadi takut. Takut menghadapi masa depan. Takut menikmati hidup kembali.

Namun dalam lembah itu, di bawah kekelaman tersebut, kita dapat berseru kepada Tuhan, “Aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4). Lengan-Nya yang penuh kasih takkan pernah membiarkan kita pergi. Dia selalu menyertai kita.

Secara perlahan tetapi pasti, Dia memberikan kedamaian dan membebaskan kita dari kekelaman. Dia memberi terang. Dia memimpin kita keluar. Pada akhirnya, kita terlepas dari lembah kekelaman —Dave Branon

28 April 2004

Tetap Percaya

Nats : Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk (Mazmur 139:16)
Bacaan : Mazmur 139:1-16

Bagaimana ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan putri kami yang cantik, Melissa, diambil dari keluarga kami dalam kecelakaan mobil pada usia 17 tahun? Dan bukan kami saja. Sahabat kami, Steve dan Robyn, juga kehilangan putrinya Lindsay—sahabat Melissa—9 bulan sebelumnya. Dan bagaimana dengan Richard dan Leah yang putranya Jon, teman Melissa juga, terbaring dalam sebuah makam yang berjarak 45 meter dari makam Lindsay dan Melissa?

Bagaimana mungkin Allah mengizinkan ketiga remaja kristiani ini meninggal secara berturut-turut dalam waktu 16 bulan? Dan bagaimana kami dapat tetap memercayai-Nya?

Karena tak mampu memahami tragedi itu, kami berpegang pada Mazmur 139:16—“Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk”. Dalam rancangan Allah, anak-anak kami hanya memiliki sedikit hari untuk hidup, dan kemudian dengan penuh kasih Dia memanggil mereka pulang untuk menerima hadiah kekal. Dan kami mendapatkan penghiburan dalam firman-Nya yang penuh rahasia, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mazmur 116:15).

Kematian orang-orang terdekat dapat merampas kepercayaan kita kepada Allah dan alasan kita untuk hidup. Namun, rencana Allah yang misterius bagi alam semesta dan karya penyelamatan-Nya terus berlangsung. Kita juga harus menghormati orang-orang yang kita kasihi dengan tetap menggenggam tangan-Nya. Meski tidak memahaminya, kita harus tetap memercayai Allah sementara kita menunggu saat pertemuan kembali yang telah dirancangkan-Nya bagi kita —Dave Branon

23 Mei 2004

Sisi Indah Kematian

Nats : Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku (Yohanes 17:24)
Bacaan : Yohanes 17:20-26

Seorang guru Sekolah Minggu mengajukan serangkaian pertanyaan kepada beberapa anak usia 5 tahun untuk membantu mereka memahami bahwa memercayai Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga. Ia bertanya, “Jika Kakak menjual semua harta Kakak dan memberikan uang hasil penjualannya pada gereja, apakah Kakak dapat masuk surga?” “Tidak,” jawab mereka. “Bagaimana jika Kakak menjaga kebersihan di dalam dan sekeliling gereja?” Seorang yang lain menjawab, “Tidak.” “Jika Kakak mengasihi keluarga Kakak, berbaik hati pada hewan, dan memberi permen kepada setiap anak yang Kakak jumpai, akankah Kakak masuk surga?” “Tidak!” tegas seorang anak. Lalu sang guru Sekolah Minggu itu bertanya, “Bagaimana caranya agar Kakak masuk surga?” Seorang anak lelaki berseru, “Kakak harus mati dulu!”

Sang guru tak menduga akan mendapatkan jawaban demikian, tetapi anak itu benar. Alkitab menyatakan bahwa kita semua pasti meninggalkan tubuh kita yang terdiri dari daging dan darah (1 Korintus 15:50-52). Kita semua pasti mati sebelum memasuki hadirat-Nya, kecuali jika kita masih hidup saat Yesus datang kembali.

Pengkhotbah Inggris Charles Haddon Spurgeon menangkap kebenaran ini dalam khotbah bertemakan “Mengapa Mereka Meninggalkan Kita”. Ia menunjukkan bahwa doa Yesus dalam Yohanes 17:24 terjawab setiap kali seorang kristiani meninggal. Ia meninggalkan tubuhnya dan memasuki hadirat Juruselamat, tempat ia dapat memandang kemuliaan-Nya. Sungguh menjadi penghiburan bagi orang percaya! Inilah sisi indah kematian. Apakah Anda pun meyakini hal yang sama? —Herb Vander Lugt

3 Juni 2004

Jam Kematian

Nats : Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa (1 Petrus 4:7)
Bacaan : 1 Petrus 4:7-11

Sebuah situs Web mengklaim mampu meramal kapan Anda mati. Setelah menjawab serangkaian pertanyaan, perkiraan hari kematian Anda akan muncul bersamaan dengan jam digital yang menghitung mundur sisa waktu hidup Anda dalam hitungan detik. Ramalan itu berdasarkan diagram harapan masa kini, tetapi dengan menyaksikannya di layar komputer, gambaran itu makin jelas. Seperti kata situs tersebut, ini adalah “peringatan ramah dari internet bahwa hidup sedang berlalu”.

Allah dalam hikmat-Nya tidak memberi tahu hari kematian kita. Kita juga tidak tahu hari kedatangan Kristus kembali. Alkitab meminta kita untuk hidup demi Kristus dan siap menghadapi salah satu peristiwa itu. Petrus menulis, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa ... kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain .... Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:7-10).

Yesus berkata, “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan .... Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Lukas 12:40,43).

Sebagai orang kristiani, kita tidak perlu merasa panik saat melihat waktu kita berlalu. Sebaliknya, marilah kita hidup setiap saat demi Kristus dan bersiap untuk bertemu dengan Dia hari ini —David McCasland

30 Juni 2004

Pulang Sebelum Gelap

Nats : Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir (Kisah Para Rasul 20:24)
Bacaan : Kisah Para Rasul 20:17-25

Orangtua sering berkata kepada anaknya, “Pulanglah sebelum hari gelap!” Di daerah yang belum ada listrik, para pelancong biasanya berusaha mencapai tujuan sebelum matahari tenggelam. “Pulang sebelum hari gelap” berarti perjalanan yang berhasil dan tiba dengan selamat.

Robertson McQuilkin mengatakan ini untuk menyatakan keinginannya untuk setia kepada Tuhan sepanjang perjalanan rohaninya. Doanya ditutup dengan kalimat, “Tuhan, tolong saya agar ‘tiba di rumah sebelum hari gelap’.” Ia menjelaskan demikian, “Saya takut ... bila berhenti sebelum menyelesaikannya atau menyelesaikannya dengan buruk, sehingga saya menodai kemuliaan-Mu, mempermalukan nama-Mu, dan mendukakan hati-Mu yang penuh kasih. Banyak orang menasehati, selesaikanlah dengan baik.”

Perkataan McQuilkin ini menyatakan kerinduan Paulus yang besar ketika ia menghadapi bahaya yang menantinya di Yerusalem: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kisah Para Rasul 20:24).

Ini merupakan firman anugerah dari Allah (ayat 32) yang menguatkan kita untuk terus bertahan dalam iman, karena firman-Nya mengatakan bahwa Dia sanggup menguatkan kita hingga akhir hidup kita. Karena itu, tetaplah berjalan dan percaya sementara kita berdoa: “Karena karunia-Mu, Bapa, dengan kerendahan hati aku mohon Engkau membimbingku tiba di rumah sebelum hari gelap” —David McCasland

27 Agustus 2004

Hal yang Pasti

Nats : Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)
Bacaan : Kejadian 2:8-17

Seorang pria yang kondisi kesehatannya terganggu memutuskan untuk pindah ke tempat yang beriklim lebih hangat. Untuk memastikan bahwa ia mendapatkan tempat yang sesuai dengan kebutuhannya, ia mengunjungi beberapa lokasi. Ketika berada di Arizona, ia bertanya, "Berapa suhu rata-ratanya?" "Bagaimana dengan kelembaban udaranya?" "Berapa hari matahari bersinar di sana?" Ketika ia bertanya, "Berapa angka kematiannya?" ia mendapatkan jawaban: "Sama dengan tempat asal Anda, Kawan. Satu kematian untuk setiap kelahiran."

Sekalipun kemajuan di bidang ilmu kedokteran untuk memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup sudah dapat dicapai, namun angka kematian tetap tidak berubah. "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja" (Ibrani 9:27), karena "semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23) sedangkan "upah dosa ialah maut" (Roma 6:23).

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk hidup dengan pengertian yang benar bahwa kematian mengakhiri kehidupan, dan setelah kematian datanglah penghakiman. Setiap orang yang memercayakan keselamatannya kepada Kristus akan dikeluarkan dari maut, "bangkit untuk hidup yang kekal". Tetapi setiap orang yang menolak Dia akan "bangkit untuk dihukum" (Yohanes 5:29). Bagi orang yang tidak percaya, kematian memeteraikan hukuman atas mereka. Tetapi bagi orang percaya, kematian membawa pada kemuliaan.

Alangkah bijaksana orang yang berani menghadapi kematian yang pasti. Tetapi lebih bijaksana orang yang menyiapkan diri untuk menghadapinya --Richard De Haan

28 Agustus 2004

Saatnya Menangis

Nats : Maka menangislah Yesus (Yohanes 11:35)
Bacaan : Yohanes 11:1-7,32-36

Ayah saya (Richard De Haan) telah berjuang menghadapi penyakit yang melemahkan selama bertahun-tahun. Kami memohon agar Tuhan segera memanggilnya. Namun, ketika saya berlutut di sisi tempat tidurnya dan melihatnya mengembuskan napas terakhir, air mata yang selama ini saya tahan, mengalir dengan deras. Ketika saudara-saudara dan ibu saya saling berpelukan dan berdoa, perpisahan tersebut semakin terasa.

Kejadian itu membantu saya memahami makna ayat yang pendek dalam Alkitab: "Maka menangislah Yesus" (Yohanes 11:35). Allah Putra menangis! Dia mengetahui kenyataan di surga. Dialah sumber segala pengharapan pada hari kebangkitan yang akan datang. Namun demikian, Yesus menangis. Dia sangat mengasihi sahabat-sahabat-Nya: Maria, Marta, dan Lazarus, sehingga "masygullah hati-Nya" (ayat 33). Yesus benar-benar merasakan kepedihan di hatinya.

Ketika orang yang kita kasihi meninggal, kita bergulat dengan berbagai macam emosi. Jika seorang yang masih muda meninggal, kita bertanya, "Mengapa?" Ketika kematian datang setelah penderitaan yang panjang, kita bergumul untuk memahami mengapa Tuhan menunggu sekian lama untuk memberikan kelegaan. Kita mulai berpikir Allah itu jauh dan tidak tersentuh oleh kepedihan kita. Kita mungkin mempertanyakan hikmat dan kebaikan-Nya. Namun, kita membaca, "Maka menangislah Yesus." Allah sangat tersentuh oleh penderitaan kita.

Ketika situasi yang menyakitkan terjadi dalam hidup Anda, ingatlah ayat yang pendek itu. Yesus juga mencucurkan air mata --Kurt De Haan

29 Agustus 2004

Roti Setiap Hari

Nats : Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya (Yohanes 6:51)
Bacaan : Imamat 24:1-9

Roti sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu benda yang sedemikian penting seperti halnya pada zaman Alkitab. Kita biasanya tidak menganggap roti sebagai simbol kebutuhan hidup. Akan tetapi pada zaman Yesus, roti melambangkan berbagai jenis makanan bergizi dengan segala bentuknya.

Kenyataan di atas membantu kita memahami mengapa Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk meletakkan roti dalam Ruang Kudus di Kemah Pertemuan, yang merupakan lambang dari rumah Tuhan. Di sanalah, di dalam ruangan pertama itu, terdapat dua belas potong roti yang harus disajikan di atas sebuah meja emas "di hadapan Tuhan" (Imamat 24:6). Roti-roti itu mengingatkan bangsa Israel bahwa Allah selalu memelihara milik-Nya ketika mereka datang dan berkenan kepada-Nya. Roti mencerminkan janji Allah untuk memberikan pemenuhan kebutuhan bagi semua manusia yang lapar dan haus akan kebenaran (Matius 5:6; Matius 6:31-34).

Bagi umat yang percaya kepada Kristus, roti juga dapat melambangkan Alkitab, Yesus, persekutuan orang kristiani, atau persediaan yang telah disiapkan Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani kita. Dia memelihara kita dan selalu siap sedia untuk mengenyangkan kita. Akan tetapi, tawaran-Nya tersebut bukannya tanpa syarat. Dia berjanji akan memberikan "roti" setiap hari bagi mereka yang di dalam ketaatan telah mengkhususkan diri untuk hidup dan makan dari tangan Allah.

Tuhan peduli kepada semua orang yang dengan sukarela dan rendah hati menerima makanan jasmani dan rohani dari-Nya --Mart De Haan

13 September 2004

Umur Panjang

Nats : Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika ... delapan puluh tahun, ... kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan (Mazmur 90:10)
Bacaan : Mazmur 90

Para ilmuwan memperkirakan bahwa batas rata-rata usia manusia di Amerika Serikat dapat mencapai 100 tahun sebelum akhir abad ke-21. Mereka mengatakan bahwa unsur genetik yang mengendalikan penuaan dapat direkayasa untuk memperpanjang usia hingga lebih dari 70 sampai 80 tahun seperti yang dikatakan di dalam Mazmur 90:10. Namun, babak pamungkas dari hidup tetap terbaca, "berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap".

Musa, yang menuliskan kata-kata itu, menyamakan keberadaan kita dengan rumput yang tumbuh subur di pagi hari yang kemudian lisut dan layu di waktu petang (ayat 5,6). Walaupun Musa hidup sampai usia 120 tahun (Ulangan 34:7), ia selalu mengingat bahwa umur manusia itu singkat. Karena itu ia berdoa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Mazmur 90:12).

D.J. De Pree, anggota senior dewan direksi RBC, menafsirkan ayat-ayat itu secara harfiah. Ia menghitung jumlah hari sejak kelahirannya sampai ia berusia 70 tahun kelak. Di setiap penghujung hari ia mengurangi satu angka dari jumlah keseluruhan. Pengurangan itu mengingatkannya untuk membuat setiap hari bermakna bagi Tuhan.

Kita semua merupakan bagian dari adegan yang berlangsung cepat. Seyogianya hal itu membuat kita bijak, tetapi tidak melunturkan semangat kita. Musa menganggap Allah sebagai "tempat perteduhan"-nya (ayat 1). Itulah cara untuk menghadapi masalah panjangnya usia dari keberadaan kita yang fana di dunia ini --Dennis De Haan

5 Juni 2005

Sahabat Sampai Akhir

Nats : Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara (Amsal 18:24)
Bacaan : Amsal 18:14-24

Lazimnya di sekolah kedokteran, para mahasiswa telah dilatih untuk menolong pasien agar tetap hidup, sementara itu mereka diberi sedikit instruksi untuk membantu pasien menghadapi kematian. Namun, hal ini berubah dengan ditambahnya mata kuliah tentang pendampingan orang yang mendekati ajal. Kini para dokter diajari bahwa apabila mereka telah mengerahkan seluruh kemampuan medis tetapi tidak menghasilkan kesembuhan, mereka harus memanfaatkan kesempatan untuk mendampingi pasien yang sekarat dengan penuh belas kasih dan menjadi sahabat baginya.

Kematian menakutkan sebagian be-sar kita dan membuat kita merasa canggung menghadapi seorang pasien yang sudah sekarat. Namun, kesempatan terbesar kita untuk menolong seseorang dalam nama Yesus dapat datang selama hari-hari terakhirnya di dunia ini.

Alkitab berbicara tentang persahabatan yang tidak memiliki batasan. Orang bijak berkata, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu" (Amsal 17:17). Dan "ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara" (Amsal 18:24). Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13).

Yesus adalah Tabib kita Yang Agung sekaligus Sahabat kita. Dia berjanji tidak akan meninggalkan ataupun mengabaikan kita (Ibrani 13:5). Dia meminta kita untuk mendampingi sahabat dan keluarga kita di dalam nama-Nya, saat mereka hampir sampai di pengujung perjalanan mereka di dunia. Inilah yang akan dilakukan seorang sahabat sejati —DCM

9 September 2005

Lonceng Kemenangan

Nats : Maut telah ditelan dalam kemenangan .... Hai maut, di manakah sengatmu? (1Korintus 15:54,55)
Bacaan : 1Korintus 15:51-56

Di Inggris pada abad ketujuh belas, bunyi lonceng gereja yang berkumandang memberikan pengumuman mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di daerahnya. Lonceng tersebut tidak hanya mengumumkan ibadat keagamaan, tetapi juga peristiwa pernikahan dan pemakaman.

Jadi, ketika John Donne, penulis sekaligus kepala Katedral St. Paul, terbaring tidak berdaya akibat wabah pes yang merenggut ribuan nyawa di London, ia dapat mendengar lonceng terus-menerus berdentang mengumumkan kematian demi kematian. Dalam tuangan pemikirannya pada buku harian renungan yang kemudian menjadi buku klasik, ia mendorong pembacanya, Kita tidak perlu mencari tahu untuk siapa lonceng itu berdentang. Lonceng itu berdentang untuk kita sendiri.

Tepat sekali! Kitab Ibrani mengajar bahwa kelak kita akan menghadapi maut: Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (9:27).

Tetapi jika kita percaya kepada Injil, berita kematian tidak akan menggentarkan kita. Kita tahu, seperti yang dijaminkan Paulus dengan sukacita, bahwa kebangkitan Yesus yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2Timotius 1:10). Maut telah ditelan kemenangan oleh Tuhan Yesus Kristus (1Korintus 15:54). Sengatnya telah hilang (ayat 55).

Apabila lonceng berdentang bagi umat kristiani, maka lonceng tersebut mengumandangkan kabar baik tentang kemenangan Yesus atas maut VCG

29 September 2005

Menang Dalam Semua Kondisi

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:15-26

Lois baru saja menjalani operasi kanker dan sedang merenung sendirian. Sebelumnya ia telah berhadapan dengan kematian, tetapi semuanya adalah kematian dari orang-orang yang dikasihinyabukan dirinya sendiri.

Tiba-tiba ia sadar bahwa kehilangan orang yang ia kasihi lebih menakutkan baginya daripada kemungkinan ia kehilangan nyawanya sendiri. Ia jadi penasaran. Ia ingat bahwa ia pernah bertanya kepada dirinya sendiri sebelum menjalani operasi, Apakah aku siap mati? Jawaban langsungnya dari dahulu sampai sekarang adalah, Ya, aku siap. Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamatku.

Berbekal kesiapan atas kematiannya yang terjamin, ia kini hanya perlu berkonsentrasi untuk hidup. Kematian itu akan ia jalani dengan takut atau iman? Lalu seolah-olah Allah berkata, Aku telah menyelamatkanmu dari maut kekal. Aku pun ingin menyelamatkanmu dari hidup yang dipenuhi ketakutan. Kutipan Yesaya 43:1 muncul dalam pikiran, Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

Sekarang Lois bersaksi, Ya, aku adalah milik-Nya! Kenyataan ini lebih penting daripada pernyataan dokter bahwa saya mengidap kanker. Kemudian ia menambahkan, Aku menang dalam semua kondisi, baik jika aku akan hidup atau mati!

Pandangan Lois merupakan gema ucapan Paulus dalam bacaan hari ini, Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Mari kita berdoa agar kata-kata itu bergaung di hati kita. Kepercayaan diri seperti itu akan membuat kita menang dalam semua kondisi JEY

12 Oktober 2005

Ada di Tangan Allah

Nats : “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan,” firman Tuhan (Roma 12:19)
Bacaan : Roma 12:9-21

Seluruh dunia merasa takut ketika para pemberontak Chechen membunuh ratusan orang yang terkurung di sebuah sekolah di Beslan, Rusia. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak, termasuk enam anak dari Totiev bersaudara, yang aktif dalam pelayanan kristiani.

Salah satu dari Totiev bersaudara itu memberikan reaksi yang bagi kebanyakan kita merupakan pilihan yang sulit. Ia berkata, “Ya, kami mengalami kehilangan yang tak dapat digantikan oleh apa pun, tetapi kami tidak melakukan balas dendam.” Ia memercayai apa yang dikatakan Tuhan, yang tercatat dalam Roma 12:19, “Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Beberapa di antara kita sulit menghilangkan kepahitan atas ketidakadilan kecil, dan tidak berkata apa-apa terhadap kejahatan besar seperti yang dihadapi oleh keluarga ini. Totiev mengambil sikap untuk mengikhlaskan kepahitan dan tidak membalas dendam. Sikap tersebut menunjukkan bahwa mereka membenci yang jahat (ayat 9), tetapi tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17). Alangkah berbedanya keadaan pernikahan, keluarga, gereja, dan semua hubungan kita apabila Roh Kudus sendiri yang memampukan kita untuk memiliki sikap seperti Kristus sehingga dapat meletakkan semua ketidakadilan yang kita terima di tangan Allah.

Berdiam dirilah sejenak dan telitilah hati Anda. Jika ada kepahitan terhadap orang lain atau keinginan untuk membalas dendam, mintalah kepada Roh Kudus untuk membantu Anda supaya tidak “kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (ayat 21) -VCG

13 Januari 2006

Penghormatan Terbesar

Nats : Aku akan masuk menghadap raja, sungguh pun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati (Ester 4:16)
Bacaan : Ester 4:10-17

Raja Persia telah menandatangani sebuah dokumen yang memerintahkan pembinasaan seluruh orang Yahudi di bawah pemerintahannya. Saat Mordekhai, seorang tawanan Yahudi, mendengar kabar itu, ia menantang keponakannya, Ratu Ester yang baru saja dimahkotai, untuk membela nyawa orang-orang sebangsanya.

Menghadap raja tanpa diundang dapat mendatangkan hukuman mati. Namun demi umat Allah, Ester mengambil risiko itu.

Sepanjang abad ke-20, jutaan orang kristiani mati sebagai martir. Ini adalah sebuah tragedi yang mengenaskan, namun kita dapat memperoleh penghiburan dengan mengetahui bahwa mereka yang terbunuh karena pengabdian kepada Yesus mati dengan sangat terhormat.

Ayah Corrie ten Boom melihat kebenaran ini dengan jelas. Semasa Perang Dunia Kedua, seorang pendeta Belanda menolak untuk melindungi seorang bayi, katanya, "Kita dapat kehilangan nyawa karena anak Yahudi itu." Ayah ten Boom lalu mengambil bayi itu ke dalam pelukannya dan berkata, "Anda berkata bahwa kita dapat kehilangan nyawa kita karena anak ini. Namun saya mengganggapnya sebagai sebuah kehormatan besar bagi keluarga saya."

Sebagian besar dari kita tidak akan pernah menghadapi ujian seperti yang dihadapi oleh keluarga ten Boom dan Ester. Namun kita semua dapat membesarkan hati melalui teladan mereka. Mereka tahu bahwa ada nasib yang lebih buruk daripada kematian.

Mati karena pelayanan kita kepada Allah dan kasih kita bagi Dia betul-betul merupakan kehormatan tertinggi --HVL

14 Januari 2006

Allah Tertawa

Nats : Dia, yang bersemayam di surga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka (Mazmur 2:4)
Bacaan : Mazmur 2

Saya sedang mencuci mobil di suatu sore, sewaktu matahari bersiap-siap untuk mengucapkan selamat malam. Saat memandang ke atas, saya spontan mengarahkan selang ke arah matahari seakan-akan hendak memadamkan nyala apinya. Kemustahilan tindakan saya ini menyadarkan saya, dan saya pun tertawa.

Lalu saya berpikir tentang tawa Allah dalam Mazmur 2. Bangsa-bangsa yang jahat berencana untuk menjatuhkan orang yang diurapi Allah, yang berarti melawan Sang Mahakuasa sendiri. Namun Dia bersemayam di surga, tenang dan tidak merasa terancam. Usaha paling berani yang dilakukan manusia untuk melawan kuasa yang sebegitu besar itu benar-benar menggelikan. Sang Mahakuasa bahkan tidak bangkit dari takhta-Nya; Dia hanya tertawa dan mengolok-olok.

Namun, apakah tawa ini tidak berperasaan atau kejam? Tidak! Kebesaran-Nya yang tak terhingga, yang mengolok-olok tantangan manusia juga menandai simpati-Nya terhadap manusia yang dalam keadaan tersesat. Dia adalah Allah yang sama yang tidak senang melihat kematian orang fasik (Yehezkiel 33:11). Dan Dia juga adalah Juru Selamat yang menjelma menjadi manusia, yang meratapi Yerusalem ketika umat-Nya sendiri menolak Dia (Matius 23:37-39). Dia besar dalam penghakiman, tetapi Dia juga sangat berbelas kasihan (Keluaran 34:6,7).

Tawa Allah memberi kita jaminan bahwa Kristus pada akhirnya akan menang atas kejahatan. Usaha untuk menentang Dia dan kehendak-Nya adalah sia-sia. Daripada melawan Sang Anak Allah, kita harus tunduk kepada Tuhan Yesus dan berlindung kepada-Nya --DJD

3 April 2006

Maut Takkan Memisahkan Kita

Nats : Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:14-27

Meskipun para penulis dan filsuf telah berusaha sebaik mungkin untuk menyusun berbagai argumen penting perihal kehidupan setelah kematian, mereka tetap belum berhasil memberikan penghiburan bagi hati yang terluka, resah, dan dipenuhi pertanyaan.

Sebaliknya, Yesus selalu dapat memuaskan kita. Dia tidak menyodorkan beragam argumen filosofis. Dia tidak berusaha membuktikan bahwa kekekalan itu masuk akal; Dia benar-benar menyatakan hal itu! Dia mengatakan hal yang diketahui-Nya, dan menjawab dengan kuasa surgawi, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). Kebangkitan ini mempunyai dua aspek. Tubuh orang percaya akan dibangkitkan, dan roh mereka akan hidup di surga.

Apa artinya hal ini bagi kaum kristiani yang berduka karena kematian orang-orang terkasih? Kematian tidak memutuskan tali kasih kita bagi mereka, karena kasih itu ada pada roh, bukan pada tubuh. Renungkan saja, ketika orang-orang yang kita kasihi harus melakukan suatu perjalanan yang panjang, pikiran mereka dapat melintasi jarak yang jauh sehingga seolah-olah jarak itu hanya tinggal sejengkal, dan kasih mereka menyelimuti kita seolah-olah mereka di sisi kita. Begitu pula yang terjadi dengan orang-orang terkasih yang telah mendahului kita.

Apakah saat ini Anda sedang berdukacita karena seseorang telah dipanggil ke surga? Yesus berjanji bahwa kita akan dipersatukan kembali pada suatu hari kelak ketika Allah mengembalikan orang-orang berharga yang kita kasihi --MRD

24 Mei 2006

Dapatkah Kita Bersukacita?

Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, ... Allah Tuhanku itu kekuatanku (Habakuk 3:18,19)
Bacaan : Habakuk 3:17-19

Saya tidak pernah lupa pada pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin pendalaman Alkitab kami, "Apa yang paling kautakutkan akan menjadi ujian terberat bagi imanmu kepada Tuhan?" Saat itu kami sedang mempelajari Habakuk 3:17,18, yang menceritakan bagaimana nabi itu berkata bahwa meskipun Allah mengizinkan penderitaan atau kehilangan terjadi, ia tetap akan bersukacita.

Sebagai seorang wanita lajang usia dua puluhan, saya menjawab, "Saya tidak tahu apakah saya dapat menahan kepedihan kalau kehilangan orangtua." Namun, hari itu saya berkata kepada Allah bahwa meskipun mereka meninggal, saya akan bersukacita di dalam Dia. Dan saya segera menyadari bahwa lebih mudah mengatakan kalimat itu daripada melakukannya.

Sebulan kemudian, Ayah didiagnosa menderita sakit jantung dan takkan hidup lama. Ia belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat, jadi saya meminta agar Allah tidak membiarkannya meninggal sebelum mengenal Dia. Tahun itu, tidak saja Ayah yang meninggal, tetapi juga Ibu yang sudah menjadi orang percaya. Saya tidak tahu apakah doa saya untuk Ayah dikabulkan. Saya tak dapat bersukacita; dan bertanya-tanya apakah Allah mendengar doa saya.

Pada saat saya menggumulkan keraguan ini dengan-Nya, saya mengalami bagaimana Tuhan menjadi "tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan" (Mazmur 46:2). Saya pun menemukan harapan bahwa Allah, "Hakim segenap bumi," akan melakukan hal yang tepat untuk setiap orang (Kejadian 18:25).

Kita dapat bersukacita -- bila kita bersukacita di dalam Tuhan, tempat perlindungan kita yang kuat dan Hakim yang adil --AMC

31 Agustus 2006

Dia Memutuskan

Nats : Jawab Yesus kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yohanes 11:25)
Bacaan : Yohanes 11:17-27

Ketika Walter Bouman, seorang guru besar seminari yang sudah pensiun, mengetahui bahwa kanker di tubuhnya sudah menyebar dan ia mungkin hanya punya waktu sembilan bulan untuk hidup, ia memikirkan banyak hal secara mendalam. Salah satu yang ia pikirkan adalah sindiran komedian Johnny Carson: "Memang benar bahwa beberapa hari setelah kamu meninggal dunia, rambut dan kukumu akan tetap tumbuh, tetapi telepon tidak akan berdering lagi." Ia menganggap bahwa humor itu merupakan tonikum yang bagus, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam yang mengusik pikirannya.

Dalam kolom koran yang ditulis Bouman, ia menulis tentang sumber yang paling memberi semangat kepadanya: "Berita baik bagi orang kristiani adalah bahwa Yesus dari Nazaret telah bangkit dari kematian, dan maut tidak lagi berkuasa atas-Nya. Saya telah mempertaruhkan hidup saya, dan sekarang saya dipanggil untuk mempertaruhkan kematian saya, yaitu bahwa Yesus yang akan mengambil keputusan."

Dalam Yohanes 11, kita membaca tentang hal yang dikatakan Yesus kepada Marta, seorang sahabat dekat-Nya yang sedang berduka atas kematian saudara laki-lakinya. Dia berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (ayat 25,26).

Untuk setiap "hari ini" yang diberikan kepada kita, dan untuk "hari esok" yang pasti akan datang, kita tidak perlu merasa takut. Yesus Kristus akan menyertai semua orang yang menaruh keper-cayaan kepada-Nya, dan Dia yang akan memutuskan hidup mati kita -DCM

6 September 2006

"di Situlah Surga"

Nats : Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka (Wahyu 22:5)
Bacaan : Wahyu 22:1-5

Ketika Bree berumur 3 tahun, kakeknya menderita gagal jantung. Kakek Bree dibawa ke rumah sakit setempat dan di situlah ia meninggal. Beberapa minggu setelah pemakaman, ketika Bree dan keluarganya melewati rumah sakit tersebut, Bree menunjuk dan mengungkap pemahamannya, "Di situlah surga." Ia tahu kakeknya sudah ke surga. Jadi sejak kakeknya meninggal di rumah sakit, Bree berpikir bahwa di sanalah surga itu.

Ibu Bree menulis, "Kita, orang-orang dewasa, memiliki konsep abstrak mengenai surga yang ada di balik bintang-bintang yang bahkan tidak dapat kita lihat." Akan tetapi, pandangan kanak-kanak Bree tentang surga membuat sang ibu berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyata, dan itu membuatnya terhibur.

Dalam Kitab Wahyu, Yohanes memberi kita gambaran sekilas seperti apa surga itu. Setelah diangkat ke surga, ia melihat "sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal" dan "pohon kehidupan" (Wahyu 22:1,2). Dan, tempat itu tidak membutuhkan "cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka" (ayat 5).

Surga tidak cukup digambarkan dengan kata-kata, namun kita meyakini bahwa surga adalah tempat yang nyata bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Yesus me-yakinkan kita, "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:2). Suatu hari nanti, kita akan berada di sana dan tidak perlu membayangkan tempat itu lagi -AMC

7 November 2006

Tiga Kepastian

Nats : Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55)
Bacaan : 1 Tesalonika 4:13-18

Pada saat berada di luar ruang ICU untuk menanti perubahan kondisi seseorang yang saya kasihi, saya diingatkan bahwa kematian akan menimpa kita semua: baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan, miskin maupun kaya.

Dalam 1 Tesalonika 4, Paulus menghibur mereka yang merasa kehilangan karena kematian orang yang dicintai. Ia berkata kepada mereka bahwa kesedihan yang berlebihan tidak menghasilkan apa-apa. Wajar jika kita menangis karena kehilangan, tetapi janganlah kita menangis seperti orang yang tak berpengharapan. Sebaliknya, kita harus berpegang pada tiga kepastian tentang kematian.

Kepastian yang pertama adalah bahwa jiwa manusia tidak pernah mati. Jiwa orang percaya tinggal di dalam Tuhan (ayat 14). Mereka yang meninggal meninggalkan dunia yang penuh permasalahan ini untuk "mati di dalam Yesus".

Kedua, Yesus akan datang untuk orang-orang percaya; baik orang percaya yang masih hidup maupun yang sudah mati. Yesus akan kembali untuk anak-anak-Nya (ayat 16,17).

Ketiga, akan ada reuni yang penuh sukacita. "Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan (ayat 17).

Dengan mengetahui tiga kepastian tentang kematian tersebut, maka orang-orang percaya yang kehilangan orang yang dicintai akan sangat terhibur. Walaupun kita terpisah sementara dengan mereka, kita akan bertemu lagi dalam hadirat Allah --AL

18 Desember 2006

Belajar Meratap

Nats : Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap (Ratapan 3:21)
Bacaan : Ratapan 3:19-27

Pada tanggal 14 Februari 1884, istri Theodore Roosevelt, Alice, meninggal setelah melahirkan putrinya, yang kemudian juga diberi nama Alice. Roosevelt sangat sedih atas kepergian istrinya, sehingga ia tidak pernah membicarakannya lagi. Namun, hal-hal yang berkaitan dengan Alice menghantui keluarganya. Karena bayi yang baru saja lahir memiliki nama yang sama dengan ibunya, maka ia dipanggil "Sister". Ia tidak pernah dipanggil dengan nama Alice. Pada hari Valentine, hari bagi orang-orang terkasih, tidak banyak anggota keluarga Roosevelt yang merasa ingin merayakannya ataupun merayakan ulang tahun Sister. Hati yang hancur membuat banyak keinginan hati tertahan dan membatu.

Mengubur perasaan tidak akan membantu, tetapi ratapan yang disertai doa dapat membantu kita. Hati Yeremia hancur karena ketidaktaatan bangsa Israel dan pembuangan Babel yang menyertainya. Ingatan akan kehancuran Yerusalem menghantuinya (Ratapan 1-2). Namun, ia sudah belajar bagaimana caranya meratap. Ia menyebutkan apa yang menyebabkan dukacitanya, mulai berdoa, dan membiarkan air matanya mengalir. Dengan segera, fokusnya teralih dari kehilangan yang ia alami pada rahmat pemeliharaan Tuhan yang selalu siap sedia. "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (3:22,23). Ratapan dapat membuka jalan bagi kita untuk mengucap syukur.

Dengan belajar meratap kita dapat mendapatkan pandangan yang baru terhadap suatu harapan dan kita dapat memulai proses penyembuhan serta pemulihan --HDF

30 Oktober 2007

Selamat Jalan

Nats : Saat kematianku sudah dekat (2Timotius 4:6)
Bacaan : 2Timotius 4:1-8

Kata kematian yang diucapkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 4:6 memiliki arti penting. Alkitab versi King James menggunakan kata keberangkatan (departure) untuk menggantikan kata kematian pada ayat itu. Kata keberangkatan berarti "melonggarkan" atau "melepaskan tambatan". Paulus menggunakan kata yang sama saat mendesah, "Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan tinggal bersama-sama dengan Kristus" (Filipi 1:23).

Keberangkatan adalah istilah kelautan yang berarti "berlayar" -- membongkar sauh, melepas tambatan yang mengikat kita pada dunia ini, dan pergi. Kata itu merupakan kata ganti yang bagus untuk "meninggal dunia".

Bagi orang percaya, kematian bukan akhir, melainkan awal. Itu berarti kita meninggalkan dunia yang lama ini dan menuju tempat yang lebih baik untuk menyempurnakan tujuan hidup kita. Kematian merupakan saat bersukacita dan bergembira serta berkata lantang, "Selamat jalan!"

Namun, semua perjalanan dipenuhi ketidakpastian, terutama saat melewati lautan yang belum pernah dilayari. Kita lebih takut akan jalan yang kita lalui daripada kematian itu sendiri. Siapakah yang tahu bahaya seperti apa yang menghadang kita?

Namun, perjalanan itu sudah dipetakan. Seseorang telah melaluinya, dan Dia kembali untuk membawa kita melaluinya dengan selamat. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman, Allah selalu menyertai kita (Mazmur 23:4). Tangan-Nya memegang kemudi, sementara Dia membimbing kita ke rumah surgawi yang telah disiapkan-Nya bagi kita (Yohanes 14:1-3) --DHR

6 November 2007

Lebih Baik Lagi

Nats : Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : Filipi 1:19-26

Sir Francis Bacon mengatakan, "Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka hanya takut pada serangan kematian." Woody Allen berkata, "Saya tidak takut mati. Saya hanya tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi."

Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, "Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!

Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.

Seseorang pernah berkata, "Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan, bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan." George MacDonald menulis, "Alangkah anehnya ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam."

Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, "Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus, dan mati -- ya, berarti lebih baik lagi!" (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.

Itulah "sesuatu yang lebih baik lagi" yang dimaksudkan Rasul Paulus! --CHK

12 Januari 2008

Perkara Besar

Nats : Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita (Mazmur 126:3)
Bacaan : Mazmur 126

Seorang pengusaha terlambat menghadiri sebuah rapat penting. Ketika tiba di gedung pertemuan, tempat parkir sudah terisi penuh. Dikelilinginya semua lahan parkir, lantai demi lantai. Tak ada juga tempat kosong! Dengan panik ia berseru: "Tuhan, kasihani aku. Berikanlah tempat parkir sekarang juga. Aku janji akan berhenti mabuk-mabukan dan ke gereja lagi setiap Minggu!" Tiba-tiba, persis di depannya sebuah mobil keluar. Spontan ia berkata, "Tidak jadi janji deh, Tuhan! Aku sudah menemukan satu."

Tuhan kerap kali melakukan perkara besar dalam hidup kita. Namun, seberapa peka kita menyadarinya? Saat sebuah doa dijawab, sering kita menganggapnya suatu kebetulan. Bukan karya Tuhan. Mazmur 126 digubah saat Israel baru pulang dari pembuangan. Penjajahan telah lewat. Kini mereka bisa kembali ke tanah air. Pemazmur mengingatkan: ini semua terjadi bukan karena perjuangan para pahlawan, ataupun kebaikan hati penjajah. Ini terjadi karena Tuhan telah melakukan perkara besar (ayat 1-3). Bahkan, Tuhan masih akan terus berkarya, di tengah kondisi tanah air yang masih porak-poranda. Dia akan terus bekerja, saat umat harus kembali membangun dari nol, dengan cucuran air mata (ayat 4-6).

Pernahkah Anda sembuh dari sakit? Pulih dari hubungan yang retak? Merasakan kekuatan dalam kelemahan? Mengalami berkat di tengah krisis? Itu adalah bukti nyata: Tuhan telah melakukan perkara besar dalam hidup Anda di masa lalu. Hebatnya, Tuhan tak pernah bekerja separuh jalan. Dia masih menyiapkan perkara besar untuk hari esok Anda. Jangan khawatir atau meragukan pimpinan-Nya! --JTI

29 Januari 2008

Rasa Malu

Nats : Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa (Lukas 15:18)
Bacaan : Lukas 15:11-24

Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).

Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau mengalami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.

Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.

Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan --NDA

24 April 2008

Berdiri di Belakang

Nats : Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)
Bacaan : Yohanes 1:35-42

Rela dan tetap bersukacita dengan posisi "di belakang layar", sungguh tidak gampang. Terlebih di dunia di mana persaingan yang terjadi begitu ketat. Termasuk di gereja. Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terkemuka. Bahkan, untuk itu tidak jarang orang memakai "gaya katak": ke atas menyembahnyembah, ke bawah menendang-nendang.

Namun, Andreas tidak demikian. Ia adalah salah satu dari dua murid Tuhan Yesus yang mula-mula (ayat 40). Ia juga yang membawa Petrus kepada Tuhan Yesus (ayat 42). Akan tetapi dalam perjalanan selanjutnya, justru Petrus yang lebih banyak ditonjolkan. Berulang kali Alkitab menyebut Andreas dengan embel-embel "saudara Simon Petrus" -- menunjukkan bahwa Petrus selalu membayanginya.

Ia juga tidak termasuk murid yang utama. Ketika Tuhan Yesus naik ke gunung untuk dimuliakan, yang dibawa serta ke sana adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus (Matius 17:1). Begitu juga ketika Dia menyembuhkan anak perempuan Yairus (Lukas 8:51) dan ketika Dia di Taman Getsemani (Markus 14:33).

Andreas bisa saja menyesalkan hal ini. Sebagai murid mula-mula dan yang membawa Petrus, ia punya alasan untuk berharap mendapat tempat utama dalam kelompok para murid. Namun, rupanya posisi terkemuka, kedudukan, dan kehormatan tidak pernah menjadi target Andreas. Baginya, yang penting adalah mengikuti dan melayani Gurunya sebaik mungkin. Andreas adalah contoh orang yang tidak mementingkan kedudukan atau status nomor satu. Sebaliknya, dengan rendah hati dan tulus, ia rela berdiri di belakang -AYA

28 April 2008

Indahnya Memberi

Nats : Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami (2Korintus 8:5)
Bacaan : 1Raja-raja 17:7-16

Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika ia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, ia akan mati kelaparan. Namun akhirnya, ia mengambil keputusan itu, walau berisiko (1 Raja-raja 17:15). Ia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia -- yang berarti juga memberi --kan hidupnya. Demikian pula jemaat Makedonia (2 Korintus 8:5). Mereka menderita dan kekurangan, tetapi mereka bermurah hati. Bahkan, mereka memberi diri untuk melayani. Pertamatama mereka melayani Allah, tetapi kemudian juga melayani sesama. Sungguh indah!

Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari ibu janda dari Sarfat, serta jemaat Makedonia. Mereka memberi teladan dalam hal memberi. Bagi mereka, tak ada alasan untuk tidak memberi. Apa pun keadaannya. Dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa memberi, asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama -- paling tidak waktu, tenaga, dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa apa pun yang kita punya adalah anugerah-Nya, yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya.

Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri, adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan; di rumah, di tempat kerja, dan di mana pun, adalah ibadah yang sejati -ENO

26 Mei 2008

Waktu Teduh

Nats : Lalu berangkatlah mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Markus 6:32)
Bacaan : Markus 6:30-32

Seorang pemuda sedang memotong kayu dengan kampak. Dari pagi hingga siang ia terus bekerja. Tidak ada waktu untuk berhenti. Ia harus mengejar target. Itu sebabnya, ia terus-menerus mengayunkan kampaknya. Suatu kali seorang bapak tua datang menghampirinya. "Nak, kampakmu sudah tumpul. Berhentilah sejenak untuk mengasahnya," kata si bapak tua. "Wah, tidak ada waktu, Kek. Saya harus mengejar target," sahut si pemuda.

Kehidupan di dunia ini semakin hiruk pikuk; tuntutan dan tantangan zaman semakin besar. Kita tidak terhindarkan dari kesibukan dan belenggu rutinitas. Padahal, ibarat sebuah mesin, kita tentu membutuhkan istirahat. Hidup dalam rutinitas tanpa sejenak pun "beristirahat" sama dengan pemuda dalam cerita di atas, yang terus memotong kayu tanpa sedikit pun waktu untuk mengasah kampaknya, sehingga kampaknya pun menjadi tumpul. Inilah makna pentingnya waktu teduh: keluar sejenak dari kesibukan rutin untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan.

Waktu teduh lebih merupakan kebutuhan, daripada kewajiban. Karena itu, kita perlu meresponsnya dengan sukacita. Dalam rutinitas sehari-hari, perlu selalu ada waktu untuk sejenak berdiam diri. Menutup mata dan telinga dari segala hiruk pikuk kegiatan rutin sehari-hari. Menyediakan diri dan membuka hati untuk Tuhan, membiarkan Dia menyapa dengan cara-Nya. Tuhan Yesus telah mencontohkannya. Di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa -- mengajar dan menolong orang -- Dia selalu menyempatkan diri untuk sejenak menyepi, untuk menenangkan diri dalam waktu teduh (ayat 31,32) -AYA

20 Juli 2008

Jangan Halangi Mereka

Nats : Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka (Lukas 18:16)
Bacaan : Lukas 18:15-17

Di banyak gereja, kerap kali ada kelas untuk anak balita. Hal paling unik di kelas balita adalah tak hanya anak-anak yang hadir di dalam kelas, tetapi orang-orang dewasa juga turut duduk di situ. Bisa ayah atau ibunya, bisa juga nenek, kakek, atau pengasuhnya. Memang kelas menjadi padat karenanya, tetapi tak mungkin para pengantar ini dilarang hadir, karena anak-anak yang masih sangat muda itu tak mungkin berangkat sendiri!

Ketika para murid melarang anak-anak kecil dibawa kepada Yesus (ayat 15), Dia berkata, "... jangan menghalang-halangi mereka" (ayat 16). Kerap kali kita "menyalahkan dan menyayangkan" sikap para murid ini. Namun tanpa sadar, ada juga orangtua kristiani yang "menghalang-halangi" anaknya datang kepada Tuhan. Salah satunya dengan keengganan untuk mengantar dan menunggui anaknya beribadah di gereja. Padahal sebagai anak, keputusan mereka untuk datang ke gereja sangat dipengaruhi keputusan orangtuanya. Jika orangtua sedang merasa sibuk, lelah, atau repot, sehingga lalai mengantar anaknya ke gereja, maka anak-anak pun bisa absen beribadah.

Tak hanya itu, sebagai orangtua kita juga dapat menghalangi anak-anak bertemu Yesus, jika kita tak mendampingi mereka secara pribadi untuk mengenal dan mencintai Yesus; lewat doa bersama di rumah, membacakan Alkitab bagi mereka, berbagi kesaksian tentang pengalaman bersama Tuhan. Terakhir, kita juga menghalangi anak mengenal Yesus bila tutur kata dan laku kita tak mencerminkan pribadi yang mengikut teladan Kristus!

Anak-anak kita membutuhkan Yesus. Jangan menghalang-halangi mereka! -AW

13 September 2008

Dibongkar!

Nats : Hati yang patah dan remuk, tak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazmur 51:19)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan, tetapi sekalipun demikian Daud tetap manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan. Salah satu kesalahan Daud yang paling fatal adalah pada saat ia merebut Batsyeba yang notabene istri dari Uria, salah seorang prajuritnya. Untuk mewujudkan keinginannya, Daud menggunakan cara yang jahat, yaitu dengan sengaja menempatkan Uria di garis depan medan pertempuran sehingga ia mati terbunuh.

Skandal yang sangat memalukan ini kemudian dibongkar oleh Nabi Natan. Pada saat dosanya dibongkar, sebetulnya Daud bisa saja menjadi tersinggung dan marah atas kelancangan Nabi Natan. Bahkan dengan mudah ia juga bisa memerintah prajuritnya untuk menghabisi Nabi Natan, sehingga ia tidak akan kehilangan muka. Tetapi Daud tidak melakukannya. Ia juga tidak mencoba berdalih dan mencari kambing hitam atas hal yang telah diperbuatnya. Sebaliknya, dengan hati hancur Daud mengakui dosa besar yang telah diperbuatnya.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegur dan membongkar dosa yang telah kita buat. Yang penting, bagaimana kita meresponi teguran yang demikian. Biarlah kita mau belajar rendah hati dan dengan hati hancur bersedia mengakui kesalahan-kesalahan kita. Sebab hanya dengan begitu kita akan mendapat pemulihan dan pengampunan Allah. Ingatlah bahwa sebuah kedewasaan rohani bukan berarti sempurna tanpa cacat. Kedewasaan rohani adalah sikap seseorang yang dengan hati besar berani jujur dan terbuka untuk mengakui setiap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat -PK



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA