Topik : Kembalinya Kristus

8 Maret 2003

Kabar Baik atau Buruk?

Nats : Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang (Lukas 12:37)
Bacaan : Lukas 12:35-40

Seorang guru berkata kepada murid-muridnya, “Anak-anak, saya akan ke kantor sekolah sebentar. Saya harap saya tidak akan lama. Saya percaya kalian tidak akan ribut. Kerjakan tugas kalian sementara saya pergi.”

Waktu pun berlalu; 15 menit, 20 menit, kemudian 40 menit. Tiba-tiba guru itu kembali. Saat itu Dennis baru saja melemparkan penghapus ke arah Carol yang tengah mengerjakan tugas matematikanya. Sementara Steven sedang berdiri di atas meja guru sambil bertingkah. Murid-murid yang menaati perintah guru itu merasa senang atas kembalinya guru itu ke kelas. Namun sebaliknya, Dennis dan Steven malah berharap agar guru mereka tidak kembali.

Yesus akan kembali! Dalam Perjanjian Baru, hal itu dapat berarti sebuah peringatan sekaligus janji, seperti dalam bacaan hari ini yang terambil dari Lukas 12. Kabar itu dapat dibilang baik atau buruk, tergantung kepada siapa yang mendengarnya.

Di gereja, kita menyanyikan lagu seperti “Datanglah Yesus, Engkau yang Telah Lama Kami Rindukan”. Ketika kita makan dan minum dalam Perjamuan Kudus Tuhan, kita “memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Korintus 11:26). Kedatangan Yesus yang kedua kalinya kedengarannya menjadi suatu kabar yang luar biasa jika Dia datang pada hari Minggu pagi. Namun, jika Dia datang dalam sisa minggu itu, apakah kita siap menyambut kedatangan-Nya?

Yesus akan kembali! Dia mungkin akan kembali dengan segera, atau mungkin dengan tiba-tiba. Apakah itu kabar baik atau buruk? Semuanya tergantung kepada Anda --Haddon Robinson

27 Juli 2003

Pengharapan Bagi Dunia

Nats : ... menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus (Titus 2:13)
Bacaan : Yesaya 2:1-5

PERUNDINGAN PERDAMAIAN GAGAL LAGI.
TINGKAT PENGANGGURAN MENINGKAT.
ANGIN TORNADO MELANDA KOTA.

Beberapa kepala berita dalam surat kabar yang dipilih secara acak ini cenderung membuat kita putus asa. Tampaknya sudah tidak ada harapan bagi dunia ini. Namun demikian, menurut Kitab Suci, impian untuk mengakhiri perang bukanlah sekadar khayalan. Ide kemakmuran bagi semua orang lebih dari sekadar tipu muslihat politik. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa penguasaan atas alam ini pada akhirnya menjadi suatu kepastian.

Namun demikian, pengharapan bagi dunia ini tidak ditemukan pada usaha manusia, melainkan pada kedatangan kembali Yesus Kristus. Yesus sendirilah yang dapat menyelesaikan masalah yang membingungkan manusia.

Nabi Yesaya mengatakan bahwa suatu hari nanti "bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (Yesaya 2:4). Harapan yang mulia ini akan menjadi kenyataan ketika Tuhan Yesus sendiri datang kembali sebagai "Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (1 Timotius 6:15) untuk membangun kerajaan damai dan kebenaran-Nya. Kita harus "menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus" (Titus 2:13). Dengan memiliki pengharapan yang mulia ini, kita dapat senantiasa bersikap optimis, bahkan saat berada di tengah zaman yang penuh dengan kesuraman ini.

Tetaplah memandang ke atas! --Richard De Haan

26 Desember 2003

Cerita Seutuhnya

Nats : Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia (Wahyu 1:7)
Bacaan : Wahyu 1:1-8

Pada kesempatan ini kita berpikir tentang kelahiran Sang Juruselamat. Peristiwa kelahiran-Nya sangatlah penting. Namun, kita pun perlu merenungkan sungguh-sungguh tentang pelayanan yang Dia lakukan di dunia, kematian-Nya yang penuh pengurbanan, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga, dan janji tentang kedatangan-Nya kembali. Penebusan yang kita terima tidak akan sempurna bila salah satu unsur tersebut diabaikan. Karena itu, ini adalah saat yang tepat untuk berbagi dengan Anda sebuah puisi karya L.W. Beckley berjudul, "Cerita yang Tersisa".

Kami terbiasa bernyanyi tentang para gembala

Dan cahaya kemuliaan surgawi,

Tentang para malaikat dan pesan yang mereka bawa

Di malam kudus penuh kedamaian.

Tetapi begitu sering kita mengakhiri cerita ini

Ketika baru saja dimulai,

Karena kita gagal menyampaikan pesan

Bahwa Anak ini adalah Allah Putra.

Yang hadir di sini untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai persembahan,

Disalibkan pada sebuah kayu di Kalvari,

Darah-Nya memberikan pengampunan,

Pembasuhan yang sempurna, sepenuhnya, dan bebas.

Dan kubur itu, terpujilah Tuhan, telah kosong;

Yesus yang duduk di sebelah kanan Allah

Kini adalah Juruselamat yang penuh kasih dan kuasa;

Sampaikanlah kabar ini ke semua pulau!

Dia yang lahir di Betlehem tidak lain adalah Allah yang hadir sebagai manusia. Meskipun hidup-Nya sempurna, Dia mati secara menyedihkan untuk membayar dosa umat manusia. Sekarang Dia ada di surga, dan suatu saat Dia akan kembali. Betapa indahnya mengetahui cerita seutuhnya! --Richard De Haan

21 Februari 2004

Apa Jawaban Anda?

Nats : Sebab pada waktu tanda diberi ... Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit (1Tesalonika 4:16)
Bacaan : 1 Tesalonika 4:13-18

Sir Norman Anderson diundang untuk berbicara di sebuah acara televisi tentang bukti kebangkitan Kristus, topik yang banyak ditulisnya. Ketika putranya meninggal karena kanker, produser acara televisi itu menawarkan untuk menunda keikutsertaannya dengan berkata, "Anda tentu tak dapat berbicara tentang kebangkitan saat Anda baru saja kehilangan seorang anak." Namun Anderson berkata, "Saya bahkan ingin bicara lebih lagi tentangnya." Demikianlah, walau hatinya sedih, dengan keyakinan teguh ia berbicara tentang kebangkitan Kristus dan kebangkitan kita sebagai orang percaya.

Kebangkitan Yesus bukanlah sebuah mitos, melainkan fakta bersejarah yang terbukti kebenarannya. Sesungguhnya, kebangkitan-Nya merupakan fakta yang kekal! Yesus berkata, "Aku adalah ... Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya" (Wahyu 1:18).

Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang kebangkitan-Nya dan meyakinkan mereka, "Sebab Aku hidup ... kamu pun akan hidup" (Yohanes 14:19). Paulus juga menulis tentang kebangkitan orang kristiani, dan mengajarkan bahwa ketika seorang saudara seiman meninggal, kita tidak perlu berdukacita seperti orang-orang yang tidak punya pengharapan (1Tesalonika 4:13).

Ketika Lazarus meninggal, Yesus meyakinkan Marta bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25,26). Lalu Dia bertanya, "Percayakah engkau akan hal ini?" Marta menjawab, "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah" (ayat 27). Apa jawaban Anda? --Joanie Yoder

20 Mei 2004

Peristiwa Besar

Nats : Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia (Wahyu 1:7)
Bacaan : Yohanes 13:33-14:3

Tahukah Anda bahwa jenis huruf terbesar yang digunakan oleh kebanyakan surat kabar untuk berita utama tentang berbagai peristiwa yang sangat menakjubkan, disebut huruf “second coming” [kedatangan kedua]? Huruf-huruf hitam yang tercetak tebal itu hanya diperuntukkan bagi berita luar biasa yang terpampang di halaman depan surat kabar. Jenis huruf yang menarik ini telah dipakai untuk memberitakan meletus dan berakhirnya peperangan, pendaratan manusia di bulan, pemenang dalam pemilihan presiden, berbagai bencana alam, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Kelak manusia akan menyaksikan peristiwa besar yang juga dinamakan “kedatangan kedua”, sama seperti sebutan huruf tersebut, yakni kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya ke dunia. Betapa luar biasanya hari itu! Pribadi yang naik ke surga pada masa lampau akan kembali ke dunia ini. Kedatangan Tuhan kembali akan menjadi peristiwa fenomenal yang akan menyita perhatian dunia.

Ketika Yesus berkata kepada para murid bahwa Dia akan meninggalkan mereka, Petrus mengajukan banyak pertanyaan (Yohanes 13:36,37). Yesus tidak menjelaskan kapan Dia kembali. Sebaliknya, Dia justru menenangkan para murid-Nya dengan mengatakan bahwa Dia akan menyediakan tempat bagi mereka dan suatu hari nanti Dia akan “datang kembali” (14:2,3).

Ketika Sang Juruselamat datang kembali ke dunia ini, kedatangan-Nya tersebut akan menyita perhatian seluruh penduduk dunia. Peristiwa kedatangan Yesus itu akan menjadi sebuah berita utama! —Dave Egner

7 Oktober 2004

Menjadi Diri yang Sebenarnya

Nats : Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan (2Korintus 3:17)
Bacaan : Filipi 3:1-11

Di sebuah universitas di Inggris, sekelompok mahasiswa mengajukan pertanyaan berikut, "Kamu ingin menjadi apa?" Mereka melontarkan berbagai jawaban yang berbeda-beda, yakni atlet berprestasi, politisi yang berpengaruh, cendekiawan terkenal. Dengan malu-malu, namun pasti, seorang mahasiswa mengatakan sesuatu sehingga timbul keheningan yang dalam, "Kalian boleh menertawakan saya, tapi saya ingin menjadi orang kudus."

Bayangkan, orang kudus! Apa pun konsep mahasiswa itu tentang orang kudus, banyak orang di masyarakat sekuler kita yang akan memandang aneh ambisi tersebut. Namun sebagai orang kristiani, hal itu sepatutnya menjadi prioritas tertinggi dalam hidup kita. Inti dari kekudusan adalah menyerupai Yesus. Paulus berkata bahwa tujuan utama Allah Bapa adalah menjadikan kita serupa dengan Anak-Nya (Roma 8:29).

Tentu saja, setiap orang percaya memiliki jaminan keserupaan yang sempurna dengan Kristus di dunia yang akan datang nanti. Namun, Allah tidak ingin kita menanti dengan pasif hingga kita memasuki surga, di mana perubahan adikodrati itu terjadi (1 Yohanes 3:2). Kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus untuk tumbuh menjadi lebih dan semakin lebih menyerupai Kristus "di dalam dunia ini" (4:17).

Ya, kita sudah menjadi orang-orang kudus karena kita beriman di dalam Kristus Yesus (Filipi 1:1). Namun, setiap hari kita menghadapi tantangan untuk menjadi diri kita yang sebenarnya, yakni keserupaan dengan Kristus di setiap bidang kehidupan kita --Vernon Grounds

8 November 2005

Kembali Kepadamu

Nats : Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18)
Bacaan : Yohanes 14:1-6

Tahun 1914 Ernest Shackleton memimpin ekspedisi pelayaran ke Antartika, dilanjutkan berjalan ke Kutub Selatan. Ekspedisi itu berjalan sesuai rencana sampai kapal itu terjebak es dan lambung kapal itu hancur. Para awak kapal berhasil mencapai pulau kecil dengan perahu penolong. Setelah berjanji akan datang kembali, Shackleton dan rombongan kecil penyelamat berangkat melintasi 1.280 kilometer lautan berbahaya ke Pulau South Georgia.

Berbekal sekstan [alat pengukur sudut astronomis untuk menentukan posisi kapal di laut] sebagai pemandu, mereka berhasil mencapai pulau itu. Shackleton lalu memimpin rombongannya melintasi medan berbukit curam menuju pelabuhan kapal penangkap ikan paus di sisi lain pulau itu. Di sana, ia mendapatkan kapal untuk menyelamatkan awak kapalnya. Sang pemimpin memegang perkataannya dan kembali menjemput mereka. Tak ada seorang pun yang tertinggal.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid-Nya, Dia berjanji akan kembali. Dia berkata, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:3). Setelah menanggung sengsara salib, Yesus bangkit dari maut untuk memberi hidup kekal kepada tiap orang yang memercayai-Nya sebagai Juru Selamat. Kini Dia tinggal di dalam kita oleh Roh Kudus, tetapi kelak Dia akan kembali dan mengumpulkan kita dalam hadirat-Nya (1 Tesalonika 4:15-18). Ucapan Yesus dapat dipercaya.

Jika Anda milik-Nya, Dia akan kembali untuk Anda! -HDF

8 Februari 2006

Piring-piring Kotor

Nats : Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya (1Yohanes 2:28)
Bacaan : Matius 24:32-44

Ketika saya masih kecil, ayah saya sering melakukan perjalanan ke kota-kota lain untuk berbicara di berbagai gereja dan konferensi Alkitab. Kadang-kadang ibu saya turut menemaninya, meninggalkan saudara lelaki saya dan saya sendirian di rumah selama beberapa hari. Kami senang karena dengan begitu kami dapat mandiri. Namun, kami tidak suka mencuci piring.

Saya ingat ketika kami mencoba mengesampingkan tugas yang tak menyenangkan itu selama mungkin dengan menumpuk semua piring, gelas, sendok, dan garpu kotor di dalam oven setiap kali selesai makan. Di akhir minggu, hampir tidak ada tempat tersisa di dalam oven. Kemudian, pada petang hari sebelum Ayah dan Ibu pulang, kami menyingsingkan lengan baju dan membersihkan semua kotoran. Perlu waktu berjam-jam mengerjakannya! Alangkah malunya jika ternyata orangtua kami datang lebih cepat dari dugaan kami.

Karena kita tidak tahu pasti kapan Kristus akan kembali (Matius 24:36,42,44), kita tidak boleh malas dalam menempuh perjalanan kristiani kita. Pengharapan bahwa Dia akan datang setiap saat seharusnya membantu kita untuk menjadi hamba yang "setia dan bijaksana" (ayat 45) dan untuk hidup sedemikian hingga "kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu" ketika Dia datang (1Yohanes 2:28).

Ya, Kristus akan datang kembali, seperti yang telah dijanjikan-Nya. Mungkin saja Dia datang hari ini! Apakah Anda mempunyai "piring-piring kotor"? Sekaranglah saatnya untuk mempersiapkan diri --RWD

9 Mei 2006

Sindrom Gunung St. Helens

Nats : Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh keselamatan (2Petrus 3:15)
Bacaan : 2Petrus 3:3-15

Pada 20_Maret 1980, Gunung St. Helens di Washington, sebuah gunung berapi yang disangka orang tidak aktif lagi, tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan suara gemuruh. Penduduk setempat dievakuasi ke jarak "aman" sekitar 12,8 km dari gunung tersebut. Beberapa waktu kemudian, sisi gunung mulai menggelembung. Namun, para ilmuwan tidak mengkhawatirkan hal itu karena berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan mengenai gunung berapi, gunung-gunung itu tidak pernah meletus dari samping.

Kemudian pada tanggal 18_Mei lereng Gunung St. Helens meletus dan memuntahkan berton-ton reruntuhan ke bawah dengan kecepatan 250,5 km/jam. Semenit kemudian, gunung berapi itu meletus ke atas dengan kekuatan yang setara dengan 500 bom atom! Letusan yang sangat besar ini merusakkan hutan seluas 59.600 hektar dan menewaskan 57 orang. Para ilmuwan mengira peristiwa-peristiwa alam akan berlangsung seperti sebelumnya. Namun ternyata mereka keliru!

Kitab 2 Petrus menceritakan kepada kita bahwa suatu saat di masa depan, keyakinan keliru semacam ini juga akan dirusak oleh panasnya api hari kiamat (3:4-7). Namun, berita baiknya adalah Allah akan membangun "langit yang baru dan bumi yang baru" (ayat 13). Dia menghendaki agar "jangan ada yang binasa", dan dengan sabar menanti agar lebih banyak orang menemukan keselamatan sejati dalam Putra-Nya Yesus (ayat 9). Mereka hanya perlu menerima keselamatan yang ditawarkan-Nya.

Sudahkah Anda memercayakan keselamatan Anda kepada Yesus? --HDF

27 November 2006

Datang Segera!

Nats : Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku (Wahyu 22:12)
Bacaan : Wahyu 22:6-17

Pada akhir tahun 2004 dan di awal tahun 2005, dunia dilanda serangkaian bencana alam. Apakah ini merupakan tanda kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya? Apakah ini merupakan bukti dari murka Allah, dan hukuman-Nya atas dosa-dosa manusia? Atau, apakah ini sekadar pergolakan dari kekuatan alam?

Entah apa pun penjelasan kita terhadap kejadian ini, kita perlu melihat berbagai hal tersebut dari sudut pandang yang luas. Sudah berabad-abad kejadian seperti ini terjadi berulang kali. Tidak hanya itu, manusia sendiri pun telah melakukan perbuatan yang menimbulkan penderitaan yang biadab dan menghancurkan orang lain.

Renungkanlah salah satu peristiwa sejarah, yaitu jatuhnya Roma pada tahun 445 seperti yang digambarkan seorang pemimpin gereja: "Rakyat kami tidak percaya lagi akan masa depan, terutama mereka yang tinggal di bagian kota yang paling miskin. Mereka tidak memiliki pekerjaan, makanan, dan tidak mempunyai kesempatan hidup yang lebih baik. Di beberapa bagian kota ini memang terjadi berbagai pemberontakan, tetapi di kebanyakan tempat timbul keputusasaan yang mendalam akibat pemberontakan itu. Saya yakin Kristus mendengar tangisan kami dan Dia akan segera datang."

Bencana alam dan perbuatan manusia yang tidak manusiawi akan terus berlanjut tanpa dapat diduga sampai Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. Kita semua merindukan kedatangan-Nya kembali karena Dia pasti akan mengubah segala sesuatunya menjadi baik --VCG

28 Mei 2007

Arsip Surga

Nats : Kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa (1Tesalonika 4:17)
Bacaan : 1Tesalonika 4:13-18

Istri saya, Luann, memiliki map yang ia sebut "arsip surga". Map itu berisi berbagai artikel, berita duka, foto, dan lembar kata ibadah yang dibuat untuk mengenang kepergian anggota keluarga maupun para sahabat kami. Ia menyimpan semua itu tidak untuk mengingat kesedihan atas orang-orang terkasih yang telah tiada, tetapi untuk menantikan pertemuan bahagia bersama mereka di surga.

Paulus menuliskan pengharapan indah ini kepada jemaat di Tesalonika, sehingga mereka tidak berduka seperti orang-orang yang tak berpengharapan. "Maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu, hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini" (1Tesalonika 4:16-18).

Perikop ini berbicara mengenai sukacita bersama di masa depan dalam hadirat Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Saat ini, kita yang masih hidup di bumi memiliki persekutuan dengan Tuhan, dan kita mengalami apa yang disebut oleh Samuel J. Stone, seorang penulis himne, sebagai "persekutuan roh yang manis dengan mereka yang telah mencapai tempat perhentian".

Apa yang akan terjadi di masa depan tetaplah misteri, tetapi kita dapat dengan yakin berharap bisa berada dalam hadirat Kristus bersama semua orang kudus yang telah mendahului kita --DCM


Saat kita terpisah jauh
Tak ayal hati kita diliputi duka;
Namun kita tetap bersatu di dalam hati.
Dan berharap suatu saat berjumpa lagi. --Fawcett

19 Juli 2007

Melebihi Bayangan Kita

Nats : Kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia (1Yohanes 3:2)
Bacaan : 1Yohanes 2:28-3:3

Selama puluhan tahun, para seniman astronomi melukiskan berbagai pemandangan dunia berdasarkan gabungan informasi ilmiah dan khayalan mereka. Namun, foto-foto penyelidikan ruang angkasa yang menggunakan robot dan teleskop Hubble mendefinisikan kembali pandangan para seniman ini mengenai kenyataan. Dalam artikelnya di Los Angeles Times, seniman ruang angkasa Don Dixon berkata bahwa gambar-gambar pertama dari bulan Io dan Europa di planet Yupiter "ternyata jauh lebih eksotik daripada yang pernah dibayangkan orang". Dixon kini menganggap 70 persen dari lukisan angkasa luarnya sebagai "konsep yang kuno" sebab kenyataan yang ada jauh lebih mengagumkan daripada khayalan.

Meski Alkitab bercerita kepada kita tentang apa yang Yesus katakan dan lakukan, Alkitab tidak menggambarkan bagaimana paras-Nya. Gambaran kita akan Dia mungkin dipengaruhi oleh seni dan berbagai ilustrasi dalam materi Sekolah Minggu. Namun kelak, gambaran kita mengenai Kristus selama ini akan benar-benar berubah ketika kita bertemu dengan-Nya secara langsung. "Saudara-saudaraku yang terkasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi, kita tahu bahwa apabila Kristus dinyatakan, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya" (1Yohanes 3:2). Pengharapan kepada-Nya itu akan menimbulkan keinginan dalam hati kita untuk menyucikan diri (ayat 3).

Kita tidak saja akan melihat wajah Tuhan, tetapi juga akan menjadi seperti Dia. Alangkah menakjubkan kenyataan yang akan kita lihat kelak, jauh melebihi bayangan kita! --DCM

17 Oktober 2007

Peringatan dan Tanggapan

Nats : Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar (1Tesalonika 5:6)
Bacaan : 1Tesalonika 5:1-11

Saat badai salju yang berbahaya menimpa Colorado Springs pada akhir Oktober 2006, para penduduk telah menerima berbagai peringatan. Para peramal cuaca mulai memperkirakan kemunculan badai itu 36 jam sebelumnya. Pada sore hari yang hangat dan cerah, orang-orang menyerbu toko bahan makanan untuk membeli persediaan makanan, sementara toko-toko ban mobil bekerja lembur untuk memenuhi permintaan ban di musim dingin. Semua orang membicarakan badai yang akan datang itu. Bahkan sebelum salju turun, sekolah-sekolah dan tempat-tempat bisnis mengumumkan bahwa mereka akan tutup hari itu. Ketika badai menerjang dengan salju yang berembus kencang dan suhu udara di bawah titik beku, sebagian besar orang aman berada di dalam rumah, dan mereka tidak berusaha untuk berangkat ke kantor atau sekolah.

Apabila kita memercayai sebuah peringatan, perilaku kita menjadi terpengaruh. Hal itu berlaku pada semua bagian hidup kita, termasuk perjalanan iman kita. Paulus menulis untuk orang-orang kristiani di Tesalonika dan mengingatkan mereka bahwa hari kedatangan Tuhan itu tak terduga, seperti pencuri di malam hari (1 Tesalonika 5:2). Ia mengimbau mereka untuk menghindari kelesuan rohani sambil tetap bersiaga dan mengendalikan diri (ayat 6).

Tantangan Paulus itu mengulang perkataan Yesus saat mengimbau pengikut-Nya agar waspada dan bersiap sedia, "karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga" (Matius 24:44).

Jika kita memercayai perkataan Tuhan mengenai kedatangan-Nya, bagaimanakah hal itu akan memengaruhi pikiran dan tindakan kita hari ini? --DCM

24 Juni 2008

Mengapa Saya?

Nats : Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)
Bacaan : Ayub 2:1-10

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, seperti juga Ayub dalam bacaan kita, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat —AYA

12 Agustus 2008

Mengutuki Kegelapan

Nats : Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka (Kisah Para Rasul 16:25)
Bacaan : Kisah Para Rasul 16:16-26

Sebuah pepatah Cina mengatakan, "Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan". Sungguh nasihat sederhana yang bijak! Sayangnya kerap kali kita hanya mengetahui kebenaran ini, tetapi tidak menghayatinya. Ketika kegelapan itu datang, kita tetap saja tidak berusaha mengerem diri dari mengeluh, mengaduh, dan berpikir negatif. Padahal semua itu sama sekali tak berguna.

Paulus dan Silas mendapat masalah yang sangat serius dan mengancam nyawa. Mereka mengusir roh yang merasuki seorang wanita tukang tenung. Akibatnya, wanita itu tidak bisa menghasilkan uang lagi bagi para tuannya. Keduanya lalu dituntut. Mereka dicambuk dan dimasukkan penjara. Ruang penjara paling tengah, tempat paling gelap dan dingin. Masih pula kaki mereka pun dipasung. Namun, di tengah kesakitan karena luka deraan cambuk dan ketidaknyamanan karena ikatan rantai dan pasungan -- jauh dari mengeluh dan mengumpat, mereka menyanyikan puji-pujian bagi Allah! Paulus dan Silas pun dikuatkan. Lebih dari itu, Allah membebaskan mereka secara ajaib (ayat 26)!

Mungkin kita tengah didera berbagai ketidaknyamanan-masalah, penyakit, kesedihan, kecemasan-itu semua bisa membuat kita mengeluh dan mengasihani diri. Cobalah resep Paulus dan Silas. Daripada mengarahkan pikiran pada hal-hal negatif yang makin menyusahkan, pilih satu lagu pujian dan nyanyikanlah sepenuh hati. Pujian kepada Allah akan mengalihkan pikiran dan hati dari masalah kepada Allah yang sanggup menjawab persoalan kita dan menghibur kita! Mari menyanyi dan "menyalakan lilin"! -AW



TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA