Topik : Kekuasaan / Kekuatan

7 November 2002

Jalan Orang Saleh

Nats : Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat (1Samuel 9:6)
Bacaan : 1Samuel 9:1-6

Beberapa tahun yang lalu saya dan istri saya berjalan-jalan menyusuri kota London. Setelah beberapa saat lamanya, sampailah kami di Godliman Street (Jalan Orang Saleh). Menurut cerita, dulunya ada seorang pria yang hidupnya benar-benar kudus tinggal di sana. Karena itu, dahulu jalan itu dikenal sebagai "jalan menuju ke rumah orang saleh". Nama jalan itu mengingatkan saya pada cerita dalam kitab Perjanjian Lama.

Ayah Saul mengirim anaknya bersama seorang bujang untuk mencari keledai-keledai yang hilang. Mereka mencari keledai-keledai itu selama berhari-hari, tetapi ternak-ternak itu tidak juga ditemukan..

Saul mulai menyerah dan ingin kembali ke rumah. Namun, bujangnya menunjuk ke arah Rama, desa tempat tinggal Nabi Samuel, dan berkata, "Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat; segala yang dikatakannya pasti terjadi. Marilah kita pergi ke sana sekarang juga, mungkin ia dapat memberitahukan kepada kita tentang perjalanan yang kita tempuh ini" (1 Samuel 9:6).

Di sepanjang hidupnya sampai ia tua, Samuel telah menjalin persahabatan dan persekutuan dengan Allah, sehingga perkataannya memiliki kuasa kebenaran. Orang-orang mengenalnya sebagai nabi Tuhan. Maka "pergilah mereka [Saul dan bujangnya] ke kota, ke tempat abdi Allah itu" (ayat10).

Oh, jika saja hidup kita begitu mencerminkan Yesus, kita akan meninggalkan kenangan indah di sekitar kita. Dan kesalehan kita itu akan selalu dikenang! —David Roper

16 Januari 2003

Keuntungan dari Kelemahan

Nats : Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2Korintus 12:9)
Bacaan : 2Korintus 12:1-10

Saya selalu senang mengobrol dengan teman lama saya semasa kuliah, Tom. Bersama-sama kami selalu mencoba memahami apa yang telah Tuhan ajarkan sejak kami terakhir bertemu.

Suatu hari Tom mengawali pembicaraan dengan senyum tersipu-sipu, "Aku sendiri hampir tak percaya jika aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menangkap pelajaran terakhir yang Allah ajarkan kepadaku. Padahal aku seorang guru Alkitab!" Ia bercerita tentang sederet pencobaan dan ujian yang telah ia dan keluarganya hadapi. Karena pengalaman itu, ia merasa tak layak mengajar di kelas Sekolah Minggu dewasa. "Minggu demi minggu aku merasa sangat gagal," akunya, "dan terus bertanya-tanya apakah hari Minggu ini akan menjadi Minggu terakhir sebelum aku mengundurkan diri."

Pada suatu hari Minggu seorang wanita muda tetap tinggal di kelas Sekolah Minggu dewasa sesudah pelajaran berakhir untuk berbicara dengan Tom. Ia adalah teman keluarganya, jadi ia tahu setiap hal yang mereka alami. "Tom," katanya, "saya harap kau tidak salah mengerti, tapi sesungguhnya kau menjadi guru yang jauh lebih baik justru ketika sedang mengalami masa-masa sulit."

Tom tersenyum sambil berkata kepada saya, "Pada saat itulah aku merasa dapat memahami tanggapan Tuhan terhadap duri dalam daging yang dialami Paulus: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna'" (2 Korintus 12:9).

Ketika kita sadar betapa kita membutuhkan Allah, Dia akan menguatkan kita. Itulah keuntungan dari kelemahan --Joanie Yoder

4 Februari 2003

Jalan Allah

Nats : TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya (Mazmur 145:17)
Bacaan : 2Samuel 24:1-17

Pernahkah Anda bingung melihat beberapa ayat Alkitab yang tampaknya berlawanan satu sama lain? Misalnya, dalam 1 Tawarikh 21:1 dikatakan bahwa yang "membujuk Daud untuk menghitung orang Israel" adalah Setan, tetapi pada 2 Samuel 24:1 disebutkan bahwa Tuhanlah yang menyuruh. Bagaimana kita menjelaskannya? Kita semua tahu bahwa Allah tidak pernah mencobai siapa pun untuk berbuat dosa (Yakobus 1:13).

Jawaban pertanyaan itu dapat ditemukan dari cara para penulis Perjanjian Lama mengungkapkan jalan Allah. Terkadang mereka menganggap pencobaan itu berasal dari Allah dengan seizin Dia. Mereka pikir Dia membiarkan kita mengambil pilihan yang salah, lalu memakai akibat tragis yang ditimbulkan untuk mencapai tujuan baik-Nya.

Dalam 2 Samuel 24:1, kita baca bahwa Allah "menghasut Daud" untuk menghitung orang Israel. Jelaslah bahwa saat itu Allah mengizinkan Setan mempengaruhi Daud, karena sensus itu merupakan usaha untuk menaksir kekuatan militer Israel. Hal ini menceminkan dosa yang sama, yang berasal dari sikap sombong dan mengandalkan diri sendiri yang sering dilakukan bangsa itu. Akibatnya, Allah menghakimi bangsa Israel serta raja mereka.

Jadi, apa tujuan baik Allah ketika mengizinkan Setan untuk menghasut Daud? Meskipun banyak rakyat Israel yang mati, tetapi bangsa itu diampuni dan dimurnikan. Tuhan menghukum yang bersalah, tetapi juga menunjukkan belas kasihan-Nya.

Jalan Allah mungkin di luar pemahaman kita, tetapi kita dapat selalu percaya bahwa Dia selalu melakukan apa yang benar --Herb Vander Lugt

20 Februari 2003

Sesudah Mukjizat

Nats : Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau [Laut Merah], lalu mereka pergi ke padang gurun Syur (Keluaran 15:22)
Bacaan : Keluaran 15:19-27

Di balik setiap campur tangan Allah yang ajaib bagi kita, selalu ada jalan iman yang harus dijalani. Saat kuasa Allah menjamah kesehatan, keuangan, atau hubungan di dalam keluarga kita, kita seharusnya tidak hanya memuji dan bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga menaati-Nya.

Setelah Allah membelah Laut Merah bagi umat-Nya, kemudian menenggelamkan tentara Firaun yang mengejar mereka, maka mereka pun mengadakan perayaan besar-besaran untuk memuji Tuhan (Keluaran 15:1- 21). Namun mereka masih harus meneruskan perjalanan menuju tanah perjanjian. "Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur" (ayat 22). Dari sana mereka harus berjalan selama tiga hari berturu-turut tanpa mendapat air, sehingga mereka pun mulai bersungut-sungut.

Dalam rencana ilahi, campur tangan adikodrati memiliki makna yang lebih dalam. Mukjizat merupakan sarana untuk mengajarkan kepada kita bahwa kita dapat selalu mempercayai dan menaati pimpinan Allah yang Mahabesar. Akankah kita mendengarkan suara-Nya dan menaati firman-Nya? Jika Dia telah memimpin kita menyeberangi laut yang luas, tidakkah Dia juga akan memimpin kita menuju sumber mata air?

Berbagai kejadian menakjubkan yang tertulis dalam kitab Keluaran menunjukkan bahwa kita sebenarnya mampu mengalami kekuasaan Allah tanpa iman kita menjadi goyah. Supaya kita terus mengalaminya, ingatlah pengalaman akan mukjizat Allah di masa lalu untuk memperkuat iman kita saat ini --David McCasland

24 Februari 2003

Elang yang Terbang

Nats : Dia memberi kekuatan kepada yang lelah (Yesaya 40:29)
Bacaan : Yesaya 40:29-31

Saya tengah mengamati seekor elang ketika tiba-tiba elang itu berputar-putar dan melesat ke atas. Dengan sayapnya yang kuat, burung besar itu membubung semakin tinggi, menjadi sebuah titik kecil, kemudian menghilang.

Elang yang terbang itu mengingatkan saya akan pujian yang dinaikkan Yesaya: "Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya" (40:30,31).

Luka hati dan tragedi dalam hidup dapat menghilangkan sukacita, daya tahan, dan kekuatan kita, serta membuat kita bertekuk lutut. Namun, jika kita menaruh pengharapan kita dalam Tuhan dan percaya kepada-Nya, Dia akan memperbarui kekuatan kita. Kunci ketahanan kita terletak pada pertukaran daya kita yang terbatas dengan kekuatan Allah yang tak terbatas. Dan kita wajib memintanya.

Dengan kekuatan Allah kita dapat "berlari dan tidak menjadi lelah", meskipun hari-hari kita dipenuhi oleh berbagai kesibukan dan tuntutan. Dengan kekuatan-Nya kita dapat terus "berjalan dan tidak menjadi lelah", meskipun rutinitas yang menjemukan dan melelahkan membuat hidup kita terasa kering dan membosankan. Di tengah-tengah ziarah yang melelahkan dan penuh air mata pemazmur berseru, "Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau" (Mazmur 84:6).

Oh, betapa luar biasa kekuatan Allah yang tak terbatas menggantikan kelemahan kita yang terbatas! --David Roper

8 April 2003

Meringankan Beban

Nats : Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)
Bacaan : Filipi 4:10-20

Saya pernah membaca tentang seorang wanita kristiani yang sangat sedih karena anak-anaknya susah diatur. Suatu hari ia menelepon suaminya di kantor. Dengan berlinangan air mata, ia bercerita tentang seorang kawan yang berkunjung dan menyematkan ayat berikut di atas tempat mencuci piring: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Kawannya itu sebenarnya bermaksud baik. Ia berusaha menolong, tetapi tindakannya itu justru membuat sang ibu merasa amat gagal.

Terkadang mengutip ayat Alkitab untuk orang lain tidaklah terlalu menolong. Filipi 4:13 berisi kesaksian pribadi Paulus bahwa ia telah belajar untuk merasa puas dalam situasi apa pun, baik dalam kelimpahan maupun kekurangan (ayat 11,12). Rahasia kepuasannya adalah ia dapat menanggung segala perkara di dalam Kristus yang memberi kekuatan kepadanya (ayat 13).

Dalam hidup, kita pun dapat menerapkan rahasia kepuasan Petrus. Kita dapat menjadi pemenang karena kekuatan Kristus. Namun, tidak seharusnya kita memaksakan kebenaran ini kepada orang lain yang sedang diliputi kesedihan. Ingatlah bahwa Paulus juga menulis bahwa kita harus memperhatikan satu sama lain dan saling berbagi kesusahan (Galatia 6:2; Filipi 2:4; 4:14).

Kita saling membutuhkan, karena kita semua punya beban yang harus ditanggung. Marilah kita gunakan kekuatan yang diberikan Kristus kepada kita untuk membantu memenuhi kebutuhan sesama kita dan mencari jalan untuk meringankan beban mereka --Joanie Yoder

12 April 2003

Dalam Kekuatan-Nya

Nats : Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan Allah (Mazmur 71:16)
Bacaan : Mazmur 71:1-16

Dalam lukisannya yang terkenal berjudul A Helping Hand (Tangan yang Menolong), Emile Renouf melukis seorang nelayan tua yang sedang duduk dalam perahu bersama seorang gadis kecil yang duduk di sampingnya. Keduanya sama-sama menggenggam dayung yang sangat besar. Nelayan tua itu menatap si gadis kecil dengan pandangan penuh rasa sayang dan kekaguman.

Tampaknya lelaki itu mengatakan kepada si gadis kecil bahwa ia boleh membantu mendayung perahu. Gadis itu begitu bersemangat untuk membantu sehingga ia merasa seolah-olah telah banyak membantu melakukan tugas besar. Padahal, jelas terlihat bahwa yang menggerakkan dayung berat itu adalah lengan nelayan yang berotot itu.

Saya dapat melihat suatu perumpamaan dalam lukisan itu. Kristus telah menganugerahi kita hak istimewa untuk berpartisipasi dalam menjalankan pekerjaan-Nya di dunia ini. Namun jangan lupa, kita tidak dapat melaksanakan semua tugas kita jika hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri. Hanya karena Allah bekerja di dalam dan bersama kita, maka tugas-tugas itu dapat dilaksanakan. Sementara Dia meminta kita untuk menggenggam dayung, kita harus selalu sadar akan sumber kekuatan kita. Dia adalah sumber kekuatan kita! Takkan ada kemajuan rohani yang sejati bila kuasa Roh Kudus tidak mendukung hidup dan segala pekerjaan yang kita lakukan.

Mari kita sadari kelemahan kita dan mari kita gemakan seruan pemazmur, “Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan Allah” (71:16). Maka kita takkan lemah dan gagal --Henry Bosch

27 April 2003

Dia Ada di Sini

Nats : Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Lukas 24:36)
Bacaan : Lukas 24:36-45

Kejutan! Kejutan! Kesebelas rasul berkumpul bersama pada hari kebangkitan Yesus. Mereka sedang membicarakan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi hari-hari itu, dan baru saja mendengar sebuah laporan dari dua orang yang mengatakan telah melihat Yesus. Lalu, tiba-tiba saja Dia hadir di situ! Sang Juruselamat berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Lukas 24:36).

Saya bertanya-tanya apakah kita sadar bahwa ketika berkumpul bersama teman-teman di gereja, di rumah, di persekutuan doa, dan di berbagai pertemuan, sesungguhnya Yesus juga ada di sana. Dia berkata, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Apakah kita sungguh-sungguh percaya Dia bersama kita, mendengarkan setiap ucapan kita, dan melihat semua yang kita lakukan?

Beberapa pelajar membicarakan tentang pengarang-pengarang besar di masa lalu. Lalu seseorang bertanya, “Bagaimana jika Milton tiba-tiba masuk ruangan ini?” “Ah!” jawab yang lain. “Kita akan menghormatinya dan memberi perhatian lebih karena ia hanya menerima sedikit pengakuan semasa hidup.” Orang ketiga berkomentar, “Bagaimana jika Shakespeare yang datang? Tidakkah kita semua akan berdiri dan memproklamirkannya sebagai Raja Penyair?” Kemudian seseorang memberanikan diri berkata, “Dan, jika Yesus Kristus yang datang?” Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya seseorang berkata, “Tapi teman-teman, Dia kan ada di sini!”

Ya, ingatlah bahwa Yesus ada di sini! Dia melihat, Dia mendengar, dan Dia tahu segalanya! --M.R. DeHaan, M.D.

12 Juni 2003

Masalah dengan Sesama

Nats : Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mazmur 56:12)
Bacaan : Mazmur 56

Apakah Daud paranoid? Apakah ia berpikir bahwa semua orang di dunia ini sedang mengejar-ngejar dia? Anda akan memperoleh kesan itu jika Anda me-neliti beberapa mazmurnya. Perhatikan beberapa pernyataan yang dibuatnya:

o "Orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku, orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku" (Mazmur 54:5).

o "Banyak orang yang memerangi aku" (56:3).

o "Mereka menghadang nyawaku; orang-orang perkasa menyerbu aku" (59:4).

Daud saat itu memang sedang dikejar-kejar oleh Raja Saul dan orang- orangnya, sehingga mudah untuk mengerti mengapa Daud merasakan hal seperti itu. Namun, pengamatannya tentang para pengejarnya mungkin menggambarkan perasaan kita saat orang lain mengkritik dan menentang kita. Mungkin mereka adalah orang-orang di tempat kerja, yang sepertinya tidak setuju dengan apa pun yang kita lakukan atau katakan. Mungkin mereka adalah anggota keluarga yang jelas-jelas senang membuat kita jengkel. Atau orang-orang di gereja yang suka mengkritik dan mencari-cari kesalahan kita. Kita merasa seakan-akan semua orang menentang kita.

Jika Anda sedang mengalaminya, inilah saatnya bertindak seperti Daud. Ia mengatakan, "Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (56:12).

Saat Anda menghadapi masalah dengan sesama, berpalinglah kepada Allah. Dia memahami Anda --Dave Branon

24 Juni 2003

Seseorang yang Diandalkan

Nats : Tuhan, tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai (Mazmur 91:2)
Bacaan : Mazmur 91

Dalam bukunya The Fisherman and His Friends, Louis Albert Banks menceritakan tentang dua pelaut yang ditugas-kan untuk mengawasi kapal-kapal yang berlayar jauh ke tengah laut. Sepanjang malam itu badai mengamuk sehingga om-bak melemparkan satu orang dari mereka ke laut. Anehnya, pelaut yang tenggelam justru yang berada dalam ruang kapal yang terlindung, sedangkan yang selamat adalah pelaut yang berada di ruang terbuka dan lebih dekat dengan laut. Apa sebabnya? Karena orang yang tenggelam itu tidak berpegangan.

Itulah gambaran sikap orang-orang ketika mengalami ujian dalam hidupnya! Ketika hidup berjalan dengan baik, mereka merasa tidak memerlukan bantuan. Namun ketika keadaan menjadi sulit, kakinya pun terpeleset sampai jatuh. Karena mereka menolak pertolongan Allah dan tidak mau berpegangan, mereka sangat mudah tenggelam.

Sebaliknya orang-orang yang berpegang erat kepada Tuhan akan dapat melewati kemalangan berat yang menimpa. Mereka cenderung berkata, "Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa Tuhan." Itu berarti mereka tahu bahwa Bapa surgawi selalu bersama mereka untuk menguatkan, menjaga, dan melindungi mereka.

Mereka yang menyandarkan harapan kepada Allah memiliki Seseorang yang senantiasa dapat diandalkan dalam setiap keadaan hidupnya. Mereka dapat mengatakan bahwa Tuhan adalah "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai" (Mazmur 91:2). Bagaimana dengan Anda? Dapatkah Anda berkata seperti itu? --Richard De Haan

20 Agustus 2003

Yesus Lebih Besar

Nats : Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1Yohanes 4:4)
Bacaan : Lukas 11:14-23

Masyarakat Cina di Asia Tenggara dan beberapa desa di Negeri Cina selalu merayakan Festival Roh selama sebulan penuh. Mereka percaya bahwa dalam bulan itu roh-roh orang mati kembali ke dunia untuk berkeliaran di antara orang-orang hidup. Karena itu mereka membakar dupa dan uang-uangan, menyiapkan pesta, dan mengadakan pertunjukan di panggung terbuka--semuanya untuk menyenangkan roh-roh itu.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di Singapura, saya dididik untuk takut kepada roh-roh tersebut. Suatu ketika saya menderita demam saat festival sedang berlangsung. Dan orang-orang memberi tahu bahwa tanpa disadari saya pasti telah menabrak beberapa dari roh-roh itu dan menyinggung perasaan mereka.

Sekarang saya tahu apa yang dikatakan Alkitab tentang kuasa Yesus atas dunia Setan dan para pengikutnya, sehingga saya pun dibebaskan dari segala ketakutan yang terdahulu. Saya telah mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka saya tidak perlu berdamai atau melawan roh-roh jahat itu sendirian.

Yesus menunjukkan kuasa-Nya atas dunia roh saat Dia mengusir roh-roh jahat (Lukas 11:14-23). Saat Dia mati di kayu salib bagi kita dan bangkit dari kubur, Yesus menang atas Setan dan menjamin kebinasaannya (Kolose 2:15; Wahyu 20:10). Alkitab memberi kepastian bagi para pengikut Kristus bahwa, "Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia" (1 Yohanes 4:4).

Kita tidak perlu takut terhadap setan atau roh jahat. Yesus Tuhan kita lebih besar dari itu! --Albert Lee

17 Oktober 2003

Gereja yang Kokoh

Nats : Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Matius 16:18)
Bacaan : Matius 16:13-20

Seorang pemimpin sebuah jaringan pertokoan yang besar dan sukses membuat sebuah pernyataan mengejutkan tentang masa depan perusahaannya. Ia mengatakan bahwa seratus tahun dari sekarang, perusahaannya akan mengalami kemajuan yang begitu pesat atau justru akan mati.

Hal serupa terjadi pada setiap organisasi duniawi. Pemimpin datang dan pergi, selera konsumen berubah, metode produksi berkembang. Akibatnya, perusahaan-perusahaan harus berubah. Jika tidak, mereka tidak akan bertahan.

Menurut Yesus, gereja-Nya tidak akan mengalami hal yang demikian. Mungkin akan ada beberapa organisasi gereja yang berakhir, namun "alam maut" tidak akan pernah menang melawan gereja yang dibangun oleh Yesus. Saat Dia berkata "jemaat-Ku" (Matius 16:18), yang Dia maksudkan adalah semua orang percaya -- baik dahulu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Paulus menyebut kelompok yang besar ini "tubuh Kristus" (1 Korintus 12:27).

Saat kita mempercayai Yesus, kita menjadi anggota tubuh-Nya, yaitu gereja. Dan saat Yesus menyebut "alam maut", Dia mengacu pada kematian, karena alam maut adalah tempat kediaman orang-orang yang telah meninggal dunia. Satu demi satu orang percaya mati dan berjalan melalui "gerbang-gerbang" itu, namun hal ini tidak mengubah ataupun memperkecil gereja. Mereka hanya bergabung dengan para pemenang di "Yerusalem surgawi" (Ibrani 12:22-24).

Terpujilah Allah, karena gereja tak dapat dihancurkan! --Herb Vander Lugt

19 Februari 2005

Melayani Dalam Keterbatasan

Nats : Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2 Korintus 12:9)
Bacaan : Ibrani 11:8-19

Ketika belum genap berusia empat tahun, Itzhak Perlman terserang polio, sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya. Tetapi ia lalu mengimbangi kehilangan ini dengan belajar biola. Bertahun-tahun kemudian, ia menghibur banyak orang dengan musik yang ia mainkan. Ia memang kehilangan fungsi kakinya, tetapi permainan musiknya telah memberinya sayap. Itu adalah sebuah contoh devosi yang benar-benar menggugah!

Beberapa pelayan Allah pun telah menunjukkan devosi yang serupa kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan kemampuan tertentu, tetapi kemudian tergugah untuk mengembangkan kemampuan pelayanan yang lain. Misalnya, ketika William Booth, pendiri Bala Keselamatan, menyadari bahwa ia akan buta, ia tidak putus asa. Dengan berpandangan positif, ia berkata kepada teman-temannya bahwa ia telah melayani Kristus ketika ia masih bisa dapat mempergunakan daya penglihatannya, dan ia akan tetap melayani Dia sekuat tenaga meskipun mengalami kebutaan.

Hal apa yang memotivasi orang kristiani untuk tetap melayani dan mengikuti Yesus sebaik dan sebisa mungkin meskipun mereka mengalami kehilangan atau menghadapi kesulitan? Seperti Abraham, kita hidup menurut iman. Kita mengarahkan pandangan melampaui hidup ini dan menunggu “kota ... yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibrani 11:10). Itu adalah “tanah air yang lebih baik ... tanah air surgawi” (ayat 16).

Kiranya Roh Kudus memberikan kita kekuatan untuk memuliakan Kristus— entah apa pun keterbatasan kita yang kita miliki —Vernon Grounds

25 April 2005

Kuasa Keterbatasan

Nats : Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan (Keluaran 4:12)
Bacaan : Keluaran 4:10-17

Musa mencari-cari alasan pada saat ia dipanggil oleh Allah. "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10).

Dari pernyataan itu, Musa sepertinya memiliki kesulitan berbicara—barangkali ia gagap. Akan tetapi Tuhan berfirman kepadanya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" (ayat 11).

Kecacatan, ketidakmampuan, kekurangan fisik kita bukanlah suatu kecelakaan. Semuanya itu merupakan rancangan Allah. Dia menggunakan setiap ketidaksempurnaan kita untuk kemuliaan-Nya. Cara Allah mengatasi sesuatu yang kita sebut "keterbatasan" adalah tidak dengan menghilangkannya, namun memberkatinya dengan kekuatan serta menggunakannya untuk kebaikan.

Di dalam kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyebutkan "duri di dalam daging" yang tak terdefinisikan. Ia telah berulangkali meminta kepada Tuhan untuk mengambilnya (2 Korintus 12:7,8). Akan tetapi Allah justru berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (ayat 9).

Rasul Paulus bahkan telah belajar untuk "menikmati" kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku," demikian katanya (ayat 9). "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10) —DHR

17 Mei 2005

Sampah Organik

Nats : [Engkau] ... agung dalam perbuatan-Mu; mata-Mu terbuka terhadap segala tingkah langkah anak-anak manusia (Yeremia 32:19)
Bacaan : Yeremia 32:16-25

Ketika terjadi peristiwa besar—berkat atau tragedi—kita segera mengenalinya dan menanggapi dengan pujian atau permohonan kepada Allah. Ketika mendapatkan pekerjaan yang sudah lama dicari-cari, mendengar orang yang kita kasihi menerima Kristus, atau mendengar berita buruk dari dokter, kita teringat akan Allah dan berpaling kepada-Nya. Tetapi dalam hal-hal kecil—pekerjaan rutin, sederhana, kecil—kita mudah mengabaikan bahwa Dia sedang bekerja (Yeremia 32:19).

Allah pun mengerjakan hal besar dan kecil di hutan. Di hutan kita melihat bahwa permukaan tanahnya tertutup oleh bahan organik yang sebagian sudah membusuk. Lapisan itu berasal dari dedaunan dan ranting. Tetapi jika Anda menggaruk humus tersebut, Anda akan menemukan berbagai hal kecil penting yang sedang berlangsung. Tanah itu kaya, gelap, dan tercium bau kehidupan. Tanah itu penuh tanaman-tanaman kecil, serangga, dan berbagai jamur. Di bawah bahan organik yang menutupi tanah itu sedang berlangsung suatu proses yang penting, karena dengan cara demikian Allah membangun hutan masa depan.

Dengan cara serupa Tuhan berkarya dalam umat-Nya. Tentu saja Dia memerhatikan masalah-masalah besar kehidupan. Tetapi Dia juga berkarya "di bawah lapisan organik" melalui aktivitas sehari-hari, menyiapkan kita untuk tugas-tugas penting yang telah Dia rencanakan untuk kita.

Jadi ketika tugas duniawi yang sederhana mengecilkan hati Anda, bersyukurlah kepada Allah atas hal kecil yang sedang berlangsung di bawah "humus" —DCE

19 Juli 2005

Cara yang Misterius

Nats : Allah ... di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11)
Bacaan : Roma 8:28-39

Lika-liku kehidupan Jacob DeShazer seperti alur cerita novel perang yang sangat menarik. Namun secara keseluruhan, cerita-cerita itu menunjukkan Allah bekerja dengan cara-cara yang misterius.

Pada Perang Dunia II, DeShazer bekerja sebagai pengebom US Army Air Corps di skuadron yang dipimpin Jenderal Doolittle. Ketika ikut serta dalam penyerangan ke Jepang yang dilakukan Doolittle pada tahun 1942, DeShazer dan anak buahnya kehabisan bahan bakar dan meloncat ke luar pesawat di atas wilayah Cina. Ia diangkut ke kamp tawanan Jepang. Di situ ia memercayai Yesus sebagai Juruselamatnya. Setelah dibebaskan, ia menjadi misionaris di Jepang.

Suatu hari DeShazer memberikan sebuah pamflet kepada seorang pria bernama Mitsuo Fuchida. Di dalam pamflet itu ada cerita mengenai dirinya. Ia tidak tahu bahwa saat itu Mitsuo akan diadili karena perannya semasa perang sebagai komandan angkatan perang Jepang yang menyerang Pearl Harbor. Fuchida membaca pamflet itu dan mendapatkan sebuah Alkitab. Tak lama kemudian, ia menjadi seorang kristiani dan penginjil bagi bangsanya. Akhirnya, Fuchida dan DeShazer bertemu kembali dan menjadi sahabat.

Cara Allah mempersatukan dua orang yang dulunya musuh dalam peperangan, menyatukan mereka, dan memimpin mereka kepada-Nya sangat mengherankan. Namun, cerita itu menunjukkan kepada kita bahwa Dia mengendalikan segala sesuatu. Dan tak satu punbahkan perang duniayang dapat menghentikan Allah mengerjakan segala sesuatu ... menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11) JDB

30 Juli 2005

Sumber Pengharapan

Nats : Tak habis-habisnya rahmat-Nya (Ratapan 3:22)
Bacaan : Ratapan 3:19-41

Apa gunanya iman jika semuanya tampak sia-sia? Saya telah melontarkan pertanyaan yang mendalam itu dalam hidup saya, dan belum lama ini saya menerima surat dari seorang ibu yang menanyakan hal yang sama.

Ia menceritakan bahwa ia dan suaminya memulai pernikahan mereka dengan mencari kehendak Allah bagi hidup mereka dan memercayakan masa depan mereka kepada-Nya. Kemudian anak kedua mereka terlahir dengan sindrom Down. Respons awal mereka atas hal itu adalah sedih, terkejut, dan tak percaya. Namun pada hari kelahiran anak itu, Allah memakai Filipi 4:6,7 untuk meletakkan kedamaian di dalam hati mereka dan memberikan kasih yang abadi bagi anak mereka yang istimewa itu. Ayat itu berbunyi: Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah .... Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal akan memelihara hati.

Namun, hari-hari yang mereka lalui di gurun belum usai. Sembilan tahun kemudian, anak mereka yang keempat didiagnosa mengidap kanker. Sebelum usianya genap tiga tahun, ia meninggal. Keterkejutan, kesakitan, dan kesedihan menyeruak sekali lagi ke dalam kehidupan mereka. Dan sekali lagi, mereka menemukan pertolongan di dalam Allah dan firman-Nya. Ketika kesengsaraan mengimpit kami, kata ibu ini, kami kembali kepada firman Allah dan anugerah hidup kekal melalui Yesus Kristus.

Ketika persoalan hidup menghantam kita seperti gelombang pasang, kita dapat mengingat bahwa belas kasih Allah tak pernah meninggalkan kita (Ratapan 3:22). Dia dapat memberikan pengharapan yang kita perlukan JDB

3 September 2005

Firman Terang

Nats : Akulah terang dunia (Yohanes 8:12)
Bacaan : Yohanes 8:12-20

Yesus, rabi pengelana dari kota Nazaret, menyatakan bahwa Dia adalah terang dunia. Itu adalah pernyataan yang luar biasa dari seorang pria yang hidup pada abad pertama di Galilea, wilayah kecil di Kerajaan Romawi. Kota ini tidak memiliki kebudayaan yang dapat dibanggakan dan juga tidak memiliki filsuf terkenal, pengarang yang diakui, maupun pemahat yang berbakat. Kita pun tidak memiliki catatan sejarah bahwa Yesus pernah menjalani pendidikan formal.

Lebih daripada itu, Yesus hidup sebelum penemuan media cetak, radio, televisi, dan surat elektronik. Bagaimana Dia dapat berharap ide-ide-Nya dapat disebarluaskan di seluruh dunia? Semua ucapan-Nya terekam dalam ingatan para pengikut-Nya. Selanjutnya Terang dunia itu menerangi kegelapanatau begitulah tampaknya.

Berabad-abad kemudian kita masih menyimak dengan penuh rasa takjub ucapan-ucapan Yesus, yang telah dipelihara sedemikian rupa oleh Bapa-Nya. Firman-Nya menuntun kita keluar dari kegelapan, dan mengantarkan kita menuju terang kebenaran Allah; firman itu menggenapi janji-Nya, Barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12).

Saya mendorong Anda supaya membaca perkataan-perkataan Yesus di dalam Injil. Renungkanlah. Biarkan perkataan-perkataan itu meresap dalam akal budi Anda dan mengubah hidup Anda. Maka Anda akan berkata seperti orang-orang yang hidup pada zaman-Nya: Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu! (Yohanes 7:46) VCG

17 September 2005

Sulap atau Mukjizat?

Nats : Jikalau ... kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Dia (Yohanes 10:38)
Bacaan : Yohanes 10:22-39

Pesulap Harry Houdini sering menampilkan adegan meloloskan diri yang menakjubkan. Ia diborgol, dimasukkan ke dalam kantung, dan dikunci di dalam petitetapi ia selalu berhasil meloloskan diri. Ada yang mengira bahwa ia memiliki kekuatan supernatural, tetapi Houdini sendiri mengaku bahwa semua triknya itu dapat dijelaskan.

Ketika sebuah museum di Wisconsin mengadakan pameran yang menyingkap rahasia adegan meloloskan diri Houdini yang terkenal tersebut, banyak pesulap mengatakan bahwa menyingkap rahasia sulap berarti melanggar kode etik mereka. Pameran itu membuktikan bahwa Houdini adalah seorang pesulap, bukan pembuat mukjizat.

Sebaliknya, Yesus adalah pembuat mukjizat. Dia menghubungkan tindakan-tindakan supernatural-Nya dengan kuasa Allah. Dia melakukan tindakan itu untuk menyembuhkan orang dan menunjukkan bahwa Dia adalah Dia yang diakuinyaAnak Allah. Dia berkata, Pekerjaan-pekerjaan [mukjizat-mukjizat] yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku .... tetapi jikalau ... kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Dia (Yohanes 10:25,38).

Mukjizat-mukjizat Yesus yang luar biasa ini meneguhkan identitas-Nya dalam sejarah. Kini, semua pekerjaan yang Dia tunjukkan melalui semua orang yang percaya kepada-Nya menyibak identitas-Nya di dunia ini. Sudahkah Anda membuktikan kebenarannya dalam hidup Anda? DCM

9 Oktober 2005

Orang Lemah Terkuat

Nats : Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Korintus 12:9)
Bacaan : 2Korintus 12:1-10

Apabila ada hal lain yang ingin kita benci melebihi kebencian kita terhadap kesombongan orang lain, maka hal itu pastilah kesadaran terhadap kelemahan diri kita sendiri. Kita sangat membencinya sehingga kita mencari-cari cara untuk menutupi kekurangan pribadi kita.

Bahkan Rasul Paulus pun perlu diingatkan mengenai kelemahannya sendiri. Ia berulang kali ditusuk oleh suatu “duri dalam daging” (2 Korintus 12:7). Ia tidak mengatakan duri apa sebenarnya yang menusuk-nusuknya itu, tetapi penulis J. Oswald Sanders mengingatkan kita bahwa “duri tersebut melukai, merendahkan, dan membatasi Paulus”. Sebenarnya ia sudah tiga kali meminta Tuhan untuk mengambil duri tersebut, tetapi permohonannya tidak dikabulkan. Ia kemudian justru menggunakan duri itu untuk bernaung pada kasih karunia Allah. Tuhan berjanji, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ayat 9).

Selanjutnya dengan berani, Paulus mulai “merangkul” kelemahannya dan menguji kasih karunia Tuhan. Itu merupakan sebuah jalan yang disebut Sanders “proses belajar secara bertahap” dalam kehidupan sang rasul. Sanders mencatat bahwa akhirnya Rasul Paulus tidak lagi menganggap durinya sebagai “kekurangan yang membatasi”, tetapi menganggapnya sebagai “keuntungan Ilahi”. Dan keuntungannya adalah: Ketika dirinya merasa lemah, ia justru kuat di dalam Tuhan.

Ketika kita menerima kelemahan kita, kita bisa menjadi orang lemah yang kuat dalam Kristus -JEY

7 November 2005

Tuhan, Bukit Batuku

Nats : Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! (Mazmur 18:3)
Bacaan : Mazmur 18:2-4

Ternyata kita, manusia, melakukan penalaran terutama berdasarkan hati, dan bukan berdasarkan pikiran. Seorang matematikawan dan ahli teologi Perancis, Blaise Pascal, dahulu berkata, “Hati mempunyai kemampuan berpikir yang tidak diketahui oleh pikiran.”

Para penyair, penyanyi, pengarang cerita, dan seniman sejak dulu mengetahui hal ini. Mereka menggunakan berbagai simbol dan perumpamaan yang lebih berbicara kepada hati daripada kepada pikiran kita. Karena itulah gagasan-gagasan mereka menembus ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh gagasan lainnya. Dan karena itulah kita berkata, “Sebuah gambar berharga seribu kata.” Gambaran tetap tinggal di pikiran kita saat semua hal-lain telah terlupakan.

Daud menulis, “Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku, … perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3). Pada saat itu ia memikirkan unsur-unsur fisik yang mencerminkan kenyataan rohani. Setiap gambar dalam pernyataan itu mengekspresikan pemikiran yang lebih dalam, menghubungkan dunia nyata dengan alam maya Roh. Daud tidak melantur pada definisi dan penjelasan, karena penjelasan dapat mengaburkan imajinasi. Setiap gambar tetap tinggal dalam pikiran kita. Itu adalah gambar-gambar yang membangkitkan misteri, menggugah imajinasi, dan memperdalam pengertian kita.

Daud membangunkan sesuatu yang tersembunyi di dalam diri kita. Memikirkan sesuatu secara mendalam adalah hal yang baik. Lalu apakah arti kalimat Allah adalah bukit batuku, kubu pertahananku, perisaiku bagi Anda? -DHR

18 November 2005

Dunia Dalam Masa Persalinan

Nats : Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin (Roma 8:22)
Bacaan : Roma 8:18-25

Sejak dulu bumi melontarkan keluhannya. Kadang kala keluhan itu lebih menyerupai teriak kesakitan, seperti seorang ibu yang sedang melahirkan.

Rasul Paulus mengatakan bahwa “segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Roma 8:22). Keluhan-keluhan ini acap kali muncul dalam bentuk gempa bumi, tanah longsor, badai, atau tsunami.

Sebuah lagu yang diciptakan Sarah McLachlan berbicara mengenai ketidakstabilan ini dan akibat-akibat tragis yang kerap muncul sebagai akibat goncangan geologis. Salah satu baris lagu yang berjudul World on Fire ini memberikan suatu gambaran yang berhubungan dengan tragedi:

“Aku melihat surga dan aku menemukan suatu panggilan; sesuatu yang dapat kulakukan untuk mengubah saat ini. Tetaplah tinggal di dekatku saat langit runtuh; aku tidak ingin ditinggalkan sendirian.”

Kita tidak sendirian dalam merindukan kembalinya Yesus, Juru Selamat kita. Saat kita menunggu, Dia selalu menemani kita. Seperti bumi, kita berseru dan meracau agar Allah membenahi banyak hal. Sebagai para pengikut-Nya kita dipanggil untuk menanti “dengan tekun” (ayat 25), walaupun berada di tengah ketidakpastian duniawi. Kelak semua ciptaan “akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (ayat 21).

Yesus mengatakan bahwa Dia akan selalu menyertai kita “sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20). Dan kita dapat memercayai janji-Nya -DB

11 Desember 2005

Dikonfrontasi Oleh Salib

Nats : Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ (Lukas 23:33)
Bacaan : Lukas 23:33-43

Pengarang Rusia yang terkenal di dunia, Aleksandr Solzhenitsyn dikirim ke sebuah penjara Siberia karena mengkritik komunisme. Setelah menderita bertahun-tahun di bawah kondisi yang tak tertahankan, ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ia sangat yakin bunuh diri adalah hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ia pun berpikir, lebih baik jika seorang penjaga menembaknya.

Maka pada acara pertemuan narapidana, ia duduk di barisan depan. Ia berencana untuk bangkit dan berjalan ke pintu keluar, dan membuat seorang penjaga terpaksa membunuhnya. Namun yang membuatnya terkejut, ada seorang narapidana yang duduk menghalangi jalan keluarnya. Pria yang tak dikenal itu membungkuk dan, yang membuat Solzhenitsyn heran, ia menggambar sebuah salib di lantai tanah.

Salib! Ia bertanya-tanya apakah rekan narapidana itu adalah seorang pembawa pesan dari Allah. Solzhenitsyn pun menetapkan hati untuk menjalani masa hukumannya dengan tabah. Selama di penjara ia menjadi seorang kristiani dan akhirnya dibebaskan untuk menjadi saksi bagi dunia.

Apakah Anda berada di dalam kungkungan keadaaan yang sulit? Apakah Anda bertanya-tanya apakah hidup ini patut dijalani? Pusatkan hati Anda kepada salib, yaitu pesan kasih, pengampunan, dan anugerah keselamatan dari Allah bagi Anda. Undanglah Kristus, yang tersalib di Kalvari dengan kuasa-Nya yang membawa perubahan, ke dalam hidup Anda. Temukanlah bagi diri Anda sendiri bahwa Kristus yang tersalib tersebut dapat mengubah diri Anda -VCG

31 Desember 2005

Anda Mampu!

Nats : Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)
Bacaan : Roma 7:15-25

Seorang anak kecil sedang berada di sebuah tempat cukur rambut. Ruangan itu dipenuhi asap cerutu. Si anak memencet hidungnya dan berseru, “Siapa sih yang merokok di sini!” Sang pemangkas rambut dengan malu-malu mengaku, “Saya.” Anak itu bertanya, “Tidakkah Anda tahu bahwa hal itu tidak baik bagi Anda?” “Saya tahu,” kata sang pemangkas rambut. “Saya sudah mencoba untuk berhenti seribu kali, tetapi saya tidak bisa.” Sang anak berkomentar, “Saya mengerti. Saya pun sudah berusaha untuk berhenti mengisap jempol, namun tidak bisa!”

Kedua orang itu mengingatkan saya pada apa yang terkadang dirasakan orang-orang percaya terhadap pergumulan mereka dengan dosa kedagingan. Paulus meringkasnya dengan baik dengan berseru, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Pergulatan rohaninya akan dapat meninggalkan Paulus dalam keputusasaan, seandainya ia tidak menemukan solusinya. Menyambung pertanyaannya yang menyiksa dirinya, ia berseru dengan penuh kemenangan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (ayat 25).

Apakah Anda sedang bergumul untuk berhenti dari kebiasaan-kebiasaan yang sulit dilepaskan? Seperti Paulus, Anda pun bisa menjadi pemenang. Jika Anda mengenal Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat Anda, kemenangan itu dimungkinkan melalui kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Nyatakanlah dengan penuh percaya diri bersama Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Anda dapat melakukannya! -RWD

20 Februari 2006

Tongkat Saya

Nats : Karena iman ... Yakub ... menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya (Ibrani 11:21)
Bacaan : Mazmur 73:23-28

Rak antik di jalan masuk ke rumah kami menyimpan tongkat dari beberapa generasi di keluarga kami. Yang paling saya sukai adalah sebuah tongkat ramping dengan pegangan bulat berlapis emas berukir inisial "DHR". Tongkat itu milik kakek buyut istri saya Carolyn, Daniel Henry Rankin. Anehnya, inisialnya sama dengan inisial nama saya.

Di ruang belajar saya ada koleksi lain. Di antara barang-barang lainnya terdapat tongkat milik ayah saya yang terbuat dari kayu pohon apel yang dikelupas. Dan dalam sebuah tong kayu di garasi kami terdapat sejumlah peralatan: tongkat untuk bermain ski, tongkat kecil untuk berjalan di salju, dan tongkat untuk lintas alam yang telah saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Kelak, saya tak lagi akan menggunakan tongkat-tongkat itu, dan menggantinya dengan tongkat penopang untuk berjalan. Saya akan selalu memerlukan sesuatu atau seseorang untuk bersandar.

Kemudian saya teringat pada Bapa Yakub tua. Dahulu ia kuat, tetapi kini ia rendah hati dan sungguh-sungguh bersandar pada Allah. Ketika ia sudah hampir meninggal, dengan iman ia "menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya" (Ibrani 11:21).

Ketika saya bertambah tua, saya belajar untuk lebih bersandar kepada Allah dan kesetiaan-Nya. Selama bertahun-tahun, Dia telah "memegang tangan kananku". Dia membimbing saya dengan nasihat-Nya, dan sesudah itu Dia akan "mengangkat aku ke dalam kemuliaan" (Mazmur 73:23,24).

Shakespeare menyatakan hal tersebut dengan baik: Allah merupakan "tongkat terbaik di usia tuaku, Dia adalah penyangga terbaikku" --DHR

1 Maret 2006

Keamanan

Nats : Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu (Mazmur 31:21)
Bacaan : Mazmur 31:20-25

Sebuah Sekolah Dasar di Jepang sedang menguji sistem untuk meningkatkan keamanan para siswa yang sekaligus dapat memberi ketenangan bagi para orangtua mereka. Setiap siswa mengenakan sebuah pin yang akan mengirim sinyal ke radio penerima di gerbang sekolah, dan komputer akan mencatat kapan setiap siswa memasuki atau meninggalkan sekolah. Sistem tersebut secara otomatis akan mengirimkan e-mail untuk memberi tahu kepada para orangtua apakah anak-anak mereka telah tiba atau telah meninggalkan sekolah. Di kota-kota besar, di mana anak-anak kerap kali harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk menuju sekolah, sistem tersebut mendapat pujian dari para orangtua dan anak-anak pun menyukainya.

Di dunia yang penuh bahaya ini, kita perlu menyadari bahwa keamanan dan perlindungan kita yang utama berada di tangan Allah. Daud teringat bagaimana ia suatu kali merasa seolah-olah terpisah dari pertolongan Tuhan. Namun ia belajar bahwa dalam situasi yang mengecewakan sekalipun, Allah akan melindungi mereka yang takut kepada-Nya "dalam naungan wajah-Nya; ... Dia akan melindungi mereka dalam pondok" (Mazmur 31:21).

Allah selalu mengetahui di mana kita berada. Tak ada tempat di mana Dia tidak dapat melihat kebutuhan dan mendengar jeritan kita. "Engkau mendengar suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong" (ayat 23).

"Kuatkan dan teguhkanlah hatimu," sang pemazmur menyimpulkan, "hai semua orang yang berharap kepada Tuhan" (ayat 25) --DCM

5 Maret 2006

Sayap Rajawali

Nats : Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya (Yesaya 40:31)
Bacaan : Yesaya 40:27-31

Perkataan Nabi Yesaya tentang menanti-nantikan Tuhan dengan sabar merupakan suatu penantian terhadap masa depan dengan pengharapan yang pasti. Pada saat kita mengalami pencobaan, kita menantikan keselamatan yang pasti akan datang. Yesus sendiri memberikan jaminan berikut ini kepada pengikut-pengikut-Nya, "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4).

Karena kita telah mengetahui bahwa kita memiliki tujuan akhir yang sangat mulia, yaitu bahwa kita memiliki harapan yang pasti akan surga, maka kita akan sanggup menjalani hidup di dunia ini. Meskipun perjalanan hidup ini melelahkan, kita senantiasa dapat membentangkan sayap-sayap iman kita dan terbang! Kita dapat hidup dengan penuh ketaatan tanpa kemudian merasa lelah. Kita dapat melewati hari-hari yang rutin tanpa menjadi letih. Dunia yang lebih baik akan segera tiba, yaitu pada saat roh kita memanggil, maka tubuh kita pun akan dapat berlari, melompat dan terbang! Demikianlah harapan kita.

Sementara itu, apa yang akan digenapi pada suatu hari nanti, akan mulai terjadi sekarang. Kita dapat menjadi kuat, sabar, penuh sukacita walaupun merasa sangat kelelahan. Kita akan menjadi ramah dan tenang, tidak terfokus hanya pada kelemahan dan keletihan kita. Kita akan lebih memerhatikan orang lain daripada diri sendiri dan senantiasa siap mengucapkan kata-kata yang penuh kasih kepada mereka yang sedang berada dalam pergumulan. Kita dapat bersiap-siap sejak dari sekarang untuk menyambut hari saat jiwa kita akan terbang --DHR

19 Mei 2006

Tanda Saja Tak Cukup

Nats : "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." ... Kata mereka kepada-Nya, "Tanda apakah yang Engkau perbuat?" (Yohanes 6:29,30)
Bacaan : Yohanes 6:25-35

Sutradara film Woody Allen pernah berkata, "Andai saja Allah dapat memberi saya beberapa tanda yang jelas! Misalnya, Dia memasukkan deposito yang besar atas nama saya di bank Swiss."

Alasan-alasan yang diberikan orang untuk tidak memercayai Allah kerap kali dapat diringkas menjadi sesuatu yang mereka inginkan agar Allah lakukan demi membuktikan keberadaan-Nya. Sayangnya, dengan membuat daftar "hal-hal yang harus dilakukan" Allah, kita menjadi tidak dapat melihat begitu banyak hal yang telah dilakukan-Nya bagi kita.

Bahkan orang-orang yang tinggal di dekat Yesus dan menyaksikan berbagai mukjizat-Nya meminta lebih banyak bukti lagi. Saat membandingkan Yesus dengan Musa, mereka bertanya, "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? ... Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga" (Yohanes 6:30,31).

Yang membuat permintaan mereka mengejutkan ialah; baru sehari sebelumnya Yesus telah benar-benar memberi mereka roti. Ia memberi makan 5.000 orang dari mereka dengan roti yang dibawa seorang anak kecil untuk makan siangnya!

Seandainya kita menjadi Yesus, mungkin kita akan berkata, "Bagaimana dengan roti yang telah Kuberikan kepadamu untuk dimakan kemarin?" Akan tetapi, Yesus justru memakai kesempatan itu untuk mengajar mereka, "Aku adalah roti kehidupan" (ayat 35).

Daripada menunggu dalam kebimbangan dan kekecewaan agar Allah melakukan sesuatu yang kita minta, pakailah waktu itu untuk memandang segala hal yang telah Allah lakukan bagi kita --JAL

30 Mei 2006

Melampaui Ketakjuban

Nats : Langit adalah buatan tangan-Mu (Mazmur 102:26)
Bacaan : Mazmur 19:1-7

Pada tahun 1977, Amerika Serikat meluncurkan roket ke angkasa. Di dalamnya ada kapal kecil bernama Voyager I, sebuah satelit yang diluncurkan ke angkasa untuk menjelajahi planet-planet. Setelah Voyager selesai mengirimkan kembali foto-foto dan data dari planet Jupiter dan sekitarnya, kapal itu tidak berhenti bekerja. Voyager masih tetap beredar.

Sampai hari ini, hampir 30 tahun kemudian, wahana kecil itu masih tetap beredar -- menempuh kecepatan 60.800 km per jam, dengan jarak sekitar 14,4 milyar km dari matahari. Sungguh luar biasa! Para ilmuwan cemerlang itu telah mengirimkan kapal sampai ke tepi tatasurya kita. Benar-benar mencengangkan. Benar-benar menakjubkan.

Namun, keberhasilan ini masih tergolong kecil bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Allah. Kurang lebih seperti seseorang yang membual kepada sang arsitek Gedung Empire State bahwa ia sudah berjalan-jalan sampai ke lantai kedua gedung itu.

Kita nyaris belum mulai menjelajahi luasnya ciptaan Allah. Namun, setiap langkah kecil yang telah dicapai manusia di luar angkasa harus tetap membuat kita tunduk dalam kekaguman mutlak akan kuasa dan kreativitas Allah. Renungkanlah hal ini: Ketika kita meninggalkan satu bintang dengan mengendarai sebuah pesawat luar angkasa, Sang Pencipta bintang di angkasa itu "memanggil nama mereka sekaliannya" (Yesaya 40:26). Ya, Dialah yang menciptakan semua bintang itu.

Menjelajahi alam semesta memang menakjubkan. Namun, menjelajahi Allah yang menciptakan semuanya itu: sungguh luar biasa menakjubkan! --JDB

10 Agustus 2006

Batu yang Rapuh

Nats : Jawab Simon Petrus, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16)
Bacaan : Matius 16:13-20

Ketika menuliskan kehidupan Simon Petrus, penulis lagu dan pengarang, Michael Card menggambarkan rasul tersebut sebagai sebuah "batu yang rapuh". Istilah tersebut mengandung pertentangan, namun sangat tepat menggambarkan pribadi Petrus.

Selama hidup Petrus, kita melihat pertentangan ini muncul ketika ia menunjukkan saat-saat yang penuh keberanian, tetapi kemudian diikuti dengan kegagalan rohani. Setelah menyatakan bahwa Kris-tus adalah Anak Allah, Yesus pun berkata kepadanya, "Dan Aku pun berkata kepada-mu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jema-at-Ku dan alam maut tidak akan mengu-asainya" (Matius 16:18). Sebuah batu karang. Sebuah batu. Petrus, yang berarti "batu yang kecil", terbukti rapuh ketika ia berusaha membujuk Yesus agar tidak memanggul salib dan ketika ia menyangkal Yesus sampai tiga kali setelah Dia ditangkap.

Petrus, si "batu yang rapuh", mengingatkan kita bahwa tidak ada kekuatan pribadi atau bakat apa pun juga yang dapat membuat kita mampu menghadapi hidup dan berbagai tantangannya. Hanya dengan bertumpu pada kekuatan Kristus, kita akan menemukan pemeliharaan-Nya. Apabila kita mengakui kerapuhan kita dan bergantung kepada-Nya, maka kekuatan Kristus akan memberi kita kuasa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita temui di dalam hidup.

Seperti Petrus, kita semua merupakan "batu yang rapuh". Betapa kita patut bersyukur atas kuasa-Nya yang menjadi sempurna di dalam kelemahan kita (2Korintus 12:9,10) -WEC

26 Desember 2006

Gempa Dahsyat

Nats : Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku (Yohanes 10:28)
Bacaan : Yohanes 10:22-30

Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa mengguncang seluruh bumi. Banyak orang memang tidak merasakannya, tetapi wilayah Asia Selatan dan beberapa wilayah Afrika mengalami tsunami yang memiliki efek merusak sebagai akibatnya. Akan tetapi, menurut laporan reporter Randolph Schmid, "Tidak ada bagian bumi yang tidak terguncang oleh gempa tersebut." "Gempa itu," katanya, "mengguncang seluruh permukaan bumi."

Seorang filsuf yang berasal dari Denmark dan hidup pada abad ke-19, Soren Kierkegaard, mengatakan bahwa dunianya terguncang hebat pada saat ayahnya yang saleh mengatakan kepadanya bahwa sang ayah telah menghujat Allah karena mengalami penganiayaan oleh orang lain. Tindakan ayahnya itu sangat mengguncang Soren, sehingga ia menyebut kejadian tersebut sebagai "Gempa yang Dahsyat". Sepanjang sisa hidupnya, ia masih bertanya-tanya bagaimana apabila keluarganya dikutuk oleh Allah karena tindakan yang dilakukan oleh ayahnya.

Kita juga telah atau mungkin akan mengalami "gempa bumi" dalam hidup kita. Akan tetapi, akan sangat menghibur kita jika mengetahui bahwa dalam keadaan paling buruk sekalipun, iman kita kepada Allah dapat -- dan akan -- menopang kita. Bagaimanapun juga, "Dia mengendalikan seluruh dunia di tangan-Nya," dan itu berarti, "Dia memelihara Anda dan saya, Saudara-saudari, dalam tangan-Nya."

Tak seorang pun, atau bencana apa pun, bisa merampas kita dari tangan Bapa surgawi (Yohanes 10:28,29). Tangan-Nya akan selalu menopang kita selamanya --VCG

11 Februari 2007

Melebihi Proporsi

Nats : Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Mzm. 111:10)
Bacaan : Mazmur 111:1-10

Saya tidak akan pernah lupa ketika saya berfoto bersama Shaquille O'Neal, seorang atlet bola basket profesional. Saya tidak pernah merasa pendek, sampai saya berdiri di sebelah Shaq yang tinggi badannya 2 meter lebih. Ketika kepala saya menyembul dari bawah lengannya, tiba-tiba saya menyadari bahwa saya tidak setinggi yang saya pikir, setidaknya ketika saya berdiri di samping Shaq!

Pemazmur menulis, "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan" (111:10). Takut akan Allah merupakan syarat jika kita ingin menilai sesuatu sesuai dengan proporsinya, seperti kenyataan bahwa Dia jauh lebih besar dalam segala hal dibanding kita. "Besar perbuatan-perbuatan Tuhan" (ay. 2). Semua itu merupakan hasil kasih, kekuatan, hikmat, nubuat, kehendak, dan kesetiaan-Nya. Takut akan Allah berarti menggenggam kebenaran ini.

Namun, kita sangat mudah mengabaikan kebenaran itu ketika kita tidak berada di dekat Allah. Semakin kita dekat kepada-Nya, semakin kita menyadari betapa kurangnya kita, dan betapa kita amat membutuhkan hikmat-Nya yang jauh lebih besar untuk mengarahkan hidup kita. Apabila kita mengandalkan diri kita yang kecil ini, maka segalanya menjadi tidak harmonis. Jika kita mau jujur, harus diakui bahwa perspektif kita yang terbatas sering salah dan kadang kala dapat merusak.

Orang bijak menyadari betapa sedikitnya pengetahuan mereka dan betapa besar kebutuhan mereka akan hikmat yang agung dari Allah --JS

Betapa agung, ya Yahwe, perbuatan-Mu,
Sungguh dalam setiap gagasan-Mu;
Orang bebal tak mungkin memahami,
Begitu juga yang berpikiran duniawi. --Psalter

31 Juli 2007

Bangunlah!

Nats : Allah adalah penolongku (Mazmur 54:6)
Bacaan : Mazmur 54

Saya sudah tidak berolahraga ski air selama 15 tahun, tetapi ketika teman-teman menawarkan diri untuk mengajak menantu saya, Todd, dan saya ke sebuah danau musim panas yang lalu, bagaimana mungkin saya dapat menolak mereka? Saya merasa ini ide bagus sampai saya memerhatikan bahwa Todd kesulitan untuk berdiri di atas selancarnya. Ia sudah sering bermain ski air, tetapi ketika ia berusaha untuk berdiri di atas satu papan, ia terus-menerus jatuh. Jadi, ketika tiba giliran saya, kepercayaan diri saya tidak lagi sebesar sebelumnya.

Untunglah, teman saya sang peselancar ulung menemani saya saat berada di air dan menuntun saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Ia berkata, "Biarkan perahu mengangkatmu ke atas," dan "Bertahanlah!" Berbagai pernyataan yang tampaknya bertentangan ini membuat semuanya berbeda. Saya melakukan keduanya -- saya memercayai perahu itu untuk melakukan tugasnya, dan saya bertahan sekuat tenaga. Ketika untuk pertama kali perahu itu terangkat, saya berdiri dan menikmati perjalanan yang sangat menyenangkan mengelilingi danau.

Apabila hidup membuat Anda patah hati -- entah itu karena kesedihan yang rasanya terlalu berat untuk dipikul atau keadaan yang membuat hari-hari Anda terus-menerus tidak bahagia -- nasihat teman saya dapat menolong Anda. Pertama-tama, izinkan Allah mengangkat Anda ke atas dengan kuasa-Nya (Mazmur 54:1-6). Lalu, peganglah tangan-Nya. Berpautlah pada-Nya dan "hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya" (Efesus 6:10).

Percayalah pada kuasa-Nya dan bertahanlah. Dia akan memberi Anda kekuatan agar Anda tidak terjatuh (Yesaya 40:31) --JDB

6 Oktober 2007

Tanggung Jawab Besar

Nats : Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang mahabesar dan dahsyat (Nehemia 4:14)
Bacaan : Nehemia 4:1-14

Saat hasil akhir Perang Dunia masih tidak menentu, Franklin Roosevelt meninggal dunia dan Harry Truman diangkat menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya. Keesokan harinya, Presiden Truman berkata kepada para wartawan, "Saat mereka memberi tahu saya apa yang telah terjadi kemarin, saya merasa seakan-akan bulan, bintang, dan semua planet jatuh menimpa saya." Truman memang menerima tanggung jawab yang sangat besar.

Nehemia adalah seorang pemimpin besar yang juga menerima tanggung jawab besar. Bersama orang-orang buangan Yahudi yang telah kembali dari Babel, Nehemia diberi tugas membangun kembali tembok Yerusalem. Sekalipun dikepung lawan yang hebat, Nehemia tidak mau membiarkan dirinya diintimidasi oleh cemoohan dan ancaman musuh. Sebaliknya, utusan Allah itu mengatur sebuah strategi ganda, yaitu membangun tembok sambil memperkokoh pertahanan militer, dan menyerahkan usaha mereka sepenuhnya di dalam doa: "Kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka" (Nehemia 4:9). Dalam menghadapi ancaman terus-menerus yang dihadapi para pekerja, Nehemia mengajak mereka untuk memusatkan perhatian kepada Allah: "Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang mahabesar dan dahsyat" (ayat 14).

Apakah Anda sedang menghadapi tanggung jawab yang besar? Berdoalah meminta pertolongan Allah dan buatlah rencana yang praktis. Dengan begitu, Anda akan mendapat kekuatan untuk menyelesaikan tugas tersebut --HDF

6 Mei 2008

Tetaplah Berpaut

Nats : Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau (Yesaya 49:15)
Bacaan : Yesaya 40:27-31

Puisi terkenal berjudul Foot Prints berkisah tentang seseorang yang tengah berjalan bersama Tuhan di sebuah pantai. Ketika menoleh ke belakang, ia melihat dua pasang jejak kaki; sepasang jejak kakinya, sepasang lagi jejak kaki Tuhan. Lalu ia menemukan, pada masa-masa berat dalam hidupnya, ternyata jejak kaki itu hanya tinggal sepasang. Ia pun memprotes, "Tuhan, pada masa-masa berat dalam hidupku, mengapa Engkau justru meninggalkan aku?" Tuhan menjawab, "Aku tidak pernah meninggalkanmu. Jejak kaki itu hanya sepasang karena Aku sedang menggendong kamu."

Umat Israel dalam bacaan kita juga tengah mengalami masa-masa yang berat. Mereka harus kehilangan tanah air dan hidup sebagai bangsa "buangan" di negeri asing. Begitu berat rasanya hidup yang mesti dijalani hingga mereka merasa, "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku" (ayat 27). Namun, benarkah Tuhan telah meninggalkan mereka? Tidak. Tuhan tidak pernah berhenti memerhatikan mereka (ayat 28); juga memberi kekuatan dan semangat (ayat 29). Kuncinya: tidak bersandar pada kekuatan sendiri (ayat 30), dan tetap berpaut kepada-Nya (ayat 31).

Jadi, apabila hidup kita menjadi sulit; beban hidup menekan hebat, kesusahan terus menghantam, dan kita seolah-olah berjalan di lorong gelap tak berujung, janganlah berkecil hati. Tetaplah berpaut kepada-Nya. Kasih-Nya melampaui kasih seorang ibu kepada anak kandungnya (Yesaya 49:15). Benar, Dia tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tetapi Dia tidak akan pernah mengecewakan. Pasti -AYA

24 Juli 2008

Dampak Ketetapan Hati

Nats : Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN (Yosua 24:15)
Bacaan : Yosua 24:1-3, 13-16

Selama hidupnya, Yosua konsisten mengikuti Allah. Sejak muda, ia telah berani tampil dan mengajak umat Israel untuk tidak memberontak kepada Allah dan dengan demikian berani memasuki Kanaan (Bilangan 14:5-10). Pada masa tuanya, ia tampil lagi di depan semua suku Israel. Ia mengimbau mereka supaya tetap beribadah kepada Allah. Dan umat itu mengikuti teladan Yosua (ayat 16,24). Betapa dahsyat dampak ketetapan hati satu orang beriman! Ia membawa keluarga dan bangsanya untuk mengikuti Tuhan.

Suatu kali ayah saya, George, merasa bimbang. Di satu sisi ia merasa Tuhan memanggilnya untuk menjadi hamba-Nya. Di sisi lain, sebagai satu-satunya anak laki-laki, ayahnya berharap George meneruskan usaha tokonya. Pamannya-seorang anak Tuhan-memberi nasihat: "Jika kau menuruti permintaan orangtuamu, mereka takkan pernah menjadi orang percaya". Jadi, George menetapkan hati untuk memenuhi panggilan Tuhan. Allah itu setia. Setelah 15 tahun ia menjadi pendeta, kedua orangtuanya mengaku percaya dan dibaptis. Ia juga menerima adik-adik istrinya untuk tinggal di rumahnya dan membawa mereka satu per satu menjadi orang percaya. Dari gereja kecil yang ia layani dengan setia selama 25 tahun, muncul lebih dari 70 pemuda yang menjadi pendeta.

Teladan Yosua dan George, ayah saya, mengingatkan akan panggilan pelayanan kita yang pertama dan utama. Membawa keluarga kita kepada Kristus! Sangat sulit? Betul. Namun, ketetapan hati membuat hal sulit menjadi mungkin. Karena Allah yang menyelamatkan kita, juga rindu menyelamatkan keluarga kita (Kisah Para Rasul 16:31) dan lingkup yang lebih luas di sekitar kita (1:8) -WP

1 Agustus 2008

Reformasi Sejati

Nats : Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna (Roma 12:2)
Bacaan : Roma 12:1-8

Proses metamorfosa yang mengubah ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh suatu perubahan yang mengagumkan. Dari arti katanya, metamorfosa berarti bentuk yang berubah. Namun, yang terjadi pada kupu-kupu bukan hanya perubahan bentuk, tetapi juga gaya hidup. Ulat merangkak, kupu terbang. Ulat makan daun, kupu mengisap madu. Ulat tampak rakus, kupu tampak anggun. Ulat bergerak lambat, kupu terbang cepat. Sungguh berubah total!

Kata "metamorfosa" itu pulalah yang dipakai Paulus ketika menulis: "Berubahlah oleh pembaruan budimu ...". Paulus ingin jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, cara pandang, dan cara jemaat menjalani hidup mesti berubah, sehingga mereka "dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna". Ya, reformasi sejati tidak hanya mengubah forma (bentuk), tetapi juga mengubah apa yang ada di dalam hidup seseorang.

Hidup kita perlu terus mengalami reformasi. Harus terus bergerak dari ulat ke kepompong. Jadi tidak hanya diam, tetapi seperti pesan Paulus, kita perlu terus mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (ayat 1). Artinya, kita selalu menyadari-dan kemudian membuktikannya pada dunia-bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini adalah milik Allah.

Mari terus berubah agar semakin matang di dalam Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh berubah menjadi indah dan memberkati setiap orang yang melihatnya -DKL

10 Agustus 2008

Sedapat-dapatnya

Nats : Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam damai dengan semua orang! (Roma 12:18)
Bacaan : Roma 12:9-21

Ini curhat seorang teman, "Saya sedang mengalami konflik dengan seorang teman di gereja. Masalahnya cuma sepele, Alkitabnya saya taruh di kotak tempat menyimpan Alkitab-Alkitab yang ketinggalan di gereja. Saya sama sekali tidak tahu kalau itu Alkitabnya. Saya pikir itu Alkitab orang yang ketinggalan karena tergeletak begitu saja di kursi gereja. Namun, ia marah ke saya. Dibilangnya saya mau ngerjain, mau membuatnya susah. Ia menuduh saya membencinya. Saya sudah minta maaf, sudah menjelaskan duduk masalahnya pula, tetapi ia tetap tidak mau terima. Lalu, saya harus bagaimana lagi?"

Dalam berelasi dengan orang lain-di kantor, kampus, atau gereja-mungkin kita juga pernah mengalami hal serupa; bertemu dengan "orang yang sulit". Apa pun yang kita lakukan disalahartikan. Selalu berprasangka buruk terhadap kita. Kadang jadi konflik batin juga. Di satu sisi kita harus mengasihi dan hidup damai dengan orang lain. Namun pada kenyataannya, ada orang yang menganggap kita seperti "kucing melihat anjing"; membenci, sikapnya sinis, bahkan kasar. Sangat menjengkelkan.

Lalu bagaimana? Sebagaimana bertepuk tangan harus dengan dua tangan, begitu juga hidup damai dengan orang lain. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bersikap sama dengan kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan, "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu" (ayat 18). Jadi, betul, kita harus selalu berusaha hidup damai dengan orang lain, tetapi kalau ternyata orang lain menolaknya, itu di luar kemampuan kita. Janganlah kita terus menyalahkan diri sendiri. Yang penting kita tidak membencinya -AYA

23 September 2008

Dekat di Mata

Nats : Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah (Pengkhotbah 3:13)
Bacaan : Lukas 16:19-31

Ada sebuah karikatur bergambar dua batu nisan bersebelahan. Nisan yang satu bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Peter yang meninggal karena terlalu banyak makan gandum". Sedangkan nisan yang lain bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Akharia yang meninggal karena gandum Peter tidak pernah singgah di sini". Sebuah sindiran yang sangat mengena bagi kita.

"Jauh di mata, dekat di hati" merupakan ungkapan yang indah tentang kedekatan batin-kedekatan batin yang terjalin meski tak berjumpa secara fisik. Namun, atas perumpamaan Tuhan yang satu ini berlaku prinsip yang sebaliknya, yakni "dekat di mata, jauh di hati". Betapa dekatnya Lazarus tinggal dengan si orang kaya. Hanya "... dekat pintu rumah orang kaya itu" (ayat 20). Begitu dekatnya ia untuk disapa, diperhatikan, dan ditolong. Namun, Lazarus malah mati mengenaskan dalam kemiskinan. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kemakmuran "si tetangga". Mengapa? Semua tahu jawabnya. Persis seperti karikatur di atas.

Sebenarnya banyak penderitaan di dunia ini tak perlu terjadi, jika orang-orang terdekat dari orang yang menderita mau berbuat sesuatu. Tuhan mengizinkan kedekatan fisik terjadi agar kita tergerak berbagi kasih dengan mereka. Dengan anak yang perlu diperhatikan dan tetangga yang sakit; dengan nenek yang duduk sendirian di sebelah kita waktu di gereja dan Bi Inem yang ayahnya (di desa) sakit keras; dengan Pak Pos yang rutin mengantar surat ke rumah kita dan Pak Jo yang setia mengangkut sampah dari rumah kita. Dan banyak lagi. Ya, mereka ada "dekat di mata" justru agar tersedia tempat di hati kita bagi mereka -PAD



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA