Topik : Dukacita

18 Desember 2003

Mereka Mengerti

Nats : [Allah] yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam- macam penderitaan (2Korintus 1:4)
Bacaan : 2 Korintus 1:3-11

Beberapa hari sebelum Natal, kami menerima sebuah karangan bunga yang indah beserta kartu ucapan yang berbunyi, "Turut mengenang kehilangan yang Anda alami dan semoga Natal serta Tahun Baru Anda beserta keluarga penuh berkat. Teriring kasih dan doa, Dave dan Betty."

Tujuh bulan yang lalu, saudara perempuan saya, Marti, dan suaminya, Jim, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Ini adalah Natal pertama kami tanpa mereka, sehingga kami sungguh mendapatkan dukungan luar biasa dari sahabat yang memedulikan kehilangan kami dan yang mengungkapkan kasih dalam wujud nyata.

Dave dan Betty memahami kedukaan dan kebutuhan kami untuk mengalami pemulihan Allah, karena dua dekade sebelumnya anak perempuan mereka bunuh diri. Karena telah mengalami penghiburan dari Tuhan selama bertahun-tahun, mereka pun dapat mendampingi kami dengan penuh kepekaan dan perhatian.

Tindakan kasih seperti itu merupakan contoh langsung dari perkataan Paulus: "Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan ... menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah" (2Korintus 1:3,4).

Ketika Allah menyentuh hati kita yang terluka dengan kedamaian-Nya, kita secara unik diperlengkapi untuk membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Alangkah indahnya hadiah yang diberikan dan diterima pada hari Natal! --David McCasland

28 Maret 2004

Dua Anak Perempuan

Nats : Datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati ...” (Lukas 8:49)
Bacaan : Lukas 8:40-42,49-56

Sebelumnya saya tidak pernah banyak berpikir tentang Yairus. Saya memang pernah mendengar kisah tentang kepala rumah ibadat ini, dan saya tahu ia meminta Yesus untuk datang ke rumahnya dan menyembuhkan anak perempuannya yang hampir mati. Namun, saya tak pernah memahami dukacitanya yang mendalam. Saya tidak pernah mengerti betapa hancur hatinya ketika seorang utusan dari keluarganya datang dengan membawa berita, “Anakmu sudah mati.” Tidak, saya tidak pernah mengerti kesedihan dan deritanya, sampai saya mendengar ucapan yang sama seperti itu dari seorang polisi yang datang ke rumah kami pada tanggal 6 Juni 2002.

Anak perempuan Yairus berusia 12 tahun, meninggal karena sakit. Anak perempuan kami berusia 17 tahun, meninggal karena kecelakaan mobil yang menghancurkan hati keluarga kami.

Anak perempuan Yairus dihidupkan kembali oleh jamahan tangan Yesus. Meski pun kami tahu anak perempuan kami Melissa takkan hidup kembali secara fisik, kami yakin ia dipulihkan secara rohani melalui pengurbanan kasih Yesus ketika ia memercayai-Nya sebagai Juruselamat dalam hidupnya. Kini penghiburan itu datang ketika kami tahu bahwa keberadaannya yang kekal bersama Tuhan sudah dimulai.

Dua anak perempuan. Yesus yang sama. Dua hasil yang berbeda. Dan jamahan Yesus yang penuh cinta dan belas kasihan merupakan mukjizat yang dapat membawa damai sejahtera bagi hati yang berduka, seperti hati Yairus, hati saya, dan hati Anda —Dave Branon

25 September 2004

"ia di Surga"

Nats : Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)
Bacaan : 2Korintus 5:1-8

Pada tanggal 28 Agustus 2003, sahabat saya Kurt De Haan, mantan redaktur pelaksana Our Daily Bread, meninggal karena serangan jantung ketika makan siang. Ketika mendengar berita itu, saya berkata kepada diri sendiri, "Ia di surga." Kata-kata itu sungguh menghibur saya.

Beberapa hari kemudian saya bercakap-cakap dengan mantan pendeta saya, Roy Williamson, yang berusia delapan puluhan. Saya menanyakan keadaan seorang pria di jemaat kami. "Ia sudah di surga," jawabnya. Saya lalu menanyakan seorang jemaat lain. "Wanita itu juga sudah di surga," jawabnya. Kemudian, dengan mata berbinar-binar, ia berkata, "Saya mengenal lebih banyak orang di surga daripada di dunia."

Kemudian saya merenungkan perkataan Pendeta Williamson itu. Ia sebenarnya dapat dengan mudah berkata, "Ia sudah meninggal," atau "Wanita itu sudah tiada." Namun, betapa meneguhkan saat mendengar bahwa orang kudus yang dikasihi Allah telah berada di surga. Alangkah bersukacitanya mengetahui bahwa ketika orang-orang yang memercayai Kristus meninggal, mereka langsung bersama Yesus! Rasul Paulus menjelaskannya demikian, "Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2 Korintus 5:8). Tak ada lagi rasa sakit, kesedihan, dan dosa. Yang ada hanyalah kedamaian, sukacita, dan kemuliaan.

Kita masih berdukacita ketika seorang percaya yang terkasih meninggal. Dukacita adalah ungkapan kasih. Tetapi pada hakikatnya ada sukacita yang tidak tergoyahkan, karena kita tahu orang yang kita kasihi ada di surga --Dave Egner

24 Februari 2005

Menyanyikan Kasih-mu

Nats : Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya (Mazmur 89:1)
Bacaan : Wahyu 5:8-14

Saya sedang berkendara menuju tempat kerja sambil mendengarkan stasiun radio kristiani lokal. Di tengah-tengah senda-gurau pagi terdengarlah lagu, “Aku Dapat Menyanyikan Kasih-Mu Selamanya”.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Segera setelah lagu pujian yang indah ini diputar, saya merasakan air mata saya bercucuran. Saya sedang berada dalam perjalanan menuju tempat kerja, dan saya tidak bisa melihat jalan gara-gara sebuah lagu. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Sesampainya di tempat kerja, saya duduk di dalam mobil, berusaha mengetahui apa yang sedang terjadi. Akhirnya saya menemukan jawabnya. Lagu itu mengingatkan saya bahwa walaupun di bumi ini dimulai hari baru untuk melakukan kegiatan normal, putri saya Melissa kini mendapatkan kepenuhan dari harapan atas lagu itu di surga. Saya dapat membayangkan dengan jelas ia sedang menyanyikan cinta kasih Allah, mendahului kita semua dalam menyanyikan lagu abadi tersebut. Memahami sukacita Melissa sementara kami sendiri diingatkan akan kesedihan kami karena ia sudah tidak bersama kami lagi, merupakan momen yang manis bercampur pahit.

Hidup kita kebanyakan seperti itu. Sukacita dan penderitaan jalin- jemalin. Oleh sebab itu, kita perlu mengingat kemuliaan Allah. Kita perlu melihat sekilas masa depan kita yang penuh sukacita yang dijanjikan di hadapan Penyelamat kita. Dalam kesedihan hidup, kita perlu mencicipi sukacita, yakni sukacita yang datang saat kita menyanyikan cinta kasih Allah dan menikmati kehadiran-Nya selamanya —Dave Branon

22 November 2005

Hari-hari Sulit

Nats : Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku … (Mazmur 23:6)
Bacaan : Mazmur 23:1-6

Kami memakamkan ayah istri saya dua hari sebelum hari Pengucapan Syukur. Karena itu, setiap tahun hari raya tersebut diwarnai kesedihan karena kehilangan kami akan dia. Pasti kalender Anda pun berisi beberapa hari penuh kesulitan yang terulang setahun sekali, mengingatkan kembali akan kehilangan yang masih melukai hati dan orang-orang yang masih Anda rindukan. Sebuah artikel dalam Wall Street Journal menyebut tanggal-tanggal ini “ladang ranjau emosi” dan mengatakan bahwa hari-hari itu bahkan mungkin lebih sulit dihadapi jika bertepatan dengan hari raya nasional atau peringatan peristiwa-peristiwa penting.

Para konselor yang menangani dukacita mengungkapkan bahwa mengambil langkah positif dapat membantu kita untuk menghadapi dukacita. Kami menanam sebuah pohon untuk memperingati satu tahun meninggalnya Ayah dan kelahiran cucunya pada hari yang sama. Dana beasiswa atau sebuah hadiah peringatan dapat memberikan manfaat kepada orang-orang lain sambil mengenang orang yang dikasihi. Akan tetapi, kesembuhan batin merupakan suatu anugerah Allah.

Anda mungkin hafal Mazmur 23, tetapi cobalah membacanya dengan cara pandang baru hari ini. Pasal penghiburan yang sudah umum ini menyatakan: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku …” (ayat 6). Tidak hanya pada hari-hari tertentu, tetapi seumur hidup.

Apabila kita melintasi “ladang ranjau emosional” yang berisi kenangan yang menyakitkan, Gembala Yang Baik selalu beserta kita pada setiap hari-hari sulit -DCM

31 Juli 2006

Air Mata di Surga

Nats : Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis (Wahyu 21:4)
Bacaan : Wahyu 21:1-8

Pada tahun 1991, seorang gitaris terkenal asal Inggris, Eric Clapton, sangat berduka ketika putranya Conor yang berusia empat tahun tewas karena terjatuh dari jendela apartemennya. Sebagai sarana untuk menyalurkan dukacitanya, Clapton menulis syair lagu dengan nada kesedihan yang mendalam: "Tears in Heaven". Tampaknya setiap nada dalam lagu itu mengandung kepedihan dan kehilangan yang hanya dapat dimengerti oleh orangtua yang pernah kehilangan anak.

Namun yang mengejutkan, beberapa tahun kemudian dalam sebuah wawancara di televisi, Clapton mengatakan, "Dalam beberapa hal, lagu itu sebenarnya bukanlah lagu yang mengandung kesedihan, melainkan lagu yang penuh keyakinan. Ketika dikatakan bahwa tidak akan ada lagi air mata di surga, menurut saya itu adalah lagu optimisme, yaitu tentang pertemuan kembali."

Pemikiran tentang reuni surgawi sungguh menguatkan. Bagi setiap orang yang telah memercayai Kristus untuk mendapatkan keselamatan, ada pengharapan bahwa kelak kita akan dipersatukan kembali selamanya, di tempat "Ia akan menghapus segala air mata dari mata [kita], dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis (Wahyu 21:4). Dan yang terpenting, di situlah kita akan "melihat wajah-Nya" dan tinggal bersama Kristus untuk selamanya (22:4).

Kala kita mengalami kehilangan dan dukacita, ratap tangis dan perkabungan, alangkah menghibur bila kita mengetahui bahwa Kristus telah membeli sebuah rumah surgawi bagi kita yang di dalamnya tidak ada lagi ratap tangis! --WEC

8 Maret 2007

Yesus Menangis

Nats : Lalu menangislah Yesus (Yoh. 11:35)
Bacaan : Yohanes 11:17-37

Seorang teman yang putrinya tewas dalam kecelakaan mobil pada bulan Mei 2005 berkata kepada saya, "Saya memang mudah menangis sebelum kecelakaan Natalie .... Namun, kini saya selalu menangis. Kadang air mata mengalir begitu saja."

Siapa pun yang pernah mengalami tragedi pribadi sepedih itu akan memahami apa yang dikatakannya.

Salahkah bila kita menangis? Ataukah kita memiliki bukti alkitabiah untuk menyatakan bahwa menangis itu wajar?

Yesus memberi jawabannya kepada kita. Lazarus, sahabatnya, meninggal. Ketika Yesus tiba di rumah saudara-saudara perempuan Lazarus, mereka dikelilingi oleh teman-teman yang datang untuk menghibur. Yesus melihat Maria, Marta, dan teman-temannya berkabung. Demikian pula dengan Dia. Karena berbela rasa dengan mereka, "menangislah Yesus" (Yoh. 11:35).

Kesedihan, air mata, dan dukacita merupakan hal yang umum bagi setiap orang di dunia ini -- bahkan bagi Yesus. Air mata-Nya menyatakan bahwa air mata "yang begitu saja mengalir ke luar" itu wajar. Dan hal itu mengingatkan kita bahwa air mata dukacita akan lenyap di dalam kekekalan karena "maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita" (Why. 21:4).

Ketika Allah menghapus segala pengaruh dosa, Dia akan menghapus air mata. Ini adalah satu alasan lagi bagi kita untuk menantikan kekekalan --JDB

Tuhan akan menghapus air mata;
Tiada maut, sakit, takut terasa,
Dan waktu terus secercah pagi,
Sebab malam tak ada lagi. --Clements

5 Agustus 2008

Senjata Rohani

Nats : Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan (Lukas 22:46)
Bacaan : Keluaran 17:8-16

Dengan garang, si banteng menyerudukkain merah di tangan matador. Setelah berulang kali ia pun kelelahan, sebab tiap kali mendekati kain merah, si matador mengibaskannya. Ia tak sadar kain merah itu bukan lawan yang sebenarnya.

Peperangan Israel melawan Amalek bukan sekadar perang fisik antara dua kekuatan militer. Amalek hanya alat-semacam "kain merah" yang dikibaskan oleh kekuatan yang ingin menghambat rencana Allah bagi masa depan Israel. Itu sebabnya Musa sebagai pemimpin Israel perlu memimpin bangsanya menghadapi perang tersebut secara tepat. Caranya? Dengan "mengangkat tangan", yakni terus berdoa, seperti lazimnya umat Israel berdoa dengan menadahkan tangan (Ezra 9:5; 1 Timotius 2:8) sampai kemenangan mereka raih. Doa yang tak henti, karena tidak dilakukan sendiri, tetapi bersama-sama-sebagaimana Musa berdoa bersama Harun dan Hur-besar sekali kuasanya. Sebab Tuhan-lah yang berperang melawan "si musuh sejati".

Hidup kita serupa pertempuran. Banyak musuh menyerbu; desakan nafsu, situasi pelik, orang sulit di pekerjaan, pengusik ketenangan rumah tangga, penjegal karier, pesaing yang curang, pengacau, dan pemfitnah di gereja. Menghadapi hal-hal ini dengan kekuatan fisik hanya akan membuat kita lelah dan kalah. Apalagi jika kita pun terkecoh untuk membalas dengan cara serupa. Kita mesti sadar bahwa mereka hanya "kain merah", bukan "si matador" yang mengibarkannya. Jadi, hadapilah dengan doa. Angkatlah tangan, tetaplah berdoa! Jika Anda menjadi lelah, mintalah saudara seiman untuk turut menopang dan berdoa bersama kita. Andalkan kekuatan Allah dalam melawan "sang matador", si penguasa kegelapan -PAD



TIP #01: Selamat Datang di Antarmuka dan Sistem Belajar Alkitab SABDA™!! [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA