Topik : Efek/Kuasa

8 Desember 2002

Kurir

Nats : Sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu (Daniel 10:12)
Bacaan : Daniel 10

Di sela-sela tugasnya sebagai seorang serdadu selama Perang Dunia II, seorang kawan saya yang bernama Oscar juga menjadi kurir militer. Ia bertugas membawa pesan ke unit-unit lain yang berada di dekat garis depan. Pada malam hari ia harus berjalan melalui semak- semak dan pepohonan untuk menyampaikan informasi penting tentang strategi perang. Beberapa kali ia berpapasan dengan patroli musuh sehingga ia terpaksa harus mengambil jalan lain. Untuk tugas ini ia pernah tertembak lebih dari sekali.

Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Daniel menggambarkan suatu peristiwa, saat malaikat masih menjadi kurir yang bertugas membawa pesan dari surga ke bumi. Pada waktu itu, Setan berusaha menghalang- halangi agar pesan tersebut tidak sampai. Dan kaki tangan Setan (dalam hal ini raja orang Persia) berhasil memperlambat perjalanan malaikat yang membawa pesan Allah itu (Daniel 10:13). Sebenarnya tidak mengherankan, karena ini adalah bagian dari strategi perang Setan.

Saya yakin sampai saat ini Setan dan anak buahnya terus berusaha menghalangi agar pesan Allah tidak samapai kepada umat manusia, bahkan dalam hal-hal yang kita hadapi sehari-hari. Misalnya saat kita membaca Alkitab, muncul berbagai macam interupsi. Saat khotbah disampaikan, pikiran kita mungkin melayang ke hal-hal lain. Saat kita merasa perlu mengabarkan keselamatan dari Yesus kepada seseorang, usaha kita mungkin terhalangi. Dalam situasi-situasi seperti ini, kita harus merendahkan hati dan berseru memohon pertolongan Allah (ayat 12). Dia mampu membuat pesan-Nya tersampaikan -Dave Egner

21 Desember 2002

Harta yang Paling Berharga

Nats : Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta (Mazmur 119:14)
Bacaan : Mazmur 19:8-12

Apakah harta yang paling berharga di dunia? Sebagian orang mungkin menunjuk pada semua emas yang tersimpan di Fort Knox. Yang lainnya mungkin menunjuk Sistine Chapel yang ada di Roma. Dan yang lainnya lagi akan memilih kekayaan luar biasa yang pernah dipertontonkan di istana para Tsar Rusia. Namun, jawaban yang saya harap muncul dalam benak Anda adalah Alkitab, firman Allah.

Pada upacara penobatan Ratu Inggris Elizabeth II, Uskup Agung Canterbury menyerahkan sebuah Alkitab kepadanya dan berkata, "Ratu kami yang mulia, agar Yang Mulia dapat tetap menjaga Hukum dan Injil Allah sebagai Pengatur seluruh kehidupan termasuk pemerintahan Kerajaan Inggris, kami mempersembahkan kitab ini sebagai harta paling berharga yang dapat diberikan oleh dunia ini."

Jika dunia ini merenggut semua harta duniawi yang kita anggap sebagai barang-barang-barang berharga, maka kita akan merasakan kehilangan yang begitu besar. Namun apa yang akan terjadi seandainya dunia ini merenggut Alkitab dan segala pengaruhnya dalam kehidupan kita? Planet ini akan menjadi begitu gersang dan hancur!

Ya, Alkitab adalah harta kita yang paling berharga dalam hidup ini, jauh lebih berharga daripada emas yang banyak sekalipun (Mazmur 19:11). Namun apakah penghargaan kita terhadapnya hanya di bibir saja? Apakah kita menaatinya sebagai "Pengatur seluruh kehidupan" karena kita percaya pada Injil dan percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi? –Vernon Grounds

9 Januari 2003

Menemukan Kebenaran

Nats : Kamu telah menerima Kristus ... karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman (Kolose 2:6,7)
Bacaan : Kolose 2:1-12

Bagaimanakah jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apakah Yesus pernah berdosa?

2. Apakah Yesus benar-benar bangkit?

3. Apakah semua agama mengajarkan pemahaman dasar yang sama?

Menurut George Barna dan Mark Hatch dalam buku yang mereka tulis bersama yakni Boiling Point, banyak orang yang menyebut diri orang kristiani kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Ketika Barna dan Hatch menyurvei orang-orang kristiani yang mengaku sebagai orang percaya, ternyata seperempat dari mereka mengatakan bahwa Yesus pernah berbuat dosa, sepertiga mengatakan bahwa Dia tidak bangkit dari kematian, dan sepertiga menyatakan bahwa semua agama itu pada dasarnya sama.

Ini merupakan statistik yang mencemaskan karena data itu menunjukkan kurangnya pemahaman Alkitab secara serius. Jawaban atas ketiga pertanyaan di atas merupakan konsep yang dengan jelas dipaparkan dalam Kitab Suci dan menjadi dasar bagi kebenaran Injil.

Oleh karena itu, apa yang dapat kita lakukan untuk memastikan bahwa kita "bertambah teguh dalam iman"? (Kolose 2:7). Pertama, kita harus setia membaca dan mempelajari Alkitab. Kedua, kita harus mencari bimbingan dari guru-guru yang saleh dan mencari sumber-sumber yang dapat diandalkan. Ketiga, kita harus meminta Allah untuk memimpin kita kepada kebenaran dan menjauhkan kita dari kesalahan.

Sebagai umat Allah, kita patut mencintai kebenaran, mencari kebenaran, dan hidup dalam kebenaran --Dave Branon

10 Januari 2003

Mengoreksi Kesalahan

Nats : [Seorang hamba Tuhan] ... harus ramah terhadap semua orang ... menuntun orang yang suka melawan ... sehingga mereka mengenal kebenaran (2Timotius 2:24,25)
Bacaan : 2Timotius 2:22-26

Tiga pemuda yang berpakaian rapi datang ke rumah saya. Saya segera tahu bahwa mereka bukan wiraniaga yang hendak menjual pengisap debu. Mereka ingin menjadikan saya penganut agama mereka.

Saya terlibat dalam perbincangan yang sopan dengan mereka. Saya menghargai dedikasi mereka untuk tetap bekerja di hari yang gerah di musim panas itu. Kemudian saya berkata, "Saya tahu kalian akan memberi saya beberapa bacaan, tetapi tolong izinkan saya juga memberikan sesuatu kepada kalian." Lalu saya masuk dan mengambil beberapa majalah yang berisi penjabaran Injil yang jelas.

Mereka berkata ingin memberi saya sebuah buku yang berisi dasar kepercayaan mereka. Saya mengatakan bahwa saya sudah mempunyai buku itu dan telah membaca sebagian. Ketika mereka menanyakan pendapat saya tentang buku itu, saya memberi tahu mereka tentang perbedaan antara buku itu dengan Alkitab, dan mengapa saya menganggap buku itu mengandung kesalahan. Tidak ada perbantahan, hanya perbincangan yang hangat tentang yang benar dan yang salah.

Manakala berhadapan dengan orang yang menyimpangkan atau mengingkari doktrin-doktrin Alkitab, kita harus tahu apa yang diajarkan Alkitab. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasul Paulus, kita harus mengoreksi dengan lemah lembut mereka yang ada dalam kesalahan "sehingga mereka mengenal kebenaran" dan "menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis" (2 Timotius 2:25,26). Akhirnya, tujuan kita haruslah untuk menolong orang menemukan kebenaran, bukan memenangkan perdebatan --Dave Branon

21 Maret 2003

Prioritas yang Utama

Nats : Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku (Mazmur 139:23)
Bacaan : Mazmur 32:1-5

Aktor Sylvester Stallone dipuji karena keberhasilannya dalam memerankan tokoh perkasa bernama Rocky dan Rambo. Namun bagaimana sebenarnya kehidupan pribadinya? Dalam sebuah wawancara, dengan jujur ia mengaku, “Seandainya saya menonton film tentang kehidupan nyata pribadi saya, saya akan geleng-geleng kepala karena putus asa dan heran. Hidup saya bagaikan film komedi kesalahan.”

Bayangkan jika seandainya hidup Anda atau saya difilmkan. Bukankah film itu tidak hanya menyingkapkan kesalahan dan pilihan salah yang telah kita perbuat, melainkan juga menampilkan kehidupan seorang berdosa yang tidak bertingkah laku selayaknya pengikut Kristus? Apakah kita akan malu melihat beberapa babak kehidupan kita? Ataukah kita justru termotivasi, seperti yang dikatakan Stallone, untuk mengubah nilai-nilai yang kita anut dan mulai memperhatikan “hubungan dengan sesama ... dan lebih mengutamakan orang lain”?

Yesus ingin menjadi “sesama” yang diutamakan dalam hidup kita (Matius 6:24,33). Namun bagaimana caranya? Hal itu bisa dimulai dengan pengakuan dosa kepada-Nya, lalu kita akan mengalami penyucian dan pengampunan dari Tuhan (Mazmur 32:5). Kemudian secara bertahap kita akan diubahkan oleh-Nya melalui pekerjaan Roh Kudus dan firman Allah (Galatia 5:22,23; Ibrani 4:12). Jika kita memproritaskan hubungan kita dengan Tuhan Yesus Kristus, maka Dia akan membentuk kita menjadi umat yang sesuai dengan kehendak-Nya (Filipi 2:3-8) --Vernon Grounds

27 Maret 2003

Peti Harta Karun

Nats : Menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah (Ibrani 6:12)
Bacaan : Ibrani 11:32-40

Saat saya masih kecil, Ibu sering membiarkan saya mengaduk-aduk kotak kancingnya ketika saya menjalani proses pemulihan setelah sakit. Saya selalu gembira saat menemukan beberapa kancing tua yang saya kenal, dan mengingat pakaian yang dulunya dihiasi kancing-kancing itu. Saya terutama senang saat Ibu mengambil salah satu kancing tua yang terabaikan itu dan memanfaatkannya lagi.

Sama seperti pengalaman di atas, saat sedih, saya sering membuka-buka Alkitab dan mengingat kembali janji-janji yang saya kenal dan telah menguatkan saya. Dan saya selalu memperoleh dorongan semangat melalui janji-janji yang sebelumnya tidak saya perhatikan.

Saya teringat pagi yang suram di saat terakhir penderitaan suami saya. Saya mencari-cari firman Allah untuk mendukung saya menghadapi situasi yang menyakitkan bagi kami. Dalam Ibrani 11, saya mengamati bahwa Allah telah menyelamatkan umat-Nya yang menderita melalui berbagai cara yang sangat dramatis. Namun, saya tidak selalu dapat mengaitkannya dengan situasi tertentu. Lalu saya membaca tentang orang-orang yang “beroleh kekuatan dalam kelemahan” (ayat 34). Allah memakai ungkapan itu untuk meyakinkan saya bahwa dalam kelemahan, saya akan dikuatkan. Di saat paling berkesan itu, saya mulai merasakan kekuatan-Nya, dan iman saya pun diperbarui.

Apakah Anda sedang diuji hari ini? Ingatlah, ada banyak janji dalam Alkitab, peti harta karun Allah. Umat Allah secara turun-temurun telah membuktikan kebenarannya. Anda pun dapat membuktikannya --Joanie Yoder

4 Mei 2003

Bacaan yang Bermanfaat

Nats : Engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2Timotius 3:15)
Bacaan : 2Timotius 3:10-17

Ahli teologi William Barclay bercerita tentang pengalaman sepasukan tentara Inggris selama Perang Dunia I. Saat itu mereka sedang mengadakan gencatan senjata dengan musuh untuk waktu yang lama. Salah seorang di antara mereka adalah seorang ateis. Untuk mengisi waktu luangnya, ia pergi kepada seorang pendeta untuk meminjam buku apa saja untuk dibaca. Namun, satu-satunya buku yang dimiliki pendeta itu adalah Alkitab.

Pada mulanya si ateis menolak Alkitab itu, tetapi kemudian ia mengambilnya juga dan mulai membaca Perjanjian Lama secara acak. Secara kebetulan ia membaca kisah Ester dan sangat terpikat oleh kisah itu, sehingga ia memutuskan untuk membaca seluruh Alkitab. Saat membaca Alkitab, ia pun sadar bahwa apa yang dibacanya itu benar, dan ia pun menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Rasul Paulus menyatakan dalam 2 Timotius 3:16 bahwa "segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat". Alkitab memberi manusia hikmat yang menuntun kepada "keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" (ayat 15). Bahkan beberapa bagian yang tampaknya membosankan dan kurang mengandung nilai rohani pun memiliki kuasa untuk mengubah hidup seseorang.

Jika dalam membaca Alkitab kita menemukan bagian yang mulanya tampak tidak menarik, berserahlah kepada Roh Kudus supaya Dia berbicara melalui hati kita dan mengubah hidup kita. Saat membaca Alkitab, ingatlah bahwa seluruh isi Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, diilhamkan oleh Allah dan bermanfaat (ayat 16) --Vernon Grounds

17 Mei 2003

Lebih Berharga dari Emas

Nats : Aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih daripada emas (Mazmur 119:127)
Bacaan : Mazmur 119:121-128

The Gideons, sebuah jaringan pelayanan yang mendistribusikan Alkitab ke seluruh dunia telah beroperasi di negara bekas Uni Soviet selama kurang dari satu tahun. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengedarkan Alkitab ke-pada masyarakat Rusia. Ke mana pun mereka pergi, mereka selalu disambut baik oleh mereka yang haus akan firman Allah.

Suatu ketika sampailah mereka di sebuah kota. Di sana, mereka diizinkan untuk menyebarkan kitab Perjanjian Baru di sebuah sekolah dasar. Saat itu mereka ditemani oleh seorang kepala polisi. Oleh karena itu, ketika mobil yang membawa mereka ternyata malah melewati sekolah yang ditunjuk, mereka jadi bertanya-tanya, jangan-jangan mereka akan dibawa untuk diinterogasi. Setelah melakukan perjalanan selama enam atau tujuh kilometer kemudian, mereka berhenti di sebuah sekolah lain dan diminta membagikan Alkitab di situ. Mereka pun membagikannya kepada setiap murid dan anggota staf di sekolah tersebut.

Tak lama kemudian, pemimpin kelompok itu bertanya kepada si kepala polisi, "Mengapa kita berganti sekolah?" Kepala polisi itu menjawab dengan tenang, "Karena dua anak saya bersekolah di sini. Saya ingin memastikan bahwa mereka mendapat Alkitab."

Firman Allah itu mulia dan berharga (Mazmur 19:11), terutama bagi mereka yang kurang atau tidak mampu mendapatkannya. Pejabat Rusia ini menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Alkitab bagi anak- anaknya, dan mungkin juga supaya ia sendiri dapat membacanya.

Seberapa berhargakah firman Allah bagi Anda? --Dave Egner

3 Juli 2003

Anda Mendengarkan?

Nats : Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar (1Samuel 3:10)
Bacaan : 1Samuel 3:1-10

Kenangan terindah di masa kecil saya adalah saat ibu saya membacakan kisah-kisah Alkitab untuk saya sebelum tidur. Ada banyak kisah yang meninggalkan kesan yang begitu mendalam bagi diri saya, terutama peristiwa dalam hidup Samuel seperti yang digambarkan dalam 1 Samuel 3. Saya masih dapat mendengar ibu saya membacakan tanggapan anak muda ini terhadap panggilan Allah, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar" (ayat 10).

Seperti halnya Samuel, kita juga harus bersedia untuk mendengarkan suara Tuhan. Kesempatan ini akan kita peroleh jika kita bersedia menyediakan waktu untuk mempelajari dan membaca Alkitab dengan sungguh-sungguh di tengah-tengah kesibukan kita setiap hari. Karena seperti yang Anda ketahui, Roh Allah berkomunikasi dengan kita melalui firman-Nya.

Thomas à Kempis (1379-1471) merangkum hal ini dengan baik ketika ia menulis, "Diberkatilah setiap telinga yang tidak hanya mendengar suara yang terdengar, melainkan mencari kebenaran yang terkandung dalam suatu pengajaran. Diberkatilah mata yang tertutup untuk hal- hal duniawi, tetapi terbuka untuk hal-hal rohani. Diberkatilah mereka yang dengan sukacita memberikan waktunya bagi Allah dan melepaskan diri dari semua penghalang di dunia ini. Pertimbangkanlah hal-hal ini, o jiwaku, dan dengarkanlah Tuhan Allahmu berbicara."

Kapankah terakhir kali Anda meminta Tuhan membuka hati Anda agar dimampukan untuk menerima firman-Nya? Tuhan ingin mendengar Anda berkata, "Berbicaralah, Tuhan, saya mendengarkan" --Richard De Haan

23 Juli 2003

Terbuka Lebar

Nats : Akulah Tuhan, Allahmu ...: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh (Mazmur 81:11)
Bacaan : Mazmur 81

Sebagai seorang anak laki-laki, saya selalu tertantang untuk mencari sarang burung robin [sejenis burung yang dadanya berwarna merah di Amerika Utara] yang baru dibuat. Sungguh senang mengamati telur- telur itu dan menunggui makhluk-makhluk kecil tak berbulu dengan mata menonjol dan mulut menganga keluar dari cangkangnya. Dari kejauhan, saya melihat kepala mereka bergerak limbung dan mulut mereka terbuka lebar, berharap sang induk memberi mereka makan.

Saat mengingat pengalaman itu, saya berpikir tentang janji Allah: "Akulah Tuhan, Allahmu ...: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh" (Mazmur 81:11). Tawaran murah hati ini diberikan kepada orang-orang Israel, tetapi mereka mengabaikan Allah, dan Dia membiarkan mereka dalam kedegilan hati mereka dan membiarkan mereka berjalan mengikuti rencana mereka sendiri! (ayat 13). Padahal, seandainya mereka menerima tawaran itu, Allah berkata, "Umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya" (ayat 17).

Allah juga rindu memberi kita makanan rohani. Dan Dia akan memuaskan kelaparan rohani kita saat kita mempelajari firman-Nya, beribadah bersama orang lain, mendengarkan guru-guru Alkitab yang setia, membaca bacaan yang alkitabiah, dan bergantung kepada-Nya setiap hari.

Jika kita menolak pemberian Allah, kita akan menderita kekurangan gizi rohani dan gagal untuk bertumbuh. Namun jika kita membuka mulut lebar-lebar, yakinlah bahwa Allah akan membuatnya penuh --Richard De Haan

29 Juli 2003

Berhati-hatilah!

Nats : Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan (Lukas 21:8)
Bacaan : 2Korintus 11:1-15

Seorang kenalan saya "ditipu" oleh seorang wiraniaga yang pandai bicara yang singgah di tempat usahanya. Orang itu memperlihatkan sejumlah permata menarik yang menurutnya telah dibelinya dengan potongan harga yang sangat besar. Ia terutama merasa bangga akan beberapa arloji yang tampaknya sangat mahal, dengan merek terkenal tertempel pada lempeng arlojinya.

Teman saya merasa terkesan dan membeli beberapa arloji. Namun ketika wiraniaga itu telah pergi, ia memeriksa "hasil penawarannya" dengan lebih teliti. Ia terkejut mendapati bahwa merek dagangnya sama sekali bukan dari merek yang terkenal. Dua huruf dalam nama itu berbeda, namun cetakannya sedemikian kecil sehingga ia tidak memperhatikan hal itu sebelumnya. Tali arloji tersebut juga bukan kulit asli melainkan "kadal asli", dan pada bagian belakang kotaknya terdapat tulisan yang menandakan bahwa jam itu terbuat dari bahan berkualitas rendah.

Kejadian itu mengingatkan saya akan apa yang dikatakan oleh Sang Juruselamat dalam Lukas 21:8, "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan." Bahkan sama seperti sebagian orang dalam dunia bisnis yang dengan pandai telah menyesatkan fakta-fakta dan menjadikan pelanggan-pelanggan mereka sebagai korban, ada juga guru-guru palsu di dalam gereja-gereja yang memutarbalikkan kebenaran. Meskipun mereka menggunakan istilah alkitabiah dan tampak ortodoks! Namun, berhati-hatilah! Mereka adalah iblis yang akan menyesatkan Anda. Milikilah landasan yang teguh akan firman Allah, maka Anda tidak akan "ditipu" oleh muslihat mereka --Richard De Haan

4 September 2003

Memakan Firman

Nats : Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel" (Yehezkiel 3:1)
Bacaan : Yehezkiel 2:7-3:4

Saya membaca tentang seorang wanita Australia yang mengembangkan kecanduannya makan kertas. Ia memulai kebiasaan aneh itu sejak kanak-kanak, dan ketika bertumbuh dewasa, ia telah memakan 10 lembar tisu dan setengah halaman koran setiap harinya. Wanita ini juga mengkonsumsi sejumlah kecil kertas penyerap tinta, lembaran buku kerja, dan vaucer yang nilai nominalnya kecil.

Tentu saja tidak ada hubungan antara kebiasaan aneh wanita itu dan tindakan simbolis Nabi Yehezkiel. Sang nabi memakan gulungan kitab untuk menggambarkan sebuah latihan rohani yang harus kita laksanakan. Jika kita ingin menyatakan kebenaran Allah dengan penuh makna dan kuasa, maka kita perlu menyediakan waktu agar firman itu memenuhi hati kita. Kita perlu merasakan dampak firman Allah. Kita harus membiarkan firman-Nya menjadi bagian terpenting dari kita. Dengan demikian kita tidak akan menyampaikan firman secara tidak meyakinkan seperti murid yang tidak memahami atau tidak tertarik, melainkan sebagai orang yang telah "merasakan" firman itu secara pribadi.

Firman dan pikiran Allah yang sesungguhnya telah dinyatakan di dalam Alkitab. Jangan sekadar membaca dan mengulanginya. Renungkanlah. Rasakanlah. Mintalah agar Tuhan menjelaskan, membuatnya menjadi bagian dari pengalaman Anda, dan mengajar Anda.

Ya, bacaan Alkitab hari ini memberikan prinsip yang mendalam: kita harus "memakan" firman sebelum menyampaikannya. Dengan demikian, kita tidak akan termakan oleh perkataan kita sendiri --Mart De Haan

25 September 2003

Masih Relevan

Nats : ... telah dilahirkan kembali ... oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1Petrus 1:23)
Bacaan : Mazmur 19:7-11

Diperkirakan setiap tahun terbit sekitar 300.000 buku baru di seluruh dunia. Sungguh suatu jumlah yang luar biasa! Namun, hanya ada satu buku, yaitu Alkitab, yang paling bertahan di antara semua buku itu.

Apa yang dapat kita katakan mengenai daya tarik "buku tua" ini? Jawabannya sangatlah sederhana. Buku ini adalah firman Allah, yang disampaikan dalam bahasa manusia, dan menceritakan tentang Pencipta kita dan kehendak-Nya atas dunia ini. Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan pengertian yang paling tepat mengenai sifat dasar manusia yang membingungkan, serta alasan kita berbuat sesuatu.

Robert Coles, seorang profesor dari Harvard, telah mewawancarai ratusan orang dari berbagai kalangan masyarakat. Ketika ditanya mengenai hal yang telah dipelajari dari penelitiannya tentang sifat dasar manusia, Dr. Coles menunjuk Alkitab yang terletak di atas mejanya dan berkata, "Saya tidak menemukan satu hal pun mengenai penciptaan manusia yang bertentangan dengan yang telah saya pelajari dari para nabi Yahudi ... dan dari Yesus, serta hidup orang-orang yang dijamah-Nya".

Berbagai tulisan orang lain dan pengalaman kita sendiri dapat mengajarkan banyak hal kepada kita tentang penyebab dari tingkah laku yang kita perbuat. Namun, hanya Injil yang mengatakan bahwa hati kita yang penuh dosalah yang menjadi inti dari persoalan kita, dan bahwa dengan percaya kepada Yesus, hati kita dapat diubahkan dari dalam.

Ya, Alkitab masih relevan hingga saat ini. Apakah Anda semakin mengasihi buku tua ini? --Vernon Grounds

28 September 2003

Penyampai Pesan

Nats : Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (2Petrus 1:21)
Bacaan : 2Petrus 1:19-21

Sumbangan dari para penyampai pesan terhadap kemenangan dalam Perang Dunia II sangatlah besar, tetapi hanya sedikit orang yang mengenal mereka. Pada tahun 1942, Angkatan Bersenjata AS merekrut dan melatih 29 pemuda Indian Navajo dan mengirim mereka ke pangkalan yang amat dijaga kerahasiaannya. Orang-orang ini disebut "penyampai pesan". Mereka diminta untuk memikirkan sebuah sandi khusus dalam bahasa asli mereka yang tidak dapat dipecahkan musuh. Mereka berhasil, sandi itu tak pernah dapat dipecahkan. Sandi itu menjaga keamanan pesan dan sangat mempermudah komunikasi di medan perang. Dua puluh tiga tahun setelah perang berakhir, sandi rahasia itu tetap tersimpan aman, untuk berjaga-jaga seandainya dibutuhkan lagi.

Namun tidak demikian dengan Alkitab. Alkitab tidak diberikan dalam bentuk sandi yang mustahil untuk dimengerti. Meskipun terdiri dari banyak perumpamaan, kata kiasan yang detail, dan juga catatan mengenai penglihatan yang luar biasa, Injil ditulis oleh manusia untuk diberikan kepada manusia.

Pesan tentang kasih dan penyelamatan Allah sangatlah jelas dan tidak mungkin salah. Para penulis Alkitab digerakkan Roh Allah untuk mencatat dengan tepat semua yang Dia ingin kita ketahui. Selama berabad-abad manusia telah dibebaskan dari dosa dan rasa bersalah mereka karena mempercayai pesan-Nya. Kita semua berutang besar kepada para penyampai pesan ini.

Kita bahkan berutang lebih besar lagi kepada para penulis Kitab Suci, yang menerima firman Allah dan menuliskannya. Oleh sebab itu, marilah kita sering-sering membacanya --Dave Egner

2 Oktober 2003

Peti Harta Allah

Nats : Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta (Mazmur 119:14)
Bacaan : Mazmur 119:9-16

Kebanyakan dari kita tentu tidak akan membiarkan begitu saja selembar uang yang tergeletak di tanah. Dengan senang hati kita akan memungut dan memasukkannya ke dalam saku. Padahal kita kerap mengabaikan Alkitab, peti harta yang berlimpah dengan janji Allah yang berharga. Daud, penulis Mazmur 119, mencatat berkat-berkat yang dialaminya ketika mempelajari firman Allah, lalu menyimpan semua itu di dalam hatinya. Maka tidak mengherankan jika pendeta asal Inggris, Charles H. Spurgeon, menyebut kitab itu sebagai "buku saku Daud".

Daud tidak hanya bersukacita di dalam firman Allah, tetapi juga memakai firman itu sebagai pertahanan diri melawan dosa. Ia berkata kepada Allah, "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (ayat 11). Namun, Daud tidak hanya mengingat janji-Nya. Ia juga memenuhi hatinya dengan kebenaran janji Allah dengan cara: merenungkan titah-titah-Nya, mengamat-amati jalan-Nya, dan bergemar dalam ketetapan-ketetapan Tuhan (ayat 15,16). Oleh sebab itu, Daud mampu berkata, "Firman-Mu tidak akan kulupakan" (ayat 16), karena kita tidak mudah melupakan sesuatu yang kita simpan di dalam hati.

Saat membaca Renungan Harian, luangkanlah waktu untuk membaca ayat- ayat Alkitabnya. Alkitab, peti harta Allah, adalah dasar dari seluruh artikel dalam buku renungan ini. Pakailah artikel-artikel itu untuk membantu Anda mendapatkan batu permata yang berharga dalam firman Allah. Seperti halnya Daud, simpanlah firman itu di dalam hati, sehingga Anda akan mengingatnya dan bersukacita --Joanie Yoder

17 Oktober 2003

Gereja yang Kokoh

Nats : Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Matius 16:18)
Bacaan : Matius 16:13-20

Seorang pemimpin sebuah jaringan pertokoan yang besar dan sukses membuat sebuah pernyataan mengejutkan tentang masa depan perusahaannya. Ia mengatakan bahwa seratus tahun dari sekarang, perusahaannya akan mengalami kemajuan yang begitu pesat atau justru akan mati.

Hal serupa terjadi pada setiap organisasi duniawi. Pemimpin datang dan pergi, selera konsumen berubah, metode produksi berkembang. Akibatnya, perusahaan-perusahaan harus berubah. Jika tidak, mereka tidak akan bertahan.

Menurut Yesus, gereja-Nya tidak akan mengalami hal yang demikian. Mungkin akan ada beberapa organisasi gereja yang berakhir, namun "alam maut" tidak akan pernah menang melawan gereja yang dibangun oleh Yesus. Saat Dia berkata "jemaat-Ku" (Matius 16:18), yang Dia maksudkan adalah semua orang percaya -- baik dahulu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Paulus menyebut kelompok yang besar ini "tubuh Kristus" (1 Korintus 12:27).

Saat kita mempercayai Yesus, kita menjadi anggota tubuh-Nya, yaitu gereja. Dan saat Yesus menyebut "alam maut", Dia mengacu pada kematian, karena alam maut adalah tempat kediaman orang-orang yang telah meninggal dunia. Satu demi satu orang percaya mati dan berjalan melalui "gerbang-gerbang" itu, namun hal ini tidak mengubah ataupun memperkecil gereja. Mereka hanya bergabung dengan para pemenang di "Yerusalem surgawi" (Ibrani 12:22-24).

Terpujilah Allah, karena gereja tak dapat dihancurkan! --Herb Vander Lugt

21 Desember 2003

Selalu Benar

Nats : Oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (2Petrus 1:21)
Bacaan : 2 Petrus 1:16-21

Seorang peramal cuaca menyombongkan diri, "90 persen dari 10 persen ramalan yang saya buat adalah benar." Itu adalah pernyataan yang menggelikan. Namun sebagian orang sering mempergunakan kalimat membingungkan yang tampak benar seperti itu untuk menutupi citra buruknya.

Namun, catatan nubuatan Alkitab sungguh-sungguh akurat. Mari kita lihat beberapa contohnya.

Tuhan Yesus dilahirkan di kota Betlehem (Mikha 5:1) dari seorang perawan (Yesaya 7:14) pada waktu yang telah ditentukan (Daniel 9:25). Bayi-bayi di Betlehem dibunuh seperti yang dinubuatkan (Yeremia 31:15). Yesus mengungsi ke Mesir dan kembali lagi (Hosea 11:1). Yesaya menubuatkan pelayanan Kristus di Galilea (Yesaya 9:1,2). Zakharia menubuatkan bahwa Dia akan dielu-elukan ketika memasuki Yerusalem dengan menunggang keledai muda (Zakharia 9:9), dan Dia dikhianati demi 30 keping perak (ayat 11:12,13). Daud tidak pernah menyaksikan penyaliban ala Romawi, namun dalam Mazmur 22, melalui pewahyuan ilahi, ia juga menuliskan gambaran yang jelas tentang kematian Yesus. Yesaya 53 memberikan gambaran secara gamblang mengenai penolakan, penganiayaan, kematian, dan penguburan Tuhan kita. Beberapa nubuatan ini (dan masih banyak lagi) seharusnya memberi kesan yang meyakinkan bagi kita akan keandalan Alkitab.

Karena semua nubuatan ini telah digenapi, marilah kita juga menerima dengan penuh keyakinan apa yang dikatakan Alkitab mengenai masa depan. Ingatlah, kita mempunyai kitab nubuatan yang benar -- sepanjang masa! --Richard De Haan

16 Maret 2004

Cari dan Dapatkan

Nats : Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan ... mendapat pengenalan akan Allah (Amsal 2:4,5)
Bacaan : Amsal 2:1-6

Justin Martyr adalah pria abad ke-2 yang rindu mencari kebenaran. Ia membaca buku-buku penulis klasik Yunani, mempelajari dan menganalisa setiap filosofi dari segala sudut. Ia mencari pemahaman, terutama jawaban bagi kerinduannya akan kemurnian seks. Namun, usahanya sia-sia. Ia menulis, “Akhirnya, ketidaksetiaan akan muncul, dan cepat atau lambat akan mengkhianati cinta.”

Suatu hari, ia berjalan-jalan tanpa tujuan menyisir pantai, dan bertemu seorang pria tua yang ucapannya menyentuh hati. Belum pernah ada yang berkata seperti itu kepadanya. Pria itu memperkenalkan Allah kepadanya melalui Yesus Kristus. Dengan kesaksian sederhana itu, Justin mendapatkan pengetahuan yang selama ini dicarinya sepanjang hidup, yakni “pengenalan akan Allah” (Amsal 2:4,5).

Mungkin seperti Justin, Anda pun tengah mencari pemahaman ke mana-mana untuk mendapat jawaban yang Anda rindukan tentang kebenaran. Anda telah banyak membaca dan berpikir sungguh-sungguh tentang kehidupan, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan kebutuhan terdalam jiwa Anda. Jika demikian, bacalah Injil, empat kitab pertama Perjanjian Baru. Saat membacanya, berserulah kepada Allah, supaya diberi pengertian. Dia akan mendengar Anda, dan Anda akan mendapatkan pengenalan akan Allah melalui Yesus Kristus (Yohanes 17:3).

Allah tidak memaksakan kebenaran kepada mereka yang tidak menginginkannya. Namun, Dia mendengar seruan mereka yang sungguh-sungguh memintanya. Yesus berkata, “Mintalah maka kamu akan menerima” (Yohanes 16:24) —David Roper

15 Mei 2004

Buku Kuno

Nats : Telah kutemukan kitab Taurat itu di rumah Tuhan! (2 Raja-raja 22:8)
Bacaan : 2 Raja-raja 22:8-13

Dua orang pegawai Senat Amerika Serikat sedang membersihkan sebuah gudang yang berada di bawah gedung Capitol saat mereka melihat sebuah pintu yang setengah terbuka. Karena penasaran, mereka masuk dan menemukan ruangan kecil yang penuh sesak oleh selebaran-selebaran kuno dan catatan daftar gaji yang berdebu. Sebuah buku bersampul kulit dan bertuliskan tinta emas menarik perhatian mereka. Buku itu berjudul: Senators’ Compensation and Mileage. Buku itu merupakan catatan dari tahun 1790-1881.

Sungguh penemuan yang luar biasa! Buku tersebut merupakan catatan langka dari setiap dolar yang diterima oleh para senator sepanjang 90 tahun pertama Senat AS. Ditambah lagi, buku itu memuat tanda tangan asli dari dua bapak pendiri Amerika Serikat, yaitu Thomas Jefferson dan John Adams. “Buku tersebut sangat berarti,” kata ahli sejarah Richard Baker. “Tidak ada dokumen-dokumen sejarah lain milik Senat yang dapat menandingi nilai buku itu.”

Saya membayangkan bahwa imam besar Hilkia pasti jauh lebih gembira saat ia menemukan “Kitab Taurat” yang telah lama hilang di dalam celah tersembunyi di bait Allah (2 Raja-raja 22:8). Raja Yosia menyadari nilai kitab tersebut dan memerintahkan agar kitab itu dibacakan dengan lantang bagi semua orang Yehuda (23:1,2).

Mungkin sudah lama Anda tidak membaca beberapa bagian Alkitab seperti kitab Imamat, Zakharia, atau Filemon. Bukalah kembali dan cobalah untuk membacanya. Kitab-kitab tersebut sangat berarti—dan mungkin pesan-pesannya justru yang Anda butuhkan —Dave Egner

4 Juli 2004

Konstitusi yang Kuat

Nats : Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9)
Bacaan : 1 Petrus 2:1-10

Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat menyatakan bahwa semua orang “diciptakan setara” dan kita dikaruniai “hak-hak tertentu yang tak dapat dirampas orang lain”. Konstitusi tersebut menjamin bahwa pemerintah akan melindungi hak-hak itu bagi seluruh warga negaranya. Kedua dokumen itu menyatakan dengan jelas bahwa kemerdekaan bangsa terutama bergantung pada konstitusi yang kuat.

Alkitab merupakan “pernyataan hak asasi manusia” yang jauh lebih baik daripada kedua dokumen ini. Alkitab berasal dari Allah sendiri, yang mendasarinya dengan keadilan-Nya, keprihatinan-Nya atas umat manusia, dan kedaulatan-Nya. Dan inilah satu-satunya perjanjian yang menjamin kebebasan dari hukuman dan kuasa dosa.

Seseorang datang kepada seorang pendeta untuk memperoleh nasihat tentang nilai-nilai religius dan kebebasan yang menyertainya. “Apa yang harus saya lakukan untuk mencapai kekudusan?” tanyanya. Pendeta itu menjawab, “Ikutilah kata hatimu.” Kemudian ia menambahkan, “Untuk mengikuti kata hatimu, kau memerlukan sebuah konstitusi yang kuat.” “Konsititusi yang mana?” tanya pria itu. “Alkitab!” jawab si pendeta.

Petrus mengatakan bahwa orang-orang kristiani, sebagai “bangsa yang kudus”, diminta “supaya memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Di sanalah kita menemukan kebebasan sejati. Ketika kita hidup berdasarkan “konstitusi”, kita akan menikmati hak-hak kita dan dapat memenuhi panggilan kita —Dennis De Haan

21 Juli 2004

Pencari Kebenaran

Nats : Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku (Mazmur 119:93)
Bacaan : Mazmur 119:89-96

Ada seorang gadis yang memulai pencariannya akan Allah ketika ia berusia 11 tahun, dan hidup di bawah komunisme ateis di negara bekas Uni Soviet. Ketika itu ia melihat beberapa karya seni yang melukiskan bayi Yesus. Saat ia mendengar bahwa karya seni ini menggambarkan apa yang disebut para penguasa sebagai “mitos” tentang Allah yang mengirimkan Putra-Nya ke bumi, ia mulai mencari kebenaran tentang itu.

Ia juga mendengar bahwa Allah telah menulis sebuah buku tentang kebenaran-Nya, dan ia mencari salinannya. Tidak sampai menjelang usia 30 tahun, akhirnya wanita itu menemukan sebuah Alkitab yang boleh ia baca. Akhirnya ia mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk memercayai Yesus sebagai Sang Juruselamat.

Dari tahun 1971 sampai 1989, gadis ini mengambil risiko mempertaruhkan keselamatannya untuk mencari kebenaran firman Allah. Kini ia berprofesi sebagai seorang pengacara yang bekerja untuk melindungi rekan-rekannya sesama warga Rusia dari penyiksaan karena iman. Pesan kasih Allah di dalam Kristus menyebar karena seorang wanita yang mencari kebenaran.

Kebenaran Allah dapat berdampak kepada kita dan kepada orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Pemazmur menulis, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku .... Sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku” (Mazmur 119:92,93).

Mari jadikan Alkitab sebagai kesukaan kita. Allah akan memberi kita hasrat akan firman-Nya yang kekal jika kita menjadi pencari kebenaran —Dave Branon

14 Agustus 2004

Alkitab Terbukti Benar!

Nats : Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya (Ibrani 11:30)
Bacaan : Yosua 6:1-5,20

Orang-orang nonkristiani telah lama mencemooh kisah Alkitab tentang runtuhnya kota kuno Yerikho. Itulah sebabnya saya merasa senang ketika melihat berita utama di halaman depan sebuah surat kabar: PENELITIAN TERAKHIR MENDUKUNG KISAH ALKITAB TENTANG RUNTUHNYA YERIKHO

Artikel di surat kabar The Associated Press itu diawali dengan kalimat, "Sebuah penelitian arkeologi membuktikan bahwa tembok Yerikho memang roboh sebagaimana yang diceritakan dalam Alkitab." Arkeolog Bryant G. Wood dari University of Toronto berkata demikian, "Ketika kami membandingkan penemuan arkeologis di Yerikho dengan kisah di dalam Alkitab yang menggambarkan penghancuran bangsa Israel atas Yerikho, kami akhirnya sampai pada kesepakatan yang luar biasa." Wood menulis bahwa Alkitab mengisahkan bahwa penghancuran itu terjadi setelah masa panen musim semi, dan menunjukkan bahwa bangsa Israel memang membakar kota tersebut. Kedua fakta tersebut didukung oleh sisa-sisa peninggalan arkeologis yang ditemukan. Sekali lagi, ilmu arkeologi menyampaikan kesaksian tentang kebenaran Kitab Suci.

Keyakinan kita tentang keabsahan Alkitab tidak tergantung pada penelitian ilmiah, tetapi pada pernyataannya sebagai firman Allah. Dalam 2 Timotius 3:16, dikatakan, "Segala tulisan ... diilhamkan Allah". Oleh karena itu, kita dapat meyakini sepenuhnya apa yang dikatakan Alkitab.

Ini adalah fakta. Tembok Yerikho benar-benar telah runtuh. Alkitab terbukti benar! --Richard De Haan

30 Desember 2004

Tidurkah Malaikat?

Nats : Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan (Ulangan 30:14)
Bacaan : Ulangan 30:11-14

Seorang teman saya memiliki seorang putri berusia lima tahun yang mulai menunjukkan minatnya pada bidang teologi. Pada suatu hari ia bertanya kepada ayahnya, “Apakah para malaikat tidur seperti kita?” Sesudah merenungkan dimensi teologis dari pertanyaan anaknya itu, ia menjawab, “Ya, mungkin mereka tidur.” Putrinya itu kemudian melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, “Kalau begitu, bagaimana cara mereka mengenakan piya-ma supaya piyama itu dapat melewati sayap mereka?”

Tanpa kita sadari, kita mungkin sama seperti gadis kecil itu. Kita tampaknya tidak pernah berhenti menanyakan pertanyaan-pertanyaan menarik yang tidak per-lu dijawab. Keingintahuan adalah sesuatu yang sehat, tetapi terobsesi oleh hal-hal yang tidak penting tidaklah sehat. Pertanyaan-pertanyaan demikian dapat membelokkan kita dari iman.

Yang perlu kita ketahui mengenai Allah dan kehendak-Nya bagi kita sudah dinyatakan dengan jelas di dalam Kitab Suci. Selain itu firman yang disampaikan-Nya melalui Musa kepada umat-Nya juga benar bagi kita pada saat ini. “Sebab perintah ini, yang Kusampaikan kepadamu pada hari ini tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak terlalu jauh ... Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ulangan 30:11, 14).

Alkitab bukanlah teka-teki, melainkan suatu pewahyuan. Alkitab memberitahukan segala hal yang kita perlukan untuk mengetahui kehendak Allah di dalam setiap situasi kehidupan kita —Haddon Robinson

18 Februari 2005

Mendengarkan dan Melakukan

Nats : Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yakobus 1:22)
Bacaan : Yakobus 1:19-27

Saya membaca kisah tentang lelaki di kota New York yang meninggal di usia 63 tahun. Ia tak pernah bekerja. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di perguruan tinggi. Ia meraih banyak gelar akademik, sehingga tampak seperti deretan alfabet di belakang namanya.

Mengapa ia menghabiskan seluruh hidupnya di perguruan tinggi? Ketika ia masih kanak-kanak, seorang famili dekatnya yang kaya raya meninggal dan menunjuknya sebagai ahli waris dalam surat wasiatnya. Di situ tertulis bahwa setiap tahun ia akan mendapatkan cukup uang untuk mendukung kebutuhannya selama ia bersekolah. Dan bantuan ini akan dihentikan bila ia menyelesaikan pendidikannya.

Lelaki ini memenuhi persyaratan surat wasiat itu. Tetapi dengan bersekolah dalam jangka waktu yang tidak terbatas, ia mengubah persyaratan teknis ini menjadi sumber pendapatan tetap. Itu adalah sesuatu yang tidak dikehendaki oleh pemberi waris. Sayang, ia menghabiskan ribuan jam dengan mendengarkan para dosen dan membaca buku-buku tetapi tak pernah menerapkannya. Ilmunya semakin banyak, tetapi tak pernah dipraktikkan.

Hal ini mengingatkan saya akan apa yang dikatakan Yakobus, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja” (1:22). Jika kita membaca Alkitab atau mendengarkan ajarannya tetapi tidak melakukannya, kita sama buruknya dengan lelaki yang menyandang sederetan gelar itu. Pendidikannya tidak memberikan keuntungan praktis bagi siapa pun.

Mendengarkan harus disertai dengan perbuatan —Richard De Haan

4 April 2005

Hikmat Firman Allah

Nats : Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? ... Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? (1Korintus 1:20)
Bacaan : Amsal 8:12-21

Kita menggali Kitab Suci. Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan mengajarkan kepada kita jalan menuju hidup yang berkelimpahan di dunia ini serta hidup kekal di dunia yang akan datang. Memang benar, Kitab Suci merupakan sumber hikmat yang melebihi hikmat para filsuf yang paling bijaksana sekalipun (1 Korintus 1:20). Akan tetapi, fakta ini jarang diakui dalam kebudayaan kita.

Maka saya pun gembira pada saat membaca sebuah artikel yang ditulis oleh kolumnis The New York Times, David Brooks, yang memuji hikmat alkitabiah. Ia memuji Martin Luther King Jr. karena wawasan tentang sifat manusia diperolehnya dari Kitab Suci. Ia merasa bahwa King "memiliki pandangan yang lebih akurat tentang realitas politik dibandingkan sekutu-sekutu liberalnya yang lebih sekuler karena ia dapat memanfaatkan hikmat alkitabiah mengenai sifat manusia. Agama tidak hanya membuat para pemimpin yang merumuskan hak asasi manusia lebih kuat—agama membuat mereka lebih pintar". Dan Brooks berkata lebih lanjut, "Hikmat alkitabiah lebih dalam dan lebih akurat daripada hikmat yang ditawarkan ilmu-ilmu sosial sekuler."

Apakah kita memanfaatkan sumber hikmat itu di dalam kehidupan kita? Kita membutuhkan hikmat Kitab Suci untuk mengatasi masalah-masalah pribadi kita dan persoalan politik. Jika kita mempelajari dan menaati Alkitab, kita akan dapat bersaksi dengan rendah hati bersama sang pemazmur, "Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan" (Mazmur 119:99) —VCG

20 April 2005

Allah yang Mutlak

Nats : Aku, Tuhan, tidak berubah (Maleakhi 3:6)
Bacaan : Maleakhi 3:6-12

Saya meragukan ketepatan timbangan badan yang terletak di kamar mandi kami. Karena itu saya telah belajar untuk memanipulasinya dengan cara saya sendiri. Saya dapat mengubah-ubah tombol kecil di samping timbangan, dan jika hal itu terlalu sulit, saya cukup memiringkan badan ke arah tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh angka yang bagus—semoga saja berkurang beberapa kilogram.

Kita hidup pada zaman di mana banyak orang merasa yakin bahwa tidak ada hal yang mutlak. Sikap melayani diri sendiri merajalela dan menginjak-injak hukum moral yang diberikan bagi perlindungan masyarakat. Budaya kita membanggakan "kebebasan" yang sesungguhnya merupakan perbudakan dari dosa (Roma 6:16,17).

Namun ada Allah yang mutlak dan timbangan-Nya selalu tepat. Bersama Dia, satu kilo adalah satu kilo, benar adalah benar, dan salah adalah salah. Dia berkata, "Aku, Tuhan, tidak berubah" (Maleakhi 3:6).

Bagi kita sebagai orang percaya, hal ini seperti besi baja yang menjadi tulang punggung rohani kita. Kita mendapatkan rasa percaya diri saat menghadapi kesulitan dan memperoleh keyakinan akan penggenapan setiap janji ilahi.

Apabila Allah dapat dengan mudah berubah pikiran, maka kehidupan kekal kita akan terus-menerus berada di dalam situasi yang membahayakan. Akan tetapi, karena Dia merupakan Pribadi Yang Tidak Berubah, maka kita "tidak akan lenyap" (ayat 6). "Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi" (Ratapan 3:22,23) —PRVG

26 Mei 2005

Kini dan Selamanya

Nats : Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yakobus 1:21)
Bacaan : Yehezkiel 33:23-33

Rasa ngeri mencekam hati seorang tentara ketika mortir berdesing di atas kepalanya, senapan meletus, dan musuh mendekat. Tiba-tiba rasa sakit mengoyaknya ketika sebutir peluru menembus dada dan lengannya. Namun itu bukan akhir hidup tentara tersebut. Menurut artikel di The New York Times, peluru itu diperlambat oleh Perjanjian Baru yang dibawa di saku bajunya. Bertahun-tahun kemudian, orang ini masih menyimpan kitab yang terkena noda darah dengan lubang kasar di tengah-tengahnya itu. Ia percaya kitab itu telah menyelamatkan hidupnya.

Ini memang cerita yang menarik, tetapi ini tidak ada kaitannya dengan pertolongan rohani yang menyelamatkan hidup yang dapat diberikan oleh Alkitab. Dalam kitab Yehezkiel 33, kita membaca bahwa bangsa Israel kuno merasa terhibur dengan nubuat para nabi, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk mengubah hidup. Mereka menyalahgunakan janji-janji Allah kepada Abraham untuk mendukung klaim mereka sendiri atas tanah (ayat 24). Mereka senang mendengarkan nubuat nabi (ayat 30), namun Tuhan berfirman kepada Yehezkiel, "Mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya" (ayat 31). Hasilnya? Mereka menerima hukuman Allah.

Demikian pula sekarang, firman Allah tidak untuk dipuja-puja sebagai pembawa keberuntungan atau untuk meringankan beban pikiran dengan membawa kelegaan sementara dari kecemasan. Firman diberikan untuk dilaksanakan sehingga bantuan-Nya tidak hanya berlaku untuk kehidupan sekarang ini, tetapi juga untuk selamanya —MRD II

17 Juni 2005

Menghalau Iblis

Nats : Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7)
Bacaan : Yakobus 4:7-10

Di Texas, tempat saya dibesarkan, kata yang biasa diucapkan untuk merespons seseorang yang bersin adalah, "Scat!" [Ind: Enyah!]. Ini adalah hal yang lazim, tetapi saya tidak tahu alasan kami mengucapkannya. Sekarang saya tahu. Ternyata ini adalah kebiasaan lama yang berasal dari zaman kuno, yaitu ketika orang-orang percaya bahwa bersin mengeluarkan setan. Mereka berkata, "Scat!" untuk menghalaunya.

Tentu saja itu hanya takhayul. Ada cara yang lebih baik dan alkitabiah untuk mengusir setan.

Muslihat setan selalu dimulai dengan sebuah kebohongan, arahan yang keliru, pemutarbalikan kebenaran yang tak kentara, yang jika dilakukan akan menjauhkan kita dari Allah. Tawaran setan jarang terlihat jahat, karena pikiran kita langsung menolak kejahatan yang tampak jelas. Kerap kali tawaran setan itu menyamar sebagai kebaikan. Setan menambahkan jejak-jejak anugerah dan keindahan pada setiap godaan. Jika kita tidak menyadari sifatnya yang mematikan, kita mudah terjerumus ke dalamnya.

"Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). Seranglah balik kebohongan setan ketika pertama kali masuk ke dalam pikiran Anda. Hadapilah segera dengan menggunakan firman Allah dan usirlah kebohongan itu, seperti Anda mengusir wiraniaga yang ngotot sebelum ia menginjakkan kaki di ambang pintu rumah Anda. Ingatlah sebuah ayat atau bagian Kitab Suci yang berbicara tentang kebohongan yang ditawarkan Iblis kepada Anda, dan tunduklah pada kebenaran itu.

Begitulah cara mengusir iblis —DHR

3 Juli 2005

Injil Lain

Nats : Kamu begitu lekas berbalik ... dan mengikuti suatu injil lain (Galatia 1:6)
Bacaan : Galatia 1:6-12

Apa tantangan terbesar bagi kita sebagai orang kristiani di abad 21? Apakah amoralitas yang merajalela? Apakah masalah sosial yang memecah belah? Apakah meningkatnya sikap melawan Allah? Hal-hal tersebut tentu saja berbahaya. Namun, dengan berani saya katakan bahwa ancaman terbesar terhadap kita adalah kepercayaan, yaitu kepercayaan yang menjauhkan kita dari Injil.

Beberapa kepercayaan menentang Kristus secara terbuka, namun kepercayaan yang lain melakukannya secara halus. Mereka menggunakan bahasa yang sudah dikenal orang kristiani, menjadikannya terdengar tidak asing lagi. Lalu mereka menambahkan jalan pikiran yang sesat ke dalamnya.

Jika kelompok-kelompok tersebut terdengar begitu kristiani, bagaimana kita bisa tahu jika mereka mengajarkan injil lain? (Galatia 1:6). Di bawah ini adalah beberapa pengajaran sesat yang perlu diwaspadai.

1. Keselamatan melalui hal lain selain iman kepada karya yang sudah diselesaikan Yesus di atas kayu salib (Rasul 4:12)

2. Tidak mau menganggap Yesus sebagai Allah kekal dalam rupa manusia, satu-satunya Juruselamat (Yohanes 1)

3. Lebih memerhatikan kata-kata manusia daripada firman Allah (1Korintus 2:12,13)

4. Pemimpin yang tak membimbing seperti Kristus melalui petunjuk alkitabiah yang benar (1Timotius 4:6; Yudas 4)

Ada orang-orang yang ingin memimpin Anda kepada injil lain. Pelajarilah firman Allah, sehingga Anda tidak akan tertipu JDB

1 Agustus 2005

Sesuai Aturan Pakai

Nats : Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku (Yeremia 15:16)
Bacaan : Mazmur 119:33-48

Dr. Smiley Blanton adalah seorang ahli jiwa kota New York yang sibuk. Ia menyimpan sebuah Alkitab di atas mejanya. Karena agak terkejut melihat hal tersebut, seorang klien bertanya kepadanya, Apakah Anda, sebagai seorang ahli jiwa, membaca Alkitab?

Saya tidak hanya membacanya, tetapi juga mempelajarinya, kata Dr. Blanton yang adalah seorang kristiani yang saleh. Lalu ia menambahkan, Jika orang-orang bersedia menyerap pesannya, maka banyak ahli jiwa yang akan kehilangan pekerjaan.

Untuk memperjelas maksudnya, Dr. Blanton mengatakan bahwa jika para klien yang terganggu oleh perasaan bersalah bersedia membaca perumpamaan tentang anak yang hilang dan bapanya yang mau mengampuni (Lukas 15:11-32), maka mereka dapat menemukan kunci kesembuhan.

Apakah kita mencari kesembuhan di dalam firman Allah yang penuh kuasa? Kita mungkin membaca Alkitab, namun apakah kita benar-benar meyakini, mempelajari, dan menerapkan ajaran-ajarannya? Kebenaran Kitab Suci yang menyelamatkan merupakan obat Allah yang manjur untuk membebaskan kita dari penyakit dosa.

Nabi Yeremia, di tengah kesulitan dan penderitaan, menemukan sukacita di dalam firman Tuhan (Yeremia 15:16). Sang pemazmur yang mencintai perintah-perintah Allah (Mazmur 119:48) berkata kepada-Nya, Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu .... Aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu (ayat 47,48).

Seperti layaknya obat, firman Allah pun harus digunakan sesuai dengan aturan pakai. Apakah Anda telah menyerap kebenarannya? VCG

2 September 2005

Petunjuk yang Baik

Nats : Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan (Ulangan 6:6)
Bacaan : Ulangan 6:1-9

Ketika saya tengah duduk di bangku SMA, instruktur mengemudi saya memberikan saran yang bijak. Apakah kamu pikir dengan melihat kaca spion, kamu akan mengetahui apa yang ada di sisi kirimu? Padahal sebenarnya penglihatanmu melalui kaca spion itu terbatas, katanya. Karena itu, menengoklah selalu ke samping sebelum kamu berpindah jalur. Barangkali, tanpa engkau sadari, ada mobil lain yang sedang melintas. Petunjuk yang bijak ini telah menghindarkan saya dari kecelakaan parah yang bisa saja terjadi.

Musa juga memiliki beberapa petunjuk yang bijak bagi umat Israel. Mempelajari dan merenungkan perintah-perintah Allah harus mereka jadikan bagian dari hidup. Musa berkata, Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun (Ulangan 6:7). Secara singkat, firman Allah harus merasuk ke dalam setiap aspek hidup mereka.

Alkitab merupakan petunjuk dari Allah sendiri bagi kita untuk mengarahkan bahtera hidup. Akan tetapi, memiliki Alkitab saja tidak cukup. Alkitab harus dipelajari, diterapkan, dan dibagikan kepada sesama.

Sama seperti kita selalu menengok ke belakang pada saat akan berpindah jalur di jalan raya, menerapkan firman Allah pun harus menjadi respons alami kita pada saat menghadapi permasalahan hidup. Hal itu akan membantu kita terhindar dari kecelakaan rohani HDF

26 Oktober 2005

Gigi Manis

Nats : Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku (Mazmur 119:103)
Bacaan : Mazmur 119:97-104

Wanita itu pasti suka sekali makan cokelat! Ia berhenti di toko Woolworth di London dan meminta setiap batang cokelat Mars yang ada. Ia membayar tunai untuk 10.656 batang cokelat. Melihat hal itu tak ada orang yang susah-susah bertanya mengapa ia menginginkan begitu banyak cokelat, tetapi ada satu orang yang dengan menyindir berkata, “Mungkin ia memiliki gigi manis.”

Pemazmur juga memiliki “gigi manis”-untuk sesuatu yang jauh lebih sehat daripada cokelat. Ia sangat menyukai firman Allah dan ia merasakan firman itu “lebih manis daripada madu” (Mazmur 119:103).

Bagaimana kita dapat mengembangkan selera rohani kita supaya kita menjadi sangat menyukai manisnya firman Allah?

Bacalah firman Allah. Tampaknya hal ini mudah dimengerti, tetapi Anda harus membaca firman Allah jika Anda ingin belajar mencintainya seperti pemazmur. Luangkan waktu selama beberapa menit setiap hari dan bacalah satu perikop. Renungkanlah kata-katanya, maknanya, dan konteksnya.

Renungkanlah firman Allah. Tuliskan sebuah ayat dan bawalah selalu. Bacalah firman tersebut sesering mungkin sepanjang hari. Ikuti teladan pemazmur dan “merenungkannya sepanjang hari” (ayat 97).

Terapkanlah firman Allah. Bertanyalah kepada Allah pemahaman seperti apa yang Dia inginkan dari Anda dan bagaimana menerapkannya bagi hidup Anda sepanjang hari.

Firman Allah akan memberi Anda “gigi manis” dan puaslah senantiasa dengan firman Allah tersebut -AMC

6 Januari 2006

Terjemahan Ibu

Nats : Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel (Ezra 7:10)
Bacaan : Ezra 9:5-15

Empat orang pendeta sedang membahas keunggulan berbagai terjemahan Alkitab. Yang satu menyukai suatu versi tertentu karena kesederhanaan dan keindahan bahasa Inggrisnya. Yang lainnya lebih menyukai sebuah edisi yang lebih ilmiah karena lebih mendekati naskah asli bahasa Ibrani dan Yunani. Namun, yang lainnya lagi menyukai sebuah versi kontemporer karena kosakatanya yang modern.

Pendeta keempat terdiam sesaat, lalu berkata, "Saya sangat menyukai terjemahan ibu saya." Ketiga pria lainnya terkejut dan mengatakan bahwa mereka tidak tahu kalau ibunya juga telah menerjemahkan Alkitab. "Ya," jawabnya. "Ibu saya menerjemahkannya ke dalam hidup, dan terjemahan itu adalah terjemahan paling meyakinkan yang pernah saya lihat."

Daripada membahas terjemahan mana yang lebih disukai, pendeta ini justru mengingatkan mereka bahwa seharusnya pusat perhatian yang terpenting adalah mempelajari firman Allah dan melakukannya. Ini merupakan prioritas utama kehidupan Ezra. Sebagai seorang ahli kitab, ia mempelajari Taurat, menaatinya, dan mengajarkannya kepada orang-orang Israel (Ezra 7:10). Sebagai contoh, Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka yang menyembah dewa berhala (9:1,2). Ezra mengakui dosa bangsa Israel kepada Allah (9:10-12) dan menegur orang-orang Israel, yang kemudian bertobat (10:10-12).

Mari kita ikuti teladan Ezra dengan meneliti firman Allah dan menerjemahkannya ke dalam hidup --AMC

6 Februari 2006

Gagasan Jordan

Nats : Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, ... untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Timotius 3:16)
Bacaan : 2Timotius 3:14-17

Suatu hari di musim semi, Jordan mulai menanyakan kebangkitan Yesus ketika ibunya membawanya ke taman bermain. Karena ibunya sadar bahwa Jordan mengira Yesus bangkit dari kematian untuk pertama kalinya pada hari Raya Paskah saat itu, sang ibu mencoba meluruskannya. Ia menepikan mobil dan menceritakan segala hal tentang wafat dan kebangkitan Yesus. Ia mengakhiri, "Yesus bangkit dari antara orang mati pada zaman dahulu, dan kini Dia ingin tinggal di dalam hati kita." Namun, Jordan masih tidak memahami penjelasan ibunya.

Karena bingung bagaimana ia dapat menjelaskan lebih baik, sang ibu berkata, "Bagaimana kalau kita mampir di toko buku? Ibu melihat beberapa buku tentang Paskah ketika ke sana minggu lalu. Kita akan membeli satu buku dan membacanya bersama-sama." Dengan hikmat yang melampaui umurnya, Jordan menjawab, "Tidak bisakah kita membaca Alkitab saja?"

Gagasan Jordan benar. Buku-buku tafsir dan buku tentang Alkitab adalah alat yang membantu. Namun buku-buku itu seharusnya jangan pernah digunakan untuk menggantikan pewahyuan Allah akan Diri-Nya sendiri firman-Nya.

Tidak ada buku lain selain Alkitab yang diberikan kepada kita dengan ilham Allah (2Timotius 3:16). Seorang pengarang bernama Eugene Peterson berkata, "Suara Allah berbicara kepada kita, mengundang, menjanjikan, memberkati, menegur, menguatkan, menyembuhkan."

Mari kita ikuti gagasan Jordan dan terlebih dahulu memakai sumber kebenaran sejati, yaitu Alkitab --AMC

15 Maret 2006

Latihan Otak

Nats : Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)
Bacaan : Roma 12:1-8

Ada sebuah istilah yang lazim digunakan oleh para ilmuwan peneliti otak manusia. "Gunakan otak Anda sebelum Anda kehilangannya." Kita memiliki kemampuan untuk menjaga agar otak kita sehat dan bekerja dengan baik. Dr. Lawrence Katz, seorang ahli syaraf dari Duke University, menyarankan orang-orang untuk melakukan latihan otak setiap hari, seperti menyikat gigi dengan tangan yang tidak dominan atau melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda, untuk merangsang kemampuan otak sekaligus menjaganya tetap sehat. Tujuan latihan ini adalah untuk menggantikan rutinitas yang sudah dihafal dengan kesadaran yang segar dan fokus yang baru.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita dapat memetik pelajaran dari hal ini. Bahkan membaca Alkitab dan berdoa, yang merupakan disiplin rohani yang penting, dapat menjadi sebuah kebiasaan belaka yang tidak lagi melibatkan kesadaran kita.

Agar tidak tergelincir pada kebiasaan rohani semacam itu, mungkin Anda perlu menghafal ayat Kitab Suci pada saat teduh Anda setiap hari. Itu merupakan latihan otak yang dilakukan untuk mencapai perubahan rohani. Sang pemazmur menulis, "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (Mazmur 119:11). Paulus berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna" (Roma 12:2).

Menghafal dan merenungkan firman Allah yang penuh kuasa adalah sesuatu yang lebih berarti daripada latihan otak --DCM

1 April 2006

Buku yang Terlupakan

Nats : Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku (Mazmur 119:93)
Bacaan : Mazmur 119:89-104

Suatu kali seorang anak kecil memerhatikan sebuah buku besar berwarna hitam. Buku itu berselimut debu dan ditaruh di sebuah rak yang tinggi. Kemudian dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya kepada ibunya tentang buku itu. Dengan malu sang ibu segera menjelaskan, "Itu Alkitab. Bukunya Allah." Anak itu berpikir sesaat, lalu berkata, "Kalau itu bukunya Allah, mengapa kita tidak mengembalikannya saja kepada Allah? Kan tidak ada lagi seorang pun di sini yang membacanya."

Dalam banyak keluarga, Alkitab nyaris tidak pernah dibaca atau bahkan dipedulikan keberadaannya. Orang membacanya hanya tatkala muncul masalah, penyakit, atau kematian di tengah keluarga. Bahkan pada saat seperti itu pun seseorang bisa jadi masih kebingungan ke mana harus mencari bantuan yang dibutuhkan.

Kapan terakhir kali Anda mengambil Alkitab dan mempelajarinya untuk mendapatkan sukacita, menerima teguran rohani, dan mengalami pertumbuhan rohani? Memang Alkitab adalah bukunya Allah, tetapi Dia tidak ingin buku itu dikembalikan kepada-Nya. Dia ingin agar Anda memiliki, merenungkan, memahami, memercayai, dan menaati pesan yang ada di dalamnya.

Itulah alasan utama mengapa buklet Renungan Harian ini diterbitkan. Setiap artikel renungan di dalamnya bertujuan untuk membantu Anda memahami firman Allah.

Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci hari ini? Jika belum, mengapa Anda tidak membacanya sekarang juga? Jangan biarkan Alkitab menjadi Buku yang terlupakan di dalam rumah Anda --RWD

10 April 2006

Firman yang Meyakinkan

Nats : Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, "Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!" (Markus 2:5)
Bacaan : Markus 2:1-12

Seorang koboi muda yang tidak mengenal Allah bepergian ke San Francisco dan hidup berfoya-foya di sana. Ia menghamburkan uang yang ia peroleh dari bekerja keras di peternakan selama ini. Suatu malam ia berjalan terhuyung-huyung masuk ke kamar hotelnya dan tidur hingga larut malam keesokan harinya. Sewaktu bangun, ia melihat sebuah buku mungil di meja kecil samping tempat tidurnya. Lalu ia mengambilnya. Ternyata itu Injil Markus. Karena merasa jijik, ia melemparkannya ke lantai.

Malamnya, buku itu kembali tergeletak di samping tempat tidurnya. Ketika melihat kitab tersebut berada di tempat yang sama pada hari yang ketiga, ia kemudian memutuskan untuk membacanya. Ia menjadi sangat tertarik pada kitab itu sehingga tidak ingin meletakkannya. Di kemudian hari ia bersaksi, "Saya belajar bahwa Anak Allah berkata kepada seorang yang lumpuh, ‘Dosa-dosamu sudah diampuni!’, dan memuji seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser terakhirnya. Saya terkesan ketika Yesus memeluk anak-anak kecil dan memberkati mereka. Lalu, meski diperlakukan dengan sangat tidak adil, Dia rela untuk disalibkan demi menyelamatkan orang berdosa. Saat membaca alasan kematian-Nya, saya melihat kesalahan saya sendiri dan merasakan damai sejahtera dengan memercayainya." Sejak hari itu, koboi itu pun berubah dan selama bertahun-tahun ia membagikan banyak eksemplar Injil Markus kepada orang lain.

Kita pun harus menjangkau sebanyak mungkin orang dengan firman Tuhan yang meyakinkan itu. Injil itu sungguh penuh kuasa --HGB

3 Agustus 2006

Berapa Harga Sebuah Alkitab?

Nats : Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal (Yohanes 6:68)
Bacaan : Yohanes 6:60-69

Seorang misionaris yang bekerja pada Penginjilan Bawah Tanah menceritakan kisah seorang beriman di Rusia sebelum jatuhnya komunisme di sana. Ketika ia tahu seorang temannya telah memperoleh Alkitab, ia pun memohon untuk meminjam Alkitab itu. Akan tetapi, si pemilik Alkitab membaca buku berharga itu setiap petang sampai pukul 10 malam. Oleh karena itu setiap malam, selama 8 bulan, dari pukul 10 malam sampai pukul 2 pagi, orang beriman yang setia ini dengan rajin menyalin Alkitab temannya. Akhirnya, ketika beberapa teman kristiani mengunjunginya dengan membawa Alkitab, ia menukarkan karya kasih tulisan tangannya itu dengan beberapa buah Alkitab.

Bayangkanlah bila Anda tidak dapat memperoleh Alkitab. Berapa banyak uang yang rela Anda bayarkan untuk mendapatkannya? Mari kita renungkan pertanyaan ini dengan lebih mendalam!

Ketika ajaran Yesus mulai "mengganggu" orang-orang yang mengikuti-Nya, banyak orang memilih untuk meninggalkan-Nya (Yohanes 6:60-66). Maka Dia pun bertanya kepada murid-murid-Nya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (ayat 67). Petrus menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal" (ayat 68). Petrus tahu bahwa Yesus adalah Firman yang hidup, yaitu Allah yang menjelma sebagai manusia. Itu sebabnya, ia bersedia meninggalkan segalanya dalam hidup ini untuk mengikuti Dia yang menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup.

Apakah kita memiliki komitmen seperti Petrus? Apakah kita memiliki pengabdian seperti orang beriman dari Rusia itu? Berapakah yang rela kita bayarkan untuk Alkitab? Untuk Tuhan kita? -VCG

17 November 2006

Haus Akan Firman Tuhan

Nats : Jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu menginginkan air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan (1 Petrus 2:2)
Bacaan : Mazmur 119:97-104

Malam itu, saya baru saja selesai mengikuti pelayanan konferensi Alkitab di Kuala Lumpur, Malaysia. Saat itu saya sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang yang juga mengikuti konferensi tersebut. Di barisan belakang kami ada seorang pemuda berusia 20 tahunan. Pemuda ini bercerita kepada kami bahwa ia baru empat bulan mengikut Tuhan Yesus, dan sangat ingin belajar lebih banyak tentang berbagai ajaran dalam Alkitab. Saya mengusulkan agar ia mengunjungi website RBC yang memiliki menu "Discovery Series" sebagai salah satu sumber yang memungkinkan bagi dia untuk belajar sendiri.

Malam berikutnya pemuda tersebut kembali mengikuti seminar dan bercerita bahwa ia tidak tidur sampai pukul 03.30 karena terus membaca dan merenungkan kebenaran Alkitab yang ia temukan dari website RBC. Dengan senyum lebarnya, ia mengatakan bahwa ia tidak akan pernah merasa cukup membaca dan menikmati firman Tuhan (1 Petrus 2:2).

Sungguh besar kehausan rohaninya! Kegembiraan yang dirasakan pemuda tadi dapat mengingatkan kita akan keajaiban Alkitab dan kebenarannya yang memperkaya jiwa. Kita memang dapat dengan mudah tidak mengindahkan firman Tuhan di tengah dunia yang penuh dengan jeritan yang meminta perhatian kita. Akan tetapi, sesungguhnya hanya di dalam Alkitab kita dapat menemukan hikmat Allah bagi setiap pergumulan kita, jawaban Allah terhadap setiap pertanyaan kita, dan kebenaran Allah bagi setiap pemahaman kita. Kita patut merasa haus terhadap kebenaran-kebenaran yang luar biasa ini --WEC

21 Januari 2007

Kelaparan Rohani

Nats : Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman Tuhan (Amos 8:11)
Bacaan : 1 Petrus 2:1-10

Dalam novel berjudul No Blade of Grass, sebuah virus ganas menyerang rumput-rumput di dunia. Tak hanya rumput halaman rumah yang diserangnya, tetapi semua jenis rumput, termasuk gandum, jelai, gandum hitam, oat [sejenis gandum], dan padi. Dalam beberapa bulan, dunia jatuh dalam kelaparan dan pasangannya yang brutal, yaitu kekerasan. Orang-orang mulai berkelahi dan membunuh demi makanan.

Novel itu menggambarkan adegan yang terjadi di dunia saat terjadi bencana kelaparan baru-baru ini. Saat ditayangkan di berita televisi, situasi itu tampak mengerikan. Namun, saya hanya dapat membayangkannya.

Nabi Amos membicarakan jenis kelaparan yang lain. Ia menyebutnya kelaparan akan "mendengarkan firman Tuhan" (8:11). Jika kekurangan makanan dapat menimbulkan penyakit dan kematian, kekurangan firman dapat membawa dampak yang kekal. Tanpa terhubung dengan firman Allah, kita akan kekurangan hikmat untuk hidup dan pesan hidup kekal dalam Kristus. Sebagai orang kristiani, kita membutuhkan "air susu yang murni dan rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh" (1 Petrus 2:2). Kita pun dapat merasakan apa yang dirasakan sang nabi saat berkata, "Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku" (Yeremia 15:16).

Dunia saat ini sedang mengalami kelaparan terhadap pengenalan akan Allah yang dapat memuaskan kebutuhan hati umat manusia. Marilah kita membantu mengisi hati mereka dengan membagikan firman-Nya --WEC

28 April 2007

Kesalahpahaman di Ruang Berita

Nats : Baiklah tanyakan dahulu firman Tuhan (1Raja 22:5)
Bacaan : 1Raja 22:1-8

Seorang pria Kongo mendatangi kantor BBC News 24 untuk wawancara pekerjaan. Namun, seorang produser yang selalu tepat waktu mengira ia seorang tamu penting yang sudah dijadwalkan untuk siaran. Ia menuntun sang pelamar yang kebingungan, namun patuh itu ke dalam studio ruang berita dan memasangkan mikrofon kepadanya.

Saat tanda "on air" dihidupkan, orang yang mewawancarai tak memerhatikan wajah panik sang pria, dan pencari kerja yang gugup itu dengan canggung mengarang jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepadanya. Saat kesalahpahaman itu disadari, jaringan berita itu meminta maaf.

Pria malang itu tidak berpura-pura menjadi seorang tamu penting -- ia justru dikira demikian. Sebaliknya, Ahab, raja Israel, memilih untuk mengabaikan kebenaran dengan mencari jawaban dari nabi-nabi palsu yang berpura-pura menjadi pemimpin agama. Ahab tidak ingin bertanya kepada Tuhan melalui Mikha sang nabi ilahi "sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka" (1Raja 22:8). Sang raja benci terhadap kebenaran.

Kadang kita lebih memilih mendengar dusta yang enak didengar daripada kebenaran. Namun, kita perlu mendapat nasihat dari para penasihat yang percaya bahwa "seluruh Kitab Suci yang diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2Timotius 3:16). Jangan biarkan nafsu membuat kita menukar kebenaran Allah untuk dusta --MRD


Bila dosa membujuk, memikat
Hindari tipuannya, jangan mendekat
Kuasa untuk dapat mengalahkannya
Hanyalah iman kepada Tuhan. --Sper

25 September 2007

Surga Nyamuk

Nats : Aku telah menemukan kitab Taurat di rumah Tuhan! (2Tawarikh 34:15)
Bacaan : 2Tawarikh 34:14-21

Orang-orang yang membangun Terusan Panama telah menghadapi banyak tantangan besar: pemindahan berton-ton tanah, pengubahan arah sungai, dan penebangan berkilo-kilometer hutan. Namun, nyamuk yang kecil mengancam menggagalkan seluruh proyek itu. Terusan Panama merupakan tempat yang ideal bagi hewan ini untuk berkembang biak. Ketika nyamuk-nyamuk menyebarkan penyakit demam kuning (yellow fever) dan malaria di antara para pekerja, begitu banyak korban meninggal.

Syukurlah, seorang dokter yang mempelajari penyakit-penyakit ini, kemudian mengatur agar sepasukan pekerja menyemprot daerah itu dengan suatu bahan kimia untuk membunuh nyamuk. Jumlah korban dari penyakit itu pun menurun secara dramatis.

Dalam Perjanjian Lama, kita membaca tentang mewabahnya penyembahan berhala di Yehuda yang disertai dengan kemerosotan moral. Ketika firman Tuhan ditemukan kembali, Raja Yosia berseru, "Sebab hebat kehangatan murka Tuhan yang dicurahkan kepada kita, oleh karena nenek moyang kita tidak memelihara firman Tuhan" (2 Tawarikh 34:21). Yosia paham bahwa kemerosotan moral dapat dipulihkan oleh kepatuhan pada prinsip-prinsip Kitab Suci. Ia kemudian mulai menerapkan kebenaran rohani dari Kitab Suci, dan dengan segera kebangkitan rohani pun melanda seluruh bangsa tersebut serta memulihkan kesehatan rohani mereka.

Ketika kita lalai membaca firman Allah, sebenarnya kita sedang mengundang penyakit rohani. Pastikan Anda meluangkan waktu sejenak untuk menghayati pesan firman-Nya yang memberi kehidupan --DHF

21 Oktober 2007

Apa yang Benar?

Nats : Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam (Yesaya 1:16,17)
Bacaan : Yesaya 1:11-18

Suatu pagi saat komputer saya menyambut saya dengan "layar biru kematian", saya tahu bahwa komputer itu rusak, tetapi saya tidak tahu cara memperbaikinya. Saya membaca dan mencoba beberapa hal, tetapi akhirnya saya harus meminta bantuan seorang ahli. Mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres hanyalah sebagian kecil dari permasalahan; saya tidak dapat memperbaikinya karena saya tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Permasalahan itu mengingatkan saya akan para ahli yang tampil di acara berita televisi. Mereka semua "ahli" dalam mencari kesalahan, tetapi sebagian besar dari mereka tidak tahu sama sekali tentang apa yang benar.

Ini juga terjadi dalam hubungan antara sesama manusia. Dalam keluarga, gereja, dan tempat kerja, kita kerap kali mencari-cari kesalahan, sehingga justru tidak ada perbaikan. Tanpa bantuan seorang ahli pun kita tahu bahwa ada sesuatu yang keliru saat orang-orang mulai saling berselisih dan melukai dengan perkataan dan tingkah laku yang kasar. Namun, untuk mengetahui cara memperbaikinya, kita benar-benar memerlukan seorang ahli.

Allah menyatakan kepada nabi-nabi Israel bukan hanya apa yang salah, melainkan juga apa yang benar: "Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yesaya 1:16,17).

Daripada memusatkan perhatian kita untuk mencari-cari kesalahan, marilah kita menaati Pribadi yang mengetahui apa yang benar --JAL

28 Agustus 2008

Mengampuni Diri Sendiri

Nats : Sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku (2Samuel 12:23)
Bacaan : 2Samuel 12:13-24

Setelah David dan istrinya selesai makan pagi, mereka bersiap pergi. Adriana, putri mereka yang baru berusia 2,5 tahun mengikuti ibunya ke kamar. David memanaskan mobil di garasi. Setelah semua siap, ia memundurkan mobil. Tiba-tiba roda mobil melindas sesuatu. David turun dan kaget bukan main. Ia telah melindas Adriana! Anak itu rupanya berjalan keluar garasi tanpa diawasi, lalu terlindas dan tewas seketika. David dan istrinya diliputi rasa bersalah luar biasa. Sulit mengampuni diri sendiri. Pikirnya, "Adriana mati karena kecerobohan kami!"

Raja Daud pernah dihinggapi rasa bersalah serupa. Akibat dosa berzinah dengan Batsyeba, Tuhan menulahi bayi mereka hingga sakit. Daud berusaha keras memohon belas kasihan Tuhan, agar anak itu bisa tetap hidup. Tujuh hari ia berpuasa dan berbaring di tanah. Namun akhirnya anak itu tetap mati! (ayat 18). Semua ini gara-gara ulahnya. Hati Daud pasti dihantui rasa bersalah. Uniknya, setelah kematian anaknya, ia kembali mau makan dan melanjutkan hidup seperti biasa (ayat 20). Daud tak membiarkan diri dikuasai rasa bersalah. Ia sadar, jika suatu hal tak bisa lagi diubah, kita harus menerima kenyataan, seberapapun pahitnya. Berdamai dengan diri sendiri, berbenah diri, dan melanjutkan hidup ke depan. Itu lebih sehat ketimbang terjebak di masa lalu.

Adakah rasa bersalah yang masih menghantui hidup Anda? Seringkah Anda berkata, "Seandainya aku melakukan ini, itu pasti tak akan terjadi"? Berhentilah hidup dalam penyesalan. Tuhan telah mengampuni kesalahan Anda. Jadi Anda pun harus mengampuni diri sendiri -JTI

21 September 2008

Hanya Rp172.800,00

Nats : Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel (Matius 27:9)
Bacaan : Matius 26:6-16; Yohanes 10:17,18

Selama ini saya menduga Yudas menjual Gurunya seharga tiga puluh keping uang perak karena sifatnya yang tamak. Cerita yang tertulis di dalam Alkitab mengenai Yudas meyakinkan saya akan hal ini (Matius 26:8,9; Yohanes 12:6).

Saya mencoba menghitung nilai uang perak itu dalam rupiah. Menurut Dake's Bible, tiga puluh keping uang perak sama nilainya dengan 19,20 dolar Amerika. Katakanlah satu dolar Amerika setara dengan Rp9.000,00. Berarti "harga" Yesus kurang lebih adalah Rp172.800,00. Murah sekali! Jadi, pasti uang bukan menjadi faktor utama Yudas menjual Yesus. Apalagi kemudian Yudas mengembalikan uang itu kepada para imam.

Rupanya Yudas memiliki harapan seperti orang Yahudi pada umumnya, yaitu menjadikan Yesus sebagai pahlawan secara politik dengan cara melawan kekaisaran Romawi. Namun, ketika orang banyak berniat mengangkat-Nya menjadi raja, Yesus malah mengasingkan diri. Bukan hanya itu, Yesus juga malah mengajar mereka untuk memberikan kepada kaisar apa yang menjadi haknya. Jadi, cara yang paling pamungkas untuk memaksa Yesus melawan adalah dengan menyerahkan Dia kepada para imam. Namun, Yesus memilih jalan salib. Yudas pun frustrasi dan gantung diri (Matius 27:5).

Bila direnungkan, kerap kali kita juga "mengkhianati dan menjual" Yesus demi mencapai tujuan kita sendiri, yaitu ketika kita memaksakan cara dan kehendak kita sendiri. Namun, Yudas telah menjadi contoh agar kita tak mengulang kesalahannya. Tuhan tahu yang lebih baik. Biarlah dalam seluruh aspek kehidupan kita belajar tunduk dan mengikuti jalan-Nya -ACH



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA