Daftar Isi
Jalan Orang Saleh
Penyeberangan yang Berbahaya
Allah Melihat Kita
Warisan
Nilai Sebuah Kehidupan
Waspadalah!
Allah Pemberi Semangat
Elang yang Terbang
Alfa dan Omega
Selalu Siap Dipanggil
Di Pihak Kita
Uluran Tangan Allah
Menemukan Rasa Aman
Kekuatan Dalam Keterbatasan
Daerah Asing
Ketika Sulit Berdoa
Rekan Sekerja Allah
Terbuang?
Allah, Kemuliaanku
Tembok Berapi
Tak Pernah Sendirian
"burung yang Lemah"
Dalam Tangan Tuhan
Tempat Perlindungan
Tanda
Master Catur
Kasih yang Membebaskan
Serahkan Beban Anda
Mukjizat Terus Berlangsung
Buaya yang Tak Diharapkan
Terlalu Banyak Pekerjaan?
Hiu!
“babi Kecil”
Pagi, Siang, Malam
Nama yang Berharga
Air Dalam
Berkat yang Tak Layak
Air Mata Sementara
Dikenal Baik
Bintang dan Pasir
Lepaskan Balon Anda!
Bantuan Dalam Perjalanan
Terluka dan Mendengar
Dia Menerangi Jalan
Jatuh Bebas
Permohonan Mulia
Dikenal Allah
Tuhan yang Bilang
Pandanglah Burung
Makin Tua, Makin Dewasa
Kotak Kekhawatiran
Yang Tak Dapat Hilang
Meninggalkan Begitu Saja
Menghadapi Musuh
Secukupnya Saja
Tuhan, Bukit Batuku
Rasa Aman Rahasia
“lowongan Kerja”
Hadiah yang Tak Dibuka
Hari Esok yang Tak Tampak
Menggali Harta Karun
Pertolongan Tak Terduga
Lengan yang Kekal
Jalan Masuk yang Sama
Kekuatan dan Dukungan
Ular Tersembunyi
Tetaplah Rendah Hati
Hidup Ini Nyata
Warna Biru
Siapa Tahu yang Terbaik?
Allah Lembut dan Perkasa
Fokus Pada Jati Diri
Bapa Tahu yang Terbaik
Batu yang Rapuh
Ditopang Dalam Keheningan
Semua Fakta yang Ada
Pengungsian yang Diperlukan
Terjun Bebas
Perlindungan Kita
Berkat Sederhana
Luapan Amarah
Hadiah Tempat Bernaung
Menyerahkan Kekhawatiran
Kekhawatiran
"itu Belum Semuanya!"
Wisatawan yang Menderita
Perlindungan dan Kekuatan
Mengampuni Seperti Mawar
Kami Juga Tahu
Makan Sepuasnya
Agen Perubahan
Mulutmu Harimaumu
Beban Dosa Asal
Behind Enemy Lines
Cara Pandang
"aku Mau ..."

Topik : Pemeliharaan/Perlindungan

7 November 2002

Jalan Orang Saleh

Nats : Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat (1Samuel 9:6)
Bacaan : 1Samuel 9:1-6

Beberapa tahun yang lalu saya dan istri saya berjalan-jalan menyusuri kota London. Setelah beberapa saat lamanya, sampailah kami di Godliman Street (Jalan Orang Saleh). Menurut cerita, dulunya ada seorang pria yang hidupnya benar-benar kudus tinggal di sana. Karena itu, dahulu jalan itu dikenal sebagai "jalan menuju ke rumah orang saleh". Nama jalan itu mengingatkan saya pada cerita dalam kitab Perjanjian Lama.

Ayah Saul mengirim anaknya bersama seorang bujang untuk mencari keledai-keledai yang hilang. Mereka mencari keledai-keledai itu selama berhari-hari, tetapi ternak-ternak itu tidak juga ditemukan..

Saul mulai menyerah dan ingin kembali ke rumah. Namun, bujangnya menunjuk ke arah Rama, desa tempat tinggal Nabi Samuel, dan berkata, "Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat; segala yang dikatakannya pasti terjadi. Marilah kita pergi ke sana sekarang juga, mungkin ia dapat memberitahukan kepada kita tentang perjalanan yang kita tempuh ini" (1 Samuel 9:6).

Di sepanjang hidupnya sampai ia tua, Samuel telah menjalin persahabatan dan persekutuan dengan Allah, sehingga perkataannya memiliki kuasa kebenaran. Orang-orang mengenalnya sebagai nabi Tuhan. Maka "pergilah mereka [Saul dan bujangnya] ke kota, ke tempat abdi Allah itu" (ayat10).

Oh, jika saja hidup kita begitu mencerminkan Yesus, kita akan meninggalkan kenangan indah di sekitar kita. Dan kesalehan kita itu akan selalu dikenang! —David Roper

12 November 2002

Penyeberangan yang Berbahaya

Nats : Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan (Mazmur 77:20)
Bacaan : Mazmur 77:17-21

Saya tidak mau lagi menyeberangi sungai berarus deras. Dasarnya terlalu licin, arusnya terlalu kuat, dan kaki tua saya ini sudah tidak sekuat dulu lagi.

Begitu banyak tantangan yang dulunya selalu siap saya hadapi, tetapi sekarang begitu sulit melakukannya. Seperti kata pemazmur, saya terkadang tidak bisa tidur, memikirkan bagaimana saya bisa melewatinya (Mazmur 77:2-5).

Kemudian saya ingat "perbuatan-perbuatan TUHAN," "keajaiban- keajaiban-Nya dari zaman purbakala" (ayat 12). "Melalui laut jalan- Nya, dan lorong-Nya melalui muka air yang luas," meskipun Dia tidak meninggalkan jejak kaki (ayat 20).

Demikianlah keberadaan kita bersama Allah. Meskipun Anda tidak dapat melihat-Nya, Dia selalu hadir. Tanpa terlihat, Dia menuntun umat-Nya "seperti kawanan domba" (ayat 21). Dia tidak takut pada arus dan badai kehidupan, karena kekuatan dan keberanian-Nya tidak terbatas.

Selain itu, Sang Gembala menuntun kita melalui perantaraan sesama kita. Dia memimpin umat Israel "dengan perantaraan Musa dan Harun" (ayat 21). Dia menuntun kita melalui nasihat bijak dari ayah dan ibu, genggaman erat seorang sahabat yang saleh, dorongan istri atau suami yang penuh kasih, dan melalui sentuhan lembut seorang anak kecil.

Tangan-tangan yang penuh kasih terulur bagi kita. Tuhan kita adalah Gembala perkasa dan lemah lembut. Dia menuntun kita menyeberangi sungai yang sangat berbahaya. Sudahkah Anda menaruh tangan Anda di dalam genggaman tangan-Nya? —David Roper

6 Januari 2003

Allah Melihat Kita

Nats : Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi" (Kejadian 16:13)
Bacaan : Kejadian 16:1-13

Hamba perempuan Sarah, yakni Hagar, melarikan diri ke padang gurun karena ia telah ditindas oleh Sarah. Tatkala Hagar berdiri di dekat mata air yang ada di tempat yang terpencil dan sunyi itu, Malaikat Tuhan datang kepadanya. Malaikat itu meyakinkan dirinya bahwa Allah mengetahui keadaannya. Mendengar perkataan malaikat tersebut, Hagar menjawab, "Engkaulah El-Roi [Allah yang telah melihat aku]" (Kejadian 16:13). Ia mendapat penghiburan yang luar biasa ketika mengetahui bahwa Allah telah melihatnya dan mengetahui kesulitannya.

Dalam pemeliharaan Allah, kita pun dapat memiliki keyakinan yang sama seperti Hagar. Kita boleh yakin bahwa Tuhan Allah menyertai kita ke mana pun kita pergi. Dia juga mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada kita. Sebagai Pribadi yang Mahakuasa, Dia mampu memecahkan setiap masalah, betapapun berat dan rumitnya masalah yang kita hadapi. Ya, kita tak pernah sendiri, tak pernah terlupakan, dan tak pernah putus pengharapan.

Bagaimanapun sukarnya keadaan Anda saat ini; menderita penyakit, mengalami ketidakadilan, kehilangan orang yang terkasih, atau kecewa karena seorang sahabat mengkhianati atau menolak Anda, ingatlah hal ini. Allah memahami semua yang Anda alami dan Dia mempedulikan Anda. Mungkin Anda sangat tertekan. Mungkin Anda diliputi kesepian dan keputusasaan. Namun Anda harus yakin bahwa Allah senantiasa memperhatikan Anda. Ya, seperti Hagar, Anda harus tahu bahwa Allah melihat keadaan Anda --Richard De Haan

14 Januari 2003

Warisan

Nats : Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)
Bacaan : Mazmur 46

Erma Bombeck menulis sebuah kolom tentang konflik yang kadang kala terjadi saat dilakukan pembagian harta keluarga di antara saudara kandung setelah orangtua mereka meninggal. Entah itu berupa mangkuk, selimut Nenek, atau hiasan-hiasan Natal, sering kali orang merasa yakin bahwa merekalah yang seharusnya memiliki benda tertentu. Bombeck mengatakan bahwa ia tak pernah menginginkan TV atau tote bag [tas besar yang dipakai untuk membawa pakaian, sepatu, paket-paket, dll.] untuk mengenang orangtuanya, karena warisan sejati mereka untuknya adalah cara hidup mereka, bukan harta yang mereka tinggalkan.

Tulisan tersebut membuat saya bertanya, "Apakah warisan yang akan saya tinggalkan untuk anak-anak saya kelak?" Lalu saya menyimpulkan bahwa saya ingin anak-anak saya merasa bahwa ayah mereka telah membantu mereka belajar ke mana harus pergi bila badai kehidupan menerpa. Dalam Mazmur 46, tiga kali penulis menunjuk Tuhan sebagai "tempat perlindungan", yakni tempat perlindungan pada masa yang penuh bahaya atau kesukaran (ayat 2,8,12). Dalam Amsal 14:26, kita juga membaca bahwa akan "ada perlindungan" bagi anak-anak dari orang yang takut akan Allah.

Jika saat ini saya belajar untuk mencari tempat berlindung dan kekuatan dalam Tuhan, maka kelak anak-anak saya akan memiliki teladan untuk diikuti dan tahu ke mana mereka harus berpaling. Saya akan gembira jika suatu hari kelak mereka akan mengatakan bahwa mereka telah menemukan perlindungan di dalam Tuhan dan bahwa: "Ayah ingin saya memiliki ini." --David McCasland

26 Januari 2003

Nilai Sebuah Kehidupan

Nats : Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja (2Samuel 9:11)
Bacaan : 2Samuel 9

Seorang pekerja pabrik di Inggris dan istrinya merasa senang ketika mereka akan dikaruniai anak pertama, apalagi setelah bertahun-tahun menikah. Menurut pengarang Jill Briscoe, yang menceritakan kisah nyata ini, si pekerja menyampaikan berita baik ini dengan penuh semangat kepada teman-teman sekerjanya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa Allah menjawab doanya. Namun mereka mengejeknya karena meminta seorang anak kepada Allah.

Ketika bayi itu lahir, ia didiagnosis menderita Sindrom Down. Ketika sang ayah berangkat kerja untuk pertama kali setelah anaknya lahir, ia tak tahu bagaimana harus menghadapi teman-teman sekerjanya. "Allah, beri aku hikmat," doanya. Seperti yang ia khawatirkan, beberapa orang mengejeknya, "Jadi, Allah memberimu anak seperti itu!" Ayah baru itu berdiri termenung untuk beberapa lama. Dalam hati ia memohon pertolongan Allah. Akhirnya ia berkata, "Saya bersyukur Tuhan memberikan anak ini kepadaku, bukan kepadamu."

Sama seperti pria itu menerima putranya yang cacat sebagai karunia Allah untuknya, demikian juga Raja Daud menyatakan kebaikannya dengan sukacita kepada cucu Saul yang "cacat kakinya" (2 Samuel 9:3). Beberapa orang menolak Mefiboset karena ia pincang, tetapi Daud menunjukkan bahwa ia menghargai Mefiboset.

Di mata Allah, setiap pribadi sangat berharga. Itu sebabnya Dia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk mati bagi kita. Marilah kita ingat dengan rasa syukur betapa Dia menghargai kehidupan setiap manusia --Dave Branon

28 Januari 2003

Waspadalah!

Nats : Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati- hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Korintus 10:12)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Beberapa tahun yang lalu ketika sedang berjalan-jalan di Gunung Rainier, Washington, saya dan istri saya Carolyn tiba di sebuah sungai es yang sedang meluap. Di situ telah terpasang balok datar yang melintang di sungai sebagai jembatan darurat. Namun jembatan darurat itu tak ada pegangannya, lagi pula licin.

Menyeberang di atas balok yang basah tampak sangat menakutkan, sehingga Carolyn tidak ingin menyeberang. Namun akhirnya ia mendapat keberanian dan perlahan-lahan ia berjalan setapak demi setapak dengan hati-hati menuju seberang.

Sewaktu kembali kami harus berjalan di atas balok itu lagi, dan ia menyeberang dengan kehati-hatian yang sama. "Apa kau takut?" tanya saya. "Tentu saja," jawabnya, "tetapi itulah yang membuatku selamat." Sekali lagi, karena sadar akan bahaya, ia berhasil menyeberang dengan selamat.

Sering kali dalam hidup ini kita dihadapkan pada banyak bahaya moral. Kita sebaiknya selalu berpikir bahwa sewaktu-waktu kita bisa jatuh. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh" (1 Korintus 10:12). Dalam berbagai kesempatan dan keadaan, siapa pun dari kita dapat jatuh dalam dosa apa pun. Sungguh bodoh bila kita berpikir takkan pernah jatuh.

Kita harus berjaga-jaga, berdoa, dan mempersenjatai diri di setiap kesempatan, yakni dengan percaya sepenuhnya kepada Allah (Efesus 6:13). "Sebab Allah setia" (1 Korintus 10:13), dan Dia akan memberi kita kekuatan agar tidak jatuh --David Roper

5 Februari 2003

Allah Pemberi Semangat

Nats : Engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu (Hakim-hakim 7:11)
Bacaan : Hakim-hakim 7:1-23

Orang Midian dan sekutunya menyerang Israel. Saat itu adalah zaman hakim-hakim, dan Gideon hanya mampu mengumpulkan 32.000 orang untuk melawan balatentara yang "seperti belalang banyaknya" (Hakim-hakim 7:12). Apalagi Allah mengurangi jumlah mereka menjadi 300 orang (ayat 2-7). Gideon ketakutan, maka Allah mengirimnya untuk menyelinap ke perkemahan musuh di malam hari. Dengan mengendap-endap, pemimpin balatentara Israel itu mendengar seorang tentara yang menceritakan mimpinya kepada kawannya. (ayat 13,14). Sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian, dan meruntuhkan salah satu kemah mereka. Kawannya melihat bahwa mimpi itu adalah pertanda bahwa Gideon pasti memenangkan pertempuran.

Gideon memperoleh dorongan semangat yang besar. Setelah sujud menyembah Allah, ia kembali ke perkemahannya dan mengatur pasukannya yang berjumlah 300 orang. Sambil membawa sangkakala dan suluh, mereka berjalan menuju perkemahan orang Midian yang pasukan jauh lebih banyak (ayat 15-22).

Sebagai pengikut Kristus, kita masih harus berperang. Kita berperang melawan roh-roh jahat (Efesus 6:10-12). Mereka melemahkan iman dan meruntuhkan kekuatan kita. Kita juga berperang melawan diri sendiri; baik kelemahan, ketakutan, atau keraguan kita (Roma 7:15-25). Kita bisa saja merasa patah semangat.

Namun, Allah adalah Pemberi Semangat yang hebat. Ketika tekad kita melemah atau pandangan kita kabur, Dia akan memberikan kekuatan melalui kuasa-Nya (Efesus 3:16), meskipun musuh kita lebih banyak dari sekawanan belalang --Dave Egner

24 Februari 2003

Elang yang Terbang

Nats : Dia memberi kekuatan kepada yang lelah (Yesaya 40:29)
Bacaan : Yesaya 40:29-31

Saya tengah mengamati seekor elang ketika tiba-tiba elang itu berputar-putar dan melesat ke atas. Dengan sayapnya yang kuat, burung besar itu membubung semakin tinggi, menjadi sebuah titik kecil, kemudian menghilang.

Elang yang terbang itu mengingatkan saya akan pujian yang dinaikkan Yesaya: "Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya" (40:30,31).

Luka hati dan tragedi dalam hidup dapat menghilangkan sukacita, daya tahan, dan kekuatan kita, serta membuat kita bertekuk lutut. Namun, jika kita menaruh pengharapan kita dalam Tuhan dan percaya kepada-Nya, Dia akan memperbarui kekuatan kita. Kunci ketahanan kita terletak pada pertukaran daya kita yang terbatas dengan kekuatan Allah yang tak terbatas. Dan kita wajib memintanya.

Dengan kekuatan Allah kita dapat "berlari dan tidak menjadi lelah", meskipun hari-hari kita dipenuhi oleh berbagai kesibukan dan tuntutan. Dengan kekuatan-Nya kita dapat terus "berjalan dan tidak menjadi lelah", meskipun rutinitas yang menjemukan dan melelahkan membuat hidup kita terasa kering dan membosankan. Di tengah-tengah ziarah yang melelahkan dan penuh air mata pemazmur berseru, "Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau" (Mazmur 84:6).

Oh, betapa luar biasa kekuatan Allah yang tak terbatas menggantikan kelemahan kita yang terbatas! --David Roper

25 Maret 2003

Alfa dan Omega

Nats : Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (Wahyu 1:8)
Bacaan : Wahyu 22:6-13

Arti kata Alfa dan Omega, istilah yang mengacu pada huruf alfabet Yunani yang pertama dan terakhir, sangat mudah kita pahami. Seperti huruf A dan Z, Alfa dan Omega juga berarti huruf “pertama” dan “terakhir”.

Dalam kehidupan ini, kita dapat memahami konsep ini dengan mudah. Sesuatu dimulai ... dan diakhiri. Pekerjaan dimulai ... lalu diakhiri. Tahun-tahun datang ... kemudian berlalu. Kelahiran ... kematian.

Namun, ada yang istimewa dan unik tentang kata Alfa dan Omega yang tercantum dalam kitab Wahyu (1:8,11; 21:6; 22:13). Yesus Kristus menggunakan istilah itu untuk menggambarkan Dirinya. Istilah itu mengacu pada ketuhanan-Nya.

Dalam Kitab Suci, dua kata tersebut memiliki makna yang sangat dalam sehingga hampir tak dapat dimengerti. Yesus, Sang Alfa tidak memiliki awal. Dia telah ada sebelum semuanya ada dan sebelum dunia ini dijadikan (Yohanes 1:1). Sebagai penyebab utama segala sesuatu yang ada di dunia ini (ayat 2,3), Yesus tidak dapat dibatasi oleh kata Alfa. Dan sebagai Omega, seperti yang kita ketahui, Dia bukanlah “yang akhir”. Dia akan terus hidup di masa mendatang yang kekal dan tanpa akhir.

Sungguh menakjubkan dan menggetarkan hati pandangan tentang Tuhan kita ini. Dia adalah satu-satunya “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” (Wahyu 1:8). Dia adalah Alfa dan Omega, Allah Yang Mahakuasa. Tidak hanya itu, Dia adalah Juruselamat kita (Titus 2:13). Oleh karena itu, Dia layak menerima pujian, hidup kita, serta segala kepunyaan kita! --Dave Branon

23 April 2003

Selalu Siap Dipanggil

Nats : Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya (Mazmur 34:7)
Bacaan : Mazmur 34:1-19

Jika Anda frustrasi akan sistem pelayanan kesehatan dan ingin punya dokter pribadi yang selalu siap dipanggil, Anda bisa memilikinya asal mau membayar. Dua dokter dari Seattle memasang tarif sebesar 20.000 dolar setahun bagi para pasien kaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pribadi. Mereka menelepon ke rumah para pasiennya, memberi pelayanan pribadi dengan tidak terburu-buru, dan berkata bahwa pelayanan yang mereka berikan sama seperti pelayanan lain yang tersedia bagi orang kaya. Apa pun pemikiran tentang etika medis yang terkait di dalamnya, pelayanan seperti itulah yang kita inginkan jika kita mampu membayarnya.

Ada tipe hubungan “selalu siap dipanggil” lain yang tak perlu dibeli. Sebaliknya, hubungan ini hanya tersedia bagi mereka yang merasa diri miskin dan membutuhkan. Allah tak pernah gagal merespons anak-anak-Nya yang berseru memohon pertolongan-Nya.

Daud berkata, “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mazmur 34:5). Ia pun berkata, “Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya” (ayat 7).

Yesus adalah “Tabib Agung”. Dia tak selalu melakukan apa yang kita minta kepada-Nya. Namun, Dia selalu “siap dipanggil” untuk mendengar doa-doa kita dan menawarkan kebebasan yang kita butuhkan. Luar biasa dorongan semangat yang Dia berikan! “Mata Tuhan tertuju kepada orang- orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (ayat 16) --David McCasland

6 Mei 2003

Di Pihak Kita

Nats : Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31)
Bacaan : Roma 8:31-39

Seorang pemuda kristiani baru pertama kali bekerja. Setiap malam ia bekerja di pabrik perakitan lemari es untuk membiayai kuliahnya di Sekolah Alkitab. Sayang, teman-teman sekerjanya rata-rata berperangai kasar. Mereka menertawakannya karena ia seorang kristiani. Mereka selalu menghinanya pada jam istirahat dan semakin lama mereka semakin kurang ajar.

Suatu malam terjadilah hal yang paling buruk. Mereka menertawakan dirinya, juga menyumpahi dan mencemooh Yesus. Pemuda itu berpikir hendak berhenti saja bekerja. Tiba-tiba seorang lelaki tua yang berdiri di bagian belakang ruangan berkata, "Cukup! Carilah orang lain sebagai bulan-bulanan kalian!" Dan mereka pun segera pergi. Beberapa saat kemudian orang tua itu berkata kepada si pemuda. "Aku tahu kau menghadapi saat yang sulit. Namun, aku ingin kau tahu bahwa aku ada di pihakmu."

Mungkin Anda adalah seorang kristiani yang harus menentang orang- orang yang tidak mengenal Allah sendirian. Dan, kelihatannya Setanlah yang menang. Tuhan bisa saja mengirimkan seorang percaya yang akan berdiri di pihak Anda. Akan tetapi, sekiranya itu tidak terjadi, Anda harus tetap percaya bahwa Dia ada di pihak Anda. Dia melakukan hal itu dengan mengirimkan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk mati di kayu salib menggantikan Anda. Anda tidak akan pernah terpisah dari kasih dan pemeliharaan-Nya (Roma 8:38,39).

Kini, dengan penuh keyakinan Anda dapat berkata, "Jika Allah

di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (ayat 31) --Dave Egner

2 Juni 2003

Uluran Tangan Allah

Nats : Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:16)
Bacaan : Ibrani 4:14-16

Saya terkadang bertanya kepada orang-orang, "Di manakah tertulis di dalam Alkitab, 'Allah menolong mereka yang menolong dirinya sendiri?'" Sebagian besar menjawab tidak yakin, tetapi konsep ini begitu umum sehingga mereka menganggap itu pasti ada dalam Alkitab.

Sebenarnya, Alkitab tidak pernah mengatakannya. Alkitab justru mengatakan sebaliknya: Allah menolong mereka yang tak berdaya.

Anda akan menemukan di dalam Injil bahwa Yesus tidak menolak untuk menolong mereka yang tak berdaya. Dia tidak menutup pengampunan dan belas kasihan bagi mereka yang mengakui dosanya. Dia tidak menjauhi mereka yang tak mampu mengubah dirinya. Sebaliknya, mereka yang menganggap dirinya tidak butuh pertolongan adalah mereka yang paling mendukakan Yesus.

Rancangan Allah lebih tinggi daripada rancangan kita (Yesaya 55:9), dan Dia melihat segala hal dari sudut pandang yang berbeda. Kita suka mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk menghadapi masalah, tetapi Dia menunjukkan kelemahan-kelemahan kita agar kita belajar mengandalkan kekuatan-Nya. Kita bangga atas ke-suksesan kita dan mulai berpikir bahwa kita tidak butuh pertolongan Allah, tetapi Dia mengizinkan kita gagal agar kita belajar bahwa keberhasilan sejati terjadi hanya karena rahmat-Nya.

Apakah Anda merasa tak berdaya hari ini? Rahmat Allah tersedia bagi mereka yang menyadari bahwa mereka tidak dapat menolong dirinya sendiri. "Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" untuk menemukan pertolongan saat Anda membutuhkan (Ibrani 4:16) --David Roper

13 Juni 2003

Menemukan Rasa Aman

Nats : Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu kesesakanku (Mazmur 59:17)
Bacaan : Mazmur 59

Setelah seorang laki-laki menembak dan membunuh dua orang di Bandar Udara Internasional Los Angeles, sebagian orang mendesak agar pengawal bersen-jata ditempatkan di setiap lokasi check-in. Sebagian lainnya berkata bahwa setiap orang harus diperiksa sebelum memasuki terminal bandara. Namun seorang konsultan keamanan bandara berkata, "Jika Anda memindahkan titik pemeriksaan, Anda hanya akan mendorong masalah itu berpindah ke bagian bandara yang lain. Akan selalu ada tempat umum yang rawan terhadap serangan semacam ini."

Di dalam dunia di mana kekerasan dan terorisme dapat menyerang kapan saja dan di mana saja, di manakah kita dapat menemukan rasa aman? Di manakah kita akan benar-benar aman?

Alkitab berkata bahwa rasa aman kita tidak terletak pada perlindungan manusia, tetapi di dalam Allah sendiri. Kitab Mazmur mengandung lebih dari 40 referensi agar kita berlindung di dalam Tuhan, sebagian besar berasal dari pengalaman Daud yang dikejar- kejar oleh musuh-musuhnya. Dalam doanya sewaktu meminta pertolongan, ia memusatkan harapannya di dalam Tuhan, "Engkau telah menjadi kota bentengku, tempat pelarianku pada waktu ke-sesakanku. Ya kekuatanku, bagi-Mu aku mau bermazmur; sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya" (Mazmur 59:17,18).

Allah tidak berjanji untuk menjauhkan kita dari kesulitan dan ancaman fisik, tetapi Dia berjanji untuk menjadi tempat perlindungan kita dalam segala keadaan. Di dalam Dia kita menemukan rasa aman yang sejati --David McCasland

26 Juni 2003

Kekuatan Dalam Keterbatasan

Nats : Pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan (Keluaran 4:12)
Bacaan : Keluaran 4:10-12

Ketika Allah memanggil Musa untuk melayani, ia menjawab, "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10).

Perkataan itu menandakan bahwa Musa mungkin mengalami kesulitan da- lam berbicara. Mungkin ia gagap. Tuhan berkata kepadanya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" (ayat 11).

Kelemahan, ketidakmampuan, dan kecacatan kita sekalipun, dapat digunakan Allah bagi kemuliaan-Nya. Bukan dengan membuang kelemahan kita, tetapi dengan menganugerahi kita kekuatan dan memakai keterbatasan kita demi kebaikan.

Bila kelemahan membuat kita mencari Allah dan bergantung kepada-Nya, berarti kelemahan-kelemahan itu justru menolong kita dan tidak menghalangi kita. Kelemahan-kelemahan ini justru merupakan hal terbaik yang dapat kita alami, karena pertumbuhan kita dalam keberanian, kekuatan, dan kebahagiaan tergantung pada hubungan kita dengan Tuhan dan seberapa besar kepercayaan kita kepada-Nya.

Tiga kali Rasul Paulus memohon kepada Tuhan untuk mengambil duri di dalam dagingnya, tetapi Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku" (2Korintus 12:9). Paulus pun kemudian bersuka-cita dalam keterbatasannya, karena ia menyadari bahwa hal itu tidak menghambatnya. Seperti yang ia nyatakan, "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10) --David Roper

2 Juli 2003

Daerah Asing

Nats : Jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu (Yosua 3:4)
Bacaan : Yosua 3:1-13

Saat Stephen putra saya berusia 8 tahun, ia diundang menginap di rumah sepupunya. Ini adalah pengalaman pertama Stephen berada jauh dari rumah, dan sepertinya akan menjadi suatu petualangan yang menyenangkan. Namun, ketika saya dan istri saya mengantarkan Stephen ke rumah sepupunya, ia mulai merasa rindu ingin pulang ke rumah. Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar ia berkata, "Ibu, aku merasa tidak begitu sehat. Lebih baik aku pulang ke rumah bersama Ibu saja."

Istri saya menjawab, "Terserah kamu, tapi menurut Ibu, kamu pasti akan senang di sini."

"Tapi, Bu," rengek Stephen, "mereka bilang besok mereka akan mendaki bukit yang tinggi, dan aku belum pernah ke sana!"

Kita pun kadang-kadang merasa takut melihat ke masa depan, karena kita "belum pernah ke sana". Namun, Tuhan akan senantiasa menjagai kita seperti Dia menjagai Yosua dan Israel (Yosua 3).

Mungkin saat ini Anda sedang khawatir karena Tuhan memimpin Anda menuju jalan setapak baru yang belum pernah Anda lalui sebelumnya. Untuk menjalaninya, dengarkanlah firman Allah dan beranilah untuk melewatinya: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku .... Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya" (Mazmur 23:1,3).

Letakkanlah tangan Anda dengan iman ke dalam genggaman tangan Bapa surgawi, dan biarkan Dia membimbing Anda melalui jalan yang asing itu --Richard De Haan

10 September 2003

Ketika Sulit Berdoa

Nats : Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan (Mazmur 139:4)
Bacaan : Roma 8:26,27

Alkitab menyatakan kepada kita bahwa Allah mengetahui setiap pikiran dan perkataan di lidah kita (Mazmur 139:1-4). Maka, ketika kita tidak tahu apa yang perlu didoakan, Roh Kudus "berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26).

Kebenaran alkitabiah ini meyakinkan kita bahwa kita dapat berkomunikasi dengan Allah, meskipun tanpa mengucapkan sepatah kata pun, karena Dia mengetahui kehendak dan keinginan hati kita. Sungguh hal itu menjadi suatu penghiburan di kala kita dalam kebimbangan atau mengalami tekanan berat! Kita tidak perlu khawatir jika tidak dapat menemukan kata-kata untuk menyatakan pikiran dan perasaan kita. Kita tidak perlu merasa malu jika terkadang kalimat yang kita ucapkan terputus di tengah jalan. Allah mengetahui apa yang ingin kita sampaikan. Kita juga tidak perlu merasa bersalah jika terkadang pikiran kita mengembara ke mana-mana, sehingga kita harus berupaya keras untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan.

Selain itu, dalam hal berdoa kita juga tidak perlu mengkhawatirkan posisi tubuh yang layak untuk berdoa. Seandainya pun kita berusia lanjut atau menderita arthritis [penyakit radang sendi] sehingga tidak bisa berlutut, tidak menjadi masalah. Sesungguhnya yang Allah perhatikan adalah posisi hati kita.

Betapa luar biasanya Allah! Betapa pun Anda tersendat-sendat atau gagap dalam berdoa, Dia mendengarkan Anda. Kasih yang tiada batas di dalam hati-Nya menanggapi kebutuhan dan perasaan hati Anda yang tak terucapkan. Oleh karena itu, tetaplah berdoa! --Vernon Grounds

29 September 2003

Rekan Sekerja Allah

Nats : Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya (Matius 6:8)
Bacaan : Matius 6: 5-15

Seorang pria telah mengubah sebidang tanah yang ditumbuhi semak belukar menjadi taman yang indah. Lalu ia memperlihatkan hasil karyanya kepada seorang kawannya. Dengan menunjuk petak bunga itu ia berkata, "Lihatlah apa yang telah saya kerjakan di sini." Namun, kawannya itu membetulkan perkataannya, "Maksudmu, 'Lihatlah yang telah Allah dan saya kerjakan di sini.'" Tukang kebun itu menjawab, "Saya rasa kau benar. Tapi seharusnya kaulihat keadaan tanah ini ketika Allah mengurusnya seorang diri."

Kita mungkin tersenyum dalam menanggapi jawaban si tukang kebun itu, padahal sebenarnya jawaban ini mengungkapkan kebenaran rohani yang indah, yaitu bahwa kita adalah rekan sekerja Allah. Ini berlaku di setiap bidang kehidupan kita, termasuk doa. Ini menjawab pertanyaan yang serta merta muncul ketika merenungkan perkataan Yesus dalam Matius 6. Yesus berfirman, kita tak perlu berdoa dengan bertele-tele seperti orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapa di surga mengetahui kebutuhan kita sebelum kita memintanya (Matius 6:7,8).

Yang menjadi pertanyaan, mengapa kita berdoa? Jawabannya sangatlah sederhana dan menghibur. Dengan kemurahan-Nya, Allah memberi kita hak istimewa untuk menjadi rekan sekerja-Nya di segala bidang kehidupan, baik jasmani maupun rohani. Kita bekerja sama dengan Allah melalui doa untuk mengalahkan kuasa jahat dan untuk memenuhi tujuan-Nya yang penuh kasih atas dunia ini. Sungguh merupakan suatu kehormatan dapat menjadi teman sekerja Allah! Hal itu sungguh menjadi dorongan bagi kita untuk berdoa! --Herb Vander Lugt

1 Oktober 2003

Terbuang?

Nats : Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong (Mazmur 31:23)
Bacaan : Mazmur 31:15-25

Sepanjang musim dingin di Antartika yang berlangsung selama 9 bulan, benua itu diselimuti kegelapan. Selama musim dingin tersebut suhu di sana turun sampai -82oC. Penerbangan ke sana dihentikan sejak akhir bulan Februari hingga November. Hal itu menyebabkan para pekerja di berbagai stasiun riset yang tersebar di mana-mana menjadi terisolasi dan tidak terjangkau oleh bantuan dunia luar. Namun selama tahun 2001, dua tim penyelamat yang gagah berani berhasil terbang menerobos musim dingin kutub dan menyelamatkan orang-orang yang kondisi kesehatannya buruk.

Terkadang kita merasa tidak berdaya dan terbuang. Bahkan tampaknya Allah pun tak mendengar atau menjawab seruan minta tolong kita. Saat berada di tengah masalah, pemazmur Daud pun berkata, "Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu" (Mazmur 31:23). Namun, Daud mendapati bahwa Tuhan tidak melupakannya dan ia bersukacita karenanya, "Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong" (ayat 23).

Saat ini, kondisi apakah yang membuat Anda merasa tak berdaya atau tak berpengharapan? Kesehatan yang buruk, hubungan yang retak, atau anggota keluarga yang sangat membutuhkan? Dalam Yesus Kristus, Allah telah menembus musim dingin yang gelap dalam dunia kita dengan melakukan usaha penyelamatan yang berani melalui kasih penebusan- Nya. Oleh karena itu, Dia dapat menjangkau kita dan meredakan ketakutan kita di tengah keadaan yang paling tak berpengharapan sekalipun.

Kita tidak pernah terbuang dari kuasa yang kuat dan damai sejahtera Allah yang abadi --David McCasland

6 Oktober 2003

Allah, Kemuliaanku

Nats : Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku (Mazmur 3:4)
Bacaan : Mazmur 3

Apakah Allah adalah kemuliaan Anda? (Mazmur 3:4). Kata kemuliaan merupakan terjemahan dari kata Ibrani yang berarti "bobot" atau "makna".

Sebagian orang mengukur berharga tidaknya mereka melalui kecantikan, kecerdasan, uang, kekuasaan, atau gengsi. Namun, Daud yang menulis Mazmur 3 menemukan rasa aman dan berharga di dalam Allah. Ia mengatakan bahwa banyak orang melawannya. Ia mendengar suara kejam mereka dan sempat tergoda untuk mempercayai perkataan mereka, menyerah pada rasa takut dan keputusasaan. Namun, ia menghibur dan menguatkan hatinya dengan berkata, "Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku" (ayat 4).

Kesadaran itu sungguh menghasilkan perubahan! Daud memiliki Allah, sedangkan para musuhnya tidak. Dengan demikian ia dapat menegakkan kepala dengan penuh keyakinan.

Ayat-ayat seperti Mazmur 3:4 dapat membawa kedamaian dalam hati Anda, bahkan ketika Anda berada di tengah badai masalah. Allah adalah perisai dan pembebas Anda. Dia akan menangani penderitaan Anda tepat pada waktunya.

Sementara itu, ungkapkan kepada Allah segala permasalahan Anda. Biarkan Dia menjadi kemuliaan Anda. Anda tidak perlu membela diri. Mintalah Dia menjadi perisai Anda, untuk melindungi hati Anda dengan kasih dan perhatian-Nya yang senantiasa menyertai. Kemudian, seperti halnya Daud, Anda dapat berbaring dengan damai dan tidur nyenyak walau puluhan ribu orang melawan Anda (ayat 6,7) --David Roper

8 Oktober 2003

Tembok Berapi

Nats : Aku sendiri, demikianlah firman Tuhan, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya (Zakharia 2:5)
Bacaan : Zakharia 2:1-5

Tembok Besar Cina mulai didirikan pada abad ke-3 SM. Tembok yang kerap disebut sebagai "keajaiban dunia kedelapan" itu memiliki panjang sekitar 1.500 mil (2.400 kilometer). Tembok Besar tersebut dibangun untuk melindungi rakyat dari serbuan mendadak para pengembara dan menjaga mereka dari penyerangan yang dilakukan oleh negara-negara musuh.

Dalam kitab Zakharia 2, kita membaca kisah tentang tembok perlindungan yang lain. Zakharia mendapatkan sebuah penglihatan lain, yaitu penglihatan tentang seseorang yang sedang memegang tali pengukur untuk mencoba memastikan panjang dan lebar Yerusalem (ayat 1,2). Pria itu bermaksud untuk membangun kembali tembok benteng yang mengelilingi kota. Orang ini kemudian diberi tahu bahwa ia tidak perlu membangun benteng itu kembali karena Yerusalem akan dipenuhi oleh banyak umat Allah sehingga tembok Yerusalem itu tidak akan mampu memuat mereka semua (ayat 4). Selain itu, mereka tidak lagi membutuhkan tembok karena Tuhan telah berjanji, "Aku sendiri ... akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya" (ayat 5).

Tembok lahiriah dapat dikikis atau dirobohkan, betapa pun tinggi dan kokohnya tembok tersebut. Namun sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tembok perlindungan terbaik yang dapat dimiliki oleh siapa pun, yakni kehadiran Allah secara pribadi. Tak satu pun yang dapat mencapai kita tanpa terlebih dahulu melewati Dia dan kehendak-Nya. Di dalam Dia kita aman dan tenteram --Albert Lee

20 Oktober 2003

Tak Pernah Sendirian

Nats : Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18)
Bacaan : Yohanes 14:15-21

Kehadiran Yesus saat ini masih dapat kita rasakan, sama seperti saat Dia hidup di atas muka bumi. Walaupun Dia tidak ada di antara kita secara fisik, tetapi melalui Roh Kudus Dia dapat hadir di sini dan di mana saja -- kehadiran yang hidup dan terus-menerus -- di luar dan di dalam diri kita.

Hal ini mungkin merupakan pemikiran yang menakutkan bagi sebagian orang. Mungkin Anda tidak menyukai diri Anda sendiri, atau terlalu memikirkan hal-hal buruk yang pernah Anda lakukan. Kegelisahan dan dosa dapat menimbulkan rasa takut, kaku, dan canggung akan kehadiran Yesus. Namun, pikirkanlah apa yang Anda ketahui tentang Dia.

Tak peduli siapa Anda atau apa yang telah Anda lakukan, Dia mengasihi Anda (Roma 5:8; 1 Yohanes 4:7-11). Dia tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan Anda (Yohanes 14:18; Ibrani 13:5). Orang lain mungkin tidak terlalu memperdulikan Anda ataupun mengundang Anda untuk menghabiskan waktu bersama, namun Yesus tidak demikian (Matius 11:28). Orang lain mungkin tidak menyukai penampilan Anda, namun Dia melihat hati Anda (1 Samuel 16:7; Lukas 24:38). Orang lain mungkin menganggap Anda merepotkan karena Anda sudah tua dan menyulitkan, namun Dia akan mengasihi Anda selama- lamanya (Roma 8:35-39).

Yesus mengasihi Anda sekalipun orang lain memalingkan wajah mereka dari Anda. Dia ingin mengubah Anda menjadi seperti Dia, namun Dia juga mengasihi Anda sebagaimana adanya dan tidak akan pernah meninggalkan Anda. Anda adalah anggota keluarga-Nya; Anda tak akan pernah sendirian --David Roper

27 Oktober 2003

"burung yang Lemah"

Nats : Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit (Lukas 12:7)
Bacaan : Yakobus 2:1-9

Charlie Brown, tokoh serial kartun, identik dengan orang yang diremehkan, mungkin karena ia selalu menganggap dirinya demikian. Dalam suatu kisah digambarkan ia sedang membangun sebuah rumah burung saat Lucy si nyinyir mampir. "Aku membangunnya untuk burung pipit," kata Charlie. Lucy menyahut, "Untuk burung pipit? Tidak ada orang yang membangun rumah untuk burung pipit." "Namun aku melakukannya," jawab Charlie Brown. "Aku selalu membela burung yang lemah."

Kadang kala orang kristiani melupakan "burung-burung pipit", yaitu orang-orang kecil di dunia mereka. Mereka mengabaikan orang-orang yang mereka anggap kurang penting.

Yakobus mengatakan tidak benar bila orang kristiani bersikap pilih kasih (Yakobus 2:1). Kita berdosa jika menunjukkan sikap pilih-pilih dalam bergaul (ayat 9). Alasannya mungkin sosial, ekonomi, pendidikan, atau etnis, namun tidak ada alasan untuk tidak menghormati orang lain dengan sikap dan perkataan kita.

Yesus tidak demikian. Dia menembus segala macam tembok tradisi untuk bercakap-cakap dengan pemungut cukai, para pendosa, orang-orang bukan Yahudi, orang-orang dari ras campuran, orang miskin, begitu juga orang kaya. Dia datang untuk menjadi sama seperti kita semua, dan untuk membayar upah dosa kita di atas kayu salib.

Ketika seekor burung pipit jatuh, Allah Bapa memerhatikannya. Namun Dia jauh lebih memedulikan manusia, termasuk orang yang lemah. Mungkin kita memerlukan lebih banyak lagi sifat Charlie Brown dalam diri kita --Dave Egner

10 Februari 2004

Dalam Tangan Tuhan

Nats : Mungkin Tuhan akan memerhatikan kesengsaraanku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku (2Samuel 16:12)
Bacaan : 2 Samuel 16:5-14

Dalam 2 Samuel 16:5-14 kita membaca kisah Raja Daud yang dikutuk oleh Simei. Ini terjadi ketika ia melarikan diri dari putranya, Absalom, yang ingin membunuhnya.

Tidak seperti Daud, kadang-kadang kita ingin membungkam pengkritik kita, menuntut keadilan, dan membela diri. Tetapi ketika kita semakin bertumbuh dalam kesadaran akan perlindungan kasih Allah, kita tidak akan terlalu memedulikan pendapat orang lain mengenai diri kita. Sebaliknya, kita semakin ingin memercayakan diri kita kepada Bapa. Seperti Daud, kita dapat berkata kepada si pengkritik, "Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk" (2Samuel 16:11). Ini merupakan kepatuhan yang rendah hati pada kehendak Allah.

Kita mungkin dapat meminta lawan kita menjelaskan tuduhan mereka, atau mungkin menyangkal keras tuduhan itu. Atau seperti Daud (ayat 12), kita dapat menunggu dengan sabar hingga Allah memberikan keadilan bagi kita.

Alangkah baiknya jika kita tidak melihat lawan-lawan kita, tetapi memusatkan perhatian kepada Dia yang mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Alangkah baiknya bila kita dapat percaya bahwa apa pun yang Allah izinkan terjadi, semuanya demi kebaikan kita -- sekalipun kita mungkin harus menghadapi kutukan Simei, sekalipun hati kita hancur dan air mata mengucur.

Anda berada dalam genggaman tangan Tuhan, tidak peduli apa pun komentar orang lain tentang Anda. Allah melihat penderitaan Anda, dan pada waktunya Dia akan membalaskan kutuk yang Anda terima. Jadi, percayalah kepada-Nya dan tetaplah tinggal dalam kasih-Nya --David Roper

10 Maret 2004

Tempat Perlindungan

Nats : Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 34:9)
Bacaan : Mazmur 34:5-9

Di dalam dunia yang penuh dengan kesengsaraan ini, hanya ada satu tempat perlindungan yang pasti, yaitu Allah sendiri. “Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 18:31).

“Berlindung” berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “mencari perlindungan di dalam” atau “bersembunyi di dalam” atau “bersembunyi bersama”. Kata ini menunjukkan tempat persembunyian rahasia. Orang Texas suka menyebutnya hidey hole yang artinya “lubang persembunyian”.

Ketika kita merasa sangat letih oleh semua usaha kita, ketika kita bingung karena berbagai masalah kita, ketika kita dilukai oleh kawan-kawan kita, ketika kita dikelilingi oleh musuh-musuh kita, kita dapat berlindung kepada Allah. Tidak ada rasa aman di dunia ini. Seandainya kita menemukan rasa aman di dalam dunia ini, maka kita tidak akan pernah mengalami sukacita dari kasih dan perlindungan Allah. Kita akan kehilangan kebahagiaan yang telah disediakan bagi kita.

Tempat yang paling aman hanyalah Allah sendiri. Ketika awan badai menggumpal dan bencana mulai membayang, kita harus datang ke hadirat Allah dalam doa dan berdiam di sana (Mazmur 57:2).

George MacDonald berkata, “Orang yang memiliki iman sempurna adalah orang yang dapat datang kepada Allah dalam segala kekurangan dari perasaan dan hasratnya, tanpa semangat atau ambisi; dengan beban kekecewaan, kegagalan, perasaan diabaikan, dan kelalaian, serta berkata kepada-Nya, ‘Engkaulah tempat perlindunganku.’”

Betapa aman dan diberkatinya kita! —David Roper

11 Maret 2004

Tanda

Nats : Ia datang kepada mereka berjalan di atas air (Markus 6:48)
Bacaan : Markus 6:45-52

Ketika sebuah helikopter jatuh di hutan belantara bergunung-gunung yang dingin, para pilotnya selamat namun terluka parah. Siang yang membeku berganti menjadi malam yang jauh lebih membekukan lagi. Situasi tampaknya tak memberikan harapan, sampai sebuah helikopter penyelamat muncul, dan lampu sorotnya menembus kegelapan malam. Helikopter itu berhasil menemukan bangkai pesawat, mendarat di dekatnya, dan menyelamatkan seluruh awaknya.

“Bagaimana kalian bisa mengetahui posisi kami?” tanya seorang pilot yang terluka.

“Dari radar di helikopter Anda,” jelas si penyelamat. “Alat itu mati secara otomatis ketika Anda jatuh. Yang kami lakukan hanyalah mengikutinya.”

Murid-murid Yesus juga mengalami sukacita karena diselamatkan. Mereka telah berusaha mendayung perahu mereka melawan angin dan gelombang di tengah kegelapan malam di Laut Galilea (Markus 6:45-47). Kemudian Yesus mendatangi mereka, berjalan di atas air, dan menenangkan laut yang bergejolak itu (ayat 48-51).

Kita mungkin mengalami situasi yang sama, yaitu ketika semuanya gelap dan memberikan pertanda buruk. Kita tidak dapat menolong diri sendiri, dan tampaknya orang lain pun tidak dapat menolong kita. Tidak seorang pun tahu betapa takut dan letihnya kita. Tidak seorang pun tahu, kecuali Yesus.

Ketika kita terperangkap, terluka, kesepian, atau kecil hati, Yesus mengetahuinya. Tangis kesedihan kita adalah tanda yang akan membawa Dia ke sisi kita, tepat pada saat kita sangat membutuhkan-Nya —Dave Egner

3 April 2004

Master Catur

Nats : Ia mengeluarkan air dari gunung batu bagi mereka; Ia membelah gunung batu, maka memancarlah air (Yesaya 48:21)
Bacaan : Yesaya 48:17-22

Sebuah lukisan yang memikat dipajang di Museum Louvre, Paris. Lukisan itu menggambarkan Faust (tukang sihir Jerman legendaris yang menukar jiwanya dengan iblis) sedang duduk berhadapan dengan Setan di depan papan catur. Wajah si Setan tampak senang melihat Faust yang akan segera mengalami skak mat. Si tukang sihir pun menunjukkan ekspresi seperti orang yang kalah.

Menurut cerita yang sering dikisahkan orang, suatu hari seorang master catur yang ternama mengunjungi galeri tersebut dan mempelajari lukisan itu dengan saksama. Tiba-tiba ia mengejutkan semua orang di sekelilingnya dengan teriakan yang penuh kegembiraan, “Ini tipuan! Ini tipuan! Raja dan kuda masih bisa melangkah.”

Yesaya meyakinkan orang-orang Yudea bahwa Allah selalu menyediakan jalan keluar bagi mereka. Meskipun mereka dibuang ke Babel karena dosa-dosa mereka, Yesaya menubuatkan bahwa saat pembebasan akan tiba yakni ketika mereka harus meninggalkan wilayah itu dengan tergesa-gesa. Tetapi mereka tidak perlu merasa khawatir. Sama seperti Allah telah menyediakan air bagi bangsa Israel di gurun pasir, Dia juga akan menyediakan segala sesuatunya ketika mereka menempuh perjalanan yang panjang untuk pulang ke tanah air mereka.

Banyak di antara kita telah mengalami berbagai situasi yang kelihatannya tidak ada harapan. Kita tidak melihat adanya jalan keluar. Namun jika kita berdoa, Allah akan membukakan jalan. Dia mampu membuat langkah “yang mustahil”. Kita dapat memercayai Dia. Dia tidak pernah terkena skak mat —Herb Vander Lugt

5 April 2004

Kasih yang Membebaskan

Nats : Mereka berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab mereka (Mazmur 99:6)
Bacaan : Mazmur 40:1-3

Ketika Raja Daud menengok kembali perjalanan hidupnya, ia teringat akan beberapa pengalaman yang menyakitkan dirinya. Dalam kitab Mazmur pasal 40, ia mengingat kembali sebuah kesulitan yang benar-benar menyakitkan hatinya, yakni ketika ia merasa seakan-akan telah tenggelam dalam “lumpur rawa” (ayat 3).

Dalam keputusasaannya, Daud terus-menerus memohon pembebasan dari Allah, dan dengan murah hati Tuhan pun membalas seruan putus asanya. Setelah mengangkatnya dari “lubang kebinasaan”, Tuhan menempatkan kaki Daud di atas bukit batu (ayat 3). Karena itu, tidak mengherankan jika Daud menyerukan nyanyian pujian dan syukur!

Saat menengok kembali kehidupan Anda sendiri, apakah Anda teringat akan suatu pengalaman ketika Anda merasa seakan-akan telah jatuh ke dalam lubang? Mungkin itu adalah lubang kegagalan, lubang kedukaan, lubang penyakit yang benar-benar menyiksa, lubang keragu-raguan yang begitu gelap, atau lubang dosa yang terus-menerus Anda masuki. Apakah Anda senantiasa berseru kepada Allah, dan apakah Dia dengan penuh kasih membebaskan Anda?

Jika ya, apakah Anda masih terus memuliakan Tuhan atas jawaban dari seruan Anda, dan bersyukur atas anugerah-Nya? Dan apakah Anda sekarang masih berjalan bersama-Nya dalam persekutuan yang penuh dengan ketaatan?

Dengan penuh keyakinan Anda dapat mengandalkan Tuhan untuk menolong Anda menghadapi situasi apa pun di masa yang akan datang. Bersukacitalah karena Dia dapat, dan bersedia, menuntun serta membebaskan Anda tepat pada waktu-Nya —Vernon Grounds

25 April 2004

Serahkan Beban Anda

Nats : Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! (Mazmur 55:23)
Bacaan : Mazmur 55:17-24

Seorang lelaki miskin di Irlandia berjalan pulang dengan susah-payah, sambil memanggul sebuah karung besar berisi kentang. Akhirnya melintaslah sebuah kereta kuda di jalan itu, dan si pemilik kereta mengundang pria tersebut untuk naik ke kereta. Setelah naik, pria tersebut duduk sambil terus memanggul karung bawaannya yang berat itu.

Ketika si pemilik kereta menyuruhnya menurunkan karung itu dan meletakkannya di atas kereta, lelaki itu menjawab, “Saya tidak ingin terlalu merepotkan Anda, Pak. Anda sudah memberi saya tumpangan, maka biarlah saya tetap memanggul karung berisi kentang ini.”

“Betapa bodohnya orang itu!” begitu komentar kita. Namun kadang-kadang kita juga melakukan hal yang sama saat kita berusaha menanggung beban hidup kita dengan kekuatan kita sendiri. Tidaklah mengherankan jika kita menjadi lelah dan dibebani oleh kekhawatiran dan ketakutan.

Dalam Mazmur 55, Daud mengungkapkan kekhawatiran yang dirasakannya karena musuh-musuh datang menyerangnya (ayat 2-16). Tetapi kemudian ia menyerahkan persoalannya kepada Tuhan sehingga ia dipenuhi oleh pengharapan dan kepercayaan diri yang telah diperbarui (ayat 17-24). Oleh karena itu ia dapat menulis, “Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!” (ayat 23).

Saat Anda mengingat kisah tentang pria dan karung kentangnya tersebut, ingatlah pelajaran sederhana yang terkandung di dalamnya: Daripada berusaha menanggung beban Anda sendiri, serahkanlah semuanya ke dalam tangan Allah —Henry Bosch

5 Mei 2004

Mukjizat Terus Berlangsung

Nats : Suara mereka didengar Tuhan dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di surga (2 Tawarikh 30:27)
Bacaan : 2 Tawarikh 30:21-27

Pernahkah Anda berpikir bahwa persekutuan doa merupakan sebuah mukjizat? Pemikiran tersebut muncul dalam pikiran saya pada suatu malam di gereja setelah kami membentuk kelompok-kelompok doa kecil. Ketika satu orang dalam setiap kelompok berdoa secara serentak, saya mendengar beberapa orang sedang berbicara kepada Allah pada saat yang sama. Semua itu terdengar seperti kata-kata yang diucapkan secara tidak teratur. Tetapi itulah mukjizatnya. Allah mendengarkan setiap doa, juga doa jutaan orang lainnya di seluruh dunia yang dipanjatkan kepada-Nya dalam berbagai bahasa.

Mungkin kita merasa frustrasi bila ada dua orang anak berbicara kepada kita secara bersamaan. Namun, sungguh suatu mukjizat bahwa Allah dapat mendengar sekian banyak anak-Nya yang berdoa secara bersamaan.

Bayangkanlah cerita tentang perayaan Paskah yang dilaksanakan Raja Hizkia. Ia mengundang orang-orang Israel untuk bergabung bersamanya di Yerusalem dalam pujian dan doa (2 Tawarikh 30:1). Orang banyak berbondong-bondong menghadiri perayaan yang kemudian menjadi kebaktian selama dua minggu itu. Sejumlah besar orang bersukacita dan memuji Allah secara bersamaan (ayat 25). Ketika para imam Lewi berdoa, “suara mereka didengar Tuhan dan doa mereka sampai ke ... surga” (ayat 27).

Mukjizat masih terus berlangsung. Saat ini, di seluruh dunia, jutaan orang sedang memanjatkan doa kepada Allah. Marilah kita bersukacita karena kita tahu bahwa Dia mendengarkan setiap doa —Dave Branon

18 Mei 2004

Buaya yang Tak Diharapkan

Nats : Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad (Matius 13:21)
Bacaan : Matius 13:18-23

Suatu kali, aktris sekaligus komedian Gracie Allen dikirimi temannya seekor buaya hidup yang masih kecil sebagai lelucon. Karena tak tahu apa yang harus diperbuatnya dengan makhluk itu, Gracie menaruhnya dalam bak mandi, lalu pergi untuk memenuhi suatu janji. Ketika pulang, ia mendapati pesan pada secarik kertas dari pembantunya. “Bu Allen, maaf, saya memutuskan keluar. Saya tidak mau bekerja di rumah yang ada buayanya. Mestinya saya mengatakan hal ini kepada Anda saat melamar, tetapi saya sungguh tidak menduga akan ada buaya di sini.”

Sebagian orang yang mengatakan ingin melayani Kristus, dapat segera meninggalkan pelayanan itu saat timbul masalah. Dalam perumpamaan Yesus tentang tanah, Dia menggambarkan beragam tanggapan orang terhadap Injil. Misalnya, seseorang tampaknya menerima kebenaran Allah, tetapi ia segera berpaling dari imannya saat muncul kesulitan (Matius 13:20,21). Kesulitan menguji kesungguhan iman dan menyingkapkan kelemahan komitmen seseorang kepada Kristus.

Namun, mungkin seseorang berkata, “Bukankah Tuhan seharusnya memberi tahu kita apa yang akan kita hadapi apabila mengikuti Dia?” Dia sudah memberi tahu. Dia menyerukan suatu undangan kepada kita, “Percayalah kepada-Ku.” Jika kita membiarkan kesulitan dan kekecewaan mengguncang iman kita, berarti kita menghancurkan roh keyakinan yang membawa kita kepada Kristus.

Bapa, ketika hidup ini membawa kami pada hal-hal yang tak diharapkan dan kami ingin menyerah, tolonglah kami untuk setia kepada-Mu —Mart De Haan

24 Mei 2004

Terlalu Banyak Pekerjaan?

Nats : Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, ... diam di rumah Tuhan seumur hidupku (Mazmur 27:4)
Bacaan : Lukas 10:38-42

Pada dasarnya saya seorang periang. Hampir sepanjang waktu saya dapat melakukan sebanyak mungkin pekerjaan yang diberikan kepada saya. Namun, ada hari-hari yang dipadati oleh begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Jadwal saya penuh dengan rapat, janji-janji, dan tenggat waktu, sampai serasa tiada lagi kesempatan untuk bernapas. Kehidupan ini kerap diisi dengan banyak pekerjaan, kegiatan mengurus keluarga, perbaikan rumah, dan masih banyak tanggung jawab lainnya yang harus diatasi oleh satu orang.

Bila hal itu terjadi pada saya, sebagaimana dapat pula terjadi pada Anda, saya memiliki beberapa pilihan. Saya dapat menarik diri dengan tidak mengerjakan apa pun dan menelantarkan setiap orang yang bergantung kepada saya. Saya dapat terus bekerja keras, sembari mengeluh dan membuat semua orang berharap saya memilih pilihan yang pertama. Atau saya dapat memohon agar cara pandang saya diluruskan kembali dengan cara mengingatkan diri sendiri akan perkataan Yesus kepada Marta (Lukas 10:38-42).

Yesus menegur Marta karena ia “sibuk sekali melayani” (ayat 40). Dia mengingatkan Marta bahwa saudaranya, Maria, telah memilih bagian yang takkan diambil dari padanya (ayat 42). Seperti kebanyakan kita, Marta begitu sibuk melayani sehingga melupakan hal yang terpenting, yakni bersekutu dengan Tuhan.

Apakah Anda begitu sibuk saat ini? Jangan pernah melupakan prioritas Anda. Luangkanlah waktu bersama Tuhan. Dia akan mengangkat beban Anda dan memberi Anda cara pandang yang benar —Dave Branon

19 Juni 2004

Hiu!

Nats : Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku (Mazmur 3:4)
Bacaan : Mazmur 3

Membayangkan diri kita dikelilingi oleh ikan hiu, pastilah cukup menakutkan. Saya sering memancing di Teluk Meksiko, membaca banyak artikel tentang gigi hiu yang runcing, dan menonton banyak film mengenai serangan ikan hiu, sehingga saya mengetahui betapa berbahayanya mereka. Tetapi saya juga pernah dikelilingi oleh ikan hiu, dan tetap merasa aman.

Sea World di Florida mempunyai ruang pameran bawah laut yang memungkinkan Anda berada dalam satu ruangan dengan banyak hiu yang beratnya ribuan kilo. Sebuah lorong dari kaca bening memungkinkan Anda berjalan di tengah akuarium yang berisi banyak ikan hiu itu. Wisata di sana akan membuat Anda mengenali dunia hewan pemangsa ini, dan merasakan kehadiran serta kekuatan mereka, tetapi tetap terlindung dari serangan mereka.

Daud mempunyai pengalaman berada “di kedalaman laut” dan dikelilingi para pemangsa. Sebagai seorang yang berkenan di hati Allah (1 Samuel 13:14), ia telah belajar menjadikan Tuhan sebagai pelindungnya. Apakah rahasianya? Daud membawa semua ketakutannya di hadapan Allah (Mazmur 3:2). Ia tidak menghiraukan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa Allah tidak akan menolongnya (ayat 3). Bahkan ia belajar untuk tidur (ayat 6), dan percaya bahwa tidak ada sesuatu pun dapat menyentuhnya tanpa seizin Tuhan. Daud menemukan perlindungan di dalam Allah (ayat 9).

Bapa, berikanlah kami kepercayaan yang sama. Ajari kami untuk memercayai Engkau sebagai perisai dan pelindung kami —Mart De Haan

9 Juli 2004

“babi Kecil”

Nats : Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)
Bacaan : 1 Petrus 5:5-7

Saya teringat ketika berjalan di sepanjang sungai kecil di Texas beberapa tahun lalu bersama saudara ipar saya Ed dan anak lelakinya, David, yang berusia tiga tahun. David mengumpulkan batu-batu bulat dan halus dari sungai sementara kami berjalan. Ia menyebutnya “babi kecil”, karena batu berbentuk bulat itu mengingatkannya pada babi-babi kecil.

David memasukkan beberapa “babi kecil” ke dalam kantong bajunya, dan setelah kantongnya tidak muat, ia mulai membawanya dengan tangan. Beberapa saat kemudian ia mulai terhuyung-huyung karena beban yang terlalu berat, dan mulai tertinggal. Pasti ia tidak mampu membawa batu-batu itu pulang tanpa bantuan, maka Ed berkata, “Sini David, mari Ayah bawakan ‘babi-babi kecil’mu.”

Sesaat tampak keraguan menyelimuti wajah David, tetapi kemudian raut mukanya berseri-seri. “Aku tahu,” katanya. “Gendonglah aku, Ayah, dan aku akan membawa sendiri ‘babi-babi kecil’ku!”

Saya sering memikirkan peristiwa itu, serta kedegilan saya yang kekanak-kanakan untuk membawa beban saya sendiri. Yesus menawarkan diri untuk mengambil semua beban saya, namun saya bertahan dengan kebebalan dan kesombongan saya.

“Gendonglah saya,” pinta saya, “tapi saya akan membawa sendiri semua ‘babi kecil’ saya.” Betapa bodohnya jika Anda mencoba membawa semua beban Anda sendiri sementara Yesus meminta kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, sebab Dia yang memelihara kita (1 Petrus 5:7).

Sudahkah Anda hari ini menyerahkan semua “babi kecil” Anda ke dalam tangan Yesus yang kuat? —David Roper

4 Agustus 2004

Pagi, Siang, Malam

Nats : Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku (Mazmur 55:18)
Bacaan : Mazmur 55:17-24

Pada bulan Mei 2003, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang Algeria bagian utara. Berita TV memperlihatkan orang-orang yang kebingungan menelusuri reruntuhan untuk mencari orang-orang yang masih hidup, sementara yang lain dengan lemas mengunjungi rumah sakit dan kamar mayat untuk melihat apakah orang yang mereka kasihi masih hidup atau sudah meninggal. Banyak keluarga berkumpul bersama sambil menangis dan berseru minta tolong. Beban mereka akan ketidakpastian dan dukacita dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.

Jika Anda pernah mengalami rasa kehilangan yang mendalam, Anda akan menghargai perkataan Daud dalam Mazmur 55, yang ditulisnya pada masa penuh kesengsaraan dalam hidupnya. Saat tertekan oleh kaum fasik, dibenci oleh para musuhnya, dan dikhianati oleh sahabatnya, Daud mengungkapkan kecemasan dan penderitaan yang merupakan ancaman yang dapat menghancurkan imannya: "Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku" (ayat 6).

Namun bukannya menyerah pada rasa takut, Daud justru mencurahkan isi hatinya kepada Allah, "Aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku. Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku" (ayat 17,18).

Doa akan mengalihkan pandangan kita dari tragedi pribadi ke arah belas kasihan Allah. Doa memampukan kita menyerahkan beban kepada Tuhan dan bukannya malah hancur tertimpa beban. Tatkala hati kita dipenuhi kepedihan, penting bagi kita untuk berdoa kepada Allah -- pagi, siang, dan malam --David McCasland

11 September 2004

Nama yang Berharga

Nats : Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga (Lukas 10:20)
Bacaan : Lukas 10:1,17-24

Tak seorang pun mengira bahwa peringatan dua tahun serangan teroris 11 September sama mengharukannya dengan peringatan peristiwa itu pada tahun pertama. Di Ground Zero, New York, keadaan berubah menjadi mengharukan tatkala sekitar 200 orang muda berkumpul dan mulai membacakan nama-nama para korban yang tewas di World Trade Center. Orang-orang muda itu adalah anak-anak, saudara kandung, dan keponakan para korban. Ke-2.792 nama itu begitu berarti bagi mereka yang membacakannya, dan menghidupkan kembali kenangan akan orang-orang yang mereka kasihi dan yang telah meninggal dunia.

Nama seseorang menunjukkan identitas, prestasi, dan relasinya. Suatu hari kelak mungkin nama kita akan terpahat di sebuah plakat peringatan atau batu nisan sebagai tanda kenangan dan penghormatan terhadap diri kita.

Namun, ada sebuah buku surgawi yang paling penting dari semuanya. Ketika para pengikut Yesus melaporkan keberhasilan pelayanan mereka kepada-Nya, Dia pun menjawab, "Janganlah bersukacita..., tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga" (Lukas 10:20). Kemudian Dia bersyukur kepada Bapa yang telah membuat jalan kepada-Nya cukup mudah untuk dipahami, bahkan bagi seorang anak kecil sekalipun (ayat 21).

Seorang anak menghargai hubungan yang penuh kasih. Dengan semangat seorang anak, kita harus bersukacita karena melalui iman di dalam Kristus kita menjadi milik Allah dan aman di dalam kasih-Nya untuk selamanya. Nama kita berharga bagi-Nya --David McCasland

4 Januari 2005

Air Dalam

Nats : Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku (Mazmur 69:16)
Bacaan : Mazmur 69:14-19

Para pembuat kendaraan sport utility vehicles (SUV) suka menunjukkan produk mereka dalam situasi yang membuat kita terpana. Misalnya, di tebing pegunungan terjal dan tinggi, di mana tak ada truk yang mungkin mencapainya. Atau di rawa-rawa yang mustahil dilewati sehingga Anda perlu hovercraft [kendaraan yang dapat berjalan di darat dan air] untuk mengatasi persoalan itu. Kita diharapkan akan berpikir bahwa SUV tak terkalahkan.

Karena itu saya menemukan lelucon yang tak disengaja mengenai penolakan garansi dalam iklan sebuah SUV four-wheel-drive baru-baru ini. Sebuah foto menunjukkan kendaraan yang terendam air setinggi lampu depannya, sewaktu berusaha menyeberang sungai. Iklannya berbunyi: “Melewati air dalam dapat menyebabkan kerusakan yang membatalkan garansi.”

Air dalam tak hanya masalah bagi mobil, tetapi juga bagi kita. Saat kita melintasi jalanan kehidupan, kita sering terkurung oleh lautan dukacita atau empasan gelombang hubungan yang retak. Kita butuh pertolongan.

Penulis Kitab Mazmur menceritakan pertolongan yang diperlu-kan itu. Mereka mengatakan bahwa Allah adalah “tempat perlindungan pada waktu kesesakan” (9:10), dan bahwa “pada waktu bahaya … Dia mengangkat aku ke atas gunung batu” (27:5). Tak ada penolakan garansi dalam hal ini. Melewati air dalam tak akan memengaruhi jaminan kerohanian kita. Allah akan selalu ada untuk memastikan dukungan-Nya.

Apakah Anda berada di air dalam? Ulurkan tangan dan raihlah tangan belas kasih Allah —Dave Branon

6 Januari 2005

Berkat yang Tak Layak

Nats : Allah … telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga (Efesus 1:3)
Bacaan : Habakuk 3:17-19

Bintang tenis Arthur Ashe meninggal karena AIDS, yang menjangkitinya lewat transfusi darah selama operasi jantung. Lebih dari sekadar atlet besar, Ashe adalah pria yang mengilhami dan mendorong banyak orang dengan teladan tingkah lakunya di dalam dan di luar lapangan.

Ashe bisa saja mengalami kepahitan hidup dan mengasihani diri sewaktu menghadapi penyakitnya. Akan tetapi ia mempertahankan sikap penuh syukur. Ia menjelaskan, “Jika saya bertanya, ‘Mengapa saya?’ mengenai kesulitan-kesulitan saya, saya juga harus bertanya, ‘Mengapa saya?’ mengenai berkat yang saya terima. Mengapa saya yang memenangkan Wimbledon? Mengapa saya yang menikahi seorang wanita cantik yang berbakat dan mempunyai seorang anak yang luar biasa?”

Sikap Ashe menegur sebagian dari kita yang sering mengeluh, “Mengapa saya? Mengapa Allah mengizinkan hal ini terjadi?” Bahkan meskipun kita mengalami penderitaan yang luar biasa, kita seharusnya tidak melupakan belas kasih Allah yang dicurahkan dalam hidup kita—seperti makanan, tempat tinggal, dan para sahabat—berkat-berkat yang tidak dimiliki banyak orang.

Lalu bagaimana dengan berkat-berkat rohani? Kita dapat memegang firman Allah dan membacanya. Kita mempunyai pengetahuan akan anugerah keselamatan-Nya, penghiburan Roh-Nya, dan sukacita keyakinan akan hidup kekal bersama Yesus.

Pikirkanlah mengenai berkat-berkat Allah dan tanyakanlah, “Mengapa saya?” Maka gerutuan Anda akan membuka jalan untuk pujian —Vernon Grounds

16 Februari 2005

Air Mata Sementara

Nats : Dan Allah, sumber segala kasih karunia ... akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1 Petrus 5:10)
Bacaan : 1 Petrus 5:6-11

Penulis George MacDonald menulis, “Allah telah datang untuk menghapus air mata kita. Dia tengah melakukannya; Dia akan melakukannya sesegera mungkin kalau Dia bisa. Kalau belum bisa, Dia akan membiarkan air mata itu mengalir tanpa kepahitan. Pada akhirnya Dia memberi tahu kita bahwa meratap adalah hal yang membahagiakan, karena penghiburan akan datang.”

Selagi menanti datangnya penghiburan, kita boleh merasa yakin bahwa Allah tidak akan membiarkan kita dicobai di luar batas kemampuan kita. Setiap permasalahan sudah diatur tepat pada waktunya. Setiap situasi sulit sudah disaring melalui kasih-Nya yang sempurna. Kita tidak akan menderita lebih lama lagi. Kita juga tidak akan menderita lebih berat lagi. “Allah memberikan angin yang menyejukkan bagi domba yang sedang dicukur,” demikian bunyi pepatah Basque kuno. Dengan kata lain, Allah tidak akan membiarkan mereka yang paling ringkih dibebani kesulitan yang tidak sanggup mereka tanggung.

Mungkin ada sungai yang dalam yang harus Anda seberangi. Atau barangkali ada api yang akan menguji karakter Anda yang sejati. Tetapi di tengah-tengah semua itu, Allah berjanji akan menjadi mitra, pendamping, sahabat Anda yang setia. Dia akan “melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu” (1 Petrus 5:10)

Setelah itu, apabila Dia sudah menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka Dia akan membawa Anda kembali ke surga dan menghapus seluruh air mata Anda—untuk selama-lamanya (Wahyu 21:4) —David Roper

26 Februari 2005

Dikenal Baik

Nats : Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya (2 Timotius 2:19)
Bacaan : Mazmur 139:1-12

Burung laut Arktik yang disebut guillemot tinggal di lereng-lereng pantai yang berbatu-batu. Di sana ribuan burung tersebut tinggal secara berkelompok di wilayah yang sempit. Karena mereka tinggal secara berkelompok, maka para betinanya meletakkan telur mereka secara berjejer sehingga telur-telur tersebut membentuk garis yang panjang. Yang sungguh mengagumkan adalah bahwa setiap betina dapat mengenali telur miliknya. Penelitian memperlihatkan bahwa bahkan apabila sebuah telur dipindahkan cukup jauh, pemiliknya akan menemukan dan membawanya kembali ke posisi semula.

Bapa surgawi kita tentu lebih mengenal anak-Nya masing-masing. Dia mengenal setiap pemikiran, emosi, dan keputusan yang kita buat. Mulai dari pagi hingga malam hari, Dia senantiasa memberikan perhatian pribadi untuk semua perkara kita sehari-hari. Karena menyadari kenyataan agung ini, maka pemazmur berseru dengan penuh kekaguman, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (Mazmur 139:6).

Hal seperti ini tidak hanya mendorong kita untuk mengangkat pujian, tetapi juga untuk memberikan penghiburan yang besar bagi hati kita. Yesus pun memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Bapa mengetahui apabila ada burung pipit yang jatuh ke tanah. Karena manusia jauh lebih penting daripada burung, maka anak-anak Allah boleh merasa yakin bahwa Bapa senantiasa memerhatikan mereka.

Betapa indahnya menjadi orang yang sedemikian dicintai, “dan dikenal baik”! —Mart De Haan

13 Maret 2005

Bintang dan Pasir

Nats : Dia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya (Mazmur 147:4)
Bacaan : Mazmur 147:1-11

Sebuah tim yang dipimpin oleh seorang ahli astronomi dari Australia telah menghitung dan mendapatkan bahwa jumlah bintang yang ada di angkasa adalah 70 sextillion—angka 7 diikuti dengan 22 angka nol. Jumlah bintang yang tak terhitung tersebut dikatakan lebih banyak daripada butir-butir pasir di semua pantai dan padang gurun di bumi ini. Penghitungan bintang tersebut hanyalah hasil sampingan dari penelitian tentang perkembangan galaksi. Seorang anggota tim itu berkata, "Menemukan jumlah bintang bukanlah tujuan utama penelitian yang kami lakukan. Namun ini pun merupakan hasil penelitian yang menarik."

Keberhasilan memperkirakan jumlah bintang dapat menolong kita untuk memuji Tuhan dengan penghormatan dan kekaguman yang lebih besar. Mazmur 147 mengatakan, "Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu .... Dia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga" (ayat 1,4,5).

Mazmur ini tidak hanya mengungkapkan kemuliaan Allah, tetapi juga menegaskan perhatian-Nya kepada kita masing-masing. Dia "menyembuhkan orang-orang yang patah hati" (ayat 3), "menegakkan kembali orang-orang yang tertindas" (ayat 6), dan "senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya" (ayat 11).

Marilah kita kini memuji Allah yang telah menciptakan bintang dan pasir, yang juga mengenal serta memelihara kita satu per satu —DCM

10 April 2005

Lepaskan Balon Anda!

Nats : Aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu, ya Tuhan, ... dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu (2Samuel 22:50)
Bacaan : 2Samuel 22:1-8

Para peserta konferensi pada sebuah gereja di Nebraska diberi balon-balon yang berisi gas helium. Kemudian mereka diminta untuk melepaskan balon-balon tersebut di tengah-tengah kebaktian, yaitu pada saat mereka merasa ingin mengungkapkan sukacita. Sepanjang kebaktian, balon-balon tersebut membumbung naik satu per satu. Akan tetapi, di akhir kebaktian, sepertiga peserta belum melepaskan balon mereka. Saya lalu bertanya-tanya, apakah mereka tidak dapat memikirkan satu alasan pun untuk memuji Allah.

Raja Daud pasti telah melepaskan balonnya pada saat menyanyikan lagu pujian yang tercatat di dalam kitab 2 Samuel 22. Ia bersukacita karena Allah telah melepaskan ia dari semua musuhnya (ayat 1). Sebelumnya, pada saat bersembunyi dari Raja Saul di padang gurun yang berbatu, ia telah belajar bahwa rasa aman yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah (1 Samuel 23:25). Hati Daud merasa harus "menyanyikan syukur" dan "menyanyikan mazmur", karena Tuhan telah menjadi bukit batu, kubu pertahanan, penyelamat, kota benteng, perlindungan, dan Juruselamat baginya (2 Samuel 22:2,3,50).

Berperan sebagai apakah Tuhan di dalam hidup Anda? Pemberi kedamaian di waktu kacau? Penghibur di tengah kehilangan? Pengampun dosa? Kekuatan di dalam tugas yang sulit?

Ambillah selembar kertas dan tuliskanlah daftar ucapan syukur Anda. Lalu luangkan waktu untuk memuji Allah atas segala keberadaan-Nya dan segala yang telah dilakukan-Nya.

Lepaskanlah balon Anda! —AMC

18 April 2005

Bantuan Dalam Perjalanan

Nats : Barang siapa ... melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (1Yohanes 3:17)
Bacaan : 1Yohanes 3:11-20

Suatu kali teman kami bepergian dari Georgia ke Illinois dengan mengendarai sebuah mobil sewaan. Di tengah jalan, mobil mereka rusak karena menabrak sebuah lubang besar di jalan. Lalu lintas pun menjadi lumpuh, sehingga suasana saat itu agak kacau.

Sementara teman kami berusaha mencari jalan keluarnya, seorang petugas polisi menawarkan untuk mengantarkan mereka ke restoran McDonald’s terdekat. Sesampainya di sana, mereka hanya duduk-duduk di tenda depan restoran sambil menunggu mobil mereka diperbaiki. Mereka tidak membeli apa-apa. Mereka tidak punya banyak uang. Selama ini mereka berdedikasi untuk melayani orang lain.

Sementara itu, mereka menelepon kami untuk memberitahukan kesulitan mereka. Namun, kami tidak dapat berbuat banyak kecuali berdoa dan percaya bahwa Allah akan menjaga mereka. Sementara mereka dan anak-anak duduk di tenda depan restoran itu, seorang pria mendekati mereka sambil membawa kantong-kantong berisi burger dan kentang goreng. "Allah meminta saya untuk memberi kalian makanan," jelasnya sambil mengantarkan makan malam bagi keluarga yang lapar itu.

Sudah berapa kalikah Anda melihat Allah mengirimkan bantuan dalam perjalanan? Atau sebaliknya, sudah berapa kalikah kita merasakan dorongan untuk menolong seseorang—namun kemudian menolaknya?

Kita adalah tangan-tangan Allah di bumi—diciptakan untuk menerima bantuan dan untuk memberikannya. Apakah Anda mengenal seseorang yang membutuhkan bantuan dalam perjalanan? —JDB

22 April 2005

Terluka dan Mendengar

Nats : Aku telah memerhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka (Keluaran 3:7)
Bacaan : Keluaran 5:24-6:8

Saat kita mengalami dukacita yang dalam atau situasi yang sulit, kita barangkali merasa tersinggung apabila seseorang mengatakan bahwa sesuatu yang baik dapat muncul dari kesukaran kita. Seseorang bermaksud baik yang mencoba untuk mendorong kita untuk memercayai janji-janji Allah, dapat dianggap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan atau bahkan tidak realistis.

Hal itu terjadi terhadap bangsa Israel, yaitu ketika Allah sedang mengusahakan pembebasan mereka dari tanah Mesir. Firaun mengeraskan hatinya terhadap perintah Allah untuk membiarkan umat-Nya pergi, dan ia memperberat beban kerja budak-budak Ibrani dengan memaksa mereka mengumpulkan jerami yang diperlukan untuk membuat batu bata (Keluaran 5:10,11). Mereka menjadi begitu patah semangat, sehingga tidak dapat menerima jaminan Musa bahwa Allah telah mendengar seruan mereka dan berjanji untuk membawa mereka ke tanah milik mereka sendiri (6:8).

Kadang-kadang luka dan ketakutan yang kita alami dapat menutup telinga kita terhadap kata-kata Allah yang penuh dengan pengharapan. Akan tetapi, Tuhan ternyata tidak berhenti berbicara kepada kita pada saat kita mengalami kesulitan untuk mendengarkan. Dia justru akan terus-menerus berusaha demi kepentingan kita. Hal itu terjadi sama seperti ketika Dia membebaskan umat-Nya dari tanah Mesir.

Pada saat kita mengalami belas kasihan Allah dan kepedulian-Nya, maka kita akan dapat mendengar suara-Nya kembali, sekalipun luka itu belum sembuh —DCM

9 Mei 2005

Dia Menerangi Jalan

Nats : Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar (Mazmur 112:4)
Bacaan : Mazmur 112

Suatu malam, seorang misionaris di Peru mengunjungi sekelompok orang percaya. Ia tahu bahwa rumah tempat mereka bertemu berada di sebuah lereng dan jalan menuju ke sana berbahaya. Ia pergi ke sana naik taksi, sejauh bisa taksi menjangkau. Kemudian ia mulai naik menapaki jalan yang berbahaya menuju rumah itu. Malam itu gelap dan jalannya sangat sulit. Ketika ia melewati belokan, tiba-tiba ia melihat beberapa orang percaya membawa lentera yang terang. Mereka datang untuk menerangi jalannya. Ketakutannya sirna, dan ia melewati jalan yang menanjak itu dengan mudah.

Dengan cara yang sama seperti itulah Allah menerangi jalan kita. Ketika kita memercayai Yesus sebagai Juruselamat, Dia yang adalah Terang dunia, memasuki kehidupan kita dan menghilangkan kegelapan dosa serta keputusasaan kita. Terang ini senantiasa menghibur kita melewati saat-saat sulit. Di tengah-tengah kesedihan, masalah, sakit penyakit, atau kekecewaan, Tuhan menerangi jalan dan menguatkan anak-anak-Nya dengan memberikan harapan.

Harapan ini barangkali disampaikan melalui kata-kata nasihat dari sesama orang percaya. Mungkin harapan itu berupa penerangan firman Allah melalui pelayanan Roh Kudus, peneguhan yang menenteramkan sebagai jawaban doa yang sepenuh hati, atau melalui penyediaaan barang kebutuhan tertentu secara ajaib. Apa pun kejadiannya, Allah mengirimkan terang pada saat kita dilanda kegelapan.

Yesus senantiasa memberikan terang pada malam yang gelap gulita! —DCE

12 Mei 2005

Jatuh Bebas

Nats : Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Ulangan 32:1-14

Dalam nyanyian lembut Musa pada bacaan Alkitab hari ini, Allah digambarkan sebagai induk rajawali yang bisa dipercaya oleh anak-anaknya, bahkan dalam pengalaman yang menakutkan seperti belajar terbang (Ulangan 32:11,12).

Seekor induk rajawali membangun sarang yang nyaman untuk anak-anaknya, melindungi mereka dengan bulu-bulu dadanya sendiri. Tetapi insting pemberian Allah untuk membangun sarang yang aman pun memaksa rajawali-rajawali muda itu untuk segera keluar sarang. Rajawali diciptakan untuk terbang, dan induk rajawali tidak akan melewatkan kewajibannya untuk mengajari anak-anaknya. Karena hanya dengan demikianlah mereka memenuhi kodrat mereka.

Maka suatu hari induk rajawali itu akan mengusik ranting-ranting pada sarang tersebut dan membuatnya menjadi tempat yang tidak nyaman. Kemudian ia akan memungut rajawali muda yang kebingungan itu, melambungkan ke udara, dan menjatuhkannya. Burung kecil itu pun jatuh dengan bebas. Di mana Mama sekarang? Ia tidak jauh. Induknya segera akan menukik ke bawah dan menangkap anak burung itu dengan salah satu sayapnya yang kuat. Ia akan mengulangi latihan ini sampai setiap anaknya mampu terbang sendiri.

Apakah Anda takut untuk jatuh bebas, karena tidak tahu pasti di mana atau seberapa keras Anda akan mendarat? Ingat, Allah akan terbang untuk menyelamatkan Anda dan membentangkan lengan-Nya yang abadi di bawah Anda. Dia pun akan mengajari sesuatu yang baru dan indah melalui hal itu. Jatuh pada lengan Allah bukanlah hal yang perlu ditakuti —JEY

15 Mei 2005

Permohonan Mulia

Nats : Maka gemetarlah ia dan keheranan, katanya, "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:6)
Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-9

Ketika masih menjadi mahasiswa seminari, saya sering terkesan oleh kisah-kisah orang kristiani yang telah melakukan pekerjaan besar bagi Allah. Maka saya memohon kepada Tuhan untuk mengaruniakan wawasan dan kekuatan rohani seperti yang mereka miliki. Kelihatannya itu permohonan yang mulia. Tetapi suatu hari saya menyadari bahwa itu sebenarnya doa yang egois. Maka, bukannya meminta Tuhan untuk menjadikan saya seperti orang lain, saya justru mulai meminta Tuhan untuk menunjukkan apa yang Dia ingin saya lakukan.

Ketika Saulus dari Tarsus bertobat sewaktu ia dalam perjalan ke Damaskus, ia mengajukan dua pertanyaan. Pertama, "Siapakah Engkau, Tuhan?" Dan karena menyadari bahwa ia berada di hadirat Allah yang hidup, maka hanya ada satu pertanyaan lagi yang penting: "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" (Kisah Para Rasul 9:5,6). Ia menyadari bahwa ketaatan kepada kehendak Allah merupakan fokus utama sepanjang sisa hidupnya.

Permohonan akan kesehatan, kesembuhan, keberhasilan, dan bahkan kekuatan rohani tidaklah salah, tetapi bisa menjadi doa yang egois jika tidak mengalir dari hati yang berketetapan untuk taat kepada Allah. Yesus mengatakan, "Barang siapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barang siapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku" (Yohanes 14:21). Ketaatan menyatakan cinta kita kepada Allah dan memungkinkan kita mengalami cinta-Nya bagi kita.

Apakah Anda sudah menyampaikan permohonan mulia: "Tuhan, apa yang Engkau ingin saya lakukan?" —HVL

30 Mei 2005

Dikenal Allah

Nats : Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya (Mazmur 77:10)
Bacaan : Mazmur 77:2-16

Ketika mengunjungi makam para pahlawan yang gugur pada Perang Dunia I di Prancis, saya heran dengan banyaknya nisan yang hanya bertuliskan kata-kata berikut.

Tentara Perang Besar: Dikenal Allah

Makam itu dikelilingi oleh tiga sisi papan batu yang memuat 20.000 nama tentara yang mati dalam pertempuran tidak jauh dari tempat itu. Membayangkan betapa kesepiannya orang-orang yang tewas dalam perang dan kepedihan keluarga mereka yang berduka di rumah terasa sangat berat.

Dalam hidup kadang-kadang kita merasa dilupakan dan sendirian. Lalu kita berseru seperti pemazmur, "Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi? . . . Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?" (Mazmur 77:8,10).

Jawaban pemazmur atas perasaannya yang ditinggalkan datang ketika ia mengingat semua yang telah Allah kerjakan pada masa lampau, merenungkan karya-Nya yang ajaib, dan membicarakannya dengan orang lain (ayat 12,13).

Pada saat-saat yang paling gelap, kita dapat mengingat kata-kata Yesus: "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit" (Lukas 12:6,7).

Kita tidak pernah dilupakan Allah —DCM

1 Juni 2005

Tuhan yang Bilang

Nats : Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:4)
Bacaan : Mazmur 23

Ketika Jacob, cucu saya yang berusia 8 tahun membesuk saya di rumah sakit, ia datang sambil membawa kartu "Semoga Cepat Sembuh" buatan sendiri. Kartu itu berupa kertas putih kaku berukuran kuarto yang dilipat menjadi dua. Bagian depan kartu itu ditulisnya dengan kata-kata, "Semoga Kakek cepat sembuh." Di dalamnya, dengan huruf kapital tebal, tertulis pesan:

Karena tidak ada acuan Kitab Suci, Jacob menambahi dengan kata-kata: "Tuhan yang bilang." Ia ingin memastikan saya tidak mengharapkannya menemani saya selama berada di rumah sakit.

Catatan tambahan itu menyampaikan kebenaran yang tidak disengaja sekaligus mendalam, yang membuat saya tersenyum dan menimbulkan kehangatan dalam hati saya. Rumah sakit dapat menjadi tempat yang membuat saya kesepian. Ini adalah dunia yang diisi dengan wajah-wajah asing, prosedur medis pertama, dan diagnosis yang tidak pasti. Namun, di sinilah Allah mampu menenangkan hati yang gelisah dan memberikan jaminan bahwa Dia akan menyertai Anda berjalan menyusuri setiap koridor, melalui setiap pintu yang baru, memasuki masa depan yang tidak Anda ketahui. Ya, bahkan melalui "lembah kekelaman" (Mazmur 23:4).

Mungkin Anda baru saja mengalami malapetaka atau kehilangan yang tak dinyana. Anda tidak mengetahui masa depan Anda. Percayalah kepada Yesus Sang Juruselamat dan Tuhan Anda, maka Anda dapat meyakini hal ini: Dia akan menyertai ke mana pun Anda melangkah. Anda boleh memercayainya. Tuhan yang bilang! —DJD
BAGI ORANG KRISTIANI
ALLAH LEBIH DEKAT DARIPADA BAHAYA

8 Juli 2005

Pandanglah Burung

Nats : Pandanglah burung-burung di langit .... Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26)
Bacaan : Matius 6:25-34

Ketika Anda melambatkan jalan pikiran Anda dan membiarkannya bermalas-malasan, ke mana pikiran Anda melayang? Apakah Anda mengkhawatirkan uang? Kita harus berhati-hati dengan uang, namun Yesus mengajarkan agar kita tak boleh mencurahkan seluruh perhatian pada uang. Jika Anda beriman kepada Tuhan, Anda tak perlu mengkhawatirkan kebutuhan hidup. Allah sendiri telah memikul tanggung jawab atas tersedianya makanan dan pakaian Andadan segala kebutuhan Anda.

Ketika Yesus berbicara mengenai kebutuhan kita akan makanan, Dia mengacu pada burung-burung, dan berkata, [Mereka] tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26). Itu tidak berarti kita bisa mendapatkan apa pun yang kita perlukan tanpa usaha. Burung-burung harus mengais dan mencari makanan. Intinya, mereka tidak perlu khawatir mengenai makanan.

Yesus memerintahkan kita agar memusatkan hidup pada kerajaan Allah. Maka pakaian, makanan, dan minuman pasti akan kita dapatkan. Lihatlah dengan cara demikian: Entah Anda hidup hanya untuk uang atau tidak, pada akhirnya Anda pasti akan meninggalkannya atau uang yang meninggalkan Anda. Namun jika Anda memusatkan kehidupan Anda pada Allah dan melakukan kehendak-Nya, hal-hal lain akan disediakan bagi Anda.

Apakah kepedulian Anda untuk menghasilkan uang dan menyimpannya mengalahkan kepedulian Anda melakukan kehendak Allah? Jika iya, berhenti dan pandanglah burung-burung HWR

25 Juli 2005

Makin Tua, Makin Dewasa

Nats : Sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini (Mazmur 71:18)
Bacaan : Mazmur 71:14-24

Usia tua adalah masa di mana kita dapat melakukan pembentukan-jiwa, demikian kata orang-orang Quaker. Kita dapat memusatkan perhatian untuk mengenal Allah dengan lebih baik dan melatih karakter yang membuat kita semakin menyerupai Dia. Usia melemahkan kekuatan dan tenaga kita, serta merenggut kesibukan kita. Itulah cara yang digunakan Allah untuk memperlambat langkah kita, sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk Dia. Kita dapat lebih dalam memi-kirkan tentang kehidupan, diri kita sendiri, dan orang lain.

Perubahan adalah suatu hal yang tak dapat dihindari dalam hidup. Setiap menit kita dibentuk dalam langkah hidup kita. Setiap pikiran, keputusan, tindakan, emosi, respons, membentuk kita menjadi orang tertentu. Kita dapat semakin menyerupai Kristus atau justru menjauh dari Dia dan akhirnya sekadar menjadi karikatur dari pribadi yang dimaksudkan Allah bagi kita.

Kita memang kehilangan beberapa hal pada saat usia kita semakin bertambah: kekuatan fisik, kecekatan, kegesitan. Akan tetapi, cobalah Anda pikirkan ketenangan yang diberikan oleh Tuhan, kedamaian yang ditinggalkan-Nya bagi kita, keselamatan yang disediakan-Nya bagi kita, dan kesetiaan-Nya kepada kita (Mazmur 17:15).

Usia lanjut adalah saat yang paling baik untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan kesalehan, dalam kekuatan batiniah dan kecantikan karakter. Rambut putih, kata orang bijak, adalah mahkota indah, yang diperoleh pada jalan kebenaran (Amsal 16:31) DHR

6 Agustus 2005

Kotak Kekhawatiran

Nats : Janganlah khawatir akan hidupmu (Matius 6:25)
Bacaan : Filipi 4:1-9

Saya mendengar tentang seorang wanita yang menyimpan sebuah kotak di dapurnya yang ia sebut Kotak Kekhawatiran. Setiap kali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, ia akan menuliskannya di secarik kertas kemudian menaruhnya di dalam kotak tersebut. Ia memutuskan untuk tidak memikirkan masalah-masalah itu selama mereka masih ada di dalam kotak. Hal ini memampukan ia untuk betul-betul mengesampingkan persoalan-persoalan tersebut dari pikirannya. Ia tahu bahwa berbagai persoalan itu dapat dihadapi di lain waktu.

Kadang kala ia menarik secarik kertas dari dalam kotak itu dan meninjau ulang masalah yang tertulis di situ. Karena tenaganya belum terkuras oleh kekhawatiran, ia pun santai dan mampu mencari pemecahan masalahnya dengan lebih baik. Ada pula persoalan yang ternyata sudah tidak menjadi masalah lagi.

Menuliskan kekhawatiran Anda di atas kertas kemudian menaruhnya di dalam sebuah kotak mungkin bermanfaat, namun betapa jauh lebih baik jika kita meletakkan semua kekhawatiran di tangan Allah. Kekhawatiran merampas sukacita, menguras tenaga, menghambat pertumbuhan rohani kita, dan tidak memuliakan Allah. Yesus berkata, Janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Matius 6:34).

Marilah meyakini janji-janji Allah dan percaya bahwa Dia akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Meletakkan berbagai masalah kita di tangan-Nya jauh lebih baik daripada menaruhnya di dalam sebuah kotak kekhawatiran RWD

8 Agustus 2005

Yang Tak Dapat Hilang

Nats : Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:4)
Bacaan : Mazmur 92:13-16

Bertahun-tahun lalu saya mendengar tentang seorang pria lanjut usia yang mengalami kemunduran kemampuan intelektual stadium awal. Ia meratapi kenyataan bahwa ia acap kali lupa akan Allah. Jangan khawatir, kata seorang teman baiknya, Dia tidak akan pernah melupakan engkau.

Beranjak tua mungkin merupakan tugas tersulit yang harus kita hadapi di dalam hidup ini. Seperti dikatakan oleh sebuah perumpamaan, Beranjak menjadi tua bukanlah tugas untuk para pengecut.

Beranjak tua pertama-tama adalah menyangkut peristiwa kehilangan. Kita mengabdikan sebagian besar hidup kita sebelumnya untuk memperoleh banyak hal. Namun, semuanya itu hanyalah sesuatu yang akan hilang pada saat kita beranjak tua. Kita kehilangan kekuatan, penampilan, teman, pekerjaan. Kita mungkin kehilangan kekayaan, rumah, kesehatan, pasangan hidup, kebebasan, dan mungkin yang terbesar adalah kita kehilangan rasa memiliki martabat dan harga diri kita.

Namun ada satu hal yang tidak akan pernah hilang dari Anda dan saya, yaitu kasih Allah. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia, kata Allah kepada sang nabi, dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu (Yesaya 46:4).

Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, tulis sang penulis lagu (Mazmur 92:13). Mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah (ayat 14,15) DHR

10 Agustus 2005

Meninggalkan Begitu Saja

Nats : Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu (Keluaran 33:14)
Bacaan : Keluaran 33:12-23

Setelah memenangkan medali perunggu pada Olimpiade 2004 di Athena, pegulat Rulon Gardner melepaskan kedua sepatunya, meletakkannya di tengah matras, dan meninggalkannya sambil menangis. Lewat tindakan simbolisnya itu, Gardner mengumumkan pengunduran dirinya dari olahraga yang telah ditekuninya selama bertahun-tahun.

Akan tiba saatnya bagi kita semua untuk meninggalkan sesuatu di dalam hidup ini, dan saat itu mungkin menyakitkan secara emosi. Seseorang yang kita kasihi meninggalkan kita lewat kematian. Seorang anak meninggalkan rumah. Kita meninggalkan sebuah pekerjaan atau komunitas dan kita merasa seakan-akan telah meninggalkan semuanya di belakang kita. Namun jika kita mengenal Tuhan, kita tidak akan berjalan sendirian menapaki masa depan yang tak pasti.

Kita perlu berdiam diri dan merenungkan betapa anak-anak Israel meninggalkan sesuatu yang sangat besar ketika Musa memimpin mereka keluar dari Mesir. Mereka meninggalkan beban berat perbudakan, namun mereka juga meninggalkan segala hal yang stabil dan dapat diduga yang telah mereka kenali. Di kemudian hari, saat Tuhan berkata kepada Musa, Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu (Keluaran 33:14), Musa menjawab, Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini (ayat 15).

Pada saat menghadapi saat-saat yang paling sulit, kehadiran dan kedamaian Allah memberi kita kestabilan. Karena Dia menyertai kita, maka kita dapat berjalan menapaki masa depan dengan penuh keyakinan DCM

17 Agustus 2005

Menghadapi Musuh

Nats : Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku (Mazmur 27:3)
Bacaan : Mazmur 27

Semasa Perang Saudara Amerika Serikat, meletuslah sebuah pertempuran yang sengit di dekat Moorefield, Virginia Barat. Karena terletak di dekat di garis musuh, maka kota tersebut dikendalikan secara bergantian oleh pasukan Serikat dan pasukan Konfederasi.

Di pusat kota itu, tinggallah seorang wanita yang sudah tua. Menurut kesaksian seorang pendeta Presbiterian, pada suatu pagi beberapa tentara musuh menggedor pintu rumah wanita tersebut dan menuntut agar mereka disediakan makan pagi. Ia kemudian mengajak mereka masuk dan berkata bahwa ia akan menyiapkan sesuatu bagi mereka.

Ketika makanan telah siap, ia berkata, Saya biasa membaca Alkitab dan berdoa sebelum makan pagi. Saya harap kalian tidak keberatan mengikuti kebiasaan saya. Mereka pun setuju. Kemudian ia mengambil Alkitabnya, membukanya secara acak, dan mulai membaca Mazmur 27. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? (ayat 1). Ia membacanya terus hingga ayat terakhir: Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! (ayat 14). Setelah selesai membaca, ia berkata, Marilah kita berdoa. Ketika ia sedang berdoa, ia mendengar suara para tentara itu mondar-mandir di dalam ruangan rumahnya. Pada saat ia berkata amin dan mengangkat kepala, ternyata para tentara itu sudah pergi dari situ.

Renungkanlah Mazmur 27. Jika Anda sedang menghadapi musuh, Allah akan menggunakan firman-Nya untuk menolong Anda HWR

16 Oktober 2005

Secukupnya Saja

Nats : Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)
Bacaan : Matius 6:5-15

Seorang perempuan yang menyiapkan makanan selama musim panen untuk para pekerja pertanian yang lapar, akan mengamati mereka saat menghabiskan setiap makanan yang disajikan di meja makan. Kemudian ia akan berkata, “Bagus. Saya menyiapkan jumlah yang cukup.”

Banyak di antara kita bergumul untuk merasakan hal serupa mengenai sumber daya yang dipercayakan kepada kita. Saat selesai makan atau saat berada di akhir bulan, apakah kita benar-benar percaya bahwa Allah telah mencukupkan kebutuhan kita? Ketika kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11), berapa banyak yang kita harapkan akan disediakan Allah? Sebanyak yang kita inginkan? Atau sebanyak yang kita perlukan?

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa kunci untuk nutrisi yang baik adalah makan sampai kita merasa kenyang, bukan sampai kita kekenyangan. Dalam setiap bidang kehidupan, ada perbedaan antara lapar yang sebenarnya dan nafsu tamak. Kerap kali, kita menginginkan sedikit lebih lagi.

Dalam ajaran Yesus mengenai berdoa, Dia berkata, “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Sebab itu janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (Matius 6:8,31).

Ketika Tuhan menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita, mungkin kita harus melihat pemeliharaan-Nya melalui perspektif baru dan bertekad untuk mengucap syukur dengan berkata, “Bapa, Engkau memberikan jumlah yang cukup bagiku” -DCM

7 November 2005

Tuhan, Bukit Batuku

Nats : Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! (Mazmur 18:3)
Bacaan : Mazmur 18:2-4

Ternyata kita, manusia, melakukan penalaran terutama berdasarkan hati, dan bukan berdasarkan pikiran. Seorang matematikawan dan ahli teologi Perancis, Blaise Pascal, dahulu berkata, “Hati mempunyai kemampuan berpikir yang tidak diketahui oleh pikiran.”

Para penyair, penyanyi, pengarang cerita, dan seniman sejak dulu mengetahui hal ini. Mereka menggunakan berbagai simbol dan perumpamaan yang lebih berbicara kepada hati daripada kepada pikiran kita. Karena itulah gagasan-gagasan mereka menembus ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh gagasan lainnya. Dan karena itulah kita berkata, “Sebuah gambar berharga seribu kata.” Gambaran tetap tinggal di pikiran kita saat semua hal-lain telah terlupakan.

Daud menulis, “Ya Tuhan, bukit batuku, kubu pertahananku, … perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3). Pada saat itu ia memikirkan unsur-unsur fisik yang mencerminkan kenyataan rohani. Setiap gambar dalam pernyataan itu mengekspresikan pemikiran yang lebih dalam, menghubungkan dunia nyata dengan alam maya Roh. Daud tidak melantur pada definisi dan penjelasan, karena penjelasan dapat mengaburkan imajinasi. Setiap gambar tetap tinggal dalam pikiran kita. Itu adalah gambar-gambar yang membangkitkan misteri, menggugah imajinasi, dan memperdalam pengertian kita.

Daud membangunkan sesuatu yang tersembunyi di dalam diri kita. Memikirkan sesuatu secara mendalam adalah hal yang baik. Lalu apakah arti kalimat Allah adalah bukit batuku, kubu pertahananku, perisaiku bagi Anda? -DHR

14 Desember 2005

Rasa Aman Rahasia

Nats : Malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu (Mazmur 91:11)
Bacaan : Mazmur 91

Perasaan aman merupakan prioritas utama di dunia yang tidak aman dan cepat berubah ini. Sebuah agen investigasi swasta di Florida berjanji untuk “bekerja dengan tekun untuk memulihkan rasa aman dan perlindungan yang patut di-miliki oleh Anda dan keluarga”.

Sang pemazmur menemukan sebuah “tempat rahasia”, di mana ia merasa aman (Mazmur 91:1). Dan kita pun dapat tinggal dengan aman di tempat yang sama. Ia menggambarkannya dengan ungkapan berikut:

Dalam naungan Yang Mahakuasa (ayat 1). Naungan memberikan perlindungan dari panas matahari langsung. Di bawah panas yang terik, naungan mengurangi apa yang sebenarnya kita rasakan. Saat berada di bawah naungan Allah, kita tidak menghadapi panas sepenuhnya dari kesulitan-kesulitan kita.

Tempat perlindungan dan kubu pertahanan (ayat 2). Allah adalah pelindung terkuat yang kita miliki, dan kita dapat berlari kepada-Nya untuk meminta pertolongan. Tak satu pun dapat melewati-Nya dan sampai kepada kita kecuali jika hal itu merupakan bagian dari rencana kasih-Nya bagi kebaikan kita.

Di bawah sayap-Nya (ayat 4). Allah itu lemah lembut bagaikan seekor induk burung yang penuh perhatian. Ketika kesulitan mengamuk, Dia menarik kita ke dekat-Nya. Kita tidak perlu takut Dia akan membuang kita-kita adalah milik-Nya.

Tempat perteduhan (ayat 9). Bapa akan menjadi rumah kita, tempat tinggal kita-sekarang dan selamanya.

Rasa aman sejati hanya dapat ditemukan dalam Tuhan, yang berjanji menyelamatkan dan berada di dekat kita (ayat 15,16) -AMC

16 Desember 2005

“lowongan Kerja”

Nats : Bersukacitalah dalam pengharapan, … bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12)
Bacaan : Roma 12:9-16

Sekitar hari-hari ini setahun yang lalu, di gereja tempat saya dan istri saya beribadah muncul sebuah “lowongan pekerjaan” baru. Kurang lebih seminggu sebelum Natal tiba, ibu mertua saya yang bernama Lenore Tuttle, meninggal pada usia 85 tahun. Saat ia berpulang untuk tinggal bersama Yesus, ia tidak hanya meninggalkan kekosongan di dalam keluarga kami, namun ia juga meninggalkan kekosongan di gereja kami. Kami kini kehilangan salah seorang prajurit doa yang paling setia.

Pada acara pemakamannya, pendeta yang memimpin kebaktian menunjukkan kepada jemaat kotak doa Ibu Tuttle, yang berisi lusinan kartu doa bertuliskan nama-nama orang yang ia doakan setiap hari.

Dalam lusinan kartu itu terdapat sebuah kartu yang mencatat operasi kantong empedu sang pendeta. Di atas kotak doa tersebut tertulis ayat berikut: “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6). Ibu mertua saya adalah seorang prajurit doa sejati yang mencari Tuhan dengan tekun.

Setiap hari, banyak orang kudus yang telah lanjut usia, yang senantiasa setia di dalam doa (Roma 12:12), meninggalkan dunia ini dengan kematian dan pindah ke surga. Hal ini menciptakan sebuah “lowongan kerja” bagi orang-orang yang bersedia berkomitmen untuk berdoa dengan setia. Posisi ini banyak yang belum terisi. Maka pertanyaannya adalah: Bersediakah Anda mengisi salah satu posisi tersebut? -JDB

17 Desember 2005

Hadiah yang Tak Dibuka

Nats : Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14:16)
Bacaan : Yohanes 14:12-31

Dapatkah Anda membayangkan seorang anak yang tidak membuka hadiah-hadiahnya pagi-pagi pada hari Natal? Sayangnya, jutaan orang melakukan hal serupa dengan mengabaikan atau menolak Yesus Kristus sebagai Juru Selamat mereka. Setiap orang memiliki hadiah dengan label yang bertuliskan: KEPADA: (nama Anda) DARI: Allah. Namun hadiah itu hanya dapat dibuka oleh pertobatan dan iman.

Akan tetapi, Allah tidak hanya memberi kita satu hadiah. Dia memilih sebuah acara pemberian hadiah kedua. Pada hari Natal kita merayakan hadiah Allah kepada dunia, yaitu Putra-Nya. Namun pada Hari Pentakosta, Dia dan Putra-Nya secara bersama-sama memberikan kepada para orang percaya sebuah hadiah yang lain, yaitu Roh Kudus (Yohanes 14:16; 16:7).

Sekali lagi, bayangkan seorang anak yang hanya membuka satu hadiah pada hari Natal, namun membiarkan hadiah lainnya terbungkus rapat. Kini Roh Kudus tinggal dalam diri setiap orang percaya, namun kita sering gagal memanfaatkan sepenuhnya segala yang telah diberikan-Nya. Jika kita meminta kepada-Nya, Roh Kudus akan membimbing kita untuk lebih memahami firman Allah, memberi kita jaminan akan kuasa pemeliharaan dan penjagaan Allah, dan mengubah kita menjadi pribadi yang serupa dengan Kristus.

Pada hari Natal ini, marilah kita mempertimbangkan pentingnya kehadiran Roh Kudus, dan mintalah agar Tuhan menolong kita mengalami segala manfaat dari-Nya secara utuh.

Jangan biarkan ada satu pun hadiah dari Allah tidak terbuka -DJD

27 Desember 2005

Hari Esok yang Tak Tampak

Nats : Hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat (2 Korintus 5:7)
Bacaan : Matius 6:25-34

Kita kerap kali berharap dapat melihat apa yang akan kita alami, sehingga kita dapat bersiap-siap, mengendalikan, atau menghindarinya.

Seorang yang bijaksana pernah berkata, “Walaupun kita tidak dapat melihat apa yang ada di hadapan kita, Allah dapat melihatnya.” Alangkah lebih baik dan menghiburnya kenyataan itu!

Suatu hari cucu perempuan saya yang berusia 10 tahun, Emily, dan saya merebus telur untuk sarapan. Ketika kami menatap air yang sedang mendidih dan bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan agar telur itu dapat matang dengan tepat, Emily berkata, “Sayangnya, kita tidak dapat membuka telur-telur itu untuk melihat bagaimana kondisi mereka.” Saya setuju dengan ucapannya. Karena cara itu akan merusak telur-telur tersebut, kita harus mengandalkan tebakan, tanpa adanya jaminan hasil.

Kita pun mulai membicarakan hal-hal lain yang ingin kita lihat, namun tidak dapat-seperti hari esok. Kita mengatakan bahwa sayang kita tidak dapat membuka hari esok untuk melihat apakah hal itu seperti yang kita inginkan. Namun, mencampuri hari esok sebelum waktunya adalah seperti membuka telur yang setengah matang, akan merusak baik hari ini dan esok.

Karena Yesus telah berjanji untuk memelihara kita setiap hari-termasuk hari esok-kita dapat hidup dengan iman setiap hari (Matius 6:33,34).

Saya dan Emily pun memutuskan untuk menyerahkan hari esok dengan aman di dalam tangan Allah. Sudahkah Anda melakukan hal yang sama? -JEY

28 Desember 2005

Menggali Harta Karun

Nats : Tuhan-lah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)
Bacaan : Amsal 2:1-9

Pemahaman Alkitab yang bermanfaat melibatkan lebih dari sekadar membuka sebuah pasal dan membaca apa yang tertulis di sana. Berikut ini tujuh panduan untuk membantu Anda memperoleh hasil yang maksimal dari waktu pemahaman Alkitab Anda.

1. Luangkan waktu secara teratur. Jika Anda tidak menjadwalkannya, Anda akan melalaikannya.

2. Sebelum mulai membaca, mintalah pertolongan dan pengertian dari Allah.

3. Pikirkan dengan saksama apa yang Anda baca. Tidak semua harta karun Alkitab tergeletak seperti kerikil di atas permukaan. Untuk menambang emas, Anda harus menggali.

4. Berusahalah memahami perkataan sang penulis kepada umat pertama yang membaca buku atau surat itu sebelum Anda memutuskan menerapkannya pada saat ini.

5. Catatlah paling sedikit satu kebenaran atau prinsip yang dapat Anda praktikkan.

6. Cobalah berbagai terjemahan Alkitab. Jika Anda melewatkan kalimat-kalimat tertentu karena kata-kata yang Anda baca sudah terlalu sering dijumpai, maka sebuah terjemahan dapat memusatkan pikiran Anda pada bagian itu dengan cara baru.

7. Jangan putus asa. Ada beberapa bagian Alkitab yang lebih menarik daripada yang lain, dan beberapa bagian mungkin tidak Anda mengerti sama sekali. Namun ada cukup banyak yang dapat Anda pahami, itu akan mengubah hidup jika diterapkan.

Kini bacalah kembali ayat-ayat hari ini dengan mengingat prinsip-prinsip di atas. Kemudian cobalah lagi besok. Anda akan mulai menemukan harta karun di dalam Alkitab -HWR

9 Februari 2006

Pertolongan Tak Terduga

Nats : Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu (Yosua 2:4)
Bacaan : Yosua 2:1-14

Pada tahun 1803, Thomas Jefferson memerintahkan Lewis and Clark untuk memimpin suatu ekspedisi melintasi bagian Amerika yang belum terjelajahi sampai ke Pantai Pasifik. Ekspedisi ini dinamai Corps of Discovery [Satuan Penemuan] sesuai dengan namanya. Ekspedisi itu mendata 300 spesies baru, mengidentifikasi hampir 50 suku Indian, dan menjelajahi medan yang belum pernah disaksikan orang Eropa sebelumnya.

Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan seorang pedagang bulu dari Perancis dan istrinya, Sacajawea. Mereka segera menyadari bahwa sang istri berperan sangat penting sebagai pemandu dan penerjemah.

Dalam perjalanan, Sacajawea bertemu dengan keluarganya. Kakak laki-lakinya telah menjadi seorang kepala suku, dan ia membantu mereka mendapatkan kuda dan peta daerah Barat yang belum tergambar. Tanpa bantuan tak terduga dari Sacajawea dan saudaranya, ekspedisi itu belum tentu berhasil.

Alkitab menceritakan sebuah ekspedisi yang juga mendapat pertolongan tak terduga. Orang-orang Israel mengirimkan mata-mata memasuki Yerikho, sebuah kota yang berada di tanah yang dijanjikan kepada mereka. Rahab setuju menjamin keluarnya mereka dari kota itu. Sebagai gantinya, mereka melindungi keluarganya bila Yerikho runtuh. Dengan cara ini, Allah sumber kasih karunia yang berdaulat menggunakannya untuk menyiapkan jalan bagi kemenangan penaklukan Israel dan pendudukan Tanah Perjanjian.

Apakah Anda tengah mengalami suatu tantangan? Ingatlah, Allah dapat memberikan pertolongan dari sumber-sumber yang tak terduga --HDF

27 Februari 2006

Lengan yang Kekal

Nats : Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Ulangan 33:26-29

Setelah latihan di Carnegie Hall di kota New York, Randall Atcheson duduk di panggung sendirian. Ia berhasil memainkan komposisi piano yang sulit dari Beethoven, Chopin, dan Liszt untuk acara petang, dan ia ingin bermain sekali lagi untuk dirinya sendiri. Apa yang keluar dari hatinya dan tangannya adalah sebuah himne kuno: "Terhadap apakah aku harus khawatir, terhadap apakah aku harus takut, bersandar pada lengan-lengan yang kekal? Aku dianugerahi kedamaian karena Tuhan begitu dekat, bersandar pada lengan-lengan yang kekal."

Kata-kata itu menggemakan kebenaran dalam berkat Musa yang terakhir kali: "Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan. Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal" (Ulangan 33:26,27).

Alangkah besarnya karunia yang kita peroleh melalui lengan dan tangan yang kita miliki. Tangan ini dapat mengayunkan sebuah palu, menggendong seorang anak, atau membantu seorang sahabat. Namun, sementara kekuatan kita terbatas, kuasa Allah yang tak terbatas untuk kita dinyatakan dalam perhatian yang lembut dan kuat. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan" (Yesaya 59:1). "[Dia akan] menghimpunkan [kawanan ternak-Nya] dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya" (Yesaya 40:11).

Apa pun tantangan atau kesempatan yang sedang Anda hadapi, ada keamanan dan kedamaian dalam lengan-Nya yang kekal --DCM

28 Februari 2006

Jalan Masuk yang Sama

Nats : Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya (Ibrani 4:16)
Bacaan : Mazmur 145:14-21

Pendeta Stuart Silvester bercerita kepada saya tentang percakapannya dengan seorang kenalan yang secara berkala menerbangkan sebuah pesawat kecil pribadinya keluar masuk Bandara Internasional Toronto. Ia bertanya kepada pilot itu apakah ia pernah mengalami masalah dalam mengudarakan dan mendaratkan pesawat kecil di bandara yang didominasi banyak pesawat jet besar. Temannya menjawab, "Pesawat saya mungkin kecil, tetapi saya mempunyai hak, kesempatan, dan akses yang sama di bandara itu dengan orang lain bahkan sama dengan pesawat jumbo jet!"

Kemudian Pendeta Silvester menerapkan hal ini dalam hidup rohani: "Begitu pula dengan doa, seperti orang percaya yang menghampiri takhta kasih karunia. Tidak peduli siapa kita, atau betapa kecilnya kita dibandingkan orang lain, atau betapa rendahnya lingkungan kehidupan kita, kita tidak mengantre di belakang orang lain. Tak ada yang mendapat perlakuan utama."

Di dunia yang menawarkan perlakuan istimewa kepada orang kaya, orang terkenal, dan orang yang berpengaruh, sungguh kita disemangati karena mengetahui bahwa setiap anak Allah mempunyai jalan masuk yang sama menuju Bapa di surga. Pemazmur berkata, "TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan" (Mazmur 145:18).

Dengan jaminan itu, kita dapat "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" dalam doa, karena mengetahui bahwa Allah yang penuh kasih tak akan pernah membuang kita --RWD

27 Maret 2006

Kekuatan dan Dukungan

Nats : Orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan (Ayub 4:4)
Bacaan : Ayub 4:1-11

Surat kabar lokal memberitakan tentang seorang ibu yang kecewa. Anak laki-lakinya yang berumur 21 tahun, yang selalu tampak sebagai anak muda yang baik, ditangkap polisi karena terlibat narkoba.

Hal yang sama terjadi di komunitas kami. Orangtua dan saudara-saudara dari seorang anak lelaki yang berumur 15 tahun merasa berdukacita karena anak tersebut tewas terkena peluru nyasar.

Seorang teman yang telah lanjut usia merasa kecewa karena anak perempuan tunggalnya, yang paling ia andalkan, meninggal dunia karena kanker.

Orang-orang yang bersedih memiliki kebutuhan yang sama, yaitu penghiburan yang datang dari Allah yang dapat dipercaya. Mereka perlu diyakinkan bahwa tragedi atau dukacita bukanlah tanda kemarahan Allah. Sebaliknya, Allah menangis bersama mereka, mengasihi mereka, dan Dia tidak pernah meninggalkan umat kepunyaan-Nya.

Elifas berkata kepada Ayub, "Orang yang jatuh telah dibangunkan oleh kata-katamu, dan lutut yang lemas telah kaukokohkan" (Ayub 4:4). Ayub mendapatkan pujian ini sekalipun ia sedang sangat menderita. Dan ketika kita memberikan penghiburan kepada orang yang berduka atau menderita, kita tidak hanya sedang menyamai Ayub -- kita menyamai Yesus.

Di tengah-tengah orang yang sedang berduka, kita masingmasing dapat berupaya menjadi seorang penghibur seperti Ayub. Marilah kita memohon kepada Allah agar Dia membuat hati kita cukup lembut untuk mendukung dan menguatkan mereka yang berduka --HVL

12 April 2006

Ular Tersembunyi

Nats : Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian (Amsal 29:23)
Bacaan : 2Raja 20:12-21

Ketika saya masih kecil, keluarga kami tinggal di daerah pertanian. Pada suatu musim semi, kami berhasil membunuh tiga belas ekor ular derik dalam waktu singkat.

Membunuh ular berbisa adalah suatu hal yang mudah jika Anda tahu tempat ia berada dan sejauh mana jangkauan serangannya. Karena itulah, saya dan saudara-saudara saya tidak pernah merasa khawatir dengan ular-ular yang dapat kami lihat. Akan tetapi, kami akan sangat khawatir kalau-kalau menginjak ular berbisa yang kehadirannya tidak terlihat oleh kami.

Raja Hizkia "digigit" oleh sebuah godaan yang terselubung, bukan digoda oleh Iblis yang besar dan tampak jelas. Hal tersebut terjadi karena ia membiarkan sikap sombong dan mengandalkan diri sendiri menghancurkan kariernya. Ia seharusnya percaya kepada Tuhan yang akan memberinya perlindungan dari para musuh. Akan tetapi, ia malah mencari perlindungan melalui suatu persekutuan dengan bangsa yang menyembah berhala (2Tawarikh 32:25,31).

Sayang sekali raja yang baik itu justru menodai pemerintahannya dengan dosa ini. Kita patut waspada agar tidak membiarkan kesombongan bertakhta di hati kita sehingga kita, seperti Hizkia, menyerah terhadap tipu muslihat musuh. Mungkin kita dipersiapkan untuk melawan ajakan dosa yang tampak jelas dan dapat menodai nama kita, tetapi bisa jadi kita tidak siap menghadapi godaan kehidupan yang "cerdik".

Waspadalah terhadap "ular derik yang tersembunyi". Ular-ular seperti itu justru yang paling membahayakan! --HVL

19 April 2006

Tetaplah Rendah Hati

Nats : Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:19)
Bacaan : Mazmur 34:12-23

Jawatan Cuaca Nasional memberi sa-ran bahwa jika Anda terjebak dalam badai petir yang dahsyat di tempat terbuka, maka Anda sebaiknya berlutut, membungkukkan tubuh ke depan, dan meletakkan kedua tangan di atas lutut. Dengan demikian, apabila petir menyambar di dekat Anda, kecil kemungkinan tubuh Anda akan berfungsi sebagai konduktor. Pengamanan yang maksimum tergantung pada seberapa rendah posisi tubuh Anda.

Hal yang sama juga berlaku bagi orang-orang kristiani yang terjebak dalam badai kehidupan -- kita harus mengambil sikap rohani yang rendah hati. Hal ini berarti kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan (Mazmur 34:19), karena kesombongan dan pemberontakan dapat mengeraskan hati kita. Kita harus berbicara dengan benar (ayat 14), menjauhi yang jahat, melakukan kebaikan, dan mencari perdamaian (ayat 15). Bapa surgawi menginginkan kita untuk berada di dekat-Nya sehingga ketika hati kita terluka, Dia dapat memberikan kekuatan dan kasih-Nya yang menyembuhkan.

Memang kita akan "basah kuyup" di tengah hujan angin kesengsaraan yang dahsyat, dan kadang kala anginnya yang dahsyat itu dapat memukul kita dengan keras sehingga kita nyaris tersapu. Setiap kali cahaya kilat yang membutakan muncul, kita akan sangat tergoda untuk berdiri dan lari. Namun, menjaga sikap rohani yang rendah hati dan rasa takut akan Tuhan merupakan cara terpasti dan teraman untuk bertahan dalam badai itu. Daud meyakinkan kita bahwa mereka yang percaya kepada Allah dalam badai kehidupan tidak akan dihukum (ayat 23) --DJD

25 April 2006

Hidup Ini Nyata

Nats : Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Mazmur 56:4)
Bacaan : Mazmur 56

Dalam komik Peanuts, tokoh Lucy mengatakan kepada Linus, saudaranya, bahwa anak-anak tidak bisa tinggal di rumah selamanya. Kelak mereka menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Lalu ia berkata bahwa bila nanti Linus pergi, ia akan menempati kamar Linus. Namun, dengan cepat Linus mengingatkan Lucy bahwa nantinya Lucy juga akan meninggalkan rumah. Menyadari akan hal itu, Lucy pun terkejut, tetapi ia segera menemukan jalan keluar. Ia mengeraskan suara TV, merangkak ke kursi beanbag-nya [kursi kantong yang berisi kacang, dipakai dalam permainan tertentu] dengan semangkuk es krim di tangan, dan menolak memikirkan hal tadi.

Menghindari keadaan yang tidak menyenangkan tidak semudah yang Lucy pikirkan. Realitas kehidupan tidak dapat dihindari. Kita dapat mencoba lari dan bersembunyi, tetapi pergumulan dan ujian kehidupan selalu dapat mengikuti langkah kaki kita dan akhirnya menyusul kita.

Sebaliknya, kita harus menghadapi masalah kita. Pemazmur Daud melakukan hal ini saat diserang oleh musuh dan teman-teman yang menyesatkan. Ia tidak berusaha mengecilkan bahaya yang ada; ia menyambut badai yang mengganas di sekelilingnya dan memandang kepada Tuhan. Ia menulis, "Kepada Allah aku percaya" (Mazmur 56:5).

Marilah kita mengikuti teladan Daud -- bukan Lucy. Menghadapi beragam kesulitan dalam hidup mungkin merupakan pengalaman yang menakutkan. Namun, ketika kita percaya kepada Allah dan mendekat kepada-Nya, kita akan mengalami pembebasan yang nyata --PRV

1 Juni 2006

Warna Biru

Nats : Katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka ... dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan (Bilangan 15:38)
Bacaan : Bilangan 15:37-41

Allah menyuruh anak-anak Israel untuk membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka yang di dalamnya "dibubuh benang ungu kebiru-biruan" (Bilangan 15:38). Jumbai-jumbai itu akan mengingatkan mereka untuk "melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu" (ayat 40). Benang biru -- seperti warna langit di atas -- berbicara tentang kuasa dan anugerah keselamatan Allah yang tak terukur.

Hari ini pun kita masih perlu diingatkan. Di dalam kesibukan hidup yang hiruk pikuk dan meresahkan, kita dapat dengan mudah melupakan Allah dan kasih-Nya bagi kita. Kita pun bisa lupa bahwa Dia hidup di dalam dan di sekitar kita serta mengasihi kita dengan kasih sayang yang kekal. Ada hal-hal yang dapat membantu mengingatkan kita akan kehadiran-Nya. Salah satunya adalah warna biru.

"Langkah pertama adalah mengingat," kata Aslan di dalam buku C.S Lewis The Silver Chair. Aslan, sebagai figur Kristus, mengatakan kepada Jill untuk "mengingat tanda-tanda" yang telah ia berikan kepadanya.

Jika Anda mengerti tanda-tanda Allah, seperti nilai penting dari warna biru, Anda akan lebih mudah mengingat kasih Allah. Warna biru dapat mengingatkan Anda akan dunia yang tak terlihat di atas dan di sekeliling kita; dunia yang tak terlihat namun nyata. Danau di tengah pegunungan, celah gletser, bunga forget-me-not berwarna biru di pegunungan, langit yang biru -- semuanya mengingatkan kita akan surga dan kasih Allah yang tak terukur.

Saat Anda melihat warna biru, ingatlah akan kasih Allah, dan khususnya kasih-Nya bagi Anda --DHR

10 Juni 2006

Siapa Tahu yang Terbaik?

Nats : Mereka mengolok-olok utusan-utusan Allah itu, menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya (2Tawarikh 36:16)
Bacaan : 2Tawarikh 36:15-21

"Saya mencintai pekerjaan saya," kata Maggie, seorang perawat yang masih muda, "namun ketika saya memberi tahu orang apa yang perlu dilakukan agar ia tetap sehat, tetapi nasihat saya tidak dituruti, saya pun menjadi sangat frustrasi."

Saya tersenyum dengan penuh pengertian. "Saya pun merasa demikian saat memulai karier editorial saya," kata saya kepadanya. "Saat pengarang tidak memedulikan nasihat saya agar naskah mereka menjadi lebih baik, saya pun merasa frustrasi."

Kemudian saya menyadari bahwa hal ini mirip dengan masalah kerohanian. "Jika kita merasa frustrasi saat orang tidak menuruti nasihat profesional kita," kata saya, "coba bayangkanlah perasaan Allah apabila kita mengabaikan nasihat-Nya." Dia adalah Pribadi yang paling mengetahui hal terbaik bagi kita. Akan tetapi, kita kerap kali justru bersikap seakan-akan kita sudah mengetahui yang lebih baik.

Begitulah kasus bangsa Israel dahulu. Karena berpikir mereka tahu lebih banyak daripada Allah, mereka pun menuruti jalan mereka sendiri (2Tawarikh 36:15,16). Akibatnya, Yerusalem dan Bait Allah jatuh ke tangan orang-orang Babel.

Kita pun menghadapi kasus yang sama saat perintah-perintah Allah terlihat sulit. Kita menyimpulkan bahwa Dia melakukan pengecualian terhadap situasi kita.

Allah dengan murah hati mengajarkan hal yang terbaik (Yesaya 48:17,18) namun tidak memaksa kita untuk melakukannya. Dia dengan sabar menawarkan sesuatu yang benar dan baik, dan mengizinkan kita untuk memilihnya --JAL

12 Juni 2006

Allah Lembut dan Perkasa

Nats : [Allah] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya (Mazmur 147:3,4)
Bacaan : Mazmur 147:1-5

Allah memang mengenal dan menghitung bintang-bintang, tetapi Dia lebih memerhatikan Anda dan saya, sekalipun kita sudah rusak oleh dosa. Dia membalut hati kita yang hancur dengan kepekaan dan kebaikan, dan Dia membawa kesembuhan bagi jiwa kita yang terdalam. Kebesaran kuasa Allah merupakan wujud dari kebesaran hati-Nya. Kekuatan-Nya adalah ukuran dari kasih-Nya. Dia adalah Allah yang lembut sekaligus Allah yang perkasa.

Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah "menentukan jumlah bintang-bintang" dan bahkan "menyebut nama-nama semuanya" (147:4). Apakah Dia akan lebih memedulikan bintang-bintang yang hanyalah benda mati, tetapi tidak memedulikan kita, yang memiliki citra-Nya? Tentu saja tidak. Dia mengetahui pergumulan kita saat kesepian, dan Dia peduli. Dia adalah Allah yang penuh perhatian.

Allah, dalam wujud Putra-Nya Yesus, memerhatikan seluruh penderitaan kita (Ibrani 2:18). Dia memahami dan tidak menghukum atau menghakimi saat kita gagal. Dia membungkuk dan mendengarkan seruan minta tolong kita. Dia dengan lemah lembut mengoreksi kita. Dia menyembuhkan lewat waktu dan dengan keterampilan yang luar biasa.

Suatu hari nanti bintang-bintang akan jatuh dari langit. Namun bukan bintang-bintang itu yang menjadi perhatian utama Allah, melainkan Anda! Dia "berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya" (Yudas 1:24). Dan Dia akan melakukannya! --DHR

13 Juni 2006

Fokus Pada Jati Diri

Nats : Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal (Matius 6:28)
Bacaan : Matius 6:25-34

Di sebuah seminar, kami diminta membentuk kelompok-kelompok kecil lalu memperkenalkan diri satu sama lain tanpa menyebut pekerjaan kami. Tantangannya adalah kami harus dapat menjelaskan siapa kami dan bukan apa yang kami lakukan. Tidak mudah memang untuk berfokus kepada jati diri daripada pekerjaan.

Dr. William H. Thomas, seorang dokter spesialis yang menangani manula, menunjukkan bahwa bayi memulai hidupnya dengan jati diri. Akan tetapi saat menginjak usia dewasa, prestasilah yang menjadi sasaran utama. Lalu, saat kita beranjak tua dan tenaga kita melemah, kita harus kembali berfokus kepada jati diri. "Masa tua membawa kita kembali pada hidup yang lebih mementingkan jati diri daripada pekerjaan. Ini adalah sebuah karunia yang memiliki nilai luar biasa," kata Thomas.

Namun pencarian jati diri tidak hanya berlaku bagi orang-orang tua. Yesus mengatakan bahwa fokus yang benar adalah obat kekhawatiran bagi segala usia. Dia meminta para pengikut-Nya untuk memerhatikan burung-burung dan bunga-bunga. Tanpa menilai tindakan mereka, Allah tetap memelihara mereka.

Oswald Chambers berkata, "‘Perhatikanlah bunga bakung yang tumbuh di ladang’ . . . mereka tumbuh begitu saja! Perhatikanlah laut, udara, matahari, bintang, dan bulan -- semuanya itu ada begitu saja, tetapi pelayanan yang mereka berikan sangatlah besar."

Sebagai orang kristiani, nilai kita di hadapan Allah tidak berasal dari apa yang kita lakukan bagi Dia, namun ada pada hal yang ada dalam diri kita. Jati diri kita -- lebih daripada pekerjaan kita -- memuliakan nama-Nya --DCM

6 Juli 2006

Bapa Tahu yang Terbaik

Nats : Mungkin Tuhan akan memerhatikan kesengsaraanku ini dan Tuhan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu (2Samuel 16:12)
Bacaan : 2Samuel 16:5-12

Tidak seperti Daud dalam 2Samuel 16, kita cenderung ingin membalas dendam, membungkam pengecam kita, menuntut keadilan, dan membereskan segalanya. Akan tetapi, Daud berkata kepada mereka yang ingin membelanya, "Biarkanlah [Simei] dan biarlah ia mengutuk, sebab Tuhan yang telah berfirman kepadanya" (ayat 11).

Bagi saya, seiring dengan tahun-tahun berlalu, kita bertumbuh -- seperti halnya Daud -- dalam kesadaran akan kasih Allah yang melindungi. Kita menjadi tidak terlalu memedulikan perkataan orang lain tentang kita, dan justru semakin menyerahkan diri kepada Bapa kita. Kita belajar taat dengan penuh kerendahan hati pada kehendak Allah.

Tentunya kita dapat meminta lawan kita memberi alasan atas tuduhan mereka terhadap kita, atau kita dapat menyangkal dengan gigih jika mereka memfitnah kita. Namun, ketika kita telah bertindak semaksimal mungkin, satu-satunya hal yang tertinggal adalah menanti dengan sabar hingga Allah membenarkan kita.

Sementara itu, alangkah baiknya apabila kita menyerahkan perkataan mereka yang memfitnah kita pada kehendak Pribadi yang mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Kita perlu mengatakan bahwa segala hal yang diizinkan Allah untuk terjadi adalah demi kebaikan-Nya untuk diri kita atau orang lain -- walaupun hati kita hancur dan air mata kita bercucuran.

Apa pun yang dikatakan orang tentang Anda, Anda berada di dalam tangan Allah. Dia melihat penderitaan Anda, dan pada saatnya nanti akan membalas Anda dengan kebaikan. Percayalah kepada-Nya dan tinggallah di dalam kasih-Nya --DHR

10 Agustus 2006

Batu yang Rapuh

Nats : Jawab Simon Petrus, "Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16)
Bacaan : Matius 16:13-20

Ketika menuliskan kehidupan Simon Petrus, penulis lagu dan pengarang, Michael Card menggambarkan rasul tersebut sebagai sebuah "batu yang rapuh". Istilah tersebut mengandung pertentangan, namun sangat tepat menggambarkan pribadi Petrus.

Selama hidup Petrus, kita melihat pertentangan ini muncul ketika ia menunjukkan saat-saat yang penuh keberanian, tetapi kemudian diikuti dengan kegagalan rohani. Setelah menyatakan bahwa Kris-tus adalah Anak Allah, Yesus pun berkata kepadanya, "Dan Aku pun berkata kepada-mu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jema-at-Ku dan alam maut tidak akan mengu-asainya" (Matius 16:18). Sebuah batu karang. Sebuah batu. Petrus, yang berarti "batu yang kecil", terbukti rapuh ketika ia berusaha membujuk Yesus agar tidak memanggul salib dan ketika ia menyangkal Yesus sampai tiga kali setelah Dia ditangkap.

Petrus, si "batu yang rapuh", mengingatkan kita bahwa tidak ada kekuatan pribadi atau bakat apa pun juga yang dapat membuat kita mampu menghadapi hidup dan berbagai tantangannya. Hanya dengan bertumpu pada kekuatan Kristus, kita akan menemukan pemeliharaan-Nya. Apabila kita mengakui kerapuhan kita dan bergantung kepada-Nya, maka kekuatan Kristus akan memberi kita kuasa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita temui di dalam hidup.

Seperti Petrus, kita semua merupakan "batu yang rapuh". Betapa kita patut bersyukur atas kuasa-Nya yang menjadi sempurna di dalam kelemahan kita (2Korintus 12:9,10) -WEC

11 Agustus 2006

Ditopang Dalam Keheningan

Nats : Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, peng-hiburan-Mu menyenangkan jiwaku (Mazmur 94:19)
Bacaan : Mazmur 94:16-23

Hudson Taylor (1832-1905) adalah pendiri China Inland Mission (misi di pedalaman Cina) dan seorang pelayan Allah yang hebat. Akan tetapi, setelah terjadi Pemberontakan "Boxer" yang ganas tahun 1900, saat ratusan teman penginjilnya dibunuh, perasaan Taylor menjadi hancur dan kesehatannya mulai rapuh. Menjelang akhir hidupnya, ia menulis, "Saya begitu lemah, sehingga tidak bisa bekerja. Saya tidak bisa membaca Alkitab; saya bahkan tidak bisa berdoa. Saya hanya dapat berbaring diam di dalam pelukan Allah seperti kanak-kanak dan percaya kepada-Nya."

Apakah Anda pernah mengalami kelelahan tubuh dan luka di hati? Apakah Anda merasa sulit untuk memusatkan pikiran pada janji-janji Tuhan di dalam Alkitab? Apakah Anda merasa sulit untuk berdoa? Janganlah menganggap diri Anda sendiri sebagai orang yang terbuang secara rohani. Anda tergabung dengan sejumlah besar anak Allah yang mengalami malam kelam dalam jiwa mereka.

Apabila kita menderita di saat-saat yang seperti itu, yang dapat kita lakukan, tepatnya, yang harus kita lakukan adalah berbaring tenang seperti kanak-kanak di dalam pelukan Bapa surgawi kita. Tidak perlu mengatakan apa pun. Seorang bapak yang memberi penghiburan tidak mengharapkan anaknya berbicara. Begitu juga dengan Allah. Dia tahu bahwa kita memerlukan perhatian-Nya yang menyejukkan. Pada saat kesusahan datang, kasih setia-Nya akan menopang kita (Mazmur 94:18). Kita dapat memercayai-Nya untuk mendukung kita melalui malam kelam dalam jiwa kita menuju fajar yang menyingsing -VCG

12 Agustus 2006

Semua Fakta yang Ada

Nats : Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk-Ku? (Yeremia 32:27)
Bacaan : Yeremia 32:6-15

Bala tentara Babilonia telah mengepung Yerusalem. Percuma untuk bertahan. Nabi Yeremia sudah memperingatkan para pemimpin Yehuda bahwa kota itu akan jatuh. Sekarang ia merana di dalam penjara karena meramalkan kebenaran.

Ketika serbuan itu semakin dekat, Tuhan memberi tahu Yeremia bahwa salah seorang sepupunya sedang dalam perjalanan untuk memintanya membeli ladang milik keluarga. Tuhan menyuruh Yeremia untuk mengabulkan permintaan sepupunya itu (Yeremia 32:7,8).

Siapa yang mau mengeluarkan keping perak berharga untuk ladang yang sebentar lagi akan jatuh ke tangan musuh? Semua fakta yang ada menentang pembelian ini. Seperti yang diingatkan Os Guinness kepada kita: "Semua fakta yang kita ketahui bukanlah seluruh fakta yang ada."

Meskipun merasa heran (ayat 25), Yeremia percaya kepada Tuhan dan membeli ladang itu (ayat 9). Tuhan meyakinkannya bahwa meskipun harapan suram, rakyat akan kembali memiliki "rumah, ladang, dan kebun anggur" mereka di negeri itu (ayat 15).

Kita sering mengalami masa-masa yang sulit. Beberapa orang beriman mengalami penyiksaan. Orang-orang lain berusaha membangun kembali hidup mereka setelah bencana alam. Banyak orang yang hidup dengan tubuh lemah dan menderita, dengan sedikit harapan untuk sembuh. Fakta-fakta yang ada tidak mendukung mereka.

Namun Allah, yang datang melalui diri Yesus, ada di samping kita. Kita mempunyai harapan yang tidak akan mengecewakan kita. Fakta yang kita ketahui bukanlah seluruh fakta yang ada -HVL

29 Agustus 2006

Pengungsian yang Diperlukan

Nats : Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 17:8)
Bacaan : Mazmur 17:1-9

Akibat badai Katrina yang memorak-porandakan Amerika Serikat bagian selatan, para keluarga dan orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal lagi sering disebut media sebagai "pengungsi". Untuk beberapa orang, istilah ini dipandang sebagai penghinaan, sehingga para reporter buru-buru mencari kata lain yang tidak dianggap negatif. Mereka memutuskan untuk memakai kata "orang yang dievakuasi".

Sebenarnya, kata "pengungsi" mengandung suatu harapan. Sebuah kamus mendefinisikan pengungsi sebagai "orang yang lari untuk mencari perlindungan, mi-salnya saat terjadi perang, tekanan politik, atau pengejaran karena masalah agama". Pengungsi berasal dari kata ungsi, yang berarti keselamatan, perlindungan, dan kepedulian kepada orang yang menderita. Kata itu berarti pelabuhan yang aman di dalam dunia yang penuh badai.

Bagi orang-orang yang telah dihantam oleh badai, tragedi, dan bencana kehidupan, maka pengungsian merupakan hal yang paling mereka harapkan. Mereka dapat mencari naungan di dalam pelukan Allah, karena hanya Dia sendirilah yang dapat memberi kita perlindungan dan Dia ingin menyelimuti, melindungi, serta memelihara kita.

Yesus berkata kepada orang-orang yang putus asa pada zaman-Nya, "Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya" (Matius 23:37). Dia terus menawarkan pengungsian bagi hati yang sedih di zaman kita apabila kita mau mencari pemeliharaan-Nya dan memercayai hati-Nya -WEC

6 Oktober 2006

Terjun Bebas

Nats : Di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Ulangan 33:26-29

Pada 27 Agustus 1960, kapten Angkatan Udara Amerika Serikat, Joseph Kittinger Jr. duduk di sebuah gondola [sejenis sampan di Venesia] yang tergantung pada sebuah balon yang melayang tinggi dari permukaan bumi. Tatkala balon itu mencapai ketinggian 31.333 meter di atas permukaan bumi (lebih dari 31 kilometer), Kittinger melompat ke bawah. Empat menit 36 detik kemudian parasut utamanya mengembang pada ketinggian 5.486 meter, setelah ia mencapai kecepatan 988 kilometer per jam! Dengan cermat, Kittinger merencanakan pendaratan yang menorehkan rekor.

Dalam hal kerohanian, sepertinya kita lebih sering mendapati bahwa kehidupan ini penuh dengan terjun bebas yang tak diharapkan. Kehilangan orang yang kita kasihi, hubungan yang hancur, kehilangan pekerjaan yang membuat kita merasa seperti terjatuh ke dalam sesuatu yang tak kita kenal. Namun, tersedia "parasut" rohani bagi orang percaya, yakni lengan Allah yang penuh kasih.

Ribuan tahun silam, Musa menuliskan kata-kata ini kepada bangsa Israel tepat sebelum kematiannya, "Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal" (Ulangan 33:27). Perkataan "lengan-lengan yang kekal" mengacu pada perlindungan dan pemeliharaan terhadap umat Allah. Meski berada di tengah keadaan yang penuh tekanan, umat Allah akan merasa tenang saat menyadari bahwa selalu ada jaminan pemeliharaan Allah yang senantiasa menyertai.

Apakah Anda merasa seolah-olah sedang terjun bebas saat ini? Tabahlah. Lengan Allah yang penuh kasih akan menangkap Anda -HDF

7 Oktober 2006

Perlindungan Kita

Nats : Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)
Bacaan : Imamat 23:33-44

Kebanyakan rumah dibangun untuk melindungi penghuninya dari pengaruh buruk cuaca. Akan tetapi, tidak demikian dengan rumah yang dibangun di Sukot. Selama hari raya Yahudi yang juga dikenal sebagai hari raya Pondok Daun, umat Allah tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari daun dan ranting. Syaratnya, bintang-bintang harus dapat dilihat melalui "atap" rumah itu.

Yang jelas, rumah ini kurang memberi perlindungan dari cuaca buruk. Namun, memang itulah tujuannya. Tinggal di dalam tempat tinggal yang rapuh ini mengingatkan orang Yahudi bahwa mereka harus selalu bergantung kepada Allah.

Pada zaman Nabi Yesaya, orang-orang menyombongkan suatu "tempat tinggal" yang sangat berbeda; mereka menjadikan kebohongan sebagai tempat untuk berlindung, dan dusta sebagai tempat persembunyian diri (Yesaya 28:15). Karena ketergantungan bangsa Israel pada hal-hal yang tidak berkenan kepada Allah, Tuhan pun berkata kepada mereka melalui Nabi Yesaya, "Hujan batu akan menyapu bersih perlindungan bohong, dan air lebat akan menghanyutkan persembunyian" (Yesaya 28:17).

Orang-orang Sukot mengajak kita untuk memeriksa hidup yang kita jalani guna memastikan bahwa keamanan kita tidak terletak pada kebohongan, tetapi pada kebenaran Allah. Hari raya Pondok Daun mengingatkan kita bahwa seluruh kehidupan ini ditopang oleh kemurahan hati Allah.

Apabila kita menjadikan kebenaran sebagai perlindungan kita, tiada badai yang dapat mengancam kita, karena kita bergantung kepada Allah yang menopang kita -JAL

20 November 2006

Berkat Sederhana

Nats : Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah (Mazmur 36:8)
Bacaan : Mazmur 36:6-11

Ketika kami sekeluarga sedang berada di Disney World, Tuhan memberikan berkat sederhana-Nya bagi kami. Disney World adalah tempat sangat luas -- 43,3 hektar tepatnya. Anda dapat mengelilinginya selama berhari-hari tanpa berjumpa dengan orang yang Anda kenal. Saat itu saya dan istri memutuskan untuk berpisah dari anak-anak, sementara mereka mencoba wahana permainan yang mengasyikkan bagi mereka. Kami berpisah pukul 09.00 dan merencanakan untuk berkumpul kembali pada pukul 18.00.

Pada pukul 14.00, saya dan istri ingin sekali makan taco [makanan dari Meksiko]. Lalu kami melihat peta dan menuju anjungan Spanyol untuk menikmati masakan Meksiko. Baru saja kami duduk dan menikmati makanan, kami mendengar, "Hai Ma, hai Pa." Ternyata pada saat yang sama, ketiga anak kami juga sedang menyantap burrito panas.

Sepuluh menit setelah kami berkumpul, datanglah topan di tempat itu disertai angin yang kencang. Hujan lebat pun menyapu, diiringi guntur yang menggelegar. Istri saya kemudian berkata, "Aku pasti akan sangat khawatir jika anak-anak tidak bersama kita saat ini!" Sepertinya Allah telah merancangkan pertemuan kami sekeluarga.

Apakah Anda pernah mengalami berkat seperti ini? Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk mengucapkan syukur atas perhatian dan pemeliharaan-Nya? Renungkan betapa luar biasanya bahwa Dia yang menciptakan alam semesta ini ternyata sangat peduli untuk terlibat dalam kehidupan kita. "Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah --JDB

28 November 2006

Luapan Amarah

Nats : Sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya (Mazmur 93:3)
Bacaan : Mazmur 93

Masalah yang datang dalam hidup kita, menurut Mazmur 93, bagaikan gelombang kejam yang melanda dan memukul jiwa serta memorak-porandakannya dengan kekuatan yang dahsyat. "Sungai-sungai telah mengangkat suaranya, sungai-sungai mengangkat bunyi hempasannya" dan suaranya memekakkan telinga (ayat 3).

Akan tetapi, pada saat mengalami badai dalam hidupnya, sang pemazmur berkata, "Daripada suara air yang besar, daripada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat Tuhan di tempat tinggi" (ayat 4).

Sungguh, "Tuhan bertakhta"! Dia berpakaian kemegahan dan kekuatan. Dan, pada saat Dia bertakhta sebagai Raja di atas segala raja, Dia diangkat lebih tinggi daripada gelombang yang naik melampaui kita. Dia lebih dalam daripada kedalaman yang tidak terukur, lebih besar daripada kuatnya air bah. Petir ada di dalam tangan-Nya: "Telah tegak dunia, tidak bergoyang," karena kekuasaan-Nya atas dunia telah didirikan sejak dahulu (ayat 1). Dia menguasai keganasan laut, "angin dan danau pun taat kepada-Nya" (Markus 4:37-41). Dia berucap sepatah kata saja dan mereka pun seketika menjadi tenang.

Badai pasti akan berlalu. Akan tetapi, saat badai mengamuk dalam hidup Anda, Anda dapat berpaling pada janji Tuhan akan kasih dan kesetiaan, karena "peraturan-Mu sangat teguh" (Mazmur 93:5). Gelombang masalah dan kepedihan memang dapat melanda diri Anda, tetapi Anda tidak perlu terhanyut. Dia "berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung" (Yudas 24). Bapa surgawi memegang tangan Anda --DHR

17 Desember 2006

Hadiah Tempat Bernaung

Nats : Tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:7)
Bacaan : Lukas 2:1-7

Hidup Datha dan keluarganya cukup keras. Pada usia 39, ia terkena serangan jantung, menjalani operasi jantung, dan ternyata ia menderita penyakit jantung koroner. Setahun kemudian, anak perempuannya yang berusia 15 tahun, Heather, lumpuh karena kecelakaan mobil. Datha berhenti bekerja untuk merawat Heather, dan tagihan pun mulai menumpuk. Tak lama kemudian, mereka kehilangan tempat tinggal. Datha marah kepada Allah, sehingga ia berhenti berdoa.

Kemudian, pada malam Natal 2004, seorang gadis muda mengetuk pintu rumah Datha. Gadis itu mengucapkan "Selamat Natal", memberinya amplop, dan segera pergi. Dalam amplop itu terdapat pemberian yang bisa mencukupi kebutuhan tempat tinggal Datha tahun berikutnya. Catatan yang menyertainya berbunyi, "Terimalah hadiah ini untuk menghormati Dia yang ulang tahun-Nya kita rayakan malam ini. Dulu keluarga-Nya juga kesulitan mencari tempat tinggal."

Lukas 2 bercerita tentang Yusuf dan Maria yang mencari penginapan bagi Maria untuk melahirkan bayinya. Mereka menemukan tempat di antara binatang. Di kehidupan-Nya kemudian, Yesus berkata mengenai diri-Nya, "Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Matius 8:20).

Yesus memahami masalah Datha. Dia membawa harapan bagi Datha dan memenuhi kebutuhannya melalui orang lain yang memberikan dana.

Kita dapat menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya (1 Petrus 5:7). Dalam Kristus, kita menemukan tempat perlindungan (Mazmur 61:4,5) --AMC

28 Februari 2007

Menyerahkan Kekhawatiran

Nats : Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu (1 Ptr. 5:7)
Bacaan : Filipi 4:4-9

Pemazmur menulis, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah" (46:11). Paulus menasihati jemaat di Filipi, "janganlah ... khawatir tentang apa pun juga" (Flp. 4:6). Dan, Petrus memerintah-kan para pembacanya untuk menyerahkan segala kekhawatiran mereka kepada Allah (1 Ptr. 5:7).

Bagaimana mungkin seseorang dapat berhenti merasa khawatir dan "diam"? Hanya dengan doa dan iman kepada Allah yang penuh kasih (Flp. 4:6,7). Mereka yang menyerahkan kekhawatiran kepada-Nya dapat menyingkirkan kekacauan dan kebingungan, ambisi dan pergumulan, serta mengalami damai sejahtera Allah (ay. 7).

Mereka yang "diam" di hadapan Tuhan tidak berarti akan lolos dari bahaya dan dilema hidup, tetapi mereka akan dimampukan untuk tenang saat mengalaminya. Walau kesulitan tidak akan hilang, tetapi kebingungan, ketakutan terhadap sesuatu yang akan terjadi, dan keputusasaan mulai lenyap. Orang-orang ini tenang mengha-dapi tekanan; mereka tak tergoyahkan oleh guncangan hidup; mereka memancarkan damai sejahtera ke mana pun mereka pergi.

Bila Anda tidak pernah mengalami kedalaman kasih Allah dan panggilan-Nya bagi Anda untuk hidup dalam kasih itu, maka hidup Anda akan dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran. Anda akan sering resah dan gelisah -- selalu mencari "sesuatu lainnya" yang semu.

Tatkala Anda belajar memercayai Allah dan menyerahkan semua kekhawatiran Anda kepada-Nya, Anda dapat merasa tenang di tengah berbagai tuntutan hidup --DHR

Betapa senang aku merenungkan
Bahwa Yesus memedulikan aku,
Apa pun yang terjadi dalam kehidupan
Kasih-Nya kekal sepanjang waktu. --Adams

11 Juni 2007

Kekhawatiran

Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Mazmur 91:9-16

Saya tahu bahwa tidak seharusnya saya cemas, tetapi saya agak mengkhawatirkan sesuatu saat ini. Mungkin ini karena adanya situasi baru dalam keluarga kami. Bila melihat sekeliling, saya merasa agak gelisah. Ketahuilah, istri saya dan saya baru-baru ini mengetahui bahwa kami akan menjadi kakek dan nenek. Hal ini membuat saya berpikir tentang dunia tempat cucu kami dibesarkan nanti.

Tahun 2024 kelak, cucu kami itu akan lulus sekolah menengah. Mungkinkah biaya sekolah di perguruan tinggi akan sebesar Rp900.000.000,00 per tahun saat itu? Jika minyak masih ada, mungkinkah harga bensin jadi Rp58.500,00 per liter? Mungkinkah moral dan etika sudah ketinggalan zaman? Dan, apa gereja masih berpengaruh?

Masa depan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang belum diketahui dapat mencekam, terutama ketika hal yang diketahui saat ini diliputi begitu banyak perjuangan. Itulah sebabnya, kita harus memercayai janji Allah.

Apa pun situasi yang akan dihadapi cucu-cucu kita, mereka dapat bergantung pada janji pertolongan Allah -- tak peduli persoalan apa yang akan meliputi dunia ini. Allah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Matius 28:20).

Janji-janji agung itulah yang dapat kita andalkan tatkala kita mulai merasa khawatir, entah tentang masa depan kita sendiri atau masa depan generasi selanjutnya --JDB


Cemas akan urusan dan masalah masa depan
Hanya akan mendatangkan derita dan sengsara;
Tuhan meminta kita tidak cemas dan tertekan
Hari esok kita ada dalam tangan-Nya. --Sper

18 Juli 2007

"itu Belum Semuanya!"

Nats : Karena mata-Nya mengawasi jalan manusia, dan Ia melihat segala langkahnya (Ayub 34:21)
Bacaan : Yesaya 55:6-9

Ketika pertama kali berkunjung ke Alaska, saya sangat gembira karena bisa menginap di Pondok Gunung McKinley. Saat kami memasuki pondok itu, sekilas saya melihat bongkahan batu besar melalui jendela yang lebar, kemudian saya bergegas keluar ke ruang yang ternyata menghadap pada sebuah gunung.

"Wah," gumam saya pelan ketika menyaksikan pemandangan itu.

Pria yang berdiri tak jauh dari saya berkata, "Oh, ... itu belum semuanya!"

Lalu, tahulah saya bahwa para wisatawan yang berkunjung ke Alaska sering tak dapat melihat "Yang Mahabesar" secara utuh. Gunung setinggi 6.200 m itu tampak menjulang, sehingga sebagian besar gunung itu tertutup saat cuaca berawan. Saya ternyata baru melihat sebagian gunung itu.

Kita sering merasa puas dengan pandangan terbatas akan hidup kita. Namun, Yeremia 29:11 mengingatkan kita, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Dengan pandangan Allah yang luas dan Mahatahu, Dia dapat melihat orang-orang yang Dia ingin kita bantu, hal-hal yang Dia ingin kita capai, sifat-sifat baik yang Dia ingin kembangkan di dalam kita.

Amsal 16:9 berkata, "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." Pandangan hidup kita dibatasi sifat manusiawi kita, tetapi kita dapat memercayakan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang pandangan-Nya tak terbatas! --CHK

21 Agustus 2007

Wisatawan yang Menderita

Nats : Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28)
Bacaan : Matius 11:20-30

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Hong Kong, termasuk transit selama tujuh jam dan tiga jam penundaan, kami akhirnya tiba di Chicago. Hanya kira-kira 20 menit, kami ketinggalan penerbangan terakhir ke Grand Rapids yang menjadi tujuan kami. Maskapai penerbangan memesankan kamar hotel bagi kami dan kami pergi ke hotel itu untuk istirahat semalam. Kami pasti tampak menyedihkan bagi karyawan hotel. Seorang dari mereka memandangi kami, menggelengkan kepala, dan berkata, "Wisatawan yang menderita." Mungkin dalam industri wisata, kata itu adalah istilah yang umum, tetapi istilah itu baru bagi saya. Dan, rasanya sangat mengena setelah saya menempuh perjalanan berat selama dua hari.

Bagi saya, pengalaman itu merupakan metafora hidup. Di dunia ini kita adalah para peziarah yang sedang berjalan ke rumah surgawi yang jauh melebihi gambaran yang ada. Namun, sepanjang jalan, urusan dan beban perjalanan dapat merampok harapan serta sukacita kita. Kita menjadi wisatawan yang menderita dalam keputusasaan, hingga membutuhkan dorongan semangat dan penyegaran. Tuhan memanggil peziarah yang letih seperti kita, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Hanya Dialah yang dapat memberikan kelegaan bagi jiwa kita, sehingga kita dikuatkan ketika menempuh perjalanan selanjutnya.

Apakah Anda menderita dalam perjalanan Anda? Bersandarlah kepada-Nya! Kasih dan pemeliharaan-Nya tersedia untuk memulihkan hati Anda --WEC

7 November 2007

Perlindungan dan Kekuatan

Nats : Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita. (Mazmur 20:8)
Bacaan : Yesaya 31

Pada bulan Agustus 2004, Badai Charley mengakibatkan kehancuran hebat di wilayah Florida, Amerika Serikat. Selama badai berlangsung, Danny Williams yang berusia 25 tahun pergi ke luar untuk mencari perlindungan di salah satu tempat kesukaannya, yaitu sebuah lumbung yang berada di bawah naungan cabang-cabang pohon beringin yang rindang. Akan tetapi, ternyata pohon beringin itu tumbang, lalu menimpa lumbung dan menewaskan Williams. Kadang kala, tempat yang kita datangi untuk berlindung justru dapat menjadi tempat yang paling berbahaya bagi kita.

Nabi Yesaya mengingatkan Raja Hizkia dari Yehuda akan kebenaran ini. Hizkia adalah raja yang baik, tetapi ia mengulang dosa ayahnya, Ahaz, yaitu mencari perlindungan dan bersekutu dengan kekuatan asing (2 Raja-Raja 16:7; Yesaya 36:6). Seharusnya, ia mendorong rakyatnya untuk menaruh kepercayaan kepada Tuhan.

Dengan mencari bantuan dari Mesir, Hizkia menunjukkan bahwa ia gagal belajar dari sejarah. Mesir tidak boleh dijadikan sekutu oleh Israel. Hizkia juga telah melupakan Kitab Suci. Mengumpulkan kuda untuk dijadikan kavaleri adalah melawan hukum ilahi bagi raja (Ulangan 17:16).

Akhirnya, Hizkia mencari bantuan dari Tuhan (Yesaya 37:1-6,14-20). Dan, Allah secara ajaib melenyapkan bangsa Asyur yang menyerang (ayat 36-38).

Yehuda melakukan kesalahan dengan menilai kekuatan Mesir melebihi Allah yang hidup. Semoga kepercayaan kita selalu dalam nama Tuhan Allah kita (Mazmur 20:8) --MLW

10 Maret 2008

Mengampuni Seperti Mawar

Nats : Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demi (Kolose 3:13)
Bacaan : Kolose 3:1-17

Banyak pasangan bercerai, salah satunya karena kurangnya pengampunan. Katakata kasar menembus sampai ke hati, sehingga pribadi yang terluka sulit memaafkan. Banyak keluarga juga mengalami keretakan relasi, karena antara orangtua dan anak atau antarsaudara sulit untuk saling memaafkan kesalahan. Banyak kolega dalam pekerjaan juga terpisahkan karena pengampunan sulit diberikan.

Alkitab menyatakan bahwa pengampunan sejati diberikan oleh Tuhan Yesus. Bahkan, Yesus memberikan pengampunan tanpa batas kepada kita yang menanggung banyak dosa. Oleh pengampunan-Nya, kita dibebaskan dari hukuman atas dosa. Bacaan firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersikap sabar dan suka mengampuni seorang terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita (Kolose 3:13). Inilah salah satu ciri manusia baru.

Sebuah kalimat bijak berkata, "Pengampunan seperti mawar yang memancarkan keharuman bagi orang yang menginjaknya." Yesus telah memberi teladan yang sempurna dalam hal ini. Dia rela memberikan diriNya disalibkan dan dihina, namun Dia "memancarkan keharuman" yang menuntun kita kepada keselamatan kekal. Inilah prinsip yang Yesus ajarkan. Dan, sebagai manusia baru yang terus-menerus diperbarui hingga serupa dengan Dia (ayat 10), kita perlu mengedepankan pengampunan, bahkan jika kita tak berada dalam posisi salah sekalipun!

Mari kita mempraktikkan pengampunan dalam hidup kita. Mengampuni seperti Tuhan Yesus, mengampuni orang yang bahkan menurut ukuran dunia tidak pantas diampuni -MZ

14 Maret 2008

Kami Juga Tahu

Nats : Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu (Roma 8:9)
Bacaan : Roma 8:1-17

Ludwig Ingwer Nommensen dikenal sebagai Rasul Suku Batak. Ia memulai misinya di Tanah Batak dengan mempelajari bahasa dan adat-istiadat setempat untuk menjalin hubungan dan mempererat pergaulan. Ia juga bersahabat dengan raja-raja setempat. Suatu hari se-orang raja bertanya kepadanya, apa sebenarnya perbedaan kekristenan dengan tradisi Batak. "Kami juga tahu hukum yang melarang orang mencuri, mengambil istri orang, atau bersaksi dusta," kata raja itu.

Misionaris itu menjawab dengan lembut, "Tuan saya memberikan kemampuan untuk mematuhi hukum-hukum-Nya." Raja itu terperanjat. "Dapatkah Anda mengajarkan hal itu pada rakyat saya?" tanyanya. "Tidak, saya tidak dapat mengajarkannya," jawab Nommensen. "Namun, Allah dapat memberikan kepada mereka kemampuan itu jika mereka meminta kepada-Nya dan mendengarkan firman-Nya."

Seperti suku Batak, kita masing-masing juga mengetahui hukum tentang apa yang benar dan yang jahat. Ironisnya, pemeo "hukum itu ada untuk dilanggar" terus terbukti dari generasi ke generasi. Fakta tersebut menggarisbawahi kebenaran bahwa semua orang telah berdosa, sehingga tidak ada yang mampu mematuhi hukum Tuhan dengan kekuatannya sendiri.

Syukurlah, anugerah Allah tidak hanya menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Bahasa Yunani untuk anugerah, charis, mencakup efek kemurahan Allah tersebut di dalam tindakan praktis. Dengan demikian, anugerah Allah juga memampukan kita untuk menaati dan melakukan hukum-hukum-Nya. Bersediakah kita mengandalkan anugerah-Nya? -ARS

2 April 2008

Makan Sepuasnya

Nats : "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan di-ciptakan" (Wahyu 4:11)
Bacaan : Wahyu 4:1-11

Sepasang suami-istri menjalani hidup sehat, antara lain dengan melakukan diet ketat, nyaris vegetarian. Alkisah, mereka mencapai umur panjang dan meninggal bersama-sama dalam usia lanjut. Di surga, mereka diundang ke perjamuan yang mewah. Aneka hidangan, yang dulu tak berani mereka sentuh saat masih di bumi, tersaji secara berlimpah. Ternyata di surga mereka tak perlu berpantang makan. Mendengar penjelasan itu, sang suami mengamuk pada istrinya, "Kalau kau tidak memaksaku makan sereal hambar itu, mungkin dua puluh tahun lalu aku sudah sampai di sini, tahu nggak?"

Pernah membayangkan surga seperti cerita di atas? Kita membayangkan surga sebagai tempat untuk melampiaskan keinginan yang kita kekang selama di bumi. Namun, jika kita berfokus pada keinginan diri, itu berarti kita sedang membayangkan surga yang lain dari yang diulurkan Kristus.

Kerajaan Surga disebut juga Kerajaan Allah, bukan Kerajaan "aku". Surga berpusat kepada Allah sebagai Raja, sang pemegang kedaulatan tertinggi (ayat 8-11). Surga bukan tempat pelampiasan kehendak diri, melainkan tempat kehendak Tuhan digenapi. Di surga, kita dapat melakukan sepuasnya bukan apa yang kita ingini, melainkan apa yang semestinya kita lakukan sebagai anak Allah. Dan, justru dengan mematuhi kehendak Allah itulah kita dipuaskan.

Hebatnya, hidup dengan cara surgawi bisa kita mulai saat ini. Yakni dengan belajar hidup tidak egois atau sekehendak hati. Sebaliknya, kita belajar untuk selalu mempertimbangkan masakmasak; apakah sikap, ucapan, dan tindakan kita selaras dengan kehendak Allah -ARS

13 Mei 2008

Agen Perubahan

Nats : Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur (2Raja-raja 20:6)
Bacaan : 2Raja-raja 20:1-6

Untuk apa Anda hidup? Banyak orang hidup hanya sekadar numpang lewat. Sibuk mencari uang dan menikmati hidup. Kehadirannya tidak memberi sumbangsih apa pun bagi dunia sekitar. Melaluinya, dunia tidak menjadi lebih baik. Malah ada orang yang hidupnya selalu menebar masalah. Untung, tidak semuanya begitu. Ada juga orang-orang yang berhasil mengubah dunia. Misalnya, Martin Luther King dan Ibu Teresa. Dunia merasa berutang budi saat mereka meninggal. Dunia menjadi berbeda karena mereka.

Raja Hizkia termasuk tokoh pembawa perubahan di negerinya. Selama 100 tahun, para raja di Yudea memerintah tanpa mengandalkan pimpinan Tuhan. Namun, Raja Hizkia berbeda. Ia berani melawan arus. Alih-alih mengikuti jejak raja-raja sebelumnya, ia menetapkan diri untuk memimpin Yudea kembali ke jalan Tuhan. Di tengah perjuangannya, ia jatuh sakit. Hampir mati. Ia pun memohon belas kasihan Tuhan, dan Tuhan memberinya berkat istimewa. Usianya diperpanjang 15 tahun. Bahkan, Tuhan berjanji menyertai perjuangannya; menyelamatkan rakyatnya dari serangan tentara Asyur. Ini tidak mengherankan. Allah suka memberi berkat istimewa bagi orang yang bisa dipakai-Nya untuk mengubah dunia.

Tuhan ingin memakai kita menjadi agen perubahan. Tidak harus perubahan besar. Perubahan kecil pun bisa sangat berarti. Kehadiran kita bisa menyentuh dan mengubah hidup orang-orang di sekitar kita. Membuat orang merasa senang, dikasihi, dan dihargai. Hadiah atau pujian kecil bisa mengenyahkan kesuraman hati seorang teman. Sebuah panggilan telepon atau e-mail bisa membuat sahabat kita merasa dicintai. Jadilah agen perubahan hari ini! -JTI

3 Juli 2008

Mulutmu Harimaumu

Nats : Siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3:2)
Bacaan : Yakobus 3:1-12

"Mulutmu Harimaumu," demikianlah bunyi slogan iklan sebuah perusahaan jasa telepon selular. Ungkapan ini benar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau: sangat berkuasa. Ucapan hakim di pengadilan bisa menentukan hidup matinya seorang terdakwa. Ucapan seorang pejabat bisa memengaruhi nasib rakyat. Ucapan pengusaha pada rekannya dapat membuat transaksi bisnis jadi atau batal. Ucapan seorang pria pada kekasihnya bisa membuatnya tersanjung atau tersinggung. Sekali salah ucap, akibatnya bisa gawat!

Tidak heran, Yakobus menasihati agar orang berpikir ulang jika hendak menjadi guru. Tanggung jawab yang ditanggung berat. Setiap hari guru mengucapkan ribuan kata. Ucapannya membentuk cara berpikir murid. Idealnya, semua yang guru ucapkan harus benar. Padahal, kerap kali kita salah bicara. Mengucapkan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Mengendalikan lidah memang lebih sulit daripada mengendalikan api atau menjinakkan binatang. Tanpa dikekang, lidah bisa menjadi liar. Kadang mengucapkan berkat, kadang kutuk. Tidak konsisten. Jika ini terjadi, mana bisa guru menjadi teladan? Mana bisa dipegang perkataannya?

Setiap orang percaya adalah "guru". Pendidik. Kita diberi tugas mengajar dan menasihati sesama. Setiap orangtua pun bertugas menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi, belajarlah mengekang lidah. Berpikirlah lebih dulu, baru berbicara. Saring dulu, baru ucapkan. Lebih penting lagi: jagalah hati agar selalu murni. Sebab apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati (Matius 15:18). Hati-hatilah: mulutmu harimaumu. Jangan menerkam orang lain dengan kata-kata Anda -JTI

19 Juli 2008

Beban Dosa Asal

Nats : Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku (Roma 7:20)
Bacaan : Roma 7:14-25

Sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak muda di Jepang memiliki kondisi psikologis mudah merasa bersalah, kerap meminta maaf, dan mudah menyesal karena hal-hal sepele. Semuanya ini bermula ketika rakyat Jepang merasa sangat bersalah karena bangsanya dianggap sebagai pencetus tragedi kemanusiaan dalam Perang Dunia II. Sejak saat itu, beban "dosa asal" tersebut disosialisasikan ke dalam setiap tingkatan masyarakat. Dari usia yang sangat muda, orang Jepang sudah dikenalkan pada budaya trauma itu, salah satunya dengan sikap meminta maaf sambil membungkukkan punggungnya dalam-dalam. "Dosa turunan" ini terus diwariskan sampai banyak generasi berikutnya tanpa ada penyelesaian yang melegakan.

Serupa dengan dosa asal di atas, setiap anak lahir ke dunia tanpa dapat menolak dosa asal Adam yang pertama melekat pada dirinya (Roma 5:15). Tanggungan dosa itu mengikat si anak sehingga sekalipun ia ingin melakukan yang baik, ternyata yang buruklah yang ia perbuat (7:19). Kecenderungan untuk berbuat dosa ini bisa membelenggu si anak hingga akhir hayatnya; dan menjadi masalah yang tak terselesaikan, jika tak ada orang yang membawanya kepada Kristus yang sanggup menyelamatkan jiwanya (ayat 24,25).

Kita mungkin menurunkan dosa asal kepada anak-anak, tetapi Yesus telah mengulurkan tangan-Nya yang berlubang paku untuk mematahkan belenggu dosa itu. Dialah satu-satunya Pribadi yang dapat memberi kelepasan kekal. Bersegeralah membawa anak-anak kita kepada Kristus! -AW

25 Juli 2008

Behind Enemy Lines

Nats : TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka (Amsal 16:4)
Bacaan : Amsal 16:1-6

Pada tahun 2001, ada sebuah film berlatar Perang Bosnia yang dibintangi oleh Gene Hackman dan Owen Wilson. Judulnya Behind Enemy Lines. Film bercerita tentang Letnan Chris Burnett yang pesawatnya ditembak jatuh oleh pasukan Serbia. Ia dapat selamat karena kursi pelontarnya. Sayangnya, ia jatuh di daerah musuh. Burnett terpaksa harus berupaya keras menyelamatkan dirinya dari kejaran dan incaran musuh. Tidak jarang ia hampir terbunuh oleh sniper (penembak jitu) atau serangan bom.

Terkadang kita juga berada di tengah lingkungan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan; bertemu dengan orang-orang yang selalu berseberangan; bekerja dengan orang yang kasar dan "semau gue"; melayani bersama orang yang suka menyinggung, tetapi mudah tersinggung. Waktu dan tenaga kita jadi terkuras hanya untuk meladeni orang-orang "sulit" ini. Keadaan ini tidak jarang membuat frustrasi. Serasa terjebak di "behind enemy lines". Di belakang garis musuh.

Namun, saat Tuhan mengizinkan orang-orang hadir dalam kehidupan kita, maka pasti ada tujuannya. Begitu juga kehadiran orang-orang "sulit" di perjalanan hidup kita. Dari mereka, setidaknya kita dapat belajar tentang kesabaran, kerendahan hati, dan penguasaan diri. Sekaligus kita bisa bercermin, betapa buruknya kita bila menjadi orang seperti itu. Kita diingatkan untuk tidak menjadi orang sulit bagi orang lain. Sesekali, dengan berhadapan dan hidup bersama mereka, kita pun menjadi lebih objektif dalam memandang mereka; tidak lagi dengan amarah dan kekesalan, tetapi dengan simpati dan empati -AYA

13 Agustus 2008

Cara Pandang

Nats : Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Bilangan 14:8)
Bacaan : Bilangan 14:1-14

Seorang ibu meminta anak sulungnya membeli sebotol minyak. Dalam perjalanan pulang, si sulung terjatuh. Minyak dalam botolnya tumpah separuh. "Bu, tadi saya jatuh dan menumpahkan minyak setengah botol," katanya. Hari berikutnya, giliran si bungsu yang diminta sang ibu untuk membeli minyak. Kejadian yang sama terulang. Dalam perjalanan pulang si bungsu terjatuh dan minyak yang dibawanya tumpah separuh. "Bu, tadi saya jatuh. Minyaknya tumpah, tetapi saya berhasil menyelamatkan separuhnya," katanya.

Kejadiannya sama, tetapi ada satu hal yang membedakan, yaitu cara pandang. Si sulung melihat pengalamannya secara negatif, sedang si bungsu melihat pengalamannya secara positif. Itu pula yang terjadi pada kedua belas orang pengintai yang diutus oleh Musa. Mereka melihat kenyataan yang sama. Namun, mereka pulang dengan laporan yang jauh berbeda. Sepuluh orang pengintai melihat dengan mata pesimis bahwa tantangan yang mereka lihat tidak mungkin diatasi. Sedangkan dua pengintai lainnya, Yosua dan Kaleb, melihat dengan optimis bahwa dengan pertolongan Tuhan Yang Mahabesar mereka akan mampu mengatasi segala tantangan yang ada di depan.

Kuncinya adalah berfokus pada hal-hal yang positif. Seperti si bungsu dalam cerita di atas, berfokus pada separuh minyak yang berhasil ia selamatkan; Yosua dan Kaleb, juga berfokus pada kasih, penyertaan, dan pemeliharaan Tuhan. Apakah kenyataan yang sedang Anda hadapi saat ini? Coba buat daftar hal baik apa saja yang ada di baliknya. Lalu fokuskan pikiran dan hati Anda pada hal-hal baik itu. Efeknya akan sangat berbeda -AYA

24 Agustus 2008

"aku Mau ..."

Nats : Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah engkau tahir" (Markus 1:41)
Bacaan : Markus 1:40-45

Mana lebih baik: Mau, tetapi tak mampu? Atau mampu, tetapi tak mau? Mana pula yang lebih sering kita lakukan dalam kehidupan? Banyak orang mampu, tetapi tak banyak yang mau menggunakannya secara penuh untuk meningkatkan mutu kehidupan orang lain.

Si kusta menyapa Yesus, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat ...." Yesus menjawab dengan sederhana, namun sungguh melegakan: "Aku mau." Dengan jawaban ini Yesus menunjukkan bahwa Dia sangat mengerti kondisi si kusta. Sebagai pesakitan kusta, orang itu harus menandai dirinya dengan pakaian khusus dan teriakan peringatan agar tak seorang pun mendekatinya. Untuk makan, ia harus menunggu kiriman keluarganya tanpa perlu bertemu muka. Kusta adalah penyakit yang dianggap begitu menjijikkan, bahkan dianggap hukuman Allah yang menajiskan orang. Tak heran bila ia mengalami kesedihan yang dalam karena penyakitnya. Itu sebabnya ia hanya berani meminta dengan cemas sambil berharap, "Kalau Engkau mau ..." Ini berarti bila Yesus tidak mau, maka ia akan mengerti. Namun, Yesus sangat memahami isi hati si kusta. Karena itu sebelum melakukan penyembuhan fisik, Yesus menyentuh hati si kusta yang luka dengan berkata penuh pengertian, "Aku mau ... jadilah engkau tahir"

Kita belajar bahwa yang penting bagi pelayanan Yesus bukan sekadar menyembuhkan penyakit, namun juga memberi harapan baru bagi mereka yang lelah dan lesu jiwanya. Melalui tindakan dan kata-katanya, Yesus memberi semangat hidup bagi orang yang mati harapannya. Inilah teladan kita. Mari ikuti dan teruskan karya-Nya -DKL



TIP #32: Gunakan Pencarian Khusus untuk melakukan pencarian Teks Alkitab, Tafsiran/Catatan, Studi Kamus, Ilustrasi, Artikel, Ref. Silang, Leksikon, Pertanyaan-Pertanyaan, Gambar, Himne, Topikal. Anda juga dapat mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan ayat-ayat yang anda inginkan melalui pencarian Referensi Ayat. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA