Topik : Pencobaan

3 Desember 2002

Karunia Berpikir

Nats : Semua yang benar, semua yang mulia ... pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8)
Bacaan : Filipi 4:4-9

Dalam beberapa hal manusia tidak lebih unggul daripada binatang. Saya telah menyaksikan pria-pria yang luar biasa kuatnya, tapi belum pernah ada manusia yang "sekuat lembu jantan". Manusia mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, tapi itu tidak ada artinya dibandingkan kecepatan lari seekor cheetah. Ada orang-orang yang sangat pandai untuk menentukan arah, meskipun begitu mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana burung layang-layang yang bermigrasi selalu dapat kembali ke tempat yang sama setiap tahunnya.

Memang beberapa jenis binatang benar-benar pandai. Namun, tak satu pun dari mereka dapat berpikir seperti kita. Tak satu binatang pun dapat mengembangkan masyarakat yang menakjubkan, dengan segenap kemajuan di bidang medis dan teknologi.

Kemampuan unik manusia untuk berpikir memungkinkan mereka untuk berpikir tentang Allah dan kekekalan. Seorang penyair Amerika terkenal, Walt Whitman, merasa terganggu dengan hal itu. Ia mengaku sering kali merasa iri pada ternak yang merumput sepuasnya di padang rumput, sebab mereka tak pernah khawatir dan memikirkan hal-hal yang menyusahkan.

Sebagai orang kristiani, kita tahu bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Namun sayang, kita dapat menyalahgunakannya dengan cara mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang cabul, kotor, dan buruk. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk merenungkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, bijak, patut dipuji, dan sedap didengar (Filipi 4:8).

Tuhan, bantulah kami untuk mendisiplin pikiran -Herb Vander Lugt

2 Januari 2003

Akankah Kita Lulus Ujian?

Nats : Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, ... ia mengambil dari buahnya dan dimakannya (Kejadian 3:6)
Bacaan : Kejadian 3:1-19

Coyote [serigala padang rumput di Amerika Utara bagian barat] takkan mampu menolak santapan daging domba yang lezat. Itulah sebabnya bertahun-tahun silam para ahli melakukan eksperimen dengan menggunakan sekitar 500 bahan kimia yang berbeda untuk mengembangkan suatu larutan yang disemprotkan pada domba sehingga menjadikan mereka "anti-coyote". Sebuah campuran yang rasanya seperti saus pedas tampaknya menjanjikan keberhasilan.

Para ilmuwan berteori bahwa jika ujian ini berhasil, coyote tak akan berselera terhadap domba. Dengan demikian, coyote takkan lagi menjadi gangguan bagi masyarakat di negara yang beternak domba. Manusia pun akan menjadi sahabat terbaik dari anjing liar itu.

Kadang saya bertanya-tanya mengapa Allah tidak melakukan hal yang serupa di Taman Eden. Mengapa Dia tidak membuat pohon pengetahuan baik dan buruk itu berbuah jelek? Mengapa Dia tidak mengelilingi pohon itu dengan pagar berantai dan kawat berduri di atasnya? Bahkan, mengapa Allah menciptakan pohon itu? Saya yakin, sebagian jawabannya adalah bahwa godaan untuk melakukan yang jahat telah membawa Adam dan Hawa berhadapan dengan pertanyaan moral yang paling dasar, yakni: Apakah mereka akan menunjukkan kepercayaan penuh kepada sang Pencipta dan dengan penuh kasih menaati-Nya dengan segenap hati?

Kita menghadapi ujian yang serupa setiap hari. Dan, apakah yang akan kita perbuat? Apakah kita akan gagal dalam ujian itu? Atau, apakah kita akan mempercayai Allah sepenuhnya dan menaati perintah-perintah- Nya? --Mart De Haan II

25 Januari 2003

Menyalahkan Allah

Nats : Janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" (Yakobus 1:13)
Bacaan : Keluaran 32:15-29

Menyalahkan orangtua, teman-teman, atau keadaan karena dosa-dosa kita adalah tindakan yang buruk. Namun yang paling buruk adalah bila kita menyalahkan Allah. Saya membaca kisah tentang seseorang yang menjalani program penurunan berat badan. Suatu hari ia membeli beberapa donat. Ketika ditanya alasannya, ia berkata bahwa itu kesalahan Allah, karena Dia membuka tempat parkir tepat di depan toko roti yang biasa ia lewati.

Dalam Keluaran 32, kita membaca bagaimana imam agung Harun mengepalai pembuatan sebuah patung berhala emas. Ini mengakibatkan matinya 3.000 orang Israel dan mendatangkan penyakit sampar yang mengerikan bagi bangsa itu. Namun bukannya segera bertobat dan bertanggung jawab layaknya seorang pemimpin, Harun malah menyalahkan rakyat dengan berkata bahwa mereka mendesaknya sehingga ia tidak punya pilihan lain. Ia bahkan bertindak lebih jauh dan berbohong. Ia mengatakan bahwa yang ia lakukan hanya melemparkan emas itu ke tempat peleburan, dan secara misterius muncullah sebuah patung anak lembu emas (Keluaran 32:24).

Musa menolak alasan Harun. Ia menunjukkan dosa saudara laki-lakinya itu, lalu mendoakannya (Ulangan 9:20). Kita boleh yakin bahwa kaum Israel yang mengakui kesalahan mereka pasti diampuni. Namun Allah menghakimi dosa itu, sehingga banyak orang yang mati.

Jika Anda berbuat salah, akuilah. Jangan mencari kambing hitam. Dan yang lebih penting lagi, jangan menyalahkan Allah --Herb Vander Lugt

8 Februari 2003

Jerat Iblis

Nats : Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu (1Yohanes 2:15)
Bacaan : 1Yohanes 2:15-17

Saya pernah membaca tentang suatu cara menarik yang digunakan orang Afrika Utara untuk menangkap kera. Untuk menangkap kera seorang pemburu akan mengeluarkan isi sebuah labu lalu membuat lubang yang hanya cukup dimasuki tangan kera di salah satu sisi labu itu. Kemudian labu itu diisi dengan kacang dan diikatkan pada sebatang pohon.

Kera yang penasaran itu akan tertarik dengan bau kacang, sehingga ia memasukkan tangannya ke dalam labu dan meraup kacang itu. Namun, lubang pada labu itu terlalu kecil baginya, sehingga ia tidak dapat mengeluarkan tangannya karena genggamannya penuh berisi kacang. Karena tidak mau melepaskan kacang dalam genggamannya, kera itu akhirnya dapat dengan mudah ditangkap oleh si pemburu. Kera itu sebenarnya menjerat dirinya sendiri karena tak mau melepaskan genggamannya!

Setan menggunakan cara yang sama untuk menjerat kita. Iblis mencobai kita supaya kita terus mengejar kekayaan duniawi yang kita pikir sebagai sesuatu yang dapat memberikan keamanan kepada kita. Selama kita menggenggam kuat-kuat kekayaan tanpa mau melepaskannya, kita akan diperbudak oleh kekayaan itu. Dengan demikian tepatlah peringatan dalam Alkitab itu, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya" (1 Yohanes 2:15). Rasul Yohanes juga berkata bahwa "dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (ayat 17).

Ingatlah akan apa yang dialami kera itu. Jangan mau dijerat iblis! --Richard De Haan

21 Juli 2003

Batas Muatan

Nats : Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu (1Korintus 10:13)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Kita semua pasti pernah melihat rambu-rambu batas muatan yang banyak dipasang di jalan-jalan raya, jembatan, dan lift. Para insinyur mengetahui bahwa tekanan yang terlalu besar dapat menyebabkan kerusakan berat atau keruntuhan, maka mereka pun menentukan batas tekanan yang tepat, dan yang dengan aman dapat ditahan oleh berbagai macam alat tersebut. Untuk itulah berbagai peringatan dipasang untuk memperingatkan kita agar tidak melebihi muatan maksimum.

Manusia juga memiliki batas beban yang bervariasi antara orang yang satu dengan yang lainnya. Sebagian orang, misalnya, mampu menahan tekanan ujian dan pencobaan lebih baik daripada orang lain; namun setiap orang memiliki batas daya tahannya masing-masing dan hanya dapat menahan sebatas itu.

Kadang-kadang keadaan dan orang-orang tampaknya menekan kita sehingga melebihi batas yang dapat kita tanggung. Namun, Tuhan mengetahui batas kekuatan kita dan Dia tidak pernah membiarkan kesulitan yang melebihi kekuatan dan kemampuan kita masuk ke dalam kehidupan kita. Hal ini terasa kebenarannya, terutama ketika kita terbujuk oleh dosa. Menurut 1 Korintus 10:13, "Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu."

Maka, ketika ujian dan pencobaan menekan Anda, beranikanlah diri Anda untuk menghadapinya. Ingatlah, Bapa di surga mengetahui batas kemampuan Anda untuk bertahan terhadap tekanan hidup. Berserahlah pada kekuatan Allah; tidak akan ada pencobaan yang melebihi kekuatan-Nya! --Richard De Haan

22 Juli 2003

Berani Menjadi Daniel

Nats : Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)
Bacaan : Daniel 6:1-10

Teladan dari orang-orang seperti Daniel dalam Alkitab memberikan peneguhan dan menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup. Di masa sekarang ini, kita masih membutuhkan orang-orang seperti Daniel, yaitu pria dan wanita yang memiliki keyakinan dan keberanian untuk mempertahankan semua itu, bahkan jika itu harus melibatkan pengorbanan atau ketidakpopuleran.

Ayah saya, Dr. M.R. De Haan, adalah orang semacam itu. Oh, ia tidak sempurna. Ia seorang manusia biasa. Ia pernah melakukan kesalahan. Sebagian orang bahkan menganggapnya keras kepala. Namun sesungguhnya, ia sudah seperti tokoh dalam Alkitab. Ia adalah orang yang memiliki keyakinan teguh. Dan ia seorang pemberani.

Ayah saya berpulang kepada Bapa tanggal 13 Desember 1965. Namun, saya masih ingat satu perkataannya, yang seolah-olah baru kemarin diucapkan. Sambil meninju meja, untuk menegaskan pernyataannya, ia berkata, "Richard, saya tidak peduli jika seluruh dunia berbeda dengan saya. Saya harus melakukan yang benar. Saya harus bertindak sesuai keyakinan saya!"

Tentu saja kita perlu berhati-hati untuk memastikan bahwa keyakinan kita memiliki landasan yang benar. Namun, sekali kita yakin akan hal itu, kita harus seperti Daniel yang tidak hanya memiliki keyakinan, tetapi juga keberanian untuk mempertahankannya (Daniel 1:8).

Hari ini, jika Anda dicobai untuk mengompromikan prinsip-prinsip Anda, jangan menyerah. Beranilah menjadi seorang Daniel! -- Richard De Haan

25 Juli 2003

Memandang Yesus

Nats : Marilah ... berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus ... (Ibrani 12:1,2)
Bacaan : Yohanes 14:15-24

Leslie Dunkin bercerita tentang anjing yang dimilikinya saat ia masih kecil. Kadang-kadang ayahnya suka menguji kepatuhan anjing itu. Ia meletakkan sepotong daging yang membangkitkan selera di lantai dan memberi perintah, "Tidak boleh!" Anjing itu, yang tentunya memiliki dorongan yang sangat kuat untuk mendapatkan daging, dihadapkan pada situasi yang sangat sulit -- mematuhi atau melanggar perintah tuannya.

Dunkin berkata, "Anjing itu tidak pernah mengarahkan pandangannya pada daging. Tampaknya ia merasa bahwa jika ia melakukannya, godaan untuk melanggar perintah itu akan menjadi terlalu besar. Maka ia terus-menerus memandang wajah ayah saya." Kemudian Dunkin menerapkannya secara rohani demikian, "Ada sebuah pelajaran untuk kita semua. Arahkan selalu pandangan kita pada wajah 'Tuan' kita."

Ya, itu nasihat yang baik. Allah tentu saja tidak akan mencobai kita untuk melakukan hal yang salah (Yakobus 1:13). Meskipun kita mengalami banyak pencobaan, jika pandangan kita tertuju kepada Tuhan Yesus, kita akan mampu mengatasinya. Ketika dihadapkan pada bujukan yang dapat dengan mudah menundukkan kita, sebaiknya kita memandang kepada Kristus dan mengikuti petunjuk-Nya. "Melihat" dan "mendengarkan"-Nya seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci tentang Dia, akan memberi kita kepekaan untuk mengetahui mana yang benar, serta keinginan dan kekuatan untuk mematuhi-Nya.

Apakah Anda sedang berjuang melawan pencobaan? Arahkan pandangan Anda kepada Tuhan Yesus. Dia akan memberi Anda kemenangan --Richard De Haan

8 September 2003

Jangan Berdalih

Nats : Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati (Yehezkiel 18:4)
Bacaan : Yehezkiel 18:1-18

Ketika ikan salmon berenang ratusan kilometer jauhnya menuju hilir dan anak sungai untuk bertelur, mereka berenang berdasarkan insting. Pada batas tertentu, pergerakan mereka dikendalikan oleh kekuatan yang tak dapat mereka kendalikan.

Saya membaca tentang seorang narapidana muda yang berpikir bahwa tingkah laku manusia sama seperti ikan salmon itu. Dengan merujuk pada pembunuhan yang ia lakukan dan nasibnya sendiri, ia berkata, "Segala sesuatu terjadi begitu saja." Ia berpikir ada kekuatan tertentu yang bertanggung jawab atas tindakannya menarik pelatuk senapan dan membunuh dua orang. Padahal, pendapatnya itu salah. Manusia punya kehendak bebas, dan tidak dapat mengalihkan tanggung jawab atas tindakan dosanya itu pada kekuatan yang tak terkendali seperti insting.

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, sebagian orang Israel menggunakan dalih yang sama untuk dosa-dosa mereka. Mereka mengutip amsal populer yang menimpakan kesalahan kepada para leluhur mereka (Yehezkiel 18:2). Namun, Allah menyalahkan mereka. Dia berfirman, orang baik tidak akan dihukum karena dosasa anaknya yang jahat. Demikian juga anak baik tidak akan dihukum karena dosa ayahnya yang jahat.

Jangan berbuat dosa. Tak peduli bagaimanapun situasinya, Anda bertanggung jawab atas apa yang Anda lakukan. Berhentilah mencari dalih bagi dosa-dosa Anda. Sebaliknya, akuilah kesalahan Anda kepada Allah dan terimalah pengampunan yang Dia tawarkan (Mazmur 32:5). Itu adalah langkah pertama untuk melatih tanggung jawab pribadi Anda --Herb Vander Lugt

21 Oktober 2003

Buah Terlarang

Nats : Hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut (Roma 7:5)
Bacaan : Roma 7:7-13

Di Galveston, Texas, sebuah hotel di pantai Teluk Meksiko memasang papan peringatan ini di setiap kamar:

DILARANG MEMANCING DARI ATAS BALKON

Namun, setiap hari para tamu hotel melemparkan tali pancing mereka dari atas balkon. Lalu pengelola hotel memutuskan untuk mencabut papan-papan peringatan itu -- dan para tamu pun berhenti memancing!

Agustinus (354-430), seorang teolog terkemuka pada masa gereja mula- mula, mengenang ketertarikannya pada hal-hal yang terlarang. Dalam bukunya Confessions, ia menulis,

"Di dekat kebun anggur kami ada sebatang pohon pir yang berbuah
lebat. Pada suatu malam yang berbadai, kami anak-anak berandalan
bersepakat untuk mencurinya .... Kami mengambil begitu banyak pir
-- bukan untuk kami nikmati sendiri, melainkan untuk dilemparkan
ke babi-babi. Kami hanya makan beberapa, sekadar merasakan
nikmatnya buah curian. Buah-buah pir itu enak. Namun bukan pir itu
yang diinginkan jiwa saya yang hina ini, karena sebenarnya saya
punya banyak yang lebih enak di rumah. Saya mengambilnya hanya
untuk menjadi seorang pencuri .... Keinginan untuk mencuri muncul
hanya karena ada larangan mencuri."

Roma 7:7-13 menunjukkan kebenaran yang diilustrasikan oleh pengalaman Agustinus: Sifat alami manusia adalah memberontak. Ketika dihadapkan pada suatu hukum, kita melihatnya sebagai tantangan untuk dilanggar. Namun, Yesus mengampuni sikap kita yang melawan hukum dan memberikan Roh Kudus. Dia memberikan keinginan baru dan kemampuan sehingga kesenangan kita yang terbesar adalah menyenangkan Allah --Haddon Robinson

31 Oktober 2003

Berjalan-jalan di Hutan

Nats : Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (Roma 6:12)
Bacaan : Roma 6:11-14

Seorang teman menulis kepada saya tentang "hutan lindung" dalam kehidupannya, yaitu dosa tersembunyi yang ia pelihara.

"Hutan lindung" ini menyerupai hutan belantara luas di Idaho, negara bagian tempat saya tinggal. Mungkin kedengarannya menyenangkan berjalan-jalan sendirian di tengah daerah yang masih liar ini, namun itu berbahaya.

Demikian pula ada harga yang harus dibayar untuk setiap dosa yang kita lakukan. Kita mengorbankan kedekatan kita dengan Allah, kehilangan berkat-Nya (Mazmur 24:1-5), dan kita pun kehilangan pengaruh terhadap orang lain, yaitu pengaruh yang muncul dari kesucian tubuh dan pikiran (1 Timotius 4:12).

Daerah liar di dalam diri kita mungkin tak akan pernah benar-benar dapat dikendalikan, namun kita dapat memasang pembatas yang menahan kita untuk masuk ke dalamnya. Salah satu pembatas itu adalah dengan mengingat bahwa kita sudah mati terhadap kuasa dosa (Roma 6:1-14). Kita tidak perlu menyerah kepadanya.

Pembatas kedua adalah melawan godaan saat dosa itu terlebih dahulu menggoda kita. Godaan pertama mungkin tidak kuat, namun jika kita meladeninya, akhirnya ia akan memperoleh kekuatan dan mengalahkan kita.

Pembatas ketiga adalah tanggung jawab moral. Temukan seseorang yang bersedia bertanya kepada Anda setiap minggu, "Apakah Anda sedang menjelajahi hutan liar? Apakah Anda pergi ke tempat yang tidak seharusnya Anda datangi?"

Ketidaksucian menghancurkan, namun jika kita mencari kekudusan dan meminta pertolongan Allah, Dia akan memberi kita kemenangan. Teruslah maju! --David Roper

6 Februari 2004

Pusat Perhatian

Nats : Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kolose 3:2)
Bacaan : Kolose 3:1-11

Seorang pilot misionaris bernama Bernie May menulis, "Pelajaran tersulit yang diajarkan kepada para pilot baru mengenai pendaratan di landasan yang pendek dan berbahaya adalah menjaga pandangan mereka supaya terus tertuju pada bagian landasan yang baik, dan bukannya memerhatikan bagian yang rusak. Kecenderungan alami kita adalah memerhatikan halangan, bahaya, serta hal-hal yang ingin dihindari. Namun pengalaman mengajarkan kita bahwa pilot yang memerhatikan hal-hal yang berbahaya, cepat atau lambat akan menuju pusat kehancuran."

Pelajaran ini membuat saya berpikir mengenai prinsip-prinsip rohani di dalam Alkitab. Daripada memusatkan perhatian pada dosa-dosa yang ingin kita hindari, kita diajar untuk memusatkan perhatian pada perbuatan-perbuatan baik yang Kristus harapkan dari kita. Paulus memberi tahu umat kristiani di Kolose demikian, "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Kita akan menyingkirkan cara lama dalam berpikir dan bertindak (ayat 5-9), serta "mengenakan" cara hidup yang baru (ayat 10-17).

Bernie May membuat kesimpulan dengan mengatakan bahwa pilot yang berpengalaman memusatkan perhatian secara penuh pada jalur pendaratan yang mereka inginkan, sedangkan bahaya atau risiko yang ada tidak banyak mendapat perhatian.

Ketika Kristus dan kehendak-Nya menjadi pusat hidup kita, maka daya tarik kehidupan lama tidak menjadi pusat perhatian kita karena tujuan kita adalah mendarat tepat di pusat kehendak Allah --David McCasland

16 April 2004

Menjauhkan Diri

Nats : Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7)
Bacaan : Yakobus 4:1-10

Saya belum pernah menonton film The Exorcist, tetapi saya ingat dampak yang ditimbulkannya pada masyarakat. Film itu meninggalkan kesan yang terpatri dalam benak banyak orang mengenai kuasa Setan. Bahkan banyak orang kristiani mulai hidup dalam ketakutan, terguncang oleh gambaran yang begitu nyata mengenai kuasa jahat. Seakan-akan kuasa Iblis hampir setara dengan kuasa Allah.

Apakah cara pandang seperti ini tampak alkitabiah? Tentu saja tidak. Allah adalah Sang Pencipta. Semua makhluk lainnya, termasuk roh jahat, hanyalah makhluk ciptaan. Hanya Allahlah yang mahakuasa.

Memang mudah menyalahkan Iblis saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun Iblis menyebarkan kejahatan dan dosa, kita harus berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa kita tak berdaya menghadapinya. Alkitab memberi tahu kita bahwa Roh Kudus di dalam kita “lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4).

Alkitab juga mengatakan bahwa kita pun harus memainkan peran untuk mengalahkan kejahatan dan melakukan apa yang baik. Kita harus menjauhkan diri dari percabulan (1 Korintus 6:18-20), menjauhi penyembahan berhala (10:14), menjauhi cinta akan uang (1 Timotius 6:10,11), dan menjauhi nafsu orang muda (2 Timotius 2:22).

Yakobus mengatakan bahwa sikap kita terhadap Iblis seharusnya adalah melawannya (Yakobus 4:7). Bagaimana kita dapat melakukannya? Dengan menundukkan diri kepada Allah, dan mengizinkan Dia mengarahkan hidup kita. Dengan demikian, Iblislah yang akan menjauhkan diri dari kita —Albert Lee

1 Juni 2004

Kemenangan Atas Pencobaan

Nats : Allah ... tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. ... Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar (1 Korintus 10:13)
Bacaan : Matius 4:1-11

Wanda Johnson, seorang ibu tunggal dengan lima anak, sedang dalam perjalanan menuju tempat pegadaian. Ia berharap di sana ia akan mendapat pinjaman 60 dolar atas TV miliknya. Kemudian terjadilah sesuatu yang sangat aneh. Sewaktu truk berlapis baja yang penuh dengan kantong uang berjalan melintasinya, pintu samping truk itu terbuka, dan jatuhlah sekantong uang ke jalan. Wanda berhenti dan memungut kantong uang itu. Ketika ia menghitung uang di dalam kantong, ternyata jumlahnya sebanyak 160.000 dolar.

Pertentangan batin berkecamuk dalam jiwanya. Ia dapat menggunakan uang itu untuk melunasi semua tagihannya dan memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya. Tetapi uang itu bukan miliknya.

Setelah empat jam bergumul hebat dengan keyakinan moralnya, Wanda menelepon polisi dan mengembalikan uang itu. Kesadarannya untuk melakukan hal yang benar menang atas pencobaan untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

Seberapa kuatkah tabiat moral Anda? Apakah tabiat itu akan hilang saat Anda dihadapkan pada kesempatan yang sangat menggoda untuk melakukan hal yang tidak benar? Seperti halnya terhadap Yesus, Setan menyerang Adam dan Hawa pada tiga hal, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:16). Nenek moyang kita yang pertama kalah dalam menghadapi bujukan ular (Kejadian 3:1-6), tetapi Yesus tidak (Matius 4:1-11).

Apa pun yang sedang Iblis lakukan untuk menekan kita, mari kita ikuti teladan Yesus dan melakukan tindakan yang benar —Vernon Grounds

18 September 2004

Memberi Makan Serigala

Nats : Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:14)
Bacaan : Roma 6:15-23

Ada kisah tentang seorang kepala Indian Cherokee tua yang duduk di depan api unggun bersama cucu lelakinya. Anak itu telah melanggar tata susila suku, dan sang kakek ingin membantunya memahami apa yang membuatnya melakukan hal itu. "Dalam diri kita seolah ada dua serigala," kata sang kepala suku. "Satu serigala baik, yang lainnya serigala jahat. Keduanya ingin kita taati."

"Yang mana pemenangnya?" tanya si bocah.

"Serigala yang kita beri makan!" kata kepala suku tua yang bijaksana itu.

Setiap pengikut Yesus Kristus dapat mengenali pergumulan itu. Kita senantiasa berjuang melawan keegoisan dan keinginan dosa. Keduanya bangkit di dalam diri kita dan menekan kita secara luar biasa supaya kita mau memuaskan mereka. Keduanya seperti rasa lapar yang tak tertahankan dan rasa haus yang tak terpuaskan. Mulanya mereka hanya suatu keinginan kecil "yang tidak berbahaya", tetapi kemudian mereka bertambah kuat dan akhirnya mengendalikan kita (Roma 6:16).

Agar dapat bertahan, kita harus memercayai yang dikatakan Alkitab kepada kita mengenai kekuatan pencobaan. Kita pun harus percaya bahwa Roh Kudus akan membantu kita untuk bertahan atau membebaskan kita dari kekuatan pencobaan itu.

Namun, kemudian muncul bagian yang susah dilakukan. Ketika keinginan jahat minta dipuaskan, kita harus berkata tidak -- mungkin berkali-kali. Paulus berkata, "Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:14).

Ingat, apa yang kita puaskan keinginannya, akan mengendalikan kita --Dave Egner

12 Januari 2005

Memilih untuk Merasakan

Nats : Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak (Hosea 11:8)
Bacaan : Hosea 11

Stiker mobil pada mobil van biru mena-rik perhatian saya: MEMILIH UNTUK MERASAKAN.

Saat merenungkan kata-kata itu, saya memerhatikan papan iklan yang saya lewati. Mereka membujuk saya untuk memilih hal-hal yang akan menjauhkan saya dari perasaan, yakni alkohol untuk mematikan penderitaan emosional; makanan yang sarat lemak untuk meringankan penderitaan karena kesepian; mobil-mobil bagus dan barang-barang mahal lainnya untuk mengurangi rasa tidak berharga.

Banyak godaan menjauhkan kita dari Allah dengan janji akan meringankan perasaan terluka emosional yang kita rasakan akibat dosa, entah dosa kita sendiri atau dosa orang lain.

Allah memberi contoh yang berbeda. Bukannya menjadi kebal dengan penderitaan yang disebabkan oleh dosa kita, Dia justru me-milih untuk menderita sebagai akibat dari dosa itu. Melalui Nabi Hosea, Allah mengungkapkan kepedihan hatinya akibat kehilangan anak yang suka melawan. “Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan,” kata-Nya lembut. “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih” (11:3,4). Mereka masih tetap menolak Bapa surgawi mereka. Dengan berat hati, Dia membiarkan mereka menghadapi konsekuensinya.

Ketika kita memilih untuk merasakan berbagai perasaan sepenuhnya, kita akan sampai pada pemahaman yang lebih sempurna tentang Allah yang menciptakan kita sesuai gambar-Nya, yakni gambar Pribadi yang turut merasakan.

Tidak apa-apa merasakan bahwa semua yang di dunia tidak benar. Allah merasakannya juga! —Julie Link

29 Januari 2005

“penjaja Es Krim”

Nats : Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Timotius 2:22)
Bacaan : 1 Korintus 10:1-13

Jeff kecil berusaha keras menabung untuk membelikan ibunya sebuah hadiah. Usaha itu merupakan perjuangan berat bagi Jeff, karena ia sangat mudah menyerah atas godaan untuk membeli sesuatu dari penjaja es krim, tatkala mobil berwarna cerah itu datang berkeliling di sekitar rumahnya.

Suatu malam setelah ibunya menyelimutinya di ranjang, ibunya mendengar Jeff berdoa, “Ya Allah, tolonglah aku supaya aku menjauh apabila penjaja es krim datang besok.” Bahkan di usianya yang masih belia, ia telah belajar bahwa cara yang paling baik untuk mengalahkan pencobaan adalah dengan menghindari apa yang menarik bagi kelemahan kita.

Semua orang percaya dicobai untuk berbuat dosa. Namun demikian, mereka tidak perlu menyerah. Tuhan menyediakan cara untuk menang atas segala bujukan iblis (1 Korintus 10:13). Akan tetapi kita harus melakukan tugas kita. Kadang kala itu termasuk menghindari situasi- situasi yang akan membuat kita kalah secara rohani.

Rasul Paulus memperingatkan Timotius untuk menjauhi nafsu orang muda (2 Timotius 2:22). Ia harus menjaga jarak dari godaan-godaan yang mungkin akan membuatnya menyerah karena daya pikatnya yang kuat. Itu adalah nasihat yang baik.

Jika mungkin, kita jangan pernah membiarkan diri kita berada di tempat-tempat yang salah, atau bergaul dengan orang yang akan membujuk kita untuk melakukan hal-hal yang seharusnya kita hindari.

Karena itu, pastikan Anda untuk lari dari “penjaja es krim”! —Richard De Haan

29 Maret 2005

Hutan dan Pohon

Nats : Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan (Yakobus 1:12)
Bacaan : Kejadian 3:17-24

Kita semua pernah begitu dekat dengan pencobaan sehingga kita kehilangan perspektif yang benar. Pencobaan tersebut mungkin berupa hal kecil seperti rumor yang kita sadari tidak perlu disebarluaskan. Akan tetapi rupanya dorongan untuk bergosip telah menghalangi kesadaran kita tentang kasih dan penilaian yang baik.

Adam dan Hawa menghadapi masalah yang sama. Mereka terlalu asyik dengan sebuah tanaman yang ada di Taman Firdaus sehingga mereka tidak dapat melihat hutan yang luas gara-gara pohon tersebut.

Lihatlah apa dampaknya bagi mereka. Taman Eden telah diciptakan khusus untuk mereka. Di dalam taman itu, mereka tidak mengenal kejahatan, pencobaan, penyakit, dan kematian. Mereka menikmati persekutuan secara langsung dengan Sang Pencipta. Tetapi mereka membuang semua yang mereka miliki—hanya untuk memakan buah pohon terlarang itu.

Kesalahan mereka masih mengganggu kita. Betapa seringnya kita kehilangan seluruh hutan kebaikan Allah hanya untuk sebuah pohon pencobaan? Masa pencobaan tampak begitu menekan, masalah tidak tertahankan, dan kita membenarkan pikiran yang terputar balik.

Pikirkanlah tentang semua yang ditinggalkan Adam dan Hawa di Taman Eden. Isilah pikiran Anda dengan kebenaran firman Allah dan bersandarlah pada tuntunan serta kekuatan Roh Kudus dari waktu ke waktu. Dengan demikian Anda akan mengalami sukacita karena berkat Allah yang kekal, dan bukannya sekadar kesenangan sesaat —MRD II

29 Juli 2005

Kulit Jeruk

Nats : Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Korintus 10:12)
Bacaan : 1Korintus 10:1-13

Pada tahun 1911, seorang pemeran pengganti bernama Bobby Leach terjun di air terjun Niagara dalam sebuah tong baja yang sudah dirancang secara khusus. Ia berhasil terjun dengan selamat dan menceritakan tentang hal itu. Meskipun mengalami beberapa cedera ringan, ia bertahan hidup karena menyadari bahaya yang sangat besar dalam tindakan tersebut, dan ia telah melakukan semua yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya.

Beberapa tahun kemudian, ketika sedang berjalan menyusuri sebuah jalan di New Zealand, Bobby Leach terpeleset kulit jeruk, jatuh, dan mengalami patah kaki yang parah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dan meninggal di sana akibat komplikasi dari peristiwa itu. Ia justru mengalami cedera yang lebih parah saat berjalan kaki di New Zealand daripada saat ia terjun di air terjun Niagara. Ia tidak siap menghadapi bahaya di situasi yang dianggapnya aman.

Beberapa godaan hebat yang bergemuruh di sekeliling kita bagaikan suara gemuruh air di Niagara tidak akan membahayakan kita. Akan tetapi, suatu peristiwa kecil yang tampaknya tidak berarti dapat membuat kita jatuh. Mengapa demikian? Karena kita tidak hati-hati dan tak menyadari bahaya yang mungkin terjadi. Kita keliru karena berpikir bahwa kita berada dalam keadaan aman (1Korintus 10:12).

Kita harus selalu waspada terhadap godaan. Orang kristiani yang berkemenangan adalah seorang kristiani yang waspada, yang selalu berhati-hati bahkan ketika menghadapi kulit jeruk yang kecil RWD

26 Agustus 2005

Jauhilah Godaan

Nats : Jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai (2Timotius 2:22)
Bacaan : 2Timotius 2:14-26

Menurut mitologi Yunani, peri laut mendiami beberapa daerah Pantai Mediterania. Pada saat kapal-kapal lewat, para peri tersebut menyanyikan lagu-lagu memikat. Akibat mendengar nyanyian tersebut, para pelaut akan terjun dari kapal dan tenggelam. Mereka tertarik oleh musik lagu-lagu itu.

Pada saat itu, Odysseus sedang berada di atas sebuah kapal yang harus melalui jalur itu. Karena sadar akan godaan lagu-lagu tersebut, ia kemudian memberi perintah agar ia diikat dengan tali pada tiang kapal dan agar telinga para awak kapal ditutupi dengan lilin. Dengan demikian, mereka tidak lagi mendengar musik para peri yang menggoda. Berkat tindakan pencegahan tersebut, Odysseus dan para awak kapal dapat berlayar terus. Mereka pun tidak jatuh ke dalam godaan peri-peri laut.

Sebagai umat kristiani, kita perlu senantiasa siap sedia melawan setiap godaan yang jahat. Kita harus membenci dosa dan bersikap serius dalam melawan godaan-godaannya dengan memutuskan untuk menyangkal keinginan diri kita untuk ambil bagian di dalamnya.

Apakah ada dosa yang senantiasa muncul dalam hidup Anda yang telah mengalahkan Anda? Harus diambil cara-cara yang drastis. Anda harus menjauhi setiap bujukan yang Anda sadari akan memanfaatkan kelemahan Anda. Perlindungan terbaik terhadap godaan adalah dengan memerhatikan peringatan yang diberikan Paulus kepada Timotius: Jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan (2Timotius 2:22). Nasihat itu baik pada masa itu; dan tetap baik untuk hari ini RWD

7 September 2005

Dosaku

Nats : Apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1:15)
Bacaan : Kejadian 3:1-6

Hawa menjelaskan aturan kepada setan, si penggoda. Menurut aturan yang ditetapkan Allah, ia dan Adam boleh memakan buah dari pohon mana pun di Taman Eden, kecuali buah dari pohon yang terletak di tengah taman. Katanya, dengan menyentuhnya saja bisa mengakibatkan maut.

Saya dapat membayangkan Setan memalingkan mukanya, dan sambil tertawa meremehkan ia berkata, Sekali-kali kamu tidak akan mati (Kejadian 3:4). Lalu ia mengelabui dengan mengatakan bahwa Allah menyembunyikan hal yang baik dari Hawa (ayat 5).

Selama ribuan tahun, si musuh telah mengulangi strategi itu. Bahkan ia tidak peduli jika Anda percaya terhadap kedaulatan Alkitab, selama ia dapat membuat Anda tidak percaya bahwa yang berada di antara Anda dan Allah adalah dosa.

Sekali-kali kamu tidak akan mati, katanya. Itulah tema dalam banyak novel modern. Lakonnya hidup dalam ketidaktaatan kepada Allah, namun tidak menerima konsekuensinya. Dalam tayangan televisi dan film, para lakonnya memberontak terhadap hukum moral Allah tetapi hidup bahagia selamanya.

Bahkan ada parfum bermerek My sin (dosaku). Aromanya sangat menggoda, menarik, dan menggairahkan, begitu bunyi iklannya, maka sebutan yang paling cocok baginya adalah My Sin. Anda tidak akan pernah menduga bahwa dosa adalah bau yang memuakkan bagi Allah.

Ketika pencobaan menghadang, apakah Anda akan Anda memercayai dusta Setan? Atau akankah Anda menaati peringatan Allah? HWR

27 Juni 2006

Virus

Nats : Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Korintus 10:5)
Bacaan : 2Korintus 10:3-6

Pada hari-hari tertentu, komputer membuat saya terbang seperti rajawali. Akan tetapi pada hari-hari yang lain, ia membuat saya berkubang di lumpur seperti kuda nil. Pada "hari-hari rajawali" saya bersyukur atas komputer saya. Namun, ada pula "hari-hari kuda nil" yang membuat saya menyesal telah membelinya.

Baru-baru ini saya harus bergumul dengan virus yang menyerang komputer saya. Hal yang paling menjengkelkan saya adalah karena virus diciptakan dengan niat jahat. Orang-orang pintar yang memiliki sisi gelap dalam hidup mereka ingin membuat orang lain menderita. Namun lebih parah lagi, virus itu masuk ke komputer saya karena saya membuka e-mail yang saya kira tidak berbahaya.

Dosa itu mirip virus komputer. Iblis ingin menghancurkan orang-orang kristiani dengan menodai pikiran mereka. Namun, Rasul Paulus mengimbau orang-orang percaya di Korintus untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2Korintus 10:5).

Sama seperti virus yang memasuki komputer kita, kita pun membiarkan kegelapan memasuki hidup apabila kita dengan ceroboh membuka diri terhadap pesan-pesan tidak baik yang menyusup ke dalam kebudayaan kita. Kewaspadaan kita lemah dan kita tidak menyadari dosa yang menodai pikiran kita.

Namun dengan mengaku dosa, membaca firman Allah, dan berdoa, kita membangun "dinding yang tahan api" atau penghalang untuk melindungi pikiran kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjaga pikiran agar tamu-tamu yang tidak diinginkan tidak masuk ke dalam diri kita --HWR

24 Juli 2006

Disiplin Diri

Nats : Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya (Amsal 25:28)
Bacaan : Titus 1:1-9

Sebuah peribahasa lama berbunyi demikian: "Lain waktu jika Anda menginginkan kue, makanlah wortel." Peribahasa itu dapat menjadi nasihat yang baik bagi orang yang menjalani diet. Namun, orang-orang yang menyusun peribahasa ini mungkin hendak berbicara kepada kita. Dengan mendisiplinkan keinginan kita saat tidak ada prinsip moral yang sedang dipertaruhkan, sebenarnya kita sedang mempersiapkan diri jika kelak menghadapi godaan dosa.

Disiplin semacam inilah yang dimaksudkan oleh Paulus ketika ia memakai istilah penguasaan diri dalam daftar persyaratannya bagi pemimpin gereja (Titus 1:8). Kita perlu diingatkan tentang hal ini di zaman sekarang. Banyak orang mengira mereka dapat hidup secara tidak bermoral saat ini dan menghentikan ketidakbermoralan itu sekehendak hati mereka. Karena tidak memikirkan kekuatan dosa yang mampu membuat orang ketagihan, mereka mendapati bahwa hidup dengan tujuan baik itu jauh lebih sulit daripada yang diperkirakan.

Amsal 25:28 menyatakan bahwa apabila kita tidak dapat mengendalikan diri, maka kita akan menjadi tidak berdaya seperti kota yang roboh temboknya. Disiplin diri yang terus-menerus dilakukan akan dapat membangun sistem pertahanan rohani dalam melawan kekuatan jahat.

Tatkala mendisiplinkan diri untuk mengekang hasrat-hasrat kita pada umumnya, berarti kita menjalankan kebiasaan hidup yang baik dan mempraktikkan realitas perkataan Paulus dalam Roma 6:18, "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" --HVL

9 September 2006

Gagal Berbuat Benar

Nats : Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4:17)
Bacaan : Yakobus 4:13-17

Dalam buku yang berjudul Eight Men Out, Eliot Asinof menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi di skandal "Black Sox" yang terkenal pada tahun 1919. Delapan anggota klub bisbol Chicago White Sox dituduh telah menerima suap dari para penjudi sebagai kompensasi agar mengalah dalam pertandingan di tingkat dunia. Walaupun tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan, mereka berdelapan dilarang bermain bisbol seumur hidup.

Namun salah seorang di antara mereka, Buck Weaver, menyatakan bahwa ia telah bermain agar klubnya menang meskipun ia mengetahui adanya persekongkolan. Meskipun penampilan Weaver di lapangan memang mendukung pernyataannya itu, akan tetapi komisi bisbol Kenesaw Mountain Landis membuat aturan bahwa siapa saja yang mengetahui skandal itu, namun tidak mencegahnya, tetap akan dilarang bermain. Weaver tidak dihukum karena berbuat salah, tetapi karena gagal berbuat benar.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat gereja abad pertama, Yakobus menulis, "Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Di dunia yang dipenuhi oleh kejahatan dan kegelapan, para pengikut Kristus memiliki kesempatan untuk memancarkan cahayanya. Kerap kali hal itu berarti kita harus melawan dorongan untuk tetap berdiam diri.

Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk berbuat baik atau tidak berbuat apa-apa, kita harus selalu memilih untuk melakukan se-suatu yang benar -WEC

28 September 2006

Kekuatan Dosa

Nats : Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita (Ibrani 12:1)
Bacaan : Roma 7:14-25

Saya sedang makan siang bersama seorang teman pendeta, ketika percakapan kami beralih pada pembicaraan tentang seorang teman sesama pelayanan yang telah melakukan kesalahan secara moral. Ketika kami menyayangkan keretakan persaudaraan itu, dan kini ia pun telah keluar dari pelayanan, saya kemudian bertanya-tanya, "Saya tahu siapa pun dapat tergoda dan siapa pun dapat jatuh, namun ia adalah orang yang cerdas. Tetapi bagaimana mungkin ia berpikir dapat meloloskan diri?" Seketika teman saya menimpali, "Dosa membuat kita dungu." Itu pernyataan mendadak yang menarik perhatian saya, dan berhasil.

Selama bertahun-tahun saya kerap merenungkan pernyataan itu, dan saya selalu meyakini kebijaksanaan yang terkandung di dalam kata-kata tersebut. Bagaimana Anda dapat menjelaskan perbuatan Raja Daud, orang yang dikasihi Allah yang kemudian berubah menjadi seorang pezina dan pembunuh? Atau kesembronoan yang dilakukan oleh Simson? Atau penyangkalan Petrus, rasul utama Yesus, di hadapan banyak orang terhadap Kristus? Kita adalah orang-orang penuh kelemahan yang mudah tergoda dan dapat melakukan hal-hal bodoh, tetapi bila berusaha cukup keras, kita akan dapat berpikir jernih dan memilih dengan benar pada hampir semua perbuatan yang kita lakukan.

Kita dapat menang terhadap kekuatan dosa, apabila kita bersandar pada kekuasaan dan kebijaksanaan Kristus (Roma 7:24,25). Ketika rahmat-Nya menguatkan hati dan pikiran kita, maka kita akan dapat mengatasi kecenderungan kita untuk membuat pilihan-pilihan yang bodoh -WEC

27 Januari 2007

Sindrom Turkish Delight

Nats : Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:14)
Bacaan : Galatia 5:16-25

Dalam buku seri Narnia The Lion, the Witch, and the Wardrobe, Edmund dengan mudah dibujuk ke sisi kegelapan oleh penyihir putih yang jahat. Metode penyihir itu sederhana -- ia memenuhi keinginan Edmund akan makanan yang nikmat dan manis, serta keinginannya akan status dan pembalasan dendam. Kue Turkish Delight yang ditawarkannya itu lezat, dan membuat Edmund ketagihan. Daya tariknya yang begitu kuat membuat Edmund mengkhianati saudara-saudaranya.

Nafsu dunia dan daging merupakan sesuatu yang kuat serta membuat orang menjadi kecanduan, sehingga itu digunakan sebagai alat oleh Iblis. Ia memenuhi kesenangan kita untuk memuaskan hasrat kita yang egois dan penuh dosa, serta menggunakannya untuk menggoda, mengendalikan, mematahkan semangat, mengalahkan, serta menghancurkan kita. Kita mengidam-idamkan kekuasaan, uang, makanan, alkohol, pakaian, atau seks, sekalipun harus mengorbankan teman-teman, orang-orang terkasih, dan bahkan hubungan dengan Juru Selamat kita, untuk memuaskan hasrat kita.

Bagaimana kita dapat bertahan melawan godaan Setan? Paulus berkata, "Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (Galatia 5:16). Ia pun menulis, "Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus dan janganlah menuruti tabiat yang bersifat daging untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:14). Dan Yohanes berkata, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya" (1 Yohanes 2:15).

Kenakanlah Tuhan dan hiduplah oleh Roh. Itulah caranya mematahkan kuasa sindrom kue Turkish Delight --DCE

6 Maret 2007

Godaan yang Menekan

Nats : [Aku] berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp. 3:14)
Bacaan : Matius 4:1-11

Penggemar bisbol Ardent akan ingat pada Kirby Puckett yang meninggal secara mendadak pada tahun 2006. Ia telah membawa Minnesota Twins memenangkan berbagai kejuaraan pada tahun 1987 dan 1991. Meskipun mendapatkan banyak tawaran kontrak yang lebih besar dari tim lainnya, ia tetap setia pada Twins sepanjang kariernya. Ketika Puckett didiagnosis menderita glaukoma pada tahun 1996, kariernya langsung berakhir.

Ketika ia masuk dalam Hall of Fame bisbol pada tahun 2001, Puckett ingat kesulitan-kesulitan yang dihadapinya ketika tumbuh dewasa. Hasratnya yang besar untuk menjadi pemain bisbol profesional kerap dihadapkan pada godaan. Para penyalur narkoba dan anggota geng berulang kali mengundangnya untuk bergabung dalam gaya hidup mereka yang merusak. Namun, setiap kali godaan memikatnya, Kirby teringat bahwa ia memiliki panggilan yang lebih tinggi, yaitu bisbol.

Meskipun kita didorong untuk menjadi "orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu" (Ef. 4:1), kita hidup di dunia yang penuh dengan daya tarik yang mengacaukan. Mungkin kita mendapatkan tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi, namun syaratnya kita harus mau mengompromikan prinsip-prinsip alkitabiah yang kita miliki. Ingatlah, panggilan kita adalah senantiasa melakukan kehendak Allah.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah godaan untuk menyimpang dari jalan Allah dalam hidup kita, kita harus ingat bahwa kita memiliki panggilan yang lebih tinggi sebagai hamba Yesus --VCG

Kala kuasa gelap menyerbu datang,
Tuhanlah Panglima Perang!
Dia mengangkat panji, kuasa darah-Nya --
Bersama-Nya kita 'kan menang! --Owens-Collins

29 April 2007

Sampah Ruang Angkasa

Nats : Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)
Bacaan : 2Samuel 12:1-13

Mengitari planet Bumi dengan kecepatan lebih dari 7 km/detik menimbulkan kumpulan sampah ruang angkasa yang terus menumpuk. Baut, mur, dan sampah lainnya yang dibuang dari pesawat-pesawat ruang angkasa adalah bahaya nyata bagi pesawat ruang angkasa berikutnya. Satu benda terkecil di luar angkasa dapat memiliki dampak seperti peluru jika bertabrakan dengan pesawat berkecepatan tinggi. Pada sebuah misi luar angkasa, satu butir cat menimbulkan lubang selebar 7 mm di jendela pesawat.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa ada 110.000 benda sebesar lebih dari 1 cm di orbit. Berat mereka seluruhnya 1,8 juta kg! Untuk menghindari bencana akibat sampah ruang angkasa, Komando Luar Angkasa AS bekerja untuk NASA dengan memonitor sampah yang mengorbit.

Pilihan yang penuh dosa akan menimbulkan sampah, yaitu akibat yang tak diinginkan. Saat Akhan mencuri dan menyembunyikan barang rampasan yang terlarang, ia harus membayar dengan nyawanya (Yosua 7). Setelah Raja Daud melakukan perzinaan dan pembunuhan, keluarganya mengalami perpecahan (2Samuel 15-18).

Adakah "sampah" dalam hidup Anda? Konsekuensi dosa selalu bertambah. Saat kita mengakui dosa kepada Allah, Dia berjanji mengampuni dan menyucikan kita (1Yohanes 1:9). Kita dapat menemukan jalan untuk memperbaiki kesalahan bagi mereka yang telah kita lukai (Lukas 19:1-8). Allah yang penuh anugerah akan memberi hikmat untuk menghadapi keputusan buruk dari masa lalu kita dan menolong membuat keputusan yang baik di kemudian hari --HDF


Alangkah malu hati terasa
Karena memilih jalan berdosa!
Namun bila kita memanggil nama-Nya,
Dia akan memberikan damai sejahtera. --D. De Haan

15 September 2007

Apoteker

Nats : Kemudian berkatalah Natan kepada Daud, "Engkaulah orang itu!" (2Samuel 12:7)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Ada seorang apoteker yang memiliki reputasi baik. Ia adalah seorang pria yang mencintai keluarga dan seorang pebisnis yang baik. Laporan-laporan berita mencatat betapa ia begitu berarti bagi banyak orang. Akan tetapi, untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, orang yang dipercaya ini mulai mengurangi khasiat obat-obat kemoterapi yang disalurkannya. Ia kemudian tertangkap dan dihukum karena kejahatan itu. Ia membuat banyak pekerja medis menjadi bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"

Pertanyaan yang sama juga pernah dilontarkan terhadap Raja Daud. Ia dikenal sebagai orang yang dikasihi Allah, tetapi ia memakai kekuasaan dalam jabatannya untuk mengambil istri orang lain (2 Samuel 11). Kemudian, ia bersekongkol untuk membunuh suami dari wanita itu. Pria yang meninggal itu adalah salah seorang perwira militer Daud sendiri, yang meninggalkan keluarganya untuk berjuang dalam pertempuran yang dilakukan bagi rajanya.

Mungkin kita merasa lebih tenang ketika melihat kegagalan orang-orang terkenal. Namun, jika kita merasa lega karena kesalahan orang lain, berarti kita tidak mengenal diri sendiri. Alkitab mencatat dosa Daud itu bukan untuk melemahkan kewaspadaan moral kita, sebaliknya justru untuk membuat kita siaga.

Kegagalan orang lain seharusnya menjadikan kita lebih waspada terhadap kelemahan kita sendiri dan membuat kita lebih menyadari kebutuhan kita atas kasih karunia Kristus. Hanya dengan mengetahui kelemahan kita, maka kita akan bergantung pada kekuatan Allah --MRDII

26 September 2007

Yesus Membebaskan Kita

Nats : Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32)
Bacaan : Galatia 5:1-6

Setelah zaman Rasul Paulus, barangkali belum ada orang lain yang menuliskan pengalamannya pada saat mengalami tekanan rohani secara jelas, selain ahli teologi terkenal bernama Agustinus (354-430 M). Meskipun dikaruniai kepandaian yang luar biasa, di masa mudanya ia pernah berkubang dalam kebobrokan moral yang sangat parah.

Sambil mengenang masa lalu, Agustinus mengisahkan pergumulannya, "Saya diikat oleh rantai besi kehendak saya sendiri. Saya cenderung menjadi seorang penderita yang patah semangat, bukannya orang yang memiliki kemauan untuk bangkit. Kehendak itu menjadi senjata makan tuan bagi saya, karena saya telah menjadi apa yang sesungguhnya tidak saya kehendaki."

Banyak di antara kita yang pernah menjalani pergumulan serupa. Kita ingin terbebas dari dosa, tetapi ternyata kita selalu mendapati diri tidak mampu mematahkan rantai kehendak kita. Kemudian, ketika kita percaya kepada Yesus, kita dibebaskan dan dapat menyuarakan kembali lirik kidung pujian karya Charles Wesley: "Lama sudah rohku terbelenggu dalam dosa dan gelapnya kemanusiaanku; mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan kembali, aku terbangun, tempat aku dikurung tiba-tiba diterangi cahaya! Rantai yang membelengguku terlepas, rohku dibebaskan; aku bangkit, keluar, dan mengikut Dia."

Hanya Yesus, satu-satunya Pribadi yang mampu melepaskan belenggu dosa di dalam hidup Anda. Terimalah Dia sebagai Juru Selamat Anda, dan "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32) --VCG

5 Desember 2007

Pemandangan yang Berubah

Nats : Lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Matius 4:1)
Bacaan : Matius 4:1-11

Saya sangat menyukai taman saya. Namun, hidup di Amerika Serikat bagian Barat Tengah selama musim dingin telah mengubah taman saya yang indah menjadi pemandangan yang beku, tertutup salju, dan gersang.

Itu tidak seperti di taman Eden. Eden merupakan taman yang luar biasa indah sepanjang tahun. Di taman inilah Adam dan Hawa menikmati ciptaan Allah yang istimewa dan sukacita keselarasan sempurna dengan-Nya dan antara satu sama lain. Namun, kemudian Setan muncul. Ia membawa rumput-rumput liar, onak duri, kerusakan, dan maut.

Anda pasti dapat melihat perbedaan antara pemandangan di Kejadian 1 dan di Matius 4. Penggoda yang sama, yang pernah memasuki taman Allah, sekarang menyambut Allah di tanahnya -- padang gurun yang berbahaya dan tandus.

Padang gurun dapat menjadi suatu gambaran kejadian yang akan menimpa dunia -- dan kehidupan -- apabila kemauan Setan dituruti. Dengan satu pukulan yang menentukan, sukacita Eden digantikan dengan rasa malu karena telanjang (Kejadian 3). Akan tetapi, Yesuslah yang menjadi pemenang di tanah Setan! (Matius 4). Dengan kemenangan itu Dia memberi kita harapan bahwa kita pun dapat menang. Sebuah kemenangan yang menunjukkan kepada kita bahwa musuh tidak lagi dapat menguasai kita. Kemenangan yang meyakinkan kita akan datangnya hari ketika kita tidak lagi akan bersusah-payah di padang gurun Setan, tetapi akan diantar memasuki surga, di mana sukacita Eden akan menjadi milik kita -- untuk selamanya. Inilah hal yang kita nanti-nantikan! --JMS



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA