Topik : Pemahaman

17 Januari 2003

Menemukan Harta Karun

Nats : Karena TUHAN-lah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)
Bacaan : Amsal 2:1-9

Untuk mendapat manfaat dari pelajaran Alkitab, kita harus berusaha lebih dari sekadar membuka sebuah pasal dan membaca pesan apa yang ada di sana. Berikut ini ada enam panduan yang dapat membantu Anda mencapai tujuan tersebut.

1. Sisihkan waktu secara teratur untuk mempelajari Alkitab. Kalau Anda tidak menjadwalkannya, Anda akan mengabaikannya.

2. Sebelum mulai membaca Alkitab, mintalah pertolongan dan hikmat Allah.

3. Renungkan dengan hati-hati apa yang Anda baca. "Harta karun" yang ada dalam Alkitab jarang bertebaran seperti kerikil di permukaan. Untuk menambang emas, Anda harus menggali.

4. Sebelum menentukan apa makna bacaan itu bagi Anda, coba pahami apa yang ingin dikatakan sang penulis kepada para pembaca aslinya.

5. Tuliskan paling tidak satu kebenaran atau prinsip yang dapat Anda terapkan.

6. Jangan berkecil hati. Beberapa bagian Alkitab mungkin sulit dipahami, tetapi pasti ada cukup banyak bagian lain yang dapat Anda mengerti. Dan jika Anda menerapkan apa yang telah Anda pelajari, maka hidup Anda akan banyak berubah.

Sekarang bacalah bacaan hari ini, yakni Amsal 2, sekali lagi. Ingatlah prinsip-prinsip ini. Kemudian gunakan metode tersebut saat Anda mempelajari firman Tuhan. Dengan melakukannya, Anda akan mulai menemukan "harta karun" dari Alkitab --Haddon Robinson

25 September 2003

Masih Relevan

Nats : ... telah dilahirkan kembali ... oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1Petrus 1:23)
Bacaan : Mazmur 19:7-11

Diperkirakan setiap tahun terbit sekitar 300.000 buku baru di seluruh dunia. Sungguh suatu jumlah yang luar biasa! Namun, hanya ada satu buku, yaitu Alkitab, yang paling bertahan di antara semua buku itu.

Apa yang dapat kita katakan mengenai daya tarik "buku tua" ini? Jawabannya sangatlah sederhana. Buku ini adalah firman Allah, yang disampaikan dalam bahasa manusia, dan menceritakan tentang Pencipta kita dan kehendak-Nya atas dunia ini. Tidak hanya itu, buku ini juga memberikan pengertian yang paling tepat mengenai sifat dasar manusia yang membingungkan, serta alasan kita berbuat sesuatu.

Robert Coles, seorang profesor dari Harvard, telah mewawancarai ratusan orang dari berbagai kalangan masyarakat. Ketika ditanya mengenai hal yang telah dipelajari dari penelitiannya tentang sifat dasar manusia, Dr. Coles menunjuk Alkitab yang terletak di atas mejanya dan berkata, "Saya tidak menemukan satu hal pun mengenai penciptaan manusia yang bertentangan dengan yang telah saya pelajari dari para nabi Yahudi ... dan dari Yesus, serta hidup orang-orang yang dijamah-Nya".

Berbagai tulisan orang lain dan pengalaman kita sendiri dapat mengajarkan banyak hal kepada kita tentang penyebab dari tingkah laku yang kita perbuat. Namun, hanya Injil yang mengatakan bahwa hati kita yang penuh dosalah yang menjadi inti dari persoalan kita, dan bahwa dengan percaya kepada Yesus, hati kita dapat diubahkan dari dalam.

Ya, Alkitab masih relevan hingga saat ini. Apakah Anda semakin mengasihi buku tua ini? --Vernon Grounds

16 Maret 2004

Cari dan Dapatkan

Nats : Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan ... mendapat pengenalan akan Allah (Amsal 2:4,5)
Bacaan : Amsal 2:1-6

Justin Martyr adalah pria abad ke-2 yang rindu mencari kebenaran. Ia membaca buku-buku penulis klasik Yunani, mempelajari dan menganalisa setiap filosofi dari segala sudut. Ia mencari pemahaman, terutama jawaban bagi kerinduannya akan kemurnian seks. Namun, usahanya sia-sia. Ia menulis, “Akhirnya, ketidaksetiaan akan muncul, dan cepat atau lambat akan mengkhianati cinta.”

Suatu hari, ia berjalan-jalan tanpa tujuan menyisir pantai, dan bertemu seorang pria tua yang ucapannya menyentuh hati. Belum pernah ada yang berkata seperti itu kepadanya. Pria itu memperkenalkan Allah kepadanya melalui Yesus Kristus. Dengan kesaksian sederhana itu, Justin mendapatkan pengetahuan yang selama ini dicarinya sepanjang hidup, yakni “pengenalan akan Allah” (Amsal 2:4,5).

Mungkin seperti Justin, Anda pun tengah mencari pemahaman ke mana-mana untuk mendapat jawaban yang Anda rindukan tentang kebenaran. Anda telah banyak membaca dan berpikir sungguh-sungguh tentang kehidupan, tetapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan kebutuhan terdalam jiwa Anda. Jika demikian, bacalah Injil, empat kitab pertama Perjanjian Baru. Saat membacanya, berserulah kepada Allah, supaya diberi pengertian. Dia akan mendengar Anda, dan Anda akan mendapatkan pengenalan akan Allah melalui Yesus Kristus (Yohanes 17:3).

Allah tidak memaksakan kebenaran kepada mereka yang tidak menginginkannya. Namun, Dia mendengar seruan mereka yang sungguh-sungguh memintanya. Yesus berkata, “Mintalah maka kamu akan menerima” (Yohanes 16:24) —David Roper

21 Juli 2004

Pencari Kebenaran

Nats : Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku (Mazmur 119:93)
Bacaan : Mazmur 119:89-96

Ada seorang gadis yang memulai pencariannya akan Allah ketika ia berusia 11 tahun, dan hidup di bawah komunisme ateis di negara bekas Uni Soviet. Ketika itu ia melihat beberapa karya seni yang melukiskan bayi Yesus. Saat ia mendengar bahwa karya seni ini menggambarkan apa yang disebut para penguasa sebagai “mitos” tentang Allah yang mengirimkan Putra-Nya ke bumi, ia mulai mencari kebenaran tentang itu.

Ia juga mendengar bahwa Allah telah menulis sebuah buku tentang kebenaran-Nya, dan ia mencari salinannya. Tidak sampai menjelang usia 30 tahun, akhirnya wanita itu menemukan sebuah Alkitab yang boleh ia baca. Akhirnya ia mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk memercayai Yesus sebagai Sang Juruselamat.

Dari tahun 1971 sampai 1989, gadis ini mengambil risiko mempertaruhkan keselamatannya untuk mencari kebenaran firman Allah. Kini ia berprofesi sebagai seorang pengacara yang bekerja untuk melindungi rekan-rekannya sesama warga Rusia dari penyiksaan karena iman. Pesan kasih Allah di dalam Kristus menyebar karena seorang wanita yang mencari kebenaran.

Kebenaran Allah dapat berdampak kepada kita dan kepada orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Pemazmur menulis, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku .... Sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku” (Mazmur 119:92,93).

Mari jadikan Alkitab sebagai kesukaan kita. Allah akan memberi kita hasrat akan firman-Nya yang kekal jika kita menjadi pencari kebenaran —Dave Branon

25 Mei 2005

Janji yang "keliru"?

Nats : Bergembiralan karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mazmur 37:4)
Bacaan : Mazmur 37:1-24

Adakah janji Alkitab yang membuat Anda putus asa? Beberapa orang mengatakan Mazmur 37:4 adalah jaminan bahwa Anda akan mendapatkan apa pun yang Anda inginkan—pasangan hidup, pekerjaan, uang. Terkadang ini mengherankan saya, mengapa saya tak mendapatkan apa yang saya inginkan?

Bila suatu janji membuat Anda putus asa, saat itu tampaknya Allah tidak memenuhinya. Mungkin itu karena kita tidak memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh ayat tersebut. Berikut ini terdapat tiga bantuan saran, menggunakan Mazmur 37 sebagai contoh:

Lihat konteksnya. Mazmur 37 memberi tahu kita agar tidak khawatir atau iri pada orang jahat. Fokus kita bukan pada apa yang mereka miliki, juga bukan pada hukuman yang tampaknya bisa mereka hindari (ayat 12,13). Sebaliknya, kita diperintahkan untuk memercayai Tuhan dan bergembira karena Tuhan (ayat 3,4).

Pertimbangkan ayat-ayat lain. Perikop 1 Yohanes 5:14 menyatakan bahwa permohonan kita harus sesuai dengan kehendak-Nya bagi kita. Bagian lain dari Kitab Suci mengenai topik yang sama membantu menyeimbangkan pemahaman kita.

Pelajari tafsir Alkitab. Dalam The Treasury of David, C.H. Spurgeon mengatakan mengenai ayat 4: "[Mereka] yang bergembira karena Allah, tidak menginginkan atau meminta apa pun melainkan berusaha menyenangkan hati Allah." Melakukan pemahaman yang sedikit lebih mendalam dapat membantu kita memahami ayat-ayat Alkitab yang membuat frustrasi seperti ayat yang kita bahas ini.

Bila kita belajar menyenangkan Tuhan, kehendak-Nya menjadi kehendak kita dan Dia akan memberikannya pada kita —AMC

26 Mei 2005

Kini dan Selamanya

Nats : Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu (Yakobus 1:21)
Bacaan : Yehezkiel 33:23-33

Rasa ngeri mencekam hati seorang tentara ketika mortir berdesing di atas kepalanya, senapan meletus, dan musuh mendekat. Tiba-tiba rasa sakit mengoyaknya ketika sebutir peluru menembus dada dan lengannya. Namun itu bukan akhir hidup tentara tersebut. Menurut artikel di The New York Times, peluru itu diperlambat oleh Perjanjian Baru yang dibawa di saku bajunya. Bertahun-tahun kemudian, orang ini masih menyimpan kitab yang terkena noda darah dengan lubang kasar di tengah-tengahnya itu. Ia percaya kitab itu telah menyelamatkan hidupnya.

Ini memang cerita yang menarik, tetapi ini tidak ada kaitannya dengan pertolongan rohani yang menyelamatkan hidup yang dapat diberikan oleh Alkitab. Dalam kitab Yehezkiel 33, kita membaca bahwa bangsa Israel kuno merasa terhibur dengan nubuat para nabi, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk mengubah hidup. Mereka menyalahgunakan janji-janji Allah kepada Abraham untuk mendukung klaim mereka sendiri atas tanah (ayat 24). Mereka senang mendengarkan nubuat nabi (ayat 30), namun Tuhan berfirman kepada Yehezkiel, "Mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya" (ayat 31). Hasilnya? Mereka menerima hukuman Allah.

Demikian pula sekarang, firman Allah tidak untuk dipuja-puja sebagai pembawa keberuntungan atau untuk meringankan beban pikiran dengan membawa kelegaan sementara dari kecemasan. Firman diberikan untuk dilaksanakan sehingga bantuan-Nya tidak hanya berlaku untuk kehidupan sekarang ini, tetapi juga untuk selamanya —MRD II

13 Juni 2005

Tuli Rohani

Nats : Manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan (1Korintus 2:14)
Bacaan : 1Korintus 2

Sebagian orang menderita gangguan pendengaran yang aneh—mereka dapat mendengar suara, namun tidak mampu memahami kata-kata. Mereka tidak mengalami masalah saat mendengarkan kicauan burung atau suara detik jam, namun mereka tidak memahami kata-kata, seolah itu adalah bahasa asing. Gangguan pendengaran itu sumber masalahnya tidak pada telinga, tetapi berakar dari cedera di otak.

Ada juga penyakit tuli rohani yang memengaruhi banyak orang. Karena hati yang penuh dosa, mereka yang tidak beriman kepada Kristus dapat membaca Alkitab dan mendengar pengajaran firman Allah. Namun, pesan-pesan rohani ini mereka anggap sebagai suatu kebodohan (1 Korintus 2:14).

Ini menerangkan mengapa sebagian orang menghargai Alkitab sebagai karya sastra, sejarah yang dapat dipercaya, dan sebagai sumber standar moral yang tinggi, namun mereka gagal memahami pesan rohaninya. Mereka tidak menangkap arti penting apa yang dikatakan Alkitab tentang Kristus—kematian-Nya di kayu salib bagi dosa-dosa kita, kebangkitan-Nya, dan pelayanan-Nya kini menjadi perantara kita di surga. Berbagai kebenaran seperti ini tidaklah masuk akal bagi mereka.

Saat Anda membaca Alkitab, apakah Anda "mendengar" apa yang dikatakannya? Jika tidak, mohonlah kepada Allah supaya Dia membukakan pemahaman Anda terhadap apa yang dikatakan Alkitab tentang Yesus. Percayalah kepada-Nya sebagai Juruselamat pribadi Anda dan alamilah kelahiran rohani. Itulah obat bagi tuli rohani —RWD

17 Juni 2005

Menghalau Iblis

Nats : Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yakobus 4:7)
Bacaan : Yakobus 4:7-10

Di Texas, tempat saya dibesarkan, kata yang biasa diucapkan untuk merespons seseorang yang bersin adalah, "Scat!" [Ind: Enyah!]. Ini adalah hal yang lazim, tetapi saya tidak tahu alasan kami mengucapkannya. Sekarang saya tahu. Ternyata ini adalah kebiasaan lama yang berasal dari zaman kuno, yaitu ketika orang-orang percaya bahwa bersin mengeluarkan setan. Mereka berkata, "Scat!" untuk menghalaunya.

Tentu saja itu hanya takhayul. Ada cara yang lebih baik dan alkitabiah untuk mengusir setan.

Muslihat setan selalu dimulai dengan sebuah kebohongan, arahan yang keliru, pemutarbalikan kebenaran yang tak kentara, yang jika dilakukan akan menjauhkan kita dari Allah. Tawaran setan jarang terlihat jahat, karena pikiran kita langsung menolak kejahatan yang tampak jelas. Kerap kali tawaran setan itu menyamar sebagai kebaikan. Setan menambahkan jejak-jejak anugerah dan keindahan pada setiap godaan. Jika kita tidak menyadari sifatnya yang mematikan, kita mudah terjerumus ke dalamnya.

"Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). Seranglah balik kebohongan setan ketika pertama kali masuk ke dalam pikiran Anda. Hadapilah segera dengan menggunakan firman Allah dan usirlah kebohongan itu, seperti Anda mengusir wiraniaga yang ngotot sebelum ia menginjakkan kaki di ambang pintu rumah Anda. Ingatlah sebuah ayat atau bagian Kitab Suci yang berbicara tentang kebohongan yang ditawarkan Iblis kepada Anda, dan tunduklah pada kebenaran itu.

Begitulah cara mengusir iblis —DHR

26 Oktober 2005

Gigi Manis

Nats : Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku (Mazmur 119:103)
Bacaan : Mazmur 119:97-104

Wanita itu pasti suka sekali makan cokelat! Ia berhenti di toko Woolworth di London dan meminta setiap batang cokelat Mars yang ada. Ia membayar tunai untuk 10.656 batang cokelat. Melihat hal itu tak ada orang yang susah-susah bertanya mengapa ia menginginkan begitu banyak cokelat, tetapi ada satu orang yang dengan menyindir berkata, “Mungkin ia memiliki gigi manis.”

Pemazmur juga memiliki “gigi manis”-untuk sesuatu yang jauh lebih sehat daripada cokelat. Ia sangat menyukai firman Allah dan ia merasakan firman itu “lebih manis daripada madu” (Mazmur 119:103).

Bagaimana kita dapat mengembangkan selera rohani kita supaya kita menjadi sangat menyukai manisnya firman Allah?

Bacalah firman Allah. Tampaknya hal ini mudah dimengerti, tetapi Anda harus membaca firman Allah jika Anda ingin belajar mencintainya seperti pemazmur. Luangkan waktu selama beberapa menit setiap hari dan bacalah satu perikop. Renungkanlah kata-katanya, maknanya, dan konteksnya.

Renungkanlah firman Allah. Tuliskan sebuah ayat dan bawalah selalu. Bacalah firman tersebut sesering mungkin sepanjang hari. Ikuti teladan pemazmur dan “merenungkannya sepanjang hari” (ayat 97).

Terapkanlah firman Allah. Bertanyalah kepada Allah pemahaman seperti apa yang Dia inginkan dari Anda dan bagaimana menerapkannya bagi hidup Anda sepanjang hari.

Firman Allah akan memberi Anda “gigi manis” dan puaslah senantiasa dengan firman Allah tersebut -AMC

6 Januari 2006

Terjemahan Ibu

Nats : Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel (Ezra 7:10)
Bacaan : Ezra 9:5-15

Empat orang pendeta sedang membahas keunggulan berbagai terjemahan Alkitab. Yang satu menyukai suatu versi tertentu karena kesederhanaan dan keindahan bahasa Inggrisnya. Yang lainnya lebih menyukai sebuah edisi yang lebih ilmiah karena lebih mendekati naskah asli bahasa Ibrani dan Yunani. Namun, yang lainnya lagi menyukai sebuah versi kontemporer karena kosakatanya yang modern.

Pendeta keempat terdiam sesaat, lalu berkata, "Saya sangat menyukai terjemahan ibu saya." Ketiga pria lainnya terkejut dan mengatakan bahwa mereka tidak tahu kalau ibunya juga telah menerjemahkan Alkitab. "Ya," jawabnya. "Ibu saya menerjemahkannya ke dalam hidup, dan terjemahan itu adalah terjemahan paling meyakinkan yang pernah saya lihat."

Daripada membahas terjemahan mana yang lebih disukai, pendeta ini justru mengingatkan mereka bahwa seharusnya pusat perhatian yang terpenting adalah mempelajari firman Allah dan melakukannya. Ini merupakan prioritas utama kehidupan Ezra. Sebagai seorang ahli kitab, ia mempelajari Taurat, menaatinya, dan mengajarkannya kepada orang-orang Israel (Ezra 7:10). Sebagai contoh, Allah memerintahkan umat-Nya untuk tidak melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka yang menyembah dewa berhala (9:1,2). Ezra mengakui dosa bangsa Israel kepada Allah (9:10-12) dan menegur orang-orang Israel, yang kemudian bertobat (10:10-12).

Mari kita ikuti teladan Ezra dengan meneliti firman Allah dan menerjemahkannya ke dalam hidup --AMC

2 Maret 2006

Baca dengan Keras

Nats : ... bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar (1Timotius 4:13)
Bacaan : 1Timotius 4:6-16

Kita diberkati dengan banyaknya versi terjemahan Alkitab saat ini, sehingga kita tidak begitu menyadari bahwa salah satu versi terjemahan telah digunakan lebih dari 350 tahun oleh bangsa-bangsa yang berbahasa Inggris. Kini banyak orang tidak mengenal istilah Alkitab terjemahan King James seperti "thee", "thou" (engkau), dan "verily" (sangat). Padahal, ada sesuatu yang indah saat mendengar kata-kata tersebut dibacakan dengan keras, terutama bila yang dibacakan adalah Mazmur 23 yang terkenal itu.

Dalam buku God’s Secretaries, penulis Adam Nicolson menceritakan bahwa terjemahan King James peka terhadap bunyi. Ia bercerita bahwa ada dua belas orang duduk dalam ruangan sambil mendengarkan Alkitab versi King James yang dibacakan dengan keras. Mereka merasa bahwa yang membuat ayat tertentu dapat dipahami dengan baik tidak hanya karena ketepatan penerjemahan dari bahasa aslinya, tetapi juga karena keindahan bunyi dari kata-kata yang dibacakan.

Paulus memahami kuasa dari firman Tuhan yang diucapkan. Kepada gembala muda Timotius, ia memerintahkan untuk mengadakan pembacaan Alkitab di depan umum: "Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar" (1Timotius 4:13).

Firman Allah menggugah hati ketika masuk ke telinga orang percaya. Jadi, Alkitab terjemahan versi apa pun yang Anda baca pada saat teduh Anda, doa keluarga, atau pada kebaktian di gereja, ingatlah akan kuasa dari firman Tuhan yang diucapkan. Carilah kesempatan untuk membaca Alkitab dengan suara keras --HDF

15 Maret 2006

Latihan Otak

Nats : Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)
Bacaan : Roma 12:1-8

Ada sebuah istilah yang lazim digunakan oleh para ilmuwan peneliti otak manusia. "Gunakan otak Anda sebelum Anda kehilangannya." Kita memiliki kemampuan untuk menjaga agar otak kita sehat dan bekerja dengan baik. Dr. Lawrence Katz, seorang ahli syaraf dari Duke University, menyarankan orang-orang untuk melakukan latihan otak setiap hari, seperti menyikat gigi dengan tangan yang tidak dominan atau melakukan pekerjaan dengan cara yang berbeda, untuk merangsang kemampuan otak sekaligus menjaganya tetap sehat. Tujuan latihan ini adalah untuk menggantikan rutinitas yang sudah dihafal dengan kesadaran yang segar dan fokus yang baru.

Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita dapat memetik pelajaran dari hal ini. Bahkan membaca Alkitab dan berdoa, yang merupakan disiplin rohani yang penting, dapat menjadi sebuah kebiasaan belaka yang tidak lagi melibatkan kesadaran kita.

Agar tidak tergelincir pada kebiasaan rohani semacam itu, mungkin Anda perlu menghafal ayat Kitab Suci pada saat teduh Anda setiap hari. Itu merupakan latihan otak yang dilakukan untuk mencapai perubahan rohani. Sang pemazmur menulis, "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau" (Mazmur 119:11). Paulus berkata, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna" (Roma 12:2).

Menghafal dan merenungkan firman Allah yang penuh kuasa adalah sesuatu yang lebih berarti daripada latihan otak --DCM

29 Juni 2006

Peringatan di Dunia

Nats : Ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut (Amsal 13:14)
Bacaan : Amsal 13:1-14

Angsa-angsa sering datang ke Kolam Mill di Inggris, tempat Direktur Regional RBC, Howard Liverance, tinggal. Melihat hal itu ia menulis, "Itu adalah tempat yang indah ... yaitu tempat bebek, angsa, dan burung-burung air lainnya bermain dengan jenaka." Namun, ada bahaya di tempat yang tenang itu. Di seberang salah satu sudut kolam tersebut terdapat jaringan listrik. Sejumlah angsa telah mati karena menginjaknya saat berjalan ke kolam.

Howard berbicara kepada sejumlah orang mengenai masalah ini dan akhirnya perusahaan listrik memasang bendera-bendera merah di atas jaringan tersebut. Sekarang angsa-angsa dapat melihat adanya bahaya tersebut dan menghindarinya. Sejak dipasangnya bendera-bendera merah, tak ada satu pun angsa yang mati.

Allah pun telah menyediakan "bendera-bendera merah" untuk melindungi diri kita. Kitab Amsal adalah kitab yang berisi berbagai peringatan tentang hal-hal yang jahat dan mendorong kita untuk mencari hikmat. Di dalam Amsal 13:1-14, kita akan dapat menemukan beberapa "bendera merah". "Bendera merah" itu termasuk di antaranya:

o jangan mengabaikan didikan dan hardikan (ayat 1);

o jagalah mulutmu (ayat 3);

o berhati-hatilah dalam mengejar harta (ayat 7);

o jauhilah ketidakjujuran (ayat 11); dan

o jangan meremehkan firman Allah (ayat 13).

Firman Allah "adalah sumber kehidupan, sehingga [kita] terhindar dari jerat-jerat maut" (ayat 14) --AMC

3 Agustus 2006

Berapa Harga Sebuah Alkitab?

Nats : Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal (Yohanes 6:68)
Bacaan : Yohanes 6:60-69

Seorang misionaris yang bekerja pada Penginjilan Bawah Tanah menceritakan kisah seorang beriman di Rusia sebelum jatuhnya komunisme di sana. Ketika ia tahu seorang temannya telah memperoleh Alkitab, ia pun memohon untuk meminjam Alkitab itu. Akan tetapi, si pemilik Alkitab membaca buku berharga itu setiap petang sampai pukul 10 malam. Oleh karena itu setiap malam, selama 8 bulan, dari pukul 10 malam sampai pukul 2 pagi, orang beriman yang setia ini dengan rajin menyalin Alkitab temannya. Akhirnya, ketika beberapa teman kristiani mengunjunginya dengan membawa Alkitab, ia menukarkan karya kasih tulisan tangannya itu dengan beberapa buah Alkitab.

Bayangkanlah bila Anda tidak dapat memperoleh Alkitab. Berapa banyak uang yang rela Anda bayarkan untuk mendapatkannya? Mari kita renungkan pertanyaan ini dengan lebih mendalam!

Ketika ajaran Yesus mulai "mengganggu" orang-orang yang mengikuti-Nya, banyak orang memilih untuk meninggalkan-Nya (Yohanes 6:60-66). Maka Dia pun bertanya kepada murid-murid-Nya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (ayat 67). Petrus menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal" (ayat 68). Petrus tahu bahwa Yesus adalah Firman yang hidup, yaitu Allah yang menjelma sebagai manusia. Itu sebabnya, ia bersedia meninggalkan segalanya dalam hidup ini untuk mengikuti Dia yang menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup.

Apakah kita memiliki komitmen seperti Petrus? Apakah kita memiliki pengabdian seperti orang beriman dari Rusia itu? Berapakah yang rela kita bayarkan untuk Alkitab? Untuk Tuhan kita? -VCG

9 Oktober 2006

Sindrom Scrabble

Nats : Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:9)
Bacaan : Nehemia 8:2-13

Seorang peserta Pertandingan Final Kejuaraan Scrabble Dunia tahun 2005 di London mengatakan bahwa hal yang penting diperhatikan untuk memenangkan lomba ini bukanlah penguasaan kosakata yang baik, melainkan matematika dan daya ingat yang tajam. Seorang wartawan New York Times menggambarkan perlombaan itu sebagai "suatu masa ketika bahasa tidak memiliki arti" karena seorang juara dapat memperoleh angka yang tinggi dengan menggunakan kata-kata bahasa Inggris yang tidak jelas seperti zobo dan ogive tanpa mengetahui artinya.

Kita semua rentan terhadap "Sindrom Scrabble", yakni memakai kata-kata untuk memenangkan perdebatan religius tanpa mengerti dan menyatakan maknanya. Ayat-ayat Alkitab justru menjadi senjata untuk menyerang mereka yang tak sependapat, bukannya menjadi kebenaran pengubah hidup yang patut dijalankan.

Pada masa-masa yang genting dalam sejarah bangsa Israel, Ezra mengajar umatnya dengan dibantu oleh orang-orang yang membaca Kitab Suci: "Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti" (Nehemia 8:9). Ketika orang menangkap apa yang didengarnya, mereka menjadi sangat sedih atas dosa-dosa mereka, dan selanjutnya mengalami sukacita karena kemurahan hati Allah (ayat 10-12).

Kata-kata alkitabiah yang tidak diartikan akan merusak hubungan yang terjalin antara kita dengan Allah dan sesama. Ingatlah bahwa pengertian yang disertai ketaatan akan membawa hikmat, pertobatan, dan sukacita -DCM

16 Februari 2007

Temuan Terbaik

Nats : Aku telah menemukan kitab Taurat di rumah Tuhan! (2 Taw. 34:15)
Bacaan : 2 Tawarikh 34:14-21

Pada 1987, suami istri Zartman yang tinggal di Michigan Barat, membeli empat buku di sebuah bazar. Mereka sangat gembira ketika mendapati bahwa buku-buku itu berisi dua koleksi surat dan khotbah milik pengkhotbah dan penggubah himne John Newton (1725-1807), penulis himne berjudul Amazing Grace yang sangat digemari orang. Di situ juga terdapat dua seri khotbahnya yang diilhami lagu Messiah, hasil gubahan Handel.

Keluarga Newton melestarikan kumpulan tulisan ini dengan mewariskannya selama beberapa generasi. Kemudian pada 1840-an, ahli warisnya membawa buku-buku itu ke Amerika Serikat. Selanjutnya, buku-buku itu sekarang dipakai oleh sebuah organisasi yang berencana menerbitkan ulang semua karya Newton untuk memperingati dua abad wafatnya, pada 2007. Buku-buku itu selanjutnya disumbangkan ke sebuah museum di Inggris.

Temuan yang lebih mengagumkan tercatat dalam 2 Tawarikh 34:15. Selama Yosia memerintah sebagai raja Yudea, ia mengeluarkan perintah untuk memperbaiki rumah Tuhan. Di sana, Imam Besar Hilkia menemukan kitab Taurat yang diberikan Tuhan kepada Musa. Tatkala Yosia "mendengar perkataan Taurat itu" (ay. 19), ia merasa bersalah, lalu berdiri di hadapan umatnya dan berjanji melakukan semua yang tertulis dalam kitab itu (ay. 31).

Alkitab masih merupakan buku terbaik yang dapat kita temukan. Di dalamnya kita mempelajari apa yang Allah kehendaki agar kita dapat menyenangkan-Nya --AMC

Anugerah yang menakjubkan! Suara yang amat merdu
Menyelamatkan seorang bejat seperti diriku!
Dahulu aku tersesat, sekarang telah ditemukan;
Dahulu aku buta, sekarang telah dicelikkan. --Newton

21 Mei 2008

Dua Hati Bertemu

Nats : Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" (1Raja-raja 19:13)
Bacaan : 1Raja-raja 19:1-14

Setiap kali suami saya pulang, anak saya yang berusia 2 tahun langsung tahu lebih dulu hanya dengan mendengar suara sepeda motornya. Ia akan segera lari keluar untuk menyambut ayahnya dengan gembira. Bagaimanapun suasana hatinya saat itu, yang jelas ia selalu senang bertemu lagi dengan ayahnya. Perasaan ini terjadi karena dua hati -- ayah dan anak -- bertemu.

Saat itu, Elia sedang lelah dan putus asa. Bahkan ia minta mati saja, "Cukuplah itu ... ambillah nyawaku" (ayat 4). Aneh memang. Elia yang baru saja melakukan pekerjaan besar bersama Tuhan, mengalami kelelahan dan keputusasaan hanya karena ancaman Izebel, seorang manusia belaka.

Lalu Tuhan datang menemui Elia. Bukan lewat angin besar yang membelah gunung dan memecah bukit. Bukan lewat gempa atau api. Dia datang lewat angin sepoi-sepoi basa. Tuhan menemui Elia bukan lagi lewat peristiwa dahsyat, melainkan melalui peristiwa biasa. Di situlah Elia keluar dan menemui Tuhan. Dua hati bertemu, dan Tuhan menggugah hati Elia dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini?" (ayat 13). Tuhan menyadarkan Elia pada tugasnya dan menguatkannya supaya tidak lagi kalah oleh ketakutan dan kecemasan.

Jika saat ini kita sedang takut dan cemas, serta begitu putus asa, Tuhan menggugah hati kita dengan pertanyaan, "Apakah kerjamu di sini?" Tuhan ingin kita bangkit. Hanya satu yang Dia inginkan, yakni agar kita bertemu dengan-Nya. Sekarang juga, temuilah Tuhan dalam keheningan doa. Utarakan segala pergumulan kita kepada-Nya. Dia akan meneguhkan kita kembali pada panggilan pelayanan yang sudah dipercayakan pada kita -CHA

28 Mei 2008

Dahaga

Nats : "Tuan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air" (Yohanes 4:15)
Bacaan : Yohanes 4:13-19

Ketika Glynn Wolfe meninggal di usia ke-88, tak seorang pun mencarinya. Setelah ditunggu sekian minggu, akhirnya pemerintah mengubur jenazahnya di kuburan tanpa nama. Ironisnya, Glynn pernah tercatat di Guinness Book of Records sebagai pemegang rekor pria yang paling banyak menikah. Ia telah 29 kali menikah dan 29 kali bercerai juga, karena tidak puas dengan pernikahannya. Ia meninggalkan banyak istri yang masih hidup, banyak anak, cucu, bahkan buyut. Namun, tak seorang pun sudi menemaninya sampai ia meninggal.

Seperti Glynn, banyak orang haus akan cinta kasih lalu berusaha mencarinya di tempat yang salah. Mereka mengira bahwa dengan menemukan "orang yang tepat", hidup akan terpuaskan. Padahal, tidak ada orang yang tepat. Itu juga yang dialami oleh perempuan Samaria yang sudah punyai lima suami (ayat 18). Ia masih mencari pria lain, karena haus cinta. Tak seorang pun dapat mengisi kesepian hidupnya. Tak ada pria sempurna yang dapat menyenangkan dirinya dalam segala hal. Ia ibarat orang yang kehausan lalu berusaha meminum air laut. Dahaganya bukan hilang, ia malah makin haus! Yesus menyatakan bahwa yang dibutuhkan perempuan itu adalah "air hidup" (ayat 14,15). Hanya kehadiran Allah yang dapat mengusir kesepiannya. Hanya kasih Allah yang bisa mengisi ruang kosong dalam hatinya.

Jika kasih Allah telah memenuhi hati, kita akan mengalami kepuasan hidup. Akibatnya, kita tidak lagi sibuk mencari orang yang tepat. Sebaliknya, kita akan berusaha menjadi orang yang tepat bagi orang lain. Tak lagi menjadi seorang pengemis kasih, tetapi menjadi penyalur kasih -JTI

3 Agustus 2008

Ingin Jadi Apa?

Nats : Kata Yesus kepada mereka, "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya (Yohanes 2:8)
Bacaan : Yohanes 2:1-11

Suatu kali dalam sebuah persekutuan keluarga, saya mengajukan sebuah pertanyaan. Jika mereka diajak berandai-andai menjadi salah satu tokoh dalam kisah pernikahan di Kana, siapakah yang akan mereka pilih?

Suasana menjadi ramai. Ada yang ingin menjadi ibu Maria, sang perantara hingga mukjizat terjadi. Ada yang mau menjadi pelayan, menyaksikan bagaimana mukjizat terjadi. Ada yang ingin menjadi pemimpin pesta, yang cuma tahu beres. Ingin menjadi pengantinnya? Ada juga! Ada yang ingin jadi tempayan, wadah di mana mukjizat itu terjadi. Yang unik, ada yang ingin menjadi Yesus, sang pembuat mukjizat! Namanya berandai-andai, bisa saja ada yang berpikir begitu. Terakhir ada yang menjawab ingin menjadi tamu saja, menikmati mukjizat.

Setelah tak ada jawaban lain lagi, tiba-tiba seseorang menyeletuk, "Lalu, Anda sendiri mau jadi apa dong?" "Saya ingin menjadi air biasa yang digunakan untuk pembasuhan waktu itu," begitu jawab saya. Ya, itulah kerinduan saya. Menjadi air putih biasa, yang kemudian diubah oleh Yesus menjadi anggur. Bukan sembarang anggur, tetapi anggur yang baik (ayat 10), yang membawa sukacita bagi banyak orang.

Saya sadar, ini sangat sulit untuk dipraktikkan. Diubah oleh Tuhan Yesus bahkan bisa terasa berat dan menyakitkan. Namun, jika kita sungguh-sungguh rindu hidup kita yang biasa-biasa menjadi bermakna, bukankah kita mesti rela dikoreksi, diajar, bahkan jika perlu, dihajar? Dan satu hal yang pasti, untuk menjadi apa pun setiap kita mesti taat kepada-Nya terlebih dahulu supaya dapat menjadi berkat bagi orang lain -MNT

5 September 2008

Mengasihi Musuh

Nats : Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok (Amsal 24:17)
Bacaan : Matius 5:43-48

Dalam "hukum" dunia, kata "mengasihi" dan "musuh" adalah dua kata yang bertolak belakang, karenanya tidak dapat dipersatukan. Dalam bahasa Inggris, musuh adalah enemy, berasal dari bahasa Latin inimicus, artinya "bukan sahabat". Definisinya jelas: orang yang membenci, menginginkan hal yang tidak baik, menyebabkan jatuh, kecewa, sakit, dan sebagainya. Maka, nasihat untuk mengasihi musuh bisa dibilang aneh. Sebab, normalnya musuh itu mesti dilawan, dibenci, disingkirkan, kalau perlu dibasmi.

Akan tetapi, itulah yang dengan tegas dan jelas diajarkan Tuhan Yesus: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Ajaran mengasihi musuh tidak saja berdimensi teologis-berkenaan dengan aspek imani-tetapi juga berdimensi praktis dan logis. Pertama, membenci musuh akan merugikan diri sendiri; tidak ada orang yang hidupnya bahagia kalau terus dikuasai kebencian terhadap orang lain. Kedua, melawan kebencian dengan kebencian sama dengan melipatgandakan kebencian. Seperti gelap yang tidak bisa dilawan dengan gelap, tetapi harus dengan terang. Terang, walau hanya secercah, akan sanggup menembus kegelapan.

Dengan memahami makna ajaran "mengasihi musuh", kita bisa melihat luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram. Kita memandangnya sebagai kesempatan untuk mengasihi orang lain; untuk berbuat kebaikan. Seperti kata Alfred Plummer, "Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat ilahi" -AYA

21 September 2008

Hanya Rp172.800,00

Nats : Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel (Matius 27:9)
Bacaan : Matius 26:6-16; Yohanes 10:17,18

Selama ini saya menduga Yudas menjual Gurunya seharga tiga puluh keping uang perak karena sifatnya yang tamak. Cerita yang tertulis di dalam Alkitab mengenai Yudas meyakinkan saya akan hal ini (Matius 26:8,9; Yohanes 12:6).

Saya mencoba menghitung nilai uang perak itu dalam rupiah. Menurut Dake's Bible, tiga puluh keping uang perak sama nilainya dengan 19,20 dolar Amerika. Katakanlah satu dolar Amerika setara dengan Rp9.000,00. Berarti "harga" Yesus kurang lebih adalah Rp172.800,00. Murah sekali! Jadi, pasti uang bukan menjadi faktor utama Yudas menjual Yesus. Apalagi kemudian Yudas mengembalikan uang itu kepada para imam.

Rupanya Yudas memiliki harapan seperti orang Yahudi pada umumnya, yaitu menjadikan Yesus sebagai pahlawan secara politik dengan cara melawan kekaisaran Romawi. Namun, ketika orang banyak berniat mengangkat-Nya menjadi raja, Yesus malah mengasingkan diri. Bukan hanya itu, Yesus juga malah mengajar mereka untuk memberikan kepada kaisar apa yang menjadi haknya. Jadi, cara yang paling pamungkas untuk memaksa Yesus melawan adalah dengan menyerahkan Dia kepada para imam. Namun, Yesus memilih jalan salib. Yudas pun frustrasi dan gantung diri (Matius 27:5).

Bila direnungkan, kerap kali kita juga "mengkhianati dan menjual" Yesus demi mencapai tujuan kita sendiri, yaitu ketika kita memaksakan cara dan kehendak kita sendiri. Namun, Yudas telah menjadi contoh agar kita tak mengulang kesalahannya. Tuhan tahu yang lebih baik. Biarlah dalam seluruh aspek kehidupan kita belajar tunduk dan mengikuti jalan-Nya -ACH



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA