Teks Tafsiran/Catatan Daftar Ayat
 
Hasil pencarian 1 - 19 dari 19 ayat untuk pinggir (0.001 detik)
Urutkan berdasar: Relevansi | Kitab
  Boks Temuan
(0.99839253932584) (Yeh 43:13) (endetn: tingginja)

diperbaikimenurut terdjemahanJunani. Tertulis:"pinggir".

(0.6988747752809) (Pkh 9:4) (jerusalem: termasuk orang hidup) Ini menurut catatan pada pinggir naskah Ibrani (qere). Yang tertulis ialah: dipilih bagi orang hidup.
(0.6988747752809) (Yer 50:8) (jerusalem: Keluarlah) Begitulah menurut catatan (kere) pada pinggir naskah Ibrani dan terjemahan-terjemahan kuno. Yang tertulis ialah: Mereka akan keluar.
(0.6988747752809) (Za 4:2) (jerusalem: Jawabku) Dalam naskah Ibrani tertulis: jawabnya. Tetapi di pinggir naskah Ibrani dan dalam terjemahan Yunani terbaca: jawabku.
(0.59903550561798) (2Sam 16:12) (jerusalem: kesengsaraanku) Begitulah menurut terjemahan-terjemahan kuno. Dalam naskah Ibrani tertulis: kesalahanku, tetapi di pinggir halaman dicatat bahwa harus dibaca: mataku.
(0.49919626966292) (Neh 3:13) (jerusalem: pintu gerbang Sampah) Ini menurut terjemahan Yunani dan catatan (qere) pada pinggir halaman naskah Ibrani. Dalam naskah Ibrani sendiri tertulis: pintu gerbang Keju. Di kemudian hari pintu gerbang itu disebut: pintu gerbang kaum Eseni.
(0.49919626966292) (Mzm 3:3) (jerusalem: perisai) Ini sebuah kiasan yang banyak di pakai dalam kitab Mazmur. Artinya: perlindungan terhadap musuh dan lain-lain bahaya
(0.39935701123596) (2Sam 23:13) (jerusalem: tiga orang) Begitulah menurut catatan pada pinggir naskah Ibrani. 1Tawarikh dan terjemahan-terjemahan kuno. Dalam naskah Ibrani ditulis salah: tiga puluh orang
(0.39935701123596) (Mzm 9:16) (jerusalem: telah memperkenalkan diriNya) yaitu melalui penghakiman yang menghukum para penindas, bdk Maz 76:2
(0.34943738202247) (Za 1:8) (ende)

Orang berkuda itu adalah malaekat2 Jahwe. Apa artinja, bahwa ia dilihat di-tengah2 pohon2 Murta jang berakar dalam tubir, kurang terang. Mungkin dalam tubir berarti gunung2 berakar, menurut anggapan orang2 Jahudi dahulu dipinggir keping bumi.

Djadi malaekat itu dilihat di-tengah2 pohon2 besar dan adjaib pada pinggir bumi, tempat masuk surga!

Orang2 berkuda dibelakangnja ialah malaekat2 lain, jang bertugas untuk menjelidiki bumi.

(0.34943738202247) (Ezr 4:2) (jerusalem: Zerubabel serta para kepala kaum) Dalam terjemahan Yunani terbaca: Zerubabel, Yesua serta para kepala kaum
(0.34943738202247) (1Yoh 5:7) (jerusalem: di dalam sorga...di bumi.) Bagian ayat ini tidak terdapat dalam naskah-naskah Yunani yang paling tua dan tidak pula dalam terjemahan-terjemahan kuno bahkan tidak dalam naskah-naskah paling baik dari Vulgata. Bagian ini kiranya aslinya sebuah catatan di pinggir halaman salah satu naskah terjemahan Latin yang kemudian disisipkan ke dalam naskah-naskah oleh penyalin dan akhirnya bahkan disisipkan ke dalam beberapa naskah Yunani. Karenanya bagian ini pasti tidak asli.
(0.29951775280899) (2Raj 23:33) (jerusalem: di Ribla) Firaun Nekho dalam perjalanannya pulang dari sebelah utara, 2Ra 23:29. Karena kerajaan Asyur sudah hancur, maka Nekho dapat menguasai wilayah Siria dan Palestina
(0.28238805617978) (Yoh 4:1) (sh: Percakapan di pinggir sumur (Sabtu, 02 Januari 1999))
Percakapan di pinggir sumur

Percakapan di pinggir sumur. Ucapan-ucapan pengajaran Yesus, tidak cukup bila hanya didengarkan. Ucapan-ucapan itu begitu menggelitik bahkan memancing hati dan pikiran untuk terlibat lebih dalam lagi. Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria penuh dengan pengajaran-pengajaran yang luar biasa dalam maknanya. Pembahasan bergulir mulus dari soal air, timba dan sumur ke sosok Kristus, Sang Air Hidup. Yesus menampilkan suatu metode penginjilan pribadi yang mengesankan.

Dari air sumur ke Air hidup. Dapatkah air sumur, walau setimba banyaknya, melegakan dahaga jiwa dari rasa takut, kuatir, dan tidak aman? Perempuan Samaria ini memuaskan dahaga jiwanya dengan pengajaran-pengajaran yang benar dan itu didapatkannya dari Yesus, sang "Air hidup" (ayat 13, 14).

Respons yang tepat. Setiap orang yang belum mengenal Allah secara nyata, akan haus dan berusaha memuaskan kehausan itu dengan pelbagai cara. Seperti perempuan Samaria "haus" ini meresponi tawaran Yesus dengan kerinduan hati yang tepat (ayat 15), begitu jugalah seharusnya orang percaya terhadap pemberitaan firman Tuhan. Bukalah hati untuk menerima siraman "Air Hidup" yang melegakan.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih, Engkaulah Air Hidup kami sejati.

(0.24959813483146) (Yer 7:31) (full: LEMBAH BEN-HINOM. )

Nas : Yer 7:31

Lembah ini di batas pinggir sebelah selatan Yerusalem ini dipakai sebagai tempat pembuangan sampah dan sebagai tempat menyembah berhala serta mempersembahkan anak-anak dalam api (suatu kebiasaan yang dilarang keras dalam hukum Musa; lih. Im 18:21; 20:2-5). Beberapa dosa paling keji dalam sejarah Yahudi dilaksanakan di lembah ini. Dari nama "Lembah Hinom" (Ibr. _ge'hinnom_) datang kata Yunani _geenna_ yang diterjemahkan "neraka" dalam PB, yaitu tempat hukuman Allah yang kekal (Mat 18:9; Mr 9:47-48;

lihat cat. --> Mat 10:28).

[atau ref. Mat 10:28]

(0.19967850561798) (Yer 48:1) (jerusalem) Nubuat panjang ini memanfaatkan berbagai nas Alkitab yang lain, Yes 15-16; Bil 21:27-30;24:17. Karena itu sukar ditentukan mana nubuat aseli yang kemudian diolah dan disadur. Nubuat asli mungkin disampaikan sesudah th 605, bdk Yer 25:21, atau sesudah th 593, bdk Yer 27:3, atau sesudah th 587, bdk Yeh 25:8-11.
(0.17471869662921) (Mat 13:1) (sh: Tiap orang dapat kesempatan (Jumat, 5 Februari 2010))
Tiap orang dapat kesempatan

Judul: Tiap orang dapat kesempatan
Perumpamaan ini adalah salah satu perumpamaan yang paling dikenal dalam Alkitab karena sering diajarkan/dikhotbahkan. Tampaknya perumpamaan ini tidak membu-tuhkan terlalu banyak penafsiran karena Yesus sendiri sudah menjelaskan maknanya kepada para murid (ayat 18-23).

Tokoh dalam perumpamaan ini hanya satu, yaitu se-orang penabur yang menaburkan benih. Benihnya ada yang jatuh di pinggir jalan, tetapi kemudian habis dimakan burung. Ada juga yang jatuh di tanah berbatu-batu, bisa tumbuh tetapi tidak bisa berakar karena tanahnya tipis. Lalu ada yang jatuh di tengah semak duri, bisa tumbuh tetapi kemudian mati karena terhimpit semak yang tumbuh lebih subur. Namun ada yang tumbuh di tanah yang subur hingga berbuah berpuluh kali lipat.

Meski jatuh di tanah berbeda, tiap benih yang ditebarkan punya potensi untuk bertumbuh. Meski ada yang tidak punya kesempatan untuk tumbuh, tetapi ada yang bisa menghasilkan panen. Walau ada juga yang hanya sekadar tumbuh. Maka Yesus memperingatkan pendengar-Nya bahwa perumpamaan ini memerlukan penafsiran yang saksama: "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (ayat 9). Tentu saja setiap orang punya telinga. Namun Yesus mengisyaratkan bahwa yang diperlukan untuk memahami perumpamaan ini bukan sekadar mendengar. Butuh sikap memperhatikan.

Benih itu adalah firman tentang Kerajaan Sorga (ayat 19), yang diberitakan kepada semua orang. Tanah adalah hati manusia, yang memutuskan bagaimana merespons benih itu. Semua orang punya kesempatan untuk mendengar firman. Perlu waktu untuk bertumbuh dan menghasilkan buah, selain harus melalui masa yang sulit. Namun kita melihat bahwa si penabur tidak pilih-pilih tanah. Tanah seperti apa pun mendapat kesempatan untuk menerima benih.

Begitu pun seharusnya sikap kita dalam mengabarkan firman kepada orang lain. Jangan karena kita, ada orang yang tidak beroleh kesempatan untuk mendengar firman.

(0.17471869662921) (Mat 20:29) (sh: Siapakah orang ini? (Kamis, 28 Februari 2013))
Siapakah orang ini?

Judul: Siapakah orang ini?
Bisa dikatakan, zaman ini adalah zaman pencitraan sebab yang terpenting dari seorang tokoh bukan lagi apa yang sebenarnya dia kerjakan, tetapi bagaimana persepsi orang lain tentang apa yang dia kerjakan. Seseorang bisa saja sejatinya raja tega kelas paus, tetapi jika ia berhasil membangun persepsi bahwa dirinya dermawan, biarpun semua kebaikan itu formalitas belaka, tetapi efeknya bisa menutupi segala kejahatannya. Maka jika ada tokoh yang tak butuh pencitraan karena semua tindakannya menyatakan integritasnya, maka tokoh itu bagaikan air menyegarkan yang memuaskan dahaga di zaman pencitraan ini.

Sang Mesias tak butuh pencitraan. Yesus yang sejak awal dinyatakan datang untuk "menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (1:21, 23) ditunjukkan menepati semua nubuat tentang diri-Nya. Seruan kedua orang buta, "Kasihanilah kami, Tuhan" dijawab dengan belas kasihan dan mukjizat penyembuhan yang merestorasi penglihatan mereka, merupakan salah satu buktinya. Namun Yesus tak hanya berhenti di situ. Di titik yang menentukan di dalam narasi Injil Matius, di mana perjalanan Yesus dari Galilea usai dan kini Ia secara sadar memasuki Yerusalem untuk menjalani kehendak Sang Bapa, Ia pun secara sadar menggenapi nubuat PL di Za. 9:9. Tak seperti para raja dan penguasa di Mat. 20:25, Ia justru menonjolkan kerendahan hati-Nya: datang bukan sebagai raja gagah perkasa yang menunggangi kuda jantan, tetapi bagai hamba yang menunggangi keledai. Ketaatan dan kerendahan sebagai hamba kemudian didemonstrasikan-Nya dengan mati di kayu salib.

Sepatutnya respons kita sejalan dengan respons orang Yerusalem di ayat 8-9. Kita mempersiapkan kedatangan-Nya dan mengarahkan orang untuk bertanya-tanya siapa Dia, karena melihat kesaksian yang meneladani belas kasihan dan kerendahan hati-Nya. Orang Kristen tak butuh kekuasaan politis, apalagi pencitraan ala politisi, karena kita cukup mengandalkan Kristus. Tugas kita adalah memperkenalkan Yesus kepada semua orang, jangan sampai mereka tidak pernah mendengar kabar baik tentang Sang Juruselamat.

Diskusi renungan ini di Facebook:
http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/02/28/



TIP #35: Beritahu teman untuk menjadi rekan pelayanan dengan gunakan Alkitab SABDA™ di situs Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.33 detik
dipersembahkan oleh YLSA