Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 4 No. 1 Tahun 1989 >  KEUNIKAN PERANAN ORANG TUA DIDALAM PENDIDIKAN KRISTEN > 
II. HIDUP DALAM SUASANA KEHADIRAN KRISTUS 
sembunyikan teks

Kepribadian orang tua ditularkan pada anak melalui penyerapan lebih daripada melalui kata-kata. Seorang anak menyerap nilai, sikap dan pandangan orang tuanya dan menjadikannya miliknya. Sering penularan ini terjadi tanpa disadari orang tuanya karena banyak aspek kepribadian orang tua dipancarkan tanpa mereka sadari. Kalau mereka tidak jujur, sifat pembohong ini akan diserap anak mereka; mereka tidak perlu berkata, "Jadilah seorang pembohong."

Karena hal itulah, sebagai orang tua kita sendiri harus mempunyai kepribadian yang sehat dan dewasa. Perubahan kepribadian kita untuk menjadi dewasa seperti Kristus juga kita peroleh dengan "menyerap" sifat-sifat Kristus waktu kita bersekutu dengan-Nya. Persekutuan ini terjadi baik di gereja bila kita berbakti, waktu kita berdoa, membaca Alkitab dan bersaat teduh, tetapi juga - dan yang terutama - dalam hidup sehari-hari kita.

Entah kita merasakan hadirat-Nya atau tidak, kehadiran Kristus dalam hidup kita adalah suatu fakta (Matius 1:23; 28:20). Suatu pertanyaan penting yang akan mengubah kepribadian dan sikap kita sehari-hari ialah: Apakah kita memperlakukan Kristus serta bertindak, bersikap, berbicara dan berpikir dengan kesadaran (awareness) bahwa Ia, Yang Mahakudus, ada di samping kita setiap saat; ataukah kita menganggap-Nya sebagai angin saja, dan mengacuhkanNya. Hidup dengan kesadaran kuat bahwa Kristus berdiri di camping kita tiap saat ini saga sebut HIDUP DALAM SUASANA KEHADIRAN KRISTUS.

Jikalau kita menerapkan secara konsisten dan terus menerus Hidup Dalam Suasana Kehadiran Kristus, keadaan ini akan mendarah daging dan menjadi bagian dari kepribadian kita. Kita sendiri akan diubahkan menjadi seperti Kristus (Roma 8:29; Filipi 2:5; Efesus 4:13). Sama seperti rasul Paulus kemudian kita berkata pada anak kita "Jadilah pengikutku sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (I Kor. 11: 1).

Di samping melalui pengajaran "formal" (di Sekolah Minggu, pada waktu kita bersaat teduh dengannya dan waktu menceritakan cerita-cerita Alkitab padanya), anak kita makin hari makin dibentuk kepribadiannya menjadi seperti Kristus melalui penyerapan juga. Anak kita menyerapnya dari kita sementara kita menyerapnya dari Kristus. Anak kita perlu merasakan kehadiran Kristus di mana-mana dalam hidupnya sehari-hari melalui orang tuanya.

Dalam memperkenalkan siapa Kristus itu kepada anak kita, dengan sangat efektif kita dapat mengajarkan sifat-sifat Allah, nilai-nilai Kristus, sikap, perasaan dan pandangan-Nya, serta respons kita seharusnya pada-Nya, bila kita Hidup Dalam Suasana Kehadiran Kristus. Contoh

(a). Kemahahadiran Allah kita ajarkan pada anak kita bila kita sering berbicara dengan Allah di segala tempat (bukan hanya dalam doa yang disertai tekuk lutut dan kata-kata indah, tetapi dalam segala situasi dan posisi dengan kata-kata sederhana. Kita berbicara dengan Allah seperti kita berbicara dengan isteri yang berdiri di samping kita.)

(b). Kemahakuasaan Allah serta Allah sebagai sumber pertolongan kita ajarkan bila kita membiasakan diri sering memohon pertolongan Allah seperti kita minta tolong suami kita melakukan sesuatu.

(c). Hati yang bersyukur akan menjadi bagian dalam hidup anak kita bila ia tahu sehari-harinya kita sering berterima kasih pada Kristus. Sekali lagi yang saya maksudkan bukan saja waktu kita berdoa dengan bertekuk lutut dan melipat tangan, tetapi dalam suasana biasa kita berkata: "Terima kasih, Yesus." Bukankah kita juga mengajar anak-anak kita untuk berterima kasih bila diberi sesuatu?

(d). Kepasrahan pada Allah kita ajarkan pada anak kita dengan sikap iman dan keteguhan (bukan kecemasan dan ketakutan) pada masa krisis dan kritis.

(e). Kepekaan terhadap kebenaran kita tularkan pada anak kita jika kita sendiri sangat sensitif terhadap dusta dan bohong, menghindari segala macam dusta (termasuk dusta-dusta kecil atau dosa-dosa putih). Dalam hal ini tentunya perlu diterapkan terus "kebenaran di dalam kasih" (Ef. 4:15), agar kita tidak menularkan ke"parisi"an kepada anak kita.

Dalam buku terkenal "In His Steps," penduduk suatu tempat, bertekad untuk selalu bertindak seperti Kristus. Mereka selalu bertanya "Apa yang akan dilakukan Kristus bila Ia ada di tempatku?" apabila harus bertindak atau memutuskan sesuatu. Hidup dalam suasana kehadiran Kristus ini lebih dari hanya menanyakan pertanyaan itu. Kita bukan saja bertindak seperti Kristus tetapi juga merasakan pengharapan, iman, damai Kristus (yang menyebabkanNya dapat tidur lelap di buritan perahu di tengah badai) karena sadar (aware) akan kehadiran Kristus di sisi kita. Lenyaplah ketakutan, kecemasan, putus asa yang banyak merongrong kepribadian kita. Jadi kita tidak hanya mengarah pada pembentukan tingkah laku tetapi seluruh kepribadian (perbuatan, perasaan, sikap, nilai-nilai, pikiran dan iman) diri dan anak kita; dan bila diperlukan perubahan, bukan saja perubahan tingkah laku tetapi juga perubahan kepribadian.

Di sini letak salah satu perbedaan antara theologi dan psikologi. Psikologi tidak terlalu optimis terhadap kemungkinan perubahan kepribadian seorang (bahkan ada psikolog-psikolog yang berpendapat bahwa setelah kepribadian terbentuk, tidak akan dapat diubah lagi). Tesis Alkitab justru menyatakan bahwa di dalam Kristus ada perubahan. Kristuslah yang merubah hidup kita. Di tiap buku Alkitab diminta dan diperintahkan perubahan kelakuan, iman, pandangan, sikap. Perubahan total terjadi pada waktu lahir baru dan setelah itu tiap hari kita harus berubah, bertambah lama bertambah dewasa seperti Kristus. Tentunya perubahan ini adalah karya dan anugerah Allah dalam hidup manusia, bukan usaha manusia itu sendiri.



TIP #19: Centang "Pencarian Tepat" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab tanpa keluarga katanya. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA