Resource > Jurnal Pelita Zaman > 
Volume 13 No. 1 Tahun 1998 
 EDITORIAL
sembunyikan teks

Kali ini Jurnal Pelita Zaman tampil dalam suasana istimewa. Pertama-tama, dia tampil dalam suasana keprihatinan sosial. Krisis ekonomi ternyata berhasil merongrong sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa kita. Keutuhan bangsa terancam lewat pengrusakan-pengrusakan dan amuk massa di mana kaum minoritas menjadi sasaran frustrasi sosial. Kemudian, terjadi krisis kepercayaan yang serius dari rakyat atas pemerintah sehingga pemerintah tertatih-tatih menjalankan reformasi tanpa dukungan penuh dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam situasi inilah beberapa tema artikel dalam edisi kali ini mencoba mengetuk nurani yang beku karena apatisme dan ketakutan.

Kedua, Jurnal Pelita Zaman kali ini tampil dan tetap survive dalam suasana keprihatinan ekonomi. Bicara soal keprihatinan, sebenarnya itu bukan barang baru untuk kami. Sejak tahun 1984 Jurnal Pelita Zaman terbit atas swadaya dari pengasuh, donatur, dan pembaca. Para pengasuh terdiri dari awam dan beberapa mahasiswa seminari yang mempunyai cita-cita luhur untuk turut berbagian dalam upaya mencerdaskan kehidupan umat. Berbekalkan cita-cita ini mereka tidak segan-segan menyisihkan sebagian dari milik mereka untuk membiayai setiap kali penerbitan. Lambat laun Allah menggerakkan orang lain sehingga mengalir pula simpati dan dukungan dari para pembaca. Demikianlah, selama 14 tahun Jurnal Pelita Zaman menjalani pemeliharaan Allah melalui manna, tidak lebih namun juga tidak kurang.

Perjalanan waktu belasan tahun ternyata semakin meyakinkan kami bahwa Jurnal Pelita Zaman bukan hanya milik kami, tapi sudah menjadi milik kita. Bahkan tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kami hanya menjalankan proyek Dia. Dialah yang memiliki proyek. Dan kami hanya sebagai pelaksana. Kami di sini adalah para hamba Tuhan, awam profesional, dan mahasiswa seminari STT Bandung. Dengan kesadaran inilah, kami mengajak sidang pembaca yang budiman untuk mengambil bagian dalam penerbitan-penerbitan berikut. Misalnya dengan berpartisipasi mengganti ongkos cetak yang dengan terpaksa untuk sementara dinaikkan sebanyak 25% sehingga menjadi Rp 5.000/eks. Atau bila Anda terbeban untuk kelangsungan dan peningkatan kualitas jurnal ini, maka Anda dapat mengambil bagian sebagai donatur tetap. Pengeluaran setiap penerbitan per edisi cukup besar, namun tidak ada yang dialokasikan untuk pengasuh. Sukacita kami yang terbesar dan tidak tergantikan adalah ketika melihat jurnal ini terbit pada waktunya dan menjadi berkat bagi pembaca. Sejalan dengan hal tersebut, maka tepatlah ungkapan unik ini: "Responsibility is Response Ability". Karena sejauh ini kami tetap meyakini bahwa Anda mau dan mampu menanggapi himbauan kami ini dengan penuh tanggungjawab.

Bersama edisi kali ini kami menyertakan angket bagi pembaca untuk mengetahui sejauh mana keefektifitasan jurnal kami. Tentunya kami sangat mengharapkan Anda dapat mengisi dan mengembalikannya segera kepada kami. Juga kami sertakan Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban dan sekaligus merupakan ucapan terima kasih atas partisipasi Anda dalam mendukung dana bagi kelangsungan Jurnal Pelita Zaman.

Akhirnya, semoga sajian dalam edisi ini memberi harapan dalam suasana keprihatinan, menemani kita agar tidak lekas letih lesu dalam perjalanan keprihatinan yang rasanya masih lama. Seperti doa Rasul Paulus kepada jemaat Filipi yang juga menjadi doa kami, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Flp 4:19).

 HAK ASASI MANUSIA DAN KASIH SAYANG YESUS KRISTUS
sembunyikan teks
Penulis: Franz Magnis-Suseno, SJ
 ETIKA LINGKUNGAN HIDUP DARI PERSPEKTIF TEOLOGI KRISTEN
sembunyikan teks
Penulis: Robert P. Borrong
 HUBUNGAN AGAMA - NEGARA DALAM PERSPEKTIF NEGARA PANCASILA
sembunyikan teks
Penulis: Eka Darmaputera
 KEPRIHATINAN ALLAH TERHADAP WONG CILIK (PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA)
sembunyikan teks
Penulis: Amos Sukamto

Di dalam sejarah perjuangan dan pergumulan bangsa Indonesia, wong cilik selalu mendapat tempat perhatian yang menarik. Munculnya banyak organisasi LSM akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan keberadaan dan kekurang beruntungan kelompok masyarakat yang sering disebut wong cilik. Organisasi-organisasi politik pun tak mau kalah untuk menyuarakan dirinya berpihak pada wong cilik, dengan tujuan supaya organisasi parpol tersebut memperoleh suara yang banyak. Kenapa? Karena pada kenyataannya wong cilik merupakan kelompok masyarakat terbesar yang berdiam di bumi Indonesia.

Wong cilik selalu menjadi isu yang menarik, dan tulisan ini ditulis untuk memahami seberapa jauh Allah, Sang Pencipta dan Penebus atas para wong cilik, itu sendiri berprihatin terhadap keadaan sosial ciptaanNya. Keprihatinan-keprihatinan Allah itu yang akan menjadi dasar teologis buat kita, terutama orang-orang percaya untuk ikut terlibat, berpartisipasi dalam pelayanan kita kepada kelompok masyarakat yang kurang beruntung yaitu wong cilik.

Dalam penjabarannya, tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian: pada bagian pertama akan dibahas keadaan sosial wong cilik dalam konteks pemahaman Indonesia; bagian kedua, keadaan sosial wong cilik dari perspektif Perjanjian Lama; dan pada bagian ketiga akan dibahas wujud keprihatinan Allah terhadap wong cilik.

 KAPITALISME: DARI MASA KE MASA
sembunyikan teks
Penulis: Arya W. Darmaputera

Sama seperti `isme-isme' lainnya, kapitalisme adalah falsafah, cara berpikir, pandangan hidup, dan paradigma. Pandangan, falsafah, dan cara berpikir dibentuk oleh lingkungan dunia dimana ia tumbuh. Dan karena lingkungan dunia di mana ia bertumbuh itu adalah selalu dinamis dan berubah, maka falsafah dan paradigma seperti kapitalisme mengalami penyesuaian dari masa ke masa dan mengalami akulturasi di dalam konteks masyarakat dimana ia diam. Misalnya saja kapitalisme Amerika Serikat berbeda dengan kapitalisme Eropa dan Australia (yang lebih egalitarian dan sosialistik). Kalau sekarang saya harus menjawab pertanyaan apakah kapitalisme itu manusiawi, maka perlu dijelaskan kapitalisme yang mana, apa, kapan, dan siapa.

Lewat tulisan ini, saya tidak akan memberikan judgment atas pertanyaan tersebut, melainkan mencoba memperbandingkan lewat pendekatan sejarah bagaimana kapitalisme muncul dan berkembang dengan segala variasinya sebagai falsafah hidup, bekerja, politik, ekonomi dan sosiologi. Para pembaca dapat menyelami dan merenungkan sendiri apakah ada variasi kapitalisme yang manusiawi atau tidak.

 FEMINISME: SUMBANGSIH DAN KRITIK
sembunyikan teks
Penulis: Insriatmi Paimoen
 MEMPERKENALKAN INJIL TOMAS
sembunyikan teks
Penulis: Rudiyanto

Pernahkah Anda mendengar Yesus mengatakan yang berikut ini:

"Bila seorang buta memimpin orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam lubang."

"Serigala-serigala memiliki liang dan burung-burung memiliki sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya dan beristirahat."

Barangkali Anda merasa tidak asing lagi dengan kedua ucapan ini. Anda segera ingat Kitab-kitab Injil. Anda akan membuka Luk 6:39/Mat 15:14 untuk yang pertama dan Luk 9:58/Mat 8:20 untuk yang kedua. Nyaris sama sekali sama. Tapi lewat pembacaan sepintas pun Anda segera mengetahui adanya perbedaan kecil: dalam ucapan yang kedua, baik dalam Luk maupun Mat tidak memuat kata-kata "dan beristirahat". Apa artinya? Dari mana datangnya kedua ucapan ini?

Perhatikan juga ucapan Yesus selanjutnya:

"Kerajaan itu seperti seorang gembala yang mempunyai seratus ekor domba. Satu dari mereka, yakni yang terbesar, tersesat. Ia meninggalkan yang sembilan puluh sembilan dan mencari yang satu itu sampai ia menemukannya. Ketika ia telah selesai menjalani kesulitan, ia berkata kepada domba itu, 'Saya mempedulikanmu lebih daripada yang sembilan puluh sembilan.'"

Anda juga merasa tidak asing lagi, bukan? Anda segera teringat perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Kitab-kitab Injil. Anda segera menemukannya dalam Luk 15:3-7/Mat 18:12-14. Tapi segera pula Anda menemukan perbedaan: baik dalam Luk maupun Mat tidak ada kata-kata "yakni yang paling besar"! Mengapa begini?

Simak juga ucapan Yesus ini:

"...Sebab perempuan yang menjadikan dirinya laki-laki akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."1290

Dan:

"Kerajaan Bapa itu seperti seorang perempuan yang dulu sedang membawa satu buli-buli yang penuh berisi makanan. Sementara ia sedang berjalan, masih agak jauh dari rumah, pegangan buli-buli itu patah dan makanan itu tumpah berceceran di belakangnya di jalan. Ia tidak menyadarinya; ia tidak memperhatikan hal itu. Ketika sudah tiba di rumah, ia membungkukkan dan menemukan bejana itu kosong."1291

Mungkin kali ini Anda merasa asing. Kedua ucapan ini tidak ada di dalam Kitab-kitab Injil! Segera timbul pertanyaan: betulkah ini ucapan-ucapan Yesus? Kapan Ia mengatakannya, apa artinya, dan di mana ucapan-ucapan ini dilestarikan?

Ucapan-ucapan ini ada di dalam karya tulis kuno yang dikenal sebagai Injil Tomas! Injil ini, oleh para sarjana, dipandang penting untuk membawa kita lebih dekat dengan Yesus Sejarah. Dalam pada itu sejumlah sarjana yang tergabung dalam kelompok Jesus Seminar menempatkannya bersama-sama dengan keempat Kitab Injil kita sebagai dokumen yang diselidiki untuk menemukan ucapan-ucapan asli Yesus Sejarah!1292 Apakah Injil Tomas itu? Mengapa sementara sarjana menganggapnya penting untuk riset Yesus Sejarah? Dan apa kaitannya dengan Kitab-kitab Injil kita?

 TINJAUAN BUKU
sembunyikan teks

Hans Ming, Theology for the Third Millenium: An Ecumenical View. Anchor Books. Terj. Peter Heinegg. Anchor Books. New York: Doubleday, 1988.

Generasi sekarang berada di ambang peralihan dari milenium ke-2 dan ke-3. Menyongsong milenium baru ini, orang menjadi antusias. Banyak pembicaraan berkisar seputar ini. Jelas, ini bukan sekadar pergantian angka-angka tahun. Bersama pergantian angka-angka itu, terjadi pula pergeseran-pergeseran dalam cara memandang dunia. Filsafat post modern contohnya. Sekalipun manusia sedang memasuki sebuah zaman yang baru, pertanyaan klasik dari teologi Kristen sepanjang abad adalah tetap sama. Bagaimana teologi tetap relevan dalam zaman di mana agama sering dipersoalkan sebagai tidak relevan?

Buku Theology for the Third Millenium merupakan sebuah usaha untuk menjawab pertanyaan tentang relevansi berteologi pada milenium ke-3. Pengarangnya, Hans Ming, mengusulkan sebuah teologi yang bersifat ekumenis (ecumenical theology). Sebagaimana gereja harus selalu memperbaharui diri (ecclesia semper reformanda), teologi juga harus selalu memperbaharui diri (theologia semper reformanda). Firman Allah adalah kekal dan tidak berubah, namun penyampaiannya kepada manusia kalau mau relevan harus selalu mengikuti perubahan zaman. Dalam kata pengantarnya, Ming menyebut bukunya ini sebagai pertanggungjawaban dari kariernya sebagai teolog selama tiga puluh tahun. Ia tidak menyesal bahwa sejauh itu ia memiliki teologi yang ekumenis. Teologi ekumenis mengandaikan pemahaman yang mendalam antara agama yang satu dengan agama yang lain, di mana agama-agama bisa hidup berdampingan. Pemahaman yang mendalam ini harus ada baik dalam aliran-aliran Kristen (ke dalam) maupun antara agama Kristen dan agama-agama lain (eksternal). Kalau damai ini terjadi, barulah menurut Ming, damai di bumi bisa diharapkan.

Teologi ekumenis merupakan teologi pembaharuan, teologi yang membaharui gereja dari dalam tanpa menyebabkan perpecahan (41). Ternyata pembaharuan seperti ini tidak mudah. Sejarah membuktikan bahwa sejak dulu pembaharuan gereja selalu menimbulkan konflik antara yang ingin mempertahankan struktur dan yang ingin merombak struktur (15-46). Konflik ini pada dasarnya adalah pergumulan atas keutamaan Alkitab yang dipertentangkan dengan tradisi gereja (47). Apakah tradisi-tradisi gereja yang tidak bersumber dari Alkitab memiliki otoritas yang mengikat melampaui otoritas Alkitab? Apa sebenarnya basis dari iman? Alkitab, Tradisi, atau gereja? Untuk itu, Ming mengambil contoh seputar Reformasi. Pada waktu itu, gereja Roma Katolik berlindung di balik struktur gereja dan yang berotoritas merasa oke-oke saja. Pembaharuan boleh saja namun tidak mendesak. Tetapi Luther sebaliknya. Menurutnya, gereja Roma Katolik tidak ada dalam Perjanjian Baru dan bukan gereja dalam arti yang sesungguhnya. Maka dari itu, pembaharuan adalah mendesak dan harus mendasar. Lain lagi dengan Erasmus. Ia muncul mewakili teolog Katolik pembaharu yang berusaha menjembatani kedua sikap ini. Ia yakin bahwa pembaharuan mendesak namun itu harus diperjuangkan dari dalam gereja. Dengan kata lain, Erasmus menolak perpecahan gereja (skhisma) sebagai alternatif. Namun sebelum usaha Erasmus membuahkan hasil, gereja Roma Katolik telah berbuat terlalu cepat yakni mengucilkan Luther. Dan menurut Ming, ini salah. Sebab, hal itu membuat Luther terpisah dari gereja resmi, kemudian menjadi agresif dengan cara membentuk kekuatan sendiri yang menandingi gereja formal. Namun yang lebih parah lagi, gereja Roma Katolik menyudutkan Erasmus dengan pilihan: tetap loyal terhadap Roma dan menolak Reformasi Luther atau menyeberang ke Wittenberg dan tidak menjadi Katolik. Sebagai tokoh gereja yang loyal, tentu Erasmus memilih yang pertama. Melihat semua ini, jelaslah bahwa figur Erasmus diterima gereja Roma, sedangkan Luther tidak. Seandainya, sikap terbuka dan toleransi dari Erasmus tidak dibarengi oleh sikap netral tidak mau ambil risiko. Seandainya, sikap profetik dari Luther tidak dibarengi oleh sikap fanatiknya yang agresif. Seandainya ..., seandainya ....

Saling pengertian antar agama sulit dicapai karena klaim mengklaim kebenaran. Agama yang satu mengklaim kebenaran absolut bahwa dirinya merangkul kebenaran yang sejati, sementara kebenaran-kebenaran dari agama-agama lain dianggap kurang sempurna. Akibatnya, tidak ada dialog yang benar-benar di antara penganut-penganut agama yang berbeda. Ada kecenderungan untuk mengakui kemutlakan agama sendiri dengan meniadakan kemutlakan agama lain. Orang tidak mau mengakui kebenaran dalam agama lain karena itu diartikan melepaskan kemutlakan agamanya sendiri.

Menurut Kiing, satu-satunya yang absolut dalam sejarah dunia adalah Yang Absolut itu sendiri atau dalam agama Kristen disebut Allah (251). Allah adalah Sang Kebenaran itu sendiri. Karena itu, tidak ada agama yang memiliki seluruh kebenaran. Jadi, berteologi sebenarnya adalah usaha untuk mengerti yang tidak dapat sepenuhnya dimengerti, menyelidiki yang tidak dapat sepenuhnya diselidiki. Dengan kesadaran ini, Ming menaruh harapan bahwa masa depan dunia akan menjadi lebih baik berkat agama-agama dapat saling mengerti. Damai di antara agama-agama adalah prasyarat damai di antara bangsa-bangsa, damai di bumi. Ia tidak mencita-citakan nantinya cuma ada satu agama yang merangkum semua agama dunia. Ia bukan seorang sinkretis. Yang Kiing tekankan adalah bagaimana penganut-penganut agama-agama yang berbeda dapat, tetap berpegang pada agamanya masing-masing namun solidaritas kemanusiaan berkembang meluas, melampaui batas-batas agama sendiri.

Solidaritas demikian tidak mustahil. Pertama, seorang tidak mungkin memeluk secara serius lebih dari satu agama dalam waktu yang bersamaan. Ia harus memeluk sebuah agama saja dan agama itu mesti yang dianggapnya paling benar. Dari sudut penganut agama itu sendiri (internal), hanya ada satu agama yang benar yaitu agamanya sendiri. Kedua, sebagai pemeluk suatu agama, orang melihat agama lain sebagai salah satu dari agama-agama dunia. Dari sudut pandang sebagai pengamat ini (eksternal), ada banyak agama yang benar. Maka sebagai pemeluk agama Kristen (Katolik), Ming tidak sulit untuk tetap memiliki komitmen tertinggi atas agama Kristen dan melihat agama-agama lain sebagai benar sejauh mereka tidak bertentangan dengan pesan inti agama Kristen, mengoreksi, menyempurnakan, dan memperkaya pemahaman Kristianinya.

Karena itu, Ming mengusulkan tiga kriteria agama yang benar, dua bersifat umum dan satu bersifat eksklusif (240-253). Pertama, sebuah agama benar kalau menjadikan orang lebih manusiawi dan memajukan nilai-nilai kemanusiaan (kriteria moral). Kedua, sebuah agama benar kalau ajaran moralnya bersumber pada suatu yang kanonik (kriteria agama). Ketiga, barulah penghayatan agama secara internal yakni menghayati keunikan agama sendiri sebagai agama yang benar. Namun penghayatan ini bukan untuk menghakimi kebenaran dalam agama lain, kalau tidak, tidak akan ada dialog yang sungguh-sungguh (239).

Orang akan kecele bila mengharapkan Ming menawarkan suatu teologi yang baru dan lain dari yang lain. Formulanya tetap sama. Agar tidak spekulatif, teologi ekumenis tetap harus bersumber pada wahyu Allah dalam sejarah Israel dan sejarah Yesus (108-116). Dengan kata lain, Alkitab sebagai sumber normatif teologi. Agar tidak dipietiskan, teologi harus mengambil pengalaman konkret manusia di dunia sebagai medan berteologinya (116-119). Yang baru dan menyentak mungkin adalah ia berulang kali menegaskan bahwa teologi harus selalu berinteraksi dengan studi eksegese Alkitab yang kritis. Biasanya teologi sistematik merasa puas dalam rekonstruksi rumah buatannya dan tidak jarang memaksa Alkitab berbicara menurut isi teologis tertentu. Contoh yang diambil adalah teolog Protestan, Karl Barth (257-84). Sekalipun ia memegang teguh teologi gereja secara mutlak, ia mengabaikan temuan-temuan penting dari eksegese, sejarah, dan teologi modern. Namun akhirnya, menurut Ming, Barth sadar dan mulai mengedepankan studi eksegese kritis sebagai fondasi teologi sistematiknya. Maka Ming menganggap Barth berjasa sebagai pemula sebuah teologi ekumenis dalam paradigma post modern namun tidak menyempurnakannya (inisiator dan bukan penyempurna).

Secara keseluruhan, buku Theology for the Third Millenium tidak sulit dibaca. Gaya penulisan Ming inspiratif dan provokatif. Itu sebabnya mungkin gereja Katolik menganggapnya berjalan sendiri dan pandangan-pandangannya tidak diakui mewakili pandangan-pandangan Gereja Katolik. Namun ini juga yang membuat pembaca Kristen seperti tidak merasa sedang membaca sebuah buku Katolik. Dengan kemampuannya merangkum namun juga menganalisis data-data sejarah seni, ilmu pengetahuan, dan agama, Ming mau pembaca belajar dari sejarah dan siap memasuki milenium ke-3 dengan bekal sejarah sebelumnya. Hanya saja, dalam soal peristilahan Ming kurang teliti. Sejak awal ia sudah bicara tentang perubahan paradigma (123) yang definisinya masih rancu di kalangan para sarjana, namun baru kemudian ia menerangkan definisi yang dipakainya yakni dari Thomas Kuhn (172). Kadang juga sebuah topik yang sudah dibahas, dibahas lagi dengan penyajian yang berbeda di tempat lain sehingga timbul kesan penulisannya maju, mundur sedikit, maju lagi lebih banyak, kemudian mundur lagi sedikit, begitu seterusnya. Akhirnya, terlalu sayang jika buku ini dilewatkan oleh seorang teolog dan pemimpin gereja masa depan. (Yonky Karman)

 KETERANGAN PENULIS EDISI INI
sembunyikan teks

Amos Sukamto. Dosen di STT INTHEOS Surakarta dan STT Efata Salatiga. Menyelesaikan program D-3 Misiologi dan Pembangunan Pedesaan (1991) di POS PESAT Salatiga; Lulus S-1 (1993) bidang teologia di STT INTHEOS dan mendapat gelar M.Div. (1996) di Asian Center for Theological Studies and Mission (ACTS) di Korea Selatan.

Arya W. Darmaputera. Lulus S-1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Katolik Parahyangan (1995), dan S-2 International Political Economy di University of Sidney (1996). Peneliti di Pusat Data Business Indonesia, Jakarta (1995), sejak 1997 menjadi dosen tetap di jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Eka Darmaputera. Mendapat gelar Sarjana Teologia dari STT Jakarta (1966) dan kemudian Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Boston College, Amerika Serikat (1982) dalam bidang Agama dan Masyarakat, dengan disertasi tentang Analisa Budaya Terhadap Pancasila.

Franz Magnis-Suseno. Belajar filsafat, teologi dan teori politik di Pullach, Yogyakarta dan Munchen. Memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dari Universitas Munchen (1973). Saat ini sebagai dosen filsafat di STF Driyarkara, Fakultas Pasca Sarjana UI Jakarta dan Fakultas Filsafat Unpar Bandung; sebagai dosen tamu pada Geschwister-School-Institute Universitas Munchen dan pada Fakultas Teologi Universitas Innsbruck.

Insriatmi Paimoen. Alumnus STT 1-3 Batu Malang dengan gelar D-3 Teologia (1971). Mengikuti pendidikan lanjut program CTS di Trinity Theological College, Singapura. Ditahbiskan sebagai pendeta wanita kedua di bawah naungan sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI).

Robert P. Borrong. Lulus pendidikan Sarjana muda Teologia (1977) di STT Rantepao. Lulus S-1 (1980) bidang teologia di STT Jakarta. Mendapat gelar M.Th. (1983) dari South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) di Jakarta. Dan gelar Doctor of Theology (1996) juga dari SEAGST. Saat ini dosen di bidang Etika Kristen dan Filsafat di STT Jakarta.

Rudyanto, mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Teologia Bandung.

Yonky Karman. Alumnus Seminary Alkitab Asia Tenggara (Malang) dengan gelar B.Th., Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (Jakarta) dengan gelar Drs., dan Calvin Theological Seminary (USA) dengan gelar M.Th. Sekarang sebagai Dekan Akademik dan dosen Perjanjian Lama di Sekolah Tinggi Teologia Bandung.



TIP #09: Klik ikon untuk merubah tampilan teks alkitab dan catatan hanya seukuran layar atau memanjang. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA