Topik : Stres

27 Januari 2004

Pahit Menjadi Manis

Nats : Tuhan menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis (Keluaran 15:25)
Bacaan : Keluaran 15:22-27

Acap kali sukacita dan dukacita berjalan seiring. Seperti bangsa Israel yang merasakan getar kemenangan di Laut Merah, tetapi tiga hari sesudahnya menjumpai air yang pahit di Mara (Keluaran 15:22,23), sukacita kita pun dapat segera berubah menjadi kemarahan.

Di Mara, Tuhan menyuruh Musa melemparkan sepotong kayu ke dalam air, sehingga air itu menjadi manis dan bisa diminum (ayat 25). Suatu "potongan kayu" lain yang "dilemparkan ke dalam" berbagai situasi pahit hidup kita dapat membuat situasi itu menjadi manis. Potongan kayu itu adalah salib Yesus (1Petrus 2:24). Pandangan kita akan berubah saat kita merenungkan kematian-Nya yang penuh pengurbanan dan penyerahan-Nya pada kehendak Allah (Lukas 22:42).

Penderitaan kita dapat terjadi karena dibenci orang lain, atau lebih buruk lagi, karena tidak mereka pedulikan. Namun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi. Kita mungkin tidak memahami alasannya, tetapi itu adalah kehendak Bapa dan Sahabat kita, yang tak terbatas kebijaksanaan serta kasih-Nya.

Ketika kita berkata "ya" kepada Allah saat Roh-Nya menyatakan rencana-Nya kepada kita melalui firman-Nya, situasi pahit dalam hidup kita akan menjadi manis. Kita tak perlu mengeluhkan kejadian yang telah diizinkan Tuhan. Sebaliknya, kita harus melakukan segala perintah-Nya. Yesus berkata bahwa kita harus memikul salib kita setiap hari dan mengikuti Dia (Lukas 9:23).

Saat kita mengingat salib Yesus dan berserah kepada Bapa seperti Yesus berserah kepada-Nya, maka pengalaman pahit akan menjadi manis David Roper

1 September 2006

Kecemasan Penuh Damai

Nats : Damai sejahtera Allah ... akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Filipi 4:7)
Bacaan : Filipi 4:4-13

Saya dijadwalkan untuk mengajar di sebuah konferensi Alkitab di luar Amerika Serikat dan sedang menunggu keluarnya visa. Permohonan visa itu pernah ditolak, dan waktu terus berjalan. Tanpa visa, maka saya akan kehilangan kesempatan melayani, dan rekan-rekan saya di negara itu harus mencari pembicara lain di saat-saat terakhir.

Selama hari-hari penuh tekanan itu, seorang rekan kerja menanyakan bagaimana perasaan saya sehubungan dengan hal tersebut. Saya mengatakan bahwa saya mengalami "kecemasan yang penuh damai". Ketika ia memandang saya dengan tatapan bingung, saya menjelaskan, "Saya memang cemas karena saya memerlukan visa tersebut tetapi tidak dapat melakukan apa-apa untuk hal itu. Namun, saya memiliki kedamaian luar biasa karena saya tahu bahwa, apa pun yang terjadi, saya tidak berhak mengubah keadaan!"

Mengetahui bahwa hal-hal seperti itu ada dalam tangan Allah merupakan sesuatu yang melegakan. Ketidakmampuan saya untuk melakukan sesuatu atas masalah tersebut tidak sekadar membuat saya percaya kepada Allah, yang sanggup membuat segala hal menjadi mungkin. Ketika saya mendoakan keadaan itu, kecemasan saya berganti dengan damai-Nya (Filipi 4:6,7).

Persoalan hidup bisa saja membebani kita-secara fisik, emosi dan rohani. Namun demikian, saat kita belajar memercayai pemeliharaan Allah, maka kita dapat memiliki kedamaian yang tidak hanya melampaui segala pemahaman, tetapi juga mengatasi kecemasan kita. Kita bisa merasa tenang, karena kita berada dalam tangan Allah -WEC

25 Juni 2007

Carilah ...

Nats : Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang (Mazmur 55:7)
Bacaan : Mazmur 55:2-8,23

Sebuah iklan televisi berbunyi, "Apa yang Anda cari ketika stres?" Kemudian iklan itu menyarankan, "Carilah [produk kami]."

Banyaknya cara yang dicoba orang untuk mengatasi stres yang serius dalam hidup ini adalah sebanyak jumlah orang yang ada. Mabuk-mabukan. Menyalahkan Allah. Makan banyak. Memendam perasaan. Menyalahkan orang lain. Berbagai respons ini bisa menenangkan kita, tetapi itu hanyalah cara sementara untuk melarikan diri dari masalah. Tak satu pun produk yang kita cari dapat menyingkirkan masalah-masalah itu.

Dalam Mazmur 55, Raja Daud menggambarkan hasratnya untuk melarikan diri dari kesulitan, "Hatiku gelisah .... 'Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang'" (ayat 5,7). Setelah pengkhianatan Ahitofel, teman sekaligus penasihatnya, yang meninggalkannya untuk membantu musuhnya, Daud ingin menyingkir (ayat 13,14; baca 2Samuel 15). Dalam mazmur ini ia menyatakan betapa ia mencari Allah dalam kepedihannya (ayat 5,6,17).

Apakah yang sedang kita cari? Seorang penulis bernama Susan Lenzkes menyarankan agar kita mencari Tuhan dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Ia menulis, "Tidak ada salahnya apabila kita mencurahkan segala keraguan, kepedihan, dan kemarahan yang mendalam kepada Pribadi Yang Tidak Terbatas itu, Dia tidak akan terluka .... Karena kita memukul dada-Nya dari dalam pelukan-Nya" --AMC


Umat kristiani, saat jalanmu gelap gulita,
Saat pandanganmu tergenang air mata,
Datanglah segera kepada Allah Bapamu,
Curahkanlah kepada-Nya segala masalahmu. --Anon.

3 Juli 2008

Mulutmu Harimaumu

Nats : Siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3:2)
Bacaan : Yakobus 3:1-12

"Mulutmu Harimaumu," demikianlah bunyi slogan iklan sebuah perusahaan jasa telepon selular. Ungkapan ini benar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau: sangat berkuasa. Ucapan hakim di pengadilan bisa menentukan hidup matinya seorang terdakwa. Ucapan seorang pejabat bisa memengaruhi nasib rakyat. Ucapan pengusaha pada rekannya dapat membuat transaksi bisnis jadi atau batal. Ucapan seorang pria pada kekasihnya bisa membuatnya tersanjung atau tersinggung. Sekali salah ucap, akibatnya bisa gawat!

Tidak heran, Yakobus menasihati agar orang berpikir ulang jika hendak menjadi guru. Tanggung jawab yang ditanggung berat. Setiap hari guru mengucapkan ribuan kata. Ucapannya membentuk cara berpikir murid. Idealnya, semua yang guru ucapkan harus benar. Padahal, kerap kali kita salah bicara. Mengucapkan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Mengendalikan lidah memang lebih sulit daripada mengendalikan api atau menjinakkan binatang. Tanpa dikekang, lidah bisa menjadi liar. Kadang mengucapkan berkat, kadang kutuk. Tidak konsisten. Jika ini terjadi, mana bisa guru menjadi teladan? Mana bisa dipegang perkataannya?

Setiap orang percaya adalah "guru". Pendidik. Kita diberi tugas mengajar dan menasihati sesama. Setiap orangtua pun bertugas menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi, belajarlah mengekang lidah. Berpikirlah lebih dulu, baru berbicara. Saring dulu, baru ucapkan. Lebih penting lagi: jagalah hati agar selalu murni. Sebab apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati (Matius 15:18). Hati-hatilah: mulutmu harimaumu. Jangan menerkam orang lain dengan kata-kata Anda -JTI



TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA