PTOLEMEUS [browning]
Raja-raja yang memerintah Mesir dari tahun 323 sM setelah kematian Aleksander Agung memakai nama Ptolemeus. Maksud tujuan mereka adalah untuk memperkenalkan kebudayaan dan studi Yunani di *Aleksandria (di mana terdapat suatu komunitas besar orang Yahudi).
Pada abad ke-2 sM ada perselisihan besar dalam dinasti itu dengan keluarga Se leukid dari Siria dan akhirnya dengan Roma. Yang terakhir dalam garis keturunan ini adalah Kleopatra VII, yang menikah dengan Markus Antonius, yang menghadiahkan wilayah Palestina kepada Kleopatra. Tetapi, waktu Agustus menghancurkan angkatan laut gabungan mereka di Aktium, September 31 sM, Kleopatra bunuh diri.
PTOLEMEUS [ensiklopedia]
Nama 14 raja wangsa Yunani Makedonia yg memerintah di Mesir dari kr 323 hingga 30 sM.
I. Raja-raja pertama
Setelah kematian Aleksander Agung di Babel thn 323 sM, seorang marsekalnya, Ptolemeus, anak Lagus, mengangkat diri menjadi penguasa atas Mesir. Ia mengakui pemerintahan nominal Filip Arkhideus, saudara seayah Aleksander, dan pemerintahan anak Aleksander yg masih bayi, Aleksander muda, seperti dilakukan oleh marsekal-marsekal lainnya yg berada di Babel, Siria, Asia Kecil dan Yunani. Tapi thn 310 sM bayi Aleksander dibunuh. Masing-masing marsekal mencoba menguasai seluruh kerajaan tapi gagal. Akibatnya kerajaan itu dibagi-bagi di antara mereka. Karena itu Ptolemeus memakai gelar raja Mesir thn 304 sM, dan memerintah hingga 285 sM. Di bawah pemerintahannya dan anaknya, Ptolemeus II Filadelfos (285-246 sM), dan cucunya, Ptolemeus III Euergetes 1 (246-222 sM), Mesir tampil sebagai kekuatan besar di Asia Barat, bukan lagi kekuasaan Firaun, tapi kerajaan Helenistis. Ptolemeus IV Filopater (222-204 sM) adalah pemerintah yang dilanda kerisauan, yg gema perangnya di Siria muncul dalam 3 Makabe 1:1-5.
Seperti raja-raja Ptolemeus sendiri, maka perdana menteri, pejabat tingkat atas dari birokrasi yg disentralisasikan untuk memerintah Mesir, inti angkatan perang, bahasa resmi pemerintahan -- semuanya Yunani. Mesir adalah tanah milik pribadi raja dan dibudidayakan untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin bagi raja. Aleksandria menjadi ibukota, terkenal karena bangunan, lembaga (museum, perpustakaan, serapium, dll) dan ekspornya seperti gandum, papirus, wangi-wangian, gelas, dll. Di Aleksandria ada masyarakat Yahudi berbahasa Yunani; pada abad 3 sM Taurat diterjemahkan ke dalam bh Yunani, kemudian sisa PL, demikianlah lahir Septuaginta (LXX). *NASKAH DAN TERJEMAHAN.
Kaum Ptolemeus berusaha memelihara kesetiaan penduduk asli Mesir dengan memberikan uang, tanah, dan kuil baru kepada para pemuka imamat Mesir tradisional yg besar itu. Kuil baru yg besar muncul (ump di Edfu, Dendera, Kom Ombo) dengan gaya firaun kuno, tapi atas pahatan firaun di tembok kuil itu ditulis nama Ptolemeus dengan tulisan hieroglif.
Naskah-naskah hieroglif panjang di kuil ini ditulis oleh imam pribumi dengan seni tulis khusus yg rumit, sehingga orang asing sukar menerobos tradisi suci mereka. Naskah itu berisi banyak informasi tentang agama dan mitologi Mesir, diturunkan dari Mesir zaman Firaun dan berharga bagi penelitian zaman Mesir kuno.
Palestina -- termasuk masyarakat Yahudi -- dan Siria mula-mula merupakan bagian kerajaan Ptolemeus, sama dengan Siprus dan Kirene. Tapi setelah rentetan pertempuran thn 202-198 sM Antiokhus II dari Siria akhirnya mengusir tentara Ptolemeus V Epifanes (204-180 sM) yg masih muda itu dari Siria-Palestina. Daerah itu dengan penduduk Yahudinya, ganti diperintah oleh Siria (Seleukus).
Batu Rosetta adalah surat keputusan Ptolemeus V, kr 196 sM, ditulis dalam bh Mesir dan Yunani, yg ditemukan thn 1799. Surat itu memberi kunci bagi penguraian tulisan hieroglif Mesir dan pendirian lembaga Mesirologi modern.
II. Raja-raja kemudian
Pergantian pemerintahan Mesir kepada pemerintahan Siria mengakibatkan masalah dahsyat bagi masyarakat Yahudi kr 30 thn kemudian, di bawah Antiokhus IV. Sampai kurun waktu ini beberapa pertempuran antara Mesir dan Siria (dari 'Selatan' dan 'Utara') dibayangkan lebih dahulu dalam Dan 11:4 (*DANIEL, KITAB). Di bawah Ptolemeus VI Filometor (180-145 sM) perselisihan dalam wangsa kerajaan untuk pertama kalinya mengakibatkan perpecahan keluarga. Saudaranya yg bengis, Ptolemeus VII Euergetes II, untuk sementara menjadi raja gabungan dan akhirnya menggantikan Filometor. Ptolemeus VI memberi hati kepada masyarakat Yahudi di Mesir dan mengizinkan anak imam besar yg telah dipecat, Onias III dari Yerusalem, mendirikan bait suci tandingan di Mesir di Leontopolis, kr 16,5 km di utara Heliopolis. Kegiatan Ptolemeus VI di Siria disebut dalam 1 Makabe 10:51-57; 11:1-18; kegiatan Ptolemeus VII (145-116 sM) disebut dalam 1 Makabe 1:18 dan 15:16 (bergabung dgn Roma). Para Ptolemeus lainnya yg bukan raja, yg disebut dalam Kitab Apokrifa, adalah jenderal-jenderal Antiokhus IV Epifanes (1 Makabe 3:38; 2 Makabe 4:45; 6:8; 8:8; dan barangkali 10:12) dan seorang menantu Simon Makabe, yg membunuh Simon dan dua iparnya di Dok, dekat Yerikho thn 135 sM (1 Makabe 16:11 dab).
Di bawah pemerintahan wangsa Ptolemeus kemudian, negara Mesir terus merosot. Pemberontakan pribumi sering terjadi; raja dan ratu yg bengis (Kleopatra dan Bernike) risau (pembunuhan keluarga menjadi biasa), sedang kekuasaan Roma tambah meluas. Wangsa Ptolemeus berakhir dengan Kleopatra VII yg cemerlang tapi tak mengindahkan moral, dan putranya dari Julius Caesar, Ptolemeus XIV Caesarion. Kleopatra memikat Caesar dan Antonius, tapi tidak dapat mempengaruhi Octavianus (Agustus). Ia bunuh diri untuk menghindari penghinaan tampil dalam pawai kemenangan Romawi. Mesir tunduk di bawah kaki Roma thn 30 sM.
KEPUSTAKAAN. E Bevan, A history of Egypt under the Ptolemaic Dynasty, 1927; CAH 7, 1928; latar belakang keagamaan, lih Sir H. I Bell, Cults and Creeds in Graeco Roman Egypt, 1953. Bagi penjumlahan dan pemerintahan raja Ptolemeus, bnd T. C Skeat, The Reigns of the Ptolemies, 1954; juga A. E Samuel. Ptolemaic Chronology, 1962. KAK/HH

